Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 Februari 2011

Semangat Sahabatku

Ada sahabat yang datang dari Bengkulu. Sahabat di SPG. Tentunya juga sebagai guru seperti saya. Kedatangannya di masa liburan bersama keluarganya, ia menginap di tempat tinggalku di Slipi. Ketika itu, meski adalah masa libur sekolah, namun sebagai pengelola lambaga, saya masih harus aktif ke kantor. Artinya, ketika ia datang sulit bagi saya untuk dapat melayani secara khusus. Mengingat saya harus kantor.

Menjelang senja, kami terlibat cengkerama di teras rumah. Mungkin ada rencana yang telah sahabat saya susun untuk hari besok. Lalu saya pun mengusulkan untuk mengunjungi sekolah-sekolah yang kebetulan saya mengenalnya dengan baik. Ini kalau dia setuju. Saya tidak mau memaksa karena ini adalah liburannya. Dan usul saya untuk berkunjung ke sekolah-sekolah tersebut sebenarnya bukan termasuk dalam pengisian masa liburan. Namun diluar dugaan bahwa sahabat saya dan istrinya yang juga guru menyetujui usulan saya.

Maka jadilah saya menyiapkan diri untuk hari besok, yang menurut gambaran saya yang telah terbiasa berjibaku dengan sulitnya 'bergerak' di jalanan Jakarta, dengan secepatnya berpamitan untuk istirahat. Mengingat tujuan pertama yang akan sambangi adalah sekolah di Cipete, Cilandak, lanjut ke sekolah yang ada di perumahan Bintaro Jaya Sektor IX Tangerang, Lanjut ke sekolah dimana saya bekerja sekaligus saya ngantor barang dua jam di daerah Pulomas, Jakarta Timur, dan yang terakhir adalah sekolah anak saya di wilayah Tebet Barat, Jakarta Selatan. Empat sekolah selama satu hari saja. Kami berangkat dari tempat tinggal saya di Slipi Jakarta Barat pada pukul 07.00.

Dan untuk setuiap lokasi sekolah yang kami kunjungi, saya selalu mengajak sahabat saya, Istr dan anaknya berkeliling melihat bagian-bagian sekolah yang lebih kurang memakan waktu satu setengah jam.

Pada pagi hari sebelum kami mengawali perjalanan, sahabat saya sempat sesumbar kalau dirinya juga orang yang cukup memiliki ketahanan fisik untuk 'berjuang hidup' di Jakarta. Dan hari itu adalah pembuktiannya. Ia merasa diri tidak kalah dengan saya.

Sekitar pukul 11.00, kami telah menyelesaikan setengah perjalanan kami. Dan pada jam itu pula kami meluncur menuju Pulomas di Jakarta Timur dengan rute Tol Pandok Aren-Pondok Indah-Cawang-Rawamangun. Pukul 12.00 kami sampai di sekolah ketiga. Setelah puas mengitari seluruh 'pelosok' yang terdapat di sekolah saya di Pulomas, sekitar pukul 15.00 kami menuju ke Tebet Barat. Ini adalah sekolah keempat yang menjadi tujuan terakhir kami. Pukul 17.00 kami sudah meluncur pulang ke Slipi.

Dalam perjalanan pulang itu, kembali saya menawarkan apakah mau memilih jalur tol Pancoran-Senayan atau memilih jalur arteri? Pertimbangannya saya berikan. Dan sahabat saya memilih jalur arteri. Supaya banyak yang dapat dilihat. Katanya. Apa yang terjadi selama jalur Pancoran-Senayan? Seperti normalnya Jakarta. Macet. Dan ketika kami sampai di sekitar kantor PMI, sahabat saya dan keluarganya semua tak tertahankan untuk menahan kelelahannya. Mereka semua pulas dalam kemacetan Jakarta. Saya yang menjadi driver-nya terpaksa harus merasakan perjalanan itu dengan merayap.

