Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Juli 2011

Ramadhan, Waktunya 'Bercocok Tanam'

Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau sekolah di daerah ini mengurangi kegiatan fisik guna menghindari penurunan stamina siswa selama Ramadhan. Hal itu dikatakan Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi Bina Program Dinas Pendidikan Dasar Bantul, Juwahir, Sabtu (30/7/2011). Begitu berita yang saya baca di http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/31.

Tentunya Pak Juwahir tidak sendirian di negeri ini. Sebelumnya terbit pula berita dari pemerintah daerah yang mengurangi jam kerja bagi karyawannya.

Adalah sebuah realita yang selalu hadir dikala Ramadhan tiba. Dan kenyataan itu tidak saja menjadi milik mereka yang berada di sekolah, nahkan di kantor-kantorpun demikian adanya. Adalah sebuah bentuk toleransi bagi mereka dan kita semua untuk lebih memanfaatkan waktu dalam menjalankan Ramadhan. Terutama dalam sisi kualitas. Oleh karenanya kebijakan itu dapat juga dimaknai sebagai bentuk dorongan bagi kita untuk menjadikan waktu sisa dalam melakukan kegiatan pemaknaan Ramadhan dalam sisi kualitas.

Sebuah kondisi dan situasi yang sangat kondusif bagi peningkatan warna serta kebermaknaan dalam meningkatkan keberagamaan. Baik bagi siswa dan guru di sekolah, mahasiswa dan dosennya di tempat kuliah, dan juga para pegawai dan birokrat di kantor serta para pedagang di pasar-pasar, dan juga para pengusahanya. Dan jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya Ramadhan ini kita sedang menanam masa depan bangsa yang lebih baik.

Jangan sampai waktu yang telah terkurangi keberadaan di kantor atau tempat kerja, namun tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya ketika sedang berada di luar jam dan tempat kerja. Misalnya justru menjadi semakin turunnya efektifitas dan etos kerja, karena puasa Ramadhan telah menjadikannya kurang energi saat melakukan amanah kerja. Inilah yang akan melahirkan penilaian kurang kepada mereka yang berpuasa Ramadhan.

Namun bagi yang berfalsafah hidup hanya pada muara untung-rugi, maka kenyataan ini akan menjadi kendala besar. Meski sebenarnya tetap saja selalu ada kompromi bagi kepentingan seperti itu tanpa mengorbankan sisi silaturahim dan toleransi. Seperti apa yang dilakukan kantor sahabat saya. Dimana jam masuk dimajukan satu jam lebih awal, sehingga jam kerja akan selesai juga lebih awal.

Semoga Ramadhan ini adalah Ramadhan dimana kita semua sedang melakukan cocok tanam. Dengan begitu maka selalu akan lahir harapan untuk memetik panen kelak di kemudian hari. Dengan konsep ini semoga saya dan Anda tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada sebagai ikhtiar bagi peningkatan kualitas cocok tanam. Tentu untuk tujuan akhir yang menguntungkan. Semoga. Amin.

Jakarta, 31 Juli 2011.

Catatan Perjalanan, Angklung Mang Udjo


Berkunjung ke saung angklung Mang Udjo, menjadi bagian utama bagi perjalanan kami ketika ke Bandung pada Juli tahun 2010 yang lalu. Dengan uang masuk lima puluh ribu rupiah, kami ikut sesi pertama pertunjukkan, yaitu jam 10.00 pagi. Pengalaman pertama bagi saya berkunjung dan ikut bermain angklung di Padasuka itu.

Seperti tampak pada gambar, adalah salah satu atraksi dari serangkaian pertunjukkan yang disajikan kepada pononton, yang terdiri dari pengunjung lokal, seperti saya, dan juga para pengunjung asing. Anak-anak adalah bagian dari pertunjukkan itu.

Pertunjukkan yang menampilkan beragam generasi dalam menguasai dan menikmati alat musik dari bambu itu, juga dalam berbagai ragam irama. Mereka semua memainkannya dengan penuh rasa dan bangga. Persis seperti kami yang menjadi penonton. Tidak lupa pula, sebelum acar selesai, kami semua diberikan alat musik bambu itu masing-masing satu buah. Menghafal nada masing-masing dan memainkannya pada saat tanda dari dirijen meminta nada kita untuk dimainkan.

