Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 Mei 2010

Belum


Ada pernyataan belum yang paling membuat saya geregetan. Yaitu pernyataan pegawai atau rekan guru pada saat saya menyampaikan penjelasan ulang berkenaan dengan suatu kebijakan dan yang berkaitan dengan dokumen yang harus dibagikan.


Ketika penjelasan globalnya telah saya utarakan, kemudian saya bertanya apakah mereka sudah pernah menerima dokumen yang saya jelaskan ulang atau sosialisikan ulang ini?

Padahal berdasarkan apa yang saya ingat dan sesuai dengan agenda yang ada di buku harian saya, pada pertemuan kali itu adalah pertemuan untuk kali yang kedua dalam rangka agenda yang sama. Artinya, ada pertemuan dengan agenda yang sama sebelumnya.

Dari pengalaman itu, maka untuk pencegahan timbulnya penyakit belum, itu lahir dan muncul kembali, kami memutuskan agar dikemudian hari setiap pemberian dokumen apapun dan kepada siapapun serta untuk dan dalam keperluan apapun untuk menggunakan selalu buku ekspedisi.

Namun selain ide penggunaan buku ekspidisi tersebut, saya juga merefleksikan diri apa yang membuat teman-teman masih mengaku belum pada hal-hal prinsip dalam pekerjaan. Misalnya tentang kriteria penilaian kinerja yang isinya adalah kriteria dan aspek-aspek yang akan menjadi dasar penilaian mereka dalam rentang waktu satu tahun. Yang saat kami akan menggunakan kreteria yang telah kami sepakati bersama, maka saat sosialisasi system itu, form telah kami bagikan kepada semua teman yang hadir. Namun dalam pertemua kemarin, banyak diantara mereka yang mengaku belum.

Dalam logika saya, karena dokumen itu erat hubungannya dengan hajat mereka, maka otomatis jika teman-teman menjadikan dokumen itu adalah sebagai panduan. Dan implikasinya akan memahami, bahkan akan mengkritisinya jika di dalam dokumen tersebut ada aspek dan kriteria yang dirasa dapat merugikannya.

Namun alih-alih mengkritisi yang menuntut pemahaman, mungkin saat menerima dokumen itu mereka baru berada pada tahap tahu. Oleh karenanya penyakit lupa mudah menghinggapinya. Dan dari refleksi tersebut, saya mencoba untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan penyebab penyakit belum tersebut. Dan yang muncul dari kemungkinan prediksi saya itu akhirnya saya melakukan strategi yang berbeda saat menyampaikan sesuatu.

Pertama, penyebaran dokumen selalu melaui proses diskusi. Ini dimaksudkan agar saat menerima informasi, seluruh teman akan juga ikut terlibat secara emosi. Sehingga tidak saja nantinya dituntut tahu tetapi juga mengerti. Memahami.

Kedua, setiap guru atau teman semua, wajib memiliki manajemen arsip yang baik. Dan Ketiga, guru selalu diminta tanda terima apapun di buku ekspedisi sekolah.

Jakarta, 21 Mei 2010.

18 Mei 2010

Sinergi dan Staff Morning Bulletin


Adakah hubungannya antara staff morning bulletin yang selalu terbit setiap pagi untuk seluruh staf, baik guru atau karyawan dengan membangun sinergi? Erat sekali mereka berhubungan. Setidaknya inilah yang terjadi ketika saya bekerja di sebuah lembaga sekolah tahun 2003 yang lalu, yang menjadikan buletin pagi sebagai salah satu sumber informasi bagi komponen sekolah.

Dan dalam tulisan saya kali ini, saya akan mencoba menjelaskan hubungan intim mereka berdua untuk Anda.

Staff Morning Bulletin (SMB)

Ini adalah buletin yang disipan dan diterbitkan setiap sore hari, untuk kemudian dapat didistribusikan menjelang sekolah tutup melalui kotak surat setiap guru yang disebut pegion hole. Sehingga seluruh guru dan staf sekolah akan menerima buletin ini setiap pagi sebelum jam belajar dimulai. Berisi tentang informasi apa saja yang telah dan yang akan terjadi. Informasi dapat dari manajemen sekolah, guru atau karyawan sekolah. Tujuannya jelas, agar setiap unsur yang ada di dalam sekolah dapat mendapatkan informasi yang sama detilnya tentang apa yang telah, sedang atau akan terjadi di sekolahnya.

