Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Januari 2011

Penjual Jeruk di AKAP, Gamping-Wojo

Naik Bus AKAP rute dari Yogyakarta yang menuju ke Purwokerto, yang biasanya saya hanya ikut untuk penggalan Gamping menuju Wojo atau sebaliknya, hampir saya lakukan manakala saya berkunjung ke kampung halaman naik umum. Biasanya saya naik bus AKAP dengan rute tersebut saat akan atau pulang darí kota Yogyakarta. Sebagaimana yang saya lakukan Pada saat selepas magrib di hari Sabtu tanggal 1 Januari 2011 itu.

Namun bukan tentang bus umum itu yang hendak saya sampaikan disini. Tetapi lebih dari kebiasaan yang, menurut saya unik dan baik untuk saya sampaikan di sini, yaitu tentang penjual buah. Yang secara kebetulan dari beberapa kali saya menumpangi bus jurusan ini selalu penjual itu yang berjualan di dalam bus. Apa yang dijualnya? Buah. Ya hanya buah. Bahkan lebih khusus lagi, buah jeruk. Suatu kali penjual buah itu menjual jeruk Pontianak, lalu pada kesempatan yang lain menjual jeruk Mandarin, lalu jeruk lainnya. Yang jelas, seingat saya semuanya adalah buah jeruk.

Penjual itu akan naik bus yang kami tumpangi persis ketika bus ngetem di Gamping, daerah Ambar Ketawang, Yogyakarta. Ia baru akan masuk bus pada saat bus benar-benar akan berangkat. Ketika bus masih ngetem, ia tidak bakalan naik ke dalam bus. Buah jeruk yang dibawanya hampir penuh satu katong zak semen. Dan plastik kresek warna kuning akan di kemas dan disimpannya di kantong celananya. Di lehernya, selalu tergantung handuk kecil. Hampir selalu seperti itu gayanya berjualan, makanya saya dapat mendeskripsikan di sini.

Yang khas dari penjual jeruk di dalam bus itu selain apa yang telah saya sampaikan di atas adalah cara dia mempromosikan kepada seluruh penumpang yang nampaknya tidak begitu antusias atau bahkan cenderung terganggu. Namun ia sampaikan seperti orang sedang berorasi. Bukan tentang jeruknya yang dia jual, namun tentang hal lain.

Dan dalam orasi-orasinya itulah ia menarik perhatian kami yang sebenarnya bete, untuk sekedar mesem-mesem atau menganguk-angguk sebagai tanda bahwa kami menyimak. Kadang ia berorasi tentang bencana dan hikmah yang dapat kita mabil darinya, seperti apa yang kami dengan sore itu. Kadang tentang beratnya menjadi kepala rumah tangga di zaman kini. Pernah pula saya dengar ia berorasi tentang riuh rendahnya politisi berargumentasi di tv. Pendek kata, apa yang diorasikan adalah olahan dari informasi yang dia punya, diramu dengan logika dan keterampilannya dalam merebut perhatian dan sedikit juga rasa iba kita. Pada titik inilah saya berpendapat bahwa ia memang penjual yang pantas untuk saya tulis disini.

Lalu bagaimana dan kapan ia menjual jeruk-jeruknya itu? Ya, sesudah orasinya dia rasakan telah 'merasuk' dan sedikit menyita perhatian kami. Pertama-tama, dia kan meminta kami untuk mencoba jeruk jualannya. Tidak hanya kepada saya seorang, tetapi kepada mereka yang mau mencobanya. Mungkin ada dua atau empat buah jeruknya dia ikhlaskan untuk menjadi percobaan. Langkah berikutnya adalah menawarkan bahwa jeruknya yang manis itu berharga Rp 10,000 untuk delapan buah. Memang ada beberapa dari kami yang berminat membeli.

Berikutnya lagi, setelah bus telah memasuki daerah Kulon Progo, persisnya di pertigaan patung Pensil, penjula itu membanting harga. Yaitu Rp. 10,000 untuk 10 buah jeruk. Alasannya untuk menghabiskan persediaan. Dan memang jeruknya hampir saja tandas. Dan ketika bus sampai di Wates, dijualnya 12 buah jeruknya dengan harga tetap Rp. 10,000!

