Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

28 Maret 2012

Apa yang Menginspirasi Kakak Membuat Lagu?


Dalam sebuah kegiatan yang bertema Musik, kelas 4 mengundang guest speaker yang rupanya dipilih grup band anak muda, untuk berbagi dengan mereka bagaimana menjadi pemusik dan bermain musik. Acara seperti ini tentunya tidak merupakan perjuangan guru-guru sendiri. Tetapi teman-teman guru itu telah berkolaborasi dengan para orangtua siswanya dan berhasillah salah satu group band yang didatangkan untuk menjadi pembicara tamu dalam talk show yang digelar di hall utama sekolah. Acara itu sendiri berlangsung pada Selasa tanggal 20 Maret 2012.

Gambar pertama ini  memperlihatkan kegiatan telah berakhir, dan meminta para pemain band untuk berfoto bersama dengan guru dan orangtua. Siswanya mana? Dikala foto diambil, para siswa rupanya sibuk luar biasa untuk mencari kertas. Kami baru sadar bahwa mereka mencara kertas tidak lain adalah untuk meminta tanda tangan anggota band tersebut yang langsung menjadi tenar.

Banyak hal mengagetkan yang saya dapat dalam berjalannya talk show tersebut. Misalnya anak yang bertanya kepada pembicara tamu itu: Kak, apa yang menginspirasi kakak dalam membuat lagu? Dahsyat bukan pertanyaan itu untuk siswa di kelas empat sekolah dasar? Dari mana anak itu memahami kata inspirasi dan mampu merangkaikan dalam satu kalimat? 

Atau juga ketika Sashi, anggota band itu meminta untuk follow twitter mereka, kalau ingin mengatahui up date kegiatan band mereka. Rupanya Sashi sadar bahwa yag menjadi audiens belum remaja. Dan ajakan itu menjadi absurd untuk anak-anak. Maka ajakan itu segera dirubah menjadi sebuah pertanyaan. Sashi bertanya: Apakah ada dari kalian yang sudah punya akun twitter? Serempak anak-anak menjawab: Sayaaaa... Jawab lebih kurang sepuluh siswa dari yang hadir. Kami yang penonton bertepuk tangan. Saya khususnya, merasakan ada fenomena yang luar biasa 'beda' generasi siswa kami ini. Baik dalam kosa kata yang dikuasainya atau juga dengan teknologi yang digunakannya. Menakjubkan!

Tema musik kali ini dipilih oleh teman-teman di sekolah sebagai tema besar dalam special event yang menjadi kegiatan rutin tengah semester untuk semua unit sekolah dan kelasnya. Dan dalam kegiatan ini, maka guru-guru mengembangkan sub tema yang lebih operasional di tingkat kelasnya masing-masing. Mungkin topik pembahasan tersebut dapat dilihat dalam gambar foto ini.





Sedang gambar inimenunjukkan kesibukan Sashi, salah satu anggota band tersebut, untuk memberikan tandatangan di keras yang disodorkan oleh penggemar kecilnya.

Jakarta, 28 Maret 2012.




27 Maret 2012

Tidung yang Mengesankan

Perjalanan wisata ke Tidung, yang merupakan bagian dari Kepulauan Seribu, tampaknya tidak begitu mudah kami laksanakan meski berdasarkan survey, destinasi ini paling banyak dipilih teman-teman di kantor. Mengingat sejak Minggu, tanggal Senin, 19 Maret 2012, Jakarta diterpa angin kencang. Ini tantangan pertama kami. Sehingga dari yang semua terdaftar 55 orang berkomitmen untuk berangkat dari guru atau staf, menyusut menjadi sekitar 35 orang plus peserta tambahan yang berasal dari anggota keluarga guru atau staf.

Tantangan rupanya belum berakhir, karena saat sampai di dermaga Muara Angke yag sungguh tidak representatif bagi pemberangkatan wisatawan, kita terkaget-kaget dengan jumlah manusia yang luar biasa banyak berkumpul untuk menunggu diberangkatkan kapal laut dengan berpenumpang sekitar 150-an penumpang. Alhasil, berebut naik kapal menjadi usaha yang harus dijalani oleh penumpang. Dan karena menunggu sudah pukul 11.00 belum juga ada kapal yang cukup untuk memberangkatkan kita, maka diputuskan untuk menumpang kapal cepat menuju Tidung.

Tiupan angin yang keras, dan ombak yang lumayan tinggi, justru menjadi sensasi tersendiri bagi orang muda untuk naik ke atap kapal. Meski air laut mengguyur mereka, tetap tidak menyurutkan semangat untuk menikmati situasi yang berbeda.




Padatnya pengunjung mendatangi icon Pulau Tidung, Jambatan Cinta. Lokasi yang tidak pernah kosong. Malam hingga pagi menjadi tempat favorit pemancing. Pagi, di subuh hari hingga malam, pengunjung lainnya siap dengan kamera masing-masingnya.



Salah satu kegiatan yang juga tidak kalah menariknya adalah mengintip keindahan karang dan biota laut melalui snorkling. Dan begitu perahu lepas jangkar, maka semua anggota rombongan segera mengekplorasi.






Naik banana boat hingga berkali-kali, tentu  tidak menjadi keinginan setiap orang. Tapi bagi 'petualang', kesempatan seperti ini menjadi yang diidam-idamkan.





Yang muda dan masih mampu serta bertenaga.

Jakarta, 27 Maret 2012.

Melihat Jawa dari Peta

Siang ini, mengingat ada mata plajaran yang kosong, juga nanti pada hari Kamis, saya akan masuk kelas untuk belajar bersama dengan anak-anak. Karena saya tidak memiliki mata pelajaran, maka saya akan memberikan pelajaran yang berbeda dari apa yang pernah diterima anak-anak dari guru mereka masing-masing. Dan hari ini, saya mengajak anak-anak itu menikmati Indonesia, khususnya Pulau Jawa dengan peta Mudik tahun 2011, yang saya dapatkan dari toko buku saat Ramadhan tahun lalu.

Saya masuk kelas dengan membawa peta Pulau Jawa-Bali yang cukup untuk masing-masing  berdua.  Tapi sebelum peta kita nikmati bersama, saya membacakan cerita anak tentang kehebatan ayahnya yang dimuat di Kompas Anak, terbit hari Minggu tanggal 25 Maret 2012. Sembari menyimak, anak-anak saya meninta untuk menyilang kata-kata yang saya baca, yang mereka telah tulis di kotak-kotak yang berjumlah 16. Tentu ini siasat agar mereka benar-benar menyimak cerita yang saya bacakan. Benar saja, anak-anak tampak tekun mengikuti jalannya cerita. Meski cerita itu berkisar tentang anak-anak naun itu tidak menjadi halangan baginya.

Selesai dengan cerita, saya mengajak mereka untuk berdiskusi tentang pesan yang dapat kita tangkap dari cerita tersebut. Alhamdulillah, anak-anak memperoleh sesuatu dari kisah anak yang semula malu dengan profesi orangtuanya karena hanya kalah 'keren'. Namun akhirnya Rido, si anak dalam cerita tersebut menyadari kekeliruannya dan dengan melihat semangat serta semangat ayahnya dalam memberi manfaat kepada orang lain, kebanggaan terhadap orangtua tersebut muncul.

Diskusi cerita  itu harus saya akhiri. Karena waktu yang ada tinggal empat puluh menit lagi. Saya meminta semua anak menemukan kota Cilegon, yang ada di bagian utara Pulau Jawa bagian barat. Kemudian saya meminta menyebutkan urutan kota-kota dari Cilegon ke arah kiri menelusuri Jalan Utama. Nah disini saya mengajak anak untuk melihat perbedaan antara jalan yang digambar dengan warna merah tebal, merah kecil, dan biru. Saya ajak mereka melihat legenda peta yang ada di pojok kiri sebelah bawah. Semua menemukan.

Dari Carita, saya mengajak anak-anak untuk terus mengikuti jalur wisata ke arah bawah atau ke arah selatan hingga ke Ujung Kulon. Dari sini saya mengajak mereka menuju arah timur hingga ke Pelabuhan Ratu. Bawah, kanan, kiri, dan atas ini kemudian saya sampaikan bahwa untuk membaca peta, arah-arah yang standar untuk ke kiri adalah arah mata angin barat. Kanan dalam peta berarti arah mata angin timur, arah atau dan bawah dalam arah mata angin adalah arah utara dan selatan.

Di tempat-tempat wisata itu, seperti ketika di Pangandaran misalnya, saya meminta anak  yang pernah ke lokasi tersebut untuk bercerita. Saya juga memberitahukan alternatif perjalanan menuju tempat-tempat wisata tersebut. Perjalanan di peta itu baru kami akhiri setelah kami sampai ke Surabaya setelah sebelumnya dari Pangandaran ke Cilacap, Bantul, Parangtritis, Kukup, Krakal, terus menuju timur hingga ke Banyuwangi dan lanjut ke Panarukan.

Perjalanan benar-benar kami akhiri di Surabaya. Setelah sebeklumnya kami berdiskusi berapa jauh perjalanan yang telah kita tempuh dengan terlebih dahulu kita  membandingkan jarak peta dengan jarak nyata dengan bantuan skala.

