Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

25 Februari 2013

Dapat IPAD, Kalau Ikut Latihan...

Pagi itu, guru paduan suara kami sedang kebingungan untuk memulai latihan. Ini karena disebabkan oleh salah satu siswa yang ternyata belum datang ke sekolah. Kabar yang didapat, bukan lagi belum datang, tetapi justru tidak akan datang. Karena masih kelelahan setelah mengikuti kegiatan outing di hari sebelumnya. Maka masuk akal bila ia kelelahan dan malas untuk datang ke sekolah guna mengikuti latihan terakhir sebelum tampil dalam pentas musik pada esok hari.

Namun karena harus benar-benar siap pada saat tampil esok hari, maka tidak bisa tidak, latihan paduan suara harus terus berlangsung. Meski anggotanya tidak lengkap. Dan karena anggota kurang, maka terlihat ada 'lubang' dalam barisan paduan suara tersebut.

Kondisi latihan paduan suara dengan anggota yang tidak lengkap seperti ini menjadi kebimbangan tersendiri bagi sang pelatih. Mengingat ada nada dan sekaligus ritme lagu yang pada latihan hari itu harus diubah. Cukup beralasan bagi sang pelatih untuk menjadi terngiang-ngiang oleh ketidak kompakan.

Maka diantara jeda perpindahan dari satu lagu ke lagu lainnya, ia terus menerus membangun komunikasi dengan rumah dimana anak yang belum hadir tersebut berada. Baik melalui pesan pendek atau bahkan sesekali telepon.

Ketika hari menjelang siang, lebih kurang pukul 11.00, yaitu ketika saya kembali melihat anak-anak itu sedang latihan di plasa sekolah, saya diberi kabar bahwa anak yang tadi belum datang untuk latihan paduan suara, sekarang sudah berada di sekolah dan bahkan telah ikut serta latihan. Tentu saya gembira. Lebih-lebih dengan pelatihnya. 

Saya mencoba melihat dan memperhatikan anak yang baru datang tersebut. Mencoba menghafal wajahnya. Maklum, ini karena siswa yang harus saya hafalkan adalah 700. Karena saya tidak memiliki kelas. Jadi semua kelas yang ada di unit Kelompok Bermain hingga SMP adalah kelas saya. Meski belum semua berhasil saya hafalkan, setidaknya wajah mereka masuk dalam ingatan saya.

Hadiah IPAD

Ketika latihan memasuki waktu istirahat, dan kebetulan saya berada diantara anak-anak yang sedang dibagikan makanan kecil oleh Ibu Wakil Kepala Sekolah, saya berkesempatan untuk berdiskusi dan berdialog dengan semuanya. Dengan pelatih vokalnya, yang kebetulan juga adalah guru musik kami di sekolah. Dengan pelatih kareografinya, yang kami sewa untuk kegiatan khusus tersebut. Juga dengan anak yang sejak pagi tadi ditunggu-tunggu kehadirannya di sekolah. Tidak saja oleh pelatihnya, tetapi juga oleh semua rekan dalam satu kelompok paduan suara.

Namun saya terkaget-kaget dan bahkan tercengang, ketika bertanya "Terima kasih ya telah datang di sesi latihan terakhir har ini. Kamu pasti masih capek sekali ya sehabis outing seharian  kemarin. Hebat. Terima kasih sekali ya." Kata saya menegur anak yang kami tunggu-tunggu itu.

"Mengapa kamu akhirnya datang?" Tanya saya berikutnya berusaha menyelidik.
"Iya, soalnya, kata Mama kalau aku ikut tampil besok, Mama akan membelikan aku IPAD." Kata anak itu dengan nada yang datar dan biasa saja.

Jawaban itu, justru membuat saya tersengal. Kok? Bukan karena saya menjadi iri dengan barang yang dalam hidup saya masih masuk barang mewah tersebut. Tetapi memberi imbalan kepada anak untuk datang latihan paduan suara dan ikut serta dalam pementasan dengan IPAD?

Jakarta, 25 Februari 2013.

Barang Tertinggal Milik Siapa?

Siapakah pemilik barang-barang yang banyak tertinggal seusai kegiatan perkemahan Pramuka? Itulah yang dipertanyakan oleh Bapak dan Ibu guru ketika anak-anak peserta Perkemahan Pramuka kembali ke sekolah pada Senin, 25 Februari 2013. Barang-barang itu tidak sekedar pakaian atau perabot yang terbilang besar wujudnya, seperti pakaian seragam Pramuka atau bahkan jaket. Tetapi juga barang-barang kecil seperti sendok, pakaian dalam, atau bahkan juga kaos kaki.

Contoh barang-barang peserta pekemahan Pramuka yang tidak bertuan.
Tidak semua barang-barang itu dalam kondisi bersih dan kering. Ini karena hasil sweeping panitia  di area perkemahan setelah anak-anak itu naik ke dalam bus yang akan membawa mereka kembali ke sekolah Kamis pekan lalu.

Maka ketika guru mengangkat barang-barang yang tertinggal agar anak-anak yang merasa kehilangan mengakui barangnya, maka situasi tersebut menjadi menarik. Bukan karena barang yang dipamerkan oleh teman-teman guru yang membuatnya menarik. Tetapi juga karena barang yang tidak bertuan itu terbilang relatif  banyak.

Namun beberapa anak yang tahu bahwa itu adalah barang yang menjadi miliknya, segera mengacungkan jari dan mengambil baragnya tersebut. Tapi sebagian besar barang-barang itu tetap tidak bertuan. Dan akan menjadi urusan pramubakti sekolah untuk membersihkannya dan mengumpulkannya dengan barang-barang tidak bertuan lainnya seperti botol minum.

Mengapa Anak tidak Mengenal Barang Miliknya?

Inilah pertanyaan menarik sekali setiap kami menemukan barang tertinggal di sekolah yang tidak diketahui siapa peiliknya. Tidak hanya karena adanya kegiatan perkemahan tersebut saja barang-barang itu tertinggal. Tetapi juga dalam keseharian anak-anak di sekolah. Beberapa perlengkapan sekolah tertinggal seperti menjadi kebiasaan yang lumrah.

Dan dari pengalaman seperti itu, maka kami berasumsi bahwa, anak-anak begitu mudah dan bahkan menyepelekan barang-barangnya tertinggal dan dia sendiri tidak mengenali sama sekali terhadap barang-barangnya tersebut antara lain karena; begitu mudahnya anak-anak itu memperoleh barang-barang tersebut. Selain itu anak-anak juga tidak diberikan kontribusi terhadap barang-barang yang dibawanya untuk perlengkapan sekolah.

