Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #21; Menentukan Arah

Ketika kami mencoba duduk bersama untuk mendiskuikan akan seperti apa wujud dan operasional dari sekolah yang kita impikan, maka semua peserta diskusi memiliki gambaran impian yang berbeda-beda. Namun demikian, semua sepakat bahwa sekolah yang diimpikan adalah sekolah yang berkualifikasi nasional plus. Maksudnya adalah sekolah yang barada pada level di atas sekolah dengan standar nasional. Maka seperti apa sekolah tersebut?

Masing-masing masih memiliki gambaran sendiri wujudnya. Sampai akhirnya disepakati bahwa sekolah impian tersebut harus berawal dari pemahaman yang sama tentang apa itu sekolah dengan standar nasional. Maka kesepakatan tersebut mengerucut kepada penugasn saya untuk mempersiapkan presentasi ringkas berkenaan dengan Sekolah Standar Nasional dalam pertemuan rapat berikutnya. Jadilah presentasi tersebut dengan acuan pokoknya adalah ketentuan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lalu apa tahapan berikut setelah pemahaman yang sama yang diinginkan pemerintah berkenaan dengan sekolah nasional tersebut? Kami harus melakukan peninjauan ke lapangan terhadap sekolah-sekolah yang ada. Kami pilihlah sekolah-sekolah, utamanya sekolah dengan status sebagai sekolah swasta, untuk melakukan pembandingan. Hal ini perlu sekali mengingat apa yang ada dan terdapat dalam ketentuan sebagai sekolah standar nasional menitik beratkan tentang keberadaan fisik sekolah. Padahal kami juga menginginkan bagaimana postur SDM dan oprasionalisasi sebagai standar nasional sekolah tersebut.

Dalam peninjauan tersebut kami banyak sekali mendapat peandangan yang lebih kepada proses operasional, selain fisik sekolah. Informasi ini justru menjadi bagian yang sangat menunjang pemahaman kami terhadap sekolah impian kami tersebut.

Selain melakukan kunjungan langsung kepada lembaga sekolah yang kami inginkan, kami juga melakukan sedikit penelitian terhadap lembaga sekolah swasta lain secara virtual. Dan ini menjadi bahan bantuan yang luar biasa berharganya. 

Pengetahuan dan pemahaman yang telah sama-sama kami kumpulkan tersebut akhirnya memberikan kepada kami bayangan dan gambaran yang relatif sama terhadap profile sekolah impian kami. Dan dari sinilah kami mencoba membuat parameter-parameter. Baik yang berkaitan dengan aspek sarana dan prasaranya, serta yang lebih penting dari semuanya adalah model dan arah.

Dalam tahap arah dan modelnya, maka dirumuskan bagaimana profile guru dan juga bagaimana profile siswa. Dan dalam dua hal inilah kami benar-benar membuat pembanding untuk menentukan bahwa koordinat yang memang impian kami adalah titik dimana memang yang menjadi tujuan bagi semua sekolah yang ada dalam koridor nasional.

Dalam dan dari dua aspek itu juga akhirnya kami dapat merumuskan profile sekolah impian. Lalu bagaimana merealisasikannya? Ini menjadi bagian penting lain yang ada dalam agenda kami, yang ternyata justru meminta perhatian kami lebih besar dan lebih intens. Semoga.

Jakarta, 30 April 2016.

26 April 2016

Menunggu Akhir Cerita


Sebagai anak bangsa, saya akan tetap menunggu dengan sabar akan seperti apa perjalanan orang-orang yang ada di sekitar saya. Termasuk diantaranya adalah tokoh ini. Lumayan seru juga kalau mendengar arahan, tanggapan, pendapat, argumentasi, kepongahan, atau bahkan mungkin kata-kata ketidakpuasan atas kinerja bawahannya. 





Dan dalam catatan saya ini, ada satu lintasan peristiwa, untuk saya unggah. Seperti yang saya kemukakan dalam kalimat pertama saya, bagaimana sebuah lakon itu akan bermuara. 



Jakarta, 26 April 2016.

25 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #20; Membuat KPI

Dalam sebuah sesi pertemuan rutin yang kami gelar bersama manajemen sekolah, dimana hadir antara lain selain adalah bagian pengelola operasional sekolah, Kepala dan Wakil Kepala Sekolah, kami mendiskusikan tentang hasil KPI, Key Performance Indicator sekolah kami, yang hasilnya melampaui target yang dicanangkan dalam satu tahun pelajaran yang lalu, tetapi ketika melihat pada tataran di lapangan ada yang kurang dalam pelaksanaannya? Maka kami mengajak teman-teman di manajeman sekolah untuk menengok apa yang sebenarnya terjadi terhadap KPI yang telah dilaporkan kepada kami, pihak Yayasan, mengingat sekolah dimana kami berada adalah sekolah swasta.

Beberapa dari kami mencoba melihat dari data-data yang terlampir dalam laporan tersebut. Dengan tujuan adalah menemukan apakah ada pengumpulan data yang tidak reliabel sehingga menghasilkan hitungan yang kurang pas, sehingga berujung kepada nilai yang melampaui target yang telah bersama kami tentukan?

Teman yang lain melihat apakah ada indikator yang terdapat dalam aspek yang seharusnya dinilai tidak pas sehingga mengakibatkan apa yang seharusnya dinilai justru tidak dinilai, tetapi apa yang seharusnya tidak perlu atau tidak harus dinilai justru menjadi bagian penting yang masuk dalam aspek yang dinilai atau bahkan dia mendapat bobot penilaian yang lebih tinggi dibandingkan aspek penilaian yang lain?

Lalu bersama kami mencermati apa yang sesungguhnya kurang pas dalam apa yang telah kami selesaikan pekerjaan besar tersebut dalam kurun satu tahun. Setelah bersama-sama kami diskusi dan cermati apa yang telah kami lakukan, kami menyimpulkan bahwa untuk tahap sekarang, demikian pemikiran kami, yang harus menjadi poin terpenting dalam aspek penilaian adalah aspek keguruan atau SDM.

Maka kami sepakati bahwa Guru adalah bagian paling penting dan utama dalam [perjalanan sukses sekolah kami. Dan dari sinilah kami mencoba menyusun aspek-aspek penilaian dalam KPI yang baru dengan memberikan bobot kepada aspek keguruan atau SDM sekolah. 

Sepakatlah kami dengan kembali merekonstruksi KPI sekolah kami di tahun yang akan datang, dimana menempatkan Guru sebagai sebab dari semua fenomena yang terjadi di lembaga sekolah kami. Dari sanalah kemudian kami mencoba membuat BSC untuk menentukan bobot dari semua aspek yang telah kami sepakati. 

Hasil diskusi ini kemudian menjadi tugas utama teman kami yang mendapat amanah sebagai penjaga gawang sekolah kami sehari-hari untuk menyampaikan dan mengajarkan kepada semua lini dan semua unit sekolah yang ada di bawah bendera kami. Semoga.

Jakarta, 25 April 2016

24 April 2016

Kalender Pendidikan, Informasi Dadakan

Kemarin siang, saya mendapat informasi via SMS berkenaan dengan perubahan jadwal masuk di akhir tahun pelajaran ini. Dimana siswa libur dimajukan dan guru dapat libur lebih panjang dua pekan dari jadwal semula. Maksudnya tentu libur mengajar da bukan berarti libur masuk kerja ke sekolah. 

Mendapat kabar seperti itu tentu saja saya sedikit terperanjat. Pertama, karena kami baru saja menyusun jadwal detil harian di akhir tahun pelajaran ini guna mempersiapkan diri untuk lebih baik. Persiapan untuk guru dalam menyusun program sekolah di akhir tahun pelajaran dan sekaligus juga untuk awal tahun pelajaran berikutnya. Juga bagi sekolah guna menyusun program pelathan guru sebagai bagian dalam peningkatan kualitas kami yang sehari-hari adalah pemegang amanah keguruan dan pendidikan di sekolah. Juga bagi para orangtua siswa yang harus membuat rencana untuk acara Idul Fitri bersama keluarga, mengingat liburan akhir semester ini juga menjadi liburan Idul Fitri,


Kedua, memajukan jadwal libur berarti adalah memperpanjang masa jeda tidak berangkat ke sekolah. Dan menjadi pelik bagi kami mengingat liburan akhir tahun ini juga adalah liburan Idul Fitri dan Ramadhan. Ini artinya kami juga harus bersiap jika selama Ramadhan siswa tidak masuk sekolah juga dapat memicu ketidaknyamanan para orangtua yang tidak memiliki program khusus bagi anandanya.

