Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

18 Mei 2011

Pak Menteri, Masih ada Hari 'Kejepit' Lagi!


Masih akan ada lagi hari 'kejepit nasional' lagi. Teman-teman sering menyebut dengan singkatan 'harpitnas', yang adalah akronim dari hari 'kejepit' nasional. Hari 'kejepit'? Ya memang itulah kenyataannya. Sebuah ungkapan yang kok ya ngak pas. Biasanya yang kejepit itu jari tangan (?). Ada juga istilah yang sebenarnya tidak pas. Misalnya ungkapan bahwa soal ulangan atau oal ujiannya 'bocor'. Kan yang bocor seharusnya ember, genting, tapi di masyarakat kita istilah soal ulangannya bocor atau ujian yang bocor, sudah menjadi maklum nasional.

Baiklah, terlepas dari ungkapan yang mungkin akan memancing Anda yag konsen kepada kebakuan dari istilah, saya akan kembali kepada persoalan yang sangat ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Yaitu ajakan kepada kita semua untuk sama-sama mengingatkan kepada Pak Menteri kita, apakah Jumat tanggal 3 Juni nanti akan menjadi hari libur atau hari cuti bersama?

Mohon maaf ini harus saya sampaikan, mengingat Senin tanggal 16 Mei lalu saya dengan amat sangat terpaksa tidak patuh kepada himbauan Bapak. Tidak ada maksud lain. Itu hanya kendala teknis yang saya alami. Karena saya baru mendapat berita sekitar pukul 16.00, pada hari Jumat tanggal 13 Mei, dimana seluruh siswa saya pada saay itu telah pulang semua. Dan sebagian besar guru kami juga telah pulang. Selain itu, perlu juga saya sampaikan disini bahwa Sabtu adalah hari libur kami.

Saya hanya berpikir, terlalu buruk jika untuk libur yang tidak dikarenakan sesuatu yang darurat, lalu kami umumkan Senin tanggal 16 Mei sebagai cuti bersama tidak melalui surat resmi sekolah tetapi melalu jaringan komunikasi seluler yang kami telah buat. Kecuali jika informasi libur mendadak tersebut karena sesuatu yang darurat.

Oleh karenanya, sekali lagi saya mohon maaf untuk tidak mematuhi SKB yang Bapak-Bapak Menteri sudah putuskan. Sekolah kami tetap masuk seperti biasa pada Senin tanggal 16 Mei lau. Kami amat sangat menghargai atas gerak cepat Bapak-Bapak yang meski dengan waktu yang mepet tetapi masih mampu membuat keputusan untuk kami.

Mengingat kejadian itulah, maka kami mengingatkan Bapak-Bapak, bahwa masih ada hari 'kejepit' lagi. Tepatnya pada Jumat, 3 Juni 2011. Apakah juga menjadi hari libur cuti bersama? Kami menunggu keputusan itu segera, tentunya sebelum hari Selasa, 31 Mei 2011, agar supaya kami bisa mengirim surat untuk para orangtua siswa, dan supaya kami juga dapat membuat rencana mau kemana liburan empat hari itu.

Jakarta, 18 Mei 2011

15 Mei 2011

Take the Glory, Apakah Termasuk Penyakit Gila Hormat?

Asli, ini istilah saya dapatkan dari teman satu ruangan di kantor saya yang lama. Ada beberapa istilah yang saya dapat ingat yang menjadi trade mark-nya selama empat tahun setengah kami satu kantor dan berhimpitan tanggung jawab. Maklum, saat itu saya sebagai Upper Primary Principal dan dia Expatriate Primary Principal. Jadi berdempetan tanggung jawab kami. Istilah take the glory ini menjadi kesimpulannya ketika saat ada seseorang yang selalu tampil di depan manakala sukses di dapatnya atau kelasnya raih. Dan biasanya mereka mengkomunikasikan dengan berbusa-busa. Istilah untuk mereka yang tidak ada matinya ketika harus tampil untuk keberhasilan temannya sekalipun. Tanpa rasa sungkan dan malu lagi, ia akan berdiri di depan.

Tokoh ini hanya mengakui keberhasilan, yang seolah-olah menjadi usaha kerasnya sendiri, tanpa mengakui kontribusi orang lain. Mungkin dalam kamusnya, keberhasilan adalah dirinya dan orang disekitarnya cukup sebagai pelengkap. Sedang ketidakberhasilan semua merupakan akibat dari orang lain. Tidak adil memang, tapi itulah kenyataan dari perilaku model manusia ini. Ungkapan teman itu pertama sekali saya dengar manakala ada staf kami yang berperilaku seprti itu dalam menyikapi performa kerjanya. Maka lahirnya julukan take the glory untuk perilaku yang dia tampilkan tersebut.