Dulu, saat kali pertama saya naik bus, tergiur juga untuk membeli jeruknya ketika dia menawarkan 10 buah untuk harga Rp. 10,000. Namun pada waktu yang kesekian kalinya, saya cukup paham untuk tidak cepat-cepat membeli. Setidaknya hingga menjelang akhir!

Jakarta, 3-30 Januari 2011

26 Januari 2011

Makan Growol


Dalam sebuah berita di liputan6.com yang saya baca beberapa waktu yang lalu, tetangga satu desa dengan saya telah mengkonsumsi growol sebagai pengganti nasi sebagai makanan pokok.
Liputan6 :: Warga Purworejo Mulai Makan Growol.

Mungkin perlu saya ceritakan sedikit dimana lokasi kampung Pletuk yang disebutkan dalam berita tersebut. Ia adalah kampung yang berada di bagian utara desa. Wilayah selatannya adalah kampung Jambu, wilayah tengahnya adalah Wojo, dimana orangtua saya tinggal, dan bagian timur adalah Jurangkah. Keempat kampung itu adalah bagian dari desa Dadirejo, kecamatan Bagelen, kabupaten Purworejo.

Kampung Pletuk merupakan wilayah yang berada di daerah perbukitan dan pegunungan. Wilayah ini sejak masa saya kanak-kanak hampir selalu penduduknya menanami hampir seluruh ladangnya dengan tanaman singkong. Namun pada liburan Idul Fitri tahun 2007 yang lalu, ketika saya pulang kampung dan saya berkesempatan untuk mengajak istri, adik, dan anak-anak mengunjungi Pletuk untuk sekedar melihat peninggalan Jepang dalam bentuk benteng pertahanan, daerah Pletuk sudah dirimbuni oleh tanaman keras yang laku jual. Seperti pohon mahoni, pohon jati, jambu mete yang buahnya jatuh berhamburan, pohon duwet juga dengan buah yang berhamburan di tanah, pohon sengon, dan beberapa perdu. Saya kagum dibuatnya. Tumbuhan yang tumbuh subur menjulang tersebut menghalangi pandangan kami untuk bebas melihat lurus ke arah laut selatan, Samadera Hindia. Sebuah hal yang dulu sangat mudah kami lakukan meski posisi kami masih berada di perbatasan kampung antara Jambu, Wojo, dan Pletuk. Atau bahkan saat kami berada di seberang stasiun Wojo.

Dan kembali pada pokok yang ingin saya sampaikan disini, tentang growol. Makanan apakah growol itu? Saya mencoba menjelaskannya sebagai berikut; bahwa ia sejenis makanan yang diolah dari singkong. Berbeda dengan gatot atau tiwul yang juga berasal dari singkong, growol diolah ketika singkong masih mentah dan direndam selama lebih kurang tiga hari sehingga singkong nyaris menjadi busuk dan bercita rasa bacin. Sedang tiwul dan gatot berasal dari singkong mentah yang telah di jemur hingga kering. yang kemudian kita sebut sebagai gaplek. Untuk menjadi tiwul, singkong kering atau gaplek tersebut akan ditumbuk menjadi tepung terlebih dahulu sebelum dikukus. Dan gatot, setelah gaplek tersebut di cuci, maka ketika dikukus telah siap disajikan sebagai jajanan pasar.

Tiwul dan growol, pada masa tertentu dan atau daerah tertentu, menjadi makanan pokok pengganti nasi. Hal itu saya alami ketika keluarga kami tinggal di desa Sritejikencono, kecamatan Punggur, kabupaten (dulu) Metro, Lampung pada sekitar tahun 1977. Tiwuk masih menjadi makanan pokok daerah itu. Petani yang panen padi akan menjual padinya untuk kemudian dibelikan gaplek. Dan selisih harga akan menjadi keuntungan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Nasi, mereka menyebutnya sebagai sego putih atau nasi putih. Karena tiwul relatif berwarna hitam ketika telah masak.

Sedang growol, menjadi 2/3 makanan pokok kami sekeluarga di Wojo sekitar tahun 1979. Saya katakan 2/3, karena 1/3nya kami masih menyantap nasi. Growol lebih sering tersaji saat makan pagi dan sore. Sebagai pengganti nasi, maka kamipun lengkapi dengan lauk sebagaimana kita makan.

