Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

28 November 2012

Curhat Pak Guru

Siang itu, Pak Guru yang masuk kelas dan seharusnya mengisi pelajarannya di kelas 12, di sebuah sekolah menengah atas negeri di Jakarta, tiba-tiba berbicara lain. Bukan tentang materi pelajaran dari mata pelajaran yang seharusnya diampunya, ttapi justru tentang hal yang lain, yang tidak kaitannya dengan agar kami dapat mengerjakan ulangan. Mungkin ini dilema yang harus ia alami semenjak menjadi tenaga guru honor lebih kurang lima belas tahun lalu sesuai apa yang disampaikan kepada siswanya.

Tentu, salah satu siswa yang ada di dalam kelas itu adalah aku. Untuk ilustrasi saja, bahwa ketika menginjakkan kaki di kelas 12 pada bulan Juli lalu, sekolah tiba-tiba menjadi berbeda. Ini berawal dari informasi di koran tentang bagaimana Pak Foke mendeklarasikan Wajib Belajar hingga bangku SMA di Jakarta. Padahal pada awal Juli itu, saat pendaftaran ulang, Aku telah membayar uang sekolah yang dinamakan iuran di sekolahku, sebesar Rp. 275 ribu.

Dilaur apakah kebijakan itu sebagai upaya Pak Foke mengambil hati kami yang sudah duduk di bangku akhir SMA  agar suara naik dan dapat menjadi gubernur terpilih DKI Jakarta, yang jelas, iuran di sekolahku menjadi tidak ada. Dan kala itu pula aku belajar tentang istilah BOP atau Bantuan Operasional Sekolah. Yang kebetulan juga ayahku mendapat artikelnya di sebuah web pendidikan. 

Dalam perjalanan waktu, ternyata bukan gratis, karena iuran bulanan yang besarnya Rp 275 ribu per bulan itu diganti dengan iuran sebesar Rp 50 ribu per bulan dengan alokasi untuk biaya AC dan kebersihan. Dan khusus kelas 12, aku dan teman-teman diminta untuk mengiur biaya kelas 12 seperti biaya bimbingan belajar dan  perpisahan.

Namun cerita ternyata masih berlanjut. Ini berawal dari pertemuan antara sekolah yang digawangi oleh Kepala Sekolah tanpa pendamping Komite Sekolah, sebagaimana biasanya yang terjadi di sekolah-sekolah negeri lainnya, dengan orangtua siswa guna menyampaikan anggaran tersebut. Dan ketika orangtua bertanya apakah anggaran yang dipresentasikan tersebut dapat diminta kopinya, karena merasa ingin jelas serta transparan, dan ditolak, maka pada pekan berikutnya AC sekolah yang ada di setiap kelas tidak dinyalakan. Juga kebersihan tidak terjaga.

Lalu, apa hubungannya dengan curhat Pak Guru honor di atas?

Hubunganya adalah pengakuan Pak Guru tersebut di depan kelasku bahwa ia telah selama dua bulan ini belum mendapatkan hornor dari sekolah. Kok bisa? Mungkin saja bisa. 

Tapi karena keterbatasanku sebagai siswa, maka aku coba untuk melihat apa itu BOP yang menjadi pemicu bagi sekolah gratis di DKI Jakarta tersebut. Dan dari artikel yang ditandatangani Fauzi Bowo selaku Gubernur saat itu, bahwa dana yang akan diterima sekolahku sebesar RP 410 ribu per bulan per siswa. Artinya, bukankah jika dibandingkan dengan iuranku dan teman-teman yang hanya Rp 275 ribu per bulan per siswa jauh lebih besar?

"Tunggu dulu," kata ayahku.
"Sangat boleh jadi bahwa uang sebesar Rp 410 ribu itu ketika sampai di sekolah, atau minimal ketika akan di alokasikan ke dalam anggaran yang ada besarannya sudah tidak Rp 410 ribu lagi?" lajut ayahku.
"Kok bisa Ayah?" sergahku.
"Mungkin bisa. Karena ayah juga tidak berpengalaman soal itu." Kata ayah lagi.