Istilah lain yang masih saya ingat antara lain adalah; The drama queen. Ini istilah untuk mereka yang ketika di depan kita selalu manis dan legit luar biasa. Namun di saat dan situasi berbeda, atau ketika berada di belakang kita, ia akan menyampaikan sesuatu yang buruk tentang kita di hadapan temannya. Mungkin singkat katanya adalah manis di depan kita dan tidak saat di belakang kita. Tapi karena sudah karakter, maka dua peran yang saling berlawanan itu selalu apik dijalaninya. Itulah the drama queen.

Take the Glory

Dalam perjalanan hidup saya berikutnya, saya masih dan selalu bertemu dengan dua sosok yang memiliki karakter sebagaimana saya sebutkan di atas. Tentu dengan kapasitas dan corak yang berbeda. Namun tetap dengan esensi sama.

Baru-baru ini misalnya, menimpa pada sahabat karib saya. Dimana dia marah terhadap seseorang karena telah berkontribusi pada lahirnya masalah di kantor. Padahal jika dirunut, masalah yang lahir tersebut menjadi bagian paling inheren yang harus ditanganinya. Namun anehnya, justru orang dan pihak atau bagian lain yang menjadi caci makinya. Maka teman saya bertanya balik kepadanya untuk 'menyehatkan' pikirannya dikala amarah sedang berkecamuk. Bukankah Andalah pemimpin untuk bagian yang tengah dilanda masalah itu? Mengapa harus menunjuk orang lain? Apakah seperti itu cara penyelesaian masalahnya?

Sebuah pertanyaan yang mungkin bermakna mendalam bila kita adalah staf atau pemimpin yang memang siap berkarya untuk situasi yang kondusif atau tidak. Karena hanya jenis manusia seperti itu yang keberhasilannya akan menjadi paripurna. Sedang bagi siapa saja yang hanya siap berkarya dan sukses dalam arena yang kondusif saja, maka ketahuilah bahwa sekeliling kita sesungguhnya sedang menertawakan kita. Tentu tanpa kita sendiri menyadarinya. Karena penyakit dari perilaku take the glory itu. Penyakit gila kedudukan atau juga gila hormat.

Jakarta, 15 Mei 2011.

13 Mei 2011

Dari HPnya, Saya Melihat Sosok yang Diteladaninya

Berikut adalah cerita tentang HP siswa di sekolah saya. Dan darinya, daya melihat dengan terang benderang bagaimana sosok yang menjadi panutan dan teladannya. Oleh karenanya, dari telepon seluler yang digunakan siswa saya di sekolah itu, saya melihat dan bisa bisa belajar katakter baik dan buruk. Tentu dari jenis seluler yang digunakannya serta cara pandangnya terhadap alat komunikasi nir kabel itu.

Sesuatu yang saya sendiri akhirnya dapat menghargai dan sekaligus mensyukuri apa yang menjadi karunia Allah Kepada saya dan keluarga. Itulah sekelimut motivasi mengapa saya harus menuliskan tentang hal ini. Khususnya yang berkenaan dengan jenis dan merek HP mereka dan bagaimana mereka memperlakukan serta menggunakannya. Meski saya hanya melihatnya dari lingkungan sekolah.

Sebagai guru, terus terang kadang saya cemburu dengan alat komunikasi seluler yang mereka pakai. Dan rasa cemburu itu tidak saja pada saat ini, tetapi sejak saya melihat bahwa siswa SMP kami diizinkan membawa HP ke sekolah, meski ditambahi syarat bahwa, selama jam sekolah HP-HP itu disimpan oleh guru kelas. Dan akan dikembalikan kembali setelah jam usai belajar sebelum siswa pulang.

Rasa iri kepada jenis HP yang sebagian siswa pakai itu, karena mereka menggunakan jenis seluler yang terkini dan jauh lebih modern dibanding yang saya pakai atau guru-guru pakai. Meski harus diakui bahwa kelas ekonomi kami memang berbeda. Pernah, suatu saat dulu, ketika saya melihat siswa sedang memainkan komunikator di halaman sekolah sesudah jam sekolah, rasa iri itu terbit. Dan saya meresa jauh tertinggal. Karena jenis HP itu adalah impian saya. Ini karena sesuai dengan kebutuhan saya dalam berkomunikasi dan membuat catatan dimanapun saya berada dan kapan saja. Namun impian itu sudah menjadi sejarah. Karena hingga kini belum juga terlaksana sementar jenis alat komunikasi itu sudah tidak produksi lagi.