Namun berkenaan dengan berita tentang tetangga kami yang makan growol sebagai cermin dari beratnya beban hidup, sayapun turut merakan prihatin. Prihatin tentang keadaan yang kurang menguntungkan tersebut. Juga prihatin bahwa ternyata jenis makanan pokokpun telah menjadi tolok ukur bagi pengklasifikasian harkat hidup.

Oleh karenanya saya berharap semoga masa sulit ini lekas berlalu. Dan tetangga saya di kampung itu segera menenikmati masa baik. Amin.

Jakarta, 26-30 Januari 2011.

Bersiap Untuk Sukses UN/UAS-BN


Dalam setiap pertemuan dengan orangtua siswa yang kami undang dalam sosialisasi pelaksanaan UN bagi SMP atau UAS-BN untuk SD, saya selalu menangkap beberapa orangtua siswa yang dalam kondisi Khawatir. Namun juga ada sebagian lainnya yang dalam kondisi biasa-biasa saja. Atmosfer seperti itu selalu saja berulang setiap tahunnya. Sosialisasi itu sendiri baru kami selenggarakan jika pemerintah secara definitif telah mengeluarkan serangkaian peraturan tertulisnya untuk penyelenggarakaan hajat besar di dunia pendidikan kita itu. Dan itu biasanya akan jatuh sekitar bulan Januarai atau Februari. Padahal penyelenggaraan UN SMP dan UAS-BN SD hampir selalu di akhir bulan April dan awal bulan Mei.

Apakah pemerintah bisa mengeluarkan keputusan definitif itu di awal tahun pelajaran? Tidak akan bisa. Semua baru di rencanakan setelah memasuki tahun pelajaran baru. Sebuah prestasi bila suatu saat pemerintah telah mengeluarkan keputusan didefinitf tentang ujian akhir nasional itu sebelum bulan Nopember! Tapi apa mau dikata, memang seperti itulah hidup kita di negara yang sama-sama kita cintai ini.

Dan kembali lagi kepada masalah sosialisasi ujian itu kepada pihak orangtua siswa, saya selalu menyampaikan agar para Ibu dan Bapak itu jangan panik. Mengapa harus panik? Tanya saya. Karena hari ini kita semua tahu materi pelajaran apa dan yang mana yang akan keluar dalam soal ujian akhir tersebut? Lanjut saya. Itu semua kita dapat melihatnya dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) atau kisi-kisi yang sudah termasuk dalam satu paket peraturan yang dikeluarkan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional.
Lalu saya tunjukkan SKL dan kisi-kisi dari materi ujian nasional itu, yang telah saya buat dalam format self assessment.

Dari situ, saya mengajak Bapak/Ibu orangtua siswa untuk mencoba melihat secara akal sehat. Bahwa kalau anak kita normal dan sehat pada saat ujian nasional berlangsung. Dan tentu saja belajar dengan sewajarnya. Maka dapat dipastikan bahwa mereka akan mampu memperoleh predikat lulus.

Namun bagaimana dengan perolehan nilai ujian yang pada ujungnya nanti menjadi kunci dan modal anak mereka masuk di sekolah pemerintah yang diidamkannya? Disi pula saya mengajak para orangtua itu untuk melihat passing grade dari masing-masing sekolah. Dan dari situlah mereka dapat mengambil ancang-ancang dalam persiapannya. Jika menginginkan nilai 9 pada suatu mata pelajaran, maka ikhtiarnya minimal harus 9.

Dengan melihat itu semua, maka sesungguhnya untuk sukses dalam UN atau UAS-BN, petanya sudah jelas dan terang benderang. Saya berharap, semoga Anda pun dapat mempersiapkan putra-putrinya dengan sebaik mungkin tanpa perlu kepanikan.

Tapi saya juga mengingatkan semua bahwa, hasil UN atau UAS-BN hanya merupakan salah satu hasil belajar anak kita. Dan bukan hasil belajar satu-satunya. Dan akhlak, yang mulia (akhlakul karimah) adalah hasil belajar yang paripurna. Semoga sukses! Amin.

