Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

23 Desember 2009

UN, Pengalaman sebagai Pengelola Sekolah

Pelaksanaan Ujian Nasional atau UN bagi sebuah sekolah swasta nasional, dengan bagaimanapun bentuk dan afiliasinya tetap dipandang penting. Paling tidak bagi sekolah saya, dimana saya sendiri mendapatkan amanah dari Yayasan sebagai pengelolanya. Namun demikian, kami sebagai komunitas dari sekolah ini bersepakat dalam melihat hasil belajar siswa, bahwa UN bukanlah satu-satu hasil pendidikan. Ini adalah pengejawantahan dari prinsip pendidikan yang menjadi anutan kita bahwa terdapat tiga (3) ranah hasil belajar yang antara lain adalah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dan dari sinilah kami bangun bersama kesepakatan untuk menjadikan proses pencapaian UN berbasis kepada moto yang dikembangkan oleh para pendiri, yaitu: Ya Allah bimbing kami menjadi orang yang jujur dan terhormat.
Dua kata, Jujur dan Terhormat, menjadi dasar kami mengejar mimpi. Dengannya, kami mencoba merumuskan strategi pencapaian UN yang baik namun tetap menegakkan holistisitas dari seluruh pembelajaran. Oleh karenanya konsep ini harus mengalir deras pada seluruh komponen UN yang ada di sekolah kami. Dan konsep ini melahirkan semangat untuk bersama-sama bekerja dengan cerdas, keras dan penuh komitmen.

Ikhtiar itu kami lakukan hingga sampai pada pintu gerbang pelaksanaan UN. Dimana saya yang mendapatkan amanah ini harus benar-benar yakin akan proses yang Jujur dan Terhormat. Di depan, kita sudah kibarkan semangat bekerja yang keras, cerdas dan penuh komitmen. Maka diakhir kalinya saya memastikan bahwa semua dilandasi kesadaran untuk bekerja secara jujur dan terhormat.

Pagi setelah subuh, saya sudah sampai di ruang Kepala Sekolah. Bertemu guru dan Kepala Sekolah yang pulang mengambil soal UN. Menemani mereka bekerja. Menyambut dan berbasa-basi dengan para tamu yang akan menjadi pengawas UN. Melepas kepergian guru yang bertugas mengantar nahkas jawaban UN di siang harinya.

Kepastian untuk bekerja secara jujur dan terhormat tersebut harus saya lakukan sebagai jaminan bahwa sekolah kami adalah sekolah yang tidak menjadikan komitmen dan mimpi sekedar menjadi slogan. Ini sebagai bukti pula bahwa tim sukses UN berhenti dan berakhir masa dinasnya persis saat pintu gerbang UN dimulai.

22 Desember 2009

UN, Sebuah Pengalaman sebagai Orangtua


Benar. Ini adalah tulisan tentang UN dilihat dari pengalaman yang anak-anak saya sendiri alami tahun pelajaran 2008/2009. Sangat kebetulan dua anak saya, yang pertama dan yang kedua, sama-sama duduk di kelas XII SMA tahun pelajaran yang lalu. Jadi UN tahun 2009, di SMA yang berbeda. Anak pertama di SMA swasta di Jakarta Barat dan anak yang kedua di SMA swasta di Jakarta Selatan.

Persiapan

Untuk lulus ujian, hasil diskusi kami memutuskan agar mereka melakukan persiapan sebaik mungkin. Anak yang pertama memilih memanggil teman saya yang, alhamdulillah dapat membantu memberikan materi pengayaan di mata pelajaran Matematika, pelajaran Kimia, Fisika dan Biologi, dengan durasi dua kali sepekan. Sedang anak ke-dua memilih ikut pengayaan di bimbingan belajar yang berlangsung satu hari di hari Sabtu dan separuh hari di hari Minggu. Mereka menjalani itu semua dengan penuh konsekuensi. Tekun.

Juga buku soal-soal UN yang telah lalu dan prediksi soal yang akan datang. Dan buku-buku itu bahkan ada yang memprediksi soal UN yang akan keluar berdasarkan SKL yang dikeluarkan oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional. Canggih!

Membahas soal, sepertinya menjadi bagian yang amat sangat penting bagi mereka. Dari manapun soal itu berasal. Dan saya sendiri melihat apa yang sedang mereka pelajari dengan SKL itu. Kompetensi apa saja yang harus dikuasai mereka. Dan dari kompetensi tersebut, saya coba melihat indikatornya. Dan dari indikator itu saya bertanya kepada anak saya sejauh mana materi pelajaran tersebut mereka kuasai.

