Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Januari 2013

Laporan tentang Batman dan Spiderman

Inilah peristiwa yang menarik perhatian saya pada sebuah siang di ruang kelas saat saya menunggu teman-teman berkumpul guna pertemuan rutin. Sebuah laporan dari anak didik yang baru menginjakkan usia 3,5 tahun setelah menonton film di rumah. Laporan disampaikannya sendirian, kala jam pulang sekolah, kepada Ibu Gurunya. Situasi itu memungkinkan karena si anak ternyata belum dijemput pulang. Maka terjadilah peristiwa laporan tersebut di hadapan saya.

Laporan tentang apa yang dia tonton ketika di rumah kemarin tentang tokoh Batman dan Spiderman, tentu membuat kami yang mendengarkan senyum-senyum. Betapa tidak, anakbalita itu masuk ruangan setelah berusaha keras mendorong pintu kayu yang lumayan berat. Dan setelah masuk serta berada di depan Ibu guru yang juga kepala sekolahnya tersebut, anak itu tetap mengundang senyum. Ini tidak lain karena gerak-geriknya yang menggemaskan.

Menyampaikan dengan kalimat yang disusunnya secara terbata-bata dengan suara yang belum jelas benar karena sedikit cadel, justru membuat kami yang ada di ruangan tersebut menjadi lebih bersemangat. Kadang teman kami membantu anak balita itu dalam memilih kata-kata ketika dirasa anak itu mengalami kesulitan. Juga termasuk membetlkan artikulasi kata.

Lebih-lebih ketika anak tersebut mengatakan bahwa ketika dalam membela orang-orang si Batman dan si Spiderman dengan melawan penjahat, kedua tokoh itu sempat menangis. Maka sontak seorang dari kami mengulangi pernyataan anak balita itu; "Jadi Batman dan Spiderman menangis?". Dan dengan ekspresi wajah yang tetap, balita itu memastikan ceritanya bahwa Batman dan Spiderman menangis.

Terlepas dari menangisnya para tokoh pahlawan tersebut, kami tentu tetap senyum-senyum sembari memperlihatkan rasa percaya kepada apa yang disampaikan oleh balita itu sebagai laporan yang membanggakannya. Karena kami yakin bahwa yang paling penting bagi balita tersebut dalam situasi seperti itu, adalah kesiapan kita untuk menyimak terhadap yang dipresentasikannya. Dan itu lahir dari raut muka kami, bahasa tubuh kami, serta kata-kata yang kami sampaikan sebagai penyemangat baginya untuk terus memberikan laporan.

Dan pastinya, apa yang kami lakukan pada siang itu adalah karena siswa yang ada dihadapan kami adalah seorang anak balita yang masih duduk di bangku Kelompok Bermain...

Jakarta, 31 Januari 2013.

Makanannya Murah Pak?

Beberapa waktu ini di sekolah, saya dan teman-teman sepakat untuk melarang siswa jajan di luar sekolah. Kesepakatan ini lahir antara lain karena adanya masukan dari beberapa orangtua siswa yang merasa terganggu ketika akan masuk ke halaman parkir sekolah karena beberapa anak lalu lalang melalui pintu gerbang masuk sekolah. Kondisi seperti itu membuat para penjemput yang antara lain adalah para orangtua mereka, menjadi kawatir akan kenyamanan dan keselamatan. Ditakutkan saat lalu lalang itu, anak-anak tidak atau kurang memperhatikan kendaraan yang masuk sekolah. Selain itu, kami juga berpikir bahwa anak-anak harus berada di dalam lingkungan sekolah sebelum penjemputnya datang.

Itulah maka beberapa hari teman-teman bahu membahu berada menjaga di pintu masuk sekolah gna mematikan tidak adanya siswa yang lalu-lalang keluar masuk melalui pintu gerbang sekolah untuk alasan membeli jajan. Termasuk pada siang itu. Saya menemani seorang teman yang bertugas di pintu gerbang itu bersama anggota keamanan sekolah. Alhamdulillah bahwa semua dapat berjalan dengan sangat baik dan lancar.

Namun ada beberapa anak yang meski mengikuti larangan atau anjuran kami yang berjaga di pintu gerbang sekolah itu, mereka masih ada yang berargumentasi untuk dapat mengakses sebagaimana yang terjadi pada hari-hari sebelumnya.

Diantara dari beberapa anak yang berargumentasi itu, yang saya ingat sekali adalah komentar dari seorang siswa kami yang mengatakan bahwa "Makanan mereka murah Pak?". Sebuah kalimat pernyataan yang memang terbukti. Dan karena murah itulah kami sendiri menjadi hati-hati. Apakah murahnya juga sehat?

Murah?

Memang makanan dan minuman yang dijual adalah makanan dan minuman yang harganya relatif di bawah dari harga yag ada di kantin kami. Namun jika saya cermati, murahnya itu karena, setidaknya, ada dua (2) hal.

Pertama, minuman yang mereka jual memang murah. Dengan minuman yang warna-warni, serta dalam cup yang lebih kurang berisi 400 mili liter, plus batu es yang membuat kerongkongan anak-anak itu langsung merasa nyes,  hanya dihargai dua ribu rupiah. Murah bukan? Namun anak-anak itu tidak melihat dari mana rasa dan warna minuman yangmurah itu?

Inilah barangkali yang akan saya sampaikan kepada guru IPA di kelas untuk melakukan asesmen atau penilitian kecil-kecilan, atas kandungan dari minuman yang murah itu. Dan dari kandungan zat yang ada di dalam minuman atau makanan tersebut, agar siswa tahu implikasi setiap zat terhadap kesehatan badan. Baik untuk jangka pendek atau bahkan kalau mungkin dalam jangka panjang.

Dua, Bahwa makanan yang mereka jual menjadi berharga miring karena memang dijual dalam porsi yang berbeda dengan apa yang ada di kantin. Mereka menakar makanan-makanannya itu dalam plastik dan tidak dalam piring. Jadi berbeda bukan?

Itulah yang baragkali menjadikan harga jual dari minuman dan makanan mereka lebih murah dari apa yang tersedia di kantin. Dua hal itu tentu belum termasuk dengan adanya uang yang harus dibayar oleh pedagang di kantin kepada pihak yang menyediakan lahan jualan. Atau juga barangkali anak-anak itu memilih untuk membeli makanan dan minuman yangmereka jual karena bisa jadi pelayanan di kantin sendiri tidak membuat anak-anak itu memilih. Bisa jadi.

Jakarta, 31/1/2013.

30 Januari 2013

Teoritikal atau Testimonial?

Siang itu saya disodori kembali sebuah gagasan besar yang amat sangat indah dan luar biasa bagusnya tentang sebuah konsep pendidikan dalam bentuk buku. Bukan karena saya muak dengan sodoran itu. Tetapi saya justru berputar otak  untuk menemukan apa yang menjadi motivasi bagi seorang teman tersebut sehingga begitu bersemangat untuk meminta saya menggunakan rujukan pada sebuah buku dengan gagasan yang amat mulia tersebut. 

Ini saya lakukan karena, jujur, saya sendiri hingga detik ini belum menemukan bagaimana gagasan-gagasan yang bagus sekali yang termuat dalam buku yang ditulis oleh penulisnya ini ke dalam praktek di kelas saat saya mengajakan sebuah materi pelajaran. Dan karena belum pernah terbayang tentang bagaimananya itulah, maka saya tentunya sangat terdorong ketika teman tersebut menyodorkan agar saya di kelas menggunakan apa yang ditulis dalam buku tersebut.

