Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 Desember 2010

Menjadi Trainer

Guru saya pulang dari kegiatan pelatihan. Seperti yang lain-lain sebelumnya, untuk tujuan pemberdayaan sekolah sebagai komunitas belajar, maka setiap kita yang selesai mengikuti kegiatan pelatihan, seminar, diskusi, atau kunjungan pendidikan, ada sesi untuk kita memberikan apa yang kita dapat kepada kolega kita di sekolah. Itu pulalah yang terjadi dengan guru saya ini. Ia meminta waktu khusus setelah sesi untuk teman tuntas ia lakdankan.

  • Hebat ya traíner saya. Saya ngak kebayang betapa bagusnya sekolah dimana ia menjadi Kepala Sekolahnya. Ungkap guru saya mengawali diskusi kami. Yang selain saya dan día, masih ada Kepala Sekolah TK dan Kepala SMP.
  • Siapa trainernya Pak? Tanya saya menyelidik.
  • Pak Hermanu. Kata guru saya penuh semangat. Saya senang juga jika mengirim guru untuk mengikuti pelatihan di luar sekolah, dan guru itu terinspirasi akan apa yang díikutinya. Pengiriman guru untuk ikut pelatihan di luar sekolah atau kita mengundang nara sumber untuk malakukan in house traning memang bertujuan untuk terus menerus meningkatkan kompetensi Guru. Karena hanya dengan guru yang berkualitas baguslah maka sekolah kami yang swasta ini eksistensinya akan terus terjaga.
  • Pak Hermanu. Kata saya. Terus terang nama itu saya tidak asing lagi. Ia adalah salah satu Kepala Sekolah dimana kebetulan saya menjadi bagian dari Yayasannya. Yayasan yang mengelola sekolah dimana Pak Hermanu sebagai Kepala Sekolahnya. Jadi kalau mau dilihat secara herarki, Pak Hermanu adalah masuk dalam jajaran bawahan saya. (Mohon maaf, ini hanya untuk memberikan ilustrasi kepada pembaca agar dapat memahami tulisan saya ini dengan baik. Bukan untuk menunjukkan secara detil dan vulgar tentang diri saya).
  • Apa yang disampaikan Pak Hermanu dalam pelatihan itu Pak? Tanya saya lagi. Guru saya dengan baik menceritakan beberapa hal yang inspiratif selama pelatihan yang díiiutinya.
  • Senang ya Pak kalau Kepala Sekolahnya seperti Pak Hermanu. Setiap hari selalu inspiratif. Lanjut Guru saya. Saya ikut sumringah dengan apa yang disampaikan guru saya itu. Syukurlah bahwa ia terinspirasi untuk berbuat lebih baik dan lebih profesional.

Terlepas darí itu, saya sangat mensyukuri bahwa keberadaan Pak Hermanu, sebagai Kepala Sekolah dimana saya membantu teman yang lain di Yayasan yang mengelola sekolah dimana Pak Hermanu berada, mampu memberikan inspirasi kepada teman-teman guru sekolah lain dengan menjadi trainer. Saya berharap bahwa aura positif itu pula yang tumbuh dan berkembang dimana Pak Hermanu sebagai leader di sekolahnya.

Namun dalam sebuah kesempatan di kemudian hari, saya bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman guru yang menjadi bawahan Pak Hermanu di sekolah dalam pertemuan, dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Dalam pertemuan-pertemuan itu, saya mendapat fakta atentang Pak Hermanu yang justru kebalikannya. Kenyataan itu memberikan keyakinan kepada saya akan informasi selama ini melalui email atau pertemuan informal dengan beberapa diantara teman-teman itu. Yaitu yang berkenaan secara operasional keberadaan Pak Hermanu, yang tidak cukup memberikan kesan positif dalam pengembangan profesionalisme guru-guru yang menjadi kewajibannya. Meski itu sangat dirindukan teman-teman. Bahkan ada komentar salah satu darí teman itu: "Pak Agus, saya tidak bangga sama sekali dengan sekolah ini, meski punya Kepala Sekolah yang menjadi trainer standar nasional".

Dari statmen itu, saya mencoba untuk merefleksi diri. Jangan sampai saya dihinggapi sakit memberikan sesuatu yang bukan atau belum terjadi di sekolah sendiri dalam setiap posisi menjadi trainer. Atau apalah namanya. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 26 Desember 2010.

19 Desember 2010

"Anda Harus Tahu, Saya ini Pejabat!"

Ini kisah perilaku kampungan yang lain lagi dari saya. Bukan saya sendiri pelakunya, karena saya cukup tahu diri dari mana asal usul saya, namun teman-teman saya yang pernah menjadi korbannya. Seperti judulnya, maka kisah ini akan mempertunjukkan kepada kita, InsyaAllah, betapa masih ada orang-orang pintar atau orang-orang yang benar-benar menjadi orang penting atau menjadi pejabat, yang ada di sekitar kita, yang harus menyebutkan posisi kerjanya atau jabatannya yang mungkin menurutnya paling mulia di dunia ini. Pasti untuk tujuan pengakuan dari lawan bincangnya.

