Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 Juni 2014

Pelatihan Akhir Semester

Sebagaimana seperti lazimnya, beberapa hari setelah seluruh siswa libur, saya bersaa teman-teman masih berada di sekolah untuk menjalani pelatihan guru. Dan teman pelatihan pada akhir semester ini, Juni 2014, adalah keterampilan untuk membuah bahan ajar berbasis komputer. Jadilah kami berada di ruang bersama untuk bersama-sama membuat bahan ajar dengan dipandu sepenuhnya oleh lembaga pelatihan yang kami mintai bantuan.

Suasana pelatihan. Saya pribadi merasakan seru. Karena banyak hal baru yang nantinya dapat saya suguhkan kepada teman-teman sesama guru dan siswa.
Apa yang kami pelajari selama pelatihan dengan duarasi tiga hari ini? Sederhana. Hanya tentang bagaimana memadukan kalimat yang merupakan konten dari Mata Pelajaran, memberikan ilustrasi, menempelkan foto atau dan film yang sesuai dengan apa yang akan menjadi bahasan Bapak atau Ibu guru, serta panduan praktek, atau apapun yang kami inginkan sebagai wahana bagi pembelajaran yang menarik.

Sayangnya, saya sendiri masih belum tuntas dalam membuat tugas yang enjadi bagian dari saya sendiri, yaitu membuat buku panduan guru untuk tahun pelajaran mendatang. Menantang dan sekaligus menyenangkan. 

Harapan saya adalah, supaya teman-teman benar-benar dapat menjadikan keterampilan komputer setelah ini, sebagai modalitas dalam menyongsong para siswanya dengan antusiasme yang tinggi. Sekaligus melayannya dengan penuh keriangan. Semoga.

Jakarta, 24 Juni 2014.

22 Juni 2014

Meminta Masukan

Akhir tahun pelajaran, adalah menjadi bagian yang sangat penting bagi saya yang berkecimpung di lembaga pendidikan. Ini karena seluruh rangkaian kegiatan sekolah akan berakhir di sini, sekaligus sebagai awal untuk seluruh kegiatan pada tahun pelajaran berikutnya. Jadi, inilah waktu yang sibuk buat kami yang bergiat di lembaga pendidikan.

Oleh karenanya, untuk mempersiapkan sebuah panduan bagi seluruh komunitas yang ada di sekolah, saya membutuhkan beberapa pandangan dari teman-teman atas kesempurnaan panduannya tersebut. Ini karena saya tidak akan mungkin mempersiapkan dan sekaligus membuat revisi panduan tersebut. Sebab jika itu yang saya lakukan, panduan baru pastinya tetap akan saya perbanyak sesuai dengan kebutuhan yang ada, namun tentunya ada beberapa bagian dari panduan tersebut yang lolos dari revisi. Inilah yang menjadi penting kontribusi teman-teman semua dalam penyempurnaan panduan tersebut.

Dan alhamdulillah, beberapa masukan perbaikan masuk di email saya dari teman-teman yang berkomitmen atas pertumbuhan sekolah kami. Ada ide-ide baru dari masukan yang masuk tersebut. Ada pula masukan revisi atas kata dan kalimat yang telah kami sajikan sepanjang tahun yang lalu.

Walau harus juga saya mengakui disini bahwa ada diantara teman yang memberikan masukan dengan tendensi yang sangat personal sekali. Seperti tentang jam kedatangan dan jam kepulangan. Sebuah masukan yang sesungguhnya tidak terlalu saya harapkan. Ini karena jam datang dan jam pulang adalah implikasi dari jam kerja yang telah dirumuskan oleh negara.

Dan yang juga menjadi lebih membuat saya tidak terlalu gembira atas masukan yang ada adalah, yang disampaikan oleh salah satu bagian penting yang ada di unsur manajemen sekolah. Dimana masukannya masih juga berkutat kepada tendensi personal sebagaimana yang saya ungkapkan diatas.

Tentu berbeda jika masukan bertendensi seperti itu dikemukakan oleh teman lain yang bukan atau yang belum menjadi bagian dari manajemen sekolah. Tetapi jika masukan personal tersebut disampaikan oleh bagian dari manajemen, maka inilah yang menjadi titik paling mengecewakan saya.

Lalu apa yang saya lakukan atas maukan tersebut? Dengan lugas saya katakan bahwa bukan masukan sejenis itu yang seharusnya dikemukakan oleh orang yang berada di deretan manajemen. Karena keberadaannya seharusnya menjadikannya memiliki kacamata pandang yang berbeda.

Tetapi jika masih berkeras atas pendapat dan masukannya tersebut, dengan mengelus dada saya harus kembali mengatakan atas kekecewaan saya. Lalu dibawa sadar saya akan lahir persepsi kurang positif atas kompetensi pemberi masukan tersebut. Mohon maaf.

Jakarta, 22 Juni 2014.

21 Juni 2014

Pilpres 2014 #10; Politisi dan Pengamat

Dalam hari-hari ini, benerapa tivi yang beraviliasi atau yang berkecenderungan pada partai politik tertentu, akan banyak terlibat dalam menyajikan berita atau talk show, baik yang disiarkan secara langsung atau off air. Dan nampak sekali bahwa ini adalah bagian penting dalam usaha membujuk pemilih pada pilpres tahun 2014 ini.

Tidak ketinggalan juga dengan kehadiran para politisi partai politik pendukung capres-capres yang ada, atau juga para pengamat politik. Semua berjuang dengan memberikan pandangan dan analisanya atas pilihannya. Dan tentunya, pilihannya itulah yang paling benar dan dicobakan untuk digelontorkan kepada saya sebagai pemilih.