Dua hal itu menurut saya yang pokok, yang memungkinkan anak-anak itu begitu mudah atau bahkan tidak merasa memiliki barang-barang yang tertinggal di sekolah. Tentunya, yang membuat guru menjadi sulit menemukan barang-barang yang tertinggal itu siapa pemiliknya adalah, tidak adanya nama yang tertera pada barang-barang tersebut.

Jakarta, 25 Februari 2013.

24 Februari 2013

Status BB yang Informatif

Ketika KPK menandai Jumat keramat dengan menggelar konferensi pers, Jumat, 22 Februari 2013, maka Kompas pada Minggu, 24 Februari 2013, memuat berita status BB yang menjadi berita hangat akhir pekan itu.

Dalam tulisan atau catatan saya ini, saya tidak ingin terlibat dalam status BB yang terkait dalam Jumat keramat tersebut. Saya justru sudah meng-capture up date BB yang diantaranya dilakukan secara periodik oleh teman-teman guru yang dalam perjalanan pulang dari kegiatan Peraka, Perkemahan Rabu Kamis di sekolah kami. 
Status yang menunjukkan lokasi keberadaan mereka.
Catatan berawal ketika Kamis siang lalu, tepatnya sekitar pukul 17.00, saat dijadwalkan anak-anak kelas 4 dan 5 yang melakukan kegiatan perkemahan di Puncak akan kembali ke sekolah. Dan benar saja, sore itu beberapa penjemput telah siap sedia menunggu kedatangan anak-anak itu, yang tampaknya masih dalam perjalanan. Diantara penjemput itu adalah serombongan yang duduk bergerombol di halaman sekolah. Kepada saya, mereka bertanya kepada saya mengenai posisi para romobongan.

Dan untuk memenuhi apa yang menjadi pertanyaan para penjemput tersut itulah, maka hampir rata-rata para guru selalu meng-up date status black barrynya dengan lokasi dimana mereka berada. Up date itu, tentunya ketika guru tersebut menyadari posisinya ketika dalam perjalanannya. Salah satu status yang ada, menjadi bagian yang saya tampilkan dalam catatan saya ini.

Apa yang dilakukan teman-teman tersebut cukup emberikan informasi yang sangat memuaskan kepada kami semua yang sedang dalam penantian di halaman sekolah. Terutama ketika jam telah melewati pukul 17.00 dan anak-anak masih belum sampai di halaman sekolah. Dan untuk itulah, saya yang berada diantara para penjemput di sekolah itu, mengucapkan terima kasih kepada teman-teman guru yang pasti telah kurang tidur ketika harus menjaga anak-anak dalam perkemahan.

Semoga ini menjadi catatan kebaikan bagi mereka semua di sisi Allah SWT. Amin.

Jakarta, 24 Februari 2013.

Praktek 'The Power of Kepepet' Pak Jaya Setiabudi di Pentas Ulang Tahun

Akhir pekan lalu, kami di sekolah, dari jenjang TK, SD, dan SMP, tengah mempraktekkan ajian The Power of Kepepet Pak Jaya Setiabudi pada saat harus pentas di acara ulang tahun founder sekolah kami. Dan seperti uraian dalam buku Pak Jaya tersebut, kepepet yang kami jadikan ajian itu benar-benar membawa hasil. Maka benar-benar ber 'power' ajian tersebut.

Hasilnya; sejauh ini pentas kami berhasil. Anak-anak benar-benar sukses mempertunjukkan kepiawaiannya di atas panggung di hadapan para tamu yang pada saat akhir mereka tampil memberikan applaus tepuk tangan yang serempak kompak kegembiraan.

The Power of Kepepet

Pertama kali saya menikmati istilah dan praktek ini ketika Pak Jaya Setibudi membawa kedua buah hatinya untuk mendaftarkan ke sekolah kami. Buku itu secara empiris memang memberikan nuansa nyata. Dalam bukunya itu, Pak Jaya, yang menuliskan buku tersebut, menguraikan bahwa motivasi diri yang ampuh adalah memposisikan diri agar terpepet. Setidaknya kepepet itu menjadikan orang untuk lebih berjuang keras.

Pentas yang, Alhamdulillah Sukses

Pakaian seragam dadakan yang luar biasa hebat.
Lalu apa kaitan antara buku yang berjudul The Power of Kepepet itu dengan gawean kami untuk pentas di hari ulang tahun founder kami?

Seperti dikatakan semula, bahwa posisi kepepet itulah yang kadang justru memutar balik alamat. Ini terjadi manakala kami melakukan gladi resik untuk pementasan di hari ulangtahun yang hanya H -2. Dan benar saja, ketika dalam GR itu masih banyak hal yang perlu kami poles, maka kami semua seperti tersengat aliran listrik. Itu tepatnya ketika GR usai dan panitia meminta beberapa hal yang harus diperbaiki. Dan hal yang paling harus dilakukan penyempurnaan adalah pengenaan pakaian seragam untuk anak-anak saat tampil. Ini khususnya untuk unit TK dan SD. Sedang untuk anak-anak SMP yang akan menampilkan tari Saman, maka sekolah cukup menyewa. Dan itu memang skenario awalnya.

Kami memang tidak memikirkan seragam bagi anak-anak untuk unit TK dan SD. Kami akan meminta anak-anak untuk mengenakan batik dengan warna yang kami telah tentukan. Dengan persiapan seperti itu, kami akan menunjukkan kepada penonton tentang ragam batik yang nantinya akan dikenakan oleh anak-anak. Kerena biasanya, ketika anak-anak mengenakan pakaian batik bebas di hari sekolah, kami akan terkagum-gamun dengan beragam warna dan corak dari batik yang dikenakannya. Oleh karena itu kami optimis dengan hanya meminta kepada anak untuk mengenakan baju atau kemeja batik dengan nuansa warna tertentu.

Namun ketika telah usai  GR pada sore itu, dan panitia menentukan agar anak-anak mengenakan seragam untuk pentas lusa, maka semua guru bergerilya untuk mencari seragam. Dan sore itu kami sudah putuskan bahwa tidak ada pakaian seragam yang representatif untuk dikenakan anak-anak ketika tampil lusa. Maka pada H-1, gerilya pencarian pakaian seragam harus berlangsung lagi. Seementara teman-teman guru yang ada di sekolah ketika waktu pentas tinggal 24 jam lagi, harus juga memoles kesiapan anak-anak yang antara lain harus mempercepat ritme lagu yang ketika di GR dianggap terlalu lambat.

Dan alhamdulillah, seperti bukunya Pak Jaya, The Power of Kepepet, siang itu, tepat pukul 14.00, para guru yang melakukan gerilya untuk mencari pakaian seragam tuntas sudah dalam menemukannya. Pakaian seragam telah ditemukan dan sekaligus dibeli, dalam kondisi yang luar biasa memuaskan!

Maka pada Sabtu, 23 Februari 2013 yang lalu itu, tepat 90 tahun usia founder sekolah kami, anak-anak menampilkan keterampilan terbaiknya dengan pakaian seragam yang tidak kalah luar biasa sempurnanya. Itulah barangkali upah dari usaha keras yang teman-teman kami lakukan untuk sebuah persembahan bagi pendiri sekolah. Terima kasih.
 
Jakarta, 24 Februari 2013.

Atraksi 'Debus' di Malam Api Unggun

Ini adalah sebuah kegiatan Pramuka yang selalu menjadi agenda tetap di sekolah kami. Dan salah satu kegiatan itu adalah Perkemahan. Dimana kami menamakannya Peraka, atau Perkemahan Rabu Kamis. Dan salah satu kagiatan yang menarik yang menjadi kenangan bagi peserta Peraka adalah Api Unggun. Itulah kegiatan Pramuka yang diikuti oleh para siswa yang duduk di kelas 4 dan kelas 5 Sekolah Dasar.

Dan pada kegiatan perkemahan pada tahun ini, berlangsung pada pekan lalu di sebuah tempat asyik di kawasan Puncak, Bogor. Sebuah kegiatan yang selalu dinanti-nanti dengan penuh antusiasme oleh semua siswa kami. Namun juga sebuah kegiatan yang membuat senewen bagi sebagian kecil para orangtua yang memang sedikit merasa kawatir ketika harus menulis pernyataan mengizinkan secara tertulis karena didesak secara keras oleh putra atau putrinya.

Api Unggun

Namun yang akan menjadi catatan saya kali ini adalah salah satu kegiatan itu, yaitu Api Unggun. Sebuah kegiatan yang nantinya setiap kelompok atau barung, harus menampilkan kreatifitasnya di dekat nyala api yang dinyalakan pada saat acara akan dimulai setelah anak-anak selesai melaksanakan makan malamnya. 

Pertama kali saya ikut serta sebagai penonton pada kegiatan Peraka empat tahun lalu, saya sudah dihinggapi oleh rasa kagum  dan sekaligus bangga atas apa yang dirancang oleh teman-teman guru yang selain penuh vitalitas juga adalah penuh ide serta gagasan cemerlang. Dan itu tampak sekali pada saat kegiatan Api Unggun itu akan segera dimulai.

Pada kegiatan penampilan kreatifitas setiap barung, anak-anak pun tidak kalah antusiasnya untuk membuat penampilan barung mereka adalah penampilan yang paling beda dan istimewa. Dan semangat itu telah melahirkan kualitas kreativitas yang menakjubkan. Dan pada etape ini, kami diyakinkan bahwa, anak-anak itu memang anak-anak yang cerdas dalam arti yang sebenar-benarnya.

Ini dibuktikan dengan cerita dan tampilan mereka yang luar biasa cerdas. Dimana guru dalam setiap barung, yang menjadi pembimbing kelompok, hanya memberikan panduan berupa durasi waktu tapil dan tema cerita. Dan dari panduan yang cekak itu, anak-anak benar-benar menterjemahkan kepintarannya dengan luar biasa hebat.

Logo sekolah dari api, hasil rancangan guru hebat kami.
Kembali kepada para guru-guru saya yang hebat, maka atraksi pembuka pada kegiatan Api Unggun itupun sungguh membuat kami, terutama saya pribadi, tercengang-cengang. Bagaimana tidak? Guru-guru itu merancang logo sekolah dari kawat yang dililit kain. Kawat berlilit kain itu telah dibaluri minyak tanah. Maka ketika disulut api, tampaklah logo itu menyala dalam gelapnya malam di sebuah sudut dimana Api Unggun digelar.

Lebih dari itu, kehebatan bukan saja ketika logo sekolah itu berhasil dinyalakan, justru bermula ketika logo itu akan dinyalakan. Karena seorang dari guru kami akan beratraksi layaknya pemain Debus. Di tangannya ada obor. Dan tanpa diduga, disemprotkan seraca keras dari mulutnya cairan yang mengarah kepada logo tadi. Dan dengan obor yang ada ditangannya, cairan itu seperti dibakar mengarah ke logo.

Itulah atraksi yang seluruh peserta Peraka akan histeria menyambut dengan penuh suka cita. Saya sendiri hinga detik ini terus menerus mengagumi kehebatan guru-guru kami itu.

Jakarta, 24 Februari 2013.

Berkumpul sebelum Liburan

Ada yang tertinggal saya buat catatan dari sebuah kegiatan yang kami buat bersama pada akhir semester yang lalu. Dan, ingatan itu lahir ketika saya membuak file foto. Maka tidak terlalu terlambat jika pada saat ini saya membuatnya sebuah tulisan sebagai pengikat ingatan.

Yaitu sebuah kegiatan kumpul-kumpul bagi kami semua yang berada di lembaga yang sama ini, baik mereka yang berprofesi sebagai guru atau karyawan. Semua kami berkumpul di hal sekolah untuk semacam perpisahan menjelang liburan akhir semester sekaligus sebagai akhir tahun. Karena ketika kami semua kembali ke sekolah seteah liburan akhir semester itu usai, maka kita akan masuk di tahun baru, tahun 2013.

Penampakan teman-teman pada 21 Desember 2012.
Seperti juga kegiatan lain yang antaralain sebagai memupuk kebersamaan, kami selalu selenggarakan dengan cara pot luck. Semua teman pada siang itu membawa makanan yang bisa di share. Dan menjelang shalat Jumat, kami menyamtap makanan itu bersama-sama tidak terkecuali teman-teman yang bertugas sebagai pramubakti. Dan sebelum kami berpisah untuk benar-benar liburan, maka kami akhiri kegiatan tersebut dengan berfoto bersama. Sayangnya, saya sendiri tidak tampak dalam foto kenangan itu. 

Bagi kami semua, waktu menjelang libur, adalah waktu dan saat yang luar biasa menyenangkan dan sekaligus menggembirakan. Baik yang akan tetap tinggal di rumah untuk hanya berkumpul bersama keluarga, atau juga teman-teman yang memiliki rencana di liburan akhir tahun, seperti pergi ke luar kota, pasti masa itu adalah puncak dari semua kegembiraan.

