Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 Januari 2010

Guru Inspiratif, Catatan Saya tentang: UN, Catatan Anak SMA

Apa yang ditulis dalam catatan saya sebelumnya yang berjudul; UN, Catatan Anak SMA, adalah tulisan anak saya sendiri saat yang bersangkutan duduk di bangku kelas XII SMA, yang saya ambil dari blog saya dan juga blog anak saya. Ditulis olehnya pada akhir Maret 2009.
Apa yang dia tulis itu adalah kekecewaan dia atas ketidakbisaberlanjutnya kepesertaannya dalam kompetisi-uji untuk menjadi bagian dari pemain Persija Junior. Mengapa gagal? Karena dalam waktu 3 bulan, Januari hingga akhir Maret dia harus berada di lapangan untuk siap berlatih pada pukul 14.00 hampir setiap hari. Dan menginjak bulan kedua ia tidak lagi dapat hadir di lapangan untuk berlatih.
Karena untuk latihan ia harus meninggalkan kelas satu jam lebih awal. Tentu dengan menggunakan permohonan izin dari saya sebagai orangtuanya, baik secara lisan dan tulis dalam bentuk surat. Namun menginjak bulan kedua, penolakan guru dan lembaganya sudah tidak mungkin dia hindari. Kata: pilih main bola atau lulus ujian? Nyaris dikumandangkan oleh guru. Dan bagi saya, yang kebetulan juga guru, apa yang guru sampaikan adalah wajar. Tapi solusi tegas untuk memilih satu dari dua pilihan yang disampaikan tersebut adalah ungkapan tidak bijak.
Saya membayangkan kalau ini yang dihadapi oleh siswa saya di sekolah, maka saya akan meminta anak dan kedua orangtuanya bertemu dengan kami. Berdiskusi tentang solusi apa? Dan menemukan solusi yang berkait dengan masa depan anak, maka harus melibatkan anak yang bersangkutan sekaligus menyampaikan pandangan kita sebagai pendidik? Bukankah saat itu kalau anak gagal di UN masih ada paket C? Dan jikapun anak memilih untuk menjadi pemain bola tetapi masih juga mungkin untuk tetap bersekolah dan lulus UN? Bukankah jika anak dan orangtua ketika dalam diskusi tersebut, tetap memilih dua pilihan yang ada dan kemudian kita sebagai pihak sekolah khawatir anak tersebut akan gagal UN sehingga muka kita sebagai guru atau sekolah akan tercoreng maka kita bisa meminta anak dan orangtua membuat komitmen tertulis?
Ini adalah cara pandang saya. Saya akan memilih pilihan itu sebagai bagian dari mengukir sejarah positif pada masa depan anak atau siswa saya. Bukan sebaliknya.
Dan akhir cerita anak saya memilih untuk konsentrasi bersekolah. Lalu ia tumpahkan kesumpekan hatinya itu dalam bentuk artikel yang dibeberapa bagiannya diluar EYD.
Dari pengalaman seperti inilah saya mengajak semua teman pendidik untuk tidak memaksakan cara pandangnya kepada siswanya. Buatlah sejarah yang baik bagi masa depan mereka. Jadilah guru yang inspiratif bagi mereka!
Jakarta, 24 Januari 2010.

21 Januari 2010

Ketika Anak Memilih Tempat Kuliah


Alhamdulillah. Dua anakku yang sama-sama duduk di kelas XII telah menyelesaikan SMA-nya tahun pelajaran 2008/2009 lalu. Mereka senang sekali. Mereka senang karena sudah tidak lagi mengenakan pakaian seragam. Juga sudah tidak akan sering-sering mengikuti upacara di sekolah lagi. Juga sudah tidak akan selalu masuk sekolah pada jam yang rutin sama. Senang karena, kata mereka sendiri, tidak anak kecil lagi. Kami sebagai orangtuanya juga gembira.
Lulus SMA, berarti juga adalah memilih tempat belajar yang baru. Banyak prediksi dan argumentasi yang kita gunakan sebagai penentu bagi pembuatan keputusan Ya atau Tidak. Saya jadi ingat ketika Si Sulung masuk SMA beberapa tahun lalu. Orang bilang SMA-nya dulu adalah sekolah untuk para pemakai. dan lain-lain. Maka kami ajak dia bicara.
Saya tanya padanya:

· Mantap kamu memilih sekolah ini?
. Mantap Yah. Jawabnya tanpa ragu.
. OK. Kata saya. Sehari-hari kamu di sekolah itu, adalah menjadi tanggung jawabmu. Ayah dan Ibu selalu akan mendoakan akan kesuksesanmu. Tetapi Ayah tidak bisa memberikan proteksi pada dirimu akan sesuatu yang tidak menjadi kehendak kita. Oleh karenanya, semua ada pada otonomimu untuk melakukan proteksi. Dan Ayah percaya bahwa kamu adalah anak baik. Amin. Kata saya disaksikan oleh Ibunya yang ada di sebelah saya. Dalam hati saya bermohon kepada Allah atas perlindungan-Nya kepada putra saya ini.

Oleh karenanya, ketika mengajak diskusi dengan kedua anak saya dalam memilih jurusan dan tempat kuliah serta di kota mana mereka akan melanjutkan, adalah prosesi dalam mengajak anak kami untuk beranjak dewasa. Ada sedikit rasa agar anak kami menuruti kami, tetapi kami bersabar untuk meyakinkan diri bahwa pilihan mereka adalah yang paling tepat.

Kebingungan si sulung itu berlarut hingga awal Juli 2009. Dan ketika didesak lagi untuk segera menentukan pilihan kuliah dimana, dia menjawab: Kita sedang liburan. Jawaban ini dia sampaikan ketika kami sedang berada di Yogyakarta. Kalau ditanyanya sekarang, saya malah pusing. Lanjutnya.