Perbincangan kami masih terus berlanjut. Tetapi karena ayahku tidak menguasai, maka aku akhiri saja disini. 


Mungkin ada teman yang ada di SMA Negeri lain di DKI Jakarta ini punya pengalaman yang sama? Karena boleh jadi strategi itu menjadi 'kesepakatan'?

Jakarta, 27-28 Nopember 2012.

26 November 2012

Untuk Guru-Guru yang Semangat

Pada sebuah seminar setengah hari yang berlangsung di Jakarta kemarin, atau beberapa seminar lainnya, saya sebagai salah satu dari peserta seminar itu, terbelalak oleh kehadiran teman-teman dari daerah. Selain itu juga bercampur antara rasa kagum dan rasa kasihan. Ini mungkin karena saya yang kebetulan juga tinggal di Jakarta merasakan bagaimana effort yang harus saya keluarkan untuk sebuah seminar dengan satu sesi seperti itu.

Effort yang saya maksudkan meski itu adalah sebuah seminar gratis, adalah  menghubungi panitia penyelenggara untuk keikutsertaan. Juga, karena sekolah kami yang terdiri dari tiga (3) unit sekolah, TK, SD, dan SMP, juga harus membagi kuota peserta dan  menunjuk teman-teman yang dapat ikut serta atau yang cocok, atau harus ikut serta. Juga mengatur keberangkatan teman-teman itu dari sekolah ke lokasi seminar.

Namun ketika dalam seminar seperti itu, kadang kami bertemu dengan teman-teman guru yang berasal dari luar Jabodetabek, atau bahkan dari luar Jawa. Kenyataan itu membangkitkan dua hal yang terpikir oleh saya. Pertama, adalah kekaguman saya terhadap rasa ingin belajar meteka untuk hadir dalam seminar. Lebih-lebih kepada guru-guru yang mengikuti kegiatan seminar, yang antara lain adalah sebagai wahana bagi peningkatan kompetensi, bukan berangkat dari prakarsa lembaga dimana Bapak atau Ibu Guru tersebut mengabdi. Tetapi karena keinginan yang kuat dari dalam diri mereka sendiri.

Walau kadang masih ada yang berpikir miring tentang keikutsertaan teman-teman dalam seminar semacam itu, misalnya karena untuk memperoleh sertifikat kepesertaan. Tetapi tidak lagi untuk zaman sekarang ini. Karena sertifikasi guru sudah dengan pola PLPG dan  tidak lagi menggunakan pola portofolio yang antara lain membutuhkan sertifikat sebagai dasar pemenuhan nilai.

Kedua, kepada teman-teman yang datang dari jauh-jauh itu, memang benar-benar menginginkan sebuah sumber atau komunitas belajar yang barangkali di wilayah terdekatnya belum tumbuh. Maka, dengan segenap antusiasme yang berkobar itulah ia berangkat ke Jakarta untuk memenuhi kedahagaan terhadap ilmu, atau setidaknya ingin melihat bagaimana teman-teman guru yang tinggal di Jakarta? Meski hanya dalam sebuah seminar setengah hari dan bukan dalam sebuah pelatihan untuk beberapa hari?

Dan semangat untuk menjadi berbeda dengan apa yang ada di daerahnya itulah yang benar-benar dapat saya lihat sebagai upaya untuk membuat anak tangga bagi masa depannya yang lebih terang. Teman-teman guru seperti inilah yang semestinya mendapat peluang untuk dijadikan pemicu bagi kebangkitan semangat berubah ke arah yang lebih baik. Dan jika semangat ini menjadi semangat lembaga, niscaya bukan pesertanya yang datang ke Jakarta, tetapi justru pelatihnya yang datang ke daerah untuk lebih dapat menjangkau banyak guru-guru semangat yang lain yang lebih banyak. Mestinya.