Di depan gedung DPR/MPR, saya bangunkan sahabat saya.
  • Itu gedung DPR/MPR. Yang sering kita tonton di TV. Yang disaat siaran langsungnya, para anggotanya berdebat, berteriak, ngotot, dan berebut bicara. Ayo bangun dan lihat. Kata saya membangunkan sahabat saya. Ia bangun;
  • Sampai dimana ini Gus? geragap sahabat saya.
  • Sampai Slipi. Jawab saya.
  • Aku tidur dari tadi ya Gus. Wah kamu hebat. Aku merasa kalah. Kata sahabat saya.
  • Kalah apanya? Tanya saya.
  • Kalah, kalau hidup di Jakarta tidak hanya butuh kekuatan fisik. Tapi justru kuat emosi dan daya tahannya.
Dari perjalanan satu hari itu, cukup bagi saya memberikan gambaran kepada sahabat saya bahwa kalau ia datang tempat tinggal saya di Jakarta, harus legowo jika saya tidak mengajaknya kemana-mana. Alhamdulillah, pengertian itu tertanam. Maka lokasi paling mungkin yang dapat dijangkaunya adalah Pasar Tanah Abang. Dan sejak mengenalnya, mereka seperti kesetanan untuk segera berangkat ke pasar itu jika waktunya memungkinkan.

Jakarta, 23 Februari 2011.

17 Februari 2011

Yayasan Menggaji Guru Seenaknya?

Itulah judul dalam milis guru yang saya ikuti. Disampaikan bahwa ada seorang guru yang mengeluhkan akan gajinya yang kecil. Dan karena kecilnya itu, maka si guru tersebut menuliskannya dalam bentuk artikel. Mungkin sebuah kenyataan pahit yang terpaksa dilakoninya. Namun apakah kenyataan itu sebagai kebenaran yang adil? Adil dilihat dari si penulis artikelnya dan juga adil dilihat dari sisi yayasannya? Belum ada informasi yang detil tentang itu.

Itulah sebuah kesimpulan yang oleh penulisnya dalam milis kurang mendapat telaah lebih mendalam tentang mengapa guru itu bergaji kecil dan tidak memuaskan sehingga melahirkan anggapan bahwa yayasan yang mengelola sekolah dimana dia mengajar memberinya gaji yang kecil. Memang ada satu yang pasti dari apa yang disampaikan tersebut. Yaitu bahwa guru tersebut mengajar di sebuah sekolah swasta. Karena guru tersebut menceritakan tentang Yayasan sebagai pengelola sekolahnya.

Dalam tulisan ini saya, sebagai guru, pengelola sekolah dan juga kebetulan terlibat sebagai salah satu pengurus yayasan pendidikan, mencoba menelaah secara lebih seksama kasus tersebut. Bukan hak saya untuk mengadili siapa dan dimana yang benar dan yang mana yang bersalah dalam masalah ini. Juga bukan mental saya untuk memperlihatkan diri bahwa saya adalah yang paling benar dalam hal ini. Tujuan saya tidak lain hanyalah untuk mengajak kita semua sebagai individu, sebagai guru, sebagai yayasan, sebagai anggota dari masyarakat luas, untuk tidak mudah tersulut atau malah terprovokasi dari suatu informasi, aduan, keluhan, curahan hati yang baru dilihat dari satu sisi saja. Untuk itulah saya bermaksud mengangkat tulisan dalam milis tersebut menjadi telaah dalam tulisan ini.

Informasi Tambahan, untuk Dapat Melihat Gambar Menjadi Utuh
Informasi tambahan yang kita butuhkan adalah berkenaan dengan status guru tersebut, termasuk di dalamnya adalah hal ihwal yang berkenaan dengan tugas dan jumlah jam mengajar. Juga informasi yang terkait dengan yayasan dan sekolah yang dikelolanya. Apa status sekolah itu? Bagaimana kualifikasi sekolahnya, dan lain sebagainya. Semua informasi ini tidak lain adalah untuk memberikan gambaran yang lebih holistik terhadap hal yang dipermasalahkan.


Sebagaimana yang telah saya ungkap diatas, informasi tambahan yang berasal dari guru tersebut misalnya; adalah status kepegawaian guru. Harus diketahui bersama bahwa status kepegawaian seseorang akan berbanding lurus terhadap pendapat dan jaminan lainnya, sesuai dengan ketentuan yang ada, akan berbeda antara yang pegawai tetap, kontrak, atau kontrak dalam jangka waktu tertentu.

Dan status kepegawaian juga barangkat dari tugas pokok yang diampu oleh seseorang. Maksud saya, tidak mungkin seseorang akan diangkat oleh sebuah lembaga menjadi pegawai tetap namun memiliki tugas yang hanya dapat dilakukan oleh pegawai dengan status non tetap. Misalmnya, karena jam kerja yang paruh waktu. Maka sulit bagi sebuah lembaga mempertanggungjawabkan pekerja paruh waktu dengan status pegawai penuh waktu. itu sebuah ketidak seimbangan. Ketidakadilan.

