Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 Juli 2017

Mudik 2017 #4; Reuni (lagi)

Reuni H+9 usai lebaran tahun 2017, sebenarnya dirancang tidak lebih dari 2 atau 3 bulan saja. Acara berawal dari tawaran seorang teman yang telah terpisah lebih kuran 33 tahun, yang tinggal di Sapuran, Wonosobo, di balik hutan damar, yang mengakibatnya sulitnya jaringan telepon, untuk berkumpul di tempat tinggalnya tersebut.

Namun karena tawaran ini masih melalui grup media sosial, maka dalam grup kecil kami mengutus beberapa teman untuk berkunjung ke rumahnya guna bersilaturahim dan mengkonfirmasi undangannya untuk bersilaturahim. Alhamdulillah bahwa teman di Sapuran tersebut benar-benar bersungguh-sungguh mengundang sahat ketika mudanya di bangku SPG, untuk hadir dan ramah tamah di rumahnya. Maka dalam grup kecil kami menyepakati teknis pelaksanaan kegiatan pertemuan tersebut, yang dirancang sediit bersamaan dengan liburan sekolah dan libur Idul Fitri 2017.

Beginilah tampang dari teman-teman muda saya di rumah sahabat Yuri di Sapuran, Wonosobo; 
Di depan rumah si tuan rumah. Kami dari Purworejo telah menyiapkan spanduk, ternyata si tuan rumah jauh lebih siap. Ada tiga spanduk yang telah siap untuk menjadi latar belakang kami foto. Terimakasih Mas Yuri...


Foto bersama yang hadir di reuni Sapuran.

Liputan dari Bagelen Channel;
https://www.youtube.com/watch?v=lmB9fU9Y0No

Jakarta, 19-20 Juli 2017

19 Juli 2017

Mudik 2017 #3: Purwaceng

Ada yang berbeda dengan mudik saya pada Libur Idul Fitri 1438 H/tahun 2017 ini, selain karena saya pulang kampung sendirian dengan waktu yang sudah bukan lagi masa Idul Fitri, juga karena saya bertemu teman-teman sekolah disaat kami semua muda. Ya, saya pulang kampung dalam rangka menghadiri reuni sekolah, yang lokasinya tidak di sekolahan dimana kami bersekolah dulu, tetapi di rumah salah satu sahabat saya dulu di daerah Wonosobo.

Lokasi persisnya ada di sebelah selatan hutan damar yang ada di kecamatan Sapuran, Wonosobo. Juga berdekatan dengan kebun teh serta wisata alam Tambi, di Sapuran. Jadi udaranya amat sangat sejuk. Air selokannya berlimpah. Sehingga ikan-ikan menjadi nyaman berkembang biak.

Namun jauh sebelum pertemuan berlangsung, kami selalu diprovokasi di dalam grup sosmed, berkenaan dengan apa yang dapat kita lakukan nanti di Sapuran itu. Termasuk antara lain adalah membeli oleh-oleh yang khas Wonosobo. Bahkan ada yang menyebut oleh-oleh khas selain carica adalah purwaceng itu.

Sebuah kosa kata yang hampir semua dari kami baru mendengarnya sekali itu saja. Maka penasaran sekali saya dengan benda yang tiba-tiba menjadi topik diskusi yang hangat di forum grup kami itu. Tidak hanya kami yang telah berpuluh tahun meninggalkan kampung halaman saja yang tidak paham dengan apa yang dimaksud. Tetapi juga teman-teman yang tetap tinggal di kampung halaman seusai menamatkan Sekolah Pendidikan Guru.

Dan saking penasarannya, maka ada seorang teman yang menjelaskan benda apa yang dimaksud dengan lebih vulgar. Dijelaskannya bahwa itu adalah semacam penambah vitalitas pria.

Lalu karena begitu penasarannya, saya bersama sahabat yang datang dari Bengkulu, sengaja menuju Pasar Kretek yang kebetulan hanya berjarak lebih kurang 20 menit dari lokasi kami bertamu tersebut untuk melihat secara langsung kemasan obat vitalitas tersebut. Termasuk kemudian, saya mengambil foto dan meng-up load-nya di forum diskusi kami.

Apa implikasinya? Heboh...

Jakarta, 19 Juli 2017.

18 Juli 2017

Mudik 2017 #2; Sewa Mobil di Kampung

Benar saja dugaan saya bahwa tawaran yang diajukan kepada saya melalui adik saya agar saya menerima saja kendaraan yang akan kami sewa berupa mobil tahun 95-an tanpa AC, karena ada hal yang memang akan dilakukan oleh supir, yang juga adalah tetangga kami juga di kampung halaman.

"Maaf Mas. Kendaraan yang ada mobil 95-an tanpa AC bagaimana?" Katanya ketika H-1 saya harus melaksanakan agenda bersama Mamak saya untuk berkunjung ke besan-besannya yang kebetulan ada di wilayah Yogyakarta.

"Ya sudah. Setuju. Tidak apa-apa." Kata saya. Ini memang saya lakukan karena sebelumnya bukan seperti ini skenario yang terbayang oleh saya. Karena di Yogya, saya ada langganan untuk sewa kendaraannya sekaligus menjadi pengantar kami sepanjang hari. Kendaraan bisa memilih, harga standar mobil sewa dengan satu harga, plus kendaraannya karena memilih jadi pasti ber-AC. Tapi apa boleh dikata, ketika adik saya memilih supir dari salah satu tetangga kami, maka standar mobil sewa lenyap sudah. Menjadi 3 ongkos yang harus kami sediakan. Sewa mobilnya, bayar supirnya. Dan, beli bensinnya!

Belum lagi disepanjang perjalanan yang lumayan melelahkan jadinya ketika udara panas masuk kabin karena kaca mobil yang terbuka tanpa AC. Juga asap rokok yang terus menerus tiada jeda. Baik ketika perjalanan atau juga ketika telah sampai di rumah tujuan. Karena supir juga menjadi bagian dari kami dengan rokok yang sambung menyambung.

Lalu apa yang dapat saya petik dari peristiwa sewa mobil itu?

Pertama, saya menyadari bahwa supir ini biasa membawa kendaraan dengan presneling yang dalam. Dan ini hanya ada di kendaraan-kendaraan lama. Sedang kendaraan baru, rata-rata presnelingnya lembut dan cukup hanya menyentuh. Dengan demikian, maka supir akan memilih kendaraan yang biasa supaya tidak terhentak-hentak.

Kedua, saya belajar menemukan bedanya antara supir untuk wisatawan yang bertebaran di kota-kota wisata yang sering kita sewa dengan supir tetangga yang ketika membawa wisatawan hanya sekali-sekali. Perbedaan ini menjadi semacam kultur melayani. 

Ketiga, saya diskusi dengan anak ketika sampai Jakarta tentang hal ini. Dan kami menemukan peluang bagi kami untuk mengajak tetangga-tetangga kami yang sudah mahir membawa kendaraan untuk naik kelas. Membawa penumpang dengan konsep melayani wisatawan...

Jakarta, 18 Juli 2017.