Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Januari 2014

Masukan dari Guru

Ada banyak sekali masukan atau bahkan usulan dari teman-teman guru yang saya dapat di setiap waktu dan kesempatan. Masukan itu menjadi bagian penting bagi sekolah dalam terus mengembangkan diri. Dan dari sana sering kami menjadi lebih kreatif dan inovatif. Dalam semua sisi di sekolah. Baik dalam sisi sarana, sisi pembelajaran, dan bahkan pada sisi pengembangan lembaga ke depan.

Untuk itulah sering kami buka sesi masukan itu dalam dua tahun sekali dalam bentuk dialog dengan guru. Pada sesi seperti ini, kami mengundang beberapa guru untuk berkumpul dan diskusi tentang apa saja yang adakaitannya dengan sekolah, termasuk juga tentang kepemimpinan manajemen sekolah yang ada. Forum diskusi ini kami sebut dengan istilah dialog ngalor-ngidul. Sebuah nama  yang kami adopsi dari istiilah Pak Soeharto, Presiden kita yang ke-2, dimana beliau menyebut dialog utara-selatan. Jadi dialog bebas.

Meski dialog atau diskusi ini bebas tanpa ada kendalan untuk menyampaikannya, kami sering menemukan masukan guru yang bagus sekali. Tidak jarang masukan yang kami terima adalah masukan aplikatif. Meski masukan seperti itu tidak saja dapat guru sampaikan pada forum seperti itu, tetapi juga diluar forum. Namun saya perlu memberikan apresiasi kepada mereka yang begitu smangat menyampaikan masukan meskipun harus bertatap muka langsung dengan saya. Termasuk diantaranya ada yang positif atau bahkan ada yang sekedar komplain.

Dalam catatan kali ini, saya akan membuat sedikit uraian tentang masukan guru yang bersifat komplain. Komplain atas apa yang manajemen telah lakukan, komplain tentang tidak atau kurang dipenuhinya hak mereka oleh lembaga, komplain yang mereka sampaikan atas titipan dari komplain temannya, komplain mereka yang merasa betapa lembaga tidak manusiawi karena begitu tegas terhadap jam masuk kerja, pendek kata banyak komplain yang mereka sampaikan.

"Demi perbaikan ke depan kan Pak?" begitu kata mereka kepada saya saat seusai menyampaikan komplainnya. Saya tentu saja mempersilahkan apa yang ingin disampaikan.

Dalam pikiran saya, bukan komplain mereka yang pertama menjadi perhatian saya, seperti normalnya, biasanya dalam satu lembaga, pasti punya 2 atau 4 guru macam ini, yang diantara kami menyebutnya dengan istilah mister dan miss complain

Dan inilah yang saya catat disini. Ini tidak lain karena karakter sebagaian kecil dari mereka ini, menurut saya, sedikit menggelikan. Karena kadang apa yang mereka sampaikan,m jika kita lihat dengan logika lain, justru  merekalah yang berada dipihak yang salah. Pihak yang seharusnya menerima komplain. Dan bukan pihak yang harus menyampaikan komplain. Tetapi seperti yang saya sampaikan terdahulu, inilah karakter.

Jam Masuk

Seperti yang telah saya sampaikan di depan antara lain adalah komplain betapa pihak manajemen terlalu kaku dalam menerapkan jam masuk kerja. Sehingga, setiap paginya, selalu saja ada pegawai yang terlambat masuk kantor.

"Mengapa tidak fleksibel? Bukankah sekarang ini macet ada dimana-mana? Dasar manajemen bahlul!" Begitu antara lain umpatan yang mereka sampaikan. Tentu bukan di hadapan manajemen. Tetapi ketika mereka bertemu sesama temannya di warung makan. 

Pendapat mereka benar-benar meniadakan kalau ada teman mereka yang tinggal lebih jauh darinya namun selelu datang sebelum jam kerja mulai. Aneh? Normal saja. Ini karena mereka yang menyampaikan komplain ini hanya melihat apa yang ada di luar dirinya dengan kacamata yang ada di kepalanya sendiri.

Mempertanyakan

Ada juga komplain yang disampaikan dengan nada mempertanyakan atas kebijakan yang telah diputuskan manajemen. Tidak perduli kalau sebelum kebijakan itu diputuskan telah melalui jalur dari arus bawah.

"Saya ingin tahu, apa usaha Bapak di barisan manajemen agar kami semua ini dapat mencapai kompetensi sebagaimana yang telah Bapak presentasikan itu? Apakah kami harus mencapainya tanpa adanya program bidang SDM?" begitu salah seorang dari teman-teman saya ketika kami mensosialisasikan sebuah program.

Lalu saya jelaskan bahwa untuk mencapai pada standar yang diinginkan, maka sudah dan akan selalu terus di dorong pelatihan dan pendidikan untuk para staf. Termasuk diantaranya adalah mengirim staf ke luar negeri untuk menemukan benchmarking.

"Bukankah Ibu selama ini yang paling banyak kita kirim untuk pendidikan, termasuk ke luar negeri?"

Jakarta, 25-30.01.2014.

28 Januari 2014

Memilih Kepala Sekolah

Lagi-lagi memilih kepala sekolah. Ini catatan saya entah yang keberapa. Saya sendiri belum melacak seluruh file yang ada di bawah. Saya buat lagi catatan ini mengingat betapa berputarnya isu dalam memilih seorang kepala sekolah, yang saya rasakan sebeum adanya penetapan difinitif di suatu lembaga yagsedang sya bantu ini terus saja bergulir. Meski saya dan teman-teman yang berada dalam pusaran itu  tidak bergeming sedikitpun,  saya perlu juga membuat catatan tambahan ini.

Berputar dan berulang, karena memang itulah yang terjadi. Dan karena masa tugas seorang kepala sekolah tersebut dibatasi durasi dua kali atau dua periode masa jabatan, maka ia secara otomatis harus berpindahtugas. 

Mungkin akan tetap sebagai kepala sekolah tetapi berpindah di unit tugas yang berbeda. Atau juga mungkin dia akan kembali bertugas sebagai guru biasa yang berarti tidak akan menjabat tugas tambahan di lembaga tersebut. Meski begitu, dalam area atau lembaga yang masih gamang dalam menghadapi  transformasi, maka memilih kepala sekolah yang baru sungguh menjadi usaha yang tidak ringan.

Model

Beberapa model memilih kepala sekolah pernah kami jalani. Misalnya dengan mengelaborasi seluruh kandidat yang berasal dari guru-guru yang ada. Model ini kami gunakan dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah memberitahukan kepada semua guru untuk mengirimkan cv bagi yang berminat untuk menjadi kandidat kepala sekolah. Sedang pendekatan kedua adalah meminta guru untuk menuliskan satu nama temannya yang direkomendasikan untuk menjadi kandidat kepala sekolah. Kepada nama yang mendapatkan suara terbanyak hingga ranking 5 atau bahkan 12, akan kita masukkan sebagai kandidat.

Langkah berikut  setelah mereka manjadi kandidat adalah, kami lakukan kegiatan diskusi secara berkelompok. Kami menamai kegiatan diskusi kelompok kandidat itu dengan diskusi panel. Karena terdapat 4 atau bahkan 6 orang kandidat kita ajak menjadi satu diskusi. 

Dalam diskusi panel ini kami dapat memilih kandidat yang memiliki visi, landasan argumentasi yang cerdas, kehalusan pilihan kata dalam berkomunikasi, juga dapat kami lihat bagaimana para kandidat tersebut memiliki sudut pandang dan cara pandang terhadap masalah. Bahkan, kamipun dapat melihat apakah kandidat itu memposisikan diri sebagai pengamat dalam sebuah oraganisasi atau lebih banyak memposisikan dirinya sebagai pemeran solutif?

Langkah berikutnya, kami akan meminta pihak luar untuk melakukan tes kepemimpinan. Beberapa unsur kepemimpinan yang kami butuhkan kami titipkan untuk dapat dieksplorasi terhadap para kandidat yang ada.

Dan sebagai lembaga yang fokus utama kegiatan adalah SDM, maka kami meminta kepada komunitas untuk ikut terlibat dalam memberikan masukan terhadap kandidat terbaik untuk memimpin lembaganya. Mereka bisa dari perwakilan orangtua, guru-guru, dan bahkan siswa. 

Semua masukan dan hasil diskusi panel serta tes kepemimpinan tersebut kami satukan untuk dibuatkan ranking kembali. Empat terbaik dari para kandidat itu, kami ajak diskusi komitmen. Dalam diskusi ini, fokus utama diskusi adalah  bagaimana membawa lembaga untuk lebih berkembang dan lebih bersemangat meraih kemajuan.

