Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Agustus 2010

Belajar tentang Moral atau Karakter


Dapatkah kita memperoleh hasil yang relatif berarti tentang pembelajaran moral atau belajar karakter dari sebuah interaksi pendidikan di sekolah kita dewasa ini? Dimana kita ketahui bersama bahwa, hasil belajar siswa selain Ujian Nasional masih belum mendapat tempat. Baik secara ranking prestasi sekolah atau juga di sebagian mata masyarakat kita sendiri?

Apakah kita cukup memiliki parameter untuk mengukur keberhasilan dari hasil belajar moral atau karakter, sebagaimana kita telah memiliki dan meyakini alat ukur  untuk keberhasilan akademik mereka seperti UN? Atau mungkinkah kita tidak begitu perduli dengan kompetensi perilaku atau moral atau karakter siswa kita, karena terlanjur berkeyakinan bahwa  hasil belajar akedemik seperti UN adalah satu-satunya hasil belajar yang akan dicapai oleh sistem pendidikan nasional kita?

Rasulullah SAW pernah menuturkan dalam haditsnya bahwa; Aku diutus ke dunia ini untuk memperbaikin akhlak. Ungkapan ini mengandung arti bahwa misi utama bagi sebuah proses pendidikan adalah lahirnya sebuah akhlak, perilaku atau karakter. Tentunya akhlak baik atau perilaku luhur atau karakter mulia. Disini kita juga dapat menilik bagaimana sebuah generasi yang hidup bersama Nabi Muhammad SAW sukses mengawal kemakmuran dunia hingga beberapa generasi sesudahnya. Sebuah konsep dan aplikasi pendidikan yang secara riil dan nyata ada dalam sejarah manusia.

Dalam rumusan lain, Nel Nodding, seorang guru besar Emeritus di Universitas Stanford mengemukakan: the main of education should be to produce competent, caring, loving, and lovable people (Alfie Kohn, 2000:115).

Lalu apakah dewasa ini di dalam kelas-kelas di sekolah kita putra-putri kita belajar secara mendalam dan aplikasi tentang apa, bagaimana, seperti apa ranah moral itu harus menjadi milik mereka selain juga belajar dan mengejar SKL akademik yang akan diujikan pada  Ujian Nasional?

Saya mencoba untuk memberikan gambaran yang sangat dekat dan nyata tentang bagaimana kita bermoral dan berkarakter  terhadap sampah. Yaitu kenyataan tentang seberapa besarnya kita bermoral adalah dengan melihatnya bagaimana seseorang tersebut memberlakukan sisa atau limbah hidupnya yang berupa sampah? Marilah kita mencoba untuk memperhatian apa dan bagaimana orang di jalanan. 

Masih terdapat beberapa orang yang membuang limbah bungkus permen, puntung rokok, bungkus makanan kecil, plastik bekas botol air mineral, kartu bukti pembayaran jalan tol, atau segala rupa. Dan itu tidak saja dilakukan oleh mereka yang berjalan kaki atau menumpang bus umum, tetapi juga mereka yang mengendari kendaraan pribadi. Inilah yang dimaksud dengan NIMBY atau not in my back yard.

Kenyataan ini terjadi nyaris setiap hari dan tanpa melihat di jalanan mana mereka berada. Ada dimana-mana dan dilakukan oleh status mana saja. Inilah hasil belajar kita tentang moral atau karakter. Dan moralitas terhadap sampah sebagaimana saya kemukakan tersebut, adalah bagian kecil dari seluruh aktivitas hidup kita sebagai manusia.

Dan melihat kenyataan seperti ini, maka terbetik pertanyaan; akan dari manakah belajar bermoral baik dan berkarakter mulia hendak kita lakukan? Jawaban pastinya adalah dari diri kita sendiri, dari mulai hal yang paling mungkin kita lakukan dan harus mulai saat ini juga.

Jakarta, 31 Agustus 2010. 

28 Agustus 2010

Tentang 10 Karakter Siswa Sekolah Kami

Kaget. Inilah perasaan yang muncul dalam benak kami warga Sekolah Islam Tugasku. Perasaan kaget ini lahir ketika melihat ternyata ada sekolah selain kami yang pengembangkan karakter yang sama di sekolahnya. Dan kagetnya lagi, kami menemukannya di brosur sekolahnya untuk Penerimaan Siswa Baru.

