Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 December 2009

UN, Pengalaman sebagai Pengelola Sekolah

Pelaksanaan Ujian Nasional atau UN bagi sebuah sekolah swasta nasional, dengan bagaimanapun bentuk dan afiliasinya tetap dipandang penting. Paling tidak bagi sekolah saya, dimana saya sendiri mendapatkan amanah dari Yayasan sebagai pengelolanya. Namun demikian, kami sebagai komunitas dari sekolah ini bersepakat dalam melihat hasil belajar siswa, bahwa UN bukanlah satu-satu hasil pendidikan. Ini adalah pengejawantahan dari prinsip pendidikan yang menjadi anutan kita bahwa terdapat tiga (3) ranah hasil belajar yang antara lain adalah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dan dari sinilah kami bangun bersama kesepakatan untuk menjadikan proses pencapaian UN berbasis kepada moto yang dikembangkan oleh para pendiri, yaitu: Ya Allah bimbing kami menjadi orang yang jujur dan terhormat.
Dua kata, Jujur dan Terhormat, menjadi dasar kami mengejar mimpi. Dengannya, kami mencoba merumuskan strategi pencapaian UN yang baik namun tetap menegakkan holistisitas dari seluruh pembelajaran. Oleh karenanya konsep ini harus mengalir deras pada seluruh komponen UN yang ada di sekolah kami. Dan konsep ini melahirkan semangat untuk bersama-sama bekerja dengan cerdas, keras dan penuh komitmen.

Ikhtiar itu kami lakukan hingga sampai pada pintu gerbang pelaksanaan UN. Dimana saya yang mendapatkan amanah ini harus benar-benar yakin akan proses yang Jujur dan Terhormat. Di depan, kita sudah kibarkan semangat bekerja yang keras, cerdas dan penuh komitmen. Maka diakhir kalinya saya memastikan bahwa semua dilandasi kesadaran untuk bekerja secara jujur dan terhormat.

Pagi setelah subuh, saya sudah sampai di ruang Kepala Sekolah. Bertemu guru dan Kepala Sekolah yang pulang mengambil soal UN. Menemani mereka bekerja. Menyambut dan berbasa-basi dengan para tamu yang akan menjadi pengawas UN. Melepas kepergian guru yang bertugas mengantar nahkas jawaban UN di siang harinya.

Kepastian untuk bekerja secara jujur dan terhormat tersebut harus saya lakukan sebagai jaminan bahwa sekolah kami adalah sekolah yang tidak menjadikan komitmen dan mimpi sekedar menjadi slogan. Ini sebagai bukti pula bahwa tim sukses UN berhenti dan berakhir masa dinasnya persis saat pintu gerbang UN dimulai.

22 December 2009

UN, Sebuah Pengalaman sebagai Orangtua


Benar. Ini adalah tulisan tentang UN dilihat dari pengalaman yang anak-anak saya sendiri alami tahun pelajaran 2008/2009. Sangat kebetulan dua anak saya, yang pertama dan yang kedua, sama-sama duduk di kelas XII SMA tahun pelajaran yang lalu. Jadi UN tahun 2009, di SMA yang berbeda. Anak pertama di SMA swasta di Jakarta Barat dan anak yang kedua di SMA swasta di Jakarta Selatan.

Persiapan

Untuk lulus ujian, hasil diskusi kami memutuskan agar mereka melakukan persiapan sebaik mungkin. Anak yang pertama memilih memanggil teman saya yang, alhamdulillah dapat membantu memberikan materi pengayaan di mata pelajaran Matematika, pelajaran Kimia, Fisika dan Biologi, dengan durasi dua kali sepekan. Sedang anak ke-dua memilih ikut pengayaan di bimbingan belajar yang berlangsung satu hari di hari Sabtu dan separuh hari di hari Minggu. Mereka menjalani itu semua dengan penuh konsekuensi. Tekun.

Juga buku soal-soal UN yang telah lalu dan prediksi soal yang akan datang. Dan buku-buku itu bahkan ada yang memprediksi soal UN yang akan keluar berdasarkan SKL yang dikeluarkan oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional. Canggih!

Membahas soal, sepertinya menjadi bagian yang amat sangat penting bagi mereka. Dari manapun soal itu berasal. Dan saya sendiri melihat apa yang sedang mereka pelajari dengan SKL itu. Kompetensi apa saja yang harus dikuasai mereka. Dan dari kompetensi tersebut, saya coba melihat indikatornya. Dan dari indikator itu saya bertanya kepada anak saya sejauh mana materi pelajaran tersebut mereka kuasai.

Di bulan Februari, Maret, April, anak-anak saya itu disibukkan dengan persiapan masuk perguruan tinggi negeri, yang setiap perguruan tinggi itu menyelenggarakan ujian masuk secara mandiri. Anak saya yang pertama memilih untuk mendaftar di dua perguruan tinggi negeri yang lokasinya dekat dengan domisili kami. Sedang anak yang kedua mendaftarkan diri untuk masuk di tiga perguruan tinggi negeri.

Karena tes masuk perguruan tinggi negeri ini lebih awal dibanding dengan pelaksanaan Ujian Nasional, maka ketika anak kedua saya telah mendapatkan kursi di salah satu PTN yang didaftarnya di bulan April, ia lalu menurunkan standar dan ekspektasinya terhadap UN. Yang penting aku lulus UN ya Ayah? Demikian katanya pada saya.

Pelaksanaan UN

Setelah semua ikhtiar ditunaikan, datang pula hari pelaksanaan UN yang mereka tunggu-tunggu itu. Kami hantar anak kami untuk berangkat ke sekolah dengan segunung doa sukses dari kami.

Sebagai orangtua yang bekerja di institusi pendidikan yang bernama sekolah, beberapa hal berkenaan dengan fenomena negatif bagi pelaksanaan UN di tahun sebelumnya serta sepak terjang 'tim sukses' yang dibentuk oleh beberapa sekolah sudah bukan rahasia umum. Namun bagaimana bentuk dan strategi serta tata cara 'tim sukses' tersebut bekerja terhadap anak saya, suatu hal yang sama sekali saya tidak pikirkan sebelumnya.

Sore hari setelah hari pertama UN, menjelang hari kedua UN, di rumah terjadi dialog antara saya dengan anak pertama dan kedua saya.

  • Terima SMS Mas? Kata saya pendek dan singkat pada anak pertama saya.
  • Terima dong. Jawabnya ringan.
  • Bagaimana dengan Adik, terima juga?
  • Terima. Jawab anak kedua saya.
  • Lalu bagaimana kesan kalian ketika terima sms jawaban UN di pagi hari sebelum UN berlangsung? Tanya saya memancing pendapat anak-anak.
  • Sebagai pembanding Yah. Jawab sulung saya. Saya tidak paham apa yang dia maksud dengan pembanding. Oleh karenanya saya coba bertanya memutar.
  • Sekarang kalian belajar. Sementara besok pagi pasti akan terima jawaban UN lewat sms. Menurut logika ayah, kalau kalian pintar, ngapain harus belajar malam ini. Main games atau baca novel saja.
  • Justru karena Aku pintar Yah, sms itu sebagai alternatif terakhirku. Jelas anak sulung saya.
  • Maksudmu? Desak saya, yang belum juga mudeng.
  • Biasanya, ada beberapa soal UN yang Aku bisa jawab dengan benar. Nah berikutnya Aku akan bisa cek apakah kunci dari sms itu adalah kunci jawaban UN untuk soal yang sama? Jelas si sulung.
  • Sama. Aku juga hanya jadikan kunci dari sms itu sebagai cadangan jika aku kepentok ngak bisa jawab. Jelas sang adik.
Nah, inilah realita UN yang anak-anak alami di tahun pelajaran lalu. Alhamdulillah, kedua anak saya itu lolos lubang jarum dari syarat kelulusan dan lulus. Pertanyaan selanjutnya? Mengapa ada sebagaian dari kita yang menjadikan UN menjadi momok yang menakutkan dan sakral?

Pengalaman teman anak saya yang tidak lulus saat ujian di tahun pelajaran lalu, ia tetap dapat ikut ujian persamaan paket C di tahun yang sama. Dan sah.

Lalu? Untuk apa berpayah-payah menahan stres dan takut jikapun tidak lulus ujian di tahap pertama tetap saja lolos dengan uper paket C?

Jakarta, 22 Desember 2009.


11 December 2009

UN dan Belajar Holistik


Tulisan ini akan saya awali dengan pertanyaan salah satu orangtua siswa kepada guru kami berkenaan dengan kegiatan spesial yang menjadi agenda rutin sekolah, yang pelaksanaannya dilakukan pada setiap pertengahan semester. Dimana pada bulan Oktober 2009 lalu kami mengadakan even spesial dengan tema Pekan Legenda. Pada Pekan Legenda tersebut setiap kelas akan memiliki topik bahasan yang lebih spesifik. Misalnya Lutung Kasarung. Maka kelas akan mengeksplorasi legenda ini sebagai topik bahasan dalam satu pekan bersamaan dengan kelas-kelas yang lain. 

Pertanyaan orangtua tersebut adalah: Ada berapa soal yang keluar di Ujian Nasional (UN) nanti dari kegiatan selama satu pekan ini Bu? Kalau yang keluar hanya 1 atau 2 soal saja, menurut saya kegiatan ini hanya buang-buang waktu?