Sebuah alat musik yang juga membuat para pelatih pentas kesenian dari TK dimana saya sekarang ikut serta memegang amanah, tertarik dan memesannya langsung dari Bandung untuk kemudian dimainkan oleh para siswa kelas TK B dalam dua lagu secara apik dan penuh gaung keindahan. Luar biasa.

Dari Tradisi ke Modernisasi

Alat musik tradisi ini secara jelas memberikan gambaran kepada kita tentang jati diri kita di era modern seperti sekarang ini. Musik tradisi yang membangkitkan rasa nasionalisme dan persatuan yang teramat sangat kental. Ia menjadi pengikat kebersamaan kita yang berbeda-beda, bersama semua kekayaan tradisi kita yang kita miliki. Seperti bagaimana rasanya pengalaman yang pernah menghampiri manakala sebuah kagiatan akbar di sekolah menampilkan anak-anak usia lima hingga enam tahun memainkan lagu Tanah Air dengan instrumental angklung.

Apakah itu yang dinamakan cinta tanah air? Mungkin itu kurang lebihnya. Perasaan untuk mensyukuri tentang bagaimana rasa senang dan bahagianya tinggal bersama di sebuah wilayah Indonesia.

Musik tradisi itu jugalah yang anak-anak dan generasi muda Indonesia bawa ke seluruh penjuru dunia untuk mengabarkan betapa harmoni dan indahnya sebuah negara yang bernama Indonesia dalam berbagai bentuk misi keseniannya.

Dari sini pula saya berasumsi bahwa penguasaan tradisi yang kita miliki adalah juga kapital dalam menapakkan diri pada jati diri dalam kehidupan modern seperti saat ini.

Jakarta-Bandung-Jakarta, Juli 2010- Juli 2011.

Catatan Perjalanan, Jakarta-Yogya-Jakarta



Mungkin inilah perjalanan paling menantang untuk saya yang telah relatif berumur ini. Dalam hal perjalanan ini yang saya maksudkan tidak hanya selalu saya sebagai individu, tetapi juga kendaraan yang saya pakai dan durasi yang kita alikasikan. Tiga hal pokok yang menjadi pemikiran dan akhirnya kenyataan pada perjalanan yang kami lakukan pada akhir Juni 2011 lalu. Dan sebagai orang ndeso, tiga hal itulah yang selalu menantang.


Berumur dan Durasi

Sebuah realita yang tidak dapat dipandang biasa saja atau sama saja. Maksud saya, ketika masih usia muda, melakukan perjalanan sejauh itu, saya lakukan dengan penuh semangat dan kecepatan penuh. Tak perduli jalanan yang penuh tambalan atau kendaraan yang telah berusia atau bahkan dengan durasi waktu yang tidak panjang sekalipun. Seingat  saya, saya pernah bersama satu anak dan ditemani adik, menmpuh perjalanan sejauh itu meski hanya libur di hari Senin atau hari Jumat saja. Dan anehnya tetap nikmat meski hari keempatnya, saya telah aktif berada di kantor.

Bagaimana dengan sekarang? Tidak jauh berbeda sebenarnya. Semangat untuk pulang kampung selalu saja menyala. Dengan apapun atau bagaimanapun. Namun penurunan daya tahan untuk terus 'menikmati' jalan, kadang saya sendiri merasakan untuk dipaksakan. Meski kesadaran untuk istirahat selalu menjadi menu. Tidur, misalnya. Jadi, ada perbedaan kan? Belum lagi jikalau jalanan yang tidak kondusif untuk sebuah perjalanan jauh serta kemacetan.

Satu hal yang menjadi catatan penting dalam setiap perjalanan, baik saat dulu atau sekarang, yaitu tidak grosa-grusu. Tidak biayaan. Tidak pecicilan. Tidak sembrono. Karena dalam setiap perjalanan itu, saya selalu menikmatinya tiap centinya. Tiap jengkalnya. Karena saya menyenangi proses selain tujuan. Jadi durasi waktu yang dialokasikan dalam perjalanan menjadi penting bagi saya.

