Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Februari 2012

Ketika Rapat Pertama Kali di Student Council

Awal pekan ini, tepatnya tanggal 20 dan 21 Februari, seluruh anak di SD tempat saya berada, telah terlaksana kegiatan tahunan, berupa pemilihan ketua Student Council. Sebuah organisasi intra sekolah untuk tingkat SD. Untuk sebuah kegiatan tersbut, guru pembimbing melatih para siswa, anggota dan pimpinan di Student Council tahun sebelumnya untuk menjadi panitia pelaksana.

Tapi bukan pelaksanaan kegiatan pemilihan ketua Student Council tersebut  yang ingin saya ceritakan kali ini. Tetapi sebuah pengalaman di sekolah ini dalam melaksanakan sebuah pertemuan atau rapat yang terdiri dari para ketua kelas, dari ketua kelas satu hingga ketua kelas kelas 6 tanpa terkecuali. Dan itu yang kami namakan Student Council.

Tanda Tanya

Beberapa hari sebelum pelaksanaan rapat tersebut, saya mendengar berita kalau pelaksanaan itu tidak akan membuahkan hasil. Mengapa? Karena tingkat kelas dari peserta rapat yang ada dan berdiskusi atau membahas masalah dalam sebuah rapat, apakah mungkin? Bagaimana ketua kelas 1 SD harus menanggapi atau memberikan pendapat, jika diminta memberikan tanggapan dan pendapat, oleh ketua kelas 6? Apakah mereka 'sampai'? Itulah antara lain kekawatiran beberapa teman sebelum pelaksanaan rapat. Sebuah pertanyaan atau sebuah tanda tanya yang lumrah dan layak. Sebuah tanda tanya yang sya sendiri pernah mengajukannya sebelum ini. Namun, kala itu,  sebuah praktik nyata yang ada di sekolah lain, membuat saya yakin bahwa kegiatan Student Council, yang salah satu kegiatannya adalah rapat sebagaimana apa yang akan  saya canangkan itu akan menerbitkan perasaan yang 'berbeda' serta mengagetkan. Oleh karenanya, kepada semua teman yang memiliki tanda tanya akan ketidakberhasilan perjalanan rapat  Student Council  itu untuk menerbitkan keyakinan mungkin.

Dan untuk tanda tanya itu juga saya mengajak guru-guru yang tidak jam pelajaran pada saat itu untuk bersama saya menyaksikan apa yang akan terjadi dengan rapat perdana saya dengan Student Council yang ada.

Alhamdulillah, terdapat beberapa guru yang menghadiri kegiatan rapat saya itu. Rapat yang sebelum memulai terlebih dahulu saya sampaikan beberapa patokan. Saya kala itu bertugas sebagai moderator. Dan semua ketua kelas sebagai anggota rapat yang boleh mengajukan pendapat atau usul. Tidak lupa angkat tangan jika ingin menyampaikan sesuatu dan boleh bicara ketika moderator sudah memberikan kesempatan. Dan untuk kali pertama itu saja, agenda rapat saya tawarkan kepada peserta rapat. Saya menawarkan beberapa hal yang dapat menjadi masalah dalam diskusi kali itu. Kemudian semua menyepakati masalah kantin sekolah sebagai agenda rapat mereka. Dan merekapun secara bergantian menyampaikan pandangannya berkenaan dengan kantin yang ideal bagi mereka.

Dan ketika rapat itu berakhir, kami sebagai guru-guru mereka terkaget dan sekaligus tersadar bahwa, anak-anak itu dapat dengan berani dan cerdas ketika menyampaikan pendapatnya. Hal ini menepis ketidakpercayaan kami bahwa ketika rapat yang dihadiri oleh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, maka rapat hanya akan didominasi oleh anak yang di kelas tinggi. Karena ketika membahas kantin sekolah, tampak sekali bahwa semua anak yang merupakan ketua kelas dan menjadi wakil dari kelas masing-masing itu, mampu menyampaikan pendapat, tanggapan, dan usulan.

Mengapa mereka mampu berpendapat meski berbeda usia dan kelas? Asumsi kami, karena masalah yang mereka diskusikan adalah masalah mereka. Masalah anak-anak dan bukan masalah kami para gurunya. Oleh karenanya, setiap mereka mampu menyampaikan pandangannya. 

Dan yang jauh lebih penting dari rapat pertama kali di Student Council yang kami selenggarakan itu memberikan keyakinan bagi kita bahwa, jika kesempatan kita berikan, maka anak-anak itu akan mampu mencapai apa yang sesungguhnya tidak terjangkau oleh pikiran kita sebagai guru.

Mengapa kesempatan menjadi penting? Karena tidak semua kita meyakini bahwa kegiatan semacam rapat sebagaimana yang saya ceritakan itu merupakan bagian penting dalam proses belajar. Karena masih banyak diantara kita yang mengartikan belajar hanya pada saat anak kita di kelas membukan buku paket atau buku sumber belajar atau mengerjakan soal yang diberikan oleh guru? Itulah mengapa pemberian kesempatan kepada anak untuk melakukan sesuatui yang terarah menjadi penting.

Dan melihat proses pemilihan ketua Student Council pada Senin atau Selasa itu, mengingatk saya akan memori tujuh tahun yang lalu ketika saya membuat perkumpulan ketua kelas di SD kami, yang kai sebut Student Council.

Jakarta, 29 Februari 2012.

Pemilih Ketua Student Council

Siang itu saya bertemu beberapa anak kelas lima di sekolah saya yang sedang memandangi foto profil para kandidat ketua student council, atau OSIS di SMP, yang dipasang oleh panitia pemilihan bersama guru pembinanya di papan display dekat gerbang utama sekolah. Selain foto diri, profil itu hanya memberikan informasi berkenaan nama, kelas, dan nomor urut para kandidat. Sedang pada papan display yang lain, tampak skema alur dari pencoblosan serta tanggal pelaksanaannya. Kami bertemu pada saat istirahat pagi.

Dalam pertemuan itu, saya bertanya tentang beberapa hal berkenaan dengan para kandidat yang ada. Juga tim sukses dari masing-masing kandidat, kampanye, serta tentunya saya memancing apa yang menjadi kecenderungan mereka sebagai pemilih dalam pemilihan ketua student council itu untuk menentukan pilihan. Walau pada mulanya mereka menolak untuk memberikan tanggapan, namun akhirnya mereka memberikan petunjuk atau bahkan opini terhadap para kandidat yang ada. Tentu plus minusnya. Karena mereka toh masih duduk di bangku sekolah dasar. Tetapi menarik apa yang mereka sampaikan kepada saya. Yang kadang membuat saya jadi berpikir; secerdas itukah anak-anak sekarang?

Belajar dari Masyarakat

Mengapa saya punya pendapat seperti itu? Karena ada jawaban atau pernyataan dari anak-anak itu yang benar-benar menjadi fenomena hangat yang ada di masyarakat. Misalnya standar kandidat yang menurut mereka ideal. Atau juga pandangan mereka yang mengisyaratkan petunjuk bekenaan dengan perilaku kandidat yang tidak atau kurang layak untuk menjadi pilihan. Nah semua itu, dalam pendangan saya, benar-benar cermin apa yang sekarang sedang in menjadi topik di media. Walau tentu tidak menggunakan bahasa yang relatif sama dengan para pengamat atau politisi yang ada di pusat, tetapi secara esensi luar biasa cerdas.

Apakah kami membelajarkan mereka untuk memiliki pandangan atau pemahaman seperti itu? Saya kira tidak secara langsung. Kami hanya memberikan wahana student council sebagai usaha optimalisasi dari kompetensi yang anak-anak telah miliki. Dan yakin, mereka sesungguhnya belajar banyak dari apa yang terjadi di masyarakat. Mungkin atau bisa jadi saat mereka melihat acara di televisi, atau secara kebetulan atau mungkin sadar mendapatkan inspirasi untuk mengemukakan pandangan dalam hal pilih memilih dari media lain? Semua dimungkinkan. Dan itulah kurikulum masyarakat.

Dari sinilah saya berasumsi bahwa, tidak ada siswa yang tidak cerdas sepanjang kesempatan kita berikan kepada mereka untuk mengekplorasi lingkungan. Karena dengan jatah dan tugas yang telah ada dalam kurikulum kita di kelas kita masing-masing, kadang menjadi belenggu bagi kehadiran sebuah kesempatan. Karena kita hanya akan berpikir sebagaimana yang diminta oleh target kurikulum yang instruksional semata.

Semoga kita menjadi bagian bagi masa depan anak-anak kita. Baik yang ada di rumah kita masing-masing dan juga yang ada di sekolah. Tentunya bagian yang memberi kenangan baik nantinya. Semoga. Amin.

Jakarta, 29 Februari 2012.

28 Februari 2012

Mogok Belajar

Ada beberapa kasus siswa di sekolah yang tiba-tiba menolak untuk masuk kelas bersama teman-temannya, untuk berinteraksi dalam belajar. Supaya mudah, saya sebut saja kasus semacam ini dengan istilah mogok belajar. Bukan mogok sekolah. Karena ada juga peserta didik yang jangankan masuk kelas, berangkat sekolah saja sudah tidak mau. Alhasil peristiwa seperti ini, baik yang mogok sekolah atau mogok belajar,  akan  dan harus menyita waktu kita yang menjadi guru atau juga orangtua.