Menjadi biasa jika seorang politisi yang menjadi nara sumber dalam wawancara, curah gagasan, atau bahkan diskusi tersebut, yang memposisikan capres pilihannya. Karena ia adalah representatif pada pihak capres yang menjadi petugas partainya.Dan itu memang menjadi tanggungjawab yang harus mereka pikul sebagai konsekuensi sebagai bagian dari partai yang mengusung sosok capres.

Termasuk juga adalah koleksi data dan fakta pendukung yang dimilikinya terhadap nilai-nilai positif dari capres yang disokongnya. Termasuk juga adalah dialektika berpikir yang mereka harus siapkan untuk memberikan bantahan atau memberikan penjelasan tambahan bilamana ada lawan politik dalam diskusi yang bertanya atau mempertanyakan.

Namun bagaimana bila seorang pengamat politik yang pada hari-hari normal menjadi orang yang dimintai tanggapannya terhadap situasi sosial yang berlangsung, ujuk-ujuk menjadi manusia partisan ketika musim kampanye datang.

Pada masa normal, apa yang menjadi pandangan dan pendapatnya adalah petuah bijak. Ini bukan saja berangkat dari apa yang beliau sampaikan sebagai tanggapan dan pendapatnya tetapi juga karena posisinya beliau yang merdeka. Posisi netral. Posisi tidak berpihak alias nir partisan.

Dan ketika posisi itu bermigrasi kepada posisi yang partisan di musim kampanye, maka seluruh apa yang dikemukakannya menjadi hambar dan terasa bodoh. Ini karena pandangan dan pendapatnya tidak lagi berpijak kepada kebebasan dari kepentingan. Bahkan tidak jarang sekali saya sendiri merasakan apa yang disampaikannya sebagai pencariaan pembenaran atas apa yang menjadi pilihannya.

Maka pada masa menjelang pilpres 2014 ini, beberapa tokoh yang pada masa normal dulu sebagai pengamat politik yang bijak ketika menyampaikan pandangan dan pendapatnya, menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan. Saya benar-benar menemukan sebuah degradasi kualitas.

Inilah fenomena yang saya catat pada detik-detik pilpres 2014, dimana ada persaingan kepintaran antara politisi dan pengamat pada ranah percaturan yang timpang. Timpang pada citarasa moral keilmiahan. 

Jakarta, 21 Juni 2014.

19 Juni 2014

Bekal Hidup itu, Pentas Seni!


Mungkinkah kegiatan pentas seni yang kita laksanakan setiap tahunnya, dan diikuti oleh seluruh siswa tanpa terkecuali, baik untuk tingkat pendidikan di KB/TK, SD, dan SMP bermakna untuk hari depan anak-anak?

Ini adalah acara penyambutan tamu. Dilakukan oleh grup musik drum band di depan pintu masuk utama gedung pertunjukkan.

Menilik apa yang dikemukakan oleh Daniel Goleman tentang kecerdasan emosional, juga oleh Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, maka kami meyakini bahwa selain anak-anak mendapatkan bekal akademik, keberanian dan kepiawaian anak-anak dalam menyuguhkan potensinya di atas panggung dalam kegiatan semacam pentas seni, adalah sebuah keterampilan yang akan menjadi bekal dalam menopang kesuksesan mereka di masa depannya. Dari keyakinan itu jugalah kami selalu mengajak keterlibatan para siswa untuk turut serta dalam mengambil peran semaksimal mungkin dalam kegiatan tersebut.
Siswa kelas TK B berada di penggung bersama Bapak dan Ibu Guru dalam kegiatan Pensi TK.

Di SD, keterlibatan siswa antara lain  dalam membuat puisi untuk kemudian dijabarkan oleh guru dalam scenario, atau juga menjadi syair lagu yang akan menjadi soundtrack dalam cerita. Demikian pula di SMP, siswa sudah menjadi bagian dari pembuat cerita dan scenario selain juga membuat lagu-lagu soundtracknya. Inilah yang menjadi keyakinan kami semua untuk selalu menyuguhkan Pensi sekolah lebih baik dan berbeda pada setiap tahunnya, pada setiap jenjang sekolah yang ada di sekolah kami. Yaitu di tingkat KB/TK, SD, dan SMP.
Undangan untuk hadir pada kegiatan Pensi SMP.

Kita semua berharap kiranya usahanya ini benar-benar dapat anak nikmati manfaatnya sebagai bagian dari proses anak-anak melakukan kegiatan pembelajaran.  Semoga Allah selalu memberikan ridhoNya. Amin.

Jakarta, 13-19.06.2014.

Saya Pikir Rambut Bapak Hitam Semua

Minggu pagi itu saya harus meninggalkan rumah ketika pertandingan babak kedua partai penyisihan di Piala Dunia 2014 di Brasil masih berlangsung, ketika menit masih menunjukkan ke-82. Ini harus saya lakukan karena saya akan butuh waktu lebih kurang 50 menit menuju lokasi acara yang harus saya hadiri. Dan karena acara ini penting, dan tampaknya saya sebagai orang satu-satunya yang bisa mewakili unsur dimana saya berada bersama teman-teman, maka tidak bisa tidak saya harus bergegas sesegera mungkin.

Ini acara tahunan di sekolah, dimana saya mendapat tambahan tugas sebagai bagian pendidikan di sebuah yayasan yang mengelolanya. Yaitu acara pelepasan siswa kelas 6. Yang pada tahun 2014 ini merupakan angkatan ke-29! Ini berarti ada satu atau dua dari siswa yang akan kami lepas tersebut adalah anak dari siswa kami di tahun 1987an. Sebuah ukuran da pertanda buat kami, bahwa kami sudah berumur. Jadi 'melantik' dan sekaligus memberikan motivasi kepada generasi cucu. Lebih kurang begitulah yang akan kami alami pada kegiatan kelas 6 itu.

