Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Agustus 2014

Daya Saing Diri

Pada saat saya berdiskusi dengan seorang anak tentang daya saing diri, sesungguhnya saya sedang mengajaknya berpikir strategis bagi dirinya dimasa depan. Dimana kelas ia harus bersiap menjadi diri sendiri yang cekatan dan menjadi pemenang dalam kompetisi.

"Mengapa anak-anak muda itu harus berangkat kuliah, tekun membaca dan membuat catatan atas buku-buku pegangan yang menjadi referensi dari dosen, dan juga teliti dan tuntas atas tugas yang harus diselesaikan?" Kata saya mengawali diskusi di suatu pagi. Diskusi itu mengalir saja mengingat memang tidak dalam sebuah forum yang khusus. Selain itu juga bukan untuk mencapai sebuah ketuntasan pembelajaran. Jadi santai dan rileks.

"Supaya mencari kerjanya mudah Pak." Jawab anak itu. Meski pendek jawabannya, setidaknya saya bisa membaca akan arah hidupnya dimasa mendatang. Bahwa masuk dunia pendidikan dan mendapatkan predikat bagus adalah membuat anak tangga keberhasilan masuk di dunia kerja. Begitu kira-kira visi perjuangannya. Tidak ada yang salah dari semua yang dilakukan dan diperjuangkannya itu.

Kualitas

Pertanyaan berikutnya adalah "Apakah setelah masuk dunia kerja maka pada saat itulah maka proses mengejar kualitas diri dalam peningkatan daya saing pribadinya terus atau tetap berjalan atau berhenti?"

Ini yang masih belum pernah saya tahu besaran datanya. Tetapi jika saya masuk dalam sebuah lembaga dimana para pegawainya adalah mereka yang juga mengenyam dunia pendidikan sebelumnya,  tidak semua pegawai yang ada di dalamnya yang tetap memiliki etos kerja tinggi dan sekaligus etos meningkatkan diri yang juga tetap berkobar tiada putus.

Orang-orang yang tetap berupaya meningkatkan diri, yang menjadi minoritas di lokasi kerjanya itu, menjadi berbeda ketika waktu berjalan dua atau tiga tahun berikutnya. Dia menjadi berbeda pada spirit kerjanya, cara memandang dan sekligus menanggapi isu yang mengemuka di wilayah kerjanya. Juga berbeda dalam mengambil posisi sosial di konstelasi sosialnya.

Dan sebagai bagian darinya, saya selalu mengajak teman-teman di tempat kerja dan juga termasuk kepada anak muda itu, untuk terus waspada dengan perkembangan zaman, tentunya hanya dengan mengembangkan kapasitas diri. Dan inilah yang saya maksudkan dengan daya saing diri. Semoga.

Jakarta, 31 Agustus 2014.

25 Agustus 2014

Sadar Kalender

Saya mungkin paling tidak merasa enak ketika mendapatkan jadwal, apapun jadwal itu, bahkan termasuk diantaranya adalah proposal permohonan dana kegiatan, yang seperti tiba-tiba datang dari langit. Ia datang begitu mepet dengan hari H. Kadang justru malah tanpa tedeng aling-aling, ia menyodorkan argumentasi bahwa kegiatan tersebut harus terjadi tepat sebagaimana jadwal yang di awal tahun pelajaran telah dijadwalkan. 

Mengapa? Karena ini adalah sebuah ketidakpahaman sdan ketidaksadaran kita terhadap apa yang terjadi di hari depan. Meski itu semua telah ada dalam jadwal! Meski demikian, saya mencoba untuk ikut serta merasakan apa yangs esungguhnya terjadi kepada teman-teman yang menderita penyakit ujug-ujug tersebut. Dan dari mikir-miir yang saya coba lakukan, berikut adalah beberapa penyebab dari sebuah jadwal yang menjadi tiba-tiba terasa mendadak. 

Pertama, Terlalu rapinya administrasi kita. Hal ini mengakibatkan bahwa kalender kegiatan yang telah dibuat jauh sebelum tahun pelajaran baru dimulai. Dan karena telah jauh sebelumnya telah dibuat, maka tanggal=tanggal yang ada di dalam kalender tersebut menjadi terlupkan. Dan repotnya, kalender yang telah dibuat itu bukan untuk ditengok sebagai road map bagi perjalanan profesionalisme, tetapi lebih sebagai kelengkapan administrasi. Dan dengan alasan itu, maka kalender tersebut memang ada, tetapi keberadaannya sulit untuk ditemukan.

Kedua, Sadar kalender. Jika menengok yang saya sendiri alami, betapa saya ini senang sekali membolak-balik kalender kegiatan sepanjang satu tahun itu. Tidak hanya kegiatan-kegiatan yang akan berlangsung saja yang saya ingat diluar kepala, tetapi juga hari-hari libur, atau hari-hari yang paling tepat untuk mengambil cuti! Dan atas kesaradan inilah beberapa tahun lalu saya sempat mendapat gelar dari teman sejawat sebagai mister kalender

Kesadaran akan kalender ini dimulai ketika saya harus membuat soft cover dari buku kegiatan sepanjang tahun pelajaran yang akan kami lalui, disertai dengan dokumen-dokumen yang memang seharusnya menyertainya. Juga kegemaran saya dalam membuat uraian kegiatan dalam setiap bulannya. Itu semua menjadikan saya sering melihat apa saja yang akan dan harus terjadi pada satu bulan ke depan.

Ketiga, Lemah menghitung mundur. Penyakit ini yang sering berjangkit pada beberapa teman saya. Akibat dari penyakit ini adalah bahwa proposal dibuat dengan tenggat waktu yang benar-benar sempit, koordinasi harus juga diakuan dengan cara kilat, dan yang paling memusingkan adalah bagaimana kegiatan yang membutuhkan dana tersebut harus uga terjadi tepat waktu. Ini karena persetujuan dan pencairan dana yang dibutuhkan benar-benar menggunakan tarif kilat khusus.

Itulah sedikit banyak yang menjadi bagian dari pengalaman saya ketika harus membuat akrobatik dalam melaksanakan kegiatan yang sudah tertera di dalam kalender kegiatan. Ini sebagai bagian dari introspeksi saya juga ke depan. Semoga.

Jakarta, 25 Agustus 2014.

21 Agustus 2014

"Jelly-nya Sudah Tamat Pak."

"Jelly-nya Sudah Tamat Pak." kata seorang peserta didik kami yang sekarang sudah di bangku kelas 1 SD. Saya terus terang sering sekali terhenyak dengan kota anak-anak. Meski di usia mereka yang masih muda sekali, namun memiliki perbendaharaan kata yang kadang menakjubkan. 

Seperti kata tamat yang dikemukakan seorang siswa saya itu. Dipahaminya bahwa kata tamat artinya selesai. Maka ketika jeli rambutnya sudah habis, maka dijelaskannya bahwa jeli rambutnya sudah tamat. Dan rangkaian kalimat dengan pilihan kata tamat itu, membuat saya sedikit banyak menjadi takjub.

Jelly Rambut

Kata tamat itu saya temukan darinya ketika saya bertemu disuatu pagi ketika sekolah belumj dimulai. Seperti biasanya, bahwa anak ini selalu mengenakan jeli rambut ketika dia masih duduk di bangku kelompok B di Taman Kanak-Kanak satu tahun yang lalu. Dan karena selalu mengenakan jeli itulah maka ia menjadi trend setter bagi anak laki-laki di TK B tersebut untuk mengenakan jeli rambut setiap berangkat ke sekolah. Jadi, gayanya itu diikuti setidaknya oleh dua temannya yang lain.