Dalam artikel kali ini saya akan bercerita tentang mogok masuk kelas atau mogok belajar. Dimana pertengahan pekan lalu terjadi sejak pagi hari ketika seorang anak hanya terlihat tiduran di mushala bersama seorang gurunya. Saya melihatnya pada saat 'berkeliling' menyusuri sudut sekolah. Saya tidak menyapanya karena saya pikir sedang melakukan apa anak itu. Namun pada sekitar pukul 09.00, saya masih mendapati anak tersebut masih dalam kondisi yang belum stabil, maka saya mendekati dan bertanya kepada gurunya apa yang sedang terjadi. Setekah mendapat penjelasan secukupnya, serta tentu saja dengan tambahan sedikit cerita tentang latar belakang anak, saya berketatapan niat untuk menyapanya.

Saya katakan sapaan yang bersahabat. Anak itu diam. Saya berpikir, bahwa anak sedang mengambil pilihan untuk melakukan respon terhadap sapaan saya. Dan ketika beberapa kata saya sampaikan kepadanya, nampak reaksi positif atas sapaan saya. Saya terus melakukan persuasi. Dan untuk membuat semuanya menjadi cair, kepadanya saya tawarkan untuk mengerjakan sesuatu di ruang kerja saya. Saya dudukkan anak itu di meja tamu ruangan kerja saya dengan memberikannya kerta dan alat tulis. Saya minta agar ia melakukan sesuatu dengan alat tulis itu. Mengganbar atau menulis sesuatu. Berjalan. Alhamdulilah.

Beberapa menit  berselang, saya simpulkan bahwa anak telah pada kondisi yang jauh kondusif secara emosional. Dan benar, ketika guru kelasnya datang ke ruangan saya, anak itu benar-benar masuk kelas. Saya syukuri peristiwa itu karena telah memancing saya untuk berpikir dengan terus merenung apa yang sedang terjadi dengan anak itu?

Apa Sumbernya?

Apa yang sesungguhnya menjadi sumber masalah dari peristiwa seperti itu? Memang kami akui bahwa anak tersebut memiliki sesuatu yangberbeda dengan teman-temannya. Dan karena berbeda tersebut kami meminta beberapa kali orangtuanya untuk datang dan berdiskusi dengan guru dan kepala sekolahnya. Dan dalam pertemuan-pertemuan itu, serta dengan beberapa masukan dari hasil pengamatan di kelas, kami mengasumsikan bahwa pola asuh menjadi sumber pemicunya.

Dan salah satu dari apa yang sebut dengan pola asuh tersebut adalah betapa sedikitnya kita sebagai orangtua anak di rumah memberikan seluruh jiwa dan raga bersama anak-anak ketika mereka berada di rumah. Beberapa diantara kita memang berada di rumah bersama anak-anak kita, tetapi itu hanya dalam wujud raga. Sedang jiwanya masih merangkai pekerjaan kantor yag belum juga ada beres-beresnya. Atau bahkan selain jiwanya yang tetap saja terpasung dengan apa yang tidak ada kaitannya dengan anak kita, raga kita pun kadag terbelenggu dengan life style yang tidak berujung. Alhasil, anak-anak itu terbiasa bersama kedua orangtuanya secara raga tetapi miski emosi. 

Terlalu panjang jika saya bercerita tentang bagaimana anak itu hanya tersenyum ketika saya ajak berbicara. Meski memang ada kendala bahasa karena masih dalam usia yang belia. Namun senyum, cukup bagi saya untuk dapat melihat betapa hati anak itu masih mungkin sekali tumbuh mekar untuk mampu memiliki kecerdasan emosi.

Saya berbahagia bahwa siang itu saya dapat menerbitkan sunyum tulus seorang anak yang mogok masuk kelas. Semoga ke depan, ini dapat menjadi pelajaran bagi keparipurnaan  kompetensi saya dalam mengembangkan kepedulian saya sendiri dalam mengarungi bahtera bersama anak-anak saya di rumah. Semoga. Amin.

Jakarta, 28 Februari 2012.

23 Februari 2012

Mengapa Anak Tidak Mengaku Kalau Besok Ada Ulangan?

Setelah membaca tulisan-tulisan yang dibuat anak peserta didik saya di sekolah tentang apa yang mereka maksud dengan jujur, yang beberapa anak antara lain menceritakan bahwa mereka sering tidak mengatakan kalau akan ada ulangan di sekolah, saya justru bertanya; Mengapa ada beberapa anak yang tidak jujur  atau tidak berterusterang kepada orangtua mereka di rumah manakala Bapak atau Ibu Guru di sekolah sudah memberitahukan kalau esok hari akan ulangan harian? Meski itupun telah ditulis di kertas atau tepatnya surat pengumuman resmi sekolah? Atau kadang saya sudah menempelkan surat pengumuman guru itu di salah satu halaman buku komunikasi anak?

Apakah kalau pemberitahuan pengumuman akan adanya ulangan harian itu nanti diketahui orangtua atau tidak diketahui oleh orangtua terdapat perbedaan? Apa sesungguhnya yang dapat anak-anak itu ambil sebagai keuntungan dalam hal ketidakterusterangannya dalam menghadapi hari ulangan harian tersebut? Apakah jika ia tidak mempersiapkan diri pada akhirnya nanti nilai ulangannya akan berbeda dibandingkan dengan kalau dia mempersiapkan diri? Dan jika demikian halnya bukankah ia mendapat kerugian? 

Juga, mengapa jika anak sampai di rumah dan tidak memberitahukan jadwal ulangan harian kepada orangtua menjadi topik dari tulisan anak-anak itu? Mungkinkah karena orangtua menjadi bagian yang justru pihak yang paling peduli akan jadwal anak-anaknya terutama jadwal ulangan (harian)?

Nah, dari beberapa pertanyaan tersebut, saya mencoba membuat asumsi sebagai jawaban dari hal itu. Pertama; Bahwa sebagian anak yang tidak berterusterang akan adanya jadwal ulangan harian kepada orangtunya karena memiliki prinsip atau memegang prinsip; memberitahukan jadwal ulangan kepada orangtua sama dengan menutup pintu kebebasan. Kebebasan yang seperti apa? Kebebasan untuk bermain-main seperti bermain game dan atau menonton tv.

Kedua; Tampaknya, anak-anak peserta didik saya sepakat tidak terlalu senang pada yang dinamakan belajar di rumah. Kenyataan ini justru menjadi kebalikan dari apa yang diharapkan oleh para orangtua. Pertanyaan berikutnya adalah; mengapa anak tidak suka belajar di rumah? Ini juga menurut saya, karena makna belajar itu sendiri dipersempit oleh kultur persekolahan yang tumbuh di masyarakat. Dimana yang dinamakan belajar hanyalah ketika anak mebuka atau mengulang atau melatih ulang materi-materi pelajaran yang diajarkan di sekolah, yang terdapat dalam buku paket atau buku pelajaran. Sehinga, ketika para orangtua tahu bahwa besok akan ada ulangan harian, maka ia akan mengarahkan putra-putrinya untuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan itu. Mengapa demikian? Karena para orangtua menginginkan anak-anaknya mendapatkan nilai yang bagus untuk mata pelajaran yang diulangkan. Padahal belajar dengan arti yang demikian itu tidak semua anak menyukainya. Termasuk sebagian besar para anak didik saya itu.

Ketiga; Tampaknya antara rugi dan untung dalam hal nilai jelek  akibat anak-anak itu tidak memberitahukan pemberitahuan guru saat akan ada ulangan tidak ada signifikansinya. Oleh kaena itu untuk apa mereka harus memperjuang agar mendapatkan nilai bagus?

Keempat; Karena mengulang materi pelajaran yang akan menjadi soal dalam ulangan adalah sesuatu yang tidak menarik dan jauh lebih menarik dari pada bermain game di komputer atau sekedar menonton konser musik di televisi, maka langkah yang paling tepat untuk tetap menikmati hidup adalah dengan  tidak memberitahukan jadwal ulangan harisn yang akan terjadi di sekolah. Karena begitu jadwal ulangan itu diketahui oleh para orangtuanya,maka 'kebebasan' dalam menikmati hidup pada hari itu akan pupus bahkan lenyap.

Itulah asumsi saya terhadap adanya beberapa anak didik saya yang mengaku sering tidak memberitahukan jadwal ulangan harian kepada para orangtuanya di rumah. Sebagai guru, asumsi-asumsi itu menohok saya. Karena bagaimana mungkin anak tidak menyukai mengulang pelajaran di rumah meski itu ia butuhkan untuk mandapatkan nilai yang bagus?

Jakarta, 23 Februari 2012.

Kandidat Ketua Student Council

Hari-hari ini hingga nanti hari Jumat, 24 Februari 2012, anak-anak akan melakukan prosesi pemilihan ketua OSIS, kalau di sekolah kami disebut sebagai Student Council, baru. Ya, layaknya sebagai pemilihan ketua, anak-anak itu yang terdiri dari enam kandidat atau calon ketua, maing-masing berikhtiar sekuat tenaga untuk mengambil hati teman-temannya agar mendapat suara terbanyak dan terpilih sebagai ketua. Mereka juga merekrut beberapa orang untuk membantunya dalam pemenangannya.