Di bulan Februari, Maret, April, anak-anak saya itu disibukkan dengan persiapan masuk perguruan tinggi negeri, yang setiap perguruan tinggi itu menyelenggarakan ujian masuk secara mandiri. Anak saya yang pertama memilih untuk mendaftar di dua perguruan tinggi negeri yang lokasinya dekat dengan domisili kami. Sedang anak yang kedua mendaftarkan diri untuk masuk di tiga perguruan tinggi negeri.

Karena tes masuk perguruan tinggi negeri ini lebih awal dibanding dengan pelaksanaan Ujian Nasional, maka ketika anak kedua saya telah mendapatkan kursi di salah satu PTN yang didaftarnya di bulan April, ia lalu menurunkan standar dan ekspektasinya terhadap UN. Yang penting aku lulus UN ya Ayah? Demikian katanya pada saya.

Pelaksanaan UN

Setelah semua ikhtiar ditunaikan, datang pula hari pelaksanaan UN yang mereka tunggu-tunggu itu. Kami hantar anak kami untuk berangkat ke sekolah dengan segunung doa sukses dari kami.

Sebagai orangtua yang bekerja di institusi pendidikan yang bernama sekolah, beberapa hal berkenaan dengan fenomena negatif bagi pelaksanaan UN di tahun sebelumnya serta sepak terjang 'tim sukses' yang dibentuk oleh beberapa sekolah sudah bukan rahasia umum. Namun bagaimana bentuk dan strategi serta tata cara 'tim sukses' tersebut bekerja terhadap anak saya, suatu hal yang sama sekali saya tidak pikirkan sebelumnya.

Sore hari setelah hari pertama UN, menjelang hari kedua UN, di rumah terjadi dialog antara saya dengan anak pertama dan kedua saya.

  • Terima SMS Mas? Kata saya pendek dan singkat pada anak pertama saya.
  • Terima dong. Jawabnya ringan.
  • Bagaimana dengan Adik, terima juga?
  • Terima. Jawab anak kedua saya.
  • Lalu bagaimana kesan kalian ketika terima sms jawaban UN di pagi hari sebelum UN berlangsung? Tanya saya memancing pendapat anak-anak.
  • Sebagai pembanding Yah. Jawab sulung saya. Saya tidak paham apa yang dia maksud dengan pembanding. Oleh karenanya saya coba bertanya memutar.
  • Sekarang kalian belajar. Sementara besok pagi pasti akan terima jawaban UN lewat sms. Menurut logika ayah, kalau kalian pintar, ngapain harus belajar malam ini. Main games atau baca novel saja.
  • Justru karena Aku pintar Yah, sms itu sebagai alternatif terakhirku. Jelas anak sulung saya.
  • Maksudmu? Desak saya, yang belum juga mudeng.
  • Biasanya, ada beberapa soal UN yang Aku bisa jawab dengan benar. Nah berikutnya Aku akan bisa cek apakah kunci dari sms itu adalah kunci jawaban UN untuk soal yang sama? Jelas si sulung.
  • Sama. Aku juga hanya jadikan kunci dari sms itu sebagai cadangan jika aku kepentok ngak bisa jawab. Jelas sang adik.
Nah, inilah realita UN yang anak-anak alami di tahun pelajaran lalu. Alhamdulillah, kedua anak saya itu lolos lubang jarum dari syarat kelulusan dan lulus. Pertanyaan selanjutnya? Mengapa ada sebagaian dari kita yang menjadikan UN menjadi momok yang menakutkan dan sakral?

Pengalaman teman anak saya yang tidak lulus saat ujian di tahun pelajaran lalu, ia tetap dapat ikut ujian persamaan paket C di tahun yang sama. Dan sah.

Lalu? Untuk apa berpayah-payah menahan stres dan takut jikapun tidak lulus ujian di tahap pertama tetap saja lolos dengan uper paket C?

Jakarta, 22 Desember 2009.


11 Desember 2009

UN dan Belajar Holistik


Tulisan ini akan saya awali dengan pertanyaan salah satu orangtua siswa kepada guru kami berkenaan dengan kegiatan spesial yang menjadi agenda rutin sekolah, yang pelaksanaannya dilakukan pada setiap pertengahan semester. Dimana pada bulan Oktober 2009 lalu kami mengadakan even spesial dengan tema Pekan Legenda. Pada Pekan Legenda tersebut setiap kelas akan memiliki topik bahasan yang lebih spesifik. Misalnya Lutung Kasarung. Maka kelas akan mengeksplorasi legenda ini sebagai topik bahasan dalam satu pekan bersamaan dengan kelas-kelas yang lain. 