Tetapi setelah menginjak di bangku sekolah dasar, saya perhatikan bahwa rambutnya yang lurus tersebut tidak lagi ber-jelly. Oleh karenanya menjadi menarik perhatian saya untuk mengajukan pertanyaan kepadanya. Apakah memang sudah tidak rend lagi baginya untuk mengenakan jelly rambut? Ataukah memang sudah tidak merasa cocok lagi dengan rambut yang selalu diberi jelly ketika berangkat sekolah? Atau memang ada alasan lain? Rasa ingin tahu saya itulah yang menjadikan saya mengajukan pertanyaan kepadanya di halaman sekolah pagi itu.

"Nang, " panggil  saya  ke[pada anak yang selalu sibuk dengan teman-temannya itu di halaman sekolah.

"Bapak perhatikan sekarang rambutnya sudah tidak berminyak lagi?" lanjut saya setelah ia berhenti berlari mengejar temannya.

"Memang Pak. Saya sekarang tidak pakai jelly rambut lagi." Jawabnya dengan tangan kanannya mengusap rambut di kepalanya. 

"Mengapa tidak ber-jelly lagi?" tanya saya selanjutnya.

"Iya Pak. Jelly rambutnya sudah tamat." jelasnya.

Itulah sekelumit dialog saya dengan seorang peserta didik di pagi hari sebelum jam pelajaran sekolah dimulai. Dalam dialog itu, saya menemukan kosa kata tamat yang dirangkai menjadi kalimat, dan karena tidak pas, maka menjadi bahan buat saya untuk sedikit tertegun.

Jakarta, 21 Agustus 2014.

"Kita ada di Lantai G ya Pak?"

"Kita ada di Lantai G ya Pak?" Begitulah kata seorang siswi kami yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak kelompok A. Seorang anak yang memiliki keistimewaan tersendiri dibanding teman-temannya di dalam kelas yang tetap dapat menikmati perjalanan proses belajar bersama guru-gurunya. Sedang ia, dengan energi yang dimilikinya, tidak bisa berada di satu tempat di dalam kelas secara biasa seperti teman-temannya. Maka ia akan menyusuri seluruh sisi yang ada di dalam kelas itu hingga bsan dan kembali ke tempat duduknya. Termasuk ketika gurunya, yang baru menyadari ketidakberadaannya di dalam kelas pada siang itu.

"Pak, tolong ajak siswi ini keliling sekolah. Supaya energinya tidak tersimpan." Demikian seorang guru menyampaikan permohonannya kepada saya ketika saya berada di lorong kelasnya itu. Dimana seorang Satpam baru saja menemukan anak itu didekat pintu administrasi sekolah.

"Siap. Jam barepa saya harus kembali bersaa anak ini?" tanya saya kepada guru kelasnya. Ini saya lakukan agar supaya saya dapat memperkirakan waktu yang harus saya habiskan untuk berkeliling sekolah. Karena keliling sekolah menjadi tugas pokok saya setiap hari. Mulai dari lantai paling bawah yang ada di sekolah sampai dengan lantai atas.

"Jam setengahduabelas!" kata Ibu guru itu.

Maka kami meluncur dari lantai satu sekolah menuju lantai yang ada di sekolah tersebut. Dan kebetulan pula bahwa jam dimana kami berkeliling itu adalah jam istirahat untuk siswa yang duduk di jenjang SMP. 

"Ini anak Bapak?" tanya seorang siswa yang duduk di kelas 8 ketika kami berada di lorong depan kelasnya. Dan teman-temannya pun antusias untuk mendekati kami dan menyapa anak kecil yang ada di samping saya.

"Bukan. Ini adik kelas kalian yang masih duduk di bangku kelompok A TK."  jelas saya kepada mereka dan semua anak-anak yang mengajukan pertanyaan yang sama kepada saya. Bahkan teman-teman guru pun menanyakan hal yang mirip seperti itu kepada saya. "Ini cucu Bapak?"

Perjalanan itu sempat terhenti agak lama ketika kami memasuki ruangan dimana ada seorang anak kelas 9 SMP yang sedang memainkan Drum. Siswi yang bersama saya itu langsung terbengong memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang kakak. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk ikut serta bermain. 

Perhatiannya kembali beralih ketika saya membuka penutup piano, sehingga tut piano yag berwarna putih hitam dilihatnya. Dan untuk sementara waktu kami berhenti di ruagan itu. Siswi yang spesial itupun asyik memainkan tut piano dengan sembarang. Namun karena setiap tekanan jarinya menimbulkan bunyi-bunyian, maka ia semakin bergairah untuk terus memainkan alat musik itu tanpa memperhatikan lagi bunyi drum yang dimainkan oleh kakak SMP tersebut.

Aktifitas tersebut terhenti ketika siswa itu merasa sudah harus berpindah ke lokasi lain. Yaitu lokasi UKS yang berada di lantai bawah, yang kami menyebutnya sebagai basement. Di ruangan itu pula siswi tersebut terlihat ingin tahu dan mencoba semua yang dilihatnya. Mengukur tinggi dan berat badannya, melihat poster tubuh dan alat kesehatan yang tersimpan di lemari kaca. Serta bertanya banyak tentang apa yang dilihatnya kepada suster yang menunggu ruangan kesehatan tersebut.

"Ini lantai apa Pak?" tanyanya kepada saya ketika kami meninggalkan ruangan UKS tersebut dan naik tangga untuk kembali ke kelasnya.

"Eng... ini lantai bawah." jelas saya. Sengaja saya menghindari istilah basement sebagai penjelasan kepadanya.

"Bukan lantai bawah Pak. Ini lantai G." katanya mantap

Lantai G? Saya maklum saja dengan istilah yang digunakannya. Dalan pikiran saya tentu terbayang sebuah pertanyaan; dari mana istilah lantai G itu didapat dari seorang siswi yang baru berusia sekitar 4 tahun ini? Mungkin dari mal yang sering dia kunjunginya bersamakeluarganya? Mungkin dari lift yang sering digunakannya saat ia akan turun ke lokasi parkir kendaraan di apartemen tempat tinggalnya? Mungkin?

Jakarta, 21 Agustus 2014.

Menununggu Tepuk Tangan

Ada dua makna tepuk tangan yang tiba-tiba terlintas dalam benak saya ketika pemapar dalam pertemuan diskusi transformasi sebuah lembaga pada sore itu. Utamanya karena saya menjadi bagian dari teman-teman yang sedang ditunggu oeh teman-teman yang lain, yang sering sekali kami sebut dalam komunitas yang bernama stake holder.

Ini tidak karena teman-teman bersama saya sedang dalam sebuah posisi yang bernaa transformsi. Dan ini pasti menjadi pengalaman yang tidak saja menjadi milik kami sendiri, tetapi juga teman-teman lain seperti Anda. Dimana seluruh garek-gerik dan sepak terjang kami akan menjadi bagian penting bagi sebuah arah yang diinginkan, yang disebut sebagai transformasi itu.

Dan yang berada di luar lingkungan kami itu, pastinya menunggu dari sejumlah sisi yang berbeda-beda, sesuai dengan minat dan motivasi teman-teman itu. Memang ada yang berada pada posisi menunggu angin bertiup. Ada juga sebagai penyokong karena rasa keinginannya untuk benar-benar bermigrasi menjadi bagian atau barisan yang bertransformer. Namun juga ada yang menunggu dan harap-harap apa yang sebenarnya akan terjadi. Juga mereka yang ketika bendera perubahan dikibarkan sudah pasang kuda-kuda untuk meragukanya karena memang berada pada posisi yang tidak berkenan untuk bertransformasi.