Dan sebagai sesi terakhir, kami bersama kepala sekolah yang masih menjabat akan menentukan format dan komposisi yang harus ada di struktur kepemimpinan. Kepala sekolah yang akan diganti kami libatkan dalam penentuan itu, karena beliau banyak menerima masukan dari pihak teman guru, siswa, dan khususnya dari pihak orangtua siswa yang tergabung dalam organisasi orangtua siswa. Tentunya setiap pendapat yang ada kami diskusikan dengan matang.

Kami tidak menginginkan agar pendapat kami diterima sehingga menjadi keputusan tanpa adanya masukan atau debat dari pihak yang lain. Demikian juga kepala sekolah yang akan diganti dipersilahkan masukannya terhadap struktur kepemimpinan yang ada dengan pertayaan kritis dari salah satu kami. 

Dengan model ini, kami menginginkan bahwa keputusan yang kami ambil, adalah keputusan yang transparan, demokratis, egaliter, dan tentunya yang terbaik.

SMS Gelap

Sebagaimana proses yang telah kami lakukan dalam pemilihan seorang kepala sekolah, sebagaimana diuraikan diatas, ternyata masih juga mendapat masukan dari orang yang berada di luar kami dalam bentuk SMS gelap. SMS yang mempertanyakan mengapa pengganti kepala sekolahnya bukanlah salah satu dari wakil kepala yang selama ini bekerjasama bersama kepala sekolah?


Sebagaimana sifatnya, maka pesan gelap itu tidak menjadikan kami, khususnya saya, menjadi galau atas apa yang telah kami putus. Mengapa?  Pertama, masukan itu dalam bentuk pesan gelap. Surat kaleng. 
Kedua, saya begitu percaya diri memberikan jawaban atas pertanyaan sebagaimana yang disampaikan. Bukankah sejak awal proses kami telah buat begitu terang?

Jakarta, 26.01.14.

22 Januari 2014

PPDB #7; Tidak semua Calon Diterima

Setelah sejak awal dalam pelaksanaan kegiatan penerimaan peserta didik baru kami jalani, maka sampailah pada ujung kegiatan yang menjadi bagian dari kami, yaitu pengumuman hasil seleksi. Inilah titik paling tidak mengenakkan buat kami di sekolah. Karena kami harus membuat keputusan siapa yang diterima atau siapa yang belum dapat kami berikan kesempatan untuk menjadi peserta didik kami.

Dan perlu kami sampaikan juga bahwa, seleksi ini kami lakukan mengingat bangku siswa yang tersedia, sebagaimana mengacu kepada komitmen kami untuk memberikan pelayanan yang lebih baik keada peserta didik kami, yang terbatas. Dimana jumlah siswa yang ada di dalam setiap kelas kami adalah 25 siswa. 

Dengan argumentasi yang seperti itulah maka tidak bisa tidak, bahwa kami harus membuat gembira kepada sebagian banyak para calon peserta didik baru tersebut, sekaligus juga membuat sebagian kecil dari mereka harus kecewa. 

Itulah yang saya maksudkan sebagai titik akhir yang sungguh melelahkan batin. Tetapi bagaimanapun kondisi dan keadaannya, titik itu harus kami sama-sama lalui. Dan pada titik itu, saya selalu mengucapkan mohon maaf.

Jakarta, 22 Januari 2014.

19 Januari 2014

PPDB #6; Ditelepon Pejabat

Inilah kisah yang harus dialami oleh teman saya ketika dalam satu hari mendapat telepon secara beruntun oleh pejabat yang menjadi 'atasannya' tidak langsung. Meski ia adalah pimpinan di sekolah swasta, maka pimpinanan yang menjadi atasan langsungnya ada lembaga dimana sekolah itu berada. Namun pimpinan tidak langsungnya ada di tingkat kecamatan hingga provinsi. Maka, untuk urusan penerimaan peserta didik baru atau PPDB sebagaimana yang sedang dijalani prosesnya, teman saya ini pantas untuk mendapat 'panggilan' di selulernya berkaitan sesuatu yang berada di luar dinasnya.

Artinya, telepon yang diterimanya tidak untuk  memberikan kesempatan kepadanya, misalnya saja, untuk  mengikuti sebuah pelatihan nasional yang akan dilaksanakan oleh pemerintah, tetapi (sekedar untuk) memberikan 'perhatian' kepada salah seorang dari calon peserta didik baru dengan nomor tes sekian. Aneh bukan? 

Tetap normal saja. Jadi bukan sesuatu yang aneh hal seperti itu terjadi. Indonesia bukan? Yang aneh, bahwa pejabat yang menelepon itu bukan yang berkepentingan langsung terhadap calon peserta didik baru yang harus 'diperhatikan' tersebut. Karena si calon peserta didik baru itu adalah putra dan putri dari sahabat mereka, yang juga adalah pejabat. Mungkin karena solidaritas. Atau mungkin jika maksud yang diingininya dari menelepon tersebut berhasil, setidaknya akan datang imbal baliknya. Semacam menanam saham kebaikan. Mungkin.

Walaupun ketika sahabat saya itu bercerita kepada saya bahwa si calon peserta didik baru yang dimintakan untuk diberikan 'perhatian' tersebut adalah peserta didik baru yang berada di bawah rata-rata peserta yang lainnya. Dan bahkan saya sendiri memberikan masukan agar menutup mata terhadap realitas titipan jika memang keberadaan si peserta didik baru yang dimintakan 'perhatian'nya tersebut dikemuadian hari justri akan menjadi tidak optimalnya perkembangan si anak. 

"Nanti bermasalah dengan keberlangsungan lembaga kita Pak" ujar sahabat saya itu. Kami yang berada dalam ruangan rapat juga menjadi ragu dengan masukan seperti itu.

"Mungkin butuh bukti agar pejabatn yang menelepon itu memberikan semacam memo secara tertulis?" Saya mengusulkan.

"Agar jika ada sesuatu dikemudian hari bukti itu bisa memberikan kepada kita semacam bantuan sebagai jendela penyelesai masalah."

Kami kemudian terdiam. Dan pada akhirnya memutuskan untuk memenggil calon orangtua di peserta didik baru yang harus kami 'perhatikan' tersebut untuk dimintakan pendapatnya atas apa yang menjadi hasil seleksi si anak. Kami menempuh jalur keterbukaan dan kerasionalitasan. 

Jalan ini kami tempuh agar masing-masing pihak tidak perlu membawa atribut jabatan dalam mendapatkan kursi di sebuah sekolah baru. Tetapi kami mengajak agar dalam memilih sekolah kita dapat secara tulus dan jujur melihat siapa yang akan menjadi pelaku utama dalam pengembangan dirinya. Yaitu anak!

Jakarta, 19.01.2014.

15 Januari 2014

PPDB #5; Titipan

Meski bagaimanapun kami ingin memilih anak-anak yang menjadi peserta seleksi dalam penerimaan peserta didik baru setiap tahun dengan 'hanya' melihat dari hasil seleksi yang diperoleh calon peserta didik, tetap saja kertas titipan itu datang sebelum pengumuman hasil seleksi diumumkan. Setidaknya itulah yang terjadi dari tahun ke tahun. Oleh karenanya, kami membuat kesimpulan sebagai panduan kepada teman-teman pelaksana di lapangan ketika harus menentukan siapa yag diterima dan siapa yang dengan terpaksa tidak.

Dan dengan adanya fenomina titipan itulah, kami menjadi mempertimbangkan beberapa hal yang diluar 'hasil' seleksi calon peserta didik baru tersebut. Meski kami juga harus meneliti sosok yang ada di balik titipan itu. 

Alhamdulillah bahwa apa yang saya tulis dalam catatan ini bukan terjadi secara merata kepada semua calon peserta didik baru. Dalam siklus satu tahun kegiatan penerimaan calon peserta didik baru, kami hanya menrima titipan lebih kurang 2 atau 3 orang. Dan sebagai bukti menitipkan, kami biasanya memintanya untuk menuliskan surat. Atau setidaknya kalimat atau memo. Untuk apa? Sebagai orang iseng, saya ingin mngabadikan dokumen itu sebagai kenangan! 

Ketika kami sedang meneliti mengenai sosok titipan ini, kadang kami juga geli sendiri. Ini tidak lain karena ternyata pihak yang diminta bantuan untuk menyampaikan kepada kami bahwa beliau menitipkan putri atau putranya agar manjadi siswa kami, belum pernah bertemu secara tatap muka. Artinya, ya katanya-katanya.