Dari pertanyaan ini berikut adalah hikmah yang dapat kita ambil: Pertama, Paradigma belajar. Sebagian kita memahami bahwa belajar hanyalah ketika siswa membuka buku pelajaran sekolah yang berupa buku paket atau buku sumber. Maka ketika siswa sedang membaca buku cerita, membaca fiksi, membaca ensiklopedia, membaca kamus, mambaca majalah remaja atau bahkan mengisi TTS di surat kabar, maka siswa tidak sedang belajar?

Bahwa belajar dimaknai ketika siswa mendapat tugas dari guru berupa pekerjaan rumah. Maka ketika siswa sedang tidak diberikan pekerjaan rumah maka berarti siswa tidak belajar? Maka sekolah yang gurunya selalu memberikan banyak pekerjaan rumah kepada siswanya adalah sekolah yang baik karena menuntut siswanya untuk belajar terus menerus? Dan sebaliknya sekolah yang tidak pernah ada pekerjaan rumah adalah bentuk sekolah jelek?

Bahwa belajar berarti siswa duduk manis di bangku kelasnya dan memperhatikan gurunya sedang menjelaskan materi pelajaran saja. Maka ketika siswa sedang bermain drama di plasa sekolah karena setelah mempelajari Lutung Kasarung siswa diminta menuliskan kembali cerita tersebut dalam bentuk teks drama yang kemudian harus didramatisasikan dalam kelompok bukan sebagai kegiatan belajar?

Begitu sempitkah arti belajar? Bagi saya, belajar adalah seluruh aktivitas yang siswa lakukan kapan saja dan dimana saja dan dengan siapa saja yang kemudian ada proses pengambilan hikmah setelah kegiatan tersebut dilakukannya.

Kedua, Paradigma hasil belajar dan UN. Bagi saya, Ujian Nasional atau UN yang terdiri dari 3 mata pelajaran di SD (UASBN) atau 4 mata pelajaran di SMP atau 6 mata pelajaran di tingkat SMA adalah salah satu hasil belajar. Dan bukan satu-satunya hasil belajar. Karena menurut Bloom, terdapat 3 ranah hasil belajar. Yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Dan UASBN atau UN hanya mengukur hasil belajar pada ranah kognitif. Itupun tidak mengukur 6 aspek yang terdapat dalam ranah tersebut. Yang ketiga asopek itu adalah aspek mengingat, aspek memahami dan aspek aplikasi. Sedang tiga aspek yang tidak diukur adalah aspek aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Dimana ketiga aspek terakhir masuk dalam tataran berpikir tingkat dalam.

Untuk itulah maka ketika menjadikan UASBN atau UN sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan siswa atau sekolah, berarti kita teah terjerembab pada fatamorgana.

Ketiga, Belajar yang holistik. Dengan melihat bahwa terdapat tiga ranah belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan Bloom tersebut, maka seharusnyalah kita memaknai bahwa mendidik adalah membuat siswa menjadi cerdas kognitif atau cerdas akademik, cerdas afektif atau cerdas afeksi dan cerdas psikomotorik. Inilah hasil belajar holistik.

Belajar yang holistik tidak melihat bahwa UASBN/UN tidak penting. Ia sebagai salah satu uinstrumen keberhasilan dalam belajar tetap dipandang sebagai proses yang penting. Tetapi pengembangan afektif dan psikomotorik tetap tidak dilupakan. Bentuknya pengembangan pada ranah tersebut salah satuinya adalah melalui kegiatan drama, pertujukan kelas, kegiatan luar ruang kelas, dan lain-lain.

Jakarta, 11 Desember 2009.

Guru yang Intelektual

Beberapa waktu yang lalu, Selasa, 24 November 2009, saya mengikuti kegiatan seminar di SFTI Jakarta yang mengusung tema Guru Bersertifikat vs Guru Intelektual. Bahasan ini menarik tidak saja bahwa bagi yang telah tersertifikasi maka pemerintah akan memberinya tambahan penghasilan yang berupa tunjangan sertifikasi sebesar satu kali gaji pokok, tetapi karena mengangkat topik tentang guru berkualitas atau guru profesional atau guru intelektual dengan guru yang telah bersertifikasi.

Pada tanggal 25 November 2009, bertepatan dengan hari guru, Ahus Suwignyo, yang pedagog dari FIB UGM menulis di Kompas dengan bahasan yang hampir sama yaitu tentang Guru yang Intelektual. Dimana dikisahkan bahwa gagasan pemerintah untuk mencetak guru yang intelektual dimulai dengan dileburnya Sekolah Pendidikan Guru atau SPG menjadi LPTK dan kemudian berlanjut dengan diperluasnya IKIP menjadi Universitas. Dimana diharapkan dengan hal tersebut akan dapat dilahirkan sosok ilmuwan yang guru dan guru yang ilmuwan.


Setelah sekian lama gagasan penghapusan SPG dan juga perluasan IKIP menjadi Universitas tersebut berlangsung, dan sekarang dengan lahirnya kebijakan sertifikasi guru sebagai bagian dari amanat UU Sisdiknas dan UU Guru dan Dosen, telah terlahirkan sosok guru yang intelektual atau guru yang ilmuwan itu?


Guru yang Ilmuwan
Apa, bagaimana, dan siapakah guru yang ilmuwan itu? Lodi Paat, Dosen UNJ dalam diskusi di SFTI tersebut mengemukakan bahwa mereka adalah sosok guru yang priyayi. Hal ini dirujuknya dalam fiksinya Umar Kayam dalam judul Para Priyayi yang menokohkan priyayi pemula sebagai guru yang bernama Sastrodarsono.

Bagi Anda yang telah membaca buku itu, maka Sastrodarsono yang berasal dari Kedungsimo itu menapaki kepriyayiannya dengan menjadi guru. Sosoknya sebagai seorang guru yang priyayi inilah yang pada ujungnya memperoleh pengakuan dari masyarakat dimana ia berada untuk menjadi panutan.

Berikut saya kutipkan tentang sosok Pak Guru Sastrodarsono itu dalam Novel Jalan Menikung, Para Priyayi 2, halaman 148:

...meskipun dulu hanya menjabat kepala sekolah desa dan petani priyayi kecil saja, tetapi terkenal diantara penduduk Wanagalih kerena luas pergaulannya. Teman-teman main kartunya adalah pejabat-pejabat teras Kabupaten, seperti dokter, asisten wedana, jaksa, mantri polisi, dan sebagainya lagi. Dan bermain kartu bersama-sama tokoh masyarakat Wanagalih itu berarti Pak Sastrodarsono sudah diterima sebagai pemimpin masyarakat yang terpandang juga. Pendapat-pendapatnya yang secara tidak resmi terlontar dalam pergunjingan permainan kartu itu sering juga dipertimbangkan sebagai masukan-masukan bagi pemimpin masyarakat resmi itu. Dengan begitu, Sastrodarsono juga menikmati kedudukan terhormat di masyarakat Wanagalih.

Guru yang ilmuwan juga adalah guru yang mampu menginspirasi siswanya sebagaimana Pak Guru Balia yang mengajar Bahasa Indonesia di SMA Bukan Main-nya Andrea Hirata dalam novel Sang Pemimpi.


Jakarta, 25 November-11 Desember 2009.

(Masih) Senior-Junior


Ada seorang teman guru yang memberikan komentar panjang lebar lewat e-mail terhadap satu tulisan di saya blog ini. Sebuah artikel yang berisi tentang hubungan kerja antara senior-junior, yang kebetulan pernah dimuat di Harian Pelita.

Selain komentar terhadap tulisan saya, teman saya ini juga mengungkapkan kegetiran yang pernah dia alami sendiri ketika menjadi menjadi guru baru di sebuah sekolah swasta. Katanya dalam email yang dikirim kepada saya begini: Pak, saya berpikir jika ospek yang saya alami saat saya masuk kuliah adalah ospek yang paling terakhir dalam hidup saya. Ternyata ketika masuk kerja pun saya masih di-ospek juga! Begitu salah satu kalimat yang dia kirim kepada saya. Apa yang ditulis teman ini adalah bentuk ketidakberdayaan bagi kelompok junior dihadapan seniornya.

Fakta lain tentang ketidaknyamanan sebagai guru baru yang harus menerima kenyataan yang kurang nyaman dari teman yang terlebih dahulu menjadi pegawai.

Saya sebagai orang normal, tentunya juga mengalami masa-masa awal memasuki sebuah lembaga sebagai pegawai baru. Dan tahapan ini pasti pernah menjadi milik kita semua. Pada masa seperti ini, sebagai anggota baru di sebuah lembaga, kita punya keinginan untuk mendapat gambaran dan pemahaman yang holistik tentang bagaimana, seperti apa, dan apa saja yang harus menjadi pegangan kita selama menjadi pegawai baru tersebut.

Namun ‘pencerahan’ yang dirahapkan akan datang dari kolega kita yang terlebih dulu menjadi pegawai kadang lenyap begitu saja ketika hal sebaliknya yang justru terjadi. Dimana diantara mereka ada yang bersikap arogan atau bahkan berlagak dan mempersonofikasikan seperti si pemilik lembaga. Inilah bentuk dan tatanan sosial dimana kita berada. Pengkastaan antara junior dan senior.

Mengembangkan Pola Saling Menghargai

Ada beberapa usaha yang dapat kita lakukan, jika kita adalah bagian dari pemegang otoritas sebuah lembaga. Pertama, Perubahan paradigma. Kepada mereka, junior-senior, bersama-sama kita kembangkan paradigma baru dalam menyusun dan mengusahakan bagi ketercapaian tujuan bersama. Dalam ranah ini, mereka bisa menyampaikan ide dan gagasan yang kemudian dapat kita jadikan sebagai komitmen bersama. Komitmen inilah yang menjadi tolak ukur bagi kinerja mereka sesudahnya.


Paradigma juga penting untuk kita sebagai pemegang otoritas. Yaitu pemahaman kita bahwa tidak semua senior tidak mau berubah dan juga sebaliknya tidak semua junior adalah yang mau berubah. Disini kita dituntut untuk berpikir dan berpandangan saling menghargai dan adil. Kita harus memiliki prinsip bahwa semua kita adalah makhluk yang selalu berkeinginan maju. Oleh karena menjadi bagian tugas dari kita adalah menemukan dan menggali potensi itu dan membuat strategi akan paradigma yang lebih baik dan saling menghargai.

Kedua, Melakukan kontrol dan pendampingan. Sama halnya dengan apa yang terjadi di kalangan siswa. Bullying senior hanya dapat dilakukan manakala pengawasan pemegang otoritas lemah. Untuk itulah perlunya kita bekerja secara berdampingan dengan mereka. Selain melakukan pengawasan atas keterlaksanaan komitmen yang telah dicanangkan, pengawasan ini juga dapat menjadi bagian dari bentuk pelatihan dan pendampingan. Sehingga apa yang menjadi keperluan mereka saat menyusun dan mengusahakan dalam mencapai tujuan.

Ketiga, Dibutuhan pemegang otoritas yang pemberani. Yang saya maksud dengan berani bagi pemegang otoritas adalah kemampuan, kesanggupan dan ketegaran untuk menentukan kebijakan dengan dasar yang telah disepakati.


Misalnya pengangkatan pejabat di lembaganya dengan pertimbangan prestasi, dan bukan senior-junior. Dan apabila sipemangku jabatan adalah mereka yang kebetulan masuk dalam kasta junior, kita perlu berikan dukungan, sokongan dan pengawalan secara penuh dalam menjalankan tugasnya.


Pejabat yang memiliki kompetensi unggul meski ia masih junior dengan back up kita yang kuat adalah bentuk nyata bagi merealisasikan masyarakat yang saling menghormati.

Jakarta, 11 Desember 2009

09 December 2009

Tulis Apa yang Telah, Sedang dan Akan


Kalimat inilah yang saya jadikan kalimat provokasi bagi orang yang ada di lingkungan saya. Mereka ada anak-anak saya dan istri di rumah serta ada teman-teman kerja di sekolah. Saya mengajak mereka menulis bukan karena saya sendiri merasa hebat dalam menulis. Atau karena saya sudah punya blog. Juga bukan karena saya memiliki beberapa tulisan yang sudah dimuat di koran.

Saya memprovokasi dengan judul ini karena saya ingin agar mereka, semua orang yang ada di sekeliling saya, gemar mencatat apa yang telah, sedang dan yang akan dilakukannya, agar supaya mereka dan kita semua dapat mengingat secara detil tentang masa lalu, masa kini dan impian di masa mendatang.

Menuliskan apa yang telah dilakukannya, akan membantu kita untuk melihat masa lalu dengan penuh makna. Dan karenanya kita dapat memperoleh hikmah darinya. Karena dalam pandangan saya, dengan menuliskan apa yang telah, sedang, dan akan kita lakukan, kita sedang membuat rekam jejak dalam kehidupan kita sejarah jelas, transparan. Dan dengan jejak itulah orang akan melihat keberadaan dan eksistensi kita.

Untuk itulah, maka pada awal tahun pelajaran 2009/2010 lalu, saya meminta seluruh guru yang ada di lingkungan kerja saya untuk membuat dan menggunakan e-mail. Dan berangkat dari e-mail tersebut, saya dorong mereka untuk memiliki account di jejaring sosial. Dan berangkat dari e-mail itu juga kepada mereka saya bertanya apakah alamat blog telah mereka miliki.?Dan dari blog merekalah saya melihat isi kepala, angan-angan dan sejarah yang mereka tuangkan. Meski hingga kini mereka masih membiarkan halaman blognya kosong, namun saya selalu berkeyakinan suatu saat nanti mereka terdorong untuk menulis.

Suatu saat, saya melihat status on line diantara teman saya, yang masih membiarkan halaman blognya telantar untuk sementara, ketika saya membuka e-mail, lalu serta merta saya menyapanya dan menuliskan: OL terus, kok blognya belum ada isinya juga? Beberapa saat kemudian dia menjawab: Iya Pak. Sedang cari ide.

Karena keisengan saya, saya meneruskan dengan pemikiran saya tentang menulis. Kalau saja teman saya itu tahu bagaimana sulitnya menemukan ide sehingga dengannya ia menjadi buntu dan sulit memulai menulis, mengapa tidak kebuntuannya itu saja yang menjadi bahan tulisannya? Sehingga ia menulis tentang sulitnya membuat tulisan katrena ide yang ditunggu-tunggunya tidak pernah muncul? Mungkin ini malah menjadi bahan tulisan bagus. Siapa tahu?

Jadi untuk keluarga dan semua teman, menulislah apa yang telah Anda alami, sehingga saya menjadi tahu apa yang telah dan sedang Anda alami. Juga saya menjadi faham mengapa Anda melakukan sesuatu? Beritahukan siapa, mengapa, bagaimana Anda kepada saya dan kepada dunia melalui apa yang Anda tulis.

Jakarta, 9 Desember 2009.

08 December 2009

Berkontribusi untuk Orang Lain

Jika mengingat tetangga sebelah rumah saya waktu di desa, saya selalu menggumankan terima kasih dan syukur. Syukur akan kontribusinya terhadap perjalanan hidup saya berikutnya.

Karena dialah orang yang pertama sekali, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP, diajaknya pergi ke sawah untuk menjadi buruh cangkul. Petani.

Dan setelah sekian kali bersamanya, saya diberikannya uang sebagai upah kerja. Dan karena saya juga harus bersekolah di siang hari, maka pekerjaan mencangkul di sawah hanya saya jalani di pagi hari hingga menjelang bedug (istilah untuk waktu Dzuhur).

Bekerja dalam paruh waktu memang bukan menjadi pilihan saya, meski keluarga saya berasal dari desa yang sama, dan ketika kembali ke desa setelah ayah mengajak kami merantau di Punggur, Metro, Lampung Tengah, tanpa memiliki lahan persawahan. Namun kepedulian tetangga saya untuk 'memberikan' jalan agar saya memiliki pendapatan tambahan uang dan juga kemahiran dalam berjuang, adalah bentuk kontribusi yang selalu saya syukuri. Sebuah bentuk nyata kepedulian dalam momen perjalanan hidup yang tidak akan mungkin saya lupakan hingga sekarang.

Kemurahan hati dan pemahaman dia untuk memberikan kesempatan kepada saya mencangkul di sawahnya dengan kualitas cangkulan yang sangat mungkin belum baik dan kemampuan serta ketahanan yang belum juga pantas diberikan bayaran bagi petani pemula seperti saya kala itu, adalah pengambilan keputusan yang berani.

Mengapa? Menurut saya, jika tanpa kemurahan hati dan pemahaman, dia tentu tidak akan memilih saya yang pemula ini untuk mengerjakan sawahnya. Selain kualitas tanah yang dicangkul juga ketahanan fisik saya yang masih lemah. Fisik saya yang tidak pernah mencangkul secara profesional tentu tidak mendukung untuk menghasilkan tenaga yang baik. Juga alat yang saya punya, adalah cangkul untuk perladangan dan bukan persawahan. Cangkul saya akan selalu menimbulkan cipratan air, yang kadang muncrat hingga ke muka saya sendiri. Ini karena cangkul saya tidak dilapisi baja supaya kalis hingga tanah selalu menempel di ujung cangkul ketika cangkul itu saya tarik.

Dan dalam kadar yang berbeda, guru muda, yaitu guru yang belum memiliki jam terbang yang cukup juga memiliki indikasi seperti kala saya menjadi buruh tani waktu itu. Dan ketika saya merefleksikan dengan apa yang pernah saya alami sendiri puluhan tahun yang lalu, maka pemahaman dan keterbukaan hati atas kekurangan terhadap dirinya yang sedang tumbuh, yang dapat menjadi kunci bagi kemajuan dan keberhasilan perjalanan hidup mereka.

Tanpa itu, mereka akan pergi dan mungkin akan menjadi guru atau pekerja handal di kemudian hari, dan kita tidak memiliki kontribusi bagi kesuksesan mereka. Inilah buah yang dapat kita dapatkan ketika kita memberikan kesempatan, keluasan pemahaman, dan kecukupan bantuan bagi yang sedang mengembangkan kehidupan.

Jakarta, 8 Desember 2009.

07 December 2009

Pembanding


Sabtu, 5 Desember 2009, saya bertemu dan berdiskusi panjang lebar tentang pendidikan dengan Bapak Raja Sofyan yang adalah Pengawas SMP di Tanjung Pinang. Beliau menceritakan bagaimana waktu awal menjadi guru Agama puluhan tahun yang lalu. Cerita tentang para kepala sekolahnya.

Ada kepala sekolahnya yang baik dan sukses membawa sekolah yang disiplin dan 'berbeda' meski untuk berbeda tersebut sang kepala sekolah sering harus berkorban secara pribadi. Namun sebaik apapun prestasi tersebut tetap saja ada guru yang tidak memahaminya atau bahkan kurang menyukainya.
Lalu datang lagi kapala sekolah baru yang menurutnya memiliki kompetensi di bawah dari kepala sekolah sebelumnya. Lalu, datang lagi model kepala sekolah lain di sekolahnya. Hingga akhirnya para guru berpikir bahwa kepala sekolahnya yang pertama adalah kepala sekolah terbaik bagi mereka. Dan mereka sadar bahwa baik dan tidak, bagus dan tidak, profesional dan tidak, setelah mereka memiliki tiga kepala sekolah yang berbeda. Setelah mereka memiliki pembanding.

Ada lagi cerita yang berbeda, yaitu perbandingan antara teman guru yang telah memiliki pengalaman sebagai guru yang mengajar di beberapa sekolah, tetapi bukan model guru kutu loncat yang berpindah setiap tahun pelajaran baru, dengan guru yang menetap di satu sekolah untuk kurun waktu yang panjang, dalam mensyukuri apa yang ada.

Teman yang pernah bekerja di institusi berbeda akan memiliki kemampuan lebih mudah memahami situasi terhadap sekolahnya. Dan menurut pendapat saya hal ini karena mereka telah memiliki pembanding. Sehingga pemahaman terhadap plus dan minus yang lahir dalam sebuah lembaga dapat segera diperbandingkan. Sedang bagi yang tidak memiliki pembanding sedikit sulit membuat tolok ukur obyektif. Semua dilihatnya dari kaca mata yang lurus.

Dan dalam pengembangan sekolah pun, pembanding merupakan suatu hal yang luar biasa penting. Sekolah, guru, orangtua siswa atau siapa saja yang menilai diri tanpa membuat pembanding ( dalam ranah penilitian, pembanding harus yang setara ), akan mengalami situasi bangga diri yang tidak pada lokasinya. Karena ia merasakan sesuatu hanya dalam angan-angan sendiri. Padahal dalam waktu yang bersamaan orang sedang melihat dia dalam situasi keprihatinan.

Inilah yang oleh beberapa manajemen sekolah menjadikan studi banding sebagai bagian dari pengembangan sebuah sekolah. Karena dari kunjungan tersebut kita akan dimampukan untuk melihat bagaimana sekolah lain atau orang lain berusaha dan berikhtiar menjalani program yang menurut mereka unggul.

Untuk itulah maka penting bagi kita melihat semua situasi yang ada dengan tolok ukur dan pembanding yang relevan. Dan jangan sampai kita sedang membandingkan sekolah yang jumlah siswanya 25 setiap kelas dengan sekolah dengan jumlah siswa 34 tiap kelasnya dalam soal uang sekolah, misalnya. Karena itu sama saja kita membandingkan buah durian dengan buah jeruk.

Jakarta, 7 Desember 2009.

Tengleng Jalan Nayu


Bersamaan dengan libur Idul Adha 1430 H yang lalu, niat semula saya dan istri untuk menengok putri kami di Yogyakarta, akhirnya bersama keluarga besar bertambah agenda. Yaitu selain menengok anak juga wisata kuliner di Yogyakarta dan Solo. Dan salah satu tempat dari wisata itu adalah tengkleng di Jalan Nayu Solo. Lokasinya lebih kurang 500 meter dari Terminal Bus Tirtonadi.

Tempat ini direkomendasikan oleh kakak saya yang tinggal di Jakarta, yang saat mengetahui keberadaan kami di Solo untuk ke Pasar Klewer, kakak serta merta mendorong kami mengunjungi jalan Nayu dan menyantap tengleng langganannya, makanan khas Solo sejenis tongseng, yang seluruh materinya terdiri dari tetelan dan daging yang ada di kepala kambing. Rekomendasi ini dia berikan, tentunya, karena setiap kunjung ke kota ini Jalan Nayu selalu menjadi agenda utamanya.

Dan setelah empat kali bertanya, warung tengleng itupun kami temukan. Dan kami semua nyaris terperangah bukan pada tenglengnya, tetapi pada tongkrongan warungnya. Warung itu berupa emperan rumah yang dibuat seperti pendopo. Untuk para tamunya disediakan tiga deret meja kayu panjang sederhana. Di depan warung, untuk menghindari tetesan air hujan dan teriknya matahari ditutup dengan plastik bekas spanduk operator telpon warna biru.

Kami berpikir. Bagaimana mungkin kakak saya yang tinggal di Jakarta merekomendasikan kami untuk makan siang di Jalan Nayu yang ternyata seperti ini tongkrongannya? Dan untuk menilai enak dan tidaknya, saya bukan orang yang pas untuk itu. Soal makanan, saya hanya punya 2 kosa kata rasa. Yaitu enak dan uenak!

Tapi dari sini, saya sebagai praktisi di sekolah sekolah swasta mencoba untuk menarik hikmah. Karena sedikit banyaknya, pola berpikir pengembangan dan kompetisi menjadi bagian dari eksistensi sebuah sekolah.

Hikmah yang dapat saya petik untuk yang Pertama, Bahwa untuk menjadi dikenal dan didatangi orang, kualitas adalah nomor pertama. Lokasi di pelosok sekalipun tetap jaminan untuk menjadi dikenal orang. Karena kualitas akan berbuah menjadi loyalitas. Dan loyalitas memberi semangat kepada kita untuk mengeksplorasi. Tengkleng jalan Nayu tersebut adalah bukti konkrit apa yang saya sampaikan ini.

Bagaimana tidak loyal, wong tadinya saya ke Solo untuk makan di sekitar Pasar Klewer, e malah kakak ngotot merekomendasi yang berbeda. Hebatnya lagi kok ya kita terdorong untuk mengikuti. Dan kagetnya ternyata yang direkomendasikan itu berupa warung yang kalau di Jakarta disebut sebagai warung Tegal.

Kedua, Menjadi berbeda. Kadang selain kualitas, orang menjadi loyal dan tetap bersemangat untuk menemukan kita karena kita berbeda. Dalam suatu program, kadang apa yang terdapat di lembaga ini menjadi trend dan secara generik di kopi dan tiru oleh lembaga lain. Kopi dan tiru ini hanya akan melemahkan daya saing dari masing-masing lembaga atau masing-masing barang jualan.

Sedang menjadi berkemampuan untuk berbeda, adalah kemampuan untuk mencipta. Dan mencipta sesuatu yang berbeda, hanya terjadi jika telah melalui tahap menjadi tahu, fenjadi faham, menemukan aplikasinya di lapangan, melakukan evaluasi dari berbagai sisi dan membuat analisa.

Dan pengalaman Jalan Nayu, bagi saya telah membelajarkan bagaimana saya yang berada di sebuah sekolah untuk terus menjadi berkualitas dan berbeda.

Jakarta, Yogya-Solo, 27-30 November 2009.

25 November 2009

Kepala Sekolah yang Dicintai Para Gurunya


Beberapa tahun yang lalu, saya diminta untuk menemani barisan manajemen di sebuah sekolah swasta di Provinsi Serang saat melakukan diskusi panel dengan beberapa guru yang terpilih sebagai wakil diantara teman-temannya.

Kegiatan ini menjadi pilihan yang saya rekomendasikan kepada pemegang amanah di sekolah tersebut untuk tujuan menemukan 'ruh' yang ada pada guru-gurunya. Ini penting, ketika sekolah tersebut bermaksud untuk melakukan sebuah pengembangan. Dan agar arah pengembangan tidak menjadi sesuatu yang kotraproduktif maka diperlukan informasi yang akurat tentang dan bagaimana guru yang ada.

Untuk itu maka kegiatan ini semacam self reflection sekaligus self assessment. Dan kerena keterbatasan waktu, maka tidak semua guru menjadi wakil dari semua guru yang ada. Tetapi guru yang menjadi koordinator kita sertakan ditambah dengan guru yang terpilih melalui metode arisan.

Ada 3 tahap pelaksanaan diskusi panel tersebut. Setiap tahap menyertakan 6 guru dengan 3 dari kami yang memakan waktu diskusi lebih kurang 2 hingga 3 jam. Suasana dibuat cair. Sebagai permulaan, saya menyampaikan beberapa hal yang menjadi aturan dalam diskusi panel tersebut. Antara lain seperti; Semua peserta jangan takut untuk menyampaikan sesuatu namun selalu dengan semangat solusi. Sebagai jaminan untuk tidak takut, saya pasang badan untuk menjadi advokat mereka jika dikemudian hari ada sesuatu yang tidak menyenangkan.; Semua harus memiliki semangat yang sama yaitu menjadi bagian dari sistem. Sehingga tidak dikehendaki pandangan dari komentator.

Peristiwa itu, benar-benar memberikan pelajaran berharga kepada saya. Baik saya sebagai pribadi ataupun saya sebagai teman diskusi atau juga saya sebagai bagian dari mereka. Banyak sekali informasi dan gagasan cerdas mereka sampaikan dengan bahasa yang santun. Banyak sekali masukan membangun yang menyentuh. Banyak juga cara pandang berbeda untuk sebuah fakta yang ada. Saya menikmati peristiwa itu.

Dan salah satu sudut pandang yang menjadikan semua itu indah adalah ketika seorang Ibu guru menceritakan pengalamannya kepada kami peserta diskusi.

Beginilah cerita itu: "Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari sekolah ini. Enam bulan pertama menjadi guru di sekolah ini saya lalui dengan baik. Hingga suatu sore saat seluruh siswa kembali ke rumah masing-masing. Saya sedang merapikan kelas dan kepala sekolah datang bertanya kepada saya:
Belum pulang Bu? Tegur kepala sekolah.
Sebentar lagi Bu.
Bagaimana kabar ibu setelah enam bulan menjadi guru di sini? Saya lihat display kelas Ibu bagus dan tertata baik. Adakah kesulitan atau hambatan yang bisa saya bantu?
Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu kepala sekolah itu. Saya hanya mengangguk pelan sembari senyum. Ada kata tidak yang lirih saya ucapkan. Sapaan Ibu kepala sekolah benar-benar telah menyentuh hati saya. Saya meneteskan air mata setelah sendiri di dalam kelas".