Saya ambilkan contoh untuk SMB edisi; Friday, 29 August 2003. Isinya antara lain adalah:

Whole School:
Library Closed (Library Staff)
The Library/Resources Centre will be closed all day on Tuesday next week (Sept 2nd) as the Library Staff will be having a policy-writing day.

Pramary School:
House Meeting (P. Agus)
Today, we will have a house meeting for year 5-6 at 10.20-10.45 am. (Straight after the assembly).
The agenda items for this meeting are:
* Choosing captain (2 captains; male and female).
* Cheering Practice.
* Nominate the participants.

Secondary School:
Visitors (I. Yvonne)
Today we will have visitor from SLTP Hati Suci Jakarta. They wil have a tour around the school and meet with Kepala Sekolah.

Bagaimana jika ada informasi yang terlewat dan tidak sempat dimuat dalam SMB terbitan pada hari itu? Jika ini yang terjadi maka penanggungjawab kegiatan akan mendatangi beberapa orang yang memungkinkan mendistribusikan informasi kepada khalayak secara lisan. Ha ini selain sebagai konsekuensi dari kekhilafan yang telah dibuatnya, juga sebagai bentuk betapa informsi tentang apa yang akan dan sedang berlangsung di sekolah tersebut menjadi informasi khalayak.

Dan dari sinilah saya belajar bagaimana sinergi itu. Juga belajar bagaimana mengelola diri untuk menjadi bagian yang kontributif pada aspek informasi dalam kehidupan bersama di sebuah lembaga.
Dan saya yakin, bahwa SMB yang berlaku di sekolah tersebut, yang esensinya adalah menciptakan sinergi, ada dan menjadi perhatian kita bersama di sekolah kita masing-masing. Semoga bermanfaat.

Jakarta, 18 Mei 2010.

Yang Muda Saja


Pernahkah terpikir oleh kita jika ada pembaharuan atau sedikit perubahan dari apa yang telah menjadi kebiasaan kita, maka beberapa teman kita merekomendasikan kepada pimpinan atau jika di sekolah maka kepada kepala sekolah kita, agar perubahan atau pengembangan tersebut dilakukan terlebih dulu adalah kepada yang muda saja? Jika belum, inilah cerita saya. Tetapi jika sudah, ada baiknya cerita saya sebagai pembanding dari apa yang pernah Anda dengar, lihat atau bahkan mungkin alami.

Sebagai bagian dari golongan yang boleh dikatakan senior, saya sering iri hati kepada teman-teman yang junior. Betapa tidak, teman-teman junior saya ini jauh lebih pintar dari saya. Buktinya? Mereka sejak muda terus saja sekolah hingga menamatkan sarjananya di perguruan tinggi negeri yang prestisius. Banyak diantara mereka justru dari PTN non kependidikan. Namun karena begitu menggebunya rasa dan keinginannya untuk menjadi guru, maka rela mereka mengejar akta IV yang semula menjadi syarat mutlaknya menjadi guru. Satu hal yang saya harus akui bahwa saya kalah. Karena untuk melanjutkan kuliah, saya harus bekerja lebih dulu. Dan itupun bukan PTN.

Saya juga iri dengan junior saya, karena rata-rata mereka menguasai bahasa asing. Ketika saya bertanya dari mana mereka belajar bahasa itu? Mereka menjawab dari pergaulan dan sedikit kursus diwaktu masih duduk di bangku SD atau SMP. Nah!

Dan sebagai generasi lebih muda dari kami, mereka juga bergaul erat dengan teknologi informasi. E-mail, facebook, twitter dan bahkan blog, bukan barang yang asing buat mereka. Apalagi dengan key board komputer. Sedang kami, para seniornya yang telah berkepala 4 ke atas, harus berjuang keras untuk meruntuhkan mentalitas gampang menyerah hanya untuk mampu dan dapat menyesuaikan dengan apa yang mereka telah miliki. Oleh karenanya, hanya sebagian dari kami yang mampu bersaing secara setara dengan mereka.

Dan yang sebagian dari itulah yang kadang masih secara kuat mempertahankan budaya 'pintar'nya, yang antara lain dalam bentuk rekomendasi kepada kepala sekolah agar perubahan cara pembelajaran dilakukan dari yang muda dulu. Dari yang junior dulu. Yang senior? Nanti mengikuti dari belakang. Benarkah?

Yang seringnya terjadi justru, yang muda tidak berani meninggalkan apa yang telah dicontohkan oleh yang senior. Implikasi berikutnya adalah perubahan masih manjadi dokumen tertulis yang cantik dan memesonakan. Namun baru pada tataran pengetahuan dan belum pada tataran aplikasi.