Ada beberapa banyak anak yang termasuk dalam bagian berprestasi dipanggil untuk naik ke panggung secara bergelombang. Dan kepada mereka, dari beragam dan berbagai jenis prestasi, saya diminta panitia untuk memberikan penghargaan kepada masing-masingnya. Sebagai bagian dari apresiasi dan hadiah. Inilah kesempatan bagi saya untuk benar-benar besalaman dengan wakil dari anak-anak yang ada di sekolah itu.

Namun ketika untuk kesekian kalinya saya naik ke atas panggung, Dan ternyata ada beberapa dari anak-anak yang masuk kategori berprestasi dipanggil untuk lebih dari satu kali, saya menjadi sedikit hafal dengan mereka.

Dan menjadi lebih ingat lagi saya dengan seorang anak laki-laki yang justru menyapa saya dengan kalimat sapa yang sungguh diluar sangkaan saya; 

"Saya pikir rambut Bapak hitam semua tadi." Begitulah kalimat yang keluar dari lisan anak didik kami dengan ringan dan lugas. Sebuah kalimat yang saya tidak menyangka. Kalmat buat saya yang baru sekali ini saya pernah mendapatkannya. ari siswa lagi. Mengagetkan.

"Anak itu yang paling unik untuk angkatan tahun pelajaran ini. Dan salah satu keunikannya adalah mengenaan peci haji selama dia duduk di bangku kelas 6 SD!" Demikian seorang guru di kelas 6 memberikan deskripsi tentang anak yang baru saja memberikan kalimat ajaib kepada saya.

Saya tersenyum. Dalam hati terbersit kebanggaan bahwa Allah mentakdirkan saya bertemu dengan sekian banyak anak-anak di lingkungan sekolah dengan posisi sebagai guru. Alhamdulillah. Guman saya.

Jakarta, 19.06.2014.


13 Juni 2014

Pentas SD 2014

Buku Pentas yang alhamdulillah terus menuju perbaikan.
Untuk kesekian kalinya, saya menghadiri sebuah pementasan karya guru dengan pemeran 450 siswa di jenjang SD dimana saya berada di dalamnya. Dan selalu, dalam setiap pentas yang ada itu, kegembiraan dan kebahagiaan menyelimuti sanubari dan pikiran saya. Inilah sebuah pentas yang melibatkan seluruh potensi kepintaran dari para guru-guru dan seluruh siswanya.

Dan yang menjadi puncak tema dalam cerita pentas kali ini adalah kesedihan. Benar-benar kesedihan yang sesungguhnya. Karena itu, tidak malulah kalau saya harus mengeluarkan saputangan dan membuka kacamata, untuk mengusap sekering-keringnya airmata yang benar-benar mengucur karena sahdunya cerita yang ada di akhir tema itu.

Ini mungkin sebagai salah satu pembeda diantara cerita pentas yang selama ini guru-guru rancang dan para siswa suguhkan. Karena sebelum ini, cerita selalu berakhir dengan bahagia. Tetapi bukan berarti bahwa cerita dari pentas kali ini hanya berujung kepada kesedihan saja, tidak juga. Karena dari kesedihan yang berupa kematian ayahanda sang tokoh utama dalam cerita, Zen, justru pada titik dimana Zen sendiri sedang berada pada titik keberhasilan yang sangat membanggakan. Maka tidak salah jika saya menangis mengikuti cerita tersebut karena terharu.

Beginilah gambaran pentas yang saya ambil fotonya;
Sebuah atraksi peyambutan di pintu masuk utama gedung.
Acara pentas benar-benar baru dimulai. Tampak beberapa orangtua siswa sedang bersiap menyaksikan pertunjukkan.

Apa pelajaran buat saya sendiri dari sebuah kagiatan tahunan kali ini? Tidak lain adalah kebanggaan buat teman-teman saya yang masih berusia diantaranya 30an itu. Mereka begitu antusias menyingsong kegiatan tahunan ini dengan begitu semangat. Semangat untuk mengeksplorasi satu sama yang lainnya. Karena kegiatan ini selalu dilaksanakan dalam satu tim dan bukan dalam perorangan.

Saya belajar juga bagaimana teman-teman guru itu bernegosiasi untuk membuat alur sebuah cerita yang manarik dan berbeda. Menarik dengan memperhatikan prediksi pergerakan emosi penonton atas suguhan yang mereka tampilkan nantinya. Prediksi ini kadang menjadi masukan yang bagus sebuah penyusunan skenario.

Juga yang berbeda. Setidaknya berbeda dengan tema cerita yang sebelum-sebelumnya ada. Dan jika memungkinkan berbeda juga dengan alur berpikir kami sebagai penonton kebanyakan. Dan karena negosiasi, maka dalam komite itu akan tampak  karakter teman-teman secara vulgar. Dan ini juga menjadi wahana belajar luar biasa. Inilah kaderisasi kepemimpinan secara alami menurut saya. Dan semoga proses inilah yang menadikan kami selalu berpikir dan berjuang untuk selalu mendapatkan yang lebih baik secara terus menerus berkelanjutan.

Jakarta, 13.06.2014.

Pasang Kuda-Kuda

Mengawali pekan ini, saya bertemu sahabat saya menjelang rapat kedua sebuah kelompok kerja, yang baru saya hadiri untuk kali pertamanya. Pertemuan akan berlangsung pukul 18.30. Sementara saya sudah datang di lokasi pertemuan pukul 17.00. Waktu lebih yang saya punya itu saya gunakan untuk bersih-bersih supaya ketika rapat usai dan kembali ke rumah saya tidak perlu mandi lagi. Begitulah simpelnya pikiran saya. Namun teman saya mencegat saya di depan pintu kamar mandi.