Atas kondisi seperti itulah maka kami dalam tim sudah bersiap untuk memantapkan tekad dan untuk tidak mudah berpustus asa ketika menjalani perjalanan hidup kedepan. Siap untuk diremehkan dan terus berharap sangat akan keberhasilan arah yang dijalaninya. Itulah kesiapan dan kobaran semangat bagi saya dan teman-teman di sore itu ketika sesi paparan awal sedang berlangsung.

Menununggu Tepuk Tangan

"Dan atas upaya yang akan Anda lakukan pada tataran operasional nanti adalah evaluasi dari komunitas yang ada terhadap kinerja Anda dan tim. Jika kami memiliki KPI untuk mengukur keberhasilan usaha ini, tetapi teman-teman yang ada tataran operasional itu memiliki tepuk tangan sebagai ukuran keberhasilan Anda semua." Demikian pemapar menyampaikan kepada kami dalam usaha awal dalam melakukan sebuah perubahan di sebuah lembaga. 

"Namun demikian, tidak hanya keberhasilan sja yang akan mendapatkan tepuk tangan dari teman-teman di tataran operasional tersebut. Tetapi juga ketika upaya Anda dinilai kurang berhasil. Oleh karenanya Anda sebagai agent of change harus tabah dan tetap optimis." Tutupnya dihadapam kami semua dan manajemen sekolah.

Itulah yang disampaikan pemapar ketika memberikan panduan kepada kai dan manajemen lembaga untuk sebuah awal dalam perjalanan perubahan. Dan saya secara pribadi, meski menyadari akan apa yang harus dilakukan, tetap saja grogi ketika berada dalam momen seperti itu. Tapi optimisme, memandu kami untuk terus berupaya maksimal. Semoga. 

Jakarta, 21 Agustus 2014.

15 Agustus 2014

Maaf, Ada yang Salah...

"Ada yang salah dari apa yang tadi kita sampaikan di halaman Pak." kata saya kepada teman guru setelah kegiatan luar kelas selesai. Ini berkenaan dengan kejadian verbal antara kami dengan salah seorang siswa kami di halaman sekolah pada siang hari itu.

"Apa Pak yang salah?" tanya teman saya. Pasti kebingungan dengan apa yang saya sampaikan itu. Karena memang kalimat saya yang tidak nyangkut pada konteks apa. Meski kejadian di halaman itu baru saja berlangsung beberapa jam yang lalu.

"Tentang kalimat yang kita sampaikan kepada seirang anak berkaus hijau tadi Pak." jelas saya mencoba mengingatkan teman terhadap satu peristiwa yang terjadi sebelumnya. "Bahwa kaus yang dikenakannya tadi ternyata bertuliskan TK dimana ia pernah bersekolah. Dan kita menyampaikan kekaguman kita bahwa kausnya yang di bangku TK masih muat ia kenakan ketika ia kini sudah duduk di bangku kelas lima sekolah dasar."

"Terus apa yang membuat itu salah Pak?" tanya teman saya masih juga belum jelas duduk perkaranya. 

"Yang salah bahwa, dia adalah anak sensitif tampaknya. Dan itu saya menyaksikannya sendiri ketika ia pulang sekolah. Dimana tas punggungnya dia bawa dengan meletakkannya di depan. Di dadanya. Mungkin itu upaya dia untuk menutupi kata-kata yang tertulis di kaus bagian depannya?" jelas saya lagi. Saya yakin pasti bahwa teman saya ini, yang selama satu tahun lalu menjadi guru kelas si anak tersebut, paham akan karakter dari anak itu.

"Benar Pak? Apakah Bapak juga mencoba bertanya tentang maksudnya membawa tas di dadanya?" kata teman saya. Rupanya ia meragukan akan kesimpulan yang telah saya sampaikan.

"Benar Pak sudah. Dan dia benar-benar tidak mau memberikan jawabannya. Justru beberapa menit sesudah pertanyaan saya itu, saya mendapatinya berada di depan cermin depan kelas satu. Jangan-jangan ia mencoba membaca apa yang tertulis di kausnya itu?" jelas saya lebih lanjut.

Pendek kata, saya belajar lagi untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kalimat yang tertuju kepada anak didik saya. Meski kalimat itu positif, nampaknya harus cermat dalam melakkan konteks dari kalimat tersebut. Juga harus melihat karakter si anak!

Jakarta, 15 Agustus 2014.

"Pak, Apakah Saya Harus Berdasi?"

Begitulah pertanyaan dari seorang peserta didik kami di sekolah ketika jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Seorang anak yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar, yang selain ramah, cekatan, dan senang mengemukkan pendapat, juga adalah siswa kami yang cerdas.

Saya tentunya tidak dapat segera menjawab atas apa yang menjadi pertanyaannya. Pertama, karena saya terus terang bingung akan pertanyaan itu. Ini adalah pertanyaan pertama sejak saya menjadi guru di lembaga ini dari seorang siswa. Karena, memag sekolah kami tidak mewajibkan para peserta didiknya berdasi. Wajar bukan jika pertanyaan itu justru membuat saya bertanya pada diri sendiri; Lho, bukankah selama ini anak-anak itu tidak mengenakan dasi? Kedua, Apa yang menjadi maksud dari pertanyaan itu? Dan dari mana pertanyaan itu lahir? 

Maka untuk memecah kebuntuan saya dalam berpikir, dan sedikit mencairkan suasana, saya pun balik bertanya kepada anak cerdas itu; "Mengapa kamu bertanya pertanyaan seperti itu? Bukankah selama ini anak-anak tidak berdasi?"

"Benar Pak. Tetapi saya  tadi melihat kakak-kakak yang berdasi di lapangan? Jadi, apakah kita juga harus memakai dasi Pak? Soalnya saya kan tidak tahu kalau harus memakai dasi." jelasnya tanpa harus mengambil nafas. Mungkin karena begitu semangatnya ketika ia menjelaskan itu kepada saya. Atau juga mungkin karena ia ingin segera mendapat jawaban atas pertanyaannya karena merasa dirinya tidak mungkin memakai dasi pada hari itu.

"Oh iya. Baik, ini jawaban Bapak ya. Kakak-kakak yang memakai dasi di halaman itu, adalah para petugas upacara. Kakak-kakak itu nanti akan memimpin kita dalam pelaksanaan upacara. Jadi seragam kakak-kakak sebagai petugas upacara bendera adalah seragam hari Senin dan bedasi. Kalian semua yang tidak menjadi petugas upacara tidak memakai dasi." Jawaban saya kepada si cerdas itu.

"Baik Pak. Terima kasih ya." anak itupun meninggalkan saya yang sedang memegang gelas di ruangan kerja saya. Dan atas pertanyaan itu kepada saya, sekaligus memberikan hamparan pengalaman dan ilmu yang tiada batas dan tepinya. 

Jakarta, 15 Agustus 2014.

14 Agustus 2014

Mereka Pikir Kami Begitu Bodoh

Siang hari itu, datang seorang kameramen dan reporter dari acara gosip yang tayang saban hari di sebuah tivi Indonesia ke sekolah. Dengan yakin dua jurnalis ini memasuki halaman sekolah dan meminta izin kepada Satpam untuk bertemu dengan kepala sekolah. Dan kebetulan pula pada siang itu, semua kepala sekolah sedang berkumpul di salah satu ruangan untuk membahas sesuatu hal secara rutin.

