Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Agustus 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #29; Resign

Setiap di akhir tahun pelajaran, di sekolah selalu ada sahabat, teman, atau bahkan juga guru saya sendiri, yang mengajukan surat pengunduran diri sebagai guru atau karyawan per tahun pelajaran baru nanti, yang akan mulai di bulan Juli setiap tahunnya. Kenyataan ini memang tidak bisa dicegah mengingat, sebagai lembaga pendidikan formal swasta, teman-teman dimungkinkan untuk mengundurkan diri.

Dan buat saya, apa yang menjadi penyebab teman kerja itu mengundurkan diri yang layak kami dengar. Ada yang mengundurkan diri karena memang di tahun pelajaran baru nanti ia akan mendapat amanah yang lebih besar, yang tentunya kesempatan yang lebih banyak juga, di lembaga  lain. Dan ini yang membuat kami bangga. Karena ia telah bersama kami dalam bertumbuh. Dan kepadanya kami akan sampaikan harapan kami, agar ia tetap mendapatkan kebaikan. 

Ada pula karena alasan keluarga, sehingga teman itu harus mengundurkan diri. Karena selama ini harus meninggalkan anak-anak mereka yang masih relatif kecil untuk diajak prihatin dengan eyang-nya atau hanya dengan asisten rumah tangganya yang telah menginjak usia lanjut. Dan ini tentunya alasan yang paling rasional mereka ambil mengingat ia sendiri tidak terlalu memungkinkan untuk maksimal sebagai profesional di kantornya atau juga menjaga balitanya di rumah. Atau ada pula yang harus mengundurkan diri dengan alasan yang bukan seperti apa yang tertera di atas tersebut. Alasan pribadi.

"Jadi apakah masih memungkinkan bila Bapak mempertimbangkan saya untuk mutasi di bagian lain agar saya tidak dalam satu bagian kerja dengan pasangan Pak?" Demikian pernah dia menyampaikan hal seperti itu kepada atasannya. Namun Pak atasan sepertinya memiliki alasan yang berbeda mengapa dia tidak bisa menerima permohonan karyawannya. Alhasil, hingga akhirnya datang surat pengunduran diri yang disampaikan ke lembaga karena keinginan untuk tidak dalam satu bagan dengan istri tidak dapat diterima oleh ketua lembaga.

"Apakah ada alasan yang bisa saya tahu mengapa teman itu harus tidak memperoleh persetujuan untuk pindah di bagian lain Pak." Demikian saya mencoba menemukan apa yang menjadi dasar pertimbangan teman itu harus tidak berada di bagian lain setelah mereka melangsungkan pernikahan. Tentunya adalah selain alasan yang pernah disampaikan bahwa itu adalah amanat peraturan lembaga. 

Dalam catatan ini saya sedikit akan menuliskan mengapa teman saya tersebut tidak memberikan sinyal hijau atas permohonan pendidiknya yang mengajukan agar dapat berpindah ke bagian lain. Dan meski telah berkembang rumor yang tidak enak, maka teman saya menceritakan kepada saya duduk dari permohonan yang tidak disetujui itu.

"Jadi begini Gus, lambaga memahami sekali akan kepentingannya, selain kepentingan the couple tersebut. Dan karenanya lembaga memberikan jalan tengah yang baik. Mereka tetap tidak dalam satu bagian dan juga  tetap berada dalam lembaga. Namun entah bagaimana mereka datang kepada kami dan mengajukan proposal yang hanya memihak kepada mereka berdua. Kami jelaskan, tetapi justru mereka memilih untuk resign." 

Cerita teman itu sekaligus menambah data buat saya berkenaan degan 'perubahan' yang ada di sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya teman yang mengundurkan diri dari lembaga berarti juga akan meninggalkan lowongan kerja. Dan ketika ada pendidik yang baru, yang datang sebagai pengganti, maka pada sisi ini kita sedang dalam dua mata yang saling memungkinkan. Itu karena pengganti akan lebih baik dari yang resign, atau kebalikannya...

