Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 Maret 2011

Statuta

Kosa kata ini belakangan menjadi sering disebut orang. Ya. Mirip nasib selebritis Indonesia yang tiba-tiba naik daun, alias terkenal. Setiap kali koran menurunkan berita tentang organisasi sepakbola Indonesia, nyaris selalu keluar kosa kata ini. Ajaib.

Inilah salah satu dari jasa, dan juga prestasi baik dari para pengurus organisasi ini, yang masa kepengurusnya akan habis pada tahun 2011 ini. Kegemilangan untuk mengangkat kata statuta dan sekaligus melambungkan prestasi kosa kata ini dalam khasanah kata Bahasa Indonesia. Ini bahasa serapan yang tiba-tiba harus diucapkan bila kita ingin membahas prestasi atau konggres organisasi ini.

Pada hari Rabu tanggal 30 Maret 2011 saja, saya kembali membaca kosa kata statuta dari orang yang berbeda di koran digital. Karena orang yang menyebutnya berbeda, pasti pembaca juga maklum bahwa sebagai dasar atau argumentasi apa kosa kata itu disebut. Ada pula akronim ikutan yang selalu menyertai kosa kata statuta tersebut. Yaitu, kalau tidak PSSI ya FIFA. Yaitu statuta PSSI atau statuta FIFA. Tampaknya, kita hanya mengenal statuta pada kedua ranah organisasi olah raga tersebut.

Sebagai Landasan Argumentasi

Dalam tulisan ini, saya tidak menuliskan bagaimana serunya proses pergantian pengurus baru dari organisasi yang mengurusi cabang olah raga paling digemari rakyat Indonesia ini, namun saya hanya mengajak kita untuk melihat adanya logika yang mirip dan sebangun dari hampir semua persoalan yang masuk dalam ranah publik serta ramai menjadi bahan berita di surat kabar atau media berita lain. Baik dalam edisi cetak maupun elektronik. Misalnya dalam hal kepengurusan ganda pada paratai politik.

Logika yang saya maksudkan tersebut adalah, kebenaran yang sama-sama mengambil dari dasar argumentasi dari pasal atau bagian lain dari dasar konstitusi yang mereka sama-sama jadikan pegangan. Dari sini, saya melihat bahwa hakekat makna dari sebuah pasal dalam landasan organisasi yang mereka miliki adalah tergantung kepada siapa yang memaknai dan menggunakannya. Terutama pada saat organisasi tidak sedang dalam kondisi yang kondusif. Seperti kasus organisasi sepak bola kita sekarang ini.

Repotnya lagi, saya sebagai salah satu penggemar olah raga ini pun, tidak memiliki dua (2) dokumen yang beberapa pasalnya sering disebut sebagai dasar berargumentasi. Misalnya pada pasal yang berkenaan dengan kata-kata kriminal.

Alhasil, dalam kisruh ini, jangankan saya mampu membuat pendapat, bahkan untuk berpandangan pribadipun saya nyaris tak sanggup bila harus mendasarinya dengan pasal-pasal yang terdapat dalam statuta organisasi mereka.

Jika saya memiliki asumsi bahwa salah seorang dari pengurus yang akan segera berakhir masa jabatannya tersebut sebagai orang yang tidak tahu diri, angkuh. Misalnya, itu justru saya dapatkan dari sebuah pernyataannya di koran. Seperti ungkapan yang dikutip media cetak berikut ini; Tidak ada konstitusi PSSI yang mengharuskan supaya diakui oleh pemerintah (Kompas, 29 Maret 2011).

Maka saya merefleksi diri; adakah sebuah keangkuhan akan mampu melahir kemuliaan?

Jakarta, 30-31 Maret 2011.

29 Maret 2011

Ketika Harus Bicara tentang Remaja

Sabtu tanggal 26 Maret 2011 lalu, bertempat di sebuah Masjid sekolah di bilangan Pasar Minggu, saya diminta teman untuk mengisi kegiatan ceramah tentang remaja di hadapan pengurs komite sekolah menengah. Sebuah pengalaman sedikit unik bagi saya. Mengingat presentasi di hadapan para orangtua saat itu berada di masjid. Selain itu, karena sesungguhnya kegiatan rutin mereka adalah kegiatan taklim bulanan. Jadilah saya didaulat seperti ustad. Berat sekali rasanya. Oleh karenanya jauh-jauh hari saya memberitahukan kepada teman bila apa yang saya sampaikan adalah apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya alami, baik di rumah atau di sekolah, berkenaan dengan kehidupan remaja. Kawan saya setuju. Maka terjadilah kegiatan itu.

Terus terang, sering saya berpikir ulang jika teman ada yang meminta saya untuk menyampaikan sesuatu di luar apa yang saya tidak kuasai, atau apa yang tidak saya alami, atau apa yang saya tidak pernah lakukan. Dan biasanya, saat berpikir ulang tersebut, ada nama yang sepengetahuan saya lebih menguasai apa yang mereka sodorkan kepada saya. Saya tidak ingin ada komentar dari audiens bahwa apa yang saya sampaikan hanyalah apa yang saya dapatkan dari membaca buku. Namun ketika saya hanya mau menyampaikan apa yang pernah saya alami selama ini mendapat persetujuan teman, maka inilah apa yang saya sampaikan.

1. Digital Native

Ini menurut pendapat orang. Bagaimana bentuk konkritnya pada perilaku mereka dalam ranah ini? Mereka benar-benar memiliki fleksibilatas yang tinggi ketika berhadapan dengan dunia teknologi informasi. Kelenturannya yang dahsyat tersebut membuat mereka menikmati dan tenggelam dalam dunia maya. Sebagaian mereka benar-benar mampu mengekang kemahirannya untuk kebaikannya, dan sebagainnya tenggelam dalam menghabiskan waktunya sekedar untuk sosialisasi. Berbeda dengan kita, sedikit kaku ketika harus berhadapan dengan perangkat TI.

Keberadaannya sebagai pribumi dalam dunia TI, membuatnya juga sukses dalam bermain gambar. Maka, blog dan halaman catatan hariannya akan lebih dipenuhi oleh ilustrasi dan visual daripada narasi seperti apa yang kita lakukan.

Fleksibilitas dan kelenturannya dala bidang itulah yang akhirnya saya berpendapat bahwa sesungguhnya mereka adalah generasi yang pintar. Tapi mengapa nilai angka pelajaran mereka tidak menunjukkan itu? Saya punya dua dugaan. Pertama, karena pelajaran bukan menjadi fokus dan minat dia. dan kedua, dari kenyataan pertama itu, sayangnya cara kita memandang pintar hanya dari nilai mata pelajaran di sekolahnya.

2. Puber

Dalam masa pancaroba ini, remaja relatif klop dengan masa ngeyelnya. Kita yang berada di luar mereka akan selalu melihat itu sebagi sebuah fakta. Padahal sesungguhnya, antara mereka dan kita tidak sedang dalam gelombang dan koordinat yang sama. Ketidaksamaan itu bermakna ketidakpatuhan. Yang bersinonim dengan ngeyel. Padahal, ketika kita masih remaja, apa pendapat kita terhadap remaja yang ada dalam pikiran kita sekarang? Kalau meminjam istilah remaja, cupu.

3. Serba Mudah

Yang berlaku pada umumnya, remaja mendapat prioritas perhatian dari para orangtuanya. Siapa yang akan menyangkal bahwa remaja sekarang berada dalam situasi yang menguntungkannya? Saking beruntungnya, bahkan ada diantara orangtua mereka yang berujar: Dulu saya sudah susah, sekarang anak saya jangan sampai susah. Repotnya, ketika orangtua berujar seperti itu, tentu bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan dan keperluan remajanya. Sejak remajanya terbangun dari lelapnya tidur, hingga akan tidur. Semua kebutuhan mereka mendapat prioritas perhatian para orangtuanya.

Namun, ketika perhatian tersebut sudah keluar dalam ambang batas kewajarannya, maka remaja yang pintar tersebut akan menarik kesimpulan bahwa ia hidup dalam situasi mudah. bahkan mungkin ada yang menyimpulkan bahwa, mereka hidup tidak lagi sekedar dalam dunia yang serba mudah, tetapi bahkan serba mungkin. Pada posisi seperti ini, kita sebagai orangtua kadang lupa bahwa, kenyataan yang tidak serba mudah justru akan menempa jiwa dan raga remaja menjadi lebih kuat dan lebih pintar.