Begitulah sepenggal cerita yang juga membuat saya berpikir, bahwa sesungguhnya guru adalah juga siswa bagi kita yang kepala sekolah. Untuk itu maka, menjadilah kepala sekolah yang dicintai oleh para gurunya.

23 November 2009

Berjasa?


Pada waktu membicarakan pengembangan lembaga, kami dibenturkan pada kenyataan bahwa beberapa diantara kami yang berpotensi menjadi hambatan bagi pengembangan. Hambatan tersebut lahir atas kenyataan bahwa kurang dipenuhinya persyaratan standar minimal akademis. Dimana sesuai dengan Undang-Undang Guru dan Dosen, maka guru untuk tingkat pendidikan Pra Sekolah hingga Sekolah Menengah, harus strata 1 atau Sarjana. 

Dan setiap langkah kami akan mulai dengan mendiskusikan alternatif serta solusi bagi pengembangan, fakta akademis yang ada diantara kami ini terus saja menghantui kami.

Beberapa teman sempat mengingatkan kami agar melihat bahwa orang-orang yang menjadi sasaran bidik kami itu adalah orang-orang yang memiliki jasa atas besarnya lembaga kami. Dimana mereka, ketika awal sekolah kami berdiri, direkrut dengan tidak perlu menjadi seorang sarjana.

Juga komentar dari mereka sendiri bahwa, mereka datang ke lembaga kami ketika lembaga ini halamannya masih belum sebaik dan serapi sebagaimana sekarang.

Esensi dari apa yang mereka sampaikan adalah, jangan mentang-mentang lembaga ini sudah besar sehingga melupakan jasa mereka. Sehingga manakala tuntutan akademis harus menjadi prasyarat bagi pengembangan sekolah, dan mereka menganggapnya hal ini justru sebagai hambatan karena ketidakmauan atau mungkin ketidaktahuan dan kesungkanan mereka untuk memulai malanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, maka kami membuat tuntutan yang diangapnya sebagai bentuk tidak menghargai jasa yang telah mereka kontribusikan.

Jasa?

Dan ketika kami bersama manajemen lain yang memegang amanah dari lembaga sedang sibuk untuk menemukan jalan bagaimana mengajak teman tersebut memenuhi syarat akademis dengan cara melanjutkan pendidikan, benak saya berbicara lain.

Bisakah berjasa jika dalam setiap bulannya lembaga telah membayar tunai ikhtiar dan kerja kita sesuai dengan apa yang telah disepakati bersama dalam bentuk kesepakatan kerja sebelumnya? Pikir saya. Bisakah saya mengatakan bahwa saya berjasa di lembaga saya ini jika lembaga telah tunai membayar saya sebagaimana yang tertuang dalam surat perjanjian kerja?

Saya tidak menemukan jawaban. Namun saya mencoba untuk berlogika bahwa, jika dalam saya bekerja saya juga menyertakan nilai transendental, maka saya tidak akan pernah satu kalipun mengatakan bahwa saya telah berjasa. Biarlah Allah yang menilai apakah saya berjasa atau tidak dikelak kemudian hari.

Karena dengan apa yang telah saya ikhtiarkan kepada lembaga dimana saya mengabdikan kompetensi saya, dan lembaga telah memberikan apa yang tertulis dalam kontrak kerja yang telah saya sepakati sebelum saya menunaikan perkerjaan yang menjadi tugas saya di lembaga ini, bukanlah ini berkorelasi sama dengan? Bukan lebih besar atau lebih kecil?
Allahu'alam bishawab.
Jakarta, 23 November 2009.

21 November 2009

Apakah Saya Sibuk?


Sedang sibuk Pak? Suara telepon di seberang. Pagi, masih pukul 10.00 di hari kerja.
Apakah mengganggu saya menelepon Bapak?
Saya menjawab beberapa pertanyaan basa-basinya sembari berpikir siapa gerangan pemilik suara tersebut. Dan ketika identitas penelepon dapat ditemukan dalam memori, saya segera menanggapi dengan penuh semangat.

Kami saling bertanya dan bercerita tentang pekerjaan, tentang kondisi kerja masing-masing, dan perbincangan kami tutup dengan pertanyaan kapan waktu yang bisa dirancang untuk bertemu dan berdiskusi lebih leluasa, komunikasi kami via telepon selesai.

Ia begitu bersemangat menjelaskan tugas barunya untuk mengelola sebuah sekolah dengan jumlah siswa lebih kurang 1.500 siswa. Sebuah tugas berat. Dan ia ingin sekali membagi berat bebannya itu kepada saya dengan mengajak saya berdiskusi.

Meski telepon selesai, saya terus saja berpikir tentang pertanyaannya kepada saya di awal telepon tersebut. Yaitu apakah saya sibuk?

Teman saya mungkin berpikir bahwa dengan amanah yang saya pikul sekarang ini tentu menuntut kesibukan yang lebih. Oleh karenanya dia mencoba untuk membatasi diri dalam menyampaikan cerita yang sedang dialami dan menjadi agenda penyelesaiannya.

Pertanyaan sibuk itu justru menjadi pertanyaan saya pada diri saya sendiri. Sibuk? Karena jujur saja, saya terima telepon teman tadi ketika sedang berada di atap sekolah. Ditemani teknisi sipil kami, saya sedang melihat keberadan dan kondisi tangki air yang ada di atap. Ini saya lakukan setelah beberapa staf kami menyampaikan kabar bahwa air flush kadang tidak keluar sebagaimana mestinya. Kecil dan lambat. Langkah berikut setelah kami melihat tangki air tersebut adalah memutuskan apakah kami masih memerlukan tambahan tangki air lagi.

Dan kembali kepada pertanyaan teman: Sibuk?
Dalam mengemban amanah, saya terinspirasi apa yang menjadi prinsip kawan saya yang lain, yang menjadi executive principal di sebuah lembaga pendidikan. Dimana ia selalu berada dimana guru dan teman kerjanya sedang memerlukan. Ini dilakukannya manakala dalam agendanya tidak ada janji atau rapat yang harus dilakukannya. Dan jika ia sedang tidak ada di dalam ruangan, pintu ruangannya selalu terbuka lebar.

Kadang guru bertemu dia di koridor sekolah lalu terjadi diskusi kecil di tempat tersebut. Kadang ia masuk toilet siswa dan memanggil petugas cleaner untuk diberitahukan sesuatu. Sering juga ia masuk ke dalam kelas untuk kemudian berbicara dan diskusi dengan siswa dan gurunya. Kadang ia ada di lapangan atau di gym untuk melihat aktivitas olah raga.

Suatu kali saya berdiskusi dengan teman kolega tentang kebiasaan executive principal tersebut. Teman saya hanya menyimpulkan bahwa dia adalah pemimpin yang moderator. Meski demikian bukan berarti ia bukan administrator. Imbuh teman ini. Karena, lanjutnya, semua data sekolah ia miliki dan menjadi bahan analisanya bagi pengembangan secara terus menerus.

Dan sebagai junior, saya sedang belajar untuk seperti executive principal tersebut. Namun dengan pertanyaan teman di telepon apakah saya sibuk tersebut, menjadikan saya termenung.

Catatan Refleksi SGJ, Juli 1996-19 Desember 2009.
Jakarta, 21 November 2009.

08 November 2009

Observasi Peran Serta

Sebagai guru baru di sebuah lembaga, di tahun 1996, meski sebelumnya telah mengajar sejak Oktober 1984, saya harus mengubah paradigma tentang mengajar yang telah saya miliki. Saya melihat ini sebagai tantangan sekaligus peluang.

Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa, melakukan sesuatu yang beda dari apa yang telah menjadi bagian hidup saya tentang membelajarkan siswa di kelas adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Misalnya, kebiasaan saya sebagai guru di lembaga sebelumnya yang telah menjadi rutinitas; membuat soal latihan atau soal ulangan harian, membuat foto kopinya, menjelaskan materi di depan kelas dengan meminta siswa membuka buku cetak yang menjadi rujukan sekolah, memberikan soal latihan tersebut untuk dikerjakan, memeriksa hasil kerja siswa, memberi ponten, dan seterusnya, hingga di akhir catur wulan menulis laporan hasil ulangan.

Perubahan dan pengembangan paradigma dan kebiasaan membelajarkan siswa di kelas yang saya alami tersebut tidak sampai membuat saya sakit hati dan akhirnya menyerah kalah. Karena sejak sejak awal saya memasuki gerbang sekolah yang yang baru tersebut sudah tertanam dalam sanubari saya untuk menjadi guru yang berbeda.

Dan oleh karenanya, saya mendapat ‘siraman rohani’ dalam hal pembelajaran itu antara lain melalui observasi kelas yang dilakukan oleh guru expart dan kepala sekolah. Selain juga dari diskusi dan share pengalaman dengan teman pararel saya.

Dalam observasi kelas, mereka secara bertubi-tubi masuk kelas sejak bulan ketiga saya mengajar. Dan bulan kedua mereka memberikan jadwal kepada saya dan menawarkan kepada saya kapan mereka boleh masuk di kelas. dan saya tentu memilihkan kapan jam pelajaran yang menurut saya enak.

Untuk bulan pertama, saya dibiarkan mengembangkan apa yang telah saya dapat dalam pembekalan sebelum sekolah dimulai. Pada satu bulan ini, setelah saya menjadi bagian sebagai guru kelas V, saya seperti tidak mendapat perhatian dari atasan saya langsung, yaitu kepala sekolah. Tetapi teman pararel dan patner saya mengingatkan agar saya selalu siap secara materi atau aktivitas yang menarik dari kacamata siswa sepanjang pembelajaran.