Saya maklum. Dan saya selalu memiliki keyakinan bahwa anak-anak akan sukses dengan jalan yang dipilih dan dilaluinya. Dan sebagai orangtua mereka, keyakinan ini selalu saya visualisasikan. Tanpa ragu sekalipun. Ia sedang menggeluti bisnis bersama teman-temannya (Sukses Mas!).

Kami desak, akan menjadi apa kelak setelah lulus kuliah nanti? Pertanyaan ini kami maksudkan agar memudahkannya dalam menentukan pilihan. Tetapi tetap saja mereka berdua menjawab belum tahu. Si Sulung, setelah bingung mau meneruskan kuliah dimana, akhirnya memutuskan untuk belajar komputer di STIMK Jakarta.

Berbeda dengan si sulung, nomor dua saya, meski belum tahu ingin menjadi apa kelak setelah lulus kuliah, tetapi mantap untuk mengambil Bahasa Jepang. Saya mencoba untuk membujuk memilih jurusan sebagai guru. Ya seperti profesi ayahnya. Tetapi dia tegas memilih jalan yang diyakininya akan mengantarkan mimpinya belajar ke negeri Sakura.

Oleh karenanya, ketika mengajak diskusi dengan kedua anak saya dalam memilih jurusan dan tempat kuliah serta di kota mana mereka akan melanjutkan, adalah prosesi dalam mengajak anak kami untuk beranjak dewasa. Ada sedikit rasa agar anak kami menuruti kami, tetapi kami bersabar untuk meyakinkan diri bahwa pilihan mereka adalah yang paling tepat.
Alhamdulillah, hari ini, mereka telah memasuki gerbang perguruan tinggi. Jenjang bagi merealisasikan mimpinya untuk menjadi manusia sukses dalam Ridho Allah Swt. Amin.

Jakarta, 21 Januari 2010.

20 Januari 2010

UN, Sebuah Catatan dari Anak Saya

Setiap orang pasti punya keinginan atau impian. Tidak peduli siapa orang itu, dari strata mana orang itu berasal, apa latar belakang pendidikannya dan dimana pun mereka berada, yang pasti dia pasti memiliki angan-angan dan keinginan atau impian yang ingin diraihnya.
Tapi pernahkah anda merasakan impian anda putus di tengah jalan padahal impian tersebut sudah ada di depan mata anda. Menyesal, pasti itu yang anda rasakan. Atau menyesakkan dada, itu lebih parah lagi. Ini terjadi pada seseorang yang tengah mengejar impiannya, sudah berada di tengah perjalanan dan tiba-tiba di paksa untuk berhenti dengan alasan dia harus fokus pada ujian nasional atau UN yang harus dijalaninya. Fokus, mengingat UN membutuhkan daya dan upaya yang begitu besar dan total. Sehingga untuk membagi waktu bagi pengejaran mimpi untuk sementara harus dihentikan.
Mengapa UN menjadi begitu sangat pentingnya di negara ini? Seberapa pentingnyakah UN bagi kehdiupan seseorang yang sedang mengejar mimpi? Apakah dengan ada UN negara ini bisa maju?
Apapun jawabanya yang jelas UN telah meneggelamkan impian anak tersebut. Belum lagi perilaku gurunya yang enggan memberinya izin untuk mengejar impianya tersebut. Guru di sekolah masih sering tidak melihat potensi siswanya secara jujur dan sabar. Guru di sekolah masih sering melihat rendah atau meremehkan siswanya. Terlebih dengan siswa yang memang memiliki kondisi akademis yang kurang baik. Padahal keberhasilan hidup tidak saka dan tidak hanya bergantung kepada cacatan nilai akademik semata. Ok, anak itu fokus pada UN tapi apabila anak itu tidak lulus apakah pihak sekolah akan bertanggung jawab karena telah merebut impian anak itu?. Saya pikir sekolah akan semakin meremehkan anak itu. Padahal pihak sekolahlah yang seharusnya bertanggung jawab dan bukan malah meremehkan anak itu.
Pihak sekolah terkadang menyuruh anak anaknya belajar dan belajar. Ingat jaman sekarang yang paling di butuhkan adalah skill. Lulusan S1 pun belum tentu dapat kerja. Tapi ad lulusan SMA langsung dapat kerja, bahkan belum lulus saja sudah di buking orang untuk bekerja di tempatnya. Kenapa bisa gitu ya? Padahal lebih pitar lulusan S1 dari pada lulusan SMA apalagi yang belum lulus SMA. Tapi yang SMA bisa langsung kerja gajinya pun sama dengan orang yang lulusan S1. Dia bisa main bulu tangkis langsung di buking buat kerja. Kalau kita berprestasi kerja akan mencari kita bukan kita nyari kerja. Yang penting Skill bukan pintar atau enggaknya. Artinya anak itu tidak lulus UN tapi bisa saja anak itu lebih sukses dari pada guru guru yang ada di sekolah itu.
Anak yang rangking satu pun itu bukan jaminan untuk menjadi orang yang sukses nantinya. Murid murid sekarang saja pergi ke sekolah bukan mencari ilmu melainkan hanyalah sebuah nilai. Sangat menyedihkanya bangsa ini. Pantas saja orang bule datang ke sini menjadi majikan tapi kalau dari sini ke sana hanya menjadi pembantu. Apa itu impian kita ?. Harusnya sekolah mencari apa sebenarnya bakat murid muridnya dan memberinya motivasi agar murid muridnya itu terus fokus pada impianya tesebut. Bukan malah mengubur impian murid muridnya apalagi meremehkan murid muridnya. Apa sebenarnya yang di harapkan guru guru tersebut kalau murid muridnya saja tidak mempunyai impian hanya mengikuti air mengalir biarpun keruh tidak apa apa gak masalah. Kalo tuh air ngalirnya ke laut sih masih mending, tapi kalo ngalirnya ke sapitank gimana?. Andalah sebagai gurunya yang akan malu nantinya. Tapi kalau murid muridnya sukses anda juga ikut bahagia nantinya.
Mari bapak ibu sekalian kita ubahlah paradigma kita yang hanya memandang orang pintar itu adalah orang yang sukses nantinya. Orang yang sukses adalah orang yang mempengaruhi lingkungan sekitar dan punya impian yang kuat itulah orang yang sukses nantinya. Kalau anda memang punya murid yang seperti itu selamat terus memberi beri anak itu motivasi di saat ia sedang down. Asalkan anda tidak mengubur impianya saja dia akan sukses nantinya.
Ikhwan A. Rahman: Siswa SMA Kelas XII, di Jakarta