"Saya merasa, Bahwa aa yang sedang pasang kuda-kuda untuk pembahasan rapat nanti. Kuda-kudanya mengarah kepada tidak adanya atau tidak perlunya sebuah perubahan dalam rumusan yang akan kita bahas." Demikian teman saya mengawali curahan hatinya. Maklum, dia berkata begitu. Ini karena kegerahannya sebagai ketua kelompok kerja, yang membawahi antara lain adalah para pejabat di struktur yang ada. Jadi sekedar menuang kekalutan akan situasi yang diprediksinya akan membuat atmosfer bete.

"Mengapa sampai beliau memasang kuda-kuda? Apa ira-kira yang menjadi tujuannya Mas?" tanya saya ingin tahu apa yang ada di balik pemiirannya itu.

"Ya apa yang akan kita bahaskan produk dia. Lumrahlah kalau dia mempertahankan apa yang menjadi jasanya." jelas teman saya. Sebuah jawaban yang membuat saya sedikit tidak setuju karena memang berbeda prinsip dengan apa yang menjadi perjalanan hidup saya.

"Kasihan ya. Kok hanya begitu cara melihat jasa. Berbeda dengan keyakinan yang saya pegang." 

Lalu saya menjelaskan bahwa dalam hidup itu jangan pernah merasa berjasa dengan apa-apa yang telah kita lakukan. Karena itu sebuah prinsip yang sangat keliru dan sesat. Apa lagi jika posisi kita sebagai bagian dari pegawai di sebuah lembaga yang menerima imbalan atas semua hasil kerja dan hasil karya kita. Maka ketika kita telah melakukan sebuah jasa atau karya, maka sesungguhnya lembaga telah membayar apa yang menjadi kewajiban kita itu. Maka tunailah transaksi kerja dan imbalan tersebut.

Dan jika dalam kondisi seperti itu, apakah masih layak saya yang berposisi pegawai mengaku sebagai orang yang berjasa atas pekerjaan yang memang seharusnya menjadi kewajiban saya?

"Jadi kalau beliau atau siapa saja yang memasang kuda-kuda atas usulan perubahan terhadap sebuah hasil karya dia, menurut sya itu adalah kuda-kuda yang salah alamat. Sebuah usaha yang hanya akan membawanya kepada sebuah jurang fatamorgana." komentar saya.

"Benar juga ya. Memang seperti itulah seharusnya. Saya sadar sekarang." jawab teman saya yang sangat cerdas ketika mengemukakan sebuah rancangan tentang apapun ke masa menadatang itu.

"Apalagi jika usulan sebuah perbaikan datangnya dari teman-teman kita yang berbeda generasi. Kalau saya Mas, menikmati usulan dan pergerakan itu. Karena akan mengajak saya sebagai bagian dari generasi sebelumnya mengetahui perjalanan seru para generasi sesudah kita. Dan di situ, saya merasa diberdayakan. Itulah lokasi dimana saya menjalani proses learning by doing and thinking. Pengalaman luar biasa Mas."

Kami sudahi percakapan singkat itu. Karena langit tiba-tiba menurunkan hujan. Sehingga sahabat saya itu segera bergegas pulang ke rumahnya yang berjarak 100 meter dari ruang pertemuan kami nanti, untuk mandi dan kemudian kembali lagi menjelang pertemuan.

Jakarta, 13 Juni 2014.

11 Juni 2014

Pilpres 2014 #9; Adakah Media Netral?

Sayang sekali bahwa Senin, 9 Juni 2014 malam saya tidak dapat menyaksikan debat Capres-Cawapres di tivi yang disiarkan secara langsung. Tidak ada kegiatan apapun yang saya lakukan pada waktu tersebut selain tidur. Karena sejak dari pulang kantor saya harus mengejar kendaraan umum. Tak pelak lagi, katika sampai rumah badan harus segera istirahat.

Namun, meski tidak dapat mengikuti secara langsung, saya tetap dapat mengakses informasi apa yang terjadi semalam. Selain dari laporan pandangan langsung para 'pengamat' yang bertebaran di tempat kerja saya, saya juga tetap mendapat ulasan dan berita dari media on line. Dan ini menjadi bahan argumentasi tambahan bagi saya untuk benar-benar tidak salah memilih pada Rabu tanggal 9 Juli 2014 nanti.

Dari teman-teman kerja yang merangkap sebagai 'pengamat' selama musim kampanye tahun ini, saya mendapat hasil pengamatan mereka dalam bentuk komentar, pendapat, dan bahkan hasil analisa mereka tentang debat Senin malam itu. 

Dan selain dari pendapat, pandangan, dan komentar dari teman-teman yang kebetulan menyaksikan acara debat itu, saya juga menyematkan diri untuk membuka halaman berita on line pada esok harinya. Tepatnya pada Selasa, 10 Juni 2014 siang. Dan nampaknya masing-masing media on line yang sempat saya crop tersebut menampakkan posisi berada di sisi Capres dan Cawapres yang mana.

Beginilah kira-kira penampakan halaman yang saya crop itu;

 Atau yang ini; 

Yang ini juga bisa menjadi pembanding;
 Ini laman keempat yang saya crop;

Jakarta, 11 Juli 2014.

09 Juni 2014

Terlambat Masuk Kerja

Ketika saya membuat catatan ini, sudah banyak saya mendengar teman-teman yang kepala sekolah atau yang menjadi kepala di kantornya begitu tidak mudahnya untuk 'membenarkan' orang-orang yang juga adalah bawahannya menjadi tidak terlambat masuk kerja. Atau kalau kepala sekolah, merasakan betapa tidak mudahnya dalam mengingatkan teman-temannya yang masih terlambat jam masuk kerja,  adalah juga jam masuk kelas sesuai dengan jam mengajarnya di kelas tersebut. 