Asumsi kepada sikap serba mudah dan serba mungkin, akan membawa mereka masuk dalam budaya pragmatisme. Sehingga untuk apa lulus ujian nasional dengan mendapatkan angka maksimal? Kalau toh sebelum ujian berlangsung mereka telah mendapatkan sekolah di jenjang yang lebih tinggi?

Seperti saya sampaikan di atas, semua itu tidak menjadi tren bagi semua remaja. Dan mudah-mudahan itu terjadi pada remaja kita sendiri di rumah. Semoga. Amin.

Jakarta, 29 Maret 2011.

27 Maret 2011

Menanam Pohon dan Mimpi Saya

Mari kita menanam pohon. Ajak Uly Sigar Rosadi di atas panggung. Ajakan yang disampaikan saat acara Gelar Pamit Tim Duta Seni SD Islam Al Ikhlas, Cilandak, Jakarta Selatan pada Sabtu, 26 Maret 2011 lalu. Nenek Uly, begitu Uly Sigar Rosadi dipanggil sang cucu yang juga adalah salah satu dari 27 peserta SD Islam Al Ikhlas, yang akan berangkat ke Fathiye, Turki pada 18-28 April 2011.

Ajakan untuk menanam pohon yang merupakan syair dari lagu yang dinyanyikannya, bersama putrinya, adalah ajakan untuk menjadikan alam sebagai sahabat. Ajakan yang juga bertepatan dengan hari bumi. Ajakan yang membuat saya berefleksi dan merenungkan akan pertanyaan yang selama ini menggantung di benak saya. Dimana lagi tunas-tunas baru saya akan saya tanam? Sebuah pertanyaan yang pada ujungnya menerbitkan mimpi.

Sebagaimana telah menjadi kebiasaan saya selama ini untuk menyemai beberapa biji tanaman yang saya temukan di jalan, atau yang saya minta ketika berkunjung di suatu tempat, atau ketika buah dari biji yang telah selesai saya santap. Dan setelah biji-biji itu nampak tumbuh menyenangkan, saya bingung untuk menanamnya. Oleh karenanya, dengan ajakan Uly untuk menanam pohon, bukan niat yang tidak ada pada diri saya. Tetapi justru area yang sudah tidak tersedia bagi saya.

Punya Rumah Relatif Kecil dan Tanah yang Relatif Luas

Inilah mimpi saya. Mimpi yang terbit dengan afirmasi yang relatif cemerlang. Punya tanah yang relatif luas, ini adalah salah satu bentuk harapan agar memungkinkan bagi saya untuk menyemai, menanam tumbuhan yang dapat menjadi teman hidup. Kehausan saya untuk menanam dan merawat tanaman dapat terakomodasi hanya dengan luasan tanah yang relatif cukup.

Disana akan tersedia tanaman buah dengan berbagai macam yang mungkin sudah tidak ada dalam ingatan anda. Juga tanaman keras yang akan mampu menyerap air tanah serta mengolah oksigen bagi saya, keluarga, dan tetangga.

Kalaupun harus ada bangunan, saya akan mempertimbangkan sekali keluasannya. Karena prioritasnya bukan bangunan tetapi lahan. Itu kalau posisi di daerah yang ramai. Dan tentu akan berbeda lagi mimpi saya bila tanah yang saya miliki ada di daerah sepi. di kampung halaman misalnya.

Namun yang menjadi prinsip utama dimanapun tanah yang nantinya Allah titipkan untuk saya adalah menanam pohon. Seperti ajakan Uly Sigar tersebut.

Bagaimana pula dengan rumah? Seperti apa bentuk dan gambaran dari rumah saya yang saya katakan relatif kecil itu? Mungkin seperti rumah BTN itu. Tentu dengan berbagai tambahannya. Yang pasti, rumah saya adalah rumah untuk menikmati alam dan semilir angin, serta untuk menemukan dan mewujudkan inspirasi.

Lalu, kapan menanam pohon dapat saya lakukan? Apakah menunggu hingga mimpi saya tentang tanah dan rumah tersebut terwujud nyata terlebih dahulu? Tidak. Setidaknya sekarang ini, saya telah pupuk pada diri saya dalam menyemai biji tanaman. Dan mungkin teman yang akan saya berikan benih itu untuk ditanamnya di rumah barunya.

Jadi, saya tidak akan pernah berhenti untuk menanam pohon meski itu di dalam pot. Juga tak akan pernah berhenti bermimpi untuk mendapat amanah memiliki tanah yang relatif lega dan juga rumahnya! Amin.

Jakarta, 27 Maret 2011.

Guru Mestinya Mengajarkan Apa yang Siswa Butuhkan

Kawan saya di Facebook, yang tinggal di Purworejo, Jawa Tengah, suatu saat menulis satu paragraf tentang apa yang guru ajarkan di sekolah di dindingnya. Tulisan itu adalah: ... yang terjadi adalah guru mengajarkan apa yang ia tahu. padahal menurut kurikulum yang dibuatnya, guru itu mestinya mengajarkan apa yang siswa butuhkan. Meski saya tudak mengomentari, namun tidak urung juga bahwa tulisannya itu mengusik pikiran saya sebagai pendidik.

Apa yang ditulisnya itu, keseluruhannya saya setuju dan sepakat bulat. Benar. bahwa itulah seyogianya apa yang menjadi dasar bagi interaksi guru-siswa di sekolah. Karena menurut saya, siswa dan guru hidup dalam alam yang berbeda. Dan kerena berbeda, maka tuntutan lingkungan terhadap guru sekarang ini dan terhadap siswa kelak dikemudian hari tidaklah sama. Guru berada pada masa sekarang ini dituntut oleh beberapa hal yang benar-benar tampak. Sedang siswa yang berada di masa yang akan datang, akan dituntut beberapa hal yang belum napak. Bekum diketahui seperti apa dan bagaimana?

Dengan fakta itu, maka yang diperlukan siswa untuk dipelajari dan dikuasai adalah keterampilan untuk bertahan dan berkompetisi di masanya nanti. Seperti apa masa nanti itu? Jika kita telah memiliki prediksi tentang hal itu, maka langkah berikut adalah membuat beberapa hal yang perlu dan harus menjadi kepandaian dan keterampilan hidup siswa. Namun, begitukah apa yang terjadi di dalam interaksi guru-siswa di dalam kelas di sekolah-sekolah kita pada detik ini? Bagaimana? Mengapa?

Guru dan Siswa

Di dalam kelas di sekolah-sekolah kita hari ini, guru membelajararkan target kurikulum pada aspek kognitif yang bernama ketuntasan belajar. Aspek ini terimplementasi dalam bentuk serangkaian materi atau bahan ajar. Bahan ajar ini di kelas akhir pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar hingga SMA dikerucutkan dalam keputusan menteri dalam istilah Standar Kompetensi Lulusan atau SKL atau kisi-kisi.

Itulah panduan konkrit tentang apa yang harus 'diselesaikan' oleh guru dalam interaksi pembelajarannya dengan siswa di kelas. Dan tolak ukur atas kineja dari interaksi itu adalah angka kelulusan siswanya. Melihat itu, maka apa yang seharusnya atau apa yang dibutuhkan oleh siswanya adalah SKL.

Bagaimana dengan keterampilan hidup yang seharusnya diberikan siswa sebagaimana yang ditulis kawan saya itu? Jika mengacu kepada apa yang harus diberikan guru dengan melihat ketentuan di atas, disimpulkan bahwa apa yang dilakukan guru telah tuntas. Tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi.

Bagaiaman juga dengan tulisan kawan saya di dinding fb-nya itu? Menurut saya juga benar. Tulisan itu berada pada tataran ide atau taran paradigma yang semestinya terjadi. Sedang guru berkewajiban membelajarkan apa yang termuat secara legal formal, yang dilaksanakannya, yang adalah benar adanya.

Jadi apa langkah kita untuk mempertemukan apa yang seharusnya dengan apa yang dituntut secara formal? Menurut saya, adalah bagaimana kita dapat menjadikan keterampilan hidup itu sebagai bagian dari hasil belajar lulusan. Dan juga meyakini bahwa, hasil ketuntasan siswa tethadap SKL yang akhirnya dalam bentuk hasil ujian, hanyalah salah satu dan bukan satu-satunya hasil belajar.

Dengan berpegang kepada paradigma inilah maka dalam seluruh interaksi guru-siswa harus terjadi pemindahan keterampilan hidup dan keterampilan kognitif secara berkesinambungan dan pararel. Konsep ini hanya dapat dan mungkin terjadi bilamana proses pembelajaran menjadi bagian penting yang harus dirancang oleh guru dalam proses interaksi tersebut.

