Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Desember 2012

Memilih Pengurus OSIS

Ada satu anekdot yang saya lupa untuk mencatatnya disini. Dan senyampang teringat akan peristiwa itu, ada baiknya kejadian kecil itu saya catat dan saya ikat dalam catatan ini. Peristiwanya dalam bentuk anekdot percakapan antara saya dengan seorang siswa yang sudah duduk di kelas akhir, sebelum pemilihan ketua OSIS di bulan September lalu. 

Percakapan itu menarik bagi saya karena pernyataan siswa saya tentang tolok ukur bagi para pengurus OSIS yang dia yakini. Dan dari sinilah saya menilai kalau siswa saya ini ternyata adalah pemikir.  

Pernyataannya itu ia kemukakan ketika saya bertanya kepadanya tentang pandangannya. Ibi menarik perhatian saya mengingat hampir semua anak-anak yang sedang duduk di bangku kelas VII, semangatnya begitu berapi-api untuk ikut terlibat dalam kepengurusan OSIS di sekolah. Namun sejak awal, siswa saya yang pemikir itu ternyata memilih jalan yang berbeda dengan teman-temannya. Ia justru tidak menujukkan ketertarikannya dengan organisasi siswa itu. 

Namun jangan salah mengira kalau siswa pemikir saya itu adalah siswa yang tidak berkawan dengan teman-teman yang lainnya. Justru sebaliknya, ia tergolong anak yang populer bagi seluruh siswa yang ada di sekolah kami. Karena skill futsalnya luar biasa bagus. Posturnya juga bagus. Atletis dan ceria.

Dari sisi inilah sebenarnya ia sudah memiliki modal untuk menjadi pengurus inti OSIS di tahun sebelumnya, manakala ia duduk di kelas VII. Tapi rupanya ia mengambil jalan yang berbeda.

Dari sinilah saya mulai tertarik untuk menemukan jawabannya. Dan mungkin baru saat itulah saya memiliki kesempatan yang bagus dan sekaligus tepat untuk saling berbagi rasa. Maka tidak membuang waktu saya mencoba untuk menggalinya. Bukankah juga tepat waktunya karena ketika saya bermaksud mengajaknya mengobrol adalah saat-saat dimana teman-teman yang adik kelasnya sedang menjalani proses pemilihan OSIS?

"Mengapa kamu memilih jalan berbeda dengan teman-temanmu? Hampir semua temanmu saat di kelas VII memiliki keinginan dan ambisi untuk terlibat dalam kepengurusan OSIS. Tapi kamu tidak?" Tanya saya saat itu.

"Saya tidak tertarik Pak. Karena tidak ada figur yang dapat jadi patokan setelah Kak Reza lulus. Jadi saya pilih ngak mau jadi OSIS." Jelasnya. Kak Reza yang disebutkan adalah siswa teladan kami yang tahun 2012 ini sudah duduk di kelas XII di Magelang.

"Jadi Kak Reza idola kamu? Bukankah itu dapat memberikan inspirasi buat kamu untuk menirunya?"
"Sulit Pak. Kak Reza memang luar biasa. Pintar, baik, dan disiplin. Kayaknya sulit sekali kalau harus saya tiru. Sedang semua anak yang sekarang, tidak ada yang sehebat Kak Reza. Makanya saya tidak tertarik untuk jadi bagian OSIS. Tapi saya membantu mereka kok Pak." 

Dari sekelumit percakapan itu saya benar-benar menemukan pencerahan dan sekaligus kehilangan. Pencerahan dari apa yang menjadi pendirian anak didik saya yang ternyata adalah pemikir itu. Dan kehilangan akan sosok teladan dari seorang siswa kami yang sekarang menjadi ketua OSIS di almamaternya di Magelang.

Tapi saya selalu berharap agar kedua anak itu tetap pada pendiriannya untuk meraih sukses di masa depan. Semoga. Amin.

Jakarta, 31 Desember 2012.

Anak-Anak Konsisten

Setiap pagi hari sebelum jam menunjuk pukul 07.00, saya bertemu dengan siswa saya ini. Diwaktu sepagi itu suasana sekolah masih sepi. Beberapa guru dan staf yang telah sampai di sekolah. Juga beberapa siswa yang lain. Dan bila saya telah sampai, maka saya akan menegurnya ketika ia sedang mekan bekal sarapannya di mobil yang juga selalu di lokasi parkir yang sama.

Dalam kendaraannya itu, ia akan mendengarkan lagu, yang kalau saya mendekat, ia akan selalu memainkan tombol volumenya. Kadang volume menjadi lebih keras. Maka saya pun akan memintanya untuk menggantikan dengan irama melayu atau dangdut. Anak-anak muda seperti dirinya, biasanya akan menolaknya.

Itulah sebagian kecil dari peserta didik saya yang selalu dengan irama yang konsisten dari hari  ke hari. Termasuk ketika dia pulang. Sangat konsisten dan persisten. Karena jika teman yang lain masih akan tinggal di sekolah hingga badannya basah kuyup oleh keringat setelah bermain futsal, maka siswa saya yang satu ini ia akan langsung menuju ke kendaraan yang telah parkir untuk segera pulang.

"Mengapa kamu tidak ikut bermain futsal dulu?" Tegur saya suatu siang ketika melihatnya menuju ke kendaraan.
"Tidak Pak. Saya harus belajar." Jawabnya santai.

Dan semua temannya memakluminya ketika ia berjalan menuju pintu gerbang sekolah sembari memberikan salam perpisahan. Peristiwa itu jugalah yang memberi bukti kepada saya bahwa secara sosial tidak bermasalah. Temannya tetap banyak dengan hubungan yang tetap hangat juga.

Keteguhan akan prinsipnya itu yang mengagumkan saya. Karena layaknya anak-anak yang lain, maka tugas atau jadwal kadang dilupakan manakala bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya. Namun siswa saya yang satu ini berbeda. Konsistensinya teguh dan kukuh.

"Saya ikut gym juga Pak di dekat rumah kebetulan ada. Saya member." Ceritanya suatu hari saat kami berdiri di pinggir lapangan futsal sekolah.
"Terus kamu disiplin untuk selalu berolahraga di gym itu?" Tanya saya.
"Kalau ngak ada ulangan saya ke gym."
"Tapi belum six pack juga kamu?"
" Iya nih Pak. Tapi saya memang ngak pingin kok. Yang penting saya sehat dan tidak mudah sakit." 

Percakapan itu sekaligus memberikan gambaran kepada saya tentang bagaimana siswa saya secara lebih luas. Ini penting agar saya tidak terlalu mudah membangun persepsi terhadap mereka. 

Jakarta, 31 Desember 2013.

30 Desember 2012

Ada Kecombrang di Pecel Rowokele

Cerita ini berawal ketika saya, mungkin kali keempatnya, datang ke lokasi yang sama di warung makan yang terletak di halaman sebelah kanan pintu masuk Goa Jatijajar yang ada di kecamatan Rowokele, Kebumen, Jawa Tengah. Dimana di lokasi itu saya selalu meminta menu nasi pecel. Seperti juga ketika saya dulu sering naik kereta ekonomi, dan pedagang pecel di wilayah Ciledug, Kuningan, selalu menawarkan nasi pecelnya, yang selain bunga turi, juga ada diantaranya bunga kecombrang. Maka di samping kanan pintu masuk Goa Jatijajar itulah saya merasa diterima tidak saja sekedar sebagai pembeli. Tetapi serasa sebagai pelanggan.

Karena siempunya warung akan membukakan pintu kulkasnya yang sudah tidak baru lagi, yang dipajang di dekat pintu dapurnya, guna memperlihatkan kalau bunga turi dan kecombrang yang tersedia sudah tidak egar lagi. Dan karena melihat buktinya, maka kami, saya dan keluarga percaya.

"Tapi ngak apa-apa kalau Sampean mau bawa ke Jakarta. Barangkali anak-anak Sampean pengin tahu seperti apa bunga kecombrang itu." Saya tidak mengiyakan apa yang ditawarkannya. Namun bunga yang sudah dikupas menjadi mengecil itu sudah berpindah ke tangan saya.

***

Pohon kecombrang itu.
Jujur, saya sendiri sedikit lupa bagaimana bentuk bunga itu ketika masih tumbuh atau ketika berada di pekarangan. Ini karena setelah lebih kurang 26 tahun saya putus kontak secara dekat dengan pekarangan rumah dan segala jenis tanaman yang menumbuhinya. Maklum mengejar riski di perantauan.