Dalam rapat, kami diskusikan apa yang akan dan sebaiknya kami lakukan dengan hal ini? Maka kami mengambil jalan mengalah. Sebuah jalan yang mungkin akan menjadikan kami lebih terhormat. Yaitu jalan dimana kami akan memberikan ilustrasi dan testimoni terhadap sepuluh (10) karakter siswa yang kami pilih dan kami kembangkan untuk karakter siswa.

Sepuluh (10) karakter siswa itu adalah:
1. Tanggung jawab (responsibility),
2. Disiplin (discipline),
3. Jujur (honest),
4. Percaya diri (confidence),
5. Mandiri (independence),
6. Kerja sama (cooperation),
7. Peduli (compassion),
8. Sopan (courtesy),
9. Hormat (respect),
10. Sabar (patience).

Dengan testimoni yang kami up load di media seperti blog atau web sekolah, kami berharap khalayak dapat mengetahui bagaimana kami dapat menceritakan kembali tentang karakter yang kami bangun dan kami punyai, bagaimana kami sepanjang hari pekan dan bulan memompakan semangat untuk berkarakter mulia dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana proses karakter siswa yang sepuluh (10) itu kami miliki.

Proses:

Berawal pada sekitar pertengahan tahun pelajaran 2005/2006 kami mencoba menggali tentang mimpi kami terhadap siswa yang kami inginkan. Kalau siswa pintar, seperti apakah pintarnya itu? Kalau menjadi penyeru, maka penyeru yang seperti apakah mereka? Apakah yang akan mereka serukan untuk lingkungan sekelilingnya? Kalau dapat dipercaya, maka seperti apakah karakter yang dapat dipercaya itu yang harus ada pada diri siswa kami itu? Dan kalau mereka adalah sosok yang amanah, maka seperti apakah amanah yang dimaksud tersebut?

Maka dalam sebuah Professional Development pekanan yang ada di sekolah kami, semua dari maki menuliskan mimpi kami masing-masing. Dan ketika mimpi-mimpi tersebut kami coba elaborasikan dengan mimpi kawan, menjadi semakin kayalah mimpi kami tentang hasil belajar tersebut.

Sebelum sesi ditutup, kami menyepakati untuk membuat sebuah komite yang mewakili kami semua dalam  wadah yang kami namakan sebagai Komite Karakter. Komite ini merepresentasikan kebaradaan kami yang ada di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan SMP. Juga manajemen sekolah. Komite inilah yang mematangkan hasil mimpi teman semua.  Dan setiap hari PD, Komite ini akan selalu mempresentasikan hasil kerjanya untuk kemudian menjadi bahan diskusi. 

Semua dari kami yang terlibat dalam kelahiran 10 karakter siswa yang kami miliki akan mampu mendeskripsikan apa yang saya sampaikan. Ini tidak lain karena kami semua berada di dalam proses kelahiran karakter siswa yang kami miliki. 

Lalu apakah selesai disini proses kelahiran karakter siswa kami? Untuk melahirkan 10 karakter siswa sebagaimana yang kami sebutkan di atas memang ya. Tetapi tahapan penerapan di dalam kelas, menjadi pekerjaan rumah kami bersama. Hingga awal tahun pelajaran 2006/2007 kami para guru menemukan gerakan tari atau senam untuk mengingat 10 karakter yang kami telah miliki itu.

Cukupkah sampai disini penerapan karakter siswa kami, yaitu setelah kami semua pendidik yang ada telah mampu menghafal karakter siswa yang kami punyai? Ternyata tidak, dan inilah yang kami akhirnya alami bersama sebagai proses mengajarkan, refleksi, dan penemuan langkah berikutnya.

Itulah yang akhirnya kami dapatkan. Yaitu bagaimana taksonomi Bloom membantu kami membelajarkan karakter siswa di sekolah kami.

Jakarta, 31 Agustus 2010.

08 Agustus 2010

Tidak Berwacana

Catatan ini tidak untuk mengajak pembaca semua menjauhi atau bahkan meninggalkan budaya berwacana yang hidup subur di negeri tercinta ini. Karena saya yakin jikapun itu saya lakukan, ikhtiar seperti itu tidak akan menjadi bagian penting. Apalagi dilakukan oleh saya, Agus Listiyono. Bukan kapasitas saya untuk melakukan hal seperti itu.