"Mohon izi Ibu Kepala Sekolah, kami mengantar reporter tivi untuk mewawancarai Ibu. Apakah Ibu sudah dapat konfirmasi sebelumnya?" Demikian suara dari seorang Satpam kepada Ibu kepala sekolah melalui saluran telepon lokal.

"Belum ada yang janji kepada saya untuk bertemu pada hari ini Pak? Tivi apa itu? Untuk wawancara tentang apa? Untuk acara apa? Apakah bisa ditanyakan? Kami tidak pernah menerima surat untuk wawancara atau peliputan dari media apapun?" begitu jawaban Ibu Kepala Sekolah yang sedikit kaget atas informasi yang dadakan seperti ini.

Pendek kata, setelah berdiskusi ngalor-ngidul, masuklah pewarta itu di ruangan Ibu Kepala Sekolah. Namun bukan  untuk sebuah liputan atau wawancara ketika pertemuan itu berlangsung. Tetapi sebuah negosiasi agar supaya Ibu Kepala Sekolah atau salah satu guru yang ada di sekolah itu dapat sedikit memberikan komentar atau mungkin pendapatnya atas sebuah peristiwa yang sedang menimpa salah satu selebritis yang kebetulan adalah alumni di sekolah itu.

"Jadi itulah maksud kedatangan kami Bu. Kami ingin sekali mengetahui apa yang pernah selebritis itu jalani selama bersekolah di sekolah ini. Jadi bukan untuk meliput kegiatan sekolah yang sedang berlangsung Bu." begitu reporter itu menyampaikan maksud kedatangannya. Ibu Kepala Sekolah, yang mengalami hal seperti ini lebih dari satu kali, tentunya tidak mudah memutuskan iya.

"Kalau itu yang ingin diliput, kami no comment. Itu masuk dalam wilayah pribadi orang. Dan kami sebagai pendidik, tidak ada tempatnya ikut serta dalam bagian yang sedang mendiskusikan kemalangan seseorang. Jadi kami tidak memberikan izin atas peliputan seperti itu." Jelas Ibu Kepala Sekolah.

"Kan dulu dia menjadi siswa Ibu?" kejar si reporter.

"Maaf juga, bahwa dia sekolah tidak saja di bangku SD. Ada SMP, SMA, atau perguruan tinggi." kata Ibu Kepala Sekolah.

"Benar. Tetapi kami memilih sekolah ini karena dia begitu banyak menyebut sekolah ini pada peristiwa sebelumnya."

"Meski begitu, kami tidak akan memberikan pernyataan apapun. Kami pendidik." jelas Ibu Kepala Sekolah lagi.

"Baik Bu. Kalau begitu, bisakah ketidakbersediaan Ibu itu Ibu tulis dalam surat. Dari surat itu nanti kami akan menjadikan sebagai laporan untuk bos saya di kantor?" desak tamu itu lagi.

"Maaf Mbak. Anda datang ke sekolah kami untuk melakukan wawancara juga tidak ada konfirmasi sebelumnya apalagi surat. Jadi apa kepentingan dan urgensi kami harus membuat pernyataan tertulis alias membuat surat?" kata Ibu Kepla Sekolah.

Jakarta, 14.08.2014.

Kesedihan Saya ketika ada Anak Tidak Menangis

Bertemu dengan teman sesama satu profesi dan berbagi cerita, menjadi bagian dari terapi kesehatan bagi saya. Karena dari cerita dan kisah teman-teman itu, banyak yang memang belum saya jumpai pada masa sebelumnya. Dan itu menjadi inspirasi untuk perjalanan saya selanjutnya. Dan ini salah satu dari kisah teman itu.

Di Halaman Sekolah

Pagi itu, sebagaimana biasanya kebiasaan kami di sekolah, kami berdiri berbaris menyambut peserta didik kami yang berdatangan mengalir menuju halaman sekolah. Namun tidak seperti biasanya pada pagi itu. Kami berdiri di lokasi yang begitu dekat dengan anak-anak didik kami yang baru saja turun dari kendaraan yang membawanya ke sekolah. Ini tidak lain karena halaman yang biasa kami berada sedang digunakan oleh kakak-kakak SMP yang sedang berlatih upacara bendera untuk peringatan Hari Kemerdekaan.

Dalam kesibukan seperti itulah kami harus bertemu dengan sebuah kejadian yang sungguh menyayat hati sanubari kami sebagai orang dewasa. Yaitu ketika ada seorang peserta didik kami yang harus mengenggam ibu jari tangannya karena salah prosedur ketika harus menutup pintu kendaraan yang mengantarnya ke sekolah.

"Apa yang terjadi Pak Beni?" tanya saya kepada seorang anggota Satpam sekolah kami yang berdiri dekat anak tersebut dan berusaha membantu apa yang sedang dialaminya. Namun karena sedang fokus kepada apa yang sedang terjadi, sehingga kata-kata saya sebagai pertanyaan tidak mendapatkan tanggapan darinya.

"Tolong Pak Toni dibantu Pak Beni. Apa yang terjadi? Mengapa anak itu memegang tanggannya?" Seru saya kepada Pak Toni yang kebetulan berada tidak jauh dari Pak Beni. 

"Apa yang kamu lakukan kakak? Mengapa sampai begitu? Masuk sekolah dulu." Begitu suara yang saya dengar dari kabin kendaraan yang baru saja menurunkan anak didik kami itu.

Kesedihan Saya

Drama singkat di sekolah pada pagi itu sungguh membuat saya untuk bertanya apa yang sedang terjadi pada pola asuh kita kepada anak-anak kita. Ini menjadi pertanyaan yang membuat saya galau dan merasa serba salah. Karena ketika saya melihat langsung ibu jari anak itu atas akibat dari terjepit pintu kendaraan, adalah sebuah pemandangan yang semestinya dapat 'merubah' seluruh action plan yang telah kita rumuskan dalam menjalani hidup normal itu.

Ini karena ibu jari tersebut harus segera mendapat perawatan yang labih serius. Ini tidak saja akibat berikut setelah kejadian itu terjadi. Seperti memar, suhu badan yang akan naik karena rasa nyut-nyutan yang tiada henti. Dan yang lebih penting dari itu adalah perhatian.

Dari perhatian itulah seharusnya melahirkan keputusan untuk 'merubah' seluruh action plan yang telah kita rumuskan dalam menjalani hidup normal itu. Ini tidak lain karena ketika itu terjadi pada lingkungan terdekat, apakah kita akan lanjut dengan aktivitas normal kita atau kita harus 'berbelok' dan harus 'mendekap' apa yang sedang terjadi?

Pada saat saya melihat langsung lagi ananda itu di dalam kelas dengan ibu jarinya yang telah dibalut, kesedihan itu datang karena meilihat anak itu benar-benar tidak meneteskan airmata. Dan kenyataan itu pula yang saya sampaikan kepada gurunya; Mengapa anak itu tidak menangis?

Dengan singkat Ibu guru di kelas itu berguman; Realitas hidupnya yang membuat wajah anak itu datar saja meski harus menahan rasa nyeri yang tak tertahan untuk anak seusianya.

Kenyataan itu pulalah yang membuat saya benar-benar belajar tentang sebuah pola asuh. Terima kasih teman atas kisahnya.

Jakarta, 14.08.2014

13 Agustus 2014

Bertemu Ahli AC di Kelas TK B

Sekitar pukul 10.00 siang itu, saya bertemu dengan 'ahli AC', pendingin udara, di dalam kelas TK B. Karena memang itulah yang terjadi saat saya datang untuk mengecek kondisi pendingin udara itu setelah menerima laporan sahari sebelumnya bahwa AC kelas tersebut ada yang tidak berfungsi dengan baik.