Seperti kita pahami bersama bahwa sebagai perilaku, ia bisa sekali hinggap pada diri siapa saja. Termasuk saya dan Anda. Tapi sekali lagi, karena asal usul saya yang memang 'kismin 'dan ndeso dari sananya, justru itu membuat saya ngak pede. Apakah orang kota, orang desa, orang kampung, atau bahkan orang norak sekalipun bisa terjangkit sakit ini. Penyakit yang tidak pandang bulu asal muasalnya. Sebagai perilaku yang bisa menjadi milik siapa saja, ia punya prinsip dasar saat menghinggapi seseorang. Yaitu manakala orang tersebut merasa dirinya yang paling pintar diantara orang disekitarnya. Yang merasa paling berkuasa, yang paling penting, yqng paling apa saja. Biasanya perilaku ini akan menjadi karakter sombong atau angkuh. Munculnya seperti yang saya katakan semula, terlalu percaya diri untuk menghargai dirinya lebih dari pada orang lain.

Akibatnya turunannya atau implikasi selanjutnya yaitu penyakit bebal sosial atau bodoh horisontal. Artinya ia tidak tahu dan tidak sadar kalau día sedang sakit bebal. Padahal orang di sekitatnya melihat día tidak lebih baik atau sama dengan, dengan apa yang ada dalam benaknya.

Kisah ini tentu saya tulis karena beberapa orang yang saya kenal mengalami trauma akibat penyakit kampungan ini. Mungkin juga pernah Anda derita. Seperti kawan saya ini. Ia mendapat telpon dari orang yang kecewa karena terlalu cepat memberikan penilaian. Maka nada bicaranya yang tinggi hati dan mendikte, keluarlah umpatan kampungannya: "Ibu harus tahu ya, saya itu siapa. Saya Pejabat! Saya anggota ..." .

Tentu Anda dapat membayangkan bagaimana bahasa tubuh orang tersebut saat kata-katanya meluncur. Lebih-lebih saat ia mengatakan "Saya Pejabat. Saya anggota...". Pasti mimik mukanya sinis dan siap menelan Anda. Dan jika Anda atau saya kebetulan di depannya, hanya akan dilihatnya tidak lebih daripada kutu busuk yang sudah siap dilumat benda keras.

Repotnya, orang kampungan model seperti ini tidak bergentayangan di terminal bis kota atau stasiun kereta api. Namun justru menjadi bagian dan penghuni kantor-kantor keren. Yang kalau untuk menjadi korp disitu harus melalui pesta demokrasi yang maknanya tidak beda dengan pesta bagi rezeki.

Dan meski posisinya 'terhormat', karena begitulah orang menyapa ketika dalam rapat resminya, tetap saja mental kampungan itu membuat orang memposisikannya rendah. Tentu tetap ada saja yang menyanjung-nuanjungnya sebagai orang terhormat, yaitu orang-orang bermental penjilat yang mengharapkan materi darinya.

Untuk itulah, maka saya sampaikan kepada kawan itu agar menghadapi orang-orang kampungan itu dengan mendoakannya agar diberikan keinsyafan. Karena seperti sejarah telah membelajarkan kepada kita bahwa kehormatan hanya dapat dimiliki oleh mereka yang memiliki sifat, perilaku atau karakter yang bertanggung jawab, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, kerja sama, sopan, peduli, hormat dan sabar. Bukan mereka yang berperilaku kampungan sebagaimana yang saya sampaikan di atas.

Mudah-mudahan Anda percaya dengan kesimpulan saya ini. Dan saya tidak berharap Anda sendiri punya rasa bangga diri yang berlebihan tanpa bisa mengontrolnya, sehingga lupa kalau sikap itu adalah titik tolak menjadi kampungan.

Jakarta, 18-19 Desember 2010

17 Desember 2010

Di Sebuah Pasar, Saya Menemukan 'Cermin'

Pagi Ahad tanggal 12 Desember 2010 sekitar pukul 05,30 saya bersama tiga teman telah meninggalkan rumah yang kami tumpangi untuk bermalam. Sebuah daerah yang sesungguhnya hanya berjarak 55 kilometer dari tempat dimana saya dibesarkan di kampung Wojo. Dengan berjalan kaki, untuk sekedar jalan-jalan sekaligus pengenalan lingkungan. Tempat yang kami tuju dalam perjalanan mencari angin pagi ini, kami sepakati adalah Pasar Sentolo. Yang letaknya tidak begitu jauh dengan rel kereta api ganda jurusan Yogyakarta- Wates, yang jarak antara rumah yang kami tumpangi ke pasar itu tidak lebih dari dua kilometer saja.

