Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 September 2012

Perjalanan si Bontot

Salah satu foto yang dimuat di http://www.indonesia-bern.org
Bersama rombongan dari sanggar tari GCN, Gema Citra Nusantara, yang bermarkas di Cipete, Jakarta Selatan, si Bontot saya menjadi bagian dari rombongan tersebut untuk ikut serta dan tampil di Swiss. Rombongan berangkat untuk dua event yang mengharuskan mereka menampilkan indahnya Indonesia.

Penampilan pertama adalah penampilan di Swiss, yang berita saya dapatkan dapat dibaca di laman KBRI Swiss; http://www.indonesia-bern.org/indonesia-bern/index.php?option=com_content&task=view&id=626&Itemid=1. Penampilan ini berlangsung pada Minggu tanggal 26 Agustus 2012 di kota Zurich, Swiss.

Sedang penampilan kedua di kota Hamburg, Jerman pada Jumat, 31 Agustus 2012. Dua penampilan itu  sukses dam dengan sambutan yang meriah dari penonton yang terdiri dari masyarakat setempat.

Jalan-Jalan

Inilah acara jalan-jalan Bontot dalam perjalanan tersebut bersama rombongan keseniannya.

Di sebuah taman di Swiss.
















Di depan menara Eiffel.























Bersama teman rombongan di Volendam.

Jakarta, 27 Agustus 2012.

22 September 2012

Mudik #14; Mudiklah di Musim Buah

Mencicip durian di depan Pasar Baledono, Purworejo.


Ada yang berbeda ketika perjalanan mudik atau wisata yang kita rencanakan terjadi pada musim buah sedang melimpah. Dimanapun tujuan wisata atau tujuan mudik Anda. Setidaknya ini akan menjadi selingan kuliner yang juga akan menambah lebih beragam lagi. Selain buah akan menjadi pemandangan yang berbeda di setiap tepi jalan yang akan kita lalui, jenis dan harganya pun akan juga berbeda jika kita pergi ke pasar serba ada di kota kita. 

Dan jenis buah yang paling dapat  dengan mudah kita temukan jika sudah musimnya adalah jeruk, manggis, mangga, dan durian. Karena memang diantaranya itulah buah musiman. Sedang salak, hampir setiap waktu kita bisa dapatkan.

Melalui perjalanan darat, bersama kawan-kawan ke Jawa Tengah, dua kali saya  mengalami dengan musik buah itu. Dan karena stok yang melimpah, meski dihinggapi kelelahan, kami sempatkan menyusuri depan Pasar yang ada di kota Purworejo untuk mencicipi duren lokal yang ada. Meski waktu hampir menjelang malam.

Demikian pula pada perjalanan berikutnya, pada saat kembali ke Jakarta, dan musim mangga kueni yang baunya menyengat, tidak kalah menyengatnya dengan durian, berbuah lebat, satu cething (wadah yang terbuat dari anyaman bambu) besar, menemani kami sepanjang perjalanan. Tentu Anda akan berpikir bahwa itu akan menjadi perjalanan yang menyiksa. Tetapi ternyata, karena seluruh anggota perjalanan adalah penggila kueni, maka buah dengan bau yang menyengat itu menjadi hiburan tersendiri bagi kami ketika kami berhenti rehat sejenak dengan mengupasnya bergantian untuk disantap.

Cukup banyak sentra buah yang dapat kita temui sepanjang perjalanan Jakarta- Jawa Tengah. Dan pemandangan seperti itu akan menambah perbendaharaan 'kenikmatan' perjalanan. Itulah sisi-sisi 'kebermaknaan' yang saya dapatkan ketika perjalanan wisata atau mudik berada pada musim buah tiba.

Jakarta, 22 September 2012.

Mudik #13; Memilih Jalur Alternatif dan Wisata

Kabupaten Kuningan dan sekitarnya
Kalau kita melihat legenda dalam peta, hampir selalu saya menggunakan peta Jalur Lebaran, yang setiap tahunnya selalu dibagikan dengan cara gratis di toko buku yang sengaja saya kunjungi menjelang Lebaran tiba atau sekitar pertengahan bulan Ramadhan, terdapat empat (4) klasifikasi atau jenis jalan. Yaitu Jalan Tol, Jalur Utama, Jalur Alternatif, dan Jalur Wisata/Biasa. Tentu jalan untuk kendaraan pribadi yang saya maksudkan.