Ideal bukan? Permasalahannya, durasi juga bergantung kepada waktu pakansi. Artinya seberapa lama kita memiliki hari bebas hingga kita dapat secara leluasa menggunakannya untuk sebuah perjalanan? Inilah yang juga membedakan saat saya banyak libur atau sedikit libur. Tapi inilah kenyataan yang ada, yang telah menjadi milik saya.

Jakarta-Yogya-Jakarta, Juli 2011.

Keterangan gambar: Salah satu sudut di Pantai Kukup, Wonosari, Yogyakarta.

Catatan Perjalanan, Ada Sandal...


Sekadar catatan perjalanan saya ketika saya diundang oleh kawan di Kayuagung, awal Juli 2011. Meski sesungguhnya kali itu adalah kali ketiga, saya berkunjung di kota ini.

Namun tampaknya, kunjungan ketiga itu memberikan kesan yang berbeda bagi saya. Mungkin karena kunjungan yang ketiga itu saya tidak 'dititipkan' di penginapan yang ada di kota itu, tapi bersama teman tinggal dan menginap di rumahnya. Ini yang membuat saya justru banyak melihat secara lebih dekat tentang beberapa hal yang akan menjadi catatan saya ini.

Seperti tampak pada gambar yang saya lampirkan di artikel ini, inilah masjid raya di kota Kayuagung. Sebuah masjid yang terawat baik, yang berada di tepian sungai Komering. Kebetulan saya berjamaah di sini bersama dengan beberapa orang yang berasal dari berbagai daerah. Antara lain dari Makassar, yang sempat saya ajak ngobrol seusai salat saat kami ada di pendopo tepian sungai.

Beberapa orang daerah tersebut berada di Kayuagung untuk menunaikan salat karena bertepatan yang bersangkutan sebagai anggota kontingen Pramuka yang kebetulan sedang mengikuti Jamnas. Jambore Nasional, yang tempat pelaksanaannya di Teluk Gelam, lebih kurang 20 km dari Kayuagung. Para anggota Pramuka itu mungkin sedang mencari udara yang berbeda di 'kota', yang kebetulan paling dekat adalah kota Kayuagung itu. 

Selain pertemuan saya dengan anggota Pramuka dari Makassar itu, saya sempat kaget saat pertama sekali memasuki masjid. Saat kumandang azan bergema melalui pengeras suara masjid. Yaitu saat baru saja saya berada di pintu masuk masjid. Karena di sebelah kanan dan kiri pintu masuk masjid, orang meletakkan sandalnya tanpa pembungkus atau dibungkus. Satu hal yang pasti tidak akan saya temui di tempat lain. Karena di tempat lain, selalu ada tulisan 'batas suci' di anak tangga paling bawah pintu masuk masjid. Selain sandal, saya juga melihat adanya tempat sampah kecil yang berdampingan dengan kotak amal. 

Apakah keberadaan sandal itu hanya terjadi di masjid yang saya kunjungi bersama teman dari Makassar itu? Pertanyaan inilah yang akhirnya terjawab oleh saya. Yaitu saat saya salat jamaah di masjid dekat rumah tinggal teman saya. Yaitu saat salat Magrib dan Isyak. Saya menemukan hal yang sama. Bahkan ada beberapa hal yang jauh lebih dari itu. Satu hal yang mungkin harus saya kemukakan kepada sahabat yang mengundang saya ke Kayuagung. 

Mungkinkah budaya seperti itu dapat menjadi koreksi di kelak kemudian hari? Pasti. Saya yakin sekali.

Kayuagung-Jakarta, Juli 2011.