Numun dilain pihak, saya juga kagum dengan sebagian dari mereka yang oleh orangtuanya dibekali alat komunikasi dengan tanpa kamera, tanpa koneksi internet. Seluluer dengan hanya memiliki fungsi pokoknya saja; telepon dan sms. Dan ini hanya sebagian kecilnya saja. Apakah siswa yang sebagain kecil itu menjadi tidak percaya diri ketika harus memegang seluler yang ‘berbeda’ dengan apa yang diopergunakan oleh teman-temannya yang canggih itu? Tidak sama sekali. Siswa itu tetap mengeluarkan selulernya di lapangan sekolah sebagai alat berkomunikasi tanpa rasa minder sedikitpun.

Sebagai ilustrasi rasa percaya diri itu, saya punya ceritanya. Suatu saat, dimana saya menjadi salah satu dari ‘pengawal’ anak-anak itu dalam perjalan perpisahan menjelang kelulusannya ke Yogyakarta dengan menumpang kereta api. Menjelang masuk kota Yogyakarta, seorang siswa tampak mengeluarkan HP ‘lokal’nya dan bertanya kepada saya yang duduk tidak jauh darinya;
· Bapak tahu ngak kode untuk Yogyakarta?
· Maaf, Pak Agus tidak tahu. Jawab saya.
· Kalau Yogyakarta pakai j atau y ya Pak?
· Pakai y. Yogyakarta. Kata saya.
· Terima kasih Pak Agus.

Saya kagum luar biasa dengan anak itu. Tidak lain karena percaya dirinya mengeluarkan HP ‘lokal’nya itu. Dua tahun sudah Ia meninggalkan bangku sekolah kami, dan saya sungguh merindukannya. Apakah ia sendirian? Tidak. Masih ada beberapa banyak diantara siswa kami sekarang ini yang memiliki prinsip hidup sederhana sepertinya.

Sebagai remaja yang tetap eksis dengan barang sederhana yang dimilikinya diantara berang-barang yang tergolong mewah yang dimiliki oleh sebagian besar temannya, adalah sebuah perilaku yang lahir tidak dengan sekonyong-konyong. Ia pasti lahir dari teladan yang juga tangguh dalam kesederhanaan dari rumah mereka masing-masing. Itulah yang saya maksud dengan dari HPnya, saya bisa melihat sosok yang diteladaninya di rumah. Pertanyaan saya; bagaimana dengan kita? Model apakah teladan yang kita berikan kepada putra-putri kita di rumah?

Cibodas, 11 Mei - Jakarta, 13 Mei 2011.

09 Mei 2011

Merencanakan Pulang ke Kampung

Saya harus merencanakan pulang ke kampung Juni ini. Bukan saja karena adanya akad nikah fdn walimah adik saya, yang menjadi amanah terakhir dari Bapak kepada saya sebelum Bapak meninggalkan kami anak-anaknya untuk selamanya, tetapi kareja dalam pulang kampung ini akan juga dibarengi dengan perjalanan pesiar bersama dengan keluarga kakak-kakak dari istri, yang memang tidak punya tradisi pulang kampung lagi. Sehingga pulang kampung bulan Juni ini harus saya diskusikan atau paparkan bersama kepada keluarga. Itulah maka kami bertemu dengan agenda tunggal, merencanakan pulang ke kampung.

Bersama keluarga yang berasal dari saya, pulang kampung bulan Juni akan menjadi sarana pemanasan sebelum pulang bersama Idul Fitri di akhir bulan Agustus nanti. Oleh karena itu pulang kampung akhir Juni ini, hanya memiliki tujuan utamanya, yaitu pernikahan adik.
Bersama keluarga istri, selain menghadiri walimahan pernikahan adalah pesiar keluarga. Itu momen tahunan yang seru menurut kami. Kami akan menggunakan transpotasi darat menggunakan kendaraan. Kami sekeluarga besar adalah penikmat jalan. hampir setiap dua jam dalam perjalanan, kami akan mencari tempat untuk beristirahat yang nyaman, meski hanya sekedar untuk membuang air kecil. Namun karena keterbatasan sarana, maka menggunakan kendaraan sewaan menjadi pilihan terbaik.

Kami merencanakan untuk berangkat dari Jakarta menuju Wojo, kampung kampung yang kami tuju, pada Rabu, 29 Juni 2011 pagi. Dalam agenda, hari berikutnya, Kamis, 30 Juni rombongan dari Wojo menuju Solo sebelum mampir untuk makan siang di Jejamuran atau makan ikan wader di Pakem, di Sleman.
Di Solo, tempat yang mungkin akan menjadi persinggahan adalah Laweyan, Arion, Klewer, Kauman, dan makan nasi liwet serta jangan ketinggalan mencicipi serabi dan tengkleng.

