Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 Mei 2009

Prosedural


Dalam sebuah lembaga sekolah yang terdiri dari guru, karyawan dan kepala sekolah, meski tidak semua model interaksi dan pola komunikasi sesama mereka yang ada di dalamnya dibuat tertulis atau dibuat SOP, selalu ada patokan yang esensial, yang harus dan wajib dilakukan oleh komunitas di dalamnya. Ini tentunya juga yang berkaitan dengan sopan santun atau tata krama yang menjadi wewenang dan kewajiban para personalnya.

Tulisan ini akan mengemukakan satu perilaku yang mudah-mudahan kita dapat jadikan sebagai pelajaran untuk menjadi dewasa dalam menjalani hidup harmoni dalam keluarga yang bernama sekolah. Yaitu tentang prosedural. Prosedural dalam berkomunikasi dengan pihak luar sekolah.

Begini ceritanya: Seorang teman kepala sekolah yang terkaget-kaget menerima pertanyaan dari salah satu orangtua siswa yang ingin menyampaikan alat sekolah putrinya yang tertinggal. Orangtua itu bertanya: Bu, dimana lokasi diselenggarakan tes bakat? Pertanyaan yang sederhana yang berkenaan dengan kegiatan siswa namun rupanya dia tidak memiliki informasinya. Lalu sebagai kepala sekolah, kawan saya ini mencoba menyembunyikan bingungnya di hadapan orangtua. Dia mengajak orangtua ini masuk ke ruang admission, lalu menanyakan ruangan yang digunakan untuk tes.

Dan setelah masalah selesai dengan pertanyaan orangtua tersebut, Ibu kepala sekolah ini lalu melakukan investigasi atas ketidaktahuannya itu. Akhirul kata, bahwa ada satu dari guru koordinatornya, selaku penanggungjawab tes bakat tersebut, yang mengadakan kegiatan dengan melibatkan orang luar tanpa sepengatahuannya. Itulah penyebab ia menjadi linglung dihadapan orangtua. Surat keluar tidak mencantumkan dirinya selaku penanggungjawab sekolah.

Dan untuk memperbaiki keadaan tersebut, dilakukannya pertemuan klarifikasi. Klarifikasi adalah penyadaran bersama bahwa arus informasi dalam sebuah lembaga haruslah menganut prinsip kerucut. Dan hal inilah yang mereka sebut sebagai prosedural. Meski kecil informasi itu, tapi memiliki implikasi besar jika dilihat dari prinsip sistem dan sinergi di dalam sebuah lembaga. Inilah esensi sebuah bentuk komunikasi prosedural dalam sebuah lembaga.

Tetapi ketika cerita ini disampaikan kepada saya, saya memberikan 2 kemungkinan mengapa hal ini terjadi. Pertama, saya beranggapan bahwa koordinator tes bakat ini merupakan guru baru atau guru yang masih perlu belajar menjadi bagian dari organisasi. Kedua, Guru koordinator tes bakat ini adalah guru yang memang tidak lagi memandang anda sebagai kepala sekolahnya?

Saya tentunya mengembalikan ini kepada teman saya. Model mana yang akan dipilihnya. Atau bahkan bukan model yang mana-mana?

Jakarta Timur, 26 Mei 2009.

21 Mei 2009

Pendidikan Moral, Nilai Tambah atau Nilai Inti?

Dapatkah kita memperoleh hasil yang relatif berarti tentang pembelajaran moral dari sebuah interaksi pendidikan di sekolah kita dewasa ini? Dimana selain hasil Ujian Nasional yang setiap tahun pelajarannya selalu menunjukkan grafik peningkatan, maka juga demikiankah hasil pembalajaran moral putra-putri kita? Apakah kita cukup memiliki parameter untuk mengukurnya sebagaimana kita memiliki alat ukur untuk keberhasilan akademik mereka? Atau mungkinkah kita tidak begitu perduli dengan kompetensi perilaku siswa kita karena hasil belajar akedemik adalah satu-satunya hasil belajar yang akan dicapai oleh sistem pendidikan di sekolah kita?

Rasulullah SAW pernah menuturkan dalam haditsnya bahwa; Aku diutus ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak. Ungkapan ini mengandung arti bahwa misi utama bagi sebuah proses pendidikan adalah lahirnya sebuah akhlak atau perilaku. Tentunya akhlak baik atau perilaku luhur. Disini kita juga dapat menilik bagaimana sebuah generasi yang hidup bersama Nabi Muhammad SAW sukses mengawal kemakmuran dunia hingga beberapa generasi sesudahnya. Sebuah konsep dan aplikasi pendidikan yang secara riil dan nyata ada dalam sejarah manusia.

Dalam rumusan lain, Nel Nodding, guru besar Emeritus di Universitas Stanford mengemukakan: the main of education should be to produce competent, caring, loving, and lovable people (Alfie Kohn, 2000:115).

Lalu apakah dewasa ini di dalam kelas-kelas di sekolah kita putra-putri kita belajar secara mendalam dan bagaimana aplikasi tentang apa, bagaimana, seperti apa ranah moral itu harus menjadi milik mereka selain juga belajar dan mengejar SKL (standar kompetensi lulusan) dalam aspek akademik yang harus didimiliki oleh siswa di akhir pada Ujian Nasional?

Belakangan ini pendidikan dengan pembiasaan moral yang baik marak dikembangkan oleh sekolah. Ini adalah perkembangan yang baik bagi Indonesia di masa depan. Namun saya melihat ini dalam dua kategori dalam mengembangkan pendidikan moral tersebut.

Pertama; adalah sekolah yang memiliki konsepsi, yang menjadikan pendidikan moral sebagai nilai tambah bagi proses belajar di suatu sekolah. Sedang konsepsi yang kedua; adalah sekolah yang menjadikan pendidikan moral sebagai nilai inti.

Pendidikan moral sebagai nilai tambah karena sekolah masih dibombardir oleh tuntutan bahwa sekolah tersebut harus tetap menghasilkan lulusan yang dapat bersaing di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Dan untuk mengejar indikator tersebut, sangat dimungkinkan melahirkan pola berpikir dari pelaku pendidikan di sekolah itu; untuk apa belajar non akademik bila hasil akhirnya hanya dilihat dari hasil ujian nasional yang menjadi modal bagi lulusan untuk masuk jenjang pendidikan berikut? Tahapan berikut dari pola berpikir ini adalah terjadinya pemisahan antara pendidikan moral dengan pendidikan akademik. lahirnya dokotomi. Sehingga ketika di depan kelas, guru tidak menjadikan pendidikan moral sebagai bagian yang inheren ketika sedang membelajarkan materi siklus hidup dalam mata pelajaran IPA, misalnya.

Pendidikan moral sebagai nilai inti bilamana seluruh aktivitas belajar yang ada di dalam kelas hanyalah sebagai sarana bagi terbentuknya moral yang diinginkan? Apapun materi yang ada dalam semua mata pelajaran di sekolah. Konsep ini tidak ada dikotomi antara moral dan materi pelajaran apapun. Karena materi pelajaran, sekali lagi adalah wahana bagi terbentuknya moralitas yang luhur yang menjadi impian kita. Inilah konsepsi yang menurut saya sebagai aplikasi pada tataran pendidikan di sekolah dari Hadits Nabi kita.

Dimana tantangan terbesar untuk menjadi agar pendidikan moral sebagai nilai inti di sekolah? Pendapat saya adalah memahamkan agar komunitas sekolah sepakat tentang konsepsi agar pendidikan moral sebagai nilai inti di sekolah. Terutama adalah mempersiapkan guru sebagai pelaku di dalam kelas.