Tetapi, kapankah harapan semacam itu akan lahir tidak saja sebagai wacana? Dalam angan saya, kalau para pengambil keputusan di daerah para guru yang bersemangat itu memiliki kepedulian tentang apa yang semestinya mereka kerjakan sebagai amanah yang diembannya. Dan mudah-mudahan tidak lama lagi era itu.

Selamat hari Guru!

Jakarta, 26 Nopember 2012.

Pak Guru Menjadi Trainer

Dalam sebuah seminar guru beberapa waktu yang lalu, ada peserta seminar yang bertanya, atau mungkin maksudnya lebih tepat jika saya kategorikan sebagai mempertanyakan, karena  guru itu sebenarnya hanya ingin mengungkapkan fakta d sekolahnya tanpa harus meminta jawaban dari saya yang kebetulan sedang mendapat jatah testimoni, tentang temannya yang guru, yang aktif di organisasi dan pengisi seminar karena sebagai trainer, yang kebetulan juga adalah guru di sekolahnya.

"Apa pendapat Pak Agus?" demikian akhir kalimat pernyataannya atau pertanyaannya. Semacam curahan hati. Tapi sayangnya itu diungkap di sebuah forum umum yang saya yakin tidak ada tman yang berasal dari sekolahnya. Padahal jika cuhatan semacam itu di bhas dalam sebuah rapat guru d sekolahnya, dimana guru yang menjadi pelaku dan kepala serta wakil kepala sekolahnya juga hadir di dalamnya, sangat boleh jadi apa yang dikemukakan itu akan terselesaikan masalahnya. Tapi di seminar umum semacam itu? Meminta pandangan saya?

"Saya akan ajak bicara guru yang aktif tersebut untuk melihat kebenarannya. Aakah posisi yang bersangkutan sebagai aktivis organisasi atau sebagai motivator, atau sebagai trainer, ada kewajiban sebagai guru di sekolah yang diabaikan?" kata saya mencoba untuk memberikan penjelasan.

"Menurut saya, kewajibanya sebagai guru di kelas  wajib sifatnya. Sedag sebagai aktivis organisasi, sebagai motivator, sebagai trainer, dilihat sebagai statusnya yang pegawai adalah hak pribadi yang hanya boleh dijalankan di luar kewajiban wajibnya."

***

Apa yang menjadi pendapat saya itu, adalah apa yang terjadi pada diri saya. Dan pemilahan antara wajib dan sunnah dalam pengejawantahan kompetensi positif yang ada pada diri kita semua. Saya berpesan kepada diri saya sendiri untuk benar-benar mengutamakan wajibnya dan menomorduakan sunnah agar tidak terjadi ketidakberkahan dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Karena kelebihan yang ada pada diri kita masing-masing, selama kewajiban utama kita berada di dalam kelas, maka komunitas kelas kitalah yang akan menjadi asesor paling akuntabilitas dan sahih. 

Jangan sampai ketika posisi kita sebagai trainer di luar sana, kemudian ada peserta seminar yang berguman; "Alangkah hebatnya Pak Guru itu kalau di dalam kelas. Alangkah bahagia dan beruntungnya pada peserta didiknya." Namun ketika di dalam kelas, para peserta didiknya mengeluhkannya akan ketidakhadirannya di kelas. 

Selamat hari guru teman-teman. 

Jakarta, 25 Nopember 2012.