Namun bagaimana bila proses dalam interaksi guru-siswa di sekolah kita masih belum menjadi bagian yang dianggap penting? Pendapat saya adalah: itulah esensi di balik jawaban terhadap apa yang disampaikan kawan saya di dinding facebook-nya.

Jakarta, 27 Maret 2011.

Penagih Hutang di Sekolah

Hati-hatilah menjalani seluruh aktivitas hidup bila Anda adalah orang yang memiliki hutang. Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti para pengemplang BLBI yang sebagiannya lari dan bahkan kabur dari  bui dan hingga kini tidak terendus baunya.  Bukan itu. Karena untuk apa saya menakut-nakutinya. Bahkan negara ini pun sudah terbukti untuk sekian tahun telah atau belum juga berkemampuan membuat mereka bertangungjawab atas hutang-hutangnya.


Tulisan ini hanya sebagai pengingat bagi siapa saja pembaca, yang meminjam atau memiliki pinjaman uang dan karena kepepet dan memang beritikad baik masih berkomitmen untuk mengembalikan hutang-huntangnya. Atau paling tidak Anda sebenarnya tidak atau tidak mampu mengembalikan karena tiba-tiba Anda menjadi orang yang tidak mampu. Anda jatuh menjadi ghorimin dalam bahasa agamanya.

Tamu tidak Diundang

Saya tidak begitu faham apakah orang yang akan saya ceritakan ini masuk dalam kategori pengemplang hutang atau masuk dalam ghorimin. Tapi begenilah yang terjadi pada pagi itu, Rabu, 23 Maret 2011, di sekolah yang kami sangat banggakan. Seorang laki-laki datang ke sekolah dan bertemu dengan seorang guru kami dilantai atas. Ya, tamu yang tidak diundang.

  • Ada yang bisa dibantu Pak? Mau bertemu dengan siapa? Tanya guru.
  • Mau bertemu dengan Tono Bu? Jawab tamu.
  • Kelas berapa Pak? Tanya guru lagi, meminta kejelasan tamu.
  • Saya tidak tahu jelas berapa ya Bu?
  • Maaf, bapak siapanya Tono?
  • Saya bukan siapa-siapanya Bu.
  • Loh, kalau begitu apa tujuan bapak menemui Tono?
  • Ayahnya punya hutang Sama saya. Jadi saya ingin ketemu anaknya. Jelas tamu.
  • Kalau itu alasan bapak mau bertemu Tono, kami tidak ijinkan. Karena bapak ada indikasi akan menculik Tono.  Ancam guru sekaligus menjelaskan dengan nada gugup karena shok mendengar tujuan tamu.

Dan alhamdulillah, mendengar apa yang disampaikan guru, tamu itu balik kanan setelah mohon maaf. 

Peristiwa tersebut langsung menjadi bahan evaluasi kami di sekolah. Satpam, yang memberikan ijin kedatangan tamu, langsung kami jadikan sumber utama bagi pembahasan kronologi peristiwa tentangnya. Sekaligus juga sebagai pihak pertama yang kami evaluasi. Dan dari rekaman cctv didapati bahwa orang tersebut sudah 'menggambar' sekolah sejak satu hari sebelumnya. Ia, tamu yang tidak diundang tersebut, ditemani seorang Ibu,  tampak memarkirkan kendaraannya di tempat parkir sebelum akhirnya bertemu dan berbincang dengan Satpam yang tugas jaga hari itu.

Siang hari setelah kejadian pada hari Rabu itu, saya menyampaikan kronologi kejadian kepada ayah Tono saat menjemput di ruangan saya. Ayah Tono tampak gugup ketika tiba-tiba harus kami ajak diskusi di ruangan. Dalam pertemuan itu, saya wanti-wanti  sekali, berpesan sekali, agar masalah hutangnya menjadi perhatian atas keselamatan anandanya.

Pesan itu harus saya sampaikan karena tampaknya, para penagih hutang pun, sudah nyaris tidak punya tatakrama terhadap dunia pendidikan di sekolah. Nyaris pula sama terhadap perebutan anak ketika suami-istri memutuskan untuk berpisah dan cerai. Sekolah menjadi tempat yang empuk bagi kancah kebejatan sebagaian masyarakat yang sedang  dihinggapi penyakit kalap.

Kepada teman guru, inilah lahan baru bagi perjuangan memegang teguh amanah. Selamat berjuang!

Jakarta, 25-27 Maret 2011

25 Maret 2011

Pemerintah Daerah Bangkrut?


Pertama sekali saya menemukan judul berita di Kompas, Jumat, 25 Maret 2011 di halte bus transjakarta Slipi Palmerah pagi itu saya kaget. Judul beritanya itulah yang bikin saya kaget. PEMDA, Bangkrut akibat Birokrasi Gemuk. Sebuah berita yang sesungguhnya tidak sampai pada nalar saya. Pemerintah Daerah bisa bangkrut? Sebuah logika yang sulit di terima akal. Di Indonesia?

Apa hendak dikata, karena itulah judul berita yang ditulis di koran nasional. Sulit juga bagi saya untuk tidak mempercayainya. 

Namun diantara raga kaget itu, justru muncul berbagai pertanyaan sebelum saya memulai membaca artikel beritanya. Dan kekagetan itu semakin menumbuhkan pertanyaan yang mendorong rasa ingin tahu saya untuk segera membacanya secara tuntas.
Seperti diketahui, Provinsi NAD saat ini memiliki 18 kabupaten dan 5 kota... Hampir semua kabupaten dan kota di Aceh ini mengalami kebangkrutan anggaran. Sejumlah daerah, seperti Langsa, Bireun, dan Aceh Utara, bahkan terjerat hutang dengan pihak ketiga dan perbankan guna menutup anggaran hingga miliaran rupiah. Sebagian lain tak mampu membayar gaji para pegawai... (Kompas, 25 Maret 2011).
PEMDA Bangkrut?

Itulh berita yang menarik bagi saya hari itu. Sebuah pemerintahan yang harus terlilit hutang karena pendapatan dan pengeluaran yang tidak sebanding. Saya kembali mengajukan pertanyaan dalam benak, bagaiaman pula pemerintahan ini membentuk pemerintahan baru dalam bentuk kebijakan pemekaran bila visibilatasnya memang memungkinkan bangkrut? Atau, bagaimana orang yang berwewenang di daerah tersebut harus membuat kebijakan pegawai dan kebijakan penggajiannya bila memang tidak tersedia uang di kantongnya?

Pendek kata, sulit saya membuat kesimpulan dari berita yang saya baca pagi itu. Dan oleh karenanya, saya tidak mungkin dapat membuat konklusi dari sebuah berita di koran tersebut. Meski menyampaikan fakta dan data yang sahih dan dapat dipercaya kebenarannya. Karena sangat mungkin apa yang terdapat dilapangan ada nuansa yang berbeda. Itulah sebabnya saya mengambil fakta dari korang ini untuk merefleksi pada kehidupan kita yang lebih riil. Yaitu saya dan keluarga. Atau Anda dan keluarga Anda.

Keluarga Bangkrut?

Bagaimana juga dengan kita yang hidup dalam ranah sosial paling kecil di masyarakat, yaitu di dalam keluarga? Saya, Anda, Kami, dan Kita, yang juga menjadi bagian dari sebuah institusi masyarakat dapat pula menjadi bangkrut secara ekonomi sebagaimana yang dimuat dalam koran Kompas itu. Itu tidak lain karena antara pendapatan yang harusnya menjadi bahan dasar untuk dikelola tidak sebanding  dengan pengeluaran yang terjadi, sehingga menghasilkan selisih negatif. Sehingga menyebabkan anggaran yang selalu kurang. Mengapa kurang? Yang pasti sebagaimana peribahasa yang kita punya; Besar pasak dari pada tiang. Besar pengeluaran daripada pendapatannya. Mengapa pasaknya besar? Salah satunya karena gaya hidup.

Dari sinilah saya ingin sekali menyampaikan agar kiranya kita dapat mengekang birahi terhadap pola dan gaya hidup yang memang belum atau bahkan tidak pantas menjadi bagian dalam dirti kita. Karena sesungguhnya, penghargaan orang lain kepada kita bukan pada gaya hidup atau image yang kita ingin pancarkan melalui sesuatu yang sebenarnya kurang patut kita punyai. Tetapi dari keseluruhan diri dan keluarga kita. Semoga. Amin.

Jakarta, 25-26 Maret 2011.

24 Maret 2011

Kepemimpinan Operasional

Terhadap kepemimpinan di sekolah atau lembaga atau organisasi yang membutuhkan perubahan secara reguler dalam mencapai pertumbuhan yang menyehatkan bagi lembaganya, saya melihat perlunya melahirkan pemimpin yang memiliki kompetensi utuh dalam melahirkan hasil kerja optimal lembaga dan sekaligus mampu juga memberikan inspirasi bagi lahirnya pemimpin baru. Model pemimpin yang mampu mewujudkan apa yang saya gambarkan seperti itu, menurut saya, adalah model kepemimpinan operasional dan bukan kepemimpinan administratif. 
Saya mengartikan istilah ini sebagai bentuk kepemimpinan yang berfungsi sebagai pengawalan atas kebijakan yang diambil pemimpin dan lembaga. Pengawalan akan bersifat kontrol dan sekaligus sebagai pendampingan atau patner. Sehingga fungsi pemimpin akan terus menerus berada dalam atmosfir atau berada dalam komunitas yang dipimpinnya. Ia secara aktif dan proaktif dalam mengembangkan visi yang dimilikinya tidak saja dalam tataran administratif tetapi langsung ada di lapangan perjuangan. Saya membadingkan secara frontal model kepemimpinan operasional dengan kepemimpinan administratif. Perbandingan ini akan memberikan gambaran yang lebih nyata terhadap fungsi dan manfaat dari dua model kepemimpinan ini.

Kepemimpinan administratif saya artikan sebagai model kepemimpinan yang pemimpinnya menitikberatkan kepada ketuntasan administratif. Baik dalam pembuatan target, implementasi strategi pencapaian target, hingga pencapaian targetnya, pemimpin hanya akan berkutat kepada data serta fakta administrasi di belakang meja di ruang kerja sang pemimpin.

Dari dua model kepemimpinan yang saya gambarkan di atas, menuntut pula pola komunikasi yang kontras berbeda. Kepemimpinan operasional akan menuntut seorang pemimpin yang mampu berkomunikasi secara emosional, strategis, dan taktis. Pola komunikasi ini akan dirasakan oleh komunitas sebagai kehangatan yag sekaligus mencerdaskan komunitas yang ada. Pola komunikasi kepemimpinan operasional akan melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang akan lebihcemerlang dikemudian hari. Karena kepemimpinan oprasional selalu akan memberikan inspirasi bagi anggota komunitas yang memiliki potensi pemimpin.

Sedang kepemimpinan administratif hanya akan membuat kelanjutan atau keberlangsungan dari lembaga atau organisasi yang dipimpinnya. Namun karena model kepemimpinan ini tidak memiliki pola komunitasi yang hangat tetapi justru malah komunikasi formal yang kaku, maka dalam jangka panjang model kepemimpinan seperti ini akan merugikan organisasi atau lembaga. Lebih-lebih oraganisasi atau lembaga swasta.

Darimana model kepemimpinan operasional ini dapat dimiliki oleh kita semua yang telah menjadi pemimpin atau yang akan menjadi pemimpin, atau yang bercita-cita menjadi pemimpin? Menurut saya, tidak ada jalan lain selain kita sendiri belajar dan sekaligus meneladani pemimpin-pemimpin yang telah mampu menorehkan sejarahnya. Baik pemimpin paripurna yang ada di khasanah agama seperti Muhammad SAW serta para sahabatnya hingga pada generasi tabi’-tabi’in.

Jakarta, 24 Maret 2011.

22 Maret 2011

Konferensi Siswa


Konferensi Siswa, atau dalam istilah yang baku disebut sebagai student led conference (SLC) atau dikenal juga sebagai konferensi tiga arah, adalah model penerimaan rapot siswa yang saat ini kami laksanakan di Sekolah Islam Tugasku, sekolah dimana saya ada dan menjadi bagian di dalamnya. Kami insyaAllah akan melakukannya lagi untuk Penerimaan Rapot Tengah semester dua tahun tahun pelajaran 2010/2011 ini.

Belum semua unit dan tingkat kelas dapat kami lakukan. Sebagai bagain dalam pembelajaran kami sendiri, siswa dan juga orangtua siswa, untuk tahun pelajaran ini kami lakukan bagi kelas 4 SD hingga kelas 9 SMP. Ini adalah pelaksanaan untuk kali yang kedua, setelah sebelumnya, pada pertengahan semester satu tahun pelajaran ini juga, untuk kali yang pertama.
 
Dalam konferensi siswa, maka siswa akan menjadi aktor utama dalam perjalanan belajarnya sepanjang setengah semester sebelumnya. Dan kemampuannya tersebut diwujudkan dalam mempresentasikan hasil belajar setengah semesternya kepada pihak orangtua.

Oleh karenanya siswa akan memimpin ‘konferensi’ tersebut dalam bentuk presentasi tentang apa yang sudah diraih dan diikhtiarkan dan juga apa yang akan diusahakannya di masa berikutnya. Juga mungkin kendala dan harapan. Guru akan memberikan bantuan seperlunya. Peran guru sebagai moderator konferensi. 

Dalam konsep ini, siswa sebagai pemeran utama, berlatih menjadi diri yang bervisi, bekomitmen, dan mandiri serta berani. Sedang pihak orangtua akan menjadi partner anak dalam menuju cita-citanya. Oleh karenanya sikap positif orangtua terhadap anak, sangat dituntut dalam suksesnya kegiatan ini. Perlu disampaikan lagi disini bahwa, nilai atau angka akademik bukanlah satu-satunya hasil belajar. Tetapi salah satu dari kompetensi yang harus siswa miliki. Untuk itulah maka kita harus memberikan apresiasi terhadap apa yang telah diikhtiarkan siswa dengan sungguh-sungguh. 

Sebagai catatan bahwa, kami, guru dan kepala sekolah yang ada di lingkungan sekolah Tugasku, bersepakat untuk menjadikan Konferensi Siswa sebagai kegiatan penerimaan rapot di tengah semester. Untuk itu, kami menyepakati jadwal pelaksanaannya untuk tahun pelajaran 2011/2012 sebagai berikut:
  • Pertengahan Semester 1 (Oktober 2011) dilaksanakan oleh:
  • SD kelas 2-Kelas 6,
  • SMP kelas 7-Kelas 9.
  • Pertengahan Semester 2 (Maret 2012) dilaksanakan oleh:
  • TK Kelas B,
  • SD Kelas 1- Kelas 6,
  • SMP kelas 7-9.
Pelaksanaan Konferensi Siswa pada semester dan tahun depan sebegai bentuk peningkatan kompetensi siswa sebagai persiapan masa depannya di kelas kemudian hari. Semoga kegiatan ini selalu mendapat pertolongan dan keberkahan dari Allah. Amin.

Jakarta, 22 Maret 2011.

20 Maret 2011

Remaja itu, Dina Namanya

Dina. Ya, inilah nama buatan saya dalam artikel ini. Remaja yang saya kagumi, seperti bagaimana saya mengagumi anak-anak saya sendiri di rumah. Remaja yang 'tahu diri', yaitu yang jujur terhadap kondisi dan keadaan lingkungan terdekatnya. Remaja yang tabah, yaitu remaja yang tidak menyalahkan orang lain atau lingkungannya. Remaja yang tidak mudah atau cepat menyerah serta putus asa. Remaja yang tetap remaja, yaitu yang bergairah dalam 'menikmati' usia remaja dengan berbagai pandangan serta tindakan yang positif.

Remaja yang menjadi siswa saya. Yang harus saya sembunyikan jati dirinya yang asli., agar tetap dapat menatap dunia dengan pandangan yang penuh harapan. Namun saya dan Anda dapat mengambil manfaatnya dari sana. Adalah remaja yang sejak duduk dibangku SD sudah harus mengalani keprihatinan hidup.

Keprihatinan yang lahir akibat harus tinggal bersama Ibu tirinya. Meski tidak sedikitpun ia bercerita tentang kehidupannya yang kurang nyaman dengan Ibu Tiri. Juga tentang apa saja yang menyakitkannya kepada kami gurunya.
Dia yang sebelumnya besar dalam suasana keluarga berkecukupan yang tinggal di daerah elit di Jakarta dan juga rumah peristirahatan yang luas dan sejuk di Puncak, namun harus beradaptasi untuk pergi dan pulang sekolah dengan naik transjakarta. Kondisi itu dialaminya sejak ayah dan ibunya berpisah, Dan sekarang harus tinggal bersama ayah dan Bunda tirinya. Dan kemudian ambruknya denyut ekonomi sang ayah. Ia mengalaminya bersama dengan kakak kandungnya sebelum akhirnya sang kakak memilih untuk tinggal bersama Ibu kandungnya.

