Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

26 September 2010

Renstra Pengembangan Sekolah

Dalam pengembangan sebuah sekolah, saya selalu melakukannya dalam 4 (empat) tahap. Tahapan itu adalah: (1). Tahap Pengenalan; (2). Tahap Perumusan; (3). Tahap Pengembangan; dan (4).Tahap Refleksi.

Semua tahapan itu selalu mengacu kepada aspirasi dan kesiapan yang tumbuh dan hidup secara riil di lapangan. Hal ini perlu sekali saya kemukakan mengingat setiap pengembangan memerlukan ketajaman kita dalam membuat akulturasi pengertian antara data statistik yang ada dengan budaya yang hidup di lapangan. Mempertemukan dua sisi ini, adalah titik tolak bagi kita dalam menyusun rencana dan strategi komunikasi.

Tahap Pengenalan:

Yang saya lakukan dalam tahapan ini adalah mempelajari dokumen, dan juga pengenalan kepada stake holder sekolah tak terkecuali. Saya membutuhkan waktu paling cepat tiga bulan untuk benar-benar mampu secara holistik memetakan budaya unggul yang ada, semangat, motivasi komunitas, dan juga menyerap seluruh mimpi yang ada pada seluruh elemen sekolah. Kemampuan saya dalam menyerap detak nafas yang ada dengan mempelajari seluruh data statistik, akan menjadi bagian yang amat penting untuk merumuskan renstra yang taktis dan tepat guna.

Pada tahap ini saya akan melakukan serangkaian pertemuan dengan seluruh stake holder secara bertahap, melakukan diskusi dengan pihak Yayasan, manajemen sekolah, guru dan karyawan, observasi lapangan, dan tentunya pelatihan pelatihan yang dapat menjadi jembatan bagi perlengkapan informasi tentang lembaga.

Tahap Perumusan:


Setelah mayoritas infomasi tentang keunggulan, budaya, dan environmental institusi saya dapatkan melalui serangkaian pengenalan tersebut, maka data dan informasi tersebut menjadi bahan bagi saya untuk bergerak pada tahapan berikutnya. Yaitu bersama anggota manajemen sekolah, saya mengajak memimpikan pengembangan sekolah ‘berikutnya’. Berikutnya, karena pengembangan tidak pernah ada, pada titik dimana awal dan dimana akhir. Tentu juga data dan informasi tersebut kita coba untuk membandingkannya dengan apa yang sedang terjadi dengan sekolah unggul lainnya, diluar diri kita. Yaitu melihat sekolah yang menjadi benchmarking.

Tahapan ini adalah tahapan untuk menentukan secara garis besar tentang poin dan arah pengembangan. Saya membaginya lagi menjadi beberapa bagian perumusan. yaitu:
  1. Kepemimpinan. Menjadikan setiap pemimpin yang ada di segenap lini sekolah sebagai manajer yang bertanggungjawab terhadap rumah tangganya masing-masing.
  2. Kurikulum. Yaitu menentukan titik unggul yang diinginkan dalam bentuk struktur kurikulum yang akhirnya menjadi acuan dasar bagi pengembangan intra dan juga ekstra kurikuler.
  3. Program Unggulan. Yaitu program ‘pembeda’ antara sekolah kita dengan sekolah lain yang sejenis (satu market). Hal ini penting dilakukan bagi sekolah swasta agar terus memiliki posisi tawar dalam perebutan siswa baru.
  4. Profesionalisme Guru. Menjadikan guru yang bangga pada profesinya sebagai pendidik. Yaitu guru yang mampu menginspirasi siswanya dan lingkungannya untuk sukses. Dalam pembelajaran guru harus mampu bergerak dari pusat pembelajaran menjadi fasilitator pembelajaran.
  5. Sistem Kinerja. Hal yang berkait langsung dan erat terhadap pengembangan profesionalisme guru adalah sistem penilaian kinerja serta implikasinya terhadap take home pay. Tentu dengan mengacu kepada standar kompetensi guru/ karyawan/kepala sekolah yang ada di Kemendiknas dan dengan melihat apa yang telah ada di sekolah. Prinsip utama dalam sistem kinerja ini hubungan yang erat antara hasil kinerja tersebut dengan kebijakan apresiasi kenaikan gaji yang diinginkan yayasan.
  6. Sarana dan Prasarana. Menentukan sarana dan prasarana yang sungguh-sungguh dapat membuat image sekolah dalam menjalankan pengembangan dan perubahan.
Tahap Pengembangan:
Sesungguhnya, untuk sampai kepada tahapan ini, kita tidak harus memulainya pada bulan keenam atau ketujuh. Seperti yang pernah saya lakukan, maka sejak bulan pertama kita dapat secara bertahap memberikan presentasi atau pelatihan yang berkenaan dengan mimpi tentang sekolah bagus atau tentang motivasi.

Pelibatan unsur pimpinan di sekolah pada tahap ini menjadi penting. Selain untuk berbagi tugas, pelibatan mereka juga dimaksudkan sebagai pelatihan mereka pada diri mereka tentang semangat pengembangan sekaligus menumbuhkan kapasitas kepemimpinannya.

Tahap Refleksi:
Tahapan ini akan menjadi bagian dari pengembangan sekolah pada akhir sebuah program. Ini dimulai dengan melakukan internal self assessment terhadap sekolah. Dengan cara melakukan survey kepada komunitas yang ada. Baik kepada manajemen, guru, dan karyawan. Juga kepada orangtua dan siswa. Hasil survey akan menjadi umpan balik bagi kita dalam melakukan perencanaan bagi pengembangan sekolah berikutnya. Wallahu a’lam.


Jakarta, 26 September 2010.

Perilaku Rakus

Jumat, 3 September 2010, yang bertepatan dengan tanggal 23 Ramadhan 1431 H, kami menyelenggrakan Pasar Murah di Hall sekolah. Pasar murah diprakarsai oleh pengurus OSIS SMP Islam Tugasku, dan kami para pendidik, memberikan dukungan sepenuhnya di belakang mereka. Sementara barang yang dijual dengan harga yang hanya 50 % hingga 65 % saja dari harga normal di toko atau pasar biasa diperoleh dari sumbangan para donatur yang terdiri dari para orangtua siswa. OSIS yang memberikan himbauan sumbangan kepada para orangtua siswa, mereka juga yang mengumpulkan barang sumbangan dari setiap kelas setelah dilakukan pendataan tertulis, dan sekaligus mengepak barang dalam bentuk paket, serta membuat dan mengirimkan kupon untuk para tetangga yang dinilai berhak menerimanya.

Seperti tahun-tahun yang lalu, selain rapat kami juga mendiskusikan alur pemegang kupon untuk melakukan transaksi. Termasuk juga memprediksi situasi keamanan. Ini menjadi bahasan penting, mengigat terjadi situasi yang tidak menguntungkan di beberapa tempat berkenaan dengan pasar murah atau pembagian sumbangan oleh para dermawan. Dan alhamdulillah seluruh kegiatan dapat berlangsung dengan baik dan memuaskan. Semua barang terjual habis hanya dalam waktu tidak lebih dari 45 menit! Luar biasa.

Namun ada dua cerita yang sama-sama menarik perhatian kami saat kami melakukan evaluasi setelah pasar murah berakhir dan sebelum kami semua pulang dan memasuki hari libur Idul Fitri. Dua kisah yang masing-masingnya kontradiktif. Tetapi sekaligus memberikan inspirasi kepada kita betapa pentingnya hidup jujur.

Kisah pertama adalah pengunjung yang dari pakaiannya telah mencerminkan bahwa yang bersangkutan memang masyarakat yang layak untuk memperoleh kupon pasar murah dari kami. Ia datang dengan menggenggam uang ribuan sebanyak 17 lembar. Kepada penjaga minyak goreng, ia menyodorkan 6 lembar ribuannya untuk satu liter minyak goreng. Sebelumnya ia telah membeli mie instan bukan dalam dus kemasan. Hal ini dia lakukan karena uangnya kurang jika ia berbelanja 1 dus mie instan yang di bandrol dengan harga dua puluh ribu rupiah. Untuk itu ia hanya mampu separuh dari satu dus mie instan seharga sepuluh ribu rupiah.

Dalam perjalanannya ke stan yang lain, ia ditawari siswa atau guru untuk membelanjakan uangnya. Namun dengan polos dan lugu, ia menunjukkan selembar uang ribuannya dan berucap: Uang saya tinggal ini. Belanja apa lagi ya? Dan seorang guru memintanya untuk memilih pakaian di pajangan yang diinginkannya dengan uang seribu itu. Tentu dengan perasaan iba atas kejujurannya.

