Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Juli 2016

Hadiah Sepatu untuk Teman

Saya mendapat kesempatan untuk mendengar cerita mengharukan sekaligus membanggakan dari peserta didik saya yang sekarang baru saja duduk di bangku kelas enam SD. Dan beruntung, cerita saya dapat dari anak-anak ketika kami berada di halaman sekolah menemani anak-anak yang belum di jemput oleh penjemputnya di waktu pulang sekolah.

"Pak Agus lihat enggak kalau sepatu Alif itu baru?" Kata seorang anak kepada saya. Kami berdiri di pinggir lapangan futsal sekitaran ber-empat. Saya dan tiga anak laki-laki kelas enam. Dua anak lainnya menyaksikan dengan sungguh-sungguh raut muka saya. Sementara anak-anak di lapangan tengah sibuk juga dengan bola yang menjadi rebutan mereka.

"Oh iya. Benar. Pak Agus liat sepatu baru yang sedang Alif pakai. Wah... keren sepatunya." Kata saya sebagai balasan dari pertanyaan itu setelah mengamati sepatu yang Alif sedang kenakan ketika yang bersangkutan sedang berada di dalam lapangan. Sepatunya warna hitam polos dengan logo merk berbentuk strip warna putih terang di bagian samping sepatu. Alif, si pemakai sepatu, asyik dengan bola yang menjadi pusat perhatiannya.

"Itu kami yang membelikan untuk dia Pak. Itu sepatu hadiah kami untuk ulang tahun Alif ketika kami duduk di kelas lima. Kami patungan beberapa anak, lalu Putri inisiatif untuk membelikannya. Oh iya Pak. Putri yang pertama kali mengusulkan kepada kami untuk membelikan sepatu sebagai hadiah ulang tahun Alif." Saya terhenyak dengan paparan cerita itu. Ini benar-benar menjadi momen bagi saya untuk mendengar testimoni sebauh kegiatan mulia yang anak-anak rancang dan sekaligus mereka jalankan!

"Mengapa kalian mempunyai ide keren seperti itu?" Tanya saya spontan. Saya masih berpikir tentang bagaimana anak-anak itu melahirkan perilaku mulia sebagaimana yang telah ada di lapangan operasional tersebut? Karena hal ini menjadi hal yang luar biasa mengena bagi pendidikan karakter anak-anak.

"Ya awalnya kami melihat Alif selalu mengenakan sepatu yang telah robek parah Pak. Terus ketika suatu kali kami tanya mengapa sepatu sobek masih di pakai? Dia ilang karena sepatunya enak dipakai. Sehingga sudah terlanjur pewe. Lalu Putri mengsulkan agar kami patungan untuk membelikannya sepatu. Nah pas ulang tahunnya menjadi waktu yang paling tepat untuk memberikan sepatu baru yang kami belikan. Dan alhamdulillah, Alif memakainya keesokan harinya. Kami semua senang." Cerita anak laki-laki tersebut.

Jakarta, 29 Juli 2016.

25 Juli 2016

Mudik 2016 #18; Dunia Serasa Sempit

Ketika kami menjalani perjalanan yang terasa berbeda di mudik Idul Fitri 2016 ini, karena beberapa diantara pemudik harus menjalani perjalanan mudiknya dengan menempuh perjalanan yang relatif sama tetapi dengan waktu tempuh yang benar-benar mencengangkan, tetapi tetap juga membekaskan pengalaman yang menarik untuk diceritakan kembali. Setidaknya ketika kami berbagi cerita mudik pada saat bertemu teman-teman di Jakarta dalam kondisi yang santai.


"Saya juga ikut terjebak macet di Exit Brebes." Kata teman saya ketika kami bersama-sama bertemu untuk kali pertama di bulan Syawal pada Sabtu, 23 Juli 2016 di wilayah Cipete, Calandak, Jakarta Selatan.

"Terus bagaimana kondisi yang dialami Mas?" Tanya saya. Sekaligus mengkonfirmasi bagaimana cerita asli dari pelaku utama yang masuk dalam macet Brebes di perjalanan mudik Idul Fitri tahun 2016 ini. Apakah juga seperti apa yang diceritakan orang.