Ketiga, kami sebagai sekolah swasta, mengapa untuk urusan jadwal berangkat sekolah harus mengacu kepada perubahan kalender kegiatan pendidikan melalui SMS? Dan inilah barangkali yang menjadi kesimpulan saya sementara ini atas ketidaknyamanan yang saya alami. 

Dan sebagai guru di sekolah, saya sedikit kecewa dengan model jadwal pendidikan yang sering dadakan. Mengapa? Karena hal ini menjadi tidak konsisten meski hanya terhadap Kalender Pendidikan yang sudah meraka pajang di web dan menjadi panduan kami dalam menyusun program seolagh dalam kurun satu tahun?

Jakarta, 24 April 2016.

20 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #19; Kandidat Terpilih?

Dalam catatan sebelumnya berkenaan dengan 3 model kandidat yang ada dan kami temukan dalam forum diskusi panel para kandidat, maka tidak bisa-tidak kami pun harus melakukan penentuan kandidat yang mana yang akan menjadi Wakil Kepala Sekolah. Meski tapi telah menyepakati siapa saya yang terbaik dari yang ada, untuk kemudian melanjutkan kepada tahap berikutnya, maka kami harus juga berkoordinasi dengan Kepala Sekolah yang akan menjadi pemandu para wakilnya yang baru. 

Untuk itulah maka kami merancang pertemuan dengan Kepala Sekolah untuk mendiskusikan satu [persatu kandidat yang telah ikut serta dalam tahap diskusi panel. Dan karena Kepala Sekolah juga adalah orang yang ada dalam diskusi panel, selain juga adalah para peserta merupakan para gurunya, maka pemahaman terhadap para kandidat dalam keseharian menjadi pertimbangan tersendiri. Bahkan ada beberapa informasi yang memang kami tidak mengetahuinya. Ini karena kami hanya melihat bagaimana para kandidat tersebut mengemukakan pendapat. 

"Pak Tono itu bagus memang apa yang disampaikan dalam forum-forum semacam ini. Tapi dalam kesehariannya saya hampir frustasi memberikan semangat kepada dia untuk mengejar target yang dia juga ikut terlibat menentukan. Dan ini menjadi karakternya. Maka apa yang disampaikan dalam forum diskusi panel ini saya tidak heran." Kata Kepala Sekolah di awal diskusi kami mengenai para kandidat.

Apa yang disampaikan oleh Kepala Sekolah atas performa salah satu kandidat tersebut juga memberikan kepastian buat kami bahwa memang itulah jenis karakter para kandidat. Bahwa ada 3 model itu memang benar-benar terjadi dan berlangsung di lapangan.  Yaitu kandidat yang tukang komplain, kandidat yang menjadi pengamat atau komentator, dan kandidat yang memang fisik dan pikirannya menyatu dan menginjak bumi.

"Maka dengan apa yang telah Ibu uraikan itu apakah Ibu berarti memilih Pak Alfi dan Ibu Beta yang mendampingi Ibu sebagai Wakil Kepala Sekolah?" Begitu pertanyaan saya kepada Ibu Kepala Sekolah setelah diskusi berjalan kurang lebih 1 jam. Pertanyaan saya untuk mempertegas bahwa memang Ibu tersebut memilih sebagaimana yang kami juga rekomendasikan.

Jakarta, 20 April 2016.

19 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #18; 3 Model Kandidat

Pemilihan kandidat Wakil Kepala Sekolah dengan cara seperti ini setidaknya memberikan kepada kami pelajaran untuk saling percaya, terbuka, berbagi, dan sekaligus melihat serta menyaksikan bersama kehebatan para kandidat yang ada di institusi kita. Dan ini bagian dari kebanggaan kami.

3 Model Kandidat

Dan untuk saya jadikan catatan disini, bahwa saya setidaknya menemukan 3 model kandidat setelah forum diskusi panel tersebut kami lakukan. Ketiga model kandidat itu tidak lain karena mereka memposisikan dirinya sebagai kandidat wakil Kepala Sekolah. Dan ini menjadi penting juga buat kami dalam mengambil keputusan. Tidak perduli apakah mereka, para kandidat tersebut memiliki strata pendidikan sarjana atau megister. Nampaknya justru kepatangan cara berpikirlSebagaimana yang pernah saya catat di halaman ini, bahwa dalam melakukan pemilihan pengganti Wakil Kepala Sekolah, kami mengundang para kandidat wakil untuk sebuah diskusi panel bersama-sama. Kepada mereka kami persilahkan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, bahkan juga tekad dalam membawa sekolah lebih baik lagi. Maka dalam forum ini tugas kami adalah menyampaikan pertanyaan untuk mendapat tanggapan dari para kandidat secara bergantian.

Dalam forum ini nanti kami akan dapat menemukan karakter, kekuatan, dan cara pandang para kandidat tersebut. Dan dalam dua jam kegiatan diskusi panel tersebut, kami mampu menjadi empat atau lima putaran pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu dibuat oleh saya dan teman-teman dari Yayasan dan manajemen sekolah yang lebih tinggi dai posisi kandidat. Hal ini untuk menyamakan persepsi dalam pengambilan keputusan. Terutama ketika forum telah selesai, maka kami diskusi internal untuk menentukan kandidat mana yang ingin kami lanjutkan pada tahapan berikutnya. Tentunya kami telah menyepakati hal-hal yang memang sedang kami search dari para kandidat yang ada.

ah yang mempengarui 'nilai' dari masing-masing mereka. Mungkin juga mereka tidak menyadari kalau cara pandang mereka justru yang menjadi catatan penting kami dalam diskusi panel tersebut.

Model Satu, adalah mereka yang memposisikan dirinya sebagai kritikus. Kandidat yang posisi dirinya berada di ranah ini selalu mengatakan jawaban sebagai pendapat atau tanggapannya terhadap pertanyaan kami dengan nada kritikan, menilai, komplain, atau juga menuntut kepada pihak lain. 

"Saya melihat bahwa keberhasilan sebuah organisasi seperti sekolah kita berhasil dalam regenerasinya adalah peran pimpinan untuk mengkader para gurunya yang potensial. Dan saya merasakan hal inilah yang tidak pernah dilakuan pimpinan sepanjang waktu saya bergabung di sekolah ini." Katanya dengan percaya diri dan tidak ragu.

Atau juga pendapatnya tentang bagaimana agar pola komunikasi menjadi lancar di dalam unit sekolah; "Saya berpendapat bahwa pola komunikasi itu menjadi bagian penting bagi pimpinan sekolah untuk memberikan teladan kepada kami semua."

Kami, terutama saya sebagai bagian yang memberikan penilaian dan catatan, tentu saja jengah mendengar pernyataan kandidat model seperti ini. Karena bukankah mereka diminta untuk menyampaikan visinya berkenaan dengan pertanyaan yang kami sampaikan?

Model Kedua, adalah mereka yang memposisikan dirinya sebagai pengamat. Kandidat seperti ini selalu menyampaikan gagasannya dalam format sebagai pengamat. Yaitu orang yang merasa berada di luar pagar. Seperti juga para penonton. Maka kami juga menjadi berpikir seperti apa kalau nanti punya wakil Kepala Sekolah yang seharusnya mengekskusi suatu keputusan malah hanya mampu memberikan ulasan dan komentar atas keputusan yang seharusnya dia ambil? Aneh bukan?

