Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Oktober 2016

Rasio Guru Siswa

Ada pernyataan dari Wakil Presiden RI berkenaan dengan perbandingan guru: siswa dalam sebuah forum bulan lalu, bahwa perbandingan 1:18, tergolong mewah. Karena rasio guru: siswa yang sederhana adalah 1:20 siswa sesuai dengan PP 74/2008 tentang Guru .

Perbandingan atau rasio guru:siswa yang tergolong mewah semacam itu bagi sekolah swasta seperti kami, adalah rasio yang masih terlalu melelahkan untuk seorang guru dalam interaksinya di sekolah dalam memberikan pelayanan kepada peserta didiknya. Oleh karenanya sekolah swasta seperti kami akan merekrut beberapa guru sebagai pendekatan agar peserta didik bernar-benar dapat diikhtiarkan semaksimal mungkin pelayanannya. 

Artinya, jika rasio 1:18 oleh negara masih dalam pandangan kemewahan, maka bagi sekolah swasta seperti kami akan menjadikan sebuah peluang dan sekaligus sebagai tantangan tersendiri dalam melangsungkan keberlangsungannya. Hal ini karena bebeberapa faktor yang antara lain adalah, Pertama; pemahaman akan konsep pelayanan terhadap peserta didik.

Kedua, biaya operasional per siswa per bulan yang harus menjadi sisi daya saing bagi sekolah swasta seperti kami agar hal ini menjadi titik pandang masyarakat terhadap ketertarikannya mereka kepada sekolah yang kami kelola.

Ketiga, jika memang sekolah swasta seperti kami bermaksud menjadikan perhatian guru kepada peserta didiknya di dalam kelas yang lebih optimal, maka mengurangi jumlah radio siswa menjadi bagian strateginya. Karena dengan jumlah siswa yang lebih sedikit dalam penanganan dan tanggungjawab guru di dalam kelas akan memungkinkan optimalisasi itu. Sekali lagi, ini bermakna sekali dalam perhitungan biaya operasional sebuah lembaga.

Keempat, bagi sekolah swasta seperti kami, program kegiatan sekolah, yang diantaranya mengambil peran serta dari kualitan guru, dan biaya operasional per siswa per bulan, adalah kunci bagi keberlangsungan dan daya saing sebuah lembaga. 

Dengan melihat beberapa hal tersebut, maka pernyataan Bapak Wakil Presiden berkenaan dengan rasio guru siswa sebagaimana yang penulis kutip pada awal tulisan ini, menjadi cermin sekaligus tantangan untuk terus menerus memberikan peluang bagi guru untuk memberikan pelayanan paling unggul dalam interaksi edukatifnya kepada peserta didik. 


Jakarta, 31 Oktober 2016.

29 Oktober 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #36; Apa Apresiasi Sekolah Kepada Saya?

"Kalau kekeliruan yang telah saya perbuat ini menjadi bagian penting di mata sekolah, maka apakah sesungguhnya apresiasi sekolah kepada saya selama ini? Bahwa sekolah namanya terangkat karena beberapa prestasi yang saya kontribusikan dengan kegiatan bagus untuk dan atas nama sekolah?" Demikian kata-kata yang keluar dari anak muda, guru saya suatu ketika ketika saya harus menyampaikan konsekuensi yang didapatnya. Agak kecewa saya dengan pernyataan yang begitu ketus. Sebuah pendapat yang sungguh saya sendiri tidak menyangka.

Bagaimana bisa bahwa kekeliruan yang dia telah lakukan harus saya toleransi hanya karena dia selama ini memang berkontribusi positif terhadap sekolah? Ini sebuah kenyataan yang amat sering dilakukan oleh para teman guru di mana saja. Bahkan termasuk diantaranya saya sendiri ketika belum pernah berada pada posisi sebagai pimpinan sekolah.

Dan inilah yang harus menjadi tanggung jawab Kepala Sekolah untuk tetap mampu memberikan koordinat positif bagi teman-teman guru yang memang membutuhkan informasi atau cara pandang yang lain, dimensi berpikir yang berbeda. Meski logikanya tidak harus selalu dari sisi disiplin!