Dan berkenaan dengan gagasan hebat dalam dalam bentuk konsep pendidikan tersebut, saya menjadi teringat apa yang penah teman yang lain sampaikan kepada teman-teman saya sebagai guru dalam sebuah pelatihan beberapa waktu yang lalu. Tentunya karena rasa ingin tahu saya tentang bagaimana konsep yang hebat dan indah itu jika dalam pelaksanaannya di lapangan (baca: di kelas), maka saya merelakan diri untuk mengatur jadwal kegiatan saya agar supaya saya bisa hadir dalam forum tersebut.

Tetapi keinginan  saya untuk melihat sebuah praktek dari sebuah konsep yang telah teman saya kuasai itu, tidak juga terjadi selama dalam pelatihan, saya menjadi kecewa dibuatnya. Ini terjadi karena teman saya hanya menyampaikan betapa hebatnya konsep pendidikan yang dibacanya dari buku tersebut. Repotnya lagi, paparan yang ada dalam presentasi yang dibuatnya, nyaris hanya mengambil dari apa yang ditulis ole buku tersebut. Alhasil, kecewa itu membangkitkan rasa geram saya tentang konsepsi yang muluk tetapi hanya menjadi turunan dari sebuah teori.

Oleh karenanya, tidak terlalu berlebihan jika siang itu saya sedikit pesimis terhadap teman saya yang masih kagum luar biasa terhadap konsepsi manis tentang paradigma baru pendidikan yang didapatnya dari buku yang disodorkannya.

Ini penting saa catat disini, karena kadang kita paham sekali tentang konsepsi, tetapi sangat kosong ketika itu diminta dalam bentuk operasionalisasi. Anehnya, dari teori yang baru dikuasainya itu, kita sudah begitu berapi-api memuji dengan membabibuta tanpa mau melihat atau bahkan mempraktekkan terlebih dahulu dalam kehidupan nyata di dalam kelas.

Mengapa? Karena, menurut saya, konsep bagusnya itu berangkat dari sebuah paparan teoritikal yang diambil dan diperoleh dari sebuah paparan angan-angan dan bukan pengalaman hidup yang testimonial?

Jakarta, 30 Januari 2013.

'Terjebak' Situasi di Tolilet

Mungkin tidak hanya saya seorang yang pernah mengalami peristiwa semacam ini. Yaitu ketika kita masuk toilet untuk sebuah keperluan, dan ternyata masih ada sesuatu di dalam toilet itu. Saya hanya berpikir, kalau saya tetap ingin menggunakan toilet itu, tentunya saya harus menyiram sesuatu itu yang jelas-jelas bukan kewajiban saya semestinya, tetapi jika saya tetap menggunakanya juga dan sesuatu itu tetap ada, atau bahkan kita juga melakukan apa yang dilakukan oleh orang yang menggunakan toilet sebelum kita. Maka,  bagaimana orang yang akan menggunakan toilet yang sama itu sesudah kita? Tentunya ia akan menyimpulkan bahwa itu adalah perilaku jorok kita bukan? Itulah yang saya maksud dengan 'terjebak' di dalam catatan saya ini.

Saya sendiri mengalami hal seperti itu tidak haya sekali atau dua kali. Baik ketika berada di toilet fasilitas umum atau sekolah. Atau bahkan pernah di sebuah pesawat. Dan semua kejadian dalam peristiwa tersebut, saya menyikapinya dengan berbeda-beda. Ketika di rumah misalnya, saya akan membersihkan apa yang saya lihat tersebut untuk kemudian saya komunikasikan dengan anggota keluarga yang lain tentang apa yang telah saya lakukan. Ini karena tidak ada orang lain yang berada di rumah kami selain kami. Tidak ada pembantu atau bahkan tamu.

Berbeda ketika di sekolah, yang kebetulan inilah yang paling sering saya alami ketika saya masuk ke toilet guru atau siswa. Maka saya akan memanggil orang yang paling dekat dengan saya pada saat itu, sebagai saksi tentang sesuatu yang tidak beres di toilet. Dan jika memungkinkan, teman-teman dari cleaner yang saya minta tolong untuk membersihkannya. Untuk kemudian, saya akan berkomunikasi dengan kelas-kelas yang berdekatan dengan toilet yang saya gunakan tersebut. Kepada mereka saya memesankan agar para siswanya terus menerus diingatkan untuk berperilaku 'sopan' ketika akan, sedang, atau sesudah menggunakan toilet.

Demikian juga ketika saya sedang kebelet dan ingin masuk toilet yang ada di bagian depan pesawat. Dimana saat itu saya melihat pemandangan yang sangat tidak pada biasanya. Karena di lantai toilet yang ada di pesawat tersebut ada softek. Yang kebetulan karena posisi toilet berada di bagian depan atau belakang kokpit, maka kami bisa menebak siapa yang berperilaku jorok tersebut.

Pilihan

Sikap saya dalam bereaksi terhadap situasi yang menjebak itulah, yang membuat saya berpikir, untuk menjadi seperti apakah kita. Kita dapat terus menggunakan dengan berkorban, atau kita akan menunda memakai fasilitas yang memang sedang kita butuhkan, Atau mungkin pilihannya justru kita batal menggunakannya. Itu semua adalah pilihan.

Dan pilihan untuk mengabarkan kepada pihak lain, terutama bahwa kondisi toilet yang kotor atau belum disiram sebelum kita menggunakanya, bagi saya, adalah pilihan yang paling baik. Sepertinya!

Jakarta, 30 Januari 2013.

29 Januari 2013

Generasi Berpikir?

Beberapa waktu lalu, saat diminta untuk sharing di program PGSD UHAMKA, saya menjelaskan tentang tiga tipe soal uraian pada Mata plajaran Matematika. Tentunya soal yang saya buat fan saya share adalah soal yang menjadi bagian dari hasil pendidikan pada ranah atau domain kognitif. Namun dalam soak tersebut saya ingin mengajak para peserta untuk menarik kesimpulan harus model yang mana dari contoh soal tersebut yang harus menjadi pilihan para calon guru itu dalam mencapai tujuan menjadikan para peserta didiknya menjadi generasi berpikir?

Sebelum berlanjut kepada contoh soal yang saya maksudkan, mungkin baik jika saya mengulang kembali tentang enam aspek yang terdapat dalam ranah kognitif di Taksonomi Bloom. Keenam aspek itu adalah: 
1. Aspek mengingat,
2. Aspek memahami,
3. Aspek mengaplikasi, 
4. Aspek menganalisa,
5. Aspek sintesa, dan
6. Aspek mengavaluasi.

3 Model Soal itu

Untuk menjadi jelasnya, berikut saya lampirkan ke tiga soal Matematika tersebut;
Soal 1:

 










Soal 2:











Soal 3:

 




Lalu Apa?

Dari ketiga contoh soal itu, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada semua teman-teman yang akan menjadi guru pada dua atau tiga tahun yang akan datang. Yaitu;
1. Bagaimana menurut anda; Dimana letak perbedaan dari ketiga soal Matematika tersebut
    di atas?
2. Aspek manakah yang berbeda diantara soal itu?
3. Dapatkah kita melihat gradasi kesulitan atau tingkat tantangan dari 3 jenis soal tersebut?
4. Menurut pengalaman kita, soal jenis yang mana yang paling sering kita pakai dalam
    pembelajaran di kelas?