Hingga pada libur akhir tahun 2012, dimana kami menerima kiriman gambar pohon dan bunga kecombrang itu dari teman di grup alumni. Dimana foto diambil dari sebuah pekarangan rumah di kecamatan Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah.

Kiriman foto ini mungkin menjadikan saya, dan mungkin Anda yang telah lama tidak bercengkerama dengan kampung halaman ketika saat musim hujan, dimana segala rupa tanaman tumbuh di pekarangan, teringat akan masa lalunya. Semoga.

Bunga itu.
Dan untuk jasa teman yang telah mengambil gambar dan mengirimkannya, saya menghaturkan terimakasih.

Jakarta, 30 Desember 2012.

'Pelok' Kueni itu Tumbuh dalam Pot

Pelok, biji buah mangga kueni itu tumbuh berhamburan di bawah pohonnya. Dan itu membutuhkan upaya kami agar ia benar-benar terjaga pertumbuhannya. Termasuk pertimbangan kami apakah semua pohon-pohon kami kehendaki untuk tumbuh? Biji-biji yang telah kehilangan daging buahnya ini berada di bawah pohonnya setelah pada awal musim hujan yang lalu banyak yang terjatuh setelah rusak dimakan oleh lalat yang meninggalkan ulat di dalam buah kueni kami.

Juga kadang keisengan kami setelah kami kupas dan kami nikmati daging buahnya, lalu, seperti masyarakat desa biasanya, kami lemparkan begitu saja biji tanpa daging buah itu ke pekarangan samping rumah.

Mirip pula seperti juga biji-biji pohon mahoni yang ketika telah tua maka kelopak yang masih berada di atas pohonnya akan merekah dan pecah untuk kemudian menghamburkan begitu saja isi biji-biji yang pahit rasanya, diterbangkan angin kemarau lalu tumbuh berserak.

Dan bagi saya, memilih dan menentukan tunas mana yang tetap saya biarkan tumbuh membesar atau saya cabut untuk kemudian saya relokasi ke lokasi yang lebih memungkinkan, atau bahkan terpaksa harus saya putuskan bahwa tunas itu tidak saya tanam kembali setelah saya akan relokasi. Dan pada posisi inilah sering kegundahan dan ketidaktegaan saya muncul. Sebuah dilema bukan?

Mengapa?

Karena keterbatasan lahan yang memungkinkan biji-biji dan tunas-tunas itu tumbuh sempurna. Termasuk dianataranya adalah tunas-tunas mahoni. 

Tetapi tidak apa, karena tidak semua dari tunas-tunas yang memberikan sejuta hararapan itu meski tidak semua direlokasi tetapi tidak pula semuanya harus dilenyapkan. Dan dalam dilema itu lahir pemikiran dan angan-angan. Bila tersedia lahan untuk menumbuhkannya secara sempurna...

Jakarta, 30 Desember 2012.

27 Desember 2012

Jangan Ejek Pesaingmu!

Inilah pelajaran yang saya dapatkan dari seorang teman yang habis-habisan merana karena merasakan diejek oleh teman sekantornya. Tetapi justru dari ejekan teman-temannya itulah ia kemudian bangkit, dan entah darimana kekuatan itu tiba-tiba datang dari dalam dirinya untuk membalikkan sejarah atas ejekan yang selama ini ia terima.

"Berbagai macam ejekan Mas, saya pernah dapatkan dari teman-teman kantor. Justru ketika saya saat itu butuh bantuan mereka, para pengejek itu." Katanya suatu ketika kepada saya. Mungkin itulah awal dimana saya menjadi belajar dari kisahnya. Kisah heroik. Pikir saya. 

"Ketika saya butuh bantuan karena masalah dengan siswa, e... teman yang saya anggap senior dan dapat memberikan sedikit bantuan atau mungkin solusi, malah nyengir dan acuh." Lanjut kawan saya itu.

"Ketika saya mulai rajin meminjam buku perpustakaan untuk ingin tahu yang sedang tubuh, justru saya dibilang sastrawan!"

"Ketika saya belum becus bagaimana memadukan warna atas baju-baju yang saya dapat dari hadiah akhir tahun pelajaran, juga menjadi pergunjingan dan bahan tertawa. Apakah mungkin tidak ada cara yang dapat digunakan untuk memberitahukan atas ke-katro-an saya sebagai orang kampung yo Mas."

 "Ada lagi Mas, jangan bosan dengar curhatan saya ya Mas, ketika saya ingin menggunakan komputer yang programnya belum saya tahu, malah ditinggalin. Lengkap kan Mas?"

***

Atas semua yang disampaikan teman saya itu, saya tentunya bersyukur. Bersyukur karena saya mendengar keluhannya. Karena dari beberapa keluhan itu, saya pun mungkin sekali telah berlaku mirip-mirip terhadap teman saya di kantor. 

Untuk itu, cerita-cerita teman itu, sedikit banyak telah memberikan jendela yang berbeda tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Setidaknya itulah yang paling dapat saya ambil sebagai pelajaran.

Karena apa yang terjadi pada perjalanan sejarah berikutnya terhadap teman saya yang diejek itu? Ia telah mengemukakan pengalaman tidak mengenakkannya itu ketika kami bertemu di sebuah tempat dimana sekarang ia diamanahi oleh seseorang untuk 'menjaga' lembaga yang dipunyainya.

"Dimana teman-teman yang pernah mengejek Sampean sekarang ini?" Tanya saya.
"Masih berada di tempatnya yang dulu Mas." Katanya datar. 

Saya pun tidak melanjutkan percakapan itu. Dalam hati saya benar-benar mensyukuri dapat mendengar sebuah kisah mengagumkan. "Terimakasih teman." Kata saya dalam hati.

Jakarta, 27 Desember 2012.

26 Desember 2012

Menangkap Air Hujan

Akhir pekan yang lalu, tepatnya pada hari Jumat, 22 Desember dan hari Sabtu, 23 Desember 2012, Jakarta diguyur hujan yang lebat, yang mengakibatkan banyak ruas jalan dan pemukiman warga Jakarta yang tergenang air, mengutip istilah ahlinya Jakarta dan Gubernur penggantinya. Dengan tergenangnya beberapa ruas jalan utama itu, maka pada dua hari tersebut jalan-jalan di Jakarta mengalami kemacetan luar biasa. Terutama pada hari Jumatnya, dimana hujan mulai turun sekitar pukul 15.00, yang berarti saat menjelang usainya jam kantor.

Demikian pula dengan pemukiman warga yang selian karena pengaruh dari air kiriman melalui raus sungai yang membelah kota, juga karena tidak tertampungnya air hujan di saluran-saluran yang ada. Tak pelak lagi, air hujan itu menjadi tamu tidak diundang. Tidak saja masuk teras rumah yang ada tetapi juga ruang tamu dan kamar-kamar tidur.

Menangkap Air Hujan

Pada kasus air kiriman yang mengakibatkan perkampungan tergenang, kita tidak bisa melakukannya sendiri selain hanya ikut berkontribusi dengan, misalnya, tidak membuat sampah dan apapun di sepanjang salurang air dan sungai. Tetapi pada kasus tidak tertampungnya air hujan yang mengguyur, maka ada kesempatan kita semua untuk dapat berperan sangat aktif, yaitu dengan menangkap air hujan itu, dan menyimpannya ke dalam tanah-tanah yang menjadi milik warga.

Bagaimana biasa terjadi? Setidaknya dibutuhkan kepedulian tentang masa depan air tanah dari setiap warga Jakarta yang memiliki lahan/rumah di Jakarta serta komitmen atas kepedulian itu dalam bentuk aksi.

Caranya? Beberapa waktu lalu warga Jakarta disibukkan dengan pembuatan bio pori. Maka jka setiap pemilik rumah atau lahan di Jakarta tidak hanya membuat bio pori untuk air hujan, dan bukan untuk air buangan rumah tangga, maka akan memberikan kontribusi bagi ketersediaan air tanah yang baik di masa berikutnya, tetapi juga mengurangi debit air yang akan masuk ke saluran air atau selokan pada saat hujan turun.

Apalagi jika tidak hanya rumah tangga yang peduli terhadap masa depan air tanah, misalnya pemerintah memberikan instruksi agar semua lahan milik Pemda membuat 'penangkap' air hujan sehingga ketika hujan turun maka semua air hujan yang turun di semua lahan milik Pemda tidak akan ada yang hanyut ke saluran air atau selokan. Semua air itu tertangkap dan meresap dalam tanah.

