Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Juli 2013

K-13 #9; Sebagai Momentum Perubahan

Dalam tiga pekan terakhir sebelum Ramadhan 1434 H ini berakhir, saya sudah mendapatkan beberapa feedback dari para guru yang telah mengikuti untuk kesekian kalinya pelatihan Kurikulum 2013. Dan pada sesi terakhir pelatihan tersebut, ada gelombang guru-guru yang harus ikut training untuk menjadi trainer, yang merupakan program dari Kemendikbud. Setelah sebelumnya kami secara swadaya mengundang nara sumber untuk memberikan pelatihan secara internal dalam dua tahap.

Dan semua yang dapat saya terima sebagai feedback dari para guru-guru tersebut adalah; kegairahannya dengan sesuatu yang seperti tercecer dan baru saja ditemukan. Luar biasa menggembirakan juga buat kami, khususnya saya. Kegairahan itulah yang menjadi momentum bagi kami untuk mengubah apa yang selama ini kami rasakan telah cukup. Yaitu gaya mengajar di dalam kelas.

Momentum

"Saya sekarang benar-benar menyadari kalau anak-anak di dalam kelas tidak cukup kalau hanya kita tangani sebagaimana selama ini kita lakukan Pak. Kasihan. Pantas kalau anak-anak itu suka seperti bengal ya Pak. Mungkin itu semacam protes kepada kami?" Begitu komentar seorang teman guru setelah mengikuti kegiatan pelatihan dari Kemendikbud.

"Saya bersyukur atas dijadikannya sekolah kita sebagai percontohan bagi sekolah lain untuk pelaksanaan Kurikulum 2013. Kita jadi mendapat kesempatan pertama untuk merepkan kurikulum baru ini Pak. Terlebih lagi untuk teatik integratif, sekolah kita telah melaksanakannya beberapa tahun yang lalu. Jadi, ini sungguh menjadi pengalaman berharga." Kata guru yang lain yang juga telah keluar dari kewajiban mengikuti pelatihan di Bandung selama sepekan.

"Jadi apa dan bagaimana kita ke depan? Tentunya dalam menjalankan atau melaksanakan Kurikulum 2013 dalam kehidupan sehari-hari di dalam kelas saat guru dan siswa berinteraksi?" Tanya saya dalam diskusi kecil itu.

Dari percakapan-percakapan itu saya dan teman-teman seperti menemukan momentum untuk berbenah diri sesegera mungkin sebelum semangat para teman itu menguap di telah masa. Maka langkah awalnya adalah bertemu bersama-sama untuk mendiskusikan posisi kita sekarang dan arah mana yang akan kita jalani bersama. 

Saya bersemangat sekali ketika guru menyadari akan bagaimana yang telah mereka jalani selama ini dibenahinya. Utamanya karena selama ini mereka merasakan ketidak atau kekurang peuliannya terhadap kondisi dan dinamika anak di dlam kelas saat pembelajaran berlangsung. Teman-teman itu kemarin merasa telah cukup dengan apa yang dilaksanakannya di dalam kelas. Karena perasaan cukup itulah maka teman-teman tidak merasa perlu lagi dalam mengintrospeksi diri untuk membuat pembaharuan dalam pelaksanaan pembelajarannya.

Maka dengan kegiatan mereka pada saat pelatihan Kurikulum 2013, dimana mereka merasakan adanya sesuatu yang tercecer dalam melakukan pembalajaran selama ini, sebagai momentum untuk perubahan. Semoga!

Jakarta, 31 Juli 2013

MOS Siswa Baru dan Bullying

Ada berita sedih dari dunia pendidikan pada pekan pertama tahun pelajaran 2013/2014 ini,  yang  kita baca pada sebuah surat kabar harian. Diberitakan bahwa ada seorang anak didik yang  meninggal dunia ketika akan dibawa ke rumah sakit setelah penutupan kegiatan MOS di sebuah sekolah menengah atas di Kabupaten Bantul. Meski demikian, menurut berita tersebut, penyebab kematian dari anak didik itu belum bisa dipastikan.
Berita di Kompas, Minggu, 21 Juli 2013, halaman 11.
Selain berita yang dirilis di harian Kompas tersebut, Kedaulatan Rakyat online pada Sabtu, 20 Juli 2013 juga memberitakan hal yang sama. Meski, sekali lagi berita itu tidak memastikan penyebab dari gugurnya siswi baru yang dimaksud.

Capture berita yang dimuat dalam halaman KR yang dikutip dari http://krjogja.com/read/181048/orangtua-ragukan-keterangan-sekolah.kr


MOS dan Bullying

Jika saya mencoba melihat apa yang ada dalam ketentuan dari Lampiran Keputusan dari Kepala Dinas Pendidikan, Provinsi DI Yogyakarta,  Nomor 188/395, tanggal, 30 Mei 2013, Tentang Pedoman Penyusunan Kalender Pendidikan Satuan Pendidikan di Kota Yogyakarta Tahun Pelajaran 2013/2014. Pada poin D dalam lampiran tersebut, yang menjelaskan tentang Kegiatan Awal Tahun Pelajaran, pada pasal 1 sampai 2 dijelaskan secara singkat rambu-rambunya sebagai berikut:

1.  Kegiatan awal tahun pelajaran bagi siswa baru diisi dengan kegiatan pengenalan  
     sekolah selama 3 (tiga) hari, dimulai tanggal 15Juli 2013;
2.  Pelaksanaan kegiatan pengenalan sekolah dimulai pukul 07.00 WIB dan diakhiri 
     maksimal pukul 14.00 WIB;

Dari cuplikan tersebut, saya saya mencoba memahami apa yang sesungguhnya diinginkan oleh Dinas Pendidikan inginkan dan maksudkan dengan kegiatan MOS atau kegiatan awal tahun pelajaran tersebut. Tentunya pihak Dinas Pendidikan memberikan rambu-rambu tentang bagaimana dengan pelaksanaan MOS yang semestinya.  Dan meski rambu-rambu yang ada itu  minim, maka rambu-rambu itulah yang dapat menjadikan pijakan bagi setiap sekolah dalam memberikan pengenalan lingkungan sekolah kepada para siswa barunya. 

Bagi saya, yang juga adalah bagian dari sebuah sistem di sekolah, pengenalan lingkungan sekolah kepada para siswa barunya, jika dilakukan oleh guru-guru profesional di sekolah masing-masing, pasti akan memberikan dampak yang baik untuk para siswa baru tersebut. Namun saya menduga bahwa banyak sekolah yang ketika melakukan kegiatan  pengenalan lingkungan sekolah kepada para siswa barunya dilakukan oleh para guru-gurunya. Saya menduga, semoga 100% salah (?), bahwa sekolah, dalam hal ini guru, telah mengalihkan tugas pengenalan tersebut kepada para pengurus OSIS di sekolah tersebut, yang adalah para senior dari  siswa baru itu. Kondisi ini, jika tidak ada atau kurang pengawasan dari para guru dan pendidik secara terus menerus, maka tidak bisa disalahkan jika masih ada budaya senioritas yang tetap ditumbuhkan. Dengan budaya senioritas inilah, dalam asumsi saya,  salah satu yang menjadi lahirnya bullying di sekolah.

Pertanyaannya, apakah untuk pengenalan tentang lingkungan sekolah kepada para siswa barunya sekolah (baca: Guru) harus melepaskan tanggung jawab itu kepada para seniornya? Inilah pertanyaan yang harus menjadi titik introspeksi kita sebagai guru di sekolah, atau semua yang bergerak di alam pendidikan formal jika kita berkomitmen melenyapkan bullying.
 

