Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Desember 2016

Kinerja #15; Beda Ekspektasi

Berkenaan dengan kemampuan berbaha asing, utamanya Bahasa Inggris, kami mencoba untuk membuat ekspektasi kompetensi yang berbeda antara guru yang mengampu Mata Pelajaran Bahasa Inggris dengan guru kelas, misalnya.  Atau dengan guru yang mengajar Matematika dan Sains, atau juga dengan guru yang mengampu Mata pelajaran Agama. Hal ini karena memang dalam kenyataannya berbeda apa yang seharusnya mereka berikan dalam pembelajaran di kelasnya. Ekspektasi tersebut kami sepakati menggunakan standar angka setara TOEFL. 

Demikian pula pada tahap awal kami menjalankannya. Maka kami secara bersamaan bekerjasama dengan lembaga bahasa untuk melakukan asesmen. Dari hasil asesmen tersebut kami akan menyampaikan ekspektasi yang seharusnya guru tersebut miliki dalam berbahasa, serta tahapan untuk tahun berikutnya, yaitu pada menjelang akhir penilaian kinerja.

Tanpa tahun kinerja berikutnya, kami akan melakukan asesmen ulang setelah selama satu tahun tersebut kami memberikan kesempatan kepada para guru melakukan perbaikan kemampuan dengan melalui kegiatan belajar bersama.

Demikian pula dengan ekspektasi menghafal surah Al Quran, yang juga menjadi bagian penting bagi tenaga pendidik kami. Maka tidak semua guru akan kami berikan target yang sama tetapi juga melihat kepada latar belakang dan  Mata Pelajaran yang diampunya.

Juga dalam mengusahalan agar semua teman dapat terus menerus menambah dan memperbaiki hafalannya. Yang setiap durasi penilaian kinerja akan menjadi bagian yang harus disertakan bukti hafalannya.

Dan apakah dengan target-tearget semacam ini kami mulus menjalaninya dari waktu ke waktu? Tidak selalu. Karena di tengah perjalanan selalu saja ada masukan atau bahkan kritikan. Yang tentunya dapat membuat kami semakin hari semakin menjadi lebih berbeda atau juga menjadi lebih sempurna.

Jakarta, 31 Desember 2016

Kinerja #14; Berharap untuk Kemajuan Lembaga

Apa yang kami lakukan berkenaan dengan kinerja guru dan karyawan dengan menggunakan yang memang benar-benar mampu sebagai pembeda antara satu orang dengan yang lainnya di lembaga, tidak lain adalah untuk memastikan bahwa perjalanan yang kami tempuh benar menuju kepada harapan kami, kemajuan lembaga.

Untuk itu, kami selalu mendiskusikan hasil penilaian yang kami dapatkan dari unit-unit lembaga yang ada. Baik berkenaan dengan hasil kinerja orang per orang, termasuk didalamnya membuat refleksi sejauh mana format kinerja telah mampu menjadi penyaring dan pembeda atau kompetensi guru dan karyawan yang ada.

Dan hal seperti ini memunginkan bagi kami untuk melihat kembali kekuatan parameter yang kami gunakan. Apakah masih dibutuhkan penyempurnaan pada alat ukurnya, atau sekedar mempertajam parameter yang telah ada sebelum. Dan kalau itu yang harus kami lakukan, maka pada sisi manakah pertajaman tersebut kami lakukan.

Karena, kami menyepakati bahwa, kalau alat ukur yang kami pakai tersebut valid dan reliabel, maka mimpi kami bahwa guru dan karyawan yang tersaring adalah mereka yang memiliki daya saung diri unggul. Yang pada dampaknya adalah bagi keberlangsungan lembaga dimana kami semua berada.

Meski harus juga kami legowo untuk mendengar dan menerima masukan. Baik masukan yang benar-benar memberikan kontribusi bagi  pertajaman alat ukur dan pengembangan penilaian kinerja secara keseluruhan. Pun juga kritikan atau bahkan kecurigaan atau sekedar mempertanyakan integritas para penilainya.

Dan untuk memastikan atau setidaknya untuk mengurangi subyektuivitas dalam memberikan penilian, maka penilaian tersebut dilakukan oleh tidak hanya atasan langsung dari guru dan karyawannya. Tetapi juga kepada masing-masing individu dan juga teman kolega.

Jakarta, 31.12.2016.

28 Desember 2016

Kinerja #13; Mempertajam Indikator

Refleksi dari apa yang kami lakukan pada tahun 2015 berkenaan dengan kinerja Guru dan Karyawan, yang durasinya di lembaga kami Januari-Desember, bersama teman-teman kami mencoba untuk mempertajam indikator dari kinerja. Ini tujuannya adalah untuk membedakan antara satu dengan yang lain dalam beberapa aspek yang kami telah tentukan. Dan perhatiannya adalah pada aspek yang berkait dengan etos kerja.