Sampai di pasar, saya segera menghirup aroma kerinduan. Kerinduan akan sebuah masa di empat puluh tahun yang lalu, di masa kecil saya, yang tinggal di Wojo. Rindu dengan pasarnya. Yang dulu semarak dengan pedagang dan pembeli, yang memenuhi pelataran pasar hingga saya merasa kesulitan untuk masuk melalui gapura yang gagah bertuliskan Pasar Wojo, yang sekarang bangunan pasar itu telah roboh dan berganti dengan bangunan puskesmas pembantu. Yang alhamdulillah di ramai pasien darí daerah sekitar. Rindu dengan stasiun kereta apinya yang peronnya dipenuhi oleh buah kelapa, sapu lidi daun pisang,yang terlipat apik, gula jawa dan segala pernak pernik dagangan dari kampung untuk diperjualbelikan di Pasar Kranggan Yogyakarta. Dan pastinya para pedagang yang empunya dagangan untuk menunggu kereta kluthuk, atau kereta berbahan bakar kayu. Rasa kangen akan kesibukan sebuah stasiun kereta api yang sekarang tidak sibuk lagi dengan penumpang yang berangkat dan datang. Stasiun yang sekarang tambah tampak muda tetapi justru sepi pemakai. Aroma kerinduan itu mengiringi saya selama perjalanan mengitari los-los pasar di Pasar Sentolo itu. Ada juga rasa iri. Mangapa pasar ini masih begitu ramaii dengan aktivitas jual beli dan pasar di kampung saya tidak?

Disana saya jumpai penjaja palawija, buah dan daun pisang, tikar dari mendong, gethuk, klembak menyan dan tembakau, dan tidak ketinggalan growol yang terbuat dari singkong serta tempe benguk. Saya mengajak teman untuk membeli sedikit jajanan itu. Untuk kemudian kami santap dengan teman teh manis di sebuah warung gorengan yang ada di seberang pasar. Kawan yang sejak kecilnya tinggal di kota banyak bertanya tentang makanan yang kami makan.

Mereka begitu heran manakala saya bercerita kalau salah satu makanan yang kami sedang santap itu adalah jenis makanan yang dulu menjadi salah satu makanan pokok di keluarga saya. Seperti growol misalnya. Dan makanan growol itu, kembali mengingatkan saya pada masa kecil saya yang prihatin.

Mereka bertanya kepada saya mengenai asal dan proses pembuatan darí makanan-makanan itu. Sebagian saya bisa jelaskan secara baik karena saya tahu persis bagaimana Mamak saya memasaknya. Namun sebagian yang lain lagi saya telah lupa bagaimana makanan itu diproses sebelumnya.

Sebelum meninggalkan pasar itu, sekali lagi saya ajak teman-teman untuk masuk pasar pada bagian dalam dari sisi yang lain. Dan saya menemukan penjual alat pertanian seperti cangkul, arit, pisau, golok, sekop serta alat yang lainnya. Dan karena saya ingat betapa susahnya saya memotobg tulang kaki hewan kurban pada Idul Adha lalu, maka saya tertarik untuk membeli pethel.

Itulah catatan saya tentang perjalanan ke Pasar Sentolo. Sebuah catatan untuk Bapak dan Mamakku yang telah membelajarkan diriku bagaimana hidup dalam kondisi yang prihatin. Perjalanan di pasar itu, seperti saya sedang napak tilas. Seperti sedang bercermin...

Sentolo, 12 Desember 2010 - Jakarta, 17 Desember 2010.

16 Desember 2010

Guru Kelas 1 SD

Bagaimana membelajarkan siswa menulis dan membaca di kelas satu sekolah dasar? Setidaknya inilah pengalaman saya di saat awal-awal saya menjadi guru SD kelas satu, tahun 1986 hingga tahun 1992 di Sekolah Islam Al Ikhlas, Cipete, Jakarta Selatan. Meski mungkin ini pengalaman yang kurang mengena buat Anda. Tetapi inilah fondasi bagi karir saya sebagai pendidik hingga hari ini, yang harus saya ikat dalam tulisan.

Tahun 1986, diusia saya yang masih belia untuk memegang amanah sebagai pendidik di sekolah formal. Tetapi itulah realita yang harus saya jalani. Lulus dari sekolah pendidikan guru (SPG) yang setingkat SMA tahun 1984, dan pada Juli '86 benar-benar memegang amanah penuh sebagai guru kelas. Yang berarti diusia saya yang ke 22 tahun.

Dengan 40 siswa yang ada di dalam kelas. Dengan pengantar para Suster dan Ibu-Ibu yang saya kira berusia tidak jauh terpaut dengan saya. Dengan kebiasaan mereka menunggu di depan kelas atau bahkan dengan wajah yang melongok ke dalam kelas melalui jendela kelas sepanjang waktu putra atau putri mereka ada dalam jam belajar bersama saya. Kenyataan seperti ini sungguh membuat saya menjadi sangat tidak nyaman untuk mengajar. Maka lengkaplah beban tugas saya itu memberati batin dan pikiran saya. Tertekan.