Banyak jendela disiplin ilmu yang dapat memberikan logika bahwa kalau berjasa maka saya boleh apa saja di sekolah, termasuk diantaranya terlambat masuk kelas atau bahkan tidak masuk sekolah sekalian. Tentu dengan argumentasi bahwa saya sedang berada di luar sekolah untuk dan atas nama sekolah.

Jakarta, 29 Oktober 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #35; Menentukan Guru Kelas

Hal penting menjelang akhir tahun pelajaran, paling terlambat, atau menginjak di awal atau palin terlambat pada  akhir semester II, adalah sekenario penentuan guru kelas. Utamanya yang menjadi bagian amat penting di lembaga sekolah formal yang saya ikut serta berada di dalamnya adalah untuk tigkat KB/TK dan SD. Penting karena guru kelas adalah guru yang memang berdomisili nyaris sepanjang hari di kelas tersebut. Hal ini karena untuk unit sekolah KB/TK dan SD guru mengampu mata pelajaran inti yang ada unit tersebut. Berbeda untuk tingkat sekolah lanjutan, dimana guru wali kelas bertanggungjawab edukasi dan administrasi di kelas tersebut dengan tetap mengampu mata pelajarannya sendiri.

Lalu apa yang membuatnya penting posisi guru kelas? Karena beliau-beliau adalah representasi unit dan sekaligus lembaga pendidikannya. Khusus di sekolah sawasta, keberadaan beliau dengan kualifikasi yang memuaskan atau bahkan yang out standing, adalah harapan bagi semua pihak yang menjadi stake holder di kelasnya tersebut. Baik yang menjadi peserta didiknya di dalam kelas, bagi kepala sekolahnya, bagi rekan pararelnya, dan utamanya bagi masyarakat yang menjadi orangtua dari peserta didiknya.

Lalu bagaimana jika kualifikasi yang dianggap penting bagi Bapak dan Ibu Guru di posisi guru kelas tersebut justru memiliki kualifikasi yang kurang? Maka inilah masalah yang akan saya saya catat dalam 'cerita perjalanan' saya ini. Karena teman-teman yang seperti ini yang benar-benar membutuhan bantuan,  sokongan, atau bahkan pemahaman bagi lingkungannya. Bantuan dan sokongan terutama dari teman pararel dan pimpinan di unit sekolahnya, juga pengertian bagi teman-temannya.

Lalu bagaimana kita sebagai bagian dari unit sekolah, seperti pimpinan sekolah, mengetahui berada di mana teman-teman kita yang berada pada posisi guru kelas tersebut berkualifikasi? Tidak lain dan tidak bukan, terutama yang saya alami di sekolah swasta, adalah masukan dari lingkungannya. Ya dari teman koleganya, dari siswanya, dan utamanya dari orangtua peserta didiknya.

Akan tetapi, semua bentuk bantuan, sokongan, dan pengertian itu menjadi tidak relevan lagi manakala teman tersebut justru memberikan resistensi terhadap apa yang disampaikan oleh lingungannya. Meski, sekalilagi, bahwa informasi atas kekuranganya telah bertebaran di grup WA dari orangtua peserta didiknya.

Namun dengan mengambil pekajaran dan masukan yang ada, saya selalu menyarankan kepada para impinan sekolah agar menentukan guru-gurunya untuk menempati posisi guru kelas dengan pertimbangan yang utama adalah kemampuan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didiknya. Dan ini dapat dilihat dari rekam jejak sebelumnya. Dengan memegang teguh prinsip utama ialah, tidak ingin direpotkan dengan komplain pada perjalanan pembelajaran di kemudian hari. Meski guru yang bersangkutan adalah guru yang telah memiliki jam terbang tinggi atau meski guru itu adalah guru yang telah tersertifikasi sebagai Guru Profesional dari pemerintah. Sekalipun!