24 November 2012

Ibu Guru Sakit

Pada akhir Oktober 2012 lalu, saya mendapat kabar tidak enak dari teman yang saat masih muda sama-sama menjadi guru di sebuah lembaga di wilayah Jakarta.  Kabar menyebutkan bahwa seorang teman kami yang juga guru, yang usianya tidak lebih sama dengan kami, menderita sakit yang lumayan parah. Hal ini karena ia harus digotong untuk kemudian dibawa ke rumah sakit. Separuh badannya mengalami kelumpuhan. Teman-teman mengabarkan bahwa ibu guru teman saya itu terkena serangan stroke. Kami, sesama teman bertanya bagaimana penanganan biaya rumah sakit yang pastinya tidak terhitung murah? Namun bersyukur bahwa kabar berikutnya adalah bahwa ibu guru masuk rumah sakit dengan menggunakan kartu jaminan kesehatan yang telah menjadi standar bagi guru dan karyawan di lembaga pendidikan itu. Adakah penggunaannya tidak mengalami kendala yang tidak beres? Tampaknya semuanya berjalan dengan normal dan lancar.

Alhamdulillah. Kabar terakhir yang kami terima adalah kabar yang baik. Seluruh proses  masuk dan penanganan ibu guru selama di rumah sakit dilalui dengan baik. Kartu jaminan kesehatan dapat digunakan dengan baik, sehingga keluarga tidak terbebani dengan biaya yang harus disiapkan. Dan bahkan beberapa mantan orang tua siswa yang putra/putrinya pernah dibawah asuhan teman saya yang sekarang sedang menderita sakit itu beberapa tahun yang lalu, seolah berduyun-duyun untuk berkontribusi atas biaya yqng dibutuhkan dalam perawatan. Luar biasa. Padahal diantara putra/putri mereka itu, sekarang telah memiliki cucu!

Dan itulah yang membuat saya dan teman-teman seangkatan dengannya pada saat menjadi guru di lembaga tersebut, mengambil pelajaran. Betapa tergambar dalam benak kami semua atas kenyataan itu, bahwa upah kerja yang kita tunaikan tidak hanya yang kita terima pada saat akhir bulan. Ternyata menembus waktu jauh ke depan.

Mungkin karena ibu guru itu telah memberikan totalitas pelayanan kepada siswanya pada saat dulu membimbing anak-anak di kelasnya. Atau mungkin ibu guru itu begitu tulus dan komitmen dalam memberikan bimbingan kepada peserta didiknya? Allahua'lam. Tetapi itulah realitasnya. Kebaikan ibu guru itu seperti berbuah pada saat ibu guru itu tidak mampu lagi merasa atau berkomunikasi.

Kamilah, teman-temannya yang dapat menangkap sinyalemen-sinyalemen atas realitas yang ada.  Dan atas itu semua, kami berharap diberikan kemampuan untuk dapat mengambil pelajaran.

Jakarta, 24/11/2012.

20 November 2012

Anak-Anak itu, Takut Ketinggalan Pelajaran

Hari ini, saat bertemu guru dan melihat aktivitas anak-anak sedang belajar berbicara di 'panggung', saya melihat beberapa anak yang seharusnya tampak tidak terlihat ikut serta dalam latihan. "Tujuh anak saya sedang sakit Pak." Demikian kata Ibu Guru yang sedang bersama siswanya yang menunggu giliran untuk tampil. "Rata-rata dari informasi orangtua siswa, anak-anak itu sakit panas. Ada diantaranya yang sampai muntah-muntah." Lanjut Ibu Guru memberikan tambahan informasi.

Mungkin inilah implikasi dari kondisi cuaca yang sedang tidak stabil. Terik panas matahari kemudian berganti hujan, mungkin menjadi penyebab dari ketidak stabilan cuaca. Musim peralihan ini memang sedang kita rasakan bersama. Tidak terkecuali anak-anak didik kami di sekolah.

***


Pada siang harinya, pada saat saya berada di ruang bersama dan berbincang dengan beberapa anak yang sedang menunggu giliran penggunaan tempat untuk melaksanakan shalat jamaah, sakit menjadi bahasan kami lagi. Seorang anak bercerita kepada saya bahwa tiga dari tujuh anggota keluarganya sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Tiga orang itu, lanjut siswa saya itu, adalah Bundanya, adiknya yang masih duduk di bangku sekolah TK, dan kakaknya yang telah duduk di kelas 9 SMP.