"Alhamdulilllah, dalam kondisi yang demikian itu, kami sekeluarga diberikan kekuatan dan ketenangan. Bayangkan di dalam situasi Ramadhan. Dari atas terik matahari yang semakin terasa dan dapat menguras tenaga. Sementara dari bawah kendaraan, panas dari aspal yang memantul ke atas juga memberikan kontribusi ketidaknyamanan. Tapi kami teringat apa yang menjadi pesan Baginda Rasulullah. Yaitu berdzikir. Maka panas, haus, dan kapar tidak menjadi halangan utama bagi kami sekeluarga." Demikian teman kami menyampaikan pandangan matanya kepada kami. Dia berangkat dari Jakarta pada hari Ahad, 3 Juli 2016 untuk tujuan mudik di Nganjuk, Jawa Timur. Dan sampai Nganjuk pada Selasa, 5 Juli 2016 menjelang dini hari.

Apa yang disampaikannya dengan menunggu waktu hingga benar-benar melewati dan lolos dari jebakan macet di Brebes yang begitu lama serta membosankan, dilaluinya dengan melaksanakan puasa Ramadhan dan berdzikir. Sebuah hal yang dapat saya jadikan pelajaran.

"Kami juga mengalami hal yang sama. Hanya tujuan kami ke Solo. Dan sungguh menggembirakan ketika kami bertemu dalam lapangan parkir yang berdekatan ketika sam-sama istirahat di POM Bensin MURI di Tegal. Betapa lautan manusia tetap tidak dapat menghalangi kenyataan bahwa bumi sempit." Jelas teman saya lainnya. Saya menyimak semua apa yang menjadi cerita teman-teman itu. Hingga akhirnya giliran saya untuk memulai cerita.

Jakarta, 25 Juli 2016.

Mudik 2016 #17; Bertemu Teman Lama

Sebagaimana yang pernah pula saya buat catatan tentang mudik dan kegiatan temu kangen atau sering disebut juga reuni, maka kagiatan mudik saya pada 2016 antara lain adalah bertemu dengan teman lama, persisnya teman-teman yang dulu sama-sama belajar di bangku Sekolah Pendidikan Guru, SPG antara tahun 1981 hingga tahun 1984. Dan diantara teman lama itu, ada sekitar sepuluh orang diantara mereka yang memang saya rutin bertemu. Baik ketika ada kegiatan di Jakarta atau ketika saya pulang kampung dan bersama-sama makan siang di sebuah tempat yang kami sepakati. Tapi sebagian besarnya tidak berjumpa setelah kami berpisah sejak tahun 1984! 
Foto kenangan tahun 1984, yang menjadi panduan saya untuk mengingat teman lama.

Dan kepada mereka yang telah begitu lama itu, ada diantaranya yang menyangsikan ingatannya tentang sosok yang dulu dikenal, meski sebaik apapun. Termasuk dengan saya sendiri. Bayangan raut muka dan ukuran badan di tahun 1984 itu saja yang masih melekat. Dan ketika berjumpa, benar-benar total berbeda. Hanya suara dan gaya bicara saja yang meyakinkan kepada saya bahwa dia adalah orang yang dulu pernah bersama di bangku kelas!
Hampir semua kami berubah kecuali hanya 1 teman kami yang persis sama saat pertemuan 10 Juli 2016.

Jakarta, 25.07.2016.

21 Juli 2016

Mudik 2016 #16; Jangan Ajari Kami tentang Mudik

Ketika tol baru di Brebes di resmikan oleh Pesiden dan menjadi andalan bagi semua pemudik untuk mencobanya secara bersama-sama dalam waktu yang juga kebetulan sama di musik mudik Idul Fitri 2016 ini, maka kemacetan yang berkepanjangan dan menyisakan sebagiannya adalah cerita duka. Inilah yang antara lain menjadi bagian dari fenomena mudik. Dan fenomena ini, bagi saya pribadi, adalah bagian dari romantika perjalanan bersilaturahim.



Dan untuk hal yang demikian, maka jangan pernah para pengamat atau para orang pintar atau siapa saja yang ada di koran atau media tivi dan atau media lainnya untuk mengajari saya tentang mudik. Apa lagi pendapatnya hanya ingin agar kami tahun-tahun yang akan datang mengambil pelajaran  atas perjalanan mudik Idul Fitri tahun 2016 ini, untuk tidak mengambil waktu mudik diluar waktu puncak mudik atau bahkan agar tidak melakukan mudik sekalian.

Karena apa yang menjadi kata-kata mereka, pendapat mereka, saran mereka, tidak peduli pula kalau mereka sekarang sedang menjabat jabatan yang seharusnya menjadi penyedia sarana mudik bagi kami, tidak akan menjadi pertimbangan saya untuk melakukan mudik di Idul Fitri 2017 nanti. Sama sekali tidak.