Dan dari enam kandidat yang ada itu, terdapat kandidat laki-laki satu-satunya. Dan anak itulah yang membuat saya kagum. Masih duduk di kelas empat sekolah dasar. Ekstrakurikuler yang diikutinya adalah Tae Kwon Do. Dan tampak sekali kalau dia menikmati itu. Sebagaimana terlihat kehadiran dan properti yang dimilikinya. Rajin latihan dan lengkap peralatan yang selalu disimpannya di sekolah. 

Apa yang menarik dari kandidat ini? Banyak. Misalnya, setiap pulang sekolah pada pekan lalu, ia selalu berada di plasa SD untuk membuat iklan di kertas karton warna putih dengan spidol dan pensilnya. Ia menuliskan namanya besar di tengah atas kertas karton itu. Kemudian memberikan beberapa keterangan sekaligus bujukan mengapa harus memilih dia.

Dan dari tulisan-tulisan itu antara lain adalah kalimat seperti: sodara... sodari... ayo pilih no 6! Atau; Perubahan akan terjadi di sekolah kita... Atau; Teman-teman semua, semoga kalian dilindungi Allah. Amin.

Iklan  yang dia buat dalam kertas karton itu,  bersama dengan lima kandidat lainnya yang semuanya perempuan, yang dipajang di hall sekolah,  setalah saya 'nikmati' semuanya, kandidat no 6 itu memang beda dari yang ada. Sebagaimana kata-kata atau ungkapan  yang telah saya kutip di alenia di atas, kandidat no 6 itu benar-benar khas.

Tapi apakah kesan saya itu akan menjadikannya ia nantinya yang terpilih sebagai kuta student council di sekolah kami? Allahua'lam. Karena kesan yang saya dapatkan mungkin sekali berbeda dengan kesan yang teman-temannya di sekolah sebagai bekal menentukan kandidat mana yang akan dipilihnya. Tetapi meski nantinya kandidat no 6 itu tidak terpilih pun, saya akan selalu tetap mengagumi anak itu. Mandiri dan ketulusan serta kejujurannya (kepolosannya), itu barangkali yang sulit terhapus dalam benak saya.

Jakarta, 23 Februari 2012.

21 Februari 2012

Otak Paspasan

Dalam cerita saya kali ini, saya masih akan menuliskan antara lain tentang apa yang dirasakan oleh anak-anak peserta didik saya di sekolah. Perasaan yang sangat boleh jadi merupakan perasaan menekan, atau perasaan ketidaknyamanan. Yaitu berkenaan dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami di rumah bersama orangtuanya. Dan tampaknya tidak semua cerita dari anak-anak itu merupakan kebahagiaan atas interaksi mereka dengan orang yang ada di rumah, tetapi juga sebaliknya.

Dan dari tulisan seorang anak yang di pajang atau didisplay di papan display sekolah itu, saya dapatkan cerita ini.

Kegiatan memajang hasil kerja anak tanpa memandang kualitasnya hasil kerja mereka di papan display sekolah merupakan salah satu dari sekian prinsip yang kami miliki. Hal ini untuk mengikis cara pandang yang membeda-bedakan antara salah seorang anak dengan anak yang lain. Karena kami berpandangan bahwa semua anak memiliki positifnya masing-masing. Tnpa terkecuali dalam menghasilkan gagasannya dalam bentuk tulisan yang saya baca itu.

Misalnya saja dalam hal gaya tulisannya. Memang masih ada yang bentuk tulisannya masih sangat sederhana. Atau ada juga tulisannya yang belum memiliki konsistensi ukuran, dimana ada huruf yang berukuran relatif besar dibanding dengan huruf yang lain dalam satu kalimat atau bahkan dalam satu baris, sehingga secara keseluruhannya menjadikan ketidak rapian. Atau juga dalam menggunakan huruf kapital untuk awal kalimat atau nama orang atau nama tempat. Semua kami pajang tidak terkecuali.

Otak Paspasan

Salah satu dari tulisan yang dipajang itu adalah karangan salah satu anak yang bercerita tentang ketidakjujuran. Dimana suatu kali ia tidak mengatakan atau tidak menyampaikan kepada kedua orangtuanya bahwa akan ada satu pekan untuk ulangan harian dari gurunya di sekolah. Hingga hari ketiga ulangan  berlangsung, baru kedua orangtuanya tahu kalau pekan tersebut adalah pekan ulangan dari sesama orangtua. Dan karena itu, ia mengaku berbohong. 

Dia melakukan itu karena memang dia masih ingin menikmati hari-harinya sepulang dari sekolah dengan irama yang sama. Karena jika orangtuanya mengetahui kalau pekan tersebut adalah pekan ulangan, maka keduanya akan meminta dia untuk konsentrasi dengan ulangan tersebut. Dengan memberikan jam belajar yang lebih dari hari-hari biasa ketika tidak ada ulangan. Hingga menonton televisi pun harus dijadwalkan. Ini jga hal yang wajar sebagai orangtua dalam mengingatkan anaknya akan tugas yang harus menjadi prioritasnya.

Alhasil, ketidakjujurannya itu membuat dirinya mendapat kata-kata yang tidak baik baginya. Seperti kata otak paspasan itu. Entah disadari atau tidak, orangtuanya mengatakan itu untuknya ketika mengetahui berapa nilai ulangan harian yang dia peroleh dari mata pelajaran yang diikutinya dengan tanpa memberitahukan kepada orangtuanya tentang jadwal ulangan yang terjadi.

Refleksi Saya

Orangtua ini tega sekali. Begitu komentar salah seorang guru  teman saya. Komentar ini disampaikan begitu dia selesai membaca tulisan yang merupakan salah satu hasil kerja siswa tersebut. Dalam hati saya berpikir relatif sama, bahwa masih ada beberapa orangtua yang memberikan atau menentukan ekspektasi kepada anak-anak mereka sebagai robot. Yaitu dengan cara mengkloningnya. Oleh karena itu manakala ekspektasi itu belum terwujud, keluarlah label-label tertentu dengan tanpa mempertimbangkan tahapan psikologis anaknya jauh dikemudian hari.

Saya juga teringat apa yang telah kami lakukan bersama teman-teman di awal tahun pelajaran lalu untuk memberikan proteksi kepada seluruh komunitas sekolah akan terjadinya bullying. Dan untuk itu, kami bersam menyadarkan diri tentang bully dan uga tahapan proteksinya. Namun dengan salah satu contoh kasus otak paspasan itu, bagaimanakah kami dapat menjangkaunya? Itu masuk dalam ranah yang sensitif.  Tapi akan kami ikhtiarkan bagaimana 'penemuan' ini menjadi 'alat bukti' bagi kami untuk tidak saja mendidik anaknya tepi juga kedua orangtuanya.

Pelajaran lain yang berharga berikutnya selain dua hal tersebut diatas, khususnya bagi saya adalah sebagai pelajaran berharga agar saya mampu melihat dengan jernih akan kompetensi anak-anak saya sendiri di rumah. Agar peristiwa serupa tidak terjadi. Amin.

Jakarta, 21 Februari 2012.

20 Februari 2012

Kalau Mudah Bisa, Mengapa Harus Bersusah-payah?

Ini adalah fenomena yang sangat menggelisahkan saya dan teman-teman yang berkecimpung di sekolah sebagai pendidik. Betapa tidak? Ada indikasi peningkatan anak-anak kita di sekolah yang mulai pandai untuk memilih jalan perjuangannya secara prakmatis. Kok bisa? Ini saya kira karena selain kecerdasan yang anak miliki juga karena begitu mudahnya informasi itu sampai kepada kita baik yang melalui berita di TV, atau internet, atau bahkan bisik-bisik.

Kisah atau berita tentang bagaimana seorang pegawai dapat memiliki kendaraan super mewah, rumah yang luar biasa megah, dan tentunya penampilah yang selalu mahal, itu terus menerus berlangsung sejak yang bersangkutan dilakukan penyidikan hingga putusan pengadilan yang memakan waktu berbulan dan di cover dalam berita apap dan mana pun? Juga bagaimana kisah setipe yang lainnya yang juga tidak kalah dahsyatnya? Dan itu semua ditambahkan dengan lingkungan terdekatnya yang memang memberikan indikasi dukungan, baik  dukungan dalam bentuk materiil dan immateriil? Semua itu telah memberikan semacam panduan hidup bagi generasi muda kita sekarang ini. Hidup model seperti apa? Ya hidup yang berujung kepada enak (baca: mewah) dengan kerja yang rileks (baca: instan). Dan itu benar-benar telah menjadi kenyataan di masyarakat kita.

Lalu, apa implikasinya dengan apa yang ada di dalam kelas kita? Setidaknya ini yang saya alami. Yaitu minimnya daya juang atau motivasi pada sebagian anak untuk memperoleh sesuatu yang sangat mungkin dia dapat dengan batasan yang optimal. Karena semua kerja dan tugas sekolah yang mereka harus jalani hanya diukur dengan hasil yang penting cukup. Cukup sebagai syarat untuk dapat lulus atau untuk dapat naik kelas. 

***
Saya sebut saya salah satu anak saya itu dengan panggilan Tat. Dimana kalau melihat potensi akademis atau non akademisnya, Tat layak untuk mendapatkan hasil belajar yang jauh lebih baik dari apa yang ia dapat persembahkan untuk masa depannya. Misalnya saja dalam akademik, ia tergolong anak yang sesungguhnya layak mendapatkan hasil belajar 9. Namun karena tidak atau kurang memiliki daya juang, maka nilai akademiknya berkisaran 7 atau 8, atau kadang bahkan hanya memperoleh angka 6. Benar bahwa angka-angka itu bukan jaminn menjadi berhasil. Tapi bagaimana jika angka itu memberikan isyarat kepada kita bahwa ia tidak melakukan usaha maksimal atas potensi yang dapat melejitkannya?

Juga dalam bermain futsal atau pada cabang olah raga yang lainnya. Ia tergolong anak yang pintar  di tengah lapangan. Hampir semua temannya memintanya masuk dalam timnya ketika akan bermain futsal di lapangan sekolah. Ia juga tidak memiliki kesulitan dalam bergaul sesama temannya. Pendek kata, Tat anak tipe anak ideal. Tapi ada juga yang menjadi gangguan ia dengan prestasinya selama ini, yaitu kestabilannya untuk tetap dalam vobrasi positif.

Suatu saat saya bertemu dengan orangtuanya, terutama ayahnya. Dan ketika bicang-bincag, ayahnya berkata: Biar Pak anak saya tidak hidup susah, karena saya dulu telah megalaminya. Sekarang anak saya jangan lagi.

Saya berpikir, mungkin sekali ayah Tat tidak menyadari betapa bahayanya pernyataan atau bahkan mungkin prinsip yang disampaikan dan dipegangnya itu. Ayahnya mungkin tidak sdar bahwa keberhasilannya sekarang ini berawal dari 'tantangan' hidup yang dia sebut sebagai hidup susah itu? Maka tidaklah salah kalau pada akhirnya nanti Tat akan memiliki prinsip hidup: Kalau hidup mudah saja bisa, mengapa harus hidup bersusah-payah?

Dan tampaknya, prinsip seperti itu sudah mulai Tat praktekkan. Seperti indikasi ini: ia hampir selalu tidak masuk sekolah dengan alasan sakit atau pusing tepat ketika ayahnya sedang dinas keluar kota. Atau, tugas sekolah amat sering ia kerjakan pada detik-detik akhir ketika guru benar-benar hampir bosan mengingatkannya untuk mengumpulkan. Atau sering sekai bahwa ia datang ke sekolah dengan tanpa membawa alat sekolah secuilpun. Atau, tiba-tiba ia hilang saat pendalaman materi persiapan UN akan dimulai di kelas. Atau bentuk perilaku lainnya yang senada dengan misal yang sudah sampaikan di atas.

Lalu, apakah Tat yang kurang? Menurut saya justru ia anak yang cerdas dan pintar. Dan dengan potensi  yang dia miliki itulah, ia telah mampu 'memilih jalan' prakmatisme untuk menjadi sukses. Bagaimana menurut Anda?

Jakarta, 20 Februari 2012.

Saya Ingin, Papa dan Mama Bersama Lagi...

Saya hanya ingin papa dan mamaku bersama lagi. Dan aku akan punya adik baru. Begitu kira-kira yang ditulis peserta didik saya saat saya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya mengajarkan kepada mereka untuk menuliskan apa yang menjadi keinginan mereka untuk tahun baru nanti. Ya, karena peristitiwa pelajaran Bahasa Indonesia itu berlangsung pada akhir tahun. 

Di awal pelajaran, saya mengajak siswa untuk melihat bagaimana orang lain membuat mimpi untuk tahun baru di setiap akhir tahun. Itu saya lakukan dengan cara membacakan kepada mereka. Lalu pelajaran berlanjut dengan mereka menuliskan apa yang menjadi mimpi mereka. Untuk tidak monoton anak belajar di dalam kelas, saya mengajak mereka untuk duduk berderet di tangga sekolah. Setiap anak saya minta untuk duduk di setiap anak tangga yang ada supaya posisi duduknya tidak mengganggu lalu lalang orang yang lewat.

Masing-masing duduk dengan memegang peralatan menulisnya masing-masing. Yaitu buku dan pensil atau ball point. Mereka pun khusuk memulai merangkai kata dan kalimat. Beberapa anak saya lihat telah mulai menemukan apa yang harus mereka tulis. Sedang beberapa yang lain masih terlihat kebingungan ingin menuliskan apa? Dalam situasi demikian, sya meminta semua untuk stop menulis dahulu pda kira-kira menit ke 15. Lalu saya meminta tolong kepada salah satu yang berhasil menulis satu atau dua paragraf, untuk share kepada teman yang lainnya dengan cara membacakan apa yang berhasil mereka tulis. Cara ini saya gunakan agar semua anak yang ada di kelas saya dapat menulis apa yang bisa mereka tulis.

Seorang anak menuliskan tentang keinginannya untuk mendapatkan hadiah game dari ayahnya di saat tahun baru nanti. Ketika saya bertanya megapa game yang dia minta, dia mengaku bahwa game yang ada, yang dibelikan oleh orangtuanya sebelumnya, telah ia hafal jalan cerita dan tantangan-tantangannya. Oleh karena itu is sudah meraskan tidak ada lagi yang sulit.

Sedang anak yang lain menuliskan tentang keinginannya untuk pergi ke luar negeri. Juga ada yang menginginkan telpon selular model baru di tahun baru nanti dari orangtua atau dari kakeknya. Luar biasa. Pikir saya. Betapa anak-anak ini hanya berpikir sesuatu yang menyangkut tentang keinginannya hanya pada ranah hiburan. Hampir tidak ada anak yang menuliskan sesuatu yang diluar duniawi itu.

***

Setelah beberapa anak saya berikan kesempatan untuk sharing ceritanya dengan cara membacakannya, saya meminta mereka melanjutkan menulis. Mereka terlihat tekun kembali. Mereka menulis tetap di tangga sekolah. Sementara saya berada di salah satu anak tangga dekat mereka. Beberapa anak yang tadi kesulitan untuk memulai menulis, sekarang tampak tergambar ide yang harus mereka tulis setelah mendengar bagaimana temannya menuliskankan keinginannya. Suasana anak-anak saya, fokus dalam pekerjaan mereka masing-masing.

Waktu sudah berjalan hapir 50 menit. Ini berarti saya hanya mempunyai kesempatan beberapa menit lagi sebelum mata pelajaran saya habis dan berganti dengan mata pelajaran yang berikutnya. Untuk itu saya kembali megingatkan kepada anak-anak tentang waktu yang tinggal sekian menit itu. Dan persis ketika saya selesai mengingatkan mereka, seorang anak mengangkat tangan dan minta izin untuk dapat membacakan cerita dan keinginannya di tahun depan. Dia menulis: Saya hanya ingin papa dan mamaku bersama lagi. Dan aku akan punya adik baru...

Saya diam, juga teman-temannya semua diam. Saya teringat dengan cerita pendek yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Pelajaran Mengarang, yang terbit di harian Kompas Minggu puluhan tahun silam, yang mengisahkan kisah serupa atau  mirip dengan apa yang ditulis anak itu.

Saya bersyukur bahwa ketika anak itu selesai mebacakan keinginannya, tidak ada seorang temanya pun yang berkomentar atau memberikan komentar. Dan saya juga bersyukur  bahwa hari itu saya mendapatkan anugerah kisah yang menyayat hati seorang anak sekolah. Mudah-mudahan itu menjadi bekal untuk hidup saya.

Jakarta, 15-20  Februari 2012.

17 Februari 2012

Dari Cerita Pendek, Guru Tahu Kisah Nyata Anak

Sebagai guru, kami ikut terharu menyaksikan drama pengakuan anak dalam bentuk cerita pendek. Sebuah kisah tentang kenestapaan generasi muda akan perilaku manupulatif yang dipertontonkan kedua orangtuanya kepadanya. Dan manipulasi itu terbongkar dengan ketidaksengajaan olehnya sendiri. Cerita yang melukiskan kehancuran rasa percaya dirinya dihadapan teman-teman sepergaulannya.

Guru anak tersebut menyampaikan kepada saya untuk sekedar bahan pemikiran betapa anak-anak kami di kelas, sebagiannya adalah anak-anak yang datang ke sekolah tidak hanya sekedar menuntut ilmu atau kepandaian, baik kepintaran kognitif saja tetapi semoga kami mampu meberikan kecerdasan afeksi dan tindakan, namun mereka datang ke sekolah juga membutuhkan kasih dan sayang. Dua hal yang pasti tidak pernah akan mereka ungkapkan atau bahkan mungkin tidak terungkapkan.

Tugas Membuat Cerita Pendek

Cerita itu berawal ketika guru harus memberikan tugas kepada semua siswa untuk membuat cerita pendek sebagai akhir dari semester ganjil. Cerita yang harus dikumpulkan minimal dalam 2 halaman A4. Yang dapat ditulis dengan komputer atau tulisan tangan. Dan harus terkumpul paling lambat satu pekan sebelum ujian semester berlangsung.

Guru akan membuat ringkasan dari seluruh cerita yang masuk, dimana ringkasan itu akan menjadi pembuka bagi seluruh cerita pendek dalam bentuk kumpulan cerita pendek yang di jilid menyerupai buku. Usaha guru untuk membuat ringkasan itu mengharuskan guru membaca seluruh cerita dan sekaligus membuatkan catatan-catatan atas cerita yang dibuat anak. Karena guru itu adalah penikmat cerita, maka membaca seluruh karya siswa tanpa kecuali itu menjadi bagian yang manikmatkan.