Itulah sebuah kenangan indah di tahun 2012, bersama teman satu tempat kerja utnuk sebuah kegiatan makan bersama. Meski hanya di sekolah dengan cara patungan. Tida terlalu istimewa, tetapi lumayan memberikan warna untuk sebuah kebersamaan. Semoga.

Jakarta, 24 Februari 2013.

22 Februari 2013

Diinterviu Siswa

Siang itu, diantara sepinya sekolah karena beberapa siswa harus libur karena selesai mengadakan kunjungan ke luar kota satu hari sebelumnya, saya kedatangan beberapa tamu, yaitu siswa yang kebetulan kelasnya tidak ikut libur karena memang kemarin atau hari sebelumnya tidak ada kegiatan apa-apa, ke ruangan saya untuk mengadakan wawancara atau interviu. Interviu tersebut adalah salah satu tugas yang diberikan oleh guru di kelas tentang sebuah topik, globalisasi. Maknanya, hal positif yang ditimbulkannya, juga hal negatif yang merugikan.

Interviu pertama dilakukan oleh seorang siswa yang begitu semangat datang ke ruangan saya. Dengan membawa daftar pertanyaan dan spidol warna merah sebagai alat pencatatnya. Kepada saya, ia mengatakan permisi terlebih dahulu dan meminta waktu guna melakukan interviu. Dan sebelum memulai mengajukan pertanyaan yang harus saya jawab, saya memberikan tambahan kertas dan juga meminjaminya ball point

Selesai seorang siswa itu mencatat apa saja yang dianggapnya penting dan harus dicatat, datang sekelompok anak-anak yang lain, yang terdiri dari lima siswa. Kelompok yang datang belakangan kepada saya itu tampaknya lebih formal. Mengapa?

Karena rupanya anak-anak dalam kelompok tersebut  telah berbagi tugas. Ada diantara mereka yang bertugas sebagai juru bicara atau MC-nya, ada yang bertugas sebagai yang mengajukan pertanyaan, ada pula yang bertugas sebagai tukang catat.

Dan kepada kelompok inilah saya menemukan rasa kagum saya terhadap dua anak yang menjadi anggota kelompok tersebut. Kekaguman saya terutama kepada pilihan kata dan cara menyampaikan kata-kata tersebut kepada saya, baik pada saat mereka membuka percakapan sebelum memulai wawancara, menutup, dan bahkan pada saat memohon izin dan berpamitan ketika unterviu telah usai.

Dan seoarang dari anak yang mengagumkan itu, saya relatif mengenalnya, lebih dari sekedar siswa pada umumnya. Ini karena saya juga mengenal kakak kandungnya, yang juga adalah siswa saya beberapa tahun yang lalu, yang sekarang telah berada di semester dua di perguruan tinggi. Yang jago Bahasa Inggris dan juga memainkan piano. Yang jika ada kegiatan kesenian selalu menjadi inspirator bagi tim bandnya. Saya pun, juga mengenal orangtuanya, yang sering terlibat diskusi tidak hanya tentang anaknya tetapi juga tentang visi pendidikan ke depan.  

Maka ketika saya bertemu lagi dengan seorang siswa yang sekarang memberikan beberapa pertanyaan pada saat interviu di ruangan saya, maka pilihan kata, bahasa penyampaian pertanyaan, serta  merta memberikan gambaran kepada saya tentang bagaimana latar belakang kehidupannya di rumah.

Pendek kata, saya ingin menyatakan bahwa,  buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Jakarta, 21-22 Februari 2013.

21 Februari 2013

"Apakah Sekolah Cukup Memberikan Kesejahteraan Pegawainya?"

"Apakah sekolah ini telah memberikan kesejahteraan atau gaji atau imbalan yang cukup untuk para pegawainya Pak?" Begitu sebuah pertanyaan kepada seseorang yang menjadi CEO dari sebuah lembaga pendidian swasta yang bernama sekolah. Sebuah pertanyaan yang diajukan oleh tamu saat melakukan kunjungan studi banding, yang kebetulan saya berada diantara mereka itu.

Sebuah pertanyaan yang sedikit menggelitik saya. Ini karena masalah yang disampaikan dalam forum tersebut, menurut saya yang juga adalah bagian dalam sebuah lembaga pendidikan, termasuk dalam bagian pertanyaan yang boleh dibilang sensitif. Untuk itulah saya sebenarnya merasakan berada dalam situasi yang tidak tepat ketika ada tamu yang bertanya sesuatu yang didengar saya kurang kena. Atau mungkin pilihan katanya saja yang kurang tepat? Setidaknya itulah telinga saya ketika mendengar apa yang harus diberikan jawaban.

Kesejahteraan Guru?

Sebagai lembaga pendidikan swasta, utamanya sekarang ini, bila benchmarknya adalah teman-teman yang berada dalam posisi status kepegawaian, maka sulit sekali memperbandingkan kami yang berada di lembaga swasta dengan teman-teman yang berada dalam status pegawai tetap pemerintah. Apalagi jika profesinya guru, dan bekerja di lingkungan pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota. 

Namun, saya sendiri selalu berpikir bahwa upah tidak selalu diartikan sebagai apa yang ada di rekening. Karena, sekali lagi menurut saya sendiri, anugerah ilahi yang diberikan kepada kita dalam bentuk kesehatan, kemudahan, kelancaran, dan mungkin lebih dari itu, yaitu keberkahan, yang pasti tidak dapat ditakar, adalah bentuk implikasi atas semua ikhtiar kita. Dan oleh karenanya, itu juga menjadi bagian integral dari yang diatas sebagai upah.

Dan saya yakin, jika argumentasi sepeti ini sangat subyektif. Tapi itulah keyakinan saya. Mengapa? Karena jika upah hanya didapat oleh seorang pegawai dari tempatnya bekerja saja, dan itu hanya dalam bentuk uang yang terkirim di rekening, maka inilah salah satu makna dari dikotomi. Dan masihkah kita katakan bahwa bekerja adalah ibadah? Juga, jikapun rekening itu luar biasa banyak tetapi terkuras tuntas untuk ikhtiar kita supaya sehat, supaya mudah dan selesai, supaya lancar, bukankah ini yang namanya bukan berkah?

Itulah makna sejahtera yang menurut saya menjadi tolok ukur pertama, yang pastinya tidak akan sama antara satu dengan yang lainnya.

Kedua, dan ini adalah yang menjadi penjelasan teman atas pertanyaan tamunya, bahwa relatif sulit mengukur apakan teman-temannya yag berada dalam lembaganya itu telah sejahtera atau tidak. Namun sebagai salah satu dari indikatornya adalah, bahwa rata-rata teman-temannya itu memiliki masa kerja yang relatif panjang. Mereka berada di lembaga itu ada yang sudah belasan atau bahkan puluhan dengan kepala 2? Maknanya, teman-teman itu merasa betah secara faktual.