Tapi disisi lain, ada seorang ibu berusia lebih kurang 30 tahun yang mengenakan pakaian relatif nacis. Bahkan di atas sepatu kainnya ada terlihat gelang kaki emas. Tampak sekali bahwa diantara kami ada yang kurang tepat karena memberikan kupon kepadanya. Dan menjelang pasar murah kami tutup karena seluruh barang telah habis terjual, ibu itu justru bergegas mengumpulkan tiga kardus mie instan dan beberapa bungkus minyak goreng. Anehnya, untuk menggeser dus mie instannya menuju pintu hall, ia tidak mengangkatnya dengan tangan tetapi mendorongnya dengan kakinya. Hampir semua mata kami menatapnya karena ni peristiwa langka. Seorang ibu necis berbelanja di pasar murah yang diperuntukkan untuk duafa dengan memperlihatkan kenecisannya secara demonstratif.

Ituah sikap jujur dan rakus, kata saya pada sesi refleksi pasar murah. dan dari dua kisah itu, kita sama-sama dapat melihat betapa luhurnya mejadi jujur. Karena kita menjadikan cerita pembeli dengan uang ribuan sebanyak 17 lembar itu sebagai pribadi jujur dan mulia. Dan betapa terpuruknya menjadi rakus, karena kita menjadikannya contoh sikap buruknya sebagai bahan diskusi.

Inilah kisah hidup di masyarakat bawah. Bagaimana dua sikap dan perilaku ini tumbuh di masyarakat tingkat atas? Di tingkat mereka yang menjadi pegawai eselon satu, dua, tiga, atau yang menjadi anggota DPR?

Mengutip peribahasa Jawa: becik kethithik, olo ketoro. Apapun tindakan kita, yang baik atau yang buruk, jikapun sekarang orang tidak melihat dan tahu, mungkin soal waktu untuk mengetahuinya. Oleh karenanya, jangan pernah menunda untuk bersikap jujur.

Jakarta, 26 September 2010

Suksesi dan Kelahiran Pemimpin


Dalam Tajuk Rencananya, Kompas, 20 September 2010, megemukakan kejangalannya atas manuver 8.479 jaksa yang tergabung dalam Persatuan Jaksa Indonesia, yang membuat 'tekad' agar Jaksa Agung diangkat dari kalangan internal kejaksaan. manuver politik ini paling tidak mengindikasikan adanya resistensi jaksa terhadap calon Jaksa Agung dari luar serta mengindikasikan adanya masalah di dalam tubuh kejaksaan. Padahal, penentuan calon Jaksa Agung, baik dari dalam maupun dari luar, adalah hak Presiden. Demikian tulisnya.



Dalam harian yang terbit pada hari yang sama, Saldi Isra, Guru Besar Tata Negara dan Direktur Pusat Studi Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang, berpendapat bahwa apa yang dilakukan 8.479 jaksa dengan surat 'kebulatan tekadnya' itu merupakan sikap yang kebablasan. Saldi Isra mengemukakan adanya tiga alas an mengapa ke 8.479 jaksa tersebut melakukan kebulatan tekad. Sikap kebulatan tekad ini oleh Saldi ditengarai ada tiga fenomena yang ada. Yaitu: (1). Banyak kalangan elite kejaksaan merasa terganggu dan terancam denga masuknya orang luar. (2). Kelompok yang berkepentingan agar segala macam kebobrokan yang terjadi selama ini tidak terkuak ke permukaan. (3). Kelompok mafia hukum yang amat nyaman bermain dengan kalangan internal.


Terlepas benar atau tidaknya motivasi dari 8.479 penendatangan kebulatan itu, dan juga terlepas dari Keputusan Presiden memberhentikan Jaksa Agung Hendarman Supandji dengan Keppres nomor 104/P/2010 tertanggal 24 Septemer 2010, sebagai upaya menindaklanjuti putusan MK pada Rabu, 22 September 2010 pukul 14.35 (Media Indonesia, 26 September 2010), saya berpikir dalam ranah dan lingkup yang lebih lokal dan kecil yaitu lembaga sekolah. Adakah fenomena suksesi di lembaga sekolah yang mirip dan serupa dengan apa yang saya kemukakan di atas? Kalau ada, seperti apakah model suksesinya? Dan yang lebih penting lagi adalah; apa yang akan saya lakukan etika harus menjadi pemimpin dengan komunitas yang telah membentengi diri dengan surat petisi kebulatan tekad itu?


Komunitas yang Bertekad Bulat


Apabila dalam situasi suksesi, kemudian para anggota komunitas melakukan komitmen untuk bersama-sama membuat kesepakatan dan sekaligus berketetapan bulat untuk 'meminta sesuatu', maka sesungguhnya mereka memiliki agenda yang disimpan bersama-sama. Dan pendapat saya, ini akan berlaku tidak saja pada masyarakat yang mewadah dalam institusi yang besar saja, tetapi juga pada lembaga yang lebih kecil tak terkecuali pada lembga yang bernama sekolah.


Maka seperti yang saya kemukakan di atas, bagaimana jika ini terjadi pada diri saya? Menengok pengalaman yang pernah saya lihat dari kawan saya yang juga adalah guru saya, maka tahapan awal, atau sering disebut pada masa bulan madu, yang durasinya lebih kurang enam (6) bulan, komitmen dan konsistensi diri adalah prioritas pertama dan utama. Lihat, dengan, rasakan, serap, dan nikmati dengan dua kepribadian tadi. Hendropriono, mantan kepala BIN, menamakan fase ini dengan istilah 'mandi dan bukan hanya sekedar cuci tangan' (Kompas, 23 September 2010 ?). Pendapat ini dikemukakan saat menanggapi peran dan strategi intelejen dalam pemberantasan terorisme di Indonesia.


Dalam fase yang bertuuan untuk mencecap seluruh aura yang hidup dan tumbuh di komunitas tersebut, maka pada tahap berikutnya kita telah memiliki kemampuan untuk memetakan titik kekuatan dan titik kelemahan pada masing-masingnya, yang kemudian dapat menjadi modal bagi pengembangan berikutnya. Dan pada tahapan pengembangan berikutnya inilah, kita dituntun untuk tetap komitmen dan konsisten dengan dikolaborasikan kompetensi ketajaman visi dan ketepatan strategi dalam pengembangannya.


Langkah ini tidak hanya berlaku bagi kita yang kebetulan ada dalam ranah kebulatan tekad tersebut (dari internal) tetapi juga kalau kita berada di luar ranah mereka. Karena dalam dua posisi itu, sebagai pimpinan kita akan mendapat ujian yang sama-sama menyesatkannya.


Bagi kita, pemimpin yang berada dalam semangat kebulatan tekad, maka sesungguhnya kita sedang masuk dalam perangkap dan semangat chauvinisme yang pada akhirnya dapat membelenggu kita untuk bergerak tumbuh. Sedang bagi kita yang berasal dari koridor kebulatan tekad, komunitas itu meski adalah dinding penahan bagi apapun yag berasal dari diri kita, tetapi juga adalah tantangan bagi kelahiran seorang pemimpin yang sesungguhnya. Oleh karenanya, tumbuhkan diri kita masing-masing untuk menjadi pemimpin yang sesungguhnya.


Jakarta, 26 September 2010

24 September 2010

Pemimpin yang Barani, Bervisi, dan Tegar*

Terinspirasi dengan model kepemimpinan yang ditulis oleh Adjie Suradji di Kompas 6 September 2010, saya merefleksikannya dalam bentuk kepemimpin untuk sebuah lembaga yang lebih kecil, lebih lokal, yang bernama sekolah. Dan refleksi iní sungguh sebuah kenyataan dan aktual bagi sebuah tongkat komando bagi pengembangan lembaga sekolah ke atah pembaharuan, maka pemimpin yang berani, termasuk di dalamnya berani mengambil resiko atas pilihan, visioner, dan tegar, adalah kebutuhan yang prioritas.

Apa yang dikemukakan oleh Adjie Suradji dalam artikelnya tersebut, bersinergi dengan apa yang dikemukakan Paul Keating, mantan Perdana Menteri Australia, berbicara tentang kepemimpinan. Ia mengatakan bahwa: Leadership is not about being nice. It’s about being right and being strong. (Kompas 17 Oktober 2006).


Yang saya tafsirkan dari being nice di level manajemen sekolah, atau kepala sekolah, adalah sikap yang hampir selalu miring ke kepentingan diluar profesionalitas guru dan karyawannya. Bisa jadi ini dilakukannya sebagai imbalan atas kesetiaan bawahan kepadanya selama ini. Padahal di sebuah lembaga yang bernama sekolah, terlebih sekolah yang bernaung di lembaga pendidikan swasta, sulit diharapkan visi dan misi lembaga dapat berjalan dan terealisasi di lapangan dengan baik. Oleh karenanya Manajemen di tingkat sekolah juga membutuhkan seorang yang memahami visi dan misi yang kuat atau strong, dan juga meyakini sebagai yang benar untuk diperjuangkannya pada tataran realitas di kehidupan sehari-hari dalam komunitas di sekolahnya.

Menjadi benar dan kuat, juga dapat saya maknai dengan kata lain bahwa, seorang kepala sekolah meski fleksibel dalam mengambil kebijakan, juga harus memiliki koordinat yang jelas. Di titik mana ia berdiri dalam sebuah gerakan pembahatuan di sekolahnya.

Mengapa pembaharuan menjadi isu sentral bagi sekolah dewasa iní? Ini tidak lain karena lembaga yang bernama Sekolah juga dituntut untuk memiliki rivalitas dengan lembaga sejenis dalam mempertahankan jumlah siswanya. Utamanya bagi lembaga sekolah swasta. Karena jumlah siswa sama artinya dengan tingkat kemampuan sekolah dalam membiayai hidupnya.

Pembaharuan seperti apa bagi sebuah sekolah yang dapat dikalkulasikan sebagai kapital untuk terus mampu berkiprah dalam rentang waktu yang lama? Pembaharuan yang berkelanjutan dalam merefleksikan denyut hidup yang ada di masyarakatnya. Sekolah yang tidak perduli dan atau tidak bersinergi dengan denyut hidup yang ada di masyarakatnya maka tidak akan menjadi pilihan. Maka disinilah urgensinya pemimpin sekolah yang visioner.

Kepala sekolah memiliki visi bilamana ia memiliki kemampuan membaca tanda-tanda hidup yang ada di lingkungannya, yang dapat menjadi bagian penting terhadap daya jual dan daya tawar bagi lembaga yang dipimpinnya. Kemampuan membaca tanda-tanda yang menjadi keunggulan sebuah lembaga sekolah, yang hidup dan tumbuh di lingkungannya itu juga harus mampu ia konsepkan dalam bentuk visi dan misi lembaga, yang kemudian menjadi kerangka perjuangannya di lapangan bersama stake holder yang ada dilembaga yang dipimpinnya.

Pada tahapan merealisasikan konsep keunggulan tersebut maka pemimpin butuh keberanian. Keberanian untuk merealisasikan. Dan visi serta misi yang dibangunnya adalah pemandu dan titik koordinat dimana ia harus berdiri dan berpijak.

Sedang ketegarannya, sangat ia butuhkan pada tahapan operasionalisasi visi dan misi itu. Dimana tidak semua unsur atau komponen dalam lembaganya mampu dengan tuntas memahami apa yang terumus dalam visi dan misi lembaganya. Kenyataan iní dapat melahirkan siiap diskoordinasi.

Maka ketegaran seotang pemimpin mengambil peran utama. Ia tetap selalu dituntut untuk memiliki komitmen dan konsistensi yang persisten terhadap garis pembaharuan yang diperjuangkan. Bahwa diantara komponen kerjanya yang belum dalam koordinasinya, adalah bagian dari tugasnya untuk memberikan pencerahan dan penemuan strategi baru untuk terus mensinergikannya.

Kenyataan yang sifatnya deviasi tersebut harus dimaknai olehnya sebagai bagian dari ikhtiarnya untuk melakukan pembaharuan dan bukan justru dijadikannya sebagai bahan untuk berkeluh kesah.

Jakarta, 14 September 2010 atau 5 Syawal 1431 H.
* Diambil dari PELITA, Rabu, 22 September 2010.

20 September 2010

Reuni Akbar itu Bernama Mudik

Ya benar. Mudik adalah perayaan bersama yang maha besar. Di dalamnya ada silaturahim dan sekaligus perhelatan reuni. Baik dalam lingkup keluarga, trah, RT, RW, bahkan tidak jarang sekarang ini bersamaan dengan reuni sekolahan. Oleh karenanya mudik menjadi begitu penting bagi kehidupan masyarakat.

Apakah mudik pemborosan? Hanya bagi mereka yang tidak mudik saja pemikiran ini lahir. Tapi bagi pelaku, mayoritas mereka hanya akan kembali berkumpul keluarga besar di kampung halaman satu tahun sekali. Atau bahkan mudik adalah acara liburan mereka satu-satunya. Dan bagi mereka yang seperti ini, masih tegakah kita mengatakan bahwa mudik adalah bagian dari pemborosan?

Mudik adalah mendistribusikan rizki. Ini adalah benar adanya. Bahwa rizki mudik di hari raya Idul Fitri di Indonesia dinikmati oleh banyak sekali orang. Bahkan dengan maraknya pemudik kendaraan sepeda motor belakangan ini, meramaikan riuh rendahnya aktivitas mudik. Dan sekaligus menambah 'bercecerannya' rizki masa mudik.

Banyak pada masa-masa mudik orang yang berusaha membuka warung makan. Apakah mereka membukanya di jalur jalan yang akan dilalui oleh para pemudik, atau di tempat-tempat wisata. Keberadaan mereka menambah serunya suasana masa mudik sekaligus juga sebagai bentuk perluasan dan pemerataan penyebaran rizki.

Jika diajukan pertanyaan mengapa saya mudik di hari Idul Fitri? Maka jawaban saya adalah sebagai berikut: Pertama, Mudik atau menengok kampung halaman adalah kewajiban saya untuk mengunjungi Mamak saya. Orang yang telah melahirkan, membesarkan dan melimpahkan kasih sayang kepada saya dan juga adik-adik saya selama ini. Oleh karenanya saya melakukan mudik tidak hanya pada saat Idul Fitri saja, namun jika rizki mengizinkannya, saya akan melakukannya di luar masa Idul Fitri. Dan selain silaturahim, perjalanan menengok kampung halaman juga saya maknai sebagai trip wisata. Jadi mudik memiliki dua makna; silaturahim dan wisata.

Dua, Mudik di kala Idul Fitri adalah reuni akbar. Meski kita tidak mendapat surat undangan untuk melakukan reunian akbar itu. Undangan yang melekat erat kepada kita secara bersama sebagai pelaku mudik adalah ikatan kebersamaan untuk kembali kepada masa lalu secara bersama-sama. Di saat Idul Fitri jatuh pada 1 Syawal, disitulah saya akan bertemu dengan hampir seluruh komunitas desa yang ada. Yang diantara mereka adalah sahabat saya sejak dari kecil hingga kami berpisah guna menemukan tempat mencari nafkah. Itulah saat yang tidak akan mungkin tergantikan di hari yang lain sepanjang satu tahun. Atau bahkan sepanjang hayat. Itulah pentingnya tanggal 1 Syawal bagi orang yang melakukan mudik.

Oleh karenanya jika kita terlambat datang sampai di kampung halaman, misalnya taggan 2 atau bahkan 3 Syawal, teman di masa kecil atau saudara yang telah lama tidak berjumpa, tidak mungkin kita temukan lagi. Karena biasanya kita memiliki agenda yang berbeda-beda. Diantara mereka telah berangkat kembali ke tempat dimana selama ini mereka mencari nafkah. Atau ke tempat para mertua mereka berada. Maka, mudik Syawal adalah pertemuan akbar bagi pada keluarga, tetangga kampung. Bahkan sering sesama kita merancang pertemuan reuni sekolah dimasa-masa seperti ini.

Ketiga, mudik Syawal bagi saya juga merupakan waktu indah untuk menghirup 'udara' desa yang riuh rendah, penuh gairah, dan juga penuh semangat. Adakah di desa-desa kita yang mayoritas berpenduduk Muslim, waktu yang paling dinikmati oleh seluruh warganya dengan penuh semangat selain di waktu Idul Fitri tiba?

Keempat, saya sampaikan kepada mereka yang mencibir kegiatan mudik Syawal dengan pertanyaan seperti ini?
  • Benarkah mudik hanya terjadi di Indonesia? Saya punya teman yang selalu pulang ke negaranya saat liburan Desember. Apakah ini namanya bukan mudik?
  • Benarkah mudik merepotkan? Lihatlah data dan fakta. Bagaimana semangatnya orang-orang berebut tempat duduk di transportasi umum atau berjuang melawan teriknya matahari dan kelelahan ketika mengendarai sepeda motor.
  • Benarkah mudik mubazir? Bagaiman juga dengan sebagian kita yang membelanjakan uangnya lima puluh ribu rupiah dengan membeli secangkir kopi bukan milik Indonesia? Kita mestinya bangga dengan para pemudik itu. Uang yang dibawanya ke kampung mungkin tidak sebanyak yang Anda punya, tetapi mereka akan mendistribusikan sebagiannya di kampung halamannya dengan penuh perjuangan?
Itulah beberapa hal yang saya refleksikan dari kegiatan mudik Idul Fitri pada setiap tahunnya. Bagaimana dengan Anda?
Jakarta, 20 September 2010/ 11 Syawal 1431 H.