Dari soal-soal itu, saya mengajak para calon guru itu untuk melihat kenyataan, jenis pertanyaan manakah yang membuat para peserta didiknya berpikir? Lalu diskusilah kami semua. Dan menyimpulkan jenis manakah yang paling mengajak anak didiknya berpikir hingga yang sekedar berpikir.  

Diskusi itu, saya lakukan untuk membangkitkan para calon guru itu lebih cerdas lagi dalam membuat pertanyaan kepada para peserta didiknya kelak ketika sudah menjadi guru. Semoga.

Jakarta, 29/01/2013.

OS Syariah?

Siang itu saya menjadi bagian dalam sebuah seminar tentang ekonomi syariah di sebuah hotel mewah di bilangan Semanggi, Jakarta. Banyak sekali pelajaran tambahan yang saya dapatkan dalam sebuah pertemuan tersebut. Tidak hanya pada aspek pengumpulan dana secara syariah, tetapi juga menyeluruh, baik yang menyangkut makro atau mikro sebuah kegiatan syariah. Juga tentang SDM yang menjadi bagian pada pelaksanaan ekonomi syariahnya.

Sebagai peserta yang berangkat dari luar bidang ekonomi, maka kepesertaan saya murni sebagai pengumpulan informasi. Karena tidak mungkin dalam forum semacam itu saya memberikan kontribusi. Paling tidak itulah peran yang saya jalani.

Barangkali itulah sekelumit yang menjadi awal dari catatan saya ini. Dan dari sebuah pertemuan tersebut, satu hal yang benar-benar menggelitik saya. Sayangnya, satu hal yang menggelitik saya itu justru tidak ada kaitannya secara langsung terhadap hal yang menjadi bahasan pokok dalam seminar pada siang hari tersebut.

Satu hal itu justru muncul dan mengganggu selama komputer yang dipergunakan dalam seminar tersebut tampil pada layar, di hadapan para peserta seminar. Yaitu tampilan yang memberikan informasi bahwa OS komputer yang digunakan dalam presentasi tersebut adalah bukan OS original?

Peristiwa ini, mengingatkan saya kepada sebuah peristiwa rapat kerja pendidikan yang kami selenggarakan di sebuah tempat di Cibodas dua tahun lalu. Dimana ketika topik yang kita bahas adalah pendidikan karakter, maka ada seorang peserta yang mempertanyakan kepada seluruh hadirin, untuk meneguhkan kembali barisan sejak awal dengan benar dan bersih. Mengapa? Karena dari semua peserta rapat kerja pendidikan kala itu hampir semua OS di kompuetrnya adalah bajakan.

Saya sendiri bersama teman di sebelah secara kebutulan memang bukan pemakai komputer yang lazim teman-teman gunakan. Sehingga hal itu menjadi kekecualian. Teman yang satu menggunakan OS Mac, sedang teman yang lain lagi menggunakan open source. Jadi aman terhadap pengingatan dan kritikan yang menohok tersebut.

Namun, saya sungguh bangga. Karena setelah rapat kerja pendidikan itu berakhir, maka pada permohonan berikutnya, seluruh komputer yang digunakan teman-teman dalam proses belajar dengan siswanya sudah menggunakan OS yang halal. Caranya? Ya diantara mereka membeli yang asli, sedang yang lainnya menggunakan open source.

Dengan demikian, maka ketika pertanyaan yang menggelitik saya tadi muncul kembali seperti apa yang saya alami pada siang ini, maka pemahaman syariah memang harus dioperasionalisasi dalam kehidupan yang nyata. Selain dalam penggunaan OS komputer sebagaimana yang saya ceritakan di atas, juga mungkin mulai dari dompet kita masing-masing beserta isinya. Maksudnya? Menurut saya, jangan sampai kita menggerakkan orang lain untuk bersyariah, tetapi masih ada kartu dalam dompet kita yang bukan syariah...

Jakarta, 29/1/2013.

28 Januari 2013

'Sampah' Diantara Sumbangan Baksos

Ilustrasi pakaian bekas layak pakai.
Dalam bencana baniir yang melanda Jakarta pada  pertengahan Februari 2013, siswa, guru, dan orangtua siswa, dengan koordinasi masing-masing di unit sekolah yang ada di sekolah kami, tidak terkecuali, tergerak untuk mengumpulkan donasi guna didistribusikan kepada masyarakat yang menjadi korban banjir. Pada masa-masa itu, sumbangan yang mengalir melalui unit sekolah yang ada sesegera mungkin didistribusikan kepada masyarakat  korban. Baik oleh siswa OSIS dan bahkan juga POMG. Semua berduyun-duyun untuk tujuan yang sama, yaitu meringankan beban karena banjir  yang telah menimpanya.

Siswa dan orangtua, mengumpulkan berbagai hal yang dapat membantu atau meringankan beban mereka itu mlalui sekolah. Ada banyak sekali makanan kering, apakah itu minyak goreng, mie instan, air minum mineral, atau yang lainnya. Juga berbagai jenis pakaian, apakah yang baru atau juga bekas layak pakai. Juga, tentunya, yang paling mudah, adalah uang tunai.

Semua sumbangan yang ada itu dikumpulkan di satu tempat untuk diorganisir, dan secara bergelombang disalurkan ke beberapa tempat yang tertimpa banjir. Semua ada di wilayah DKI Jakarta. Orangtua siswa di unit TK, Siswa dan guru di Unit SD, juga tidak ketiggalan para pengurus OSIS di unit SMP, semua bergerak.

Namun ada satu hal yang menjadikan saya tercenung pada pagi itu. Yaitu sebuah kantong plastik yang lumayan besar, yang saya temukan di sekitar meja sekuriti di sekolah kami. Berisi lumayan banyak pakaian bekas. Dan setelah bertanya kesana-kemari, belum ada jawaban yang memuaskan, maka pagi itu saya mengambil inisiatif untuk membuka plastik hitam penuh itu. Dan  alangkah kagetnya saya, di hadapan pramubakti sekolah kami, plastik luayan besar itu ternyata peuh berisi pakaian bekas yang benar-benar bekas. Tidak layak untuk dikatakan sebagai pakaian bekas layak pakai. Saya lebih pas untuk mengatakn bahwa pakaian bekas yang berada dalam plastik lumayan besar itu layak untuk dikatagorikan sebagai 'sampah'. 

Mengapa 'Sampah'?

Karena plastik hitam lumayan besar itu berisi penuh pakaian bekas dengan kualitas yang relatif seragam. Tidak ada diantara pakaian yang ada itu yang benar-benar masih layak dikenakan oleh siapapun. Warna dari seluruh pakaian itu telah benar-benar kusam 75 %.

Selain itu, sebagian besar dari pakaian itu adalah pakaian seragam sebuah sekolah swasta favorit. Ini sangat jelas terlihat di logo sekolah yang masih menempel diantara pakaian seragam itu. Sungguh mengenaskan. Bahwa hari begini masih ada diantara kita yang mendonasikan pakaian seragam sekolah pura atau putrinya yang sudah tidak dipergunakan lagi sebagai sumbangan?
 