Sumber: http://ikhwanarahman.blogspot.com

15 Januari 2010

TUGASKU Talent Show 2010!


Jumat, 8 Januari 2010 lalu, kami, guru dan karyawan dari Sekolah Islam TUGASKU secara berkelompok maupun sendiri-sendiri tampil di panggung pertunjukkan lebih kurang 7 menit. Tidak ada yang tidak tampil menunjukkan kebolehannya. Kami menyebut acara itu sebagai Teachers Talent Show.

Ini adalah acara untuk kedua kali sejak kami tinggal di Pulomas. Kegiatan pertama kami laksanakan pada tahun 2007. Yang formatnya seperti Gong Show. Kita meminta kesediaan Ketua POMG TK, SD dan SMP sebagai komentator atas penampilan kami. Dan siswa yang masih tinggal di sekolah sebagai penonton. Acara saat itu berlangsung pada hari Jumat pukul 14.00-17.00.

Namun pada pada Jumat, 8 Januari 2010 itu tanpa komentator dan hanya sedikit penonton. Penonton hanya diantara kami sendiri serta Pengurus OSIS SMP Islam TUGASKU. Namun demikian, kami mengagumi apa yang telah kami dan teman-teman kami perlihatkan di panggung. kami menakar bahwa pebnampilan kami yang kedua itu memiliki kualitas yang luar biasa melesat dibanding dengan penampilan kami pada dua tahun yang lewat.

Membuang-Buang Waktu?

Kegiatan yang kami lakukan pada saat hari kerja itu tidak kami hitung sebagai membuang-buang waktu. Kami melakukan itu sebagai rangkaian professional development. Kami memaknai seluruh aktivitas di hari itu sebagai bagian dari proses belajar kami. Karena dengan kegiatan ini, kami berdiskusi dan merancang skenario untuk menjadi pemain di panggung, belajar menghargai bagaimana teman atau kelompok lain menampilkan sesuatu yang masih rahasia bagi kami.

Ya kegiatan itu memang rangkaian PD, karena dua hari sebelumnya kami telah menjalani rangkaian awalnya. Rabu, 6 Januari, kami merefleksi apa yang telah kami capai pada semester 1 tahun pelajaran 2009/2010. Sekaligus memperkuat komitmen kami semua untuk menempuh semester 2 ini. Sedang hari keduanya kami belajar tentang mind map. Dan secara khusus saya menyampaikan kepada semua guru yang hadir, agar keterampilan ini kita pakai dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan seperti ini, keterampilan itu akan menjadi melekat. Dan ketika melekat, saya berasumsi mereka akan menginspirasi kepada orang disekelilingnya. Termasuk kepada siswa di kelasnya. Alhamdulillah setelah satu pekan semester 2 ini berjalan, saya melihat semangat itu dalam interaksi guru dengan siswanya di kelas.

Dan pelajaran lain dari kegiatan ini selain kami senang dan terhibur oleh teman, kami belajar terbuka dan juga belajar dalam memperkokoh kebersamaan. Kebersamaan dalam menuju menjadi lebih baik. Itulah argumentasi nyata bagi sesuatu kegiatan yang tampaknya membuang-buang waktu.


Jakarta, 16 Januari 2010.

14 Januari 2010

Melihat Tata Tertib sebagai Investasi

Pada hampir semua pertemuan yang membahas tata tertib bekerja di sebuah lembaga, maka selalu muncul dua sumbu. Yaitu sumbu yang berdiri dibarisan pekerja dan sumbu lainnya yang berdiri sebagai wakil pemberi kerja. 
Dalam pasal tertentu, mereka akan berjalan saling beriringan dan pada pasal lainnya akan berdiri saling berlawanan. Dalam posisi berseberangan inilah yang sering berujung pada cara pandang buruk sangka.


Dari sisi pekerja, pada pasal-pasal tentang tuntutan atau kewajiban bekerja pada tata tertib dilihat sebagai penghambat dan tekanan. Meski hal ini telah mengacu kepada peraturan lebih tinggi yang ada dan masih berlaku. Namun pada sisi pemberi kerja, pasal-pasal seperti itu justru dibuat untuk memberikan pagar dan sekaligus kepastian bagi keterlaksanaan pola kerja optimal yang diinginkan.

