Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Januari 2015

Pilihannya adalah Solusi

Dalam sebuah pertemuan dengan teman-teman yang sering berlangsung secara rutin, asaya selalu mendapatkan informasi atau kisah atau curhatan tentang temannya teman-teman saya itu yang berprofesi sebagai guru di sekolah, sering sekali adalah bentuk operasional perilaku dari sebuah konsep yang baik. Dan informasi, kisah, cerita itu, sedapat mungkin menjadi catatan saya. Ini tidak lain adalah dalam rangka saya mengikat ingatan agar apa yang sudah menjadi pengalaman hidup teman-teman tersebut tidak terhampar secara percuma. Mudah-mudahan usaha saya ini benar-benar menjadi usaha saya untuk merawat hikmah hidup.

Sebagaimana yang kami telah diskusikan pada pertemuan pekan lalu itu bersama teman-teman satu perjuangan di sebuah lembaga pendidikan. Ini tidak lain merupakan bentuk perilaku sehari-hari bagi seorang guru. Yang antara lain memiliki tugas sebagai pengajar. Termasuk diantara mereka adalah teman saya yang mengemban tugas sebagai guru Mata Pelajaran Olah Raga dan Kesehatan di unit sekolahnya. Dan diantara tugasnya itu, adalah memimpin dan memandu kegiatan senam bersama di lapangan sekolah yang selalu sibuk. 

Namun bukan kegiatannya itu yang membuat saya menulis catatan ini, tetapi adalah bagaimana teman guru itu bersikap, bereaksi, dan akhirnya melakukan atas temuan yang baru saja ia temukan ketika kegiatan senam sudah harus berlangsung di pagi itu. Karena di lapangan dimana kegiatan itu berlangsung telah berkumpul seluruh siswanya dan guru-guru yang lain.

Masalahnya apa? Tidak lain adalah tape yang akan digunakan sebagai pemutar cd tidak dapat berfungsi sebagaimana yang ada diangannya. Rusak. Padahal kegiatan senam itu tidak dapat lagi tertunda meski hanya untuk berlari ke ruangan kelas dimana ia menyimpan lap topnya untuk kemudian kembali ke lapangan.

Lalu apa yang akhirnya dia lakukan? Dengan tidak membuang waktu, atau meminta pertolongan orang lain guna mengambil alat pengganti sebagai pemutar musik iringan senam, ia memulai memimpin langsung kegiatan senam itu dengan menggunakan hitungan satu hingga delapan berulang-ulang, sejak hitungan untuk pemanasan hingga pelemasan. .

Maka apa yang telah dia lakukan itu, karena normal dan tidak terlihat akan kepanikan, tidak semua orang yang mengikuti senamnya, baik siswa atau teman-teman guru, menyadari akan apa yang sebenarnya telah menjadi hambatan di awal ia memimpin kegiatan senam tersebut. 

Lalu apa yang saya dapat pelajaran dari apa yang telah teman lakukan dengan kegiatan senamnya itu? Pertama, Saya belajar berpikir praktis dan solutif. Yaitu dengan bagaimana teman itu tidak menyiratkan kepanikan dan sekaligus ketergantungannya dengan alat yang semestinya menjadi harapan utamanya. Tetapi ia langsung berpikir solusi, yaitu dengan tidak tergantung tersebut. Karena ia berpikir kepada fungsi suara sebagai alat bantunya dalam melakukan aktifitas pembelajaran.

Kedua, Saya belajar bagaimana ia tidak menyalahkan orang lain pada saat menemui kendala ketika akan melakukan kegiatan belajar. Ia, misalnya, tidak kemudian memfoto tape sekolah yang rusak itu untuk kemudian di-up load di grup WA atau BB yang anggotanya adalah semua teman guru dan Kepala Sekolahnya. Atau ia kemudian menuangkan pengalaman tidak bainya di saat akan melaksanakan kegiatan senam itu dengan menuliskannya di dinding media sosialnya. Bahkan ia sama sekali tidak berpikiran untuk mengadukan apa yang dialaminya itu dengan melemparkannya kepada pihak diluar dirinya.

Itu barangkali hikmah yang dapat saya ambil dari apa yang diceritakan teman atas apa yang dialami oleh temannya di saat melakukan kegiatan dan aktifitas di sekolahnya.

Jakarta, 30 Januari 2015.