Mungkin ini hanya sekedar ide.

Jakarta, 26 Desember 2012.

Siswa Saya Operasi Jantung

Liburan akhir semester ganjil ini, saya mendapat kabar dari guru konseling di sekolah, bahwa akan ada satu anak didik kami yang harus menjalani operasi jantung. Ini memang lanjutan dari apa yang pernah anak didik kami itu alami ketika yang bersangutan masih berusia 1 tahun. Dimana sejak kelahirannya, ia mendapat anugerah dengan jantung yang berbeda. Dan keberbedaan itu, ia telah menjalani operasi untuk kali pertamanya. Maka pada operasi kedua di liburan ini, merupakan tindakan berikutnya terhadap perawatan jantungnya.

Bernafas Lewat Mulut

Pertama kali saya berkenalan dengan apa yang berbeda pada diri anak tersebut ketika berada di satu ruangan dan berdampingan. Saat itu saya merasakan ada yang sedikit aneh pada siswa saya itu. Karena suara nafasnya yang begitu mengusik konsentrasi kami yang ada di sebelahnya. Maka ketika ada kesempatan, saya bertanya kepadanya mengapa bunyi nafasnya selalu tersengal? Dijawabnya bahwa ia selama ini tidak dapat bernafas melalui hidung. Ia benafas selalu melalui mulutnya.

Keterangan itu  membuat saya dan beerapa teman guru lainnya mendapatkan keterangan yang lebih spesifik mengenai apa yang dialaminya ketika masih berusia balita. Dan normalnya, maka diakhir ceritanya itu, saya mengajukan pertanyaan kepadanya apakah ada hal-hal yang harus menjadi perhatiannya agar organ istimewanya itu tetap terpeliharan kesehatannya? Dia jelaskan bahwa ia harus menjaga berat badannya agar tidak terlalu gemuk.

Namun sebagaimana anak remaja lainnya, dalam setiap istirahat sekolah atau seusai jam sekolah sembari menunggu jemputan, siswa kami itu selalu terlihat menikmati makanan dan minuman yang dibelinya di kantin. Meski kadang kami bertanya kepadanya apakah makanan dan minuman itu tidak mengganggu atau berimplikasi kepada berat badannya?

Dan kebiasaan menikmati makanan yang tersedia itulah yang menjadi salah satu kontributor bagi berat badannya yang relatif tidak terkontrol. Dan berat badan itu yang menjadi indikasi bagi kesehatan organ jantungnya.

"Semoga lancar dan sukses atas apa yang akan kamu jalani ya." Kata saya di tepi lapangan futsal disaksikan oleh guru BP sekolah kami.
"Amin. Terima kasih Pak. Doakan ya Pak." Katanya menimpali harapan kami.

Jakarta, 26 Desember 2012.

22 Desember 2012

Darimana Siswa Terampil Mencontek?

Kemarin sore, seusai penerimaan rapot akhir semesteran, saya datang ke ruang guru untuk sekedar bercengkerama. Semula saya datang ke ruang guru TK, kemudian ke ruang guru SMP, dan terakhirnya ke ruang guru SD. Banyak hal yang saya dapatkan dari cerita teman-teman guru itu. Baik tentang 'perjuangan' teman-teman dalam mempersiapkan ekshibisi sebagai kegiatan tambahan dalam penerimaan rapot itu sehingga semakin bertambah menarik. Dan sekaligus juga sebagai laporan akan seni kriya yang dihasilkan oleh anak-anak selama belajar di mata pelajaran Art and Craft.

Juga cerita yang berkenaan dengan seputar pertemuannya dengan siswa dan orangtua saat pengambilan rapot. Yang ternyata selain banyak sisi positif yang membahagiakan, ada pula yang harus menelan sedikit mengecewakan. Terutama beberapa orangtua yang kecewa dengan hasil belajar anandanya, yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Dan satu hal yang kemudian menarik perhatian saya dan teman-teman yang ada di ruang guru itu adalah yang berkenaan dengan kebiasaan seorang siswa salah satu teman kami itu, yang punya kebiasaant mencontek. Dikatakan kebiasaan karena guru telah memergoki aksi suka mengintip hasil kerja temannya pada saat ulangan. Kebiasaan yang sangat boleh jadi tidak atau belum diketahui oleh orangtuanya. 

Dan karena orangtuanya adalah jenis orangtua yang penuh ambisi terhadap angka akademis anandanya, maka itu juga yang menjadi kendala guru untuk 'memulai' bercerita kepada orangtua.

Bagaimana guru tahu begitu besar ambisi orangtua atas besaran angka nilai akademis anak? Ini pada saat sang ananda mendapat komentar negatif, di depan guru yang teman saya itu, ketika sang anak mendapat angka 8,5 untuk sebuah mata pelajaran. Meski guru sudah memberikan penjelasan bahwa angka yang didapat ananda masih terbagus.

Mencontek?

Itulah realita yang terjadi pada seorang siswa yabg masih duduk di kelas empat SD dengan potensi kepandaian akademis yang baik. Sebuah kebiasaan yang sangat tidak membanggakan bagi sebuah kehidupan di sekolah. Maka pertanyaannya adaah, untuk tujuan aopa siswa dengan kemampuan seperti itu harus melakukan perbuatan mencontek secara berulang-ulang sehingga menjadi begitu terampil 'membelokkan' perhatiannya kepada teman sebelah dengan mengerlingkan mata?

Dari hasil diskusi yang kami lakukan berdasarkan fakta-fakta yang dikemukakan oleh para guru-guru anak itu sejak duduk di kelas sebelum-sebelumnya didapatkan kesimpulan sementara bahwa, keterampilan anak itu mencoktek karena dorongan untuk memperoleh nilai angka akademis yang maksimal sesuai dengan akpekstasi orangtuanya yang telah berubah menjadi tuntutan. Dan tuntutan itu bagi anak telah melahirkan ancaman. Maka rasa terancamnya itulah yang mendorong lahirnya rasa tidak percaya diri atas kompetensi dan potensinya sendiri.

Meski ketika ia akan mendapati bahwa ketika berhasil melihat jawaban teman yang ada di sebelahnya bukan untuk mengubah keputusannya akan jawabannya sendiri, karena jawaban teman sebelahnya salah, misalnya, tetapi rasa tidak percaya dirinya telah menuntutnya untuk mengkonfirmasi akan jawaban milik teman.

Begitukah? Setidaknya itulah yang saya simpulkan dari apasemua cerita dan laporan pandangan mata yang saya dapat di ruang guru itu. Dan dari situlah saya mengajak kepada Anda untuk berhati-hati memasang ekspektasi atas anak. Berikan apresiasi kepadanya ketika Anda mengetahui proses yang telah dilakukan ananda apapun hasilnya! Semoga.

Jakarta, 22/12/12

20 Desember 2012

Bagaimana Anak itu Menggunakan ke-'Pintaran'nya?

Malam itu saya mendapatkan cerita tentang bagaimana seorang siswa saya yang ketika untuk masuk sekolah guna mengerjakan ujian akhir semester harus dipaksa oleh gurunya. Ini karena selama satu pekan masa ujian pada pekan sebelumnya anak tersebut tidak hadir di sekolah dengan alasan karena sakit.

Seperti apa kondisi sakitnya itu? Guru tidak mengetahuinya dengan pasti. Karena meski sakit selama itu, anak itu tidak dirawat di rumah sakit, tetapi hanya istirahat di rumah. Untuk itulah maka menjelang akhir pekan yang lalu, guru yang bertanggung jawab atas prestasi siswanya itu mengontak pihak orangtua untuk malakukan kunjungan ke rumah, home visit. Namun karena seperti tidak mendapatkan sinyal baik, atau lampu hijau, maka jadilah pak guru itu mengurungkan niatnya. 

Apa yang terjadi? Setelah pekan ujian itu habis pun, dan menjelang penerimaan rapot, kabar mengenai sakitnya si siswa itu tetap belum jelas benar selain hanya keterangan Dokter Dan orangtua via telepon bahwa ananda sakit kepala. Namun berbasis pada informasi yang didapat guru dari teman anak-anak lain di kelas, bahwa kedapatan si siswa pintar itu sedang on line di dunia maya hingga menjelang pagi di saat yang bersangkutan tidak masuk sekolah, maka guru meminta siswa itu untuk hadir di sekolah guna melaksanakan atau mengerjakan ujian akhir semesternya. Sebagai upaya agar penilaian menjadi lengkap ketika guru akan mengisi laporan pendidikan. Langkah itu merupakan alternatif pertama yang pak guru ajukan. Atau tidak masuk hingga waktu penerimaan rapot, yang berarti pada akhir semester ini siswa itu tidak mendapatkan rapotnya karena masih kosong.