  • Mengapa kamu memilih tinggal bersama ayah Dan bukan bersma Ibu? Tanya guru BK suatu kali.
  • Saya harus menemani ayah. Karena sayalah yang bisa menjaga ayah. Jawabnya tegas penuh keyakinan. Jawaban yang membuat kami yang mendengar tergagap tidak percaya meski bangga.

Pertanyaan ini lahir karena sejak masuk di bangku sekolah menengah atau bahkan sebelumnya, anak ini selalu mengalami kesulitan untuk membayar uang sekolah secara tepat waktu. Dan untuk mengatasinya, maka sekolah selalu berkomunikasi dengan Ibu kandungnya.
Bagaimana ayahnya sehingga harus ibunya yang menyelesaikan masalah pembayaran? Seperti saya jelaskan diatas, ayahnya mengalami kesulitan ekonomi pada tahap yang akut. Meski surat sekolah sudah sampai di tangan sang ayah.

Kondisi seperti inilah yang berkontribusi hebat untuknya sebagai anak. Dia sendiri justru faham bagaimana bunyi surat sekolah untuk ayahnya itu, meski amplop surat tersebut disampaikan kepada ayah dengan tetap tertutup rapi. Dan dia menyadari mengapa sekolah berkirim surat kepada ayahnya, karena selama ini memang tidak ada pembayatan yang dilakukan ayahnya. Di saat seperti itu ia akan langsung bertanya kepada guru BK, apa yang harus dia lakukan berkenaan degan surat tagihan itu?

Itulah Dina, remaja yang mengagumkan bagi saya. Karena mampu menjadi dirinya yang tetap komit menjadi remaja baik, ditengah badai keluarga yang tidak ringan.

Jakarta, 19-21 Maret 2011.

Berbagi SHU Di Koperasi Al Ikhlas

Sabtu tanggal 19 Maret 2011 lalu, menjadi hari yang membahagiakan bagi warga di Sekolah Islam Al Ikhlas, Cilandak, Jakarta Selatan. Pasalnya, mereka yang terdiri dari guru, karyawan, Yayasan, dan warga lainnya yang menjadi anggota dari Koperasi Maslahat Ummat I atau Kopmuma I Masjid Al Ikhlas hadir dalam acara Rapat Anggota Tahunan. Sebuah kegiatan koperasi yang selalu ditunggu oleh para anggotanya. Wajar saja jika ruangan yang terisi penuh itu menjadi meriah sepanjang kegiatan dan sesi rapat berlangsung pada hari itu. Karena selain akan membagikan sisa hasil usaha koperasi tahun buku 2010 sebesar Rp 273, 5 juta untuk 174 anggotanya, kegiatan RAT ini juga adalah untuk melakukan pemilihan pengurus koperasi masa bakti 2011-2012.


Uang SHU yang dibagikan kepada anggota koperasi pada hari itu merupakan 60 persen dari total keuntungan koperasi tahun 2010 yang berupa SHU. Angka yang membuat seluruh peserta RAT gembira dan bahagia serta bersyukur.

Koperasi yang semula lahir mulai dari unit usaha simpan ini pada tahun 1995 yang lalu, kini menjadi besar dan mampu memberikan keuntungan bagi para anggotanya secara signifikan. Sebuah unit ekonomi bagi mereka yang menjadi angotanya untuk tidak lagi tertarik dengan KTA, kredit tanpa jaminan. Bahkan hingga beberapa anggotanya membeli sebidang tanah atau sebuah rumah, juga sepeda motor!

Beda Cara Pandang 

Dalam sesi-sesi yang saya ikuti selama rapat berlangsung, banyak pihak menyampaikan pendapat. Selain tentunya, pengurus koperasi periode 2008-2010 yang diketuai oleh Bapak Datum Hadi Saputro, yang kebetulan juga adalah Kepala Bagian Sarpras di Sekolah Islam Al Ikhlas. Sebagai salah satu dari peserta rapat, saya dapat  menangkap adanya perbedaan cara pandang antara pengurus koperasi dan beberapa anggotanya dalam melihat suatu fakta yang terjadi. Misalnya saja seperti yang disampaikan oleh seorang anggota pada sesi tanya jawab. 

Misalnya; Anggota yang bertanya tentang perbedaan perolehan SHU diantara mereka. Dimana ada yang mendapat SHU nyaris 3 kali lipat dengan apa yang didapatnya? Darimana menghitungnya? Bukankah mereka sama-sama sebagai karyawan dengan take home pay yang relatif sama? Pertanyaan sederhana dan dari cara berpikir yang sederhana pula. Namun justru pertanyaan seperti ini yang bila dipahami oleh seluruh anggota koperasi akan menjadi modal yang dahsyat dalam pengembangan koperasi selanjutnya.

Dan terhadap fakta seperti ini, pengurus menjelaskan bagaimana menghitung SHU setiap anggotanya. Dimana disimpulkan bahwa semakin besar kontribusi seorang anggota koperasi kepada keuntungan koperasi, maka semakin besar pula prosentasi pembagian SHU untuknya. Lalu, bagaimana dan apa bentuk kontribusi anggota itu? Yaitu rajin melakukan peminjaman uang dan tentunya rajin pula melunasinya. Serta rajin juga membeli barang dengan cara mencicilnya, juga melakukan pembelian kebutuhan sehari-hari di warung koperasi untuk kebutuhan keluarganya.

Tentang pertanyaan ketidakadilan dalam pencairan peminjaman yang juga menjadi pertanyaan anggotanya, pengurus koperasi menjelaskan bahwa dalam merealisasikan peminjaman anggota, pengurus juga melihat pendapatan peminjam. Jangan sampai terjadi jumlah pendapatan peminjam sudah habis dipotong karena peminjaman terdahulu yang belum lunas. 

Saya melihat betapa sulitnya pengurus menjelaskan secara transparan berkenaan dengan hal-hal sensitif semacam ini. Anggota mempertanyakan seolah-olah telah terjadi ketidakadilan, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah sudah begitu banyaknya tanggungan peminjaman anggota yang bermaksud mengajukan peminjaman lagi.

Namun dari apa yang saya ikuti sepanjang berlangsungnya RAT tersebut, saya turut berbahagia sekali. Saya teringat dengan komentar teman anggota di sekitar awal tahun 1995 yang mempertanyakan apa manfaat koperasi? Itu dikemukakan ketika koperasi tersebut masih menjadi koperasi simpan pinjam dan dengan modal yang kecil. Lalu karena merasa tidak ada manfaatnya, maka anggota tersebut mengundurkan diri dari keanggotaannya. Dan keadaan berbalik ketika pihak Yayasan merestui berdirinya koperasi yang diprakarsai oleh Bapak Suratno, S.Sos. di sekitar April 1995. Yang dengan restu itu, maka paket buku sekolah menjadi tanggung jawab koperasi. Juga akhirnya semua yang koperasi mampu lakukan.

Dan terhadap anggota yang pernah mengundurkan diri itu, saya sempat menunda keanggotaanya kembali beberapa waktu, sebagai bagian dari pelajaran baginya dan bagi saya sendiri, sebelum saya benar-benar mengundurkan diri jadi pengurus koperasi karena memutasikan diri ke institusi lain di Tangerang, Banten. 

Sekarang, dengan selalu mengucap kesyukuran, saya melihat apa yang terjadi pada RAT hari itu, adalah sesuatu yang membanggakan dan membahagiakan. Untuk dan atas SHU saya yang paling tinggi dalam RAT itu, saya mengucapkan terima kasih kepada pengurus koperasi periode 2008-2010. Dan ucapan selamat kepada ketua koperasi terpilih untuk periode 2011-2012.

Jakarta, 20 Maret 2011.

19 Maret 2011

Ring Laga itu, Bernama Sekolah

Judul ini adalah cerminan dari apa yang saya asumsikan bahwa banyak diantara kita yang menjadikan putra atau putrinya adalah sebagai para petarung (yang sangat mungkin juga petinju), yang harus memenangi laga. Dalam bingkai sekolah, maka laga pertarungannya adalah ulangan atau tes atau ujian.