Bagaimana saya belajar menjadi guru profesional dalam kerangka observasi ini? Saya belajar dari masukan yang diberikan oleh atasan dan teman pararel saya setelah mereka ‘menemani’ saya di kelas. mereka akan mencari dan menemui saya di kala saya tidak sedang mengajar. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengharuskan kami akhirnya berdiskusi.

Beberapa hal yang baik akan mereka kemukakan. Mereka juga bertanya: Darimana saya mendapatkan ide pembelajaran seperti itu? Dan yang kurangpun juga ia kemukakan dengan menyampaikan ide mereka: Mungkin kali lain akan lebih baik kalau Bapak menggunakan strategi ini atau strategi itu?

Pendek kata, observasi kelas yang pernah saya alami adalah observasi peran serta. Dimana observer tidak saja memberikan nilai pada saya tetapi juga cara pandang, pengetahuan, pemahaman dan kultur menjadi guru.

Bagaimana dengan Anda?

Jakarta, 8 November 2009.

07 November 2009

Punya Handy Cam


Ini memang cerita konyol. Tapi justru dari cerita inilah saya memperoleh sesuatu kejutan yang, sepanjang karir saya sebagai guru atau orang yang bekerja di lembaga pendidikan, kejutan yang mengesankan. Cerita berawal dengan mimpi saya untuk memiliki alat perekan Handy Cam. Alat ini saya impikan karena dengan alat ini saya akan lebih memberikan gambaran visual kepada audiens tentang apa yang saya maksudkan ketika memberikan presentasi. Oleh karenanya, alat ini menjadi daftar kebutuhan yang harus saya punyai.

Seperti kebiasaan saya sebelumnya, saya orang yang tidak mudah menyembunyikan apa yang ada dalam benak saya. Alhasil, keinginan ini terungkap juga saat saya berbincang-bincang ringan dengan teman. Meski bukan dengan semua teman. Paling tidak, keinginan ini sudah tidak menjadi rahasia lagi dikalangan beberapa teman saya di kantor.

Dan sekitar Desember 2003, saat saya masih berada di jalur TOL JORR RS Fatmawati-RC Veteran yang masih sepenggal (keluar masih di RC Veteran dan kita akan masuk lagi jalur TOL BSD setelah Masjid Bintaro Sektor 3), telepon saya berdering. Seseorang di seberang, saya mengira posisi teman ini masih dalam mobil jemputan sekolah, mungkin berada di wilayah Pondok Jagung, Pondok Aren, Tangerang, menanyakan kepada saya: Apakah saya masih berminat untuk memiliki handy cam? Saya jawab masih. Maka diberikanlah spesifikasi alat impian tersebut beserta harga yang diinginkan.

Diceritakan bahwa handy cam tersebut dimiliki seorang pilot yang nyaris tak terpakai lagi. Namun kondisinya masih sangat bagus. Demikian teman saya mempromosikan. Dan karena ini penawaran langka, maka tanpa basa-basi saya langsung mengiyakan. Bahkan saya tanyakan kepada teman saya itu, kapan alat tersebut ada pada saya. Nanti saya hubungi lagi. Tapi Pak Agus mau tidak dengan harga satu juta rupiah?

Sekitar pukul 12.00, saat waktu makan, saya mengantar teman saya di kantor yang lain menuju ATM yang ada di Bundaran Golf Bintaro Sektor 7. Teman saya yang ini menawarkan pinjaman tanpa agunan dan tanpa bunga kepada saya sebagai pembayaran dari pembelian handy camp yang ditawarkan itu. Gembira hati saya. Cita-cita untuk merekam proses, sebentar lagi akan saya dapatkan. Pikir saya.

Sekitar pukul 14.00, teman saya yang lain, guru IT di sekolah kami, pemilik dari http://gurukreatif.wordpress.com/ bertanya kepada saya apakah handy cam-nya sudah didapat? Pertanyaan ini melahirkan sedikit ketidak senangan saya. Lho kok masalah handy camp menjadi bahan yang tidak rahasia lagi? Dari mana Pak Agus tahu saya beli handy cam?

Satu atau dua hari setelah peristiwa tersebut, dengan handy cam yang belum ada di tangan saya meski satu juta rupiah uang pinjaman telah saya sampaikan, tepatnya Jumat tanggal 19 Desember 2003 pukul 09.50 saya ada diantara komunitas sekolah kami dalam assembly. Ini adalah assembly paling terakhir saya sebagai salah satu bagian dari sekolah ini. Dan karenanya, saya diminta untuk berdiri di panggung sebagai perpisahan.

Sebelum Shalat jumat, teman sebelah ruangan saya, yang punya jabatan Junior Primary Principal, meminta saya untuk membuka bingkisan perpisahan disanksikan beberapa teman yang telah berkumpul diruang kantor kami. Mungkin ada sekitar 4 atau 5 orang.

Dan ketika bingkisan saya buka: Handy Cam! Tentu saya girang. Tapi saya masih berpikir beda, lho saya bakal punya dua handy cam? Buru-buru teman sebelah ruangan meminta saya membaca 'surat' yang ditempel di kardus handy cam impian itu (Lihat lampiran yang saya scan).

Terima kasih semua teman di SGJ hingga Desember 2003. Nama Anda terukir indah dalam perjalanan hidup saya. Perintiwa handy cam ini, merupakan drama rekayasa yang sangat dahsyat bagi saya. Terima kasih.

Jakarta, 7 November 2009.

Pensiun?

Sebagai manusia biasa, rasa bosan kadang menghinggapi diri saya. Yaitu perasaan untuk melakukan sesuatu dalam situasi dan kondisi yang rutin dalam rentang waktu tertentu. Dan kebosanan itu sering pula menimpa tidak saja pada suatu kegiatan yang menjadi hobi, tetapi juga dalam menapaki dan menunaikan amanah yang saya jalani dan menjadi profesi yang saya pilih.

Padahal 100 % saya menyadari bahwa, kebosanan ini memiliki implikasi yang tidak sedikit. Misalnya saja soal pendapatan yang menjadi penopang untuk hidup bersama keluarga. Dan alhamdulillah dengan menjadikan poin ini sebagai bahan pertimbangan ketika bosan menjangkiti saya, saya menjadi lebih kuat bertahan. Bertahan menjalani hari-hari yang telah Allah anugerahkan pada saya, yang juga berarti bertahan untuk terus memperoleh rizky-Nya.

Meski demikian, lahan pengabdian baru yang lebih membahagiakan jiwa dan nurani selalu saja menjadi bagian dari masa depan yang harus saya perjuangkan. Bagaimanapun bentuknya itu. Kadang terpikir untuk menerima tawaran sebagaimana yang telah menjadi anugerah Allah di lembaga yang berbeda. Tetapi apa yang saya cari? Dan kadang terpikir juga bagaimana saya mampu membuat sesuatu yang menjadikan orang lain yang ada di sekitar saya sebagai bagiannya. Tetapi keraguan akan kemampuan justru menjadi penghalang untuk melangkahkan kaki memulainya.

Hingga, beberapa waktu lalu SMS dari sahabat yang memberikan balasan atas SMS saya sebelumnya, yang mengabarkan bahwa ia telah 'pensiun' menjadi guru. Ini agak mengagetkan saya. Karena sejak lulus SPG tahun 1984 ia langsung menjadi guru di sekolah favorit di perumahan paling elit di Jakarta Selatan. Bahkan, sejujurnya pada tahun 1985 itu, iri hati sempat bergelayut pada diri saya melihat laju kehidupan yang telah diraih teman saya itu.

Lebih kaget lagi bahwa, teman saya ini juga sedang sibuk mencari pengacara untuk urusan 'pensiun'nya itu. Maka sebagai sahabat saya mencoba untuk menuliskan kalimat empati dan dorongan untuknya.

Mengapa pensiun?


Ya, mengapa pensiun? Kata saya kepada teman saya. Ia menjawab bahwa: Ia menolak untuk menjadi bagian dari lembaganya, yang telah menjadi bagian dari pengamalan ilmunya sebagai guru sejak lulus SPG tahun 1984 hingga Juni 2009 lalu.

Mengapa tidak senang? Karena sebagai guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas harus ia tanggalkan untuk kemudian menjadi sebagai pustakawan. Dan sebagai protes, ia memilih mengundurkan diri.

Saya termenung dengan kisah sahabat tersebut. Beberapa hikmah yang mampu saya cerna dari kisahnya itu antara lain: Pertama, Saya harus belajar untuk tidak mudah menjadi bosan dalam mengemban sebuah amanah. Karena mengemban amanah bagi saya adalah bekerja. Dan bekerja adalah beramal saleh dan menafkahi keluarga. Sahabat saya memang tidak bosan menjadi guru, tetapi ladang amal salehnya sebagai guru sudah pensiun (terputus). Juga nafkah keluarga melalui pengabdiannya selama ini.

Kedua, Saya harus melihat apa yang ingin Allah sampaikan kepada saya melalui seluruh aktivitas dalam setiap kehidupan ini. Dan protes sebagai reaksi dari apa yang sahabat saya lakukan adalah bentuk mengingkari hikmah yang ada di balik menjadi pustakawan. Meski hikmah itu sulit dan kadang pahit.

Ketiga, Semoga saya selalu menyadari siapa saya dalam konstelasi sosial. Baik konstelasi sosial yang bernama sekolah khususnya atau dalam bentuk dan ranah yang lain. Karena hanya dengan pemahaman diri seperti inilah menurut saya yang akan menyelamatkan masa depan kita.

