Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

16 January 2013

K-13 #2; Selamat Datang Kurikulum Baru




Dalam sebuah artikel yang saya dapatkan di sebuah booklet, saya mendapatkan gambaran bagaimana salah satu bentuk pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa.

Disampaikan bahwa seorang guru dalam Mata Pelajaran Matematika, masuk ke dalam kelas dengan membawa berbagai ragam benda. Dalam pembelajaran itu siswa dibagi dalam kelompok dan kepada mereka diberikan selain berbagai macam benda tersebut juga dua hulahuk untuk masing-masingnya.

Kepada kelompok-kelompok kerja itu guru meminta untuk menggolongkan benda yang ada dengan menggunakan holahuk sebagai pemisahnya. Siswa dalam kelompok tentu juga diminta standar yang digunakannya dalam menentukan penggolongan benda-benda. Dalam kelompok, siswa akan berdiskusi dasar pengelompokan.

Diakhir pelajaran, seluruh siswa bersama kelompoknya diminta untuk juga melihat hasil kerja kelompok yang lain secara bergantian dan bersama-sama mendiskusikan akan standar yang digunakan sebagai dasar pengelompokan.

***

Saya membayangkan bahwa peristiwa pembelajaran di atas terjadi di dalam kelas di seluruh Indonesia pada saat belajar tentang topik yang sama ketika Kurikulum 2013 itu nantinya diberlakukan. Pasti sebuah aktivitas yang benar-benar menjadi bagian paling inheren dalam pemberdayaan akal. Karena peserta didik akan dituntut banyak oleh guru yang berfungsi sebagai pemandu aktivitas pembelajaran.

Namun kenyataan ini harus masih akan menjadi mimpi penulis sebagai guru di sekolah. Ini bukan karena sudut pandang pesimis yang dikenakan, tetapi prediktif. Hal ini karena masih adanya beberapa fakta tentang strategi pemberlakuan kurikulum yang baru nanti. Beberapa hal itu antaralain adalah sebagai berikut; Pertama, bahwa kalau akhir dari pembelajaran pada setiap jenjang pendidikan hanya diukur dengan alat ukur Ujian Nasional yang menitik beratkan kepada ranah kognitif tingkat rendah. Karena alat ukur itulah nantinya yang akan menjadi rujukan bagi guru di dalam kelas di seluruh sekolah di Indonesia, atau para birokrat di wilayahnya masing-masing, untuk hanya peduli kepada hasil rata-rata ujian. Dan hasil rata-rata itu akan menjadi tolok ukur martabat suatu daerah. Sehingga dari sini akan lahirlah semangat para pemangku kewenangan itu untuk tidak mau kalah dengan wilayah atau daerah lain. Akibatnya, pembelajaran hanya berfungsi sebagai penguasaan materi ujian. Dan inilah yang melahirkan bisnis lembaga bimbingan belajar.

Walau model Ujian Nasional belum menjadi sebuah keputusan bagi pelaksanaan kurikulum baru ini nantinya, tetapi sebagai guru di kelas, penulis cukup menjadikan ini sebagai bagian paling utama dan pertama. Ini merupakan sebuah kausalitas bahwa, upaya atau ikhtiar hanya akan linier dengan tuntutan. Maka jika UN yang menjadi tuntutan akhir sebagaimana yang selama ini dilakukan oleh pemerintah, maka jangan pernah berharap untuk terjadinya perubahan paradigma dan model belajar selain  hanya untuk sukses di dalam kelas .

Kedua, percuma jika yang dimaksud oleh petinggi dengan sosialisasi kurikulum baru itu adalah presentasi dan ceramah. Karena sosialisasi itu baru menumbuhkan ketahuan dan paling tinggi kepahaman guru kepada kurikulum yang akan diberlakukan. Sedang ketika guru berinteraksi dengan peserta didik di dalam kelas membutuhkan kepintaran pengetahuan dan keterampilan sekaligus. Mereka  membutuhkan paradigma yang diinginkan oleh kurikulum baru itu dan contoh bagaimana membuat interaksi belajarnya ketika topiknya adalah sungai?

Disinilah pentingnya seorang pemandu bagi pelaksanaan dari dokumen yang bernama Kurikulum 2013 itu di lapangan. Dan selayaknya pemandu, maka  kepadanya dibebankan untuk melakukannya terlebih dahulu. seperti layaknya pemandu di lokasi wisata. Lucu bukan jika pemandu dan yang dipandunya sama-sama sedang mencari jejak?

Disinilah kemudian menjadi pentingnya jika seluruh LPTK yang ada, yang menjadi bagian dari pencetak para guru bersertifikasi itu, dan juga seluruh pengawas pendidikan yang ada di setiap wilayah kecamatan itu, menjadi pemandu dalam arti yang sebenarnya bagi keterlaksanaan kurikulum baru kita itu. Bahkan tidak saja dalam pelaksanaan kurikulum baru yang akan dilaksanakan, tetapi lebih jauh dari itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui jalur pendidikan.

Kenyataan kedua ini layak penulis kemukakan karena masih banyak kita menjadikan ‘mal praktek’ pendidikan hanya melalui ceramah dan sosialisasi. Padahal sudah kita yakini bersama bahwa perubahan tidak akan mungkin dapat kita ,mulai atau lakukan hanya dengan cemarah  bukan?

Maka dengan tulisan ini, penulis berharap sekali agar pelaksanaan Kurikulum 2013 tidak hanya berhenti hingga di halaman rumah-rumah lembaga pendidikan yang ada, tetapi harus sampai ke ruang tamu, bahkan menjadi darah daging serta etos kerja para guru Indonesia. Juga harapan agar para pengawas sekolah tidak hanya sampai ke ruang kepala sekolah ketika melakukan kunjungan ke sekolah. Selamat datang Kurikulum baru!

Jakarta, 16 Januari 2014.

No comments: