Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 April 2011

Penetapan Kepala Daerah Yogyakarta Berbasis Ijab Qobul

Masih ada satu cerita lagi dari saya sebagai oleh-oleh kehadiran saya di kotanya para pelajar, Yogyakarta akhir pekan lalu. Yaitu sebuah cengkerama antara saya dengan tukang becak yang mengantarkan saya dari Dagen-KS Tubun-Wijilan lalu balik lagi ke Kantor Pos. Yaitu tentang Ijab Qobul.

Karena terus terang, sejak saya sampai Yogyakarta pada Jumat, 22 April 2011, mulai dari Gamping hingga ke dalam kota, banyak spanduk bertebaran dengan tulisan ijab qobul. Di samping juga spanduk-spanduk pengenalan diri untuk maju sebagai calon Wali Kota Yogyakarta yang pemilihannya akan dilaksanakan pada September 2011 nanti.

Tulisan ini tidak akan mengupas apa, bagaimana, dan mengapa pemerintah pusat mengajukan RUU tentang keistimewaan DI Yogyakarta. Karena bagian ini saya tidak memahaminya. Tulisan ini hanya akan memotret bagaimana mas yang mengayuh becak yang saya tumpangi itu terhadap pertanyaan saya berkenaan dengan ijab qobul yang tertera di spanduk-spanduk yang di pasang di berbagai tempat di wilayah Yogyakarta itu.

Penetapan Berbasis Ijab Qobul

Ijab qobal, persepsi sementara dalam benak saya, mungkin semacam himbauan kepada masyarakat luas untuk datang ke TPS pada Pimilu Kada nanti itu. Ya ini karena terbatasnya apa yang saya fahami sebagai orang luar. Maka ketika saya ada di atas becak dan teringat kembali akan pertanyaan hati saya tentang makna ijab qobul yang terpampang dimana-mana di spanduk, tak pelak lagi saya ajukan pertanyaan kepada abang becak yang mengantarkan saya dari KS Tubun menuju Wijilan pada Ahad, 24 April 2011 sekitar pukul 06.45.
  • Apa yang dimaksud dengan ijab qobul sebagaimana banyak kita jumpai di spanduk-spanduk itu Mas? Tanya saya persis ketika becak akan berbelok kiri dari arah jalan Malioboro menuju Wijilan. Yaitu ketika saya membaca spanduk yang juga menyebutkan ijab qobul yang dipasang di pintu masuk alun-alun utara keraton.
  • Begini Pak, Jelas mas yang mengayuh becak yang saya tumpangi, Kita bermaksud mengingatkan pemerintah SBY untuk melihat sejarah tentang penetapan kepala daerah DIY ini Pak. Bukan gubernur ya Pak, tetapi kepala daerah. Katanya. Kata-katanya pada bukan gubernur seolah menjadi tekanan yang lebih berat.
  • Kita heran juga, SBY ini tentara, tapi kok ngak ngerti sejarah. Lanjutnya.
Percakapan harus berhenti karena becak telah sampai di jalan Wijilan, yang sepanjang pinggir jalannya terdiri dari warung-warung makan, yang semuanya menjajakan makanan gudeg. Saya minta becak menunggu sepanjang saya memesan gudeg. Dan ketika pesanan selesai, becak sudah siap menempuh jalan berikutnya.
  • Ini Pak, selebaran yang saya masih punya. Ini untuk Bapak. Berdasarkan inilah nanti kami memperjuangkan penetapan kepala dan wakil kepala daerah kami. Kata Mas tukang becak saya ini sembari mengulurkan selebaran yang sudah terlipat menjadi empat bagian. Saya tidak dapat membaca dengan jelas sepanjang Mas tukang becak ini berkobar-kobar berargumentasi.
  • Apa yang terjadi jika UUnya nanti mengharuskan pemilihan langsung? Tanya saya.
  • Wah..., kayaknya perang saudara Pak. Jawabnya tegas dan membuat saya menjadi kaget.
Setelah kami turun dari becak, di depan kantor pos besar Yogyakarta, istri saya berguman; Kok ada ya masyarakat yang begitu patuhnya dengan pemimpinnya. Saya diam tidak menjawab apapun. Namun dalam hati saya berandai: Seandainya ditetapkan langsung tapi kepala daerahnya juga tetap memiliki dan memilih warna sendiri, sehingga dimungkinkan menjadi tidak netral, apakah yang di pusat tidak gerah?
Wallahu a'alam bishawab.
Jakarta, 26 April 2011.

25 April 2011

Sunmor, Sunday Morning, Pasar Kaget

Taksi terpaksa mengambil jalan memutar untuk mencapai blok E, sebuah perumahan yang berada dekat balai pertemuan Dusun Karangmalang, Yogyakarta. Jalur itu sekaligus juga adalah pembelajaran buat saya dalam mengenal lebih baik lagi daerah Yogyakarta. Terutama daerah -daerah yang lebih kecil.

Untuk sampai disitu, dari bunderan UGM taksi mengambil jalan ke arah UNY. Persis sesudah berada di depan GOR UNY, taksi masuk jalan kecil yang ada di sebelahnya. Lanjut hingga masjid UNY, yang berada di dalam komplek kampus.

Taksi harus memutar balik ketika sampai di ujung jalan berkonblok ketika sampai di blok E. Karena sepanjang jalan Karangmalang yang berseberangan dengan lembah UGM pagi itu dipenuhi pedagang. Sejak pagi ruas jalan ini menjadi pasar kaget. Berbagai jenis jajanan, makanan, kerajinan tangan, dan aneka asesoris digelar disitu. Itulah yang orang Yogyakarta menyebutnya sebagai sunmor. Yang adalah akronim dari Sunday Morning. Karena hanya buka pada hari Minggu pagi, meski prakteknya hingga pukul 11.00 siang belum juga bubar.

Maka setelah meletakkan semua bawaan ke dalam kamar kos anak yang berada disekitar lokasi situ, kami menyempatkan diri untuk melihat dagangan dan sekaligus juga dagangan serta kreativitas yang digelar. Tampak bahwa pedagang mengerahkan semua kepintarannya dalam rangka mendapatkan rizki untuk mempertahankan martabat mereka masing-masing. itulah yang tampak pada raut muka mereka. Semua geliat usaha yang patut mendapatkan apresiasi.

Misalnya saja seorang pedagang bibit tanaman yang menggelar dagangannya berupa bibit tanaman bunga dan tanaman pot. Tentunya tidak lupa membawa tanaman pohon cabe rawitnya yang sedang berbuah lumayan lebat. Ada buahnya yang merah rata nan ranum, juga ada yang masih hijau.

  • Nanti buahnya lebat ngak Pak? Tanya pembeli sambil menenteng bibit yqng sudah dalam plastik kresek.
  • Saya doakan Bu agar berbuah lebih lebat dari contoh yang saya pajang itu. Tapi dirawat hingga tumbuh dulu ya Bu. Jawab pedagang sambil memberi yang kembalian.

Di bagian lain empat pemuda memainkan musik. Mereka memainkan instrumen lagu Cinta Satu Malam dengan drum kecil, alat tabuh, pianika, gitar, dan biola. Tas biola mereka buka dan gelar di depan mereka sebagai alat untuk uang donasi dari penonton. Hingga kami meninggalkan lokasi itu, empat pemusik tersebut masih beraksi dengan memainkan instrumen lagu Doraemon.

Pada bagian lain lagi, seorang bapak yang tampaknya berusia 30an tahun mencoba menawarkan bingkai foto dari kayu yang desainnya unik. Bapak itu sedang berhadapan dengan sekelompok anak muda putri yang tanpaknya anak kos-kosan.

Sedang yang lain lagi, sepasang muda-mudi menawarkan kaca cermin ukuran lebih kurang 30 x 60 centimeter juga dengan desain yang beda. Lucu dan kreatif.

Itulah gambaran perjuanangan dalam mempertahankan diri dan martabatnya di sebuah pasar kaget di daerah Karangmalang, Yogyakarta pada hari Minggu pagi yang disebutnya Sunmor.

Karangmalang, 24 April 2011-Jakarta, 25 April 2011.

Pecel Kembang Turi

Mangkin sekali apa yang akan saya sampaikan dalam cerita ini tidak begitu istimewa untuk Anda pegemar makanan sejenis ini. Maksud harus juga saya sadari bahwa tidak istimewanya karena pecel memang adalah suatu makanan yang lumrah, makanan yang relatif biasa. Dan semua kita hampir pernah merasakannya. Atau bahkan menghidangkannya.

Sekedar mengingatkan Anda yang pernah singgah di Kota Yogayakarta umumnya, atau khususnya melintas di depan Pasar Bringharho, di jalan Malioboro, pedagang pecel akan setia melayani anda. Tapi saya yakin tidak semua Anda akan begitu saja mudah tergiur untuk membelinya di tempat seperti itu. Mungkin karena alasan hegenis atau gengsi. Namun jika Anda memiliki keinginan menggebu untuk menyantapnya, maka datanglah ke tempat itu pagi hari, sekitar pukul 07.00. Selain lebih sepi orang, juga sangat dimungkinkan masih fres!
Atau jika anda ada di daerah Banyumas, selain pecel, padagang juga akan menyediakan menu tambahan berupa tempe mendoan dengan lembaran yang lebar. Pecel di sini juga menantang selera kita. Karena selain jenis sayuran wajibnya yaitu kacang panjang, toge, dan kembang turi, kadang ada tambahan bunga yang warnanya merah dengan rasa yang sedikit 'menyengat'.

Namun ada hal lain yang beda dengan pecel yang saya sampaikan di atas, yang kami santap pada siang hari itu, Sabtu, tanggal 23 April 2011. Perbedaan itu karena inilah menu andalan saudara saya yang tinggal di pinggiran kota Yogyakarta. Keistimewaannya selain sambel kacangnya yang super pedas bagi saya, juga karena peyek daun bayamnya yang gurih dan renyah, serta kembang turinya yang empuk. Kembang turi dari pematang sawah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Yang anak saya dapat mengambil gambar bersama saudaranya ketika selesai menyantapnya. Termasuk juga kacang panjangnya yang juga satu paket dengan kembang turi pada menu pecelnya itu.

Itulah istimewanya pecel kembang turi saudara saya itu. Hampir semua bahannya merupakan hasil jerih payahnya sebagai petani sejak Ia memasuki dunia pensiun beberapa tahun lalu.

Dan tampaknya, Ia begitu menikmati dunianya kini. Seperti keceriaannya pada saat Ia menyambut kami untuk datang di kediamannya dan mengajaknya makan dengan pecel kembang turinya. Dunia pensiun yang jauh dari perasaan post power syndrom.

Yogyakarta, 23 April 2011-Jakarta, 25 April 2011.

Kusir dari Giwangan

Siang ini, sepulang dari Prambanan, dimana rumah calon besan yang baru saja kami kunjungi, saya minta turun di perempatan Lampu merah Giwangan. Cuaca siang itu cukup terik. Sehingga udara terasa panas dan gerah.

Saya mengajak istri dan anak menyeberang ke arah pintu masuk utama terminal bus Giwangan, Yogyakarta. Karena saya berpikir di lokasi itu akan lebih mudah saya temukan taksi di banding jalur ring road. Meski keringat kami bercucuran menahan panas, kami masih harus tetap melanjutkan perjalanan.
Sampai di seberang pintu masuk utama terminal, saya menemukan taksi sedang mangkal persis disebelah kiri pintu keluar terminal. Saya melihat supir duduk di bangku warung yang ada di sebelah taksi berhenti. Saya bersiluir melengking memanggilnya. Dia menengok dan dengan kode dan aba-aba, saya memintanya untuk segera memutar arah dan menyeberang di sisi jalan dimana saya menunggu, guna mengangkut saya. Tapi rupanya maksud saya tidak sampai. Dia berdiri dari duduknya dan terlihat bergegas ke arah saya yang ada diseberang jalan.

  • Borongan mau ya Pak. Katanya setelah dekat dengan saya.
  • Berapa? Tanya saya. Rupanya Ia memilih borongan dibanding menggunakan argo taksinya. Mungkin cara itulah untuk mendapatkan uang lebih dari kami penumpangnya. Allahu a'lam.
  • Lima pulih ribu rupiah Pak. jelasnya.
Kami tidak menawarnya. Karena kami semua sepakat untuk tidak mau mengajukan penawarannya. Udara masih tetap panas. Saya berharap dalam hati agar kiranya segera ada kendaraan lain yang dapat mengangkut saya. Menuju losmen dimana kami bertiga sudah pesan beberapa waktu sebelumnya. Lokasinya di jalan Dagen.

Sebelum tuntas berpikir, datang dari arah Imogiri, dokar kuning dengan 3 penumpang yang sudah ada di atas.
Tanpa pikir panjang lagi saya menyapa mereka dan bertanya. Kemanakah tujuan yang ingin mereka tuju?

  • Malioboro Mas. Jawabnya.
  • Berapa ongkosnya?
  • Monggo mawon mas. Jawaban khas jawa. Yang bermakna lebih kurang berapa saja sesuai perkiraan penumpang. Sebuah jawaban ngambang yang sulit buat saya. Bagaimana saya dapat memperkirakan ongkos naik andong di Yogyakarta kalau saya datang ke kota ini tidak saban hari. Dan bukankah saya tidak selalu naik andong jikapun ada di Yogyakarta.
Saya bersyukur ketika tiga orang yang lebih dulu naik tadi ternyata juga lebih dulu juga turun. Karena saya jadi punya standarisati ketika salah seorang dari mereka mengulurkan uang sepuluh ribu kepada kusir untuk ongkos tiga orang. Maka ongkos itulah yang saya jadikan patokan perkiraan saya untuk ongkos naik andong dari Terminal Giwangan hingga ke jalan Dagen.

Tak berapa kemudian sampailah kami di jalan Dagen. Saya serahkan satu lembar uang kepada Pak kusir itu. Sebelum Ia pergi, Ia bertanya pada saya:
  • Tidak uang pas saja Pak? Saya tidak punya yang untuk kembali. Saya sejenak berpikir. Oh, jadi ongkosnya ketebak juga. Simpul saya.
  • Tidak perlu kembali mas. Sumua itu ongkos kami. Jelas saya.
  • Terima kasih sekali Pak. Terima kasih. Kata berikutnya.
Alhamdulillah, siang ini saya dapat melihat wajah syukur dari seorang kusir yang saya temui di Giwangan, Yogyakarta.

Yogyakarta, 23 April 2011-Jakarta, 25 April 2011.

Silaturahim ke Calon Besan

Rombongan kami, yang terdiri dari Mamak, semua adik, saya sendiri beserta anak dan istri, berangkat dari Wojo, Dadirejo, Bagelen, Purworejo menuju ke kecamatan Prambanan, Yogyakarta, dimana calon besan untuk adik saya tinggal, tepat pukul 08.35. Jam keberangkatan ini relatif molor dari jadwal yang sebelumnya telah kami direncanakan dan sepakati. Dimana kami merencanakan untuk berangkat dari rumah pukul 08.00. Supaya tidak terlalu siang agar udara siang yang panas tidak kami temui di tengah perjalanan.

Kami menyewa mobil engkel. Sebutan untuk kedaraan elf diesel angkutan umum yang berplat kuning. Seru juga. Pergi bersama semua anggota keluarga di kampung dengan berkendara colt diesel ini. Selain seru juga tentunya unik. Khusus untuk anak saya yang kecil dan besar hampir belum pernah naik kendaraan gaya seperti ini dengan memuat barang-barang dari kampung yang seolah-olah dari berdagang.

Ya benar. Kami bersilaturahim ke rumah calon besan tidak hanya membawa lemper buatan Mamak saja, tetapi juga kelapa yang jumlahnya mencapai 115 buah, serta sapu lidi sebanyak 20 buah. Masih ada bawaan lain, namun dengan jumlah yang normal. Aneh kan?

Kalau saya melihatnya begitu. Aneh.
  • Mau silaturahim malah bawaannya yang lucu-lucu. Begitu komentar saya kepada adik yang mau jadi penganten Juli nanti.
  • Ini sekalian titipan calon besan kok mas. Jawab adik saya.
  • Mengapa?
  • Karena sekalian untuk dijual di Prambanan. Jelasnya. Saya maklum. karena keluarga calon besan mamak ini juga adalah pedagang.
Wojo-Prambanan, 23 April 2011-Jakarta, 25 April 2011.

Tidak Ada Lagi Kokok Ayam Hutan di Kampungku

Pagi menjelang subuh hari itu, yang bertepatan hari Sabtu, 23 April 2011, tidak saya dengar lagi kokok ayam hutan atau kami menyebutnya ayam alas, seperti menjelang subuh hari pada sepuluh tahun yang lalu. Meski saya telah menunggu sejak sebelum subuh hingga matahari benar-benar tampak. Kokok ayam hutan tetap tidak saya dengar.

Perlu saya sampaikan disini bahwa kampungku ada di kilometer 18 ruas jalan raya yang menghubungkan antara Purworejo-Yogyakarta. 8 kilometer jauhnya dari daerah Pantai Glagah Indah. 13 meter berada di atas permukaan laut, seperti yang tertera di stasiun kereta api Wojo. Masuk kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Itulah kampungku. Lima belas tahun usiaku habis di sini sebelum aku harus merantau ke Jakarta. Tempat tinggalku sekarang.

Hingga subuh berlalu, hanya suara jangkrik dan binatang sejenisnya yang nyaring bersimponi sepanjang malam hingga pagi itu. Juga ayam peliharaan Mamak dan tetangga yang saling bersahutan. Dan sekali lagi, tidak ada kokok ayam hutan. Kokok khas yang selalu saya rindukan.

Suara kokoknya yang khas, menyerupai kokok ayam kampung, namun seperti kokok ayam yang tidak atau belum fasih, dengan rentang kokoknya yang pendek-pendek namun penuh tenaga, sungguh kokok yang menggairahkan hidup, bila pagi hari kita dihiasi kokok ayam hutan.

Sepuluh tahun lalu, kokok itu selalu muncul di rumpun bambu yang ada di pojokan pekarangan rumah orangtua saya. Mereka kadang bersahutan dengan sesamanya namun dengan jarak yang tidak berdekatan.

Pernah diwaktu remaja, kami warga kampung gotong royong membersihkan semak yang ada di makam kampung, dan menjumpai sarang serta telur ayam hutan ketika kami harus membatat dan membersihkan alang-alang. Dan karena semak harus bersih, jadilah habitat mereka habis. Pada saat itulah induk yang kami pergoki itu lari tungganglanggang dan kemudian terbang dengan sangat enerjiknya. Tanpa bisa kami ikuti kegesitannya. Seperti juga kokokannya yang melengking, cepat, dan bertenaga. Ayam itu bergetak dengan amat sangat dinamisnya.

Dan sejak hari itu, sya benar-benar tidak mendengar lagi kokok ayam hutan di kampung dimana saya mengahbiskan masa kecil saya. Apa inikah pertanda bahwa alam dan penghuninya semakin kurang harmoni?

Wojo, 22 April 2011-Jakarta, 25 April 2011.

Suatu Kali di Tanjakan Ciregol, Tonjong, Bumiayu


Waktu menunjukkan pukul 04.20, menjelang subuh pada hari Jumat tanggal 22 April 2011. Posisi saya ada di dalam bus malam Sumber Alam, dalam perjalanan Jakarta-Yogyakarya, Bus harus berhenti untuk antri setelah perlintasan kereta api Tonjong. Persisnya menjelang tanjakan Ciregol, kecamatan Tonjong, kabupaten Bumiayu. Masuk wilayah provinsi Jawa Tengah.

Sebuah tanjakan yang akibat longsor beberapa waktu yang lalu, sekarang dalam proses perbaikan. Dlam perbaikan inilah maka kendaraan tidak dapat menggunakan ruas jalan tersebut secara bersama. Harus bergantian. Dan tampak sekali sukarelawan mengaturnya secara 24 jam non stop. 

Dengan tanjakan lebih kurang 30 derajat, menjadi tantangan tersendiri untuk kendaraan besar seperti bus yang saya tumpangi. Termasuk juga bus-bus lain yang terpaksa harus melalui jalur ini. Harus, karena perjalanan dengan kendaraan besar dari Jakarta menuju Jawa Tengah bagian selatan yang tujuannya Ajibarang, Wangon, Purwokerto, akan melalui jalan ini untuk menyingkat jarak. Ada pilihan jalan lain, yaitu melalui Cipularang, Ngrek, Malangbong, Tasikmalaya, yang juga belum tentu lancar. Dan jadilah tanjakan ini sebagai titik rawan kemacetan dan bahkan kecelakaan mana kala kendaraan tidak mampu naik dan mundur.

Saat penaklukan akan berlangsung, supir bus meminta kepada kernetnya untuk mempersiapkan balok atau batu yag relatif besar, yang nantinya digunakan sebagai ganjal ban jika bus berhenti di tengah-tengah tanjakan, atau karena antrian atau karena mesin tiba-tiba mati. Harap maklum karena tanjakan hasil perbaikan yang di cor semen itu masih merupakan tanjakan yang tergolong terjal bagi kendaraan besar. Meski rentang tanjakan tidak begitu panjang. Supir juga memohon kepada penumpang yang laki-laki untuk turun dari bus dan menunggu di atas tanjakan. 

Tentu berbeda dengan mobil kecil dalam menghadapi tanjakan Ciregol ini. Mereka yang ada dalam antrian itu meski pengendaranya cukup konsentrasi, namun tampaknya kendaraan mereka relatif siap untuk menaklukkan tanjakan itu. Namun laju mereka terpaksa harus berhenti karena ada di antrian belakang.

Bus yang berada dalam antrian terdepan, yang kebetulan berada di depan bus yang saya tumpangi, bersiap untuk menaklukan tanjakan itu. AC dan lampu bus telah dimatikan. Itu strategi untuk mengurangi arus listrik. Sebagai bagian dari usaha agar bus dapat naik tanjakan dengan lebih mudah. Dengan gas besarnya, ternyata bus belum dapat mulus melalui tanjakan. Mu situ mati msin ketika baru berada di tengah tanjakan. Kami yang menonton, melihatnya dengan panic. Alhasil seluruh penumpang bus itu, termasuk anak-anak pun diminta pak supirnya untuk berpartisipasi dengan mengurangi baban bus. Turun. Alhamdulillah, Bus berhasil lolos melalui tanjakan itu. 

Bergati bus antrean kedua. Yang di dalamnya antara lain termasuk istri saya. Alhamdulillah bahwa bus saya tidak perlu stug di tengah tanjakan. Dengan gas besar yang stabil. Nampak bus itu cukup perkasa.Sementara arus kendaraan dari arah yang berlawanan cukup sabar menunggu. Tentu karena tidak dibatasi waktu dalam penaklukan tanjakan itu, maka mobil-mobil yang antri tersebut harus mematikan mesinnya.

Situasi masih gelap ketika beberapa kilometer di depan kami memasiki kota Bumiayu. Karena ada bagian lain di Bumiayu ini yang longsor sehingga kami semua harus masuk pasar Bumiayu. Persisnya longsornya bibir sungai di kaki jembatan antara Pom Bensin Sakalibel dengan Terminal Bumiayu. 

Pengalaman ini menerbitkan Tanya pada diri saya; Apa lagi yang terjadi dengan infrastruktur jalan kita? Bagaimana mungkin perbaikan jalan tidak sekaligus memikirkan kemiringan tanjakan? Atau juga ketahanannya? Atau kelebarannya? Mungkin sekali bahwa itu semua karena keterbatasan dana yang ada. Tapi, hingga kapan kita hanya mampu menangani masalah yang sama hanya untuk jangka sangat pendek?

Berapa rupiah semen harus dijual kepada para konsumennya jikalau truknya harus melalui tanjakan yang terjal itu? Atau berapa tinggi harga barang lainnya?

Inilah sekedar catatan perjalanan saya, yang masih berada di Pulau Jawa…

Purwokerto, 22 April 2011- Jakarta, 25 April 2011.

19 April 2011

Ada Kicau Burung di Depan Mushola


Alhamdulillah, saya masih bisa mendengar kicau burung lumayan meriah persis di depan mushola sekolah saya. Yang posisinya berada berseberangan dengan Taman Kota perumahan Pulomas, Jakarta Timur. Sebuah taman kota yang diapit oleh jalan satu lajur dan juga satu arah dan kali yang juga sebagai batas wilayah sekolah.

Sebuah taman, yang menurut rencana tata kota, akan menjadi sebuah jalan raya dua lajur, sehingga akan lenyap juga, tapi entah kapan rencana pembuatan jalan dua lajur tersebut akan menjadi nyata. Saya berharap sangat, agar pemerintah kota lupa akan rencana pembuatan jalan tersebut sehingga siswa saya tetap dapat selalu mendengar kicau burung yang menjadi penghuninya.

Sungguh bunyi yang meriangkan hari saya pagi itu. Saya segera mengenakan kaos kaki. sebelum akhirnya meninggalkan beranda mushola. Sebuah pagi yang memberikan harapan besar pada harmoni kehidupan yang banyak telah tercabik oleh kebiasaan buruk sebagian kita. Yaitu kebiasaan untuk menangkapi dan menjual belikan dalam sangkar. Sebagaimana beberapa bulan yang lalu yang harus saya minta untuk tidak dilanjutkan akan kebiasaan sahabat saya, saat hari menjelang malam, untuk mempertunjukkan kepada teman-temannya betapa mahirnya dia menggunakan senapan angin dengan menjatuhkan seekor burung yang terbang di langit kemudian menjadi terkapar di halaman sekolah sebelum akhirnya dibakar untuk disantap. Merekalah sekelompok burung tekukur atau kutilang. Yang kicauannya mengingatkan saya selalu kepada kampung halaman.

Kenyataan saya mendengar kembali kicau burung di pagi itu, mengusik batin saya setelah berita yang memperlihatkan liatnya pertumbuhan ulat bulu di Jakarta. Ini adalah perkembangan setelah kasus pertama di beritakan di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Dan keyataan kicauan burung yang lumayan meriah pada pagi itu di depan mushola sekolah, tak pelak lagi menumbuhkan harapan saya atas harmoni kehidupan alam.

Di halaman belakang sekolah, dimana terdapat menara mushola yang tidak berpengeras suara lagi, karena kabarnya pernah membuat berisik para penghuni sebelah, pohon mangga usia lima tahunan, pada daunnya juga bergerombol koloni semut rang-rang membangun rumah sebagai bagian dari proses beranakpinaknya. Ini juga harapan lainnya bagi saya akan ketidak hadirannya pertumbuhan ulat bulu yang tidak terkendali.

Namun, mungkin justru seperti itulah skenario yang harus dibangun oleh alam dalam rangka membangunkan daya sensitivitas manusia kepada keharmonisan hidup yang ada di lingkungannya. Dan semoga pula, kenyataan itu benar-benar malahirkan kesadaran dan visi baru terhadap lingkungan.

Karena hanya dengan lahirnya kesadaran seperti itu saja maka kita dapat melanjutkan perjalanan hidup ke depan dengan tenteram dan mudah-mudahan juga dengan sejahtera. Semoga.

Jakarta, 19 April 2011.

17 April 2011

UN, Jimat dan Nasehat Minke

Senin, 18 April 2011, adalah hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA/SMK dan sederajat di tahun pelajaran 2010/2011. Ujian Nasional ini akan berlangsung selama empat hari, hingga Kamis, 21 April 2011. Terdapat enam mata pelajaran yang akan diujikan dalam UN tahun 2011 ini.

Sebagai persiapan untuk memperoleh hasil UN yang maksinal, yaitu lulus 100% dengan nilai yang optimal, maka sekolah lazim melakukan persiapan dalam bentuk beberapa program. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena bagaimanapun bentuk dan kebijakan UN selalu dilakukan perbaikan, hasil nilai UN adalah tolak ukur paling gampang dalam membuat peringkat sekolah. Dan persiapan untuk mendapatkan hasil UN yang baik, tidak hanya menjadi cita-cita setriap peserta UN itu sendiri, tetapi juga lembaga sekolah dan bahkan daerah masing-masing. Bahkan, dalam era pencitraan seperti yang menjadi bagian penting pada zaman reformasi ini, maka hasil UN daerah juga menjadi bagian dari citra pimpinan daerahnya. Itulah mengapa program untuk sukses UN menjadi program unggulan di beberapa sekolah.

Program sukses UN itu antara lain adalah; pendalaman materi (PM) UN. Yaitu kegiatan pembelajaran khusus kelas akhir pada setiap tingkat sekolah; SD, SMP, SMA dan sederajatnya, melakukan penguatan pemahaman terhadap materi pelajaran yang akan diujikan dalam UN. Materi yang akan diujikan ini didapat sekolah dari
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) atau yang sering juga disebut sebagai kisi-kisi.

Oleh karenanya, guru di sekolah akan paham benar materi mana saja yang benar -benar harus dikuasai siswa. Dan selain PM diisi dengan kegiatan latihan menyelesaikan soal-soal yang bersinergi dengan SKL, PM juga akan membekali siswa untuk memiliki strategi belajar mendasar dan juga praktis. Latihan menyelesaikan soal-soal yang bersinergi dengan SKL adalah keterampilan siswa dalam hal yang praktis. Sedang yang saya maksudkan dengan strategi belajar mendasar misalnya, kepada siswa diberikan keterampilan untuk bagaimana memahani materi. Dalam Hal ini siswa bisa belajar membuat mind map terhadap seluruh SKL. Model ringkasan materi dalam bentuk mind map ini akan membantu siswa belajar dengan cara yang cerdas.

Selain program pendalaman materi UN, sekolah juga membuat program motivasi untuk siswa. Ini agar siswa memiliki visi yang jelas dalam mencapai sesuatu bagi sukses masa depannya. Oleh karenanya, sukses UN hanyalah sukses antara.

Dalam hal motivasi ini, siswa juga belajar tentang bagaimana implikasi dari berperangsangka dan berpikir positif terhadap apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Karena dalam setiap kejadian Tuhan selalu mengirimkan hikmah untuk kita. Juga bagaimana membuat apa yang diinginkan menjadi sebuah gambaran yang konkrit.

Dan selain program tersebut, maka ketika menjelang UN berlangsung beberapa hari, sekolah menyelenggarakan doa bersama. Kegiatan yang bermaksud untuk meneguhkan bahwa semua bentuk ikhtiar yang kita lakukan semua atas campur tangan Tuhan seru sekalian alam.

Jimat dan Sukses dalam Jejak Langkah

Lalu bagaimana dengan jimat? Apakah jika saya mengantongi suatu benda yang telah 'didoakan' juga menjadi bagian dari program yang telah saya sebutkan diatas? Tampaknya tidak. Namun SUN TV, dalam Indonesia Petang pukul 16.25, pada Minggu, 17 April 2011, mengabarkan bahwa ada beberapa siswa di Demak yang mengambil tanah dari sekolahnya untuk diberi doa-doa juga sebagai bagian dari sarana untuk sukses UN.

Lalu bagaimana pencapaian sukses yang ada dalam Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer (Lentera Dipantara.2009)? Karena peristiwa anak sekolah yang harus membawa tanah sebagai bagian dari menempuh sukses sebagaimana yang terberitakan di tv itu, dalam novel ini dikatakan; Bahwa sukses bukan hadiah cuma-cuma dari dewa, dia hanya akibat dari kerja keras dan belajar. (Halaman 576).

Dan untuk mempertegas bagaimana sikap kontradiksi yang masih sering kita jalani dalam menuju sukses, adalah sebagaimana apa yang dikemukakan Minke, tokoh dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer itu. Dalam sebuah dialog dengan salah seorang tokoh SDI, Minke berkata: "Lihat sudara, kalau benar orang-orang kebal itu begitu luarbiasanya, tidak bakal kita ini kalah terus menerus menghadapi balatentara Kompeni. Bukan aku tidak percaya adanya kekebalan, orang-orang yang lebih dari manusia biasa itu, Aku percaya. Tetapi di dalam jaman modern ini kedudukannya tidak lebih daripada seorang tukang sulap...." (Halaman 578).

Jakarta, 17 April 2011

Anggrek Ulang Tahun

Inilah bunga anggrek putih hadiah ulang tahun yang saya terima dari ketua Yayasan dimana saya mengabdikan diri mewakili biliau sebagai pengelola sekolah. Ulang tahun administtasi.

Karena saya juga punya ulang tahun yang berbeda dengan apa yang tercatat dalam dokumen administrasi. Yang jatuh tidak pada bulan April, tetapi bulan Agustus, sesuai nama yang saya sandang bukan? Inilah sesungguhnya waktu ulang tahun asli saya.


Namun begitu, menerima bunga anggrek yang cantik dan anggun ini, saya mensyukurinya. Saya menjadikan momentum ini sebagai bentuk pengiriman perhatian, penghargaan, dan penghormatan. Bahkan, khusus bagi saya, pengiriman bunga anggrek pada bulan April di setiap tahunnya oleh ketua Yayasan saya itu, adalah satu pengingatan kepada bertambahnya usia saya. Oleh karenanya tidak sekedar hanya sebagai penghargaan dan perhatian dari atasan untuk bawahan.

Dan penghargaan serta perhatian seperti pengiriman bunga anggrek yang luar biasa spektakuler bagi saya ini. Dan hari ini, Ahad tanggal 17 April 2011, yang merupakan hari ketujuh bunga anggrek ini berada di rumah. Untuk itulah, sudah saatnya saya meletakkannya di teras depan rumah untuk sekedar mendapat cahaya matahari pagi dan sejuknya semilir angin setelah saya berikan air secukupnya. Tak pelak lagi, ada saja komentar kagum untuknya dari salah seorang yang kebetulan mengobrol dengan saya saat saya mengambil gambarnya.

Meski sudah hari ketujuh, bunga anggrek saya masih menyisakan sebelas kuncup bunga yang belum mekar. Itu artinya, saya masih akan memiliki lebih kurang 30 hari kedepan menikmati indahnya karya yang Maha Sempurna dalam bentuk tiga tangkai bunga anggrek putih tersebut. Maha Suci Allah berfirman; Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Al Qur'an, Surat Arrahman).

Jakarta, 17 April 2011

Memotong Batang Pohon

Pagi itu, Sabtu tanggal 16 April 2011, saya berolah raga pagi dengan kegiatan memotong batang pohon jambu yang sehari sebelumnya baru saja di tebang oleh Mas Taryo, tukang sayur yang menjadi langganan keluarga kami. Ini menjadi kegiatan awal saya hari itu. Batang pohon yang masih basah itu saya potong menjadi lebih kcil-kecil atau lebih pendek lagi dari ukuran sebelunya, dengan maksud untuk mempermudah saat kami mengangkut ketika truk sampah datang esok atau lusa hari.Juga, untuk mempercepat proses batang tersebut menjadi kering, dan yang terpenting adalah untuk kegiatan saya berolahraga. Yaitu melatih otot lengan tangan saya. Sebagai bagian untuk olah raga sesungguhnya.