Dan dari seluruh cerita yang ada tersebut, guru akhirnya sepakat untuk memilih cerita pendek yang berkisah tentang seorang anak yang menemukan surat cerai ayah ibunya pada tumpukan dokumen yang akan ia cari. Dimana sang anak sedang mencari dokumen yang berupa akte kelahiran.

Dimana penemuan akte cerai itu justru menjadi jawaban paripurna sang anak atas kejanggalannya selama ini. Kejanggalan dan juga sekaligus pertanyaannya tentang hubungan yang 'anah' antara ayah dan ibunya, yang sayangnya tidak ada jawaban yang jelas, tegas, dan jujur dari keduanya, manakala ia mencoba bertanya kepada keduanya.

Guru baru menyadari bahwa kalau cerita yang ditulis anak itu merupakan kisah nyata yang dialaminya sendiri ketika guru memanggil si penulisnya untuk memberikan dorongan atas keberhasilannya membuat cerita yang runtut alurnya, dinamis ritme ceritanya, dan dahsyat klimaknya. Dan sang anak, dengan datar menutup 'diskusi' cerita pendek itu dengan menyatakan: Pak Guru, mungkin karena itu adalah kisah nyata saya...

Jakarta, 14-17  Februari 2012.

Tulisan Sambung atau Cetak Pak?

Pakai tulisan huruf sambung atau huruf cetak Pak? Ini adalah pernyataan beberapa peserta didik saya di kelas ketika saya meminta mereka untuk menulis. Seperti tugas yang saya berikan siang itu. Dimana setelah kami semua pergi ke halaman sekolah dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang dalam kelompoknya, dan saya memintanya untuk memetikan satu bunga sepatu di taman yang akan layu, untuk kemudian masing-masing peserta didik bergantian dalam kelompoknya 'membedah' bunga itu, serta saya berikan penjelasan secukupnya tentang bagian-bagian bunga, saya meminta mereka untuk membuatkan laporan tertulis berkenaan dengan kegiatan tersebut.

Mengapa mereka bertanya dan meminta konfirmasi mengenai jenis huruf yang harus digunakan kala membuat laporan kegiatan? Saya mempunyai beberapa dugaan untuk kenyataan ini. Pertama, adalah dugaan saya bahwa mereka pasti tidak terbiasa dengan salah satu jenis tulisan yang diinginkan guru?  Analisa pemikiran saya atas dugaan saya yang pertama ini adalah, agar anak-anak dapat mendapatkan tugas dengan menggunakan tulisan yang membuatnya entang. Mengapa? Karena kalau guru memberikan kebebasan huruf yang harus digunakn kepada mereka, bukankah mereka akan menggunakan huruf yang paling mereka siap? Dan biasanya, di kelas SD, anak akan lebih jago menulis dengan tulisan huruf cetk di bandingkan dengan huruf bersambung. Dan anak-anak akan memilih membuat laporan kegiatan itu dengan menggunakan huruf cetak?

Kedua, bisa pula bahwa pertanyaan itu adalah jenis pertanyaan yang menyiratkan betapa takutnya anak kepada ekspektasi gurunya? Atas dugaan ini saya berpikir bahwa, sangat mungkin anak-anak itu takut sekai jika apa yang dilakukannya tidak mendapat apresiasi dari gurunya. Oleh karenanya, sebelum ia melakukan sesuatu, mereka akan konfirmasi terlabih dahulu. Benarkan huruf sambung atau huruf cetak yang harus mereka pilih dalm pembuatan laporan yang diterima degan bai oleh guru?

Dugaan ini akhirnya membuat saya mefleksikan diri saat akan meminta kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar. Dan sebelum aktivitas belajar itu saya mulai, di depan saya akan memberikan ekspektasi sejelas mungkin apa yang kami inginkan. Dengan demikian, saya juga melihat kalau anak justru akan bekerja lebih baik dan lebih keras guna memenuhi ekspektasi gurunya.

Ketiga, adalah dugaan saya bahwa anak-anak itu memiliki ketidakpercayaan diri. Mengapa? Karena untuk membuat laporan kegiatan dalam bentuk tertulis pun, mereka harus meminta konfirmasi ketegasan?

Namun apapun dugaan saya yang benar, saya pada akhirnya harus mempertimbangkan  bahwa ketika kita meminta kepada anak-anak di kelas, harus benar-benar jelas, terukur, dan tentunya dapat dipahami, serta memang seukuran dengan usia mereka. Semoga ini menjadi panduan bagi saya pada tahapan berikutnya. Semoga. Amin.

Jakarta, 15-17  Februari 2012.

Bisa Tolong Bukain Pak?

Pak, bisa minta tolong bukain tutupnya? Ini permohonan salah satu siswa atau peserta didik saya saat mengiuti ekskul futsal, karena dia merasa kesulitan untuk membuka tutup botol minumnya. Saya sudah berusaha untuk membuka sendiri setelah memberikan tips tentang bagaimana membukanya. Namun karena belum juga berhasil, saya akhirnya memenuhi permohonannya. Dan setelah beberapa kali saya mencobanya, tutup botol itu terbuka juga.

Anak itu memang sedikit berbeda. Baik dalam bentuk fisiknya atau juga dalam hal perilakunya. Fisiknya berbeda karena sangat jelas tampak bahwa ia memiliki ras asing pada dirinya. Parasnya menjadi lebih good looking dibanding dengan teman sebayanya. Juga kulitnya yang putih coklat muda. Mungkin karena salah satu orangtuanya yang memang berasal dari negeri barat. Tetapi yang lebih menarik dari dia di mata saya adalah karena ia sering mengeluh kepada saya hanya karena tidak memiliki teman yang mau mengajaknya masuk dalam tim futsalnya.

Suatu hari, di depan pengawasan saya, teman-temannya sibut bergabung atau diajak bergabung atau menggabungkan diri ke dalam tim-tim futsal yang ada atas perintah guru futsal. Dan si anak itu masih menawarkan diri agar dapat masuk tim namun belum juga berhasil. Malah ketika ada satu tim yang telah berhasil menerima dia, datang anak lain yang belum dapat tim, dan anehnya tim itu lebih memilih anak yang datang belakangan dari pada dia. Alhasil, dia harus datang ke guru pembimbing futsal untuk dapat masuk tim. 

Kenyataan-kenyataan yang saya temukan tentang anak itu kemudian saya coba konfirmasikan kepada guru di kelas dan juga kepada teman-temannya. Mengapa mereka berlaku seperti itu terhadap anak itu? Dan saya tercengang ketika  salah seorang dari temannya memberikan penjelasan kepada saya bahwa mereka tidak mau banyak bermain dengan anak itu karena anak itu nakal.

Apa Pengertian 'Nakal' bagi Mereka?

Sederhana sekali pengertiannya. Yaitu mau menangnya sendiri. Egois. Tidak mau tahu dengan giliran orang lain. Jadilah ia tidak banyak yang mau menerima sebagai bagian. Contohnya seperti dalam tim futsal yang dibentk guru di lapangan itu. 

Dan memang, ketika waktu istirahat atau waktu sesudah pulang sekolah, saya sedikit melihat perilaku tidak  yang ia peragakan. Seperti tidak mau segera pulang meski pembantunya sudah menunggu lama di gerbang sekolah. Juga ketika guru memintanya untuk kembali ke kelas saat pelajaran olah raga, ia jarang sekali mau cepat merespon. Dan mungkin inilah sumber kesulitan dia untuk mudah ikut terlibat dalam bermain  bersama teman-temannya. Karena temannya tidak menyukai orang yang sulit menaati peraturan.

Lalu apa usaha guru? Ini juga yang menjadi kesulitan berikutnya. Karena dalam setiap pertemuan yang bermaksud menghadirkan kedua orangtuanya, selalu diwakili oleh kerabatnya saja. Setelah lama waktu berjalan, akhirnya guru faham bahwa apa yang anak itu tampilkan adalah perilaku yang masih tergolong baik. Ini mengingat ia tumbuh tanpa pendampingan kasih dan sayang dari orang yang seharusnya mengasihi dan menyayanginya. Ia selama ini tumbuh hanya dari materi yang disuplai dari kedua orangtuanya. Dan materi, tentu berbeda dengan apa yang saya sebutkan sebagai kasih dan sayang.

Maka dari anak yang meminta tolong membukakan tutup botol minum itu, saya belajar lagi tetang makna pepatah, bahwa buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya...

Jakarta, 15-17 Februari 2012.

14 Februari 2012

Menjadi Ketua Geng

Kalau di media  sekarang ini ada peristiwa bully yang diabadikan dalam film seluler, karena direkam dengan alat komunikasi seluler maka supaya mudah saya sebut saja sebagai film seluler, yang mirip dengan apa yang pernah  terjadi beberapa waktu lalu dengan nama gengnya Geng Nero, maka di sekolah saya ada sebuah peristiwa yang mirip itu. Tapi tampaknya ini adalah murni imitasi dan sekaligus coba-coba atau ekperimentasi. Dan justru peristiwa yang saya alami ini telah berlangsung enam tahun lalu. Ingatan itu muncul kembali ketika sore ini saya bertemu dengan si anak yang pernah menjadi ketua geng tersebut. Dan pertemuan itu mengingatkan saya akan peristiwa lampau.