Dan hingga pelajaran berakhir, kami senang. Setidaknya saya. Yang telah menyampaikan bagaimana Pantai Selatan Jawa kepada anak-anak itu. Dan harapan saya, ini menjadi inspirasi bagi mereka untuk liburan nanti tidak harus ke luar negeri...

Jakarta, 27 Maret 2012.

'Menginspirasi'

Itulah pendapat salah seorang alumni, yang berkunjung untuk silaturahim ke sekolah dengan mengajak dua rekannya yang sekarang bersekolah di boarding di Magelang, Jawa Tengah. Pertemuan itu dimungkinkan karena ia baru akan terbang sekitar pukul 14.00, sementara pertemuan kai pukul 10.00. Pendapat yang dikemukakannya ketika saya bertanya kepada mereka apa yang seharusnya diberikan oleh siswanya, terutama pada saat-saat Ujian Nasional sebentar lagi berlangsung?

  • Dan apakah Bapak dan Ibu gurumu sekarang cukup dalam memberikan inspirasi kepada kalian sehingga melahirkan siswa-siswa yang telah memiliki visi dan misinya dalam meraih cita-cita besarnya di masa depan? 
  • Benar Pak Agus. Kami tidak ada henti-hentinya untuk diberikan hal-hal inspiratif, yang membuat kami semua merasa yakin bahwa kamilah pemenangnya.
Jawaban itu, memberikan ketegasan kepada saya untuk terus menerus berusaha dan tidak mudah menyerah apalagi berputus asa, dalam memompakan semangat kepada kelas sembilan dari para siswa saya, atau adik kelas mereka, yang hingga empat pekan sebelum Ujian Nasional berlangsung masih saja belum menunjukkan perubahan akan sikapnya kepada tugas untuk sebuah hasil yang maksimal tersebut. Terus menarus dengan intensitas yang jagan pernah kendor atau lemah sedikitpun.

Jawaban itu juga memberikan isyarat kepada saya agar saya tidak memberikan bahasan-bahasan atau kalimat-kalimat ceramah dan tuntutat, yang seolah-olah sedang memberikan nasehat, padahal tanpa disadari olah saya sendiri bahwa itu dimata anak-anak didik saya adalah  memberikan ancaman semacam keburukan yang akan datang manakala kemalasan dan ketidaksiapan yang kita jalankan. Semacam soft violence. Kata Bunda Neno Warisman dalam seminarnya di sekolah kami beberpa hari lalu. Dan seterusnya-seterusnya.

Tapi, inspirasi? Inilah yang menjadi bahasan saya berikutnya. Apa kiranya yang dapat saya sampaikan kepada anak-anak itu sebagai kisah atau apapun yang menjadikanya inspirasi bagi suksesnya atau bagi maksimalisasinya hasil belajar anak? Mungkin seperti kisah pagi ini yang saya dapati di hadapan kelas 6. Dimana anak-anak dengan amat khusuknya 'menikmati' alunan gelombang positif yang dibangun oleh para gurunya. Positif dari mulai dunia batin hingga penciptaan afirmasi terhadap hasil yang maksimal dan memuaskan.
Lalu bagaimana kalau baru saya sendiri sementara teman yang lainnya belum dan bahkan kalau sendiripun juga saya tidak akan memiliki kemampuan yang baik untuk memberikan drive kepada anak-anak? Baik, mungkin siang ini akan menjadi agenda saya untuk dapat mengajak beberapa teman lan,  untuk bisa menemani saya melihat bagaimana teman-teman guru di kelas enam 'menuangkan' gelombang dan vibrasi positif kepada anak-anak sebelum Ujian Nasional berlangsung.

Mudah-mudah ini menjadi jalan keluar bagi saya untuk menjadi bagian yang menginspirasi anak-anak itu. Semoga.

Jakarta, 27 Maret 2012.

25 Maret 2012

Seputar PPDB di Sekolah Swasta

Untuk yang kesekian kalinya, saya bertanya dan mencoba mencocokkan data kepada berbagai pihak yang terkait, antara lain kepada bagian pendaftaran, bagian keuangan, dan juga kepada kepala  sekolah, berkaitan dengan jumlah calon peserta didik baru untuk tahun pelajaran mendatang yang sudah dalam tahap penyelesaian administrasi setelah pengumuman diterima berjalan selama dua pekan. Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun membutuhkan akurasi yang tepat.

Ketepatan data ini nantinya akan menjadi bahan untuk memastikan berapa jumlah calon peserta didik tersebut di kelas yang ditujunya di tahun pelajaran depan. Data yang akurat menjadi sangat penting bagi kami, karena dengan itu kami dapat memastikan jumlah siswa yang masuk tidak melebihi kapasitas jumlah siswa yang menjadi standar kami, untuk setiap kelasnya. Selain itu, tujuan kami dalam melihat dengan cermat jumlah siswa yang membayar tersebut,  juga untuk memastikan bahwa kelas kami tidak kekurangan. Maka untuk kepentingan itu, pihak keuangan pun terus menerus mengecek rekening koran dari bank rekanan kami secara up date.

Berkenaan dengan waktu PPDB pun, kami juga telah memulainya sejak akhir Januari setiap tahun berjalan. Ini juga menjadi strategi bagi kami yang bekrja di lembaga pendidikan swasta. Agar ketika Juni datang, kami telah aman untuk tidak berebut dengan sekolah-sekolah pemerintah yang nota bene memiliki daya tampung yang luar biasa besar. Baik yang berstatus RSBI atau yang reguler. Dan perjuangan ini nampaknya akan terus berjalan mengingat siswa atau peserta didik  adalah nadi kehidupan bagi lembaga pendidikan swasta. Sangat berbeda dengan sekolah di bawah bendera pemerintah.

Walau begitu, masih ada beberapa hal yang 'menggelikan' dari beberapa aparat yang sebenarnya dapat berperilaku lebih arif lagi. Ini tidak lain karena beberapa orang tersebut merasa (ber)kuasa. Seperti misalnya menegur kami karena kami dan teman-teman lain yang sama-sama sekolah swasta, telah mendahului jadwal yang dibuat oleh kantor mereka. Untuk hal seperti ini kami, saya terutama, akan tekun mendengarkan petuah mereka. Meski kami kasian terhadap mereka karena pengetahuan mereka terhadap kami, sebagai sekolah swasta yang juga berkontribusi pada dunia pendidikan di negeri tercinta ini. Naif bukan?

Juga, misalnya, ada yang memanggil kami dan mendudukkan kami seolah mengadili, hanya karena ada anak kenalannya yang kebetulan menjadi siswa cadangan dalam PPDB yang kami laksanakan tersebut. Dan untuk hal ini, kami, saya khususnya, geli juga. Sekaligus kasihan dengan orang-orang model seperti ini. Karena merasa bahwa kekuasaan telah dimengerti sebagai gertakan. Sementar kami,  mohon maaf, justru merasa kasihan dan prihatin. Saya berpikir bahwa orang-orang yang memiliki model seperti ini ketika ada mutasi, atau perubahan struktur yang ada di kantornya, maka akan  riskan untuk terserang penyakit.

Tetapi itulah sekelumit apa yang kami alami sebagai sekolah swasta di negeri tercinta ini. Jika apa yang saya kemukakan di atas adalah seputar penerimaan peserta didik baru, masih ada beberapa lembar lainnya yang kami rasa dan alami berkenaan dengan status kami sebagai sekolah swasta.

Jakarta, 14-25 Maret 2012.

Sampah, adalah Jejak Kehadirannya

Ada yang ditinggalkan, dalam bentuk cindera mata yang merupakan kemubasiran,  atas kehadirannya di tempat-tempat wisata yang sadar atau tidak, menurut saya adalah manifestasi individualisme. Dan semua individualisme bermuara kepada sisa-sisa ego yang meski tidak mudah lenyap namun tetap menjadi sampah. Sampah yang dalam jangka pendek akan menambah beban hidup kepada mereka yang terbebani. Seperti para petugas kebersihan yang akan mendapat upah tidak akan mencapai apa yang diperoleh oleh mereka yang bergolongan pegawai III di lingkungan pemerintah hingga kiamat kelak. Tetapi bebannya tidak akan pernah menjadi lebih ringan.

Dan manakala itu terlanjur menjadi budaya hidup, maka cost yang harus dikeluarkan untuk sebuah budaya rendah tersebut akan terus meningkat setiap waktunya. Namun sampai sekarang ini pun masih sedikit pemahaman itu untuk kemudian bermigrasi dari budaya rendahan menjadi budaya hidup tinggian. Yang  ada dalam asumsi saya hanyalah gaya hidup. Gaya hidup bersih dan wangi, yang seakan-akan bagus sejak dari hulu hingga hilirnya. Padahal tidak. Karena gaya hidup itu baru sekedar pencitraan diri. Oleh karenanya belum mencapai budaya atau kultur yang memang sejak hulu dan hilir itulah adanya.   Sebagaimana laporan utama dalam harian Kompas, hari Minggu tanggal 25 Maret 2012;  Wangi di Depan, Jorok di Belakang. Itulah realitas gaya hidup dan belum menjadi sebuah budaya bercitarasa naik.

Sampah yang dalam jangka panjang, seperti grafiti pada batu di goa dan monumen, atau  juga plastik dan kaleng, juga akan menjadi catatan buruk yang tidak mudah dilenyapkan oleh mereka yang mempunyai ingatan. Keburukan yang akan menjadi pengikat atas keburukan perilaku kita kepada alam yang telah memberikan kehidupan kepada kita.