Refleksi Lima Tahun, Agustus 2006-Juli 2011

Keistimewaan saya temukan pada Sabtu tanggal 30 Juli 2011, kemarin. Yang pertama adalah karena hari itu merupakan hari terakhir bagi kami menunaikan tugas setelah pelantikan pada tanggal 17 Agustus 2006, bersamaan, tentunya, dengan upacara bendera tujuhbelasan. Hari kemerdekaan RI. Lima tahun mengemban amanah bersama, tentu suatu hal yang membahagiakan bagi kami para 'pasukan sembilan'. Meski saya adalah bagian kecil dari gerbong tersebut, tetap saya ingin menjadikan hal itu sebagai sebuah kebahagiaan. Wa bil khusus bagi saya pribadi.

Yang kedua, karena hari itu juga saya menemukan bungkusan kado terletak di meja kerja saya. Kado itu langsung saya masukkan ke dalam barang pesanan istri, yang memang telah mewanti-wanti untuk membawa bungkusan yang terdapat di atas meja kerja saya. Jadi ketika menemukan ada bungkusan kado yang lain, saya menagnggapnya itu bagian dari pesanan istri. Jadilah saya langsung memasukkan bungkusan terpisah itu ke dalam plastik titipan istri tanpa terlebih dahulu membaca tulisan yang terdapat pada bungkus kado.

Baru setelah hari menjelang siang dan rapat terakhir kami akan dimulai, ada pesan yang sampai kepada saya agar membawa pulang kado tersebut. Disampaikan juga bahwa kado tersebut berasal dari partner saya yang selama lima (5) tahun ini menjadi teman kerja dan sahabat yang baik bagi saya.

Dan ketika rapat berlangsung, kami menyadari bahwa selama lima tahun ternyata tidak terlalu lama. Saya pribadi merasakan bahwa selama lima tahun itu banyak sekali momen yang tidak saya hadiri atau saksikan. Dan tahu-tahu waktu telah berjalan lima tahun. Waktu yang menjadi durasi bagi kami untuk mengabdi. Dan rapat pada hari itu adalah rapat penutup bagi durasi yang berjarak lima tahun tersebut.

Pernah dalam suatu saat di waktu itu saya menyesali kesanggupan saya untuk ikut serta dalam gerbong 'pasukan sembilan' itu. Karena setelah ikut serta, saya sadar bahwa keberadaan saya dalam gerbong tersebut tidak memberikan warna yang signifikan. Katidak bermaknaan itu mengingat momen yang ada, yang telah mereka disain untuk terjadi, saya berhalangan untuk dapat menghadirinya. Itulah penyesalan saya.

Tetapi, lima tahun telah berakhir pada rapat akhir yang terjadi pada siang itu. Dan saya selain berucap alhamdulillah atas kurang dan mungkin lebihnya, yang telah Allah karuniakan kepada kami, kepada saya. Juga mohon maaf dan ampun atas kekurangan, khilaf, dan kesalahan.

2006-2011.

29 Juli 2011

Jemuran Baju di Minggu Pagi

Sore ini, saya pulang kantor dan terhambat macet di seputar taman kota yang ada di pangkal jalan Thamrin, Jakarta. Namun bukan jalanan yang penuh sesak oleh kendaraan yang menjadi perhatian saya kali itu, bukan sama sekali. Saya jauh lebih tertarik untuk memperhatikan bagaimana derasnya air memancar dari penyiram taman otomatis bergerak secara teratur ke arah kanan dan kiri dengan irama yang tetap. Dengannya, maka tanah yang ada pada lebih kurang radius empat (4) meter menjadi basah. Tampak sekali bahwa tanah basah itu telah membuat tanaman yang ada begitu hijau, sehat, dan segar. Menumbuhkan rasa sejuk ketika para penduduk kota, seperti saya, menatap dan berada di sekitar taman kota itu.

Keberadaan penyiram otomatis yang memancarkan air secara terus menerus dalam tempo yang relatif lama itu membangkitkan pengalaman buruk yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya. Ketika saya ikut tinggal bersama keluarga Australia yang tinggal di kota Adelide, South Australia. Pengalaman buruk yang pada akhirnya menjadi kenangan lucu buat saya pribadi. Kelucuan itu justru lahir saat saya menghubungkannya dengan perilaku ndeso yang tetap menjadi trade mark saya.