17 September 2010

Ibu Nunuk Murdiati Sulastomo


Pertama kali saya mengenal dan bertemu muka dengan beliau saat menjadi guru muda di SD Islam Al Ikhlas, Jalan Cipete III No 3 Cilandak Jakarta Selatan pada tahun 1986. Saya katakana sebagai guru muda karena memang usia dan karier saya sebagai guru masih dalam hitungan bulan. Dan pertemuan di SD Islam Al Ikhlas tersebut itu berada dalam ruangan kelas pada siang hari setelah siswa pulang. Sebelum pertemuan berlangsung, kami, guru-guru makan siang terlebih dahulu. Dan usai pertemuan, seingat saya, kita akan antri untuk mendapatkan amplot gaji bulan itu.

Apa yang disampaikan oleh Ibu Nunuk M Sulastomo, yang seingat saya pada waktu itu adalah sebagai Ketua Bidang Pendidikan di Yayasan Masjid Al Ikhlas yang juga sebagai induk dari Sekolah Islam Al Ikhlas yang terdiri dari unit TK dan SD, adalah tentang kesiapan kita sebagau guru. Dan kesiapan itu yang paling beliau tekankan adalah tentang penampilan kita di hasdapan siswa-siswi. Termasuk antara lain, bagaimana kita sebagai guru harus tampil harum. Menggosok gigi harus dengan teliti. Termasuk menggosok lidahnya. Karena menurut beliau dalam pengarahan tersebut, lidah kita adalah sarang sisa makanan yang kalau tidak bersih dapat menimbulkan bau. Dan kalau guru tampilannya kurang ok maka siswanya juga tidak akan tertarik pada apapun yang disampaikan guru.

Bertemu kembali secara resmi pada Desember tahun 1999 di aula SD Islam Dian Didaktika, saat saya diminta Kepala SD Islam Dian Didaktika, Bapak M Toha mengisi satu materi pelatihan. Ibu Nunuk membuka acara tersebut sekaligus memperkenalkan kepada saya beberapa guru dari SD Islam Tugasku, yang saat itu masih berada di Menteng.

Pertemuan berikutnya adalah pertemuan atas undangan beliau di Pondok Indah sekitar April 2003, ditemani oleh Pak Toha. Sebuah pertemuan yang meminta saya untuk bisa bergabung dengan Sekolah Islam Tugasku yang akan menempati lokasi barunya di Pulomas.

Dan sejak Januari 2004, saya menjadi bagian dari Sekolah Islam Tugasku, yang berarti juga menjadi bagian dari tim yang dipimpin beliau. Ini karena beliau menjadi Koordinator Sekolah dan saya sendiri menangani bagian pendidikannya di sekolah yang sama-sama kami banggakan. Dan pada setiap pertemuan dengan para pendidik di sekolah kami, maka selalu beliau ingatkan kami semua untuk berbudi perkerti sebagai guru dan pendidik yang paripurna.

Yaitu berprofesi sebagai guru dengan jiwa mendidik yang patut menjadikan dirinya suri tauladan bagi siswa yang dididiknya. Beliau antara lain mengajarkan dan memberikan contoh kepada kami tentang bagaimana berbusana yang well groom. Bagaimana bersikap menghadapi para siswa dan orangtua siswa. Tersenyum yang ikhlas. Dan tidak ketinggalan diajarkannya kami bagaimana tatacara makan yang resmi serta tidak ketinggalan untuk menyanyikan lagu Rukun dan Damai.
Maka tidal terlalu salah bila saya memberikan alamat kpada beliau sebagai Guru Budi Pekerti. Dan saya mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada beliau atas bimbingan budi perkertinya ke[pada saya yang anak desa dalam menjadi guru yang pendidik di sekolah yang baik ini. Terima kasih Ibu.

Pulomas Jakarta Timur, 22 Januari 2010.
Ungkapan syukur ini dimuat di Buku Ibu:
Nunuk Murdiati Sulastomo. 2010. Scrambled Egg is Delicious. Kompas.

13 September 2010

Masa Paska Pensiun

Artikel iní saya tulis karena saya mendapatkan tiga pengalaman yang betrbeda, yang masing-masingnya sangat sayang untuk saya lupakan. Maka menuliskannya dalam artikel adalah bentuk penghargaan pada ketiganya. Meski ketiganya berbeda, dan juga dari peristiwa serta orang yang tidak sama, namun satu dengan lainnya bertemu pada hakekat yang sama. Yaitu masalah persiapan menghadapi masa paska pensiun. Ini menjadi penting lagi bagi saya, karena saya memimpikan untuk tetap hidup setelah pensiun yang saya utarakan kepada Allah dalam doa saya.

Inilah ketiga pengalaman yang saya maksud itu. Pertama, adalah pertemuan dan sekaligus diskusi singkat saya dengan agen koran langganan yang kebetulan adalah pensiunan guru SMA. Agen koran saya ini memiliki konsistensi tentang kedatangannya di halaman rumah saya. Yaitu datang setiap pukul 05.15. Sering saya ada di pagar rumah pada saat dia akan melemparkan koran langganan. Dia adalah sosok Bapak yang sangat Jawa. Sehingga kami selalu berdialog dengan bahasa ibu kami. Pada saat-saat seperti itulah ia membagi cerita kepada saya dengan mesin motornya yang tetap menyala. Salah satu temanya adalah cerita tentang usahanya dalam mempersiapkan hari tuanya sekarang ini. Dimana sebagai pegawai di lembaga swasta harus mandiri dalam memperoleh in come setelah usia pensiun.

Diceritakanlah kalau dirinya memaksakan diri untuk selalu menyisihkan dua puluh persen dari pendapatannya sebagai modal pensiunnya. Dan apa yang diikhtiarkannya itu bermakna saat hHari pensiun itu datang. Disampaikan kalau ia mampu membeli tiga rumah di perumahan dan 3 pintu kontrakan di Jakarta. Tentu sudah juga punya satu rumah untuk dia tinhgali berdama istri. Dan 3 rumah lainnya itu untuk masing masing anaknya.

"Tiga pintu kontrakan itu mas, adalah in come rutin saya untuk belí beras. sedangkan mengantar koran iní untuk sambel dan gula kopinya." Jelasnya masih di atas motor matiknya di pági Ramadhan kemarin.

Pengalaman kedua, adalah diskusi di milis IGI (IIkatan Guru Indonesia) . Salah satunya pesertanya yang juga adalah Ketua IGI Pusat, Satria Dharma, menuliskan bahwa dirinya sekarang sudah pensiun untuk mencari nafkah, tetapi tidak pernah pensiun untuk bekerja. Namun jangan salah bahwa pensiunnya mencari nafkah itu baginya juga berarti sebagai kemerdekaannya pada finansial. Dia dulu bekerja untuk mencari uang tetapi sekarang uang yang mencarinya. Demikian lebih kurangnya dia menulis di milis itu.

Apa yang disampaikan Pak Satria Dharma itu, mengingatkan saya pada salah satu stetmen yang pernah saya baca, bahwa Muhammad Rasulullah SAW juga sudah merdeka secara finansial saat Beliau memikul panji dakwah pada usia empat puluh tahun. Yaitu pada saat wahyu Allah yang pertama kali turun pada Beliau.

Pengalaman ketiga, kenyataan yang saya alami sendiri di sekolah. Hal ini berkenaan dengan penilaian kinerja. Dimana salah satu aspek dalam penilaian kinerja guru kita adalah akhlak Islam. Dan salah satu indikatornya adalah hafalan Surat Al Quran. Tidak banyak yang kita tuntut dari para pendidik ini untuk mendapat nilai 'baik', maka kita dituntut untuk setoran hafalan 20 surat Al Quran yang ada di juz 30. Jika kita memiliki hafalan 21 surat atau lebih, maka nilai yang akan kita dapat pada indikator ini adalah 'istimewa'.

Di beberapa sekolah, jumlah hafalan surat Al Quran yang ada di sekolah saya adalah relatif sedikit. Tetapi masih ada diantara kami yang melihat indikator ini sebagai kendala untuk menjadi 'baik' atau bahkan 'istimewa'. Namun harus disyukuri bahwa maroritas kita melihat ini sebagai investasi diri bagi masa depan, atau persisnya investasi pada masa setelah pensiun.