Beruntung bahwa, saya menyimak sekali apa yang menjadi pesan guru mata pelajaran Pedagogi dan juga guru Metodologi Belajar dikala SPG agar kita menguasai lagu-lagu anak dan juga beberapa cerita anak. Terutama bila kita bertugas mengajar atau menjadi guru di kelas rendah di SD. Dengan modal itulah saya mengawali jam, hari, minggu, dan bulan pertama saya dengan menyanyi dan bercerita. Dan saya relatif mendapat 'simpatí' siswa. Namun apakah selesai dengan simpati yang telah saya peroleh? Belum. Karena satu tahun pelajaran ada selama tiga catur wulan. Maka inilah lebih kurang catatan saya sepanjang perjalanan itu. Paling tidak sedikit kilas balik tentang apa yang pernah saya alami dulu. Yang tentu saja berbeda sama sekali dengan kondisi kelas rendah di SD saat ini. Berbeda.

Catatan masa lalu yang bagaimanapun serta apapun juga, adalah fondasi bagi pertumbuhan diri saya selanjutnya dalam menapaki amanah sebagai guru. Masa yang selalu menjadi bagian yang akan melekat dan tidak terpisahkan dalam hidup saya. Yang selalu menjadi unsur dalam pertumbuhan profesionalisme dan etos kerja saya.

Belajar Menulis

Salah satu tugas berat saya sebagai guru kelas satu SD adalah belajar menulis. Bahkan Pada hal yang paling awal sekalipun dalam belajar. Kendala dalam belajar menulis itu tidak pernah menjadikan saya tertekan. Seperti yang saya sampaikan di atas, rasa tertekan justru datang karena pada hari-hari pertama mengajar dengan beberapa siswa yang ditungguin Ibu dan baby sitter-nya. Bahkan dua tiga atau bahkan empat orangtua siswa duduk bersama anaknya di dalam kelas ikut proses belajar. Itulah situasi menekan yang tidak bisa tidak harus saya hadapi dengan lapang dada dan tabah.

Mungkin siswa tidak mau ditinggal dan selalu minta ditungguin karena merasa tidak nyaman dan meresa takut. Dan boleh jadi perasaan itu muncul antara lain karena sayanya. Mungkin juga karena situasinya. Sehingga rasa percaya diri itu menjadi miliknya. Syukurnya situasi demikian berlangsung hanya pada bulan peertama di catur wulan awal saja. Selanjutnya saya dapat dengan lega menghadapi siswa tanpa ada orangtua dan baby sitter.

Tetapi mungkin darí sinilah beberapa orangtua yang ikut duduk di samping anaknya yang belum berani ditinggal itu melihat dan menghitung bagaimana repotnya saya yang harus membukakan buku tulis anak-anak dan halamannya sebelum belajar menulis dimulai. Dan ini harus saya lakukan untuk ke-40 siswa yang ada di kelas. Jadi kalau saya membantu menyiapkan buku tulis siswa mulai dari deretan tempat duduk paling kanan dari baris depan sampai baris belakang terus hingga deret bangku paling kiri. Maka belajar menulis mungkin baru siap 15-20 menit sesudah saya meminta mereka membuka buku. Ini mungkin salah satu yang beda antara kelas satu SD waktu itu dengan sekarang.

Belajar Membaca

Lalu bagaimana dengan kegiatan belajar membaca? Ini juga menjadi tugas berat saya yang lain lagi. Inipun saya lakukan di kelas dengan romantika yang berliku. Karena pada akhir empat bulan pertama masih ada lebih kurang sepuluhan siswa yang masih terbata-bata mengeja huruf saat membaca.

Maka dari sekian puluh siswa saya itu saya berikan tambahan waktu belajar. Pada saat itulah saya dapat benar-benar menikmati bagaimana seorang anak menggunakan sarana berpikirnya dalam 'belajar' membaca. Darí sinilah saya menemukan metode konsisten. Yaitu strategi atau cara untuk membantu siswa agar bisa membaca. Sebuah strategí yang terus menerus kita gunakan. Dengan belajar membaca seperti ini sangat dimungkinkan siswa yang bisa membaca belum tentu akan menjadi suka membaca karena mereka belum tentu tahu apa arti kata-kata yang dilafalkannya. Sebaliknya siswa yang gemar membaca pasti adalah yang bisa membaca.

Saya menggenalkan cara suku kata untuk membelajarkan mereka bisa membaca. Siswa saya sodori suku kata na ni un ne no. Sebelumnya huruf vokal a i u e o. Dari modal ini saya mengajak siswa untuk membuat kata. Ana ani ina nana nina nani dan seterusnya. Persis seperti belajar Iqra dalam membaca Al Qur'an. Konsistensi ini membuahkam hasil. Maka pada akhir tahun pelajaran saya mendapati siswa saya telah bisa membaca.