Jumat tanggal 1 Juli, perjalanan akan kami lanjutkan ke Gunung Kidul untuk melihat eksotika pantainya. Kami masih belum tentukan pantai yang mana yang akan kami kunjungi. Dari pantai, kami akan langsung menuju Kota Gede untuk melihat Perak dan coklat Monggo sebelum akhirnya bermalam di Yogyakarta hingga Minggu, 3 Juli. Yang rencananya kami akan berangkat kembali ke Jakarta.

Perjalanan Jakarta-Wojo-Jakarta, akan kami tempuh melalui rute selatan secara keseluruhan. Karena inilah jalanan yang paling kondusif untuk saat ini. Itu karena jalanan perbaikan di Subang, serta jalanan yang rusak di daerah Ketanggungan-Prupuk, serta Bumiayu yang akan menjebak kita dalam kemacetan.

Ini pilihan yang tidak biasanya untuk saya. Karena saya hampir selalu mengambil jalan menuju Wojo dari Jakarta melalui Pantura hingga Cirebon, untuk kemudian berhenti di Brebes guna membeli telur asin kesukaan saya, baru kemudian lanjut ke Bumiayu, Ajibarang, Purwokerto, Buntu, lanjut ke Wojo. Dan dari Wojo menuju Jakarta dari Wojo mengambil rute Wojo, Buntu, Wangon, Wanareja, Banjar, lanjut Bandung, Jakarta.

Kami berharap; Semoga kekuatan, kemudahan, dan keberkahan dari Allah untuk perjalanan kami sekeluarga nanti. Amin.

Jakarta, 8 Mei 2011.

08 Mei 2011

Saya Merasa Hebat, Refleksi Diri atas Realitas Sosial


Sungguh, perasaan bahwa saaya hebat, telah benar-benar merasuki kepala saya dan bahkan keyakinan itu mengendap begitu mendasar dalam batin saya.  Dan bukan tanpa alas an mengapa saya menjadi berkeyakinan seperti ini. Itu semua karena berulangnya perjalanan hidup yang membuat tesis saya semakin mendekati anomaly kebenaran bahwa saya hebat. Setidaknya itulah rekam jejak yang telah menjadi sejarah hidup saya sehingga sekarang ini.
Bagaimana tidak hebat jika saya mampu menjadi salah satu dari yang sedikit diantara generasi saya yang mampu keluar sebagai lulusan mumtaz di sebuah perguruan tinggi paling bergengsi di negeri ini? Bagaimana tidak hebat jika setelah itupun saya mampu masuk sebagai bagian dari staf pegawai di sebuah lembaga yang bonafid di negeri ini? Bagaimana tidak hebat jika sayapun, setelah menjadi salah satu pegawai, masih pula mampu menyelesaikan studi magister juga dengan nilai yang istimewa di sebuah lembaga pendidikan yang juga paling sulit dimasuki oleh calon mahasiswa tidak benar-benar pintar? Bagaimana tidak hebat jika saya juga akhirnya mampu mendepak orang yang sebelumnya diyakini sebagai pendiri dari lembaga yang semula menampung saya hanya sebagai staf dan kemudian mendapat amanah untuk memimpin lembaga tersebut?

Itulah deretan kehebatan saya sejauh perjalan hidup yang telah saya lalui ini. Kehebatan yang akhirnya menjadi kemantapan saya untuk mampu  menerima tantang di sebuah tempat yang sesungguhnya saya tidak atau belum mengetahui secara detil.

Rasa hebat itulah yang pada ujungnya menjadi kesulitan saya. Meski saya yakin benar bahwa apa yang saya lakukan untuk lembaga baru saya itu sebagai sebuah ikhtiar dalam menuju lembaga yang lebih modern, dinamis, dan eksis. Sebuah keyakinan hebat yang begitu berkobar, dan ternyata justru menjadikan halangan terbesar bagi saya untuk tidak mendapatkan predikat hebat selanjutnya?

Sebelum saya lanjutkan uraian ini, saya memohon kepada pembaca untuk tidak tidak menarik kesimpulan buruk tentang saya. Meski telah saya uraikan cukup jelas bahwa rekam jejak saya yang hebat di atas tersebut. Karena refleksi ini sangat boleh jadi akan menjadi peta sukses kita dalam menuju tujuan di masa depan yang jauh lebih bercahaya.

Hebat Paripurna

Pada akhirnya, setelah melalui etape refleksi diri yang jujur, saya menyadari bahwa kegagalan saya dalam menunaikan tugas sebagai komandan di sebuah lembaga tersebut, justru  berawal sekali dari keyakinan saya sendiri tentang betapa hebatnya saya. Itulah yang akhirnya menyadarkan diri saya untuk membuat keyakinan baru bahwa, hebatnya saya adalah sebuah kapital dan potensi. Namun bagaimana saya untuk mampu mengelaborasi lingkungan sekitar saya dalam menggapai mimpi lembaga yang diamanahkan kepada saya, adalah kehebatan yang saya anggap sebagai hebat yang sesungguhnya. Hebat yang paripurna.

