Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Maret 2013

Mentransformasi Organisasi, sebuah Refleksi

Delapan tahun yang lalu, di sebuah lembaga pendidikan di wilayah utara pulau Sulawesi, saya mendapat amanah untuk menjadi pemandu bagi sebuah transformasi budaya kerja. Pada waktu itu, apa yang saya dapatkan dari sebuah tugas atau pekerjaan sebagaimana hal tersebut, adalah sebuah amanah berat. Mungkin karena ini menjadi hal yang memang tidak banyak menjadi urusan saya selama ini sebagai orang luar atau sebagai orang yang disewa. Namun karena sokongan pemilik lembaga yang secara khusus mendampingi saya untuk ikut hadir dalam kegiatan tersebut, sekaligus pulang kampung, juga adalah pertemanan saya dengan beberapa pucuk pimpinan yang ada di lembaga dimaksud, sehingga memicu semangat saya untuk terus menemukan jalan dan celah menuju transformasi yang diinginkan.

Jadilah keberadaan saya selama sepekan selama liburan semester tersebut sebagai perjalanan profesional saya dalam menemani teman-teman di lembaga swasta itu dalam membuat peta perjalanan. Maka peristiwa itu sangat kental dengan diskusi tentang konsepsi peta perjalanan serta strategi pencapaiannya, dan juga alat atau parameter yang dibutuhkan dalam melaksanakan konsep yang kami inginkan.

Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas saya saat itu. Pertama; saya menjelaskan dan mendiskusikan konsep lembaga/organisasi. Bersamaan dengan itu, berarti saya mengajak seluruh komponen yang ikut serta dalam kegiatan itu untuk bermimpi tentang sukses yang ingin dicapainya. Kedua; diskusi tentang berbagai parameter yang mungkin dapat kita jadikan sebagai pegangan dalam menjalankan konsep dan sekaligus sebagai tolok ukurnya. Sebagai pemandu dalam operasionalisasi sebuah perjalanan organisasi. Dalam tahapan ini, maka peserta yang ada kami bagi dalam komisi yang kami sesuaikan kebutuhannya. Mereka bekerja dalam satu ruangan besar dengan penuh semangat untuk perubahan atau transformasi. Ketiga; Membuat kesepakatan terhadap arah atau tujuan yang diinginkan bersama, konsepsi sistematikanya, dan sekaligus format parameter-parameter yang dibutuhkannya.

Pada tahapan yang terakhir itulah, saya ingat sekali bagaimana kami belum menyepakati. Dan karena ada keharusan yang harus menjadi tuntas, maka diskusi kami lanjutkan di rumah adat yang menjadi bagian dari lembaga tersebut, pada malam hari. Sakali lagi, ini adalah kesempatan dan peristiwa pelatihan langka dan sekaligus unik yang pernah saya lakoni.

Bagian terakhir itu, adalah menyepakati konsepsi dan sekaligus parameter bagi sebuah penilaian keberhasilan guru. Namun karena pada siang harinya kita sudah berkutat dan berhasil membuat rumusan tentang profil lulusan dari seorang siswa atau perserta didik, maka pada pembahasan malam itu saya mengajak teman-teman untuk menggunakan proses yang sama.

Dan alhamdulillah semua itu dapat berjalan dengan baik. Saya dan beberapa teman meninggalkan lembaga itu dengan seperangkat konsep dan sistem transformasi sebagai hasil diskusi seluruh komponen perguruan/organisasi sebagau panduan tertulis.

Enam bulan berikutnya, saya baru mendapatkan kabar bahwa perangkat sebagai hasil diskusi dan kesepakatan yang saya pandu pada saat sebelumnya, masih berhenti sebagai dokumen. Dan masih sedikit sekali konsep-konsep bagus tersebut yang diaplikasi sebagai peta perjalanan bagi organisasi tersebut. Dari apa yang saya alami itu, inilah bagian penting bagi sebuah keberhasilan bagi transformasi lembaga/organisasi. Yaitu melakukan apa yang disepakati. Dan tidak menjadikannya sebagai dokumen. Karena dokumen itu masih merupakan bukti hasil kerja pada tataran konsep. Padahal keberhasilan oraganisasi adalah muara dari implementasi konsep-konsep.

Hari ini, saya tertegun kembali atas sebuah organisasi yang memiliki gambar mirip dengan apa yang saya tatap pada waktu itu...

Jakarta, 31 Maret 2013.

30 Maret 2013

Menjadi Komentator

Dalam sebuah kesempatan, saya diajak untuk makan nasi goreng kambing oleh teman-teman di sebuah tempat yang hanya buka menjelang waktu magrib di sebuah tempat nyaman di Jakarta Selatan. Itu bukan kesempatan saya yang pertama kali untuk makan di lokasi tersebut. Sudah beberapa kali. Utamanya ketika saya harus datang untuk berkumpul dengan teman-teman jika ada yang harus didiskusikan. Tentang apa saja. Namun biasanya kami hanya menunggu di ruangan diskusi saja. Bukan seperti saat itu. Kami berlima mendatangi kios nasi goreng kambing itu.

Teman-teman saya ini adalah mereka yang kebetulan sudah mendapat amanah dari unit institusinya masing-masing sebagai atasan. Jadi lebih kurangnya sudah pada jadi bos. Meski berbeda harga dan nama posisi yang disandangnya. Maka saya sebagai  teman dari mereka semua itu, tentu masuk dalam kelompok orang yang berada di luar  pagar. Asyik juga saya mendapat kesempatan makan malam bersama-sama dengan mereka. Sebuah keberuntungan yang menyenangkan dan menghibur.

Dan seperti hari-hari biasanya, warung pinggir jalan dengan tenda knock down tersebut terlalu sibuk melayani langganan yang lebih dulu datang dari pada kami. Sehingga hampir tiga puluh menit kami harus menanti nasi goreng kambing itu datang ke meja kami. Demikian pula dengan pesanan minum.

Pada waktu-waktu menanti itulah berkembang percakapan standar dan fenomental. Tentu ada juga masalah-masalah yang didiskusikan secara informal tersebut juga adalah masalah yang terintegrasi dengan pekerjaan pokok teman-teman saya itu.

Dan sekali lagi, sebagai orang luar saya tentu lebih banyak sebagai orang yang pasif dalam pergulatan obrolan tersebut. Hanya sekali-sekali saya harus menyampaikan pandangan, pendapat, atau mungkin sekedar gagasan, bila itu menjadi apa yang diinginkan teman-teman.

Dan dari materi yang mereka obrolkan dan diskusikan, tidak semua adalah obrolan-obrolan konseptual atau sistematikal terhadap apa yang mereka sedang dan akan kerjakan di unitnya masing-masing. Bahkan tidak jarang apa yang disampaikan adalah hal-hal yang menjadi kewenangannya, namun tidak dapat terselesaikan atau mungkin belum diselesaikan. 

Justru pada isu-isu seperti itulah saya ditariknya oleh teman itu untuk berbagi omongan. Maka dengan mengambil metapora, agar apa yang saya sampaikan tidak menjadi kalimat yang justru menunjuk mereka sebagai pelaku yang seharusnya membereskan apa yang oleh organisasinya belum terlaksana. Karena bukankah mereka adalah kepala di unit kerjanya masing-masing?

Itulah yang saya maksudkan dengan perilaku komentator yang dengan telanjang mereka tampilkan di depan saya. Saya sendiri menjadi bingung. Kalau mereka yang berwenang saja tidak merasakan bahwa tugas itu seharusnya menjadi kewajibannya, apa lagi kalau itu bukan sebagai komentator?

Jakarta, 30 Maret 2013.

29 Maret 2013

Melihat PE di Gunung Menyan

Siang itu terpaksa saya meminta teman-teman di rombongan untuk menunda makan siang karena ajakan saya guna menyempatkan waktu menengok bagaimana Pak Mang memelihara kambing peranakan etawa, atau PE di kandangnya yang katanya berjumlah 300 ekor! Kandang PE itu sendiri kata pemandu, tidak lebih dari 1 km dari lokasi dimana kami berdiri. "Masih di dalam kompleks kami juga Pak." Begitu jelas Ibu yang mempersilahkan kami untuk segera masuk kendaraan yang membawa kami, agar perjalanan segera dimulai.