Namun bagi saya sendiri, usaha untuk tidak berwacana adalah ikhtiar sadar yang harus saya tumbuh kembangkan dan hidupkan sepanjang waktu. Dan inilah pandangan saya itu:

Ketika kali pertama saya mendapat berita dan permohonan untuk memberikan ‘pembekalan’ kepada guru di sebuah lembaga di sebuah kota, saya merasa tersanjung. Bukan karena saya menjadi merasa besar, justru sebaliknya, ketersanjungan itu membuat saya takut. Takut tidak ada sesuatu yang dapat saya berikan atau bagikan kepada para teman guru yang ada di lembaga tersebut yang layak disebut sebagai bahan ‘pembekalan’.


Saya tercenung dan berusaha mengkalkulasi jumlah seberapa banyak hal baik yang mungkin dapat menjadi bagian yang baik juga untuk orang lain bila hal itu saya bagikan. Ini terjadi setelah pembicaraan telepon dari pihak lembaga yang membutuhkan bantuan saya itu selesai. Usaha itu sulit. Karena begitu sulitnya menemukan sisi yang dapat saya bagikan, lahir pertanyaan dalam diri saya: Jadi, setelah sekian lama saya mengajar dan berdiri menjadi 'manajer' di kelas atau bahkan 'manajer' di sekolah, tidak banyak bagian yang dapat saya bagikan untuk orang lain? Pertanyaan itu membuat saya malu hati. Merasa kalau diri saya begitu lambat melakukan proses belajar.

Alhamdulillah, Allah Maha Pemurah, membukakan pintu ide kapada saya, dengan berpandukan kepada kisi-kisi kebutuhan lembaga yang dikirim via faksimili, saya mencoba membuat apa yang saya miliki itu dalam bentuk sesi-sesi pertemuan pelatihan. Dua belas jumlah sesi yang ada. Yang kemudian saya saya coba rangkai sebagai bentuk lesson plan pelatihan saya sepanjang tiga hari. Sekali lagi, karena tidak banyak yang saya miliki, dan dibagi dalam banyak sesi, maka dapat dipastikan gambaran betapa tipisnya sesi-sesi yang berhasil saya rumuskan itu.

Satu prinsif dasar saya dalam membuat dan menyusun rencana tersebut. Yaitu semuanya harus telah menjadi bagian hidup dalam diri saya. Baik dalam hal belajar mengajar atau juga dalam hal manajemen sekolah. Hal ini menjadi panduan bagi saya, karena saya ingin menyampaikan testimoni dan bukan laporan pandangan mata. Saya memposisikan diri sebagai pelaku yang menceritakan kembali apa yang saya dengar, lihat, dan lakukan. Saya berusaha bukan sebagai komentator.


Dan dalam sesi-sesi yang terlaksana itu, banyak hal tak terduga menjadi bahasan hangat dalam diskusi dan dialog serta berbagi. Dan syukur saya berikutnya adalah, karena berbekal dari apa yang telah berlangsung dalam hisup saya sebelumnya, maka pertanyaan, diskusi, dialog dan berbagi pengalaman itu saya ambil sebagai bagian berikut dalam belajar saya, dan saya tambahkan sekelumit memori dalam bentuk penjelasan dari sisi yang berbeda. Semua berjalan sesuai dengan apa yang diperkirakan.

Tidak Berwacana

Pengalaman itu, membuat keyakinan pada diri saya bahwa, menyampaikan pengalaman dari sisi pelaku dalam sebuah pemberian 'pembekalan' lebih membuat audien dalam pelatihan menjadi hidup dalam alam yang nyata. Dan itu lebih memberikan gambaran utuh yang jauh dari verbalisme.
Dan karena permintaan pula, saya pun pernah menyampaikan apa yang baru saya lihat dan dengar tapi belum pernah satu kali pun saya mengalaminya sendiri. Meski saya mengupayakan materi ‘pembekalan’ itu sekonkrit dan senyata mungkin, tetap ada rasa mengawang dalam kalimat dan bahasa yang keluar dari kerongkongan saya. Saya menjadi malu karenanya.