Jakarta, 22-31 Juli 2013.

Kos Mahasiswa

Beberapa waktu ini, saya baru saja selesai mengantarkan anak kami untuk memilih kamar kos. Dan tampaknya perburuan lokasi kos masih akan berlanjut setelah Idul Fitri ini. Sebuah pengalaman yang semestinya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Namun perlu juga saya catat sebagai pengingat akan apa yang telah kami jalani dalam masa-masa awal kuliah nak bontot saya. Yang antara lain adalah mencari tempat kos yang cocok. Cocok jarak lokasi kos ke kampus. Cocok kondisi dan fasilitas yang memang dibutuhkan. Cocok dengan harga dan sekaligus dengan cara pembayarannya. Itu semua beradu dalam satu kepentingan.

Dan itu pulalah yang kami jalani beberapa waktu yang lalu dan juga nanti setelah Idul Fitri. Yang pasti, kami akan mendatangi rumah-rumah kos, yang kadang satu dengan lainnya tidak dalam satu lokasi yang berdekatan. Alhasil, kalau lokasi kos satu dengan lainnya berjauhan atau bahkan beda lokasi, maka dapat dibayangkan berapa kali kami harus mematikan dan menyalakan mesin kendaraan. Belum lagi jika lokasi yang satu dengan lokasi yang lain itu dihubungkan oleh jalan yang memang tidak dirancang sejak awal. Baik kondisi jalannya atau juga belok dan menikungnya.

Kampus Relokasi dan Kampus Tetap

Tentang kondisi jalan dn juga bentuk jalannya, sejauh dari pengalaman saya, tampaknya banyak sekali dipengaruhi oleh apakah kampus yang menjadi tempat kuliah itu adalah relokasi atau tetap. Relokasi artinya, karena satu dan lain hal maka lokasi harus berpindah. Dn karena lokasi tempat berpindahnya itu eks ladang atau kebun, maka pertumbuhan hunian disekitar kampus akan kurang tertata dengan baik. Utamanya yang menyangkut akses jalan. Sedang di kampus yang tetap, belum ada relokasi karena dianggap masih mencukupi, maka kondisi akses jalannya relatif teratur.

Dengan gambaran seperti itu, dapat dibayangkan bagaimana jika Anda yang sedang berkendara  terjebak di gang atau jalan yang berada di sebuah rumah-rumah kos dengan infrastrukstur jalan yang kurang mendukung. Meski akan ada solusi, pengalaman saya, itu menjadi situasi yang tidak mengenakkan. Bersyukur jika kita mengendarai kendaraan roda dua.

Berbeda dengan lingkungan rumah kos yang adalah perumahan. Disana jalan-jalan sudah tertata. Meski kondisi jalan itu tidak semulus jalan tol, namun tetap memberikan kepastian bagi penggunanya. Setidaknya para pengguna akan terbebas dari was-was jika harus bertemu dengan kendaraan lain.

Fasilistas VS 'Kenyamanan'

Selain kondisi jalanan, dari pengalaman yang baru saja saya lakoni, adalah bagaimana para calon penghuni kos itu ditawari dan disuguhi tentang fasilitas kos dan 'kenyamanan'. Dua hal yang juga berkolaborasi dengan lokasi serta jarak kos-kampus. Dan itu semua bermuara kepada biaya.

Saya teringat pada masa puluhan tahun yang lalu ketika saya berkunjung di tempat kos sahabat saya di Bulak Sumur. Bagaimana anak-anak putri yang kos mendapatkan kamar di dalam rumah induk kosnya. Sedang mahasiswa putranya berada di dalam sebuah paviliun yang dibangun di samping rumah utama. Juga ketika saya berkunjung di daerah UH, dimana satu kamar kos dengan divan, diisi oleh beberapa teman. Sebuah kondidi yang sekarang ini sangat berbeda. Dimana wi-fi atau bahkan air panas serta pantauan cctv menjadi ikon bagi sebuah tempat kos.

Dan itu semua pasti karena kos menjadi sebuah komuditi utama bagi beberapa orang di lokasi tertentu. Tidak ada yang keliru. Tetapi ada sesuatu yangberubah dalam kemajuan hidup kita. Tentu bagi mereka yang memang pencari tempat kos.

Jakarta, 24-31 Juli 2013.

30 Juli 2013

Ketika Anak Menilai Profesi Orangtua

Inilah kisah yang sebenarnya menggelikan saya sendiri tepat ketika saya megetahuinya, tetapi justru dibalik cerita inilah sekaligus cermin seuah kecerdasan yang luar biasa pada diri anak didik kami. 

Inilah kisah yang saya dapatkan dari siswa kelas awal di sekolah dasar. Sebuah penilaian tentang profesi yang disandang oleh orangtua siswa, yang juga berarti adalah profesi dari orangtua mereka juga, namun tetap dari kacamata penilaian seorang anak yang orisinil. Namun mengagetkan!

Beginilah kira-kira cerita itu sampai kepada saya dari seorang guru. Ketika di dalam kelas, seorang siswa bersama bundanya, dihadapan gurunya;

"Kalau besar nanti Aku tidak ingin menjadi d***** Bun." Demikian seorang anak berkata kepada Bundanya di sela-sela menunggu giliran dia untuk diinterviu oleh kedua orangtua dihadapan guru pada saat pelaksanaan Konferensi Siswa di sebuah ruang kelas.
"Mengapa harus sepertui itu? Bukankah dulu saat masih di bangku Taman Kanak-Kanak kamu ingin sekali membantu orang susah?" Kata Bundanya mencoba membangkitkan ingatan si anak.

"Benar. Tapi itu dulu Bunda. Sekarang aku berubah inginnya." Jelas si anak.
"Mengapa bisa dan harus berubah?" Desak sang bunda kepada anaknya. 
"Bunda lihat M**** temenku itu. Diakan tidak diurus oleh Ayah dan Bundanya. Karena Ayah dan Bundanya menjadi d*****. Jadi Ayah dan Bundanya selalu sibuk. Setiap hari yang membantu M**** hanya mbaknya."

Tercengang

Bagi saya, mendapatkan cerita dalam bentuk dialog sebagaimana tersebut diatas adalah sebuah penemuan yang ajaib. Karena ini dilakukan oleh anak-anak dalam usianya yang masih relatif muda. Tercengang saya dibuatnya. Begitu jauhkah anak-anak itu dalam menganalisa fenomena lingkungannya? Mengagumkan bukan?

Kalimat anak dalam dialog tersebut benar-benar tidak meragukan tentang kualitas berfikir si anak didik kami tersebut. Ini merupakan bukti dari pencapaian cara berfikir tingkat tinggi kalau kita ingin memetakannya dengan ranah kognitif yang terdapat dalam taksonomi Bloom.

Jakarta, 11 Juni - 30 Juli 2013.

Bertemu untuk Memacu Energi

Entah apa yang menjadi istimewa bagi kami, khususnya saya sendiri, jika bertemu, berkumpul, dan bertukar cerita dengan teman-teman yang pernah bekerja dalam lingkungan kantor yang sama. Tetapi dari apa yag saya rasakan dan dapatkan, pertemuan itu setidaknya telah memberikan tambahan semangat dan pompaan energi yang sulit saya dapatkan jikapun saya mencari alternatif lain. Maka ketika seorang teman mengirimkan pesan untuk sebuah pertemuan, saya langsung mengiyakan tanpa melihat dahulu sedang dimana posisi saya kala itu semestinya.
Sebuah pertemuan di sebuah warung di Alam Sutera, Tangerang.
Itulah setidaknya jawaban spontan yag saya berikan dengan ajakan pertemuan tersebut. Ada terlintas nama-nama yang ingin sekali saya berjumpa dan oleh karenanya untuk segera memberikan kabar usulan tersebut. Namun berulangkali nama-nama itu terlintas di kepala pada saat saya sedang dengan konsentrasi lain, namun terlupakan hingga pertemuan itu benar-benar telah dilakukan.