Benar saja, setelah melalui jalan kompleks yang mulus, berliku-liku, yang berada di gunung yang amat sangat sejuk dan tenteram, sampailah kami di sebuah lokasi yang luasnya lebih kurang 2000 meter persegi, dengan lima buah rumah panggung yang cukup besar dan panjang. Dalam bangunan itulah kambing PE itu dipelihara. Menurut Pak Mang, setiap kambing yang perah susunya, setiap seekor mampu memberikan lebih kurang 1 liter susu murni. Susu-susu itulah nanti yang menjadi konsumsi bagi penghuni kompleks tersebut.

Dan ketika sampai itulah saya disuguhi sebuah pemandangan yang amat mengagumkan. Itulah sosok pejantan PE yang ada di sebuah kandang, yang sepertinya dikhususkan sebagai kandang untuk pengawinan. Pejantan itu luar biasa gagah. Tinggi tubuhnya lebih kurang  sedada saya. Dengan bulu indahnya, sebagai khas kambing PE, di bagian leher dan kaki belakangnya, maka kegagahan pejantan itu memang tiada tanding.
Inilah si pejantan itu.

"Itu pejantan yang kami beli dari Kulon Progo." Begitu jelas Pak Mang ketika kami menanyakan asal-usul dari pejantan yang gagah perkasa tersebut.

Tetangga Kecamatan

Kegagahan dan keindahan dari kambing-kambing PE itu memang benar-benar telah membuat saya termangu-mangu. Saya berpikir tiada putus-putusnya tentang kambing-kambing itu. Bayangkan, 300 ekor kambing PE! Indah dan sekaligus menjanjikan jika itu semua menjadi milik saya dikemudian hari!

Dalam belahan hati saya yang lain, saya pun sedikit ada sesal. Mengapa baru kali itu melihat dan menyaksikan kambing-kambing itu dalam jumlah yang lumayan banyak, yang dimiliki oleh seorang peternak? Bukankah sebenarnya kesempatan itu dapat saya miliki jauh hari sebelum hari itu? Karena sebenarnya sentra kamping PE hanya tetangga kecamatan dengan desa saya di Purworejo sana. Dan kalau ingin melihatnya dalam jumlah besar, mengapa saya tidak datang saja di hari pasaran?

Meski ada sesal, saya tetap merasa beruntung, bahagia, dan kagum dengan pertemuan pada siang itu. Dan mudah-mudahan teman-teman saya yang harus menunda jadwal makan siangnya. Semoga.

Jakarta, 29 Maret 2013.

Menuju Cirebon

Saya lupa dari mana datangnya ide agar perjalanan kami yang semula ke Bandung ber-15, harus berubah arah menjadi Cirebon. Namun dalam pertemuan itu, kami semua sepakat karena adanya pertimbangan yang menarik. Kami menginginkan perjalanan dengan kereta api, maka menuju Bandung dan menuju Cirebon, akan memakan waktu lebih kurangnya sama. Maka untuk membuktikan cerita teman-teman tentang Cirebon yang layak dikunjungi, menjadikan pilihan kami jatuh untuk menuju Cirebon.

Karena pilihan kami adalah one day trip, maka masalah beikutnya adalah bagaimana semua teman dengan sebaran rumah yang rata-rata di luar Jakarta, bagaimana sampai di stasiun Gambir sebelum pukul 06.00. Karena kereta Cirebon Ekspres pertama akan berangkat dari Gambir tepat pukul 06.05! Dan alhamdulillah, karena semua terjangkiti virus jalan-jalan, maka kendala itu mudah terlampaui. Semua anggota rombongan malah sudah berada di dalam gerbong kereta api 15 menit sebelum kereta beranjak dari stasiun.

Nasi Jamblang Mang Dull

Inilah lokasi pertama yang disajikan oleh pemandu kami. Makan nasi jamblang. Nasi yang disajikan di dalam piring rotan dengan alas daun jati serta lauk pauk yang menjadi pilihan kita. Pagi itu warung nasi Jamblang Mang Dul padat sekali. itu karena dalam waktu bersamaan selain rombongan kami ada juga beberapa rombongan yang sebelumnya memang satu kereta dengan kami. Jadilah selain seru menyantap nasinya, kami juga seru dengan atrian dan berebut tempat duduknya.

'Kuitansi' untuk nasi Jamblang yang saya makan.

Trusmi

Belanja batik menjadi bagian dari trip kami. Inilah destinasi yang begitu turun dari kendaraan, terutama kaum ibu, langsung menyerbu pajangan batik yang menyejukkan mata. Saya sendiri cukup memilih warna. Dari warna-warna yang menarik perhatian saya itu, lalu saya coba untuk melihat modelnya, dan setelah cocok langsung memilih ukurannya. Saya berpikir itu adalah cara yang efektif. Namun mungkin berbeda dengan para pembeli yang lain. Sehingga mereka relatif membutuhkan waktu lama untuk menentukan pilihannya.

Kegiatan produksi di sebuah toko batik di Trusmi, Cirebon.

Empal Gentong

Puas belanja batik, menjelang pukul 15.00, kami sudah berada di rumah makan yang menyajikan makanan khas yang lain, empal gentong. Dan ditambah dengan keinginan untuk melahap makanan yang tersaji, menu masih harus ditambah dengan sate kambing muda. Luar biasa. Pendek kata, tidak ada makanan yang harus tersisa di atas meja dimana rombongan kami berada.

Sebagai acara perjalanan kami yang terakhir adalah membeli oleh-oleh Cirebonan di pusat jajan yang menjadi pilihan dari pemandu kami. Itulah sekilas perjalan kami ke Cirebon pada akhir pekan lalu.

Group musik keroncong ini melepas kepulangan kami di stasiun Cirebon.
Jakarta, 29 Maret 2013.

28 Maret 2013

Episode 'Rangasdengklok'

Tidak seperti kelompok yang lain, kelompok yang mengetuk pintu  dan mengemukakan tujuannya kepada siang itu, saya nilai sebagai kelompok yang luar biasa bagus. Betapa tidak, jika kelompok-kelompok yang lain langsung mengurungkan niat untuk mengambil gambar di ruang-ruang tertentu, maka kelompok itu justru sebaliknya. Kelompok yang terdiri dari lima anak kelas lima sekolah dasar itu justru datang ke ruang saya dan menyampaikan niatnya untuk menggunakan ruangan saya dan ruang Yayasan sebagai lokasi pengambilan gambar mereka.

Gambar tentang Apa?

Rupanya masih berkait dengan beberapa pekan lalu, bahwa anak-anak tersebut sedang mendramakan episode menjelang kemerdekaan Republik Indonesia. Yaitu episode penculikan tokoh nasional Soekarno, untuk kemudian dibawa ke Rangasdengklok, kemudian ke rumah Laksamana Maeda, dan episode pembacaan Proklamasi kemerdekaan RI.
Inilah salah satu episode ketika Soekarno berada di Rangasdengklok.
Ketika berada di ruangan saya, apalagi ketika di ruangan Ketua Yayasan, maka sepanjang pengambilan gambar vedio tersebut kegiatan saya hanyalah menyaksikan bagaimana mereka, anak-anak itu, 'menghidupkan' sebuah lakon sejarah yang dijalani para pendiri bangsa ini. Beberapa kali pengambilan gambar itu harus diulang. Itu karena posisi kamera yang adalah tablet, juga karena ketika anak-anak yang menjadi pemeran juga itu keliru ketika berdialog.

Namun dari apa yang anak-anak itu lakukan sepanjang siang itu di ruangan saya atau juga di ruangan Ketua Yayasan dalam mendramakan lakon Soekarno di Rangasdengklok dan di rumah Laksamana Maeda, saya belajar tentang bagaimana anak-anak itu memerankan peran para pendiri sejarah, yang dia dapatkan dari uraian buku atau guru dengan kesungguhan. Dan itu terlihat sekali manakala pengambilan gambar harus diulang untuk menemukan momentum yang sempurna.

Jakarta, 28 Maret 213.

26 Maret 2013

"Morning Sick"

Ini bukan penyakitnya ibu yang sedang mengandung bayinya. Yang karena nyidam, maka sang ibu akan selalu dihinggapi sakit yang selalu datangnya di pagi hari. Ini adalah penyakit dari salah satu anak didik kami di sekolah. Yang selalu belum bisa tune in ketika pagi hari datang ke sekolah. Ia akan sedikit merengek-rengek untuk berpisah dengan pengantarnya. Peristiwa merengek-rengek itu durasinya tidak terlalu lama. Dan biasanya, setelah waktu merengek itu cukup, maka si anak akan secara bertahap mau berpisah dengan pengantarnya. Inilah penyakit yang saya sebut sebagai 'morning sick' itu.