Dalam foto ini saya ingin menunjukkan pada Anda, pembaca semua, tentang kebenaran dari kata-kata saya itu. Bahwa kesungguhnya, untuk memiliki badan sehat selayaknya petani yang bekerja keras di tanah yang digarapnya atau yang dimilikinya, menjadi cita-cita saya. Badan yang tidak saja sehat, tetapi juga liat hingga akhir hayat.
Karena batang pohon yang harus saya jadikan potongan lebih kecil dan pendek itu tergolong cukup besar menurut ukuran saya yang tinggal di Jakarta, maka pethel adalah alat potong yang saya pilih untuk dipergunakan. Sekedar tahu saja ya, bahwa pethel itu saya beli Desember 2010 lalu di Pasar Sentolo, Yogyakarta, saat saya pulang kampung.

Dan saya memilih ukuran pethel yang sesuai dengan ukuran badan saya. Tidak yang terkecil tapi juga bukan yang terbesar. Tapi saya minta mata pethelnya yang 'tua'.
Sesungguhnya pethel saya ini saya beli tidak hanya untuk memotong pohon yang ada di halaman rumah saja, tetapi juga untuk keperluan memotong atau mencacah tulang saat Idul Kurban.

Apakah ada yang bertanya; Mangapa Pak Agus mengerjakan ini semua sendiri dan tidak minta tolong orang lain?
Benar. Untuk melakukan Itu saya melakukannya sendiri. Bukankah sebelumnya saya sudah meminta Mas Taryo untuk memotong dahan-dahan ketika pohon masih tegak berdiri? Maka memperkecil ukuran batang pohon itu, sekarang menjadi bagian saya sendiri. Karena saya senang melakukannya, meski harus dibayar dengan bahu pegal pada keesokan harinya. Tapi saya bahagia.
Jakarta, 16-17 April 2011.

16 April 2011

Sesudah Jam Pulang Sekolah, Ngobrol dengan Penjemput

Ngobrol dengan penjemput yang menjemput siswa saya di sekolah, juga kadang menjadi kegiatan yang harus saya lakukan sesudah jam sekolah usai. Sebagaimana yang saya lakukan pada siang itu, saya mengobrol dengan seorang kakek di depan pintu sekolah. Kakek yang juga adalah pensiunan di sebuah departemen pemerintah. Bukan sekali itu saja saya berdiskuai dengan kakek ini. Hampir selalu ketika saya berjumpa. Minimal saling tegur sapa jika saya sedang punya waktu sempit.

Sebenarnya, tidak hanya dengan kakek itu saja saya bertegur sapa. Tetapi ada beberapa kakek dan nenek, selain nenny dan pastinya driver, yang dipercaya para wali siswa untuk mengantar dan atau menjemput. Beberapa diantaranya, saya hafal dan bahkan terhadap latar belakangnya. Dan dengan itu, kadang yang membuat saya menjadi merasa tidak sungkan untuk saling tegur sapa.

Pernah suatu kali kakek ini memberikan masukan kepada saya berkenaan dengan program sekolah. Ini karena selain cucunya yang ia antar dan jemput di sekolah tempat saya mengabdi, juga ada lagi cucu yang lain yang bersekolah di sekolah yang bagus juga di wilayah Bogor. Hingga suatu kali Ia dengan ketulusannya, memberikan foto kopi lembar tugas cucunya yang bersekolah di sekolah lain itu. Sebuah perhatian yang luar biasa besar kepada kami semua.

Dan dokumen yang merupakan bagaimana pembelajaran karakter yang terdapat dalam kumpulan lembar kerja siswa itu, kami jadikan sebagai bahan diskusi dan bahan masukan serta pengembangan dengan para guru untuk kemudian diaplikasikan dalam format sekolah kami. Kami sangat mensyukuri bahan-bahan yang menurut kami sangat berharga tersebut. Ini adalah bentuk pengembangan diri kami pada saat mengembangkan kepintaran kami dalam pembelajaran karakter di sekolah kami secara operasional. Dan tidak lagi pada tataran konseptual.

Suatu saat lagi, kami ngobrol tentang kampung halaman kami masing-masing. Kapan terakhir pulang ke kampung halaman. Lalu Ia bercerita tentang perjalanannya mengendarai kendaraan mungilnya berdua dengan istrinya saja menempuh jarak Jakarta-Solo pergi pulang. Sebuah pengalaman luar biasa untuk kakek seusia beliau. Saya berdoa semoga saya dikaruniai usia pajang dan sehat seperti beliau. Meski diantara ceritanya itu, masih saja ada keluhan jalanan yang rusak dan membuat perjalanan kurang mulus.

Bagaimana Ia dan istri 'napak tilas' menyusuri makanan kegemarannya saat masih muda yang ada di seluruh penjuru Solo. Termasuk menyusuri pasar-pasar hanya untuk 'bersilaturahim' dengan masa lalunya itu.

Beliau juga bercerita tentang bagaimana rumah pribadinya yang ada di Solo masih terpelihara dengan rapi dan bersih. Pohon sawonya yang ada di depan rumah menjadikan hiasan halaman yang rindang dan selalu memancarkan bau yang khas. Juga puhon kepelnya. Yang semuanya menjadi amanah bagi keponakannya yang tinggal di kampung.

Cerita yang membahagiakan dan 'meracuni' bawah sadar otak saya yang memang orang kampung. Semua menjadi terngiang dan bertuibi-tubi terangkat ke permukaan bayangan yang semakin dekat. Semoga. Pikir saya dalam hati. Amin.

