Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Januari 2016

Antara Citra dan Fakta

Saya dalam kondisi yang harus merenung ketika ada teman-teman yang sibuk bukan main di organisasi profesi, yang merupakan organisasi nir-laba, yang oleh karenanya posisinya di organisasi itu seharusnya juga tidak ada pendapatan tetap bulanan. Sementara pada waktu yang sama, teman-teman itu bergelantung kepada profesinya sebagai guru! Dan dengan profesinya itu maka ia mendapatkan pendapatan tetap bulanan yang akan selalu masuk dalam rekeningnya. Tetapi jika melihat betapa jadwal hariannya yang padat, maka keberadaannya justru banyak di media sosial dengan aktivitas organisasinya daripada di lokasi dimana ia menyandang profesi sebagai guru. Inilah renungan saya, yang membuat dan mendorong saya, untuk mencatatnya di halaman ini. Inilah pula yang saya sebut sebagai kontradiksi antara citra dan fakta.

Mengapa Citra?

"Wah hebat sekali dengan Pak itu ya. Hebat. Membuat saya kagum. Kalau berbicara di depan umum dengan audiens sebanyak aula ini kok percaya diri dan terlihat pintar. Bahagia sekali lembaga atau sekolah yang menjadi tempat mengabdinya sehari-hari. Pasti jadi guru hebat di kelasnya. Juga pasti ia seorang Kepala Sekolah yang menginspirasi teman-teman kerjanya di sekolahnya." Beginilah lebih kurang deskripsi kalimat yang disampaikan oleh peserta seminar ataui peserta sosialisasi atau kegiatan publik lainnya yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dimana ia menjadi motor penggeraknya. Sebuah komentar yang dahsyat dan membanggakan.

Sebuah pernyataan yang merupakan asumsi tentang sebuah citra diri. Dan alangkah positifnya brand image yang terbangun dari sebuah kinerja panggung. Inilah gambaran dimana teman saya mendapatkan pujian dari lingkunganya di suatu acara.

Juga ada lagi seorang peserta seminar yang ketika selesai sesi menemui teman saya dan mengajaknya bercengkerama; "Pak, bagus dengan apa yang Bapak sampaikan. Saya setuju sekali. Pak apakah bisa saya disuatu saat nanti mengajak teman-teman guru di sekolah saya untuk berkunjung ke sekolah dimana Bapak sehari-hari mengejawantahkan profesi Bapak? Apakah persyaratan yang harus kami penuhi untuk itu?" 

Bagaimana Faktanya?

"Bu Kepala Sekolah, Pak itu hari ini kemana ya Bu? Kami di kelas tidak ada yang mengajar." Lapor seorang siswa di ruang Kepala Sekolah. Ia mewakili teman-temannya mengkonfirmasi sekaligus memberikan informasi bahwa ada guru yang tidak ada di dalam kelasnya ketika harus mengajar.

Jakarta, 29 Januari 2016.

28 Januari 2016

Jangan Rebut Guru Kami

Catatan saya ini ingin mengabadikan tentang kisah yang dialami oleh seorang kepala sekolah yang harus 'dimarahin' atau lebih tepatnya 'diceramahi' oleh teman kepala sekolah dari sekolah tetangganya karena harus menerima guru yang melamar di sekolahnya. Menjadi menarik buat saya karena temannya teman saya ini mempersalahkannya. 

"Apakah sejak awal Ibu tidak tahu kalau kandidat guru yang sedang Ibu proses itu adalah guru yang sedang mengajar dari sekolah tetangga Ibu?" Tanya saya mencoba melihat dari sisi yang berbeda.

"Saya memang membaca kalau kandidat itu masih sebagai staf pengajar di sekolah lain dari CV yang dikirim via pos. Tapi justru karena itu saya menjadi ingin tahu mengapa kandidat itu masih mau mengirimkan lamaran kepada kami?" Jelas teman saya.

"Terus apa informasi yang didapat setelah wawancara pertama dengan kandidat tersebut? Apakah Ibu dapat sesuatu yang dapat memberikan masukan sehingga Ibu berani mengambil dia sebagai guru Ibu?"