Masih banyak beberapa hal yang menjadi khasanah baru bagi saya ketika teman saya itu mendapat pertanyaan pelik yang harus dijelaskannya. Akan tetapi saya berpikir dengan dua alasan itu telah cukuplah memberikan gambaran. Semoga.

Jakarta, 21 Februari 2013.

Pergelaran Seni Tradisi di Sepanjang Malioboro

...
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Seiring laraku kehilanganmu  
Musisi jalanan mulai beraksi
...
Lirik-lirik lagu itulah yang terngiang dalam lamunan saya ketika di suatu malam, saya harus meninggalkan salah satu pertokoan yang ada di jalan Malioboro, yang merupakan pusat kota Yogyakarta sekitar pukul delapan malam. Dan pada lirik kaki lima serta musisi jalanan yang benar-benar sedang mengena di jantung saya.

Belum malam di jalan Malioboro ketika pukul delapan itu. Bahkan masih amat sore. Karena itu maka para pejalan kaki masih relatif memenuhi sepanjang jalan itu. Mungkin ada diantaranya yang sembari cuci mata sekalian berbelanja apa yang membuatnya tertarik di sepanjang jalan itu. Atau ada pula yang akan mencoba makan nasi gudeg lesehan. 

Kepada mereka yang berada di sepanjang jalan itu, mohon maaf bahwa malam itu saya tidak mencoba untuk menikmatinya. Ini karena saya harus segera melanjutkan perjalanan dan menemukan kendaraan umum yang bisa mengantarkan saya ke rumah orangtua saya di 60 kilometer dari posisi saya sekarang ini.

Terutama sekali para seniman yang penuh gairah pada saat mensajikan seni tradisi di sepanjang sisi kanan jalan itu. Para seniman yang berkelompok mengusung keahliannya dalam mengorkestrasi seni yang dikuasainya. Dan meski sekelebat saya berada di hadapan mereka sebagai salah satu audiens dadakannya, saya relatif dapat meletakkan pengalaman indah itu di dalam relung jiwa saya sebagai penumbuh subur cinta saya kepada negeri tercinta ini.

Banyumasan

Paling pertama yang saya harus lalui adalah kelompok seniman tradisi yang mengusung alat musik tradisi Banyumasan. Sebuah kelompok yang para anggotanya sering saya lihat tampil di trotoar depan benteng  seberang Gedung Agung, di ujung jalan Malioboro jauh hari sebelum malam itu. Namun pada penampilan malam itu, kelompok ini menambah beberapa anggota baru sebagai penarinya. Yaitu seorang perempuan muda dan seorang anak belasan tahun. Semua anggota kelompok mengenakan  pakaian seragam khas Banyumasan. Dan pada saat saya melintas, mereka sedang memainkan instrumen tradisi itu untuk tembang pop nasional. Kelompok ini saya temui persis berada di seberang Mal Malioboro, diujung jalan Dagen. Meski mereka berada di jalan pedestrian yang diperuntukkan untuk pejalan kaki, becak dan andong, tetapi ada dua orang laki-laki yang bertugas mengatur arus lalu lintas di situ.

Kolintang

Lebih kurang dua ratus meter dari lokasi musisi pertama di ujung jalan Dagen tersebut, saya menemukan sekolompok musisi yang memainkan kolintang. Kelompok ini juga tidak kalah manarik perhatian orang yang sedang berada tidak jauh dari situ. Justru ada beberapa orag nampak menikmati penampilan musisi ini dengan berjoget di depan alat-alat musik yang sedang dimainkan. Dan seperti pada kelompok pertama tadi, kelompok ini juga menerima tawaran dari para penonton untuk memainkan alat musiknya pada lagu tertentu.

Angklung

Tidak kalah dengan para musisi tradisi yang memperlihatkan bagaimana piawainya mereka dalam memainkan alat-alat musik tradisi yang dibawanya dengan mengintrumentalkan lagu-lagu yang ada, baik lagu daerah, nasional, atau bahkan lagu dari luar, maka kelompok musisi berikut yang saya temui masih di jalan Malioboro pada malam itu adalah mereka yang memainkan seperangkat alat musik Sunda, angklung. Tidak saja yang untuk melodinya, tetapi juga untuk bagian ritem dan bas. 

Sedang di lantai bagian atas Mirota yang berada di dekat Gedung Agung, yang menjadi kafe, suara musik moderen dengan bantuan sound system juga terdengar menghentak-hentak dari jalanan.

Dan terlepas dari semua suguhan yang saya nikmati selintas ketika saya harus meninggalkan jalan Malioboro itu, saya merasakan bahwa ada aroma pergeseran ikhtiar dan perjuangan dari para 'musisi jalanan' yang berada di sepanjang jalan ini. Dan musik tradisi yang saya temukan pada malam itu, nampaknya memberikan warna dan kesan tersendiri bagi saya yang sekali-sekali berkunjung di jalan itu. Warna dan kesan yang menyenankan sekaligus membanggakan.

Akankah Jalan Malioboro akan seperti Broadway di negeri jauh itu? Allahua'lam.

Jakarta, 19-21 Februari 2013.

19 Februari 2013

Anak Muda itu, Satun

Hari itu, lebih kurang perjalanan tujuh jam di kereta api dari Purworejo menuju Jatinegara, saya duduk bersebelahan dengan seorang anak muda yang membuat hati saya kagum. Karena itulah maka sejak pertama dia menyapa saya ketika naik di stasiun Purwokerto, saya sudah iri. Karena pengalaman itu langsung memantik diri saya untuk mengingat anak-anak saya yang juga seusia dia. Namun karena saya bertekat untuk menyelesaikan novel baru terbit, yang merupakan sekuel kedua dari trilogi, yang menurut penerbitnya, best seller, maka hampir sepanjang perjalanan itu saya tidak tertarik untuk sekedar berdiskusi dengannya. Atau setidaknya membuka percakapan kemudian mengembangkannya.

Anak muda satun, tentu menarik perhatian saya. Ini karena karakter santun, terlebih itu berasal dari seorang yang masih muda usia, amatlah jarang bisa saya temui pada masa sekarang ini. Yang banyak saya temui justru kebalikan dari itu. Misalnya, ketika bersama tetangga kami terlibat berbicara kanan-kiri (baca: Bahasa Jawanya ngalor ngidul)di pinggir jalan kampung kami, maka tidak banyak anak muda yang ketika harus melintas di depan kami, untuk kemudian secara sadar mau mengucapkan permisi.