Alternatif pertama yang dipilih. Disepakatilah hari-hari dimana siswa harus ada di sekolah serta jadwal ujian khusunya itu. Hari pertama dengan lima mata pelajaran ujian sekaligus. Ternyata bukan pemaksaan yang terjadi. Karena anak didik itu hadir di sekolah dengan kondisi raga yang tidak kurang suartu apa! Maka hari pertama ujian, sukses dilakoni. Namun pada hari kedua pagi, guru mendapatkan berita dari pihak orangtua bahwa anandanya tidak dapat masuk sekolah dengan alasan sakit kepala.

Tanpa berpikir panjang-panjang maka guru itu menyampaikan agar ananda harus masuk sekolah untuk mengerjakan 5 mata pelajaran ujian yang tersisa sekaligus sesuai komitmen yang dibuat bersama sebelumnya. Karena jika siswa tidak hadir juga, maka buku laporan pendidikan akan kosong. Meski begitu, guru telah siap bilamana anak didiknya itu benar-benar menunjukkan kondisi badan yang sakit sebagaimana yang dikeluhkan dan menjadi alasannya selama ini.

Di luar ekspektasi dan dugaan guru, siswa itu datang ke sekolah dengan kondisi yang normal-normal saja pada pukul 11.00! Tanpa berlama-lama, disambutnya anak itu di koridor sekolah dan langsung pula memintanya mengerjakan soal mata pelajaran Bahasa Inggris. Yang setelah lebih kurang dua puluh lima menit, 55 item soal ujian itu diselesaikan dengan hasil hanya salah dua soal!

Jakarta, 20/12/12

Kepo, Kata Siswa Istimewa Saya

Pada saat saya bertemu dengan seorang siswa saya di koridor sekolah pada siang itu, seusai mereka menunaikan shalat berjamaah di musola, maka saya saling menyapa. Bagaimana kabarnya? Apakah ada rencana kalau nanti liburan datang, karena siang itu adalah siang terakhir anak-anak masuk sekolah secara normal?

Tetapi ketika saya beritanya bagaimana kabarnya kepada seorang anak, dia justru menjawab pertanyaan itu bukan dengan jawaban sebagaimana yangnormal disampaikan oleh teman-temannya, namun justru dijawab dengan: "Kepo nih Bapak, tanya-tanya!". Satu istilah yang harus saya tanyakan lebih anjut kepada anak saya di rumah.

Mendengar jawaban seperti itu, saya tentu tidak kaget. Karena ini jawabannya untuk kedua kali dengan kalimat yang hampir senada. Kai pertama ia menjawab dengan kalimat tersebut pada saat pulang sekolah. Dimana waktu itu saya bertemu di depan kantin supir dekat pintu gerbang sekolah. Saya berada di lokasi tersebut bersama beberapa anak perempuan dari kelas 8 SMP. Dan sebelum saya bereaksi terhadap apa yang disampakan anak tersebut, kakak-kakak kelas itu langsung bertanya kepada saya; "Kelas berapa itu Pak? Kok songong?".

Anak-Anak Istimewa

Terhadap yang saya alami siang hari itu seusai shalat berjamaah, maka saya menyadari bahwa ada beberapa anak-anak didik saya yang memang dalam kondisi yang berbeda. Mungkin lebih pas kalau saya beri label positif sebagai anak-anak istimewa. Mengapa istimewa? Karena dari diri mereka, memang terdapat beberapa titik yang menjadi indikator istimewa. Sebagaimana anak yang memberikan tuduhan kepada saya sebagai 'kepo', maka anak itu sesungguhnya adalah anak yang memang benar-benar istimewa.

Setelah jawabannya 'kepo'nya itu, ia bukan langsung meninggalkan saya di depan pintu ruang kerja saya, tetapi justru masuk ruangan saya, dan meminta saya untuk memperlihatkan rekaman cctv yang ada di komputer saya. Dan dari gambar-gambar tersebutlah anak itu mengajak saya berdiskusi tentang berbagai hal. Termasuk meminta kepada saya agar ia direkam ketika ia akan ber'akting' di depan kamera yang terpasang di salah satu sudut atau area sekolah.

Dan karena saya manganggab itu bukan menjadi bagian yang termasuk tabu atau rahasi perusahaan, maka saya turuti juga apa yang ia inginkan. Dan dari hasil rekaman itu pula kami terlibat diskusi berkenaan dengan berbagai hal tentang keamanan sekolah dan bullying atau perundungan yang dapat terjadi.

Dan semua interaksi itu tidak menjadi beban buat saya. Hanya belakangan saya mulai berpikir; apakah interaksi itu baik dari sisi paedagogis? Namun saya selalu yakin akan apa yang saya perbuat untuk kebaikan anak-anak istimewa yag ada di sekolah. Dan dari sisi itu saya melihat kalau apa yang mereka minta kepada saya dan saya memberikan peluang untuk memenuhi apa yang diinginkannya, adalah bentuk pelayanan bagi ke'istimewaannya'. Semoga.

Jakarta, 20 Desember 2012.

18 Desember 2012

Siswa yang Mengadu Celana Seragamnya Disiram Air

Siang itu, datang ke ruangan kerja dua orang peserta didik saya. Siswa yang berada di depan, menyampaikan keluhannya, atau lebih tepatnya adalah laporannya, bahwa bagian kanan dari celana panjangnya basah karena disiram oleh air mineral oleh Tono. Dan dia memperlihatkan bagian celananya yang basah. Tidak kuyup memang, tetapi memang basah.

Saya memperhatikan bagian celana yang basah itu. Dengan perhatian yang sesungguh-sungguhnya. Namun perhatian saya pecah karena komentar dari Tono yang memang mengikuti kemana 'korbannya' itu berada. Termasuk pada saat si 'korban' memberikan laporan kepada saya untuk mengadukannya.

"Mengapa kamu lakukan itu Tono? Apakah yang kamu lakukan kepada temanmu itu termasuk perbuatan baik yang dapat diterima?" Tanya saya kepada Tono si 'pelaku'.
"Saya hanya iseng Pak. Tapi itu air bersih Pak. Saya siram celananya dengan air minum saya ini." Kata Tono dengan mempertunjukkan botol air meneral yang dipegangnya.
"Apakah kalau demikian maka itu tetap diperbolehkan?" Desak saya lagi dengan tatapan tetap kepada Tono.
"Ia Pak. Tidak boleh." Jawabnya.
"Lalu apakah tidak kepikiran olehmu untuk mengatakan maaf kepadanya?" Desak saya berikutnya.
"Saya sudah katakan dari tadi untuk meminta maaf kepadanya Pak. Tapi dia tidak mau memberikan maaf. Sampai dia laporin saya di Bapak." Kata Tono yang kali ini dengan nada yang berubah. Tampak dari nadanya bahwa itu menyiratkan perubahan emosi dalam diri anak itu.

Dan tak berselang lama di depan saya, Tono yang berbadan relatif besar untuk usianya yang masih duduk di kelas 5 SD itu mengulurkan tangan dengan tanpa ragu kepada si 'korbannya'. Tidak ada rasa malu atau sungkan sembari mengucapkan kata "maafin ya..."

Dari peristiwa itu saya melihat bagaimana pola persahabatan antar anak-anak itu. Begitu polos tanpa beban. Saya melihat bahwa landasan dari membasahi celana seragam temannya bukan karena iri atau dengki. Atau karena ingin mencelakai aau menertawai. Meski itu tetap saja menjadi perbuatan yang menyalahi norma.  Setidaknya itulah yang terlihat dari perbuatan anak yang ada di depan saya itu.

Walau kadang saya juga harus akui, bahwa tidak semua anak didik kami di sekolah memiliki keluguan sebagaimana yang diadukan oleh teman bermainnya kepada saya pada siang itu. Tapi setidaknya, saya bersyukur bahwa yang datang pada siang itu adalah anak yang lugu dan anak yang mudah memberikan maaf kepada temannya. Saya tentu bersyukur...
 
Jakarta, 18 Desember 2012.