Juga terlintas pilihan jalan mana yang nantinya akan saya pilih untuk menuju lokasi. Ini memang masalah klasik saya. Karena posisi saya nanti ada di bilangan Tebet, sementara  lokasi pertemuan berada di wilayah Tangerang. Terbayang bagaimana saya harus berebut jalan nanti begitu akan masuk lajur jalan tol Tangerang. Belum lagi bagaimana saya harus menabung sabar ketika dari Tol Cawang untuk tembus ke Fly Over Tomang. Tapi harapan untuk bertemu dan menemukan tmbahan energi, semua harus saya jalani.

Cerita yang Memacu Energi

Benar saja. Bahwa pertemuan itu hanya berisi cerita tentang kabar masing-masing, tentunya dengan kesibukannya yang sedang hit. Termasuk juga adalah cerita tentang teman-teman yang masih berada di kandang kami yang lama. Pun tentang kabar teman-teman kami yang juga telah bermigrasi ke lokasi pekerjaan yang berbeda, yang kala itu terlupakan untuk diajak serta. Hanya itu.

Tapi itulah peristiwa katarsis yang sungguh menyejukkan hati sanubari dan menyengat di otak pikiran saya. Karena kami masing-masing dapat melihat perbedaan kami masing-masing. Dan pada titik itulah kami saling memahami dan kemudian saling mensyukuri dengan apa yang kami miliki masing-masing.

Dari sepenggal pertemuan itulah energi saya terpacu kembali untuk terus menapaki amanah yang ada. Tentu kami juga saling berharap kebaikan untuk masa depan kami masing-masing. Amin.

Jakarta, 30 Juli 2013.

Menemukan Kedermawanan dalam Sebuah Makanan

Baru-baru ini, untuk kesekian kalinya, kami setiap guru dan karyawan yang ada tanpa terkecuali, mendapatkan kiriman makanan istimewa dari seorang yang dermawan. Ini sekali lagi, adalah sesuatu yang patut kami kenang. Bukan karena siapa yang mengirimkan makanan itu, juga bukan karena jenis makanan itu yang dikirimkan kepada kami semua, tetapi lebih kepada sikap dan perilaku dermawan.

Satu paket untuk setiap orang...
Itulah bentuk yang hampir dua hingga tiga bulan sekali kami menerima kiriman. Yang totalnya, kalau ingin di jumlah pengeluarannya, maka lebih dari cukup untuk melunasi uang sekolah di sekolah swasta selama kurun waktu satu atau bahkan dua  tahun pelajaran. Sebuah masa yang agaknya menjadi istimewa jika saya akan perbandingkan dengan beberapa fakta yang ada bahwa beberapa diantara para orangtua siswa kami masih belum bisa melunasi uang sekolah tepat pada tanggal yang telah disepakati bersama?

Ini karena ketidaktepatan dalam melakukan pembayaran uang sekolah tersebut bukan karena kesulitan keuangan yang sedang dialami oleh keluarga atau bahkan perusahaannya. Karena secara kasat mata aya dapat bertemu orang-orang yang seperti itu di pagi hari saat mengantar buah harinya di sekolah dengan menumpang kendaraan seharga tidak kurang dari 800 juta warna hitam!

Jadi, dari bungkusan makanan istimewa yang kami terima (kembali) pada suatu siang itu, memberikan pembelajaran buat saya sendiri bahwa, dermawan adalah sebuah sikap luhur yang sekarang harus menjadi jalan berpikir dan bertindak kita. Seberapapun itu, tanpa harus mengkawatirkan apa yang tersisa untuk saya?

Jakarta, 24-30  Juli 2013.

Teman Perubahan

Di sekolah, sebagai miniatur dari sebuah masyarakat dalam bentuk sebuah lembaga, maka isu perubahan juga menjadi bagian yang inheren bagi kelangsungan hidup yang bahagia dan mensejahterakan anggota yang ada di dalamnya. Bahkan untuk memberikan daya juang dan darah segar bagi sebuah pembaharuan dan perubahan di dalamnya, maka sekolah juga ada yang mengusungnya sebagai nobel industry, atau juga ada yang mendeklarasikan bahwa pendidikan sebagai usaha jasa. Deklarasi ini semata-mata untuk memberikan arah kepada seluruh angotanya agar tetap setia pada sebuah pembaharuan, atau yang sering disebut sebagai inovasi. Baik pada tataran organisas dan sistem, staffing, serta pelaksaan kesehariannya.

Semua upaya dan usaha tersebut tidak lain adalah untuk memberikan kepastian tentang kelangsungan dan eksistensi bagi lembaga tersebut. Karena dengan kelangsungan itulah maka seluruh denyut yang ada di semua sisi sebuah organisasi akan tetap bergerak. Ini terutama saya kemukakan untuk sebuah lembaga swasta. Lembaga yang menjadikan dana masyarakat sebagai sumber utama bagi kelangsungan hidupnya.

Mengingat masih sedikit dan minimnya sokongan dalam bentuk subsidi dana dari pihak berkepentingan kepada lembaga yag bernama sekolah swasta. Dan jika dana dari masyarakat tidak dijadikan sebagai upaya lembaga tersebut dalam memperkokoh eksistensinya, maka kehabisan tenaga, kelelahan, dan akhirnya roboh, adalah sebuah implikasi pasti bagi sebuah lembaga swasta tersebut.

Teman Perubahan

Dalam situasi yang demikianlah maka sebuah perubahan, sebuah pembaharuan, sebuah inovasi, agar ia menjadi bagian internal dalam kehidupan di sebuah organisasi dan menjadi bagian dari etos kerja, diperlukan teman perubahan. Ia akan menjadi fasilitator, motivator, dan sering sebagai direction atau pemandu.

Sosok seperti itulah yang akan memberikan jaminan akselerasi bagi terjadinya sebuah gerakan nyata inovasi. Dimana perubahan tidak hanya selesai pada tataran konseptual saja tetapi harus dipastkan terjadi pada tataran operasional.

Karena hanya perubahan yang terjadi pada tataran hidup sehari-hari sajalah yang akan mampu memberikan implikasi kepada kepastian dari sebuah eksistensi sebuah lembaga. Sekali lagi, ini untuk kami yang adalah lembaga pendidikan swasta.  

Lalu, siapakah teman perubahan itu seharusnya jika kita sama-sama menengok  kepada sekolah atau lembaga kita masing-masing? Adakah orangnya itu? Atau mungkinkah itu adalah Anda sendiri?

Jakarta, 28 Juli 2013.

Mudik 2013 #4; Merubah Rute Mudik

Beberapa saat lalu, ketika Ramadhan baru saja bergulir, saya mengajak istri dan anak-anak untuk diskusi tentang perjalanan mudik. Berapalama waktu yang akan kami butuhkan untuk mudik. Kapan   hari paling tepat, sesuai dengan kegiatan keluarga di Jakarta, kami akan berangkat mudik. Juga rute atau jalur yang akan kami pilih untuk dilalui. Dan berkenaan dengan jalur mudik yang akan kami lalui, juga adalah persiapan konsumsi yang perlu kami persiapkan untuk dibawa serta.