"Ya benar Pak. Setelah saya mendapat informasi dari dia maka saya mencoba memberikan penawaran untuk memberikannya sebagai guru di tahun yang akan datang."

"Lalu apakah selama proses berlangsung berarti kandidat itu harus meminta izin tidak mengajar di sekolah tetangga Ibu?"

"Karena itulah mungkin yang membuat teman saya menjadi gerah."

"Lalu dari mana kepala sekolah teman Ibu itu tahu kalau salah satu gurunya melamar di sekolah Ibu?"

"Kandidat itu sendiri yang menyampaikan kepada kepala sekolah teman saya."

Itulah yang menjadi kegalauan teman sesama kepala sekolah teman saya. Ia begitu menjadi sangat tidak dihargai oleh gurunya yang mengirim lamaran kepada sekolah tetangga dan sekaligus berlanjut mengajukan pengunduran diri. Dan wajar saja jika keluguan kandidat itu membuat atasannya uring-uringan.

Dan saya kira wajar juga jika kepala sekolah teman saya merasa bahwa gurunya direbut oleh temannya. Meski si gurunya tetap memiliki hak untuk menentukan pilihan lembaga yang diyakini membuatnya lebih baik di masa berikutnya.

Jakarta, 28 Januari 2016.

Bapak Main Saja, Bapakkan dari Kampung

"Bapak ikut main saja sama mereka, Bapak kan bisa. Bapak dan dari kampung." Demikian kalimat pernyataan dari seorang siswa saya yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, ketika bersama saya menonton teman-temannya yang sedang bermain congklak di halaman sekolah kami sebelum anak-anak itu masuk ke kelas setelah istirahat pagi.


Saya tersenyum senang dengan penuh ketulusan atas apa yang dia nyatakan. Kalimat yang dibuatnya itu benar-benar langsung dan benar-benar orisinil. Membuat saya justru tersenyum sekaligus kagum. Tersenyum karena sedikit kaget dengan kalimat yang dia sampaikan. Dan kagum karena saya tidak menduga sama sekali bahwa ada siswa kami di Jakarta memiliki kosa kata kampung. 

"Tidak. Pak Agus hanya ingin melihat teman-temanmu itu bergantian dalam bermain congklak. Kalau Pak Agus ikut main maka mereka akan antri lebih panjang lagi untuk dapat giliran." Begitu lebih kurang kalimat balasan saya.

"Dari mana kamu tahu kalau Pak Agus dari kampung?" Saya bertanya.

"Kan Bapak guru. Jadi dari kampung. Aku kalau pulang ke rumah nenek di Bandung juga bermain congklak sama teman di sana." 

Jakarta, 28 Januari 2016.

22 Januari 2016

Jangan Rebut Peserta Didik

Saya mendapat cerita dari seorang Kepala SD swasta di Jakarta atas keluhan teman sejawatnya, yaitu Kepala SD swasta juga,  yang menjadi tetangga sekolah perihal kepindahan siswa atau peserta didiknya. Ini terjadi manakala ada salah seorang peserta didiknya dari sekolah tetangganya yang mencoba untuk masuk atau pindah ke sekolahnya. Namun mengingat daya tampung sekolah yang sudah maksimal, maka ia meminta calon orangtua tersebut untuk menunggu hngga ada peserta didiknya yang pindah mengikuti orangtuanya. Dan ini kadang terjadi manakala ayah atau ibu anak-anak itu harus mendapat mutasi.

Akan tetapi, nampaknya informasi bahwa ada salah seorang peserta didiknya sedang berusaha masuk ke sekolah yang ada di tetangganya, maka Ibu Kepala Sekolah yang bersangkutan mengkonfirmasi kepada teman saya.

"Mengapa sebagai tetangga dekat Ibu menerima siswa kami yang akan pindah? Semestinya sebagai tetangga, dan sekaligus sebagai sama-sama sekolah swasta, Ibu tidak perlu menerima siswa pindahan dari sekolah kami." Begitu kira-kira kalimat aduan dan komplain dari teman sejawatnya kepada teman saya yang Kepala Sekolah.