Oleh karena itu, atas apa yang para ahli telah sampaikan kepada masyarakat pada saat wawancara atau talk show, biarkan saja itu menjadi pengisi waktu tayang televisi. Namun sungguh kami tidak membutuhkan insiatif mereka dalam perjalanan mudik kami.

Dan sekali lagi, perjalanan mudik yang kami lakukan secara swadaya ini tidak lain hanya membutuhkan peningkatan kualitas jalan yang akan menjadi rute perjalanan kami yang berkendaraan roda empat, dari para pemangku kepentingan dan para pengamat ketika dimintai pendapatnya. 

Jakarta, 21 Juli 2016.

19 Juli 2016

Mudik 2016 #15; Buka Tutup dan Contra Flow!

Sebagai sesama pemudik di Idul Fitri 2016 ini, saya ingin menyampaikan berbelasungkawa bagi pemudik yang telah kehilangan orang-orang tercintanya pada saat melakukan perjalanan mudiknya. Kepada yang ditinggalkan semoga selalu dilimpahi kesabaran dan ketabahan dari Allah Swt. Juga rasa bangga atas ketabahan dan daya tahan yang sungguh luar biasa, yang telah dibuktikan di sepanjang rute mudik atas perjalanan yang tidak sepenuhnya sesuai harapan. 

Meski pada akhirnya para pemangku kepentingan bersilang pendapat berkenaan dengan kemacetan tersebut, saya sebagai warga negara tidak membutuhkan sama sekali terhadap apa yang diomongkan. Bahkan saling melempar tanggungjawab, sebuah situasi yang seharusnya sekarang ini merekalah yang temukan solusinya.


Buka Tutup dan Contra Flow!

Maka ketika berita parahnya jalur yang berada di Brebes oleh kendaraan para pemudik, hingga hampir-hampir kondisi demikian melupakan dan menanggalkan perilaku gotong royong sebagai bagian dari revolusi mental, dengan berlaku kreatif yang pada ujungnya adalah kepada pengerukan keuntungan dari para pemudik yang terjepit. Para pemudik yang memang benar-benar tidak ada pilihan selain menerima dan membeli. Tidak ada belas dan kasihan kepada pemudik yang terlanjur terjebak.

Hal ini terlihat sekali bagaimana misalnya, nasi bungkus dengan lauk telor dihargai Rp 30,000 per bungkus, atau toilet dadakan dengan terpal biru ala kadarnya di sekitar jalur mudik, atau premiun 1 liter dengan kisaran harga dua puluh ribu hingga 90,000! Semua itu menjadi bentuk bagaimana para pemudik harus melakukan transaksi. Tidak peduli bahwa diantara pemudik itu adalah mereka yang mengendari kendaraan dengan patungan untuk menyewa mobil demi keperluan mudiknya. Semua ikhtiar itu tidak lain hanya untuk bergerak maju, berjuang untuk keluar dari Brebes!

Bersyukur, bahwa dalam kondisi demikian menjadi pelajaran bagi saya dan teman-teman yang lain untuk memilih rute perjalanan yang lebih kondusif. Maka pada situasi seperti inilah saya dengan penuh ketulusan menyampaikan penghargaan kepada petugas kepolisian di wilayah lain, yang telah bekerja begitu sungguh-sungguh, begitu cekatan, dalam memperlakukan pemudik yang lain, yaitu pemudik yang mendapatkan kesempatan merasai rekayasa lalu lintas yang selama ini kami alami ketika Sabtu dan Minggu kami menuju ke Puncak, Bogor.

Yaitu dengan model buka tutup dan bahkan contra flow. Sebuah rekayasa lalu lintas yang saya menilainya sebagai peningkatan kesungguhan dan kecerdasan mereka dalam melayani kami dalam situasi yang memang padat kendaraan. Karena kebijakan seperti ini, selama ini Pak Polisi menjalankannya jauh lokasi arus mudik, yaitu di daerah Puncak, Bogor.

Sebagaimana yang saya dapat rasakan ketika pada Kamis, 7.07.2016 pukul 09.00 di wilayah Ciawi menuju Banjar, Jawa Barat. Dan juga ketika kami berada di Kadipaten-Malangbong menuju Nagrek dan lanjut Cicalengka ketika jam telah menujukkan pukul 00.00 pada Kamis, 14.07.2016, arus lalu lintas tiba-tiba bergerak lancar. Dan saya melihat Bapak-Bapak Polisi begitu sigap dan trengginas mengaturnya meski dengan sepeda motor metik milik pribadi.