Namun, bagaimana dengan pengalaman Anda?

Jakarta, 18 Juni 2010.

07 Mei 2010

Ketika Mereka Masih Kanak-Kanak




Saat kami berkunjung ke rumah keluarga, kami menemukan album foto tahun 94-an. Setelah di scan, inilah foto kenangan masa itu. Foto anak-anak kami. Saat mereka masih kanak-kanak. Sungguh membahagiakan ketika kami sekarang melihat masa dahulu kami. Alhamdulillah bahwa Allah telah memperkenankan kami melihat masa kami muda.

Foto di samping adalah ketika Ikhwan dan Zahra masih berusia lebih kurang 1, 8 tahun dan 8 bulan. Mereka berdua beda usia satu tahun kurang 2 hari.

Beginilah selalu yang menjadi kebiasaannya. Mereka berdua adalah sahabat yang saling isi satu sama lain. Ini terjadi saat bermain di rumah Bude Nani di Kompleks Angkasa Pura II, Tangerang. Anak ketiganya belum lahir.
Jika di rumah Slipi pun, mereka akan berbagi mainan. Kalau yang laki mengendarai mobil-mobilan maka yang perempuannya akan mengendarai sepeda roda tiga. Ruang tamu hingga ke dapur, adalah area mereka saling berpacu. Sementara Eyang, akan menemani mereka bermain dengan membaca Al Qur'an di depan pintu kamarnya.






Ini foto Ikhwan saat dia ada di TKB. Mungkin menjelang masuk bangku SD. Saat pulang kampung. Tentu juga saat Mbah Laki masih sangat sehat waktu itu. Sepatunya adalah sepatu favoritnya. Dan sepatu ini meski 'kedodoran' menjadi seragam utamanya. Hingga Ibunya sebel.










Ini aksi paling menggemaskan. Sejak kecil anak ini sudah 'siap' menginap di rumah Budenya. Dan mandi dengan disiram air, menjadi salah satu aksi yang pernah dilakoninya. Usianya sekitar 3 tahun.









Foto Wildah. Usia saat itu sekitar satu tahun. Lahir bertepatan dengan hari Maulid tanggal 9 Agustus 1995. Adalah teman setia Eyang. Karena kedua kakaknya sudah masuk bangku sekolah saat dia berusia 1 tahun.












Jakarta, 17 Mei 2010

06 Mei 2010

Siap Menang Tapi Tidak untuk Kalah


Pada suatu malam, saya terlibat diskusi dengan sahabat berkenaan dengan pengumuman hasil Ujian Nasional SMA dan SMP sederajat, dan fenomena cara siswa dalam memberikan tanggapan hasil UNnya. Diskusi tidak berkait dengan pro kontra pelaksanaan UN atau menurunnya hasil UN tahun 2010 ini dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang merupakan hasil terendah, tetapi tentang hal yang berkenaan para siswanya yang menjadi peserta UN.


Sahabat saya menyampaikan rasa prihatinnya bahwa ada beberapa siswa yang gagal dalam UN menanggapinya dengan perilaku yang tidak selayaknya dilakukan oleh orang yang sedang mengalami kegagalan. Terlebih bahwa kegagalan UN tahun 2010, belum merupakan kegagal final. Mengingat masih ada UN Ulangan untuk mereka yang gagal dalam UN Utama.

Dan dengan pemahaman yang demikian, maka sikap marah-marah, berteriak-teriak karena rasa kecewa yang teramat sangat, bahkan hingga merusak fasilitas yang ada sebagai bentuk sikap kecewa, merupakan perilaku yang tidak santun, kurang mawas diri dan merupakan bentuk perilaku yang tidak tahu diri. Terlebih ada yang karena malunya tidak lulus dalam UN Utama itu meski hanya disebabkan oleh satu nilai mata pelajaran, hingga sikap fatal yang dipilihnya sebagai solusi, yaitu bunuh diri.

Apakah begitu sakralnya atau begitu mulianya UN ini, sehingga jika hasil yang diperolehnya gagal maka harus mengakhiri hidup sebagai cara penyelesaiannya? Mengapa begitu pendek cara berpikir remaja itu? Betapa tidak siapnya remaja kita ketika menemui kebuntuan, kegagalan atau kesulitan. Mereka seperti hanya siap untuk berhasil, lulus, sukses, dengan tanpa mau berkalkulasi tentang ikhtiar yang dijalaninya. Siap menjadi pemenang dan tidak untuk menjadi pekalah.