Dengan dua kondisi itulah kami mengatagorikan bahwa semua pakaian yang terdapat dalam kantong plastik hitam ukuran lumayan besar itu adalah 'sampah'. Ini juga menjadi pengalaman berharga sekali bagi saya yang guru, bahwa masih ada diantara masyarakat kita yang ingin membuang 'sampah'nya dengan cara melalui donasi bakti sosial (baksos) banjir di sekolah! Memprihatinkan. Semoga ini hanyalah sebuah keteledoran, dan bukan kesengajaan. Semoga.

Jakarta, 28 Januari 2013.

Ada yang Kecewa Ketika Bintangnya Datang

Bondan ketika di atas panggung JazzKustik Tugasku 2013.
Dalam sebuah kegiatan yag bertajuk JazzKustik Tugasku 2013 yang berlangsung pada Sabtu, 26 Januari 2013 lalu, panitia kegiatan, guru, dan seluruh audien yang hadir dalam acara tersebut begitu gembira manakala guest star berada di panggung untuk penampilannya. Sebuah penampilan yang memang ditunggu-tunggu. Dan tidak ada yang keliru ketika siswa datang tidak sejak pagi, ketika acara itu dibuka pada pukul 10.00 tetapi siang ketika puncak acara dijadwalkan akan berlangsung, sekitar pukul 14.00.

"Kemarin Pak Agus tidak melihat kamu datang?" Tegur saya kepada salah seorang siswa yang bertemu di hari Seninnya.  Anak tersebut memang senang menenteng gitar pada hari-hari biasa ke sekolah. Selain itu, dia dan beberapa anak yang lain, adalah tetangga sekolah dalam arti yang sebenarnya. Karena ada beberapa banyak siswa kami yang tinggal dalam kompleks yang sama dengan keberadaan sekolah.


"Datang Pak. Tapi siang hari pas Bondan tampil." Jawab siswa saya.

Demiian pula dengan anak-anak lain yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan di lapangan sekolah itu. Diantara mereka ada yang saya temui ketika sedang mengobrol dengan teman yang sesama alumni, lulusan Tugasku di halaman parkir. Atau anak kelas 7 yang kebetulan saya temukan  di area bermain TK pada saat panggung di halaman utama sedang diisi dengan penampilan tambahan sebelum bintang tamunya datang.

"Tidak Pak. Saya mau nunggu kedatangan Bondan di sini Pak. Bukankah nanti Bondan lewat sini Pak?" Demikian argumen seorang anak yang asyik bermain ayunan di area TK.

Namun apa yang terjadi dengan Senin pagi itu, ketika kegiatan JazzKustik telah berlalu dua hari yang lalu? Yaitu ketika saya bertemu dengan anak-anak yang pada hari H kegiatan tidak berada di halaman panggung?

"Bagaimana dengan harapan kamu untuk bertemu idola pada kegiatan kemarin?" Tanya saya.
"Saya kecewa Pak. Kakak yang menjadi panitia melarang kami untuk berfoto bersama dan meminta tanda tangan." Jawab seorang dari mereka.
"Ngak boleh atau tidak berkesempatan?" Tanya saya lagi.
"Iya, dua-duanya Pak."
"Jadi ya... kecewa saja Pak."

Jakarta, 28 Januari 2013.

27 Januari 2013

Belajar dari Cerita Teman

Satu pekan lalu, saya kedatagan tamu sahabat lama yang sekarang  tinggal di kota Padang, Sumatera Barat. Sebuah kunjungan yang memungkinkan kita sema-sama berbagai pengalaman dan cerita. Saya mendengar begitu banyak hal positif yang telah didapat dan yang sedang diikhtiarkan oleh teman-teman karib saya itu, juga termasuk di dalamnya adalah bagaimana saya dapat memetik pelajaran tentang sebuah ketabahan dan keteguhan hati. Dan semoga, ini harapan saya, mereka juga dapat memetik apa yang saya sampaikan kepada mereka atas pertanyaan-pertanyaan yang dapat saya jawab. 

Dan larena mereka berada pada posisi yang berbeda dengan saya di Jakarta, maka sesungguhnya, sayalah yang paling mendapat pelajaran dari pertemuan yang lebih kurang tiga jam tersebut. Karena jika saya di Jakarta adalah fully pegawai, sedang teman-teman saya ini adalah, selain pegawai sebuah lembaga yang digagasnya dan yang didirikannya. Sehingga ada posisi yang mereka punyai dan tidak saya miliki. Yaitu kepemilikan terhadap lembaga yang menjadi amanahnya.

Namun, ketika kami  sedang berdiskusi dan berbagi cerita tentang pegawai yang berada dalam arahan dan bimbingannya, disitulah tampaknya harus berada dimana kedua teman saya ini harus berdiri.

Tentang Ucapan Guru

Hal paling menarik yang menjadi catatan saya sekarang dalam pertemuan itu adalah bagaimana rasa syukur para guru, yang menjadi sahabat perjuangan mereka di sekolah, ketika menerima gaji. Tentunya gaji sebagai seorang guru di sebuah lembaga pendidikan formal swasta. Apapun status para guru itu. Apakah mereka yang sudah tetap sebagai pegawai sekolah tersebut, atau mereka yang masih baru bergabung dengan sekolahnya. 

Disampaikan bahwa ada beberapa temannya yang berprofesi guru itu sering tidak mensyukuri nikmat. Darimana ketidak syukuranitu dapat dilihat? "Dari ucapannya." Kata teman saya itu. "Dari pilihan kata dan kalimat yang terlontar ketika beberapa teman guru itu harus berkomentar atas gaji yang diterimanya." Lanjut teman saya.

"Misalnya dalam kata atau kalimat seperti apa Pak?" Desak saya ingin penjelasan yang lebih nyata.

"Saya punya tiga kalimat yang hingga sekarang masih terngiang Pak Agus. Ucapan guru yang ketika mendapat kabar akan ada kenaikan atau penyesuaian gaji di akhir bulan ini."

"Yang pertama, ada guru yang langsung berkomentar: Kalau naik gajinya hanya 10 %, itu kan hanya cukup buat naik ojeg?"

"Yang kedua, ada guru yang berkata: Yah gaji kita naik, tapi harga-harga di luar kan sudah naik. Jadi ya kurang berarti lagi."

"Yang ketiga, gaji naik, tapi rumah belum kebeli juga." Demikian teman saya itu bercerita. Ada seperti ketidak bahagiaan pada raut mukanya. Dan itu tentu saya memakluminya.

"Apakah teman-teman itu tidak melihat kehidupan yang ada di sekelilingnya ya Pak Agus, kok mereka memilih kata-kata buruk seperti itu? Bukankah mereka semua adalah sarjana? Bukankah mereka itu memang memilih menjadi guru ketika kami pertama kali rekrut mereka? Apakah mereka itu tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka itu memiliki kinerja sebagai pendidik juga tidak maksimal karena masih ada saja masih ada komplain atas kinerja mereka di kelas?" Jelas teman saya itu bertubi-tubi. Saya mencoba menyerap seluruh apa yang diungkapkannya. Sekaligus atmosfer emosi yang terkandung di dalamnya.

Tentunya masih banyak hal dan cerita tentang kebersyukuran selama dalam dialog siang itu. Dan pertemuan itu, terus terang justru menguatkan saya sendiri terhadap apa yang saya jalani sebagai pekerja di lembaga yang sama, yaitu lapangan pendidikan.

Jakarta, 27 Januari 2013.

26 Januari 2013

JazzKustik Tugasku 2013

Pagi ini, pukul tujuh, saat saya sampai halaman sekolah, beberapa anak didik kami yang menjadi panitia kegiatan pentas musik Tugasku 2013 dengan tema JazzKustik, telah muncul. Bahkan beberapanya sejak kemarin sore tetap berada di sekolah dengan alasan untuk persiapan kegiatan. Tentu siswa yang ada di sekolah tersebut tidak sendirian. Bersama mereka ada beberapa guru dan staf karyawan yang menemani mereka sepanjang malam.

Selain yang baru datang pada pagi hari itu, beberapa siswa yang menginap pun telah mulai sibuk dengan berbagai persiapan. Seperti memasang famlet yang berisi tentang kegiatan juga sibuk untuk memesan makanan sebagai konsumsi para kru sound system yang terlambat datang. Tidak ketinggalan para guru yang terlibat kepanitiaan. Saya sendiri memberikan lay out keamanan kepada anggota sekuriti sekolah untuk kemudian dapat disebarluaskan kepada anggota yang lain.

Dalam catatan ini, saya ingin membagi penilaian saya terhadap setiap generasi OSIS sekolah kami yang menjadi penggagas, perencana, hingga pelaknasa kegiatan tersebut. Dimana dalam setiap generasi yang berbeda itu, masing-masingnya selalu ingin menunjukkan diri sebagai organisasi yang sukses. Namun dalam kerangka ingin menunjukkan kesuksesannya itu, kepada mereka tidak kami biarkan untuk menumbuhkan saling 'jeger-jegeran', perasaan tidak mau kalah dengan apa yang telah diperbuat oleh pendahulunya, sehingga bukannya akan membawa sikap positif tetapi justru sebaliknya, akan mengarahkan mereka kepada wahana 'borju'.

Dan pesan itulah yang saya rasakan selama bertahun-tahun berada di sekolah yang relatif tidak besar ini. Sebagai buktinya, setiap ada Pentas Musik yang OSIS gagas, dari tahun ke tahun, ukurannya tidak pernah semakin besar atau semakin menyusut. Tetapi stabil. Oleh karenanya, daya tarik dari kegiatan itu adalah bukan pada besar atau kecilnya event yang akan dilaksanakan, tetapi justru kepada sosok yang akan menjadi ikon dari kegiatan itu sendiri.

Dan pada titik sosok yang akan menjadi ikon itulah, guru kadang harus bersabar sekaligus mendengar, juga menanti apa yang sesungguhnya akan mereka, para siswa itu putuskan. Mulai dari angket yang disebarkan kepada seluruh siswa yang kemudian menjatuhkan pilihan siapa guest star-nya.

Seorang penampil, yang juga adalah guru di sekolah kami.
Dari GS yang sudah mereka sepakati itulah kemudian para pengurus OSIS itu, dengan bantuan penuh para guru pembimbingnya, akan merumuskan konsep pertunjukkannya. Seperti pada tahun 2013 ini, dimana konsep yang diusung adalah Jazz dan Akustik. 

Itulah barangkali sekelumit catatan saya tentang kreatifitas anak-anak didik kami di sekolah.

Jakarta, 26 Januari 2013.

Tes Peserta Didik Baru?

Bulan Januari, khususnya untuk sekolah atau lembaga pendidikan swasta, merupakan waktu dimana sekolah melakukan penerimaan peserta didik baru untuk tahun pelajaran depan. Dan salah satu kegiatan dalam penerimaan peserta didik baru tersebut adalah tes. Apakah itu untuk tingkat pendidikan Pra Sekolah atau TK, juga untuk tingkat pendidikan di Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

Jika saya katakan salah satu kegiatan adalah tes, maka tidak berarti bahwa kegiatan itu bentuk dan prosesnya sama serta persis yang dilakukan di tingkat pendidikan Pra Sekolah atau SD misalnya. Ata juga antara untuk yang akan masuk ke jenjang pendidikan di SD atau SMA misalnya. Keberbedaan ini dimungkinkan karena untuk mereka yang akan masuk di bangku Kelompok Bermain,yang lebih kurag berusia 3 tahun, maka tentunya yang dilihat sekolah tersebut berbeda untuk anak yang berusia 12 tahun yang akan masuk ke bangku pendidikan SMP.

Demikian juga yang saya lihat pada pagi hari itu di sekolah kami, ketika siswa datang ke calon sekolahnya, maka teman-teman guru membuat mereka dalm kelompok-kelompok untuk kemudian dilakukan sebuah kegiatan yang menurut saya lebih pas dinamakan sebagai 'upacara penyambutan' sebgai bentuk ice breaking. Dimana guru-guru itu akan mejadi begitu narsis pada saat beratraksi di depan barisan ketika memberikan panduan agar semua calon-calon siswa itu tidak merasa tegang. 

Pada tahap itu, saya benar-benar memberikan apresiasi kepada teman-teman yang selain kreatif juga adalah sadar akan posisi mereka pada pagi itu, sekaligus juga memahami bagaimana perasaan serta khawatirnya anak-anak yang menjadi calon siswa itu ketika hadir ke sekolah untuk mengikuti tes masuk. Sesuatu yang saat kita masih kanak-kanak belum pernah mengalaminya.

Mengapa Harus Tes?

Ini jugalah yang kali pertama kami renungkan. Mengapa harus tes ketika anak-anak itu itu berkeinginan sekaligus menjatuhkan pilihan untuk bersekolah? Pertanyaan ini terjawab secara alami. Karena jumlah kursi yang terbatas di sekolah kami, mengharuskan tidak semua pendaftar dapat kami terima. Maka dengan saringan itulah kami bermaksud memberikan kesempatan yang sama kepada semuanya.

Dan tentunya, tes yang diberikan juga bukan merupakan tes standar sebagaimana yang kita persepsikan. Ketika saya masuk ke dalam kelas untuk melihat apa yang sedang diakukan oleh anak-anak calon peserta didik baru tersebut, antara lain sedang mengerjakan mewarnai gambar, menggunting dan menempel gambar-gambar yang dipilih, sedang mengancing baju, dan ada pula yang sedang diminta membaca kartu kalimat yang disediakan guru.

Secara keseluruhan dari apa yang dilakukan oleh teman-teman dalam kegiatan penerimaan peserta didik baru tersebut, saya dapat memetik satu hal yang membuat saya pribadi belajar adalah, bahwa teman-teman itu seperti tidak ada sikap berhenti untuk mengekplorasi diri mereka sendiri dan kelompoknya.

Ini menjadi kesimpulan saya karena dalam setiap tahunnya, setiap kegiatan seperti ini selalu menjadi wahana bagi mereka untuk berbuat yang berbeda. Oleh karenanya, meski acara atau kegiatan itu menjadi kalender  kegiatan rutin, tetapi nuansa prosesi, value, dan cita rasa yang selalu tumbuh. Meski esensi kegiatan tetap menjadi rutin karena dengan sentuhan kerjasama dan keinginan untuk terus berbuat maksiml, maka selalu lahir inovasi yang membuat saya iri untuk terus mengikuti dan menyerap keberbedaan itu. Alhamdulillah.

Jakarta, 25-26 Januari 2013.

24 Januari 2013

K-13 #4: Penilaian Siswa Multi Domain?

Masih tentang Kurikulum 2013, catatan saya kali ini berkenaan dengan penilaian siswa. Dalam draft ui publiknya, Kurikulum 2013, menguraikan beberapa kesenjangan yang terjadi dalam pelaksanaan kurikulum di lapangan. Dari beberapa kesenjangan yang disebutkan, antara lain adalah kesenjangan yang ada dalam hal penilaian. Dalam kondisi terkini, disebtkan bahwa penlaian masih menekankan pada domain kognitif. Padahal dalam kondisi yang ideal semestinya penilaian harus menekankan pada 3 (tiga) domain hasil pendidikan yang kita anut bersama. Yaitu domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotorik, yang dilaksanakan secara proporsional. Inilah yang menurut saya sebagai hasil belajar yang holistik. Karena siswa diihat secara utuh. Tidak hanya pada sisi kognitif, tetapai juga afektifnya dan juga psikomotoriknya.

Dengan mengacu kepada kondisi yang seharusnya terjadi, saya setuju bahwa keberhasilan siswa di sekolah, sebagai dari hasil proses pembelajaran, seyogyanya guru, orangtua, sekolah, dan masyarakat melihat bahwa melihat profil siswa yang berhasil adalah mereka yang memperlihatkan kemampuan dalam tiga (3) domain atau ranah hasil pendidikan tersebut. Bukan sebagaimana yang terjadi selama ini, dimana hasil pendidikan dari seorang siswa hanya diukur dari domain atau ranah kognitif. Dan yang paling memprihatinkan kita semua, meski hanya pada ranah kognitif, itupun hanya kognitif pada aspek rendah. Yaitu kognitif untuk aspek mengigat dan memahami. Belum pada aspek aplikasi, analisa, sintesa, dan aspek evaluasi.

Lalu bagaimana pula implementasi dari penilaian yang  menekankan pada domain kognitif, afektif, dan psikomotorik tersebut?

Hal inilah yang  akan menjadi bagian yang paling krusial pada tahapan aplikasi di lapangan. Baik dalam tataran guru di dalam kelas, orangtua, serta masyarakat luas, bila standarisasi sebuah keberhasilan masih menggunakan paradigma angka yang lebih menekankan pada ranah kognitif. Terlebih lagi bila teknis penilaian di dalam kelas guru dan sekolah serta masyarakat luas masih menjadikan angka sebagai hasil pendidikan yang dihasilkan dari proses penilaian yang berbasis kepada tes.

Dari pemikiran itulah maka saya berpikir bahwa bagi sekolah yang benar-benar ingin mengimplementasikan model penilaian yang ideal sebagaimana yang terdapat dalam indentifikasi kesenjangan kurikulum pada sosialisasi uji publik, maka harus benar-benar berani dan sekaligus yakin akan prinsip dan paradigma penilaian yang holistik tersebut.

Karena dalam pelaksanaannya nanti, meski konsep ideal sebuah penilaian yang dituntut oleh Kurikulum 2013 adalah pada domain hasil belajar yang proporsional, tetapi jika pemerintah masih menjadikan hasil tes akhir di setiap jenjang atau satuan pendidikan yang selama ini kita kenal sebagai Ujian Nasional sebagai acuan bagi penerimaan siswa baru di sekolah negeri, maka paradigma ideal tersebut masih akan tetap  menjadi penghalang bagi hasil belajar siswa yang holistik.

Itulah sekelumit pandangan yang saya coba untuk menjadi sebuah catatan di lembaran ini. 

Jakarta, 24 Januari 2013.

23 Januari 2013

K-13 #3; Berpusat kepada Siswa

Dalam draft uji publiknya, terdapat empat eleman perubahan dalam Kurikulum 2013, yang akan dilaksanakan di Indonesia di tahun pelajaran depan. Empat elemem perubahan itu adalah (1). Standar Isi, (2). Standar Kompetensi Lulusan, (3). Standar Proses, (4). Standar Penilaian. Empat standar yang juga terdapat dalam elemen Kurikulum sebelumnya. Sehinga meski terdapat kesamaan wadah antara Kurikulum 2013 dengan yang kami jalani (KTSP), tetap menjadi bagian pembelajaran bagi kami agar lebih siap lagi.
Kami butuh kesiapan untuk mampu melayani peserta didik.
Khusus dalam standar proses, yang diinginkan oleh Kurikulum baru adalah pelayanan guru terhadap kebutuhan siswa. Hal ini dirumuskan dalam bentuk perubahan dari proses pembelajaran yang berpusat pada guru atau teacher centered learning menjadi pembelajaran yang berpusat kepada siswa atau student centered learning.

Sebuah istilah, konsep, dan paradiga yang mudah diungkapkan, dikatakan, namun ketika guru harus melakukannya atau menjabarkan konsep, paradigma tersebut ke dalam kelas pada saat berinteraksi dengan peserta didiknya dalam proses pembelajaran pada bahasan keluarga di kelas 1 SD, misalnya, akan menjadi bagaimana bentuk kegiatan pembelajarannya di dalam kelas itu? Bagaimana jga dengan pembelajaran pada kompetensi yang lain dalam semua mata pelajaran yang ada?

Pada titik itulah sebenarkan kami, para guru yang perlu diberdayakan. Kami paham bahwa guru tidak lagi mungkin menjadi pusat pembelajaran karena memang keterbatasan kami lebih banyak dibandingkan siswa didik kami. Namun dari mana memperoleh keterampilan untuk menjadi pintar dan canggih dalam mengejawantahkan konsep pembelajaran yang berpusat kepada siswa?

Apakah dengan mengikuti sosialisasi sebagaimana yang selama ini kami terima sudah dapat dikatakan bahwa keterampilan kami dalam menjadikan siswa sebagai subyek belajar telah sukses? Demikian pula dengan kegiatan pelatihan yang telah kami terima. Menurut saya sebagai pelaku di dalam kelas, maka yang kami butuhkan sekarang ini adalah pertemanan dari ahli kepada kami hingga lima, sepuluh kali bahasan belajarhingga akhirnya kami dapat di lepas. Itulah yang banyak teman kami menyebutnya sebagai coaching. Dan kepada siapa coaching tersebut dapat kami minta?
Jakarta, 23 Januari 2013.

Tiga Buku di Bulan Januari

Di bulan Januari 2013 ini, saya menerima tiga eksemplar buku baru yang diberikan antara lain; dua buku oleh pengarangnya, sedang yang satunya lagi diberikan sebagai cindera mata oleh panitia penyelenggara kegiatan seminar kurikulum. Untuk kedua pengarangnya yang langsung memberikan kepada saya, saya gembira luar biasa. Bukan hanya karena saya mendapatkan buku gratis, tetapi lebih dari itu karena saya pun turut berbangga hati atas ketekunanannya yang secara persisten dalam menuangkan ide dan gagasan hebatnya dalam sebuah buku. Bukan sekedar menuliskannya dalam sebuah catatan sebagaimana yang Anda baca ini.

Buku yang pertama, saya terima di Samarinda pada Sabtu, 5 Januari, dalam sebuah kegiatan in house training. Bukunya berjudul Cara AMPUH Merebut Hati Murid, penulisnya sendiri adalah Direktur Sekolah dimana saya memberikan in house traning tersebut. 

Buku yang kedua adalah buku yang saya terima  pada Sabtu, 12 Januari, di Pasar Rebo, Jakarta Timur, dengan judul Ya Allah, Tolong Aku, Aku Sedih, Aku Bingung, Aku Kesal. Buku ini diberikan kepada saya sebagai cindera mata di akhir sesi seminar bersamaan dengan sertifikat.