Tentu berbeda apa bila guru yang bersangkutan adalah benar-benar guru tetap namun dengan pendapat yang 'seenaknya' dari lembaga yang memberikan kerja kepadanya. Tetapi sesungguhnya, dalam kondisi yang demikian, jika itu adalah saya, saya memilih tidak akan menerima tawaran lembaga tersebut. Cukup bagi saya untuk mengatakan; terima kasih tawarannya, mohon maaf saya tidak dapat bergabung.

Untuk itu, adab yang harus kita pegang bersama di awal bekerja di sebuah lembaga apapun adalah; apa yang menjadi pekerjaan saya, dan berapa imbalannya. Hal seperti ini terdengar sangat kapitalis, namun inilah, setidaknya bagi saya, keterbukaan. Harus kita yakini bahwa keterbukaan atau transparasi adalah titik awal bagi sebuah fitnah.

Dengan pola seperti itu, maka akan menjadi naif bilamana saya curhat kepada Anda tentang gaji saya yang kecil?

Informasi berkenaan dengan yayasan atau lembaga pemberi kerja juga perlu kita fahami. Namun bagi saya, cukuplah kita dapat melihat dengan lebih jelas berkenaan dengan keluhan guru yang berucap: Yayasan seenaknya menggaji gurunya? Hal ini didasari bahwa pilihan bekerja dimana dengan gaji berapa adalah pilihan saya sebagai pekerja. Saya dapat memilih untuk bekerja dimanapun dan kepada siapapun sepanjang memang ada kesempatan dan kesepakatan antara pemberi kerja dan saya sebagai pekerja.

Dan jika ini falsafahnya, pertanyaan berikutnya adalah; seberapa kualitas kompetensi saya untuk memperoleh imbalan yang menjadi impian saya?

Inilah pendapat saya. Namun bagaimana juga, saya tetap akan menghargai apapun yang menjadi pendapat Anda.
Jakarta, 17-20 Februari 2011.

Ratna, Remaja yang Saya Kenal

Dialah remaja yang ada di lingkungan saya bekerja, yang baru saya benar-benar mengenalnya secara lebih baik saat membuat refleksi atas kegiatan OSIS sekolah. Dimana, dari sekian refleksi yang dibuat dalam bentuk tertulis dan terkumpul di guru pembina OSIS, saya menemukan adanya sesuatu yang berbeda. Tidak hanya pada isi dari refleksi yang dibuat dalam bentuk narasi yang lumayan panjang dan mengalir, tetapi juga gaya penyampaian yang bernas dan berlogika puisi. Dialah remaja yang bernama Ratna, tentu bukan nama yang sesungguhnya. Saya sengaja menyembunyikan identitas aslinya untuk kepentingan etika saja ketika harus mengumumkan tulisan saya ini

Saat itu, saya panggil Ratna ketika ia bersama teman-temannya selesai menunaikan Salah Dzuhur berjamaah di sekolah. Saya pegang lembaran tulisannya. Sebelumnya tulisan itu terlebih dahulu menjadi bahasan antara saya dengan guru. Tentu tentang isi tulisannya, gaya penyampaian idenya, dan juga diksi yang digunakannya. Kami sepakat untuk mengatakan dan memberikan predikat luar biasa atas karya tulis itu.

Saya katakan kepada Ratna dalam pertemuan itu; apresiasi yang tinggi sekali atas refleksi yang dibuat secara serius.

  • Pak Agus senang dengan tulisan yang kamu buat ini. Ini tulisan luar biasa untuk ukuran seusia kamu. Kata saya. Dia manggut-manggut, lalu berucap;
  • Terima kasih Pak.
Dialog selanjutnya antara saya dengan dia adalah seputar bagaimana dia membuat tulisan itu? Apa logika yang mendasari sehingga tulisan dapat dibuat dengan begitu lancar dan runtut. Juga dari mana logika puisi serta pilihan kata yang begitu hebat di usia remajanya yang belum 15 tahun? Dia menjelaskan semua yang menjadi pertanyaan saya.