Dari fenomena yang ada itu, setidaknya ada dua hal yang dapat kami petik sebagai hal penting dalam catatan refleksi. Pertama; Bahwa pendidikan kita masih belum membelajarkan bagaimana menghadapi kegagalan. Hasil pendidikan yang kita lakukan di kelas-kelas, hingga detik ini masih mengajarkan bagaimana untuk berhasil. Tapi masih jauh dari menyiapkan generasi yang siap gagal. Atau setidaknya generasi yang siap untuk menemukan solusi dalam kesulitan, kebuntuan, atau bahkan kegagalan yang dihadapinya. Bagaimana untuk memiliki mental problem solver.

Karena sesungguhnya berhasil dan gagal adalah dua sisi mata uang yang akan selalu ada dalam setiap akhir ikhtiar kita. Dan bukan berhasil dan gagalnya yang paling pokok yang harus kita hadapi. Tetapi lebih dari bagaimana kita mensikapi dua fenomena itu.

Kedua; Pendidikan kita di sekolah sekarang ini adalah pendidikan untuk generasi yang serba gampang. Model generasi ini adalah kemudahan yang luar biasa bagi kehiduopannya. Karena kemudahan itulah justru membuat mereka menjadi bukan pekerja keras.

Mengapa harus bekerja keras? Bukankah semua yang diinginkan dapat dicapai tanpa harus berusaha keras? Sejak kebutuhan yang dari rumah, berupa sandang, pangan dan fasilitas pribadi seperti telepon seluler, semua terpenuhi tanpa harus berjuang untuk mendapatkannya. Kondisi demikian telah dan terlanjur terbentuk. Perilaku ini menjadi bertambah subur karena prinsip sebagian orangtua terhadap anaknya: Biarlah anak saya tidak perlu susah lagi sekarang, sebagaimana saya dulu saat seusia mereka.

Bahkan dalam kasus tertentu yang lain, untuk lulus UN pun tidak harus belajar. Karena esok pagi menjelang masuk kelas dan mengisi lembar jawaban, kunci jawaban telah sampai pada mereka dalam bentuk sms?
Namun betapapun fenomena remaja seperti itu tidak terjadi pada setiap remaja. Banyak sekali remaja kita yang tetap memiliki visi dan prioritas hidup yang maju. Ia adalah remaja-rejama mandiri yang faham akan masa depannya. Bahwa usahanya sekarang adalah bentuk investasi bagi keberhasilan dirinya di masa depan. 

Cipete-Jakarta, Selasa, 27 April-10 Mei 2010

05 Mei 2010

Tetap Mengalah


Semestinya saya pasang wajah tersinggung atau langsung berkomentar: "Maaf, saya tidak membutuhkan masukan Anda hari ini." Tapi mungkin karena saya sedang rendah hjati atau justru malah rendah diri, kalimat itu tidak terucap dan hanya nyangkut di kerongkongan saya, dan kembali masuk dalam dunia ide bersamaan dengan saya menelan ludah.

Mengapa saya pantas tersinggung? Karena setiap menuliskan sesuatu, baik pengalamannya atau hasil observasinya, saya merasakan sentilan yang luar biasa. Sentilan yang mengandung emosi negatif terhadap apa yang dibuat orang lain. Merasa dirinya paling benar atau bahkan mungkin paling pintar atau justru merasa bahwa dirinya standar kebenaran dan kepintaran itu sendiri. Bah!

Dan pada saat yang sama maka dirinya akan melihat dan memposisikan saya sebagai obyek yang tidak selevel dengannya. Oleh karenanya, kritikan dan masukan yang disampaikannya tidak lebih dari cacian pada diri saya yang membuat saya kurang bersimpati.

Pada saat yang sama juga, saya tidak sedang membela diri atas temuannya. Yang mungkin dengan temuan itu akan menjadi bagian dari titik tolak bagi perbaikan diri saya di masa mendatang. Namun cara dan sudut pandang yang diambilnya dan dijadikannya acuan kritikannya, membuat saya tidak legowo.

Jangankan pada tulisan yang dibuatnya. Dalam komentar-komentar yang ditulisnya atas apa yang oranglain buat pun, selalu nyinyir bernada merendahkan atau juga meremehkan. Dan tidak jarang justru memukul balik.