Sedang buku ketiga, saya terima pada Jumat, 18 Januari langsung dari penulisnya, yang baru saya kenal ketika yang bersangkutan memberikan workshop di sekolah kami pada Kamis, 12 Juli 2012. Judul buku ketiga saya itu adalah The Secret Power of Mind and Body Unification.

Cara AMPUH Merebut Hati Murid

Buku ini merupakan buku kedua dari pengarang yang sama, Joko Wahyono. Orang yang begitu bangga menjadi pendidik. Dan alhamdulillah saya berkesempatan berkenalan dengan penulis ini di Sangatta, Kalimantan Timur, saat si penulis buku ini menjabat sebagai Pengembangan di sekolah yang dalam naungan YPPSB pada tahun 2004.

Dalam buku keduanya ini, Pak Joko memberikan testimoninya tentang bagaimana ia sebagai guru merebut hati para peserta didiknya. Baik saat beliau masih tinggal di Jakarta, atau ketika sudah berada di Sangatta. 

Pengalamannya itu, beliau rumuskan dalam konsep AMPUH.


Ya Allah, Tolong Aku, Aku Sedih, Aku Bingung, Aku Kesal


Buku kedua yang saya terima ini berkait dengan kegalauan hati dan bagaimana menemukan jalan terang dan sekaligus menentramkan.













The Secret Power of Mind and Body Unification

Ini adalah buku pertama dalam gerak unifikasi. Khususnya di Indonesia. Karena buku tentang gerak, maka pas sekali jika ini ditulis oleh pelakunya yang memang mantan atlet, yang juga adalah Dosen Olah Raga di UNJ.

Gerak unifikasi sendiri berarti penyatuan dan kesatuan (halaman 9). Pada halaman 11 dalam bukunya, Ricky Susiono, sebagai penulis buku menyampaikan; Bahkan, apabila seseorang sudah mampu menjadikan unifikasi sebagai bagian dari kehidupannya, hal ini dapat menjai sesuatu kekuatan yang bisa digunakan untuk mengubah semua aspek kehidupan secara positif, baik melalui cara bergerak, berpikir, berperasaan, sudut pandang maupun cara bersikap, sehingga tercapai suatu pencerahan atau ketenangan.


Itulah tiga buku yang sekarang saya bolak-balik membaca untuk menemuan mutiara-mutiara berharga bagi pertumbuhan diri saya. Terima kasih kepada teman-teman yang telah menghadiahi buku kepada saya di bulan Januari ini.
 
Jakarta, 23 Januari 2013.

22 Januari 2013

Berdoa untuk Kemenangan

"Kami berdoa supaya menang Pak!" Begitu jawab dua anak laki-laki yang khusuk sedang berdoa di pojok mushala di sekolah kami ketka waktu menunjukkan pukul 14.00. Waktu dimana siswa kelas 3-6 SD selesai kegiatan intra kurikuler untuk kemudian lanjut ke kegiatan ektra kurikuler. 

Tentu saja jawaban yang sedikit membingungkan saya. Menang? Untuk pertandingan? Begitu kalimat-kalimat tanya bermunculan. Ini lantaran dua anak laki-laki yang saya temukan sedang duduk di pojok mushala tersebut adalah anak-anak yang masih mulai belajar bermain futsal karena keduanya masih duduk di bangku kelas 4 SD. Oleh karenanya saya ingat benar  bahwa keduanya tidak termasuk dalam tim futsal sekolah yang didominasi oleh mereka yang sudah duduk di bangku kelas 5 dan 6 SD.

Masuk akal bukan jika saya sedikit bingung dengan jawaban yang saya sampaikan kepada mereka berdua atas pertanyaan saya karena lambat terkoneksi? Namun dua siswa yang sudah mengenakan pakaian futsal lengkap, kaos bola dan celana olah raganya, memutar badan dan menghadap ke saya untuk kemudian memberikan penjelasan lebih jelas.

"Kami sedang berdoa supaya pertandingan sore ini dengan kelas sebelah diberikan kemenangan Allah Pak." Jelasnya.
"Karena pekan lalu kelas kami kalah dengan skor 2:1 Pak." Lanjutnya.
"Makanya kami sekarang berdoa sebelum bertanding." Tambahnya.

Dengan penjelasan tambahan itulah, saya menjadi faham tentang apa yang sedang mereka berdua lakukan di mushalah pada siang menjelang sore itu. "Hebat sekali anak-anak ini." Pikir saya. "Dalam kehijauannya sudah berpikir transendental." Kagum saya dalam hati.

"Soalnya, minggu lalu saya berdoa supaya tidak hujan, dan Allah Swt. kabulkan Pak." Jelas salah satu anak.
"Mengapa berdoanya supaya tidak hujan?" Tanya saya.
"Soalnya kalau hujan, maka ekskul futsal tidak ada Pak." Jawabnya.

Dari dialog singkat itu, saya memetik dua hal bagus sekali. Yang pertama, adalah harapan yang begitu besar pada diri anak-anak itu agar kegiatan futsal bersama teman-temannya selalu ada dan tidak terkendala oleh suatu apapun. Dan  yang kedua, adalah bagaiamana anak-anak itu menggantungkan harapannya yang begitu besar hanya kepada Allah Swt.

Saya bersyukur bahwa, siang menjelang sore itu bertemu dengan kedua anak-anak didik kami yang super luar biasa tersebut. Karena dari perteuan itulah, saya harus mencatatnya dalam buku ini. Sebagai bagian paling inheren dalam 'melihat', sekaligus 'menikmati' lembaran-lembran ilmu dari generasi yang ada di hadapan kami itu. Terima kasih siswaku...

Jakarta, 22 Januari 2013.

Bekerjalah yang 'Temen'

Bekerja yang 'temen'? Apa yang dimaksud dengan bekerja yang temen? 'Temen; sendiri adalah bahasa Jawa, yang artinya sungguh-sungguh. Oleh karenanya, saya sendiri mamaknainya sebagai bekerja yang total. Yang sungguh-sungguh. Mungkin, kalau mengambil istilahnya Ibu Sylviana Murni, yang mantan Wali Kota Jakarta Pusat, adalah bekerja yang keras, yang cerdas, yang tuntas, dan yang ikhlas.

Kata 'temen' itu saya dapatkan saat saya daam perjalanan ke kantor pagi itu. Dari sebuah syair lagu dari band legendaris kita, Koes Plus. Potongan syairnya itu adalah:

... ulat ojo peteng,
Yen di konkon yo sing temen...

Potongan syair itu berarti:

... wajah jangan tidak gembira,
kalau diberi tugas, kerjakan yang sungguh-sungguh...

Kisah Tetangga

Dari dua kalimat dalam syair lagu itu, saya teringat akan kisah tetangga saya beberapa waktu yang lalu. Kisah menggunakan supir saat pulang kampung di sebuah kota bagian selatan Jawa Barat. Tetangga saya itu baru memiliki mobil menjelang bulan Ramadan datang. Oleh karenanya, jika ia harus membawanya sendiri, belum ada keberanian. Meski nekat. Maka menyewa supir selama libur Idul Fitri untuk pulang kampung menjadi pilihan terbaiknya.