Pertajaman ini setelah kami semua menengok apa yag pernah kami lakukan di tahun sebelumnya yang terlihat telah baik namun pada perjalanan berikutnya dirasa kurang menjadi pembeda. Harapannya adalah untuk menjadi acuan bagi kami dalam memperingkat satu guru dengan yang lainnya dengan peringkat yang mudah dilakukan oleh asesor dan juga menjadikan hasilnya sebagai acuan yang lebih akurat.

Kami masih belum mengetahui akan seperti apa lagi perkembangan dari apa yang kami lakukan di akhir tahun 2016 ini terhadap sistem kinerja kami. Utamanya apakah alat ukur yang kami telah susun dengan perbaikan tersebut telah mencapai pada tahapan kehandalan dan juga ketepatan atau belum, namun setidaknya kami merasakan ada yang lebih baik dalam melakukan penilaian dan hasilnya antara tahun ini di banding tahun lalu. Semoga.

Meski begitu, kami juga telah mendapatkan masukan dari beberapa teman guru bahwa Manajemen sekolah lebih fokus kepada ketidakterlambatan kehadiran dalam bekerja dan bukan kepada hasil kerjanya. Masukan yang bagus memang. Kami terima kasukannya walau tidak sepenuhnya menjadi pijakan kami selanjutnya. Namun karena masukan itu datangnya justru dari mereka yang memang selalu datang terlambat masuk kerja, maka kami menganggap hal itu tidak sekedar masukan positif buat sekolah, tetapi lebih kepada pembelaan diri dan argumentasi untuk kepentingan diri sendiri. 

Jakarta, 28 Desember 2016.

27 Desember 2016

Kehilangan Momen Bertemu

Saya harus kehilangan momen untuk bertemu dengan teman lama yang pada akhir tahun 2016 ini mempunyai agenda berbeda tetapi memiliki esensi yang sama. Yaitu reuni. Tapi apa mau dikata, bahwa pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh teman-teman di kota dimana kami bersekolah bersama, tanpa kehadiran saya. Dan ini menjadi hal yang mengecewakan dengan saya, namun pasti tidak memiliki berarti dengan teman-teman saya yang memang menyempatkan diri untuk bertemu.

Seperti hari ini, 27.12.2016, sebagian teman saya akan berkumpul di lokasi dimana mereka dulu pernah bersama ketika muda. Mereka berkumpul. pasti, dengan penuh kegembiraan, dibalut dengan kenangan masa lalu, ketika kota kami begitu rindang dan asri.

Dan esok, tanggal 28.12.2016, akan ada pertemuan lagi, dengan momentum pernikahan anak sulung seorang teman, salah satu dari kami. Meski acara pernikahan anak, sebagaimana dengan yang pernah berlangsung sebelumnya, tidak ayal akan menjadi momentum bertemu dan berfoto. Demikian pula dengan hari besoknya lagi, 29.12.2016, akan ada momentum yang sama. Pernikahan anak sulung dari salah satu angkatan sekolah kami.

Dan pada ujungnya adalah tanggal 31.12.2016, yang menjadi puncak dari peertemuan resmi berikutnya. Meski bukan reuni untuk semua angkatan yang ada di sekolah kami, biasanya angkatan lain yang hadir juga akan menambah semarak acara tersebut.

Dan saya, cukup memberikan komentar setelah salah satu teman kami mengirim foto kebersamaan mereka di media grup yang kami punya...

Jakarta, 27 Desember 2016. 

21 Desember 2016

Dialog tentang Pilihan

"Siapa kandidat yang akan kamu pilih? Mengapa kamu memilihnya?" tanya saya kepada serombongan para pemilih di papan display visi dan misi dari tiga kandidat, yang ditempel di lorong dengan lokasi pemilihan pada suatu hari. Masing-masing kandidat, dalam poster mereka, tercatum visi dan misinya serta foto pribadinya. Saya sendiri memang baru melihat poster itu terpasang pada saat kami bertemu. Dan karena baru melihatnya, maka terdorong rasa ingin tahu, saya mencoba mencermati dan membaca apa yang tertera dari masing-masing kandidat.

Ada tiga anak perempuan yang berhenti lalu mencoba menjawab apa yang telah saya lontarkan kepadanya. Saya tetap menunggu karena memang rasa ingin tahu saya terhadap kesan dan pendapat anak-anak terhadap kualitas dari 3 orang kandidat yang dijagogakan dalam pemilihan menjadi ketua Student Council, di SD yang adalah setara dengan OSIS di sekolah pada umumnya.

"Saya tertarik untuk kandidat yang ini Pak. Menurut saya dia visi dan misinya bagus. Dia religius sekali. bagus pak untuk sekolah kita." Jawab seorang anak yang masih duduk di kelas empat. Dia mengemukakan itu dengan spontan.

Mendengar jawabannya yang mantap, maka saya segera membaca semua yang ditulis oleh dan tentang ketiga kandidat tersebut. Saya coba membandingkannya. Dan saya menemukan apa yang menjadi argumen buat anak-anak ketika mereka akan memilihnya di pemilu dalam pemilihan ketua Student Council tahun 2017 yang jatuh pada Senin, 19 Desember 2016.