Kehebatan pada tahap saya memperoleh ijazah dan sertifikat di dunia pendidikan atau dunia kerja, adalah hebat yang berada pada tahap dasar. Hebat yang dapat memojokkan kita pada rasa percaya diri tidak berkesudahan. Hebat yang justru menjerumuskan kita kepada watak angkuh. Sedang hebat paripurna adalah hebat ketika kehebatan itu justru memasukkan kita ke lokasi kerendahan hati.

Jakarta, 8 Mei 2011.

Komisidelapan et Yahoo dot Com


Inilah alamat email yang dikumandangkan oleh anggota komisi delapan DPR RI ketika berdialog dengan masyarakat Inondesia di KJRI di kota Melbourne. Alamat email yang akhirnya menjadi bagian dari penilaian masyarakat Indonesia terhadap para wakilnya di Senayan. Dan alamat email yang menjadikan berita hangat di hampir seluruh media, seperti apa yang saya saksikan di sebuah stasiun tv di akhir pekan ini, Minggu tanggal 8 Mei 2011. Setelah sebelumnya ramai menajdi perbincangan di berbagai komunitas dunia maya.

Kenyataan itu, bagi saya, menunjukkan bahwa betapa para pemangku kepentingan di negeri saya ini sebagai sosok yang terlanjur terserang virus kemanjon.

Kemanjon

Ini istilah Jawa, yang artinya lebih kurang adalah seseorang yang Jika pada realitasnya berada pada posisi 6, namun sepanjang perjalanan hidupnya yang tergambar pada pikirannya dan perilakunya berada pada posisi 9. Dan kronisnya dari penyakit ini adalah karena kita tahu dia berada dimana namun dia justru tidak tahu dan bahkan tidak sadari kenyataan itu.

Bagaimana tidak kemanjon, kalau memang tidak  punya alamat email, mengapa mesti ngotot menyebutkan sebuah alamat yang memang kosong? Dan mengapa pula kalau salah lalu beramai-ramai yang di Jakarta memberikan pembelaan? Apakah ini tidak meleset jika saya menyebutkannya sebagai penyakit kemanjon?

Apakah ini bukan sebuah fenomena ajaib? Jangankan kita berharap kepada mereka untuk berlaku jujur, tidak kkn, memegang teguh amanah, dan tuntutan untuk berperilaku surga, bahkan untuk menyebutkan alamat email saja mereka berbohong dan kemudian membelanya sebagai sebuah watak yang wajar?

Kecewa sebagai Simpatisan

Kecewa memang, tapi saya harus syukuri bahwa selama ini saya bukan sebagai kader. Oleh karenanya mudah bagi saya, yang hanya simpatisan ini, untuk tidak lagi berangkat ke TPS dan hanya fokus kepada pekerjaan saya saja.

Terlalu sakit hati hati saya jika saya harus membaca berita tentang situasi dan kondisi kehidupan politik negeri ini. Meski itu semua tidak akan menghapus rasa cinta saya kepada  tumpah dari saya ini.  Lebih menjadi sakit hati lagi jika saya selalu berprasangka baik selama  ada kesempatan untuk datang ke TPS.

Namun setelah ke sekian kalinya rasa sakit hati itu datang, maka saya tulis catatan ini sebagai katarsis jiwa yang amat sangat kecewa.

Jakarta, 8 Mei 2011.

03 Mei 2011

Upacara Bendera yang Bermakna


Upacara bendera akan menjadi kewajiban untuk semua sekolah di Indonesia, mulai tahun pelajaran 2011-2012. Demikian disampaikan oleh menteri Kemendiknas M Nuh (Kompas, 30 April 2011). Upacara bendera akan menjadi wajib bagi setiap sekolah setelah pemerintah menyadari bahwa ada beberapa sekolah yang tidak melaksanakan upacara bendera. Ketidakadanya pelaksanaan upacara bendera di beberapa sekolah tersebut diduga karena penghormatan terhadap bendera adalah sesuatu yang dianggap perbuatan terlarang.
Selain itu, adanya eskalasi kekerasan dan pengeboman dari golongan radikal yang tumbuh subur di kalangan generasi muda kita. Indikasinya antara lain adalah sedikitnya generasi penerus tersebut yang hafal akan lagu-lagu wajib nasional. Sebuah fenomena menurunnya rasa cinta tanah air dan lunturnya semangat kebersamaan dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. 