Dan ketika selesai bercerita, saya mencoba bertanya kepada teman saya yang Kepala Sekolah itu;

"Berapa usia Kepala Sekolah yang siswanya akan pindah itu Bu?" Tanya saya untuk membuka percakapan.

"Sudah seperti kita Pak. Di atas lima puluh." Jawab teman saya.

"Mengapa orangtua tersebut ingin memindahkan putranya ke sekolah Ibu padahal sekolah itu berdekatan? Pasti bukan karena lokasi kan?" Tanya saya lagi.

"Bukan Pak. Menurut orangtua itu, motivasi ingin memindahkan putranya ke sekolah kami karena ia melihat dan mengalami sesuatu yang kurang pas terhadap guru-guru yang ada di sekolahnya sekarang. Dia sudah menahan diri. Juga sudah pernah menyampaikan apa yang menjadi konsernnya kepada Ibu Kepala Sekolah, tetapi seperti angin yang berlalu." Jelas teman saya itu.

"Lalu apakah Ibu Kepala Sekolah tetangga Ibu itu tahu persis terhadap isu-isu seperti itu dari pihak orangtua siswanya?" kata saya mencoba ingin tahu lebih detil.

"Tahu Pak." Jawabnya.

"Lalu mengapa Ibu Kepala Sekolah teman Ibu itu justru 'menyerang' Ibu sebagai sekolah pilihan barunya?" tanya saya lagi.

"Ya sebagai upaya agar siswanya tidak pindah berbondong-bondong Pak." Jelas teman saya.

Saya bersyukur bahwa saya hari itu mendapat cerita teman seperti itu. Bersyukur karena sebelum ceritanya saya tulis dalam catatan saya disini, saya sudah sampaikan kepada teman-teman saya yang ada di lembaga dimana saya berada, untuk tanggap terhadap 'perubahan' lingkungan. Agar teman-teman saya selalu mampu memberikan respon terhadap informasi dari sisi positif. Agar semua masukan dilihat dari kacamata kekurangan yang ada pada diri kita sendiri sehingga tidak bersikap bertahan serta menyalahkan persoalan ke[pada orang lain. Semoga.

Jakarta, 22 Januari 2016.

21 Januari 2016

Ini untuk Program KS Selanjutnya

Ini memang komentar yang sungguh saya tidak berharap keluar dari seorang Kepala Sekolah ketika saya menyampaikan sebuah paparan program yang kalau dijalankan dengan konsekuen dan berkelanjutan bisa menjadi salah satu daya saing sekolah. Dan ini membutuhkan semangat transformasi dari semua warga sekolah. Namun Kepala Sekolah-lah yang akan menjadi komandan bagi keberhasilan program yang di pilih untuk menjadi bagian dari keunggulan sekolahnya.

Maka tidak mengherankanlah jika dalam forum dimana saya sedang menyampaikan paparan di hadapan beliau beserta seluruh anggota yang ada di komponen sekolah, beiau menyampaikan komentar yang membuat saya kaget. "Saya perlu tegaskan yang Bapak dan Ibu Guru kalau hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru buat kita. Ini menyikapi atas jumlah siswa baru kita yang dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Dan ini nantinya menjadi program bagi Kepala Sekolah yang akan menggantikan saya, yang kasa tugas saya akan berakhir pada Juni 2016."

Dan sebagai keheranan yang tidak terkirakan atas statmen Kepala Sekolah itu, saya menjadi salah tingkah dan sulit menemukan kata atau kalimat berikutnya dalam melanjutkan paparan program yang seharusnya saya uraikan dan jelaskan. Saya tiba-tiba menjadi mati akal.

Saya merasakan kehambaran yang luar biasa dalam menghabiskan waktu paparan saya yang syukurnya hanya setengah hari. Ini  menjadi pengalaman terbaru buat saya dalam sebuah presentasi di pelatihan.

Karena pada umumnya, dalam setiap presentasi atau pelatihan, mayoritas peserta akan begitu antusias dalam menyikapi dan memberikan pernyataan atas apa yang saya sampaikan. Mereka begitu bersemangat untuk memberikan persoalannya dan harapan solusinya kepada saya. Tetapi dengan Kepala Sekolah itu, saya menemukan sebuah sosok yang berbeda sama sekali.