25 Januari 2015

Terimakasih Pak BW

Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk membaca broadcash yang dikirim teman kerja di grup WA Sabtu, 24 Januari 2015 bersamaan dengan menunggu rapat dibuka. Karena dari apa yang dikirim teman itu adalah sebuah butiran hikmah yang terhampar dan nyangkut dalam alat komunikasi saya. Dan dengan itulah maka saya berkesempatan untuk menyelesaikan bacaan sebelum rapat benar-benar dimulai.

Hamparan hikmah kehidupan yang selesai saya baca itu tidak lain adalah tentang apa yang dialami oleh Pak BW sepanjang hari Jumat, 23 Januari 2015, sejak pagi hari hingga dini hari di hari Sabtu, 24 Januari 2015. Namun bukan sisi hukum yang sungguh berhasil menghentak kesadaran saya sebagai warga negara, tetapi pada sisi saya sebagai muslim yang berprofesi sebagai guru.

Ucapan terimakasih saya ini karena dengan adanya kasus Pak BW itu, justru membentangkan butiran pelajaran hidup bagi saya. Tidak saja tentang sosok Pak BW yang kemudian mejadi bahan kajian dan laporan media sehingga itu menjadi sampai kepada saya. Tetapi juga sisi atau materi berita lainnya yang terkait dengan apa yang sedang dialami oleh Pak BW. Dari sana saya belajar tentang bagaimana suksesnya seorang anak muda. Bagaimana sebuah kasus hukum dapat berlarut-larut dan atau beranak pinak, yang membuat saya yang berlatar belakang guru dapat banyak belajar.

Namun pelajaran utama dari peristiwa tersebut tidak lain adalah pelajaran dan hikmah dari sosok seorang ayah yang kebetulan sebagai pejabat negara. 

Pertama, tetap sempat mengantar anak-anaknya untuk berangkat sekolah dan kuliah sebelum ke kantor di pagi hari,  meski Pak BW bukan orang biasa. Ini kebiasaan yang tidak banyak dilakukan oleh seorang ayah yang sudah berada di posisi jabatan tinggi di negeri ini. Ini adalah bentuk komitmen kuat dari seorang ayah, seorang bapak, pada sebuah visinya dalam membangun sebuah keluarga.

Dan ini membanggakan. Karena saya di sekolah masih sering menemukan fakta akan sulitnya mengundang seorang ayah yang 'sibuk' untuk hadir ke sekolah guna mendiskusikan anandanya yang membutuhkan bantuan.

Kedua, saya belajar bagaimana mempersiapkan diri dan seluruh anggota keluarganya secara fisik dan mental  sebagai akibat dari posisi dan profesinya. Ini karena media mengabarkan kepada kami semua bagaimana ungkapan rasa dari Istri dan anaknya manakala Pak BW masih berada di kantor Polisi. Tidak ada raut muka akan kekhawatiran dan melankolis. Bahkan dalam siaran tersebut, kami mengetahui akan adanya kosa kata; "Kereeeeen Umi.".

Ketiga,  saya belajar bagaimana Pak BW begitu mencintai keluarganya. Sebagaimana media menyuguhkan gambar di ruang tamu saya setibanya Pak BW di rumah pada Sabtu, 24 Januari 2015. Beliau sampai di rumah dengan sambutan istri dan anak-anaknya. Sebuah perwujudan akan kehangatan keluarga sebagai tim, kasih sayang, dan kehangatan akan sebuah ikatan yang bernama keluarga. Sungguh menggugah hati.

Maka tidak ada kata yang layak saya sampaikan dalam catatan ini selain berterimakasih kepada Pak BW. Dan ini karena Pak BW harus 'diajak' Pak Polisi untuk pemberkasan di hari Jumat, 23 Januari 2015 itu. Terimakasih Pak BW. Semoga Allah melimpahkan istiqomah dan keberkahan kepada Pak BW dan keluarga. Amin.

Jakarta, 24 Januari 2015.

20 Januari 2015

Kantin Sekolah #3; Hanya Makanan 'Sehat'

Nampaknya, saya harus terus menerus melakukan koordinasi dengan para petugas kantin, atau kepada para pemilik konter kantin di sekolah secara reguler. Selain untuk ikhtiar sekolah agar sesama pengelola dan kami relatif berhubungan dengan baik tanpa sekat, kami dari sekolah juga memiliki misi dalam rangka terus menerus untuk melakukan edukasi dan mengingatkan komitmen dari para pengelola untuk hanya menyediakan makanan yang sehat bagi kebutuhan anak-anak.