Model Ketiga, adalah mereka yang memposisikan dirinya berada sebagai bagian dari lembaga. Ini adalah model kandidat yang akhirnya menjadi pilihan kami. Tidak ada yang tidak sepakat atas orang-orang model seperti ini ketika kami memanggil semua kandidat untuk melakukan diskusi panel.

"Saya kira semua bermuara kepada kami sendiri Pak. Kami sebagai guru di sekolahlah yang harus mengambil bagian penting bagi sebuah sekolah masa depan sebagaimana yang kita impikan. Memang belum tergambar bagi saya langkah yang harus kita lakukan selain berikhtiar menjadi guru terbaik di kelas kita masing-masing. Namun saya memastikan bahwa semua itu muaranya guru yang memiliki komitmen dan kosisten dalam menjalankan tugas."

Jakarta, 19 April 2016.

18 April 2016

Terkenang Tahun 1985

Saya tiba-tiba terkenang sebuah peristiwa yang kemudian membawa saya menuju kehidupan sebagaimana yang sekarang ini, sebagai guru. Sebuah peristiwa di garasi mobil di hari Jumat sekitar bulan Juli tahun1985. Peristiwa yang berlokasi di Jalan Cipete VII, Cilandak, Jakarta Selatan. Peristiwa yang sesungguhnya normal adanya. Menjalani interviu untuk menjadi seorang guru SD.

Itulah kenangan peristiwa yang dua hari ini muncul jelas sekali. Terlebih ketika dalam grup WA, teman operasional mengirimkan gambar foto garasi tersebut, dalam balutan duka. Karena sehari sebelumnya, garasi di rumah tersebut telah terjadi peristiwa pilu yang akhirnya merengut seorang cucu dari almarhum yang di tahun 1985 kala itu duduk di hadapan saya guna mengajukan pertanyaan.


Pertanyaan yang diajukan setelah sebelumnya saya dan dua teman lainnya memberikan jawaban tertulis atas tes yang diberikan kepada kami setelah waktu Jumat. Persisnya pukul 14.00. Kami duduk di kursi rotan bersandar rebahan. Kursi yang, sebenarnya, tidak cocok untuk menjadi tempat duduk bagi peserta interviu seorang guru. Tetapi beliau memberikan penjelasan bahwa kondisi di dalam rumah lebih kurang memungkinkan untuk beliau melakukan interviu.

"Anda saya interviu untuk sebuah sekolah yang baru saja didirikan oleh teman saya di daerah Pulo Gebang Permai, dekat Pulo Gadung di Jakarta Timur." Demikian beliau memberikan kalimat pembuka kepada kami. Kami menyimak. Hingga giliran saya untuk diajaknya berdialog seputar ilmu keguruan. Saya masih ingat pertanyaan beliau kepada saya kala itu. Termasuk penjelasan beliau sesudah dua atau tiga bulan setelah acara interviu tersebut.

Saya sampaikan kepada teman-teman di grup bahwa di rumah ini saya memiliki memori sebagai awal perjalanan hidup saya sebagai guru. Dan saya sampaikan doa semoga apa yang sedang dialami oleh keluarga almarhum beliau yang menginterviu saya itu segera diberikan kelancaran urusan dari Allah Swt. Amin.

Jakarta, 18 April 2016.

Pentas Anak-Anak

Sabtu, 16 April 2016, menjadi hari yang boleh dikata menjadi hari sibuk saya. Dan alhamdulillah bahwa meski hanya ada tiga agenda di hari itu, semuanya dapat saya jalani. Alhamdulillah.

Pertama, adalah kegiatan pentas anak-anak di daerah Cipete, Cilandak, Jakarta Selatan. Saya berada di lokasi kegiatan antara pukul 07.30 hingga pukul 10.40. ini menjadi kegiatan bagi saya yang pertama di hari sibuk itu. 

Pentas dilakukan anak-anak sebagai bagian dari menampilkan kebolehannya masng-masing. Dengan mengambil metode pentas kolosal. Hampir rata-rata sekali pertunjukkan ada 100 peserta didik di lantai pertunjukkan. Dengan menampilkan beberapa hal yang memang sehari-hari mereka lakukan ketika mereka belajar bersama gurunya. Dengan jumlah peserta pertunjukkan yang sebanyak itu, maka itu menuntut guru untuk membuat kreasi gerakan, sekaligus juga tata letak bagi anak-anaknya. Gerakan-gerakan dalam setiap durasi yang anak-anak dapatkan harus menjadi gerakan maksimal yang sekaligus juga memperhatikan pola yang dinamis agar tidak menjadi monoton.

Dan pada pertunjukan tahun ini, saya sendiri mencatatnya sebagai acara yang jauh lebih memikat dibanding apa yang mereka pentaskan di tahun sebelumnya. Ini menjadi catatan saya sendiri. Dan ini juga menunjukkan keterlibatan informasi dan teknologi dalam membuat acara menjadi lebih menarik. Mengapa? Karena teman-teman guru dalam setiap tim pararelnya selalu menjadikan jaringan internet sebagai alat bantuan untuk mencari pembanding. Dan kelihatan sekali bahwa teman-teman banyak menyerap dan menemukan apa yang dilihatnya dari internet tersebut. 

Kedua, adalah kegiatan resmi yang dilangsungkan di sekolah kedua yang menjadi destinasi saya, di daerah Tebet Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Berlokasi tidak begitu jauh dari Stasiun Tebet yang menjadi alat transportasi saya selain Go-Jek.  Saya sudah berada di lokasi kegiatan kedua saya itu sekitar pukul 11.15 hingga pukul 14.00. 

Kegiatan yang selenggarakan di sekolah ini adalah kegiatan serius. Yaitu sebagai lokasi untuk kegiatan lomba olimpiade untuk tingkat Jabodetabektangsel. Dengan tingkatan lomba untuk SD, SMP, dan juga SMA. Maka ketika sampai di lokasi tersebut, saya sudah menemukan tempat parkir yang tidak mampu menampung kendaraan lagi. Juga di halaman sekolah yang dijajar kursi-kursi siswa, dengan para orangtua peserta olimpiade yang menjadi penunggu. 

Mereka datang dari berbagai latar belakang sekolah dari berbagai lokasi yang ada. Bahkan ada boarding school, yang tertulis di bodi kendaraan operasional mereka, yang berasal dari Pandeglang di Banten. 

Ketiga, adalah acara pentas siswa yang dilakasanakan oleh para pengurus OSIS SMP, dengan teman POPPIN ONZE, berlokasi di  Pulomas, Rawamangun, Jakarta Timur. Saya hadir ketika kegiatan pentas telah berlangsung dua jam sebelumnya. Saya berada di lokasi terakhir kegiatan saya hari itu hingga tuntas tas.

Sekali lagi, alhamdulillah bahwa ketiga agenda kegiatan saya di hari itu, di tiga lokasi yang berbeda, diselenggarakan oleh tiga lembaga yang berbeda, dapat saya selesaikan dengan meninggalkan kenangan baik buat saya sendiri. Terimakasih dan alhamdulillah.

Jakarta, 18 April 2016.

16 April 2016

Apakah Logika Saya yang Miring?

Di media sosial dan koran atau online lainnya, bertebaran pendapat atau sekedar pernyataan yang membuat saya justru menjadi tolol. Artinya lebih dari sekedar bodoh. Dan ini menjadi ketakutan bagi saya. Takut kalau kepala saya pada akhirnya yang justru miring manakala harus tunduk pada logika seperti itu?

Bagaimana tidak? Bukankah saya dan mungkin juga Anda menjadi pusing, sebagai tanda awal bahwa kita terjangkit penyakit miring, ketika logika atas pendapat atau pernyataan pejabat, atau ahli hanya berlaku pada konteks masalah yang dia ungkapkan saja? Jadi kalau kita menggunakan logikanya untuk konteks yang lain maka akan tabrakan?

Misalnya; Mayoritas orang Indonesia yang ada berada di takaran kurang ada pemeluk agama Islam?

Kepala saya langsung mikir; Apakah pendapat atau pernyataannya mengambil sampel Indonesia untuk menyimpulkan konteks dunia? Bagaimana di negara lain di ASEAN dengan fenomena seperti logikanya itu? 