Pada saat laporan pertama kemarin, saya mencoba untuk mengecek remot AC. Maksudnya adalah untuk mengetahui apakah ada yang keliru dalam setting di remot tersebut. Namun ketika pasti bahwa setting remot dalam kondisi yang baik-baik saja, maka bagian teknisi segera mengecak kondisi out door. Ternyata ditemukan bahwa kompresor sering pada posisi on dan kadang off. 

Maka pada siang itu saya datang ke kelas untuk melihat kembali  bagaimana kondisi AC terkini. Mudah-mudahan, pikir saya, AC sudah dalam kondisi baik-baik saja setelah kemarin diberikan penanganan. Namun pintu kelas dalam kondisi terkunci.

"Bagaimana kondisi AC Bu?" Tanya saya kepada dua Ibu guru yang berada di dalam kelas tersebut.

"Masih belum masalah Pak sampai jam segini. Mungkin sebentar lagi Pak. Karena satu satu unit saja yang menyala." Jelas guru kepada saya setelah saya berhasil berada di dalam kelas. 

"Ini kelasnya tidak panas?" tanya saya mengejar.

"Sebentar lagi Pak. Nanti ketika pukul 11.00 pasti mulai terhentak. Buktikan saja Bapak ada di kelas kita sampai kami akan pulang nanti. Setelah itu, Pak Agus boleh berpendapat." Begitu Ibu guru berargumentasi. Takut kalau saya tidak percaya akan kondisi kerusakan.

"Sip Bu. Nanti saya tungguin sampai siang. Btw, itu pintu kelas mengapa harus dikunci?" Tanya saya tentag perihal yang lain.

"Iya Pak. Soalnya jagain supaya S*** tidak keluar-keluar Pak. Kalau pintu tidak dikunci dia keluar tanpa meminta izin. Makanya kita jadi bingung mencari dia dimana."  Jelas guru yag satu lagi sembari menunjuk anak yang bernama S***. Saya pun mengikuti jari telunjuk si guru dan menatap sosok anak didik kami yang memang luar biasa.

"Kemana S*** pergi ketika pintu kelas tidak dikunci Bu?" tanya saya lagi.
"Itu Pak, dia ikut mengecek kompresor AC yang ada di balik ornamen gedung di luar kelas." Jelas Ibu Guru. S***, anak yang sedang kami perbincngkan tampak tetap asik mengerjakan tugas yang diberikan guru. Namun sekilas saya melihat dia tidak dengan sepenuh konsentrasi mengerjakan tugasnya itu. Ia kelihatan sedang ikut serta mendengar percakapan gurunya dengan saya.

"Dia punya usul untuk AC kelas yang rusak Pak." Lanjut Ibu guru lagi.
"Baik. Terimakasih sebelumnya Pak Agus sampaikan atas usulan yang telah kami berikan kepada Ibu Guru. Sekarang Pak Agus mau ikut mendengar, apa usulan kamu untuk AC kelasmu yang rusak." Kata saya kepada S***.

"Harus diganti dengan AC **. Katanya. "Sebab, lanjut S***, AC kelas kita jelek Pak." kata ahli AC itu ketika tidak seorang temanpun di kelas itu yang tidak tenggelam kepada tugas yang diberikan guru.


Jakarta, 13 Agustus 2014.

Enam Hari Belajar (Kerja)

Mulai tahun pelajaran 2014/2015 ini, yang awal tahun pelajarannya dimulai pada pertengahan Juli 2014, sekoah yang ada di Jakarta menetapkan hari belajar (siswa) di sekolah mulai dari hari Senin sampai hari Sabtu, yang berarti enam hari belajar (kerja). Dan ketentuan ini baru secara pasti diketahui oleh sekolah setelah libur Idul Fitri di awal Agustus. Sebuah ketentuan yang bagus untuk ukuran waktu pemberitahuan. Karena ketentuan baru sampai di sekolah setelah tahun pelajaran sudah mulai beberapa hari. Sebuah model perencanaan sekaligus pengelolaan yang berprestasi untuk sebuah perubahan fondamental!

Kuantitas

Buat kami yang berada di sekolah swasta, ketentuan esensial yang dikeluarkan secara mendadak, adalah sebuah langkah yang konyol bila serta merta diikuti. Mengingat perubahan ini akan benar-benar merubah perilaku seluruh komunitas sekolah yang ada. Terlebih kepada peserta didik yang telah turut serta dalam menyokong bagi keberlangsungan sekolah.

Selain juga bila mempertimbangkan kuantitas jam belajar para siswa selama di sekolah yang lebih banyak dari pada pa yang dilakukan di sekolah negeri pada jenjang pendidikan yang sama untuk per pekannya. Dan tentunya juga jumlah jam kerja bagi para pendidik dan tenaga kependidikannya.

Sebagai gambaran saja, bahwa untk tingkat pendidikan di sekolah dasar di sekolah kami, akan ada 42 jam pelajaran per pekan. Jumlah jam pelajaran ini lebih banyak 4 jam pelajaran per pekan sebagaimana yang ditentukan oleh pemerintah dan dianut di sekolah negeri pada umumnya. Ini adalah jumlah jam ko kurikuler. 

Bagaimana jika jumlah itu ditotal untuk 52 pekan minggu efektif sepanjang tahun pelajaran? Maka akan ketemu jumlah sebagai berikut;
Sekolah kami         = 42 X 52 pekan = 2.184 jam pelajaran sepanjang satu tahun pelajaran.
Ketentuan standar =  38 X52 pekan = 1.976 jam pelajaran sepanjang satu tahun pelajaran.

Dari data tersebut, maka sekolah kami akan memiliki  kelebihan 208 jam pelajaran sepanjang satu tahun pelajaran daripada jumlah jam pelajaran yang ditentuan pemerintah sebagai standar. 208 jam pelajaran tersebut sama artinya dengan 5 pekan minggu efektif.

Kualitas?

Uraian tersebut hanya berkisar kepada jumlah angka, yang dihitung secara kuantitas. alu bagaimana dengan, misalnya kehadiran guru di sekolah atau juga di dalam kelas? Bagaimana misalnya guru yang ketika jam belajar di sebuah kelas ia datang terlambat masuk kelas? Dan setelah di dalam kelas pun ia meninggalkan kelas yang diajarnya itu sebelum jam pelajaran selesai karena ia akan menyelesaikan kudapan yang masih tersisa di kantor guru? Atau guru itu akan menggalkan kelas setelah memberikan tugas kepada para eserta didiknya dan kembali lagi ke kelas ketika jam pelajaran hanya tersisa 5 menit? 

Allahua'alam bishawab...

Jakarta, 13 Agustus 2014.

11 Agustus 2014

K-13 #10; Terlambat Sampai

Pada hari ini, Senin, tanggal 11 Agustus 2014, jalanan di Jakarta begitu macet. Mungkin yang lebih tepat tentang kondisi jalanan pagi ini dengan kalimat; Jakarta sudah kembali normal. Artinya seperti hari-hari sebelum Idul Fitri yang lalu. 

Seperti yag disampaikan oleh salah seorang pengguna Twitter yang tinggal di Depok. Disampaikan bahwa ia telah berada di terminal bus Depok tidak kurang dari pukul 05.25. Dan hanya butuh beberapa menit dia sudah mendapatkan tempat duduk di Bus Kopaja jurusan Blok M. Namun pada pukul 07.34, ia kembali mencuit di akunnya bahwa posisinya masih berada di depan Cilandak Town Squre. 