Untuk alasan itulah, maka saya berhak mengagumi dan mensyukuri keberadaan anak muda yang santun, yang kebetulan duduk di samping saya di perjalanan itu.

Sekali lagi, ini karena sejak saya membeli novel itu dengan diskon 20 % di toko langganan plus disampul plastik di pertokoan yang berada di samping persis gedung budaya di Yogyakarta itulah, sehingga saya bertekat untuk membaca habis sebelum kereta sampai di Jatinegara, dan itulah antara lain penyebab mengapa saya begitu tidak perduli terhadap situasi menarik yang seharusnya menjadi bahan galian ilmu bagi saya untuk dapat belajar. Oleh karenanya percakapan dengan anak muda yang santun itu baru saya lakukan ketika perjalanan sudah sampai di Kerawang. Di kota itu, buku baru saya itu nyaris tamat.

Namun jangan salah, bahwa saya mendapatkan kesan santun itu justru ketika ia kali pertama meletakkan tas punggungnya di bagasi atas melalui bagian belakang dimana saya duduk. Jadi tidak melalui bagian dimana saya duduk. Juga ketika dia meminta permisi untuk menempati tempat duduknya di kursi nomor 11 A, tempat duduk yang ada di samping saya.

Juga ketika kami terlibat percakapan sedikit-sedikit, misalnya ketika ia pamit untuk pergi ke toilet kereta. Serta juga ketika ia menegur saya ketika saya kembali ke tempat duduk saya ketika saya pergi ke gerbong belakang untuk bertemu dengan sahabat saya yang kebetulan tadi bertemu di peron stasiun.

Saya paham bahwa teguran itu bisa menjadi titik awal bagi saya untuk memulai bercakap-cakap yang tidak sekedar percakapan basa-basi. Namun itu tidak kami gunakan. Seperti apa yang saya sampaikan tadi bahwa, saya lebih tertarik untuk menghabiskan bacaan saya tentang perjuangan hidup orang yang sekarang ini tengah menjadi menteri di pemerintahan SBY.

Pekerjaan, Menuntunnya Menjadi Santun

Dan ketika posisi kereta api yang kami tumpangi hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 30 menit ke stasiun Jatinegara, maka kami terlibat pembicaraan intens. Yang kemudian meski sedikit, saya mengetahui siapa gerangan anak muda yang santun itu.

Bahwa ia menjadikan santun dan ramah itu sebagai karakter hidup dia. Sebuah perilaku yang didapatnya dari pelatihan yang dilakukan oleh para pimpinan lembaga dimana ia bekerja sebagai peramusaji di sebuah tempat belanja yang ada di kota Cilacap.  Dan keberangkatannya menuju Jakarta, adalah bagian daam pengembangan diri untuk menjadi pelayan yang baik dan santun. Dan kesantunan itulah yang ia pelihara sebagai sikap pribadinya sehari-hari dan bukan sekedar ketika ia berada di depan costumer. Hebat.

"Saya senang bisa ketemu Anda di kereta ini. Semoga modal Anda ini akan menghantarkan Anda menjalani hidup lebih sukses di masa depan. Amin." Lebih kurang itulah kata-kata saya ketika kereta yang kami tumpangi telah sampai di sekitar Pondok Kopi.

"Terima kasih Pak." Jawab anak muda itu.

Jakarta, 19 Februari 2013.

14 Februari 2013

Memberinya Tantangan, Meski Saya Berkorban

Dalam setiap anak pulang sekolah, tidak semua anak-anak itu langsung mennggalkan sekolahnya. Terutama sekali di lapangan yang satu-satunya kami punya. Di tempat itulah mereka menunggu jemputan atau sekedar melepas beban sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing. Akibatnya, beberapa penjemput yang telah siap untuk menjemputnya harus rela meunggu barang lima belas hingga tiga puluh menit.Dan waktu sebanyak itu, akan anak-anak gunakan dengan bermain futsal. 

Maka dapat dibayangkan ada berapa bola di lapangan itu. Masing-masing kelompok membawa bola dan memainkannya bersama-sama di lapangan yang tidak luas itu. Dan karena ada beberapa bola, maka sulit bagi saya yang kebetulan ada di lapangan itu untuk mengontrol arah bola. Mengapa saya peduli dengan arah bola yang sedang anak-anak perebutkan tersebut? Ini karena jika arah bola tidak terkontrol, maka sulit dihindari akan terjadinya anak atau orang yang sedang tidak bermain bola tersebut terkena benturan bola.

Untuk itulah, maka ketika saya berada di luar ruangan, selalui menggantungkan peluit bersamaan dengan kunci-kunci ruangan yang saya miliki. Dengan peluit itu, saya memanggil anak-anak atau sekedar meminta perhatian. Dan yang paling utama, dalam kondisi riuh di lapangan dengan anak-anak yang bermain futsal tersebut, peluit akan menjadi senjata bagi saya untuk mengajak mereka melakukan pertandingan antar kelompok yang ada. Dan itu artinya, saya akan menjadi wasitnya.

Dengan memberikan tantangan bermain futsal bagi kelompok-kelompok yang sedang bermain di lapangan tersebut, maka sesungguhnya saya sedang mengontrol arah bola. Bukankah itu berarti lapangan hanya dapat digunakan untuk sebuah permainan futsal? Dan bukankah itu berarti bahwabola yang akan diperebutkan cukup hanya satu bola? Strategi inilah yang akhirnya menjadi solusi saya untuk menghindari korban dari laju bola yang tidak terarah.

Tantangan itu, membuat mereka jauh lebh tertib dalam mengarahkan laju bola. Anak-anak juga akan menjadi lebih tertib dan bersaing. Juga akan mejadikan mereka untuk saling bergantian dalam menggunakan lapangan dengan labih bermanfaat. Dan bahkan, dengan seperti ini, yang masing-masing geam kami sepakati lebih kurang 15 menit, maka pada geam terakhir akan kami tantang lagi dengan tim-tim yang bagus untuk bertanding.

Selain itu, dan ini menurut saya paling penting, mereka akan mudah untuk di hentikan permainannya manakala waktu telah menunjukkan pukul 16.00. Jika pun masih menawar, maka toleransi yang dapat kami berikan adalah pukul 16.30.

Dimana pada waktu tersebut, sekolah akan benar-benar bersih dari peserta didik yang belum di jemput atau belum kembali ke rumah masing-masing. Dengan demikian, maka kami, yang memiliki tugas menjaga anak-anak tersebut dapat meninggalkan sekolah dengan hati plong.