Diarasakannya bahwa teman-temannya yang ngotot untuk dimengerti keterlambatannya itu justru menjadi berbusa argumentasinya ketika ia mencoba untuk menyadarkannya. Segudang kalimat mengelak atas keterlambatan yang telah tercatat di mesin absensi. Dan argumentasi itulah yang membuat sedikit pening di kepalanya.

"Mengapa kantor hanya fokus dengan data-data absensi Bu? Mengapa tidak kenerja? Mangapa ketika saya datang di hari Sabtu atau pulang  lebih sore tidak menjadi catatan kantor?"

Begitulah kira-kira kalimat penawar yang di usung para pasukan terlambat masuk kerja itu. Dan setiap para pelaku diingatkan, sedikit dari mereka yang langsung menyadari apa yang salah dari keterlambatannya datang ke sekolah atau kantor. Sebagian besar justru langsung mengeluarkan jurus mengelak dan ngeyel. 

Pendapat Saya

"Apa komentar Pak Agus atas fenomena itu? Bagaimana seharusnya kita sebagai atasanya memposisikan diri? Apakah kita harus mentolir atas keterlambatannya?" Demikian kata-kata teman saya kepada saya setelah mereka curhat. Saya diam saya untuk sementara hingga teman saya itu benar-benar selesai apa yang ingin diungkapkannya. 

Dan setelah semua selesai, saya sampaikan tentang terlambat itu dengan pengalaman saya sendiri sebagai pegawai di sebuah kantor. Artinya, saya menjawab dari kacamata saya sebagai pegawai yang insyaf. Begitulah kira-kira. 

Pertama; Saya tahu saya akan terlambat sampai sekolah ketika saya mulai keluar pintu rumah saya. Kok begitu? Tapi memang demikianlah adanya yang saya alami sehari-hari sebelum saya sadar dan kemudian insyaf bahwa saya adalah karyawan sebagai pegawai. Ketika kaki saya melangkah keluar pintu rumah, dan itu sudah menunjukkan pukul 06.20, maka hati saya berdegup. Karena dengan demikian saya harus mendapatkan bus segera begitu saya sampai halte. Juga ketika sampai terminal Blok M, saya harus langsung mendapat Metro Mini trayek 610 dan tidak pakai ngetem di perempatan Panglima Polim, Blok M. Jika persyaratan semua itu tidak terpenuhi, pasti terlambat sampai kantor saya yang ada di Cilandak. Berbeda jika saya berangkat dari rumah benar-benar pukul 06.00 teng!

Dari sini, saya mendapat pelajaran untuk menggunakan Matematika hitung mundur. Jika saya baru sadar akan berangkat kerja 30 menit sebelum keberangkatan, maka persiapan yang bisa saya lakukan adalah persiapan serba kilat. Cepat. Dan jika sebagai suami, realitas ini akan menjadi sumber konflik jika gaya serba kilat ini berdurasi lama.

Kedua; Sejauh yang saya ketahui, tidak ada satu kantorpun yang mentolerir pegawainya terlambat sampai di kantor. Ini memang nyata terjadi. Sampai sekarang, sebagai guru, saya belum menemukan jika gurunya boleh datang terlambat sampai sekolah atau bahkan sampai di kelas untuk mengajar. Kalau ada yang mengetahui akan informasi tersebut, saya minta nomor kontaknya. Siapa tahu saya masih diterima untuk mengirimkan lamarannya. Memang ada kantor yang menghitung keterlambatan dengan uang tambahan semacam uang transpor. Tetapi bukankah itu bentuk betapa tidak ditolerirnya karyawan datang terlambat?

Ketiga; Untuk sebuah sekolah, guru on time dan full time, adalah bentuk marketing yang nyata! Disebuah sekolah swasta yang saya kenal, para petingginya sekarang sedang disibukkan oleh masalah kekurangan siswanya. Maka, ada usulan bagus datang dari salah satu mereka agar sekolah menyewa tenaga marketing profesional sebagai upaya mendongkrak jumlah siswa.

Usulan yang bagus. Tetapi dari informasi yang lain, saya mendapatkan bahwa kepala sekolah masih dipusingkan dengan jam kosong di kelas. Dan setelah diselidiki siapa guru yang seharusnya ada, masalahnya ternyata berada di keterlambatan guru datang ke kelas. Gurunya asyik berdiskusi dengan sejawatnya karena sedang menjadi 'pengamat' di ruang guru. 

Bagaimana jika seluruh guru yang ada tahu, sadar, dan kompak masuk kelas tepat waktu dengan dengan penuh waktu keberadaannya di dalam kelas? Bukankah itu jurus jualan yang paling dasar?

Keempat; Sampai kantor secara on time dan bekerja secara full time, adalah pintu gerbang sukses sebagai pegawai! Menurut saya inilah kunci seseorang akan mendaptkan kepercayaan lebih tinggi dari lembaganya. Hampir mustahil sebiah amanah jatuh kepada personal yang telatan. Saya hanya percaya bahwa amanah selalu jatuh pada sosok yang paling layak menjadi teladan di ruang kerjanya. Bukan mereka yang suka telatan. Pasti!

Lalu? Kalau masuk kerja saja masih sering terlambat, masak mengharap kesempatan maju yang banyak lagi dari karyanya?

Jakarta, 9.06.2014.