Pertanyaan orangtua tersebut adalah: Ada berapa soal yang keluar di Ujian Nasional (UN) nanti dari kegiatan selama satu pekan ini Bu? Kalau yang keluar hanya 1 atau 2 soal saja, menurut saya kegiatan ini hanya buang-buang waktu?

Dari pertanyaan ini berikut adalah hikmah yang dapat kita ambil: Pertama, Paradigma belajar. Sebagian kita memahami bahwa belajar hanyalah ketika siswa membuka buku pelajaran sekolah yang berupa buku paket atau buku sumber. Maka ketika siswa sedang membaca buku cerita, membaca fiksi, membaca ensiklopedia, membaca kamus, mambaca majalah remaja atau bahkan mengisi TTS di surat kabar, maka siswa tidak sedang belajar?

Bahwa belajar dimaknai ketika siswa mendapat tugas dari guru berupa pekerjaan rumah. Maka ketika siswa sedang tidak diberikan pekerjaan rumah maka berarti siswa tidak belajar? Maka sekolah yang gurunya selalu memberikan banyak pekerjaan rumah kepada siswanya adalah sekolah yang baik karena menuntut siswanya untuk belajar terus menerus? Dan sebaliknya sekolah yang tidak pernah ada pekerjaan rumah adalah bentuk sekolah jelek?

Bahwa belajar berarti siswa duduk manis di bangku kelasnya dan memperhatikan gurunya sedang menjelaskan materi pelajaran saja. Maka ketika siswa sedang bermain drama di plasa sekolah karena setelah mempelajari Lutung Kasarung siswa diminta menuliskan kembali cerita tersebut dalam bentuk teks drama yang kemudian harus didramatisasikan dalam kelompok bukan sebagai kegiatan belajar?

Begitu sempitkah arti belajar? Bagi saya, belajar adalah seluruh aktivitas yang siswa lakukan kapan saja dan dimana saja dan dengan siapa saja yang kemudian ada proses pengambilan hikmah setelah kegiatan tersebut dilakukannya.

Kedua, Paradigma hasil belajar dan UN. Bagi saya, Ujian Nasional atau UN yang terdiri dari 3 mata pelajaran di SD (UASBN) atau 4 mata pelajaran di SMP atau 6 mata pelajaran di tingkat SMA adalah salah satu hasil belajar. Dan bukan satu-satunya hasil belajar. Karena menurut Bloom, terdapat 3 ranah hasil belajar. Yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Dan UASBN atau UN hanya mengukur hasil belajar pada ranah kognitif. Itupun tidak mengukur 6 aspek yang terdapat dalam ranah tersebut. Yang ketiga asopek itu adalah aspek mengingat, aspek memahami dan aspek aplikasi. Sedang tiga aspek yang tidak diukur adalah aspek aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Dimana ketiga aspek terakhir masuk dalam tataran berpikir tingkat dalam.

Untuk itulah maka ketika menjadikan UASBN atau UN sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan siswa atau sekolah, berarti kita teah terjerembab pada fatamorgana.

Ketiga, Belajar yang holistik. Dengan melihat bahwa terdapat tiga ranah belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan Bloom tersebut, maka seharusnyalah kita memaknai bahwa mendidik adalah membuat siswa menjadi cerdas kognitif atau cerdas akademik, cerdas afektif atau cerdas afeksi dan cerdas psikomotorik. Inilah hasil belajar holistik.

Belajar yang holistik tidak melihat bahwa UASBN/UN tidak penting. Ia sebagai salah satu uinstrumen keberhasilan dalam belajar tetap dipandang sebagai proses yang penting. Tetapi pengembangan afektif dan psikomotorik tetap tidak dilupakan. Bentuknya pengembangan pada ranah tersebut salah satuinya adalah melalui kegiatan drama, pertujukan kelas, kegiatan luar ruang kelas, dan lain-lain.

Jakarta, 11 Desember 2009.