Jakarta, 14 Februari 2013.

12 Februari 2013

Siswa Saya Sujud Syukur

Siang ini, saya ikut menonton ekstra kurikuler futsal, sekaligus menemani guru yang sedang piket di lapangan sekolah. Setekah sebelumnya saya mengajak seorang guru untuk mengintip dua atau tiga anak didik kami yang selalu mengawali berdoa di mushala sebelum kegiatan futsal dimulai. Namun mungkin karena kesiangan, maka kami tidak menemukan anak-anak itu berdoa. Dan benar saja, ketika kami sudah sampai lapangan, anak-anak yang menjadi target kami itu telah berada di tengah lapangan, dan bahkan tengah berlaga.

Anak-anak yang saleh itu telah berlaga di lapangan. Dengan pelatihnya sebagai wasit, anak-anak kelas empat SD itu sedang berlatih tanding melawan kelas empat dari kelas lain. Maka saya mengajak teman yang sebelumnya telah saya bocori tentang kegiatan 'ritual' anak-anak saleh tersebut sebelum memulai kegiatan futsalnya.

Setidaknya sudah tiga kali saya melihat secara langsung dua atau tiga anak yang sekarang bertanding di laangan itu sedang memanjatkan doa sebelum latihan futsal. Kali pertama saya menjumpai mereka, saya bertanya dengan seorang dari mereka.

"Mengapa kalian berada di sini? Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya saya kala itu ketika saya berjumpa dengan ketiga anak saleh itu di mushala. Mereka bertiga kala itu sedang duduk takzim sembari mengangkat dan menengadahkan kedua tangannya.

"Kami sedang berdoa Pak. Meminta kepada Allah Swt agar hari ini tidak hujan Pak. Sehingga kami hari ini bisa bermain futsal." Jawab seorang dari mereka dengan penuh yakin. Saya terhenyak akan apa yang dikemukakannya kala itu. Peristiwa ini pernah saya tulis dalam catatan ini sebelumnya di bulan Januari lalu.

Sujud Syukur

Dan siang ini, ketika saya dan teman-teman guru yang sedang melaksanakan piket menjaga anak menonton anak-anak itu  berlatih tanding dalam bermain futsal, saya dan teman-teman dikejutkan dengan salah satu aksi menawan dari seorang diantara mereka. Yakni melakukan selebrasi karena berhasi menjebol gawang lawan dengan melakukan sujud syukur! Luar biasa. Kami semua dibuatnya kagum. Tentu dengan senyum-senyum bangga.

Bangga bahwa ada dari sekian banyak siswa kami yang sedang mengikuti kegiatan futsal itu berperilaku sangat saleh. Selain selalu mengajak teman-teman dalam satu timnya untuk memanjatkan doa sebelum belakukan latih tanding, juga ternyata melakukan sujud syukur setelah berhasil memasukkan gol ke gawang lawan?

Itulah peristiwa yang kami bahas berulang-ulang setelah peristiwa latih tanding itu usai dengan skor bagi kemenangannya 5 lawan 1. Sebuah hasil dengan skor yang meyakinkan. Sekaligus mengagumkan.

Jakarta, 12 Februari 2013.

Terlambat Shalat Jamaah

Mungkin karena tidak menginginkan temannya mejadi begitu terlambat shalat jamaah, maka seorang anak didik kami memberitahukan kepada saya kalau masih ada beberapa temannya yang masih tinggal di ruangan kelas ketika teman-teman yang lainnya sudah tadarus di mushala. Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 13.10. Padahal waktu shalat akan dimulai pukul 13.15.

Laporan itu saya terima ketika saya mendapat dua anak didik kami yang berlari tergopoh-gopoh di plasa sekolah ketika melihat saya berada di depan plasa itu. Sehingga tidak bisa tidak kedua anak itu kepergok saya. Padahal seluruh temannya telah berada di mushala melaksanakan tadarus rutin dengan bimbingan guru. 

mendengar berita itu, saya segera menuju ke ruang kelas yang berada di lantai tiga gedung sekolah kami. Mula-mula lantai dua saya telusuri, kemudian beranjak ke lantai tiga, dmana ada tujuh siswa sedang asyik mengobrol sembari bermain gitar.

Sama dengan dua temannya yang memberikan informasi kepada saya, ketujuh anak itu pada awalnya terkaget-laget melihat kedatangan saya ke dalam ruangan itu. Mungkin mereka bertujuh tidak akan menyangka kedatangan saya. Empat anak, karena barangkali tidak sigap, berhasil saya memanggil nama-nama mereka. Sedang tiga anak lainnya segera berlari. Mungkin karena mereka salah, sehingga mereka mengira kalau saya akan marah kepadanya.

Padahal dengan keempat anak yang berhasil saya panggil itu, saya tidak melakukan apa-apa selain mengajaknya segera menuju mushala untuk bergabung dengan teman-temanya yang telah siap melakukan shalat jamaah. 

Begitu juga ketika shalat jamaah usai, ketiga anak yang tadi berhasil lari itu, kembali tidak menemui saya. Mereka benar-benar merasa bahwa saya tidak mengenal mereka. Sehingga ketika saya coba panggil untuk mengajak dialog, mereka bertiga kembali telah menghilang. Maka saya meminta tolong kepada keempat anak yang baik tersebut memanggilkan.

Ketika semua telah berkumpul di ruangan saya, maka kepada mereka saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar shalat jamaah yang pernah mereka tertinggal dalam mengikutinya. Dan sebelu mereka bertujuh meninggalkan ruangan saya, saya meminta kepada tujuh anak itu untuk membuat sebuah pakta integritas.

Meski pakta tersebut kami buat tidak seperti para politisi di sebuah partai, namun inti dari pakta tersebut adalah mengajak anak didik untuk berkomitmen dalam menumbuhkan kebaikan di dalam diri mereka masing-masing. Semoga.

Jakarta, 12 Februari 2013.

Uang Jajannya Terbatas

Siang itu, saya meminta seorang siswa untuk kembali ke area sekolah karena ia akan pergi ke kantin luar yang diperuntukkan untuk supir dan pembantu yang menunggui anak asuhannya. Saat itu pukul 13.10, dimana waktu bagi mereka untuk istirahat makan hingga pukul 13.30. Karena dia sendirian tidak berteman seorangpun.