"Sakit apa mereka semua?" Tanya saya kepada anak yang murah cerita itu.
"Semua yang sakit, badannya panas dan muntah-muntah Pak." Jawabnya.
"Kakak dan adik saya terpaksa tidak masuk sekolah Pak." Lanjut anak itu.

Beberapa saat sesudah anak itu selesai cerita, datang anak lain melintas di depan saya dengan tangan kanannya memegang kepala. Melihat anak itu, saya merasa adanya kesungguhan. Yakin bahwa apa yang dilakukan oleh anak itu bukan sesuatu yang sedang dibuat-buat, acting.

"Apa yang sedang kamu rasakan?" Tanya saya.
"Kepala saya sakit sekali Pak." Jawabnya meringis menahan sakit. Kabar bahwa anak itu sakit kebetulan sudah saya dapatkan saat pagi harinya ketemu guru yang bercerita ada siswanya yang baru masuk sekolah tetapi sejak pagi berada di ruang UKS. Maka bersyukurlah saya yang entah karena apa bertemu dengan anak tersebut.
"Bagaimana kalau kamu pulang dan istirahat saja?" Saya memberikan usul.
"Saya sudah dua minggu tidak masuk sekolah Pak. Jadi kalau tinggal di rumah saya takut ketinggalan pelajaran." Jelasnya.
"Bukankah pelajaran nanti bisa kamu kejar setelah sembuh dari sakit?" Kejar saya lagi.
"Ngak bisa Pak. Nanti saya kesusahan." Jawab anak itu tetap dengan nada sungguh-sungguh.
 

***

Dari sekelumit pertemuan saya hari ini dengan anak-anak itu, saya meyakini bahwa anak-anak itu benar-benar anak-anak yang konsern akan kehadirannya di sekolah. Mungkin, salah satunya, takut ketinggalan pelajaran! Membahagiakan sekali.

Jakarta, 20 Nopember 2012.

Anak-Anak yang Betah di Sekolah



Tampaknya dari tahun ke tahun, dari pengalaman kami yang mendapat jatah piket menjaga anak pada saat kepulangan siswa, semakin tidak mungkin membubarkan mereka dari permainan futsalnya di lapangan sekolah untuk segera pulang. Ketika peluit saya bunyikan sebagai tanda pembubaran, mereka menawar agar masih boleh menunggu penjemput dengan bermain bola paling tidak lima belas menit lagi. Dan dengan demikian maka kami pun harus tetap berada di lokasi bersama mereka. Padahal saat itu jam tangan saya telah menunjukkan pukul 16.15.

Dan menurut perhitungan yang saya ingat, setidaknya hingga dua tahun lalu, anak-anak itu telah dengan sukarela meninggalkan sekolah untuk kemudian melanjutkan kegiatan di luar sekolah dalam bentuk kursus, atau mengikuti les privat, atau untuk istirahat di rumah ketika kami bunyikan peluit tepat pada pukul 16.00. Dan bila masih ada beberapa anak yang tetap tinggal di sekolah dengan bermain futsal, maka kami berikan toleransi hingga pada pukul 16.15. Dan pada jam tersebut, mereka begitu mudah untuk bubar dan membubarkan diri.

Namun belakangan ini anak-anak tampak tidak begitu mudah untuk pulang ke rumah meski waktu telah menunjukkan pukul 16.15, mereka tetap bertahan untuk tetap bermain futsal, atau sekedar duduk-duduk di pinggiran lapangan sembari menunggu yang menjemput mereka. Memang tidak semua siswa kami yang tetap tinggal di lapangan hingga sesore itu. Tetapi mereka-mereka yang bagaimanapun harus tetap kami tunggui.

Bahkan suatu kali ada orangtua siswa kami yang harus menulis di status BB-nya; need peluit Pak Agus. Ini karena hingga nyaris pukul 17.00, si anak tetap bertahan di lapangan dan belum mau pulang. Sedang peluit yang dimaksudkan adalah peluit yang biasa saya gunakan sebagai aba-aba agar anak-anak membubarkan diri ketika memang waktu mereka sudah habis di sekolah. Begitulah.