Lagi; Minum bir kan ngak bakalan mati.

Kepala saya juga mikir; Jangankan minum bir, makan daging babi memang ada yang mati? Setahu saya kalau racun yang dikonsumsi baru ajal menjelang. Oplosan itu bikin mati karena campurannya obat nyamuk misalnya.

Juga; Apa yang salah beli barang seharga 700 juta dengan tunai?

Bingung saya adalah; Kok masih ada orang jualan di zaman sekarang yang mau terima tunai? Mungkin si penjualnya ngak butuh ngecek berapa lembar uang yang diterimanya atau uang itu apakah semua asli?

Masih banyak sekali pendapat-pendapat seperti itu. Sungguh. Makanya meski kita gemar membaca, tidak bisa tidak kita harus hati-hati untuk tunduk pada logika-logika yang semacam itu.

Jakarta, 16 April 2016.

15 April 2016

Mudik 2016 #6; Oleh-Oleh Pohon

Ada juga hal yang perlu saya buat catatan di halaman ini berkenaan dengan aktivitas mudik saya di awal tahun 2016 ini. Yaitu harus membawa enam batang pohon kelor dengan diameter 8 cm dengan panjang masing-masing batangnya lebih kurang 12 cm. Ini tidak lain karena saya berkeinginan memiliki pohon kelor di halaman rumah yang sebenarnya telah saya coba untuk mencarinya di sekitar Jakarta. Beberapa kali memang melihat dan tahu siapa yang memiliki pohon tersebut dan dimana lokasi tinggalnya. Tetapi karena terkendala tidak mengenal si pemiliknya, atau kebetulan hanya melihat pas dalam perjalanan, maka niatan untuk memiliki dari Jakarta harus pupus.

Tampak tunas kelor yang mulai tumbuh. Semoga menjadi kenangan kehidupan bagi alam.
Walaupun niatan itu nyaris terealisasi ketika di tengah perjalanan saya melihat ada pohon yang lumayan besar, yang tumbuh di lahan pojok di sebuah rumah, yang berdekatan dengan rumah teman saya yang tinggal di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Namun orang yang saya utus tetap tidak kunjung melaksanakan apa yang menjadi pesanan saya tersebut. Akhirnya pada saat mudik itulah niat untuk memiliki pohon kelor tersebut saya laksanakan.

Berawal ketika saya bertiga bersama anak dan adik bermain di pantai yang lokasinya dekan kampung halaman. Lebih kurang pukul 06.00 saya sudah ada di tepian pantai yang berdekatan dengan muara sungai Bogowonto itu. Saya mengetahui bahwa lokasi yang berdekatan pantai itu banyak ditanami pohon kelor, yang tampaknya menjadi pagar hidup di batas ladang yang berpasir itu. 

"Bapak," Kata saya kepada seorang petani yang sedag beraktivitas di lahan yang ada di dalam pagar. Beliau sedang beristirahat di bawah rimbunnya pohon jarak yang tidak jauh dari jalan yang kami lalui ketika menuju pulang.

"Apakah diizinkan untuk meminta batang pohon kelor ini?" Lanjut saya sembari berjalan mendekati Bapak petani tersebut.

"Silahkan Mas. Silahkan. Boleh Mas. Silahkan. Potong pakai sabit yang saya simpan di keranjang yang ada di sepeda itu." Kata Bapak itu ramah sembari mengarahkan telunjuk tangannya ke arah sepeda yang disandarkan di pohon kelor.

Begitulah akhirnya tak punggung saya benar-benar terisi batang pohon kelor yang telah saya bungkus koran. Yang menjadikan tas punggung itu begitu berat ketika harus saya bawa. Dan begitulah kisah pohon kelor yang sekarang menjadi bagian dari fauna yang ada di halaman rumah yang hanya seluas kamar mandi. Tapi saya begitu mensyukurinya...

Jakarta, 15 April 2016.

Mudik 2016 #5; Membeli Buku

Ada yang tertinggal yang belum saya catat dalam lembaran saya ni tentang kegiatan yang saya lakukan saat mudik ke Purworejo-Jogjakarta awal tahun 2016 ini, yaitu membeli beberapa buku di Jogja Book Centre, yang menjadi salah satu agenda tetap di setiap mudik saya. Dan ini saya lakukan hari kedua ketika saya sampai di kampung halaman. Atau begitu saya sampai di Jogjakarta, maka ketika turun bus di Gamping, saya lanjutkan perjalanan dengan menumpang bus kota dan turun di perempatan titik nol kota Jogjakarta. Dari perempatan ini saya berjalan menuju Taman Pintar. Karena lokasi kios buku yang menjadi langganan saya ada di belakang Taman Pintar, yang bersebelahan dengan Taman Budaya Jogjakarta.

Kios buku di lokasi ini menjadi langganan saya hampir setiap saya membeli buku, selain karena lengkap dengan buku apa saja yang saya sebutkan ada, asli, dan juga dengan memberikan potongan harga. Dan potongan harga ini hampir tidak akan pernah saya dapatkan ketika saya datang ke toko buku besar sekalipun. Maka ketika kali pertama saya berkenalan dengan kios buku ini, sejak itulah saya jatuh hati.

Oleh karena itu, ketika saya mempunyai rencana mudik, pergi ke kios buku yang ada di samping Taman Budaya itu menjadi agenda wajib. Dan saya telah mempersiapkan jilid-jilid buku yang akan saya beli sebagai pelengkap jilid buku yang telah ada sebelumnya. Sepertinya misalnya buku-buku yang berjilid-jilid, yang tidak akan saya dapat membelinya sekaligus 20 jilid buku yang ada. Tetapi dengan cara mencicil itulah maka kelengkapan jilid buku yang saya cari menjadi lengkap.

"Jilid 8 nya sedang kosong Pak." Kata penjaga, mungkin juga adalah pemilik kiosnya, kepada saya suatu saat ketika saya datang ke kiosnya yang berlokasi di deretan depan. Memang saya tahu kalau buku yang saya cari ini sebenarnya bukan stok asli kiosnya. Karena kiosnya menyediakan buku-buku selain buku-buku agama. Tetapi karena keseringan saya untuk selalu datang ke kiosnya, maka saya meminta tolong kepada untuk mencarikan semua buku yang menjadi kebutuhan saya.

"Coba tolong carikan ke temannya yang lain Mas. Sampai ketemu." Kata saya kepadanya. Dan benar juga, bahwa buku pesanan saya itu memang benar-benar kosong. Artinya, semua kios yang ada di kios buku yang ada di Jogja Book Centre itu kosong.

Apa daya tarik lain selain potongan harga dari harga bandrolnya? Sampul plastik. Inilah daya pikat lainnya. Buku-buku yang saya beli di kios itu akan langsung diberi sampul plastik yang rapi, bagus dan berkualitas. Dengan kondisi buku yang telah terplastik ketika saya membeli, membuat saya tinggal memberi identitas buku tersebut begitu sampai rumah. Lumayan bukan?

Jakarta, 15 April 2016.

14 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #17; Menjadi Pemandu

Menjadi pemandu dalam sebuah kegiatan perjalanan ke luar kota, sekaligus sebagai supir bagi keluarga besar saya, menjadi bagian yang paling menggembirakan untuk saya. Ini karena saya dapat mengajak sanak keluarga 'marasakan' apa yang terasa dalam diri saya. Oleh karenanya dalam setiap sisi atau ruas jalan yang saya lalui, saya akan menyampaikan 'rasa' apa yang ada di dalamnya. 

Sejauh ini, apa yang sampaikan atau utarakan, tidak menjadi persoalan untuk keluarga. Sebaliknya saya mendapatkan tanggapan baik dan positif dari mereka. "Jalan-jalan sama Dik Agus enak. Sepertinya setiap tempat menjadi berarti." Begitu salah satu kalimat yag disampaikan kakak saya. "Tidak ada yang perlu dikawatirkan dengan jalanan jelek atau macet atau bahkan kesasar. Semua menjadi biasa dan normal adanya." Lanjut kakak saya memberikan pujian. Saya diam saja. 