Jakarta, 19-29.08.2016.

Pergi ke Semarang

Penampakan Semarang dari Google map.
Bukan berlibur sesungguhnya yang sedang kami lakukan, saya dan teman-teman, ketika kami berangkat ke Semarang. Ini karena; kami hanya melakukannya dalam waktu yang singkat, yaitu hanya satu malam. Maka sesungguhnya kami sedang menjalani ketidakrutinan. Itulah yang kami lakukan ketika tujuannya adalah Semarang. Dengan waktu tempuh 45 menit via udara atau 6 jam bila moda kereta api sebagai pilihannya.

Melihat jejak Sam Poo Kong
Peta jaringan Kereta Api zaman Belanda di Lawangsewu.


Ya memang itulah yang kami jalani selama lebih kurang 30 jam berada di kota semarang. Sampai pukul 09.00 setelah harus menunggu di ruang tunggu terminal 2F tidak kurang 40 menit dari jadwal yang semestinya. Dan harus kembali dengan Argo Muria esok harinya tepat pukul 16.00.
Manikmati Bendungan Jatibarang dan Goa Kreo
Kebersamaan. Inilah yang kami dapatkan dalam perjalanan singkat kami ke Semarang. Bersama di ruang tunggu, bersama menunggu makanan yang dipesan datang tersaji, bersama dalam kendaraan yang kami sewa yag ketika pulang ternyata tidak banyak tempat untuk kami bisa duduk dengan nyaman mengingat kami harus berbagi dengan kardus oleh-oleh.
Semarang Timur dari atas menara Masjid Agung Jawa Tengah.

Jakarta, 29 Agustus 2016.

12 Agustus 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #30; Bolehkah Mulai Besok Saya Datang Pukul 08.00?

Dalam suasana pengembangan sekolah yang membutuhkan beberapa posisi yang harus bertukar, berubah, atau rotasi, maka ada beberapa teman yang semula ada di bagian manajemen harus kembali ke staf pendidik, atau demikian pula ada pula yang sebelumnya sebagai full time pendidik kemudian kami berikan tugas tambahan sebagai manajemen. Ada pula yang hanya bergeser menempati unit kerja yang berbeda meski jabatan teman itu tetap sama, yaitu sebagai Kepala Sekolah. Ini semua kami butuhkan setelah perjalanan waktu memberikan kepada kami umpan balik untuk melakukan sesuatu yang berbeda atas nama pengembangan lembaga sekolah kami.

Dan tujuan pengembangan bagi sekolah kami, yang adalah merupakan lembaga pendidikan formal swasta, tidak lain adalah sebagai upaya agar kami dapat terus memberikan kontribusi terbaik bagi generasi bangsa. Dengan cita-cita ini, maka kami dimungkinkan untuk terus berkembang secara berkelanjutan. Dan itu semua kami yakini berawal dari mengembangkan guru dan pendidik kami secara optimal.

Namun dalam salah satu usaha yang kami terus lakukan itu, ada salah seorang teman yang ketika harus berpindah dari satu unit kerja ke unit kerja yang lain, meski tetap dalam strata manajemen, menyampaikan kepada saya sebuah permohonan, dalam sebuah forum resmi manajemen. Dimana di forum tersebut hadir penentu kebijakan yang ada di lembaga kami.

"Pak Agus, kalau begitu, mulai besok senin saya boleh datang ke sekolah jam 08.00? Kan saya sudah tidak berhadapan langsung dengan siswa?" Demikian permohonannya. Saya, dan saya meyakini yang ada di forum itu, terkaget dengan kalimat yang disampaikan oleh salah satu dari manajer kami itu. Dan karena kalimat yang disampaikan langsung ditujukan kepada saya, maka saya mencoba sigap mencari kalimat jawaban yang intinya adalah TIDAK.