Jangan Berhenti pada Gaya Hidup

Atas itu semua, saya berazam pada diri sendiri untuk terus memegang pandangan agar bagus dan baik tidak berhenti sebagai gaya hidup dan pencitraan semata. Tetapi harus berlanjut untuk menjadi budaya hidup. Gaya hidup adalah bentuk seolah-olah. Sedang budaya hidup merupakan hakekat. Karena budaya akan menutut kepada holitisitas. Keparipurnaan. Sedang gaya, adalah bentuk parsialitas dari budaya. Setidaknya inilah pandangan saya.

Dan khusus pada alam yang telah memberikan kepada kita pemenuhan kebutuhan jiwa dan raga, maka jadikanlah budaya baik kepadanya. Jangan pernah meninggalkan jejak buruk atasnya sebagai bentuk rasa terimakasih kita. Karena itu adalah bentuk pengingkaran dan bukan pengakuan terimakasih.

Jakarta, 25 Maret 2012.

24 Maret 2012

Berpikirnya, Jangka Panjang

Orang-orang tanpa pamrih itu berpikirnya jangka panjang dan transendental. Bukan hanya sekarang, esok atau mungkin lusa. Itulah kesimpulan saya setelah saya dapatkan cerita teman satu kamar di kunjungan kami ke Tidung. Sebuah pengalaman batin langka yang alhamdulillah, saya temukan dan kemudian saya ikat dalam artikel ini. Sebuah pengalaman berharga bagi saya sendiri dan mungkin juga anda, yang hidup dan berinteraklsi dengan sebuah lingkungan sosial yang telah beranjak dari masyarakat sosial emosional kepada masyarakat yang cenderung prakmantis, materialistik, dan sekaligus individualis.

Itulah mutiara hidup dari seorang ibu yang menyediakan kamar mandinya dengan air yang masih melimpah kepada seorang pengunjung dadakannya untuk mandi setelah bermain dengan pasir di laut yang menyenangkan hati bagi keluarganya. Sebuah pengalaman bagi teman saya, yang didapatnya justru ketika didapati air mandi di penginapannya telah habis terkuras oleh temn yang lainnya, dan bersamaan dengan masin air yang tidak dapat difungsikan kembali. Mungkin mirip dengan sebuah kisah  seperti hikmah dibalik sebuah musibah.

Musibahnya adalah kehabisan air bersih untuk mandi di penginapannya sehingga harus meminta air dan mandi di luar penginapan yang pasti tidak membuatnya nyaman. Tetapi hikmahnya adalah pertemuan dengan seorang Ibu yang berpikir jauh sekali ke depan, yang mempersilahkannya untuk mandi di kamar mandinya. Dan perkenalan itu menjadi lebih intens manakala Ibu itu menolak untuk diberikan uang sebagai imbalan terhadap apa yang telah Ibu itu berikan kepada teman saya.

Cara Pandang Transenden dan Jauh ke Depan

Bukan itu saja yang membuat teman saya terkaget pada saat akan menyerahlan uang imbalan tersebut. Tetapi justru kepada apa yang kemudian Ibu itu sampaikan kepadanya. Dikatakannya bahwa ia ikhlas untuk memberikan air yang menjadi kebutuhan temn saya itu, Karena ia berpikir bahwa anaknya yang tinggal di darat, Pulau Jawa maksudnya, juga akan butuh bantuan dari orang lain. Juga bahwa ia akan berangkat Haji tahun depan, yang dengannya ia berharap kemudahan Allah akan terlimpahkan kepadanya.

Itulah cara pandang dan cara melihat transenden dan sekaligus jauh ke depan. Karena itu, itulah yang menurut saya sebagai model dari cara berpikir positif. Jauh ke depan, karena Ibu itu tidak mau menerima uang upah atas air yang telah dipakai oleh teman. Karena ia berpikir bahwa upah yang kalau ia terima, itu berarti masa kini. Karena dengan begitu maka transaksi telah terjadi dengan skor satu - satu. Impas. Dan Ibu itu dengan kecerdasan spiritualnya memilih untuk menerima imbalan yang transenden dan jauh di depan.

Jakarta, 24 Maret 2012.

Keramahan sebagai Investasi SDM

Keramahan yang diwujudkan dalam bentuk totalitas guru dan  karyawan atau komunitas sekolah untuk memberikan pelayanan sepenuh hati kepada anak didiknya di dalam kelas hingga anak-anak itu kembali ke rumah mereka masing-masing, dan kepada orang yang terlibat dalam komunitas sekolah menjadi nilai daya erat di sekolah yang saya kunjungi. Karena sisi itulah yang paling menonjol dari seluruh interaksi kami saat itu.

Dan dengan keunggulannya itu, tampaknya teman-teman yang menjadi pelaksana di lapangan begitu percaya diri dengan kekurangan yang dimilikinya, yang kemudian menjadikannya sebagai modal dalam memberikan pelayanan. Luar biasa. Sungguh membangkitkan kekaguman bagi kami ketika kunjungan itu kami lakukan.

Setidaknya kesan dan asumsi itu saya dapatkan tidak saja ketika bertemu dan tukar pikaran pada saat kunjungan itu saja, tetapi juga ketika melihat statistik jumlah siswa yang ada dan juga jumlah pendaftar dalam penerimaan peserta didik baru untuk tahun pelajaran depan yang sedang berproses pada tahapan seleksi. Dimana jumlah pendaftar 100 prosen dari jumlah yang akan diterimanya sesuai dengan daya tampung kelas yang ada.

Gedung Sekolah

Hal yang paling pertama akan mudah sekali dilihat oleh para siapa saja ketika berkunjung di lembaga  tersebut adalah dengan gedungnya. Dan itu pulalah yang menjadi pertanyaan kami saat berdiskusi. Dan mendapatkan penjelasan bahwa gedung sekolah yang memiliki luas untuk ruang kelasnya tidak lebih dari ukuran 4x5 meter itu, dengan di sana-sini harus mendapatkan renovasi yang hampir total jika targetnya adalah kecantikan, karena bekas gempa yang melanda daerah ini beberapa waktu yang lalu.

Namun gedung yang menjadi tongkrongan itu tidak secara keseluruhan menjadi pengikat bagi komunitas yang ada di dalamnya. Dan ini menunjukkan bahwa ada perekat lain yang membuatnya tetap memberikan sinar bercahaya, yang dengannya makan para peserta didik dan keluarganya terlihat berlomba untuk menjadi bagiannya.

Dan pada saat kunjungan itulah kami dapat memberikan kesimpulan bahwa totalitas SDM yang ada di dalamnya yang memberikan kontribusi bermakna dalam sebuah kemistri interaksi yang menyenangkan tersebut. Itulah keramahan dan sekaligus ketulusan dalam memberikan pelayanan. Itulah investasi lembaga tersebut dalam memenangkan sebuah kompetisi dalam soal pemenuhan kuota siswa. Karena pemenuhan ini menjadi sangat penting bagi sebuah lembaga pendidikan swasta. Dan tampaknya, target pemenuhan kuota itu, salah satu yang menjadi perekatnya adalah keramahan.

Catatan Sabtu pagi di Tidung, 24/03/2012.

Melihat Semangat Perjuangan Teman


Beberapa waktu lalu saya bersama teman melihat, bersilaturahim, dan berdiskusi di lapangan yang teman-teman sebut sebagai ladang perjuangannya. Kami datang di pertengahan waktu antara waktu Ashar dan Magrib. Dan baru meninggalkan lokasi itu persis saat waktu Isyak berkumandang.  Namun waktu yang singkat itu telah banyak memberikan inspirasi kepada kami yang menjadi pengunjungnya.

Berkeliling menjadi pembuka kunjungan kami. Diajaklah kami mengelilingi blok-blok dimana lokasi olah jiwa, olah jasmani, dan olah pikir bagi generasi muda unggulan disiapkan. oleh teman-teman saya itu dengan penuh kesungguhan. Sebuah lahan yang benar-benar memberikan harapan.

Namun bukan itu saja tampaknya  bagi saya, yang membuat kami semua kagum. Tetapi justru kesiapan dan daya juang para pemangku yang ada di lokasi dari tingkat yang ada di dalam struktur, yang dipampang di ruang kendali dimana kami akhirnya berada sebelum menunaikan shalat Magrib bersama, hingga yang berdiri di depan pada saat kami hadir. Dan semangat itu terlihat dengan jelas hingga di raut wajah yang digambar.

Lalu kami bertanya bagaimana mereka dapat begitu bersemangat dalam perjuangannya itu? Dijelaskannya bahwa untuk mengembangkan budaya berjuang tersebut dengan perjuangan juga. Yaitu perjuangan berjenjang, perjuangan yang simultan, perjuangan yang penuh ketulusan, dan dengan peta yang digunakan secara konsisten serta persisten.

Dan disinilah barangkali yang menjadikan inspirasi bagi  ikhtiar kami. Perjuangan berjenjang yang penuh semangat dengan menggunakan peta perjalanan yang konsisten serta penuh keteguhan akan pertolongan illahi, menjadi poin yang tampak sekali harus menjadi contoh bagi kami.

Atau setidaknya, kami harus mengukur apa yang kami telah perjuangkan dengan apa yang mereka perjuangkan. Perbandingan ini setidaknya menjadikan kami untuk dapat menjadi lebih teguh dalam menerima amanah perjuangan. Semoga. Amin.