Selain itu juga untuk membahas beberapa isu yang saya dengar dari berbagai pihak, termasuk diantaranya dari anak-anak sendiri yang langsung menyampaikan kepada saya makanan atau minuman apa yang dilihat dan dianggapnya tidak 'sehat'. Oleh karena itu, pertemuan reguler tersebut menjadi ajang yang strategis bagi saya sendiri untuk bertemu dan melihat langsung visi dari para pedagang tersebut. Dan itu, menyenangkan.

Dan hal-hal yang kami anggap sehat dari masukan berbagai pihak tersebut, kami akomodasi dalam bentuk surat kesepahaman atau MOU sebagai bagian dari kesepakatan untuk saling menjaga komitmen. Yang di dalamnya antara lain berisi tentang hal yang memang seyogyanya para pedagang penuhi dan juga beberapa hal yag seharusnya mereka hindari. Misalnya tidak menyediakan makanan ber-SMG atau minuman bersoda dan lain sejenisnya.

Namun pada pertengahan jalan, para pedagang tersebut selalu memiliki kreatifitas yang selalu tumbuh. Dan kreatifitas tersebut tidak jarang menjadi materi laporan kepada kami dari berbagai pihak bahwa kantin telah menjajakan makanan yang tidak sehat. Untuk itulah maka kami sering juga memberikan masukan agar teman-teman di kantin menjajakan makanan sehat dan relatif digemari. Utamanya makanan ringan yang banyak menjadi makanan selingan bagi anak-anak ketika jam istirahat pendek. 

Seperti beberapa waktu lalu saya mengusulkan agar ada pengelola kantin yang menjual kue pancong. Namun karena mereka merasa sulit untuk mengolah dan menyediakan kue tersebut, saya kembali mengusulkan agar mereka mengambil kue jadi itu dari padagang dan meminta untung darinya. Alhamdulillah hal itu, meski tidak sering, bisa kami lakukan. Dan penyediaan kue atau makanan ringan tersebut tidak terus menerus. Mengingat hasrat anak-anak terhadap makanan tidak selalu stabil.

Juga misalnya, saya usulkan agar ada diantara mereka yang menyediakan makanan kecil berupa roti kering ringan yang setiap bungkusnya hanya berisi lima keping roti, atau juga kacang bawang. Alhamdulillah, usulan itupun terjadi dan menjadi variasi yang bagus buat anak-anak.

Termasuk ketika saya usulkan agar mereka ada yang menyediakan makanan ala nusantara. Alhamdulillah pula bahwa nasi rawon dan rica-rica dapat menjadi makanan selingan utama yang digemari anak-anak.

Jakarta, 20 Januari 2015.

19 Januari 2015

Kantin Sekolah #2; Tentang Pola Makan

Bagaimana saya harus mengatakan berulang kali berkenaan dengan pola makan kepada anak-anak peserta didik kami di sekolah. Tetapi nampak sekali bahwa ini belum berimplikasi baik. Bahkan tidak hanya saya sendirian yang memprovokasi cara menentukan apa yang harus kita santap ketika berada di luar rumah, termasuk ketika berada di sekolah. Seperti beberapa guru yang dengan penuh konsen mengulang-ulang. Namun tidak mengapa, karena memang pada usia yang masih remaja, diusia masih duduk di bangku kelas empat hingga kelas sembilan, nafsu untuk melahap hidangan makanan, sebagian besar dari mereka, sedang tumbuh di atas rata-rata.

Seperti misalnya juga saya sampaikan kepada petugas kantin untuk membuat tambahan makanan yang merupakan diluar paket yang telah mereka tawarkan, berupa sayuran, tetap tidak ada yang ingin menyentuhnya. Alhasil, saya mendapat bagian yang super ketika berada di kantin. Justru nasi yang benar-benar minimalis.

Tanpa Sayur dan Porsi Karbohidrat

Apa yang saya catat dalam catatan ini tidak lain adalah prosentasi anak-anak didik kami yang selalu ada lebih kurang empat atau lima anak di setiap kelas yang dapat kami kategorikan sebagai 'kelebihan berat badan'. Hal ini menjadi kekawatiran mengingat kelebihan unsur-unsur dari asupan makanan yang mereka konsumsi tersebut menjadi tugas salah satu dari bagian tubuhnya untuk ditimbun dalam bentuk lemak. Dan jika tugas ini telah menjadi beban bagi bagian tubuh tersebut sejak anak duduk di bangku kelas empat SD?