Pagi itu

Seperti apa yang saya temui pada pagi itu di halaman depan KB/TK dimana saya mengabdikan diri sebagai guru. Setelah saya bersama anak-anak di halaman belakang sekolah, saya mencoba untuk berpindah lokasi di halaman depan gedung KB/TK. Di sana sudah ada seorang Ibu guru yang duduk di pinggiran pintu masuk.

Dari jauh terlihat kalau ibu tersebut memangku seorang siswinya. Padahal sinar matahari pagi langsung menyengat seluruh badan mereka. Setelah dekat, baru saya mengetahui siapa siswi yang dipangku oleh ibu guru itu. Seorang siswa yang selalu bermasalah ketika pagi hari datang ke sekolah. Karena hampir selalu, maka semua guru yang ada di TK maklum akan keadaan itu. Dan selalu juga kalau sudah mengalami tahapan ngambek tersebut, anak itu akan berani masuk dalam kelompok teman-temannya, tentunya dengan tahap demi setahap.  

"Mengapa harus dipangku Bu Guru ya?" Spa saya. Tidak ada ekspresi apapun yang dapat saya tangkap di wajah anak itu. Hanya gurunya memberikan informasi kepada saya tentang prosesi anak yang dipangkunya itu.

Meski tanpa suara yang jelas tentang apa yang disampaikan bu guru tersebut karena mungkin menjaga agar anak yang dipangkunya tidak tersinggung sehingga nantinya malah menjadi berkobar-kobar, sayapun segera maklum. Teringat  akan bagaimana kalau anak itu di pagi hari.

Beberapa lama kemudian, sembar kami menyambut temannya yang baru datang ke sekolah, memberikan salam kepada mereka, maka lambat laut konsentrasi kami tidak saja tertuju kepada si anak penderita 'morning sick' tersebut. Tampaknya inilah tahapan awal anak itu dalam mempersiapkan diri memasuki kondisi normalnya.

Tanpa berpikir panjang lagi, saya mengulurkan tangan saya untuk menggandeng tangannya dan mengajaknya untuk masuk ke ruangan kelas. Di dalam sudah ada beberapa temannya yang sedang bermain puzzle dan ibu guru yang lain.

Itulah pengalaman saya di suatu pagi bersama anak yang menderita penyakit 'morning sick'. Sebuah 'permainan' drama yang kalau bukan saya yang memerankan, maka para ibu guru KB/TK. Seru sekali bukan?

Jakarta, 26 Maret 2013.

Memburu Wisatawan untuk Menebus Fotonya

Lulus SMA tahun 2007, Indra, ayah seorang anak dengan usia 18 bulan ini berwirausaha sebagai tukang foto yang mangkal di keraton Kanoman, Cirebon. Siang itu adalah pertemuan kami dengan sang fotografer yang bernama Indra itu. Kehadirannya benar-benar mengganggu kami ketika kami akan memasuki museum benda pusakan ketika kami berada di keraton tersebut. Dan sejak itulah, saya memperhatikan Indra terus menerus menguntit pergerakan dan perjalanan kami. Tentu Indra bukan satu-satunya orang yang kami temui di lokasi wisata di kota Cirebon. Ada beberapa teman seprofesinya yang menjadikan momen-momen para wisatawan di kota Cirebon sebagai obyek untuk kemudian diabadikan dalam foto dan kemudian dicetaknya. 

Namun pada rombongan kami, Indralah fotografer itu. Dan kali pertama ia membedikkan kameranya ke wajah-wajah rombongan kami adalah di lokasi Kanoman itu. Seperti yang saya kemukakan di depan, pada mulanya kami benar-benar merasa terganggu dengan keberadaannya. Ia selalu menguntit rombongan kami dan tanpa mendapat komando kameranya selalu mengincar kami.

Tapi bagaimana kami mengusirnya? Tidak ada momentum bagus untuk mengusir dia dan memintanya untuk tidak menjepretkan kamera itu ke wajah kami. Tetapi saat kami secara terburu-buru masuk kendaraan yang kami sewa yang terparkir di depan Masjid Keraton, kami merasa bersyukur bahwa kameramen itu berhasil kami tinggalkan. 

Namun, setelah beberapa menit kendaraan menggalkan tempat parkir menuju destinasi wisata berikutnya, kami tersadar bahwa fotografer itu ternyata membututi kami dengan sepeda motornya. Termasuk ketika kami sedang berada di lokasi wisata. Dan karena sulit kami melepaskan diri dari jepretannya, maka saya memutuskan agar dialah yang terus menerus menjepret atau mengambil foto ketika kami semua harus diambil gambarnya.

Ketika saya memintanya untuk mengambil gambar kami, yang terpikir oleh saya adalah tentang harga foto yang nantinya harus kami tebus. Ada kekawatiran kalau nanti harga yang ditawarkan terlalu mahal. Bukankah sekarang zaman digital? Untuk apa membeli foto yang dicetak dengan harga yang mahal? Namun ketika saya berpikir bahwa kami tetap punya posisi untuk menawar harga yang nantinya dia tawarkan, maka saya memberanikan diri untuk memintanya memfoto kami pada posisi yang kami inginkan.

Indra Menunggu Kami di Depan Toko Batik

Ketika perjalanan berada di Kampung Batik, karena beberapa dari kami yang kalap melihat barang bagus dan relatif miring harganya, lupalah kami dengan tukang foto itu. Hingga ketika saya yang pertama kali kelar dalam berburu di toko batik tersebut dan bergegas menuju Masjid yang kebetulan berada persis di depan toko, tanpa saya sendiri sadari, datanglah tukang foto itu sembari menarahkan saya untuk duduk di dekatnya.

"Silahkan disini Pak." Ajaknya baik sekali. Saya hampir tidak sadar kalau orang yang mempersilahkan itu adalah si tukang foto. Kesadaran itu baru lahir setelah saya dengan lekat memandang wajahnya.

"Loh, Mas kok tahu kalau kami disini?" Dia tidak menjawab pertanyaan saya sama sekali keculai senyumnya yang sepertinya menyampaikan pesan akan rasa kemenangan dan seolah mengabarkan bahwa ia telah menaklukkan kami yang terus berpindah lokasi.

"Iya Pak, saya harus cepat-cepat mengejar rombongan Bapak. Sampai kehujanan di jalan tadi." Katanya setalah kami sama-sama duduk di teras masjid.

"Semua basah Pak. Saya lupa membawa mantel hujan." Katanya lebih lanjut.

"Jadi berapa foto yang akhirnya tercetak Mas Indra?" Tanya saya setelah tahu siapa namanya.
"Kalau borongan tiga ribu limaratus saja Pak." Begitu akhirnya harga yang kami sepakati. Dalam hati haya benar-benar kagum dengan tukang foto itu. Daya juangnya layak sekali untuk saya kagumi.

Jakarta, 25-26 Maret 2013.

17 Maret 2013

Kapok di Ruang Sayakan

Setelah beberapa menit jam sekolah dimulai, saya mendapatkan telepon dari Kepala SMP, tentang agenda saya pada hari itu. Dan saya katakan memang sepanjang pagi hingga siang abhkan sore itu, kegiatan saya akan berkutat pada penyusunan Buletin sekolah. Jadi keberadaan saya akan ada di ruangan. Rupanya, Pak KS tersebut hanya ingin  memastikan bahwa saya tidak keberatan bila pagi itu harus dititpi anak-anak didiknya, yang kedapatan terlambat (lagi) datang dan masuk sekolah.

 Ini adalah sebuah langkah konsekuensi yang memang kami telah sepakati jika mendapati anak-anak yang terlambat seara berulang-ulang hanya karena sebiah ketidakdisiplinan. Maka anak-anak itu akan kami berikan konsekuensi dengan sebuah aktivitas yang tidak akan membuatnya nyaman meski tidak harus mempermalukannya di hadapan teman-temannya.

Jadilah delapan siswa dan siswi itu diantar Pak KS ke ruangan kerja saya sekitar pukul 08.00. "Pak, titip dengan anak-anak ini untuk mengerjakan tugas di ruangan Bapak." Begitu pengantar Pak KS ketika menyerahman anak-anak itu. Itulah yang saya sebut dengan istilah diruang sayakan.

Saya menyambut amanah itu dengan, tentunya, mempersilahkan anak-anak untuk duduk di kursi yang kebetulan cukup untuk mereka berdelapan, mengitari meja yang biasa Bapak dan Ibu Kepala Sekolah rapat dengan saya.