"Jadi kita mudik Yah, tahun ini?" Kata serep saya sebagai pengemudi, yang juga adalah si sulung. Dari nada bicaranya, tampaknya ia rela jika kami memutuskan untuk tidak mudik. Mungkin ada alasan yang tersembunyi sehingga ia memilih untuk tidak mudik.  Tapi sebagai bagian dari tim, maka jika pun mudik keputusan kami, maka ia akan siap sedia.

"InsyaAllah Mas. Biar seru di rumah Mbah di kampung." Jawab saya.

***
Lalu, setelah waktu berganti, bersamaan dengan adanya agenda tambahan yang harus kami kerjakan bersama dngan si bontot, maka rute dan jalur mudik yang sebelumnya sudah kami bahas termasuk di dalamnya adalah jadwal 2 malam menginap di dua kota, tampaknya batal. Meski belum dapat kami katakan batal 100%, namun kemungkinan batal itu terbayang.

Jalur yang semula kami pilih adalah Pantura untuk menuju ke arah timur, nampaknya harus memilih jalur selatan sejak kami meninggalkan Jakarta atau kembalinya. Dan itupun kami harus melakukan persinggahan di sebuah kota untuk menurunkan beberpa muatan yang cukup mengganggu jika muatan itu tetap kami bawa-bawa dan baru kami turunkan ketika kami kembali ke Jakarta. Oleh karenanya, maka jika itu nanti yang menjadi pilihan rute perjalanan kami, menurunkan beberapa peralatan anak kos, akan menjadi prioritas pertama sebelum kami melanjutkan perjalan ke arah timur.

Meski demikian, kami berharap bahwa perubahan jadwal dan rute dalam perjalanan mudik kami tetap akan menyenangkan. Semoga!

Jakarta, 24-30 Juli 2013.

24 Juli 2013

Anak-Anak Kembali Sekolah

Senin, 15 Juli lalu, menjadi hari pertama masuk sekolah bagi anak-anak didik baru di sekolah kami. Mereka adalah yang duduk di bangku Taman Kanak-kanak kelompok A dan Kelompok Bermain, Kelas 1 SD, dan juga kelas 7 SMP. Sementara bagi mereka yang menjadi siswa lama, atau mereka yang naik kelas, mereka mendapat bonus libur satu hari lagi. Karena untuk mereka, masuk sekolah sebagai hari awal belajar adalah Selasa, 16 Juli.

Sebagai hari pertama masuk sekolah, tentu itu menjadi hari yang pasti menyenangkan untuk mereka, anak-anak didik baru itu, dan tentunya juga kami sebagai guru dan pendidik di sekolah. Karena sejak hari itu, kami akan jalani tahun pelajaran 2013/2014.

Tahun yang pasti akan menjadi penantian kita bersama dalam mengarunginya. Karena pada tahun pelajarn itu, akan ada dua hal istimewa di setiap temgah semesternya. Itu karena pada setiap tengah semester di sekolah kami, akan ada peristiwa yang anak-anak akan nikmati secara riang gembira penuh gairah belajar. Yaitu kegiatan spesial yang kami sebut sebagai even spesial. Dan dalam dua kegiatan itu, sudah dipilih dua tema yang akan membangkitkan nasionalisme kita.

Tema yang pertama, yang akan kita eksplorasi pada pertengahan semester 1 nanti, adalah tentang indahnya Indonesia. Tema yang diambil dari sebuah realita kita sebagai negara tropis. Yang dengan posisi itulah mka alam Indonesia menjadi bagian paling indah di dunia.

Ada tujuan kami untuk masa depan Nusantara di dua atau tiga puluh tahun ke depan di tangan anak-anak didik kami ini. Yaitu agar mereka mamahami betapa banyak sekali hamparan keindahan yang dapat menjadi ikon pariwisata di setiap daerah yang ada. Sebuah  aset yang merupakan anugerah Allah, yang harus menjadi bagian kita dalam mengenalNya untuk kemudian diejawantahkan dalam memberdayakan secara produktif dan kompetitif. Baik dari sisi daya tarik,  maupun juga dari sisi Ilahiayah.

Anugerah Allah yang harus juga menjadi bagian penting untuk dipelihara dan bahkan dikembangkan sebagai bagian dari mengabdi. Sehingga semua potensi itu tidak hanya dapat dinikmati satu atau hanya dua generasi saja, tetapi untuk selama Indonesia terhampar di bumi ini. InsyaAllah.

Sebuah anugerah yang tidak hanya terbatas dari bentang alam semata, namun juga adalah keanekaragaman yang ada di hamparannya itu. Termasuk juga adalah budaya manusianya dan juga makanannya.

Sedang pada tema kedua, yang akan kita eksplorasi di pertengahan Semester 2 adalah tentang kekayaan alam kita yang berlimpah. Semoga tahun pelajaran 2013/2014 ini menjadi tahun yang memberikan inspirai bagi anak-anak didik kami, atau juga kami sendiri. Amin.

Jakarta, 24 Juli 2013.

Masuk Sekolah di Bulan Ramadhan

Sejak hari pertama masuk sekolah pada hari Senin, 15 Juli lalu, maka itu telah masuk bulan Ramadhan. Bulan puasa. Inilah saat dimana anak-anak didik kami tidak merasakan libur awal puasa sebagaimana pada saat-saat sekolah di dua tahun pelajaran yang lalu. Karena awal puasa atau hari pertama puasa Ramadhan pada tahun pelajaran ini jatuh ketika anak-anak sedang libur akhir tahun pelajaran.

Itu semua karena perbedaan antara kalender Komariah atau tahun Hijriah dengan kalender Masehi. Dimana perbedaan itu adalah 10  lebih seperempat hari pada setiap tahunnya. Sehingga, keika tahun pelajaran tetap berlangsung pada setiap Juli dan berakhir pada setiap bulan Juni setiap tahunnya, maka pergeseran libur selalu menjadi nikmat tersendiri bagi siswa dan sekaligus juga guru di sekolah.

Seperti beberapa teman saya yang 'terpaksa' libur akhir tahun pelajarannya selama 7 pekan. Ini karena libur akhir tahun pelajaran digabung dengan libur Idul Fitri. Dengan itu, maka sejak anak-anak menerima rapot akhir tahun pelajaran yang lalu, mereka baru akan kembai ke sekolah bersama-sama kami setelah hari Idul Fitri. Bebeda dengan sekolah dimana saya berada di dalamnya. Kami masuk lebih kurang tiga pekan selama di bulan Ramadhan, kemudian akan libur kembali karena Idul Fitri. 

Apa yang istimewa masuk sekolah di bulan Ramadhan? Bagi anak-anak Indonesia, atau bahkan tidak sekedar anak sekolah dan gurunya, namun juga hampir semua instansi yang ada, masuk sekolah di bulan Ramadhan akan mendapat pengurangan waktu belajar. Di beberapa sekolah, jam sekolah menjadi lebih siang, dan jam pulang sekolahnya menjadi lebih cepat. Alhasil, nikmat juga bukan?

Berbeda lagi dengan sekolah dimana saya berada di dalamnya, bahwa anak-anak tetap masuk sekolah pada jam sebagaimana biasanya, hanya jam pulang mereka menjadi lebih cepat. Seusai anak-anak melaksanaan Shalat Jamaah, maka mereka akan segera pulang.