Masa Paska Pensiun

Apa hikmah dibalik ketika pengalakman yang telah saya sampaikan diatas? Dari beberapa hikmah yang ada, saya hanya akan menyampaikan satu hikmah yang maha penting. Yaitu bahwa masa paska pensiun harus kita sikapi dengan paradigma nanti bagaimana. Dan bukan bagaimana nanti.

Dalam paradigma yang pertama, maka kisah agen koran dan kisah tuntutan kinerja sebagai investasi harus menjadi kerangka strategi kita. Yang dapat kita bangun sebagai konsep dan kita lanjutkan dalam bentuk aplikasinya. Paradigma ini adalah cara berpikir dengan kerangka perencanaan. Sedang paradigma bagaimana nanti, adalah bentuk cara pandang pasrah.

Jalan mana yang akan menjadi pilihan saya? Cara pandang pertama adalah jalan pilihan saya. Meski kesadaran itu baru saja muncul, saya yakin tidak ada terlambat untuk berbuat baik bagi masa depan nanti. Dan bila Allah mengizinkan, semoga kemerdekaan pendapatan sebagaimana pengalaman kedua, menjadi milik saya juga. Amin.

Jakarta, 13 September 2010 atau 4 Syawal 1431 H.

12 September 2010

Pemimpin dan Perubahan di Sekolah

Ada berita yang tidak enak satu pekan sebelum Idul Fitri kemarin, utamanya dalam dunia tulis menulis. Itu adalah implikasi dari artikel seorang perwira menengah di TNI AU, Bapak Adjie Suradji, di opini harian Kompas pada Senin, 6 September 2010. Dalam artikel opini itu, Pak Kolonel Penerbang mengemukakan pendapatnya terhadap SBY, Presiden kita. Yaitu tentang kepemimpinan sang presiden, keberaniannya dalam mengambil resiko atas kebijakan dan keputusannya serta perubahan yang menjadi stetmen janji politiknya selama kampanye Pemilu dan perubahan yang dilakukannya selama menjabat presiden. Dalam berita selanjutnya, atas opini yang merupakan kritikan terbuka tersebut terhadap presiden, Beliau mendapat 'teguran' dari institusinya.

Di luar dari apa yang menimpa Pak Adjie Suradji, yang menurut saya seorang pemberani itu, ada esensi kebenaran tentang kepemimpinan. Dan sebagai praktisi di sekolah, maka esensi itu, memiliki korelasi sangat erat dengan profil pemimpin di sekolah. Pemimpin yang visioner serta pengawal yang handal bagi sebuah perubahan yang berkelanjutan di sekolah.

Mengapa sekolah juga memerlukan sosok pemimpin sebagaimana apa yang ditulis Pak Adjie? Karena sekolah juga merupakan institusi yang harus bergerak mengikuti perkembangan zaman dengan sumber daya dan dana yang dimilikinya.

Karena itu perubahan menjadi sumber energi bagi eksistensi dan daya hidup lembaga yang bernama sekolah. Dan daya hidup serta vitalitas tersebut, utamanya bagi sekolah swasta, yang sumber dananya berasal dari masyarakat. Dan itu sama maknanya dengan tingkat kesejahteraan komunitas yang ada.

Pintar dan Visioner

Pintar dan visioner adalah kombinasi sempurna antara kecerdasan intelektual yang dapat juga ditunjukkan dalam bentuk kecerdasan akademik dengan kecerdasan sosial yang dapat ditunjukkan dengan kemampuannya dalam memprediksi tren di masa depan, yang patut menjadi keunggulan bagi sekolahnya.

Kepintaran intelektual tanpa kepintaran tentang 'perkembangan' sosial yang berdenyut di lingkungan sekitarnya adalah sebuah senjata maha canggih tanpa dapat dipergunakan sebagai alat pembela diri bagi pemiliknya. Ia hanya sebuah alat yang tidak lebih hanya berfungsi sebagai asesoris.

Sementara itu, mangapa visioner? Karena kemampuan ini akalah kemampuan yang memungkinkan sebuah lembaga atau organisasi menjadi mampu untuk memiliki denyut nadi yang panjang umur. Dan ini berarti maka dibutuhkan kemampuan untuk membaca, menemukan dan sekaligus mengaplikasikan sebuah keunggulan tersebut.

Keberanian?

Dalam sebuah artikel yang dimuat di Kompas, 17 Oktober 2006, Paul Keating, Mantan PM Australia mengemukakan tentang karakter seorang pemimpin. Menurutnya, Leadership is not about being nice. It's about being right and being strong.
 

Satu kelimat tentang pemimpin sebagaimana yang diutarakan oleh Paul Keating itu menegaslan kepada kita bahwa keberanian, adalah sisi yang menonjol bagi pemimpin untuk mampu membawa perubahan atau untuk mampu mengaplikasikan sebuah reformasi bagi visinya dalam bentuk konsepsi. Dan sebuah lembaga yang telah memiliki 'jam tidur', maka membutuhkan tingkat keberanian pemimpin yang lebih tinggi. Ini sebuah anomali hidup sebuah organisasi.
Anomali berikut yang akan diterima oleh seorang pemimpin perubahan adalah keberanian untuk menanggung resiko atas bendera perubahan yang dikibarkannya. Dalam sisi ini, saya lebih senang mengatakan bahwa seorang pemimpin juga harus memiliki ketegaran hati yang tangguh. Pemimpin bukan pengeluh.


Sekolah sebagai lembaga yang komunitasnya terdiri dari guru dan karyawan membutuhkan pengawalan bagi sebuah pergerakan pembaharuan yang terus menerus tanpa henti. Dan pengawal yang tangguh yang dibutuhkan itu tidak lain adalah pemimpin yang pintar dan visioner, berani, dan konsisten. Tentu ia juga adalah humanis. Karena komunitas mayoritanya adalah manusia.

Jakarta, 12 September 2010/ 3 Syawal 1431 H

10 September 2010

1 Syawal 1431 H

  • Allahu Akbar...
  • Allahu Akbar...
  • Allahu Akbar...
Demikian takbir tiada henti berkumandang dari speaker masjid dan mushola dimana saya tinggal di Slipi Palmerah Jakarta Barat. Tampaknya, sepanjang malam tanggal 30 Ramadhan hingga saya terbangun sekarang ini, takbir tetap berkumandang sambung-menyambung belum ada jeda.

Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 02.00, yang berarti Ramadhan telah berganti Syawal. Saya mencoba mencari seluler anak yang saya pinjam untuk mendengarkan siaran radio tentang mudik. Entah mengapa, malam ini saya benar-benar rindu mendengar laporan pantauan mudik. Saya sering hanyut dalam laporan yang disampaikan oleh pendengar atau kontributor radio itu terutama bila tempat yang dilaporkan saya mengenalnya.

Jalur Pantura sejak Simpang Jomin, Patok Besi, lurus hingga Palimanan, Jalur tengah Subang-Sumedang-Palimanan lanjut Pejagan, atau Jalur Selatan Bandung- Nagrek-Malangbong-Ciamis Banjar-Wangon-Buntu-Sumpiuh-Kebumen lanjut Purworejo, kampung halaman saya. Semua tergambar jelas dalam bayangan batin saya. Meski kadang saya dasar dan menyimak berita, dan sering terlelap tanpa suara.

Dan rupanya seluler anak telah raib. Mungkin anak mengambilnya setelah melihat saya tertidur. Oleh karenanya saya mencoba meraih seluler sendiri dan mencoba membuka akun berita. Banyak laporan masuk yang memberitakan perjelanan mudik. Saya tidak membuka berita yang ada secara lengkap, namun hanya judul-judul beritanya. Demikian pula ketika saya buka laman jejaring sosial.

Saya berhenti sejenak atas apa yang ditulis di dinding seorang teman. Tampaknya semacam harapan dan doanya atas telah berakhirnya Ramadhan 1431 H ini. Tulisnya: Ya Allah Ramadhan telah meninggalkanku. Kesedihan hatiku atas kepergiannya. Bulan yang di dalamnya terdapat keberkahan, ampunan dan dijauhkannya dari api neraka. Ya Allah, terimalah semua amalku sepanjang bulan ini . Sampaikannlah usiaku di Ramadhan 1432 H mendatang. Amim YRA.

Saya tertegun atas apa yang disampaikannya di dindingnya pada dini hari itu. Ya Allah, Ramadhan benar-benar telah berganmti Syawal. Batinku.

  • Allahu Akbar...
  • Allahu Akbar...
  • Allahu Akbar...
Saya mencoba mengikuti takbir yang terdengar di kampungku. Pagi itu jernih berkumandang di langit. Tanpa selingan suara petasan. Alhamdulillah.

Saya berharap semoga keluarga saya, Mamak di Wojo tetap berbahagia atas kedatangan Syawal tahun ini meski tanpa kehadiran anak-anak dan cucu-cucunya. Amin.