Hal itu pula yang membuat saya di waktu belakangan ini menghemat apa yang saya sampaikan. Baik ketika sahabat saya datang mengunjungi saya di sekolah, baik saat pertemuan dengan para orangtua siswa, atau baik pada saat saya menuangkan apa yang sedang bergejolak dalam alam pikiran saya dalam bentuk artikel. Semuanya saya usahakan untuk menakarnya secara seimbang. Takut bila apa yang saya sampaikan adalah sesuatu yang masih dalam tataran wacana.

Takut jika wacana bagus yang saya kumandangkan akan mendorong teman dari luar kota mengunjungi sekolah saya untuk melihat bukti nyatanya. Lalu teman itu bertanya kepada saya: Yang Pak Agus sampaikan saat pelatihan tempo hari itu seperti apa ya Pak? Lalu karena saya baru berwacana, maka saya menjawab: Maaf Saudara, yang saya sampaikan waktu itu adalah wacana saya. Bagaimana pula jika yang bertanya seperti itu kepada saya adalah malaikat Allah?

Jakarta, 8 Agustus 2010

Mengapa Saya Belajar?

Pertanyaan ini selalu datang dalam diri saya. Dan ketika ia datang, selalu saya mencoba untuk mencari jawabannya. Dan jawaban itu justru muncul dan lahir bukan pada saat saya sedang ingin menjawab pertanyaan itu. Tetapi justru pada saat tersudut o;eh suatu kenyataan atau fakta hidup yang ketika saya mencoba untuk menelusurinya, aliran itu berhulu kepada pertanyaan tersebut.

Misalnya saat saya terlalu lama melalaikan Sang Maha Esa. Selain kebodohan saya karena ketidak pekaan saya dengan apa yang ada di sekeliling saya sendiri. Juga tidak memaksimalkan fungsi mata, telinga, kepintaran dan ujungnya pada ketumpulan pikir dan hati, akhirnya saya bertemu dengan apa yang disampaikan Al Quran tentang orang yang menolak sebuah ajakan: Dan apabila dikatakan kepada mereka, Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul: Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya). Apakah (mereka) mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk. (QS, 5:104).

Dan seperti orang bijak, maka belajar dan perubahan haruslah mulai dari saya sendiri; mulai dari yang paling mungkin dan paling bisa serta paling mudah; dan mulai saat kesadaran itu lahir.

Motivasi lain yang memungkinkan hati saya menjadi lebih bergembira lagi adalah apa yang disampaikan oleh Musa Al Asy’ari RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku diutus oleh Allah Azza wa Jalla untuk menyampaikannya adalah seperti hujan yang turun ke bumi. (1).Ada tanah subur yg langsung menyerap air itu, lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yg rimbun. (2) Ada tanah keras yg menahan air, sehingga dgnnya Allah memberi manfaat kpd manusia, dimana mereka dpt minum, mnenyiram tanaman, dan beternak dgn air tersebut. (3) Ada pula hujan yg jatuh di tanah tandus yg tdk dpt menahan air dan tidkbisa menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan org yg memahami dan mempelajari Allah Azza wa Jalla serta mengambil manfaat darinya melalui apa yg Allah utus kpdku. Kemudian ia memahmi dan mengajarkannya. Juga perumpamaan org yg tdk berkeinginan utk mempelajari agama Allah dan tdk menerima petunjuk-Nya yg aku diutus karenanya. (HR Muslim 7/63) - M Nashiruddin Al Albani. 2006. Ringkasan Sahih Muslim. Azzam: 246-247.

Itulah antara lain yang selalu memberikan dorongan kepada diri saya untuk terus melakukan pembenahan. Saya meyaini sekali bahwa keberuntungan hanya lahir manakala kita hari ini menjadi berkorelasi lebih (lebih besar, lebih banyak, lebih baik, lebih mulia) dari hari sebelumnya. Dan untuk sebuah korelasi itu kita dapatkan bilamana kita berikhtiar secara keras, cerdas, tuntas dan holistik.

Saya harus menyediakan diri sebagai lahan yang subur. Dan oleh karenanya saya merelakan semua informsi yang ada menjadi bahan bagi saya untuk menumbuhkan diri. Lalu dari sana saya mencoba memilah dan memilih informasi tersebut dalam aspek analisa di tataran ranah kognitif.
Selain apa yang ada dalam diri saya sendiri yang medorong saya harus belajar, saya juga menjadi iri hati saat melihat kenalan, teman, saudara, yang saat bertemu untuk sekian lama telah merubah koordinat martabatnya. Dan itu semua mustahil tanpa ikhtiar keras mereka dalam melakukan belajar.