Ada Asisten Baru

Hari itu, ada dua orang yang ketika bertemu dengan saya di luar ruangan bertanya; "Di ruang Bapak ada orang. Siapa itu Pak?". Tentu pertanyaan yang normal meski menunjukkan akan keheranan dan (mungkin) sedikit kewaspadaan. Heran, karena jarang atau hampir tidak pernah orang duduk atau berada di dalam ruangan saya tanpa keberadaan saya di dalamnya. Atau waspada, karena jangan-jangan yang ada di ruangan saya adalan anak yang memang suka dengan komputer sebagaimana kami punya siswa yang selalu memiliki rasa ngin tahu yang luar biasa meledak-ledak ketika melihat perangkat elektronik seperti komputer. Untuk kedua alasan itulah saya mendapatkan pertanyaan tersebut.

Pertanyaan yang diajukan kepada saya pertama kali, disampaikan oleh salah seorang support staff di sekolah ketika bertemu dengan saya di ruang foto kopi ketika jam menunjukkan pukul 07.40. Dengan pertanyaan itu, saya memberikan penjelasan bahwa ia adalah Guru yang bertanggungjawab terhadap artikel yang harus diselesaikannya. Karena alasan kepraktisan, maka guru itu saya minta untuk menulis langsung di halaman buletin yang sudah saya siapkan.

Salah seorang asisten baru saya, duduk di kelas 8, yang kebetulan juga adalah salah satu anggota OSIS.
Pertanyaan yang diajukan kepada saya yang kedua, disampaikan oleh salah seorang anggota security sekolah ketika saya berada di plasa SD. Ketika itu jam menunjukkan pukul 09.30. Kepadanya saya jelaskan bahwa dia adalah anggota pengurus OSIS SMP yang saya minta juga menuliskan testimoni setelah mengikuti kegiatan anti-Narkoba pada hari sebelumnya.

Asisten Baru

Kepada dua orang yang mengajukan pertanyaan kepada saya hari itu, entah bagaimana asal muasalnya, keduanya mengemukakan pernyataan bahwa orang-orang yang berada di ruangan saya ketika keberadaan saya tidak di dalam ruangan itu sebagai asisten baru saya. Tentunya saya sedikit terperanggah. Kok bisa dua orang dalam waktu yang berbeda dan dengan peristiwa yang mirip-mirip sama tetapi dengan respon istilah yang senada?

Dan sembari tersenyum, saya katakan kepada mereka; "Benar Mas. Lumayan untuk sementara."

Jakarta, 18 Desember 2012.

Mencintai Tanah Kelahiran, ala Lian Gouw

Ada yang sayang untuk saya simpan saja sendirian atas kehadiran Lian Gouw, untuk bertemu anak-anak didik kami di sekolah pada Selasa, 04 Desember 2012 yang lalu. Karena banyak hal menarik atas sosok penulis Novel Only a Girl tersebut. Maka, meski sudah sedikit terlambat, saya mencoba untuk membuat catatan tentang beliau sebagai pribadi yang memang sangat layak mendapat penghargaan atas apa yang diupayakannya selama ini, khususnya dalam dunia tulis menulis. Namun catatan saya ini tidak ingin mengupas jejaknya dalam dunia tulis menulis, karena bagian ini masih asing bagi saya, meski saya adalah bagian dari orang yang menikmati karya sastra, karena jujur, keterbatasan pengetahuan saya terhadap beliau.


Mengenal nama Lian Gouw, pertama sekali ketika seorang guru kami menyebutkannya dalam sebuah pertemuan, dan bahkan mengupayakan akan meminta beliau untuk hadir dalam kegiatan Bulan Oktober saat Bulan Bahasa. Namun kegiatan itu, mengingat kesibukan sang novelis yang berdomisili di Amerika, maka acara bertemu baru terlaksana pada 4 Desember tersebut. Dan usaha saya untuk lebih mengenalnya, maka saya mencoba search di mesin pencari di internet. Dari situlah pengetahuan saya tentang novelis tersebut.

Lian Gouw yang adalah kelahiran Indonesia, namun sejak 1960 ia pergi ke Amerika dan akhirnya pindah menjadi warga negara Amerika. Namun kenangan yang kuat terhadap tanah kelahirannya itu, memuatnya sangat membanggakan akan Indonesia. Dan dalam keterbatasannya, Ia berkemauan keras untuk belajar dan menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dan itu beliau tunjukkan selama memberikan pendapat, pesan, dan gagasan kepada kami sebagai audiensnya. Sungguh mulia sekali, orang yang sederhana dan patut diteladani. 

Dari pengalamannya, beliau mengajak agar kita bangga dengan kebudayaan dan kekayaan Indonesia. Dan jangan mudah terkesima dengan negara lain, yang akhirnya menutup mata dari budaya Indonesia yang kaya, dan penduduknya yang ramah.

Catatan kenangan sang novelis d lembar Novelnya.

Jakarta, 18 Desember 2012.

15 Desember 2012

Kepintaran Siswa di Depan Lab Komputer

Siang itu saya mengibrol dengan tiga teman guru di kantin sekolah setelah kegiatan tanding futsal selesai. Kegiatan rekreatif yang dirancang teman-teman guru sebagai pengisi acara seusai anak-anak menyelesaikan hari-hari ulangan akhir semester.

Dua teman saya memesan teh es manis dan saya sendiri serta satu lagi teman yang lain memesan tambahan bakso. Kami akrab bercengkerama perihal kelelahan setelah bermain futsal. Juga 'sentilan' salah satu teman kepada saya, mengapa saya tidak ikut serta bermain? "Bukankah Bapak sudah mengenakan kaos sejak pagi?" Begitu katanya.

Saya katakan bahwa saya tidak bisa memaksakan diri untuk ambil bagian dalam bermain futsal karena beberapa waktu sebelumnya pernah cidera otot punggung. Jadi saya berpikir untuk lebih baik tidak ikut bermain futsal agar supaya cidera saya benar-bnar pulih. Namun penjelasan itu mungkin tidak terlalu menjadi acuan teman-teman bisa memaklumi. Sampai saya meninggalkan ketiga teman itu untuk meneruskan pesanan tambahan mereka masing-masing.

Namun beberapa menit setelah saya meninggalkan lokasi kantin, saya mendapat berita yang mengagetkan. Bahwa satu dari teman saya yang bertemu di kantin itu mendapat serangan kram hebat pada seluruh bagian tubuhnya. Bahkan ada teman yang menyebutnya, tentu berdasarkan pengetahuannya yang cethek tentang penyakit, bahwa apa yang dialami teman dengan kramnya itu sebagai troke kecil. Allahua'lam. Yang jelas, peristiwa itu membuat kehebohan diantara sebagian guru dan siswa yang kebetulan saat istirahat itu berada di kantin sekolah dan sekitarnya.

Dalam perawatan pertamanya, setelah teman saya dievakuasi di ruang lab komputer yang dekat dengan lokasi kantin, bagian-bagian tubuh yang kejang tersebut secara bergotong royong dilemaskan. Alhamdulillah bahwa di sekolah kami ada suster UKS yang cekatan dan ada juga guru olah raga yang pakar cidera otot. Kepada mereka berdualah mereka yang berada di lokasi merujuk dalam memberikan pertolongan.

Diluar kehebohan di ruang lab itu, ternyata menjadi berita yang menarik perhatian para peserta didik yang lain untuk melihat kejadian yang terjadi secara langsung. Dan dari mulut-kemulut, berita itu seperti bola salju. Maka jadilah anak-anak berbondong-bondong menuju ke ruang peraatan sementara itu.

Dalam kondisi seperti itulah, diantara kami ada yang melihat adanya peristiwa yang mengindikasikan kepintaran siswa. Sebuah kepintaran yang tampaknya tidak secara spesifik merupakan hasil dari belajar (?). Dimana ada tiga hingga empat anak laki-laki dengan bergandengan tangan membuat pagar betis menuju ruang lab. Pagar betis ini mereka maksudkan agar tidak semua anak dapat lagi kendekati ruang lab itu. Dengan demikian maka perawatan terhadap guru yang sedang diberikan pertolongan tidak mendapat gangguan yang tidak berarti.

Karena apa yang dilakukan anak itu adalah murni inisiatif mereka, dan 'kepergok' oleh pengamatan teman kami yang sedang sibuk memberikan pertolongan, maka tidak salah jika saya kagum dan takjub akan tampilnya sebuah kepintaran di depan ruang laboratorium komputer di sekolah kami.