Jakarta, 10-12 September (1-3 Syawal 1431 H).

09 September 2010

Antara Piket dan Duty

Tidak ada yang istimewa dari dua kata yang memiliki arti serupa itu. Namun dua istilah itu menjadi sangat bermakna buat saya di tahun 1996. Yaitu saat saya menjadi guru baru di kelas lima sekolah dasar di bilangan Tangerang. Kebermaknaannya kerena istilah itu tiba-tiba menjadi sangat inheren dalam diri saya selanjutnya sebagai guru.

Di sekolah sebelumnya, saya hanya mengenal sebagai guru piket.
Yaitu ketika saya bertugas sebagai guru piket di masjid saat Salat Dhuhur berjamaah. Maka kewajiban sebagai guru piket adalah datang harus lebih dulu di masjid sebelum siswa sampai. Dan sembari menemani siswa hingga salat jamaah dimulai, saya akan mengajak siswa bershalawat untuk nabi SAW bersama-sama. Dan sebagai variasi saya mengajaknya secara bergelombang antara jamaah putri dan putra.

Masalah kami sebagai guru piket saat itu adalah, bahwa tidak atau belum semua guru yang terdaftar sebagai guru piket datang di lokasi piket yang telah ditentukan. Kadang datang tetapi tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan atau bertepatan rakaat salat telah dimulai. Namun tampaknya kenyataan ini belum menjadi tuntutan dalam DP3 kami saat itu.

Buktinya Kepala Sekolah hanya mengingatkan kita dengan cara meminta kita untuk menunaikan piket dalam bentuk himbauan di waktu rapat dewan guru yang diadakan sebulan satu kali. Tapi mengapa saya rajin menunaikan piket di masjid? Itu karena saya berpikir praktis. Bukankah saya juga akan Salat Dhuhur? Oleh karenanya sesungguhnya tidak ada kewajiban tambahan bagi saya dalam hál menjadi guru piket di masjid. Sementara teman yang lain mungkin berpikiran berbeda dengan saya, sehingga piket di masjid masih menjadi tugas tambahannya.

Lalu bagaimana dengan duty? Inilah tugas yang baru saya dapat meski sebelum masuk sekolah ini saya telah mengajar selama sebelas tahun pada jenjang pendidikan yang sama. Duty juga kata baru bagi saya waktu itu. Saya bertugas di area koridor sekolah bersama seorang teman sejak jam pulang sekolah hingga siswa habis di jemput. Ini menjadi tanggung jawab kami mengawasi siswa.

Saya berpikir semuanya kondusif. Oleh karenanya saya memutuskan untuk Salat Ashar. Namun niat untuk segera kembali ke halaman dimana teman saya sedang duty menjaga siswa tidak kesampaian. Karena ada teman lain yang mengajak saya berdiskusi hingga pukul 16.00 dimana waktu pulang siswa. Sebentar kemudian sayapun pulang.

Esok pagi, sebelum pukul 07.30, kepala sekolah saya datang dengan muka yang serius. Katanya:

  • Pak Agus, saya maaf pagi-pagi mengganggu. Saya mau bicara dengan Bapak Bisa? Mengapa kemarin sore Bapak tidak duty? Saya sudah mencoba mencari Bapak tidak ada. Wah serius nih, pikir saya.
  • Saya Salat Ashar Pak. Jelas saya.
  • Baik. Itu sesuatu yang benar. Tapi Bapak tidak ada di lokasi duty. Itu tidak benar. Saya ingatkan pentingnya duty ya Pak. Bahwa seluruh area dimana Bapak duty adalah tanggung jawab Bapak. Jadi jika terjadi sesuatu dengan siswa di area itu, Bapak yang bertanggungjawab.
Saya diam dan mencoba untuk memahami makna duty di sekolah baru itu. Tentu memohon maaf atas keteledoran saya. Dan saya malu. Melakukan sesuatu yang wajib dengan meninggalkan kewajiban yang wajib pula. Tapi dari sini saya belajar tentang perbedaan ekspekstasi dan paradigma antara tugas piket di sekolah sebelumnya dan duty di sekolah sekarang.

Dan pada saat perpisahan, karena saya akan memutasikan diri ke sekolah yang lebih baru lagi, satu dari guru saya mengatakan testimoninya tentang saya. Katanya: Pengalaman yang tidak akan mungkin terlupakan dari Pak Agus adalah, ketika Pak Agus mencari saya di ruang guru saat saya makan dan berkata; Ibu, sekarang duty di Basket Court! Dan saya langsung lari menuju area saya. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dengan siswa.
Jakarta, 9 September 2010.

07 September 2010

Ritual Mudik

Idul Fitri tahun 1431 hijriah akan játuh pada hari Jumat tanggal 10 September 2010. Dan karena siswa sudah mulai libur sejak Kamis tanggal 2 September lalu, maka waktu mudik yang aman dan terhidar dari kemacetan yang mengular adalah Jumat , 3 September sebelum pukul tujuh pági. Atau paling lambat pada Sabtu tanggal 4 siang. Inilah yang menjadi pilihan beberapa teman saya yang mudik ke Tanggamus Lampung, Kediri Jawa Timur, atau tempat lainnya.

Berbeda dengan mereka, berbeda pula dengan saya dan keluarga jika berencana mudik ke kampung halaman. Maka kami akan memilih hari Sabtu tanggal 11 September atau bertepatan dengan hari kedua lebaran sebagai perjalanan mudik. Hál iní karena seluruh keluarga istri tinggal di Jakarta. Maka hari pertama lebaran selalu menjadi waktu untuk berkumpul di keluarga istri. Oleh karenanya perjalanan mudik kami tidak atau jarang terjebak dalam kemacetan yang panjang. Di pihak lain, kadang saya menjadi tidak berjumpa dengan sahabat sepermainan saat remaja dan muda di kampung, karena sebagian mereka pada lebaran kedua atau ketiga akan kembali ke tempat dimana mereka bekerja.

Namun sejak awal bulan Ramadhan lalu, saya dan isteri bersepakat bulat untuk ttetap inggal Dd Jakarta alias tidak turut serta menjalani ritual mudik. Iní me.mng bukan pilihan dan keputusan yang baik. Karena Mamak saya pasti akan mengharapkan kedatangan saya secara fisik. Mamak saya akan selalu merindukan kami meski kami sudah disampaikan bahwa saya dan cucu-cucunya tidak akan mudik. Kerinduan itu mungkin juga akan bayangan didalam benaknya ketika anak-anaknya dan cucu-cucunya akan berebut tempat untuk sekedar melepas lelah dan tidur di malam hari karenanya kurangnya tempat dan ruangan untuk tidur .

Dulu Saat Bapak saya kurang sehat hingga meninggalkan kami untuk selamanya pada 20 Oktober 2009, pulang mudik kekampung menjadi rutinitas saya dan atau keluarga. Bahkan sering kalau Bapak kurang sehat dan harus dirawat di puskesmas desa, maka akan segera minta pulang ke rumah begitu mendengar saya anak sulungnya sedang dalam perjalanan ke kampung. Jadi kedatangan anaknya merupakan obat bagi orang tua itu.

Bagaimana dengan Idul Fitri 1431 hijriah ini? Semoga Mamak tetap tahan untuk menahan rindu akan anak-anak dan cucu-cucunya. Dan kami yang di rantau pun tetap semangat menghadapi hari kemenangan yang fitri ini dengan ketulusan dan jesederhanaan. Meski kami tidak ikut serta dalam ritual mudik tahun 2010 ini. Amin.

Selamat Idul Fitri Mamak. Maafkan semua kekhilafan, kekurangan, dan kekeliruan yang mungkin telah anakmu lakukan kepada mu. Maafkan lahir dan batin.

Jakarta, 6-7 Septembér 2010.

Rapot untuk Guru

Ketika sebagai guru kelas di sekolah dasar, saya merasakan tidak banyak menemui kesulitan dalam memberikan hasil belajar siswa. Termasuk juga pada saat hasil penilaian itu sudah dalam bentuk rapot di akhir term atau di akhir semester. Orang tua dan siswa mayoritas akan menerima apa yang menjadi catatan kita, sebagai penjelasan tambahan. Meski ada diálog dalam melihat perkembangan siswa yang tertera dalam buku Rapot tersebut, tetapi pada dasarnya semua fakta dan data yang saya lampirkan, yang berasal dari pengamatan, tidak alkan menjadi bahan untuk diperdebatkan.

Walau kadang ada teman yang mengajar di kelas lain, karena data dan fakta yang kurang valid sehingga sempat menimbulkan ketidakpuasan. Karena hasil dari fakta dan data yang tidak valid selalu menghasilkan ketidak cocokan antara realita yang ada. Tetapi iní kasuistik. Jarang terjadi pada guru yang sungguh-sungguh melakuian penilaian.