Kenyataan ini akan diperparah bila kedua orangtua dari anak tersebut tidak teredukasi dengan baik sehingga berkomitmen menjaga asupan yang sesuai dengan kebutuhan dari tubuh dan aktivitas hidupnya. Itulah yang menjadi perhatian utama kami di sekolah. 

Lalu apa usaha kami yang lain? Tidak akan berhenti untuk menyampaikan kepada mereka agar tidak terlalu banyak mengkonsumsi kandungan makanan yang pada akhirnya menjadi timbunan di dalam badannya. Termasuk di dalamnya kandungan zat yang tidak terlalu tubuh butuhkan di dalam minuman yang sekarang ini menjamur dan mudah didapat di lngkungan anak.

Itulah mengapa agar anak-anak di sekolah tidak melahap makanan berat seperti makanan yang banyak mengandung karbohidrat pada istirahat pertama dan juga di istirahat kedua di kantin sekolah. Juga agar ayam bakar atau goreng dengan sambal yang mereka konsumsi sedikit ditambah sayur. Memang tidak suka karena tidak biasa sejak mereka kecil, tetapi edukasi tentang ini kami tidak akan merasa lelah dan bosan. Semoga.

Jakarta, 19 Januari 2015.

17 Januari 2015

Kantin Sekolah #1; Mengaku tidak Makan

Ketika bertemu dengan salah seorang pemilik konter makanan di plasa SD, ada cerita menarik darinya yang layak untuk menjadi pelajaran bagi saya. Yaitu tentang orang yang telah makan dan mengaku tidak memesan makanan ketika ditagih saat yang bersangkutan akan beranjak meninggalkan kantin. Dan anehnya ini tidak dilakukan oleh anak-anak, guru atau karyawan sekolah, tetapi oleh salah seorang calon orang tua siswa.

Kira-kira beginilah ceritanya; 

Sepanjang hari itu, sekolah sedang mengadakan seleksi siswa baru. Ada sekitar 150 calon siswa baru yang akan mengikuti seleksi di hari itu. Untuk memberikan pelayanan kepada para orangtua siswa yang mengantar dan menunggu giliran untuk melakukan interviu, kami, pihak sekolah berinisiatif membuka kantin yang seharusnya libur di hari itu. Karena memang pelaksanaan kegiatan seleksi siswa baru ersebut berlangsung di hari Sabtu, yaitu hari libur sekolah.

Alhamdulillah, inisiatif membuka kantin di kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari semua pengunjung. Buktinya, sebagian besar makanan yang disajikan habis terjual. Dan saya sebagai bagian dari sekolah itu ikut merasa bangga atas fakta yang kami alami itu.

Namun ada yang akan menjadi sejarah kami, yaitu berkenaan dengan salah seorang dari calon orangtua tersebut yang berlaku bohong kepada dirinya sendiri. Ini terjadi karena ia telah memesan salah satu makanan, dan ketika sebelum meningalkan tempat makannya didekati penjaga kantin dan diminta pembayaran, ia justru berujuar: "Maaf Pak. saya tidak merasa makan dim sum."

"Dari mana Anda yakin bahwa Ibu itu benar-benar telah mekan dim sum mu?" Tanya saya kepada pedagang kantin itu.

"Bagaimana saya tidak yakin Pak. Saya kan saya yang melani pesanan beliau. Saya juga yang mengantar pesanannya itu ke meja beliau." Jelasnya dengan senyum yang keheranan.

Dari cerita singkat itu, saya benar-benar shok. Bagaimana tidak, dia datang ke sekolah kami adalah dalam rangka memasukkan anak-anaknya dengan tujuan agar diterima masuk sekolah. Namun apa yang ditampilkan dalam peristiwa tersebut adalah suri teladan tentang karakter berbohong. Ngemplang satu porsi dim sum!

Jakarta, 17 Januari 2015.

14 Januari 2015

K-13 #18; Benarkah Terjadi Perubahan Kurikulum di dalam Kelas?

Beberapa waktu lalu, saya pernah menyentuh opini di harian Kompas yang berbicara tentang pendapat seorang penulis tentang perubahan kurikulum. Diantaranya penulis tersebut mempertanyakan apakah sebenarnya yang berubah dari beberapa Kurikulum yang selama ini terjadi di ranah pendidikan kita. Karena, begitu lebih kurang pendapatnya, pendekatan kurikulum yang ada dari beberapa kurikulum yang pernah diberlakukan itu, termasuk K-13, sama dan sebangun. Oleh karenanya lahir pertanyaannya; Kalau memang tidak ada yang berubah dari konsep pendekapatan belajar yang diinginkan pada kurikulum-kurikulum tersebut, maka mengapa pada Kurikulum 2013 justru ditolak?