Beginilah lebih kurangnya cerita saya itu:

Pagi hari, pada sebuah hari Minggu, seingat saya itu adalah hari Minggu yang ketiga setelah saya tinggal di rumah keluarga tersebut, saya bangun paling padi di rumah itu. Maklum, selain harus menunaikan solat, saya kebetulan kedingingan dengan suhu yang ada. Meski sepanjang tidur, kasur yang kebetulan ada penghangatnya selalu saya posisikan on. Tapi tetap saja kedinginan. Dan ini mungkin juga bagian dari ke-ndeso-an saya yang lain.

Karena sudah minggu ke tiga, pasti terbayang berapa stel pakaian yang mesti saya cuci. Meski saya berprinsip berpakaian tidak boros. Tapi tetap saja hari itu jadwal harus saya adalah mencuci. Dan karena siang keluarga itu akan mengajak saya jogging di sekitar rumah yang kebetulan tidak jauh dari pantai, maka pagi adalah waktu yang peling tepat bagi saya untuk mencuci.

Beruntung, sehari sebelumnya Ibu yang saya tinggali telah memberikan kursus singkat kepada saya tentang bagaimana mencuci pakaian dengan mesin cuci yang dimilikinya. Oleh karenanya, sembari saya mengingat-ingat instruksi yang telah diberikan kemarin, pagi itu saya masukkan seluruh pakaian kotor saya ke dalam mesin cuci. Semua lancar saya kerjakan. Pakaian saya jemur di halaman belakang rumah yang berupa taman rumput. Tentu dengan menggunakan hangar yang tersedia di jemuran.

Beres mencuci dan menjemur pakaian, saya kembali ke kamar yang persis ada di samping halaman dimana saya menjemur pakaian tadi. Saya membuka kembali buku catatan dan meneruskan membaca novel yang saya bawa dari Jakarta. Hingga saya dikagetkan oleh suara air yang memancar keras dari arah taman di belakang kamar saya. Saya beri tanda berhenti membaca pada halaman buku yang sedang saya baca dan menengok keluar rumah melalui jendela kamar.

Dan saya terkejut luar biasa. Rupanya di halaman taman rumah itu terdapat penyiram tanaman otomatis yang tiba-tiba memancarkan air secara deras dan kencang. Dan air itu antara lain menyiram seluruh pakaian yang baru saja saya jemur. Alamak... pikir saya.

Reflek, saya segera keluar kamar dan mencoba menyelamatkan jemuran saya. Namun apa hendak dikata, sebelum saya berhasil menyelamatkan jemuran saya dari semprotan otomatis tersebut, semprotan itu telah kembali mengarah pada pakaian. Alhasil, saya pun tersiram. Maka saat itu juga saya tertawa sendirian di halaman belakang rumah sembari meninggalkan jemuran yang telah basah kuyup lagi. Termasuk pakaian yang saya kenakan.

Saya segera beranjak masuk rumah sebelum penghuni rumah yang lain memergoki kekonyolan saya di Minggu pagi itu.

2011-2000-2011.


Cerita Teman Saya, yang Kepala Sekolah

Saya membaca berita http://megapolitan.kompas.com/read/2011/07/29/10311085/Kepala.SD.Bekukan.Komite.Sekolah hari ini, Jumat tanggal 29 Juli 2011. "Kegiatan belajar mengajar di SDN Bambu Apus 04 Pagi di Jalan Laksamana VIII, Perumahan Padepokan TMII, Kelurahan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (28/7/2011), telah berjalan normal seperti biasa. Sebelumnya pada Rabu (27/7/2011), terjadi penyegelan yang dilakukan oleh wali murid. Aksi penyegelan ini terjadi karena adanya tuntutan para wali murid untuk mengganti Kepala Sekolah SDN Bambu Apus 04 Pagi..."
Berita itu masih berlanjut tentang dugaan korupsi yang dituduhkan oleh pihak orangtua siswa terhadap oknum kepala sekolah tersebut. Deg, saya jadi teringat dua teman baik saya yang menjadi guru dan kepala sekolah di sekolah negeri. Dua-duanya mejadi sahabat saya sejak masih di bangku Sekolah Pendidikan Guru. Keduanya juga adalah sosok guru yang pendidik. Setidaknya itulah keyakinan saya. Dan keyakinan itu juga memastikan (semoga Allah melindunginya dari perbuatan tercela. Amin), bahwa keduanya adalah sosok yang tidak korup.