Kenyataan-kenyataan seperti itulah yang menjadi pemicu bagi ketentuan dari kemendiknas tentang wajibnya bagi semua sekolah dalam penyelenggaraan upacara bendera mulai tahun pelajaran depan. Namun demikian, agar keputusan itu nantinya tidak hanya berhenti kepada seremonial yang hanya menjadi rutinitas, maka diperlukan revitalisasi bagi pelaksanaan upacara bendera itu sendiri. Tulisan ini mencoba melihat beberapa hal yang mengurangi bobot kebermaknaan dari pelaksanaan upacara bendera tersebut.

Upacara Bendera yang Membosankan 

Upacara bendera sebagai salah satu wahana bagi penanaman rasa cinta tanah air dan nasionalisme, menjadi kesepakatan kita bersama. Namun efektifitas wahana tersebut masih membutuhkan kesungguhan dari kita yang berupa komitmen untuk melaksanakan dengan penuh kesadaran, ketulusan, dan kehidmatan. 

Padahal, dalam pelaksanaan kegiatan sebuah upacara bendera sebagaimana selama ini kita lakukan, kegiatan ini masih menjadi bagian dari beban sekolah. Hal inilah yang harus menjadi catatan untuk kita semua di lapangan atau lembaga sekolah kita masing-masing agar, kegiatan upacara bendera dapat menjadi salah satu kegiatan yang populer di sekolah. Tidak saja bagi siswanya, tetapi juga untuk para gurunya, yang menjadi peserta upacara bendera. 

Mengapa? Beberapa penyebab akan tidak populernya kegiatan upacara bendera di sekolah antara lain adalah sebagai berikut; Pertama, Lamanya durasi waktu pelaksanaan upacara bendera. Durasi yang dirasa lama oleh peserta ini jika kita cermati justru berangkat tidak dari seremoni atau urut-urutan yang harus dilalui dalam kegiatan tersebut. Tetapi justru berawal dari guru mempersiapkan pera siswanya dalam barisan yang tertib. Dan juga gemarnya pembina upacara dalam menyampaikan amanat secara berpanjang-panjang. Dua hal yang sangat mungkin kita menimalisasi. Namun justru kadang sulit kita hindari hanya karena beberapa hal yang berkait dengan komitmen kita sendiri untuk mempersingkat hal-hal yang masih dapat kita persingkat.

Kedua, petugas upacara bendera yang itu lagi itu lagi. Sangat jarang sebuah sekolah yang menggilir seluruh siswanya untuk memperoleh bagian tugas dalam setiap pelaksanaan upacara bendera. Lumrahnya, yang menjadi petugas upacara adalah siswa yang itu-itu saja. Hal ini karena guru menghindari untuk memberikan pelatihan kepada siswa yang belum pernah menjadi petugas upacara. Selain karena membuat repot, biasanya guru wali kelas atau bahkan komunitas sekolah, juga menginginkan agar kualitas upacara bendera baik. Untuk itu maka petugas upacara bendera harus benar-benar yang pernah menjadi petugas upacara. Yang sudah memiliki pengalaman. Sudah punya jam terbang.

Padahal, jika dalam satu tahun pelajaran terdapat 40 pekan masuk sekolah, dan jika upacara bendera dilaksanakan dalam setiap pekannya, maka sedikitnya dalam satu tahun pelajaran akan ada 30 kali pelaksanaan upacara. Dan jika sekolah memiliki 15 romobongan belajar, maka setiap kelas akan mendapat dua kali giliran untuk menjadi petugas upacara. Dan jika setiap pelaksanaan upacara bendera membutuhkan 10 petugas upacara, maka akan ada 20 siswa dalam setiap kelasnya yang merasakan menjadi petugas upacara. Dengan komitmen guru (sekolah) untuk memberikan tugas secara bergilir seperti itu, maka setiap siswa dalam masa belajarnya akan merasakan menjadi petugas upacara. 

Ketiga, upacara bendera yang ketertiban pesertanya terfokus hanya kepada saat pelaksanaan upacara bendera berlangsung di lapangan sekolah. Mengapa tidak setiap guru kelas memiliki tanggungjawab bagi ketertiban pelaksanaan upacara bendera dengan cara mempersiapkan ketertiban tersebut berawal dari setiap kelas sebelum dan sesudah pelaksanaan upacara bendera berlangsung? Jika ini yang terjadi, maka setiap komponen sekolah akan memiliki kontribusi yang adil.

Revitalisasi

Ketiga penyebab dari tidak populernya kegiatan upacara bendera tersebut harus menjadi bahan evaluasi sekolah, sehingga kegiatan upacara bendera di sekolah dapat benar-benar mencapai tujuan utamanya, yaitu tumbuhnya rasa cinta kepada tanah air dan nasionalisme Indonesia pada setiap generasi bangsa.