Jakarta, 23/03/2012

22 Maret 2012

Makanan dan Rumah Sakit Stroke Pusat

Kalau kita masuk ke kota Bukittingi dari arah kota Padang Panjang, maka sebelum pertigaan kota dengan kantor PLN-nya, di sebelah kanan jalan, kita akan temukan sebuah rumah sakit yang jika Anda baca, Anda serasa baru tahu bahwa di Indonesia ternyata terdapat jenis rumah sakit ini. Itulah Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi, atau Rumah Sakit Stroke Pusat. Tentu saya ikut bangga juga. Seperti yang saya alami saat kedatangan saya ke Bukittinggi beberapa waktu lalu. 

Sebagaimana lazimnya,  dalam benak saya yang tergambar tentang rumah sakit yang mengkhususkan diri pada salah satu penyakit tersebut antara lain adalah RS Jantung, RS Ibu dan Anak, RS Kanker, RS Mata, RS Kulit, dan yang lainnya. Oleh karena itu, ketika saya melihat ada rumah sakit stroke pusat, dan itu saya lihat bukan di ibu kota Jakarta, aneh bukan?

Sebenarnya, pada saat saya jalan kaki untuk keliling kota, ada keinginan untuk datang ke rumah sakit itu dan bertanya kepada orang yang kebetulan sedang bertugas di sana. Misalnya saja tentang, apakah ada korelasi antara rumah sakit tersebut dengan pola hidup masyarakat yang ada di sekitarnya? Sehingga pemerintah memutuskan untuk membuka rumah sakit yang secara khusus menangani penderita stroke itu berada di kota  Bukittinggi?  Namun rupanya niatan itu tidak kesampaian. Karena teman-teman seperjalanan saya meminta untuk mencari jalan lain. Maka tanda tanya itu masih tersimpan dan belum terkonfirmasi dengan valid atas dugaan saya akan korelasi tersebut.

Pola Makan?

Pola makan itulah yang menjadi dugaan saya sementara ini atas adanya korelasi antara jenis rumah sakit yang ada di kota tersebut dengan pola makan masyarakatnya. Karena harap tahu saja bahwa semua tempat makan yang dibuka oleh masyarakat di situ, nyaris menggunakan bahan makanan yang tinggi kandungan gizinya. 

Suatu kandungan yang akan memungkinkan orang yang mengkonsumsi makanan tersebut  secara terus menerus akan berakibat antara lain serangan stroke. Oleh karena itu, maka dugaan itu linier bukan?

Fenomena ini saya temukan dari seorang teman saya ketika ia berpendapat, tentu dalam takaran saya  dengan nada tidak serius. Ia  mengatakan bahwa, tidak perlu kita memiliki pola makan yang berujung kepada pilih-pilih makanan, yang mengkibatkan kita sendiri pada akhirnya seperti tidak memiliki kemerdekaan atau terkekang? Toh jika serangan penyakit seperti itu datang, bukankah sudah ada tempat untuk merehabilitasinya?

Tentu ini sebuah kelakar yang kurang pada tepatnya. Dan memang, teman saya itu murni dalam rangka tidak serius. Bagaimana dengan Anda sendiri?
 
Jakarta, 22 Maret 2012.

Ahad Pagi di Jam Gadang

Jam Gadang di malam hari. Pengunjung dan pedangang bersatu padu menyesaki taman yang menjadi halamannya.









Ada mimpi dan kegemasan yang saya alami ketika saya hadir di halaman icon kota yang memiliki kontribusi besar bagi nasionalisme Indonesia ini. Icon yang khas, yang ketika ditampilkan di khalayak, maka khalayak tidak akan salah menyebutkan dari mana icon ini berasal, meski mereka belum pernah menjenguknya. Inilah yang menurut saya, sebuah pertanda kota yang dibuat dengan sangat cerdas dan amat spesifik. 

Kegelisahan ini karena pertanda kota dengan temannya yang tergolong sudah tidak lapang lagi ini, menjadi pusat dari semua unsure masyarakat untuk berkumpul. Baik mereka yang ingin berfoto untuk sbuah kenangan di kemudian hari, atau untuk ‘bersilaturahim’, bahkan ada juga yang kedatangannya untuk berjualan barang khasnya dan juga untuk berbelanja. Juga untuk melihat tontonan yang ditampilkan di salah satu sisi tamannya sebagaimana yang sya saksikan pada Sabtu, 17 Maret 2012 malam.

Dan kegelisahan saya ini bukan bagaimana pertanda itu telah dengan cermat dan rajin dirawat dan dipelihara oleh pihak pemerintah kota. Atau bagaimana pertanda itu tidak menjadi tenggelam oleh bangunan yang mengelilinginya serta keriuhan dan keramaian orang yang menjadikan suasana tidak manusiawi lagi. Tetapi lebih dari berupa bagaimana halaman pertanda itu bebas dari sampah hasil kegiatan manusia yang menjadi pedagang atau pengunjungnya.

Itulah kegundahan saya dan teman-teman ketika hadir di di pagi hari selepas azan subuh pada akhir pekan ketiga bulan Maret 2012 itu. Kegundahan yang melahirkan tekad untuk tidak hanya sekedar menuliskan ide bagaimana saya akan mampu memelihara manumen yang membanggakan ini. Tetapi sebuah tekad yang saya akan lakukan bersama seluruh penduduk yang hadir dan untuk memaknai kata peduli terhadap kebanggan bagi warganya. Caranya? Hanya satu kegiatan yang akan saya lakukan di pagi itu, yaitu membersihkan kota.
Dan ketika waktu yang terhitung pagi itu saya hadir di lapangan atau halaman monumen, saya yakin akan ada beberapa staf atau pegawai yang ada di kantor, dimana saya diamahi masyarajat dalam sebuah pesta demokrasi dalam bentuk pemilihan kepala daerah, atau mungkin yang di kecamatan dan sangat mungkin juga di kelurahan dimana monumen itu berada, akan tergopoh-gopoh datang ‘setor muka’ mengikuti jejak saya. Padahal untuk kali pertama itu saya hadir disitu tanpa pemberitahuan. Saya datang untuk niat menikmati pertanda kota. Saya memang memilih datang pagi-pagi di akhir pekan di monumen itu dan tidak ke lapangan golf.

Tentunya, selain para [egawai yang ada di lingkungan pemerintah daerah saya ini hanya setor muka, mereka akan bahu membahu membersihkan kota bersama saya dan petugas utama penjaga kebersihan. Dan kalau saja pada waktu itu Kepala Dinas Kebersihan kota tidak hadir karena kebetulan sedang melanjutkan istirahatnya di rumah, maka pada Senin paginya pasti akan menemui saya untuk menyampaikan penyesalannya dan permohonan maafnya atas kelalaiannya itu.

Dan ketika kegiatan dadakan itu sering saya lakukan, maka akan lahir budaya yang seolah-olah terasa baru, yaitu gotong royong. Padahal para ayah dan ibu mereka di kampung menjadikan gotong royong itu sebagai bagian dari hidup bersama yang harmonis. Dan seolah-olah lagi, sayalah inventornya!

Seperti di awal tulisan ini, maka artikel ini sebagai pertanda untuk saya bahwa sesungguhnya seorang sebagaimana yang saya gambarkan itulah yang saya mimpikan. Semoga…




Jam Gadang kala pagi hari. Jejak pengunjung berupa sampah.








 Ahad pagi di Bukittinggi, 18/03 – Jakarta, 22/03/2012.

21 Maret 2012

Kopi Daun Kopi

Inilah minuman unik yang saya temukan dan sekaligus rasakan di perjalanan antara Bukittinggi menuju Istana Pagaruyung. Minuman dengan citarasa kopi, namun bukan berasal dari biji kopi seperti yang selama ini ada di benak kita. Menurut penjualnya, minuman ini berasal dari daun kopi yang dikeringkan, kemudian diremas hingga daun itu menjadi serpihan. Serpihan daun itulah yang kemudian di sedu untuk menjadi minuman kopi. Minuman ini lebih terkenal dengan nama Kawa Daun.

Apa yang membuat minuman ini menjadi unik? Penyajiannya. Karena minuman ini disajikan kepada pengunjung 'hanya' dengan batok kelapa dan dilengkapi tatakannya yang terbuat dari bambu. Perhatikan gambar yang saya buat berikut ini. 

Kopi disajikan dalam 'gelas' yang berupa batok kelapa. Dengan terlebih dahulu di saring. Tanpa terlebih dahulu diberi gula, minuman ini langsung diantar ke meja pengunjung.

Ketika saya menunagkan tiga sendok teh gula putih ke dalam minuman ini dan mengaduknya, rasa sepet mendekati pahit masih terasa. Ini mungkin karena minuman ini berasal dari daun.















Pengunjung sedang menikmati hidangan kawa daun di Pondok Goreng Kawa Daun.

Jakarta, 21 Maret 2012.

Bika di Kawa Daun

Dalam perjalanan kami dari Bukittinggi menuju Istana Pagaruyung, kami singgah di warung gorengan yang di papan namanya tertulis; Pondok Goreng. Persis lokasinya ada di Tabek Patah kilometer 16, Batusangkar. Apa istimewanya dari warung yang pengunjungnya tiada berhenti silih berganti ini antara lain adalah; bika, kawa daun, serta gorengan tahu isi, pisang, dan tempe. 