Bisa vs Suka Membaca

Tahap berikut setelah siswa bisa membaca adalah bagaimana supaya mereka suka membaca. Karena ketika melafalkan teks bahasa tidak dipahami maknanya, maka kegoiatan membaca hanya sebatas menyelesaikan tugas. Dia menguap begitu saja tanpa bekas. Namun kenyataan ini tidak menjadi kesadaran saya seketika dikala itu. Kenyataan ini saya sadari setelah siswa tetap kesulitan memberikan makna terhadap teks yang dibacanya sehingga mereka tetap kesulitan menjawab pertanyaan saat ulangan berlangsung di akhir catur wulan.

Apa usaha saya? Sesering mungkin saya meminta siswa untuk membaca bacaan untuk kemudian saya mengajak mereka memberi makna. Saya memberikan pertanyaan; Siapa yang menjadi tokoh dalam cerita itu? Siapa tokoh baiknya? Siapa tokoh yang tidak baik? Apa yang membuat kita suka pada tokoh baik? dan seterusnya.

Tidak jarang saya memberikan pekerjaan rumah bebas seputar membaca dan menulis ini. Misalnya; Dikte bebas dengan ayah atau ibu 10 baris dengan menulis huruf sambung. Atau; Membaca cerita bebas. Saya melihat dengan cara ini siswa menikmati. Karena empat atau tujuh dari cerita mereka akan sauya bacakan setelah saya mengoreksi dan memberikan ponten.

Inilah kisah saya di kelas satu...

Jakarta, 7-18 Desember 2010.

04 Desember 2010

'Dasboard'


Istilah dashboard yang kemudian berkorelasi dengan sekolah ini mencengangkan saya dan juga beberapa teman, yang menjadi peserta dalam Leadership Forum ANPS-BI, Pada Jumat tanggal 26 Nopember 2010 di Bali. Menjadi mencengangkan karena presenter mempersonifikasi fungsi leader di sekolah sebagai pengendara kendaraan, dan fungsi dasboard di dalam kendaraan bermotor. Di dalam kendaraan, indikator yang terdapat dalam dasboard memberikan informasi tentang perform kendaraan bagi pengendara. Dan dengan informasi tersebut pengendara akan menjadi yakin dengan kondisi kendaraannya untuk sebuah perjalanan yang akan dijalaninya.

Bagaimana di sekolah? Disinilah letak irisan antaranya. Pada sisi ini presenter mengajukan pertanyaan kepada kami; Indikator apa yang Anda inginkan tentang sekolah yang Anda pimpin, yang harus muncul di dasboard Anda? Lalu kepada kami diberikan waktu untuk berdiskusi apa saja indikator yang menurut kami penting untuk ada. Dan ternyata tidak semua kami dapat menyepakati. Masing-masing kita memiliki karakteristik dan level sekolah yang berbeda. Yang membuat ekspektasi jenis indikator yang tidak sama satu sama lainnya.
Saya sebagai wakil dari sekolah nasional, teman sebelah kiri saya yang adalah wakil dari Sekolah RSBI, sebelah kanan saya dari sekolah nasional plus atau lebih tepatnya dari sekolah internasional minus, depan saya dari sekolah IB, memiliki persfektif berbeda saat mendifinisikan indikator apa yang harus ada di dalam dasboard sekolahnya masing-masing. Teman-teman ada yang menyebutkan bahwa indikator yang selalu harus nongol dalam 'dasboard'nya adalah student assessment, yang lain menyebutkan tentang learning strategies, yang lain lagi menyebut tentang kahadiran guru dan karyawannya.
Dari sini, dari jenis jawaban yang kami buat tersebut, saya menjadi tergelitik dan berpikir bahwa indikator yang kepala sekolah sebut tersebut menunjukkan gradasi kualitas sekolah. Apakah sekolah tersebut masih berkutat dengan urusan kehadiran guru, atau sudah masuk tentang kualitas interaksi guru-siswa, atau juga apakah sudah masuk dalam bagaimana mereka memberikan pelayanan lebih optimal kepada pengembangan potensi siswanya.
Dengan berkaca dari jawaban teman-teman itu, menurut saya, sekolah yang bagus tidak lagi menjadikan absensi guru sebagai indikator mereka. Bukan berarti bahwa kehadiran guru tidak penting untuk menjadi indicator dalam dashboard-nya, tetapi sekolah dan komunitasnya sudah berpikir bagaimana meningkatkan kualitas interaksi instruksional di dalam kelas dalam ranah berpikir analitis. Guru dan karyawan di sekolah semacam itu telah memiliki etos kerja dengan komitmen yang tinggi.
Sementara di sebagian sekolah lainnya, pimpinan sekolah masih sibuk dengan morning sms. Karena nyaris setiap hari ada saja gurunya atau stafnya yang tidak masuk kerja. Apakah karena ada anggota keluarganya yang sakit, atau malah dirinya sendiri yang tidak enak badan, atau karena untuk mengurus surat, dll. Pendekkata, dari 40 syafnya yang terdiri dari guru dan karyawan, nyaris selalu ada saja yang tidak dapat masuk kerja. Dan berita itu akan día terima pada setiap pagi melalui telpon atau sms untuknya. Itulah morning sms yang paling tidak dia kehendaki.
Dan itu pulalah dasboard yang dimaksud dalam tulisan ini. Lalu apa indikator yang yang harus ada di dashboard, di Sekolah Anda?
Jakarta, 4 Desember 2010.