Selain kagum, tidak salah bila saya mensyukuri atas 'penemuan' peristiwa kepintaran itu untuk menjadi catatan saya kali ini. Terima kasih anak-anak.

Jakarta, 15/12/12.

14 Desember 2012

Alhamdulillah, Kalau Guru Diingat Muridnya

Saya ikut bersyukur dan merasakan bagaimana seorang murid yang masih mengenang dengan jelas siapa sosok guru yang amat dicintainya. Dan akan kenangan baiknya itu, diceritakanlah kepada teman-temannya. Inilah kenyataan yang menjadi pengalaman saya, yang  terjadi dalam sebuah pelatihan guru di sebuah sekolah swasta di Pekanbaru, Riau, beberapa waktu lalu.

Cerita itu bermula ketika seorang peserta pelatihan, yang adalah seorang guru di Sekolah Dasar swasta dari Duri, Riau,  yang memberikan testimoni terhadap apa yang pernah dialaminya. Dikatakannya dalam testimoni itu bahwa, guru yang Ia  idolakan itulah yang akhirnya membukakan jalan hidupnya untuk memilih menjadi guru.

Lalu seperti apa sosok gurunya itu?

Gurunya adalah seorang guru menyanyi. Guru yang hanya mengajar di sekolahnya untuk kurun waktu yang tidak panjang. Namun dalam kurun waktu yang relatif singkat itu Ia  telah mampu meninggalkan jejak yang tidak terhapuskan  pada dirinya. Jejak akan kekaguman akan kepiawaiannya dalam membawa anak-anak didiknya masuk dalam dunia keindahan dan kebanggaan alam dan nusantara melalui syair lagu-lagu yang diajarkannya.

Ini selain karena guru itu 'berwajah' kota, karena kebetulan memang asli kota kabupaten yang ada di daerahnya kala itu, juga karena Ia merasa begitu istimewanya belajar menyanyi di sekolahnya yang berada jauh dari kecamatan di sebuah kabupaten di Pulau Sumatera? 

Oleh karenanya, kehadiran gurunya yang selalu perpakaian rapi meski sederhana itu selalu dinantikan keberadaannya di dalam kelas. Ia dan teman-temannya setria menunggu lagu baru yang akan diajarkan. Dan sebelum lagu baru anak-anak dapatkan, maka kelas diminta mengulang lagu-lagu yang pekan lalu diajarkan.

"Dan sekarang," kata Pak Guru dari Duri itu dalam testimoninya, "menyanyikan lagu yang diajarkan oleh guru saya yang sebentar itu kepada peserta didik saya. Itulah guru yang menjadi idola saya."

Semua peserta pelatihan tentunya memberikan apresiasi dengan bertepuktangan kepada guru itu diakhir testimoninya.

***

Saya yang ikut mendengar testimoni itu, turut mengucap syukur. Merefleksikan diri bagaimana rasanya bila menjadi seorang guru yang dikenang siswanya dalam kebaikan. Dalam refleksi itu pulalah kami yang menjadi bagian dari pelatihan itu mendapatkan pelajaran.

Jakarta, 09-14/12/2012.

Ada Pakar Jaringan Bus Way di Sekolah Saya

Di seklah saya, ada seorang peserta didik yang benar-benar ahli serta mumpuni tentang hal ihwal bus way di DKI Jakarta. Kepakarannya meliputi jaringan yang sudah ada dan yang yang akan ada, baik nama koridornya dan rute-rutenya. Juga kondisi kendaraan Transjakartanya yang melayani para pengguna di rute-rute yang telah ada. Itulah maka tidak salah bila kami menjulukinya sebagai pakar bus way di sekolah kami. Anak itu masih duduk di bangku kelas 8, SMP, saat saya membuat catatan ini. 

Jika dalam percakapan dengan kami, maka sesungguhnya bukan saja kendaraan massal bus way itu saja yang akan dia bahas. Tetapi juga berkenaan dengan keberadaan kanal banjir timur atau BKT yang keberadaannya tidak terlalu jauh dari rumah tinggalnya. Namun pengetahuannya terhadap bus way, dibandingkan dengan pengetahuan  pada hal yang sama di sekolah kami, maka ia adalah pakarnya. Oleh karenanya tidak terlalu salah bila kami menyematkan predikat pakar tersebut.

Pernah suatu saat dia menyarankan agar saya megambil bus way koridor Pulo Gadung- Kali Deres ketika hendak pulang ke rumah. Ini karena saya menyampaikan bahwa kendaraan massal itu semakin hari justru semakin penuh sesak dan sangat tidak nyaman. Dari apa yang disampaikannya, saya dapat menangkap bahwa ia paham benar tentang peta Jakarta selain hafal dari rute-rute bus way.

"Dari mana kamu tahu tentang rute-rute tersebut?" Tanya saya suatu hari.
"Saya lihat dari internet Pak. Saya punya rute dari semua koridor bus way yang ada." Katanya.
"Saya juga membaca koran." Tambahnya lagi.

Kenyataan itu tentu membanggakan. Bukankah teman-teman seusia dia saat ini menjadi konsumen atau gamer ketika mereka kembali ke rumah sepulang dari sekolah?  Oleh karenanya, membanggakan bukan?

Pernah pula dia mengaku kepada saya, ketika suatu saat ia 'berkelana' naik bus way di beberapa jaringan ketika ia tidak masuk sekolah.
"Mengapa pada hari sekolah kamu justru 'berkelana' naik bus way?" Tanya saya saat itu.
"Karena saat itu saya terlambat Pak. Saya takut kena sangsi, jadi saya minta supir saya untuk kembali ke rumah." Jelasnya.

Kekaguman saya yang lain kepada anak itu adalah, keberaniaanya melakukan eksplorasi terhadap lingkungan kehidupannya. Ini perlu saya sampaikan mengingat tidak semua anak seusia dia, dalam kondisi dan latar belakang ekonomi keluarganya, masih diberikan keleluasaan untuk 'blusukan'. Ini sekaligus juga apresiasi untuk orangtua. 

Inilah catatan saya untuk peserta didik saya yang punya kelebihan spasial.

Jakarta, 14 Desember 2012.

13 Desember 2012

Gaya Hidup dan Kebutuhan (Membayar Uang Sekolah)

Sepanjang hari kemarin, separuh waktu saya di kantor saya isi dengan menyimak habis apa yang disampaikan oleh Ibu Liqwina Hananto, dalam sebuah talk show yang dipandu oleh Pak Bayu Sutiyono di ruang bersama sekolah kami. Banyak hal yang saya dan audiens dalam talk show ambil sebagai pelajaran hidup. Antara lain dari yang banyak itu adalah bagaimana kita 'melihat' masa depan dengan ikhtiar kita mulai hari ini. Juga, tentang bagaimana kita dapat memilih gaya hidup yang 'menyelamatkan' kita untuk masa depan tersebut.

Tidak juga masa depan tetapi juga hari ini. Gaya hidup 'supaya kelihatan kaya' misalnya, menjadikan orang lupa akan tanggungjawabnya, bukan lagi kewajibannya, untuk membayar uang sekolah anak (-anak)nya padahal ia mengantarkan anak (-anak)nya itu dengan mobil seharga satu milyar, dan berjumpa dengan Bapak/Ibu Guru anak (-anak)nya di drop off sekolah? Cis! Itu gaya hidup yang menjadi pilihan independen siapa saja. Dan anekdot ini, hanyalah satu dari sekian anekdot yang mejadi bahasan informal kami sebelum talk show itu berjalandi panggung.

Itulah kesimpuan saya akan keikutsertaan dalam talk show yang menarik, atau bahkan sangat menarik bagi saya di penghujung tahun 2012. 

Jakarta, 12 Desember 2012 (12/12/'12)

12 Desember 2012

Dipaksa Mendengar Pembacaan Cerita oleh Siswa

Siang itu, seusai jam pulang sekolah, masih terdapat tiga peserta didik kami yang berada di perpustakaan. Mereka bertiga memang adalah anak-anak yang rajin mengunjungi perpustakaan tidak saja karena untuk 'ngadem' atau menunggu jemputan pulang sekolahnya datang. Tetapi memang selain bercengkerama, mereka adalah anak-anak dengan salah satu kesengannya membaca buku. Termasuk pada siang itu.

Saya menemukan ketikanya sedang berada di dalam perpustakaan dengan seorang guru, puskawan, dan seorang pramubakti kami. Namun bukan sekedar membaca buku, karena ada seorang anak yang berdiri di atas sebuah kursi yang menjadi panggung, membaca buku dengan suara yang keras, dan dengan audien lima orang duduk di karpet.