Dan ketika saya mencoba untuk memberikan pengertian kepadanya, senyum sinis sebagai balasannya. Saya sempat berpikir; kapan dan bagaimana caranya orang ini nanti akan disadarkan oleh Yang Maha Pemberi Kesadaran? Atau mungkin dengan cara sebagaimana yang Band Cokelat gambarkan dalam lirik lagunya yang berjudul Karma? Allah-lah yang Maha Mengetahui apa yang menjadi rahasia di bumi dan di langit. Meski saya tidak berharap model kesadarannya sebagaimana cerita dalam lagu itu, namun setidaknya akan ada masanya nanti dia memiliki lebih banyak lagu tenggang rasa dan pemahaman bahwa dia hidup bersama-sama dengan orang lain yang butuh juga penghormatan dari dirinya. Semoga.

Terakhir yang saya dapatkan adalah tulisannya mengenai bagaimana semestinya berperilaku terhadap anak. Dia sampaikan semestinya di sekolah anak tidak hanya dicekoki dengan ilmu pengetahuan akademik an sich. Atau katanya dalam kalimat yang lain: Seyogyanya kita mesti melihat pendidikan anak di sekolah tidak selalu dengan kaca mata akademik?

Mengapa saya menjadi tersinggung dengan apa yang disampaikannya itu? Bukankah itu yang selalu saya katakan dan saya serta teman-teman lain lekukan di sekolah yang kami cintai ini? Apakah stetmen kami bahwa Ujian Nasional bukanlah satu-satunya hasil belajar, yang juga kami deklarasikan dalam Buku Panduan Sekolah, jelas-jelas menyatakan hal itu? Bukankah kami di sekolah benar-benar telah mengejawantahkan keyakinan kami tersebut dalam bentuk komitmen perilaku tentang keterampilan lain selain keterampilan akademik seperti sekolah kebanyakan?

Saat saya menuliskan ini, saya masih berpikir untuk mengalah. Bagaimana jika Anda adalah saya?

Jakarta, 5 Mei 2010

01 Mei 2010

Martabat


Pernahkah Anda berpikir bahwa, bila menduduki jabatan baru, menjadi sesuatu, itu berarti juga akan memperoleh martabat yang lebih dibandingkan sebelum Anda diangkat atau sebelum Anda menjadi sesuatu itu?
Yang juga berarti kebalikannya, bahwa kalau Anda turun dari menjadi sesuatu itu berarti pula martabat dan penghargaan orang di sekitar Anda menjadi luntur atau berkurang?
Jika demikian apa yang menjadi model berpikir Anda, sebaiknya Anda memulai sadar akan kekeliruan itu. Karena, setidaknya ini menurut saya, bahwa martabat atau penghargaan seseorang terhadap seseorang yang lain dalam jangka waktu yang panjang ada dan terletak pada diri orang yang bersangkutan.
Jabatan dan kedudukan dengan ketiadaan integritas diri yang mulia, hanya menghantarkan penghormatan terhadap orang yang bersangkutan dalam tempo yang singkat. Model manusia seperti ini paling lama akan dihormati orang disekelilingnya hanya selama jabatan itu ada pada dirinya. Dan orang sekilingnya itu mungkin bahawannya sendiri. Namun sesudah itu orang akan melupakannya dan menjadikannya teladan bagi ketidakmuliaan.
Bahkan beberapa hari ini kita bisa melihat di tv atau membaca di surat kabar bagaimana orang menjadi tidak begitu dihargai martabatnya setelah diketahui hal atau bagian dari hidupnya yang tidak mencerminkan integritas. 

Demikian juga sebaliknya. Bilamana diri dan pribadi tersebut dengan hiasan aklak integritas kemuliaan, maka dimanapun ia, terlebih dengan kedudukan dan jabatan yang menjadi amanahnya, martabat yang pantas akan tersandang mapan.


Tapi mengapa masih ada beberapa sahabat dan kolega atau tetangga kita yang mengejar penuh nafsu jabatan dan kedudukan demi mencita-citakan martabat diri yang tinggi? Orang-orang model seperti ini akan mengalami masa frustasi bilamana jabatan atau kedudukannya hilang. Sekalipun jabatan dan kedudukan yang dimilikinya tidak terlalu tinggi di sebuah lembaga yang juga tidak terlalu besar itupun lenyap dari genggamannya.

Maka jika kita menemukan teman yang memiliki model manusia seperti itu, segeralah ingatkan untuk melihat bahwa implikasi dari keseluruhan atmosfir yang ada dalam lingkungannya bermula dari diri sendiri. Inilah sesungguhnya konsep kausalitas yang adil bagi siapapun juga.

Dan semoga kita masuk dalam bagian yang menyadari bahwa memperbaiki diri sendiri berarti memperbaiki masa depan sendiri dan seluruh konstelasi lingkungannya.

Jakarta, 1 Mei 2010