Hingga pukul 10.00, anak-anak itu tetap dengan tugasnya masing-masing. Saya sesekali meminta mereka untuk terus melaksanakan tugas yang diberikan dengan tidak mengganggu satu sama lain. Begitu juga dengan saya sendiri, duduk di kursi kerja saya dengan pekerjaan saya yang ada di komputer. Tidak sepanjang waktu itu juga saya bekerja di komputer, karena setengah dari waktu itu saya gunakan dengan membaca buku yang berkisah tentang Khalifah M Al Fatih yang berhasil menaklukkan kota Istambul, karangan seorang sejarawan barat. Juga meng-crop beberapa peta dan foto hasil scanning wilayah atau lokasi Istambul.  Saya bermaksud suatu saat nanti akan mengajak anak didik saya untuk menengok kehebatan seorang Khalifah untuk memotivasi diri.

Menjelang pukul sebelas, saya mendapat pesan dari Pak KS, bahwa seorang Ibu wakil akan meminta kembali anak-anak itu agar kembali ke ruang belajarnya di lantai 3. Dan ketika anak-anak itu dijemput Ibu Wakil KS, kembali saya berada di runagan kerja sendirian,

Kapok

Esok harinya, saya mencoba mencari tahu tentang apa yang menjadi kesan dari anak-anak yang di'ruang sayakan' itu. Saya datang ke ruang guru lantai tiga.

"Kata Fulanah kapok Pak. Dia ngak bisa ngapa-ngapain di ruang Bapak. Katanya hanya saling pandang." Begitu kata seorang ibu guru yang mendapat oengaduan dari seorang siswinya yang kebetulan adalah bagian dari anak-anak yang berada di ruangan saya.

"Alhamdulillah Pak. Tidak ada yang terlambat hari ini." Kata ibu guru yang lain. Komentar yang saya juga datang dari Pak Guru Konseling.

Jakarta, 15-17 Maret 2013.

15 Maret 2013

"Ajaib, Pak Guru Main Gitar!" Kata Siswa Saya

Begitulah komentar dari seorang siswa saya ketika suatu pagi saya berkeliling ke kelas SMP dan mendapat seorang anak sedang bermain gitar bersama temannya yang memperdengarkan sebuah lagu dari alat komunikasi selulernya. Suhu udara di kelas itu tampak dingin sekali. Mungkin anak-anak mengukurnya pada temperatur paling dingin yang ada di remote AC. Tapi tidak menggangu konsentrasi kedua anak itu untuk terus memainkan gitar dan mendengarkan lagu. Saya datang ketika masing-masing anak itu sedang begitu asyiknya.

Saya duduk diantara mereka itu. Bertahap untuk melibatkan diri dalam percakapan mereka. Tak lama kemudian, beberapa teman sekelasnya berdatangan. Dengan tidak lupa membawa foto kopi soal mata pelajaran IPA. Karena memang saat itu sedang ada ulangan tahap akhir mereka di kelas IX.

"Kamu ingin tahu lagu kesukaan Bapak?" Tanya saya memancing percakapan dengan mereka. Saya berharap semoga kalimat pertama yang saya sampaikan itu dapat memancing rasa ingin tahu anak-anak itu. Karena kadang saya sendiri tidak terlalu paham dengan musik. Hanya dengan bantuan internet dan dengar dari orang maka saya mencoba mengetahui berbagai group musik lama yang saat mendunia kala itu, teknologi belum memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenalnya.

"Musik jaman dulu ya Pak?" Tanya seorang dari mereka.
"Memang. Tapi sangat bagus. Mungkin termasuk dari group musik legendaris." Jelas saya lebih lanjut.
"Apa itu Pak?"

Maka saya tidak membuang waktu lagi, saat itu saya mengeluarkan seluler saya dari kantong celana dan memilih lagu yang  tidak lagi banyak terdengar di stasiun radio. Keculai mereka yang masa mudanya berada di tahun 80an.

"Main gitarnya enak Pak." Komentar salah seorang dari mereka dan spontan mengambil gitar yang sedang di temannya untuk kemudian mencari kunci dan menemukan pola petiknya. Kami semua mencoba untuk saling memperhatikan.

"Itu group musik lama ya Pak." Komentar yang lain lagi. 

"Betul. Coba, Bapak beritahu bagaimana pola petikan gitarnya." Kata saya meminta izin untuk memainkan gitar itu. Dan meski saya sangat tidak mahir memainkan gitar, tetapi untuk lagu Belladona dari UFO, kebetulan dulu diajari oleh teman. Anak-anak mencoba menunggu bagaimana aksi saya memetik gitar itu. Hingga keluar kata dari mereka; "Ajaib, Pak Guru Main Gitar!" Kata siswa saya itu.

Jakarta, 15 Maret 2013.

Sarungnya Bau, Siswa; "Tapi Buanya Enak Pak."

Pagi itu, ketika saya harus melihat persiapan kegiatan untuk acara persiapan Ujian Nasional di SD,saya bertemu dengan tiga anak yang kebetulan akan menjadi bagian terpenting dalam gelar kegiatan tersebut. Mereka bertiga merupakan anak-anak yang di pagi sekali itu, jam masih pukul 06.55, sedang mecoba 'panggung' yang akan menjadi tempat mereka melakukan pembukaan.

Satu dari tiga siswa saya itu, adalah anak didik yang sebelumnya menjadi bahan catatan, yang berkenaan dengan sarung yang tertinggal di rumah. Dan karenanya ia datang, waktu itu, kepada saya untuk meminjam. Karena saya tidak membawa atau tidak ada sarung di sekolah, maka meneteslah air mata karena sedihnya.

Maka ketika bertemu kembali pada pagi itu, saya langsung menyampaikan apa yang saya dapat tentang supirnya, yang dia nyatakan pada saat itu sebagai supir yang tidak dapat dipercaya, hanya karena menurunkan sarung yang kebetulan terbawa pulang. Dan karena sarung diturunkan dari mobil, maka keesokan harinya lupa untuk membawa kembali ke sekolah. Sehingga ketika ia akan menunaikan shalat berjamaah, ia harus datang ke ruanga saya untuk meminjam sarung.

"Pak Syam, mengapa sarung ananda Gi kemarin diturunkan dari mobil? Gi akhirnya harus ke ruangan saya untuk meminjam sarung dan bahkan hingga menangis." Tanya saya di tempat parkir sekolah ketika bertemu dengan Pak Syam, supir dari ananda Gi di waktu jam sekolah berakhir.

"Begini Pak, sarung itu sudah lama sekali ngak pernah di bawa pulang. Jadi ketika ada di mobil, sarung itu sudah bau ngak enak. Jadi saya minta mbak untuk mencucinya." Begitu Pak Syam memberikan penjelasan.

"Tapi akhirnya Gi kelabakan keesokan harinya karena tidak membawa sarung." Kata saya lagi. Saya juga sampaikan bagaimana Gi mengatakan bahwa Pak Syam tidak dapat dipercaya. Pak Syam tentu saja tertawa.

"Jadi seperti itulah mengapa Pak Syam harus menurunkan sarungmu yang sudah bau itu." Kata saya kepada Gi di pagi itu. "Jadi jangan salahkan dia Gi. Berarti sarung itu memang sudah tidak layak untuk shalat sampai hilang baunya." Kata saya selanjutnya.

"Mungkin ya Pak. Tapi Buanya Enak Pak." Jelas Gi. Jawaban itu membuat kami, saya dan kedua teman Gi tertawa. Saya sendiri menjadi tercenung dan membantin; anak orang punya ini masih belum belajar dan bisa membedakan bau enak dan tidak enak...

Jakarta, 15 Maret 2013.

14 Maret 2013

Hujan di Siang itu, Mempercepat Kepulangan Siswa

Seperti siang-siang yang lain. Siang hari di halaman sekolah kami akan berebutan anak-anak dalam kelompok kelasnya untuk menggunakannya dengan bermain futsal. Maka untuk membantu agar semua kelompok kelas itu mendapatkan jatah bermain, maka kami yang bertugas sebagai piket, akan bertukar fungsi sebagai wasit.