Kami juga bersyukur bahwa rata-rata anak-anak yang dititipkan kepada kami pada saat proses PPDB belum berakhir itu memiliki hasil seleksi yang bagus. Bak kematangan akademik atau kepatangan sosialnya. Alhasil, tanpa dititippun anak itu akan kami terima dengan mulus.

Bagaimana jika calon peserta didik yang dititipkan itu sediit kurang dalam hal kematangan akademik atau sosioemosionalnya? Nah kadang tanpa sengaja juga saya membuka-buka file PPDB, dan menemukan bagaimana kertas memo yang masih tersimpan sebagai dokumen saya.

Tentunya bukan untuk mengolok-olok, karena itu bukan sikap baik, tetapi sekedar mengingatkan ingatan saya tentang 'sejarah' dari sebuah keputusan yang kami ambil bersama-sama. Pendek kata, itu semua menjadi dinamika kehidupan saya sebagai guru di sekolah.

Jakarta, 15.01.2014.

PPDB #4; "Uang Sekolah Mahal Anak Saya Dapat Apa ya?"

"Saya di depan dapat daftar uang sekolah yang lumayan mahal. Oleh karena itu saya ingin tahu apa yang akan didapat anak saya ketika menjadi siswa di sini?" Begitu seorang calon orangtua siswa yang datang pada saat sekolah libur sekolah di akhir bulan Desember yang lalu. Pasangan muda dengan seorang putrinya yang lincah dan pintar.

Saya bertemu dengan orangtua muda ini ketika melintas plasa TK, ketika saya akan makan siang di luar sekolah. Karena saat itu hari libur, maka saya melakukan semuanya dengan sendirinya. Termasuk juga dalam melayani orangtua muda tersebut. Saya mengajaknya berputar-putar untuk melihat apa yang ingin dilihatnya. Menjelaskan apa yang ingin diketahuinya tentang sekolah kami.

Termasuk yang kami sampaikan kepada beliau bersama pasangannya adalah mengenai kebiasaan atau budaya belajar yang kami lakukan sepanjang hari sekolah. Juga tentunya kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak-anak didik kami ketika mereka akan tampil di hadapan teman-temannya atau ketika mereka sedang menyampaikan hasil belajarnya pada saat penerimaan laporan pendidikan dalam bentuk konferensi.

Mahal

Pendek kata, tidak ada pertanyaan atau pernyataan yang disampaikan oleh pasangan muda bersama putri kecilnya itu yang tidak saya berikan penjelasan atau jawaban. Termasuk juga logika mengapa uang sekolah kami tampak tinggi.

"Jumlah siswa kami dalam satu kelas tidak lebih dari 25. Dan ini sejak di tingkat kelas paling rendah hingga di kelas 9, kelas paling tinggi yang ada di kelas kami." Begitu yang saya saya sampaikan sebagai argumentasi. Jawaban itu setidaknya memberikan gambaran kepada tamu berapa jumlah pembagi memiliki kontribusi kepada hasil baginya. Mudah-mudahan.

Saya tentunya tidak bertanya lagi kepadanya apakah jawaban saya itu masuk diakal. Tetapi setidaknya akan memberikan gambaran bahwa jumlah siswa dalam satu kelas itu juga dapat menjadi parameter hitung bagi murah dan mahalnya biaya.

Walaupun, saya belum memintanya untuk mempertimbangkan angka yang sekolah kami punya dengan angka yang sekolah lain. Karena jika dengan melakukan perbandingan seperti itu, logika mahal-murah akan lebih konkrit. Tentunya dengan pembanding yang mirip-mirip jika memang sulit dicari pembanding yang setara. Mudah-mudahan.

Jakarta, 14.01.14

PPDB #3; "Saya tidak Melihat Pengumumannya?"

"Izinkan saya untuk mendaftarkan anak saya Bu. Karena kemarin saya benar-benar tidak melihat pengumuman yang dipasang sekolah. Saya sedang ada acara keluar. Tolong ya Bu?" 

Ini kalimat argumentatif dari salah satu calon orangtua  peserta didik baru untuk bisa mendaftarkan putranya yang terlambat mendaftar. Ini karena beliau baru datang ke sekolah untuk mendaftarkan putranya itu pada H+1.

Maka didatangilah kami. Pertama sekali kepada kepala sekolah beliau memohon. Ibu kepala sekolah ragu-ragu untuk membuat keputusan. Ini tidak lain karena proses seleksi sudah berjalan. Oleh karena lucu juga bila seleksi sedang berlangsung kemudian ada yang tiba-tiba menyelinap masuk barisan. Maka didatangilah juga bagian admission di sekolah kami. Dan terakhir kepada saya jugalah keputusan itu kami ambil secara sepakat. 

Peristiwa semacam ini tidak satu  dua kali kami alami. Namun pendirian kami tetap. Sepanjang memang argumentatif apa yang menjadikannya terlambat mendaftar dan juga sejauh mana proses yang telah dijalani oleh para kandidat peserta didik baru, dan juga menimbang prinsip keadilan, kami akan membuat persetujuan atau penolakan.

Hal seperti ini penting kami rumuskan supaya apa yang sedang kami jalani dalam proses atau dalam siklus penerimaan peserta didik baru ini tidak menimbulkan sakwasangka. Khususnya bagi para kandidat peserta didik yang berasal dari jenjang pendidikan yang bukan dari kami. 

"Bagaimana jika keberhasilan itu beliau ceritakan kepada kandidat lain yang juga belum mendaftar supaya bisa ikut masuk barisan sebagaimana yang dialami ibu tersebut?" Tanya teman saya yang lain.

"Kita buat kesepakatan kepada Ibu yang pertama bahwa, kalau ada orang lan yang ikut serta dengannya dan itu diketahui atas informasi dari yang bersangkutan, maka kesepakatan kita batalkan?" Usul saya kepada yang lain.

"Setuju!"

Jakarta, 14.01.14.

PPDB #2; Ketika Mendapat Kalimat Kasar

Dalam siklus tahunan di sekolah yang bernama penerimaan peserta didik baru, PPDB, selain menerima masukan dari para calon orangtua siswa/peserta didik baru, kami juga pernah mendapatkan pelajaran dalam bentuk kalimat dengan  bahasa kasar yang dipakai seorang calon. Bahasa kasar adalah eufimesme daridapa ancaman.

Kami semua tentunya tidak berharap sama sekali untuk menerima kembali apa yang pernah kami alami itu dimasa depan. Mengingat semakin terdidiknya masyarakat kita. Yang berarti juga ada.ah semakin baiknya kjltur dan perilaku masyarakat. Yang pada ujungnya justru bermuara kepada berjalannya ketaatan kepada norma yang berlaku dan diyakini.

Peristiwa kami  mendapat kalimat tidak sopan itu bukan yang pertama kali kami alami sepanjang kami melakukan tes masuk peserta didik baru. Namun apa hang pernah kami alami itu karena ada baimnya untuk saya jadikan catatan dalam perjalanan saya ini. 

Pada kesibukandi pagi hari di hari tes yang telah ditentukan. Datang semua kandidat siswa baru kami. Baik yang akan masuk Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak, dan juga yang akan masuk SD. Kami sudah alokasikan kepada masing-masing nit tersebut satu meja tamu untuk regestrasi. Langkah kami ini untuk memudahkan kepada para kandidat orangtua  dalam melakukan registrasi tersebut dan juga terarah. 

Tampaknya ada satu pasangan muda dengan putranya, yang ketika ditanya untuk kelompok mana tidak memberikan meresponnya. Mungkin sekali bahwa pertanyaan dari kami tidak begitu jelas ditangkapnya. Mungkin juga tidak melihat atau membaca untuk unit apa meta tamu tersebut diperuntukkan untuk regestrasi, mungkin juga keluarga itu sudah memberikan jawaban namun kami tidak mendengarnya. Sehingga dengan percaya dirinya tetap menuliskan registrasi putranya di meja tamu yang salah.

Sementara itu, kami pun memiliki prasangka bahwa keluarga itu meregestrasi putranya untuk unit SD karena berada di meja SD. Alhasil menunggulah keluarga itu untuk antrian masuk sekolah dasar. Padahal ternyata putranya masih berusia 4 tahun, yang berarti untuk masuk bangku TK. 