02 Desember 2010

UN, Pemetaan, dan Peningkatan Kualitas Pendidikan

Hingga hari ini, Kamis tanggal 2 Desember 2010, pernyataan Menteri Pendidikan Nasional tentang Ujian Nasional masih menjadi bahan diskusi teman-teman di milis. Pernyataan itu bernada ketidak setujuan Menteri terhadap sebagian orang yang berpendapat bahwa kalau Ujian Nasional tidak perlu diselenggarakan jika pemerintah belum siap dengan formula revisi Ujian Nasional sebagaimana yang dipersyaratkan oleh DPR. Yaitu agar hasil Ujian Nasional tidak memveto kelulusan siswa seperti yang selama ini terjadi. Karena jika ini yang masih terjadi, maka apa yang menjadi diskusi agar waktu dan hasil belajar siswa selama berada di jenjag pendidikan yang ditempuhnya tidak terbuah sia-sia oleh peristiwa tiga (4) atau enam (6) hari dalam pelaksanaan UN.

Komentar menteri yang terasa janggal dinilai oleh para pendidik yang tidak dalam barisannya adalah ketidak setujuan menteri untuk menghapus atau meniadakan UN. Bahwa jika itu pilihan yang dijatuhkan, maka kita akan memanjakan siswa yang adalah anak-anak kita sendiri.

Pada Jumat, 26 Nopember 2010 yang lalu, penulis berkesempatan untuk meminta pandangan dari Prof. Paulina dari SEE Jakarta saat rekat makan siang di acara Leadership Forum ANPS-BI di Legian Bali.

  • Apa keberatan kita tentang penghapusan UN yang ada? Tanya saya.
  • Karena jika tidak ada, kita tidak memiliki satu standar yang berlaku secara nasional sebagai bahan untuk pemetaan pendidikan di tanah air. Maka yang terjadi selanjutnya, pemerintah atau lembaga luar akan masuk dan melakukan pemetaan. Jelasnya.
Pada sisi ini saya paham sekali. Artinya, jika pemetaan atas kualitas pendidikan dapat diketahui, maka langkah berikutnya adalah langkah perbaikan atau peningkatan atau pengembangan dari tiap-tiap daerah tersebut. Pada titik ini saya bertanya pada diri sendiri; Apakah lingkaran seperti ini selama ini dijalankan oleh pihak-pihak yang berkepentingan? Tidak bisa saya jawab. Mungkin sudah tetapi mungkin juga belum. Karena sebagai bagian dari sekolah swasta yang dinamakan pembinaan oleh pengawas pendidikan kepada teman-teman guru di sekolah saya selalu memperoleh feedback cukup sebagai nilai maksimal mereka?

  • Tapi mengapa setelah UN dilaksanakan tetapi juga masih mejadi polemik? Tanya saya selanjutnya.
  • Karena hasil UN tersebut masih menjadi tolok ukur kelulusan. Jelasnya.
Diskusi saya dengan Prof. Paulina tidak berhenti disitu. Kami masih diskusi banyak hal tentang pendidikan dan khususnya guru. Termasuk juga pendapat guru PNS dan guru swasta. Namun semua itu harus berhenti ketika waktu rehat berakhir.

Jakarta, 2 Desember 2010.

28 November 2010

Belajar dari Kisah Lampu Lalu Lintas


Apa yang saya tuliskan ini adalah apa yang saya baca dari dinding facebook saya. Tulisan itu sederhana saja. Sulit untuk mengatakan bahwa tulisan itu tanpa tendensi apapun dari penulisnya selain hanya memberikan laporan pandangan mata. Karena ada dua kata kunci di awal kalimatnya yang berbunyi: Jangan seperti. Dan dua kata itu dalam kalimat itu membimbing saya sendiri, dan mungkin pembaca lain, untuk menemukan kunci apa yang menjadi maksudnya. Yaitu mengingatkan kepada kita semua yang masih menjadi pelaku atau yang masih berkontribusi dalam kehidupan sosial dalam bentuk apapun di dunia ini untuk terus memperbaiki diri dan sadar akan tugas dan fungsinya.