Jakarta, 26 Januari 2011.

25 Januari 2011

Naik Trans Jakarta



Pagi ini saya berangkat ke kantor dengan naik Bus Trans Jakarta. Ini bukan berarti bahwa saya tidak pernah naik bus selama ini. Tetap naik bus juga. Terutama bila saya harus pergi ke jarak yang dekat dengan rumah. Tetapi ke kantor dengan naik busnya orang Jakarta ini, ini pengalaman pertama saya. Ini juga karena koridor IX, mulai beroprasi pada tanggal 31 Desember 2010 yang lalu. Selain bertambah macet di jalur yang dilalauinya, naik bus ini justru kebalikannya. Bebas macet alias lancar jaya.


Saya berangkat dari Slipi pukul 06.20. Setelah membeli karcis seharga Rp.2,000, saya bertanya kepada penjaga, ke jurusan mana jika saya akan menuju ke Pulomas di Jakarta Timur? Penjaga memandu saya untuk naik jurusan Pluit, turun di Grogol untuk kemudian pindah naik ke jurusan Pulo Gadung. Ini sebuah petunjuk yang sebenarnya tidak saya harapkan. Karena saya berpikir untuk menuju Cawang dan kemudian pindah ke jurusan Tanjung Priok. Namun apa yang kemukakan oleh penjaga itu, langsung saya turuti karena saya yakin dialah yang paling tahu tentang apa yang saya tanyakan itu.


Mungkin hanya perlu sekitar 1 menit saya menunggu bus itu datang. Saya mendapat tempat duduk paling pojok belakang di bus gandeng itu. asyik sekali. Bus baru dengan laju yang nyaris tidak terganggu. Dari tempat duduk menuju Grogol itu, saya menyaksikan pemandangan yang kontras. Di luar jalur bus Trans Jakarta yang hampir selalu steril oleh kendaraan selain bus Trans Jakarta di jam berangkat dan pulang kantor, mobil umum dan pribadi berderet-deret diantara kendaraan roda dua yang tampak menyemut menyesaki jalan yang hanya tersedia dua jalur. Inilah nikmatnya naik bus Trans Jakarta. Pikir saya. Karena kami dapat melaju sedang mereka tersendat dan di beberapa bagian nyaris berhenti. Atau kalau dalam bahasa lalu lintasnya; padat merayap.


Dan pas pukul 07.18, saya sudah menempelkan telunjuk saya di mesin absen kantor. Dengan ongkos tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah.

Dari sekelumit pengalaman itu, maka saya berpendapat bahwa Trans Jakarta sekarang ini sudah menjadi solusi. Ya karena memang selama ini tidak usaha pemerintah yang paling nyata bagi transportasi massal selain moda kereta api dan bus way. Monorel yang telah dibangun tiang pancangnya di masa Gubernur Sutiyoso seperti mangkrak tidak ada ujungnya.

Namun kesempurnaan dari Trans Jakarta masih harus menjadi perhatian jika pemerintah tidak mau keghilangan moment. Yaitu tentang keadaan bangunan halte dan jembatan penyeberangan orang yang tampak di bawah standar kualitas.
Hal ini seperti tampak di Grogol. Dimana plat besi yang menjadi lantai sudah dalam kondisi bergelombang. Bahkan di bibir haltenya ada lantainya yang somplak. selain juga kurangnya kebersihan. Debu dan kertas yang jelas kentara di setiap halte. Kondisi busnya juga kurang maksimal. Terutama koridor yang telah lebih dahulu beroperasi. Selain juga kebersihan kaca dan lantai bus yang relatif belum terjaga sempurna. Bahkan untuk koridor Pulo Gadung - Kali Deres, beberapa bangku penumpangnya hanya diikat dengan tali rafia hitam.


Jakarta, 25 Januari 2011.