Cipete Cilandak Jakarta Selatan, 21 Mei 2009.

19 Mei 2009

Jujur dan Terhormat

Bahwa keberhasilan seseorang dalam kehidupannya 80 % ditentukan oleh faktor kecerdasan sosial, sedang kecerdasan intelektual hanya berkontribusi 20 % dalam kesuksesan hidup seseorang. Demikian kesimpulan Goleman.

Apa yang disampaikan Goleman tersebut, sejalan dengan apa yang digagas oleh pendiri Sekolah Islam Tugasku, Ibu Rukmini Zaenal Abidin untuk menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis budi pekerti. Dan dipilihlah antara lain kata JUJUR dan TERHORMAT sebagai moto sekolah. Moto ini juga adalah bentuk aplikasi dari apa yang telah Rasulullah SAW sampaikan dalam haditsnya: Aku diutus di dunia ini tidak lain adalah untuk memperbaiki akhlak.

Artinya Sekolah Islam Tugasku, yang berdiri pada 29 Agustus 1984 lalu melihat bahwa hasil belajar tidak hanya berupa hasil akademik semata tetapi juga karakter yang mampu membentuk siswa menjadi pribadi yang cerdas akademik dan memiliki integritas emosi dan sosial perilaku yang tinggi.

Dalam perkembangan berikutnya, pada Juli 2004 manajemen dan Guru bersama-sama membangun infrastruktur untuk merealisasikan budi pekerti JUJUR dan TERHORMAT yang terdapat pada moto sekolah itu dalam bentuk intra kurikuler. Daya dan upaya itu telah menelorkan sebuah konsep pembelajaran budi pekerti atau Student Attitude dengan 10 karakter dasar.

Untuk menemukan kesepuluh karakter yang ada dalam Student Attitude tersebut kami berkumpul dan mecoba merumuskan sikap dasar apa saja yang harus dimiliki oleh siswa kami setelah mereka menyelesaikan pembelajaran? Maka hasil curah gagasan dan diskusi serta voting tersebut, kami menentukan 10 karakter. Yaitu :

1. Tanggung jawab/Responsibility,
2. Disiplin/ Discipline,
3. Jujur/ Honest,
4. Percaya diri/ Confidence,
5. Mandiri/ Independence,
6. Kerja sama/ Cooperation,
7. Peduli/ Compassion,
8. Sopan/ Courtesy,
9. Hormat/ Respect dan
10. Sabar/ Patience.

Tataran berikutnya setelah infrastruktur terbangun adalah membuat tahapan realisasi. Kita berharap jangan sampai konsep Student Attitude tersebut hanya menjadi ilmu. Tetapi harus menjadi keyakinan dan amal saleh. Secara sederhana, tataran itu kita uraikan dalam bentuk bagaimana kemudian ke-10 budi pekerti atau karakter tersebut melekat pada ingatan, pemahaman, aplikasi dan paradigma.

Pertama; aspek ingatan siswa; bahwa siswa dituntut untuk ingat 10 karakter yang ada. Solusinya adalah senam karakter yang dilakukan siswa setiap pagi saat ikrar bersama.

Kedua; aspek pemahaman; bahwa siswa harus memamahi apa yang dimaksud dengan 10 karakter yang ada memalui pembelajaran di dalam kelas.

Ketiga; aspek aplikasi dalam hidup; bahwa siswa sebelum mengapliklasi tentu harus tahu bagaimana bentuk aplikasi 10 karakter yang ada dalam hidup mereka dengan cara berdiskusi. Dan,

Keempat; Berpikir kritis berbasis karakter yang ada; dimana siswa melihat semua fenomena yang ada disekitarnya adalah bentuk aplikasi dari 10 karakter . hal ini antara lain dilakukan melalui diskusi kelas dan analisa dalam setiap laporan kerja siswa.

Dan kita sepakati bahwa, amanah membelajarkan Student Attitude itu adalah amanah bersama untuk semua guru serta komunitas sekolah dan keluarga dalam membina generasi jujur dan terhormat. Ya Allah bimbing kami untuk menjadi orang jujur dan terhormat. Amin.

Sekolah Islam TUGASKU
Direktur Pendidikan,
Agus Listiyono

17 Mei 2009

Keterbukaan dan Harga Diri

Ini adalah pengalaman lama. Menjadi salah satu dari lima anggota tim kecil yang merupakan wakil guru/karyawan, yang dipilih oleh teman-teman kami, dengan tugas menyusun pokok-pokok ketentuan sebuah lambaga kesejahteraan. Sebuah lembaga bersama yang dilahirkan dengan maksud untuk kesejahteraan guru/karyawan.

Kami, para wakil berkumpul dan menginap di suatu tempat guna menyelesaikan draf ketentuan. Dan untuk memudahkan serta mengefektifkan waktu yang kami miliki, satu dari kami telah membuat draf tersebut dalam bentuk soft copy. Sehingga sepanjang pertemuan yang kami rancang, adalah mendiskusikan pasal per pasal hingga ketentuan tersebut dapat dijadikan panduan. Dan tahap terakhir dari perjalanan draf itu adalah menyajikannya kepada para wakil unit-unit yang ada di lembaga kami, mendiskusikan kembali sekaligus membuat draf itu menjadi sebuah keputusan.

Dan pada tahap terakhir inilah pengalaman berharga yang mungkin dapat kita jadikan catatan perenungan. Dimana kata per kata yang terdapat dalam draf yang kami hasilkan saya sajikan kepada para wakil unit lembaga tersebut. Dan dalam forum ini para peserta masih dimungkinkan untuk andil dalam penyempurnaan dokumen. Bagian-bagian dari ketentuan itu yang menurut kami sebagai tim awal telah sempurna, dalam forum diskusi mendapat masukan, tambahan argumentasi dan koreksi. Saya sebagai moderator forum mengakomodasi apa yang terjadi dalam forum secara proporsional.

Namun apa yang saya peragakan sebagai ketua tim kecil dan sekaligus moderator sepanjang diskusi, tidak mendapat dukungan tulus dan penuh oleh salah satu teman saya yang juga anggota dari tim kecil. Pada sesi isoma, teman saya itu datang pada saya dan berkata: Pak Agus, Bapak jangan terlalu mengakomodir masukan mereka. Karena itu memperlihatkan bahwa seolah-oleh kita tidak bekerja maksimal. Terlihat bahwa kita tidak pintar (?). Jaga harga diri Pak. Jadi di sesi nanti Bapak jangan teralu akomodatif.

Saya kaget dengan masukannya itu. Saya terdiam. Tidak mengangguk dan juga tidak menggelang. Kaget saya terutama adalah pada pernyataannya bahwa jika kita sebagai tim kecil terlalu mengakomodir pendapat orang diluar tim menunjukkan bahwa kita tidak pintar. Dan itu berarti pula bahwa kita tidak memiliki harga diri.

Saya justru berpikir bahwa, dengan cara inilah kita melakukan sosialisasi hasil kerja kita dan sekaligus menyempurnakannya sebelum akhirnya menjadikan hasil kerja tersebut sebagai ketentuan yang mengikat.

Dan jika ketentuan tersebut hanya merupakan hasil dari tim kecil ini yang menjadi panduan, tanpa menghiraukan masukan dan koreksi dari tim yang lebih besar, karena gengsi dari tim kecil tersebut, bukankah itu berarti bahwa kita otoriter, one way, tertutup? Dan bukankah ini juga akan menjadikan harga diri kita rendah?