Meski pulang lebih cepat dari hari biasanya, tidak ada anak yang karena melaksanakan puasa sehingga mereka menjadi lebih lembek. Misalnya dengan tidak masuk sekolah karena masih ngantuk saat jam datang ke sekolah. Dari kelas-kelas yang saya pantau, ketidakhadiran siswa lebih banyak dikarenakan oleh masalah penyakit. Sakit demam misalnya. Seperti informasi dari suster UKS di sekolah kami menceritakan.

Berbeda juga dengan apa yang pernah saya alami ketika saya masih seusia anak-anak itu dulu. Dimana setiap Ramadhan, sekolah libur. Dan itu justru membuat saya dan teman-teman kebingungan megisi waktu dari bangun tidur setelah Subuh hingga bedug Magrib berbunyi sebagai tanda boleh membatlkan puasa. Alhasil, saya dan teman-teman di kampung akan berputar-putar di sekitaran rumah kami untuk waktu yang begitu lama itu.

Mungkin itu jugalah yang, seingat saya, saya dan teman-teman benar-benar berjuang untuk bertahan agar puasa kami terjaga hingga waktu Magrib datang. Begitukah? Atau karena selain anak-anak sekarang ada waktu sekolah selama Ramadhannya, atau memang mereka lebih kuat dibanding saya keika saya kecil?

Allahua'alam bi shawab...

Jakarta, 24 Juli 2013.

22 Juli 2013

Mudik 2013 #3; Menyongsong Mudik, Merancang Reuni

Selain merancang perjalanan mudik, dalam menyongsong Idul Fitri 1434 H ini saya dan beberapa teman juga sibuk berdiskusi di grup untuk merancang suatu pertemuan bagi teman-teman yang pernah bersama-sama mengenyam pendidikan sebagai guru di Purworejo. Dan ini juga menjadi bagian dari acara mudik yang seru. Bagaimana tidak? Kita akan bertemu teman-teman dalam suasana Idul Fitri. Pertemuan yang mungkin ada diantaranya kami telah lama tidak bejumpa begitu lulus sekolah (?).

Itulah yang saya lakukan bersama teman-teman yang ada di Jakarta. Kami saling bertukar pikiran untuk menentukan apakh perlu atau tidak. Meski diantara kami berbeda lokasi kediaman. Karena memang kami diskusi lewat dunia maya.

Tentunya, karena diskusi hanya melalui media sosial, maka sejak pagi, baru di waktu siang, kesepakatan itu terjadi. Yaitu kesepakatan tentang tempat dan waktunya. Tentunya bukan reuni akbar. Sekedar pertemuan silaturahim yang berkisar 40-an orang, yang berasal dari berbagai tahun lulus dan dari berbagai daerah domisili, dan tentunya yang kebetulan mudik.

Dan ketika lokasi serta waktu telah disepakati, maka kini giliran saya untuk menyebarkan informasi dan undangan bagi semua yang ada di nomor kontak untuk bisa datang. Tentunya dengan pesan agar memberikan informasi kadatangan sebagai konfirmasi. Ini penting agar tuan rumah mempertimbangkan apakah perlu memasang tenda tambahan di warung yang akan menjadi lokasi pertemuan atau cukup dengan lokasi lesehan yang mereka punya. Selain juga mempersiapkan jumlah ayam panggang yang akan dikonsumsi.

Tentu, pertemuan dengan teman-teman sekolah yang menjadi sahabat di kala kami semua masih muda-muda itu akan menjadi pertemuan yang menyenangkan. Dan saya bersyukur dengan apa yang istri saya komentari ketika teman - teman yang ada di Jakarta itu  pernah ngumpul di rumah kami. Bahwa ia terheran-heran dengan kekompakan teman saya yang dapat dan rela ngumpul dengan begitu rukun tanpa melihat tahun lulusan. Hebat. Begitu komentarnya.

Maka, begitu jugalah harapan saya dan kami semua pada pertemuan  silaturahim nanti di Purworejo. Kami akan ngumpul dari lintas generasi. Karena ada beberapa dari kami yang akan datang nanti adalah mereka yang lulus di tahun 1983 hingga mereka yang lulus di tahun 1990.

jakarta, 23 Juli 2013.

Mudik 2013 #2; Menyosong Mudik

Menyosong waktu mudik, bagi saya khususnya, adalah sesuatu sekali. Ini karena pulang mudik bertepatan hari raya Idul Fitri menjadi yang paling istimewa, selain pulang kampung atau mudik di luar waktu itu. Padahal kalau mau dilihat kenikmatan dari sisi perjalanan, mudk di kala Idul Fitri membutuhkan upaya yang lebih dibanding mudik pada hari normal. Tetapi itulah realitasya.

Ini mungkin karena mudik selama hari raya Idul Fitri menjadi hajat banyak orang. Oleh karenanya di waktu itu, saya dan sekian banyak orang yang masih mudik di Idul Fitri, akan berbondong-bondong pada waktu dan bahkan ada lokasi yang sama. Untuk itu jangan heran bila selama perayaan hari raya Idul Fitri ruas jalanan yang ada d hampir seluruh  Pulau Jawa, yang menjadi lokasi saya mudik, akan begitu meriah dan sumringah.

Itulah kegembiraan saya dan semua yang memiliki hajat mudik, suasana mudik pada hari raya Idul Fitri menjadi begitu istimewa. Tidak akan pernah tergantikan!

Karena alasan itu jugalah, maka saya sudah mencari informasi rute jalan yang menjadi kemungkinan menjadi pilihan. Utamanya rute jalan ketika menuju ke Jawa Tengah bagian selatan. Ini untuk mengantisipasi agar tidak terjebak secara berlarut di satu jalur mudik yang pasti  tidak akan mengenakkan. Moga-moga.

Seperti misalnya mendengarkan liputan Radio Elshinta dalam program Jelang Mudik Lebaran. Yang akan memantau rute jalan yang akan digunakan pemudik sepanjang Idul Fitri di Pulau Jawa. Informasi ini mengntngkan saya sebagai pemudik. Atau juga mencari tahu kepada orang yang kebetulan baru saja melalui jalur mudik. Sehingga di beberapa titik yang menjadi langganan macet di beberapa waktu yang lalu, dapat saya ketahui sebelum keputusan rute mudik saya ambil.

Rute terpenting bagi saya utamanya saat menuju ke Jawa Tengah. Karena waktu yang saya ambil adalah H+1. Meski dari pilihan waktu sudah relatif aman, tetapi persiapan dan strategi juga membuat perjalanan kami akan menjadi lebih menyenangkan.

Bagaimana Kembali ke Jakarta?

Rute kembali ke Jakarta menjadi kurang begitu penting bagi saya. Ini karena saya akan menempuh jarak Jawa Tengah - Jakarta dengan lebih kurang 2 atau 3 hari. Karena saat kembali ke Jakarta, saya akan menyisakan waktu guna bermalam di lokasi wisata, yang tidak terlalu jauh dari rute yang saya ambil. Misalnya Pekalongan, atau Purwokerto, atau Pangandaran, atau Cirebon, atau Kuningan. Dan tentang lokasi mana yang akan kami singgahi, pasti akan menjadi topik bagus untuk kami sekeluarga.

Selain untuk melepas lelah dan sedikit mencicipi lokasi wisata yang ada, setidaknya saya bisa menunda sampi Jakarta lebih lama. Ini strategi saya juga, ketika kemalasan mendera karena  harus kembali ke Jakarta. Maka dengan menunda satu atau dua hari, lega terasa dalam batin saya. Karena, bagi saya, Jakarta adalah lokasi untuk bertarung dalam mengejar pemenuhan hidup keluarga dengan memperoleh riski halal dari Allah.