Jakarta, 21 Januari 2016.

18 Januari 2016

Guru Sertifikasi #13; Hanya Mengingatkan

Apa yang sering saya kemukakan berkenaan dengan guru sertifikasi dan tunjangan yang dapatnya adalah bagian dari tugas saya untuk mengingatkan. Mengingatkan agar teman-teman tidak melupakan hakekat dari sertifikasi itu sendiri dan jangan hanya fokus kepada tunjangan yang akan keluar. Karena perilaku teman-teman di sekeliling saya beberapa diantara teman hanya berpusat kepada tunjangan sertifikasinya hingga melupakan apa sesungguhnya tanggungjawabnya di lapangan ketika berinteraksi dengan siswa dan persiapan administrasinya yang baik.

Terlebih bila teman itu adalah bagian internal dari lembaga pendidikan yang menjadi tanggungjawab saya. Maka disharmoni sering menjadi masukan guru lain atau bahkan Kepala Sekolahnya kepada saya. Maka dalam beberapa pertemuan saya mencoba untuk mengingatkan mereka. 

Dan karena mungkin terlalu telatennya saya mengajak Kepala Sekolah untuk disiplin dan tertib dalam verifikasi berkas guru sertifikasi yang akan dikumpulkan, maka sering juga saya mendapat suara beda yang nadanya meminta saya agar tidak perlu cawe-cawe dengan hak orang lain.

Atau sebaliknya, tiba-tiba saya mendapat hadiah yang datangnya tidak disangka.

"Ini dari teman-teman guru yang sertifikasi Pak Agus." Begitu kalimat house keeping di sekolahan sembari menenteng satu bungkus plastik cukup besar berisi makanan enak. 

"Waduh, kok begitu Mbak. Itu buat saya semua Mbak? Apa ngak salah? Apakah untuk Mbak sendiri dapat kiriman yang sama?" Tanya saya sekaligus ingin mengorek informasi apa saja yang dia dapat dari teman-teman pengirim. 

"Kali ini hanya untuk Bapak Pak pesannya. Buat saya sudah beberapa waktu lalu. Dibeliin es Pak." 

"O... begitu ya Mbak. Okey kalau begitu Mbak. Tolong sekaligus dibagikan beberapa yang ada di dalam plastik itu untuk Mbak dan teman-teman di ruang itu." Begitu kata saya meminta Mbak di ruangan agar membagi-bagikan roti tersebut kepada kami semua.

Jakarta, 18.01.2016.

15 Januari 2016

Belajar dari Teman, Sebuah Catatan Subyektif

Bertemu, berdiskusi tentang suatu hal hingga juga suatu saat harus bersama-sama memutuskan suatu hal, bersama-sama juga menjalankan serta memantau, memonitoring tentang suatu hal yang telah kita sepakati, hingga menemukan titik temu untuk melakukan hal yang lainnya, menjadikan saya memiliki wawasan yang mendalam tentang karakter teman. Setidaknya setelah 10 tahun ini saya bersama-sama dengan teman untuk menjalankan banyak hal. Dan ini membuat saya belajar tentang hal baik yang akhirnya dapat saya jadikan sebuah ukuran.

Ukuran dengan mempertimbangkan bagaimana teman menilai sesuatu  menambah perbendaharaan bagi saya. Selain itu juga karena setelah sekian lamanya saya berteman, maka ketika akan mendapat even yang baru, bagus juga buat saya untuk mempertimbangkan apakah saya tetap akan bersama teman itu atau memilih teman yang lain?

Sebagai gambaran saja ketika kami sama-sama harus membuat suatu keputusan yang berdampak kepada orang banyak yang ada disekitar kami, maka ada teman-teman yang selalu berpikir prediktif dan hati-hati. Dan karena teman-teman dengan kaca mata ini yang lebih dominan dibandingkan saya, maka dengan berat hati dan penuh kegeraman, saya yang ada di pihak minor, harus mengalah untuk bilang setuju. Meski saya juga tidak ketinggalan menyampaikan sebagaimana yang sering saya sampaikan kepada mereka bahwa prinsip saya adalah "Aku adalah bagaimana hambaKu berprasangka kepadaKU."