Saya menduga bahwa kita semua benci dengan sikap-sikap feodal itu, tetapi lupa bagaimanakah bentuk aplikasi dari sikap buruk itu ketika kita memegang kewenangan. Sekecil apapun wewenang yang diamanahkan kepada kita?

Jakarta Barat, 17 Mei 2009.

Model Pintu dan Gaya Kepemimpinan

Adakah hubungan antara model pintu ruangan anda dengan gaya kepemimpinan anda di sekolah, atau mungkin di manapun anda berada, jika anda adalah pemimpin, sekecil apapun kepemimpinan anda? Nah berikut ini saya akan menyampaikan anekdot berkenaan dengan pintu ruang kepala sekolah, karena kebetulan saya bekerja di sekolah.

Sejak tahun-tahun awal saya menjadi guru hingga sekarang, saya punya beberapa kepala sekolah dengan berbagai model atau gayanya dalam memberdayakan kami sebagai guru, dan juga model pintu ruangannya.

Nah khusus berkenaan dengan pintu ruangannya, meskipun sangat mungkin pintunya itu bukan didesain atas permintaannya, tetapi saya melihatnya bagaimana beliau ini memperlakukan pintunya.

Pertama; Pernah saya melihat ada ruangan kepala sekolah yang disampingnya tertulis kata ADA atau TIDAK ADA. Dua kata itu bisa berganti. Administratur sekolah atau TU akan memasang kata ADA atau TIDAK ADA sesuai dengan posisi kepala sekolah. Jika kepala sekolah sedang ada rapat dinas di kecamatan, maka administratur sekolah akan menempelkan kata TIDAK ADA. Mengapa harus ada kata-kata itu? Karena kita tidak dapat mengakses apakah kepala sekolah sedang berada di ruangan atau tidak. Mengingat pintu ruang kepala sekolah selalu tertutup rapat. Dan mengapa tertutup rapat? Ya mungkin agar udara ruangan yang berpendingin supaya tetap dingin.

Kedua; Pernah juga saya melihat pintu ruang kepala sekolah tetap tertutup meski tidak dengan model keterangan ADA atau TIDAK ADA. Dan kebetulan saya sendiri pernah mencoba membukanya karena suatu kepentingan, dan ternyata ruangan dikunci dari dalam. Mengganggu? Tanya saya. Tidak, saya hanya sedang mempersiapkan lomba nasional. Jawabnya. Rupanya Bapak kepala sekolah sedang mengikuti lomba nasional yang harus dipersiapkan. Dan agar tidak terganggu dikuncinya pintu ruangannya.

Ketiga; Dan pada tataran terakhir saya menjadi guru, saya juga melihat ada kepala sekolah yang selalu membuka pintu kerjanya. Juga kisi-kisi gordinnya yang selalu terbuka. Hingga kita semua dapat melihat apa yang dilakukan kepala sekolah itu di dalam ruangannya ketika di depan pintunya atau di samping jendela ruangannya.

Dari anekdot model pintu jika dihubungkan denga gaya kepemimpinan, saya memiliki pendapat sebagai berikut: Pintu tertutup; memberikan pesan bahwa anda adalah pemimpin yang penguasa. Sulit ditemui atau tidak mudah diakses, memiliki strata atasan bawahan yang berbeda, sulit menerima masukan, tertutup. Dan jangan sekali-kali memberikan kritik.

Sedang jika pintu terbuka atau ruangan yang mudah dilihat dari luar; memberikan pesan bahwa anda memiliki model kepemimpinan terbuka, egaliter, kontributif, transparan.

Allahua’lam bishawab.

Mind Map, 1 Desember 2006.
Jakarta Barat, 17 Mei 2009.

13 Mei 2009

Evaluasi Diri


Malam itu pukul 23.00 hari Senin tanggal 17 Maret 2008 di Bumi Perkemahan Cibubur, penanggungjawabkegiatan perkemahan dan juga panitia menyelenggarakan rapat koordinasi untuk kegiatan jurit malam yang akan berlangsung pada diniharinya pada pukul 04.00, serta persiapan wide game pada pukul 08.00. namun selain merupakan rapat koordinasi, rapat ini juga sebagai evaluasi diri.

Rapat berlangsung di tenda untuk pembina yang berada di paling ujung lapangan. Sementara suara guru yang lain melalui pengeras suara meminta seluruh peserta Pramuka untuk benar-benar memejamkan mata dan beristirahat, Saya ada diantara peserta rapat itu.

Sebagai peserta rapat, saya mensyukuri atas kegiatan evaluasi yang mereka lakukan. Evaluasi banyak mengupas hal-hal yang menjadi kekurangan sebelum pelaksanaan kegiatan itu dan juga dalam pelaksanaan nya. Ini dilakukan karena ada keluhan dari sebagain Pembina yang mengaku kecapaian karena harus menurunkan perabotan berkemah dari lantai 3 sekolah sebelum diangkut oleh kendaraan ke lokasi perkemahan. Ada yang komplain karena ada guru atau Pembina yang menjadi tim edvance (tim yang mempersiapkan segala sesuatu sebelum kegiatan berlangsung) tetapi hadir di sekolah persis jam keberangkatan ke lokasi perkemahan. Padahal sebelum jam keberangkatan tersebut banyak hal yang perlu dipersiapkan. Pos wide game Siaga yang ternyata belum terpasang bahkan sampai peserta wide game sendiri sampai di pos tersebut. Dan lain-lain.

Pendek kata, rapat koordinasi dan evaluasi tengah malam itu saya dapat sebutkan sebagai pertemuan pembelajaran. Karena seluruh guru dapat melihat dimana mereka berada dalam sebuah kegiatan besar itu. Dan itulah yang saya sampaikan di pertengahan acara (karena ketika saya berkeliling arena perkemahan ternyata rapat masih berjalan).

Sebagai sebuah komunitas, saya meminta dan mengharapkan kepada semua untuk membangun sebuah komunitas pembelajar. Dan wahana membangunnya adalah melalui pertemuan sebagaimana yang telah mereka lakukan. Mereka secara bersama melihat rekam jejak yang telah mereka tinggalkan dan bersama-sama memberi makna dari jejak tersebut.

Dan proses pemberian makna tersebut adalah proses menelanjangi diri. Maka barang siapa yang dalam pertemuan tengah malam tersebut mampu melepaskan topeng untuk tulus melihat ke dalam diri mereka masing-masing secara jujur, maka dialah yang sesungguhnya sedang membuat atau menciptakan dunia baru di masa mendatang.

Pulomas, 30 Maret 2008; Jakarta Barat, 13 Mei 2009.

Selesai Kontrak

Pemerintah dikabarkan sedang menggodok sebuah peraturan yang berkenaan dengan upah minimun guru kontrak, baik yang ada di lembaga pendidikan swasta atau negeri. Mudah-mudahan peraturan ini nantinya dapat menjadi paying hokum bagi teman guru yang masih memiliki status belum tetap tersebut.

Sebagai guru yang hingga kini berstatus pegawai swasta, saya pun memiliki pengalaman yang mungkin serupa dengan teman-teman yang berstatus kontrak. Status ini saya alami ketika mengawali masa kerja di suatu lembaga pendidikan yang baru saja saya bergabung. Dan hingga kini saya pernah memutasikan diri di empat lembaga pendidikan, sejak saya berkarir sebagai guru pada akhir tahun 1984 selepas lulus dari bangku SPG. Yang alhamdulillah semua mutasi itu saya lakukan tersebut demi mimpi saya untuk terus peningkatan karir dan harga diri.