Dan semakin menuju ke hilir, semakin yakin bahwa, hanya belajarlah yang memungkinkan kita menjadi dewasa melihat hidup dan yang memberi hidup. Yaitu Yang Maha Hidup. Dewasa dalam arti saleh secara sosial dengan fondasi transendental yang disebut; dua kalimat tayibah.

Jakarta, 8 Agustus 2010.

03 Agustus 2010

Tetapi


Di tahun 1996, saat kali pertama saya harus membuat rapot komentar di setiap Triwulan, saya mendapat masukan dari Kepala Sekolah untuk mengedit penggunaan kata tetapi. Misalnya ketika saya menuliskan kemajuan siswa saya terhadap penguasaan materi pelajaran tertentu, lalu di tengah kalimat itu ada kata tetapi yang disambung persyaratan yang masih harus dipenuhi si anak agar mencapai hasil belajar lebih maksimal lagi.


"Pak Agus tidak perlu menggunakan kata tetapi. Karena kata itu menjadi bermaksud melemahkan apa yang Pak Agus sampaikan di depan. Sampaikan saja bahwa nilai baik sudah berapa yang telah dicapai dan mungkin masih ada yang perlu dicapai lagi tanpa menggunakan kata tetapi." Kata Kepala Sekolah saya. Dan tak lupa Ibu Kepala Sekolah itu memberikan beberapa lembar foto copian contoh-contoh komentar yang baik sebagai panduan ketika kita, guru, sedang merumuskan komentar di rapot.


Lain pengalaman saya ketika menulis rapot, yaitu saat saya memberikan masukan kepada teman kantor ketika diskusi sedang berlangsung. Masukan itu saya sampaikan sesuai dengan apa yang disampaikannya kepada saya untuk memberikan kemungkinan solusi atau alternatif penyelesaian dari masalah yang sedang dihadapinya. Dan masukan itu tak satupun dapat melegagannya karena selalu saja ia menyetujui analisa saya, untuk kemudian mengatakan tetapi.


Dan pada ujungnya, saya paham bahwa, kata tetapi-nya itu sekadar untuk membela diri. Karena untuk apa ia membuka masalahnya dihadapan saya dan meminta saya untuk turut serta menjadi bagian dengan cara memberikan masukan pemecahan dan ketika usulan saya lempar selalu kata tetapi yang keluar dari setiap argumentasinya? "Saya setuju dengan masukan Bapak. Masukan itu bagus sekali. Tetapi sulit rasanya jika sayalah orang yang harus pertama kali yang memulai?"


Dalam situasi yang berbeda, saya juga menemukan kata tetapi. "Benar Pak apa yang Bapak sampaikan kepada saya sebagai teguran itu. Tetapi Bapak harus tahu kalau saya sebenarnya baru saja keluar kelas Pak?". Kalamat ini sebagai argumentasinya ketika saya sampaikan bahwa kelasnya kosong sehingga tidak ada yang mengawasi siswa di dalam kelas. Padahal semestinya kelas itu masuk dalam mata pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya.


Atau kata sepadan ini: "Memang hal itu saya akui Pak. Tetapi ini adalah kali yang pertama saya melakukannya." Atau hal yang paling keseharian: " Benar saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga Pak untuk datang tidak terlambat. Tetapi di tengah jalan tadi ban motor saya kempes." Atau yang lain lagi: "Terima kasih Pak masukannya. Tetapi Bapak juga harus memahami saya."


Mungkinkah kita tidak meggunakan lagi kata tetapi ketika berargumentasi? Menurut saya bisa dan harus. Mengapa? Karena salah satu sisi buruknya dari kata tetapi dalam perilaku hidup kita adalah sikap untuk melakukan pembelaan diri atau defensif. Dan perilaku ini merupakan hambatan pada diri kita untuk tumbuh menjadi lebih baik, lebih besar, lebih tinggi, serta lebih bermakna.


Jakarta, 3 Agustus 2010.

“Repot Pak!”

Repot Pak. Begitu siswa saya menjawab dan berargumentasi untuk menggulung bagian bawah celana panjangnya saat akan mengambil air wudhu sebelum shalat jamaah di masjid sekolah kami. Saya persis ada di belakang anak-anak itu untuk segera mengambil antrian di depan kran air, melihat dan memberikan koreksi tentang cara berwudhu kepada anak-anak.