Teman saya yang guru, sekarang sudah berada di golongan IV A. Mentok hingga ia berhasil membuat penelitian. Dengan golongannya itu, ia mendapat lebih dari dua kali untuk ikut serta menjadi peserta seleksi kepala sekolah yang diselenggarakan instansinya. Dua kali juga ia berada di urutan lima (5) besar kandidat di kecamatannya. Dari urutan itu, maka atasannya akan memberikan kesempatan untuk maju terlebih dahulu dan syukur-syukur nantinya terpilih sebagai kepala sekolah definitif. Namun dua kali juga ia menolak menjadi kepala sekolah. Penolakannya karena dirasakan dia tidak 'siap' sebagaimana isyarat yang diberikan oleh salah seorang selektor kepala sekolah.

Karena ia tidak akan 'siap', maka pengangkatan kepala sekolah jatuh kepada nama selain dia. Begitulah yang menjadi prinsip teman saya yang guru ini. Ia tidak akan 'siap' atau bahkan 'menyiapkan' sesuatu yang berada diluar kompetensi seorang kepala sekolah. Yang pada ujungnya, jabatan kepala sekolah itu tidak akan pernah menghampirinya.

Oleh karenanya, hingga detik ini, saat saya menulis artikel ini, ia tetaplah seorang guru. Meski golongan kepangkatannya, usianya, pendidikannya, kompetensinya, telah mencukupi untuk menjabata sebagai seorang kepala sekolah di sebuah sekolah negeri.

Teman saya yang lain adalah kepala sekolahdi tingkat sekolah dasar. Ia sekarang ini sedang sibuk luar biasa untuk berkompetisi menjadi pengawas pendidikan. Sebuah jabatan yang secara struktural lebih tinggi dari jabatanya sekarang ini.
  • Apa motivasi untuk menjadi pengawas sekolah? Bukankah pengawas sekolah tidak akan mengelola dana BOS atau dana APBN/D? Tanya saya suatu kali ketika kami berkumpul untuk saling berbagi cerita beberapa bulan yang telah lalu.
  • Disitulah nikmatnya Gus. Menjadi pengawas sekolah berarti adalah saya terbebas dari mempertanggungjawabkan dana yang memang sulit dipertanggungjawabkan. Jelasnya. Saya memang tidak berusaha untuk mengejar apa yang dia maksud dari kalimatnya tersebut. Namun teman lain yang berada di sebelah kami memberikan penjelasan betapa jabatan kepala sekolah juga menjadi 'mengerikan' bagi teman-teman saya itu.
Dari sinilah saya mencoba merefleksikan isi berita yang alinea pertamanya saya muat di awal tulisan saya ini. Yaitu cara pandang yang harus saya pegang pada saat membaca, melihat, mendengar berita atau kabar seperti itu dengan penuh kehati-hatian, cermat, holistik, dan sabar. Inilah prinsip saya. Prinsip ini penting buat saya sendiri karena saya tidak ingin menjadi bahan atau barang yang ringkih dan mudah terbakar. Mudah tersulut atau bahkan disulut.

Jakarta, 29 Juli 2011.

05 Juli 2011

Catatan Perjalanan

Sabtu, 2 Juli 2011, menjadi tanggal yang istimewa untuk adik saya. Karena pada tanggal itulah ia melangsungkan pernikahannya. Juga bagi kami sekeluarga, merasakan kebahagiaan itu. Karena pada hari itu kami semua berkumpul dari berbagai tempat dan dari berbagai generasi.