Guru yang Intelektual

Beberapa waktu yang lalu, Selasa, 24 November 2009, saya mengikuti kegiatan seminar di SFTI Jakarta yang mengusung tema Guru Bersertifikat vs Guru Intelektual. Bahasan ini menarik tidak saja bahwa bagi yang telah tersertifikasi maka pemerintah akan memberinya tambahan penghasilan yang berupa tunjangan sertifikasi sebesar satu kali gaji pokok, tetapi karena mengangkat topik tentang guru berkualitas atau guru profesional atau guru intelektual dengan guru yang telah bersertifikasi.

Pada tanggal 25 November 2009, bertepatan dengan hari guru, Ahus Suwignyo, yang pedagog dari FIB UGM menulis di Kompas dengan bahasan yang hampir sama yaitu tentang Guru yang Intelektual. Dimana dikisahkan bahwa gagasan pemerintah untuk mencetak guru yang intelektual dimulai dengan dileburnya Sekolah Pendidikan Guru atau SPG menjadi LPTK dan kemudian berlanjut dengan diperluasnya IKIP menjadi Universitas. Dimana diharapkan dengan hal tersebut akan dapat dilahirkan sosok ilmuwan yang guru dan guru yang ilmuwan.


Setelah sekian lama gagasan penghapusan SPG dan juga perluasan IKIP menjadi Universitas tersebut berlangsung, dan sekarang dengan lahirnya kebijakan sertifikasi guru sebagai bagian dari amanat UU Sisdiknas dan UU Guru dan Dosen, telah terlahirkan sosok guru yang intelektual atau guru yang ilmuwan itu?


Guru yang Ilmuwan
Apa, bagaimana, dan siapakah guru yang ilmuwan itu? Lodi Paat, Dosen UNJ dalam diskusi di SFTI tersebut mengemukakan bahwa mereka adalah sosok guru yang priyayi. Hal ini dirujuknya dalam fiksinya Umar Kayam dalam judul Para Priyayi yang menokohkan priyayi pemula sebagai guru yang bernama Sastrodarsono.

Bagi Anda yang telah membaca buku itu, maka Sastrodarsono yang berasal dari Kedungsimo itu menapaki kepriyayiannya dengan menjadi guru. Sosoknya sebagai seorang guru yang priyayi inilah yang pada ujungnya memperoleh pengakuan dari masyarakat dimana ia berada untuk menjadi panutan.

Berikut saya kutipkan tentang sosok Pak Guru Sastrodarsono itu dalam Novel Jalan Menikung, Para Priyayi 2, halaman 148:

...meskipun dulu hanya menjabat kepala sekolah desa dan petani priyayi kecil saja, tetapi terkenal diantara penduduk Wanagalih kerena luas pergaulannya. Teman-teman main kartunya adalah pejabat-pejabat teras Kabupaten, seperti dokter, asisten wedana, jaksa, mantri polisi, dan sebagainya lagi. Dan bermain kartu bersama-sama tokoh masyarakat Wanagalih itu berarti Pak Sastrodarsono sudah diterima sebagai pemimpin masyarakat yang terpandang juga. Pendapat-pendapatnya yang secara tidak resmi terlontar dalam pergunjingan permainan kartu itu sering juga dipertimbangkan sebagai masukan-masukan bagi pemimpin masyarakat resmi itu. Dengan begitu, Sastrodarsono juga menikmati kedudukan terhormat di masyarakat Wanagalih.

Guru yang ilmuwan juga adalah guru yang mampu menginspirasi siswanya sebagaimana Pak Guru Balia yang mengajar Bahasa Indonesia di SMA Bukan Main-nya Andrea Hirata dalam novel Sang Pemimpi.


Jakarta, 25 November-11 Desember 2009.

(Masih) Senior-Junior


Ada seorang teman guru yang memberikan komentar panjang lebar lewat e-mail terhadap satu tulisan di saya blog ini. Sebuah artikel yang berisi tentang hubungan kerja antara senior-junior, yang kebetulan pernah dimuat di Harian Pelita.

Selain komentar terhadap tulisan saya, teman saya ini juga mengungkapkan kegetiran yang pernah dia alami sendiri ketika menjadi menjadi guru baru di sebuah sekolah swasta. Katanya dalam email yang dikirim kepada saya begini: Pak, saya berpikir jika ospek yang saya alami saat saya masuk kuliah adalah ospek yang paling terakhir dalam hidup saya. Ternyata ketika masuk kerja pun saya masih di-ospek juga! Begitu salah satu kalimat yang dia kirim kepada saya. Apa yang ditulis teman ini adalah bentuk ketidakberdayaan bagi kelompok junior dihadapan seniornya.