Penulis khawatir bahwa, tanpa adanya evaluasi dan revitalisasi terhadap apa yang telah terjadi di masa lalu, maka kegiatan upacara bendera yang merupakan kegiatan rutin pendidikan di sekolah nantinya hanya berhenti kepada rutinitas tanpa makna. Maka pertanyaanya adalah; cukup berkomitmenkah kita dalam melakukan revitalisasi kegiatan upacara bendera tersebut agar kegiatan upacara bendera nantinya benar-benar dapat menjadi wahana bagi penumbuhan rasa cinta kita kepada tanah air Indonesia? Semua terpulang kepada komitmen kita.

Jakarta, 30 April - 3 Mei 2011.

02 Mei 2011

Pintar Akademik, Catatan untuk Hardiknas 2011

Minggu, 1 Mei 2011, sekitar pukul 21.00 an, di stasiun tv pemerintah, saya tidak sengaja melihat Bapak M Nuh, Mendiknas, menyampaikan pidato. Tidak semua saya dengar, namun ada satu statmen yang menarik berkenaan dengan pendidikan. Istilah itu adalah 'kepenasaranan intelektual'. Dimana disebutkan bahwa kepenasaranan intelektual tersebut akan melahirkan kreativitas. Saya menebak, bahwa istilah Pak Mendiknas itu bersinonim dengan apa yang saya pahami selama ini. Yaitu inkuiri. Dan jika benar itu yang dimaksudkan, maka pertanyaan saya berikutnya adalah; Apakah kompetensi ini diujikan di Ujian Nasional kita?

Pertanyaan itu penting agar semua yang memegang otoritas pendidikan di negeri ini jangan menuntut sesuatu yang memang tidak diukur dalam Ujian Nasional. Karena jika itu yang disampaikan, saya yakin bahwa tuntutan itu akan tetap menjadi pepesan kosong. Karena pendidikan sekolah kita hanya berujung kepada satu asessmen yang bernama Ujian Nasional. Dan khusus untuk siswa di sekolah menengah atas atau SMA, ia akan menjalani dua (2) kali ujian. Yaitu Ujian Nasional yang diselenggarakan sebagai akhir dari jenjang pendidikan SMA. Dan ujian untuk masuk perguruan tinggi (negeri), yaitu SMNPTN atau seleksi masuk nasional perguruan tinggi negeri. Dua ujian yang berbeda kepentingannya. 

Hasil pendidikan kita dengan ending seperti itu, masih terfokus kepada hasil akademik. Oleh karena itulah maka out put dari sekolah kita adalah pintar akademik.

Pintar Akademik

Mari kita tinggalkan apa yang sedang terjadi pada kancah pendidikan kita itu untuk sementara. Karena saya akan mengajak Anda mengenang apa yang dulu kita lalui di sekolah berkenaan dengan pintar akademik yang dituntut sekolah. Dimana tolok ukur utamanya adalah hasil evaluasi guru atau sekolah dengan tes obyektif, atau sering kita menyebutnya dengan istilah ulangan.

Masih ingatkah kita ketika ulangan akan berlangsung? Ada beberapa guru yang memberitahukan akan ulangan dengan materi apa. Guru tersebut pasti mengharapkan agar kita semua sebagai siswa telah siap sebelum ulangan berlangsung. Dan tentunya supaya nilai kita bagus. Namun ada juga guru yang selalu atau sering melakukan ulangan mendadak, karena mungkin guru tersebut bermaksud agar kita selalu belajar atau mengulang pelajaran sebelumnya atau membaca catatan.

Dan tahukah apa yang dulu saya lakukan? Karena bosan tidak ulangan-ulangan, akhirnya saya hanya membuka catatan pelajaran manakala ada guru yang memberitahukan kapan akan ulangan. Alhamdulillah, nilai saya tidak jelek-jelek sekali. Mungkin Anda lebih parah dari saya? Lebih parah baiknya atau lebih parah jeleknya?

Berkenaan dengan Ujian Nasional. Kita sudah banting tulang mempelajari apa saja yang pernah dipelajari bersama guru di sekolah. Bahkan beberapa catatan atau buku tambahan juga kita pelajari. Namun ada kalanya apa yang kita pelajari itu ternyata tidak keluar dalam soal-soal ujian. Mengapa? Karena guru, saat itu, tidak memberikan kepada kita sebagai siswanya SKL atau kisi-kisi ujian. Sehingga sulit bagi kita, juga bagi guru atau sekolah, dalam mempersiapkan apa yang akan diujikan di Ujian Nasional.

Bagaimana sekarang? Dalam setiap ulangan yang diselenggarakan sekolah, kadang sekolah memplot adanya pekan yang setiap mata pelajarannya akan ulangan. Dan selain jadwal ulangan, guru atau sekolah juga memberikan batasan materi yang akan diulangkan. Itu jika berkenaan dengan sekolah dan guru. Bagaimana dengan Ujian Nasional? Pemerintah memberikan juklak dan juknis UN tersebut dalam bentuk Permendiknas. Disana diuraikan antaralain tentang SKL atau kisi-kisi, yang akan diterima sekolah sekitar awal Januari.