Dalam artikel ini, yang saya metaporakan sebagai ring laga dalam pertandingan tinju, yang menjadi lokasi bagi pertatungan untuk menjadi pemenang adalah sekolah. Sedang siswanya saya metaporakan sebagai petinju. Maka dimana posisi orangtua siswa dan guru di dalam metapora saya ini? Orangtua siswa akan berperan sebagai pelatihnya para pentinju. Sedang guru berperan sebagai juri yang menentukan petarung mana yang keluar sebagai juara.

Sebagai petarung yang memiliki target dan memegang misi untuk memenangkan 'pertandingan',  maka diperlukan persiapan yang tidak saja keras, tetapi juga cerdas. Keras dalam arti mendapatkan porsi atau beban latihan, yang dalam hal ini adalah  belajar.  yang harus berada pada posisi di atas rata-rata siswa yang berada dalam kelasnya. Sedang cerdas berarti dalam melakukan latihan dan balajar tersebut dengan menggunakan strategi untuk mencapai hasil yang jauh lebih optimal dan maksimal.

Termasuk juga persiapan yang cerdas adalah melihat atau bahkan mengintip kekuatan lawan. Ini sebagai pembanding agar petarung kita bisa kita petakan. Dengan pemetaan ini, nantinya kita dapat membuat evaluasi akan apa yang telah dan harus kita siapkan. Dalam bagian ini pelatih atau otangtua siswa harus benar-benar paham akan prediksi hasil dari ikhtirar siswa. Apa bentuknya persiapannya? Memberikan tambahan waktu belajar seperti les atau berbagai bentuk pendalaman materi lainnya.

Dan guru yang berdiri pada posisi wasit, akan membuat parameter yang dapat serta mampu sebagai pembeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Parameter itu yang kita namai dengan tes atau evaluasi, yang dilakukan secara reguler. Baik dalam bentuk harian, semester, dan juga ujian akhir.

Lalu bagaimana proses 'pertarungan'  itu berlangsung? Di sekolah guru sudah menyiapkan serangkaian alat tes yang harus diselesaiian siswa. Hasil kerja siswa tersebut akan menjadi catatan prestasi setiap siswa yang kemudian menjadi angka hasil belajar siswa, yang akan menjadi penentu berhasil dan gagalnya seorang siswa di tingkat belajar yang dilaluinya. 

Interaksi guru-siswa dalam ranah seperti ini menjadi kering dan formal. Interaksi yang didasari oleh kerena kewajiban untuk kelengkapan administrasi. Padahal, apa yang mereka sedang kejar itu tidak lain hanyalah baru kognitif tingkat rendah. Yaitu kemampuan kognitif pada aspek mengingat, memahami, dan mengaplikasi.

Itulah ring laga dalam sebuah pertandingan yang merupakan arti sempit dari sebuah praktek sekolah kita (?). Saya berharap sangat, bahwa sekolah dimana kita berkiprah di dalamnya bukan sekolah yang hanya mengejar kompetensi akademik tingkat rendah. Akan tetapi sekolah yang menjadikan lahan bagi bersemainya karakter cerdas dan beriman. Amin.

Jakarta, 12-19  Maret 2011

17 Maret 2011

Smart Phone dan Penggunanya

Pada saat saya terbangun sebelum subuh hari pada hari ini, saya sempatkan untuk menuliskan di dinding FB saya begini: Ketika dengan bencana yang menimpanya, Jepang menunjukkan bangsa yang tangguh, sebagian masyarakat kita (justru) masih hidup dalam gosip. Ada berita yang disebarkan via seluler dan smart phone bahwa FB akan tutup, terus ada lagi bahwa efek nuklir Jepang akan mengakibatkan hujan asam... Mau-maunya hidup dalam belenggu kebodohan. Kapan kita menjadi bangsa cerdas?
Dalam artikel ini, ada baiknya jika saya mencoba menjelaskan apa yang sedang dalam otak saya kala itu. Pertama, gosip. Betapa semaraknya gosip ini melanda kehidupan kita. Bahkan tidak saja melanda, tetapi sudah masuk dalam ranah budaya kita. Gosip berteman sangat akrab dengan kebohongan atau dengan ghibah. Sementara pada sisi yang berbeda, dimana menjadi mayoritas bangsa ini, kita memperoleh panduan sangat tegas bekenaan dengan informasi di dalam Al Qur'an surat Al Hujurat (QS 49). Yaitu perintah untuk memegang prinsip tabayun bila menerima berita yang meragukan kebenarannya.

Hal tersebut, membelajarkan kita untuk menjadi orang yang tidak mudah terbakar gosip dan kepentingan politik tengil.

Kedua, Smart phone. Inilah mode baru masyarakat kita. Lihatkan di mal, tv, transjakarta, kereta, dan nyaris dimanapun tempat, orang ber-smart phone menjadi pandangan yag lumrah. Smart phone sebagai generasi seluler memang benar-benar lebih smart dari generasi sebelumnya. Namun ini belum menjadikan para penggunanya sebagai generasi yang smart. Setidaknya inilah yang oleh teman saya tulis sebagai komentar di dinding saya. Teman saya menuliskan apa yang didengarnya dari radio. Ia menulis: Quote dari acara Farhan 'in the Morning' pagi ini di Delta FM, orang2 yang menyebarkan berita hoak seperti itu melalui bbm means; their phone are smart, but they are not...

Ketiga, bodoh. Harus diakui bahwa kita masih 'bodoh'. Istilah ini jangan pernah kita hubungkan dengan nilai rapot dan ijazah yang kita peroleh. Karena harus yakin bahwa, kita adalah orang-orang yang pandai di saat sekolah. Ini dapat dengan jelas dibuktikan dengan dokumen yang otentik. Juga ijazah, kita adalah generasi yang sebagian besar adalah pemilik ijazah sarjana. Sangat pati bahwa pemegang smart phone adalah mereka yang minimal lulus SMA.

Namun demikian, dapatkan kita menjadi pribadi yang 'pintar' dalam arti yang sesunggunya? Yaitu pribadi yang tidak mudah diperalat oleh hoax untuk menjadi kontributor dan menjadi bagian dari penyebar berita bohong?

Satu kasus berita yang masuk di telepon saya, berbunyi: URGENT, PLEASE disebar secepatnya: Sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukumi, Jepang meledak di 04:30 hari ini. Jika besok hujan atau lambat, jangan pergi keluar. Jika Anda berada di luar, pastikan bahwa Anda memiliki pelindung hujan. Ini hujan asam. Jangan biarkan menyentuh Anda. Anda dapat membakar kulit Anda, kehilangan rambut Anda atau kanker. Mohon forward, tetap aman dan mengingatkan semua orang yang Anda kenal.

Versi inggris : BBC FLASHNEWS: Japan govt confirms radiation leak at Fukushima nuclear plants. Asian countries should take necessary precautions. If rain comes, remain indoors first 24hrs. Close doors & windows. Swab neck skin with betadine where thyroid area is, radiation hits thyroid first. Take extra precautions. Radiation may hit Phil at startng 4pm today. Pls send to your loved ones. www.bbc.co

Sedikitpun saya tidak percaya dengan berita ini. Sebab, bagaimana saya percaya? Dengan menggunakan sedikit akal cetek saja berita itu sudah konyol? Di tv bisa kita lihat bagaimana orang Tokyo sudah masuk kantor untuk bekerja? Kalau mau ribut, mungkin bangsa Jepang yng akan lebih dulu heboh?

Namun kasus seperti inilah yang memungkinkan sebagian kita masih sangat mudah 'dibakar'. Dan ini, menunjukkan, sekali lagi, sebuah generasi yang mengingkari prinsip tabayun sebgaimana yang tertuang dalam kitab yang kita imani...

Jakarta, 17 Maret 2011.

Siaran Langsung Penjinaan Bom

Ketika Jepang dilanda gempa bumi dahsyat yang kemudian disusul dengan gelombang tsunami yang juga luar biasa dahsyat, kita yang ada di luar Jepang dapat melihat momentum itu secara langsung di layar tv. Ini adalah sebuah peristiwa yang mengagumkan sekaligus memilukan. Peristiwa ini kita dapat lihat di tv lokal kita pada Jumat, 11 Maret 2011.

Mengagumkan, karena kehebatan bangsa ini dalam memprediksi tsunami yang akan datang serta evakuasi kehidupannya. Lebih hebat lagi ketika bangsa ini menghadapi bencana yang terjadi dengan penuh kakuatan mental dan kedewasaannya. Dalam derita karena kekurangan posokan air bersih, para penduduk tetap sabar antri dan tidak terjadi penjarahan. Inilah bangsa yang kembali mengagumkan dunia. (Kompas, 16 Maret 2011). Memilukan, karena bencana yang menimpa negeri sakura itu memang benar-benar luar biasa dahsyat.