Gunung Kidul

Misalnya ketika kami melakukan perjalanan ke Jogjakarta hingga menginap di sebuah penginapan senyap di Pantai Krakal di Gunung Kidul. Menempati rumah penginapan dengan berbagi menjadi suatu yang tetap nikmat dialami. Suatu pengalaman yang tidak ada duanya jika kita akan membandingkannya dengan menginap satu malam di hotel bintang dua atau tiga di jalan Taman Siswa yang ada di Jogjakarta.

Tidak ada suara yang dapat kita nikmati di malam hari selain hanyalah suara ombak yang terus berkejaran tiada hentinya. Sesekali memang da suara anak-anak muda yang mendirikan beberapa tenda di dekat bibir pantai. Namun suara mereka tenggelam oleh debur ombak yang selalu pecah ketika mencapai pasir putih yang ada di tepi pantai. 

Tidak ada warung yang buka sepanjang malam meski lampu yang tetap menyala dan tatanan makanan serta minuman yang tetap lengkap di atas meja. Semua telah kembali kepada dunia malam mereka masing-masing. Dan kami sebagai tamu hotel ditinggal di kamar tanpa harus diawasi oleh penjaga hotel yang kembali ke rumahnya. Juga di pagi harinya ketika kami keluar kamar dan menyusuri tebing karst, yang tetapi masih sepi. Namun semua anggota keluarga saya menikmati itu sebagai sesuatu anugerah yang bagus. 

Hingga akhirnya kami kembali ke Jakarta dengan rute yang berbeda ketika kami berangkat dari Jakarta. Dimana saya mengambil jalan dari Restoran jeJamuran yang ada di Sleman lanjut ke Secang kemudian masuk Temanggung dan tembus ke Waleri-Gringsing- Pekalongan-Brebes-Jakarta. 

Demikian juga halnya ketika saya mangajak serta seluruh keluarga besar berkereta api menuju Cirebon-Kuningan. Semua menjadikan paket perjalanan itu sebagai hal yang penuh nikmat bahagia.

Menjadi Pemandu

Begitu juga dengan apa yang saya sebutkan sebagai pemandu ketika saya berada di sebuah era transformasi di sebuah lembaga pendidikan yang bernama sekolah. Tugas dan fungsi saya ketika berada di dalamnya adalah sebagai pemandu dalam sebuah perjalanan. Sering saya menggunakan efek kejut ketika kami melalui suatu tempat bagus. Ini tidak lain karena saya menunggu apa yang menjadi komentar anggota perjalanan. Dan dari komentar yang disampaikan itulah saya akan memberikan penekanan. Model seperti ini untuk memberikan tambahan rasa nikmat atas apa yang dilihat atau dialaminya. Saya ingin agar teman-teman menemikan sendiri kebermaknaan suatu hal yang sedang dan telah dijalaninya. 

Juga memberikan semangat atau solusi berupa kemungkinan-kemungkinan lainnya jika kegiatan itu baru akan berlangsung, bila mereka sendiri juga merasakan ada keraguan ketidakberhasilan akan program yang akan dijalani. Ini karena mereka memang belum pernah menjalini hal yang sama diwaktu sebelumnya.

Begitulah saya ketika menjadi seorang pemandu. Harus memahami selalu perjalanan batin teman-teman tentang kebutuhan yang mendesak sedang mereka perlukan... 

Jakarta, 14 April 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #16; Membandingkan

Dalam suatu kesempatan, saya meminta kepada teman-teman untuk semuanya mendampingi siswa yang akan menjadi peserta lomba. Dimana lomba tersebut diselenggarakan di sebuah sekolah, yang sedang melaksanakan kegiatan perlombaan olah raga dan seni. Maka serta merta kami mengirimkan sebanyak-banyaknya siswa yang dapat menjadi peserta lomba. Tujuannya selain untuk memberikan kepada siswa kami ajang untuk berprestasi juga agar guru-guru kami dapat melihat secara langsung bagaimana kegiatan itu diorganisir dan bagaimana sekolah tersebut melakukan kegiatan sehingga dapat berlangsung dengan baik. Termasuk juga para guru-gurunya untuk mengikuti perlombaan yang kebetulan juga memperlombakan keterampilan guru dalam membuat sarana belajar.

"Jadi kami semua nanti harus berangkat untuk mendampingi siswa lomba Pak?" Tanya seorang guru kepada saya. Ini karena sebenarnya guru pendamping yang kita plot berlebih dibandingkan dengan jumlah anak-anak kami yang mengikuti lomba. 

"Iya Bu. Sesuai dengan hasil diskusi kita beberapa waktu lalu, bahwa tujuan kita mengikuti lomba di sekolah tersebut, juga adalah memberi kesempatan kapada Ibu dan Bapak guru untuk melihat, menonton, dan mengambil hal yang positif dan hal yang berbeda yang ada di sekolah itu untuk kemudian dapat Bapak dan Ibu adopsi bagi kebaikan Bapak dan Ibu sendiri, kelas Bapak dan Ibu, dan tentunya juga untuk kebaikan sekolah kita." Jelas saya kepada mereka. Dan alhamdulillah bahwa semua menyadari itu dan bersemangat ketika kami mendampingi teman dan anak-anak untuk menjadi peserta lomba.

Jakarta, 14 April 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #15; Mendapat Bisikan

Sebelum pertemuan pertama dalam diskusi panel yang sudah kami rencanakan, duduk disebelah saya, salah satu pegawai operasional yang bertugas membuatkan catatan atau notulensi diskusi. Alhamdulillah bahwa diskusi yang meliputi tiga putaran tersebut sedikit banyak telah memberikan gambaran tentang postur masing-masing kandidat. 

"Pak Agus benar telah mengundang orang lain yang tidak masuk dalam kandidat yang direkomendasi. Karena ini berarti Pak Agus tidak hanya mengikuti alur cerita yang dirancang dari bawah." Begitu ia mengatakan kepada saya dengan volume suara yang diatur rendah. Saya agak sungkan juga ketika harus memperhatikan apa yang disampaikan sementara dalam forum tersebut masih ada yang berbicara. Karena ini tidak mencerminkan perilaku santun dalam berkomunikasi. Oleh karena itu saya tidak terlalu mendengarkan sepenuhnya apa yang disampaikannya.

"Karena begitu ada rekomendasi, maka beberapa orang telah menghubungi saya untuk mengetahui siapa saja yang masuk dalam daftarnya. Dan mereka baru mengetahuinya ketika undangan Bapak untuk datang dalam diskusi panel tersebut sampai kepada para kandidat." Demikian lanjutnya. Saya benar-benar jengah dengan model komunikasi bisik-bisik seperti ini. Terlebih karena forum diskusi panel belum benar-benar ditutup. Oleh karena itu saya melakukan trik dengan cara mendengar apa yang teman sebelah sampaikan sembari menghitung jumlah skor dari para kandidat.

Dan ketika forum itu benar-benar ditutup dan saya segera meninggalkan lokasi diskusi menuju ruangan saya untuk menyelesaikan verifikasi beberapa dokumen yang harus segera mendapat verifikasi dari saya, saya memastikan kebenaran tentang apa yang saya memang sudah duga sebelum proses diskusi panel tersebut berlangsung.

Saat itu saya mendapat kabar bahwa ada rekomendasi tentang beberapa kandidat yang harus ikut dalam diskusi panel guna menentukan siapa gerangan kandidat yang paling potensial, yang memang dapat ditunjuk sebagai pengganti pejabat lama yang telah habis waktu berlakunya. Namun si pemberi kabar tersebut sekaligus menyampaikan bahwa semua kandidat yang ada tersebut sama sekali tidak mencantumkan 3 nama kandidat yang beberapa waktu lalu menjadi 'ketua kelompok' dalam diskusi guru. Dimana 'ketua kelompok' tersebut dipilih secara aklamasi oleh para anggota kelompoknya.