Dalam acara berikutnya, dimana saya diundang pada sebuah jamuan makan siang di suatu tempat, saya bertemu dengan ibunda Ratna, yang kemudian melaporkan kepada saya;
  • Pak Agus, terima kasih ya Pak, Bapak sudah mengajak anak saya berbicara tentang tulisan refleksi OSISnya. Anak saya bangga sekali diajak diskusi Bapak.
  • Sama-sama Bu. Saya dan bahkan kami semua, guru Ratna, terperanggah dengan tulisan refleksi Ratna yang begitu hebat. Baik keruntutannya, kebernasan isinya, pilihan katanya, dan juga gaya pusitisnya. Untuk usia dia, itu tulisan yang luar biasa. Dia sepertinya berbakan untuk menulis yang bagus. Kata saya.
Tapi beberapa waktu setelah itu, saya menemukan Ratna yang berbeda. Dia ada diantara teman-temannya saat di sekolah atau saat menunggu jemputan setelah jam sekolah berakhir. Raut muikanya tidak terlalu ceria. Lalu saya mencari informasi tentang keadaan dia. Ternyata apa yang saya lihat senada dengan konselor kami di sekolah. Maka informasi datang kembali kepada saya yang tidak disangka lagi;
  • Dia sedang kalut dan ketakutan Pak. Cerita konselor di sekolah.
  • Takut kalau keluarganya, ayah dan ibunya, berpisah seperti keluarga teman-temannya. Ia adalah remaja melankolis yang selalu mengimginkan keharmoisan hubungan dalam keluarga. Jelas konselor.
Lagi, inilah sebuah kehebatan cara berpikir anak didik kita di sekolah. Tidak terduga. Kadang menikung tanpa memberikan rambu sedikit pun. Luar biasa pel;ajaran yang saya ambil dari Ratna, remaja yang saya kenal di sekolah. Pelajaran unik yang berbeda dari yang biasanya.


Jakarta, 17-29 Februari 2011.

Maaf, Saya Harus Menolaknya

Maaf, kalau kali ini pun saya harus menolaknya. Ada beberapa alasan yang membuat saya harus membuat kebijakan seperti itu. Menolak tawaran kerjasama dari badan-badan yang menjual skill-nya untuk mengoptimalkan belajar siswa atau mengembangkan nama baik sekolah. Menolak atas tawaran kerjasama bisnisnya dalam mengakselerasi dan melambungkan nama sekolah dari keterampilannya dalam meng-up grade tapak dan tampak serta image sekolah menjadi lebih segar, muda, modern, dan bersinergi dengan keramahtamahan. Menolak untuk membuka rekening bagi seluruh siswa atau untuk uang yang yayasan kelola. Menolak semua bentuk bujukrayu yang berada di luar urusan pendidikan yang menjadi tanggungjawab utama saya sebagai pengelola sekolah.

Karena begitu banyaknya tawaran yang datang klepada saya, semakin saya menyadari bahwa mereka akan menjerumuskan saya untuk terlibat terlalu dalam dalam dunia perdangan dan berbagai budaya instan dalam ranah yang menjadi bagian pokok saya di sekolah ini. Untuk itu, setiap tawaran dan proposal serta presentasi yang datang kepada saya, dengan tanpa tedeng aling-aling lagi saya katakan maaf!

Kecuali tawaran, proposal dan presentasi yang berkait dengan sarana dan prasarana pendidikan yang menjadi bagian pendukung dari keberhasilan siswa dalam mengoptimalkan potensinya. Namun selain itu, saya segera menolak. Bahkan untuk minta waktu bertemu atau preentasi sekalipun. Kejam? Lihatlah argumentasi saya sebelum Anda mengatakan bahwa sikap saya itu kejam.

Pertama; Saya berkeyakinan bahwa sekolah bukanlah lahan yang senada dengan pasar dan hukum-hukumnya. Sekolah adalah komunitas untuk tumbuh dan menumbuhkan perilaku dan akhlak yang luhur. Dan beberapa prinsip yang terdapat dalam dunia dagang nyaris bertentangan dengan prinsip sekolah yang saya yakini. Untuk itu, saya tidak mau terlibat terlalu sibuk dalam kegiatan untung-rugi dalam dunia dagang itu. Meski program dan tawaran yang disampaikan dengan berbagai bahasa dan cara. Saya tetap tidak mudah bergeming. Atau meski program yang ditawarkan adalah lisensi dari negeri adikdaya dengan kontribusi per siswanya 'hanya' IDR 15,000!