Dari aktivitas ini, saya masih menemukan bebrapa siswa yang kurang pas dalam cara berwudunya. Sebagian mereka masih memiliki prinsip asal. Yaitu asal sudah ‘wudhu’. Sikap yang mungkin juga sudah berubah menjadi rutinitas. Hingga melupakan esensi dari kegiatan utama dan mulia dalam rangkaian mengagungkan Allah.

Komentar dari salah satu siswa itu keluar saat ia kedapatan oleh saya hanya menarik celana panjangnya dengan tidak sempurna, dan mengarahkannya telapak hingga mata kakinya di bawah guyuran air kran yang setengah deras. Cara demikian membuat wudhunya tidak sempurna. Dan juga membuat ujung celana panjangnya basah kuyup. Saya mencoba memintanya mengulang dengan terlebih dahulu menggulung celana panjangnya. Dan dengan sedikit malas-malasan ia menolak dengan argumentasi "repot". Jawaban itu membuat saya sedikit 'berusaha' dengan anak tersebut.

Saya minta ia dan beberapa temannya untuk berhenti sejenak. Pertama yang saya minta kepada mereka adalah menggulung bagian bawah celana panjangnya dengan sempurna hingga di tengah betis masing-masing. Tentu menggulungnya dengan sedikit membungkuk dan melipat ujung celana panjang itu ke atas. Bukan sekadar menarik di bagian paha tanpa menundukkan bahu sedikitpun. Cara menggulung yang sederhana ini untuk memastikan bahwa membasahi kaki hingga mata kaki dengan air wudhu dapat dengan pasti dilakukannya.

Dan ternyata tidak semua dari mereka dapat melakukan hal tersebut dengan cekatan dan sempurna. Saya sedikit kaget dengan kenyataan itu. Inilah generasi penerus saya. Saya coba memberikan contoh menggulung celana 'yang baik'.

Dan untuk memberikan motivasi kepada mereka tentang bagaimana murahnya Allah kepada kita, saya coba membacakan hadis Rasulullah SAW; Dari Umar r.a. ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang dari kamu yang berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian ia mengucapkan: Asyhadu anla illaha illAllah wahdahu lasyarikalah. Wa Asyhadu anna Muhammadan ’abduhu wa rasuluhu; kecuali dibukakan baginya pintu surga yang delapan. Ia boleh masuk dari pintu mana saja yang ia mau.” (HR Muslim & Tarmidzi, di ambil dari Buku Terjemah Bulughul Maram. Al Hafid Ibnu Hajar As Qalani. Bandung. Halaman 27))

Saya berharap dengan apa yang saya sampaikan itu siswa menjadi lebih terdorong untuk berusaha lebih baik setiap hari. Maka dengan motivasi hadis tersebut, saya bermaksud merubah visi mereka dalam hal mengambil air wudhu. Karena saya yakin, bahwa hanya dengan bervisilah akan lahir sikap sungguh-sungguh dalam memperjuangkan sesuatunya. Jangan sampai penyakit ‘repot’ sebagaimana yang terjangkit pada diri mereka menyebar ke bagian dan sendi kehidupan lainnya. Amin.

Jakarta, 3 Agustus 2010.

01 Agustus 2010

Merealisasikan Konsep, Butuh Kesabaran dan Ketabahan


Pada tahun 2005 yang lalu, saya mendapatkan riskyi berupa kesempatan untuk membantu sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pesantren di sebuah provinsi di Sulawesi. Sebuah lembaga yang didirikan dengan semangat penuh untuk berkontribusi kepada masyarakat yang tinggal di daerah asal pendirinya. Dengan melihat visinya, saya menyimpulkan bahwa ikhtiar pendirian lembaga pendidikan ini adalah bagaimana sang pendiri berusaha memberikan imbas sosial atau kermanfaatan horisontal yang luhur kepada masyarakat serumpunnya. Sebuah semangat yang harus menjadi bagain dari kita semua.


Saya bukan orang pertama yang diajaknya ikut terlibat dalam pengembangan lembaga ini. Ada beberapa pihak yang menjadi patron lembaga ini sebelumnya, yang boleh dikatakan lembaga pengembangan papan atas dengan sokongan langsung dari Universitas ternama di Jawa. Namun sebagai orang yang diberikan amanah untuk ikut berkontribusi, saya mencobanya.