Namun bagaimana ketika saya sebagai kepala sekolah ketika memberikan rapot kepada para guru yang ada di bawah amanah saya? Samakah jalan ceritanya dengan ketika saya masih menjadi guru kelas sebagaimana yang saya kemukakan diatas?

Tidak sama. Meski data dan fakta yang kita jadikan landasan pengambilan penilaian kinerja adalah fakta dan data yang valid serta reliabel. Ketidaksamaan itu terletak kepada prosews penerimaan akan nilai kinerja dari saya tentang dirinya yang tidak baik. Dan ketidakterimaan guru kadang masih berlanjut dalam diskusi di luar ring setelah mereka saya berikan feed back dan masukan atas kinerjanya dalam durasi satu tahun yang lalu. Dan menyangkal menjadi andalan mereka.

Pola seperti iní terjadi pada saat saya kali pertama menyampaikan masukan yang harus menjadi perhatian bagi pengembangan dirinya pada tahun berikutnya atau pada masa depannya. Inilah tipikal guru yang merasa dirinya paling pintar. Dan perasaan merasa diri paling pintar itu telah menutup pikirannya untuk dapat menerima masukan. Meski sistem penilaian kinerja yang kita lakukan berdasarkan informasi dari 380 derajat. Di sekolah kami tidak banyak guru dengan tipe seperti iní. Tetapi kadang keberadaannya sedikit mengganggu konsentrasi organisasi.

Dan sebagai kepala sekolah, yang juga gurunya dari para guru kelas itu, saya masih bersyukur karena banyaknya guru yang sangat positif ketika menerima rapot tahunannya yang berupa hasil penilaian kinerja. Ketika diskusi tentang data dan fakta yang kita sodorkan, ia dengan antusiasme tinggi 'menelan' bagian-bagian dalam kinerjanya yang perlu ditumbuhkan di masa penilaian tahun berikutnya.

Guru-guru tipe ini, tanpa memandang usia, adalah guru-guru yang menjalani profesinya penuh kesyukuran. Dan bentuk kesyukuran itu adalah memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya, dan mensinergikan diri dengan apa yng bergerak di lingkungan komunitasnya.

Sering saya melapas mereka pergi untuk menjadi kepala sekolah di sekolah baru yang menjadi pilihannya. Inilah guru pembelajar. Yang selalu melejit bersama semangat belajarnya. Lalu, bagaimana dengan saya sendiri begitu kepergian mereka? Tetap bersyukur. Karena teklah berkontribusi pada masa depan seorang teman yang hebat.

Jakarta, 6-7 September 2010.

05 September 2010

Saya Sekarang kan Lebih Baik

Bapak tidak melihat perbandingan saya sekarang dengan saya dulu. Sekarang saya kan lebih baik!

Pernyataannya bahwa ia telah berubah dan kenyataannya memang benar sekali. Sangat mungkin bahwa berbedanya waktu dulu dan kini membuat orang atau kita berubah atau merubah diri menjadi labih baik. Kebenaran ini tidak saja menjadi ukuran saya sendiri yang kebetulan adalah teman sejawatnya, tetapi teman yang lainpun memiliki penilaian yang sama. Dan sesungguhnya perubahan ini tidak hanya menjadi miliknya seorang. Karena semua kita sesungguhnya juga merubah diri sesuai tuntutan lingkungan sekitar kita.

Namun jika perubahan tersebut menjadi hujjah kita untuk memberikan argumentasi tentang perubahan yang dituntutkan kepada kita karena hanya melihat bahwa dalam diri kita masih butuh banyak yang dirubah, menjadi perkara yang berbeda. Perkara yang tidak lagi sederhana. Karena pembelaan itu, yaitu dengan ungkapan bahwa; saya sekarang sudah jauh berbeda dengan saya yang dulu, jelas sekali memiliki logika penolakan atau pengingkaran. Logika perbantahan. Suatu cara untuk mempertahankan diri atas kenyataan bahwa dalam diri kita masih ada bagian yang membutuhkan perbaikan.

Maka kalau yang dimintakan adalah perubahan, maka sesungguhnya argumen kita tersebut adalah penolakan atas ajakan untuk lebih berubah. Dan hal itu menunjukkan adanya perbedaan dalam cara melihat atau cara memandang. Dalam diri kita melihat bahwa apa yang menjadi fakta dalam diri kita telah cukup mampu berkontribusi sesuai dengan apa yang diekspektasikan lembaga, jika kita menjadi bagian dari lembaga. Sementara lembaga melihat bahwa apa yang kita telah tunjukkan atau kontribusikan masih membutuhkan akselerasi lebih cepat, lebih baik, atau bahkan lebih banyak. Perbedaan persepsi inilah yang kemudian memunculkan lahirnya deviasi atas harapan dan kenyataan.

Maka lahirlah pertanyaan berikut; ekspektasi siapakah yang dapat menjadi pegangan kita bersama? Kita secara pribadi atau lembaga?
Inilah pendapat saya. Pertama; Untuk menjawab pertanyaan ini, secara sederhana, saya memetaforakan problema ini dengan kita mengunjungi rumah orang lain. Bertamu. Ketika akan bertamu ke rumah orang lain, ini karena kita adalah pekerja di lembaga milik orang lain, maka akan ada konsepsi tata krama sebagai berikut: Mengacu kepada aturan agama. Yaitu ketuk tiga kali dan jangan sekali-kali berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam rumah dengan cara mengintip. Maka jika telah diketuk tiga kali namun tuan rumah, jika ada di dalam rumah, belum juga membukakan pintu, maka kita harus meninggalkan rumah tersebut.

Apa artinya? Artinya bahwa kalau kita sebagai tamu, maka posisi tawar kita adalah sub-ordinat. Ini berbeda posisi dengan atau jika kita adalah si tuan rumah. Hal yang sama juga linier jika kita adalah seorang karyawan di sebuah lembaga yang memberikan kita kerja, maka kita adalah bagian dari lembaga tersebut. Maka norma siapakah yang harus menjadi standar kerja?

Kedua; Berpikirlah bahwa kebaikan juga merupakan investasi. Yaitu bahwa sikap, perilaku, etos kerja, cara pandang dan keseluruhan dari tingkah laku kita yang baik harus kita pandang sebagai investasi penting bagi kita di kehidupan berikutnya. Dengan demikian maka jika lembaga menuntut kita dengan ekspektasi tinggi, tentu akan berimplikasi pada kita dimasa berikut.

Hal inilah yang banyak dialami oleh orang-orang sukses. Bahwa setiap kesuksesan yang telah mereka nikmati sekarang ini adalah buah dari tekanan, ekspektasi, dan mungkin dorongan dari luar dirinya diakulturasikan dengan kecerdasan mereka dalam meramu kenyataan itu dengan refleksi diri sehingga melahirkan kepribadian yang lebih integral, lebih unggul, dan lebih sukses. Setidaknya inilah yang saya fahami dari testimoni yang mereka inspirasikan untuk kita.

Ketiga; Jangan pelit untuk berbuat baik atau berubah menjadi baik. Janganlah kita menjadi pribadi yang menghitung-hitung ketika kita akan berbuat baik. Atau mengkalkulasi untung atau rugi kalau kita berubah dari kurang menjadi positif. Jika kita masih memiliki pemikiran seperti itu, maka sesungguhnya perasaan sombong sedang merajai hidup kita. Maka enyahkan perasaan itu dan kubur dalam-dalam. Atau kita akan tetap terpuruk di mata orang lain dan di ranah sosial.

Semoga saya dan Anda semua menjadi pribadi yang mudah berubah. Tentu berubah sesuai dengan tuntutan kebaikan dalam rangka menuju insan mulia. Dan mungkin Ramadhan 1431 H ini adalah momentum yang sangat baik. Amin.

Jakarta, 5-6 September 2010

04 September 2010

Pembelajaran Karakter Berbasis Aspek Kognitif Taksonomi Bloom

Tahapan pembelajaran yang saya maksudkan di sini adalah tahapan lanjutan setelah kami mampu menentukan apa saja karakter yang kami inginkan. Selaiun karakternya, kami juga telah membuat rambu-rambu pada setiap karakter dalam bentuk deskripsi dari setiap karakter tersebut, indikator keberhasilannya, serta sedikit ide tentang bagaimana strategi pembelajaran yang dapat digunakan sebagai generator idenya.