Para pemberi kerja beralasan bahwa tuntutan kerja yang terdapat itu dibuat sebagai penjamin bagi tumbuhnya etos kerja. Mereka berargumentasi bahwa dengan lehirnya etos kerja maka akan lahir budaya kerja. Dan budaya kerja dapat pula menjadi simpul bagi daya saing. Dan daya saing akan melahirkan kesejahteraan. Dan seterusnya-seterusnya.
Dengan pola dan cara pandang seperti itu, memang akan melahirkan perasaan nyaman yang berkeadilan. Adil bagi yang memberikan pekerjaan maupun bagi yang melaksanakan pekerjaan. Tata tertib menempati pakem yang semestinya. Yaitu garis komitmen dalam hubungan pemberi kerja dan pelaksana kerja.

Cara Lihat yang Berbeda

Dari pengalaman ikut dalam sebuah pertemuan tersebut saya merefleksikan diri pada posisi sebagai pekerja. Yang melihat semua tuntutan kewajiban dan pemberian hak yang terdapat dalam pasal-pasal tata terti pekerjaan tersebut tidak saja sebagai rambu bagi rasa aman, nyaman dan adil, tetapi lebih dari itu, sebagai investasi. Investasi bagi saya untuk kehidupan saya yang lebih baik pada lima, delapan atau sepuluh tahun ke depan.

Bahwa tuntutan pekerjaan dalam tata tertib tersebut akan memola saya untuk bekerja memenuhi tuntutan atau target standar yang digariskan, adalah sesuatu yang normatif. Namun dengan cara melihat tata tertib sebagai investasi, maka pemolaan tersebut sangat saya sadari. Dan dengan demikian maka akan lahirlah saya dengan etos dan budaya kerja yang diharapkan. Dan dari kaca mata ini saya melihat bahwa semakin berkualitas tata tertib lembaga dimana saya ikut didalamnya, maka akan memungkinkan saya untuk menjadi bertambah berkualitasnya saya. Inilah yang saya sebut pengembangan diri dengan menjadikan tata tertib lembaga sebagai investasi.

Bahwa usaha keras dan usaha tekun saya dalam memenuhi standar kerja yang dituntut, telah berkontruibudsi bagi peningkatan kualitas diri saya. Sebaliknya, jika lemahnya saya dalam memenuhi standar kerja yang dituntut, maka sosok yang lemah pula yang akan saya dapati meski bertambah tahun saya melakukan dan menjalani pekerjaan. Sahabat saya mengistilahkan hal ini sebagai year of experiance. Sedang untuk istilah bagi fenomena yang pertama sebagai year of learning.

Tapi, apakah mudah melihat tata tertib kerja sebagai investasi masa depan kita bila kita berposisi sebagai pekerja? Sulit memang. Tetapi dengan melihatnya sebagai investasi, saya dapat meningkatkan etos dan budaya kerja saya untuk lebih memiliki daya saing. Dan ketika komptensi daya saing saya tinggi, saya akan memiliki kesempatan lebih banyak untuk memilih posisi kerja atau tempat kerja yang lebih baik dari sebelumnya.

Bagaimana dengan Anda sendiri?

Jakarta, 13 Januari 2010.

11 Januari 2010

UN Jujur, Jauh Lebih Penting

Tulisan ini bukan tulisan baru saya. Yaitu revisi dari tulisan yang pernah dimuat di Harian Pelita pada Selasa, 14 November 2006 dengan judul UN yang Jujur. Namun karena isu Ujian Nasional jujur tetap menjadi pokok dari pelaksanaan Ujian Nasional yang diselenggarakan di SMP dan SMA serta UASBN untuk SD, maka tulisan di Harian Pelita ini saya menerbitkan dalam blog saya dengan membuat beberapa bagiannya menjadi aktual.

UN yang Jujur
Pelaksanaan UN/UASBN yang jujur di semua sektor dan tingkatan institusi pendidikan adalah yang paling utama. Ini adalah jalan paling terhormat dan bermartabat bagi peningkatan kualitas pendidikan yang sesungguhnya.

Pelaksanaan UN/UASBN dapat dikatakan jujur bilamana tidak terdengar lagi bau tidak sedap tehadap pelaksanaan UN/UASBN itu sendiri. Mengingat dalam setiap pelaksanaan UN/UASBN yang lalu, yang melibatkan banyak unsur, masih juga muncul berita ketidakpatutan di surat kabar. Ini bukan tendensius, tetapi merupakan rahasia umum.

Sebagaimana pernah terjadi pengungkapan terjadinya ‘ketidakberesan UN’ pada tahun 2006 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Misalnya saja apa yang diungkap oleh Mumul –salah seorang guru di Bogor Jawa Barat- dalam kesaksiannya di pengadilan mengungkapkan tentang briefing Kepala Sekolah agar guru menyiasati soal-soal UN antara lain dengan dengan memberitahukan jawaban disekolah tempat guru mengawas (Kompas, 8 Desember 2006). Dalam berita tersebut, diceritakan pula bahwa Mumul, sempat bertanya kepada siswanya apakah mereka sudah belajar. Namun siswanya justru menjawab; ”ngapain belajar, nanti juga jawabannya dikasih tahu. Mendingan main remi”. Meski hal ini sedang terjadi di pengadilan dalam tataran proses, karena baru memasuki pemeriksaan saksi, namun kita sebagai guru di sekolah, mengerti sekali apa maknanya.

Juga apa yang saya pernah ceritakan pengalaman yang menimpa seorang guru yang kebetuan juga teman sejawat, bahwa keponakannya memintanya untuk dibelikan telephone seluler sebagai bagian dari persiapan UN tahun 2006 yang lalu (Pelita, 23 Mei 2006). Dalam logika orang normal, apakah ada hubungan antara telephone seluler dengan UN? Tetapi dalam realita yang dihadapi keponakan teman itu, itulah letak normalnya. Jadi Abnormal sebagai kenormalan! Atau jika kita masih butuh bukti empiris, simak saja misalnya kasus oknum guru di provinsi Banten yang harus memberikan ”pembinaan” kepada siswanya karena tak tahu diuntung harus meminta kunci jawaban UN tahun 2006 lalu melalui SMS?