 
Inilah lokasi yang berhasil dapatkan dari Google. Harap menjadi peerhatian kita bahwa Batusangkar adalah ibu kota dari Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Untuk melihat lebih jelas tentang makanan yang sabutkan tadi, ada baiknya saya sampaikan di sini, berikut fotonya, mulai dari Bika.

Katakanlah ini sebagai oleh-oleh saya kepada Anda, hasil kunjungan saya ke Pondok Goreng Latifha.

Bika Sumatera Barat

Jangan pernah terbayang bahwa makanan ini sebagaimana yang tergambar oleh kita dengan Bika Ambon. Karena Bika di Sumbar terbuat dari bahan tepung beras dan serutan kelapa. Cara memasaknya dengan di panggang di kuali dengan api atas dan bawah.




Adonan Bika ini di'cetak' dengan tatakan daun waru.







Dipanggang di dalam kuali yang di'bakar' dengan kayu bakar.








Kuali yang telah berisi Bika tadi, ditindih dengan kuali yang berfungsi sebagai perapian. Ini menjelaskan bahwa pembakaran atau pemanggangan terjadi dari bawah dan dari atas adonan Bika tadi.




Bika telah siap kita santap. Dan tentang rasa? Saya pikir kita harus mencoba makanan ini jika kita berkesempatan mengunjungi Sumatera Barat, khususnya jika Anda dalam perjalanan Padang - Bukittinggi. Karena dalam jalur perjalan ini, kita bisa menemukan jenis makanan ini di pusat pembuatan Bika.


Jakarta, 21 Maret 2012.

20 Maret 2012

Kegiatan Perkemahan Pramuka

Ketika saya bertanya kepada anak-anak apakah mereka merasa senang untuk berangkat dan melaksanakan kegiatan Pramuka? Serempak menjawab dengan tegas, senang. Dan memang tidak ada wajah yang tidak menampakkan perasaan sedih dalam pertemuan saya dengan mereka pagi itu sebelum mereka berangkat dari sekolah menuju lokasi berkemah. Luar biasa.

Semangat luar biasa itu paling terasa ketika saya bertemu dengn kelas-kelas yang memang akan menginap satu malam itu. Baik bagi mereka yang perkemahan ini untuk kali kedua atau untuk kali petama. Semua menyambut dengan penuh semangat. Ini juga terpancar di wajah para orangtua mereka yang, juga penuh optimis dengan kemandirian anak-anaknya ketika nanti sudah berada di perkemahan. Hingga akhirnya mereka masuk ke kendaraan masing-masing, yang membawa mereka ke tempat perkemahan.

Apresiani untuk Mereka

Perjalanan mereka itu sesungguhnya tidak mulus benar jika kita melihatnya dengan masukan yang disampaikan beberapa orangtua, yang sebenarnya tidak menginginkan untuk ikut serta dalam perkemahan itu. Namun karena anak-anak mereka begitu bersemangatnya untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut, maka beberapa orngtua itu kalah. Akibatnya mereka, dengan mengatasnamakan 'wakil' dari yang lainnya, memberikan masukan yang berua drive untuk sebuah pelaksanaan kegiatan tersebut. Karena kami merasa yakin bahwa semua hal telah dilalui dengan persiapan dan prosedur yang baik, maka kami yakin semuanya telah terprediksi.

Alhasil, pelaksanaan kegiatan itu pun menjadi lebih tertangani dengan lebih baik lagi. Mungkin itu adalah hikmah dri ketidakmulusan dalam tahap perencanaannya. Namun, itulah dinamika sebuah organisasi yang antar komponennya terkoneksi sosial. Sekali lagi, alhamdulillah bahwa pelaksanaan itu berakhir dengan benar-benar membahagiakan. Sebagaimana apa yang disampaikan oleh seorang peserta ketika saya bertemu denganya menjelang pulang sekolah.

Bagaimana kegiatan yang kamu ikuti dalam perkemahan kemarin? Kamu belajar banyak dengan kegiatan itu? Tanya saya kepadanya. Saya paham sekali bahwa anak itu adalah anak yang baru kali pertama mengikuti pekemahan Pramuka. Dan saya juga faham bahwa anak tersebut tidak termasuk golongan anak-anak yang bergembira dengan aktivitas fisik. Namun dengan semangat  dan mantap, dia menjawab pertanyaan saya itu. Katanya: Seru banget!

Jawaban anak-anak yang spontan dan jujur itu, membuat saya bahagia. Bahwa usaha teman-teman yang nyaris tidak dapat memejamkan mata demi anak-anak di perkemahan, menjadi satu hal yang patut mendapat apresiasi dari kita semua. Juga penghargaan untuk anak-anak yang telah memilih untuk belajar mandiri dan berani bersama teman dan gurunya di perkemahan itu. Dan tentu tidak kalah pentingnya adalah peran para orangtua semua untuk memberikan bekal jasmani dan rohani kepada anandanya demi suksesnya kegiatan yang mereka ikuti. Sukses untuk semua tentunya.

Jakarta, 14-20  Maret 2012.

Bermain Angklung


Untuk tahun yang kesekian, anak-anak saya di sekolah belajar bermain alat musik khas Jawa Barat dari bambu, angklung. Alat musik yang sudah mendunia, dan bahkan masuk dalam Book of Record dunia setelah berhasil dimainkan oleh ribuan orang di Amerika Serikat.

Alat musik yang sejak semula saya telah  mendorongnya untuk dimainkan anak-anak di sekolah itu, akhirnya sekarang menjadi alat musik klasikal yang menyenangkan dan membuat semuanya kangen untuk bermain di hadapan penonton. Dan karena asyiknya itu, suatu ketika ada pertunjukan angklung di sebuah penutupan event,  yang hanya mendendangkan satu lagu, saya memprotes dan minta nambah. Untuk itu, semua guru sepakat agar ketika ada pertunjukan angklung, minimal anak harus belajar memainkan dua lagu.

Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi itu saya pun mendatangi anak-anak yang sedang berlatih bermain angklung ketika saya mendengar merdunya suara angklung itu di ruangan saya. Saya bermaksud beranjak ke tempat dimana anak-anak itu sedang berlatih, sebelum saya menyimpan data di komputer sebelum saya tinggalkan. Benar saja, anak-anak dengan gayanya yang amat sangat khas menggoyang-goyangkan alat musik itu sesuai dengan jatahnya masing-masing.

Ada tiga lagu yang sedang anak-anak nyanyikan dalam sesi latihan itu. Mereka begitu antusias dengan serius menyimak  guru yang melatihnya dan berdiri di depan. Tidak terlihat ada anak yang terlambat menggoyangkan alat angklungnya. Semua kompak dalam satu ritme.

Guru di depan menunjuk not angka yang ditulisnya di kerta putih bekas tanggalan tahun sebelumnya, yang dilekatkan di pintu masuk kelas.

Rencananya, anak-anak tersebut belajar bermain angklung dalam rangka persiapan mereka untuk kegiatan yang paling besar, yaitu kegiatan akhir tahun pelajaran ini. Yaitu tampil secara khusus dalam perpisahan sekolah yang dikemas dalam bentuk Pentas Seni. Dan pasti, penampilan mereka nanti akan menjadi penampilan yang menggembirakan. Tidak saja kepada pintarnya mereka dalam membawakan 3 lagu yang telah dilatihnya itu. Tetapi, lebih karena saya sendiri pada akhirnya melihat dengan langsung bahwa angklung benar-benar menjadi icon bagi negeri ini.

Jakarta, 14 -20 Maret 2012.

Sekolah untuk Ananda

Cerita ini diawali dengan kemauan keras seorang orangtua anak yang saya kenal, untuk memasukkan putranya ke sekolah favorit. Namun usahanya itu tidak membuat anaknya gembira. Sebaliknya sekolah pilihan orangtua itu justru bukan pilihan sang anak. Repotnya, sekolah dimana anaknya sekarang ada, yang memberikan kemdahan bagi setiap siswanya untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi di lembaga yang sama. Namun karena percaya dirinya orangtua bahwa anaknya akan lebih baik di sekolah pilihannya, akhirnya kesempatan dan kemudahan itu lenyap. Yang ada sekarang adalah sesal karena hingga menjelang akhir Maret ini, sang anak belum mendapatkan sekolah. Sedang si anak sendiri terlalu beropsesi untuk dapat melanjutkan di jenjang pendidikan SD di mana ia bersekolah sekarang ini.

Pertanyaannya adalah: apa yang salah dari orangtua untuk memilihkan sekolah bagi anaknya? Tidak ada bukan? Karena bagi orangtua yang menginginkan anaknya siap dalam manapaki sukses hidup di masa depan, maka road map yang dibuatnya akan mengacu kepada sekolah yang diyakininya sebagai jalan yang tepat.

Tetapi inilah kenyataan seorang anak didik saya yang begitu kecewa terhadap pilihan orangtuanya, dan hingga sekarang masih belum rela untuk tidak melanjutkan sekolah dimana ia berada. Dan puncak dari kekecewaan anak itu adalah, dengan  melakukan aksi untuk mengerjakan soal tes masuk dalam PPDB di sekolah yang menjadi pilihan orangtuanya dengan tidak sungguh-sungguh.