Setelah kekeliruan itu  disadarinya, maka datanglah keluarga itu kepada kami untuk mengeluarkan kalimat sangat kasar. Kami menyadari karena kalmat itu memang didasari oleh ketidakpuasan, kemarahan, dan pasti membuatnya emosional. Tidak ada respon dari kami selain permohonan maaf. Meski lahirnya kesalahan tidak sepenuhnya adalah kekeliruan dan keteledoran kami.

Apa pelajaran bagi kami? Tidak lain selain memperbaiki pola regestrasi di tahun berikutnya, termasuk menanyakan setiap tau yang datang pada saat regestrasi. Sejak tamu itu turun dari kendaraan di tempat parkir, di halaman sekolah, termasuk juga di meja regestrasi. Kami jga belajar untuk menatap dan tersenyum kepada semua orang yang ada di area sekolah pada saat tersebut.

Jakarta, 14.01.14.

14 Januari 2014

PPDB #1; Siklus PPDB

Tidak terasa bahwa siklus tahunan sudah terjadi lagi. Itulah yang kami alami di sekolah. Bahwa siklus penerimaan siswa baru, PSB atau yang dalam bahasa Dinas Pendidikan disebut sebagai penerimaan peserta didik baru, PPDB. Sebagai siklus tahunan di sekolah, tentunya kami mempersiapkan segala sesuatunya. Baik secara administrasinya, pelatihan dan simulasi kepada seluruh staf dan guru untuk menerima para calon peserta didik baru, dan tentunya juga membuat rencana kegiatan belajar tahun pelajaran berikut sebagai alat hitung bagi penentuan besaran uang sekolah.

Dan kami syukuri bahwa pada saat pemilihan calon siswabaru atau peserta didik baru tersebut, beberapa waktu lalu, kami akan melakukan pengujian lebih kurang satu setengah hingga dua kali dari jumlah kursi siswa yang tersedia. Artinya, jumlah calon siswa atau peserta didik baru yang mendaftarkan diri sedikit melebihi kuota yang ada.

Apa yang kami lakukan ini, sesungguhnya segaris dengan apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah swasta lainnya.Ini kami lakujkan untuk menjaga keberlanjtutan dan keberlangsungan perjalanan dari sekolah kami. Ini penting kami sampaikan karena dalam perjalanan proses PSB/PPDB di sekolah, masih ada beberapa pertanyaan naif dari seseorang atau institusi yang disampaikan kepada kami.

PPDB Terlalu Dini

Ini yang menjadi pertanyaan dari para pemangku pendidikan di Dinas Pendidikan, yang secara herarki berada di atas kami. Dimana masih ada suara yang mempertanyakan terlalu dininya kami dalam melaksanakan PPDB, sebagaimana juga yang sedang dilaksanakan oleh beberapa sekolah swasta lainnya. Apa yang menjadi pertanyaan seperti itu, adalah karena tidak fahamnya tentang konsep pendidikan swasta dalam mempertahankan eksistensinya.

Pertanyaan yang mensiratkan akan adanya rasa kebingungan dengan apa yang sudah kami laksanakan. Dimana lembaga pendidikan swasta tidak akan menjadikan pemerintah sebagai sumber dana yang utama bagi keterlaksanaan dan keberlangsungnnya. Hal ini karena jumlah siswa yang ada di dalam lembaga tersebut masih menjadi soko guru bagi keberlangsungan lembaga.

Meski pernah kami memberikan wawasan tentang itu, tampaknya ketika struktur itu berganti personal, maka siklus pertanyaan juga akan berulang.

PPDB Mencari Untung?

Ini juga menjadi suara yang sedikit menykiti kami. Pernyataan yang berasal dari salah seorang dari calon orangtua siswa. Pertanyaan yang lahir ketika mengetahui bahwa  jumlah calon siswa yang mengikuti seleksi lebih banyak dari pada kuota siswa yang akan kami terima. Sebuah masukan dan sekaligus kritis serta sangka buruk yang juga menjadi pemikiran kami.

Mencari untung? Mungkin juga. Walau harus dilihat bahwa kami pun sesungguhnya tidak menginginkan jumlah peminat yang melebihi kuota itu. Caranya? Sebagaimana yang diketahui, bahwa ada tahun ini kami hanya membuka kesempatan masyarakat untuk membeli formulir pendaftaran siswa baru dalam durasi lima hari saja. Tetapi toh masih ada beberapa kelebihan pendaftar yang sulit kami bendung.

Meski harus juga kami sadari, bahwa kenyataan ini adalah sesuatu yang harus kami syukuri. Bukankah semua masyarakat berhak untuk mendapatkan formulir pendaftaran tanpa kami harus batasi?

Jakarta, 14.01.14

11 Januari 2014

Menjadi Under Dog

Dalam sebuah pemilihan kepala sekolah di sebuah lembaga pendidikan swasta, kami sering dihadapkan kepada model perilaku yang di munculkan oleh para kandidat yang masuk bursa pencalonan. Perilaku itu menjadi begitu tampak karena dalam prosesnya, kami menjalaninya dalam beberapa tahap.

Memang ini sebuah model pemilihan yang kami anggap tidak biasa. Dimana semua guru dan karyawan yang berada di lembaga tersebut untuk merekomendasikan dua nama yang mereka anggap dapat menjadi pengganti dari kepala sekolah yang harus berhenti. Dari data yang terkumpul, kami memilih guru-guru yang mendapat rekomendasi. Tentunya dengan menghitung jumlah suara yang dijadikan sebagai pemeringkat.

Dari suara yang masuk, maka kami mengundang 10 orang teman guru untuk hadir secara bergilir dalam sesi diskusi bersama. Kami menamakannya kegiatan diskusi bebas dengan tema kepemimpinan dalam lembaga pendidikan itu dengan  diskusi panel. 

Alhamdulillah, dalam tiga gelombang diskusi panel yang kami selenggarakan, saya pribadi mencatat banyak sekali ide dari guru-guru itu yang sangat konstruktif dan operasional. Artinya gagasan yang lahir dari kondisi nyata di lapangan dengan gambaran merealisasikannya. Sehingga gagasan tersebut itu, bagi saya seperti membuka mata kembali lebih lebar. Dan saya begitu menikmati suguhan dari curah gagasan teman-teman itu.

Under Dog

Setelah tahapan-tahapan selesai kami jalani dan kandidat sudah mengerucut kepada yang terbaik dari yang baik-baik itu, maka kami mencoba untuk megajak kandidat pilihan tersebut dalam proses terakhir. Yaitu proses kesediaan dan komitmen untuk mengemban amanah. Dan pada tahapan inilah yang saya dapatkan dari mereka itu.

Ada kandidat yang memang secara pengalaman, kecakapan, dan keteguhannya menampilkan kesanggupannya untuk memegang estafet kepemimpinn berikutnya, tetapi justru menyampaikan kepastiannya dengan bahasa yang rendah.

Juga ada yag kami anggap mampu, dan memungkinkan untuk membawa lembaga kami dalam mengarungi pertumbuhannya, namun justru mengemukakan kesanggupannya itu dengan memilih bahasa yang terlalu tinggi. 

Maka dari dua bentuk pengungkapan itulah saya membuat asumsi dan pendapat bahwa, saya lebih memilih kandidat yang memilih pilihan kata rendah. Itulah yang saya maksudkan dengan  under dog.

Jakarta, 11.01.2014.

Masukan dari Pengamat

Dalam sebuah transformasi atau lebih fokus lagi suksesi di lembaga pendidikan, tidak jarang kami  mendapat masukan dari orang luar, yang mohon maaf harus kami kesampingkan. Ini tidak lain karena masukan dalam bentuk surat atau SMS yang tidak jelas asal usulnya, tetapi juga sering masukan itu tidak berdasar. Bahkan tidak produktif jika kita benar-benar menuruti, atau bahkan mengambil sedikit dari apa yang disampaikan.

Sikap ini bukan karena kami sulit menerima masukan. Sikap ini terpaksa kami ambil karena keyakinan kita bahwa proses yang kami jalani dalam sebuah transformasi atau pergantian itu telah meminta masukan, mendengar gagasan, atau  bahkan mengajak anggota komunitas untuk iut serta dalam bagian pengambilan keputusan. Oleh karenanya, bila masukan itu hanya melihat satu sisi dari apa yang telah jalani, maka kami akan terus bergerak maju dan mengabaikan masukan yang menghimbau agar berjalan mundur.