Secara persis tulisan itu saya sudah lupa karena tulisan itu telah berlangsung beberapa waktu yang lalu. Namun karena kesan yang dalam terhadap tulisan tersebut, maka secara esensi saya masih dapat mengingatnya. Lebih kurang tulisan itu berbunyi: Jangan seperti lampu lalu lintas di dekat rumah saya, kalau lampu lalu lintas itu mati atau tidak berfungsi justru jalanan menjadi lancar. Sebalilknya, jika menyala dan berfungsi malah menjadi sumber kemacetan.

Tulisan yang adalah murni laporan kajadian atas fakta lapangan yang ada. Namun dalam ranah kehidupan kita, adalah bentuk metapora dari realitas kepincangan yang terjadi dalam sebuah sistem dan peran seseorang yang ada di dalamnya. Sebuah contoh konkrit dari salah satu perilaku buruk yang terdapat dalam sebuah lembaga. Contoh yang sangat cerdas sekaligus orisinal. Cerdas, karena realita tersebut benar-benar potret dari sebuah pembusukan yang terjadi dalam sebuah sistem atau lembaga. Orisinal, karena kenyataan bahwa tidak semua sistem lampu lalu lintas dapat berjalan efektif sebagai mana tujuan yang diinginkannya.

Saya pribadi sebagai individu, merasakan getaran kebenaran atas realita tersebut. Dan saya tergerak untuk menuliskannya disini sebagai refleksi diri dalam proses pertumbuhan saya. Terus terang, dalam diri saya dan kapasitas saya sebagai bagian dari sebuah sistem dalam sebuah lembaga yang kadang memiliki fungsi sebagai lampu lalu lintas saat sebuah kebijakan dibuat dan dioperasionalkan. Kalimat itu telah mampu menohok rasa ketersingungan yang dalam pada akal sehat saya. Juga pada hati nurani saya. Kalimat itu telah benar-benar memberikan peringatan kepada saya dengan metapora yang apik, cerdas, sekaligus sarkastik.

Dalam posisi saya sebagai pembaca, kalimat itu tidak secara gamblang diamanatkan kepada saya. Tetapi untuk alasan kesehatan sosial, kalimatnya itu saya jadikan wahana pembenahan diri. Khususnya pada kalimat yang menyatakan bahwa keberadaannya justru menjadi sumber kemacetan.

Tulisan itu juga membawa saya untuk mengutip apa yang ditulis oleh Kitami Masao dalam Novelnya The Swordless Samurai. Katanya: Kesalahan-kesalahanku yang terbesar bisa dianggap berasal dari satu kelemahanku: kesombongan. Ketika kekuasaanku semakin tinggi, aku mulai memercayai mitos tentang kehebatanku sendiri. Setelah berhasil menyatukan Jepang, seharusnya aku lebih berkonsentrasi membawa Negara dalam kedamaiandan kemakmuran yang lebih tinggi. Tapi aku malah mencari kejayaan di seberang lautan. Misiku yang congkak akhirnya menimbulkan Perang Tujuh Tahun di Korea dan China, yang tidak diragukan lagi adalah kegagalan terbesar dalam hidupku. (Kitami Masao: The Swordless Samurai.2007;242).

Meski saya sendiri tidak mungkin mempersonifikasikan sebagai Toyotomi Hideyosi, sang samurai tanpa pedang itu, namun dengan sadar akhirnya saya menghitung plus minus dari keseluruhan kontribusi yang saya mampu berikan dalam bingkai kemaslahatan lembaga pemberi amanah. Tapi lagi-lagi, kemauan untuk itu dibayangi subyektivitas, yang jika saya teruskan justru mengarah kepada kontraproduktif. Karena berujung kepada pembelaan diri.

Terlepas dari bela diri atau tidak, proses introspeksi harus menjadi bagian vital bagi saya dalam mengemban posisi yang menjadi amanah pemilik lembaga. Agar pembusukan perilaku amanah dapat dibelokkan menjadi keluhuran. Meski pengunduran diri dari sistem tersebut yang menjadi pilihannya. Seperti pesan di akhir novel Kitami Masao tersebut.

Mengapa tulisan itu begitu bermakna bagi saya?

Karena saya, dan pasti juga Anda, merasa bahwa memikul amanah dari sebuah lembaga adalah berat. Ini mungkin saya merasakan kalau kapasitas yang saya miliki dan kontribusi yang mampu saya berikan, tidaklah sebesar anggapan atau penilaian pemberi amanah.

Untuk itulah, melalui bantuan Anda para pembaca, saya selalu bermohon kepada Yang Maha Memiliki untuk diberikan kemampuan membaca ‘tanda-tanda zaman’ dan sensitif selalu pada hati nurani.
Mungkin itulah tafsiran saya tentang metapora lampu lalu lintas itu. Allahua'lam.