Betah di Sekolah Apakah tidak Betah di Rumah?

Dengan kondisi itu, sejujurnya saya tidak persis mengetahui mengapa. Tetapi dengan melihat fenomena yang ada, tampaknya bagi anak-anak tertentu rumah dengan aktivitas fisik yang semakin minim belakangan ini bukan solusi bagi mereka untuk segera kembali ke rumah. Karena ketika mereka telah kembali ke rumah, maka aktivitas yang menjadi pilihan adalah kegiatan-kegiatan non fisik, seperti main games, nonton film, atau nonton tv, atau mungkin hanya menghabiskan waktunya hingga malam dengan berjejaring sosial. 



Tidak ada lagi kegiatan luar rumah yang akan menjadi tantanga perkembangan fisik mereka seperti bermain sepada, bemain bola, atau kegiatan berbasis komunal seperti ikut sekolah sore (madrasah atau TPA). Itulah maka, anak-anak kami di sekolah itu belakangan hari semakin sulit untuk diminta sesegera mungkin meninggalkan sekolah begitu keluar dari kelas.


Itulah cacatan saya hari ini.

Yogyakarta, 16/11/12.

Gabut?



Istilah baru ini daya dapatkan dari anak saya terkecil saat bersepakat dengan teman-sekolahnya untuk tidak berangkat ke sekolah. "Karena tidak ada guru yang akan mengajar kita, Ayah. Mereka pergi untuk LDKS dengan siswa kelas 1 dan 2." jelasnya sekaligus minta izin kepada saya.

"Mereka gabut yah" katanya lebih lanjut. Seolah memberi tambahan pembelaan. Kalau teman yang lain di kelasnya tidak masuk sekolah, mengapa kita tidak ikut serta ambil bagian? Begitu kira-kira jalan berpikir bontot saya itu.


"Apa maksudnya dengan gabut?" Tanya saya.
"Gaji buta." jelasnya.
"Bukankah tidak semua guru terlibat dalam LDKS?" kejar saya.
"Yang berarti akan ada guru yang tinggal di sekolah untuk tetap Mengajar?" lanjut saya lagi.
"Memang tidak semua guru ikut kegiatan LDKS. Namun yang datang ke sekolah juga tidak akan masuk kelas untuk mengajar kita. Jadi intinya tetap gabut!" jelas anak saya.
"Tapi ingat ya, Senin-nya Ayah tidak akan mau untuk membuat surat izin kamu tidak masuk sekolah." ancam saya sekaligus mengingatkannya.
"Tidak perlu surat izin Ayah. Karena kita bareng-bareng tidak masuk sekolahnya." jelasnya lagi.

Benar saja. Ketika senin sore kami berkumpul di rumah. Saya bertanya kepada anak saya tentang perkembangan kelanjutan cerita dari ketidakhadiran mereka di sekolah pada hari Jumat yang lalu.

"Apa yang terjadi pada Jumat lalu? Apakah Bapak/Íbu guru mempertanyakan keberadaan kalian yang tidak berada di dalam kelas? Berapa teman yang tidak masuk sekolah?" Tanya saya. Meski sebenarnya saya sudah tahu beberapa temannya yang memilih tidak masuk sekolah pada Jumat sore. Karena rupanya anak saya berkomunikasi dengan teman-temannya.



"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena pelajaran hanya berlangsung sampai jam setengah sepuluh. Habis itu, guru-guru tidak ada yang masuk ke dalam kelas." Jelas anak saya.

Dari peristiwa ini, saya dapat merefleksikan diri, tentunya karena saya adalah juga guru. Betapa sesungguhnya, nak-anak itu, peserta didik kita di dalam kelas kita itu, adalah cermin yang reflektif jika kita memiliki kemauan untuk merubah diri. Hanya memang, jika ingin...

