Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

24 September 2020

Guru di Masa PJJ

Resminya, Senin, 16 Maret 2020, di tahun pelajaran 2019/2020, kami semua harus tinggal di rumah sebagai bagian dari ikhtiar pemerintah dan kita semua untuk memutus mata rantai penularan Covid-19, yang menjadi pandemi. Tidak terkecuali, sekolah. seluruh aktivitasnya harus berhenti secara tatap muka atau luring dan berubah melalui virtual atau daring. Semua kegiatan terhenti, termasuk interaksi langsung guru dengan siswa. Semua menjadi virtual. Maka dunia pembelajaran menjadi benar-benar mendadak sontak baru. Sesuatu yang sebelumnya tidak terbayangkan. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi teman-teman guru. 

Bersama teman-teman guru, saya menyadari bahwa pandemi akan berlangsung lama. Bukan lagi 14 hari kedepan dunia akan kembali normal. Setidaknya inilah yang tergambar pada kehidupan dunia yang juga kita berada di dalamnya. Maka waktupanjang dalam virtual, sebagai sekolah swasta bisa menjadi hal yang mengkhawatirkan. 

Bersyukur bahwa teman-teman guru bergerak cepat untuk menggunakan perangkat virtual. Semua berkontribusi dalam mengembangkan diri menjadi mahir. Tidak sekedar tahu dan bisa saja, tetapi mahir dan berlanjut mengeksplorasi diri. Dalam bentuk merancang belajar online, aktivitas yang dirindukan siswa, tuntutan belajar yang menantang siswa, interaksi yang tetap hangat sesama mereka, hingga kegiatan belajar virtual menjadi daya saing.

Alat dan sarana memang penting, tetapi visi dan semangat diri yang membuat teman-teman terus berjuang dalam dunia baru mereka. Media sosial menjadi ajang promosi dan harga diri. Maka semua ikhtiar selalu optimal dituangkan dalam meningkatkan kualitas hasil kompilasi atau video yang akhirnya bersarang di media sosial yang akan dikonsumsi publik. Alhamdulillah.

Jakarta, 24 September 2020

Nostalgia ke Eva Resto, Ungaran

Lama sekali draf tulisan ini tersimpan dalam folder blog. Saya sendiri telah melupakan keberadaannya. Bahkan, untuk masuk blog sendiri, nyaris terlupakan anak kunci yang mana yang harus saya masukkan ke lubangnya. Alhamdulillah, niat baik terlaksanana dengan baik.

Ini adalah pengalaman untuk kesekian kali saya bisa mampir ke resto yang berlokasi di puncak bukitnda buat saya setelah pertama sekali melihatnya dari kaca mata seorang pembonceng CB 100 di tahun 1980an. Betapa tidak, abak kampung miskin harus menatap sebuah resto yang bagus di lokasi yang super dingin di tahun tersebut. Sebuah momentum ketika saya berlibur ke rumah paman di Ambarawa dan juga paman di Candi, Semarang.

Lalu, ketika kesempatan berikutnya saya melintasi resto ini pada tahun 2009, saat istri paman saya yang di Ambarawa meninggal dunia. Di waktu lewat tengah malammani adik, kembali menum teh panas. Dan tahu pong. Namun, udara di tahun 2009 itu, di lewat tengah malam, sudah jauh berbeda. Saya tidak harus mengenakan kaos panjang untuk menahan dinginnya udara. Sudah berubah seperti suhu udara di Pakem, Slemen, Yogayakarta.

Dan terakhir kali, sebelum dunia di landa pandemi Covid-19, Desember 2019, sepulangnya dari perjalanan saya ke kampung halaman, mampir untuk santap siang di resto ini. Tidak dingin lagi suhu udaranya, tetapi jauh lebih sejuk dari pada kampung saya di pantai selatan Jawa Tengah.

Dan di akhir tahun, zaman normal tersebut, saya ditemani oleh istri dan anak bungsu. Selalu sama selain menyantap santapan siang, yaitu teh manis panas dan tentunya, tahu pong. Inilah yang menjadi kenangan terakhir saya sebelum pandemi yang mengharuskan saya tidak ke kampung halaman terselebih dahulu.

Jakarta, 24 September 2020