Hal yang jauh berbeda ketika kami melihat para pengatur lalu lintas tersebut berada di pos jaganya menunggui lampu lalu lintas yang tetap mengatur kami seperti biasanya, di waktu arus lalin normal, di dua perempatan lingkar luar di daerah Kebumen. Butuh waktu tidak kurang 60 menit untuk lolos dari daerah itu. Padahal akan berbeda jauh jika lampu lalin itu 'direkayasa' untuk kepentingan pemudik dengan berbagi dengan penduduk setempat. Hanya, usaha 'rekayasa' lalin memang membutuhkan usaha dan tingkat kepedulian yang jauh lebih tinggi dari yang menunggui lampu lalin.

Harapan saya sebagai pemudik, semoga musim mudik yang akan datang, kami tidak diuji lagi untuk sabar menanti kondisi parkir di jalanan, termasuk di jalan tol, karena jalanan padat oleh mereka yang mudik memang benar-benar DAPAT DIPREDIKSI. Sehingga memang dapat diantisipasi.

Jakarta, 19.07.2016.

15 Juli 2016

Mudik 2016 #14; Wisata

Mudik bagi saya dan keluarga adalah wisata. Apakah itu mengunjungi lokasi wisata yang ada di sekitar kampung halaman. Mencoba sesuatu yang ingin kami ketahui lebih jauh lagi. Atau seperti teman-teman pemudik yang lain, menyantap makanan yang memang unik yang ada di lokasi tujuan mudik. Begitulah kira-kira hal yang kami lakukan pada kegiatan udik tahun ini, 2016.
"Perjalanan' menuju Goa Japang yang berlokasi di daerah Gunung Merapi, Kaliurang, DI Yogyakarta

Dimana, tahun 2016 ini, saya harus mudik di dua lokasi yang berdekatan. Orangtua yang berdomisili di daerah Purworejo, Jawa Tengah sebagai lokasi pertama dan utama tujuan mudik saya. Dan juga di Sleman, DI Yogyakarta sebagai lokasi kedua saya, dimana disana tinggal anak dan cucu saya.
Menemani anak membuka dan memakan kenthos, yang ada pada tunas kelapa.
Dan dalam dua lokasi yang berbeda dan berdekatan itulah kami menikmati hari-hari mudik bersama keluarga besar yang ada, yang kebetulan sama-sama melakukan perjalanan mudik. Termasuk diantaranya menemukan menu kuliner baru, seperti Tengkleng Gajah, Angkringan Gajah, Sate Kelinci, atau Bacem Kepala Kambing.
Foto bersama Pak Haji Sukirman (Foto paling kiri), pencetus kuliner Bacem Kepala Kambing yang berlokasi di belakang Pasar Kolombo, Jalan Kaliurang Km 7, Sleman, DI Yogyakarta.
Jakarta, 15.07.2016

Mudik 2016 #13; Memantau Berita Mudik

Menjadi kebiasaan bagi saya untuk selalu 'nguping' dan kepo terhadap berita seputar perjalanan mudik di setiap tahunnya. Utamanya ketika saya juga benar-benar akan mudik. Seperti pada Idul Fitri 1437 H atau 2016 ini. 


Lewat Tweeter, saya akan me-refresh berita yang saya follow secara berkala. Ini tidak lain saya ingin melihat bagaimana teman-teman pemudik dalam melakukan perjalanan mudiknya. Baik waktu perjalanan atau juga rute perjalanan yang mereka pilih. Selain untuk melihat tren para pemudik, saya juga mengikuti berita mudik sebagai hal yang benar-benar membawa angin kegembiraan. Sakalipun misalnya saya tidak melakukan perjalanan mudik. Tetapi membaca berita, yang kebanyakannya adalah hanya melihat head line yang ada di layar Tweeter, cukup memberikan aura liburan Idul Fitri.


Selain Tweeter, untuk kebutuhan perjalanan yang memang saya akan jalani, tidak jarang membuka peta dan kembali mengira-ira rute jalan yang memungkinkan menjadi pilihan rute mudik. Daerah mana saja yang terdapat di peta tersebut yang akan kami lalui. Beruntung bahwa peta sekarang tidak saja tersedia di toko buku tertentu yang dibagikan secara gratis pada setiap tahunnya yang diterbitkan oleh stasiun radio swasta di Jakarta, tetapi juga melalui aplikasi yang ada di seluler.

Dan satu lagi media yang saya juga gemar menggunakannya. adalah SMS ke stasiun radio yang memang fokus kepada perkembangan kondisi jalan dari waktu ke waktu. Terimakasih. 