Jalanan Macet, dan Sekelimut Pengalaman Saya

Memasuki tahun 2011 ini, jalanan di Jakarta terasa semakin macet. Dan kemacetan yang paling saya rasakan sekarang ini adalah sepanjang perjalanan saya memasuki jalan arteri Gatot Subroto, dari pintu tol keluar Slipi (Depan Gedung DPR/MPR) menuju ke persimpangan lampu lalulintas Slipi dan juga pintu keluar tol Slipi Jaya (Depan RS Harapan Kita) hingga persimpangan lampu lalu lintas Slipi. Paling tidak karena ruas jalan inilah yang paling bisa saya lalui ketika pulang dari kantor di bilangan Pulomas, Jakarta Timur.

Ada memang jalur yang bisa saya lalui untuk perjalanan Pulomas-Slipi saat pulang kantor. Yaitu jalur arteri Casablanca-Arteri Pejompongan-Slipi dan jalur Patung Tani- Merdeka Selatan- Kebon Sirih- Tanah Abang- Slipi Jaya-Slipi. Tapi sejak hampir dua tahun yang lalu saya sama sekali tidak berani lagi melewatinya. Terlebih sejak ada proyek pembangunan Jalan Arteri Bukan Tol di sepanjang Jalur yang melalui Casablanca atau juga sejak perubahan jalur di seputar Tananh Abang. Jalur-jalur itu semakin ruwet dan mengkhawatirkan.

Pilihan terbaik saya untuk selalu melewati jalur tol baik Cawang menuju Slipi atau Ancol menuju Slipi, masuk di tahun 2011 ini sudah bukan menjadi pilihan terbaik. Dua jalur itu sekarang menjadi pilihan yang terpaksa saya pilih. Ini karena kemacetan yang luar biasa di jalur arteri Slipi Jaya menuju Slipi atau jalur Taman Ria menuju Slipi mampat dan selalu nyaris tidak bergerak.

Oleh karenanya, sejak tiga pekan di tahun ini, ada beberapa tambahan kegiatan saya agar tidak terlalu terjebak masuk dalam kemacetan yang menguras tenaga, emosi, pikiran, dan usia kita. Tiga hari dari lima hari yang ada dalam satu pekan itu akan saya gunakan untuk bersilaturahim. Saya akan 'merapat' di sekolah anak saya dulu, yang berlokasi di Tebet. Saya akan sampai di lokasi itu sekitar pukul16.30 dan akan berada di sana hingga pukul 20.00. Atau saya akan menghadiri rapat di Cipete, yang alhamdulillah dilaksanakan diantara hari Rabu-Jumat pada pukul 18.30 hingga 21.00. Atau saya akan tetap tinggal di sekolah saya dan baru meninggalkannya setelah pukul 20.00. Itulah kegiatan yang akhirnya tercipta dalam situasi jalan yang macetnya luar biasa.

Sekedar gambaran untuk anda semua, bahwa jarak Slipi-Pulomas, yaitu jarak dari rumah ke kantor saya lebih kurang 20 km jika saya masuk tol Slipi-Cawang-Rawa Mangun. Yang pada awal saya bekerja, yaitu tahun 2004, hampir selalu saya tempuh dalam waktu 30 menit saja dengan berkendara berkecepatan 80 km/jam. Namun waktu tempuh itu menjadi semakin tidak manusiawi lagi saat-saat ini. Karena dalam keadaan normal, saya sekarang perlu waktu 45 menit di dalam jalan tol. Dan pada sore hari saya masih butuh 30 menit lagi sebagai tambahan untuk jalur keluar pintu tol Slipi menuju rumah saya yang berada persis di belakang Hotel Ibis Slipi.
Itulah sekelumit pengalaman saya.
Jakarta, 25 Januari 2011.

03 Januari 2011

Wader Goreng


  • Kalau stok bahan mentahnya bisa didapat dengan lancar, maka membuka usaha ini di kota menjanjikan Untung. Begitu kata saya kepada teman saat kami menunggu nasi wader goreng yang kami pesan siap di sajikan, di suatu siang di sebuah warung Pak Bejo di daerah Piyungan Yogyakarta Pada Sabtu tanggal 1 Januari 2011 yang lalu.
Ide makan nasi wader datang dari kawan yang menemani kami berkunjung ke Balerante satu hari sebelumnya. Dia menawarkan akan makan dengan 'aroma' khas atau yang standar? Saat itu jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.00, sementara perjalanan kami menuju Yogyakarta masih butuh lebih kurang 45 menit dalam kondisi yang sedikit tersendat. Maka kami segera menuju jalan Piyungan dari arah Klaten. Dan persis lampu lalu lintas perempatan jalan sebelum Jalan Ring Road Selatan, kami mengambil jalan ke kiri. Disitulah kami menemukan warung sederhana dari bambu.