Pertanyaannya adalah, mengapa strategi busuk tersebut masih menjadi pilihan bagi sebagian kita untuk mencapai keberhasilan? Apakah karena siswa yang ada di sekolah kita adalah mereka yang memiliki kekurangan sehingga begitu sulitnya untuk mencapai target keberhasilan yang dicanangkan? Pendapat saya tidak. Coba kita renungkan jawaban siswa rekan kita Mumul sebagaimana saya kutip di awal tulisan ini. Dimana siswa tersebut menyampaikan argumentasi mengapa harus belajar kalau saat UN berlangsung siswa diberikan kunci jawaban? Apakah ini kalimat siswa yang memiliki hambatan pemahaman dalam menguasai materi pelajaran? Kalimat itu adalah kalimat analisa. Sehingga setidaknya ia adalah siswa yang masuk dalam taraf rata-rata siswa yang ada di sekolah kita.

Jadi mengapa strategi kotor masih terjadi disetiap tahunnya di sebagian sekolah, sebagai bagian dari pencapaian target UN? Salah satu penyebabnya, menurut saya, adalah karena betapa saktinya nilai hasil UN ini bagi martabat sebuah instutisi.

Bagi masyarakat pada umumnya, hasil UN menjadi dasar satu-satunya untuk melihat kualitas sebuah sekolah. Masyarakat sering tidak peduli bahwa setidaknya hingga tahun 2010 ini, untuk masuk perguruan tinggi negeri, putra-putrinya harus berjuang kembali mengerjakan tes masuk. Sehingga hasil UN SMA yang bagus sekalipun tidak dapat menjadi kunci pembuka gerbang memasuki perguruan tinggi yang diinginkannya secara otomatis. Artinya, sesama institusi pendidikan di dalam negeri pun PTN masih belum menjadikan hasil ujian nasional bagi siswa SMA sebagai prasyarat utama untuk menjadi seorang mahasiswa di lembaganya.

Tetapi karena cara pandang tersebut terlanjur mengakar. Akhirnya sekolah berjuang sekuat tenaga dalam membangun citra sebagai sekolah berkualitas dengan target memperoleh nilai rata-rata UN yang tinggi.

Dengan melihat itu semua, maka seyogyanya hanya melalui strategi kerja keras dan sungguh-sungguh sajalah kita dapat mencapai keberhasilan. Mengapa kita optimis? Karena soal ujian nasional yang berjumlah 30-40 soal, dengan persiapan selama tiga tahun pelajaran dan SKL yang telah disampaikan lebih kurang 6 bulan sebelum pelaksanaan UN/UASBN, adalah senjata sekaligus peta perjalan keberhasilan.

Inilah jalan satu-satunya menjadikan UN/UASBN berlangsung jujur. Sekaligus ’menjaga’ martabat kita sebagai guru.


Sumber: Harian Pelita, 14 Nopember 2006, dengan revisi.

05 Januari 2010

Membangun Komunitas atau Etos

Sekolah sebagai komunitas sosial, menuntut untuk berhubungan satu sama lainnya. Saling hubung, saling melihat, saling bertemu, saling betukar pikiran. Pendek kata sulit bagi sekolah untuk menyembunyikan kekhasannya hanya menjadi milik sendiri. Walau harus saya akui, ada beberapa sekolah yang tampaknya begitu pelit dengan apa yang mereka miliki atau mereka capai untuk kemudian dibagi kepada kita yang menjadi pengagumnya, sahabatnya atau mungkin tetangganya.

Tapi saya mencobanya untuk memahami argumentasi mereka. Karena mungkin sekali apa yang mereka capai dan miliki sekarang ini adalah akibat dari perjuangan sebelumnya. Baik perjuangan material dan atau perjuangan immaterial. Semua menjadi logis untuk tertutup dan pelit.

Namun saya melihat dengan cara yang berbeda. Saya berpikir bahwa sebuah pencapaian atau hasil memang benar sebuah akhir proses perjuangan. Tetapi jika ruh perjuangan dan pergerakan proses yang menjadi inti dari sebuah pencapaian, bukankah hasil akhir itu adalah relatif? Dan ini yang menjadi keyakinan saya.

Karena hasil akhir dari sebuah perjalan tersebut adalah relatif dan karena ruh perjuangan adalah inti dari sebuah proses yang kemudian saya sebut sebagai etos, maka hasil kami pada tahun pelajaran ini tentu akan bergeser koordinatnya pada hasil dan kualitas kami pada tahun pelajaran berikutnya. Dan tentunya titik koordinat tersebut bukan memburuk atau degradasi tetapi membaik ke arah positif.

Dan kalau demikian, maka teman, sahabat, tetangga atau tamu yang tiba-tiba datang di sekolah kami selalu kami sambut dengan tangan terbuka. Mereka bahkan hingga tahu dimana kami memesan barang yang kami perlukan.

Dan dari hal ini juga saya menerima masukan dari tamu tentang apa yang dapat kami rengkuh untuk lebih baik lagi di masa mendatang. Inilah yang saya maksudkan dengan ETOS.

Untuk itulah semua hal ihwal yang berkenaan dengan kebaikan yang ingin kami capai, saya mengajak seluruh teman untuk seing. Dan dari seing saya minta mereka untuk bergerak menuju dan menjadi believing. Dan ketika tahapan ini selesai, kami akan bersama-sama merekonstruksi perjalanan. Nyaris tidak ada pola copy dan paste dalam melahirkan etos. Karena copy dan paste merupakan budaya instan. Dan budaya instan hanya melahirkan kebohongan serta ketidakjujuran.