Kedatangan saya yang pertama adalah memberikan semangat tambahan kepada seluruh stake holder pesantren tanpa terkecuali. Dan selama waktu yang tersedia itu, saya berusaha menyerap dan mencecap manis, pahit, getir, mimpi, semangat, dan gairah yang ada dan hidup di dalam komunitas itu. Dua kali saya masuk ke dalam kelas untuk mengajarkan cerita selain pelatihan dan bermain bersama. Tentunya ditonton oleh beberapa guru yang ada di situ.


Alhamdulillah, atas izin-Nya, kedatangan saya ini seolah memberikan harapan besar kepada semangat baru bagi perubahan dan pengembangan etos kerja. Pada tahapan berikut, lahan pinggir sungai yang semula kurang menjadi perhatian, dengan semangat dan cara pandang baru menjadi lahan yang memberikan kelimpahan sumber makanan yang tiada habisnya. Ada bawang merah, cabai, terong, bayam, kangkung, singkong, kacang tanah, ubi, yang semua adalah bahan makanan bagi penghuni pesantren tanpa terkecuali.


Lalu enam bulan berikutnya, saya kembali ke lokasi yang sama guna membangun diskusi dan mengelaborasikan ke dalam sebuah konsep. Dengan semangat ini, diharapkan akan melahirkan sebuah komunitas kebersamaan. Kebersamaan dalam membangun visi dan misi serta tujuan perjuangan, kebersamaan dalam berkomitmen kepada apa yang telah dirumuskan dalam visi, misi dan tujuannya, dan kebersamaan dalam mengikhtiarkan apa yang telah disebutkan itu. Dalam tiga tahap (konsep, komitmen, dan pelaksanaan) tersebut bila dapat dijalani dengan baik, kami berpikir hal ini akan menjadi modal bagi pengembangan pesantren pada tahun berikutnya. Yaitu dengan melakukan monitoring dan evaluasi untuk kemudian membuat rumusan baru yang mungkin akan lebih menantang, lebih tajam, lebih inheren, dan lebih prosfektif. Ini adalah visi kedatangan saya pada kali kedua.


Alhamdulillah, sekali lagi atas izin Allah seru sekalian alam, setelah membagi seluruh komponen yang ada dalam komisi-komisi yang kami perlukan dalam penyusunan konsep sebuah lembaga yang transparan dan egaliter, dengan terlebih dahulu menyepakati aturan, goal, dan strategi pencapaiannya dari masing-masing komisi, tahapan ini kelar dengan sangat baik. Konsep berhasil kami rumuskan dan kami tetapkan bersama.


Ada tentang target kompetensi siswa, kompetensi guru, serta keseluruhan dari apa yang menjadi komponen yang harus ada di sebuah sekolah yang baik, terumuskan dengan rapi dalam satu dokumen sekolah. Tentunya tidak ketinggalan menentukan siapa yang harus memegang amanah tertinggi dari apa yang telah berhasil dirumuskan tersebut. Sepekan saya bersama seluruh komponen lembaga itu dengan terus menerus berdiskusi dan berdialog hingga sebuah kesimpulan lahir.


Apa yang menjadi pengalaman saya itu, sebuah pengalaman yang sering menyentak kesadaran saya sendiri hingga sekarang ini. Bahwa kesadaran untuk tumbuh dan berkembang adalah milik kita bersama. Tidak ada satupun komponen yang ada di lembaga tersebut yang tidak berkeinginan untuk tumbuh dan berkembang. Semua ingin, namun dalam skala, koordinat, dan cara melihat yang berbeda.


Dan oleh karenanya menyatukan komponen yang ada untuk bersama-sama membuat rumusan komitmen atas visi, misi, dan tujuan bersama, menjadi bagian yang penuh gairah. Namun harus diwaspadai bahwa memandu pertumbuhan dan pengembangan dalam sebuah lembaga jauh lebih sulit dan penuh kesabaran dan ketabahan.


Dan selain membutuhkan sikap visioner dari kita, saya justru menduga bahwa kesabaran dan ketabahan adalah satu unsur yang jauh lebih dituntut dari dalam diri kita. Dan dua hal inilah yang sering menjadi pintu masuk keputusasaan. Bagaimana dengan Anda?


Jakarta, 1 Agustus 2010.