Beda lagi dengan pemiliki akun yang sama-sama tinggak di tetangga Jakarta. Bahwa dia telah masuk jalan tol Cijago pada pukul 05.20 dan langsung melambat mulai pintu pembayaran jalan tol Jagorawi. "Sampai mana kondisi jalan seperti itu Mbak?" komentar yang lain. "Sampai Cawang!".

Terlambat Sampai

Gambaran di atas adalah gambaran bagaimana kondisi keterlambatan sampai ke kantor yang terungkap melalui medsos Twitter. Kalau dari lokasi dimana mereka biasanya memulai perjalanan dan terdampak oleh kemacetan di jalanan, maka ini peristiwa insidental. Karena pada jam yang saya mereka memulai perjalanan itu pada hari-hari normal tidak akan mengalami keterlambatan sampai di kantor. Tetapi kondisi pada hari ini menjadi sesuatu yang berbeda. Mungkin karena kebetulan hari ini adalah hari yang benar-benar normal bagi seluruh penduduk Jakarta dan sekitarnya, sehingga tidak ada seorangpun pada hari ini yang mengambil cuti atau masih pada masa liburan. Sehingga menjadikan kapadatan sepanjang ruas  jalanan dari berbagai lokasi menuju pusat kota, Jakarta.

Tapi bagaimana dengan keterlambatan sampai pada bukiu pegangan untuk Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah, utamanya SD pada awal tahun pelajaran ini? Apakah ini adalah bentuk keterlambatan yang sifat dan kondisinya dapat dikatakan sebagai insidentil?

Sebuah berita dari koran on line pada Senin, 11 Agustus 2014.
Logika ini penting saya kemukakan dalam catatan saya ini, karena hingga hari ini yang didapat dan dijadikan pegangan guru pada saat berinteraksi dengan siswa dengan upaya melaksanakan pembelajaran berbasis kepada Kurikulum 2013 adalah bukan buku paket, tetapi masih dalam bentu CD. Ini sebuah alternatif penyelesaian masalah atas  keterlambatan buku yag dijanjikan. Dan seperti masalah yag lain-lain di negeri ini, proses kegiatan guru-siswa di kelas tetap berjalan. Dan jangan ditanya kualitas dari penerapan Kurikulum 2013 dengan kondisi yang sebagaimana saya sampaikan tersebut. Meski, seharusnya buku ukan dijadikan sumber belajar satu-satunya bagi guru dalam mengaplikasikan pembelajaran yang menjadi siswa sebagai pusat pembelajaran. Akan tetapi itulah realitas yang nyata ada di depan mata kita semua.

Maka ketika kita menengok kebelakang, pada saat pihak pemerintah mempersiapkan buku sumber belajar tersebut, tidakkah dapat diprediksikan, diperkirakan akan berapa lama kebutuhan  pihak lain dalam mempersiapkan buku dari bentuk soft copy ke hard copy? Bukankan jika itu diketahui maka kita dapat menentukan kapan paling lambat kita harus mulai mencetak bukunya?

Be;ajar dari keterlambatan kita sampai ke kantor atau ke tempat kerja, maka kompetensi menghitung mundur, adalah prasyarat bagi 

08 Agustus 2014

Hari Efektif (HE) Sekolah

Kami yang berada di sekolah, selalu akan menghitung hari-hari masuk sekolah sepanjang tahun pelajaran. Kalkulasi itu dimulai mulia dari pekan pertama masuk sekolah, bulan pertama, hingga hari terakhir, dimana seluruh peserta didik akan menerima laporan kenaikan kelasnya. Sekolah kami, dan seluruh sekolah di Jakarta, yang lima hari kerja dalam satu pekannya, berarti akan ada lima (5) hari efektif, disingkat HE, dalam satu pekannya. Itu jugalah yang kami lakukan sepanjang tahun pelaran 2014/2015 ini.

Termasuk di dalamnya adalah menentukan even spesial di tengah semesternya, dan hari akhir pekan yang akan kami lakukan sebagai hari penerimaan rapot tengah semester, yang kalau di sekolah kami akan kami selenggarakan dalam bentuk Konferensi Siswa. Juga, libur sekolah pada saat Idul Fitri, mid term, dan akhir semester.

Itu semua menjadi bagian dari perhitungan HE yang ada di sekolah. Tentunya termasuk sekolah dimana saya berada sekarang ini. Dan karena sebagai sekolah sawasta, maka kami harus menjadi beberapa pembeda antara sekolah yang kami kelola dengan sekolah setaraf lainnya. Keperbedaan ini, yang dalam terminologi kami kami menyebutnya sebagai diferensiator, adalah ranah yang memang kami yakini sebagai keunggulan. Termasuk diantaranya adalah jumlah jam pelajaran per pekan yang pasti lebih banyak dari pada ketentuan yang telah pemerintah gariskan. Memang ini berada di sisi kuantitas.

Pada sisi prosesnya, sebagai sisi dari kualitas, kami juga ingin menjadikannya pembeda. Dimana kami memandu semua teman-teman guru untuk  terus bersemangat sebagai pendidik yang full time dan on time, yang tidak hanya sebagai pengajar di dalam kelas. Itu semua, anara lain upaya yang kami lakukan. Termusk misalnya pada hari pertama masuk sekolah setelah libur. Kami tidak akan memulangkan siswa hanya setelah mereka mengakiri jabat tangan dengan teman dan guru misalnya, ketia hari pertama sekolahnya itu adalah setelah libur Idul Fitri.

Sebagaimana yang dilakukan oleh sekolah-sekolah tetanga kami. Dimana anak-aak hadir ke sekolah untuk berkumpul di lapangan yang ada, mendengarkan petuah dari guru yang pasti tidak mereka perhatikan karena antusiasme anak-anak bertemu temannya setelah libur sekolah sekian lama, lalu diakiri dengan jabat tangan. Anehnya, itu ada dalam hitungan sebagai hari efektif (HE) sekolah? Atau juga pada kegiatan-kegiatan yang lain, dimana anak hadir di sekolah dalam hitungan setengah hari namun dalam catatan kalender sebagai satu (1) hari efektif?

Itulah yang antara lain kami jadikan 'latihan' bagi teman-teman guru kami sebagai bagian dari menjabarkan makna etos kerja full time. Kami berharap semoga upaya ini selalu dimudahkan. Amin.

Jakarta, 8.08.2014.

04 Agustus 2014

Bercermin dari Model Penghibur Perjalanan

Sore itu, saya naik bus dari Giwangan di Yogyakarta menuju arah barat, Purwokerto. Dan kebetulan, saya mendapatkan giliran bus yang berpendingin udara. Jadi selain kursi bus yang masih empuk, saya juga tidak bakalan kepanasan. Ini benar-benar sebuah keberuntungan. Karena seringnya saya mendapatkan giliran bus ekonomi yang beberapa jendela penumpangnya dibuka.

Tapi buka itu yang ingin saya jadikan catatan di sini, melainkan sebuah pengalaman berada di dalam bus umum dan dihibur oleh penghibur perjalanan, yang biasa disebut orang sebagai pengamen.Dan dari para penghibur itulah saya bercermin dan menimba pelajaran. Ini karena selain kondisi bus yang saya dapat, begitu bus akan keluar terminal, naik seorang Ibu dengan pakaian khas Jawa dan bergitar. Tentunya dengan syair lagu Jawa yang dihafalnya dari larik pertama hingga terakhir, dan dengan suara yang enak meski tidak terlalu merdu. Juga dengan iringan petikan gitar yang persis seperti siter. Nglangut, istilah Jawanya, dan menghanyutkan ketika larut dalam alunan lagu itu.