Jakarta, 15.07.2016.

Mudik 2016 #12; Trik tidak Terjebak pada Pilihan yang Sama

"Kalau menemukan jalan tikus (jalan alternatif maksudnya), jangan bilang-bilang ke orang lain. Kalau bilang-bilang nanti bukan jalan tikus lagi." Demikian suatu saat di obrolan saya dengan orangtua siswa saya di tahun 1986 di saat acara ulang tahun salah satu siswa saya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter di sebuah rumah sakit di wilayah Bekasi. Padahal beliau tinggal di daerah Cinere. Karena jarak yang tidak pendek itulah maka saya bertanya bagaimana sehari-hari beliau pergi dan pulang kantor? Maka itulah jawaban yang bersangkutan pada waktu itu.

Selain itu, beliau juga menyampaikan pendapatnya kepada kami yang ikut serta dalam lingkaran obrolan tersebut bahwa; "Di Jakarta, jauh dekat itu relatif Pak Agus. Yang utama adalah tidak macet." Demikian antara lain yang masih terekam dalam ingatan saya hingga sekarang ini. 

Percakapan yang masih hangat dalam ingatan saya tersebut muncul kembali pada era mudik tahun ini, 2016. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bahwa musim mudik memunculkan kemacetan di jalur yang dilalui pada jalur mudik yang sama dan waktu yang bersamaan. Perbedaannya dari tahun sebelumnya dengan tahun-tahun belakangan ini adalah tingkat kemacetan yang jauh lebih kompleks dan pastinya lebih panjang antriannya. Meski jalan terbangun dan telah dioperasikan sebagai sarana mudik. 

Lalu bagaimana saya menyiasati kondisi seperti itu yang berulang pada setiap tahunnya pada musim mudik Idul Fitri? Supaya saya tidak masuk dalam kelompok yang terjebak dalam pilihan rute jalan dan waktu yang sama? 

Sederhana saja. Pertama, Seperti pendapat orangtua siswa saya di tahun 1986 itu, bahwa saya membaca berita yang berkenaan dengan rute perjalanan mudik teman-teman serta berita tentang volume kendaraan yang ada. Pada hari ini, berita itu dapat saya akses jauh lebih up date dan jauh lebih lengkap
Berita tentang kemacetan di Republika.
dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini berkat dari teknologi komunikasi. 

Kedua, Hasil dari apa yang dipercakapkan orang tersebut menjadi pegangan buat saya dalam diskusi dengan keluarga untuk berangkat kapan dan sekaligus mengemukakan rute jalan yang akan kami lalui. Ini penting supaya anggota keluarga saya bersiap secara lahir dan batin. Bahkan pilihan rute dan waktu berangkat pun, tidak jarang berubah, hanya untuk mengikuti arus kendaraan yang ada di berita. Sekali lagi, usaha ini tidak lain agar kami tidak terjebak pada pilihan rute jalan dan waktu mudik yang bersamaan dengan pemudik yang lain.

Ketiga, saya memilih apa yang kadang sebagian besar teman-teman pemudik tidak terpikir. Misalnya pengambilan rute mudik, yang kadang akan menempuh jalan lebih jauh dan berliku, yang pasti tidak semua orang akan malas melakukannya karena terpikir olehnya jauh. Tetapi saya memilih itu karena meski perjalanan akan jauh lebih jauh tetapi jauh lebih lancar. Sedang sebagian besar pemudik akan memilih rute jalan utama. Seperti jalur Pantura, Tol, atau Jalur selatan. Saya sering mengkombinasikan dengan perhitungan waktu sepi ketika masuk pada jalur kecil atau jalur alternatif.

Keempat, Beberapa teman yang bertanya kepada saya tentang pilihan jalur mudik yang sebagiannya adalah jalur wisata atau jalur alternatif, adalah; "Apakah Pak Agus tidak khawatir ada apa-apa ketika berada pada jalur sepi di saat yang tidak banyak orang?" Saya menjawabnya dengan apa yang menjadi pemikiran saya. Yaitu saya tidak berpikir yang tidak sesuai dengan harapan saya terhadap jalur mudik yang akan saya pilih. Jadi saya selalu optimis bahwa jalur yang saya pilih adalah jalur mudik yang akan memberikan nuansa baru yang menyenangkan bagi perjalanan mudik kami.

Itulah yang menjadikan anggota keluarga saya tetap menikmati perjalanan mudik dengan kendaraan sendiri meski dimusim padat, di masa mudik Idul Fitri.

Jakarta, 15 Juli 2016.