"Tidak bisa Ibu. Kalau  itu yang Ibu lakukan, maka kesaktian Ibu sebagai manajemen di lembaga ini akan langsung lenyap." Kata saya memberikan jawaban awal. Saya melihat perubahan situasi dalam forum tersebut. Termasuk melihat kepada raut muka Ibu tersebut dan juga kepada wajah wakil saya yang sehari-hari selalu siap dan sedia menjadi tangan kanan lembaga.

Nampaknya yang berkembang kemudian adalah sulitnya sebagian orang yang ada di dalam forum itu menerjemahkan apa yang saya maksudkan dengan sakti. Beberapa teman sulit memaknai secara hakiki apa yang saya maksudkan. Selain tentunya kalimat pertamanya; tidak bisa.

Maka saya sampaikan dalam forum bahwa, sebagai manajemen, hal utama yag harus menjadi pegangan kita adalah teladan. Dan hal krusial yang nantinya menjadi patokan adalah jadwal kerja kita. Maka kalau manajemen datangnya sering terlambat menuju ke kantor, jangan pernah berharap jika menyampaikan sesuatu kepada stafnya akan benar-benar akan dijalankan. Itulah yang saya maksudkan dengan sakti. begitu sederhana. 

Jakarta, 12.08.2016.

09 Agustus 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #28; Dimana Harga Diri Saya Pak?

Rotasi guru dalam proses untuk mencapai kebaikan individu dan juga lembaga secara keseluruhan, menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Biasa jadi kegiatan pergeseran atau sering disebut sebagai mutasi tersebut karena kita ingin memberikan kesempatan kepada individu yang bagus untuk berkembang lebih baik lagi, ada pula kalanya kita 'menyimpan' individu yang memang sering kita menerima masukan baik dari teman yang ada pada posisi horisontal atau juga yang berada di vertikal. Bahkan tidak jarang, bagi kami yang bergerak di dunia pendidikan formal, sekolah, masukan paling gencar adalah dari pihak orangtua siswa.

Khusus untuk mutasi individu, hal ini dilakukan antara lain kerena atau atas dasar dari masukan orangtua, dan itulah yang menjadi catatan saya kali ini. Ini karena telah berulang kali kami mencoba menetralkan masalah yang tumbuh dan berkembang berkenaan dengan perilaku dan kesungguhan dari teman kami di dalam menangani peserta didiknya di dalam kelas, juga tidak jarang kami harus mencoba secara persuasif memberikan masukan kepada individu dimaksud atas masukan yang kami terima, yang jika kami amati sumber masalahnya ada karena tidak totalnya teman kami tersebut dalam mengemban amanah keguruannya di hadapan peserta didiknya.

Diantara hal yang menjadi ketidaktotalan dalam merealisasikan amanah keguruan tersebut adalah membawa masalah kehidupan pribadinya ke dalam ranah profesi yang diembannya. Hal ini menjadikan kerancuan pikir yang pada ujungnya berdampak kepada situasi batin yang sering melahirkan amarah yang tidak pada tempatnya. Atau juga pada ranah semangat dirinya dalam mengemban tugas. Terlalu terbawa suasana hati yang malas. Ujungnya adalah pekerjaan yang dijalaninya dilakukan tidak dalam kecermatan dan ketelitian. Juga pada akhirnya pengembangan diri menjadi hal yang tidak masuk dalam skala prioritasnya.

Dengan hal-hal yang demikian itu, maka kunjungan dari pihak orangtua atau juga melalui pesan di seluler datang kepada Kepala Sekolah untuk mempertimbangkan masukannya sebagai bagian dari pengambilan keputusan. Maka tahapan-tahapan pembinaan dicoba untuk disampaikan dengan tata kerama yang se-santun-santunnya. Termasuk di dalamnya adalah pilihan kata yang akan disampaikan.