Pilpres 2014 #8; Menghakimi Pilihan Orang

Tidak ada yang tidak dapat menjadi bagian dari pembelajaran hidup. Terutama pada hari-hari ini, dimana hiruk-pikuk menjelang pelaksanaan pemilihan presiden tanggal 9 Juli nanti dilaksanakan. Semua sumber berita yang dapat kita akses memberikan aroma yang penuh pulosi politik itu.

Dan ini tidak tertinggal dengan situasi halaman-halaman media sosial yang digunakan warga. Halaman-halaman yang selalu berubah statusnya, sebagai ekspresi jati diri pemiliknya. Dan tidak sedikit halaman mereka berisi status dengan memojokkan orang yang berbeda pandangan dengannya. Inilah yang saya menyebutkan sebagai tirani media sosial.

Tidak lain karena di halaman medianya itu selalu berganti status penyerangan. Suatu kali serangannya tertuju kepada latar belakang, kali yang lain berkenaan dengan masa kelamnya, dan lain hari ia mengganti statusnya dengan kalimat yang lebih tajam. Dan semua itu terarah kepada pihak yang tidak sepaham dengannya. Meski harus kita dapati pelajaran bagusnya, dari statusnya yang berisi sebuah doa!

Jakarta, 9.06.2014.

Pilpres 2014 #7; Bertanggungjawab atas Pilihannya

Musim kampanye Pemilu Presiden RI tahun 2014 ini telah dimulai. Maka banyak informasi yang saya dapatkan dari kedua calon presiden saya nanti itu. Baliho, selebaran, tontonan di tivi, debat para pendukung atau tim ses, analisa pengamat, bahkan cuplikan pidato yang menjadi bagian dari berita sebuah tivi kroninya, iklan, dan tentunya pandangan-pandangan yang tampaknya sebagai orang non blok. Pendek kata, hari-hari ini saya mendapat banyak informasi tentang figur capres dari berbagai sumber tersebut secara lebih lengkap. 

Dan informasi itulah saya akan menjadikanya sebagai hujah bagi pengambilan keputusan saya. Siapa capres yang akan menjadi pilihannya. Dan berbasis dari informasi itu jugalah saya telah mantap untuk bersikap bangga jika pilihan sayalah yang akan menjadi Presiden pengganti Bapak SBY, atau bersikap tidak akan menyesal akan pilihan saya jikalau pilihan saya yang justru kalah.

Sikap ini saya bangun karena saya merasa yakin sekali akan pilihan saya. Dan dasar atas pilihan saya itulah yang membuat saya begitu tidak menyesal jikalau memangcapres pilihan saya yang kalah. Karena dengan seperti itu, saya tidak akan salah dalam menentukan pilihan.

Inilah catatan saya akan apa yang sedang terjadi di masa-masa sekarang ini. Begitu orang membabi buta mendukung seorang tokoh hanya dengan sepenuh emosi. Namun saya ingin melakukan pilihan dengan hati nurani yang disuplai akal. Dan semoga informasi yang dapat terima dari berbagai sumber itu cukup untuk membuat akal saya sehat. Amin.

Jakarta, 9.06.2014.

06 Juni 2014

'Membangun' Kejayaan Kembali?

Ada perasaan yang sangat getir ketika bertemu dan mendapat cerita tentang sebuah perjalanan keberhasilan yang berakhir keterpurukan akan kiprah sebuah lembaga pendidikan swasta. Sebuah kisah yang berawal pencapaian keberhasilan dan bahagia, yang pada ujungnya adalah sebuah keterpurukan serta keputusaasaan. Kisah yag lengkap dari seorang kakek yang berusia 74 tahunan, yang badan sebelah kirinya sedikit terganggu oleh stroke ringan yang pernah menderanya beberapa waktu yang lalu.

Perjalanan yang menakjubkan bagi saya, yang adalah pelaku bagi sebuah lembaga pendidikan swasta. Sebuah cermin yang berkilau jernih oleh penampakan diri sendiri. Bahwa perjalanan selalu akan berujung. Dan bahwa ujung harus selalu diwaspadai. Bukan untuk ditakuti, dicurigai, tetapi diwaspadai dengan cara setajam mungkin diprediksi.

Karena dengan ikhtiar bercermin dengan setajam mungkinlah sebuah prediksi benar-benar dapat menjadi langkah positif dalam menghindarkan diri kepada keterpurukan di sebuah akhir atau sebuah ujung. Itulah pelajaran berharga yang benar-benar membekas pada diri saya.

Oleh karenanya, tidak berlebihanlah bila dalam rekomendasi yang dimintakan kepada saya atas kunjungan dan kehadiran saya dalam sebuah fragmen diskusi beberapa waktu lalu di luar kota itu. Sebuah rekomendasi yang saya menyebutkannya sebagai tantangan dan sekaligus gambaran atau cermin.

Tantangan

Tantangan karena lembaga sedang terpuruk sebagaimana yang diceritakan itu adalah bentuk konkrit dari sebuah ujian yang sesungguhnya bagi kami sebagai lembaga pendidikan formal yang relatif besar. Dan sebagai ujian, maka tantangan yang terberatnya adalah mampukah kami menemungan kejayaan kembali bagi sebuah lembaga yang terpuruk tersebut?

Namun menjadi tantangan juga bagi saya sendiri agar ide dan pendapat saya pribadi tersebut mampu mewujud dalam tararan kesimpulan, keputusan, dan kebijakan, yang diambil oleh lembaga dimana saya bernaung di dalamnya?

Gambaran dan Sekaligus Cermin

Ini tidak lain karena lembaga yang sedang terpuruk itu adalah gambaran nyata bagi sebuah perjalanan kehidupan dalam mempertahankan diri untuk terus eksis. Sebuah cermin bahwa dalam perjalanan ternyata dapat melahirkan keberhasilan dan sebaliknya juga keterpurukan. Tidak hanya dalam perjalanan sebuah kerier seseorang saja, tetapi juga sebuah lembaga pendidikan.