Fungsi wasit pada siang sesudah jam sekolah, akan memungkinkan penggunaan lapangan relatif lebih adil. Semua kelompok kelas akan mendapatkan jatah bermain secara bergantian meski hanya lima belas atau dua puluh menit saja. Tetapi kesempatan itu akan menjadi peluang emas bagi anak-anak didik kami sebelum sampai rumah dan berkutat dengan games.
Suasana halaman sekolah pada jam pulang sekolah ketika hujan turun.
Dengan situasi yang demikian, maka sulit bagi kami untuk meminta semua siswa segera  kembali  ke rumah masing-masing, meski diantara mereka telah hadir penjemputnya. Itu semua karena, antara lain, anak-anak didik kami tersebut menanti kesempatan yang ada untuk bermain futsal terlebih dahulu.

Maka hujan pada siang itu, sungguh alasan yang paling mujarab bagi anak-anak itu untuk segera pulang. Tidak ada lagi sesuatu yang menarik yang dapat mereka kerjakan di sekolah seusai jam sekolah. Terlebih bagi anak-anak yang para penjemputnya telah menungguinya di dalam kendaraannya. 

Dan ketika mereka telah pulang, maka selesai sudah tugas para teman-teman yang kebetulan bertugas piket menemani anak-nak itu di halaman atau lapangan serba guna kami. Dengan kondisi yang ada seperti itu, bukankah petugas piket menjadi lebih ringan dengan apa yang menjadi tugasnya? Maka hujan telah membantunya meringankan pekerjaan di siang harinya.

Jakarta, 14 Maret 2013.

Masih Ingat Beli Dawet di Tengah Sawah?

Pagi itu, di ruangan kerja sendiri, diantara anak-anak didik yang harus tetap tinggal di ruangan karena terlambat masuk sekolah, diantara membuat buletin sekolah, saya mencoba mencari selingan dengan membuka web koran daerah. 

Untuk lebih spisifik mengetahui berita-berita yang sedang terjadi di daerah kampung halaman, maka saya memilih wilayah Kedu Selatan. Maka bertemulah saya dengan sebuah artikel yang mengingatkan saya dikala masih ikut serta terlibat dalam musim panen padi di sawah. Tentunya itu terjadi ketika saya berumur belasan tahun.

Sebuah capture berita dari www.krjogja.com
Artikel  tentang penjual duwet di tengah sawah sebagaimana yang saya dapatkan ini sungguh mengugah ingatan saya tentang betapa nikmatnya dawet dalam mangkok, yang ukurannya tetap kecil itu,  di pematang sawah di bawah terik matahari, diantara Bapak dan Ibu yang tengah menganai padi.

Dan selain dengan uang yang seingat saya saya masih bisa dengan satuan setengah rupiahan, dawet juga dapat kita nikmati dengan membarter dengan ikatan bawon, ikatan padi sebagai upah yang diberikan oleh pemilik sawah ketika kita membantu menganai padinya.

Itulah ingatan memakan dawet di tengah sawah puluhan tahun lalu.

Jakarta, 13 Maret 2013.

Percaya Dirinya, Membuatnya Pandai Improvisasi

Pagi itu, sebagaimana jadwal yang telah disusun di awal tahun plajaran, kelas 6 mendapat jatah untuk tampil di kegiatan  assembly. Dan saya bersyukur dapat ikut serta dalam kegiatan tersebut meski sebagai penonton. Tentu saya menikmati semua tampilan yang menjadi suguhan anak-anak kelas 6 tersebut. Temanya adalah Banjir Jakarta.
Salah satu adegan yang ada dalam assembly kelas 6.
Dari semua adegan yang ada, kami, semua penonton, khususnya guru-guru yang berada tidak jauh dari saya berada, memberikan aprisiasi kepada anak-anak itu akan kepandaiannya dalam menguntai kata-kata menjadi kalimat yang baik serta bermakna. Meski itu semua adalah karya improvisasi mereka. Khususnya mereka yang menjadi MC di kegiatan assembly itu.

Ini karena mereka telah berulang kali mengikuti kegiatan tersebut sejak mereka duduk di bangku kelas satu. Dikatakan mereka, karena dalam setiap kegiatan yang dirancang kelas atau sekolah, tidak satupun siswa atau peserta didik yang tidak terlibat.  Jadi seandainya kegiatan assembly  yang normal dalam satu tahun pelajaran dijadwalkan sebanyak 3 kali, maka selama mereka duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak itu akan memikiki kesempatan paling normal sebanyak 3 kali 6, yaitu 18 kali.

Sebuah kesempatan yang sepertinya benar-benar memberikan kematangan sebuah proses. Itu tentu standar normal yang ada. Bagaimana jika anak-anak tersebut adalah anak-anak yang begitu aktif? Tentunya akan mendapatkan kesempatan lebih dibanding dengan teman-teman yang normal.

Dengan ilustrasi seperti itulah, maka dapat saya sampaikan lagi kalau anak yang tampil pada pagi itu, yang salah seorang audiens sebagai penontonnya adalah saya sendiri, apa yang dilakukan oleh dua orang MC di depan seluruh siswa SD kami, adalah sebuah atraksi percaya diri. Atraksi bagaimana seorang anak didik kami pandai berimprovisasi dalam sebuah pertunjukkan kelas.

Itulah sekelumit catatan saya tentang bagaimana pendainya anak. Sebuah kepintaran yang tidak dapat dimiliki dengan cara cepat dan instan. Tetapi proses...

Jakarta, 14 Maret 2013.

13 Maret 2013

Jumlah Siswa, dan Eksistensi Masa Depan Kami

Hari ini, saya bersama teman-teman mencoba untuk melihat bagaimana 'pergerakan' atau pertumbuhan, atau naik serta turunnya jumlah siswa dari tahun ke tahun yang ada di sekolah lain. Ini kami perlukan karena kebetulan kami sedang melihat data dan fakta yang ada di sekolah kami sendiri. 

Yaitu tentag data siswa dari semua kelas dan tingkat sekolah, dari tahun ke tahun. Data yang saya dapatkan dari laporan masing-masing sekolah pada setiap bulan dan tahunnya itu ternyata menyuguhkan sesuatu yang dapat menjadi kajian menarik buat kami.
 
Dan dari pergerakan angka yang tersuguhkan itu, kami coba untuk membuat sedikit hitungan dan analisa. Baik data yang ada pada tahun yang sama maupun data-data yang kami perbandingkan dengan data di tahun-tahun berikutnya. Semuanya menarik perhatian kami bukan main. 

Data jumlah siswa yang kami maksudkan itu.
Oleh karenanya kami mencoba melebarkan data dan fakta dari jumlah siswa yang ada dengan mengambil sampel dari sekolah-sekolah di sekitar kami, yang kami nilai atau ukur sebagai sekolah yang dapat menjadi kompetitor.

Dari data tersebut kami, saya bersama teman-teman, banyak belajar tentang bagaimana menjadi reputasi. Ini penting sekali karena kami adalah sekolah yang dikelola oleh lembaga swasta dengan tidak menggunakan dana selain dana yang diterima dari para orangtua siswa kami. Oleh karena itu, maka reputasi yang baik akan diharapkan mampu menjaga kestabilan jumlah siswa yang ada dari tahun ke tahun. Dan itulah eksistensi masa depan kami.

Jakarta, 13 Maret 2013.

Ketika Meminjam Sarung, Siswa itu Menangis

Siang itu saya kedatangan seorang siswa persis ketia waktu shalatnya sedang akan dimulai. Setelah memberi salam saat masuk ke ruangan kerja saya, anak itu tanpa berani menatap mata saya mengatakan keperluannya. Mungkin hal itu dilakukannya karena ia sudah merasa begitu bersalah. Padahal saya sendiri belum mengetahui apa yang menjadi masalah dan bahkan keperluan dari anak didik saya itu.

"Bagini Pak ceritnya, " katanya memulai memberikan penjelasan, "Saya kemarin sudah pesan kepada supir saya untuk tidak menurunkan sarung dari mobil. Karena saya takut hari ini saya lupa membawanya. Dan ternyata benar Pak. Saya lupa membawa sarung itu. Supir saya mengambil sarung itu dari mobil untuk dicuci. Jadi hari ini saya lupa membawa sarung."

"Saya kesini bermaksud meminjam sarung Bapak." 

Kalimat terakhir itulah yang menjadi kunci dari keperluannya. Saya tentu bangga sekali dengan anak yang begitu bertanggungjawabnya terhadap properti sekolah yang lupa itu. Namun saya tidak dapat memberikan bantuan karena memang saya tidak ada sarung di rungan. 