Sebuah pertemuan yang selalu saja membawa pesan dalam hati dan pikiran saya untuk terus menerus 'menggali' semua sisi yang ada di sekolah. Lingkungan sehari-hari yang menjadi lebih kurang separuh bagian dari waktu yang Allah anugerahkan dalam hidup saya. Sebuah fragmen yang memang tidak berkait dengan tugas saya sebagai guru atau adminitratur sekolah, atau bahkan sebagai manajemen sekalipun.

Semoga ini pun menjadi bagian penting bagi diri saya sendiri... Amin.

Jakarta, 16 April 2011.

15 April 2011

Pohon Jambu di Samping Rumah


Inilah pohon jambu yang saya tanam lebih kurang sepuluh tahun yang lalu. Hasil cangkokan dari pohon jambu yang ada di rumah kakak saya yang tinggal di perumahan di Batu Ceper, Tangerang.

Pada awalnya, sejak usia empat tahunan, hingga sekarang ini, pohon jambu ini, seperti tidak mengenal musim. Apakah musim panas atau musim hujan, selalu berbuah lebat. Pernah buahnya saya bawa ke kantor atau ke pangajian.

Dan setelah usianya semakin tua, dan pohonnya semakin menjulang, saya tidak lagi memberikan ijin kepada anak-anak untuk memanjat pohon guna memetik buahnya. Saya lebih memilih meminta salah seorang untuk memetik semua buah yang ada, sehingga dapat kami bagikan ujntuk semua tetangga atau untuk orang yang lewat.

Namun belakangan ini, mungkin juga karena pengaruh global warming, buah jambu yang ada selalu lebih dahulu dimakan ulat buah. Sehingga meski tampangnya merah merona, pasti buah dalamnya telah keropos.

Lalu apa yang memberati saya untuk kemudian tetap memelihara pohon jambu itu tegak menghijau dengan daunnya yang lebat? Tidak ada maksud lain selain agar udara yang masuk lewat jendela kamar adalah udara sejuk, setara dengan temperatur AC 20 derajat! Itu saja. Oleh karenanya tidak pernah saya memangkas tuntas daun yang ada dan selalu menjadi penyejuk.


Wabah Ulat Bulu

Pada Rabu, 13 April 2011, seluruh saluran tv menyiarkan bahwa wabah ulat bulu sudah sampai daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Itu artinya, lebih kurang 5 kilo meter lagi dari pohon jambu yang ada di samping rumah. Maka ketika Kamis, 14 April saya sendiri berhalangan tidak masuk kantor karena badan terserang penyakit meriang, saya memutuskan untuk mencoba bersih-bersih halaman. Karena badan sedikit panas dan kepala juga sedikit pusing, saya membersihkan halaman itu dengan hati-hati dan tidak terlalu serius. Maka untuk urusan pohon jambu di samping rumah, saya pasrahkan kepada Mas Taryo untuk memangkas habis dan menyisakan batang pokoknya.

Agar supaya daunnya bersih, dan pada dua atau empat bulan ke depan, hijau daun jambu kembali tumbuh segar. Itulah kisah pohon jambu yang ada di samping rumah. Yang menjadi pikiran saya berikutnya adalah; bagamana nasib pohon kita bila toh ulat bulu jauh lebih merajalela sehingga membawa kekawatiran? Haruskah saya ikutan tetangga dengan menebangnya dan membangun rumah kontrakan?

Jakarta, 15 April 2011.

13 April 2011

Tidak Ada Jalan Kaki Lima


Siang ini, Rabu, 13 April 2011, saya berkesempatan untuk makan di warung nasi yang berdampingan posisinya dengan SMA 21 Jakarta Timur. Kesempatan berharga. Karena selama ini saya tidak keluar untuk mencari makan sendiri. Biasanya kami memesan makanan kepada pramubakti di sekolah untuk dibelikan. Dan kami tinggal makan bersama-sama teman kantor lainnya. Namun entah mengapa, pagi itu saya meresa lapar tidak ketulungan, sehingga harus hunting sendiri makanan.

Warung makan ini biasa disebut sebagai warung nasi twenty one. Mungkin karena posisinya yang dekat sekolah 21 sehingga nomor sekolah itu melekat erat juga dengan nama warung itu. Pukul 11.00 siang saya telah berada di warung itu, yang kedaannya masih relatif sepi. Sepi menurut ukuran warung itu bila setiap orang yang makan masih mendapat tempat duduk. Karena pada 'jam sibuk', kita perlu antri sebelum mendapatkan tempat duduk untuk makan. Padahal warung itu sekedar warung makan atau sering disebut juga Warteg.

Nasib Pejalan Kaki

Saat kembali ke tempat kerja, setelah selesai menunaikan makan, saya terkaget begitu keluar dari warung makan itu. Karena trotoar yang ada habis disita oleh pot kembang raksasa di sepanjang trortor yang ada. Luar biasa tidak tolerannya pejabat yang memutuskan meletakkan pot kembang itu. Pikir saya. Betapa tidak? Saya yang pejalan kaki benar-benar telah ditiadakan eksistensinya. Meski cukup bagi saya untuk dapat sekedar lewat saja? Dari pengalaman ini, saya berkeinginan suatu kali nanti akan mengajak kawan,. sahabat, atau saudara saya yang menjadi pejabat untuk suatu kali makan di warung makan itu, dan kemudian saya akan tunjukkan padanya tentang bagaimana menang Adipura dengan terciptanya kultur hidup bersih dan indah. Tidak sekedar apa yang saya alami seusai makan di warung makan dua satu itu.

Pot besar yang memenuhi jalan khusus pejalan kaki itu, yang tampaknya, desainnya tidak sebanding dengan kualitas cetakan pembuatannya itu, telah menghabiskan 85 % area untuk pejalan kaki. Saya akhirnya berdamai dengan kondisi dan situasi itu, serta memilih berjalan di jalan raya.

Jakarta, 13 April 2011.