Dan gambaran itu adalah sebuah cermin bagi kami sekarang. Cermin tentang bagaiamana menghindarkan diri dari sebuah situasi yang tidak berpihak kepada sebuah usaha eksistensi. Inilah yang saya anggap sebagai kazanah pembelajaran hidup. Gambaran yang begitu terang tentang bagaimana seharusnya agar kemenangan yang kita dapat dalam bertanding.

Jakarta, 6.06.2014.

03 Juni 2014

Posisi Diri dalam 'Perubahan' Sekolah

Hari ini, saya membaca butir-butir masukan dari para responden yang diambil dalam sebuah kegiatan Focus Group Discussion atau FGD di sebuah sekolah. Ada sembilan pertanyaan yang diajukan kepada peserta diskusi. Yang pada masing-masing pertanyaan tersebut peserta dapat secara terbuka dan bebas memberikan masukan, pendapat, dan juga gagasannya. Bahkan untuk dua  dari sembilan pertanyaan yang ada, masih dibutuhkan dalam bentuk faktor internal dan faktor eksternal. Hebatnya, dari kesembilan pertanyaan itu, bayak sekali masukan, pendapat dan jga gagasan dari peserta diskusi itu.

Dan saya, ketika membaca laporan hasil diskusi tersebut, yang disarikan dalam bentuk pertanyaan dan poin-poin solusi, pendapat, gagasan, dan masukan dari peserta diskusi tersebut, langsung terbayang bagaimana aura dari sebuah forum diskusi itu. Menggairahkan.

Dan, karena saya uga adalah bagian dari pengelola sekolah dimana para pegawainya sedang menjadi peserta diskusi itu, maka tidak salah jika pada poin-poin tertentu saya merasa panas dingin. Utamanya jika mendengar masukan. Ini karena persepsi saya dengan persepsi orang tersebut berbeda, atau bahkan bertolak belakang. Mungkin ini karena saya kebetulan sebagai pengelola sedang peserta diskusi adalah para pegawai yang melaksanakan kegiatan operasional sehari-hari.

'Perubahan' Sekolah

Perhelatan FGD tersebut adalah sebuah wahana bagi kami dalam rangkaian gerakan perubahan bagi sekolah kami. Tentunya perubahan agar sekolah kami tetap menjadi sebuah lembaga yang eksis secara konsisten. Dan ini dibutuhkan  ketajaman pendengaran dan penglihatan kami sebagai stake holder yang ada di lembaga untuk kemudian pengetahuan dan pemahaman yang kami dapatkan dapat menjadi 'peluru' dalam mengikuti pergerakan zaman tersebut.

Karena kami yakin bahwa hanya dengan kemampuan untuk beradaptasi sesuai dengan lingkungan yang membutuhkanlah yang menjadi pintu gerbang bagi kelanggengan kami. an itu, salah satu jalanya, adalah megajak seluruh unsur stake holder sekolah yang ada berkontribusi. Ini penting, mengingat seluruh lembaga yang sekarang ada, utamanya adalah lembaga pendidikan swasta, terus berusaha untuk selalu menjadi dan mendapatkan predikat  lebih baik. Maka hanya dengan 'berlari'lah lembaga dimana kami semua berada ini harus selalu siap dan mampu dalam menjaga amanah  masyarakat dalam mengebangkan generasi mudanya.

Logika itulah yang menjadikan kami harus selalu belajardan tumbuh.

Namun dengan membaca masukan, pendapat, dan gagasan itu, masih banyak para peserta yang berada dalam forum tersebut dalam memposisikan dirinya ketika menyampaikan pendapatnya, masukannya, atau gagasannya, berada dalam posisi sebagai pengamat. Sebagai komentator. 

Itulah catatan saya hari ini ketka membaca ringkasan hasil FGD dengan para stake holder kemarin. Sesuatu yang bagus, tetapi sedikit mengecewakan.

Jakarta, 3 Juni 2014.

Pergi ke Kuningan

Pada akhir pekan yang lalu, kami berkesempatan untuk berkunjung ke Kabupaten Kuningan. Bukan menjadi tujuan utama kami untuk berkunjung ke Kuningan pada waktu itu. Namun karena masih adanya alokasi waktu yang kami miliki, maka kami meninggalkan Cirebon dengan berbagai kuliner dan batiknya guna melihat hijaunya alam di Kuningan.

Berikut adalah cuplikan gambar yang kami dapat dari kunjungan kami itu;
Kemilau permukaan air kolam di obyek Cibulan. Kita bisa berenang di kolam ini ditemani ikan-ikan 'siluman'. Sayangnya, dengan harga tiket tanda masuk  sebesar Rp 12,000/orang dewasa ini dipenuhi iklan minuman hampir disemua sisinya. 


Hamparan taman indah yang berada di sebelah utara dari museum Linggarjati. Udara sejuk dan warna hujai yang dominan di daerah ini, serasa tidak berada di sebuah museum bersejarah.
Kota Cirebon, dengan mercusuar yang menjulang, tampak disirami terik matahari. Dilihat dari tempat duduk di RM Kelapa Manis.
Apa yang saya sampaikan  di atas itu, belum tuntas memberikan gambaran tentang Kuningan. Karena masih ada lokasi lain selain tempat-tempat di atas. Misalnya Waduk Darma, Cigugur, dan juga pemandian air panas Sangkanhurip. Belum lagi tape daun jambunya. Belum dapat menjadi gambaran tentang destinasi wisata di Kuningan. Namun dengan pengalaman singat itu, mudah-mudahan dapat memberikan sedikit informasi tentang daerah ini.