Jakarta, 29 Oktober 2016.

13 Oktober 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #34; Memilih Guru

Katika kalender pendidikan sudah menginjak pada Desember, sebagai bagian dari lembaga pendidikan swasta yag harus menghidup diri sepenuhnya dari masyarakat, maka kesibukan kami tidak saja pada persiapan penerimaan siswa baru, tetapi juga pada penilaian kinerja guru. Sebuah kegiatan rutin yang penuh tantangan. Dimana ending dari kegiatan penilaian kinerja adalah penentuan atau pengambilan keputusan untuk guru dalam kenaikan gaji, peningkatan status kepegawaiannya, dan juga sebagai feedback bagi manajemen sekolah untuk menentukan arah sekolah berikutnya.

Maka pada catatan saya kali ini akan fokus kepada peningkatan status kepegawaian guru, seperti status guru yang dalam posisi kontrak menjadi tetap. Dan ini sama pengertiannya dengan memilih guru-guru terbaik bagi sekolah. Dan yang terbaik adalah mereka yang memenuhi standar yang telah dijadikan bagi standar di sekolah kami. Tujuannya tidak lain adalah memastikan bahwa mereka nantinya menjadi pengganti handal atau yang akan membawa lembaga sekolah kami yang, sekali lagi, sekolah swasta, tetap menjadi pilihan bagi warga masyarakat karena memberikan sesuatu yang dibutuhkannya. Semoga.

Jika demikian, maka tidak sulit bagi Kepala Sekolah memberikan rekomendasi guru yang mana yang sekarang masih dalam posisi kontrak untuk diangkat sebagai guru dalam posisi tetap oleh Yayasan. Namun dalam kajian realistis, sesuatu yang tidak sulit tersebut sering menjadi batu sandungan bagi pengambilan keputusannya.

Kendala yang sering muncul bagi sekolah dalam memilih guru-guru pilihannya antara lain adalah; Pertama, adanya ikatan darah antara guru yang akan dipilih dengan salah satu anggota manajemen yang ada di sekolah tersebut. Kendala ini berada di bagian non teknis, yang kadang membutuhkan strategi bagaimana mengkomunikasikan. Pada posisi saya sebagai penerima rekomendasi, biasanya saya akan mengajak Kepala Sekolah untuk menggali lebih dalam lagi berkenaan dengan rekomendasi yang dibuatnya. Seperti bertanya apakah Bapak/Ibu yakin bahwa rekomendasi yang tertuang dalam suratnya 100% valid?

Dengan data yang benar-benar meyakinkan akan membuat kami semakin mudah berkomunikasi dengan guru yang akan kami pilih. Tetapi jika memang sejak mengumpulkan data dari penilaian kinerja ada bagian yang ragu-ragu, maka saya akan mengusulkan agar kesimpulan diambil dari data yang tidak meragukan lagi. Artinya di[perlukan proses untuk membuat bahwa hasil B adalah memang benar-benar B.

Kedua, hasil kinerja yang mendekati B, jika B adalah standar minimal bagi memilih guru, tetapi pihak Kepala Sekolah mengeluhkan akan kesulitannya mencari kandidat baru. Namun pada masalah ini jauh lebih mudah menentukan kesimpulannya. Tidak terlalu sulit. Namun tetap sering menjadi bagian kendala pada tataran operasional.

Lalu apa kemudian yang akan menjadi langkah kami berikutnya setelah hasil kinerja tersaji dan kendala telah dapat disingkirkan? Adalah menyampaikan keputusan ke[ada yang bersangkutan. Apakah dengan hasil yang disajikan tersebut memberikan peluang bagi Yayasan untuk mengangkat guru menjadi guru dengan status tetap atau tidak.

Meski dengan proses pengambilan keputusan seperti ini tetap saja tercium rumor di tataran operasional bahwa pengangkatan atau perpanjangan kontrak kepada para guru tersebut tidak berdasarkan dalil yang argumentatif. Namun sebagai penjaga gawang, saya biasanya tidak terlampau memusingkan akan hal yang menjadi rumor di lapangan, setelah sebelumnya saya berkomunikasi dengan para penanggung jawab unit yang ada atau bahkan kepada floor.