Bertemu Guru

Lebih kurang dengan berangkat dari pendapat itu jugalah maka saya bertemu guru-guru pada Jumat, 9 Januari 2015 lalu untuk sedikit memberikan pertimbangan dan pencerahan atas kegalauan mereka belakangan ini tentang K-13 tersebut. Meski pertemuan hanya satu sesi yang lebih kurang 2 jam ( 2 x 60 menit ), saya mencoba memberikan gambaran yang lebih kurang lumayan, tentang sikuensi konsep dari KBK, KTSP, hingga kemudian Kurikulum 2013.

Baik sejak dari konsep baru yang didengungkan sebagai kompetensi, yang kali pertama lahir bersamaan dengan KBK di awal tahun 2000an dengan Kompetensi Lintas Kurikulumnya, Kompetensi Dasarnya serta pengembangan Silabusnya, Juga konsepsi Penilaian Berbasis Kelas atau PBK yang sudah juga memberikan panduan kepada kita sebagai guru untuk menilai kinerja secara autentik serta pelaporannya yang dapat disertai dengan penilaian porto folio. 

Perjalanan konsep-konsep tersebut mengalir hingga bermuara kepada Kurikulum 2013, yang nasibnya disampaikan pada tanggal 5 Desember 2014 lalu diumumkan penetapannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI., yang kemudian dalam bentuk Peraturan Menteri Nomor 160 tahun 2014. Apa isi dari Permen Dikbud tersebut? Semua sudah mengetahui dan bahkan sudah mengalami bagaimana hiruk pikuknya hingga sekarang ini.

Di akhir pertemuan kami itu, saya menyuguhkan sebuah permainan tentang bagaimana esensi menilai siswa. Games ini pernah saya dapat ketika ikut dalam sebuah pelatihan sebagai guru IB di tahun 2001.

Ada tiga guru yang menjadi relawan untuk dinilai tepuk tangannya oleh dua juri. Relawan pertama langsung diminta masuk ruangan dimana kami berada untuk bertepuk tangan. Usai bertepuk tangan, kedua juri memberikan nilainya. Tentu si relawan pertama kaget kalau ternyata dia akan dinilai tepuk tangannya. repotnya, si juri pun juga belum menentukan komponen atau kompetensi apa yang dinilai dari bertepuk tangan itu. Tetapi nilai telah dijatuhkan oleh juri.

Maka langkah berikutnya adalah membuat atau menentukan kompetensi apa yang akan dinilai si juri itu kepada relawan kedua. Setelah disepakati kompetensinya, maka relawan kedua masuk untuk bertepuk tangan dan nilai dijatuhkan. Dan relawan kedua pun masih tidak tahu apa saja yang akan dinilai oleh juri. Karena ia hanya mendapatkan perintah untuk bertepuk tangan yang akan dinilai.

Tentunya, dua relawan tersebut kurang memberikan kepuasan kepada mereka atas kinerja yang didapatkan dari juri.

Maka giliran relawan terakhir, relawan ketiga dipanggil masuk ruangan, disampaikanlah apa yang harus dilakukan untuk dinilai oleh juri dengan parameter penilaiannya. Dengan melihat apa yang diharapkan dari dirinya saat bertepuk tangan itu, relawan ketiga ini bersiap dan melakukan apa yang diharapkannya itu dengan lebih baik di hadapan juri.

Itulah gambaran yang saya sampaikan kepada teman-teman guru yang hadir di siang itu. Itu adalah konsep penilaian rubrik yang dikehendaki, yang memberikan cerminan keterbukaan dan akuntabel. Penilaian berbasis kepada kompetensi yang diinginkan.

Pertanyaanya; Di kurikulum apakah konsep penilaian tersebut?

Jakarta, 14 Januari 2015.

04 Januari 2015

K-13 #17; Penilaian dan Pelaporan Hasil Belajar

Meski Senin, 5 Januari 2015 adalah hari pertama masuk sekolah di semester genap di tahun 2014/2015, tapi banyak sekolah di Jakarta yang belum menyerahkan Buku Laporan Hasil Belajar para peserta didiknya. Beberapa sekolah terswbut baru akan menyerahkan buku rapot siswa pada Sabtu, 10 Januari.