Jakarta, 3.06.2014.

Pilpres 2014 #6; Berkeras Membujuk

Hari ini, Selasa, 3 Juni 2014, atau tepat dua hari setelah penentuan nomor urut calon presiden yang akan bertarung dalam pemilihan presiden Indonesia pada Pemilu tanggal 9 Juli 2014, saya masih mendapat 'tekanan' dari teman-teman 'timses' tidak terdaftar. Tekanan itu berupa bujukan untuk menelan habis apa yang mereka sampaikan kepada saya. Tidak ada kesempatan yang diberikan kepada saya satu katapun.  Teman itu begitu semangat dan yakinnya akan apa yang dia sampaikan kepada saya, sampai-sampai satu katapun yang keluar dari mulut saya saat dia berpendapat adalah sanggahan.

Padahal semua kami, yang mendengar dia ketika menyampaikan pendapatnya itu, tahu persis bahwa dia itu bukan siapa-siapa dalam ranah sosial kami, dan juga bagi calonnya yang selalu mendapat poin baik dan hebat dari semua sisi yang disampaikan. Inilah maka saya sebut teman saya itu sebagai tim sukses tidak terdaftar.

Jadilah apa yang disampaikan itu semua bukan sebagai bagian dari pembukaan sebuah dialog. Tetapi lebih sebagai bujukan. Seolah-olah dia ingin sampaikan kepada saya khususnya, karena tidak sependapat dengan apa yang disampaikannya, adalah kelompok yang tidak cerdas.

Dan saya perlu sampaikan juga kepadanya bahwa saya, adalah tetap sebagai pemilih yang merdeka. Oleh karenanya, tidak perlu pendapatnya itu sebagai bagian dari bujukan yang bersifat harus. Sekedar pendapat. Tetapi jika kemerdekaan saya sudah mulai tidak dihormati, maka langkah jitu untuk menghadapinya adalah 'melarikan diri' dari kerasnya bujukannya. Selamatlah saya untuk sementara waktu dari bertubi-tubinya ocehan dia.

Mengapa langkah ini yang saya ambil? Tidak lain karena percuma saja berhadapan dengan anggota tim sukses tidak terdaftar itu. Dia hanya mampu berpendapat dan tidak memiliki kemampuan untuk mendengar apa yang orang lain ingin sampaikan. Baginya, orang lain atau siapa saja yang ada dihadapannya, adalah kelompok orang-orang yang tidak tahu.

Dan sekali lagi saya tegaskan, karena saya hanya memiliki satu hak suara dalam kegiatan pilpres nanti, saya berkewajiban untuk menjadi pemilih yang merdeka. Hanya itu.

Jakarta, 3 Juni 2014.

Pilpres 2014 #5; Pemilih dan Komentator

Menjelang pemilihan presiden 2014, dimana terdapat dua calon yang harus dipilih oleh rakyat Indonesia, para pemilih atau bahkan seluruh teman-teman yang ada di sekeliling saya disibukkan dengan berbagai komentar yang tidak lepas dari hajatan besar itu. Dan bagi saya sendiri yang memiliki satu suara yang sah, menjadi refleksi pada setiap komentar, pendapat, dan juga ajakan yang mereka sampaikan kepada saya secara sendiri-sendiri atau ketika kami semua sedang dalam forum ngobrol bebas. Ngobrol utara selatan.

Dan apa yang teman atau saudara sampaikan dengan penuh semangat itu kepada saya, mengingatkan saya kepada fenomena yang ada di masyarakat dalam mensikapi keputusan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Agama, pada saat melaksanakan sidang isbat untuk penentuan awal Ramadhan. Dimana keputusan diambil setelah mempertimbangkan masukan dari para peneropong di berbagai titik, di beberapa wilayah di NKRI, yang sebelumnya telah diambil sumpahnya. Laporan para peneropong itu menjadi bagian penting  bagi Menteri Agama mengambil keputusan untuk mulai puasa Ramadhan.

Anehnya, sebagai yang saya sebut fenomena itu, adalah sebagian orang yang tidak masuk dalam tim pemasok informasi atas hasil teropongannya, menjadi bagian dari pengambil keputusan,  tidak juga melihat awal terbitnya bulan juga tidak, mampu dan berani mengambil kesimpulan yang berbeda dengan apa yang diputuskan pemerintah. Ini tentunya terlepas dari yakin atau tidaknya dengan apa yang pemerintah putuskan. Akan tetapi, saya sendiri melihat bahwa fenomena inilah yang sering lahir dalam karakter yang teman-teman saya pertunjukkan sebagaimana pada saat menjelang hajatan besar demokrasi kita, pemilu. 

Beberapa teman yang membujuk saya untuk sependpat dengan apa yang dia utarakan itu adalah kalangan masyarakat yang memang tidak masuk dalam tim sukses salah satu calon presiden yang akan bertarung pada 9 Juli nanti. Mereka hanya mengandakan informasi yang memng dapat diakses oleh masyarakat umum seperti saya. Tetapi teman-teman itu begitu pasti dalam menyampaikan pendapatnya.

Itulah yang saya sebut dan sandangkan kepada teman-teman saya itu sebagai komentator. Yang kalau di lapangan sepak bola, legenda sekelas Maradona saja pasti mendpat komentar bodoh dari sang komentator itu.

Dan sebagai pemilih yang mendiri, saya cukup tanggapi apa yang teman-teman sampaikan sebagai bagian dari bunga-bunga demokrasi. Hanya tersenyum yang saya perlihatkan. Tidak lebih dari itu. Karena satu katapun saya mencoba untuk berpendapat, langsung 'digilas' habis.

Kasiankah saya?

Cirebon, 31 Mei-3 Juni 2014.