Pengganti KS

Satu yang ingin saya sampaikan dicatatan saya ini adalah tentang penggantian kepala sekolah, KS. Kadang masukan itu datangnya juga diujung. Dimana setelah kami membuat dan melakukan proses runut, proses yang berdimensi terbuka, demokratis, egaliter, dan adil. Toh masukan tetap datang. Oleh karena itu, dalam setiap pengambilan kesimpulan, kami selalu merancang proses dengan unsur-unsur tersebut. Termasuk dalam memilih seorang pejabat kepala sekolah.

Apa yang saya maksudkan dengan proses terbuka, demokratis, egaliter, dan adil itu? Pertama, kami meminta guru dan karyawan untuk menuliskan siapa yang mereka anggap berkecakapan untuk menjadi kepala sekolah. Masing-masing orang bisa menuliskan dua nama guru. Dengan persyaratan yang kami serahkan kepada semuanya. Dan alhamdulillah, meski kebebasan yang kami berikan, untuk 10 nama yang menduduki peringkat mulai dari yang mendapat suara rekomendasi guru-guru terbanyak, muncul nama-nama yang sesuai dengan asumsi dan prediksi kita.

Itulah tahap awal, tahap pertama dalam menyaring nama-nama kandidat. Tentu ini kimi lakukan karena kami memilih pengganti kepala sekolah dari lingkungan dalam. Jika pilihannya adalah mencari dan menemukan kepala sekolah yag berasal dari luar lembaga, tentu akan berbeda strategi yang kami ambil.

Bagaimana tahapan berikutnya? Adalah dengan mengajak para kandidat, begitu kami menyebutnya, untuk berdiskusi tentang lembaga yang akan mereka pimpin. Bagaimana mereka menguasai isu yang hangat di lembaganya, teman-temannya yang bekerja dalam satu lembaga tersebut, mimpinya, bagaimana melihat lembaga sekolah sebagai bagian dari lembaga pendidikan yang sedang berkembang di luar, bagaimana merealisasikan mimpi yang diinginkannya. Dan pada kesempatan ini kami dapat menemukan kekuatan, keutuhan, dan keluasan dari masing-masing kandidat secara verbal. Kami juga menemukan bagaimana pilihan kata yang para kandidat itu pilih sebagai pengurai gagasan yang ingin disampaikan.

Diskusi tersebut kami lakukan dalam tiga tahap yang waktu pelaksanaannya berbeda. Kami, yang terdiri dari unsur yang tidak hanya pendidikan, dapat mendapatkan pengalaman baru dari situasi diskusi semacam itu. Sebuah ilmu yang pada akhirnya membuat kami semua untuk percaya diri dalam mengerucutkan kandidat yang ada dalam satu kesimpulan. Ditambah masukan secara tertulis dari Psikolog setelah memberikan hasil psikotesnya.

Dari hasil kerucut kandidat itu, kami melakukan uji komitmen untuk yang kedua kalinya. Pesertanya tentunya adalah mereka yang terdiri dari empat kandidat yang yang kami pilih sebagai kandidat terbaik. Dan sebagai hasil akhirnya, kami menentukan siapa yang nomor satu. Kepadanyalah amanah akan kami sampaikan. 

Ada satu hal lagi yang kami anggap sebagai bagian dari transparansi dari semua proses itu semua. Yaitu mengajak kepala sekolah yang sedang menjabat sebagai bagian dari kami. Baik pada tahap kedua hingga tahap terakhir, tahap penentuan siapa yang akan menjadi orang nomor satunya, beserta wakil-wakilnya. Dan semua argumen yang kai sampaikan dalam forum-forum itu, selalu bergantung atau berdasar kepada kepentingan lembaga.

Masukan

Lalu bagaimana dengan masukan yang datang dengan tidak melihat proses yang telah kami jalani? Tentu kami akan mengajaknya berdiskusi atau setidaknya menjelaskan kepada yang bersangkutan tentag proses yang kami jalani. Sebagaimana yang kami lakukan kepada komunitas di unit sekolah yang akan terjadi pergantian kepala sekolahnya. Kami bercerita proses yang telah kami jalani.

Tetapi bagaimana jika masukan itu hanya sebuah SMS yang nomornya sama sekali tidak kami mengenalnya? Mohon maaf, kami harus melupakannya. Karena kami yakin tentang apa yang telah janali dalam pengambilan sebuah seputusan. Keyaknan itu yang membuat kami tidak mudah goyah.

Jakarta, 11.01.2014.

10 Januari 2014

Pelatihan Guru #4; Menyusun Aspek Kinerja

Beberapa tahun yang lalu, saya mendapat tugas penting dari sebuah lembaga pendidikan pesantren di Sulawesi. Bukan saja karena tugas itu  datang dari sebuah pesantren sehingga saya menjadikannya penting. Juga bukan saja karena apa yang ditugaskan kepada saya sehingga saya menjadikannya penting. Juga bukan saja karena itu adalah tugas yang sekaligus memungkinkan saya berada di tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya, mengingat saya hanyalah seorang guru swasta. Tugas itu penting karena tugas yang diberikan adalah tugas besar bagi saya yang selama ini sebagai penjaga gawang saja.

Tugas untuk membuatkan dokumen yang pada ujungnya dapat menjadi sebuah sistem di lembaga tersebut. Namun karena saya bukan ahli membuat dan lalu mempresentasikan hasilnya, saya justru menjadikan komunitas sekolah, manajemen, guru, karyawan, dan yayasan benar-benar berbagi peran dalam proses pembuatan tersebut.

Sebagai gambaran saja bahwa lembaga pendidikan itu termasuk dalam bagian penting dalam kontribusi pengembangan generasi muda di provinsi yang saat itu masih baru. Namun demikian, ketika saya dilibatkan, teman-teman yang penuh semangat itu masih perlu mendapat pijakan dalam membedakan kualitas diri mereka antara satu dengan yang lainnya. Khususnya bagi teman-teman yang mendapat amanah untuk mengkoordinasikan seluruh aktivitas berkarya, sebagai manajemen di unitnya masing-masing di lembaga itu. Jadilah selama satu pekan saya diminta untuk bersama mereka dalam membuat rumusan, atau setidaknya  dokumen yang dapat dijadikan sebagai acuan kerja.

Seperti di lokasi lainnya, saya memulai pertemuan di awal-awal dengan berdiskusi, presentasi, dan bekerja untuk membuat frame dan garis kesamaan. Ini penting supaya kami semua yang terlibat di dalamnya memilikim semangat dan langkah yang sama, yang harus menjadi kesepakatan kami. 

Langkah berikutnya adalah menjelaskan dan sekaligus simulasi tahapan yang akan kita jalani bersama selama empat hari kedepan. Saya benar-benar merasa harus berpikir keras kala itu. Ini karena saya melakukan kegiatan seperti itu untuk lembaga lain adalah peristiwa untuk kali yang pertama. Dan ini benar-benar menjadi tantangan tersendiri.

Saya menjadikan kesempatan seperti itu adalah kesempatan yang luar biasa. Berbeda ketika kegiatan seperti itu saya lakukan di lembaga yang sehari-hari saya berada di dalamnya. Pada sisi inilah saya merakan adanya tekanan dan sekaigus tantangan yang begitu besar. Maka jauh hari saya telah memikirkan strategi dari menit ke menit untuk pertemuan yang dirancang selama satu pekan itu.

Aspek Kinerja

Saya menjadi terbayang bagaimana membuat sebuah rapat kerja. Dimana, untuk seluruh peserta akan menjadi bagian penting dalam memberikan kontribusi positifnya. Mereka berada dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan, merumuskan, menyepakati, dan menyiapkan presentasinya sebagai hasil dari masing-masing kelompoknya. Nah model dan strategi mendapatkan hasil itulah yang akhirnya menjadi pilihan saya.

Alhamdulillah, proses penyusunan dokumen itu berjaan dengan baik dan dilakukan dengan sangat penuh antusiasme. Teman-teman seperti merasakan kembali bagaimana eforia pada saat masih duduk di bangku mahasiswa. Mereka berdiskusi dengan beradu argumentasi untuk kemudian menyepakati apa yang harus putuskan. Menyenangkan.

Saya sendiri menjadi fasilitator yang sesungguhnya dalam semua acara yang dilakukan itu. Mengalir baik sekali. Meninggalkan kesan yang membahagiakan. 

Hingga akhirnya saya sendiri yang harus melibatkan diri manakala diskusi itu nyaris buntu pada saat menyusun kriteria kinerja yang harus menjadi kesepakatan. Ini karena ada kriteria ibadah yag harus masuk ke dalam kinerja yang akan menjadi dokumen pembeda diantara mereka.