Namun aksi itu sudah tidak membuatnya memperoleh keinginannya untuk dapat masuk ke sekolah yang menjadi pilihannya. Karena pilihan orangtua anak didik saya itu membutuhkan waktu untuk sebuah proses yang menyebabkan ia tidak memiliki kesempatan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di sekolahnya selama ini.

Keterlambatan orangtuanya saat melakukan daftar ulang telah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengisi kursi kosong yang ditinggalkannya. Dan dari kacamata sekolah, maka langkah tersebut mengisyaratkan tentang pilihan orangtua.

Dalam artikel Memilih Sekolah untuk Ananda, dalam blog ini tanggal 16 Januari 2012, saya menuliskan empat (4) tips yang mestinya menjadi perhatian bagi orangtua dalam memilih sekolah untuk ananda. Tips itu berguna sekali agar kita sebagai orangtua benar-benar membuat kesepakatan dengan ananda ketika menentukan sebuah pilihan. Sehingga ada titik yang adil dari sebuah keputusan tersebut. Dan karena adil, maka keduanya dapat memikul tanggungjawab bersama atas pilihannya.

Semoga dengan kejadian ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga bila akan memilihkan sesuatu yang prinsip untuk anak-anak kita di rumah. Semoga. Amin.

Bukittinggi - Jakarta, 17-20/03/12.

Di Sebuah Rapat PPDB

Sebuah hal yang prosedural, bilamana untuk sebuah pengambilan keputusan dalam menentukan lolos dan tidaknya para kandidat peserta didik baru itu dilakukan rapat antara panitia, manajemen di lapangan dan manajemen di satu tingkat di atasnya. Karena keputusan itu selain untuk membuat sinergi antar lini di lembaga juga untuk membahas isu sensitif, yang dibelakang hari dapat menjadi ganjalan. Prosedural yang lazim.

Hasil akademik dan hasil psikotes murni dan atau mungkin masih ada tolok ukur lainnya? Namun setidaknya dua hal itulah yang menjadi pusat diskusi dalam rapat penerimaan peserta didik baru (PPDB), tersebut. Dua hasil tes masuk itulah yang menjadi parameter primer bagi pengambilan keputusan. Namun jika dalam kondisi tertentu, misalnya yang berkenaan dengan calon peserta didik titipan dengan data primer yang diperolehnya kurang dari standar, maka beberapa aspek lain akan menjadi pertimbangan.

Dan itulah yang pernah saya alami dengan usulan seorang peserta rapat rapat agar forum dapat menerima seorang jago futsal dari tingkat SD yang mau masuk ke tingkat  SMP. Dimana anak tersebut terkendala oleh hasil tes masuk. Terutama dari aspek tes akademiknya. Dan hasil itu telah mempengaruhi total nilai yang didapatnya. Sehingga hasil itu menjadikan dia berada pada urutan yang tidak masuk dalam bagian yang semestinya tidak diterima.

Jago Futsal

Kapan kita akan memberikan kesempatan bersekolah kepada anak-anak yang lemah di sisi akademik tetapi justru memiliki talen di bidang olah raga seperti calon jawara di olahraga futsal dan sepakbola? Demikian ungkap teman saya pada saat kami berargumentasi untuk menerima beberapa anak yang pintar di luar bidang akademik.

Usulan teman dalam rapat yang kami anggap penting itu tak urung menjadi bahan renungan peserta rapat yang lain. Karena bukankah hanya kecerdasan akademik yang telah menjadi atau dijadikan sebagai panglima di dunia pendidikan formal di negeri besar yang bernama Indonesia ini oleh kita bersama? Seperti bagaimana hasil ujian nasional di tingkat pendidikan SD dan SMP yang menjadi raja diraja di ranah pendidikan formal. Sehingga seluruh daya upaya kita kerahkan untuk sebuah sukses yang menurut saya adalah nisbi?

Namun ditengah hiruk pikuk tentang hasil pendidikan akademik tersebut, masih ada sahabat kami yang peduli kepada apa yang dimiliki oleh peserta didiknya. Sehingga dalam forum lembaga yang penting itu disuarakannya. Begitulah dinamika sekolah dimana saya menjadi bagiannya. Menyenangkan bukan? Menjadi bagian dalam sebuah lembaga yang setiap bagiannya memiliki kesempatan untuk ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan sebagaimana dalam memutuskan para calon peserta didik dalam proses penerimaan peserta didik baru di sekolah kami.

Dan dengan kontribusi semacam itulah maka kami, sebagai anggota komunitas,  dapat tumbuh dan atau menumbuhkan diri kami sesuai dengan isu pendidikan yang menjadi komitmen baru dalam dunia pendidikan. Tentunya dalam ranah peningkatan pelayanan kepada kebutuhan anak yang menjadi peserta didik kami di sekolah dalam mengoptimalkan potensi dirinya untuk sukses di masa depannya.

Jakarta,10/03-Bukittinggi,17/03/2012.

13 Maret 2012

Di Bakahueni Saya Belajar Bersyukur

Pernah, peristiwa ini terjadi di tahun 2002, untuk menyenangkan hati anak-anak di rumah, saya mengajak mereka menemukan pengalaman baru, berupa menyeberangi laut dengan naik kapal ferry Merak-Bakahueni-Merak. Dan perjalanang yang kemudian nantinya menjadi perjalanan mirip petualangan ini, memang tidak terencana dengan baik. Baik perencanaan waktu ataupun tujuannya. Hanya ketika kami mengobrol di malam sebelumnya, saya sampaikan usulan kepada mereka bagaimana kalau kita naik kapal ferry ke Sumatera? Semua angota kami sepakat untuk menyetujui rencana dadakan itu.

Perjalanan Kenangan Saya

Pengalaman bersama anak-anak itu adalah sebetulnya merupakan perjalanan kenangan saya dengan Bapak dan Mamak saya ketika saya masih di usia anak-anak saya itu. Dan pengalaman kenangan saya itu kadang sering menghiasi hidup anak-anak saya manakala saya bercerita kampung halaman saya yag ada di Sumatera. Anak-anak saya tertarik menyimak detil gambaran kampung saya itu. Juga termasuk perjalanan ketika saya dan Mbah mereka pulang kampung ke Jawa. Sebuah pengalaman yang memang menjadi ritual saya, Bapak, Mamak, yang berarti adalah mbah dari anak-anak saya, dan adik-adik kala saya masih usia belasan.

Hanya bedanya jika nanti mereka akan menempuh perjalanan Merak-Bakahueni-Merak, maka keika saya kecil rute perjalanannya adalah Panjang-Merak-Panjang sebelum kemudian Slengsem-Merak-Slengsem. Saya menginjakkan Bakahueni ketika di tahun 1985, pada masa saya berusia 20 tahun, saya menengok kampung halaman saya di Lampung itu sendirian. Sebuah perjalanan yang dimaksudkan sebagai silaturahim.

Merak-Bakahueni-Merak

Inilah rute yang saya sepakati dengan anak-anak. Dengan rute ini, maka tujuan utama kami adalah pengalaman naik kapal ferry titik. Tidak ada tujuan wisata misalnya pergi ke kampung halaman dimana saya waktu kecil. Itu semua karena pertimbangan waktu. Mengingat perjalanan kami itu adalah perjalanan di hari Minggu, yang berarti Seninnya kami harus kembali hidup normal mengingat itu bukan masa liburan sekolah.

Merak-Bakahueni kami kebagian parkir di atas deck. Ini adalah posisi yang paling enak. Kami dapat tetap berada di dalam kendaraan dengan hembusan angin yang tidak membuat kami kepanasan atau berdiri layaknya aktor yang ada di film Titanic. Bahkan sebelum kapal lepas jangkar di pelabuhan Merak, kami disuguhi atraksi anak-anak dengan mengambil koin uang yang dilempar ke laut oleh penumpang kapal. Juga atraksi yang menurut ukuran anak saya tergolong berani, yaitu keberanian anak-anak itu untuk naik ke deck kapal dan meloncat ke laut dengan meminta donasi yang lebih besar atas keberaniannya itu.

Rencana Berubah

Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang satu setengah jam di laut itu menjadi tidak terasa karena rasa senangnya anak-anak saya. Maka lebih kurang pukul sembilan pagi, kami sampai di Bakahueni. Dan ketika saya bermaksud akan keluar pelabuhan untuk kemudian masuk kembali ke pintu penyeberangan menuju Merak, anak laki saya mengsulkan agar ia diberikan kesempatan mandi di laut. Sebuah perubahan rencana yang saya sendiripun tidak memiliki keinginan untuk menolaknya. Maka perjalanan kami berlanjut ke Pasir Putih. Dan perubahan rencana itu yang pada akhirnya kami baru dapat kembali ke pelabuhan Bakahueni sekitar pukul 15.00, dengan antrian yang telah mengular hingga di jalan menuju pintu gerbang pembayanan masuk pelabuhan.

Ini menjadi sebuah kenyataan yang saya tidak akan sangka dan tanpa prediksi. Pukul 20.00, kami memang telah masuk di halaman parkir pelabuhan, tetapi tetap jauh dari bibir pantai dermaga kapal. Kondisi ini juga diperparah dengan tidak adanya mesin ATM sementara air minum tidak tersedia di dalam kendaraan. Juga indikator bensin yang mulai turun.