Meskipun ada diantara teman saya yang langsung kena terhadap apa yang saya maksudkan. Tetapi atas dorongan nafsunya, ia tetap mengatakan kepada saya, sebagai argumentasi atas pilihan keputusannya; "Tidak bisa begitu Mas, bagaimana manapun kita harus melihat kapital yang kita ada. Dan sikap ini bukan bertentangan terhadap apa yang Mas Agus sampaikan."

Atau dalam hal lain, misalnya, saat kami harus menyampaikan perpisahan kepada teman kami yang telah bertahun-tahun berada dalam barusan yang sama, maka saya mengusulkan agar kiranya kita menganut saja azaz yang berlaku dan lazim. Azaz yang memang memiliki legal dan formalnya di hadapan aturan.

Namun sekali lagi, teman-teman saya mengusulkan cara pandang yang berbeda untuk membuat keputusan tersebut? Bentuknya? Merumuskan aturan sendiri, yang kemudian dijadikan sebagai ukuran dan standar. Tentunya dengan menisbikan apa yang selama ini berlaku di masyarakat luas.

Pada saat itu saya langsung memberikan komentar pedas kepada dua iorang yang mewakili kami dalam membuat keputusan, yaitu komentar "Medit!". Dan saya sama sekali tidak ambil peduli dengan reaksi teman-teman yang lain. Ujungnya?

Ketika suatu saat ada ketidakpuasan dari teman kita yang lain dan ketidakpuasannya itu ia bawa ke ranah pemerintah, maka apa yang menjadi rujukan dalam pembuatan keputusan, yang dibuat teman-temannya itu sama sekali dimentahkan. Apa komentar saya ketika itu? Lebih pedas lagi. Dalam sebuah forum kecil, saya menyampaikan bahwa; "Buat aturan atas aturan yang telah pemerintah buat untuk mengambil sebuah keputusan menjadi sia-sia. Apakah kita menganggap bahwa apa yang telah ada itu tidak sempurna sehingga kita harus membuat aturan yang berbeda? Mengapa kita beranggapan bahwa seolah kita pintar?".

Mungkin itulah catatan saya pagi ini terhadap 10 tahun perjalanan saya bersama teman-teman. Sebuah catatan pribadi yang subyektif.

Jakarta, 15 Januari 2016.

13 Januari 2016

Sertifikasi Guru #12; Admin Nanti Juga Dapat Sertifikasi!

Saya kaget luar biasa ketika ada teman guru yang, mungkin ngak sadar atau mungkin justru dengan kesadaran penuhnya lalu mencoba memberikan alasan, pada saat saya menyampaikan dalam forum guru agar tunjangan sertifikasi itu memberi dampak positif tidak hanya kepada penerimanya, tetapi juga lingkungan kerjanya. Semacam celetukan. Dan karena dengan volume yang lumayan keras, maka suaranya dapat didengar oleh audien yang lain, termasuk saya yang sedang menyampaikan amanat.

"Tenaga Admin nanti juga dapat sertifikasi Pak." 

Berkaca dari situlah saya membuat catatan ini untuk saya jadikan pelajaran bagi diri sendiri. Semoga.

Celetukan yang memberikan informasi serta penegasan bahwa saya tidak tahu kalau pada akhirnya nanti tenaga administrasi yang sekarang di sekolah menjadi petugas portal web, sebagai tenaga kependidikan, juga akan masuk dalam rencana pemerintah sebagai tenaga yang tersertifikasi. Padahal meski saya tidak tersertifikasi sebagai tenaga kependidikan atau pendidik profesional juga tidak buta. Karena ini menjadi bagian inheren dalam tugas profesional saya.