"Mohon maaf ya, Bapak kebetulan tidak ada sarung disini. Bagaimana kalau Bapak pinjakan saja kain dari NTT?" Kata saya sembari mengambil kain tradisional NTT dan sekaligus memeragakan bagaimana menggunakannya ada saat shalat.

"Tapi itu bukan sarung Pak." Katanya.

Ketika ia selesai dengan kalimatnya itu, saya merasa getaran rasa sedih yang teramat. Benar saja, sambil menghindari pandangan saya, anak itu membalikkan badan dan mengusap air mata yang menetes di sudut matanya. Sedih sekali.

"Ya sudah, saya permisi ya Pak." Katanya mohon pamit kepada saya dan membalik badan untuk menuju arah pintu. Iapun meninggalkan ruangan saya dengan rasa harap yang tidak tertunaikan.

Saya tentu juga merasa bersalah bahwa ada anak didik yang begitu tulus tidak dapat saya berikan kontribusi untuk membuat masalahnya menjadi terselesaikan. Dalam hati saya bertekad untuk membawa sarung dari rumah agar esok di kemudian hari jika diperlukan saya dapat membantu mereka. 

Tuhan Maha Mendengar

Sore hari ketika saya bertemu anak didik yang baik hati itu, sebelum anak itu dijemput [ulang sekolah, saya sempat bertanya kembali bagaimana tadi masalahnya bisa terselesaikan. Dan disampaikan bahwa ia mendapat pertolongan Allah. Ketika ia bertemu dengan temannya yang mengenakan celana panjang. Dari pertemuan itulah, ia memberanikan diri untuk bertanya apakah temannya itu ada sarung di sekolah. Dan alhamdulillah, temannya ternyata menyimpan sarung yang dapat dipinjamkan kepadanya. 

"Tuhan Maha Mendengar kesulitanmu ya Zul?" Kata saya mengakhiri pertemuan dengannya hari itu.

Jakarta, 13 Maret 2013.

Pelajaran ketika Kami Menyambut Siswa

Ada banyak sekali pelajaran yang kami dapatkan ketika kami menjalankan tugas piket di pagi hari, menyambut kedatangan siswa, atau bahkan di siang hari ketika menunggui siswa sebelum jemputannya datang. Utamanya jika kami menyambutnya di lapangan parkir, persisnya di lokasi drop off  bagi pagi atau siang.

Pelajaran-pelajaran itu menyangkut tentang pengenalan kami terhadap para orangtua atau kepada penjemput anak-anak didik kami, sehingga dengan demikian kami akan semakin kenal ketika kami bertemu dengan para orangtua tersebut, meski mereka bukan termasuk orangtua yang aktif membantu sekolah sebagai pengurus POMG, juga yang berkenaan dengan kondisi administrasi sekolah yang kebetulan juga menjadi bagian dari perhatian kami.

Bagian pertama dari pelajaran di atas, sungguh menguntungkan buat kami berdua. Karena dengan demikian kami juga tahu sekaligus kenal lebih dekat dengan para pemberi amanah pendidikan putra-putri  dari rumah kepada kami di sekolah, juga ni barangkali memberikan kontribusi positif bagi kelancaran arus lalu lintas di area drop off di sekolah ketika jam sibuk. Ini terjadi mungkin ada rasa sungkan dari para pengantar atau penjemput untuk sedikit berlama-lama di area itu yang mengakibatkan arus lalin terhenti.

Sedang bagian kedua dari pelajaran di atas, yaitu yang berkenaan dengan kendala administrasi yang sedang dialami oleh sebagai amat kecil dari orangtua itu antara lain adalah, pengetahuan kami tentang keadaan kendaraan yang sedang atau kebetulan digunakannya untuk menjemput dan mengantar putra-putrinya itu tidak berkorelasi dengan keterlambatan pembayaran uang sekolah.

Saya sendiri kadang tidak habis-habisnya berpikir mengenai hal ini. Mengingat beberapa orangtua siswa yang memiliki kendala pembayaran uang sekolah tersebut nyaris selalu memiliki pola yang relatif tetap. Kalau ada 5 orangtua di sekolah, maka sering kami temukan bahwa 4 diantara lima itu adalah nama-nama pelanggan. Betul mereka membayar uang sekolahnya per tiga bulan sekali. Tetapi bukan di awal bulan, melainkan di akhir bulan.

Demikian pula pernah kami menemukan bagaimana ada orangtua siswa yang meminta keringanan membayar uang sekolah, namun ketika bertemu di halaman parkir sekolah, kami melihat bahwa orangtua tersebut mengendarai kendaraan yang harganya lebih dari 200 juta?

Itulah dua hal yang menjadi pelajaran kami, ketika kami menjalankan tugas sebagai guru piket di pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai, atau ketika siang hari sebelum anak-anak didik kami itu dijemput untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Dan pelajaran ini mengingatkan saya khususnya, bagaimana memperlakukan anak-anak kami sendiri yang ada di rumah. Semoga.

Jakarta, 13 Maret 2013.

12 Maret 2013

K-13 #6; Cerdas Akademik

Di dalam presentasinya, pada identifikasi kesenjangan yang terdapat dalam penerapan kurikulum di sekolah pada saat ini dengan konsep idealnya, yang menjadi harapan bagi perubahan Kurikulum 2013, pada poin D, yaitu tentang Penilaian; disampaikan bahwa apa yang terjadi dalam penilaian saat ini terlalu fokus atau penekanannya lebih kepada domain kognitif atau ranah pengetahuan. Padahal yang diharapkan, dalam penilaian seharusnya tiga ranah hasil belajar secara proporsional, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Tiga domain/ranah hasil pembelajaran.
Cerdas Akademik

Dalam catatan saya ini, saya hanya ingin terlebih dahulu mencoba untuk melihat apa dan  bagaimana capaian hasil belajar pada ranah pengetahuan atau ranah kognitif atau saya lebih suka menyebut dengan istilah cerdas akademik. Ini [enting karena inilah yang menjadi tumpuan atau pusat perhatian guru dalam membelajarkan siswanya di sekolah. Dan ini didorong oleh sistem yang dipraktekkan pemerintah dalam bentuk memberikan Ujian Nasional atau UN, yang memang hanya bengukur kemampuan (baca: kecerdasan) siswa pada ranah akademik.

Malangnya, meski kita telah berjibaku mempersiapkan anak-anak sekolah untuk berhasil secara akademik, tetapi aspek yang diukur di dalam ranah tersebut masih dalam tataran aspek berpikir tingkat rendah. Ini karena pola soal yang diujikan kepada siswa masih berkisar kepada kemampuan untuk menjawab soal tentang apa, siapa, dimana, berapa, kapan, dan sedikit tentang jelaskan, uraikan, serta lebih sedikit sekali yang bertanya tentang bagaimana, atau mengapa.

Lower/Higher thinking pada ranah kognitif Bloom.
Dengan melihat apa yang terjadi di lapangan, dengan harapan yang dilak[hirkan kembali sebagaimana yang tersurat dalam presentasi sosialisasi Kurikulum 2013 berkenaan dengan domain kognitif, dan juga apa yang saya daptkan dari buku Same Kids, Different Ability tersebut, tampak sekali bahwa kita masih memiliki pekerjaan rumah yang memang tidak ringan.

Dan PR tersebut justru akan menjadi lebih berat lagi bilamana dengan Kurikulum baru nanti pemerintah masih menghendaki adanya pelaksanaan Ujian Nasional atau UN, khususnya jika model soal UN tersebut tidak linier dengan apa yang dikonsepkan.

Jakarta, 12 Maret 2013.

K-13 #5; Meng'Operasionalisasikan Kurikulum 2013 di Dalam Kelas

Dengan apapun komentar ketidak siapan yang banyak didengungkan oleh para praktisi pendidikan di tanah air dengan akan diberlaukannya Kurikulum 2013 pada Juli tahun 2013, tampaknya tidak menyurutkan tekad pemerintah untuk menunda waktu pemberlakuannya. Meski pada awal tahun pelajaran nanti itu pemberlakukaannya secara bertahap. Namun sebagai bagian dari hajatan besar tersebut, mengingat amanah yang kami pegang adalah dalam dunia pembelajaran di lembaga pendidikan formal, maka tidak bisa tidak kami pun turut serta bersiap dan mempersiapkan diri dengan, salah satu caranya adalah, menggali informasi yang berkenaan dengan apa dan bagaimana Kurilum baru itu nantinya.