Saya sendiri, untuk menghadiri acara itu dengan serombongan keluarga besar. Yang selain bertujuan untuk menghadiri dan menyaksikan acara pernikahan juga untuk mengunjungi tempat yang saat itu kami anggap wajib kami kunjungi sebagai tempat rekreasi. Tentu tempat yang memiliki kedekatan dengan acara adik.

Perjalanan menuju lokasi dimana adik saya menikah, kami lalui dengan perjalanan lebih kurang 14 jam dari Jakarta, dimana kami tinggal. Menempuh jalur selatan Jawa Barat hingga Jawa Tengah. Alhamdulillah, tidak ada kendala yang kami jalani. Semua berjalan lancar. Jalanan yang sebelumnya kami perkirakan akan bertemu kemacetan, mengingat cerita beberapa teman yang dua pekan sebelumnya melalui jalur itu, tidak kami temui. Pukul 10.00 kai telah melewati Nagrek yang relatif lancar. Demikian juga pada saat kami melalui Malangbong. Semua kendaraan berjalan dengan baik dan lancar. Memang ada sedikit kendala yang berupa jalan rusak di daerah Karang Pucung, Jawa Tengah, tetapi kai sama sekali tidak menemui kesulitan, selain memang mengurangi kenyamanan dalam perjalan. Selebihnya lancar. Selepas waktu Isyak, kami telah sampai rumah tujuan kami di perbatasan Jawa Tengah dan DIY.

Selama perjalan kami menghadiri acara pernikahan adik saya, sempat kami berkunjung ke tempat wisata yang ada di daerah Gunung Kidul. Yaitu, Pantai Baron, Pantai, Kukup, Pantai Sepanjang, dan Pantai Krakal. Sebuah lokasi pantai yang beda dari pantai yang ada wilayah selatan Jawa. Karena daerah ini adalah daerah karst. Maka disitulah kekhasan dari pantai-pantai yang ada di daerah Gunung Kidul. Keempat pantai itu, ditampah satu lagi pantai Drini, adalah pantai-pantai yang berada saling berdekatan, dengan satu pintu masuk. Jarak antara Pantai Baron di arah barat dengan Pantai Krakal di arah timur, lebih kurang 8 kilometer.

Ada banyak penginapan terdapat di Pantai Baron, Kukup, dan Krakal, jika suatu kali Anda menginginkan bermalam di daerah pantai itu. Sememtara kami sekeluarga memilih bermalam di Kukup, setelah wisma yang kami inginkan sebelumnya penuh. Sebuah wisma yang bernama Kampoeng Baron, yang berada di bukit, setelah pintu masuk atau gerbang pantai.

Perjalanan kami di Gunung Kidul meninggalkan kesan yang menyenangkan. Selain infrastruktur jalan yang mulus, juga menemukan keindahan alam khas pegunungan. Bahkan jika Anda menginginkan berkunjung ke sana, sempatkan untuk singgah di Patuk, lebih kurang 4 atau 5 kilometer dari perempatan lampu merah Piyungan, yang menjadi pintu masuk ke Gunung Kidul dari Yogyakarta, untuk melihat kota Yogyakarta dari atas bukit. Malam hari akan menjadi waktu yang sangat memesona. Karena lampu kota akan meninggalkan kesan indah.

Pulang ke Jakarta, kami singgah ke Goa Jatijajar yang berada di perbatasan Kabupaten Kebumen dan Banyumas. Ada makanan khas yang kami ingini di lokasi ini. Yaitu pecel dengan tambahan kecombrangnya. Juga minuman tradisi yang bernama wedang uwuh. Lima ribu rupiah satu gelasnya.

Hambatan perjalanan baru kami temui ketika kami keluar dari Kabupaten Cirebon dan masuk di daerah Indramayu hingga Simpang Jomin. Ini karena ada beberapa titik jalan yang sedang di perbaiki sehingga jalan satu jalur harus dibagi menjadi dua arah.

Namun, dalam seluruh perjalanan yang kami lakukan itu, kami nilai sebagai perjalanan yang menyenangkan. Sebuah pengalaman yang baik bagi keeratan diantara kami sekeluarga.

Jakarta, 5 Juli 2011.