Dengan rasa sambel yang gurih dan pedasnya berani, nasi dengan lauk wader goreng segera lenyap kami santap. Dalam detik-detik terakhir santapan itulah, saya masih menyisakan beberapa ekor wader goreng saya sebagai suapan terakhirnya. Yahudnya setara dengan makan nasi intip!

  • Saat masih kanak-kanak, ketika wader yang menyambar umpan dari pancing kita, sesungguhnya tidak terlalu membuat kita bergembira. Kata saya ketika kami sudah berkendara untuk melanjutkan perjalanan.
  • Mengapa? Tanya kawan saya dalam rombongan yang memang hidup sejak lahir dan besar di kota besar seperti Jakarta.
  • Karena, lanjut saya, kami lebih mengharapkan umpan pancing kami disambar ikat gabus atau ikan tawes. Jelas saya.
Dari situ, kita dapat menarik kesimpulan bahwa saat kami kecil memperolah ikan wader ketika memancing sesungguhnya tidak terlalu membuat kami bergembira. Ini terlepas dari rasa gurih dan enaknya dari ikan wader ini dibandingkan dari dua jenis ikan yang menjadi harapan kami ketika kami memancing di sungai. Namun itulah kenyataannya. Berbeda saat ini, ikan wader, untuk saya pribadi, menjadi sebuah makanan kerinduan kami kepada masa-masa dulu ketika kami masih kanak-kanak dan hidup dalam keprihatinan.

Dan itulah yang saya rasakan sepanjang menyantap nasi dengan lauk goreng ikan wader. Teringat nostalgia yang boleh jadi tidak akan diperoleh oleh kawan kami yang bersama-sama menyantapnya di warung Pak Bejo siang itu.


Jakarta, 3-5 Januari 2011.

Sego Intip


Saya terperanjat gembira sesampainya di rumah Mamak di Wojo pada Sabtu malam tanggal 1 Januari 2011 lalu. Ini karena ketika akan makan masih tersisa sego intip atau nasi intip yang mengerak di dasar periuk nasi. Maka tanpa menyia-nyiakan waktu segera saya mengambilnya lalu menuanginya sayur dan kuah kacang panjang dan bunga pisang ke dalamnya. Yahud rasanya.

Saya bersyukur sekali bahwa ini terjadi serba pas. Pas saya sampai rumah setelah menempuh perjalanan dari Yogyakarta, dimana saya memisahkan diri dari rombongan yang melanjutkan perjalanan kembali ke Delanggu karena saya bermaksud bersilaturahim dengan Mamak saya di kampung. Pas juga saya lapar. Dan yang paling membuat saya bungah adalah pas ada makanan langka! Jenis makanan yang tidak akan ada sepanjang kita memasak nasinya menggunakan peralatan moderen seperti penanak nasi yang bertenaga listrik.

Sego Intip adalah Nasi Prihatin

Jenis makanan seperti itu bagi saya berada pada tataran istimewa. Mengapa? Karena langkanya itu. Sehingga saya sulit menjumpainya. Sering dalam sebuah perjalanan nasi intip itu telah dijajakan sebagai intip goreng. Dan saya tidak pernah tertarik untuk merasakannya. Bagi saya cita rasa tertinggi dari jenis makanan ini adalah rasanya yang sangat khas. Juga beraroma nostalgi.

Ini karena sudah nyaris 26 tahun setelah saya merantau tidak pernah lagi berjumpa dengan makanan ini. Situasi seperti ini membuat kerinduan saya meledak begitu di rumah orangtua menemukan makan istimewa di masa saya masih sekolah dan tinggal di kampung halaman.