Kedua, Saya berkayikan yang seyakin-yakinnya bahwa membangun budaya luhur kedapa komunitas sekolah tidak dapat dilakukan hanya dalam bentuk program akselerasi atau crash programme. Tawaran seperti ini selalu datang dengan nama yang semakin hari semakin menarik. Ada program yang berkenaan dengan pemberdayaan otak, pemberdayaan kekuatan bawah sadar, kedahsyatan strategi belajar, dan sebagainya yang pada ujungnya adalah penarikan uang yang tidak murah.

Dengan keyakinan saya inilah maka dalam kesempatan yang berbeda, saya selalu sampaikan kepada guru dan orangtua siswa dalam berbagai kesempatan bahwa, tidak akan ada akhlak atau bahkan budaya yang permanen yang ditempuh dengan jalan pintas atau jalan instan. Meski kadang keyakinan saya ini menjadi cemoohan bagi mereka yang meyakini atas kesuksesan metode dan strategi yang mereka sudah patenkan. Karena saya hanya yakin bahwa pembelajaran karakter harus melalui keteladanan dan bukan dengan cara instan.

Ketiga, Saya adalah orang yang sakit hati bilamana orang menjual sesuatu dalam bentuk lisensi. Misalnya mereka menjual sebuah alat namun penggunaannya dengan menggunakan password yang jangka waktunya mereka kendalikan. Maka pada tahap awal, langsung saya katakan tidak.

Jadi, maafkan kalau saya harus katakan dengan tidak basa-basi untuk tidak tertarik dan tidak berminat memiliki atas tawaran, proposal, atau bahkan presentasi yang Anda berikan kepada lembaga yang saya dan teman-teman memiliki prinsip seperti itu.

Jakarta, 17-20 Februari 2011.

14 Februari 2011

Tak Perlu Ajari Saya untuk Toleransi

Benar. Jangan ajari saya untuk toleransi. Sikap ini bedasarkan pada dua argumentasi. Pertama, karena sangat boleh jadi pemahaman Anda tentang toleransi berbeda dengan apa yang saya pahami. Sehingga tidak akan ada titik temu atau tidak ada yang dapat mempertemukan kita pada satu titik yang sama untuk disepakati.

Kedua, karena boleh jadi juga Anda meneriaki saya tidak memiliki rasa toleran karena Anda menyimpan maksud tersembunyi. Misalnya, Anda mengajak saya untuk sebuah toleransi sebagai tahap awal agar saya juga pada akhirnya menyatakan bahwa semua agama sama. Oleh Karenanya, tak perlu ajari saya untuk bertoleransi seperti apa yang Anda maui.

Tentang Siapa Saya

Sekedar untuk pengetahuan Anda saja. Saya Islam yang lahir dari ayah dan Ibu Islam. Jika melihat silsilah keluarga dari ayah, dari 5 bersaudaranya ada tiga non Muslim dan dua Muslim. Jadi satu bude saya dan dua bulek saya non Muslim. Kami bersaudara akrab. Kalau ada bulek saya yang non Muslim sedang ada ketidakenakan dengan kakaknya yang seagama, Maka bulek saya akan lari ke Ibu saya untuk curhat. Begitu juga bude. Jadi Ibu saya yang Muslim adalah lumbung pengaduan mereka.

Dan perlua Anda garis bawahi bahwa, selama pergaulan kami yang hingga kini rukun-rukun saja, tidak pernah terdengar di telinga kami masing-masing percakapan berkenaan dengan agama. Kami tidak pernah meyatakan bahwa agama kami paling baik di telinga mereka. Demikian juga mereka di telinga kami.

Mungkin karena pengaruh keluarga seperti itu, juga pastinya karena pilihan kami juga, maka saya pun melanjutkan sekolah di lembaga pendidikan yang berafiliasi pada agama bude dan bulek saya. Hingga akhirnya saya sekarang dapat lebih memahami agama yang saya anut dengan lebih baik.

Perlu juga saya sampaikan disini tentang pengalaman berikutnya di tempat kerja. Dimana saya menjadi kepala sekolah yang menampung lima agama. Yang pada suatu masa, saya ditunjuk untuk menjadi 'menteri agama'nya. Itu sebutan keren saya untuk jabatan saya sebagai koordinator agama di sekolah saya itu. Dan alhamdulillah saya dapat memayungi kegiatan agama tersebut dengan baik. Meski pada waktu itu terjadi pula insiden perebutan TOA di Hari Jumat menjelang shalat jumat.

Dari pengalaman hidup saya yang tidak terlalu berwarna itu, saya meyakinkan diri untuk berpendapat bahwa saya tak perlu lagi dikuliahi tentang bagaimana bertoleransi.