"Bukakah tujuan kita beribadah hanya karena Allah? Saya kawatir jika ibadah masuk dalam knerja, maka niat dan semangat kita menjalaninya akan melenceng?" Ini pernyataan yang diberikan oleh teman-teman yang tidak menyepakati masuknya unsur ibadah dalam indikator kinerja.

"Bagaimana mungkin kita menjadikan orang yang berkinerja baik tetapi tidak banyak terlibat dalam melakukan pembinaan ibadah kepada siswa degan teladannya?" Ini pernyataan bagi teman-teman yang menghendaki masuknya indikator ibadah dalam kinerja.

Saya memberikan kesempatan kepada semua teman itu untuk berdiskusi. Kepada masing-masingnya dengan argumentasi yang selengkap-lengkapnya.

Perlu saya sampaikan bahwa pembahasan mengenai poin ibadah yang terdapat dalam sistem penilaian kinerja tersebut merupakan waktu tambahan. Dimana kegiatan normalnya kami lakukan sejak pagi hingga sore hari. Malam hari saya menggunakannya untuk bertemu dengan santri, rileks, atau menyiapkan keperluan yang akan menjadi bahan bahasan esok harinya. Namun mengingat begitu serunya mendiskusikan aspek kinerja yang bernama ibadah tersebut, maka kami harus menambah waktu raker setelah shalat isyak. Dan lokasinya pn tidak lagi di wilayah pesantren, tetapi di lorong depan kamar dimana saya menginap. Jadi memang benar-benar seru.

Dan atas pemahaman terhadap masing-masing argumen yang telah disampaikan oleh masing-masing kubu, maka saat itu kami menyepakatinya.

Dan itu, menjadi pengalaman tersendiri bagi saya dalam membuat sebuah 'pegangan' bagi warga komunitas yang ada di dalamnya. Saya mensyukuri sekali peristiwa itu sebagai bagian dari perjalanan saya.

Jakarta, 10.01.14.

Strategic Alignment

Strategic alignment, atau keselarasan strategis, didefinisikan sebagai; The process of bringing the actions of an organization's  business divisions and staff members into line with the organization's planned objectives. (http://www.businessdictionary. com/definition/ strategic-alignment.html).
http://imagec17.247realmedia.com/RealMedia/ads/Creatives/default/empty.gif/0
Proses aktualisasi tujuan organisasi dalam tata kerja dan tata kelola yang saling terkait, selaras, sinergi, dari semua unsur yang terdapat di dalam organisasi tersebut dalam mencapai  satu tujuan.

Stephen R Covey, dalam Tujuh Kebiasaan Efektif Orang Sukses, menjadikan sinergi sebagai salah satu kebiasaan yang dilakukan dan diwujudkan secara terus menerus oleh orang sukses. Sinergi, menurut Covey, menjadi kebiasaan keenam. Adalah prinsip bahwa keseluruhan, kebersamaan adalah yang utama dari bagian-bagian. Dan untuk mewujudkan sinergi dalam sebuah organisasi maka diperlukan transformasi hubungan yang terjalin satu sama lain dari bagian yang ada.

Dengan melihat definisi dan uraian di atas, maka dalam sebuah lembaga atau organisasi yang didalamnya terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur, tidak dapat tidak harus dihubungkan oleh kekuatan bersama yang erat dan kokoh yang bernama tujuan lembaga. Dan dalam operasionalisasi dari pengejawantahan dalam pencapaian tujuan bersama itu harus tedapat keselarasan dan sinergi antar bagian atau unsurnya. Karena hanya dengan itulah maka tujuan bersama dapat diwujudkan dan dicapai.

Keselarasan strategis dan sinergi tersebut adalah syarat mutlak bagi terwujudnya sebuah tujuan bersama organisasi atau pencapaian visi dan misi dalam sebuah lembaga atau organisasi yang berdaya saing unggul. Tidak terkecuali adalah organisasi sekolah atau lembaga pendidikan. Ini jika sebuah sekolah atau lembaga memiliki tekad kuat untuk menjadi bagian dari lembaga yang berdaya saing unggul.
  
Beberapa gagasan yang dapat menjadi acuan dalam mewujudkan keselarasan antar bagian dan unsur untuk sebuah mimpi menjadi sebuah lembaga atau organisasi yang berdaya saing unggul antara lain adalah:
1.  Memahami dan mengimplementasikan sruktur organisasi yang disepakati, dalam tata kelola dan tata kerja untuk mewujudkan sinkronisasi lembaga,
2.  Mengadakan pertemuan rutin dan terjadwal terhadap seluruh bagian, antar bagian, dan semua unsur yang terdapat dalam bagian yang ada di lembaga,
3.    Memanfaatkan teknologi informasi dan atau media sosial tertutup bagi kelancaran sebuah komunikasi dan hubungan untuk mewujudkan keselarasan,
4.   Berkomitmen untuk melakukan transparansi informasi bagi hal-hal yang menjadi pendorong bagi terwujudnya keselarasan,
5. Dibutuhkan adanya seorang koordinator yang memiliki tugas, wewenang sebagai pemantau,  pemandu, pengelola, dan ekskutor dalam terciptanya sebuah kelerasan.


Dengan demikian, untuk mencapai tujuan bagi lembaga yang berkelas dan berdaya saing unggul. Maka praktek hubungan antar unit, antar unsur, dan antar individu yang menjadi bagian dari lembaga, harus benar-benar menjadikan semangat sinergi sebagai pilar berkomuniasi dan maksimalisasi kinerja individu dan lembaga. Itulah mengapa strategic alignment  harus menjadi fokus bagi jalan pencapaian keselarasan lembaga. 

Jakarta, 10 Januari 2014.

05 Januari 2014

Pelatihan Guru #3; Me-lay Out Kelas

Melihat dan sekaligus masuk keruang-ruang kelas yang ada, selalu menerbitkan rasa yang kurang puas pada diri saya. Ini karena ruang kelas yang saya kunjungi masih bernuansa berantakan atau bahkan belum ada sentuhan baru, sejak tahun pelajaran dimulai enam bulan sebelumnya. Itulah maka saya mencoba untuk mengajak teman-teman guru membuat citarasa baru dalam mengatur kelas mereka dalam pelatihan.

Selain dinamisasi pengaturan ruangan yang kurang catik itu, juga dibarengi oleh perilaku yang kurang tertib dari teman-teman untuk menyimpan dan meletakkan barang yang sudah tidak terpakai, atau barang yang masih akan dipakai kelak, atau bahkan barang yang harus diarsipkan pada tempat yang kurang pada tempatnya. Sehingga menimbulkan situasi yang yang tidak rapi bahkan terkesan serampangan atau jorok. Seperti sudut-sudut kelas yang berada di belakang siswa.

Meski harus diakui kalau perilaku dan kondisi seperti itu tidak terjadi di semua kelas. Karena masih ada beberapa kelas yang selalu terlihat grooming dan apik. Walau harus juga diakui kalau kondisi bagus seperti itu masih menjadi minoritas. Hanya beberapa guru saja yang begitu peduli kepada kebersihan dan kerapihan dari ruang kelas yang menjadi tanggungjawabnya.

Atas kondisi itulah saya pernah membuat pelatihan kepada guru-guru dalam mengatur ruangan kelas yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Dimana saya membagi teman-teman guru itu dalam kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan tidak lebih dari 5 orang guru. Saya melibatkan para supporting staff di dalam pelatihan ini. Mereka adalah para pramubakti, orang sipil, dan listrik, yang akan dinamis berkeliling untuk setiap kelompok kerja yang ada, guna memberikan bantuan dalam bentuk mengangkat barang-barang yang berat, memindahkan titik listrik, atau pekerjaan lain yang diperlukan oleh kelompok kerja tersebut.

Kepada kelompok, tentunya setelah kami berdiskusi tentang ruangan kelas yang kondusif untuk belajar  dan bekerja bagi guru dan siswa, kelompok-kelompok tersebut akan mengambil undian di meja saya. Undian ruangan yang akan menjadi tanggungjawab kelompok mereka dalam kegiatan pelatihan saya itu.

Me-lay Out Kelas

Tugas pertama yang dilakukan dalam kelompok kerja setelah masing-masing kelompok tersebut mendapatkan jatah ruangan yang harus mereka make over, adalah membuat kesutusan kelompok tentang design ruangan yang akan mereka lakukan. Mereka dalam kelompok terlebih dahulu harus membuat rencana lay out kelas yang diinginkan.