Adalah masih seperti dulu anak itu. Ceplas-ceplos dan apa adanya. Menyenangkan berbicara dengan tipe anak seperti itu. Meski percakapan kami tidak begitu intens. Mengingat saya dan dia dalam posisi sama-sama sedang menonton ekstra kurikuler futsal di lapangan sekolah. Saya sedang menemani siswa, sedang dia sedang menunggu jemputan yang belum juga datang hingga jarum jam menunjuk angka 16.05.

Peristiwa itu berawal manakala saya yang kebetulan berada di ruangan yang lebih dekat dengan kelas mereka di banding dengan ruangan kepala sekolah. Oleh karenanya ketika anak-anak lain memberikan laporan, maka mereka lebih dekat datang ke ruangan saya. Bahwa diantara mereka memiliki kelompok-kelompok atau klik-klik atau geng. Dan kabarnya, menurut laporan itu, ada beberapa geng. 

Terpikir bagaimana bentuk geng untuk siswa kelas satu SD? Mana saya mencoba berkoordinasi dengan guru dan kepala sekolah untuk sama-sama ngajak ngobrol anak-anak itu. Dan dari informasi yang kami peroleh, banyak cerita lucu tentang bagaimana bentuk operasional dari geng-geng yang ada itu. Tapi tidak sekedar lucu, justru apa yang mereka lakukan itu memberikan keyakinan kepada kami bahwa, mereka  analah anak-anak dengan potensi yang luar biasa hebat.

Sesuai dengan kesepakatan, maka pada keesokan harinya kami akan adakan diskusi panel yang terdiri dari anak-anak geng, guru kelas, kepala sekolah, orangtua anak, dan saya sendiri sebagai moderator.  Diskusi kami selenggarakan di ruang yang sedikit besar, di perpustakaan. Dalam pertemuan itu, kepala sekolah menjelaskan tujuan pertemuan. Juga diingatkan kepada orangtua yang hadir untuk ikut mendengarkan. Kemudian saya meminta kepada anak-ana itu untuk bercerita seputar geng yang mereka bentuk dan aktivitasnya masing-masing secara bergantian. Dan tanpa dinyana, salah seorang yang hari ini ngobrol dengan saya itu bercerita bahwa, dia adalah ketua geng yang beranggotakan 3 orang anak. Jadi masih ada yang menjadi wakil dan pengawal.  Dan ketika saya bertanya tentang apa tugas dari masing-masing anak dalam geng, dikatakannya bahwa sebagai ketua geng, ia akan mendapat pengawalan dari pengawal geng dan juga didampingi oleh wakil. Kapan? Ketika geng itu akan ke kantin sekolah. Juga menjadi tugas pengawal untuk melakukan transaksi jual-beli di kantin tersebut.

Diskusi panel itu, tak ayal membuat para orangtua anak yang hadir kaget. Diantara mereka tidak menyangka sama sekali kalau anaknya punya 'keterampilan' seperti itu. Termasuk juga saya sendiri yang menjadi moderator diskusi panel itu. 

Tapi kami sangat bangga dengan anak-anak itu. Bangga terhadap kepintarannya, keluguannya, ketulusannya, dan egaliternya yang pasti belum mereka sadari. Pertemuan itu akhirnya kami tutup dengan pernyataan saya yang terakhir. Saya katakan bahwa tidak ada lagi geng di sekolah ini. Juga tidak ada lagi yang ketua, wakil, atau pengawal. Karena yang berhak menjadi ketua adalah saya. 

Jakarta, 14 Februari 2012.

12 Februari 2012

Ketika Alumni Cerita Tentang Bully

Satu tahun pelajaran hampir tuntas pada saat saya menerima cerita ini dan menuliskannya dalam artikel hari ini. Namun masih ada kejadian yang menimpa mantan peserta didik saya yang sekarang melanjutkan ke sekolah lanjutan. Dan sebagaimana anak yang lain, maka pada saat memungkinkan, para alumni itu datang dari berbagai sekolah untuk sekedar melepas kangen sesama mereka dan dengan kami di sekolah. Dan lahirlah berbagai cerita tentang perjalanan sekolahnya selama ini. 

Dan sembari mereka saling berbagi cerita dan kisah, kami membagikan kepada mereka survey alumni. Yaitu survey yang berisi tentang tanggapan mereka terhadap kami sebagai lembaga atau kami sebagai yang pernah menjadi pendidiknya di kelas dahulu. Pasti akan menarik melihat tanggapannya itu karena sekarang posisi mereka bukan lagi sebagai peserta didik kami lagi. Dan justru karena itulah maka mereka akan memiliki cara pandang dan tanggapan yang pasti telah ada komparasinya. Dan karenanya, disitulah letak daya tarik yang ingin kami ketahui.

Diantara mengisi survey yang kami beri itu, mereka saling melontarkan cerita dan bahkan keluh kesah. Seperti  beberapa kali mereka harus mengerjakan tugas di kelas dari guru mata pelajaran, karena guru tersebut segera meninggalkan mereka begitu tugas yang harus diselesaikan telah  Pak guru  sampaikan.

Juga tidak mudahnya mereka dapat bercengkerama dengan guru, baik diantara guru mengajar atau bahkan sebelum masuk kelas di pagi hari, waktu istirahat, atau bahkan saat pulang sekolah. Mereka melihat guru selalu sibuk  sehingga sulit memberikan waktunya untuk sekedar berhenti di lorong sekolah dan mengobrol dengan mereka. Dan mereka merasa kehilamgan itu.

Bahkan mereka harus didiamkan ketika suatu kalau ada diantara mereka yang  menjadi korban bully yang dilakukan oleh kakak kelasnya. Guru hanya menyarankan agar ketika memberikan laporan lengkap dengan memberikan nama dan kelas pelaku bully. Sebuah syarat yang  pada akhirnya harus memendam sakit hatinya kepada kakak kelas karena masalah yang tidak terselesaikan meski ia telah melaporkan kejadiannya kepada guru?

Atau cerita lainnya yang benar-benar dapat kami jadikan cermin untuk memacu kami sebagai guru dan pendidik  yang lebih baik lagi. Guru yang pantas mendapatkan penghargaan dari para peserta didiknya karena keteladanan dan kompetensinya. Guru yang akan dikenang oleh peserta didiknya di hari berikut dengan kenangan yang baik. Dan bukan guru yang mereka ceritakan kepada kami sebagaimana sudah saya sebutkan diatas.

Selain sebagai cermin, cerita para alumni itu juga menjadikan keyakinan kepada kami bahwa, kualitas sebuah lembaga pendidikan formal seperti sekolah, sangat ditentukan tidak saja oleh kuantitas siswa dalam kelasnya, atau fasilitas sekolahnya yang lengkap, tetapi juga oleh guru. Dan itulah kami. Semoga kesadaran akan hal yang baik ini terus menjadi visi dalam ikhtiar kami hari ini dan hari-hari ke depan. Amin.

Jakarta, 12 Februari 2012.

Bahkan untuk Menjawabpun, Anak itu Perlu Konfirmasi

Ini adalah cerita tentang perilaku peserta didik , atau tepatnya calon peserta didik, ketika diobservasi guru pada saat penerimaan peserta didik baru di sekolah. Dan cerita ini saya dapatkan ketika kami sedang berbincang tentang bagaimana menjaring peserta didik baru di sekolah swasta seperti kami, dapat dengan baik mampu mengukur apa yang memang patut dan pas untuk menjadi ukuran. Dan salah satu dari kesimpulannya adalah observasi calon peserta didik ketika si calon peserta didik itu 'bergabung' dengan kelas normal. Dan ini telah berlaku di sekolah dimana teman saya selama ini mengabdikan dirinya sebagai bagian dari pendidik di sekolah tersebut.

Apakah ini cara satu-satunya untuk menentukan bahwa calon peserta didik  tersebut diterima atau tidak? Saya yakin bukan. Karena masih banyak sekali cara. Dan jika keterbatasan tempat duduk, dan keyakinan kita bahwa semua peserta didik  pintar,  serta waktu penerimaan peserta didik baru yang serempak atau kolosal, maka kita membutuhkan sarana untuk membuat keputusan itu menjadi adil buat semua. Maka kami menentukan untuk memilih observasi ketika siswa berada dalam kelas normal bersama peserta didik  lain di kelas yang seusianya. Maka cerita ini lahir.

Ada pula sekolah yang membuka pendaftaran untuk peserta didiknya sepanjang tahun berjalan. Cara ini sebenarnya jauh lebih enak dan sekaligus menghemat. Karena siapa saja yang datang terlebih dahulu, sepanjang  kuota tempat duduk di kelas ada, maka calon peserta didik akan mengikuti proses observasi untuk kemudian ditentukan masuk. Dan siapa yang datang belakang dan ternyata tempat duduk kosong sudah habis, maka ia akan masuk dalam daftar tunggu. Bila sewaktu-waktu ada peserta didik di kelas yang mengundurkan diri karena suatu sebab, biasanya mengikuti orangtua yang mutasi kerja, maka peserta didik yang ada di daftar tunggu akan dipanggil untuk dilakukan seleksi atau observasi. Namun ini hanya berlaku di sekolah-sekolah dengan kapasistas tempat duduk yang terbatas dan atau dibatasi. Biasanya setiap kelasnya berisi 25 tempat duduk untuk peserta didik.