Jenis makanan yqng selalu membuat kami, saya dan adik-adik, sumringah ketika menghadapi periuk nasi yang penuh intip atau kerak di dasar dan bagian bawah sisi periuk itu, yang semula keras kini menjadi lembek oleh kuah sayur bobor singkong muda buatan Mamak saya yang gurih. yang dengan kuah itu, maka intip yang tadinya keras dan erat menempel di periun menjadi lembek, lunak dan mudah kita sendok dan kita bagi ke dalam piring kita masing-masing. Bila perlu, dalam jatah kita yang ada di dalam piring, kita tambahkan lagi sayuran yang kita mau. Itulah puncak kenikmatan sebuah sajian makanan yang agak sulít, saya kira, bagi Anda untuk membayangkannya.

Ini karena Anda bukan orang yang pernah menjadi penghuni masa keprihatinan. Itulah maka saya menyebutnya nasi atau sego dalam bahasa Jawanyá ini, sebagai nasi prihatin. Setidaknya untuk saya.

Wojo, 1 Januari - Jakarta, 3 Januari 2011.

Kali Gendol


Setelah mendengar berita tentang erupsi Gunung Merapi sejak akhir Oktober 2010 lalu, nama kali ini juga turut menempel dalam ingatan saya. Tidak saja Kali Gendol yang saya ingat hingga sekarang ini. Tetapi juga masih ada Kali Krasak dan Kali Boyong.

Sayapun sempat mencoba untuk melihat secara detil keberadaan kali-kali itu dan juga wilayah-wilayah lainnya yang menjadi bagian tidak terpisahkan darí
bencana alam itu di peta yang saya punya.

Jumat, 31 Desember 2010 pukul 19:00, kami, utusan dari Sekolah Islam Tugasku Pulomas Jakarta Timur berkesempatan untuk melintasi dasar kali atau Sungai Gendol.

Perjalanan kami di lokasi ini tidak lain adalah membawa amanah sumbangan untuk warga yang tinggal di desa Balerante, Klaten, yang posisinya berada di seberang kali pada saat kami saat itu.

Untuk menuju ke SDN Balerante, kami berangkat dari sebuah warung makan tradisional yang merangkap juga sebagai posko bencana yang dikelola oleh warga setempat yang kebetulan selamat dari bahaya erupsi. Lokasi warung tersebut persis di sebelah kiri pintu gerbang masuk tempat wisata Deles
Indah. Hanya ada satu jalan menuju Balerante dari lokasi ini. Yaitu menyeberangi Kali Gendol. Hal ini akan dikofirmasi terlebih dahulu kepada Mas Jadmiko, sekalu koordinator masyarakat yang akan kita tuju. Apakah menyeberang sungai aman, meski sejak siang tidak ada hujuan di wilayah puncak Merapi. Dari konfirmasi itu disepakati bahwa Pak Jatmiko akan menjemput dan memandu kami dengan berkendaraan mobil. Kami tenteram dengan kesepakatan ini. Karena terus terang kami kawatir jika kami harus berkendara dalam menyeberang sungai.

Namun untuk menghemat waktu, karena Mas Jadmiko belum juga kunjung datang, maka perjalanan dari posko menuju Balerante di pandu oleh Pak Nur, yang juga guru SMA, dengan mengendarai sepeda motor. Lebih kurang 500 meter dari pintu gerbang Deles Indah, Pak Nur berbelok ke kiri menuju jalan kerikil yang tidak beraspel. Dan inilah awal perjalanan petualangan kami. Tidak kebayang bagi kami mampu berkendara dari tebing sungai yang berada disisi timur menuju kesisi barat sungai yang terjal dan berbatu sebelum akhirnya benar-benar 'nyebur' di dasar sungai. Saingan kami adalah para penambang pasir yang sekaligus memberi inspirasi keberanian kami.


Bagi saya yang kala itu mendapat amanah sebagai pengendara, kenyataan bahwa truk pasir hinggap hingga dasar sungai cukup memberi petunjuk bahwa kami pun akan mampu menyeberang. Ini nalar saya yang membuat kami berani mengikuti sang penunjuk jalan yang sudah berada di depan kami.

Dan itulah oleh-oleh kami dari lereng Gunung Merapi. Selain perlu juga kami sampaikan bahwa, recovery Merapi tetap akan berlangsung meski erupsi telah berlalu.

Delanggu, 1 Januari - Jakarta, 3 Januari 2011.