Apa yang ditunjukkan bangsa Jepang di halaman peradaban kita sekarang ini adalah bentuk konkrit daripada hasil pembelajaran bangsa itu. Sebuah pembelajaran yang menghasilkan manusia beradab, tangguh, dan teguh. Setidaknya itu yang dapat saya nilai.

Berbeda dengan siaran langsung peristiwa tsunami Jepang, pagi ini, Kamis tanggal 17 Maret 2011, meski terlambat karena peristiwa sesungguhnya terjadi pada Selasa tanggal 15 Maret 2011, saya sempat menyaksikan siaran langsung yang juga tidak kalah dahsyatnya di layar televisi kita. Bukan tentang kemenangan Real Madrid 3:0 melawan Lyon dalam laga Eropa, tetapi tentang bagaimana keberanian aparat kita dalam menjinakkan bom.

Dalam dua peristiwa yang merupakan siaran langsung tersebut, sangat mudah bagi kita untuk dapat menarik pelajarannya. Tentu yang berkenaan dengan hasil belajar kita. Dan ketika benang merah dari hikmah peristiwa tersebut dapat kita ambil, marilah kita sebagai guru menuangkannya dalam proses belajar di kelas bagi peserta didik kita.

Cita-citakan kepada mereka sebuah generasi yang cerdas, tangguh, etos kerja tinggi, serta berakhlakul karimah. Sebuah generasi yang tidak mudah dimakan gosip dan hoax. Semoga.

Jakarta, 17 Maret 2011.

15 Maret 2011

Terlambat Masuk Sekolah

Terlambat masuk sekolah mungkin hampir sebagian besar kita pernah mengalaminya. Bisa karena tiba-tiba ada kendala di jalan sehingga menghambat perjalanan kita. Atau bisa juga karena kesengajaan kita, atau juga kurang telitinya kita menghitung waktu tempuh yang kita perlukan untuk perjalanan kita dari rumah hingga sampai ke sekolah. Semua berujung kepada terlambat sampai sekolah. Unsur yang terakhir inilah yang akan saya sampaikan di sini. Yaitu berkenaan dengan apa yang saya lihat ketika saya bersama dua orang yang terlambat sampai sekolah. Satu seorang Ibu, yang tampaknya juga adalah Ibu Guru. Dan satunya lagi adalah seorang siswa di sekolah yang sama, yang tampaknya adalah anak kandung dari sang Ibu tersebut. Keduanya secara kebetulan berada dalam satu bus transjakarta arah UKI Cawang-Rawasari, Cempaka Putih.

Menarik Perhatian

Mengapa pola tingkah dua manusia menjadi begitu menarik perhatian saya, yang kebetulan sebagai guru juga? Ini tidak lain karena keduanya menunjukkan pola tingkah yang sangat berbeda dengan penumpang bus lainnya. Terutama begitu bus akan berhenti di shelter Rawasari. Bahkan sejak bus masih berada di perempatan jalan Pemuda, Rawamangun, Ibu tersebut sudah menunjukkan raut muka yang amat sangat tergesa-gesa. Dari tempat duduknya ia memandu anaknya merangsek ke arah pintu dengan sedikit memaksakan diri agar begitu pintu bus terbuka maka merekalah yang pertama kali harus melangkah keluar.

Padahal, seperti yang disampaikan oleh Pam-transjakarta; tidak perlu tergesa-gesa, akan ditunggu... Maka tak ayal lagi, pola tingkah itu segera menarik perhatian saya.

Benar saja, pada pertemuan kali pertama dengan saya, Ibu itu mengambil jalan keluar dari shelter yang berbeda dengan si anak. Si anak dengan berjalan cepat, mengambil jalan melalui jembatan penyeberangan orang atau JPO. Sedang sang Ibu, dengan lebih tergesa-gesa membuka pintu shelter yang bukan untuk penumpang. Bahkan ia tampak menerobos melalui bawah jembatan yang tidak berpagar meski harus melaluinya dengan jalan membungkuk. Tanpa malu. Waktu saat itu menunjukkan pukul 06.32. Artinya sudah termlambat!

Pada saat saya bersama untuk kali yang kedua, peristiwa tergesa-gesa bercampur panik dan licik, karena tidak mengindahkan etika yang ada, kembeli ditunjukkannya. Maklum, kami sampai shelter tempat turun dari bus waktu sudah menunjukkan pukul 06.33. Artinya terlambat lagi. Yaitu ketika mereka keluar shelter melalui pintu pegawai dan tidak melalui JPO lagi. Karena tertarik dengan tingkah polahnya, saya mencoba mengamati ketika saya sudah sampai gelagar jembatan paling atas dan kedua orang itu sampai pintu gerbang sekolah.

Sang anak langsung masuk ke halaman sekolah, bersama beberapa bagian kecil siswa lain yang juga datang terlambat. Sang Ibu tidak langsung masuk halaman sekolah. Ia tampak berhenti dan mengawasi beberapa siswa yang turun dari kendaraan. Ibu guru itu tampak meminta kepada siswa atau siswi yang terlambat segera berlari. Dan setelah sekian menit ia berada di situ hingga tidak ada lagi anak yang terlambat, ia masuk halaman sekolah. Dan mungkin teman guru lainnya mengira bahwa Ibu guru itu baru selesai mengawasi siswa-siswi yang terlambat masuk sekolah di pinggir jalan raya (?).

Untuk kebersamaan saya dengan dua orang tersebut yang kali ketiga, ada peristiwa lain lagi yang menarik perhatian saya. Waktu ketika kami keluar dari bus transjakarta menunjukkan pukul 06.35. Artinya, terlambat lagi! Dengan tetap super tergesa dan panik, orang Jawa punya istilah sangat pas; biayakan, Ibu itu setengah berlari menuju pintu keluar shalter khusus untuk karyawan. Namun pintu tidak bisa dibuka dengan mudah. Maka dengan bertambah kepanikannya, ia mendatangi petugas penyobek karcis di shelter tersebut untuk meminta tolong dibukakan.

Terlambat Masuk Sekolah

Bercermin dari kisah saya di atas, dapat kita dengan mudah menyimpulkan bahwa; Pertama, Dengan alasan apapun, terlambat adalah sesuatu yang tidak enak untuk orang normal. Terlambat apapun. Mungkin terlambat masuk kantor, mungkin masuk sekolah, atau terlambat yang lain. Dan seperti dalam kisah itu, kedua orang tersebut adalah sosok normal yang tidak menyukai keterlambatannya. Bahkan hingga di detik terakhirnya pun, seperti menjelang halaman sekolahnya, kedua orang itu dengan berbagai upaya untuk tidak terlambat.

Kedua, Sebagai orang normal, mestinya juga harus menjadi orang sadar. Yaitu bagaimana menyadari ketidakenakannya terlambat, menjadi energi baginya untuk meng-akalkan. Yaitu menghitung waktu perjalanan yang diperlukan saat berangkat dari rumah menuju sekolah atau tempat kerja. Dan waktu perjalanan tersebut harus juga ditambahkan dengan waktu untuk menunggu datangnya bus di shelter serta kemacetan yang mungkin terjadi. Kompetensi minghitung ini akan mengurangi beban batinnya karena kesalahannya saat berusaha untuk menjadi orang baik-baik saja (normal).

Ketiga, Setelah menjadi orang sadar, maka perlu tahap berikutnya. Yaitu menjadi orang yang berkomitmen. Komitmen adalah tekad yang bulat untuk sebuah visi yang paripurna. Orang bervisi akan memiliki arah perjuangan yang sangat jelas. Orang semacam ini adalah orang-orang yang patut menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya. Setidaknya dalam hal kekukuhannya dalam memperjuangkan tujuannya.

Keempat, Dengan visi yang jelas, maka perjuangan harus dilandasi oleh pola dan tingkah laku yang memegang teguh dengan kejujuran.

Hanya dengan itulah, menurut saya, seseorang akan memperoleh harga yang pantas bagi dirinya dari lingkungan sekitarnya. Semoga itu ada pada kita semua. Amin.

Jakarta, 15 Maret 2011.