Dan ada masa ketika kontrak kerja saya telah memasuki semester kedua, dimana saat itu saya memiliki satu tahun pelajaran masa kontrak , saya mencoba melayangkan beberapa surat lamaran kerja sebagai persiapan jika sewaktu-waktu kinerja saya kurang memenuhi standar lembaga. Hal ini saya lakukan murni sebagai antisipasi jika terjadi keadaan yang kurang baik bagi kelanjutan kontrak kerja saya.

Namun tanpa sepengetahuan saya, rupanya pemimpin lembaga dimana saya melayangkan surat lamaran tersebut mengenal dengan baik kepala sekolah dimana saya sedang menjalani kontrak sebagai guru. Dan ini saya ketahui manakala kepala sekolah saya memanggil saya.

Pak Agus melamar kerja di sekolah anu? Kata kepala sekolah saya membuka dialog. Benar bu. Darimana Ibu tahu saya melamar? Kata saya. Apakah ada yang salah dengan apa yang telah saya lakukan ini bu? Lanjut saya. Tidak ada yang salah Pak Agus. Pertanyaan saya justru: Apakah Pak Agus serius mau pergi dari sekolah ini? Kapala sekolah saya menanggapi.

Singkat cerita, kahirnya saya diberitahu oleh kepala sekolah bahwa kontrak kerja saya di tahun pelajaran berikutnya akan lanjut dengan status sebagai pegawai tetap. Saya gembira dan menyatakan tidak akan mengambil kesempatan interview di lembaga pendidikan yang lain. Kejadian ini berlangsung sekitar bulan Maret. Atau lebih kurang 3 bulan sebelum pemberitahuan resmi kepada saya tentang masa selesai kontrak.

Namun beda dengan aoa yang saya alami dengan apa yang dialami oleh teman saya yang sekarang sebagai kepala sekolah. Ketika ada masa kontrak gurunya akan berakhir, dan dari seluruh appraisal yang dilakukannya ada beberapa requirement atau ketentuan sebagai guru kurang memenuhi syarat dan ia menyampaikannya kepada yang bersangkutan, ini malah menjadi hambatan tersendiri. Dimana guru tersebut justru balik menyerang kepala sekolah dan lembaganya dengan berbagai trik. Termasuk misalnya, menyampaikan hasil kinerjanya tersebut kepada siswanya.

Dengan peristiwa ini saya menjadi berpikir bahwa, sebagai guru yang ada di lembaga swasta, masa depan kita sangat bergantung kepada kinerja kita. Dan inilah yang selalu saya sampaikan kepada teman-teman di sekeliling saya. Meski ide ini ada juga yang menentangnya.

Tetapi dari pengalaman dan berita yang saya dapatkan, asumsi saya ini menjadi kayakinan saya tentag masa depan saya sendiri…

Jakarta Barat, 12 Mei 2009.

12 Mei 2009

Memahami dan Dipahami

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: …man layarhamu layurham (...barangsiapa yang tidak mengasihi maka tidak akan dikasihi-oleh Allah). Dari hadits ini kita dapat pahami bersama bahwa sesuatu akan datang pada kita menakala kita telah melakukan sesuatu.

Sesuatu dalam hadits ini adalah tentang kasih sayang atau cinta. Dimana seseorang akan dicintai oleh orang yang dikenalnya, dihormati oleh orang disekitarnya, dipahami oleh sekelilingnya , tentunya setelah orang tersebut mencintai atau menyayangi, menghormati atau memahami orang lain yang dikenalnya.

Inilah dialektika yang digunakan juga oleh Stephen R Covey dalam salah satu kebiasaan bagi orang-orang sukses dalam hidupnya. Yaitu kebiasaan untuk 'mampu' memahami orang lain untuk kemudian dipahami oranglain. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang kadang masih sering dipraktekkan di lapangan sosial. Dimana orang hanya mau dipamahi atau dihormati atau dikasihi atau dipedulikan oleh orang tanpa mau belajar bagaimana untuk memahami orang yang ada di sekelilingnya.

Seperti kawan sekerja saya yang tidak mau mengerti apa yang terjadi pada orang lain. Tetapi selalu menuntut orang lain untuk paham siapa dan apa keperluan dirinya. Sampai-sampai pernah mengatakan bahwa; saya ya seperti ini. Jadi tolong dimengerti… Atau kadang dengan kata lain; usia saya sudah 35 tahun. Tidak mungkin saya merubah perilaku saya yang seperti ini. Anda harus tahu itu...

Saya pribadi kadang berpikir mengapa orang bisa begitu amat percaya dirinya bersikap seperti ini. Apakah tidak pernah ia bertanya pada diri sendiri bagaimana orang sekelilingnya melihat dia? Dan saya menjadi kasihan pada dirinya yang semestinya, dengan potensi dan kompetensinya mampu untuk menjadi jauh lebih baik dari apa yang ada pada dirinya sekarang. Namun karena sikap perilaku yang tidak mau memahami orang, maka sangat boleh jadi jika pada tahun-tahun mendatang orang lain belum berani memberikan amanah yang lebih besar atau lebih menantang yang semestinya dari atasannya.

Untuk itu, marilah kita mencoba memahami orang yang ada di sekeliling kita terlebih dahulu. Sebagai kapital kita untuk kemudian nantinya mereka memahami kita. Semoga. Amien.

Jakarta Barat, 11 Mei 2009.

Belajar Sastra


-->
Saat belajar Sastra Indonesia di IKIP M Jakarta (sekarang UHAMKA), saya begitu semangatnya mengekplorasi kesempatan untuk belajar, diskusi dan berbagi. Tentunya semua hal yang berkaitan dengan sastra. yang waktu itu menjadi perhatian. Bersama Bapak Edy Sukardi, dosen Sastra kami, antara lain kami mengadakan kuliah taman. Kita sebut begitu karena pertemuan kita dengan nara sumber berada di taman rekreasi. Dan Alhamdulillah, karena kuliah di taman jadi banyak teman datang untuk belajar sastra.

Kuliah taman yang pernah kami lakukan antara lain di Kebun Raya Bogor dengan menghadirkan sastrawan pujaan kami Seno Gumira Ajidarma atau SGA. Cerpen SGA yang kami telah kupas antara lain adalah Keroncong Kematian yang dimuat dalam buku Penembak Misterius, Pelajaran Mengarang, Sepotong Senja untuk Pacarku. Dan tentunya masih banyak.

Kami juga pernah mengundang sastrawan absurd, Danarto, yang setelah kita undangpun untuk menceritakan sisi-sisi dari karyanya yang kami anggap absurd tersebut dibeberkan makna terangnya. Tetapi tetap saja kami merasakan kesulitan luar biasa menangkap makna dari karyanya. Juga para kreator puisi, Taufiq Ismail, Slamet Sukirnanto, Yose Rizal Manua dan Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bahri dan Hamid A Djabbar.

Pada masa itu kami begitu haus untuk terus menggali kenikmatan dari karya yang mampu kita lahap. Tidak puas hanya sekedar membaca sinopsis sastra yang menjadi modal ujian.

Slipi Palmerah Jakarta Barat, 12 Mei 2009.