Rasa Syukur itu

Dalam kondisi yang sebenarnya sudah tidak kondusif itu, Allah mendatangi kami dengan penuh kecintaannya. Dan dari situ kami benar-benar mensyukuri nikamat yang telah kami rasakan. Kami belajar bagaimana untuk dapat mensyukuri apa yang ada seprti lagunya D'Masif itu.

Yang pertama adalah saya dan istri menghitung uang cash yang masih kami miliki. Ini penting sekali karena kami tidak menemukan mesin ATM satu pun di lokasi yang penting itu.Dengan diurani untuk membeli bensin secukupnya di Merak nanti plus membayar tol Merak-Jakarta, maka uang itulah yang kami belanjakan untuk membeli makanan sektar pukul 19.00. Posisi kami saat itu masih lebih kurang 25 deret kendaraan selepas dari pintu masuk/pembayaran pelabuhan.

Hingga akhirnya istri saya mendapatkan nasi dengan lauk telur dadar yang aromanya luar biasa nikmat. Ini karena nasi dan telur dadarnya itu fresh, baru saja matang dari tempat masakan. Ini mungkin usaha para pedagang yang kemudian membuat stok makanan baru melihat antrian kendaraan yang mengular di pelabuhan. Makanan itu sungguh menjadi kenikmatan kami semua di kendaraan. Alhamdulillah. 

Yang kedua, ketika barisan kendaraan kami berada pada posisi pang depan menuju dermaga. Saya tidak dapat mengsitung ada berapa lajur kendaraan yang berbaris menuju dermaga itu. Saya tidak tahu pasti. Yang jelas dari dua atau tiga akses halaman tunggu di pelabuhan yang luas itu, mungkin ada sekitar 30 lajur?

Dan peristiwa yang membuat kami semua bersyukur adalah panggilan agar kamilah yang harus maju dan masuk ke dalam lambung kapal untuk mengisi satu-satunya sisa tempat di kapal itu. Peristiwa ini, lebih kurang pukul 23.00, kami dengar langsung dari petugas pengatur yang berdiri di dekat kendaraan kami. Dengan HT di tanganya dia berkomunikasi dengan petugas yang ada d kapal.

  • Petugas di kapal: Masuk satu lagi mobil kecil, karena tempatnya sempit.
  • Petugas di dekat kami: Mobil apa kira-kira.
  • Petugas di kapal: Yang kecil. Kalau besar tidak muat.
  • Petugas di dekat kami:  Mobil Carry bagaimana?
  • Petugas di kapal: Ya benar. Muat. Masuk cepat. Jangan buang waktu.
  • Petugas di dekat kami mendekati posisi stir saya dan berkata: Bapak silakan masuk kapal!

Alhamdulillah, kami di dalam kendaraan bersyukur sekali dengan apa yang telah Allah limpahkan kepada kami sekeluarga tanpa melihat dari sisi ukuran manusia. Semoga keberkahan Allah selalu dilimpahkan pula kepada kami. Amin.

Jakarta, 05-13 Maret 2012.

10 Maret 2012

Shalat Jumat di Sekolah

Pelaksanaan shalat Jumat di sekolah bersama anak-anak, sering membuat kami, para guru, kewalahan dengan perilaku anak-anak yang sulit untuk dibuat tertib sebagaimana yang disyaratkan. Yaitu untuk tidak ada dialog sedikit pun. Ini saya sendiri alami sejak berada di sekolah yang berbasis Islam atau juga di sekolah non-denominasi atau sekolah umum dimaa terdapat lima agama resmi di Indonesia.

Bahkan saat saya di sekolah umum yang komunitas anak yang mengikuti shalat Jumat lebih kurang 35 persennya saja, ketenangan dalam shalat Jumat masih menjadi masalah. Dan ketika kami diskusikan, ada diantara teman yang membandingkan mengapa anak dapat benar-benar tertib saat pelaksanaan assembly di sekolah dari pada shalat Jumat? Dan dari fenomena itu maka lahirlah beberapa tesis yang akhirnya menjadi pilihan kita untuk dapat diterapkan dalam pelaksanaan shalat Jumat. Berhasilkah? Lumayan berhasil. Tetapi masih ada beberapa anak yang memang sulit untuk dapat mengikuti shalat Jumat dengan tanpa ada dialog dengan teman yang duduk disampingnya.
Termasuk saat saya masuk kembali ke sekolah yang berafiliasi agama Islam sekarang ini.  Masih belum lahir budaya tertib dari anak-anak peserta didik kami yang terdiri dari  mereka yang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar hingga kelas sembilan SMP. Bahkan tidak saja anak-anak yang melakukan dialog yang tidak sepatutnya terjadi manakala khatib sedang menyampaikan khotbahnya, tetapi juga beberapa driver yang juga ikut melaksanakan shalat bersama kami, yang kalau ditilik dari usianya sudah benar-benar baligh, masih juga berdialog atau mengobrol.

Lalu, bagaimana usaha kami di sekolah untuk mengajak anak-nak tertib saat pelaksanaan shalat jumat berjamah di Sekolah? Ini barangkali sebuah gagasan yang memang akan menjadi kajian buat saya dan teman-teman di sekolah. Sebuah gagasan yang mudah-mudahan menjadi jalan keluar agar shalat Jumat di sekolah atau shalat-shalat lainnya menjadi lebih bermakna tidak saja untuk kami yang dewasa, tetapi juga anak-anak. Terutama ketika anak-anak itu nantinya telah beranjak dewasa.

Lima Jurus Tanpa Ngobrol
Pertama, keberadaan guru. Harus ada pembagian tugas agar selalu ada guru yang sudah berada di lokasi shalat sebelum kehadiran anak. Selain telah datang di lokasi sebelum anak datang, guru juga harus telah menyiapkan aktivitas bersama anak-anak sebelum waktu shalat dimulai. Kegiatan yang sering teman-teman saya pilih adalah bershalawat dan atau tadarus surat pendek Al Quran. 

Kendalanya untuk poin ini adalah masih juga terdapat guru yang tidak berada di tempatnya pada waktu yang telah ditetapkan. Akibatnya, jika yang pertama sampai atau datang di lokasi shalat anak, maka dapat diduga apa yang akan terjadi. Untuk itu, maka poin ini dibutuhkan komitmen yang utuh dari teman-teman saya di sekolah.

Kedua, mengajak anak melaksanakan shalat dengan terlebih dahulu diberikan pemahaman tentang shalat jumat. Ini agar anak paham apa esensi melaksanakan shalat, khususnya shalat Jumat. Supaya kalau ia atau mereka tertib melaksanakannya akan mendapat sesuatu yang lebih. Pemanahamn ini dimaksudnya akan menjadi akar atau motivasi mengapa anak-anak harus memenuhi syarat pelaksanaan shalat.

Ketiga, sepanjang pelaksanaan shalat, tidak ada guru yang tidak menyimak. Karena terlalu sering dalam sebuah pelaksanaan shalat Jumat, khususnya, yang ketika khatib menyampaikan khatbahnya, maka beberapa jamaah yang pulas dan tidak menyimak.

Kalau guru berada di tengah-tengah anak dalam shalat tersebut, dan kebetulan mereka terlelap dalam duduknya, maka sesungguhnya ada dan tiadanya tidak membawa relevansi kepada tertibnya pelaksanaan shalat Jumat.

Keempat, pengaturan shaf shalat anak-anak. Teman saya mengusulkan agar kakak-kakak yang telah diuduk di bangku SMP dapat kita minta tolong untuk duduk berpencar, da berada diantara adik-adik kelas yang duduk di bangku sekolah dasar. Karena jika anak-anak itu duduk berkelompk bersama-sama dalam satu shaf yang berdekatan, maka dipastikan mereka memiliki motivasi untuk berbicara satu dengan yang lainnya. Ada pula usul yang lain. Namun prinsip dari strategi ini adalah untuk membuat agar anak-anak itu tidak nyaman mengobrol dengan temannya.

Kelima, khotbah Jumat harus sesuai dengan tema yang anak-anak bisa menangkap atau malah yang anak-anak suka. Misalnya yang berkenaan dengan sejarah. Karena sering kasus yang ada adalah khatib membacakan khatbahnya yang didapat dari buku untuk tema shalat Jumat di masjid dengan jamaah yang seratus persennya jamaah dewasa. Konsekuensi dari poin ini adalah, agar guru membuat tim guna merancang khatbah yang disesuaikan dengan jamaah yang mengikutinya.

Itulah lima jurus saya sebagai usaha agar anak-anak pelaksanaan shalat Jumat berjamaah di sekolah selain berlangsung sesuai dengan kaidah yang benar, juga agar shalat tersebut memberi makna dalam proses perjalanan hidup anak-anak dan kita sebagai gurunya.

Stasiun Gambir, 10/03/2012:04.30.

08 Maret 2012

Si Pengarang Cerita

Dalam artikel ini, saya ingin memberikan gambaran betapa kita sebagai guru dan orangtua di rumah harus belajar atau mengambil pelajaran dari semua peristiwa dan interaksi yang kita jalani di lingkup tanggung jawab kita. Jelas, bukan maksdu saya untuk menggurui. Namun saya hanya sekedar sharing tentang apa yang saya dapatkan dari pengalaman di lapangan.