Jakarta, 13.10.2016

12 Oktober 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #33; Antara Memberi atau tidak Sebuah Jabatan

"Apa saran atau paling tidak pendapat Bapak dengan kasus dan permasalahan guru yang seperti itu?" Tanya teman saya kepada setelah ia menguraikan secara panjang dan lebar akan stafnya yang harus kembali menjadi guru setelah masa jabatannya sebagai Kepala Sekolah berakhir. Dan ini masa yang bukan pendek lagi, tetapi sudah selama sembilan tahun memegang amanah sebagai Kepala Sekolah. Selama tiga periode jabatan di lembaganya. 

Perlu pula saya sampaikan disini bahwa teman saya menyampaikan betapa sedikit dibuat tidak enak manakala ia melihat performa mantan Kepala Sekolahnya yang telah mencapai tiga periode jabatannya namun justru tidak membaik. Padahal sangat menjadi harapan baginya dan lembaga agar temannya itu mampu mengampu amanah lebih besar lagi. Tidak saja sebagai Kepala Sekolah di unit sekolah yang ada di lembaganya, tetapi menjadi Kepala dari sekolah-sekolah yang ada di dalam lembaganya.

Namun dengan performa yang kurang menggembirakan tersebut, maka keputusan seperti berbelok arah. Tidak jatuh kepada temannya teman saya itu, namun kepada sahabatnya yang lain, yang dalam forum diskusi sebelumnya memberikan cara pandang, memposisikan diri, dan kompetensi sebagai manajer yang berada di dalam lingkungan pendidikan swasta lebih mumpuni. Plus, tentunya, attitude yang baik.

"Buat saya, sependapat dengan apa yang telah kamu kemukakan. Yaitu untuk tidak memberikan amanah kepada mereka yang memang tidak sesuai kompetensinya dengan apa yang menjadi kualifikasi. Karena kalau memaksakan, maka perlahan kemunduran yang terjadi, dan yang menjadi lebih berat lagi adalah perjalanan sekolahmu hanya akan membuang waktu dengan sia-sia." Jelas saya sebagai masukan atas apa yang teman saya inginkan. 

"Bagaimana dengan resiko bahwa ia akan mengundurkan diri saja jika lembaga memang tidak mengangkatnya pada posisi yang setara?" Jelasnya lagi.

"Mungkin lebih baik pilihan itu yang kamu dan lembagamu ambil. Bukan berarti untuk tidak menghargai beliau yang telah sekian lama menjadi manajer di sekolah Anda, tetapi juga sebagai kausalitas bahwa sekolahmu membutuhkan kualifikasi manajer sebagaimana yang telah dikemukakan di depan." kata saya.

Jakarta, 12.10.2016.

07 Oktober 2016

Wisata Mangrove, Bukti Kreativitas Warga

Pertama saya menemukan adanya kabar akan adanya lokasi wisata baru yang dekat dengan rumah orangtua di kampung, adalah dari adik beberapa waktu lalu. Setelah adik saya sendiri mengunjungi lokasi tersebut. Namun beberapa pekan kemudian, saya dikejutkan dengan berita di koran online langganan saya tentang lokasi wisata baru tersebut dan pengambilan retribusinya.


Dan berselang beberapa hari kemudian, muncul kembali lokasi wisata mangrove yang terdapat empat lokasi, yang  berada masih dalam satu desa, dengan pengelolaan retribusi yang telah disepakati para warga. Saya turut bersyukur juga dengan berita bagus tersebut. Dan keinginan untuk melihat langsung ke lokasi buatan warga itu semakin kuat.

Berita ini juga bersamaan dengan adanya kabar diketemukannya 'Candi' di sebuah bukit yang terdampak longsor di wilayah yang lebih kurang 5 atau 6 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Purworejo. Sebuah berita yang pasti menjadi kegairahan baru bagi semua warga yang tinggal di Purworejo, Jawa Tengah. 