Setelah design lay out itu telah disimpulkan oleh kelompok,  teman-teman juga diharuskan untuk menggunakan properti yang ada di kelas tersebut tanpa menambah. Ini sesuai dengan standar ruangan yang ada. Demikina juga bila ada rencana dari kelompok untuk memindahkan barang yang berat atau memindahkan titik listrik.

Apa yang terjadi setelah teman-teman guru itu merealisasikan rencana design yang disepakati dengan kedaan ruangan sesungguhnya yang diinginkan? Saya dibuatnya kagum. Ada beberpa guru yang memang kurang memiliki rasa estetika sehingga mengikuti saja usulan dan saran dari temannya yang memang lebih pintar dalam membuat tata ruang yang apik. Sehingga mereka cenderung menjadi pekerja di dalam kelompoknya itu. Selebihnya saya melihat kegairahan yang luar biasa terhadap kegiatan yang baru pertama kali saya lakukan di sekolah yang telah diamanahkan kepada saya lebih kurang enam tahun itu.

Apa juga yang dapat saya tarik sebagai kesimpulan terhadap pelatihan itu? Saya melihatnya bahwa pelatihan itu telah menjadi wahana yang bagus bagi semua komunitas sekolah dalam memahmkan, dan menanamkan citarasa fungsi ruang, kerapihan ruangan, keindahan, dan sekaligus kenyamanan sebagai ruang kelas. Juga sebagai sarana bagi guru untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan. Itu jugalah yang muncul dari guru-guru tersebut sebelum pelatihan itu berakhir. 

Jakarta, 05.01.2014.

03 Januari 2014

Pelatihan Guru #2; Membaca Artikel

Saat mengikuti sebuah paelatihan tentang budaya transformasi, presenter bertanya kepada kami. Pertanyaannya; Apakah kita perlu belajar? Tentu kami semua sepakat dan kompak menjawab dengan mantap; "Perlu.."

Namun jawaban kompak kami ternyata pancingan presenter ketika ia akan mengatakan bahwa yang terutama pada masa kompetitif seperti sekarang ini yang dibutuhkan oleh kita sebagai pelaku kompetisi adalah tidak sekedar belajar, tetapi belajar dengan cepat.

Mengapa? Karena kalau kita hanya sekedar belajar atau belejar sekedar, maka kita akan tertinggal jauh dengan kompetitor yang ada. Karena pada saat kita belajar, semua kompetitor juga akan melakukan pembelajaran diri. Oleh karenanya,  untuk  memenangkan sebuah laga, maka kita ditutut untuk belajar lebih keras dan lebih cepat lagi. Kita harus meng-up grade diri dengan cara yang lebih sungguh-sungguh dan lebih cepat.

Membaca Artikel

Karena itulah, saya menggunting artikel-artikel yang saya pandang menarik untuk dibaca, diketahu, atau setidaknya dipelajari. Maka ketika waktu pelatihan tiba, saya meinta guru-guru untuk membaca artikel, memahami apa yang mereka baca, membuat rumusan tentang apa yang dibacanya, dan juga harus mempresentasikan kepada teman-temannya yang ada di dalam kelompok, sebagai bagian untuk berbagi.

"Apa yang sudah kita pelajari dari artikel yang kita baca?" Tanya saya setelah kegiatan berlangsung dengan tuntas. Dimana teman-teman setelah membaca mereka harus share hasil bacaannya kepada teman dalam kelompoknya. Bahkan ada beberapa prang yang menjadi sukarelawan untuk menyampaikan hasil bacaannya kepada kita semua yang hadir.

"Saya harus jujur Pak. Kalau saya sesungguhnya tadi terpaksa membaca. Ternyata artikel yang saya baca membuat saya memiliki cara pandang baru tentang sesuatu atau bahan bacaan. Karena  sebelumnya artikel yang saya dapat adalah artikel yang tidak membuat saya tertarik membacanya, tetapi setelah masuk dalam paragraf kedua, saya berpikir untuk terus membaca dan menuntaskannya. Terima kasih Pak." Jelas seorang guru kelas 3 SD begitu semangat meski tidak berapi-api.

"Saya bersyukur karena telah dapat lima pengetahuan baru dalam waktu yang kurang dari 40 menit Pak. Karena saya membaca sendiri satu artikel, dan mendapat limpahan pengetahuan dari presentasi teman-teman." kata yang lain lagi. 

Pendek kata, banyak teman-teman saya yang menjadi tekuak semangat untuk menimba ilmu pengetahuan dengan membaca. Tentu bukan membaca sembarangan. Karena teman-teman itu juga adalag penikmat buku fiksi. Sehingga semangat fiksinya itu dapat lagi dan bermigrasi ke membaca artikel. Yang ternyata dirasakan manfaat yang luar biasa.

Semangat untuk mengetahui sesuatu secara lebih baik, lebih luas, dan lebih daam tersebut merupakan mimpi kami semua dalam menumbuhkan cinta berpengetahuan sebagai modal bagi kemenangan dalam persaingan.

Jakarta, 3 Januari 2013.

02 Januari 2014

Pelatihan Guru #1; Membawa Daun

Dua hari sebelum kegiatan pelatihan guru di sekolah, saya masih bingung untuk memberikan materi apa? Bahkan, meski dalam pikiran ada yang harus saya sampaikan nanti ketika guru-guru masuk seusai libur sekolah, namun tetap detil materi yang belum jga tergambar. Hingga ketika liburan tahun baru lalu, dan kebetulan badan sedikit meriang sehingga saya tetap berdiam di rumah, ada gagasan agar guru-guru membawa daun, apapun, masing-masing sebanyak 4 lembar yang ada di rumah atau dekat lokasi tempat tinggalnya ketika mereka datang ke sekolah.

Alhasil, tengah hari itu saya mencoba merangkai pesan untuk disebar kepada teman-teman guru. Di akhir pesan saya juga wanti-wanti agar guru-guru itu memastikan bahwa teman-temannya semua menerima pesan yang sama dengan pesan yang dia terima dari saya. Alhamdulillah, ketika pesan itu pelatihan guru itu akan kami mulai, tidak seorang pun dari teman-teman yang tidak membawa 4 lembar daun dari rumah mereka masing-masing. Hebat!

Mengklasifikasi

Ada dua bagian dari pelatihan yang diperuntukkan guru sebagai 'pesan' di awal tahun, yang juga adalah awal semester II tahun pelajaran 2013/2014 ini. Dan kegiatan dengan daun menjadi bahan pelatihan untuk tahap yang pertama.

Namun sebelum bagian-bagian itu kami mulai, saya memberikan kepada semua teman ruang katarsis. Mengingat sebagai hari pertama masuk kerja, dengan euforia yang meluap, maka kegiatan katarsis itu berguna sekali sebagai lahan untuk menarik konsentrasi teman-teman semua. Alhamdulillah semua terlibat aktif dalam kegiatan pembuka tersebut. Banyak hal positif dapat ditarik dalam kegiatan pembuka itu. Misalnya ada teman yang waktu liburan kemarin pergi ke universitas yang menjadi impian anandanya. Ini sebagai bekal bagi mereka sekeluarga dalam menentukan afirmasi keinginan dan cita-citanya. Juga ada teman yang berkendara Jakarta-Malang-Jakarta tanpa henti melalui berbagai kota yang menjadi tempat singgahnya, baik di Jawa Tengah atau di Jawa Timur. Juga ada teman yang mencoba menikmati kereta api Bogor-Sukabumi. Sebuah rute baru bebas macet dan terjangkau. Dan lainnya.

Kembali ke daun, setelah saya membagi teman-teman dalam beberapa kelompok, maka meminta semua kelompok untuk mengumpulkan daun yang dibawanya dari rumah menjadi satu. Dari daun yang ada tersebut, semua guru harus mengelempokkan daun-daun itu. Maka terjadilah diskusi dalam kelompok-kelompok itu tentang dasar pengelompokkannya. Maka ada kelompok yang mengelompokkan daun-daun yang ada berdasarkan kerangka daun. Ada yang bedasarkan manfaat  pohon dari  daun yang ada. Juga berdasarkan vitamin yang terkadung dalam tanaman daun tersebut, atau dari dasar yang lain.

"Bagaimana menurut Bapak dan Ibu semua, apakah semua pengelompokkan yag sudah anda buat bersama itu benar? Mengapa?" Tanya saya pada peserta pelatihan. Dan tentunya dengan dalil yang mereka buat, maka semua pengelompokkan daun yang mereka buat dengan dasar pengelompokkan yang mereka sama-sama sepakati adlah benar.