Untuk alasan itu jugalah, maka untuk sampai ke Jakarta, saya butuh energi yang cukup. Dan energi yang cukup itu, bisa saya dapatkan dengan berjalan menikmati hamparan keindahanNya di sepanjang jalan dari udik dimana tujuan mudik saya menuju Jakarta. Semoga.

Jakarta, 22 Juli 2013.

18 Juli 2013

Mudik 2013 #1; 75 % Penduduk DKI Mudik

Itulah berita yang saya baru saja buka dan baca, yang  dimuat Kompas, Kamis, 18 Juli 2013. Dijelaskan pula bahwa 5,8 juta diantaranya akan melakukan mudik dengan mengendarai kendaraan bermotor. Dahsyat bukan? Pada hari Rabu, 17 Juli 2013, di dalam rubrik Tajuk Mang Usil, pada harian yang sama, mudik dijelaskan sebagai kembali ke udik. Maka ketika saya kembali kepada angka 75% itu, dalam pikiran saya akan langsung terbayang bahwa 1 keluarga dengan 5 anggota keluarga diantaranya, adalah saya. Yang akan juga mengikuti arus mudik dari Jakarta menuju Jawa Tengah.

Jangan Olok-Olok Saya

Saya bersyukur bahwa sampai detik ini, menjelang mudik Idul Fitri 2013 ini, belum ada berita miring dengan nada mempertanyakan esensi, dari kegiatan yang akan saya lakukan, mudik. Mudah-mudahan tidak ada hingga libur Idul Fitri berakhir nanti. Karena, meski diolok-olok sekalipun, dan dengan berbagai gagasan sebagai pengganti kegiatan mudik yang dilontarkan para 'pakar', pasti tidak akan saya dengar dan pertimbangkan. Karena mudik bagi saya adalah sesuatu yang paling saya rindukan. Mungkin jauh lebih menggembirakan untuk berangkat mudik sekluarga, di bandingkan saya mendapat tiket keliling Eropa gratis. Sumpah!

Untuk itu, bagi para 'pakar' yag akan mengemukakan fenomena mudik ini, untuk jangan pernah merasa pintar dengan melontarkan pendapat dan argumen yang seolah-olah mudik adalah atraksi kekonyolan. Karena Anda hanya akan kami tertawakan hanya karena Anda tidak mengetahui persoalannya. 

Untuk itulah, biarkan kami merencanakan perjalanan mudik pada tahun ini dengan lebih siap dan lebih menyenangkan.  Harapan kami adalah jalanan yang tidak rusak. Yang permukaan aspalnya membuat perjalanan kami nyaman. Jalanan yang garis markanya putih mengkilap dan bukan garis marka yang sudah lama dan tidak terjelas lagi ketika lampu kendaraan kami para pemudik menimpanya. Yang kanan-kiri jalannya ada cahaya pantul yang jelas, cahaya spot ligth yang memberi kami pejalan malam mengetahui apakah jalanan belok atau lurus.

Saya tidak membutuhkan yang banyak dari penyelenggara negara ini selain itu dan rasa aman. Karena saudara kami di sepanjang jalan yang akan kami lalui akan menyapa kami dengan penuh kerianggembira. Mereka akan tanggap dengan apa yang kami butuhkan sebagai pejalan jauh.

Itu saja. Tidak lebih.

Jakarta, 18 Juli 2013.

Tamu Istimewa di Ruangan Saya

Siang itu, setelah waktu Dhuhur, saya kedatangan delapan orang di ruangan dengan tujuan silaturahim. Sebuah kehormatan bagi saya menerima kedelapan tamu istimewa itu. Karena mereka adalah anak didik kami empat tahun yang lalu, ketika mereka semua masih duduk di bangku SMP. Dan saat itu, ketika mereka datang, mereka akan segera menginjakkan kakinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu di prguaruan tinggi. Jenjang pendidikan yang menandakan bahwa mereka semua bukan lagi sebagai anak remaja.

Banyak yang menjadi topik pembicaraan kami selama lebih kurang satu setengah jam di siang bulan Ramadhan itu. Antara lain, dan yang paling hangat adalah perguruan tinggi pilihan mereka semua. Bahwa mereka sedang berbahagia membagi cerita atas diterimanya mereka di bangku perguruan tinggi yang menjadi favoritnya selama ini. Menjadi impiannya. Dan itulah saat yang paling berkesan yang dia sampaikan kepada saya, yang adalah mantan gurunya empat tahun lalu.

Saya juga bercerita bagaimana para adik-adik kelas di kelas 7, 8, dan kelas 9, sejak tahun kemarin secara rutin dan terus menerus melaksanakan Dhuha dan tilawah Al Qur'an secara 'nasional'. Sebuah program yang waktu mereka dilakukan secara klasikal di kelas mereka masing-masing dengan bimbingan guru yang mempunyai jadwal mengajar di jam pertama. Dan karena rutinnya itu, maka saya sampaikan juga bahwa adik-adik kelas itu mampu menyelesaikan tilawahnya hingga juz 18 selama satu tahun pelajaran. Ini merupakan hasil dari bacaan tilawah yang lebih kurang 2 halaman hingga 4 halaman dalam satu hari.

Saya juga bercerita tentang bagaimana masa-masa yang akan mereka hadapi ketika nanti mereka berada di luar kota, yang berarti jauh dari ayah dan bunda mereka masing-masing, yang berarti adalah babak baru kehidupan mereka untuk menjadi anak kos. Bagaimana mereka akan menjadi anak kos di awal-awal bulan hingga enam bulan berikutnya. Juga bagaimana rasa dan kesempatan yang seolah bebas karena tidak adanya orangtua yang dapat memantau secara fisik. Juga bagaimana rasa rindu ketika masa kos sudah memasuki masa-masa normal, yang biasanya masa itu datang mulau bulan kedua, bulan ketika, atau bahkan mungkin bulan keenam. Pun ketika nanti mereka akan perlu uang untuk keperluan apapun di tanah rantau. Pendek kata, saya mencoba mengajak para lulusan kami itu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan di masa mendatang yang mungkin akan menjadi bagian hidup mereka.

Saya tidak ketinggalan juga mengajak mereka bernostalgia. Yaitu saat mereka menjadi siswa kami di bangku SMP. Bagaimana mereka begitu sebelnya ketika harus saya larang untuk bermain futsal di halaman sekolah hanya karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.15. Juga bagaimana mereka begitu ngeyel dan sering tidak satu pemikiran dengan kami para pendidiknya di sekolah.

Namun lebih dari itu semua, saya merasa senang, bangga, dan bahagia ketika tamu-tamu istimewa kami itu datang menemui kami di sekolah. Saya berpikir dan mengambil kesimpuln bahwa, mereka sekarang datang kepada kami dengan cita rasa dan paradigma berpikir yang total berbeda dengan ketika mereka masih menjadi siswa kami. Tentunya berbeda pada sisi kemajuan. Itulah alasan kami mengapa kami merasa senang, bangga, dan bahagia!

Jakarta, 18 Juli 2013.

17 Juli 2013

Apa Beda Pak K dengan Pak B?

Apa yang membedakan antara Pak K dengan Pak B yang kebetulan dua-duanya adalah pegawai yang ada di satu lembaga? Untuk Anda yang mengenal keduanya, mungkin akan segera terbayang dua sosok pegawai satu kantor yang berbeda profesi kerjanya, namun berada di kantor yang sama. Dengan bayangan itu, segera akan menemukan keberbedaannya.