Yogyakarta, 16/11/12

19 November 2012

Membaca Koran 'Semarang' bicara tentang Mayat


Membaca koran 'Semarang' terbitan hari Minggu tanggal 18 Nopember 2012, hari itu,  terasa begitu istimewa bagi saya. Tidak hanya karena sejak empat hari lalu saya, tepatnya sejak hari Rabu, 14 Nopember 2012, saya absen dan belum sekaipun menyentuh lembaran koran, tetapi juga karena keinginan untuk membaca koran dan tentunya membelinya ketika saya sedang tidak berada di rumah, kadang-kadang hilang begitu cepat sepanjang masa long week end itu. Hilang sebelum lembaran koran sempat saya beli, dan baru teringat kembali kalau saya harus membeli koran jika ingin membaca, setelah saya berada di atas bus AKAP jurusan Solo-Cilacap, dan  tidak mungkin mendapatkannya. Begitu berulang dari Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, hingga hari Minggu itu. Dari Mulai hari Kamis, jumat, sabtu, hingga akhirnya hari minggu.

Alasan lain untuk saya katakan istimewa adalah karena membaca koran kali ini adalah membaca untuk pengisi perjalanan saya kembali ke Jakarta dengan menumpang bus umum juga. Serta Koran yang saya baca adalah koran daerah 'Semarang'. Koran yang telah saya akrabi ketika saya tinggal di daerah Candi, Semarang untuk beerapa hari. Jadi lengkaplah keistimawaan itu.

Cerita tentang Mayat 

Meski membaca koran kali itu hanya sebagai pengisi perjalanan, namun dari sanalah saya memperoleh inspirasi hidup yag sungguh tiada terkira. Ini tidak lain karena adanya liputan tentang merawat mayat atau jenazah yang ada di koran itu.

Maka, artikel yang menarik untuk saya ikat dalam ingatan saya dalam bentuk catatan itu, pagi ini ketika bertemu dengan teman-teman untuk sebuah pertemuan, saya uraiakan betapa sederhananya orang atau kita semua untuk melakukan kebaikan. Itulah kupasan tentang merawat mayat dalam bentuk Laporan Utama oleh Edy Muspriyanto. 

Dimana dikisahkan bagaimana almarhum selebritas Taufik Savalas yang memberikan kartu nama kepada rekannya (Edy Muspriyanto?), tentang usaha sampingannya, berupa memandikan jenazah atau mayat. Seriusnya, usaha sampingan itu oleh almarhum dibuat dalam bentuk kartu nama, dan dibagikan kepada sang teman tersebut.

Ketika temannya bertanya berapa biaya untuk pemandian jenazah, Taufik mengatakan bahwa profesi sampingannya itu bebas bia alias gratis. Hal ini, jelas almarhum Taufik, adalah  salah satu ikhtiarnya untuk menabung bagi bekal akheratnya.

Sederhana bukan? Tetapi dari artikel itu saya meperoleh inspirasi hidup yang transendental. Hidup yang tidak hanya berpikir tentang dunia. Dan kepada sosok almarhum? Saya dibuatnya terkesima. Bahwa ada sosok selebritas berpikirnya tidak hanya kekinian. Dahsyat bukan?

Jakarta, 18/11/12.

Apakah ada Pungli di Sekolah?



Sejak beberapa hari lalu, kita disuguhi berita tentang sekolah, yang tidak enaknya berita itu berpusara kepada masih adanya pungutan sekolah terhadap peserta didiknya dengan argumen sekolah masih membutuhkan tambahan dana karena difisitnya operasional sekolah yang harus ditanggung. Seperti berita tentang kehadiran Wagub DKI Jakarta ke SMA M Husni Thamrin, yang mana adalah sekolah unggulan milik Pemda DKI Jakarta. Sebagaimana yang di lansir dalam Metro_TV: Wagub DKI Kecam Pungli di Sejumlah Sekolah http://t.co/X47n8mf9

Apakah ada Pungli di Sekolah?