Dalam hal ini, kebetulan saya berada diantara mereka serta benar-benar mengikuti proses yang terjadi. Saya benar-benar menyaksikan proses yang mereka jalani. Dan meski kedudukan sebagai 'ketua kelompok' tersebut bersifat 'lokal' dan sama sekali tidak mengikat, tetapi saya menangkap bahwa tiga orang tersebut mendapat mengakuan secara natural dari teman-temannya untuk menjadi bagian yang dapat dibebani tanggung jawab lebih. Atas dasar pertimbangan itulah maka saya berinisiatif untuk memanggil ketiganya sebagai bagian dari kandidat yang sedang kami undang untuk mengikuti diskusi panel bersama kami. 

Mengapa saya mengundang kandidat yang bukan menjadi bagian dari mereka yang mendapat rekomendasi? Tidak lain adalah untuk menghapus anggapan miring yang dituduhkan kepada si pembuat  rekomendasi. Anggapan bahwa seolah-oleh proses yang dilakukan dengan cara diskusi panel tersebut hanyalah sebuah proses yang formalitas. Karena sesungguhnya kandidat yang terpilih pastilah mereka yang memang sudah direncanakan.

Walaupun, dapat saya pastikan bahwa undangan bagi tiga orang yang tidak mendapat restu tersebut untuk ikut dalam bagian diskusi panel bukanlah jaminan bahwa salah satu dari mereka, atau dua dari mereka atau mungkin tiga-tiganya dari mereka akan terpilih sebagai kandidat terunggul?

Dan sebagai akhir dari usaha saya untuk memutus keberlanjutan bisikan dalam forum diskusi panel tersebut adalah kalimat pemutus yang saya sampaikan kepada teman di sebelah saya itu; "Terimakasih ya Bu atas informasi dan masukannya. Saya menjadi tahu hal dari sisi yang lain."

Jakarta, 14 April 2016.

13 April 2016

Anggrek Ulang Tahun, 2016

Untuk kesekian kalinya saya menerima lima tangkai bunga anggrek yang ditata di dalam pot yang bagus. Datang dengan diantar oleh supir direksi saya suatu sore beberapa waktu lalu. Dan harus menandatangani surat pengantar yang disertakannya. Bunga anggrek yang memang menjadi ucapan selamat dari Yayasan untuk saya. Alhamdulillah.

Jangan ditanya untuk hadiah ulang tahun yang keberapa? Ini karena memang sebuah hal yang memang saya sendiri selalu jengah manakala harus menerima hadiah berupa bunga anggrek mekar yang anggun dan tahan luar biasa lama. Jengah bukan saja karena saya sendiri tidak terlalu menjadi persoalan bila tanggal kelahirannya tidak diingat oleh siapapun. Tetapi juga ternyata tanggal kelahiran dimana saya menerima bunga anggrek sebagai ucapan selamat itu hanya sebatas administrasi belaka.

Mengapa? Ya karena memang itulah riwayat yang ada pada saya berkenaan dengan tanggal kelahiran. Ini karena berawal pada saat Bapak Guru saya yang akan menulis Ijazah SD saya tidak mengkonfirmasi tanggal kelahiran saya sebelum benar-benar menuliskannya. Alhasil, tanggal yang ditulisnya itu bukan tanggal yang seharusnya, sebagaimana yang tertera di surat lahir saya yang dikeluarkan oleh petugas rumah sakit di kota Metro sana.

Maka untuk alasan administrasi, seluruh tanggal lahir yang ada pada saya mengikuti apa yang tertera dalam ijazah SD tersebut. Konsekuensinya, saya memiliki dua tanggal lahir. Tanggal lahir asli saya diingat oleh sanak dan keluarga. Sedang tanggal lahir administrasi diingat oleh atasan dan petugas administrasi ketika nanti akan menghitung waktu pensiun saya.

Jakarta, 13 April 2016.

Buku Kumpulan Cerita Siswa

Akhir pekan yang lalu, saya diminta untuk memberikan kata pengantar atau sedikit catatan usai membaca karya anak-anak yang terkumpul dalam sebuah Buku Kumpulan Cerita Pendek. Ini adalah buku yang kedua, setelah tahun lalu anak-anak yang berbeda juga menuliskan karya-karyanya yang kemudian oleh guru Bahasa Indonesianya disatu bukukan. 

Namun karena terkendala teknologi, maka apa yang dikirimkan oleh guru tersebut kepada saya via email, tidak sampai juga hingga pada hari Seninnya, ketika kami bertemu di dalam kelas di lantai 3. Maka atas keterbatasan waktu dalam pertemuan tersebut, saya meminta untuk dipinjami flash disk. Tujuannya tidak lain agar semua artikel yang ada dalam kumpulan cerita pendek tersebut dapat saya baca di layar hand phone saya. Mengingat pada hari itu saya harus melakukan pertemuan setelah pulang sekolah. Artinya, saya berkeinginan untuk membaca cerpen tersebut diantara perjalanan dari sekolah menuju ke lokasi rapat dan dari lokasi rapat menuju ke rumah di malam harinya.

Alhamdulillah, cerita-cerita itu saya baca diantara waktu-waktu yang saya punya. "Kami tunggu komentar Bapak atas cerita anak-anak tersebut sebelum Selasa ya Pak." Demikian informasi yang saya terima dari guru Bahasa Indonesia. "Siap Pak." Jawab saya.

Dan inilah kaimat yang saya sampaikan dalam kumpulan cerita pendek yang akan diluncurkan bertepatan  dengan hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2016;

Memulai membaca judul judul cerita pendek  dalam Kumpulan Cerita Pendek ke-2, yang ditulis oleh anak-anak yang duduk di kelas IV hingga kelas VI SD tahun pelajaran 2016/2017 ini, sungguh mengundang penasaran yang meluap-luap bagi saya. Rasa penasaran ini tidak lain karena judul-judul yang ada tidak semua mudah ditebak akan seperti apa alur dan jalan cerita yang akan disajikan oleh para penulisnya.


Untuk itu, ketika naskah tersebut diberikan kepada saya untuk membacanya, cerpen-cerpen tersebut segera saya sergap. Dan benar, apa yang semula saya duga benar adanya. Anak-anak begitu pandai dan cerdas ketika harus membuat 'dunia baru' dalam cerita tersebut. Sebuah 'dunia' yang benar-benar memberikan cerminan bahwa mereka memang berasal dari kelompok generasi yang pintar.



Dari 'dunia' rekaannya, kita akan disuguhi semua detil kehidupan yang nyata dan dapat kita raba. Meski dunia yang disuguhkan dalam rekaannya ada dunia metafisika seperti kehidupan yang memang belum pernah hadir di kehidupan nyata.



'Dunia' rekaan anak anak dalam cerita pendeknya ini juga mempresentasikan seberapa banyak dan seberapa dalam pengamatan anak-anak tersebut terhadap dunia yang berjalan disekelilingnya. Mereka adalah cerminan anak-anak yang menaruh perhatian terhadap apa yang sehari-hari kita lakukan. Mereka adalah generasi yang mencintai budaya literasi dengan membaca dan menulis.



Dan dengan kompetensi menulisnya itu, anak-anak ini sedang menyampaikan kepada kita, pembaca, untuk melihat apa yang menjadi stetmen, harapan, impian, dan keinginannya. 



Semoga apa yang telah mereka tulis dalam cerita pendeknya, yang terkumpul dalam buku ini, menjadi bagian perjalanan hidupnya yang berkah. Amin.

Jakarta, 9-10 April 2016

09 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #14; Memvisualisasi sebuah Program

Setelah beberapa kali saya menyampaikan hal-hal baik yang bisa menjadi program sekolah namun belum juga mendapat tanggapan baik atau sambutan positif dari guru-guru di sekolah, maka ada jalan lain yang menjadi pintu solusi. Yaitu melihat langsung program tersebut di sekolah lain bertepatan dengan ketika sekolah tersebut melaksanakan programnya. Itulah yang kita lakukan dengan benchmarking.