Padma Resort, Legian, Bali-Slipi, Jakarta, 26-28 Nopember 2010

22 November 2010

Berkomitmen untuk Makan Makanan Halal

-->
Berkomitmen untuk hanya mengkonsumsi makanan halal, adalah suatu bentuk kesadaran diri yang lahir dari pengetahuan dan pemahaman terhadap halal dan haram serta implikasinya, dan aplikasi dari keduanya. Dan dalam kehidupan, kadang kita masih menemui beberapa kesulitan dan tantangan yang tidak mudah serta ringan. Kesulitan dan rintangan tersebut bukan karena bahwa suitnya menemukan makanan haal yang akan kita konsumsi, tetapi justru kadang datang dari kekurang hati-hatian yang berasal dari dalam diri kita sendiri.


Karena untuk melaksanakan komitmen tersebut tidak cukup hanya pengetahuan kita tentang makanan halal semata tetapi juga tentang cara berpikir dan budaya hati-hati. Tiga hal itulah yang saya dapatkan saat saya berkesempatan pergi ke Melbourne Pada Oktober 2007 yang lalu.


Pesta Taman di Geelong

Kisahnya berawal ketika rombongan berwisata ke pantai di Geelong, Victoria. Disebuah taman yang ada persis di atas tebing di penggiran pantai, rombongan menyiapkan segala hal untuk makan siang. Menyiapkan yang saya maksud adalah memanggang daging ayam dan domba yang kami bawa dari sebuah tempat dipinggiran kota Melbourne.


Setelah mamasukkan koin secukupnya, terus terang ini adalah pengalaman pertama saya ada panggangan yang ditempatkan di taman umum, yang difungsikan dengan memasukkan uang koin melalui lubang yang tersedia ke dalam tungku, atas petunjuk tuan rumah, bersiaplah saya membersihkan permukaan tungku dengan cara menggosok-gosok panggangan tungku tersebut dengan timun yang telah kita belah. Usaha membersihkan itu berhenti ketika kita anggap tungku telah mulai bersih darí bercak kotoran dan telah cukup panas. Selanjutnya, potongan daging domba dan ayam yang telah berlumur bumbu itu kita panggang diatas tungku. Asap membumbung, dan kita membolak balikkan potongan daging agar nantinya masak secara merata.

Saat selesai menyantap hidangan siang yang lezat di tingkah suara ombak pantai yang tidak segarang ombak pantai Congot yang ada di Pantai Selatan pulau Jawa dengan suhu udara sejuk 20 derajat, saya menghabiskan empat potong daging domba panggang yang gurih nan empuk. Terasa di lidah bumbu yang meresap hingga ke dalam serat dagingnya.
Hati-Hati sebelum Mengkonsumsi
Habis berapa potong Pak Agus dagingnya? Tanya Pak Surani, orang yang selalu menemani perjalan kami, yang adalah warga Singapura dan telah memiliki PR Australia tapi keturunan Semarang, Jawa Tengah. Sangat mungkin Pak Surani memperhatikan saya makan sejak tadi sehingga melontarkan pertanyaan seperti itu. Harus dipahami kalau saya memang benar-benar menikmati makan daging bakar yang empuk. Sulit saya dapat menemukan daging domba yang kualitasnya sama seperti itu di Jakarta. Itu mungkin motivasi makan saya saat itu.

Empat potong Pak. Jawab saya. Bapak sendiri mengapa makan buah? Bapak tidak makan daging? Lanjut saya menyelidik.


Saya tidak makan daging Pak. Namun bukan saya tidak mau daging. Saya hanya mencoba hati-hati Pak Agus. Saya khawatir tungku yang kita pakai untuk memasak tadi tidak cukup bersih. Dan kita juga tidak tahu untuk masak apa tungku itu sebelum kita pakai. Jadi hati-hati saja Pak.


Tanpa penjelasan lebih lanjut lagi, saya segera menangkap apa yang dimaksud bersikap hati-hati oleh Pak Surani tersebut. Saya terdiam. Kala itu, saya benar-benar mendapatkan pelajaran 12 SKS sekaligus tentang hati-hati ketika menyantap makanan. Saya malu. Tetapi saya bersyukur bisa dapat pelajaran seperti itu di negeri orang. Saya berharap dikemudian hari sikap cek dan cek kembali, menjadi budaya saya dalam memegang teguh komitmen untuk hanya mengkonsumsi makanan yang halal saja.


Jadi selain jenis makanan yang halal, prosesnya juga memiliki kontribusi besar dalam menjaga bahwa makanan tersebut tetap menjadi halal. Bagaimana dengan apa yang ada di lingkungan kita dewasa ini? Di pasar-pasar kita, masih belum bebas daging gelonggong, daging halal yang di oplos dengan yang tidak halal, ayam tiren yang matinya tidak melalui proses penyembelihan, dll.


Namun itu semua kembali kepada kita pribadi untuk selalu teguh dan berhati-hati dalam memegang komitmen untuk hanya mengkonsumsi makanan halal. Agar keberkahan selalu Allah berikan dan limpahkan untuk kita. Amin.

Jakarta, 18-22 Nopember 2010