Namun jika pun apa yang telah diupayakan sebagai bahan perbaikan individu juga telah berlangsung dan proses perbaikan memang tidak tampak secara signifikan, maka standar lembaga akan menjadi indikasi bagi Kepala Sekolah untuk menemukan solusi atas semua itu. Maka kepada individu tersebut bisa jadi masuk dalam proses mutasi. Dan karena posisi  guru hanya ada pada posisi guru utama, guru pendamping, dan guru spesialis, maka pada posisi-posisi yang ada itulah kami menentukan dimana paling pas kepada individu yang kami maksudkan.

Lalu ketika posisi telah diputuskan oleh Kepala Sekolah bersama kami sebagai bagian dari strategi sukses pada tataran lembaga, maka menjelang liburan yang lalu ada pesan seluler yang masuk di Kepala Sekolah bahwa salah satu individu yang terdampak mutasi menyatakan kalau dirinya tidak mendapat penghargaan yang selayaknya dari lembaga.

"Dimana harga diri saya Pak?" Demikian lebih kurangnya apa yang kami baca di layar seluler kami. Dan kalimat ini membuat kami termenung, mengapa individu kadang merasa dirinya begitu layak mendapat penghormatan sementara kinerja riilnya begitu tidak dijadikannya pertimbangan untuk menakar harga dirinya?

Maka inilah yang menjadi agenda professional development di lembaga kami untuk mengawali tahun pelajaran baru dalam langkah kami melakukan pengembangan diri dan pengembangan lembaga, sebagaimana semangat kami untuk melakukan transformasi...

Jakarta, 8-9.08.2016

08 Agustus 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #27; Mengapa Kami Berbenah?

Mengapa kami begitu giat melakukan transformasi di sekolah kami yang swasta? Meski sekolah kami adalah sekolah swasta yang dari awal berdiri hingga dekade 2010 memiliki siswa yang selalu penuh di kelas-kelas kami yang ada. Meski beberapa hal yang memberikan indikasi sesuatu yang 'berubah' pada perjalanan siswa baru sejak dekade 2000-an. Indikasi tersebut antara lain adalah tentang pergeseran demografi, sosial, dan ekonomi terhadap generasi yang masuk sebagai siswa kami jika kami melihatnya di era kami sejak sekolah kami berdiri hingga dekade 2000-an tersebut. Meski hingga tahun 2010-an sekolah kami masih belum memperlihatkan data siswa yang mengalami penurunan.

Namun sejak tahun pelajaran 2011 hingga tahun ini, 2016, data mengenai jumlah siswa kami yang menurun tidak dapat dipungkiri. Hal inilah yang membuat kami semua berbenah diri. Mencari tahu mengapa kami kekurangan siswa untuk memenuhi bangku kelas yang ada di ruang kelas kami.

Dan karena penurunan jumlah siswa tersebut juga menjadikan penurunan kepada jumlah kelas yang ada di sekolah kami, maka sebagai jalan keluar untuk menjaga kelebihan tenaga pendidik, maka beberapa langkah telah kami jalani. Seperti misalnya, tidak merekrut guru baru sebagai pengganti guru kami yang memasuki pensiun. Atau juga memberikan penawaran kepada Bapak atau Ibu guru yang memilih untuk pensiun lebih awal.

Mengapa keterpenuhan bangku siswa di kelas menjadi tolok ukur bagi kami? Ini karena kami adalah sekolah swasta yang sebagian besar biaya operasionalnya bersumber dari peserta didik yang ada. Untuk itu, tidak bisa tidak maka keterpenuhan bangku siswa menjadi impian kami.

Mengapa ada perubahan latar belakang keluarga yang masuk di sekolah kami belakangan ini? Karena perkembangan keluarga mampu yang ada di sekitar sekolah kami memungkinkan anggota masyarakat tersebut memilih sekolah yang sesuai dengan harapan mereka yang tentunya telah berubah dengan generasi masyarakat sebelumnya. Dan ini juga berarti masyarakat telah memiliki benchmark bagi sekolah yang berkualitas.