"Menarik sekali ya Pak melihat betapa anak-anak sejak berada di kelas kecil mampu berkomunikasi dengan baik dengan mempresentasikan apa yang menjadi pengalaman belajarnya di dalam kelas serta menyampaikan visinya untuk masa depan?" Demikian seorang guru menyampaikan apa yang menjadi perhatiaannya ketika ia kembali ke ruangan berkumpul setelah menyelesaikan tour ke kelas-kelas.

Semua teman saya minta untuk menyampaikan apa yang didapatkan dengan kegiatan yang baru saja kami lakukan bersama. Melihat secara langsung tentang bagaimana kegiatan yang menjadi program sekolah tersebut. Ini menjadi penting karena ketika saya menyampaikan program tersebut untuk diadopsi di sekolah sendiri seperti ada nuansa tidak terkoneksi. Yang mengakibatkan ketidak adanya respon yang baik akan program tersebut.

Maka kalimat yang diungkap oleh seorang guru tersebut, juga oleh yang lain yang rata-rata menjadi kagum dan beruntung untuk dapat hadir dalam kegiatan kunjungan sekolah tersebut. Beruntung bahwa dengan melihat langsung tersebut mereka mendapat gambaran yang asli dan faktual. Sebuah gambaran yang memungkinkannya membuat pendapat atau pernyataan akan sebuah program yang sebelumnya pernah mereka dengar, lihat, dan ketahui ketika saya menyampaikannya dalam bentuk presentasi dan film. 

"Saya mendapat hal baru yang sebelumnya tidak tersirat dalam pikiran saya Pak. Meski saya telah menjadi guru hampir sepuluh tahun ini. Sebuah kegiatan yang menantang siswa untuk melakukan lompatan dalam pembelajaran berkomunikasi."  Kata teman yang lain lagi. Ini menjadikan dia memiliki gambaran yang utuh tentang program yang akan dilaksanakannya ke depan dengan tidak ada keraguan lagi.

"Saya menjadi faham dan sadar bahwa itu merupakan program yang bagus untuk masa depan anak didik kita." Lanjutnya dengan penuh percaya diri. Ia rupanya telah merubah cara berpikirnya 180 derajat dengan apa yang sebelumnya. Ini karena ia adalah salah satu guru yang meragukan bahwa program yang saya tawarkan merupakan program aneh, sulit, dan program ambisius. Yaitu program yang terlalu dini menuntut anak untuk lebih berpikir berbeda.

"Dengan apa yang Bapak Ibu lihat barusan, apakah memberikan gambaran atas program yang saya sampaikan sebelumnya?"  Tanya saya lebih lanjut. Memancing pernyataan mereka akan bagaimana nasib kegiatan yang telah ancang-ancang kita lakukan.

"Sangat jelas Pak. Dan dari apa yang saya telah lihat barusan, kami merasa percaya diri untuk menjalankan program tersebut secepat mungkin di semester yang akan datang." jelas teman saya dengan nada yang mantap tanpa ada keraguan. Pernyataannya itu, ditambah tekad teman-teman yang lainnya, cukup bagi saya untuk membesarkan hati dan tekad untuk melakukan perubahan dan transformasi diri. 

Oleh karena itu, benchmarking inilah  yang saya sebut sebagai kegiatan kunjungan untuk memberikan gambaran atau visualisasi akan apa yang sebelumnya sudah saya sampaikan dan dipahami oleh teman-teman, tetapi sulit untuk dibayangkannya. Semoga.

Jakarta, 9 April 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #13; Mendeskripsikan Sekolah Impian

Beberapa malam yang lalu, saya dan teman karib saya, mendapat undangan untuk mendeskripsikan sekolah impian di sebuah lembaga pendidikan yang ada di Jakarta. Pertemuan beberapa malam itu adalah pertemuan yang kesekian kalinya. Dimana kita masih berkutat dalam topik diskusi yang sama. Ini tidak lain karena diantara kita belum menyepakati seperti apa deskripsi sekolah impian itu. Malah pada diskusi beberapa malam itu kita terjebak kepada fenomena yang timbul dan tampak di sekolah teman  yang mengundang saya untuk diskusi. Dan juga mendiskusikan bagaimana kelanjutan dari penyelesaian masalah tersebut. 

Mengapa membutuhkan diskusi untuk mendeskripsikan seolah impian padahal teman saya itu telah mengelola sekolah yang sekarang ini total siswanya 1500? "Karena dari data yang ada, ada kecenderungan bahwa lambat tetapi pasti terjadi penurunan jumlah siswa baru. Dan ini harus dicari tahu apa yang menjadi sebabnya." Demikian yang disampaikan oleh salah satu pengurus sekolah yang kebetulan juga ada dalam diskusi kami.

"Terutama mereka yang sudah lulus dari jenjang pendidikan yang ada di bawahnya dan tidak melanjutkan di jenjang pendidikan selanjutnya di lembaga yang sama. Maka ini menjadi indikator bagi kami untuk mengetahui tentang daya saing dan daya kompetisi." Lanjut teman saya. Penjelasan itu cukup memberikan kepada saya dan teman gambaran tentang sekolah impian yang sedang mereka butuhkan.

"Anak-anak yang sudah lulus tersebut, melanjutkan ke sekolah dengan karakteristik yang lebih baik dari jenjang sekolah yang ada di sekolah kami, sekolah mereka." Jelas teman saya lagi. Membuat saya dan teman saya memahami persoalan yang memang sedang dan akan datang dan berimplikasi langsung terhadap lembaga pendidikannya.

"Bagaimana kalau kita bicara tentang kerangka sekolah, tentang konsepnya, sebelum kita bicara tentang fenomena sekarang, fenomena yang memang sedang Bapak-Bapak hadapi?" Sela saya di dalam forum. Tujuannya adalah untuk memberikan arahan diskusi supaya topik bicaranya bisa lebih fokus dan tidak melebar kemana-mana. Dengan demikian, maka waktu saya untuk berada di dalam forum itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Supaya saya dan teman dapat meninggalkan diskusi sebelum malam bertambah larut.

"Bagaimana kalau saya ibaratkan rumah, maka lembaga yang bernama sekolah harus menjadi tempat yang bagus, nyaman, dan menyenangkan untuk semua yang berada di dalamnya. Sejak orang datang di halaman depan rumah, sejak diterima tuan rumah dan diajak ke ruang tamu. saat kemudian menumpang sholat di pojok salah satu kamar, atau ketika kita membutuhkan untuk berhajat di kamar belakang, dan juga ketika kita diminta untuk merasakan masakan ringan di ruang makan?" Kata saya ketika memberikan metapora bangunan yang bernama sekolah. Hal ini perlu saya sampaikan mengingat teman-teman saya itu adalah orang yang tergerak untuk berbagi pikiran dan tenaga meski latar belakang sebelumnya,adalah sebagai pengusaha atau teknokrat non kependidikan. 

"Bagaimana kalau dalam tataran itulah kita membuat deskripsi sekaligus standar dari masing-masing ruangannya?" Lanjut saya lagi sebagai usaha saya untuk meyakinkan akan kesamaan pembahasan antara saya sendiri dengan para peserta diskusi tersebut.

Maka, dengan kerangka itulah kami bergerak untuk membuat pemetaan akan apa saya yang menjadi standar di masing-masing aspek yang terdapat dalam sekolah impian. Bagaimana bentuk sarana dan infrasturuktur gedung yang dibutuhkan, bagaimana kerangka pendidikan yang diinginkan sekaligus seperti apa prototipe SDM yang harus mengemban amanah untuk pencapaian apa yang diimpikan. Harapan saya dan teman ketka usai pertemuan diskusi tersebut adalah segera terbentuk dan lahirnya lembaga pendidikan baru yang sejak hulu telah dipikirkan secara konseptual baik di lingkungan yang tidak jauh berada dari tempat tinggal saya. Semoga.