Fakta lain tentang ketidaknyamanan sebagai guru baru yang harus menerima kenyataan yang kurang nyaman dari teman yang terlebih dahulu menjadi pegawai.

Saya sebagai orang normal, tentunya juga mengalami masa-masa awal memasuki sebuah lembaga sebagai pegawai baru. Dan tahapan ini pasti pernah menjadi milik kita semua. Pada masa seperti ini, sebagai anggota baru di sebuah lembaga, kita punya keinginan untuk mendapat gambaran dan pemahaman yang holistik tentang bagaimana, seperti apa, dan apa saja yang harus menjadi pegangan kita selama menjadi pegawai baru tersebut.

Namun ‘pencerahan’ yang dirahapkan akan datang dari kolega kita yang terlebih dulu menjadi pegawai kadang lenyap begitu saja ketika hal sebaliknya yang justru terjadi. Dimana diantara mereka ada yang bersikap arogan atau bahkan berlagak dan mempersonofikasikan seperti si pemilik lembaga. Inilah bentuk dan tatanan sosial dimana kita berada. Pengkastaan antara junior dan senior.

Mengembangkan Pola Saling Menghargai

Ada beberapa usaha yang dapat kita lakukan, jika kita adalah bagian dari pemegang otoritas sebuah lembaga. Pertama, Perubahan paradigma. Kepada mereka, junior-senior, bersama-sama kita kembangkan paradigma baru dalam menyusun dan mengusahakan bagi ketercapaian tujuan bersama. Dalam ranah ini, mereka bisa menyampaikan ide dan gagasan yang kemudian dapat kita jadikan sebagai komitmen bersama. Komitmen inilah yang menjadi tolak ukur bagi kinerja mereka sesudahnya.


Paradigma juga penting untuk kita sebagai pemegang otoritas. Yaitu pemahaman kita bahwa tidak semua senior tidak mau berubah dan juga sebaliknya tidak semua junior adalah yang mau berubah. Disini kita dituntut untuk berpikir dan berpandangan saling menghargai dan adil. Kita harus memiliki prinsip bahwa semua kita adalah makhluk yang selalu berkeinginan maju. Oleh karena menjadi bagian tugas dari kita adalah menemukan dan menggali potensi itu dan membuat strategi akan paradigma yang lebih baik dan saling menghargai.

Kedua, Melakukan kontrol dan pendampingan. Sama halnya dengan apa yang terjadi di kalangan siswa. Bullying senior hanya dapat dilakukan manakala pengawasan pemegang otoritas lemah. Untuk itulah perlunya kita bekerja secara berdampingan dengan mereka. Selain melakukan pengawasan atas keterlaksanaan komitmen yang telah dicanangkan, pengawasan ini juga dapat menjadi bagian dari bentuk pelatihan dan pendampingan. Sehingga apa yang menjadi keperluan mereka saat menyusun dan mengusahakan dalam mencapai tujuan.

Ketiga, Dibutuhan pemegang otoritas yang pemberani. Yang saya maksud dengan berani bagi pemegang otoritas adalah kemampuan, kesanggupan dan ketegaran untuk menentukan kebijakan dengan dasar yang telah disepakati.


Misalnya pengangkatan pejabat di lembaganya dengan pertimbangan prestasi, dan bukan senior-junior. Dan apabila sipemangku jabatan adalah mereka yang kebetulan masuk dalam kasta junior, kita perlu berikan dukungan, sokongan dan pengawalan secara penuh dalam menjalankan tugasnya.


Pejabat yang memiliki kompetensi unggul meski ia masih junior dengan back up kita yang kuat adalah bentuk nyata bagi merealisasikan masyarakat yang saling menghormati.

Jakarta, 11 Desember 2009

09 Desember 2009

Tulis Apa yang Telah, Sedang dan Akan


Kalimat inilah yang saya jadikan kalimat provokasi bagi orang yang ada di lingkungan saya. Mereka ada anak-anak saya dan istri di rumah serta ada teman-teman kerja di sekolah. Saya mengajak mereka menulis bukan karena saya sendiri merasa hebat dalam menulis. Atau karena saya sudah punya blog. Juga bukan karena saya memiliki beberapa tulisan yang sudah dimuat di koran.

Saya memprovokasi dengan judul ini karena saya ingin agar mereka, semua orang yang ada di sekeliling saya, gemar mencatat apa yang telah, sedang dan yang akan dilakukannya, agar supaya mereka dan kita semua dapat mengingat secara detil tentang masa lalu, masa kini dan impian di masa mendatang.