13 Maret 2011

Pintar Saat Mengerjakan Ulangan

Pintar pada saat mengerjakan ulangan atau evaluasi atau tes atau ujian adalah sebuah  bagian dari proses belajar yang berhasil. Dengan demikian, Maka pintar disini kita dapat maknai sebagai memperoleh nilai atau angka yang optimal dari sebuah ulangan atau evaluasi atau tes atau ujian. Dan dari kaca mata ketuntasan belajar, perolehan hasil dari siswa pintar tersebut adalah bentuk keberhasilan sehingga yang bersangkutan dapat  melanjutkan pada proses belajar pada tahap berikutnya.


Namun yang menjadi pertanyaan saya sebagai anggota masyarakat, benarkah pintar yang seperti itu saja yang kita maksudkan ketika anak kita berangkat ke sekolah? Yaitu apakah kepintaran yang kita maksudkan hanyalah kepintaran sebagaimana yang  terlihat dari angka atau nilai dari hasil ulangan atau ujian saja? Bukankah kepintaran yang dimaksudkan hanyalah mencakup pada kompetensi kognitif? Dimana kepintaran seperti itu dinamakan pula sebagai pintar akademik? 

Apakah anak kita yang sopan, memiliki adab baik, komunikatif, pekerja kelompok, penuh komitmen kepada tugas yang diberikan, juga masuk dalam soal-soal ulangan yang dikerjakannya ketika sebuah bab pelajarannya habis atau selesai?

Pentingnya Pintar Saat Mengerjakan Ulangan

Dalam ulangan yang dilaksanakan guru di sekolah, yang menggunakan bentuk tes obyektif, hampir dipastikan hanya menyangkut perkara kompetensi kognitif/akademik. Ranah yang berada di luar dari itu, tidak menjadi bagian yang inheren dari pintarnya pada saat mengerjakan ulangan. Karena ranah ini belum menjadi bagian penting dari sebuah hasil belajar. Mungkin juga bukan karena penting atau tidanya, tetapi karena tolok ukurnya yang subyektif? Allahua'lam.

Oleh karenanya maka pintar saat mengerjakan ulangan menjadi sangat dominan  kedudukannya di sekolah kita. Tidak saja pada ranah belajar tuntas namun juga karena hasil itu akan menentukan pilihan anak kita pada jenjang pendidikan atau tingkat sekolah selanjutnya yang lebih tinggi. Ini yang berlaku untuk mereka yang lulus di Sekolah Dasar untuk yang akan masuk ke SMP dan lulus Sekolah Menengah Pertama untuk yang akan masuk SMA. Dan tampaknya belum untuk mereka yang lulus di Sekolah Menengah Atas yang akan masuk perguruan tinggi. Mengingat untuk lulusan SMA harus berjuang lagi dengan SNMPTN.

Lalu hanya itukah sehingga pintar pada saat mengerjakan ulangan dipandang begitu penting? Tidak. Masih ada jenjang yang menentukan selanjutnya. Yaitu saat para sarjana itu memasuki dunia kerja. Terutama bagi mereka yang menginginkan menjadi pegawai. Kantor dimana yang akan merekrut mereka akan terlebih dahulu menyeleksi kepandaian mereka dalam bentuk jumlah angka yang berhasil mereka kumpulkan dalam bentuk IPK dan juga lembaga atau Universitas yang mengeluarkannya.

Dua hal penting itulah yang akan membawa mereka yang pintar pada saat mengerjakan ulangan itu memiliki kemungkinan untuk 'proses' selanjutnya di kantor yang memanggilnya sebagai kandidat pegawai. Proses selanjutnya setelah dua hal tersebut lolos, yaitu nilai atau angka dan lembaga yang mengeluarkannya hanya akan menjadi syarat administrasi, adalah tahapan interviu yang akan menggali kompetensi kandidat diluar kepintaran akademisnya.

Terlebih setelah para lulusan itu menjadi pegawai, maka kepintarannya pada saat mengerjakan ulangan telah tamat dan dilupakan. Keberhasilan berikutnya akan ditentukan oleh holistisitas dirinya. Visinya dalam melihat ke depan, komitmen dan konsistennya dalam menjalankan amanah dan tugas yang dibebankannya, kemampuannya dalam bekerja berkelompok, keberaniannya dalam mengambil resiko, serta caranya berkomunikasi.

Dengan melihat perjalanan si pintar pada saat mengerjakan ulangan tersebut memasuki usia dunia kerja, sekali lagi kita akan bisa melihat betapa terdapat jarak terpisah antara kompetensi akademik yang dibelajarkan di sekolah, yang memakan waktu panjang dengan kesiapannya dalam  'menyiapkan diri' memasuki dunia kerja. Jarak yang tidak sempit itu mengingatkan kita bahwa kita  lupa membekali si pintar pada saat mengerjakan ulangan tersebut untuk sukses mengemban kewajibannya di dalam mengarungi dunia kerjanya. Apa lagi hingga si pintar itu menuju dan mengarah pada akhir yang baik, kepada khusnul khatimah.

Dan jika melihat kenyataan ini, masihkah kita ngotot agar anak kita hanya menjadi generasi yang pintar hanya pada saat mengerjakan ulangan saja? Semoga tidak. Amin.

Jakarta, 13 Maret 2011.

06 Maret 2011

Jangan Terlambat Datang ke Reuni

Itulah tips saya. Jangan pernah Anda datang terlambat untuk sebuah reuni sekolah apa bila itu adalah pertemuan Anda untuk kali yang pertama. Terutama setelah Anda terputus komunikasi dengan teman-teman untuk sekian waktu yang lama, yang memungkinkan terjadinya perubahan fisik pada masing-masingnya.

Karena kedatangan Anda yang terlambat, akan melahirkan situasi tidak nyaman. Karena sangat boleh jadi hanya beberapa teman saja yang masih benar-benar Anda kenal dari mereka, sementara boleh jadi juga mereka lebih mengenal Anda. Meski Anda sendiri adalah orang yang tergolong menduduki posisi penting di negeri ini atau orang sukses sekalipun.

Namun demikian jika Anfda memilki pendapat dan pengalaman lain dari apa yang saya kemukakan, sudilah kiranya Anda tetap menyimak apa yang ingin saya sampaikan disini. Yaitu berkenaan dengan kegiatan reuni sekolah menengah atas yang pernah kami jalani di tahun 1981-1990an. Itu karena peserta reuni kecil tersebut adalah lulusan sekolah antara tahun tersebut.

Reuni Saya

Sebenarnya, hampir dua puluh tahun sejak saya lulus SPG dan merantau ke Jakarta, hanya dengan beberapa saja teman saya tetap menyambung silaturahim. Padahal ada 30 teman setiap kelasnya yang saya adalah salah satu diantanya. Dan karena saat itu terdapat empat kelas pararel, maka sesungguhnya saya memiliki 120 teman sekolah yang lulus pada tahun yang sama. Dan karena kami semua bersekolah di lokasi yang sama sepanjang tiga tahun, maka se\udah semestinya jika saya mengenal teman itu satu persatu.

Namun apa yang terjadi? Dari sekian puluh teman itu, saya hanya menyambung silaturahim dengan sekitar sepuluh teman saja. Dan dengan sepuluh teman itu sajalah saya berbagi cerita dan berjumpa untuk melepas kangen.

Hingga datang dari teman di kota asal kami untuk sebuah acara reuni akbar. Datanglah saya. Ada teman yang begitu berkobar bercerita anekdot tentang saya dan kita. Pasih sekali ia mengurai cerita itu. Dan di tengah ceritanya, saya masih belum juga menemukan ingatan tentang namanya. Maka dengan berbekal foto sajalah saya menempel kembali ingatan siapa saja yang pernah menjadi sahabat saya sepanjang tiga tahun di sekolah menengah. Itu pertemuan pertama saya dengan hampir seluruh teman setelah kami berpisah 24 tahun!

Dalam sekala kecil, saya selalu berjumpa kembali dengan teman-teman itu. Dan karena waktu yang tidak cocok, maka pertemuan berikut, yang saya baru dapat hadiri. Dan sekali lagi, karena alasan kesibukan sekolah, saya harus datang sangat terlambat.

Ada diantara teman-teman itu yang saya mengenalnya dengan baik. sehingga tidalk akan mungkin saya pangling. Namun masih ada beberapa diantaranya yang saya akrab berbicara di telepon dan ngobrol di facebook, namun tidak mengenalnya secara fisik. Jadilah saya bahan olokan.

Dan dari pengalaman itulah, saya berpesan kepada Anda, untuk jangan terlambat datang di acara reuni. Terutama jika Anda telkah terpisah oleh waktu yang relatif lama. Karena waktu telah merubah Anda dengan relatif sempurna...

Jakarta, 5-6 Maret 2011.