Jakarta, 9 April 2016

08 April 2016

Menemani "perubahan' Guru #12; Menyadarkan atau Membiarkan

"Kami harus terbuka dan saling memberi nasehat atau paling tidak untuk mengingatkan kepada teman kami yang kebetulan sedang tidak dalam kondisi yang baik." Begitu kalimat yang di sampaikan oleh Ibu Kepala Sekolah ketika kami sedang berkunjung ke sekolahannya yang lumayan 'sederhana'. Saya mengingat betul kalimat itu karena kalimat itu tidak mungkin saya bisa ungkapkan jika saya kembali ke sekolah dimana saya kini berada. 

"Apa yang Ibu maksud dengan terbuka dan saling mengingatkan itu Ibu?" Tanya teman saya begitu Ibu Kepala Sekolah usai menyelesaikan kalimatnya. Ia tampak bingung dengan kalimat sederhana yang semestinya mudah dipahami itu. 

"Seperti ketika ada seorang guru yang tiba-tiba tidak bersemangat ketika sedang menghadapi peserta didiknya karena pada saat yang sama ia harus membuka dan menulis balasan di telepon smart-nya. Maka teman yang kebetulan ada di sebelahnya segera mengingatkan guru yang juga adalah temannya itu. Mengingatkan bahwa kehadirannya di sekolah adalah untuk sepenuhnya melayani peserta didik. Maka semua hal yang menghalangi hubungannya dengan peserta didik untuk dialihkan atau dikesampingkan terlebih dahulu." Jelas Ibu Kepala Sekolah dengan memberikan ilustrasi nyatanya.

"Apakah itu pernah terjadi disini Ibu?"
"Iya pernah."
"Tidak tersinggung kalau teman sejawatnya yang mengingatkan. Apa tetap menghargai?"
"Tidak ada tersinggung. Karena teman-teman disini sudah terbangun rasa untuk saling beterusterang dalam hal tugas. Juga tidak akan ada perasaan tidak enak untuk mengingatkan hal baik terhadap temannya yang sedang khilaf."

Percakapan-percakapan itu di dalam ruang diskusi antara Kepala Sekolah yang menjadi tuan rumah bersama kami yang menjadi tamu, membuat saya pribadi faham akan kultur yang tercipta di sekolah yang sedang kami kunjungi. Dan pada titik ini saya pribadi menjadi malu bahwa beberapa hal baik yang sederhana seperti saling terbuka dan tidak buruk sangka terhadap pihak yang berbuat baik semacam mengigatkan temannya masih sering muncul dalam hidup keseharian kami di sekolah.

Teman sungkan mengingatkan koleganya karena tidak ingin dianggap 'caper' atau 'tuduhan' lain yang justru tidak konstruktif. Akhirnya sering kami melakukan pembiaran atas kesalahan-kesalahan kecil yang kolega perbuat di hadapan kami sendiri, dan berharap agar Kepala Sekolah kami sendiri mengetahui kejadian tersebut.

Dan ketika kondisi sosial seperti itu, maka kesalahan teman dihadapan kita, dilema untuk melakukan penyadaran atau pembiaran, masih menjadi fenomena...

Jakarta, 8 April 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #11; Mengajak Eksploratif

Dalam sebuah kesempatan diskusi tentang program, saya baru menyadari bahwa selama ini kegiatan atau program sekolah yang telah dirancang dalam rapat kerja masing-masing unit sekolah dan telah disepakati oleh semua peserta raker, ditunjuk penanggung jawab di tiap-tiap program kegiatan yang ada. Dan dengan seperti itu, maka pihak Kepala Seklah akan memantau kegiatan tersebut sejak perencanaan program, di awal kegiatan akan berlangsung, hingga evaluasi kegiatannya, ketika kegiatan telah dilakukan. Namun bagaimana persisnya pola dan tahapan kerja itu, saya tidak punya gambaran selain meyakini bahwa kegiatan berlangsung dengan baik dan memiliki dampak kebermaknaan bagi peserta kegiatan, yaitu siswa. Hingga suatu saat dalam diskusi yang membuat saya tercengang. Ini pun disebabkan oleh adanya informasi dari lapangan yang tanpa merasa bersalah sedikitpun, Kepala Sekolah menceritakan apa yang selama ini menjadi budaya yang dijalaninya.

"Saya tunggu saja Pak Agus ketika rapat pertama kali panitia kegiatan yang ada di program sekolah yang dipimpin langsung oleh penanggung jawab program yang  sudah ditunjuk di awal tahun pelajaran." Cerita Kepala Sekolah kepada saya. Tentu apa yang disampaikan itu menjadi pertanda buat saya untuk melihat bagaimana disain program kegiatan yang selama ini dijalani. 

"Nah, biasanya penanggung jawab kegiatan akan menjadikan teman-teman yang satu barisan dengannya untuk menjadi panitia kegiatan." Jelasnya lebih lanjut, yang semakin membuat saya merasa mual dan sedikit pening. Mengapa? Kalau seperti itu pola kerjanya, kemudian dimana posisi Kepala Sekolah berfungsi sebagai peletak disain kegiatan yang dapat memberikan dampak positif kepada peserta didik? Karena bukankah kegiatan yang ada di sekolah hanya akan menjadi perulangan yang kurang berdampak? Bukankah kalau demikian maka sesungguhnya setiap kegiatan yang ada di sekolah hanya menjadi sebuah rutinitas? Dimana kegiatan tahun lalu dan tahun ini yang berbeda hanyalah plot tanggal, waktu, tempat berlangsungnya kegiatan, biaya  kegiatan, dan para pelaksana kegiatannya? Tanpa ada keinginan dari lembaga atau penanggung jawab atau pelaksana kegiatan untuk melakukan sesuatu yang 'beda' dan lebih memberikan tantangan-tantangan baru buat pelaksana dan peserta kegiatan? Apakah kegiatan sekolah hanya disusun untuk sesuatu yang biasa-biasa saja?

"Terus apa akhirnya ketika penanggung jawab kegiatan tersebut dibiarkan berlangsung tanpa kehadiran manajemen sekolah yang dapat berfungsi sebagai pengendali visi kegiatan?" Tanya saya kepada Kepala Sekolah dalam sebuah forum diskusi itu.

"Ya tidak ada Pak. Saya ingin memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada penanggung jawab dan panitia kegiatan Pak." Jelas Kepala Sekolah yang akhirnya saya pahami bahwa ia tidak sepenuhnya memahami harus bagaimana melakukan  sebuah gerakan  transformasi di sekolah. Dari titi inilah saya akhirnya meminta semua yang hadir dalam forum diskusi tersebut untuk bisa melihat bahwa ada cara kita sebagai manajemen sekolah untuk dapat mengajak teman-teman guru melakukan sesuatu yang eksploratif.

"Bapak Ibu Kepala Sekolah, bahwa transformasi sekolah yang kita canangkan menuntut kita untuk mahir dalam mengkomunikasikan. Seperti guru di kelas, kita juga dituntut untuk melakukan 'pembelajaran'  yang melibatkan peserta didik. Artinya, kita tidak bisa melepas para penanggung jawab kegiatan dalam setiap program sekolah tanpa pengawalan kita. Karena yang memahami transformasi sekolah adalah kita." Demikian kalimat pembuka saya dalam forum diskusi tersebut. 

Saya mengajak para Kepala Sekolah untuk sejak awal menemani para penanggung jawab kegiatan sejak konsep program kegiatan tersebut ditetapkan sebagai program sekolah. Kepala Sekolah harus mengajak para penanggung jawab program tersebut untuk melihat bagaimana pelaksanaan kegiatan tersebut di tahun yang lalu. Melihat apa yang mungkin di revisi dari kegiatan tersebut. Bagaimana kalau kegiatan tersebut dilakukan dengan strategi kegiatan yang berbeda. Bagaimana kalau mengajak guru untuk bereksperimen dengan bentuk kegiatan yang baru dengan tetap mempertimbangkan  peserta kegiatan yang tertantang ketika menjalani kegiatan, menikmati, dan eksploratif. 

Dengan demikian maka kehadiran manajemen sekolah memang ada sejak awal kegiatan itu hingga kegiatan itu benar-benar terlaksana dengan format strategi yang selalu berubah. Semoga...

Jakarta, 8 April 2016.