Pernah pada juga waktu menjadi koordinator agama tersebut. seorang teman guru mengusulkan agar dalam perayaan hari besarnya, keikutsertaan masing-masing tidak saja hanya pada saat makan bersamanya saja, tetapi sejak awal. Dan kepadanya saya katakan; Apakah Anda cukup merasa nyaman bilamana Anda ikutserta dalam acara halal bil halal hingga shalat dzuhurnya dimana Anda ikut serta dalam barisan kami shalat?

Dari pernyataan saya itu teman saya akhirnya memahami bahwa toleransi hanya ada dalam ranah sosial. Domein horizontal. Dan bukan pada hubungan vertikal antara mahkhluk dengan Khalik-nya. Dan dari situ pula ia memahami apa yang saya nyatakan untuk tidak mengajari saya tentang bagaimana harus bertoleransi dalam wilayah vertikal!

Jakarta, 14 Februari 2010.

13 Februari 2011

Sehat Kembali

Siang itu, dalam suasana taklim pekanan yang saya hadiri, ada teman yang bercerita tentang bagaimana ia berada dalam kondisi koma, tidak sadarkan diri di rumah sakit akibat menderita penyakit yang tergolong berat dan mahal. Karena dia telah lancar bercerita, tentu karena ia telah pulih seperti sedia kala. Sehat wal'afiat kembali. Alhamdulillah. Begitu teman lain menyambut kedatangan kembali dalam taklim tersebut.

Dimana ia berjibaku untuk mampu menyebut Allah, Sang Khalik yang diyakininya.

  • Hanya kata itu yang mampu, tuturnya. Ia mencoba dengan kekuatan jiwanya, karena dalam kondisi koma, untuk menyebut lafaz yang lebih panjang. Namun kekuatannya sulit untuk muncul. Maka lafaz Allah yang mampu ia tuturkan.
  • Saya takut jika Allah mengambil saya pada saat saya tidak mengesakan Allah, lanjutnya. Dan kesadaran itu pulalah yang membuatnya untuk hadir dalam taklim siang itu, setelah lebih kurang satu tahun absen. Ia tampak sekali mensyukuri kesehatannya kembali itu dengan tekad untuk mengisi hidup lebih bermakna.
  • Hidup pada kesempatan kedua kalinya. Kata teman yang lain.
Ya, hidup pada kesempatan kedua kalinya. Itulah pernyataan yang paling pas. Dan itu pasti merupakan pengalaman hidup yang tidak setiap manusia mengalami dan memperolehnya dari Sang Khalik. Hanya sedikit manusia saja yang merasainya.

  • Apa yang terjadi pada saat kesadaran itu tidak ada? Tanya temannya.
  • Sulit sekali melafazkan kata atau kalimat toyibah. Bahkan untuk melaksanakan Salat lima waktu ketika kesadaran itu dikembalikan, saya harus bersusah payah untuk mengingat lafaz Al Fatihah. Selalu saja hadir bisikan agar supaya saya tidak melaksanakan Salat. Jelasnya.
  • Itulah yang membuat saya untuk lebih keras lagi dalam belajar agama setelah sehat kembali. Saya takut meninggal dalam keadaan tidak beriman. Lanjutnya.
Pengalaman teman yang pernah mengalami koma yang sedikit berkepanjangan di ruang ICU rumah sakit itu, juga mengembalikan ingatan saya pada apa yang pernah saya saksikan terhadap sahabat atau keluarga yang sekarang ini menjadi sehat kembali atau telah meninggal. Sebuah pengalaman yang mudah-mudahan meyakinkan saya pribadi khususnya, dan kita semua umumnya, untuk benar-benar memanfaatkan dan mengoptimalkan apa yang telah Allah anugerahkan pada diri saya dan Anda.

Itu jugalah yang melahirkan kembali komitmen saya untuk membacai semua buku yang saya telah kumpulkan dan menjadikannya bahan atau referensi dalam membangun dan memperkokoh pengetahuan, pemahaman, dan analisa kepada bentuk pengamalan yang lebih intensif. Saya menjadi berkomitmen kembali agar semua itu saya lakukan sekarang juga. Dan tidak harus masa pensiun datang. Semoga. Amin.

Jakarta, 13 Februari 2011.