Lagu pertama selesai, lanjut ke lagu berikutnya, hingga lebih kurang ada lima lagu. Dan dari lagu-lagu itu, diahiri dengan salam terimakasih atas perhatian kami semua. Dan sang pemusik itu baru turun di sekitar daerah Ambar Ketawang. Atas hiburang yang telah diberikannya dengan anggun itulah maka saya dan hampir semua penumpang memberinya upah dengan tulus dan ikhlas.

Pengalaman serupa juga saya alami ketika saya naik bus ekonomi dari Purworejo menuju Gombong pada sebuah libur Idul Adha untuk berjumpa dengan teman akrab saya semasa sekolah. Dengan penghibur perjalanan yang, kalau saya rangking kualitas suaranya jauh dibanding perjalanan saya dari Giwangan sampai Ambar Ketawang itu. Tapi pemusik dengan gitar itu selalu tuntas membawakan lagunya dan dengan penuh penghayatan. Bukan lagu cinta saja yang dibawakan, tetapi juga lagi kehidupan.

Dan seperti juga pengalaman sebelunya, ketika penghibur itu mengakhiri 'pertunjukkannya' dengan salam yang santun, maka saya dan sebagian besar penumpang lainnya memberinya uang pecahan secara tulus dan ikhlas.

Berbeda

Apa yang saya alami tersebut tampaknya berbeda dengan apa yang disampaikan anak saya di sore itu. Sebuah pengalaman  anak saya ketika ia pulang kerja di sebuah angkutan umum. Sebuah fakta yang sesungguhnya bukan saja berbeda, tetapi justru berlawanan. Bahwa seorang penghibur perjalanan, masuk kendaraan yang ditumpanginya, dan sebelum menampilkan kebolehannya, membuka percakapan dengan penuh kebanggaan akan masa lalunya yang kelam. Atau mungkin sengaja menyebarkan aura takut?

Menampilkan permainan gitar yang mengabarkan ketidak semangatanya. Serta mengakhiri penampilannya dengan salam yang juga menebar rasa ketidaknyamanan kepada penumpang, termasuk anak saya. Mungkin ada beberapa orang yang kemudian akan merogoh uang pecahannya, tetapi pasti dengan rasa keterpaksaan dan pastinya ketidaktulusan dan keikhlasan. 

Cermin

Dari dua pengalaman tersebut, saya mengambil pelajaran untuk mencintai kesungguhan dan ketulusan. Kesungguhkan terhadap apa yang harus kita lakukan dan kerjakan karena itulah lahan bagi saya untuk mewujudkan konsepsi kinerja yang bagus. Dan ketulusan dalam melaksanakan kewajiban dengan harapan upaya itu memberikan fibrasi kepada apa yang akan kita dapat dikemudian hari. 

Dan tentunya kita sepakat bahwa jalan pertama adalah model jalan yang mejadi pilihan kita bersama. Baik kita sebagai apapun dan dengan pekerjaan dimanapun. Semoga!

Jakarta, 4 Agustus 2014.

Menolak Daur Ulang

Puluhan tahun yang lalu, saat saya datang ke sebuah lembaga pendidikan untuk kebutuhan interviu guna menjadi guru, ada semangat yang tersimpan di sanubari saya. Sebuah semangat yang sekaligus menjadi tekad saya sebagai guru yang 'berbeda' dari apa yang sudah saya jalani sebelas tahun sebelumnya. Maka ketika salah seorang yang menginterviu saya memberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan kepada saya, kesempatan itu saya gunakan untuk menyampaikan apa yang saya mimpikan.

Dan sepanjang kesempatan touring di seluruh sisi sekolah yang mereka berikan kepada saya, dan juga jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut, saya meyakini bahwa inilah jalan bagi profesi guru yang saya sedang impikan. Harapan saya kali itu tidak lain adalah mendapat kesempatan untuk bersama lembaga tersebut dalam menjalani pertumbuhan.

Daur Ulang

Yang saya maksudkan sebagai daur ulang disini, yang berkaitan dengan lahan kerja yang sesuai dengan profesi saya sebagai guru. Dimana pada tahun-tahun awal saya menjalani profesi ini, sebagai upaya dalam mengejar ketuntasan pemahaman anak didik saya terhadap materi pelajaran yang telah saya sampaikan, adalah dengan bertahap, berjenjang, dan rutin, memberikan latihan-latihan ulangan atau tes formatif. Tentu ini semua adalah istilah, pada saat itu. Saat saya sebagai guru di kelas di tingkat pendidikan sekolah dasar.

Dan karena kegiatan itu adalah kegiatan yang relatif rutin, maka ketersediaan soal untuk melakukan latihan dan ulangan menjadi bagian inheren dari kegiatan yang guru harus berikan di kelas. Bahkan termasuk diantaranya adalah untuk pekerjaan rumah siswa. 

Namun seiring berjalannya waktu, saya tersadar bahwa tidak semua soal yang telah saya kumpulkan,  bahan ajar yang telah saya sampaikan, bahkan juga RPP yang telah buat dan pergunakan pada saat ini, saya merasakan menjadi hambar ketika soal, bahan ajar, RPP, serta strategi pembelajarannya tersebut saya pergunakan lagi dengan persis sama. Itulah daur ulang yang saya maksudkan. Sebuah konsep yang pada akhirnya saya tinggalkan jauh-jauh.

Oleh karenanya, seluruh rakaian kegiatan yang telah terjadi itu, tetap saya simpan sebagai sejarah perjalanan saya. Yang menjadi bagian penting ketika saya akan melakukan hal yang sama, namun harus dengan semangat yang berbeda. Sehingga dengan seperti itu, selalu ada semangat baru buat saya untuk menjalani proses yang meski berulang, tetapi dengan semangat yang baru. Sejarah tetap menjadi bagian yang saya akan lihat, tetapi bukan untuk saya patuhi seluruh tahapannya dalam menjalani interaksi guru dengan siswa. 

Dan semangat menolak untuk melakukan kegiatan daur ulang itu begitu menggebu ketika saya bertemu dengan teman-teman dengan rasa ingin tahu yang berkobar-kobar. Teman-teman yang selalu memberikan atmosfer untuk tidak ada rasa puasnya dalam melakukan eksplorasi dan menjalani kehidupan yang sama dengan semangat dan warna yang selalu berbeda.

Dan ketika di lembaga yang berbeda, ternyata tidak mudah mengajak teman yang lain dengan menggunakan kaca mata yang sama dalam menjalani profesi yang sama itu. Dibutuhkan kesabaran dan keteguhan hati dalam mengjak teman lain untuk menjalani proses batin dalam pola menolak daur ulang tersebut. Ini karena diantara kami tertanam semangat tidak ingin repot dan selalu berpikir pragmatis dengan prinsip kerja; membuat, menyimpan, dan menggunakan kembali. 

Jakarta, 4 Agustus 2014.

03 Agustus 2014

Memilih Guru Kelas

Ada yang belum saya sampaikan berkenaan dengan kesibukan awal tahun pelajaran baru, yaitu tentang pemilihan penanggungjawab kelas, yang untuk unit SD kami menggunakan guru kelas. Ialah yang bertanggungjawab penuh sepanjang satu tahun pelajaran untuk seluruh aspek peserta didik di kelasnya, yang jumlahnya rata-rata 25 peserta didik.

Lalu apa yang menjadi fokus dalam catatan saya ini? Tidak lain adalah faktor non teknis atas penentuan guru kelas dari keseluruhan guru yang ada di sekolah. Karena tidak semua guru yang tahun lalu menjadi guru kelas, maka tahun pelajaran ini harus juga menjadi guru kelas.