Saya berpikir, jika sahabat saya ini memiliki pemikiran jujur tentang siapa dirinya dalam era yang ada di lembaganya sehingga ia harus menjadi pustakawan, maka ia akan jauh memiliki sifat dan karakter waspada dalam menumbuhkan jiwa dan kompetensi profesionalismenya di bidang yang telah menjadi bagian hidupnya.

Jakarta, 19 November 2009.

05 November 2009

Merasa Paling Benar


Pada sebuah permainan pengisi waktu luang bersama teman-teman satu komplek kontrakan saat masih muda dulu, ada teman kami yang mengemukakan beberapa ketentuan cara bermain sebelum kita memulai permainan tersebut. Misalnya tentang cara menilai, cara menentukan siapa yang menjadi pemenang setelah permainan selesai dan lain sebagainya yang ada di seputar itu (saya sendiri lupa apa yang persis dikemukakan waktu itu).

Namun masalah bukan terletak pada apa yang dikemukakan teman tersebut. Tetapi pada tidak diperkenankannya orang lain untuk juga mengemukakan pendapat. Dengan demikian maka, kami diajak bermain dengan tata cara yang selama ini telah hidup dan melekat pada diri teman saya itu.

Kami menolak. Teman lain meminta dan mengusulkan agar kami melakukan kompromi dalam menentuan aturan mainnya sebelum permainan dimainkan. Yang lain setuju usulan ini. Namun teman saya yang satu ini ngotot untuk menggunakan aturan main sebagaimana selama ini ia main dengan teman-temannya.

Karena dalam kamus teman saya ini, apa yang ada dalam dirinya adalah sebuah kebenaran. Padahal bagi kami, teman saya ini merupakan sosok yang merasa paling benar. Dan merasa paling benar tentu berbeda dengan kebenaran itu sendiri. Wah!

Dan untuk sebuah permainan kali itu, kami mengalami staknasi.

Cerita di atas adalah ilustrasi betapa masih ada diantara kita yang kadang menutup telinga ketika ada teman yang lain bermaksud memberikan kontribusi pada sebuah pekerjaan bersama. Seperti karakter yang teman saya tersebut lakukan.

Bagaimana dengan situasi dan kondisi dimana sekarang ini kita berada? Apakah masih ada teman, saudara, kolega, yang masih memelihara karakter sebagaimana teman saya tersebut miliki? Dalam kadar yang berbeda, saya meyakini karakter merasa paling benar akan selalu ada dan tumbuh dimanapun dan kapanpun, sepanjang kita hanya menggunaan tata nilai dengan cara pandang ego sentris.

Cara pandang dengan konsep ego ini, akan menghapus eksistensi dan atau kompetensi orang diluar dari diri kita dari peta konstelasi sosial. Ia menghapus kesadaran dan kecerdasan sosial kita. Dan inilah awal mula bagi diri kita dalam menuai ketidakberhasilan. Karena, menurut pendapat saya, catatan sebuah nilai itu dipandang berhasil atau tidak berhasil atau kurang berhasil berada dalam ranah sosial.

Semoga ini menjadi bekal bagi saya pribadi untuk menjadi pribadi yang tidak merasa paling benar.

Jakarta, 5 November 2009.

26 October 2009

Merasa Pintar atau Pintar Merasa?

Dalam sebuah pelatihan yang menghadirkan seluruh guru di sebuah sekolah yang berdiri sejak tahun 1980-an, saya diteror pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan yang justru ingin mempertanyakan esensi dari pelatihan yang diselenggarakan secara in house tersebut. Saya yang kebetulan saat itu berdiri sebagai pembimbing mereka harus berpikir tidak saja apa jawaban yang baik untuk pernyataan dan pertanyaannya tersebut. Tetapi sering justru berpikir; Kemana arah pertanyaan atau pernyataannya itu. Haruskah saya berikan jawaban?

Misalnya ketika kita sedang mendiskusikan tentang model pembelajaran yang lebih mementingkan cara pandang dan cara pikir siswa sehingga siswa menjadi lebih terlibat dalam aktifitas di kelas, mereka justru angkat tangan dan berkata; Apakah kita harus lupakan cara belajar ceramah yang selama ini telah terbukti efektif?
Atau ketika saya berbicara tentang bagaimana melihat sekolah lain maju dan bergerak agresif, oleh karenanya kita sebagai bagian dari sekolah swasta tidak boleh lengah menangkap perubahan dan mengikutinya atau jika memungkinkan menjadi pemulanya, karena itu berarti kita sedang membuat kemungkinan hidup sekolah lebih oanjang dan baik, mereka berkata dengan kalimat yang mantap: Sepertinya kita bukan sekolah yang kekurangan siswa. Sekolah kita jauh lebih kompetitif. Atau jika personal, kata-katanya begini: Saya kayaknya ngak ketinggalan amat.

Maka dalam sesi-sesi berikutnya, hampir semua pertanyaan dan penyataannya, meski tidak semua rekan sejawatnya sepakat, saya mencoba untuk bersabar. Dengan tidak selalu terpancing oleh selakan yang dilontarkan.

Saya justru mencoba memahami apa yang ada dalam benaknya ketika kata-kata pertanyaan, selakan atau pernyataannya itu terlontar. Saya mencoba untuk melihat ke dalam diri saya apakah pernah saya rasakan apa yang mereka rasakan saat ini? Dan menduga bahwa teman kita ini sebenarnya memiliki tolok ukur yang berbeda dengan apa yang sedang saya kemukakan. Karenanya, ia merasa tolok ukur saya tidak mengakomodasi apa yang telah dia miliki, apa yang telah berhasil ia capai. Dan kapasitasnya, profesionalismenya serta juga integritasnya sebagai seorang guru.

Dia mungkin berpikir bahwa parameter yang saya kemukakan tentang model belajar siswa, bagamana guru yang profesional dan bagaimana sekolah yang progresif atau yang lainnya, seolah-oleh tidak meletakkan dirinya, sekolahnya pada bagian yang semestinya. Bahwa ajakan saya untuk ayo maju, seolah tidak melihat bahwa ia atau sekolahnya telah maju. Kita tidak sama dalam melihat parameter dan tolok ukur maju itu.

Inilah yang oleh teman saya yang lain disebut dalam sebuah pernyataan bagus. Yaitu merasa pintar. Dan bukan pintar merasa. Saya tidak sempat bertanya apa yang dia maksud dengan istilahnya itu. Tetapi dalam pemahaman saya, penyakit merasa pintar akan berjangkit bilamana kita selalu fokus pada diri sendiri. Fokus yang begitu berlebihan akan menumbuhkan rasa percaya diri yang berlebihan. Dalam situasi seperti ini kita menjadi mudah melupakan keberadaan teman yang ada di sekitar kita dengan kelebihan dan kekurangannya.

Kapan kita keluar dari zona ini? Manakala kita berani jujur melihat siapa kita dalam koordinat sosial yang ada dan dengan parameter yang orang lain punya. Menjadi jujur dalam konteks atau dalam konstelasi sosial bukanlah perkara mudah. Setidaknya ini seperti apa yang sering sara rasakan dan jalani. Karena dalam posisi ini berarti kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Atau bisa jadi justru kita lebih baik menjadi rendah hati dengan memberikan penghormatan setulusnya kepada lingkungan sosial sekitar dimana kita berinteraksi.

Dengan cara inilah kita menjadi pintar merasa. Dan bukan merasa pintar! Semoga penyakit ini dijauhkan dari dalam hati kita. Amien.

Jakarta, 26 Oktober 2009

24 October 2009

'Kali Cilik' dan Fenomena Alam


Ini adalah gambaran sungai kecil atau dalam Bahasa Jawa Kali Cilik, yang terletak tidak lebih 100 mater dari pekarangan rumah orantua saya di Bagelen adalah salah satu saksi perkembangan kehidupan yang agda disekitarnya. Ia mencatat banyak hal ihwal yang pernah terjadi di lingkungan sekitarnya.

Sungai yang ketika Senin, 19 Oktober 2009 lalu saya singgahi untuk kemudian saya abadikan sebagai tanda pengingat.

Sungai yang mengering ketika musim kemarau panjang seperti sekarang ini dan akan meluap ketika hujan deras datang. Sehingga akan membuat alurnya tidak seperti dulu lagi. Ia akan menemukan jalan baru saat air datang secara deras. Benturan air yang datang dari gunung di sebelah utaranya akan sanggup membawa bongkahan rumpun bambu atau menumbangkan dan menghanyutnya pohon kepala yang ada di bagian tepinya.

Dan di musim kemarau seperti sekarang ini, ketika air mengering, akan menyisakan air dan seluruh isi yang ada didalamnya pada bagian sungai yang membentuk cekungan. Semakin dalam cekungan yang dimiliki maka semakin banyak volume air yang ditinggalkan di sungai yang mengering, yang tentunya semakin banyak penghuni di dalamnya yang terjebak. Ada berbagai jenis ikan tawar di dalamnya. Juga ada kepeting yang mampu bersembunyi di balik lubang yang mereka buat.

Sungai inilah yang membuat kami ketika maih diusia kanak hingga remaja kampung, mampu berenang. Tentu ketika air pasang pada musim hujan. Ini dimungkinkan karena sungai kecil ini, pada batas kampung kami akan bertemu dengan Sungai Bogowonto yang berhulu di Kabupaten Wonosobo dan Magelang dan bermuara di Pantai Congot yang jauhnya lebih kurang 4 kilometer dari kampung kami. Ketika volume Bogowonto pasang naik, maka Kali Cilik yang memiliki arus lebih kecil akan membentuk semacam bendungan. Bendungan temporer ini bisa selebar dan sepanjang sungai dengan kedalaman mencapai 4-6 meter. Bendungan yang membuat kami semua aman berenang.