Etos yang lahir dari sebuah proses perjuangan inilah yang menjadi impian saya dalam membentuk komunitas. Saya yakin, dengan kelahiran etos melalui proses ini, ia menjadi kekuatan yang tidak akan menimbulkan ketakutan bagi perilaku mencontek. Tidak pelit ketika tamu datang dan meminta keterangan tentang bagaimana cara membuat ini atau itu. Terbuka dalam bersahabat.

Setidaknya, inilah yang saya yakini pada hari ini tentang membangun sebuah komunitas.

Jakarta, 5 Januari 2010.

04 Januari 2010

Mengapa Berubah?


Sebagai praktisi di sekolah swasta, berubah adalah spirit untuk menjadi berusia panjang. Dan inilah jawaban jitu bagi pertanyaan di atas. Sementara argumentasi lainnya adalah karena kondisi sosial yang terus bergerak maju dan naik tanpa dapat diprediksi secara tepat. Hanya dapat diduga.


Seperti lahirnya sekolah swasta bertaraf internasional (sekolah nasional plus) pada pertengahan tahun 95’an yang dilihat sebagai sekolah ‘aneh’ oleh masyarakat sekolah pada waktu itu. Dan pada tahun 2009 beberapa sekolah itu telah 'merubah diri' menjadi benar-benar Sekolah Internasional. Sementara sekolah tersebut diadopsi menjadi konsep SBI.


Dan perubahan ini memiliki implikasi. Yaitu implikasi pada seluruh sendi kehidupan sekolah. Mulai dari siswa, kurikulum, guru, kesejahteraan dan lain-lain.


Jikapun kita (sekolah, manajemen, guru) tidak siap untuk menikmati perubahan (contoh di atas tentang sekolah) maka orang lainlah yang pasti menikmatinya. Mengapa? Karena lembaga itu memerlukan mereka yang siap untuk memenuhi keperluannya. Dan kita mungkin akan menjadi penonton atau mungkin sebagai komentatornya.


Siapa yang Harus Berubah?


Dalam konstelasi yang bernama sekolah, maka pranata yang harus berubah adalah stakeholder yang terdiri dari: Pertama: Lembaga, perubahan dalam tataran sistem (visi, misi, struktural). Kedua: Manajemen, perubahan dalam bentuk mengaktualisasikan komitmen dalam menjalankan visi dan misi lembaga. Ketiga: Guru, mengoperasionalkan komitmen manajemen dalam proses pembelajaran dalam kelas. Keempat: Masyarakatnya. Kelima: Perangkatnya.


Hambatannya?


Dalam pandangan saya ada beberapa hambatan yang berasal dari luar atau dari dalam diri kita. Yaitu Pertama: Sikap dasar kita: malu dan sombong. Malu untuk merubah atau berubah (bandingkan sikap ini dengan sikap seorang anak saat melakukan kesalahan dalam permainan bersama temannya, mereka tidak sungkan untuk segera berkata MAAF). Sombong untuk mengikuti atau mengakui keberadaan supremasi orang diluar dirinya.


Kedua: Sikap establishment. Rhenald Khasali menuliskan tentang ini (2005: xxxv-xxxvi): …ini adalah sebutan untuk kelompok mapan …setiap perubahan akan dianggap sebagai ancaman, dan change maker’s akan diberi ruang yang sangat sempit untuk bergerak. Langkah-langkah change maker’s di gugat dan selalu dikembalikan kepada bayang-bayang kesuksesan di masa lalu.


Ketiga: Cepat lahirnya rasa puas diri. Mereka pikir apa yang telah mereka peroleh hari ini adalah prestasi paling tinggi baginya. Padahal sangat boleh jadi jika mereka terus menerus mereformasi diri, kemungkinan untuk mendapatkan prestasi yang lebih dahsyat yang akan mereka temui. Mereka inilah yang oleh Paul G. Stolz disebut sebagai orang-orang yang berkemah (camper’s). Orang yang meresa sepat puas.


Keempat: Belum lahirnya sikap pembelajar sepanjang hayat. Hal ini juga berkait dengan sikap orang cepat merasa puas dengan apa yang didapatnya sekarang. Manusia pembelajar sepanjang hayat tidak mengenal sama sekali kamus ‘pandai’ atau ‘pintar’. Mereka tidak ada kata berhenti untuk belajar, belajar dan belajar!


Paradigma yang dikumandangkan Aa’ Gym berkenaan dengan perubahan, mengubah diri dengan 3 M (Mulai). Yaitu: Perubahan harus dilakukan mulai dari diri sendiri. Perubahan dari mulai hal-hal kecil. Dan perubahan mulai sekarang juga.

Jakarta, 4 Januari 2010.

03 Januari 2010

Esensi UASBN 2010?

Ini adalah komentar dan pernyataan salah seorang dari orangtua siswa kelas 6, saat kami selesai memaparkan UASBN, kisi-kisi soal dan batas minimal kelulusan di sekolah kami kepada seluruh orangtua siswa kelas 6 pada akhir Desember 2009 yang lalu.

Dimana dalam forum tersebut Kepala Sekolah memaparkan nilai minimal kelulusan tahun sebelumnya dan dengan melihat lebih dan kurangnya potensi akademik dari para siswa kelas 6 tahun ini, maka Kepala Sekolah mengusulkan untuk nilai minmal sebagai syarat lulus di tahun ini.