Sementara tidak banyak guru mata pelajaran yang belum menjadi guru kelas dapat serta merta kami beri tanggungjawab tambahan sebagai guru kelas. Oleh karenanya, jauh sebelum akhir tahun pelajaran berakhir, dari data yang kami dapat serta dari masukan berbagai pihak, kami menimbang-nimbang untuk menentukan pilihan teman-teman guru yang akan menjadi guru kelas di tahun pelajaran berikutnya.

Untuk guru kelas yang telah bertugas di tahun sebelumnya, data kinerja mereka pada posisi itu telah cukup bagi kami untuk mengajaknya berdiskusi dan menentukan posisi di tahun pelajaran berikutnya. Kesimpulan ini murni berbasis kinerja. Artinya, jika pada tugas sebelumnya memang harus banyak yang ditambal, maka kami akan memberikan posisi tersebut kepada rekannya yang lebih siap untuk menerima tambahan tugas tersebut. Demikian pula sebaliknya, jika selama tahun yang dengan posisinya itu ia berhasil membawa diri dan menempatkan diri sebagai manajer handal di tingkat kelasnya, maka tidak ada alasan bagi kami selain mendukungnya.

Bagaimana jika ada guru kelas yang kinerjanya kurang baik? Kemana ia harus kami posisikan di tahun pelajaran berikutnya? Dan siapa yang harus menggantikan posisinya?

Kepada mereka yang akhirnya tidak kami pilih sebagai guru kelas, maka kami akan menempatkan mereka pada posisi sebagai guru mata pelajaran yang sesuai dengan latar belakang keahliannya. Dan sebagai pengganti posisi guru kelas, kami akan pilih dari guru-guru mata pelajaran yang memiliki kematangan emosi dan sosial, serta kompetensi komunikasi yang baik.

Meski tidak ada keputusan yang kami ambil selain berdasarkan obyektifitas di atas, beberapa teman, tentunya yang akhirnya tidak menjadi guru kelas, selalu dan tetap mempertanyakan dasar keputusan kami. Tetap ada rasa ketidakikhlasan dari mereka atas keputusan kami. Dan ini kadang membuat kami berpikir bahwa, disitulah letak kekurangan yang harus mereka perbaiki. Yaitu tidak tahu atau tidak sadar bahwa ada yang kurang darinya dalam mengampu sebagai guru kelas.

Itulah lahan komunikasi kami yang harus menjadi fokus kepada teman dengan model seperti itu. Bahkan dialog dan diskusi terus berjalan pada waktu beliau masih pada posisi guru kelas. Dan itulah yang saya maksud dengan memberikan tambalan.

Itulah catatan akhir tahun pelajaran saya tentang posisi guru di sekolah. Semoga dengan ini saya sendiri tidak akan lupa.

Jakarta, 3.08.2014.

01 Agustus 2014

Belajar Menjadi Guru

Beberapa tahun yang lalu, saat usia masih kepala dua, dan belajar menjadi guru di sekolah  yang mengaplikasikan model belajar berpusat kepada siswa dalam setiap interaksi guru-siswa, saya berulang kali disupervisi oleh siapa saja yang menjadi manajemen dimana saya berada. 

Setidaknya setiap pekan saya dikunjungi tidak kurang sebanyak tiga kali pada saat berada di dalam kelas. Kunjungan itu ada yang terjadwal, dan ada juga yang insidental atau mungkin sidak kalau model pejabat di pemerintahan. Hal ini karena ada empat orang yang berwenang hadir di dalam kelas saya. 

Dan peristiwa kunjungan-kunjungannya itu memberikan dampak positif pada perjalanan karir pada masa berikut saya sebagai guru di sekolah. Ini karena mereka akan memerikan feedback atas catatan yang mereka dapat dalam kunjungannya itu. Dan pada saat feedback diberikan tersebut, itu adalah butiran nasehat buat saya untuk bertumbuh dengan lebih baik. Alhamdulillah.

Dan bersyukur juga bahwa saya diberikan keberuntungan di masa-masa itu. Misalnya saja saat executive principal saya datang dan duduk di bangku siswa yang kosong di suatu siang, kelas yang saat itu sedang belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, sedang belajar membuat kalimat. Dan saya minta anak-anak untuk menggunting kata-kata dari koran yang telah saya sediakan, kata yang menggunakan awalan me- secara bebas. 

Memang suasana kelas dipenuhi obrolan anak-anak yang sibuk menemukan kata-kata berawalan me untuk kemudian menempelkan dalam buku latihan masing-masing dan kemudian menuliskan kalimat yang dia punya. Alhamdulillah, dari kunjungannya itu, seorang manajemen yang hadir di dalam kelas memberikan ponten bagus atas aktivitas belajar siswa. Juga pada waktu-waktu yang lain. Saya mendapat keberuntungan.

Juga banyak peristiwa seru dan menjadi tonggak bagi saya untuk menuju menjadi seorang guru yang mencintai profesinya. Dan itu menjadi bagian mat sangat penting buat saya tumbuh. Semua masa lalu yang sudah menjadi sejarah yang selalu mengundang kesyukuran.

Bahwa kunjungan manajemen ke dalam kelas saya pada saat itu yang bertubi-tubi justru membuat saya faham bagaimana aktualisasi dari konsep belajar menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran.

Kalau ada pertanyaan; berapa lama, berapa jam tatap muka yang saya dapatkan dari lembaga tersebut agar saya bermigrasi dari guru sebagai pusat belajar menjadi siswa sebagai pusat belajar?Maka jawabannya adalah proses yang panjang dan penuh nikmat. Itulah praktek saya menjadi.

Jakarta, 1.08.2014.

Menumpuk Buku

Tiba-tiba ada pertanyaan menarik dan menggelitik dari pihak lain ketika ia berjibaku bersama saya saat memindahkan buku-buku yang berasal dari kantong plastik ke rak buku yang baru. Menggelitik, karena pertanyaan itu justru tidak membutuhkan jawaban verbal. Tetapi tindakan nyata. Pertanyaan yang mengarah kepada mempertanyakan komitmen saya dalam mmperlakukan buku-buku itu.

"Apakah semua buku-buku ini sudah dibaca Bapak?" Sederhana sekali bukan pertanyaan itu. Dan untuk saya, pertanyaan itu juga membuat saya bergeming dan memastikan bahwa belum semua buku yang ada tersebut saya baca. Khususnya buku pendidikan, yang tidak semuanya saya beli. Karena banyak buku-buku yang ada itu merupakan hibah dari beberapa teman.

Dan biasanya, ketika buku-buku itu saya terima, saya baru sempat membaca secara acak dari buku itu. Sekedar ingin tahu apa isi dari buku yang saya terima itu. Dan pada saat buku-buku itu masuk dalam rak hingga pindah ke rak yang baru, saya juga baru sadar kalau masih banyak buku yang belum saya jamah secara menyeluruh.

Namun berbeda ketika buku sastra atau buku sejarah. Tidak ada satu halaman pun dari mereka yang belum saya baca. Bahkan guratan pinsil dan pulpen warna menjadi garis bawah ketika saya menemukan ungkapan atau kalimat bagus. Juga catatan-catatan yang saya buat dengan harapan suatu saat nanti menjadi mudah untuk menemukan hal menarik dari buku sebagai nukilan.

Jadi, jawaban atas pertanyaan itu adalah tekat dan komitmen saya untuk membuka dan menemukan hal baik dalam buku-buku di rak itu. Utamanya buku-buku yang memang belum sempat saya membacanya dengan utuh. Semoga.

Jakarta, 1.08.2014.