Tapi dengan perubahan waktu, kami sulit menemukan kembali situasi seperti itu. Ketika kemarau datang seperti saat ini, kita bisa melihat wajah Sungai Kecil kami sepert dalam gambar di atas. Dan ketika hujan sedang berada dalam musimnya, air datang titepi tidak untuk jangka panjang. Hujan deras di wilayah hulu sungai ini mungkin hanya bertahan satu pekan air mengaliri dengan volume cukup. Namun setelah itu, air akan mudah hilang seperti ditelan bumi.

Apakah pegunungan yang ada di hulu sungai kami dibiarkan gundul? Tidak juga. Idul Fitri 2007 lalu, saya dan keluarga sengaja mengisi liburan kami dengan mendaki gunung itu. Dan di dalamnya mendapati pohon mahoni, pohon jati dan albasiah yang berusia 5-7 tahun tumbuh dengan suburnya.

Namun ini fenomena Sungai Kecil yang menjadi tetangga rumah oragtua kami di kampung...

Jakarta, 24 Oktober 2009.

Merawat Jenazah

Merawat jenazah adalah sebagian dari akhir dari sebuah kehidupan. Dan menjadi kewajiban bagi kita untuk memahami secara detil sesuai dengan tuntunan Islam. Meski dalam penyelenggaraan perawatan dan pemakaman tidak menjadi kewajiban seluruh muslim, tetapi pemahaman terhadap pengurusan jenazah seyogyanya menjadiu prioritas kita.

Dari semangat inilah saya membeli buku Merawat Jenazah beberapa tahun sebelum ada diantara anggota keluarga kami yang diambil oleh Sang Pemilik Yang Maha Agung. Buku ini pertama sekali saya lihat saat berkunjung di toko buku Dewan Dakwah yang ada di Jalan Kramat Raya.

Secara sekilas, buku yang saya beli ini sudah saya scanning. Dan saya menemukan perbedaan dengan buku yang pertama kali saya pegang di Kramat Raya. Namun saya mencoba memahami secara garis besarnya. Meski, detil tata caranya saya belum menguasainya dengan baik. Penjelasan yang sama saya juga temukan dalam Ringkasan Hadis Bukhari pada bab Jenazah.

Dan sebelum buku yang menjelaskan seluruh tata krama dan tata cara sesuai syariat yang seharusnya tersebut saya kuasai, Ibu Mertua dan Ayahanda saya lebih dahulu dipanggil Illahi Rabbi. Inna lillahi wa inna illaihi raji'un...

Semoga Allah mengampuni kelemahan saya dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan yang diberikan-Nya. Amien.

Jakarta, 24 Oktober 2009.

22 October 2009

Bapak Tidak Ada

Ya. Bapak berpulang kerahmatullah Sabtu, 17 Oktober 2009 pukul 20.30 setelah sepekan sebelumnya, Jumat, 9 Oktober 2009, saya dan adik-adik yang dari Jakarta berkumpul di samping pembaringannya di Kuwojo Bagelen Purworejo. Bapak menyampaikan permohonan maafnya kepada kami. Padahal bagi kami sendiri, tidak terbersit sedikitpun akan adanya kesalahan Bapak kepada kami.

Dari sanubari yang paling tulus saya mendoakannya semoga Allah Swt mengampuni kesalahan dan kekhilafannya. Semoga Allah memberikan pengampunan dosanya. Semoga Allah melapangkan kuburnya. Semoga Allah memberikan tempat yang baik di akherat kelak. Amien ya Rabbal 'alamin. Dan semoga kami yang ditinggalkan mendapat ketabahan hati dan pelajaran berharga untuk hidup yang lebih beriman dimasa mendatang. Amien.

Bapak tidak ada tepat 4 hari setelah Ibu Mertua saya berpulang lebih dahulu. Rabu, 14 Oktober 2009 pukul 05.55 di Jakarta.

Nyaris tidak percaya ketika berita dari kerabat sampai di telinga saya. Meski seyakin-yakinnya bahwa itu pasti terjadi. Dan kala pertama menerima kabar, saya meyakinkan diri saya sendiri: Apa langkah berikutnya yang harus saya ambil?

Itu pulalah pada saat kabar pertama datang dari Adik bahwa kondisi Bapak menurun drastis, saya bertanya kepada adik apa saja yang sedang dilakukan? Maklum ini pertanyaan untuk membuat saya yakin bahwa kondisi terkendali. Mengingat Bapak ada di Purworejo, sedang saya dan dua saudara lainnya berada di Jakarta.

Adik segera meminta tenaga medis yang ada di kampung kami untuk datang dan memberikan pendapat tentang keadaan Bapak saat itu. Seperti biasa, sejak lebih kurang 2-3 tahun belakangan ini kami menyediakan oksigen di rumah. Dan hampir satu bulan terakhir, Bapak menggunakan oksigen tersbut nyaris tanpa henti. Dan Pak Mantri yang ada di kampung kami memberikan beberapa tanda-tanda yang mungkin akan terjadi. Adik bungsu saya menyimak dengan seksama.

Dari Jakarta, saya meminta tolong agar supaya Mamak dan Adik untuk tidak meninggalkan Bapak sendirian. Hingga akhirnya datang telpon dari Adik saya yang lain, yang mengabarkan bahwa Bapak tidak ada.

Waktu sangat cepat. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan Jakarta pada pukul 22.00 pada hari itu, dua setengah jam setelah berita pertama saya terima tentang Bapak, menuju kampung kami dimana kami dibesarkan oleh orangtua kami. Di Desa Kuwojo Bagelen Purworejo Jawa Tengah.

Satu kenangan yang masih sangat jelas dalam ingatan saya adalah kala Bapak membelikan saya dan Adik laki-laki saya yang lain, baju batik motif bunga dengan warna cokelat muda di Pasar Punggur, Metro, Lampung menjelang Idul Fitri, saat usia kami menginjak di kelas 4 dan 5 sekolah dasar. Sebuah kenangan sangat indah. Mengingat Punggur adalah kota kecamatan yang harus kami tempuh lebih kurang 45 menit berkendara sepada dari Sritejo Kencono tempat kami tinggal dengan jalan yang masih tanah pada waktu itu.

Selamat tinggal Bapak...

Jakarta, 22 Oktober 2009.

14 October 2009

Terlambat Mengumpulkan Tugas

Saya yakin bahwa kita semua pernah mengalami peristiwa seperti ini. Terlambat mengumpulkan tugas. Baik saat dulu kita menjadi siswa atau bahkan saat sekarang kita sebagai pegawai. Tapi tunggu dulu, tugas terlambat kita kumpulkan bisa jadi karena kita memiliki alasan yang tepat selain karena perencanaan kita yang kurang matang dalam menyelesaikannya. Alasan inilah yang menurut saya harus selalu menjadi pertimbangan ketika kita sekarang pada posisi sebagai guru atau atasan yang akan menerima tugas-tugas tersebut.

Demikianlah setidaknya apa yang saya pernah alami, baik ketika menjadi guru, menjadi kepala sekolah atau ketika sekarang ini saya diamanahkan untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan. Keterlambatan ini masih sering saya jumpai. Tugas mengumpulkan revisi perencanaan untuk program sekolah tahun berikut, tugas untum mengumpulkan hasil rekapitulasi prestasi seluruh siswa atau tugas-tugas yang lain.

Untuk mengurangi keterlambatan, saya selalu membuat tenggat waktu. Dan sebelum tenggat yang telah ditentukan, hampir selalu saya mengingatkan teman yang saya tugasi tersebut dengan cara bertanya sudah sampai dimana tugas yang saya inginkan tersebut diselesaikan. Banyak teman yang telah merampungakan tugas yang diberikan tersebut dan memberikannya kepada saya saat saya mengingatkan. Ini dilakukan karena teman yang menerima tugas tersebut selain memiliki komitmen terhadap kewajibannya juga memang orang yang sadar bekerja.

Sadar bekerja artinya selalu menyatu antara jiwa dan raga pada setiap melakukan aktivitasnya di kantor. Kesadaran ini membentuk integritas kepribadian untuk menjadi lebih fokus dan lebih menghayati tentang apa yang dilakukannya. Ini bentuk manusia sukses, menurut saya.

Tapi masih ada juga teman yang kadang ketika tenggat sudah habis dan diminta tugasnya, justru berargumen: Maaf Pak, saya masih sibuk mengerjakan yang lain. Kalau alasan ini hanya dipakai sekali saja, saya memahami dengan setulus hati. Namun ada jenis teman yang nyaris menggunakan ini sebagai alasan ketika tugas-tugas yang diberikannya belum kelas. Dan saat itulah saya berpikir, kok justru saya yang tidak pernah merasa sibuk ya? Oleh karenanya saya jadi merenung dan berprasangka; jangan-jangan saya salah memberikan tugas. Atau bisa jadi saya menugasi orang yang semestinya tidak melakukannya?

Dan jika prasangka itu tidak tertahankan, saya akan memberikan tugas tersebut kepada teman yang lain, atau bahkan sering saya sendirilah yang mengerjakan dan menuntaskannya. Meski dengan demikian akhirnya saya membatin juga: Masih perlukan saya dengan teman yang punya model seperti ini?
Jakarta, 14 Oktober 2009