Beberapa orangtua yang mengetahui potensi akademik putra-putrinya di atas rata-rata kelas mengusulkan agar supaya nilai minimal kelulusan itu dibuat dan diputuskan untuk lebih tinggi lagi. Agar dengan nilai tersebut harga diri sekolah dapat lebih baik lagi dibanding sekolah lain atau dibanding tahun pelajaran sebelumnya.

Disini ada sedikit diskusi mengingat dengan nilai minimal yang dia sampaikan pada akhirnya nanti akan menyulitkan beberapa siswa yang memang memiliki kesulitan akademis atau mereka yang nilai akademisnya berada di bawah nilai rata-rata kelas. Ini harus dipahami karena sekolah kami adalah sekolah yang tidak keseluruhan siswanya adalah cerdas akademik. Sekolah kami adalah sekolah untuk semua siswa dengan keberagaman potensi akademik, sikap dan perilaku.

Dan dari diskusi tersebut akhirnya disepakati sebuah angka minimal untuk syarat lulus. Nilai inilah yang nantinya oleh Kepala Sekolah akan sampaikan kepada Dinas Pendidikan Nasional yang ada di Kecamatan. Tentu setelah mendapat persetujuan dari orangtua siswa kelas 6.

Namun meski keputusan berkenaan nilai minimal telah disepakati, masih ada beberapa orangtua yang belum utuh pemahamannya tentang nilai minimal yang masih dibawah angka 5 itu. Bahkan masih ada yang bertanya mengapa nilai kelulusan ditentukan oleh sekolah?

Saya mencoba memberikan tambahan keterangan. Bahwa inilah salah satu yang membedakan antara UN di SMA dan SMP dengan UASBN di SD. UN di SMA dan SMP, nilai minimal sebagai syarat kelulusan menjadi keputusan BNSP, Badan Nasional Standar Pendidikan. Sedang UASBN di SD nilai minimal itu masih menjadi tanggungjawab sekolah, tentunya dengan melihat potensi akademik siswa yang ada.

Maka setelah selasai pertemuan itu, datang seorang Bapak kepada saya dan menyatakan kesimpulannya bahwa; Kalau demikian uraiannya, menurut saya UASBN merupakan keputusan politis. Dan lulus atau tidak lulus juga politis semata. Mengapa? Bukankah semua sekolah akan membuat nilai minimal sebagai syarat untuk lulus dengan memprediksi agar semua siswanya lulus? Lalu dimana esensi dari UASBN itu?

Saya diam. Lalu mengangguk. Benar!

Jakarta, 3 Januarui 2010.

02 Januari 2010

Perubahan Itu = Melakukan Sesuatu yang Berbeda


Apakah perubahan itu? Tanpa mengacu kepada Kamus, saya mencoba untuk membuat rumusan sederhananya; perubahan adalah melakukan sesuatu yang berbeda. Berbeda mengingat ia dilakukan bukan merupakan sebuah rutinitas.


Untuk memberikan gambaran berkenaan dengan perubahan ini, saya akan menguaraikan dua kisah pribadi.


Kisah pertama adalah kisah pada sebuah masa ketika hidup bersama keluarga di Sritejokencono, Punggur, Lampung, tahun 1972. Almarhum ayah saya yang bertugas sebagai seorang pengairan di DPU mengajari para tetangga bagaimana bertani di lahan basah. Sawah. Ini dia lakukan ketika desa dimana kami ditempatkan di rumah dinas, yang sebelumnya merupakan lahan perladangan harus berubah manakala daerah kami dialiri irigasi. Maka lahan kering yang berupa ladang tersebut menjadi lahan sawah yang penuh air.


Para tetangga tidak saja belajar bagaimana menanam padi, tetapi bahkan sejak dari membuat pematang, mencangkul di tanah yang berair, menanam padi dengan gerak mundur, menyirami tanaman dengan pupuk, menyiangi, menyemprot obat anti hama, memanen padi, dan seterusnya.


Meski setelah padi selesai dijemur, para tetangga tersebut menjual seluruh padinya dan membelanjakan sebagaian hasilnya itu untuk membeli gaplek sebagai makanan pokok mereka pada waktu itu. Gaplek mereka olah menjadi tiwul yang ketika masak berwarna hitam.


Dalam periode berikut, Mamak saya mengajarkan bagaimana nasi tiwul yang berwarna hitam di oplos dengan nasi dari beras yang kemudian disebut sebagai nasi putih. Dan setelah sekian tahun berlalu di desa kami ini tidak ada lagi nasi hitam atau nasi putih. Sekarang semua nasi dari beras. Nasi gaplek hanya diolah menjadi gatot dan atau tiwul telah menjadi jajanan pasar dan bukan makanan pokok.


Dan selama dua hingga tiga kali musim tanam para tetangga masih mengalami semacam gegar budaya sebagai petani berladang menjadi bersawah. Sehingga aliran irigasi yang menyediakan berkilo-kilo ikan tawar berbagai jenis tidak sempat mereka petik kecuali oleh saya sendiri yang saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD dengan jala. Dan para anak petani menjadikan itu sebagai tontonan.


Ini adalah bentuk perubahan yang sangat mendasar dan dahsyat menurut apa yang pernah saya lihat dan alami sendiri.


Kisah saya yang kedua adalah kisah tentang perjalanan pulang kampung. Sebagaimana yang sering saya tulis sebelumnya bahwa, pulang kampung adalah rutinitas keluarga kami. Namun bagaimana menarik perhatian anak dan istri saya untuk senang menengok Kakek dan Nenek mereka di kampung karena mereka hidup dan besar di kota yang siangnya sibuk dan malamnya terang benderang, adalah bentuk perjuangan saya.