Kabar yang kemudian di ralat oleh Dinas Purbakala, bahwa temuan yang diduga 'candi' tersebut  merupakan akibat gempa. Dan dipastikan bahwa itu bukan 'candi' sebagaimana yang belakangan ini menjadi heboh.

Kreativitas

Dan ketika saya benar-benar berkesempatan untuk mendatangi hutan mangrove yang berada di Pasir Kadilangu, Jangkaran, Temon, DI Yogyakarta beberapa waktu, menegaskan betapa kreatifnya warga dalam membuat potensi kampungnya menjadi daya tarik orang atau wisatawan untuk mengunjungi dan membelanjakan uangnya di desa mereka. 

Sekarang, di desa itu saban hari disibukkan oleh kegiatan yang sebelum ini tidak menjadi mata pencaharian utamanya, yaitu menjadi pelaku wisata. Sebuah jenis pekerjaan baru di desa itu, yang merupakan hasil dari kreativitas, tekad, dan visi para warganya.

Lalu apa yang dapat saya lakukan untuk desa saya? Ini menjadi sebuah tantangan bagi kita semua. 

Jakarta, 7.10.2016

05 Oktober 2016

Mangrove Wanatirta, Kulon Progo

Ada yang baru, yang harus kami kunjungi ketika kami mudik pada awal Oktober 2016 ini. Ini adalah spot wisata yang belum pernah ada sebelumnya di wilayah ini, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal orangtua saya, di daerah Purworejo, Jawa Tengah. Lokasinya ada di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adalah hamparan hutan mangrove yang ada di dekat muara Sungai Bogowonto, yang berada di sebelah barat Pantai Congot, yang bersebelahan dengan rencana lokasi New Yogyakarta Air Port. Yang pada awal kemunculannya sempat terjadi ketidaksinkronan antara empat pengelola lokasi mangrove, yang masih terdapat di satu desa, Desa Jangkaran.


Dan mengunjungi hutan mangrove ini, saya kembali kagum atas daya dan ikhtiar warga desa dalam mengelola kreativitas dan imajinasi dalam bingkai pengusaha. Karena dengan upaya itulah maka kami, para wisatawan, datang berkunjung.



Jakarta, 5 Oktober 2016.

Inspirasi Menulis A. Fuadi

Pada hari keempat dari kegiatan Pekan Literasi yang digagas sekolah, anak-anak di level SMP mengundang penulis Negeri 5 Menara ke sekolah untuk menjadi pemicu semangat menulis. Alhamdulillah berkat kesediaan Bang A. Fuadi untuk dapat hadir di sekolah, menjadikan kegiatan pada hari itu begitu berbeda.
Kehebohan Bapak dan Ibu Guru seusai Bang Fuadi memberikan testimoninya.

Tidak ada teori menulis yang disampaikan oleh Bang Ahmad Fuadi dalam talk show yang beliau bawakan saat itu. Beliau hanya memutarkan ingatan kita kepada dunia yang ada di novel-novel yang beliau tulis, juga film yang merupakan adaptasi dari novel yang telah ditulisnya. Bang Ahmad Fuadi memberikan testimoni tentang perjalanan hidupnya, yang sebagiannya ada di dalam cerita bukunya. Namun justru dengan itu kami yang menjadi peserta dai kegiatan itu semakin tergugah untuk lebih intens kembali mencatat apa yang kami alami.
Kenang-kenangan khusus dari penulisnya, di buku saya.
Dan disitulah kami mendapatkan titik pusat dari inspirasi yang disampaikan Bang Fuadi, yang berlangsung tidak begitu lama. Namun demikian, kami merasakan kesan yang baik sekali dalam pertemuan tersebut.

Dokumentasi saya dilain tempat silahkan ke;
https://www.youtube.com/watch?v=KngqvqmEr6A

Jakarta, 5 Oktober 2016.