"Saya ingin makan ketoprak Pak." Jawabnya ketika saya memintanya untuk kembali ke kantin siswa yang berada di lantai dua sekolah kami.
"Mengapa tidak membeli makanan di lantai dua?" Tanya saya kepadanya.
"Karena uang jajan saya terbatas Pak. Paspasan. Ngak bisa kalau harus membeli makanan di atas." Jelasnya kepada saya.
"Berapa rupiah yang kamu bilang terbatas itu?"  Tanya saya lagi.
"Saya uang jajajnnya hanya sepuluh ribu." Katanya.
"Jadi saya hanya bisa makan ketoprak tujuh ribu rupiah. Sisanya saya beli minum." Jadi pas Pak." Jelasnya lagi dengan detil.


Uang Jajan

Kenyataan bahwa masih ada didik kami yang mendapatkan jatah makan sepuluh ribu dalam satu hari sebagaimana yang saya temukan pada siang itu adalah sesuatu sekali buat kami, atau saya khususnya. Hal ini karena hampir rata-rata anak-anak itu dibekali uang jajan yang kadang jauh lebih dari cukup. Makanya, tidak salah bila suatu kali saya diceritakan oleh seorang teman yang harus berkomunkasi dengan orangtua siswa gara-gara ditemukan seorang siswanya yang membawa uang jajan dengan pecahan uang yang terlalu besar di usianya. Oleh karenanya, jika pada saat ini seorang siswa yang sudah duduk di bangku SMP dengan uang jajan sepuluh ribu, tidak ada yang patut saya sampakan kepada siswa tersebut selain penghargaan dan apresiasi.

Pertama, karena itu berarti dia adalah anak yang memang diciptakan untuk sederhana. Dan buktinya, dengan sepuluh ribu rupiah pun anak itu tetap eksis. Makan siang dan minumannya dia tetap dapat nikmati.

Kedua, tidak mudah bagi seorang anak dengan uang jajan yang cukup diantara teman-temannya yang dibekali uang jajan secara berlebih. Ini artinya anak tersebut harus belajar bagaimana tidak mengikuti arus yang ada. Anak itu sedang belajar bagaimana menjadi dirinya sendiri. Dan saya yakin sekali bahwa belajar membentuk atau menjadi diri sendiri diantara arus pergaulan yang seperti sekarang ini, tidaklah mudah.

Ketiga, bangga saya juga adalah untuk kedua orangtuanya. Karena saya tahu pasti bahwa mereka adalah orangtua yang mampu memberikan bekal bagi anak-anaknya lebih dari sepuluh ribu rupiah setiap harinya, karena anak itu setiap harinya datang dan pulang sekolah bersama supir pribadi keluarganya. Pasti ada idialisme dari model ayah dan ibu sebagaimana lahir seorang siswa yang begitu komitmen dengan jatah uang jajannya.

Inilah catatan yang saya dapatkan ketika siang itu saya berada di pintu gerbang sekolah. Ada pelajaran berharga sekali saya temukan di situ. Terima kasih saya untuk siswa saya itu.

Jakarta, 12 Februari 2013.

11 Februari 2013

Telur Asin Brebes

Pada setiap pulang kampung atau ketikia kembali ke Jakarta setelah usai mudik, jika melalui jalur utara, maka telur asin asli Brebes akan menjadi oleh-oleh wajib yang akan masuk daftar beli. Mengapa? Karena selain rasanya yang gurih, ketika telur itu  saya belah, maka tampak kuning telur yang masir, yang membangkitkan selera untuk melahapnya. Itulah alasan saya mengapa harus membeli telur asin Brebes ini sebagai oleh-oleh. Baik ketika ke Yogyakarta, yang berarti oleh-oleh bagi keluarga yang ada di kampung halaman, atau juga ketika kembali ke Jakarta.

Meski saya tidak pernah membeli telur asin Brebes itu di kota Brebesnya. Mengingat  rute perjalanan saya ketika keluar TOL Bakrie di Pejagan, saya selalu mengambil jalur ke kanan menuju Prupuk untuk kemudian lanjut ke Purwokerto, Banyumas. Sehingga lokasi telur asin yang saya akan sambangi adalah kios telur asing yang berada di pinggir jalan sepanjang darah Ketanggungan.

Normalnya, saya akan berada di daerah ini bertepatan dengan makan siang. Nah ketika keluarga sedang menyantap siang itulah, saya menyempatkan diri untuk pergi berbelanja telur asin itu.

Namun kebiasaan ini harus pupus manakala rombongan yang bersama saya saat mudik itu memilih jalur atau rute selatan, yang menurut anggota sebagai variasi, atau bahkan untuk menemukan nikmatnya nasi liwet campur ikan asin di rute ini. 

Kenangan Bersama Teman

Ada kenangan yang sedikit menarik untuk menjadi testimoni dalam catatan saya ini. Ini bertepatan dengan acara kantor kami yang kadang melakukan kegiatan trip ke luar kota. Dan salah satu destinasi adalah Purwokerto. Maka ketika perjalanan melalui daerah Ketangungan, Brebes ini, rombongan sepakat untuk behenti sejenak guna membeli oleh-oleh telur asin. Dan dari seluruh peserta, ada seorang yang merasa heran mengapa teman-teman anggota rombongan yang lain begitu semangat untuk turun dan membeli telur asin. Dipikirnya, telur asin yang akan mereka beli pasti tidak ada bedanya ketika ia membelinya di pasar tradisional di Jakarta. Oleh karenanya, ketika bus berhenti dan hampir semua rombongan membeli dengan satuan lebih dari 30 butir, ia merasa cukup membeli 10 butir. Sedang saya sendiri saat itu membeli lebih kurang 100 butir. Ini karena saya memiliki keluarga relatif besar di Jakarta. Maka dengan jumlah itu, saya pikir semua anggota keluarga saya akan ikut serta merasakan telur asin Brebes itu.

Dan ketika bus bergerak di jalan TOL menuju Cirebon, saya mengambil beberapa telur asin yang saya beli untuk saya berikan kepada bebera teman yang ingin mencobanya. Salah satu yang saya beri adalah sahabat saya yang hanya membeli 10 butir telur asin tersebut. Benar saja. Ketika ia mencoba telur asin itu, kontan ia berkomentar: "O..., enak sekali ya telurnya, aduh saya ngak tahu. Sayang ya, saya cuma membeli 10 butir!" Ujarnya dengan nada penuh kecewa.

Lusa harinya, ketika kami bertemu, saya bertanya dengannya tentang telur asin yang dibelinya:
"Bagaimana nasib telur asinmu?" Tanya saya.
"Ya karena saya hanya membeli 10 butir dan ternyata saya baru tahu kalau enak sekali, jadi semua untuk saya Pak. Saudara saya beri oleh-oleh yang lain." Katanya.

Jakarta, 11 Februari 2013.