Pemandangan seperti itu, tentunya mengusik perhatian saya yang siang itu berkeinginan untuk mencari informasi tentang Pramudya Ananta Toer dari buku Taufik Ismail Menjulang ke Langit, Mengakar ke Bumi jilid 3. Dan tampaknya begitu juga dengan kegiatan mereka yang menjadi terganggu atas kehadiran saya. Pembacaan cerita menjadi terhenti. Dan pada kesempatan itu juga, maka seorang pramubakti yang semua akan mengambil persediaan gelas untuk sebuah acara yang tersimpan di dekan akses menuju perpustakaan dan di'paksa' oleh ketiga siswa untuk mendengar cerita mereka, segera memanfaatkan peluang untuk meninggalkan arena.

"Bagaimana tadi Ibu berada di dalam?" Tanya saya kepada pramubakti sekolah kami itu.
"Saya sedianya akan mengambil gelas dan tatakan untuk tamu Pak. Tapi ketika tiga anak itu melihat saya, mereka meminta saya untuk mendengarkan cerita mereka. Dan saya di tarik menuju ke dalam perpustakaan." Jelas pramubakti kami yang rajin itu.
"Apa yang mereka lakukan Bu?" Tanya saya lebih lanjut.
"Mereka bergantian membacakan buku cerita kepada kami. Dan kami dipaksa untuk menjadi pendengarnya." Jelas Ibu pramubakti kami itu.
"Saya tidak sendirian Pak. Ada Pak Guru dan juga ada pustakawan. Semua kami diharuskan menjadi pendengar." Jelasnya lagi.

Seperti itu jugalah yang saya alami ketika saya masuk ke perpustakaan. Bukan keluhan yang saya tampakkan kepada ketiganya. Tetapi mencoba untuk antusias. Dan ketika seorang dari ketiganya selesai dengan buu yang dibacakannya untuk saya. Saya bertanya kepadanya tentang cerita apa yang sudah selesai dia bacakan itu. Dan dari satu pertanyaan awal itu, kemudian lahirah sebuah tanya jawab yang relatif membahagiakan saya sebaai guru mereka.

Kebahagiaan itu tidak lain adalah karena melihat bagamina mereka antusias untuk melakukan sesuatu dari buku cerita yang kami pajang di perpustakaan. Apa yang dipertontonkan anak-anak itu adalah bagian yang sangat melekat  pada semangat kami untuk memberikan motivasi kepada anak-anak agar suka membaca.

Terima kasih anak-anak. Terima kasih siswa.

Jakarta, 12 Desember 2012 (Tanggal unik: 12/12/'12).

10 Desember 2012

Generasi nir-Akal

Beberapa waktu yang telah lalu, saya membaca surat kabar dan menemukan istilah nir-akal. Dalam media itu, istilah ini dikemukakan oleh Prof. Irwan Pranoto, yang adalah guru besar Matematika di ITB, Bandung. Sebuah gambaran bagi mereka yang memperoleh gelar akademik tetapi dengan akal yang tumpul? Maksudnya sebuah generasi yang disbukkan dengan kegiatan mengingat dan memahami sebuah hal, namn luput untuk memperdayakan kompetensi analisa, sintesa, dan juga mencipta.

Dalam kehidupan keseharian, kepada teman-teman pramubakti di sekolah, pada saat memberikan pengarahan pekanan kepada mereka, saya pernah menyampaikan model generasi ini dengan munculnya pemikiran orang untuk mmperoleh harta atau keberhasilan lainnya dengan cara yang kilat. Dan bukan cepat lagi, tetapi kilat. Cara instan. 

Dan ketika saya membahas ini, saya memberikan contoh apa yang terjadi di masyarakat kita, yang semestinya tidak begitu mudah untuk dipercayai apalagi untuk dilakoni. Sehingga ujung dari perbuatan terkelabui itu adalah kerugian materiel yang tidak lagi sedikit bagi para korban. Demikian pula dengan pelaku, tentu jauh lebih rugi bahwa dengan apa yang diperbuatnya menjadikan masalah dia justru bertambah.

Seperti berita yang saya baca di DetikSurabaya (http://surabaya.detik.com/read/2012/12/09/124050/2113319/47), pada hari Minggu siang yang lalu. Dimana diberitakan adanya orang yang masih tertipu akan pengakuan orang lain yang mengaku mampu melipatgandakan uang (asli). Dan korban dari pengakuan orang tersebut adalah mereka yang kebetulan memiliki uang asli dan berkeinginan untuk mendadak berlipat-lipat uangnya tersebut dalam waktu cepat. Judul dari berita yang saya baca adalah: Kuli Bangunan Ngaku Bisa Gandakan Rp 6 Juta Jadi Rp 1 Miliar.

nir-Akal?

Dalam pertemuan dengan teman-teman pramubakti sekolah, saya katakan kepada mereka, bahwa jika orang yang mengaku mampu melipatgandakan uang tersebut benar-benar 'nyata' dan kemudian uangnya benar-benar sah sebagai alat tukar, maka oknum tersebut tidak akan mencari orang lain yangkemudian menjadi korban untuk menyetorkan uang aslinya kepada si oknum tersebut. Oknum itu pastinya, akan melipatgandakan uang miliknya sendiri. Tetapi mengapa ia membutuhkan uang (asli) milik orang lain? Inilah yang seharusnya menjadi bahan makanan akal sebelum sebuah keputusan diambil.
 
Dalam kasus lainnya, ini juga sebagai bahan renungan saya pribadi tentang pengakuan seseorang sebagai nabi beberapa waktu lalu di Jakarta, yang ternyata memiliki pengikut yang bukan saja dari kalangan kurang berpendidikan. Justru tidak sedikit para pengikutnya itu duduk atau telah mengenyam bangku kuliah di perguruan tinggi.


Dimana letak tidak masuk diakalnya? Ketika nabi palsu itu mengaku bahwa ia sebagai utusan setelah Nabi Muhamad SAW ketika ia berpuasa 40 hari suntuk di sebuah tempat di daerah Gunung Salak, Bogor. Mengapa tidak masuk akal? Karena kalau ia adalah pemegang risalah sesudah Muhammad SAW, mengapa ada puasa 40 hari? Sepengatuhan dan sepemahaman saya, tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW tentang model puasa seperti itu.

Maka dengan landasan akal saya yang sederhna itu, dengan bumbu dalil apapun juga, sesungguhnya akal kita mampu membuat kesimpulan tentang fenomena yang nabi palsu itu. 

Dengan dua hal yang saya temui dalam kehidupan yang dekat dengan saya tersebut, saya setuju jika hasil pendidikan kita masih berkutat kepada hal yang berkenaan dengan mengingat, memahami, dan sedikit aplikasi. Tetapi belum sepenuhnya memberdayakan kepada kompetensi analisa, sintesa, dan mencipta. Dan itu landasan saya untuk menyetujui apa yang disampaikan Profesor Iwan Pranoto dari ITB, Bandung tentang realita nir-akal dalam pendidikan kita.

Jakarta, 10 Desember 2013.

09 Desember 2012

Permainan Kartu, antara Generasi Saya dan Anak Didik Saya

Siang itu, sepulangnya anak-anak dari sekolah, tidak semua dari mereka langsung beranjak menuju ke kendaraan penjemputnya masing-masing untuk segera pulang ke rumah atau ke lokasi les berikutnya. Diantara mereka ada yang masih tinggal di halaman sekolah bersama teman-teman lainnya untuk menunggu jemputannya yang belum datang atau mungkin menghabiskan waktunya dengan bermain bersama. Dan dianatara yang bermain itu saya menemukan sekelompok anak-anak yang sedang memainkan kartu-kartu 'mahal'. Saya katakan mahal karena kartu-katu yang anak-anak mainkan adalah kartu yang relatif tebal dan mengkilap.
Kartu yang saya maksudkan. Dok Pribadi.
Sebagaimana tampak dalam gambar di atas. Jajaran kartu itu adalah milik mereka yang dalam permainan yang tidak saya pahami itu. 

Ketika saya coba untuk melihatnya lebih dekat, maka tampak gambar-gambar dari karakter fiksi, yang menurut saya justru memberikan teladan yang kurang baik. Seperti misalnya karakter yang sedang minum dengan tangan kiri, mengacungkan senjata tajam semacam pedang entah ke arah siapa yang ada di depannya, atau tokoh dengan kumis dan jenggot yang super panjang seperti orang pensiunan. Pendeknya, gambaran tokoh-tokoh itu begitu tidak biasa.