Perlu Konfirmasi untuk Memutuskan

Dari semua anekdot yang saya dapatkan dari ruang kelas itu, salah satu yang saya tulis dalam artikel ini adalah peserta didik yang selalu memandang observer manakala ia akan memberikan jawaban pada work sheet yang diberikan. Dan perilaku ini hampir selalu terjadi pada waktu si calon peserta didik itu akan memberikan jawabannya. Alhasil, observer menjadikan temuannya itu menjadi catatan khusus terhadap hasil observasinya. Dan pada ujungnya, catatan itu menjadi bahasan menarik ketika panitia mencocokkan dengan hasil wawancara panitia yang lain terhadap kedua orangtuanya. Dua data itu cukup memberikan gambaran bahwa pola asuh calon peserta didik yang didapatkan di rumah sungguh berpengaruh besar kepada ketidakpercayaan diri yang ditampilkan kepada calon peserta didik tersebut.

Di luar bahwa kami adalah para panitia dalam penerimaan peserta didik baru, kenyataan itu benar-benar menjadi bahan dan sumber belajar kami. Tentag bagaimana seorang anak yang nyaris kehilangan atau mungkin tidak tumbuh rasa percaya dirinya. Bahkan hanya untuk mengerjakan sesuatu yang harus ia kerjakan secara mandiri. Apa sesungguhnya yang terjadi di balik kenyataan itu?

Kami meraba, bahwa sangat boleh jadi anak tersebut tumbuh dalam situasi tuntutan. Dan ketika si anak memiliki rasa sensitifitas yang baik, maka tuntutan lingkungan tersebut menjadi hambatan yang luar biasa besar baginya meski itu hanya untuk melangkah ke depan. Tapi mungkin pula apa yang kami raba adalah salah. Namun setidaknya, sangat tidak layak bagi kita yang dewasa memberikan permintaan yang pada akhirnya menjadi bendungan dan hambatan bagi sebuah tumbuhnya karakter fitrah pada jiwa yang masih belia.

Semoga itu tidak terjadi pada kami, dan juga Anda. Amin.

Jakarta, 10-12 Februari 2012.

09 Februari 2012

Nah, Ketangkep kan?

Nah... bener, ketangkep kan... kata seorang siswa saya kepada temannya yang ada di kelas yang dimaktikan seluruh lampu kelas yang ada. Kalimat itu ia katakan persis pada saat saya membuka pintu kelas dan memergoki keduanya sedang ngumpet, menghindarkan diri dari ikut shalat berjamaah (lagi!). Mereka berdua saya temukan di bagian  belakang kelas. Siswa saya yang berkata itu, saat saya membuka pintu kelas, dalam posisi tiduran di lantai. Sedang yang satunya, sedang duduk tidak jauh dari temannya, dengan menyandarkan badannya yang sehat ke dinding belakang kelas.

Mereka berdua, untuk kali ketiga saya tangkap, atau kata yang pas mungkin saya pergoki,  ketika mereka tidak mengikuti shalat dzuhur berjamaah.Oleh karena itu kalimat yangkeluar dari salah satu mereka adalah; Nah... bener, ketangkep kan...

Dan dari kalimat yang pertama keluar begitu saya yang membuka pintu kelasnya, kelihatan sekali bahwa mereka sesungguhnya sudah memiliki perasaan was-was kalau akan ketahuan akan aksinya. Dan benar juga, aksi jelek mereka saya temukan. Keberadaan saya untuk memergoki aksinya itu berawal manakala ketika dalam barisan shalat saya tidak menemukan sosok keduanya. Itu mungkin saya lakukan karena romobongan shalat mereka ada pada rombongan terakhir. Dan saya pada saat itu sedang dalam posisi mendampingi. Jadi ketika tidak tampak kedua siswa saya itu dalam barisan shalat, saya langsung menuju tempat yang paling memungkinkan bagi keduanya untuk bersembunyi.


Saya tidak marah ketika menemukan keduanya. Mereka saya ajak ke mushala untuk kemudian meminta mereka menjalankan shalat sesudah seluruh temannya selesai. Seorang guru menemani mereka menjalankan shalat.

Males Shalat...

Jadi memang mereka tidak berniat untuk mengikuti atau mengerjakan shalat secara berjamaah bersama seluruh temannya saat itu. Tentu dengan alasan yang berbeda-beda. Kali pertama dari salah satu orang yang kepergok itu beralasan males shalat dan lagi ngak mood. Alasannya itu sungguh menjadi pengalaman dahsyat bagi saya. Mosok anak seusia 15 tahun begitu polosnya mengaku ngak mood melaksanakan shalat? Dan ketika saya ajak diskusi serta jelaskan bahwa shalat menjadi kewajiban bagi kita setelah balig, dia bertambah tidak paham.

Dan terhadap anak itu juga untuk kali ketiga saya pergoki mengaku sedang tidak shalat karena beberapa waktu sebelumnya ia mengonsumsi minuman haram yang tersedia di lemari pendingin di rumahnya. Dia mengaku bahwa minuman sejenis itu ia konsumsi bersama anggota keluarga lainnya, sudah menjadi bagian dari kebiasaan untuk kondisi tertentu. Dan  karena telah minum itulah maka ia tidak shalat. Bukankah shalatnya tidak akan diterima? Jelasnya.

Pada kala itu, saya pun tidak mengungkapkan kemarahan. Saya hanya katakan bahwa, tidak diwajibkanuntuk menjalankan shalat jika kita dalam dua kondisi. Yang pertama yaitu dalam kondisi kita gila. Yang kedua kita sudah menjadi mayat. Jadi dalam kondisi yang mana kamu sekarang ini? Tanya saya.

Ketika sampai di ruang guru, saya sampaikan cerita ini kepada mereka. Dan kami semua termenung dengan kenyataan yang ada. Tetapi kamu selalu menyadari bahwa inilah generasi yang menjadi amanah kami. Apapun kondisinya, itulah realitas yang harus kami hadapi. Maka kepada Allah sajalah kami bermohon; agar diberikan kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan amanah sebagai pendidik. Dan semoga peserta didik kami selalu diberikan hidayah Allah SWT. Amin.

Jakarta, 7-9  Februari 2012.

07 Februari 2012

Peserta Didik yang Ngoprek Komputer Saya

Siang itu, menunggu giliran shalat berjamaah gelombang kedua, datang ke ruangan saya seorang siswa cerdas saya, yang mengingatkan saya kepada sosok Kharisma, siswa Pak Ciptono yang luar biasa di SLB Negeri Semarang. Itu saya tonton dalam siaran ulang Kick Andy di Metro TV pada Minggu tanggal 5 Februari 2012 sore. Sosok yang membuat saya dan keluarga kagum luar biasa akan kecerdasannya. Yang mampu menghafal lebih dari 650 syair lagu. Juga yang mampu 'menggantikan' Pak Ciptono untuk memberikan ceramah atau pelatihan kepada forum guru dengan tema 11 Penyakit Guru.

Siswa cerdas saya ini juga pandai mengotak-atik (ngoprek) komputer yang ada di ruangan kerja.Seperti siang itu. Ia memisahkan diri dengan rombongan temannya yang telah masuk mushola, dan berbelok ke ruangan saya. Di mushala terdengar suara teman-temannya sedang mengumandangkan shalawat Nabi untuk kemudian dengan bimbingan guru melafalkan ayat-ayat dari surat pendek Al Quran. Sementara Kharisma saya, asyik berbicara tentang blog yang dia buat dan memperagakan kepiawaiannya dalam meng-up date blognya.

Saya menarik kursi kerja saya sedikit kebelakang sambil tetap memperhatikan bagaimana siswa cerdas saya itu beraksi dengan mouse sambil berdiri menempel meja komputer. Diam-diam, saya menggeleng kepala dengan penuh kagum. Luar biasa.

Di bukanya blog yang menjadi kebanggaannya itu di hadapan saya. Lalu mengkopi alamat blog saya untuk kemudian memasukkan kopian itu dalam link yang telah dia sediakan di halaman blognya. Dan itu dia lakukan dengan kecepatan yang menampilan kemahiran luar biasa. Dia bekerja dalam beberapa tab di layar komputer. Sebuah kemahiran yang lain lagi, pikir saya.

Shalat dengan Paket Kilat

Akrobat itu terpaksa saya hentikan ketika saya mendengar suara komat azan berkumandang. Yang berarti rombongan siswa cerdas saya itu akan segera menunaikan shalatnya. Maka bersama dia, saya meninggalkan ruangan dan bersegera menuju mushala. Saya tertegun ketika mendapatkan siswa cerdas saya itu balik keluar mushala sembari ngambek?

Rupanya rombongan kelas dia  telah mulai melaksanakan shalat. Artinya, ia dan saya masbuk. Tertinggal shalat berjamaah. Meski hanya satu rakaat kami tertinggal, tetapi siswa saya itu ngotot untuk tidak mau menjadi masbuk. Alhasil, setelah rombongan selesai shalat, dan setelah kami berhasil berbicara dengannya, dia bersedia untuk shalat sendiri dan tidak ikut rombongan shalat ketiga yang terdiri dari siswa-siswi SMP. Keberhasilan itu kami tempuh dengan diskusi sedikit alot. Dimana kami harus berkompromi dengannya untuk melaksanakan shalat Dzuhur dengan paket kilat. Artinya, dia tidak akan tertinggal teman-temannya ketika pelajaran terakhir di kelas dimulai.