Maka saya membuat peta perjalanan pulang kampung sebagai perjalanan petualangan. Saya membuat difinisi pulang kampung sebagai perjalanan wisata, menikmati jalan yang menganugerahkan pesona alam di kiri dan kanannya, kuliner, ini khususnya untuk istri saya, mengunjungi tempat unik untuk belanja, hiking ketika sampai di kampung. dengan mengajak mereka untuk mengitari pekarangan, desa, hingga ke gunung, berendam di sungai untuk anak lelaki saya dan melepas rutinitas.


Untuk semua itulah saya menyiapkan stamina bagi terwujudnya kegembiraan pulang kampung. Dan perubahan yang saya lakukan adalah selalu menggunakan jalan atau mengunjungi tempat yang tidak sama dari waktu ke waktu. Dan perubahan bentuk ini sesungguhnya membuat saya kawatir. Kawatir untuk kesasar. kawatir kalau terjadi sesuatu.


Tapi satu keyakinan yang selalu saya tanamkan pada diri saya bahwa jalan atau tempat yang baru, selalu akan menghadirkan pengalaman luar biasa mengesankannya. Di sana akan saya temukan situasi dan pengalaman baru. Dan di sinilah lahir keyakinan saya untuk selalu bersiap menikmati bumi Allah yang tidak terduga menakjubkannya. Maka hampir setiap ruas keindahan dan tempat ,menyenagkan nyaris kami singgahi di jalur pulang kampung kami.


Dan saya meyakini ini adalah implikasi dari keberanian kami dalam menempuh sesuatu yang selalu berbeda dalam setiap perjalanan pulang kampung kami. Dan pulang kampung menjadi sesuatu yang menggairahkan bagi kami. Dan tidak saja bagi saya yang memang dari sananya adalah anak kampung. Tapi juga bagi istri dan anak-anak saya yang lahir dan besar di situasi Jakarta!


Jakarta, 2 Januari 2010.

01 Januari 2010

Mendadak Konser Musik RAN


Menggeser apalagi merubah jadwal konser, merupakan pilihan kontraproduktif untuk sebuah proses pendidikan bagi pengurus OSIS SMP kami. Dan oleh karenanya, itu bukan merupakan bagian solusi yang apik dan strategis bagi masalah kami saat itu. Inilah pikiran saya saat harus menemukan kenyataan bahwa OSIS SMP kami membuat kejutan untuk mengundang kelompok musik RAN di acara Panggung Ekspresi yang bertajuk Friendship Festival pada Kamis, 24 Desember 2009.

Saya katakan kejutan karena kegiatan tersebut semula dirancang dengan semangat dari mereka untuk mereka. Dan dalam benak saya jika ini yang menjadi temanya, maka tidak perlu adanya antisipasi penonton yang lebih serius mengingat kegiatan ini telah berlangsung secara rutin hamoir selama dua periode kepengurusan OSIS SMP kami.
Namun ketika ditengah persiapan kegiatan dan muncul ide untuk menghadirkan RAN yang memiliki fans tersendiri tetapi pada saat bersamaan sedikitnya 4 mata acara di lokasi yang sama yang akan menyedot perhatian publik, yaitu terima rapot semester, bazar, pertemuan orangtua SMP, pemilihan POMG SMP dan panggung ekspresi tersebut, tak pelak lagi menjadi pemikiran kami untuk benar-benar merealisasi kegiatan ini secara terencana dalam segi keamanan.
Terlebih lagi jika hal ini dikaitkan dengan sekolah kami yang hanya memiliki lapangan yang telah habis untuk panggung serta lapangan parkir yang hanya cukup untuk 50-an kendaraan roda empat. Sementara rencara kejutan itu baru resmi saya terima 4 hari kerja sebelum hari H.

Maka yang seketika hadir di kepala saya adalah (1). Tidak menggagalkan rencana kejutan remaja kami yang tengah bersemangat. Karena jika ini solusi yang kami pilih, kami akan memetik hasil yang kontraproduktif. Namun demikian saya berpikir agar mereka juga bekajar tentang RENCANA. Oleh karenanya kami ajak mereka berpikir bagaimana rekayasa keamanan di saat pelaksanaan konser?

(2). Saya mengundang penanggungjawab keamanan disertai Kepala Sekolah, Pembina OSIS dan Penanggungjawab keamanan. Kami berdiskusi dari segi atau cara pandang kami masing-masing dan mencoba membuat prediksi tentang teknis pelaksanaan di hari H. Semua dapat mengutarakan pendapat dan diakhiri dengan konsepsi kesimpulan tentang kegiatan hari H-nya.

Saya segera menyebarkan informsi hasil pertemuan itu kepada seluruh komunitas sekolah. Demikian juga kepada penanggungjawab keamanan serta crew-nya, masing-masing melakukan persiapan sesuai hasil rapat.
Alhamdulillah, atas pertolongan dan petunjuk dari Allah, semua skenario kami coba jalani dengan sepenuh komitmen yang kami miliki. Tidak ada satu unsurpun dari kami yang tidak berkontribusi. semua menyatu membentuk puzzle yang utuh. Semua penampil naik panggung dengan penuh percaya diri. Mereka adalah para siswa dari TK, SD, SMP dan bahkan alumni.

Dan sebagai puncak dari kegiatan itu adalah enam (6) lagu dari RAN yang disimak oleh lebih kurang 150-an penonton dengan tertib tidak kurang sedikitpun. 

Dan peristiwa ini mengguratkan pengalaman berharga bagi saya sendiri: Jangan pernah mematahkan semangat yang tengah tumbuh penuh keyakinan meski hal itu tidak disertai prediksi di tingkat operasionalnya. Tugas kita sebagai pembimbing adalah menyertainya dengan peta perjalanan yang jelas koordinatnya!

Jakarta, 1 Januari 2010