Memahami apa yang dimaksud dengan kurikulum baru tersebut, semampu yang kami dapatkan, baik melalui media on line atau komunikasi dengan beberapa teman yang memiliki akses lebih dengan tim sosialisasi yang ada, juga adalah mengundang para 'penyusun' kurikulum tersebut untuk memberikan 'tausiah', pandangan, dan tentunya pembelajaran.

Dari  apa yang kami dapatkan tersebutlah, kami akhirnya mencoba untuk mensosialisasikan, memahamkan, dan memberikan pelatihan kepada para guru-guru yang ada di sekolah. Itulah barangkali sebuah kesiapan yang kami coba untuk sebuah langkah bagi perubahan kurikulum yang dimaksud.
Elemen perubahan dalam Kurikulum 2013.
4 Elemen Perubahan

Terdapat empat eleman perubahan yang diinginkan harus terjadi di Kurikulum 2013. Dan dua dari empat elemen yang dimaksud tersebut adalah elemen dasar dan utama, yang berada sepenuhnya pada etos guru di dalam kelas. Oleh karena itu, kami yang diberikan amanah oleh lembaga untuk mengejawantahkan kebijakan nasional sebagai bagian dari diversifikasi  keunggulan sekolah agar supaya stabilitas jumlah siswa selalu dalam kestabilan. Ini menjadi sangat penting bagi kami, karena kebetulan sekolah yang diamanahkan kepada kami adalah sekolah formal di bawah naungan lembaga pendidikan swasta.

Elemen utama yang menjadi fokus pada guru adalah standar proses pembelajaran dan penilaian. Dua hal yang tampaknya semua guru telah tahu, dan beberapa bagiannya juga faham, tetapi begitu sulit menerapkannya sebagai budaya dalam semua interaksinya dengan siswa di dalam kelas. 

Inilah tantangan paling besar juga bagi kami untuk ikut serta dalam menemani teman-teman guru meng'operasionalisasikan konsep kurikulum yang bagus tersebut dalam proses dan dalam penilaian pendidikan di sekolah. Semoga.

Jakarta, 12 Maret 2013.

11 Maret 2013

Ketika Harus KKN

Beberapa waktu yang lalu, ketika anak saya harus mengikuti kegiatan  Kuliah Kerja Nyata atau KKN dari kampusnya di Yogyakarta, banyak hal dikemukakannya kepada kami orangtuanya yang tinggal di Jakarta. Misalnya; dia ingin sekali KKN nanti ditempatkan di sebuah daerah wisata seperti Provinsi Bangka Belitung. Atau ingin sekali di NTT. Dan seterusnya.
Lokasi KKN yang dinanti-nanti, ternyata tetanggaan dengan domisili Mbahnya.
Intinya, dalam setiap percakapan dengan kami, anak saya itu memimpikan KKN sembari berwisata. Tapi saya sendiri bersama istri tidak mengiyakan atau menidakkan. Bukankah lokasi KKN menjadi kewenangan kampusnya? Jadi ya tunggu saja. Namun demikian beberapa kali saya mengemukakan keuntungan anak saya itu ikut program KKN dan bukan program magang sebagaimana kampus-kampus lainnya.

Karena KKN akan memberikan warna berbeda kepada kehidupan anak saya selanjutnya. Dan mudah-mudahan keberbedaan yang berhasil dia serap itu nantinya adalah warna yang positif. Mengingat lkasi KKN akan dipilih di lokasi yang memang layak untuk kegiatan KKN. Layak disini, pastinya juga menurut ukuran kampusnya. Tapi setidaknya, layak untuk menjadi kenangan.

Ini karena anak saya adalah anak yang lahir dan besar dalam kondisi rumah dan daerahnya yang terang benderang oleh listrik. Juga tempat menyimpan makanan agar tetap dingin, atau juga dengan kondisi air dan wc yang relatif bersih. Juga lokasi yang mudah untuk menemukan makanan segala rupa karena lokasi rumah begitu dekat dengan mal atau rumah makan atau bahkan pasar. Sedang di lokasi KKN? 

Untuk itulah saya mengusulkan agar salah satu program kegiatan yag akan menjadi pilihannya ketika pelaksanaan KKN adalah membuat wc yang higenis di dalam rumah. Supaya para Bapak dan Ibu mulai belajar dan bermigrasi dari kebiasaan membuang hajat di jumbleng ke wc, bila lokasinya masih memungkinkan untuk menjalankan program itu. Atau kursus singkat untuk persiapan UN dan masuk perguruan tinggi bagi anak-anak muda desa di lokasi KKN, atau yang lain.

Tapi, seperti juga anak-anak muda biasanya, anak saya masih belum mau memikirkan itu semua. Dikatakannya bahwa sulit merubah budaya jumbleng ke wc, dan seterusnya. Walaupun beberapa waktu sebelum KKN dia jalani, dia memberikan gambaran tentang lokasi KKNnya yang ternyata di Kabupaten Kulon Progo yang ternyata juga bertetangga dengan rumah Mbahnya di Purworejo, tentang program yang cocok...

Jakarta, 11 Maret 2013.

Kumpul Bareng dengan Teman-Teman

Pekan lalu saya kebetulan daat ajakan dari teman-teman baik saya untuk ikut serta dalam sebuah kegiatan ngumpul di suau tempat. Tentunya bersama keluarga. Selain senang untuk ikut serta dalam kegiatan itu, saya pun ikut bangga kepada teman-teman yang tampak sekali bagaimana mereka bahagia bersama keluarganya. Tidak ada yang jaim, jaga image, begitu komentar bontot saya. Komentar itu cukup buat saya untuk mengukur bagaimana bontot saya itu menikmati kegiatan tersebut.
Acara gerakjalan pagi hari dengan mengitari lokasi penginapan.

Kegiatan yang memang tidak selalu secara reguler itu terlaksana, namun pada tahun ini, ketika kegiatan itu dilaksanakan, meski tidak semua teman lengkap menjadi peserta, setidaknya, dalam hitungan saya yang sebagai peserta, relatif mencukupi kuota. Plus tentunya, beserta keluarga masing-masing. Maka riuhlah kegiatan keluarga itu.

Bagi saya, kenal dengan teman-teman kerja plus para pedamping mereka secara lebih lengkap sebagaimana kemarin itu, adalah pengalaman sangat berharga. Karena saya menjadi kenal lebih jauh dengan para anak-anak teman-teman yang luar biasa pintar-pintar. Kenangan yang bagi saya memberikan kesan membanggakan.

Pergi ke sawah, menjadi bagian yang mengesankan.
Jakarta, 11 Maret 2013.

07 Maret 2013

Ada Prosesi Pembacaan Teks Proklamasi di Lapangan Upacara

Siang itu, di bawah terik matahari yang lumayan menyengat, saya mendengar prosesi pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di lapangan upacara sekolah. Pelakunya adalah anak-anak yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Prosesi pembacaan Proklamasi itu dilakukan setelah para 'tokoh kemerdekaan' itu selesai mengibarkan bendera Merah Putih.

Itulah sebuah sesi pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh anak-anak didik kami yang duduk di bangku kelas 5 SD. Pelajaran tentang detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dan anak-anak tersebut begitu antusiasnya ketika harus melaksanaan upacara bendera di bawah teriknya matahari pukul 10.00 pagi.

Bahkan ada diantara mereka yang karena kekurangan properti yang seharusnya dikenakannya, pergi ke ruangan saya untuk meminjam peci hitam, karena tokoh yang diperankan adalah tokoh Soekarno. Bapak pendiri bangsa Indonesia kita. 

Dan selain tokoh-tokoh senral dalam pelaksanaan proklamasi tersebut, masih ada seorang wartawan yang membawa kamera sebagai alat pendokumentasiannya. 

Tentu saya senang ikut berkontrobusi dengan memberikan pinjaman peci hitamnya kepada para 'pelaku sejarah' tersebut. Karena dengan demikian, berarti saya menjadi tahu hal apa yang sedang anak-anak lakukan bersama gurunya yang berada bersama anak-anak itu sejak awal pelajaran belangsung.

Dan saya pun memberikan apresiasi kepada Ibu Guru yang masih tergolong muda tersebut. Seorang guru yang tidak selalu mengejar keterlambatan dari keterselesaian materi pelajaran yang seharusnya memang harus sudah selesai.

Apa yang sedang guru itu lakukan, adalah proses melahirkan imajinasi ke dalam peristiwa hidup yang lebih nyata. Sehingga sejarah Proklamasi yang telah menjad sejarah itu, dapat anak-anak pahami, semoga, dengan cara yang senang dan relatif menjadi berkesan halad ingatan. Semoga.