Menuliskan apa yang telah dilakukannya, akan membantu kita untuk melihat masa lalu dengan penuh makna. Dan karenanya kita dapat memperoleh hikmah darinya. Karena dalam pandangan saya, dengan menuliskan apa yang telah, sedang, dan akan kita lakukan, kita sedang membuat rekam jejak dalam kehidupan kita sejarah jelas, transparan. Dan dengan jejak itulah orang akan melihat keberadaan dan eksistensi kita.

Untuk itulah, maka pada awal tahun pelajaran 2009/2010 lalu, saya meminta seluruh guru yang ada di lingkungan kerja saya untuk membuat dan menggunakan e-mail. Dan berangkat dari e-mail tersebut, saya dorong mereka untuk memiliki account di jejaring sosial. Dan berangkat dari e-mail itu juga kepada mereka saya bertanya apakah alamat blog telah mereka miliki.?Dan dari blog merekalah saya melihat isi kepala, angan-angan dan sejarah yang mereka tuangkan. Meski hingga kini mereka masih membiarkan halaman blognya kosong, namun saya selalu berkeyakinan suatu saat nanti mereka terdorong untuk menulis.

Suatu saat, saya melihat status on line diantara teman saya, yang masih membiarkan halaman blognya telantar untuk sementara, ketika saya membuka e-mail, lalu serta merta saya menyapanya dan menuliskan: OL terus, kok blognya belum ada isinya juga? Beberapa saat kemudian dia menjawab: Iya Pak. Sedang cari ide.

Karena keisengan saya, saya meneruskan dengan pemikiran saya tentang menulis. Kalau saja teman saya itu tahu bagaimana sulitnya menemukan ide sehingga dengannya ia menjadi buntu dan sulit memulai menulis, mengapa tidak kebuntuannya itu saja yang menjadi bahan tulisannya? Sehingga ia menulis tentang sulitnya membuat tulisan katrena ide yang ditunggu-tunggunya tidak pernah muncul? Mungkin ini malah menjadi bahan tulisan bagus. Siapa tahu?

Jadi untuk keluarga dan semua teman, menulislah apa yang telah Anda alami, sehingga saya menjadi tahu apa yang telah dan sedang Anda alami. Juga saya menjadi faham mengapa Anda melakukan sesuatu? Beritahukan siapa, mengapa, bagaimana Anda kepada saya dan kepada dunia melalui apa yang Anda tulis.

Jakarta, 9 Desember 2009.

08 Desember 2009

Berkontribusi untuk Orang Lain

Jika mengingat tetangga sebelah rumah saya waktu di desa, saya selalu menggumankan terima kasih dan syukur. Syukur akan kontribusinya terhadap perjalanan hidup saya berikutnya.

Karena dialah orang yang pertama sekali, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP, diajaknya pergi ke sawah untuk menjadi buruh cangkul. Petani.

Dan setelah sekian kali bersamanya, saya diberikannya uang sebagai upah kerja. Dan karena saya juga harus bersekolah di siang hari, maka pekerjaan mencangkul di sawah hanya saya jalani di pagi hari hingga menjelang bedug (istilah untuk waktu Dzuhur).

Bekerja dalam paruh waktu memang bukan menjadi pilihan saya, meski keluarga saya berasal dari desa yang sama, dan ketika kembali ke desa setelah ayah mengajak kami merantau di Punggur, Metro, Lampung Tengah, tanpa memiliki lahan persawahan. Namun kepedulian tetangga saya untuk 'memberikan' jalan agar saya memiliki pendapatan tambahan uang dan juga kemahiran dalam berjuang, adalah bentuk kontribusi yang selalu saya syukuri. Sebuah bentuk nyata kepedulian dalam momen perjalanan hidup yang tidak akan mungkin saya lupakan hingga sekarang.

Kemurahan hati dan pemahaman dia untuk memberikan kesempatan kepada saya mencangkul di sawahnya dengan kualitas cangkulan yang sangat mungkin belum baik dan kemampuan serta ketahanan yang belum juga pantas diberikan bayaran bagi petani pemula seperti saya kala itu, adalah pengambilan keputusan yang berani.