10 Mei 2009

Sekolah sebagai Komunitas Belajar

Sekolah sebagai komunitas belajar bila di dalamnya terjadi interaksi belajar tidak saja bagi para siswanya saja. Tetapi juga para pendidik dan seluruh komunitas yang ada. Ini pulalah yang diungkapkan oleh salah seorang tua siswa yang merasakan ketidaknyamanan karena anaknya merasa dituntut sama dengan yang lainnya oleh guru padahal si anak memiliki kekhususan
Pak, mengapa guru tidak mau belajar dengan anak saya yang memiliki keberbedaan? Ungkapnya saat bertemu dengan saya. Tentunya, pertemuan ini dia lakukan setelah pertemuan dengan Pak Guru yang bersangkutan dan kepala sekolahnya, namun ia belum merakan adanya respon yang cukup. Saya diam dan berpikir bahwa masih belum semua teman di lembaga ini yang belum sejalan dengan visi dan misi sekolah.
Sebagai sekolah swasta, maka otonomi tersebut harus digunakan untuk melakukan pelayanan kepada siswa secara maksimal. Dan ini yang kita kibarkan sebagai diversifikasi. Sebagai pembeda. Agar siswa bar uterus mencapai target sehingga biaya operasional sekolah dapat terus dipertahankan. Misalnya dalam pelayanan terhadap keunikan siswa. Baik dalam gaya belajarnya maupun dalam kemajemukan kecerdasan yang dimiliki siswa. Belum lagi kekhususan yang dipunyai siswa. Maka menyeragamkan tuntutan terhadap kompetensi siswa berarti sebagai inkosistensi dari komitmen tersebut di atas.
Oleh karenanya, saya berinisiatif untuk berkumpul dengan seluruh guru di sekolah hari itu juga. Dan hari itu adalah hari penerimaan rapor. sehingga dapat dipastikan bahwa guru pada saat itu sedang dalam puncak kelelahannya. Tapi menunda pertemuan adalah saat yang sangat tidak efektif bagi sebuah pembelajaran. Maka saya meminta kepada tiga kepala sekolah, KB, SD dan SMP yang menjadi tanggungjawab saya, untuk memberikan informasi kepada stafnya masing-masing guna berkumpul dalam sebuah pertemuan di Plasa TK.
Tiga hal yang saya minta perhatian mereka. Pertama, adalah ajakan kepada seluruh guru untuk menjadikan sekolah dan seluruh aktivitas serta interaksinya sebagai komunitas pembelajaran dengan memahami setiap siswa kita secara penuh dan empati. Empati adalah kompetensi guru dalam memahami seluruh siswanya tanpa kecuali. Memahami siswa hanya dapat hadir dan menjadi energi yang berbuah empati jika guru hadir di dalam kelas secara jasmani dan rohani, jiwa dan raga. Memahami siswa adalah mampu meredam kesabaran kemudian mendengar.
Kedua, sekolah sebagai komonitas pembelajaran, maka harus kita bangun keterbukaan antar sesama komunitas yang ada di dalamnya untuk saling mendengar, saling memahami dan untuk saling belajar dari orang lain. Dari teman di kelas sebelah atau juga dari siswa.
Ketiga, sekolah sebagai komunitas pembelajaran maka kita harus membangunnya dengan cara membuang kesungkanan dalam berkomunikasi. Tenggang rasa memang suatu keharusan. Tetapi terlalu menenggang perasaan orang justru dapat menjadi pintu bagi terjadinya proses pembusukan. Proaktif adalah kunci dari komuniasi. Proaktif artinya tidak menunggu. Dan keempat, adalah ajakan saya agar kita sebagai anggota komunitas ikhlas saat berbagi pengalaman baik kepada teman. Agar kita tidak saling menyembunyikan ilmu yang kita punya.
Slipi Palmerah Jakarta Barat, 10 Mei 2009.

05 Mei 2009

Memilih Sekolah

Memilih sekolah untuk si buah hati bagi orang tua tertentu, merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan perlu ketelitian. Hal ini karena masih sedikitnya informasi yang diberikan media massa berkenaan dengan sekolah-sekolah atau langkanya panduan sekolah-sekolah di tingkat dasar dan menengah sebagaimana yang telah ada di tingkat perguruan tinggi. Hal ini menambah peliknya perburuan sebuah sekolah.

Kepelikan memilih sekolah ini komplek sifatnya. Karena harus mempertimbangkan beberapa aspek. Baik aspek internal, yaitu aspek yang datang dari kita sebagai orang tua dan anak itu sendiri, seperti kemampuan dan kecenderungan anak yang ingin kita sekolahkan, jarak sekolah dari rumah, jenjang pendidikan yang dipilih, hingga keuangan. Sedang aspek yang datangnya dari luar kita, aspek eksternal, terdiri dari bentuk sekolah, status sekolah, dan sistem persekolahan yang dianut.

Aspek yang datang dari kita sebagai orang tua, adalah aspek yang masing-masing kita dapat mengukur dan menganalisa sendiri. Karena aspek ini amat dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tentu telah dapat mempertimbangkan apakah mungkin jika si kecil harus berangkat dari rumah pukul 6 pagi untuk menuju ke sekolah? Dan lain sebagainya.

Sedang aspek eksternal adalah adalah semua aspek yang ada diluar jangkauan kita. Yaitu tentang sekolah itu sendiri. Bagaimana bentuk dan model sekolah itu, pola pembelajaran serta interaksi guru-siswa atau siswa-siswa dan juga dengan orangtua, administrasi atau pembiayaan, dan lain-lain.

Maksud paparan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang bagaimana memilih sekolah yang baik dan cocok bagi masa depan anak, terutama bagi kita yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Karena keberhasilan anak kita di masa depan adalah bagaimana bentuk dan model pembelajaran yang anak kita terima pada hari ini. Oleh karena itu maka deskripsi sekolah yang kita inginkan adalah sekolah yang memberi keterampilan pada siswa untuk berhasil mengarungi hidup pada zamannya nanti.

Benyamin Bloom membagi dalam tiga ranah tujuan pembelajaran. Yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiganya saling barkaitan dan saling menguatkan. Dengan melihat apa yang dikemukakan Bloom dengan ketiga ranah pembelajarannya, maka sekolah yang mendisain pembelajaran seperti itulah yang dapat membekali siswanya untuk terampil menghadapi tantangan masa depan.

Pemenuhan hanya pada satu ranah dari ketiga ranah tersebut akan memunculkan generasi pincang. Yaitu generasi yang pandai pada penguasaan ilmu pengetahuan, jika sekolah hanya mengeksplorasi ranah kognitifnya, tetapi generasi yang rapuh dalam bersosialisasi pada sesama dan lingkungannya. Demikian pula pemenuhan pada salah satu aspek yang lainnya. Hal ini bersesuaian dengan fitrah manusia yang telah Tuhan gariskan.

Mayoritas sekolah di Indonesia terlalu asyik untuk mengejar nilai hasil ulangan yang tinggi, yang semuanya hanya bertumpu pada ranah hasil belajar kognitif. Dan bila dalam ranah kognitif tersebut terdiri dari enam aspek seperti mengingat, memahami, mengaplikai, menganalisa, mengevaluasi dan mencipta, maka tiga aspek yang pertama mendominasi proses belajar siswa kita. Ketiga aspek kognitif itu dalam kisi-kisi pembuatan soal tes atau ujian disimbulkan dengan C 1 untuk mengingat, C 2 untuk memahami dan C 3 untuk mengaplikasi. Dan hanya sebagian kecil saja sekolah-sekolah yang memiliki komitmet dalam mengembangkan tiga ranah berikutnya secara integral dalam pembelajaran dan penilaian.