Pengarang Cerita

Inilah kisah anak yang canggih dalam mengarang cerita sebuah kejadian di sekolah. Dan dari ceritanya itulah sebuah kisah baru lahir.Maaf, bukan kisah sebagaimana yang dikarangnya lagi, tetapi kejadian nyata yang menjadi drama kehidupan. Tentu pelakukanya antara guru dengan orangtuanya. Dan drama ini menjadikan saya dan teman-teman yang lainnya belajar bagaimana berpikir persfektif. Yaitu sebuah fakta yang sama tetapi dengan sudut pandang yang berbeda, sehingga fakta awal itu telah beranak dan bercucu. Dan dari anak serta cucu itulah sudut pandang baru terbentuk. Runyam. Bila kisah yang dikarangannya, diperankan olehnya bersama-sama teman-teman di kelasnya. Maka kisah berikutnya adalah kisah dengan peran orangtuanya, guru kelasnya, dan tentunya kepala sekolahnya. Ending-nya masih permohonan saling maaf dan saling pengertian. Namun kisah baru terlanjur sudah menjadi sejarah.

Tetapi jika peristiwa demikian hanya terjadi satu atau paling banyak dua kali, mungkin kita semua masih maklum dan belum banyak yang perlu tahu tentang anak cerdas ini. Namun karena hampir setiap tahunnya berulang dengan kisah dan kejadian serta pemain yang berbeda-beda, maka layak bila semua komunitas sekolah harus memahami si pengarang cerita ini dengan mahir. Dan ini, bagi guru yang ada di kelas merupakan modal utama untuk menjadi, katakanlah kontra sutradara, manakala harus head to head dengan dia. Tanpa kemahiran dan keiawaian guru, niscaya karakter sebagai pengarang cerita akan tumbuh bak  jamur di musim hujan. 

Pelajaran untuk Guru 

Untuk guru, pelajaran berharga  mengenai hal ini dalah agar setidaknya guru harus benar-benar sadar, tidak sekedar paham, akan seluruh situasi yang terjadi di bawah tanggungjawabnya. Sedaran paripurna manakala guru benar-benar berada dalam satu kesatuan antara jiwa dan raganya. Dengan kapital seperti ini, maka kita dimungkinkan menjadi peka dalam menyerap seluruh gerak-gerik seluruh  interaksi yang ada di dalam kelasnya. Hal ini juga akan meningkatkan daya kewaspadaannya dalam melakukan manajemen kelasnya. 

Penguasaan kelas yang bagus seperti itu akan melahirkan penguasaan guru terhadap perjalanan kelasnya. Di waktu berikutnya, manakala terdapat laporan atau katakanlah komplain dari pihak manapun terhadap kelasnya, guru akan dengan mudah membuka catatan yang dimilikinya. Dan catatan itu jelas  serta cermat mengabadikan seluruh peristiwa yang terjadi sebelumnya. Kejelasan dan kecermatan catatan guru ini sangat membantu membuka pintu keluar solusi yang dihadapi kemudian.

Sebaliknya, makakala guru tidak dalam posisi siap sedia dalam menghadapi kelas, atau dengan katalain tidak bersatunya antara jiwa dan raga guru saat keberadaannya di dalam kelas, maka sulit baginya untuk keluar dari solusi bilamana masalah menghadangnya. Karena dia tidak memiliki data primer yang langsung didapat dan dicatatnya dari sebuah perjalanan peristiwa.

Pelajaran untuk Orangtua

Harus selalu menjadikan anak di rumah sebagai teman dialog yang setara dan penuh jalinan emosi dengan kita. Hindari saat-saat dialog dengan mereka, dengan HP yang ada di telapak tangan kita. Karena HP bisa menjadikan penghalang untuk sebuah kedekatan emosi yang semestinya terfibrasikan. Atau mungkin benda-benda lain sejenis yang sering mengelabuhi kita. Dengan situasi demikian diharapkan mereka akan bercerita dengan apa adanya terhadap apa yang terjadi dilingkungannya.  

Karena dari pengalaman di sekolah, anak-anak yang kahirnya menjadi mahir dalam membuat cerita atas peristiwa yang hanya menguntungkannya itu,  berasal dari orangtua yang ketika berdialog dengan anak tidak menyadari bahwa posisinya adalah memberikan instruksi tanpa melihat posisi lawan dialognya. Atau juga sering saya dan teman-teman temui anak-anak itu tumbuh dari tuntutan yang tinggi dari rumahnya. Dan saya berasumsi, karena ekspektasi yang tinggi itulah maka anak menjadi memanipulasi peristiwa atau kejadian yang sesungguhnya.

Jakarta, 04-08 Maret 2012.

06 Maret 2012

Bersiap Untuk Ujian Nasional, Guru Sabar dan Guru Ikhlas

Seperti juga kakak kelasnya yang sekarang sudah di bangku sekolah lanjutan atas, anak-anak yang sekarang  duduk di kelas sembilan SMP pada hari ini, 32 hari kerja menuju hari UN, masih belum menunjukkan semangat yang gigih dan sungguh-sungguhnya untuk mengarah ke hari penting,  yang akan berlangsung pada tanggal 23-26 April nanti. Hal inilah yang saya harus sampaikan kepada mereka bahwa mengatasi apa yang ada dalam SKL (standar kompetensi lulusan) atau kisi-kisi Ujuan Nasional akan benar-benar sebagai bekal untuk memperoleh nilai dalam aspek kognitif, paling maksimal. Karena apa yang ada di SKL itu adalah apa yang nanti menjadi butiran soal dalam UN.

Dimana letak kesamaan dengan para nagkatan sebelumnya? Sebagai remaja, ketika satu pekan sebelum ujian berlangsung pun, mereka masih menenteng gitar ke dalam kelas. Juga komitmen untuk mengerjakan tugas tambahan. Maka, kalau di acara televisi ada yang namanya uji nyali, pada saat menjelang Ujian Nasional di sekolah kami, kami sebagai guru benar-benar uji kesabaran.

Padahal, untuk mendapat nilai yang diinginkan sekarang ini, relatif dapat kita prediksi dengan usaha keras dan sekaligus cerdas yang kita lakukan. Usaha keras, dalam arti harus menambah frekuensi atau intensitas belajar. Sedang belajar cerdas, yaitu dengan berusaha sungguh-sungguh berpetakan SKL atai kisi-kisi pada saat menguasai kompetensi dasar dan indikator yang ada, yang terdapat SKL atau kisi-kisi tersebut. Sehingga tanpa harus dengan kecurangan atau membeli kunci jawaban yang dikirimnya lewat SMS beberapa jam atau menit sebelum Ujian Nasional dilaksanakan, nilai maksimal bukan isapan jempol atau bukan menjadi pepesan kosong.

Kenyataan seperti ini jauh berbeda pada saat zaman saya menghadapi ujian akhir. Karena osal yang akan keluar nanti tentang apa saja dan dari buku mana sangat tidak dapat kita prediksi. Alhasil semua buku dan catatan teman yang menjadi khazanah belajar di kelas pada waktu itu menjadi sumber belajar kami.

Namun kemudahan itu nampak masih kurang membantu bagi anak-anak peserta didik saya di sekolah untuk lebih fokus dan lebih cerdas dalam mempersiapkan diri guna menuju nilai hasil UN yang maksimal. Mereka diantaranya masih menampakkan semangat belajar yang itu-itu juga. Satu dua dari mereka yang benar-benar serius meski telah mendapatkan bangku SMA yang bagus untuk ukuran akademik. Dan anak-anak dengan pola seperti itu memang anak-anak yang yang sehari-harinya dengan ponten 9. Sedang anak-anak dengan ponten 6 biasanya merasa diri jauh lebih siap, sehingga mereka masih santai sesantai-santainya.

***
Kenyataan yang serba mudah itu juga selain datang dari rumah mereka masing-masing juga kebijakan pendidikan yang beberapa tahun belakangan dirasakan oleh generasi kakak-kakak mereka. Misalnya pemerintah memberikan  kemungkinan adanya ujian ulang bagi anak-anak yang tidak lulus beberapa tahun lalu. Atau bentuk kemudahan yang pada akhirnya akan memberikan kenyataan bahwa ketika tidak lulus dalam ujian akhir, ada pintu solusi yang tidak mewajibkannya mengulang di kelas atau tingkat yang sama di tahun berikutnya. Atau ketika anak tidak lulus tahun ini, maka satu-satunya pintu yang dapat dibuka hanyalah berusaha untuk lulus satu tahun di depan?

Atau kemudahan yang saya sampaikan kepada mereka dengan mengajukan pertanyaan: Siapa yang sudah mendapatkan SMA untuk tahun pelajaran depan? Lebih dari lima anak dari 32 anak yang ada mengangkat tangannya sebagai bukti bahwa ia telah diterima, dan pastinya sudah membayar untuk masuk di bangku SMA pada Juli 2012 nanti. Bukankah ini juga dapat memberikan kontribusi bagi rendahnya kesadaran anak-anak itu untuk berjuang lebih keras dalam menyelesaikan studinya di jenjang pendidikan yang sedang ia ikuti? Allahua'lam

Yang paling penting bagi saya sendiri adalah; mendapatkan tugas sebagai bagian dari mereka yang duduk di bangku kelas sembilan di sekolah menengah, adalah juga belajar menjadi guru yang sabar dan ikhlas.Karena belajar menjadi sabar dan menjadi ikhlas ini bagi saya jauh lebih penting bagi kesehatan jiwa saya di masa yang akan datang.

Jakarta, 06 Maret 2012.