Dari keempat jenis jalan yang ada, bagi saya sebagai orang yang suka mudik, masing-masingnya memiliki  'kenikmatan' yang berbeda-beda. Tentu ini masing-masingnya saya persepsikan sebagai jalan dalam kondisi lancar dan mulus. Saya tidak sedang membayangkan bagaimana kalau jalan-jalan itu berlubang, rusak, atau bahkan macet. Dan umumnya, ketika Lebaran tiba, dan musik mudik datang, jalan-jalan yang ada memang relatif dalam kondisi baik. Bahkan diantara ruas di provinsi tertentu benar-benar dalam kondisi yang mulus. Dan sebagiannya meski tidak berlubang, tetapi karena efek dari tambalan, maka jalan terasa bergelombang. Kondisi ini pun hanya di provinsi tertentu. Bagi pemudik yang berada di Pulau Jawa, hafal benar provinsi mana yang jalannya selalu dalam kondisi sempurna, baik, dan bahkan jelek.

Jalur Alternatif dan Wisata

Memilih jalur ini ketika melakukan perjalanan seperti mudik, sungguh menjadi kenikmatan tersendiri bagi saya. Karena pilihan ini akan menjadi pilihan minoritas pemudik. Pemudik pada umumnya, akan mengambil jalur utama. Ini tidak dipungkiri karena para pemudik tersebut dibatasi waktu ketika melakukan perjalanan mudiknya. Belum lagi dari waktu yang tersedia telah diambil oleh macet yang berjam-jam di perjalanan. 

Jawa Tengah, www.geocities.ws/kerajinan_jateng/
Oleh karena itu, mudik menjadi bagian perjalanan yang telah saya angan-angankan jauh hari sebeumnya. Terutama waktu yang saya akan gunakan. Kapan saya akan merencanakan berangkat dan pulang. Juga jalur mana saja yang ingin saya eksplorasi untuk mudik yang akan saya lakukan. Angan-angan dan rencana ini menjadi panduan saya untuk menemukan apa yang khas dari daerah-daerah itu. Dan sebagai bagian dari persiapan itu adalah kesiapan fisik dan kendaraan saya.

Apa yang saya temukan di jalur alternatif dan jalur wisata yang pernah saya lalui ketika saya mudik ke Jawa Tengah? Selain jalanan yang relatif  sepi, baik dalam hal fasilitasnya atau juga penggunanya, jalur ini menawarkan berbagai hal yang memang benar-benar lebih murah dibanding di jalur utama. Juga, yang tidak kalah pentingnya, adalah lebih hijau. Pohon pinggir jalan dan rumah penduduk menjadi penghias utama. Dan hal yang paling saya dapatkan adalah 'kenikmatan' batin yang menjadikan daya tarik eksplorasi.

Cobalah suatu kali dalam perjalanan Anda nanti...

Jakarta, 22 September 2012.

16 September 2012

Mudik #12; Kapan Bapak Mengajak Saya Keliling Yogyakarta?

Di penginapan Pantai Glagah, Kokap, DI Yogyakarta.
Inilah ungkapan pasangan hidup dari seorang teman yang kebetulan kalau mudik ke Yogyakarta. Sedang pasangannya, sebagaimana teman saya yang mengajar di TK yang saya ungkapkan dalam artikel saya sebelumnya, adalah seorang istri yang memang bukan asli dari udik. Karena lahir dan besar justru di Sumatera Utara. Ungakapannya itu ia sampaikan ketika kami sedang berbincang desninasi mana saja yang bagus yang dapat ia kunjungi di Yogyakarta selain Kraton, Jalan Malioboro, Pantai Parangtritis, dan dua Candi besar yang relatif tidak jauh dari Yogyakarta.

Dan atas pertanyaan itu, saya kemukakan beberapa tempat yang mungkin dapat menjadi altermatif kunjungan. Tempat-tempat itu memang tidak terlalu wah, sebagaimana lima tempat populer tersebut. Diantaranya yang saya sebutkan adalah makan makanan serba jamur di Jejamuran, beli tas Dowa di Godean, membeli oleh-oleh coklat Monggo di Kota Gede, membeli kerajinan dari kulit di Manding, Bantul, atau sekedar cuci mata melihat hasil kerajinan gerabah di Kasongan, atau mengintip proyek wah yang kurang berhasi di Pasar Seni Gabusan, atau juga sederet pantai yang sungguh eksotik di Wonosari seperti Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Sepanjang, Pantai Drini, dan Pantai Krakal. Atau tempat makan yang jumlahnya cukup sebagai pilihan sepanjang kita berada di Yogyakarta. 

Tempat-tempat  tersebut masih menyisakan beberapa destinasi yang belum saya sebutkan. Tetapi yang paling penting yang menjadi rekomendasi saya kepada teman saat itu adalah bahwa, Yogyakarta tidak sekedar Pasar Bringharjo atau Jalan Malioboro.  Untuk itulah maka jangan lewatkan waktu Anda jika berkunjung atau mudik ke Yogyakarta dan hanya menghabiskan waktu untuk berdiam diri di rumah. Karena tempat-tempat tersebut dapat dijangkau dengan mudah dan murah manakala Anda berkendaraan sendiri.

Untuk itulah maka ungkapan pasangan hidup kawan saya itu menjadi pas untuk disampaikan kepada suaminya sebagai tuntutan; Kapan Bapak ingin mengajak saya 'berkeliling' Jogja pada saat mudik lebaran nanti?
Jakarta, 15 September 2012.

15 September 2012

Mudik #11; Tahun Depan Saya Harus Mudik

"Tahun depan saya harus ajak suami saya mudik Pak Agus."  Demikian ungkap seorang teman yang mengajar di TK ketika saya menyampaikan indahnya alam Indonesia pada saat pertemuan rutin dengan mereka di hari pertama masuk sekolah setelah libur Idul Fitri, yang antara lain bercerita tentang perjalanan mudik saya beberapa waktu lalu. 

"Mengapa harus demikian? Bukankah tahun ini Ibu juga bisa mudik?" Tanya saya kepadanya. Karena toh, anak-anak ibu tersebut, sepanjang saya tahu sudah besar-besar, yang tidak lagi membuatnya repot dalam mempersiapkan perjalanan darat yang panjang. Selain juga tentunya kendaraan.Dan, bukankah suami itu itu berasal dari sebuah kampung yang ada di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang tidak jauh bila ditempuh dengan kendaraan darat sekalipun?

"Benar Pak. Sebelum-sebelumnya, sejujurnya, saya tidak suka mudik di saat Idul Fitri bila diajak suami. Tetapi setelah mendengar cerita Pak Agus tentang serunya mudik, saya benar-benar ingin mencobanya." Paparnya dengan penuh antusias. Dan pada saat saya bertanya kepadanya mengapa ia tidak terlalu antusias untuk melakukan perjalanan mudik, ibu itu buka kartu bahwa pada setiap mudik, suaminya selalu melakukan ritual perjalanan yang selalu serupa. Jalan yang dilalui baik saat berangkat dari Jakarta menuju kampung halaman yang berada di Tasikmalaya, dan mengisi waktu ketika di kampung, hanya semacam rutinitas.

Karenanya, sebagai anak yang lahir dan besar di Jakarta, yang selalu berada dalam keramaian akan hiruk pikuknya kota di siang hari dan panorama lampu pijar dan lampu neon di malam hari, akan menjadi terasing ketika berada di tempat sepi ketika di kampung, atau bahkan di malam yang hitam menjadikan perasaannya dihuni oleh rasa ketidakbetahan. Dengan begitu, maka perjalanan dan keberadaan di kampung sebagaimana yang ia jalani selama ini, tidak lebih adalah untuk bakti kepada suami.

Dan ketika mendengar bagaimana saya menikmati perjalanan mudik, yang kemudian saya maknai juga sebagai perjalanan wisata, ia berbinar-binar ketika mengutarakan niatannya untuk mudik di musim lebaran tahun depan. Ada mimpi yang akan ditawarkan kepada suaminya agar mudik tahun depan lebih ditingkatkan kebermaknaannya. Ia akan menawar agar rute jalan yang dilaluinya tidak selalu Jakarta - Purbalenyi - Nagreg - Limbangan- dan seterusnya serta sebaliknya. Ia akan sekali waktu meminta melalui Garut, atau mungkin berputar melalui Purwakarta - Sumedang? Atau mungkin setelah melalui Garut akan meminta suaminya untuk melanjutkan perjalanan ke arah selatan hingga Pamengpeuk?