Yaitu sekolah yang pelaksanaan kurikulumnya secara otonom sesuai dengan tuntutan visi dan misi sekolahnya yang tidak saja melihat ’hasil’ tes sebagai hasil belajar, namun juga proses pembelajaran, attitude, dan skill. Model sekolah ini mengemukakan bahwa hasil belajar adalah sekelompok pengetahuan yang dikuasai siswa, tingkah laku, dan keterampilan, sesuai dengan tingkat usianya. Dengan melihat kenyataan tersebut di atas, maka Sekolah dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar.

Model pertama; adalah sekolah yang mengelola kurikulum dalam pembelajaran untuk mengejar target kurikulum dan daya seraf siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan, dan indikator keberhasilannya adalah nilai tes hasil belajar di akhir satuan pelajaran dan catur wulan. Indikator tes yang dimaksud adalah hasil belajar dalam aspek kognitif.
Sedang model kedua; adalah sekolah yang mengelola kurikulum dari kaca mata yang lebih holistik dalam 
pembelajarannya. Menjadikan siswa sebagai pusat atau subjek yang dibelajarkan. Memandang pembelajaran sebagai rangkaian proses yang tidak sekedar tranfer ilmu pengetahuan dalam bentuk daya seraf pada materi pelajaran, tetapi proses yang akan menghasilkan performance anak didik yang berupa sekelompok kemampuan siswa yang terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dengan melihat dua bentuk pelaksanaan kurikulum dalam pembelajaran sehari-hari di sekolah, dapatlah disimpulkan bahwa, keberbedaan tersebut berangkat dari cara pandang yang tidak sama dalam mengoperasionalkan kurikulum. Bentuk pertama memandang bahwa pembelajaran merupakan transfer ilmu pengetahuan semata. Sedang bentuk kedua memandang bahwa pembelajaran adalah proses pendewasaan individu yang akan menghasilkan performance dalam bentuk kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dengan berpedoman dengan apa yang telah penulis kemukakan di atas, maka sebagai orangtua kita memiliki kewajiban yang tinggi dalam melakukan ‘penelitian’ pada sekolah yang direkomendasikan beberapa teman. Penelitian itu dapat berupa kunjungan ke sekolah yang dimaksud, diskusi dengan para pendidik dan manajemen, selain jika memungkinkan melakukan observasi lapangan. Semua data dan fakta itulah sebagai dasar penentuan kita menjatuhkan pilihan.

(Sumber : Agus Listiyono, Harian Pelita, 17 Mei 2005).

Bekerja Keras = Bersyukur

Mensyukuri apa yang ada dengan melaksanakan atau menunaikan semua apa yang menjadi amanah di tempat kerja dengan sebaik-baiknya menurut standar kinerja yang digariskan di kantor adalah satu bentuk mensyukuri apa yang menjadi rezki dari Allah SWT. Jika kita yakini karena memperoleh pekerjaan adalah anugerah untuk kita atas kompetensi yang kita punyai atas ijin-Nya.



Inilah yang dalam bahasa pakar sumber daya manusia terkenal dengan sebutan etos. Artinya, siapa yang mensyukuri apa yang menjadi nikmat Allah SWT pada dirinya bilamana di dalam dirinya terbangun sikap kerja keras dan optimalisasi potensi dalam menunaikan amanah yang diembannya. Sebaliknya, bilamana sebagai pekerja yang mendapat amanah tetapi amanah tersebut tidak ditunaikan secara optimal, adalah merupakan indikasi orang yang tidak atau paling tidak kurang bersyukur. 

Dan di lapangan orang ini akan memiliki sifat malas dalam menunaikan tugas dan tanggungjawabnya, jika pun atasannya memberikan tambahan kerja sedikit apapun, akan menjadikan dia memiliki beban. Selalu bicara gaji yang dinilainya kurang kompetitif. Darahnya akan naik jika teman sebelahnya mendapatkan promosi jabatan karena prestasinya sekalipun. Dan seterusnya-seterusnya.

Dua keadaan yang sangat bertolak belakang. Orang-orang yang bersyukur akan melihat tambahan kerja atau pelatihan diluar jam kerja sebagai bagian dari mengembangkan kompetensi dan skill, yang akan menjadi miliknya. Mereka ini juga punya keyakinan bahwa apa yang dia ikhtiarkan sekarang ini dengan kerja keras adalah rekayasanya untuk anak tangga yang lebih tinggi dimasa depan. Sehingga mereka akan melihat apa yang dikerjakannya sekarang ini, dengan segala tambahannya dari kacamata positif. 

Sedang pada kutub sebaliknya hanya akan melihat sesuatunya dari kacamata negatif, selalu merugikannya atau bahkan jam tambahan atau tugas tambahan tersebut dilihatnya sebagai tindakan kezaliman penguasa kepadanya.

Dengan melihat itu semua, kita bersama dapat menyimpulkan dua hal. Pertama, bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita dan cara mengerjakannya adalah bagian paling pokok dalam kehidupan kita sebagai pegawai. Semakin ada peningkatan volume dan peningktan skill serta strategi dalam penyelesaian pekerjaan kita, adalah salah satu bentuk peningatan diri kita untuk menyongsong di masa berikut. 

Artinya, kerja keras akan menjadikan kita sebagai sosok yang memiliki strata berbeda di kemudian hari. Hal ini relevan dengan ayat Allah yang kurang lebih bermakna; bahwa barang siapa yang bersyukur, akan Allah tambahi kenikmatan padanya. Begitu juga kepada orang yang berperilaku sebaliknya.

Kedua, melihat apa yang ada di hadapan kita, baik tugas atau peristiwa dengan kaca mata positif. Dengan selalu mengajukan satu pertanyaan pada setiap hal tersebut: apa hikmah dibalik ini? Cara pandang positif ini, akan membawa kita menjadi manusia yang berpikir jauh ke depan dan transendental. Berpikir negatif adalah berpikir yang hanya melihat apa yang dapat dilihat oleh mata atau dirasa oleh indera kita, dengan mengabaikan makna dan implikasi yang lebih dalam dari apa yang terlihat atau yang dirasakan indera.

Dengan melihat ilustrasi tersebut diatas, menurut saya, kita dapat menarik satu benang merah bahwa, apa yang kita kerjakan sekarang adalah prediktif kita di masa depan. Allahu a’lam bishawab.

(Sumber: Agus Listiyono, Harian Pelita)

Belajar adalah Proses


Akhir pekan lalu, saya disapa seorang siswa. Dan dari cara menyapa serta gerak-gerik tubuhnya, saya meyakini bahwa siswa ini sedang meminta untuk diajak berdialog. Saya terperangah karena isswa kami ini tergolong siswa yang memerlukan perhatian lebih dari kami para gurunya. Kejadian ini di waktu siang hari pada saat pulang sekolah. Kebetulan saya menemani siswa yang belum dijemput oleh penjemputnya di halaman sekolah kami yang memang 'se-itu-itu-nya'.