Dalam catatan ini, saya pribadi menjadikan kedua sosok itu sebagai bagian dari pelajaran hidup. Yang antara lain adalah pelajaran tentang bagaimana merefleksikan dan memaknai anugerah dan rizki yang kita dapatkan. Jadi, tentang cara mensyukuri apa yang diterima.  Setidaknya syukur dalam hal ucapan. Itulah yang saya lihat dan dengar dalam persahabatan dengan dua sosok itu.

Dalam sebuah peremuan dengan saya, beberapa waktu lampau, Pak K berujar; "Apa yang saya dapatkan dari kantor ini Pak. Dari dulu ya gini-gini saja. Tidak ada perubahan menarik. Untuk saya ikut mejadi anggota koperasi karyawan. Coba kalau tidak. Bisa miskin saya."

Sdang dengan Pak B, saat pertemuan dengan saya beberapa waktu yang lalu, juga berujar, atau bahkan memohon agar namanya tetap dimasukkan dalam staf sekolah. Mengapa? "Iya Pak Agus, alhamdulillah saya mendapatkan rezki keluarga salah satunya dari keikutsertaan saya berada dalam sekolah ini. Jadi saya mohon Pak, meski saya statusnya hanyalah honorer, tetapi jangan dihapus ya Pak."

Beda Cara Pandang

Terhadap dua teman saya di atas yang mengungkpkan kalimat yang berbeda, saya kagum dengan apa yang disampakain oleh Pak B. Dan kepadanyalah saya berguru tentang bagaimana logika rasa syukur itu.

Lebih dahsyat lagi, bahwa saya menemukan tidak ada signifikansinya antara dua pilihan kata dan kalimat dari dua model pengungkapan di atas dengan latar belakag pendidikan keduanya. Karena Pak K baru saja mendapat gelar Megister, sedang Pak B hanyalah lulusan PGA, Pendidikan Guru Agama!

Kemuadian, apa lagi? Dari peristiwa kecil itu, saya mencoba benang merah yang membedakan dua sosok sahabat saya itu. Yaitu, bahwa jenjang pendidikan, tidak selalu linier dengan pola pikir atau cara pendang terhadap kebersyukuran. Pak B yang pendidikannya belum sarjana, saya justru melihat bagaimana logika berpikirnya jalan. Berbeda bukan dengan kalimat yang disampaikan oleh Pak K?

Mungkin itu sekelumit pelajaran yang dapat saya petik dari dua sosok tersebut.

Jakarta, 17 Juli 2013.

Jangan Menahan Ijazah!

Jangan menahan ijazah siswa, meski siswa tersebut masih tercatat belum menyelesaikan kewajiban administrasinya (baca: Uang bayaran sekolahnya, yang lebih kita kenal dengan sebutan SPP), kepada sekolah. Demikianlah ucapan Mendiknas kita yang arif ini disebuah acara edukasi di Jawa Tengah pekan lalu. Sebuah himbauan untuk sekolah yang ada di Indonesia tidak ada kecuali. Himbauan ini disampaikan dengan maksud agar siswa tidak terhambat akses pendidikan berikutnya. Selain juga karena karena hambatan pembayaran uang sekolah dengan sebutan dan istilah apapun, adalah kewajiban pihak orangtua. Oleh karennyanya tidak tepat kalau jika orangtua lalai menunaikan kewajibannya, tetapi justru anak atau siswa yang menerima implikasinya.

Dalam sebuah Tajuknya, Mang Usil menyampaikan pendapatnya tentang aopa yang disampikan Mendiknas itu pada Tajuk Mang Usil di Kompas, yang terbit pada hari Senin, tanggal 1 Juli 2013. Beginilah sentilan Mang Usil itu:



Di Sekolah Swasta

Bagaimana dengan sekolah swasta? Apakah beda dengan sekolah pemerintah? Setidknya itulah yag tersurat dari apa yang tersurat di Tajuknya Mang Usil di atas. Namun sebagai orang yang berada di sekolah swasta, ini kadang menjadi dilema saya sebagai pribadi. Mengapa? Karena memang ada jenis orangtua siswa yang memilih sekolah swasta sebagai tempat sekolahnya putra-putrinya, dan memang sebagian kecilnya seret jika harus memenuhi kewajibannya sebagai orangtua. Dan anehnya, sering juga saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa setiap pagi anak-anak itu diantar orangtuanya dengan kendaraan roda empat yang harganya mendekati 1 milyar? Sekali lagi, ini memang segelintir dari orangtua yag menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. mayoritas diantaranya disiplin dalam memenuhi kewajibannya.

Dan kenyataan ini bukan menjadi pengalaman saya sendiri. Di beberapa sekolah swasta lainnya, juga relatif memiliki kasus yang sama. Bahkan ada juga pengalaman teman, kalau ia bertemu seorang temannya yang kebetulan menunggak uang sekolah. Yang menjadi tidak enak dari teman saya ini adalah ketika ia memergoki orangtua tersebut sedang minum kopi yang satu gelasnya seharga 4 liter beras berkualitas di sebuah tempat minum kopi?

Lalu? Sekali lagi, sebagai orang yang berada di sekolah swasta, kami harus bijak dengan rekam jejak para orangtua, khususnya yang memiliki masalah terhadap keuangan sekolah. Karena ada pula yag memang sedang dirundung masalah uang. Dan kepada orang seperti inilah kami layak memberikan perhatian yang berbeda. Jadi bukan gebyah uyah...

Jakarta, 17 Juli 2013.

15 Juli 2013

Batal Antri untuk Asinan nan Lezat

Inilah pengalaman saya untuk antri demi sebuah makanan enak khas Jakarta atau Betawi, asinan. Sebuah penganan khas yag saya telah dengar, rasakan, dan bahkan dapatkan beberapa kali sejak saya bekerja di bilangan Pulomas, Jakarta Timur. Meski berulangkali juga saya mendapatkan informasi tentang lokasi dimana asinan enak itu dapat diperoleh, namun belum sekali pun saya secara sengaja untuk menengok lokasinya. Hingga pengalaman itu datang  pada Minggu, 7 Juli 2013 yang lalu. Sebuah kesempatan yang bagus sekali, pikir saya, karena pada saat itu kebetulan sekali saya berada di lingkungan lokasi tes bontot saya untuk masuk perguruan tinggi. Jadi, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Situasi antrian di depan spanduk yang dipasang di depan rumah/warung asinan.
Itulah, maka ketika bontot saya sedang menjalani tes yang baru selesai pukul 16.00, maka beberapa lokasi menjadi sasaran saya bersama istri. Lokasi yang antara lain adalah tempat penjual asinan yang terkenal di Rawamangun itu.

Meski, sebenarnya, saya sendiri merasa ragu untuk dapat menemukan lokasi dimana penjual asinan itu berada. Hanya bermodalkan ancar-ancar dari teman-teman yang pernah datang di lokasi, dan juga bertanya sana-sini, maka sampailah saya berdiri di antrian paling belakang ketika jam telah menunjukkan sekitar pukul 15.00. 

Dan hingga 20 menit berikutnya, ternyata saya belum melihat pergerakan antrian yang signifikan, maka istri saya berinisiatif untuk mencari informasi dari orang-orang yang sudah berada pada posisi depan. Dari beberapa orang yang dianrian depan itulah kami mendapatkan informasi bahwa mereka telah berdiri di lokasi antrian sejak pukul 14.00! Mengapa demikian? Karena setiap plastik paket asinan yang dipilih dan dipesan pengunjung yang antri tersebut baru di racik dan dipaketin! Maka ketika pengantri telah sampai di depan pelayan penjualan pun harus juga bersabar untuk menunggu karena seluruh material asinan sedang disiapkan.