Jakarta, 7 Maret 2013.

Pelajar yang Berkendaraan

Beberapa kali saya sebagai bagian dari para pelajar, berkesempatan membaca himbauan dari Bapak-Bapak Polisi yang mengingatkan agar sekolah berkontribusi dalam mencegah para pelajarnya mengendarai kendaraan. Terutama bagi mereka yang belum cukup umur atau yang tidak memiliki SIM. Meski hal yang disampikan ini adalah sesuatu yang normatif, akan tetapi di lapangan banyak sekali para pelajar yang membawa kendaraan ke sekolah dengan rute jalan-jalan besar.

Seperti yang saya alami dengan saya sendiri di sekolah. Sudah beberapa kali saya memergoki anak-anak didik saya datang ke sekolah dengan mengendarai kendaraan. Baik roda empat atau roda dua. Dan semua itu karena saya kebetulan sedang berpatroli. Belum pernah sekalipun dari kejadian yang terjadi itu karena atas laporan dari anggota keamanan sekolah atau teman guru yang lain.

Dan atas kenyataan itulah saya sungguh merasa prihatin. Bukan karena anak-anak itu belum cukup usia dan belum juga memiliki SIM untuk mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya, tetapi lebih kepada pola pendidikan dan karakter yang diinginkan dan dicitakan oleh kita semua. Oleh sekolah, oleh para orangtua, dan oleh para petugas keamanan sekolah yang kadang tahu tetapi tanpa kepedulian seperti misalnya dengan memberikan laporan kepada kepala sekolahnya.

Karena saya selalu yakin bahwa, karakter anak-anak itu adalah implikasi dari apa yang dilihat dan dilakukan oleh lingkungannya. 

Kacamata Sekolah

Apa yang terjadi dalam beberapa pengalaman saya ketika bertemu dan 'menangkap basah' anak-anak siswa SMP yang mengendarai kendaraan bermotor ketika ke sekolah, adalah rasa kekawatiran kami, yang ada di sekolah sebagai guru, karena itu adalah perilaku yang melanggar hukum. Maka ketika kami memberikan toleransi terhadap perilaku seperti itu, resiko yang akan kami hadapi adalah sebuah sikap pembenaran dan tolerasi akan tumbuhnya sikap melanggar.

Dan jika itu sudah terjadi pembiaran dalam durasi yang lama, perilaku tersebut akan meningkat menjadi budaya yang tidak saja dilakukan oleh anak-anak tertentu, tetapi mungkin menjadi jamak. 

Apa yang menjadi sudut pandang saya ini hanyalah bagian kecil saja tentang sebuah fenomena melanggar. Banyak sekali sisi-sisi yang akan menjadi titik buruk dari pembiaran akan sikap melanggar seperti itu. Itulah yang menjadikan kami berkomitmen untuk mencegahnya. Tentu kepada anak-anak yang  melanggar dan 'tertangkap'. Kunci akan kami minta dan simpan, untuk kemudian memberitahukan orangtua atas sikap keliru tersebut, dan untuk selanjutnya agar pihak rumah mengambil kunci tersebut di guru.

Kacamata Rumah

Meski anak telah mahir megendarai kendaraan bermotor walau tanpa memiliki izin mengendarai dari kepolisian, tidak jarang anak-anak itu pergi dari rumah dengan restu dari rumah. Walau tidak semua yang berkendaraan bermotor secara ilegal di mata hukum tersebut atas sepengatahuan orangtuanya.

Bagi orangtua yang memberikan izin anak-anaknya mengendarai kendaraan bermotor ketika berangkat dan pulang sekolah atau dalam kegiatan apapun meski belum berizin, mereka merasa terbantu. Anak-anak itu dirasakannya mandiri dan tidak mengganggu aktivitasnya.

Para orangtua tidak berpikir bahwa dengan kendaran bermotor itu anak-anaknya akan memiliki mobilitas yang jauh lebih tinggi. Dan ketika mobilitas tinggi, maka akan menjadi lebih rumit mereka memantau keberadaan anak-anaknya. Belum lagi jika terjadi musibah terhadap anak-anaknya, maka berpulang kepadanyalah tanggung jawab atas musibah tersebut. Ini karena anak-anaknya masih berada di bawah umur.

Butuh komitmen dari kita semua untuk benar-benar menanamkan karakter atau [erilaku kepada anak-anak kita ini. Sebuah  warisan yang paling [enting bagi mereka ketika kita, para orangtuanya dikemudian hari, tidak mampu lagi mendampingi nak-anak itu dalam menjalani kehidupannya.

Tentunya karakter positif yang lahir bukan karena pembiaran kita atas terjadinya sikap melanggar sebuah aturan. Semoga.

Jakarta, 7 Maret 2013.

04 Maret 2013

Amanah sudah di Tepi Tebing

Ada cerita dari teman jauh tentang bagaimana sebuah amanah yang tidak terlalu digenggam erat, bahkan cenderung didiamkan tanpa gerak, sehingga berlajalannya waktu maka semakin hilang pula rasa mempercayai si pemberi amanah kepada si pemegang amanah tersebut. Dan seperti dalam sejarah perjalanan hidup yang lainnya, maka penyesalan akan hilangnya porsi amanah yang diberikan akan semakin menjadi kenyataan.

Peristiwa itu berawal dari tawaran untuk mengembangkan sebuah lembaga pendidikan yang telah berjalan dan berkontribusi lama sebelum kedatangannya. Sudah eksis. Dengan berbagai negosiasi dan diskusi, maka akad alih tanggung jawab itu mulailah ketika temannya teman itu menerima tawaran yang diberikan.

Namun dalam perjalanan waktu, langkah-langkah yang telah dilakukan bersama semua komponen yang ada di lembaga pendidikan yang telah berada sepenuhnya dalam pundak amanahnya itu, belum juga menampakkan hasil yang positif. Pelatihan, diskusi, simulasi, dan perumusan infrastruktur moderen dalam lembaga yang telah dijalani bersama itu hampir-hampir tidak memperlihatkan gerakan sebagaimana yang diimpikannya.

Bahkan semakin hari, terasa baginya adanya sebuah aura penentangan terhadap program, arahan, dan proses perubahan yang menjadi visi keberadaannya di dalam lembaga tersebut. Baik dalam bentuk penentangan diam-diam dan terselubung seperti dalam bentuk 'cibiran' atas kompetensinya yang berasal dari sebuah sekolah 'kaya', juga terhadap konsep yang diusungnya. Juga adanya aura  penolakan yang lebih terbuka terhadap keberadaannya di lembaga tersebut secara lebih terbuka ketika diskusi dilakukannya. 

Amanah sudah di Tepi Tebing

Apa yang sedang dialami oleh teman itu, adalah sebuah peristiwa normal dalam sebuah perubahan organisasi. Banyak contoh yang dapat kita temukan dalam buku manajemen praktis yang ditulis oleh Renald Khasali. Dan dari kazanah itu, seyogyanya kita agar berpikir lebih keras lagi dalam menerapkan model perubahan yang diinginkan terhadap organisasi yang sudah terlanjur 'besar' dan eksis.

Namun tampaknya itulah yang terjadi. Teman seperti merasakan berjuang sendirian dalam memegang amanah tersebut. Dan ketika ia sedikit mendapat tantangan dalam bentuk gelombang anti perubahan, merasakannya sebagai penolakan. Yang akhirnya memupus dan bahkan mengikis semangatnya yang pernah berkobar ketika ia meninggalkan lembaga tempat mengapdi sebelumnya. Dan pengikisan tersebut menjadikannya seperti kerdil sehingga harus menarik diri dari sebuah gelanggang yang seharusnya ia dalangi.

Itulah sebuah akhir perjalanan bagi seorang yang sebenarnya dan semula diimpikan sebagai sosok pengubah. Sosok restoratif bagi sebuah lembaga pendidikan yang diharapkan kembali menjadi lebih berkibar.

Dalam catatan ini, saya ingin berpesan kepada pembawa perubahan itu, agar tetap membangun sinergi dengan perubahan dan atmosfernya secara inheren. Lahir dan batinnya secara total. Karena tanpa ketotalan, maka semangat perubahan akan sirna sebelum perubahan itu benar-benar dapat diwujudnyatakan.

Tekad seperti  ini tidak lain untuk memelihara agar supaya amanah yang diberikan orang tidak berada di tepi tebing. Semoga.

Jakarta, 4 Maret 2013.