Tapi dari pengalamannya menyewa supir itulah yang memacunya untuk benar-benar menjadi mahir dalam mengendari mobil. Ia sangat bertekad untuk sesegera mungkin melepas ketergantngannya kepada orang lain. Itulah sehingga pada Idul Fitri tahn berikutnya, ia benar-benar lepas dari supir yang disewanya.

"Mengapa tidak minta Mas Is mengantar? Bukankah lebaran lalu diantar dia?" Tanya saya membuka dialog pada sebuah sore di ambal Idul Fitri.

"Kapok Pak Agus nyuruh dia. Lebaran tahun lalu saya sama keluarga malah dibiinnya repot. Saya sudah minta dia bawain mobil, tapi pada kenyataannya saya masih juga harus membawa sendiri." Jawab tetangga itu.
"Dari pengalaman tahun lalu itulah Pak, cukuplah saya tidak minta tolong sama dia lagi." Lanjutnya.

Dari tetangga yang lain, saya mendapat cerita kalau Mas Is saat diminta mengantar tetangga itu pulang ke kampung, bukannya menerima kerja dengan senang hati dan melayani, tetapi malah mengatur dan selalu berkomentar tidak mengenakkan ketika harus mengantar atau membawa keluarga tersebut beraktvitas selama di kampung.

Repotnya lagi, Mas Is sendiri sebenarnya adalah tetangga kami yang tidak memiliki kerja tetap. Dan tetangga saya itu memilihnya untuk menjadi supir selama Idul Fitri juga sebagai bagian untuk membantunya. Tapi dengan kinerja yang seperti itu, maka tetangga saya itu tidak memintanya lagi. 

Itulah sepenggal catatan saya tentang perilaku sebagain besar pegawai yang menyiratkan keterpaksaan ketika menjalani tugas kerja yang diberikan lembaganya. Bermuka masam dan bekerja tidak sungguh-sungguh sepenuh hati. Menuntut upah yang di atas layak. Padahal semua orang dalam komunitas lembaganya mengetahui seperti apa kinerjanya.

Jakarta, 22 Januari 2013.

20 Januari 2013

Pangkas Rambut yang Tak Terlupakan


Pagi itu, dengan handuk kecil, saya meninggalkan rumah tepat pukul 08.30. Dengan rambut yang semakin panjang, tampaknya sudah waktunya saya memangkasnya di pemangkas rambut pangganan saya. Karena langganan, maka tidak perlu saya memberikan penjelasan kepadanya model yang saya pilih. Juga pastiya pijatan di seputar otot belikat yang lebih lama dari yang lain. Serta handuk kecil yang saya selempangkan di bahu saya. Karena itu adalah handuk yang akan saya gunakan sebagai penutup tengkuk saya. Dan bukan handuk yang dari tukang pangkasnya.

Trauma Handuk

Dengan handuk yang saya bawa sendiri dari rumah itu bukan berarti saya ingin menyinggung dengan pemangkas rambut langganan itu, tetapi ini sebagai jaga-jaga setelah saya pernah mengalami pengalaman yang amat sangat menggelikan dengan handuk pada saat saya memangkas rambut di sebuah daerah yang relatif jauh, dari ukuran perjalanan darat yang memakan waktu tempuh empat jam perjalanan dari Ibu kota  Kalimantan Barat, Pontianak.

Kala itu, sebagai pengisi waktu luang dari waktu presentasi di sebuah ruang besar satu-satunya yang ada di daerah itu, saya berjalan-jalan untuk melihat lingkungan ruko dan pasar yang berhimpitan dengan tempat saya diinapkan. Tentu tidak banyak yang dapat saya lihat di sebuah kota kecil yang baru saja menjadi ibu kota kabupaten baru.  Apa yang saya saksikan dalam 'perjalanan' saya di pagi itu, mengingatkan saya kepada daerah dimana Ikal, tokoh dalam film Laskar Pelangi, saat masih kecil.

Namun dari sesuatu yang sedikit itu ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Bahkan satu hal yang benar-benar menarik tersebut adalah sebuah kios pangkas rambut. Kios pangkas rambut itu berada dalam deretan kios-kios lain yang berada di seputar pasar. Menarik, karena kursi dimana orang yang akan dipangkas rambutnya adalah kursi lawas yang dapat diputar. Tampak masih kokoh dan sekaligus unik. Juga mesin pemangkas rambutnya. Masih manual, masih model lawas yang digerakkan oleh jemari si pemangkas rambut.

Karena tertariknya, maka tidak salah jika pada saat itu, meski rambut saya belum terlalu panjang, ingin mencoba kursi dan sekaligus mesin pemangkasnya! Sebuah keinginan yang tiba-tiba muncul dan langsung gerak! Namun beberapa saat kemudian kaget saya muncul luar biasa. Yaitu pada saat tukang pangkas rambut itu memasangkan handuk yang sudah begitu kumal di bagian tengkuk...

Tersesat Setelah Pangkas Rambut

Selain dengan handuk, saya pun pernah mengalami pengalaman tak terlupakan dengan pangkas rambut. Pengalaman kedua ini saya alami ketika masih berusia Sekolah Dasar. Saat saya diantar Ayah saya untuk pangkas rambut di lagganan Ayah di Kota Gajah, Punggur, yang saat itu masih masuk Kabupaten Metro, Lampung Tengah. 

Karena langganan dan sudah kenal sangat baik, maka ketika saya ada di tempat pangkas rambut itu, Ayah saya segera meninggalkan saya di lokasi itu untuk menengok proyek rumah dinas yang sedang diawasinya, yang tidak jauh dari Pasar Kota Gajah. Pada saat rambut saya selesai di pangkas, maka tukang pangkas berpesan agar saya menunggu di kiosnya sampai Ayah saya datang menjemput. Tentu tidak lupa si tukang pangkas yang saya panggil Lek atau Paman itu memberikan uang koin untuk jajan.

Namun karena begitu girangnya dengan uang koin yang diberikannya, dan tidak sabar untuk segera membelanjakannya, maka saya berpamitan untuk menyusul Ayah di lokasi kerja. Meski tukang pangkas memaksa saya untuk sabar menunggu, tapi saya berhasil juga lolos dari pengawasan Paman saya yang tukang pangkas itu. 

Untung tak dapat diraih dan sial tak dapat ditolak. Saat saya pergi meninggalkan tempat pangkas rambut itu untuk berjalan kaki ke lokasi dimana Ayah saya berada, ternyata tida sesederhana dengan apa yang ada di pikiran saya. Karena lokasi dimana Ayah berada itu ternyata tidak saya temukan juga, meski saya telah menyusuri jalan tanggul yang ada di sepanjang kota kecil itu. Karena begitu putus asanya, juga karena haus dan keringat membuat saya semakin lemas, maka pasrah menjadi pilihan terakhir saya kala itu.

Dalam kepasrahan itulah, lahir ide agar saya kembali menyusuri jalan dimana saya tadi berasal. Sebuah gagasan yang memungkinkan saya bertemu dengan Ayah saya yang telah menunggu di sebuah jembatan sungai irigasi.

Intinya...

Saya mensyukuri saja apa yang telah menjadi bagian hidup saya. Sedang dengan handuk yang saya bawa dari rumah untuk saya gunakan sendiri saat pangkas rambut, ya sekedar untuk berjaga-jaga. Karena pagi itu memang pagi yang gelap. Karena awan dan rintik hujan yang belum juga beranjak dari wilayah yang menumbuhkan saya. Terima kasih.

Jakarta, 20 Januari 2013.