Bagaimana kabar kamu selama ini? Pak Agus sudah lama tidak 'ngobrol'. Saya mengawali membuka dialog. Alhamdulillah baik Pak. Jawabnya singkat. Nilai TO saya kemarin 9 Pak. Jelasnya tanpa diminta. Saya tentu kaget dengan apa yang dia ungkapkan. Nilai sebesar itu adalah pencapaian akademik yang luar biasa untuknya. Luar biasa! Kamu hebat sekali dengan nilai itu. Bagaimana ceritanya? Kata saya. Ya Pak, saya sekarang berubah. Subhanallah. Batin saya. Anak ini membuat pernyatan untuk dirinya sendiri yang telah berubah dengan sepenuh kayakinan.

Ya, berubah. Kalimat ini tidak hanya menjadi pernyataannya tetapi juga teman-teman saya yang mendampinginya sepanjang hari di kelas. Sebuah pernyataan yang sulit untuk dilukiskan, untuk sebuah proses belajar tingkah laku. Dan ini telah benar-benar terjadi. Kami tidak berhenti mensyukuri peristiwa dan prestasi yang telah ananda kami raih itu.

Dan dalam sebuah rapat kecil saya mengungkapkan kembali peristiwa tersebut. Satu dari rekan kami menyampaikan hikmah dari kisah si anak didik kami yang 'berubah' tersebut bahwa: Pertama; Karena belajar adalah proses. Maka melihat hasil belajar membutuhkan samudera kesabaran bagi stake holder. Kedua; Karena belajar adalah proses, maka kerangka kerjanya berbingkai komitmen. Ketiga; Bahwa belajar perilaku adalah inti dari proses belajar itu sendiri. Ini adalah bentuk alikasi dari apa yang Rasulullah sampaikan 15 abad yang lalu. Keempat; Bahwa perilaku yang positif, akan berimplikasi kepada hasil belajar (kinerja jika kita yang di kantor) yang positif juga.

Jakarta, 8 Mei 2009.

03 Mei 2009

Pembelajaran Berpikir Kritis

Tulisan ini masih merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Berpikir Analisis. Adalah sebuah ikhtiar guru dalam mengaplikasikan konsep Bloom-Anderson di dalam kelas. Tulisan ini mengadaptasi apa yang ditulis oleh Michael Pohl (Learning to Think, Thinking to Lear.2000).

Keuntungan dari konsep Berpikir Bloom-Anderson tersebut jika diterapkan di dalam pembelajaran antara lain adalah:
1.Enam aspek kognitifnya dapat disajikan dalam pembelajaran yang terintegrasi dalam
area kurikulum yang berbeda (working on the same topic with different abilities).
2.Dapat Mempromosikan/mengembangkan kemampuan siswa pada taraf higher-order thinking
process. Yaitu taraf berpikir pada aspek menganalisa, mengevaluasi, dan mencipta.
padahal dalam keseharian kita yang sering kita terjemahkan dalam pembelajaran
adalah lower-order thinking: mengingat, memahami dan mengaplikasi.
3.Memahami bahwa tingkat kebolehan siswa berbeda (artinya kita harus menyadarinya dan
berpikir bagaimana mengakomodasinya dalam pembelajaran).
4.Untuk dapat mengaplikasikan pada aspek-aspek kognitif higher-order thinking, maka
kita harus melihat kata operasionalnya pada setiap aspeknya. Dari kata operasional
itulah kita dapat mendisain pembelajaran atau assessment sesuai dengan tingkat
kognitif yang diinginkan.

Aspek-aspek yang terdapat dalam ranah Kognitif Bloom-Anderson, adalah hasil belajar dalam bentuk kecerdasan intelektual. Tetapi dengan memiliki keterampilan berpikir analitik-kritis, merupakan modal dasar bagi siswa untuk melakukan ‘penyaringan’ berdasarkan akal.

Eri Sudewo dalam sebuah artikelnya menulis: Karena hanya menghafal dan angka tahun, peristiwanya luput dimaknai. Karena tak tahu peristiwanya,benang merah misteri yang membalut peristiwa dari masa ke masa juga sulit disidik. Karena tak bisa disidik,kemana bergeraknya juga sulit diprediksi. Karena gagal memprediksi, itu tanda berpikir kritis tidak dilatih. (Erie Sudewo, Republika, 20 Februari 2008.

Higher-order thinking, yang terdiri dari C 4 (cognitive 4)-C6, merupakan aspek berpikir yang akan melatih siswa untuk berpikir kritis, terbuka, adil, obyektif dalam menanggapi apa yang datang dari luar berdasarkan kriteria atau parameter yang dipegangnya.

Untuk mencapai kompetensi siswa yang mampu berpikir dari aspek mengingat hingga aspek kritis-analitis dan eveluatif, maka di dalam kelas guru dapat menjadikan kerangka berpikir dalam aspek kognitif Bloom-Anderson dalam pembelajaran sehari-hari.
Berikut ini adalah sebuah rencana pembelajaran dengan Tema Semarang. Dimana siswa dituntut diakhir tema pembelajaran Semarang nantinya untuk dapat:
• Mengenal obyek wisata yang ada di kota Semarang dan sekitarnya
• Merencanakan berwisata dengan biaya yang dibutuhkan dengan mempertimbangkan obyek
dan alat transportasi yang berbeda-beda.
• Mendeskrisikan beberapa bentuk pertunjukkan/kesenian tradisional yang ada di
Semarang.
• Tahu mengenai fakta geografis Kota Semarang.

Aktivitas Belajar pada Aspek Mengingat:
• Dengan peta Semarang, siswa menyebutkan pembagian wilayah kota di Semarang dengan
menyebutkan batas wilayahnya.
• Mencatat semua data atau apa saja yang mereka anggap penting, seperti pakaian
tradisional, rumah adat, tradisi sunat, jenis pekerjaan, tempat rekreasi, monumen,
museum.
• Mencatat nama pahlawan, atlet, pengarang, sekolah terkenal, atau apa saja yang
berasal dari Semarang.
• Siswa dibagi dalam kelompok, setiap kelompok diminta untuk menentukan salah satu
bentuk pertunjukkan tradisional yang mereka kenal.
• Mereka juga diminta menciptakan atau membuat game dalam bentuk; kartu ingatan, kata
berkait, TTS.

Aktivitas Belajar pada Aspek Memahami:
• Melakukan penelitian untuk kemudian menuliskan laporannya dalam bentuk Semarang
tempo dulu.
• Memilih salah satu festival rakyat yang dalam bentuk pertunjukan tradisional
(wayang kulit atau barongsai) untuk dieksplorasi: kapan pertunjukkan tersebut di
gelar, apa tujuan penggelarannya, siapa, dll.
• Membuat menu makanan khas Semarang.
• Membuat proposal perjalanan wisata
• Membuat simbol pemerintahan Semarang dalam bentuk lukisan dan memberikan arti
simbol tersebut.

Aktivitas Belajar pada Aspek Mengaplikasi:
• Memprediksi tiga mal paling pupoler di Semarang, kemudian mengecek jawabannya
melalui survey pada teman sekelasnya.
• Menentukan topik diskusi tentang Semarang: polusi, macet, kerusuhan, tawuran,
narkoba, mal, air tanah, dll.
• Tulislah surat kepada salah satu teman atau kenalan atau saudara jauh tentang
Semarang agar mereka ingin datang.
• Buatlah brosur untuk sebuah tour di Semarang.

Aktivitas Belajar pada Aspek Menganalisa:
• Menghitung jarak sebanarnya dari peta antara satu tempat rekreasi dengan yang lain,
juga hitung jumlah biaya yang diperlukan untuk berwisata ke tempat-tempat tersebut
dengan kendaraan bermotor.
• Membuat survey pada komunitas sekolah mal atau tempat rekreasi yang paling sering
mereka kunjungi.
• Buatlah sebuah penelitian mengapa Semarang sering terjadi kemacetan atau tentang
anak jalanan.
• Membuat biografi salah satu tokoh (anak jalanan atau tukang jamu juga boleh) dari
Semarang.