Namun dalam permainan itu, saya melihat jika anak-anak itu menikmati apa yang sedang mereka lakukan.

Berbeda dengan apa yang saya saat kecil mainkan dengan kartu-kartu saat itu. Kartu-kartu yang kami miliki pada waktu itu adalah kartu-kartu dengan tokoh wayang. Tentu akan menjadi lebih bermakna kartu-kartu yang kami miliki saat itu jika kami mengenal karakter dari tokoh wayang tersebut. 

Juga cara memainkannya. Kami akan adu gambar-gambar itu di udara dengan saling menepukannya dan membiarkan kartu itu jatuh ke tanah. Pemenang dari permainan kami ditentukan dengan kartu siapa yang ketika jatuh di tanah/lantai dalam posisi telentang dan tidak tertelungkup.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa perubahan antara generasi aya dengan siswa saya saat ini dalam hal permaianan kartu, tidak saja pada tokoh-tokoh kartu yang ada, tetapi tampaknya juga asal-usul dari tokoh-tokoh itu sendiri. Walau saya juga tahu kalau tokoh wayang itu jauh lebih Indonesia dari pada tokoh-tokoh yang ada dalam kartu anak didik saya itu.
Gambar wayang dari sebuah brosur pengrajin wayang kulit.

Jakarta, 09 Desember 2012.

07 Desember 2012

Anak Itu, Berbeda dengan Temannya

Siang itu, setelah selesai sebuah kegiatan yang kebetulan saya sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut, seorang anak didik saya memberikan ibu jari tangan kanannya seraya berkata untuk saya: " Bagus Pak!" Tentu dengan tersenyum lebar pada saat anak itu mengucapkan kata pujiannya itu kepada saya. Saya bersyukur luar biasa atas apa yang disampaikannya.

Juga seorang anak yang lain ketika berjumpa dengan saya beberapa saat sesudah kegiatan berakhir di ruang bersama sekolah. "Kok, Pak Agus memberikan presentasi?" Katanya bernada pertanyaan. "Benar. Karena Pak Agus ternyata ada juga di dalam jadwal yang disusun Nak." Kata saya memberikan penjelasan kepada anak itu. Dan saya segera meninggalkan anak itu ketika meminta tolong kepadanya untuk sekalian membuangkan sampah yang saya dapatkan di lantai ruang bersama itu.

***

Peristiwa seperti itu, tentu membuat sesuatu atau kesan yang berbeda pada diri saya. Bukan karena saya menjadi tersanjung dan kemudian melambung lupa daratan. Tetapi saya menjadi yakin bahwa diantara apa yang saya telah sampaikan kepada sekian anak yang ada dalam forum tersebut, ternyata ada beberapa anak didik yang benar-benar 'masuk' sehingga mampu memberikan penilaian atau setidaknya evaluasi terjadap apa yang telah saya sampaikan. Hebatnya lagi, evaluasi anak didik itu langsung disampaikan begitu kegiatan berakhir. 

Pengalaman ini membuat saya termenung dan merefleksikan diri. Terutama bagi kemajuan dan kebermaknaan dalam kegiatan-kegiatan yang telah kami laksanakan di sekolah selama ini. Apakah anak-anak didik kami benar-benar telah menjadikan semua kegiatan yang kami sajikan sebagai wahana baginya untuk menginspirasi diri? Dan bagaimana kami dapat mengetahui bahwa kegiatan-kegiatan itu bermakna atau tidak bagi anak-anak jika kami sendiri hanya mengacu kepada hasil paper and pencil test?

Katakanlah bila perhatian kami hanya kepada hasil akademik atau hanya pada ranah kognitif semata, bukankah kami masih dapat 'meminta pertolongan' kepada anak-anak didik kami yang berbeda sebagaimana cerita pengalaman saya di atas? Bukankah anak-anak yang berbeda itu mampu memberikan 'sesuatu' yang berbeda dengan apa yang kebanyakan anak-anak didik kami miliki?

Kenyataan atas evaluasi atau apresiasi anak didik kami itu atas apa yang saya sampaikan juga memberikan makna kepada saya khususnya bahwa, dalam hasil belajar pada ranah kognitif pun, terdapat anak-anak saya yang mampu berpikir pada tataran atau aspek analisa dan evaluasi sebagaimana anak tersebut. Sedang kebanyakan yang lainnya masih pada aspek mengingat, mengetahui, atau masimalnya pada aspek aplikasi?

Jakarta, 07 Desember 2012.

Ketika Siswa Pulang Cepat

Pekan-pekan ini, ketika pelaksanaan kegiatan Evaluasi Hasil Belajar atau Ulangan Akhir Semester, seluruh peserta didik kami pulang lebih cepat dari jadwal belajar seperti biasanya. Karena anak-anak akan langsung pulang begitu jam UAS berakhir. Untuk setiap harinya, anak-anak akan memperoleh dua mata pelajaran saja. Itu berarti mereka akan pulang rata-rata pada pukul 11.00. Artinya, mereka pulang sebelum waktu pelaksanaan shalat berjamaah.

Itu jugalah yang terjadi pada hari pertama pelaksanaan UAS. Anak-anak itu sudah berada di lapangan futsal kami sejak pukul 11.00 itu. Ada diantara mereka yang memang langsung pulang karena drivernya sudah berada di tempat. Namun tidak sedikit pula diantara anak-anak itu yang masih berada di sekolah hingga menjelang waktu Shalat Ashar, sekitar pukul 15.00.

Berbagai alasan anak-anak kemukakan ketika hingga pukul 15.00 itu masih berada di sekolah. Padahal kami, telah berulang kali mengingatkan agar mereka segera kembali pulang ke rumah begitu jam ulangan terakhir selesai, untuk kemudian beristirahat sehingga badan menjadi lebih segar ketika mempersiapkan diri belajar untuk  UAS hari berikutnya. Kenyataannya masih ada beberapa diantara mereka yang tidak segera beranjak meninggalkan lapangan.

Maka ketika saya berada di antara mereka pada pukul 15.00 itu, segera saya mengingatkan akan kewajibannya untuk shalat. Ini karena saya melihat tidak semua yang masih berada di lapangan itu tadi telah melaksanakan Shalat Dhuhur. Maka bersama guru lain yang kebetulan berada di lapangan itu juga, kembali saya mengingatkan mereka untuk segera menuju mushlola.

Alhamdulillah, meski mereka tidak segera melaksanakan apa yang saya usulkan, tetapi diantara mereka yang belum Dhuhur berjanji untuk melaksanakan di rumah dan segera menuju ke penjemput yang telah menunggu mereka. Sedang bagi mereka yang telah menjalankan Dhuhurnya, mereka tetap duduk di pinggir lapangan sambil ngobrol dengan temannya.

Peristiwa ini menimbulkan kesan kepada saya bahwa; Pertama, anak-anak meski mendapat jadwal belajar lebih singkat sehingga menyebabkannya untuk pulang lebih cepat, masih ada diantara mereka yang memilih untuk tetap bertahan di sekolah hingga sore menjelang. Maka pertanyaannya adalah: Mengapa mereka betah di sekolah? Mengapa mereka tidak segera meninggalkan sekolah untuk secepatnya pulang ke rumah? Apakah tidak ada yang mereka rindukan di rumah sehingga mereka terkesan membuang-buang waktunya agar tetap berada di luar rumah hingga hari benar-benar menjelang gelap?

Ini pertanyaan sederhana, tetapi memiliki implikasi yang dapat fatal jika kondisi seperti ini tidak disadari atau tidak diperdulikan oleh siapa saja yang perduli dengan keharmonisan dan kerahmatan bagi kehidupan di rumah.

Kedua, masih ada diantara anak-anak itu, yang begitu diminta untuk menjalankan shalat ketika waktu mereka telah bebas tetapi masih berada di sekolah, justru lebih memilih secepatnya pulang? Bukankah ini menjadi pertanda bagi kami bahwa anak-anak itu sesungguhnya masih dalam kondisi tertekan ketika menjalankan Shalat berjamaah dengan kami di sekolah? Memang tidak semua mereka seperti itu. Tetapi ini telah memberikan sinyal kepada kami untuk terus berupaya menjadikan  kewajiban shalat sebagai kewajiban yang memang wajib dikerjakan? 

Allahu a'lam bi shawab.

Jakarta, 07 Desember 2012.