Oleh karenanya, dengan mendengar komentar tersebut di tengah-tengah saya sedang menyampaikan masukan kepada yang telah menikmati dana APBN yang bernama sertifikasi menjadi arif untuk membelanjakan, tersengat pula. Maka saya memberikan tambahan masukan atas asumsi yang saya miliki berkenaan dengan tunjangan tersebut;

Pertama,  harus disadari bahwa sebagian besar teman yang tersertifikasi di sekolah sebagai pendidik profesional itu menempuh jalan dengan PLPG. Dimana kegiatan ini membutuhkan waktu relatif panjang, sekitar 6 hari kerja. Dimana dalam kurun waktu tersebut kami di sekolah harus mengatur guru pengganti selama yang bersangkutan tidak berada di sekolah.

Kedua, Bahwa dalam setiap perbaikan data yang kemudian disebut sebagai pemberkasan, teman-teman pendidik profesional tersebut juga harus mengumpulkan berkas-berkas yang tidak semuanya merupakan usahanya sendiri, ada teman di kiri dan kanan yang terlibat dan berkontribusi.

Ketiga, tidak jarang pula bahwa ketika pemberkasan tersebut teman-teman pendidik profesional itu meninggalkan jam belajarnya di sekolah, yang berarti juga membutuhkan jadwl pengganti guru. 

Kelima, Berkenaan dengan data dan fakta mengajar teman-teman pendidik yang tersertifikasi itu harus masuk dalam web yang dirujuk, maka membutuhkan tenaga up loader. Dan karena web tersebut di akses oleh puluhan ribu admin sekolah dalam waktu yang nyaris bersamaan, maka kelancaran jaringan harus menggunakan kesabaran.

Berkaca dari lima hal yang saya kemukakan itu, maka semua bentuk komentar atau pendapat atau argumen yang ujung-ujungnya hanya karena uang sertifikasinya tidak rela berkurang, menurut pendapat saya adalah karena pelit. Seperti komentar atau celetukan teman guru di atas, pada saat saya memberikan pengarahan di forum.

Jakarta, 13 Januari 2016.

11 Januari 2016

Sertifikasi Guru #11; Pengurangan Persyaratan Guru Tersertifikasi

Beberapa kali saya mendapatkan whats app atau sms atau bahkan juga dibarengi dengan telepon dari seorang Kepala Sekolah yang meminta dukungan moril atas apa yang sedang membuatnya gundah manakala menentukan atau memutuskan sesuatu yang berkenaan dengan temannya yang sedang mengejar tunjangan sertifikasi guru. Teman saya ini butuh sekali penegasan dari saya. Tidak hanya lisan atau kiriman balasan whats app, tetapi juga meminta sebuah surat, seperti surat keputusan.

Mengapa harus galau? Tidak lain karena ada teman-temannya, yang juga adalah guru-gurunya, yang kebedaannya lebih dari satu orang guru, yang benar-benar tidak pada lokasinya untuk mendapatkan tunjangan. Bukan karena jumlah jam mengajarnya kurang, tetapi lebih dari ketidak beradaannya di dalam kelas sesuai dengan jadwal pelajaran yang telah ditentukan.

Kalau harus masuk kelas pukul 08.00, maka sering didapati kelas yang menjadi tanggungjawabnya itu dibiarkan kosong. Dan atas kenyataan itu, menjadikan informasi yang tidak sehat dan bagus untuk sekolah. Selain juga harus ada teman yang lain untuk menemani siswa di kelas. 

Atas keyataan itu, maka kami membuat kebijakan baru untuk semester berikutnya, yaitu mengurangi jam mengajarnya di kelas. Implikasinya adalah pengurangan persyarat jam mengajar bila harus melakuan pemberkasan di sertifikasi. Lalu disinilah muncul kegalauan itu. Guru masih belum menyadari mengapa jam pelajarannya diurangi, sementara tetap kekeh untuk mengejar dana sertifikasi yang menjadi 'hak'nya.

Maka dengan menunjuk kepada surat yang kami pesan itulah teman saya yang Kepala Sekolah itu dengan berat hati tidak menandatangani surat pernyataan sebagai Kepala Sekolah. Akibatnya, pemberkasan gagal dilakukan. Dan pada posisi ini saya selalu meneguhkan kepada teman Kepala Sekolah untuk tidak merasa bersalah.