03 Februari 2011

Untung-Ruginya Transjakarta

Beberapa hari lalu saya membaca surat pembaca di sebuah harian berkenaan dengan kemacetan yang semakin menjadi di wilayah Slipi Palmerah. Khususnya arah Semanggi-Tomang atau arah sebaliknya. Lebih-lebih setelah adanya bus Transjakarta. Begitu lebih kurangnya keluhannya. Ia pun memberikan usulan. Antara lain agar meniadakan putar arah yang ada di Slipi untuk arus dari Harapan Kita yang akan menuju ke Slipi Jaya. Selain juga agar memindahkan pintu gerbang jalan Tol Slipi untuk arah Tomang. Karena GT Tol ini terlalu dekat dengan perempatan lalu linta yang terhitung padat.

Apa yang pembaca sampaikan ini, saya juga mengalaminya. Tentu ketika saya harus mengendari kendaraan sendiri. Butuh waktu, tenaga, mungkin juga biaya, dan juga emosi yang tidak terduga hanya untuk menempuh ruas jalur jalan dari pintu keluar tol Senayan (depan Gedung DPR/MPR) hingga sampai rumah yang ada di sekitar 700 meter dari perempatan lampu lalu lintas Slipi tersebut. Oleh karenanya, dengan apa yang disampaikan pembeca dalam surat pembaca itu, saya sangat setuju.

Namun karena beberapa hal yang mendukung, saya justru berpikir berbeda. Sekali lagi mungkin kondisi saya yang mendukung. Baik kondisi jarak rumah ke jalan yang macet tersebut, yang lebih kurang berjaran paling jauh 700 meter. Juga kondisi fisik dan paradigma, barangkali. Oleh karenanya, saya kadang memilih pergi pulang kantor dengan menumpang bus Transjakarta, yang disebutkan oleh pembaca tersebut sebagai pemberi andil paling besar dalam kemacetan. Dan dari pengalaman berada di dalam bus Transjakarta pada saat jalanan macet, memberikan kepada saya jalan pikiran yang lain.

Jalan pikiran itu adalah, ada atau tidak adanya bus Transjakarta, yang memiliki kontribusi kemacetan karena 'menguasai' jalan, dalam dua sisi. Yaitu menguntungkan atau merugikan.

Menguntungkan

Tentu bagi Anda yang berada di dalam bus Transjakarta saat jalanan mecet. Karena jalanan Anda akan tetap terjamin atau sedikitnya terbebas dari kepadatan atau bahkan kemacetan. Anda akan merasakan betapa nikmatnya menjadi penumpang Trans. Lebih-lebih jika Anda mengkontraskan dengan ruas non bus way. Terlebih jika pada saat nanti jumlah bus memenuhi kesesuaian dengan jumlah penumpangnya.

Selain murah juga akan jauh lebih cepat. Dan itu berujung kepada nilai ekonomi. Termasuk juga kontribusinya kepada kesehatan jiwa dan raga kita. Bahkan Anda masih bisa untuk lebih kreatif. Misalnya dengan membawa serta sepeda lipat Anda. Yang memungkinkan Anda genjok untuk menempuh jarak menuju halte bus atau menuju kator atau rumah setelah dari halte bus.

Merugikan

Tentu ketika kita mengendarai kendaraan pribadi atau mungkin jika kita menaiki taksi. Karena jalanan yang hanya tiga lajur menjelang pintu gerbang jalan tol Slipi menuju Tomang, harus diambil satu lajur khusus untuk bus way. Belum lagi jika ada bus kota yang menurunkan atau menaikkan penumpang di sisi itu.

Terlebih, karena kondisi yang membuat sesak napas itu, masih kita kaitkan dengan harga bahan bakar yang harus kita pakai (harus, karena kita tidak punya pilihan untuk memakai bahan bakar yang mengakibatkan kerusakan pada salah saatu komponennya), juga iuran pajak yang harus juga kita bayarkan. Situasi yang menyesakkan itu akan berkontribusi besar kepada kesehatan jiwa dan raga kita.

Menilik itu semua, saya sendiri memformat pola saya dalam menghadapi kenyataan yang semakin berat itu dengan lebih rileks. Yaitu dalam bentuk mengambil pilihan yang paling membuat diri saya untung. Pilihan ini saya ambil agar saya terhindar dari penyakit yang menyalahkaan keadaan di luar diri saya. Sebuah fenomenon yang memang saya sendiri tidak mampu merubahnya.

Jakarta, 3 Februari 2011.