Jakarta, 15 September 2012.

Mudik #10; Bagaimana Menikmati Jalan?

Sebagai catatan caya pada perjalanan mudik pada Idul Fitri tahun ini (1433 H/2012), ada satu hal yang mungkin baik untuk saya tuliskan disini, yaitu berkenaan dengan usaha saya mempromosikan enak, nikmat, dan senangnya perjalanan yang akan kami jalani selama berjam-jam dengan berkendaraan darat, tentunya, agar anak-anak dan istri saya tidak menjadikan lamanya perjalanan darat sebagai sebuah hambatan atau bahkan pengalaman jelek sehingga tidak ada celah untuk dapat menikmati. Usaha ini perlu saya lakukan agar ketika mudik di masa berikutnya bukan sebuah peristiwa keterpaksaan bagi mereka. Tetapi sebaliknya, ketika mudik, mereka akan menyongsong dan melakukannya dengan penuh antusiasme.

Mengapa demikian? Karena dari seluruh anggota keluarga saya, yang benar-benar memaknai mudik sebagai perjalanan menyenangkan adalah saya sendiri. Ini karena saya punya ikatan batin dan emosi terhadap daerah tujuan mudik. Sementara istri dan anak-anak saya, adalah mereka yang tidak mengenal budaya mudik. Yang meraka bayangkan ketika saya mengajaknya mudik adalah perjalanan berwisata. Untuk itulah saya mencoba sekuat tenaga agar setiap perjalanan mudik adalah bagian hidup kami yang menggairahkan bagi seluruh keluarga. 

Usaha Saya

Apa usaha saya untuk mewujudkan setiap perjalanan mudik sebagai bagian hidup yang menyenangkan bagi kami sekeluarga? Mungkin inilah ikhtiar yang selama ini saya lakukan, yang setidaknya membuahkan hasil.  Apa indikator hasil itu? Sederhana saya, yaitu ketika kita rencanakan untuk mudik, maka tidak ada resisten dari anggota keluarga. Bahkan kami antusias untuk merenacanaka destinasi sebagai pengisi perjalanan mudik itu. Juga membuat keputusan rute perjalanan dari yang saya ajukan.

Usaha itu adalah; Pertama, Menguasai daerah dan perjalanan dari asal ke tujuan hingga kembali ke asal dimana kami berangkat. Yaitu Jakarta, sebagai awal perjalanan kami, menuju Purworejo, sebagai daerah tujuan kami. Pemahaman ini kebutulan saya peroleh dari proses berulang kali saya melakukan mudik. Baik mudik dengan berkendara dengan kendaraan sendiri atau dengan naik kendaraan umum. Selain juga kegemaran saya untuk mengumpulkan peta mudik yang secara gratis saya dapatkan di toko buka yang saya kunjungi setiap menjelang akhir bulan Ramadhan.


Bersama teman di Congot, Kokap, 2009.
Selain rute jalan utama, saya juga mencoba mencicipi jalan-jalan alternatif dan jalur wisata, serta destinasi. juga dibeberapa tempat, adalah tempat makan yang menyajikan sesuatu yang berbeda.

Kedua, Berani melakukan eksplorasi perjalanan dengan cara tidak selalu memilih jalur mudik yang sama 100 %. Baik barangkat dan pulang, atau mudik tahun ini dengan tahun sebelumnya atau tahun berikutnya. Pada awalnya, saya mempunyai perasaan bahwa dalam setiap mencoba sesuatu yang baru, dalam hal ini melalui jalur mudik yang baru, ada sedikit ketidakyakinan dalam diri, atau serang dalam bentuk kekawatiran. Namun dalam perjalanan berikutnya, dengan keyakinan kepada kondisi tubuh dan kendaraan, maka peristiwa melalui jalan yang sebelumnya belum pernah saya pilih, justru menjadi sesuatu yang penuh antusiasme. Dan ini justru memberikan kesan menantang.

Ketika, mempromosikan daerah-daerah yang kami lewati, sebagaimana pemandu wisata ketika sedang memandu para touris. Ini juga membawa suasana di dalam kendaraan yang tidak menoton dengan musik. Dan obrolan ini, juga membawa kehangatan yang menggairahkan.

Jakarta, 9-15 September 2012