Aktivitas Belajar pada Aspek Mengevaluasi:
• Buatlah rencana apa saja yang akan dilakukan jika menjadi Wali Kota.
• Menilai tokoh dari Semarang untuk kemudian mencari sebab-sebab mereka menjadi tokoh
dan ditokohkan.
• Menuliskan keuntungan atau kemudahan dan kerugian atau kesulitan tinggal di
Semarang.
• Lakukan perdebatan tentang ‘Terendamnya Dataran Semarang’ atau ‘Kesulitan Air
Tanah’.
• Ungkapkan perasaanmu jika kamu harus meninggalkan Semarang untuk tidak kembali
lagi.

Aktivitas Belajar pada Aspek Mencipta:
• Dalam kelompok mereka bermain peran dengan topik Semarang: pemilihan Wali Kota,
demontrasi, keluarga anak jalanan, untuk kemudian mendiskusikannya.
• Membuat poster tentang ajakan Semarang bersih, bebas macet, bebas polusi, menanam
pohon, dll.
• Mengarang jika aku menjadi gubernur atau tentang Semarang tahun 2050.

Berpikir Analisis

Di sebuah kelas di bangku sekolah dasar. Ada siswa yang mempertanyakan keputusan pak guru yang telah menyalahkan jawaban soalnya. Siswa berpendapat bahwa jawaban di kertas ulangannya benar. Tetapi pak guru menyalahkannya.
•Mengapa kamu tidak menjawab dengan jawaban menjenguk seperti jawaban teman-temanmu?
•Iya Pak. Tetapi jawaban berdoa kan juga benar Pak.
•Mengapa kamu berpendapat benar? Kata pak guru.
•Begini pak, saudara saya waktu itu sakitnya sakit cacar. Jadi ayah dan ibuku
melarang menjenguk takut nanti saya tertular penyakit cacarnya.

Pak Guru akhirnya menyadari bahwa jawaban berdoa untuk soal ulangan hariannya yang berbunyi: Apa yang kamu lakukan jika ada teman atau saudaramu sakit? Tentu setelah mendapat penjelasan lebih lanjut dari siswanya. Cerdas! Pikir pak guru sambil memberikan koreksi dan membenarkan jawaban soal siswanya di kertas ulangan itu.

Ilustrasi itu memberikan gambaran kepada kita bahwa siswa berpikir dari tingkat yang paling dekat dengan dirinya. Meski saat latihan di buku cetak dijelaskan bahwa sikap baik jika ada teman atau saudara kita menderita sakit adalah menjenguk. Tetapi karena ia memiliki pengalaman langsung terhadap penyakit cacar air yang pernah dialami oleh saudaranya, maka jawaban yang terpikir olehnya adalah berdoa dan bukan menjenguk.

Selain itu, siswa tersebut juga telah memiliki kompetensi mengingat, bahwa penyakit cacar adalah menular. Dan salah satu cara penularannya adalah melalui kontak langsung atau bertemu. Maka ketika tidak menjenguknya, itu adalah bagaian dari upaya untuk tidak tertular. Oleh karenanya siswa tersebut sesungguhnya menjawab soal latihan ulangan dalam aspek analisa. Artinya, setidaknya dari ilustrasi diatas, sejak usia dinipun siswa telah memungkinkan untuk berpikir pada tataran aspek menganalisa. Aspek berpikir tingkat tinggi dalam ranah Taksonomi Bloom.

Taksonomi Bloom terdiri tiga domain atau ranah: kognitif, afektif dan psiomotorik. Pada domain atau ranah kognitif terdapat enam aspek yaitu aspek ingatan, aspek pemahaman, aspek aplikasi, aspek sintesa, aspek analisa dan aspek evaluasi. Sedang dalam ranah afektif terdiri dari: receiving; responding; valuing; organising; characterising. Dan domain yang ketiga dari Talsonomi Bloom adalah psikomotorik.

Benjamin Bloom mengemukakannya taksonomi ini tahun 1950an. Dalam perjalanannya, ranah kognitif dalam taksonomi ini direvisi oleh Lorin Anderson tahun 1990.

Secara singkat dapat kita jelaskan bahwa ranah kognitif Bloom-Anderson dibagi dalam enam aspek. Yaitu: (1). Remembering. Pengetahuan berdasar ingatan tentang fakta dan data; (2). Understanding. Memahami fakta dan data dalam bahasa sendiri; (3). Applying. Mengalikasikan pengetahuannya pada situasi yang berbeda; (4). Analyzing. Membuat analisa terhadap bagian/partikel, menemukan hubungan dan prinsip organisasinya dalam sebuah situasi; (5). Evaluating. Membuat penilaian, ferifikasi, dan rekmendasi berdasarkan kriteria yang ada; (6). Creating. Menciptakan sesuatu yang baru dari yang sudah ada.

02 Mei 2009

Harap Tenang Sedang Ada Ujian

Harap tenang, sedang ada Ujian Nasional. Demikian tertulis di kertas yang ditempal di kaca jendela pintu masuk sekolah. Tulisan ini memberikan isyarat kepada khalayak agar tidak memberikan suatu gangguan sedikitpun terhadap keberlangsungan ujian yang sedang berlangsung. Dan untuk saya sendiri sebagai generasi yang belum pernah mengalami sebuah hajatan yang bernama Ujian Nasional, juga memberikan kesan sakral. Maklum, ketika sekolah dari tahun 1970 hingga 1984 di bangku SD hingga SPG pemerintah belum punya ide tentang penerapan sebuah alat uji yang bersifat nasional seperti Ebtanas beberapa tahun lalu atau UN seperti sekarang ini.

Sakral?

Inilah pertanyaan yang saya sampaikan kepada putra saya yang telah berhasil menjalani UN dua pekan lalu. Pulang sekolah setelah hari pertama UN saya bertanya pada 'bujang' saya itu. Bagaimana soal UN-nya? Ya bisa terjawab semua Yah. Jawabnya.

Setleha pertanyaan seputar soal dan situasi ujian di sekolah, saya bertanya tentang contekan. Ada kiriman contekan Mas? Ada Yah. Menjelang berakhirnya waktu ujian contekan beredar. Jelasnya. Dapat dong kamu. Semua dapat. Kita bergantian. Lho, kalau memang contekan beredar di ruang ujian ketika ujian sedang berlangsung, untuk apa lagi kamu bersiap menghadapi ujian esok hari degan belajar keras? Pancing saya.

Kami biasa ngobrol dan diskusi dengannya seperti itu. Tentang apa saja, termasuk tentang apakah dia benar-benar menganggap UN ini sbagai tahapan hidup yang menjanjikan untuk masa depannya.

Ya, bocoran hanya sebagai pembanding. Aku ngak percaya 100%. Jelasnya lebih lanjut.
Tapi kan itu sudah merusak keyakinanmu atas kemampuanmu untuk mandiri dan percaya diri? Pancing saya lagi. Maksudnya, lanjut saya, kamu telah selesai dan merasa yakin dengan jawaban kamu. Tetapi masih terpancing untuk melihat contekan meski setelah itu tidak menggoyahkan keyakinan atas jawabanmu. Dan itu menjadi sia-sia buat kamu. Betul?