Tahapan proses perumusan dan penentuan karakter siswa, yang kemudian kami pilih 10 karakter siswa, sudah saya tulis dan jelaskan pada tulisan sebelumnya, yang juga saya muat dalam blog ini. Oleh karenanya, maka tulisan saya ini adalah upaya penjelasan tentang bagaimana kami membumikan konsep sepuluh (10) karakter siswa tersebut dalam bentuk proses belajar mengajar sehari-hari di dalam kelas oleh seluruh guru kami.

Taksonomi Bloom

Benjamin S. Bloom, memilah hasil pendidikan dalam tiga (3) domain utama taksonominya. Taksonomi inilah yang kemudian menjadi panduan di dunia pendidikan kita. Ketiga domain itu adalah domain kognitif atau domain pengetahuan. Domain efektif atau domain sikap dan domain psikomotorik. Dalam bahasan ini, saya hanya akan mengemukakan domain kognitif sebagai sandaran dalam pembelajaran karakter yang telah kami lakukan di sekolah kami.


Pada domain kognitif, Bloom membaginya secara bertahap dalam enam (6) aspek berpikir. Keenam aspek itu adalah:
1. Aspek mengingat atau remembering,
2. Aspek memahami atau understanding,
3. Aspek aplikasi atau applying,
4. Aspek analisa atau analysing,
5. Aspek evaluasi atau evaluating, dan
6. Aspek mencipta atau creating.

Keenam aspek kognitif tersebut, sebagaimana yang ditulis oleh Michael Pohl (2000. Hawker Brownlow Education), adalah hasil revisi dari Lorin Anderson. "During the 1990s, Lorin Anderson ( a former student of Benjamin Bloom) led a team of kognitive psychologists in revisiting the taxonomy with the view to examining the relevance of the taxonomy as we enter the twenty-first century. (Halaman 7).

Kami menjadikan domain kognitif itu sebagai proses dari pembelajaran karakter sekolah kami. Sebagaimana urutannya, maka proses mengingat, memahami dan aplikasi adalah satu bagian integral dalam pembelajaran itu. Ketiga aspek kognitif ini oleh Hellen McGrath dan Toni Noble dalam Different Kids Same Classroom (Longman Cheshire. 1994. Halaman 93) sebagai lower-order thinking. Sementara tiga (3) aspek selanjutnya, yaitu aspek analisa, aspek evaluasi, dan aspek mencipta ada dalam higher order thinking atau lebih dan kurangnya dapat dikatakan sebagai proses berpikir kritis.

Pembelajaran Karakter

Lalu bagaimana dengan pembelajaran karakter itu di dalam kelas? Sebagaimana dikemukakan dalam domain kognitif Bloom, maka tahapan paling awalnya adalah aspek mengingat. Oleh karenanya proses mengingat ini harus menjadi fondasi bagi pembelajaran pada aspek berikutnya. Misalnya, guru kami membuat senam karakter siswa. Dimana senam itu selalu dilakukian oleh guru dan siswa secara bersama-sama setiap pagi sebelum pembelajaran normal berlangsung. Dengan demikian, maka setiap kami selalu akan ingat diluar kepala tentang sepuluh (10) karakter yang kami punya.

Bagaimana dengan aspek memahami dan aplikasi? Kami selalu mengajak diskusi kepada siswa berkenaan dengan 10 karakter itu. Membuat ilustrasi penerapan pada setiap karakter pada setiap kesempatan di rumah atau di sekolah. Atau merefleksikan apa yang telah kami lakukan dalam kerangka 10 karakter yang ada. Pada proses ini, kami sedang belajar memahami setiap karakter yang kami punya sekaligus bentuk aplikasinya. Bahkan sering juga masuk dalam aspek analisa.

Dan untuk memperkaya serta mensetarakan apa yang guru atau kelas punya dan telah lakukan, kami secara khusus membuat forum diskusi yang berguna untuk sharing pengetahuan dan pengalaman. Karena kami selalu meyakini bahwa, tidak ada tumbuh tanpa sebuah proses. Selian itu juga kami yakin bahwa kejujuran dalam proses untuk tumbuh, adalah miodal paling utama bagi kami untuk menjadi bangga.

Bangga pada sepuluh (10) karakter siswa kami. Bangga kepada orisinalitas kami. Dan juga bangga kepada proses tumbuhnya kami. Inilah salah satu sumber kebahagiaan kami dalam mengejawantahkan amanah sebagai pendidik di sekolah.

Jakarta, 5 September 2010.

02 September 2010

Sekolah Favorit, Cerita Rina dan Ibunya

Malam itu seperti juga malam-malam sebelumnya, Rina, kelas 4 SD sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah hingga pukul sembilan malam lewat. Padahal sebagaian anak yang lain yang seusia dia telah terlelap. Rina sendiri tampak sekali kalau sedang menahan kantuk. Namun karena tugas rutinnya sebagai siswa di sekolah favorit, yaitu mengerjakan PR, belum selesai, maka ditahannya rasa kantuk itu sekuat tenaga.
Sementara itu duduk di sebelah dia adalah ibunya yang baru sampai rumah saat magrib tiba. Selain menahan penat oleh kerjaan di kantor, Ibunya juga terlihat menahan kantuk. Dan untuk mempercepat penyelesaian PR itu, kadang ibu membantunya dalam menemukan jawaban dari soal-soal foto kopian dari bu guru.
Dan selain memberikan bantuan-bantuan yang dibutuhkannya, ibunya juga mengeluh tak henti-hentinya. Ibunya mengeluhkan adanya PR yang lebih dari satu mata pelajaran yang menurutnya melampai batas. Namun anehnya ibunya sendiri yang memilihkan sekolah bagi Rina. Kata ibunya, sekolahnya sekarang adalah sekolah terbaik diwilayahnya. Dan untuk itu ibunya harus melakukan ini dan itu agar dirinya diterima serta tetap eksis menjadi siswa disekolah itu. Aneh, pikir Rina sambil menuliskan jawaban ibunya di kertas PR.

Tapi yang menurut Rina lebih aneh lagi, hingga ia sekarang menjadi siswa kelas 4, yang artinya telah 4 tahun ibunya memberikan komentar buruk atas pekerjaan rumahnya yang selalu bertumpuk, ibunya tidak pernah baik secara sendiri atau secara bersama dengan orangtua murid lainnya yang ada di komite sekolah untuk menyampaikan hal yang menurut ibunya buruk tersebut agar menjadi perhatian bagi sekolah dalam memperbaiki koordinasi antar guru Sehingga tidak setiap guru mata pelajaran berlomba memberikan pekerjaan rumah pada siswanya.

Oleh karena itu, masih menurut Rina, wajar saja bila keluhan yang dialaminya belum akan segera berakhir. Bahkan mungkin akan terus menjadi trend bagi semua guru di sekolah favoritnya itu. Dan artinya, ia dan semua temannya yang masih memiliki les sesudah pulang sekolah akan selalu terlambat memejamkan mata setiap malamnya.

Cepat Rina. Tulis, jawabannya dua pangkat dua ditambah 3 ditambah lima.” Kata ibunya. “Cepat! Itu yang namanya faktorisasi prima!”

Rina menuliskan apa yang diucapkan ibunya. Namun karena kantuk, ia keliru tempat dimana ia seharusnya menuliskan jawabannya tersebut. Maka dihapusnya dan ditulisnya ulang di tempat yang seharusnya. Waktu sekian detik terbuang, dan ia menjadi tambah kantuk. Sedang kepala ibunya sebentar-sebentar terangguk-angguk antara sadar dan tidak. Dan ketika Rina menunggu jawaban pada nomor soal berikut, ia harus menyadarkannya. “Nomor tiga puluh tujuh Mam?” Ibunya tersentak melihat lembar kertas Rina.
Begitulah gambaran paradigma belajar pada sebuah sekolah favorit yang hidup di masyarakat kita. Yaitu sekolah yang banyak memberikan pekerjaan rumah. Tekanan akademik yang tinggi kepada anak, baik yang datang dari pihak sekolah atau dari pihak rumah. Koordinasi yang kadang masih sering kurang antar personal dalam satu lembaga. Kesiapan siswa untuk mendapatkan 'angka kredit' menjadi harga mati bagi mereka yang mengejar sukses akademik.
Cerita tentang Rina dan sekolahnya serta Rina dan Ibunya, adalah secuil ilustrasi masyarakat kita tentang bagaimana mereka memandang sekolah sebagai wahana menempa potensi anak. Yang sering hanya dilihat dari kaca mata akademik semata. Tanpa melihatnya jauh lebih dari itu.
Cerita Rina, sekolahnya, dan Ibunya, adalah gambaran paradigma berpikir yang keliru tentang apa itu hasil pendidikan. Namun semoga gambaran itu saat sekarang ini hanyalah minoritas belaka. Semoga.
Jakarta, 2 September 2010.