Karena menurut saya, teman-teman tersertifikasi sebagai guru profesional itulah yang menjadi tolok ukur bagi etos guru di sekolahnya. Dan manakala ada diantara mereka dengan tidak menunjukkan unjuk kerja sebagai guru profesional, dan ketika hembusan ketidakpuasan dari siswa lebih-lebih hingga orangtua, maka terlalu berat beban sebagai Kepala Sekolah untuk menopang sisi buruk itu.

Maka salah satu upayanya adalah megurangi beban kerjanya meski akibatnya kepada pengurangan pemenuhan syarat sebagai guru tersertifikasi...

Jakarta, 11 Januari 2016.

07 Januari 2016

Sertifikasi Guru #10; Tunjangan dan Disharmoni Warga Sekolah

Satu lagi kisah tidak positif dari Sertifikasi Guru. Setidaknya ini apa yang saya dapatkan dari teman Kepala Sekolah. Bahwa orang kepercayaannya yang kemudian akan meninggalkannya dan lembaganya karena memilih lembaga yang baru yang menjadi tumpuannya. Ini tidak lain karena sang orang kepercayaan adalah juga administratur sekolah yang tersakiti hatinya oleh sikap dan perilaku beberapa oknum guru tersertifikasi di sekolahnya.

Administratur sekolah ini sekarang menjadi lumayan fital keberadaannya karena semua data harus masuk dalam sistem komputerisasi yang terpusat. Dan ini juga menjadi 'bahan' yang bersinggungan dalam konstelasi sosial. Karena para adminitratur ini tidak mendapatkan 'tambahan' apresiasi dengan beban yang lumayan berat. 

Berat? Karena data yang terpusat, maka membutuhkan waktu dan kesabaran bagi mereka untuk meng-up load data yang telah dia perbaiki ke dalam sistem komputer yang terpusat tersebut. Dapat di bayangkan kalau dalam waktu yang bersamaan ada 7500 adimintratur sedang meng-up load secara bersamaan?

Anehnya, karena ketika tugas admin telah kelar dan pada akhir  triwulan dan merasa bahwa tunjangan sertifikasi itu menjadi hak sepenuhnya dari guru yang telah mendapatkannya, mereka yang ada di dalam sekolah itu sepakat diam-diam dengan tidak memberikan kabar bahwa tunjangan telah cair. Meski kabar itu tidak harus dalam bentuk maklumat, tetapi, misalnya, ada makanan kecil yang tiba-tiba tersedia di ruang guru.]

Dan sebaliknya, ketika tugas admin dalam meng-up date data telah usai dan ternyata di akhir triwulan ada beberapa guru tersertifikasi belum memperoleh kiriman dari APBN ke dalam rekeningnya, maka guru-guru itu pasti akan bisik-bisik dan bahwa bicara terbuka atas nasibnya. Dan tidak juga jarang mereka akan memiliki perasaan dan pikiran buruk bahwa kiriman belum diterima karena sistem administrasi ada yang tidak beres. Dan ini pasti berkait  langsung kepada pihak admin sekolah yang barangkali ada keteledoran. 

Inilah salah satu dari titik disharmoni yang ada di sekolah akibat dengan tunjangan sertifikasi. Jadi karena salah satu saja, maka masih ada beberapa titik simpul yang menyebabkan lahirnya disharmoni. Namun saya akan mencobanya untuk mencatatnya dalam lembar catatan yang lain. 

Jakarta, 7 Januari 2016.

06 Januari 2016

Piknik Sekolah #2

Meski waktu itu hampir semuanya mendadak, mulai dari rencana keberangkatan, destinasi yang semula akan dituju kemudian berubah pada detik-detik terakhir, saya sendiri masalah dengan paspor yang harus membuat baru, piknik sekolah tetap berjalan. Mungkin karena rombongan kami tidak terlalu banyak dan peserta juga terdiri dari manajemen sekolah, jadi semua serba cepat dan kilat.


Saya sendiri mensyukuri bahwa menjadi bagian dari trip yang diselenggarakan sekolah itu. Selain karena ini merupakan bentuk hadiah atau bonus, kegiatan ini juga dapat menjado pembanding buat saya tentang yang orang-orang sering perbincangkan.



Jakarta, 6 Januari 2016.