Mengapa? Menurut saya, jika tanpa kemurahan hati dan pemahaman, dia tentu tidak akan memilih saya yang pemula ini untuk mengerjakan sawahnya. Selain kualitas tanah yang dicangkul juga ketahanan fisik saya yang masih lemah. Fisik saya yang tidak pernah mencangkul secara profesional tentu tidak mendukung untuk menghasilkan tenaga yang baik. Juga alat yang saya punya, adalah cangkul untuk perladangan dan bukan persawahan. Cangkul saya akan selalu menimbulkan cipratan air, yang kadang muncrat hingga ke muka saya sendiri. Ini karena cangkul saya tidak dilapisi baja supaya kalis hingga tanah selalu menempel di ujung cangkul ketika cangkul itu saya tarik.

Dan dalam kadar yang berbeda, guru muda, yaitu guru yang belum memiliki jam terbang yang cukup juga memiliki indikasi seperti kala saya menjadi buruh tani waktu itu. Dan ketika saya merefleksikan dengan apa yang pernah saya alami sendiri puluhan tahun yang lalu, maka pemahaman dan keterbukaan hati atas kekurangan terhadap dirinya yang sedang tumbuh, yang dapat menjadi kunci bagi kemajuan dan keberhasilan perjalanan hidup mereka.

Tanpa itu, mereka akan pergi dan mungkin akan menjadi guru atau pekerja handal di kemudian hari, dan kita tidak memiliki kontribusi bagi kesuksesan mereka. Inilah buah yang dapat kita dapatkan ketika kita memberikan kesempatan, keluasan pemahaman, dan kecukupan bantuan bagi yang sedang mengembangkan kehidupan.

Jakarta, 8 Desember 2009.

07 Desember 2009

Pembanding


Sabtu, 5 Desember 2009, saya bertemu dan berdiskusi panjang lebar tentang pendidikan dengan Bapak Raja Sofyan yang adalah Pengawas SMP di Tanjung Pinang. Beliau menceritakan bagaimana waktu awal menjadi guru Agama puluhan tahun yang lalu. Cerita tentang para kepala sekolahnya.

Ada kepala sekolahnya yang baik dan sukses membawa sekolah yang disiplin dan 'berbeda' meski untuk berbeda tersebut sang kepala sekolah sering harus berkorban secara pribadi. Namun sebaik apapun prestasi tersebut tetap saja ada guru yang tidak memahaminya atau bahkan kurang menyukainya.
Lalu datang lagi kapala sekolah baru yang menurutnya memiliki kompetensi di bawah dari kepala sekolah sebelumnya. Lalu, datang lagi model kepala sekolah lain di sekolahnya. Hingga akhirnya para guru berpikir bahwa kepala sekolahnya yang pertama adalah kepala sekolah terbaik bagi mereka. Dan mereka sadar bahwa baik dan tidak, bagus dan tidak, profesional dan tidak, setelah mereka memiliki tiga kepala sekolah yang berbeda. Setelah mereka memiliki pembanding.

Ada lagi cerita yang berbeda, yaitu perbandingan antara teman guru yang telah memiliki pengalaman sebagai guru yang mengajar di beberapa sekolah, tetapi bukan model guru kutu loncat yang berpindah setiap tahun pelajaran baru, dengan guru yang menetap di satu sekolah untuk kurun waktu yang panjang, dalam mensyukuri apa yang ada.

Teman yang pernah bekerja di institusi berbeda akan memiliki kemampuan lebih mudah memahami situasi terhadap sekolahnya. Dan menurut pendapat saya hal ini karena mereka telah memiliki pembanding. Sehingga pemahaman terhadap plus dan minus yang lahir dalam sebuah lembaga dapat segera diperbandingkan. Sedang bagi yang tidak memiliki pembanding sedikit sulit membuat tolok ukur obyektif. Semua dilihatnya dari kaca mata yang lurus.

Dan dalam pengembangan sekolah pun, pembanding merupakan suatu hal yang luar biasa penting. Sekolah, guru, orangtua siswa atau siapa saja yang menilai diri tanpa membuat pembanding ( dalam ranah penilitian, pembanding harus yang setara ), akan mengalami situasi bangga diri yang tidak pada lokasinya. Karena ia merasakan sesuatu hanya dalam angan-angan sendiri. Padahal dalam waktu yang bersamaan orang sedang melihat dia dalam situasi keprihatinan.

Inilah yang oleh beberapa manajemen sekolah menjadikan studi banding sebagai bagian dari pengembangan sebuah sekolah. Karena dari kunjungan tersebut kita akan dimampukan untuk melihat bagaimana sekolah lain atau orang lain berusaha dan berikhtiar menjalani program yang menurut mereka unggul.