Pada hari yang berbeda, saya mencoba untuk mengulik informasi, atau pendapat, atau argumentasi, dari rombongan anak yang lain, yang kebetulan bertemu di lorong sekolah yang sama. 

"Siapa kandidat yang akan kamu pilih? Mengapa?" Lalu kembali saya mendapat jawaban bagus dari rombongan anak tersebut. Katanya; "Saya akan memilih, mungkin yang ini atau mungkin yang itu Pak. Tapi tidak akan memilih yang ini." Jawabnya dengan lancar sembari menunjuk-nunjuk poster dengan jari telunjuknya. 

"Karena kalau yang ini terlalu keras Pak. Saya yakin bahwa tidak semua orang, terutama anak perempuan yang tidak sependapat dengan dia. Walau saya menghargai kalau visi dan misinya memang bagus untuk sekolah seperti sekolah kita. Tetapi tidak semua anak akan bisa melakukannya."

Saya terdiam dan mencoba mengkaitkan apa yang menjadi visi dan misi dari ketiga kandidat tersebut dengan apa yang diungkapkan oleh anak tersebut. Dalam hati daya merasa bangga dengan apa yang diungkapkan anak-anak tersebut. Mereka pandai mengemukakan pendapatnya. Hebat!

Jakarta, 21.12.2016

Latihan Pensiun

Mungkin seperti pegawai yang akan menjelang pensiun dari status kepegawaiannya karena memang usia telah mendekati di ujung pensiun, seperti itulah yang saya rasakan. Walau saya pastikan ini bukan untuk sesuatu yang persis sama. Karena saya sendiri memang bukan seorang PNS. Saya hanya sebagai pegawai swasta. Yang kebetulan di sisa waktu kosongnya, sore hingga malam hari, atau juga waktu cuti saya, diberikan kesempatan untuk ikut terlibat di lembaga lain sebagai bagian dari mereka namun diluar status kepegawaiannya.

Dan keterlibatan itu berdurasi lima tahunan, yang kebetulan telah berakhir pada periode saya di kuartal ketika tahun ini, 2016. Artinya jika dalam durasi tersebut telah berakhir dan kemudian kesempatan untuk ikut serta dalam lembaga tersebut diakhiri, maka saya sesungguhnya masuk juga ke dalam masa pensiun? Lebih lanjut, jika itu saya alami, bukankah saya juga masih menjadi pegawai tetap di lembaga dimana saya memang tercatat sebagai pegawai, yang kebetulan durasinya adalah berdasarkan usia, maka saya belum masuk masuk masa pensiun.

Maka inilah yang saya maknai sebagai latihan pensiun. Utamanya bagi diri saya sendiri. Jadi ketika ada keterlibatan dari lembaga lain yang memperbantukan saya sebagai bagiannya diakhiri, maka pada waktu itulah saya sesungguhnya sedang menjalani masa latihan untuk pensiun.

Karena saya merasa tiba-tiba memiliki waktu yang lumayan banyak untuk langsung pulang ke rumah ketika jam kerja telah usai di pukul 15.30. Dan dari kantor itulah saya tidak perlu lagi menuju ke lembaga yang memperbantukan saya tersebut, tetapi langsung ke rumah. Dan menjadi terasa mewah saat pukul 17.00 saya telah menjalani kehidupan sebagai diri pribadi, berganti kaos, dan berjalan santai di seputar kompleks. Alhamdulillah.

Inilah yang saya maksudkan sebagai latihan pensiun saya.

Jakarta, 12.21.2016.

09 Desember 2016

Berhenti Menulis

Masuk pekan ke-4 saya kembali dijangkiti penyakit malas dan kemudian berhenti menulis sepanjang waktu itu. Penyakit yang membuat saya buntu ide untuk menuliskan apa yang memang biasa saya membuat catatan. Utamanya di halaman ini. Ada banyak sekali kemalasan yang menyergap masuk dalam sendi-sendi jemari ketika akun sudah berhasil saya buka. Dan itu nyaris berulang kali. Baru pagi ini saya mencoba kembali membuka halaman buku catatan saya untuk mencoba mencatatkan apa yang sesungguhnya sedang saya alami. 

Saya berpikir apakah karena memang ketiadaan ide yang menyangkut di dalam benak saya? Atau mungkin tidak ada peristiwa yang bersentuhan dengan saya sehingga benak saya sama sekali tidak bergerak untuk kemudian mencatatnya disini?

Ternyata tidak. Karena dalam pekan-pekan ini betapa peristiwa terus mengalir dan bergulir amat lebat diseantero saya. Dan semuanya tidak berhasil saya ubah menjadi catatan ringan. Sebagai penanda kehadiran saya pada waktu dan peristiwa sedang berlangsung. Dan semua berlalu.

Jakarta, 9 Desember 2016.