Setidaknya dengan beberapa hal tersebut diatas, maka kami sepakat untuk melakukan transformasi diri. Bahwa tidak dapat dipungkiri, masa lalu dan apa yang sedang kami terima sekarang ini adalah cermin untuk kami melakukan pembenahan, perbaikan, pembelajaran, dan transformasi.

Harapan dari semua itu tidak lain adalah eksistensi kami untuk dimasa-masa mendatang. Eksistensi yang panjang. Tentunya jika kami berkomitmen menjadi motivasi untuk terus  berbenah, berubah dan bertransformasi. Dan kami meyakini bahwa keberhasilan hanya kami dapat jika kami benar-benar dapat menjadikan diri-diri kami sebagai pribadi yang berdaya saing. Karena dengan demikian kami akan menjadi sebuah lembaga yang berdaya saing.

Dan berbenah menuju lembaga yang memiliki daya saing tidak lain jika kami secara jujur menemukan koordinat persaingan yang sekarang ini sedang menjadi tolok ukur masyarakat. Dan kami menemukan hal itu, yaitu dengan menjadikan kami, guru, sebagai pribadi yang memang unggul. Tentunya, sekali lagi, dengan parameter yang diyakini masyarakat sekarang ini. Semoga.

Jakarta, 8 Agustus 2016.

06 Agustus 2016

Menemukan Sekolah Baru

"Pak Agus apakah sudah dapat kabar kalau Alif dan Alfa sudah pindah ke Sekolah Baru?" Pertanyaan seorang teman guru di ruang kantin sekolah, ketika kami bertemu pada awal pekan kedua sekolah memasuki tahun pelajaran baru, 2016/2017. Kebetulan kami sedang memesan makan siang di kantin.

Perlu saya sampaikan juga bahwa Alif dan Alfa beberapa waktu yang lalu datang ke sekolah untuk berkunjung dan sekaligus janjian untuk bertemu teman-temannya. Itu kalau tidak salah masih dalam pekan kedua di 2016/2017. Pada saat itu ia menceritakan bahwa mereka berempat berada di satu sekolah. Dan itu memungkinkan lebih enak dibanding dengan beberapa temannya yang ketika masuk sebagai siswa baru di jenjang pendidikan SMA hanya sendirian yang berasal dari sekolah yang sama.

Maka pada pertemuan waktu itu, yang saya ingin ketahui dari anak-anak alumni sekolah kami adalah apa yang mereka rasakan dengan sekolah barunya. Selain untuk anak-anak membuat katarsis jika ada, juga sebagai koreksi dari kita yang telah mereka jalani selama menjadi siswa kami.

"Bagaimana dengan kabar kalian semua? Apakah sudah mulai tune in dengan sekolah dan lingkungan barunya?" Kata saya saat itu. Dan mereka secara bergantian memberikan jawaban dengan kalimat yang berbeda-beda tetapi dengan kesan yang sama, yaitu bahagia dengan sekolah barunya, dengan seragam barunya, dan juga dengan teman-teman barunya. Hanya dengan beberapa guru yang mereka sampaikan catatan khusus sekali.

Lalu waktu itu saya mencoba ingin tahu lebih jauh mengapa kepada guru mereka memberikan catatan khusus. Saya ingin tahu hal itu, karena setidaknya pandangan mereka akan bisa memberikan kepada saya masukan harus berbuat seperti apa kedepannya. Dan diantara mereka memberikan pandagan sesuai apa yang mereka persepsikan. Seperti guru yang dandannya menor, tertib sekali sampai gerak saja ngak bisa, badannya bau rokok, bahasanya judes sekali, sudah terlalu tua, dan beberapa kalimat lain yang saya sendiri ssmpai lupa menceritakannya disini.
.
Pendek kata, yang dapat saya simpulkan dari apa yang mereka sampaikan tersebut adalah, adanya perbedaan antara budaya kami di sekolah ketika mereka semua manjadi siswa kami, dengan sekolah mereka yang baru, yang jumlah siswanya ada 34 sampai dengan 38 siswa dalam satu ruang kelas.