Tidak ada ide sedikitpun tentang pertanyaan tersebut di atas. Adakah? Mungkin. Tetapi realitasnya masih ada sekolah dengan BOP yang baru saja di gulirkan Pemda DKI Jakarta sejak Juli 2012 ini, tetapi sekolah tetap menarik uang sekolah untuk keperluan sebagai pembayaran AC kelas. Setidaknya ini yang saya alami sendiri, di sekolah anak saya yang merupakan aset pemerintah.

Ini menjadi pertanyaan saya. Mengingat saat saya sedang tidak ada di Jakarta ketika hari-hari akhir pekan kemarin hembusan tidak sedap tersebut merasuk ke sekolah anak saya. Saya menerima kabar itu dari istri tentang 'kisruh' yang ada. Dimana, menurut anak saya yang siswa, ibu kepala sekolahnya ditegur keras oleh dinas pendidikan karena masih ada pungutan di sekolahnya. Dan, masih menurut anak saya, Dinas Pendidikan telah mengetahui mahwa sekolah itu termasuk sekolah yang masih ada pungutan. Mungkin pihak berwenang mengetahui ini atas laporan salah seorang orangtua siswa.

Sebenarnya, sejak saya sendiri mendapatkan salinan SK Kepala Dinas Pendidikan berkenaan dengan larangan pengutan Uang Sekolah dan akan adanya BOP dari APBD, saya sudah mengajak saya berdebat tentang masih adanya iuran untuk membayar rekening listrik dan tenaga cleaning service sebesar Rp. 50,000/bulan/peserta didik. Mengapa saya mengajak anak untuk 'berdebat'? Karena saya ingin mengajak anak saya berpikir. Mengingat iuran rutin bulanan peserta didik sebelum keluarnya kebijakan BOP tersebut sebesar Rp. 275,000/bulan/peserta didik. Sedang dana BOP untuk tingkat SMA adalah Rp. 410,000/siswa/bulan. Ini berarti pendapatan sekolah dari BOP tanpa iuaran peserta didik/bulan sebagaimana yang terjadi sebelumnya, masih terdapat kelebihan selisih
Rp. 135,000/siswa/bulan (Rp. 410,000-Rp. 275,000= Rp. 135,000/siswa/bulan). Namun mengapa siswa masih dibebankan uang iuran untuk kebersihandan listrik sebesar Rp. 50,000/bulan/peserta didik?

Mestinya, sekolah cukup dengan uang APBD yang ada tersebut dalam bentuk BOP, tanpa adanya tambahan uang dari masyarakat. Tapi itulah yang terjadi. Lucunya ketika sedang presentasi tentang dana yang masih dibutuhkan sekolah dari orangtua siswa, apa yang tertera di layar proyektor itu tidak diprint dan dicopi untuk orangtua yang hadir dalam rapat. Alhasil sulit untuk dapat disimak apa saja alokasi dana yang diperlukan.

Akhirnya, sebagaimana telpon istri saya kemarin, bahwa ibunya dan orangtua lain, diminta datang ke sekolah agar pihak seklah, dalam hal ini Kepala Sekolah dapat memberikan penjelasan ulang tentang kebutuhan itu? Dan jika orangtua siswa masih ada yang menginginkan rincian alokasi dana yang masih dibutuhkan, pihak sekolah akan melayaninya person to person. Begitu kabar yang saya terima. Saya dan istri, termasuk orangtua yang pasif atau penonton saja hingga detik ini.

Dan ketika saya datang daru luar kota, saya menerma rumor dari anak saya bahwa, Pak Ahok dikabarkan akan datang ke sekolah. Sebagai bagian dari masyarakat, saya berharap sekali akan komitmen kepada amanah dari para pemangku jabatan. Dan saya yakin, bahwa era komitmen itu tampaknya sebentar lagi akan sampai kepada pembuktian, akan ada atau tidaknya pungli...

Jakarta, 17/11/12.