Mengapa? Tidak lain itu disebabkan oleh pengisian rapot yang harus on line dengan format yang sedikit banyak berbeda dengan apa yang telah guru lakukan selama proses belajar sepanjang semester ganjil lalu. Hal ini dimungkinkan karena format penilaian baru selesai disosialisasikan oleh pihak Dinas Pendidikan kepada guru dan sekolah pada bulan ke lima di semester itu. Sehingga ada ketidak sesuaian antara apa yang telah guru kerjakan di kelas pada penilaian kepada siswanya dengan format yang tersedia. 

Dan karena formatnya dalam bentuk form yang hatus diisi oleh guru secara on line, maka jika guru tidak mengisi form tersebut sesuai dengan format yang tersedia, maka hasil akhir akan gagal. Inilah yang menjadikan seluruh guru harus melakukan 'akrobat' agar buku rapot tersebut dapat sgera dicetak.

Dan selain masalah format tersebut, masih akan ada masalah yang timbul ketika nanti dibagikan kepada orangtua siswa. Mengapa? Tidak lain adalah masalah skala nilai yang juga berubah. Dimana sebelumnya untuk tingkat pendidikan sekolah dasar hingga SMA, kita mengenal angka penilaian dari 1 sampai 10. Dan dalam K-13 skala angka yang ada adalah dari 1-4. 

Inilah yang juga menjari pemantik mengapa pelaksanaan K-13 belum dapat respon positif dari guru yang meski sebagaiannya masih mareba-raba untuk berinternetan dalam mengisi rapot, tetapi juga karena format penilaian yang menghasilkan rapot tersebut baru kelar konsepnya dan  baru selesai disosialisasikan. Maka menjadi wajar...

Jakarta, 4 Januari 2015.

03 Januari 2015

K-13 #16; Mengapa Menolak K-13?

Meski secara definitif Menteri Anies telah menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 bagi sekolah yang baru melaksanakan kurikulum tersebut selama satu semester dan memberikan kemungkinan kepada sekolah contoh yang sudah melaksanakan dalam kurun 3 semester dengan membuat surat keberatan, namun hingga hari ini saya pribadi belum terlalu faham mengapa Kurikulum 2013 mendapat penolakan. Sungguh.

Paling tidak argumentasi detil mengapa ada yang hingga mendesak untuk tidak memberlakukan pelaksanaan kurikulum tersebut. Walau saya juga mendengar apa yang mereka sampaikan melalui media bahwa pelaksanaan K-13 dipaksakan padahal guru belum siap melaksanakan. Selain juga alasan bahwa K-13 terlalu menuntut guru lebih administratif, terutama pada sesi penilaian dan pelaporan hasil penilaian hasil belajar peserta didik.

Mengapa saya tidak faham akan alasan menolak K-13 ini? Pertama, bahwa konsep tujuan belajar yang harus dituju oleh guru adalah kompetensi siswa. Dan konsep ini oleh pemerintah pernah diwacanakan dan sekaligus diujicobakan dibeberapa sekolah dalam bentuk Kurikulum Berbasis Kompetensi atau KBK. 

Kurikulum ini sejak diperkenalkan ke publik  sejak tahun 2000, dan kemudian akhirnya tidak diberlakukan, namun kemudian berubah wujud menjadi KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pwndidikan yang juga berbasis kepada kompetensi siswa. 

Dengan cara berfikir demikian maka adakah sesuatu yang berubah dengan apa yang disuguhkan dan diinginkan pada Kurikulum 2013? 

Kedua, pendekatan belajar yang harus dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang harus dicapai dalam kurikulum yang saya telah sebutkan itu adalah menjadikan siswa sebagai pusat belajar. Da paradigma itu juga tidak berubah hingga di dalam K-13 ini. 

Ketiga, bahwa penilaian atas hasil belajar siswa, sejak dalam KBK hingga K-13 adalah penilaian berbasis kinerja belajar. Dalam KBK istilah itu dinamakan sebagai Penilaian Berbasis Kelas yang dalam K-13 guru didorong untuk jauh lebih banyak menggunakan penilaian autentik. Yaitu penilaian yang membuat guru mampu menentukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa secara holistik. 

Dengan 3 (tiga) hal yang saya sampaikan di atas itu, saya menjadi bingung kalau ada yang menolak K-13 untuk dilaksanakan. Itulah pertanyaan terbesar saya dalam menjadi guru di sekolah; mengapa menolak K-13?

Jakarta, 3 Januari 2015