Dan kembali lagi dengan pertanyaan teman saya berkenaan apakah saya sudah tahu kalau Alif dan Alfa sudah pindah sekolah ke sekolah lainnya meski tahun pelajaran baru dua pekan berjalan? Rupanya itu semua antara lain yang menjadi alasan anak-anak alumni itu hanya memasuki sekolah yang menjadi 'pilihannya' selama 10 hari sekolah. Maka kabar bahwa Alif dan Alfa serta beberapa temannya pindah sekolah di awal tahun pelajaran baru segera kami jadikan bahan diskusi. Ini tidak lain karena kami ada di sekolah swasta. Setidaknya diskusi kami akan mengerucut untuk pengembangan budaya sekolah yang positif. Terutama bagi anak-anak yang mengawali masuk sekolah sebagai sekolah baru mereka!

Jakarta, 28 Juli- 6 Agustus 2016

05 Agustus 2016

Gelombang Tsunami

"Kami masuk ketika sekolah akan kembali normal kurang dari dua hari Pak." Demikian seorang alumni datang kepada saya bercerita tentang sekolah barunya. Mereka berkunjung bersama-sama untuk saling bertukar kangen di halaman sekolah ketika jam bubaran sekolah.

"Jadi kami teman-teman yang masuk sekolah itu hanya H-1 pekan, menyebutnya sebagai gelombang tsunami Pak." Demikian lanjutnya. kebetulan kalimat tersebut disampaikan tidak dalam situasi yang ramai. Karena kami mengobrol agak terpisah dengan anak-anak yang lain yang benar-benar asyik dengan seragam barunya masing-masing.

Baik warna seragamnya yang menjadi berubah, juga adalah identitas yang ada di baju yang mereka kenakan. Bahkan beberapa anak perempuan juga berubah. Terutama bagi mereka yang kemudian mengenakan hijab dengan lebih rapi dan bagus. Alhamdulillah.

"Apa yang kamu maksudkan dengan gelombang tsunami? Memang ada pendaftaran siswa baru yang masuknya melalui gelombang tsunami?" tanya saya kepada anak tersebut.

"Iya... iya... Apa yang kamu maksud dengan gelombang tsunami itu?" Sambung teman yang ada disebelahnya. Ia ikut nimbrung terhadap apa yang sedang kami perbincangkan berkenaan dengan masuk sekolah di awal tahun pelajaran baru.

"Maksudnya kalau  teman-teman saya yang lain yang masuk sekolah tersebut melalui pendaftaran normal. Dan ketika mereka diterima maka mereka langsung melakukan penyelesaian administrasi. Juga yang diterimanya masuk dalam cadangan, maka ketika ada anak yang diterima tetapi tidak mengambil tanda terimanya, atau mengundurkan diri, maka mereka bisa masuk. Mereka-mereka ini masuk melalui gelombang pendaftaran peserta didik baru melalui jalur gelombang yang normal. Kalau saya tidak normal Pak." Jelasnya dengan runtut.

"Karena tidak normal itulah maka kamu masuk sekolah itu melalui gelombang tsunami?" Saya mencoba memperjelas apa yang menjadi penjelasannya.

"Iyalah Pak. Saya kan ketika ikut masuk dalam gelombang normal bersama teman-teman yang diterima dan cadangan itu, statusnya TIDAK DITERIMA. Makanya ayah dan ibu selalu bertanya kepada pihak sekolah agar tetap dapat diberikan kesempatan untuk dapat masuk. Maka ketika H-2 sekolah menelepon orangtua saya, orangtua saya langsung melakukan kelegkapan administrasinya."

Saya dan teman-teman anak itu hanya tersenyum atas penjelasannya berkenaan dengan masuknya dia di sekolah terkenal se-Indonesia itu melalui jalur gelombang tsunami...

Jakarta, 5 Agustus 2016