Jadi, bukankah sekarang semakin mudah dan jelas bagaimana siswa kita untuk menjadi pintar akademik? Bukankah syarat untuk dapat nilai baik kita telah diberikan juklaknya? Di sana ada SKL atau kisi-kisi tentang kompetensi yang harus dikuasai dan prediksi kita tentang soal apa saja yang akan keluar atau akan diujikan?

Lalu apa yang menyebabkan kita semua menjadi seperti tidak yakin jika UN akan berlangsung? Atau mungkinkah SKL atau kisi-kisi Ujian Nasional itu tidak kita jadikan sebagai 'peta' untuk menjadi pintar akademik?

Kepenasaranan Intelektual

Nah, sekarang kembali kepada apa yang disampaikan oleh Mendiknas bertepatan dengan menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2011. Saya hanya mengingatkan kepada Pak Mendiknas bahwa selama ini kita baru (hanya) menguji kompetensi akademik siswa kita melalui Ujian Nasional. Oleh karenanya, bagaimana kita akan menuntut siswa untuk lebih apabila yang kita ujikan (uji nasionalkan) adalah kompetensi akademik yang baru pada aspek mengingat, memahami, dan aplikasi saja? Dimanakah saya akan tahu bahwa kompetensi inkuiri siswa bila itu tidak ada atau belum ada alat pengukurnya?

Tapi tanpa mengurangi hasil kerja keras kita semua selama ini di sekolah kita masing-masing dalam rangka menunaikan amanah luhur bangsa, saya mengucapkan Selamat Hardiknas!

Jakarta, 2 Mei 2011.

01 Mei 2011

Bersyukurlah bila Tetangga Masih Mananam Pohon


Syukurilah bila ada tetangga yang masih menyisakan tanahnya untuk menanam pohon. Ini terutama sekali saya sampaikan kepada Anda yang tinggal di perkampungan yang ada di kota besar seperti Jakarta, yang padat penduduk. Karena perkampungan yang ada di dalam kota seperti Jakarta, [pemilik lahan akan jauh lebih suka 'mengisi' lahannya yang masih kosong dengan bangunan rumah atau gedung yang dapat mendatangkan uang masuk dengan menjadikannya tempat kos. 

Oleh sebab itulah saya mengajak kita semua untuk mensyukuri bila masih ada tetangga kita yang menumbuhi lahan tanahnya dengan pohon yang akan mendatangkan kesegaran, kesejukan, dan semoga juga ketenangan hidup.

Dengan pohon itu, udara sumpek dan panas serta gerah Jakarta akan sedikit terurai menjadi segar dan lega. Dan semakin banyak tanaman hijau tumbuh lebar dan menjulang, pastilah akan semakin mendatangkan kelegaan suasana. Pohon akan memberikan kepada kita semua yang tinggal di dekatnya kelimpahan stok oksigen yang menyehatkan. Pohon juga akan menyimpan semampu dan sebanyak mungkin air yang diterimanya dari anugerah Tuhan melalui hujan. Untuk kemudian nantinya dapat sebagai suplai bagi kehidupan yang ada di sekitarnya.

Daun Rontok Menjadi Sampah

Lalu, bagaimana pula jika daun pohon tetangga Anda rontok dan masuk teras Anda? Atau bagaimana pula jika yang rontok tidak saja daun tetapi juga buah pohon yang membusuk untuk kemudian bertengger dan menyumbat air talang genteng Anda yang mestinya menyalurkan air dari langit langsung menuju got yang ada di kanan kiri jalan proyek MH Thamrin? Apakah Anda akan meminta tetangga Anda untuk memotong dahan atau bahkan pohon tersebut? Atau Anda cukup akan membersihkan saja daun atau buah busuk tersebut? Atau bagaimana sikap yang akan Anda lakukan bila ternyata dahan dan daun yang kering dari pohon tetangga yang baru selesai di pangkas sudah memenuhi bak sampah yang ada di lingkungan RT atau RW Anda?

Bagi saya, apa yang akan Anda ekspresikan terhadap apapun dari akibat pohon tetangga itu, adalah bentuk konkrit dari rasa syukur Anda kepada kualitas kehidupan. Terutama kehidupan bertetangga. Artinya, mensyukuri keberadaan sesuatu itu tidak hanya pada saat sesuatu itu memberikan pengaruh positif kepada kita. Tetapi juga sebaliknya. Semua harus disikapi pada sisi positifnya.

Setidaknya, itulah pendapat saya tentang pohon tetangga.

Jakarta, 1 Mei 2011.