"Apa yang Bapak dan Ibu pelajari dari kegiatan daun itu?" tanya saya.
"Berdiskusi Pak."
"Kebebasan dalam mengklasifikasikan daun Pak."
"Belajar bebas tetapi bertanggung jawab Pak."
"Kami dapat belajar bagaimana pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai pusat belajar."

"Apa langkah berikut setelah kita selesai dengan kegiatan mengklasifikasi daun?" Pertanyaan saya berikutnya. Maka kami diskusi bersama tentang beberapa kemungkinan kegiatan belajar sebagai follow up dari pengelompokkan daun tersebut. Diantaranya adalah;

Memberi warna pada bagian belakang daun, bagian yang  kerangka daunnya jelas menonjol, untuk kemudian kerangka tersebut ditempelkan di kerta kosong, sehingga akan menghasilkan cap daun.

Anak-anak juga dapat menempel salah satu daun yag mereka suka, kemudian menguraikan pembelajaran tentang daun secara lebih luas dan dalam. Atau bahkan sekedar mencatat apa yang telah mereka lakukan dalam belajar daun tersebut dalam bentuk deskripsi, sehingga hasil kerja mereka dapat menjadi bahan display di kelas. Atau bahkan masih banyak sekali yang dapat anak-anak lakukan di dalam kelas sebagai kelanjutan dari aktivitas belajar itu.

Semua yang kami lakukan dalam pembelajaran daun itu, kami tutup dengan diskusi yang lebih intens lagi berkenaan dengan pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Saya bermaksud agar kegiatan tersebut dapat menjadi jendela bagi guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan siswanya di dalam kelas berbasis aktivitas. Semoga.

Jakarta, 2.1.14

Pulang Kampung Akhir 2013 #4; Tidak ada (Lagi) Suara Burung

Saya bersyukur bahwa pada saat saya berada di kampung  halaman di akhir tahun 2013 lalu, saya benar-benar berada di rumah orangtua saya yang ada di desa di Purworejo tidak kurag dari 2 X 24 jam. Ini benar-benar sebuah anugerah bagi saya. Mengingat selama ini ketika ke kampung halaman, keberadaan saya selalu entah dimana. Karena kampung halaman hanya saya jadikan sebagai lokasi transit. Jangankan untuk berlama-lama silaturahim dengan tetangga kami, untuk menikmati matahari siang hingga sore dengan hebusn angin khas pesisiran pun, hampir saya tidak memiliki kesempatan.

Oleh karenanya, tidak salah jika dua hari di kampung kemarin itu, saya seperni menikmati situasi desa dengan semaksimalnya. Sejak pagi hingga bertemu pagi lagi. Sebuah kesempatan yang memungkinkn saya untuk memandang dan mengngkapkan kekaguman dan kenangan atas semua yang ada di setiap sisi yang ada di kampung saya. Tentang pohon-pohon yang telah usai berbuah. Tentang biji-bijian yag bersahil dikumpulkan oleh saudara untuk saya bawa ke Jakarta dan menjadi buah tangan untuk teman-teman yang senang pada tanaman untuk ditanam di halaman rumahnya atau dalam pot. Juga tentang pasir kasar yang ada di sepanjang sungai kecil atau sungai Bogowonto yang menjadi lanskap tambahan desa saya.

Juga tentang berbagai suara binantang yang tersisa. Seperti bunyi serangga kecil dengan suaranya yang nyaring, yang kami sering menyebutnya dengan sebutan garengpung. Entah apa nama sebenarnya atau nama nasionalnya dari serangga yang selalu keras berbunyi di batang-batang pohon pada ketinggian tertentu. Atau suara burung emprit, burung prenjak, burung gemak atau burung puyuh. Dan juga burung hantu ketika senja sudah menyelimuti kampung.

Sebuah kampung yang menjadi begitu sunyi ketika tupai pun sudah amat sangat jarang ditemui sedang melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Khususnya tupai yang berbulu coklat tua dengan ukuran badan yang lebih besar.

Juga suara-suara burung-burung kicau yang benar-benar telah hilang dari desa saya. Seperti burung tuwu yang berbunyi di atas dahan pohon yang tinggi, atau burung kutilang yang bersiul dengan cara berduyun-duyun berterbangan. Juga burung tekukur. Apalagi burung-burung yang terbilang mewah seperti burung perkutut, ayam hutan, atau burung kacer.

Mereka secara berangsur telah hilang di desa saya. 

"Mereka telah ditangkap oleh orang yang membutuhkan untuk mencari nafkah." Jelas saudara-saudara saya yang tinggal di kampung. 
"Bahkan tokek dan burung prenjak pun di buru setiap malamnya." Jelas sudara saya lagi.

Kenyataan tersebut, membersitkan rasa kegundahan akan hilangnya 'citarasa' desa di kemudian hari. Karena desa sudah tidak lagi identik dengan suara burung. Karena suara burung telah berganti ke sangkar-sangkar yang berada di rumah-rumah orang tertentu, dan juga tentunya di pasar-pasar burung ebelum mereka di beli olah pecinta.

Padahal sebagai pecinta, tidak semestinya kan mengurung? Sebagaimana yang diungkapkan oleh gubernur Jawa Tengah tentang hewan peliharaannya yang harus dilepas bebas atau diserahkan kepada yang seharusnya merawat mereka...

Jakarta, 2 Januari 2014.

Pulang Kampung Akhir 2013 #3; (Sekedar) Memelihara atau Mencipta?

Selama dalam perjalanan pulang kampung akhir tahun 2013 lalu, pada saat menikmati jalanan yang ada yang menjadi rute perjalanan saya dan keluarga, saya menemukan fakta berkenaan dengan kondisi jalan, lebarnya, markanya, dan juga rambunya. Kenyataan itulah yang sayua coba membuatkan catatan. Ini karena untuk pulang kampung, tidak kurang dua kali dalam satu tahun saya harus mengendari kendaraan sendiri dan yang lainnya dengan menupang kendaraan umum.

Mengingat dalam setiap menelusuri rute jalan yang sama dalam kurun waktu yang berbeda-beda itu, saya menemukan bahwa terdapat beberapa perubahan terhadap jalanan yang saya lalui di beberapa tempat, juga ada jalanan yang tetap sama baik dalam hal kondisi kualitasnya maupun lebar dari jalanan itu sendiri. Untuk itulah penting saya sampaikan dalam catatan saya ini. 

Jalan di Paguyangan

Setelah melaksanakan shalat di rest area yang ada di lingkar luar kota Bumiayu, saya melanjutkan perjaanan menuju ke arah timur. Terdapat dua rest area di sepanjang lingkar luar ini. Jika dari arah barat ke timur, maka akan bertemu dengan rest area yang ada di sebelah kiri jalan, yang posisinya lebih kurang 1 kilometer dari pertigaan sebelum masuk jalur lingkar luar itu dengan kondisi yang bagus dan terawat serta bersih. Dan yang kedua adalah menjelang pertigaan di daerah Paguyangan, yang berada di sebelah kanan.

Mungkin karena pada saat lebaran 2013 lalu dalam keadaan macet, maka lebar dan kondisi jalan di daerah itu tidak begitu menjadi perhatian saya. Namun ketika saya melalui di jalur tersebut dalam keadaan jalanan yang mulus oleh hotmik, bertambah lebar, dan lengang, maka saya merasakan nikmatnya.

Sementara di beberapa tempat, meski jalanan tetap tidak menjadi bertambah lebar, tetapi cukup terawat kemulusannya. Sedang di beberapa tempat yang lain masih juga sama dengan kondisi yang sbelum-sebelumnya, tahun-tahun yang lalu. Jalanan dengan tambalan aspal yang tidak rata dengan beberapa lubang yang sudah dibiarkan beberapa waktu, harus saya lalui dengan tidak ada pilihan lain. 

(Sekedar) Memelihara atau Mencipta?

Meskipun demikian, dari beberapa kondisi jalanan di wilayah-wilayah yang saya lalui sepanjang mudik atau pulang kampung akhir tahun 2013 itu, saya mengambil kesimpulan bahwa kualitas pemangku jabatan di daerah tersebut berkorelasi dengan model jalanan. 

Para pemangku daerah yang memiliki komitmen dan bervisi, tentu akan menjalankan tugas pelayanannya dengan tidak hanya (sekedar) memelihara infrastruktur yang ada, tetapi juga mebuatnya semakin bagus kualitasnya, dengan marka jalan dan rambu yang benar-benar menjadi pemandu bagi yang melaluinya kapanpun waktunya, dan bahkan menambah lebar jalanan itu.

Jakarta, 2 Januari 2013.