Pada kondisi inilah kami akhirnya memutuskan untuk balik kanan. Mengingat saya harus berada di depan sekolah dimana anak saya mengikuti tes pukul 16.00. Sedang ketika kami meninggalkan lokasi penjual asinan, waktu telah menunjukkan pukul 15.20.

Maka dalam hati sya harus berjanji untuk kembali lagi di anrian itu, entah kapan. "Atau minta tolong orang untuk membelikan Yah." Demikian usul istri saya.
 
Jakarta, 15 Juli 2013.

13 Juli 2013

Ketika harus Menunggui Anak

Apa yang dapat saya lakukan ketika pagi hari harus men-drop anak di lokasi ujian masuk pergurian tinggi yang akan selesai di sore harinya? Tentunya waktu yang bebas, bila saya adalah penyuka hiking di mall. Sayangnya itu adalah kegiatan yang tidak saya suka. Maka meski saya sampai juga di mall, maka ruang tunggu mall yang pertama  sekali saya tanyakan kepada penjaga pintu utama, yang berdiri  dengan gagah dan tegap di pintu mall. Sementara  orang lain lalu lalang  dengan wajah yang penuh semangat, yang memancarkan gairah untuk menjelajah. 

Sebuah atmosfer yang berbeda dengan apa yang saya idap. Dan di ruang tunggu itu, saya hanya menghabiskan detik dan menit berlalu dengan mencoba membuka head line berita yang berderet di layar twitter. Sesekali mencoba untuk lebih dalam melihat tentang berita yang ada, tetapi lebih sering hanya sekilas sambil terus menerus memutar scroll layar.

Dan tanpa disadari, waktu itu berjalan habis setelah beberapa halaman berita berhasil saya akses. Sebuah waktu yang saya merasa beruntung pada akhirnya. Beruntung bahwa anak  saya melakukan kegiatan yang mengharuskan saya menunggunya dari pagi hingga sore hari di suatu tempatyang asing seperti pengalaman padahari itu. Luar biasa bukan hikmahnya?

Paling tidak itulah pengalaman dari sebuah perjalanan waktu yang tidak buruk, yang saya dapatkan menjelang beberapa hari sebelum Ramadhan 1434 H tiba.

Jakarta, 13 Juli 2913.


02 Juli 2013

Di Trip Cirebon, Kami Bertemu Tulusnya Berderma!

Ini menjadi hal dan pengalaman kedua yang kami lakukan, pergi ke Cirebon bersama kawan-kawan dengan naik kereta api. Berbeda dengan kepergian kami yang pertama di bulan Maret lalu, untuk keberangkatan kami yag kedua ini dengan  60 peserta. Satu gerbong bukan? Maka suasana sejak awal hari, tepat pukul 06.00 di stasiun Gambir, menjadi meriah. Tentu dengan konferensi siber yang telah seru sejak pukul 05.00 dimana  teman-teman sedang berada di perjalanan, sebagiannya sedang melangkahkan kakinya keluar rumah tinggalnya menuju jalanan untuk tujuan yang sama, mengejar jam keberangatan.

Itulah waktu yang kami sungguh-sungguh telah tunggu bersama menjelang akhir tahun pelajaran 2012/2013 ini. Sebuah semangat yang nyaris tidak ada habisnya. Betapa tidak, kereta hanya dapat dinaiki di stasiun Gambir. Padahal ketika menuju Cirebon, kereta itu melalui stasiun Jatinegara atau bahkan Bekasi. Oleh karenanya, tidak ada pilihan lain selain semua kita harus pasti untuk sampai di stasiun Gambir sebelum pukul 06.00!

Alhamdulillah, tidak satu pun dari kami yang menjadi peserta trip tertinggal kereta api. Semua berangkat bersama. Bahkan sejak kereta berhenti di stasiun Gambir, kami langsung telah berada di kursi sesuai dengan nomornya masing-masing.
Wajah pelancong ketika sampai di Cirebon dan dalam bus menuju destinasi pertama, Nasi Jamblang Mang Dul.
Kegembiraan itu tetap terjaga hingga kereta sampai di stasiun Cirebon. Sebagaimana tampak dalam gambar, dimana kami telah berada di dalam bus tanggung, yang membawa kami selama kami berada di kota Cirebon lebih kurang 10 jam.


Gua Sunyaragi menjadi destinasi kedua kami. Foto bersama di depan pintu masuk pengunjung.
Nasi jamblang Mang Dul menjadi destinasi pertama. Selain ingin merasakan bagaimana nasi jamblangnya Mang Dul yang katanya pantas menjadi destinasi bagi pemburu kuliner, kamipun rata-rata belum sarapan dalam arti yang sesungguhnya. Bukankah kami harus berada di gerbong kereta di Gambir sebelum pukul 06.00?

Tujuan berikut adalah sebuah gua kerang yang juga masih berada di Cirebon. Sunyaragi, namanya. Lokasi yang menjadi tempat foto bagi sebagian rombongan kami yang muda-muda. Saking asyiknya berfoto, hingga melupakan kemana dan apa yang disampaikan oleh pramuwisata yang memang telah sepuh itu.

Lokasi ketika yang kami tuju, yang juga tidak kalah uniknya, adalah tempat kerajinan yang berasal dari kerang. Tempat wah yang merupakan milik Pak Haji Jimmy dan Ibu Nurhasanah. Tidak saja hasil kerajinan yang kecil-kecil yang berasal dari kerang, tetapi juga lampu gantung, dan bahkan perabot di ruang tamu! Gemerlap luar biasa indah!
Semua perabot yang ada dibuat dari kerang!
Dan, jangan pernah bilang pernah ke Cirebon jika belum berkunjung dan berbelanja di sentra batik yang ada di Cirebon, yaitu Trusmi! Inilah area keempat yang menjadi tujuan dari kunjungan kami.

Kami, adalah kelompok yang tetap sabar menunggu para pelancong yang seperti kesetanan berbelanja...
Di Trusmi, justru saya dan beberapa teman tetap duduk manis di sebuah tempat kongko yang disediakan di salah satu sentra batik yang ada. Sementara semua teman kami hunting batik lintang pukang. Ada yang berpindah-pindah toko dengan berjalan kaki, tapi ada juga yang berombongan menyewa becak.

Sore hari, menjelang pulang, kami tentu mencoba makan Empal Gentong, plus sate kambing muda di warung makan Haji Apud, yang lokasinya tidak jauh dari area kampung batik Trusmi.

Salah satu meja yang sedang menunggu makanan yang dipesannya. Sabar...
"Mengapa tidak menginap saja?" Begitu sapa perpisahan Ibu tuan rumah kepada kami ketika kami telah sampai di stasiun Cirebon untuk kembali ke Jakarta pada hari yang sama.

"Kami sama sekali tidak tahu kalau di Cirebon ternyata Ibu menyambut begini rupa ramahnya? Bukankah kami baru mengetahui setelah rencana kami tuntas?" Begitu kami hampur seragam membalasnya.

"Okey ya. Liburan depan semua harus menginap di rumah saya di Sangkanhurip. Harus menginap!"

Di kereta yang menuju Jakarta, kami, anggota rombongan trip Cirebon bulan Juni lalu terhenyak berpikir; masih ada hari gini orang yang setulus itu dalam berderma? Semoga keberkahan selalu melimpahinya. Amin!

Jakarta, 2 Juli 2013.