Untuk itulah maka penting bagi kita melihat semua situasi yang ada dengan tolok ukur dan pembanding yang relevan. Dan jangan sampai kita sedang membandingkan sekolah yang jumlah siswanya 25 setiap kelas dengan sekolah dengan jumlah siswa 34 tiap kelasnya dalam soal uang sekolah, misalnya. Karena itu sama saja kita membandingkan buah durian dengan buah jeruk.

Jakarta, 7 Desember 2009.

Tengleng Jalan Nayu


Bersamaan dengan libur Idul Adha 1430 H yang lalu, niat semula saya dan istri untuk menengok putri kami di Yogyakarta, akhirnya bersama keluarga besar bertambah agenda. Yaitu selain menengok anak juga wisata kuliner di Yogyakarta dan Solo. Dan salah satu tempat dari wisata itu adalah tengkleng di Jalan Nayu Solo. Lokasinya lebih kurang 500 meter dari Terminal Bus Tirtonadi.

Tempat ini direkomendasikan oleh kakak saya yang tinggal di Jakarta, yang saat mengetahui keberadaan kami di Solo untuk ke Pasar Klewer, kakak serta merta mendorong kami mengunjungi jalan Nayu dan menyantap tengleng langganannya, makanan khas Solo sejenis tongseng, yang seluruh materinya terdiri dari tetelan dan daging yang ada di kepala kambing. Rekomendasi ini dia berikan, tentunya, karena setiap kunjung ke kota ini Jalan Nayu selalu menjadi agenda utamanya.

Dan setelah empat kali bertanya, warung tengleng itupun kami temukan. Dan kami semua nyaris terperangah bukan pada tenglengnya, tetapi pada tongkrongan warungnya. Warung itu berupa emperan rumah yang dibuat seperti pendopo. Untuk para tamunya disediakan tiga deret meja kayu panjang sederhana. Di depan warung, untuk menghindari tetesan air hujan dan teriknya matahari ditutup dengan plastik bekas spanduk operator telpon warna biru.

Kami berpikir. Bagaimana mungkin kakak saya yang tinggal di Jakarta merekomendasikan kami untuk makan siang di Jalan Nayu yang ternyata seperti ini tongkrongannya? Dan untuk menilai enak dan tidaknya, saya bukan orang yang pas untuk itu. Soal makanan, saya hanya punya 2 kosa kata rasa. Yaitu enak dan uenak!

Tapi dari sini, saya sebagai praktisi di sekolah sekolah swasta mencoba untuk menarik hikmah. Karena sedikit banyaknya, pola berpikir pengembangan dan kompetisi menjadi bagian dari eksistensi sebuah sekolah.

Hikmah yang dapat saya petik untuk yang Pertama, Bahwa untuk menjadi dikenal dan didatangi orang, kualitas adalah nomor pertama. Lokasi di pelosok sekalipun tetap jaminan untuk menjadi dikenal orang. Karena kualitas akan berbuah menjadi loyalitas. Dan loyalitas memberi semangat kepada kita untuk mengeksplorasi. Tengkleng jalan Nayu tersebut adalah bukti konkrit apa yang saya sampaikan ini.

Bagaimana tidak loyal, wong tadinya saya ke Solo untuk makan di sekitar Pasar Klewer, e malah kakak ngotot merekomendasi yang berbeda. Hebatnya lagi kok ya kita terdorong untuk mengikuti. Dan kagetnya ternyata yang direkomendasikan itu berupa warung yang kalau di Jakarta disebut sebagai warung Tegal.

Kedua, Menjadi berbeda. Kadang selain kualitas, orang menjadi loyal dan tetap bersemangat untuk menemukan kita karena kita berbeda. Dalam suatu program, kadang apa yang terdapat di lembaga ini menjadi trend dan secara generik di kopi dan tiru oleh lembaga lain. Kopi dan tiru ini hanya akan melemahkan daya saing dari masing-masing lembaga atau masing-masing barang jualan.

Sedang menjadi berkemampuan untuk berbeda, adalah kemampuan untuk mencipta. Dan mencipta sesuatu yang berbeda, hanya terjadi jika telah melalui tahap menjadi tahu, fenjadi faham, menemukan aplikasinya di lapangan, melakukan evaluasi dari berbagai sisi dan membuat analisa.

Dan pengalaman Jalan Nayu, bagi saya telah membelajarkan bagaimana saya yang berada di sebuah sekolah untuk terus menjadi berkualitas dan berbeda.

Jakarta, Yogya-Solo, 27-30 November 2009.