Itulah pengalaman saya bersama siswa yang jago ngoprek komputer. Dan untuk menghindari sesuatu yang tidak kami inginkan terjadi, saya harus mengunci pintu ruangan saya pada saat saya meninggalkan ruangan.

Jakarta, 6-7 Februari 2012.

06 Februari 2012

Menemukan Sekolah dengan Guru yang Berbudaya AMPUH

Buku Cara AMPUH Merebut Hati Murid Anda yang ditulis oleh Pak Joko Wahyono ini, sungguh memberikan dorongan motivasi bagi saya khususnya, dan pasti untuk semua yang ingin menjadi guru dengan kompetensi yang sungguh-sungguh mumpuni. Tidak saja pada kompetensi akademik, pengetahuan, dan keterampilannya, tetapi juga visi paedagogis  yang menjadi landasannya untuk memperjuangkan harkat dan maratabat mulianya. Sungguh inspiratif. Dan sebagai praktisi di lembaga pendidikan formal, saya mendapatkan banyak hal dari buku ini. Terutama untuk mengevaluasi diri berkenaan dengan tujuan saya menjadi guru secara total lahir dan batin, jiwa dan raga.

Buku yang yang membuat saya kemudian berpikir, bahwa kalau setelah mencapai posisi dimana jiwa dan raga sudah menjadi guru dengan setulus-tulusnya,  lalu berikutnya apa yang sesungguhnya dapat menjadi pembeda antara guru yang satu dengan guru yang lain, atau lebih luas lagi, antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain? Apakah pembeda antara satu guru dengan guru yang lain hanya terletak kepada golongan kepegawaian? Jumlah atau lamanya tahun pengalaman mengajar? Gelar akademis yang diperolehnya di sekolah paling baik di negeri ini? Jam terbang sebagai trainer atau motivator yang dijalaninya selain menjadi pendidik? Atau mungkin surat keputusan sebagai guru yang telah tersertifikasi dan otomatis sudah memperoleh tunjangan sertifikasi?

Bagi saya, guru yang berbudaya AMPUH (A= Asertif dalam bertindak; M= Menghargai murid; P= Pandai membina hubungan baik; U= Usaha optimal; dan H= Hindari kekerasan dan rasa takut), inilah yang menjadi salah satu indikasi utamanya. Guru yang telah berbudaya AMPUH ini tidak lagi memusingkan siapa dirinya atau apa statusnya. Yang terpikir olehnya adalah peserta didiknya yang menjadi subyek bagi pengembangan potensi diri mereka. Ia adalah pelayan bagi peserta didiknya yang sedang merajut mimpi keberhasilan di masa mendatang.

Dan ini bagi sekolah dapat berarti bahwa,  pemberdayaan guru di sekolah harus menjadi bagian serta porsi yang utama. Tidak  hanya sekedar untuk tujuan sertifikasi atau mempertahankan sertefikat tersebut, lebih jauh lagi, untuk membuat guru benar-benar menemukan jatidiri dan martabat mulianya dengan berbudaya AMPUH.

Kualitas Guru dan PPDB

Adakah  hubungan antara kualitas guru yang ada di sebuah sekolah dengan penerimaan peserta didik baru (PPDB) menjelang tahun pelajaran baru dimulai, khususnya di lembaga pendidikan formal swasta? Mengapa berhubungan? Bagaimana hubungan itu dapat terjalin? Catatan saya ini sekaligus mengajak kepada komunitas pendidikan Indonesia untuk juga melihat bagaimana masyarakat umum melihat kualitas sebuah lembaga yang bernama sekolah. Sebuah lembaga dimana para teman-teman guru menunaikan ibadahnya dalam bentuk melakukan interaksi pendidikan. Dimana sekarang ini yang mayoritas  atau pada umumnya masyarakat melihat sekolah berbasis dari kelengkapan fasilitas sebagai satu-satunya pintu masuk bagi pemeringkatan sekolah tersebut dalam tataran istimewa, baik, atau kurang? Untuk itulah mari kita melihat sekolah tidak saja dari fasilitas yang lengkap, tetapi juga dari SDM (baca: guru) yang memiliki totalitas dalam bekerja serta etos kerja yang paripurna.

Karena itu, kembali saya menyampaikan kepada masyarakat umum, atau khususnya kepada calon orangtua peserta didik,  bahwa sekolah kami berbeda karena memiliki guru dengan kualitas yang berbeda jika harus dibandingkan dengan sekolah lain. Dan saya tidak akan menceritakan fasilitas apa saja sehingga sekolah kami menjadi berkualitas. 

Mengapa kualitas guru jauh memiliki nilai tambah yang lebih baik dan memiliki banyak nilai positif dari pada kelengkapan fasilitas di sebuah sekolah? Karena guru adalah inti dari sebuah interaksi edukasi antara peserta didik dengan pendidik. Karena guru adalah pemegang kendali akan keberhasilan dari interaksi tersebut. Dan itu dapat berarti pula kalau gurunya berkualitas plus fasilitasnya mendukung, maka pengembangan potensi akan semakin akseleratif. Dahsyat! Dan guru dalam sosok yang saya gambarkan itu adalah guru yang berbudaya AMPUH. Yaitu guru yang memungkinkan untuk membuat peserta didiknya memiliki motivasi untuk berprestasi tinggi. Sebagaimana yang dituturkan oleh penulis buku ini.

Lalu, bagaimana pihak masyarakat mengetahui ‘perbedaan’ sekolah dengan guru AMPUH atau tidak? bagi masyarakat ketika akan memilih sekolah untuk anandanya, yang pernah saya muat dalam blog saya (terbit pada 16 Januari 2012).

Tips Pertama, bahwa sekolah adalah jenjang pendidikan formal yang akan menjadi bagian hidup bagi ananda. Untuk itulah maka kepada ananda, kita  berikanlah kontribusi kepadanya untuk juga dapat memilih sekolahnya. Dengan cara kunjungilah sekolah-sekolah yang menjadi pilihan atau alternatif. Dan dalam kunjungan itu, cobalah untuk bertemu dengan sebanyak mungkin guru,  atau menajemen sekolah yang ada, untuk sekedar berdiskusi atau bertukarpikiran. Selain bertemu dengan pihak yang berkepentingan yang ada di sekolah tersebut, mintalah ijin untuk dapat melihat-lihat kelas dan fasilitas sekolah yang ada.

Apa yang dapat kita ambil dalam kunjungan semacam itu? Adalah gambaran tentang bagaimana model para guru dan manajemen di sekolah tersebut dalam berkomunikasi. Wawancara atau dialog singkat dalam kunjungan semacam itu cukup bagi kita untuk menjadi lebih sreg atau tidak. Atau, apakah sekolah yang kita kunjungi itu layak sebagai alternatif pilihan?

Tips Kedua, berhubungan dengan tips pertama tersebut, yaitu mengunjungi sekolah, maka temukanlah sekolah yang cocok atau sesuai dengan kapasitas dan minat  yang ananda miliki. Hal ini penting agar potensi yang dimiliki ananda dapat terus ditumbuhkembangkan. Artinya ada sekolah yang sangat intens dengan pembelajaran akademik, ada pula sekolah yang memadukan pengembangan akademik dan akademik, dan lain-lain. Harus dipahami bahwa ada beberapa anak yang sayngat kuat dalam akademik sehingga boleh jadi sekolah model pertama cocok buat anak seperti ini. Namun ada pula anak yang kemampuan akademiknya biasa-biasa saja sehingga mungkin ia lebih cocok dengan sekolah model kedua. Jadi mengenali minat dan kecenderungan ananda kita adalah modal penting berikut bagi pemilihan sekolahnya. 

Tips Ketiga, dengan melihat dua hal tersebut, maka memilih sekolah haruslah didasari hasil diskusi keluarga, termasuk di dalamnya ananda, karena  bersekolah akan dijalani dalam rentang waktu yang tidak dapat dikatakan pendek. Dalam banyak kasus, memilih sekolah masih didominasi oleh pilihan orangtua. Dan bisa jadi ini dilakukan karena kebetulan orang tua tersebut adalah alumni dari sekolah yang dipilihnya. Padahal dengan jarak waktu yang panjang, sangat mungkin perubahan telah terjadi di sekolah yang dipilihnya. Perubahan guru, salah satu indikator penyebabnya.

Tips Keempat, jangan pernah memilih sekolah karena  asumsi, rekomendasi teman, atau persepsi orang lain, tanpa sebelumnya kita kunjungi. Karena jika apa yang dipersepsikan tidak sama dengan apa yang kita persepsikan,  maka masalah tidak  hanya untuk kita sebagai orangtua, tetapi juga ananda yang akan menjalaninya.

Dengan empat tips tersebut, dapatkah kita menemukan perbedaan sekolah dengan guru AMPUH yang secara sadar, terpola, dan terus menerus melakukan peningkatan kualitas diri dengan professional development dan sekolah yang hanya sibuk dengan penampilan administratif. Dan bagi kita yang mengemban tugas di lembaga pendidikan formal, maka menginspirasi  semua guru untuk berbudaya AMPUH harus menjadi bagian paling utama selain melengkapi fasilitas sekolah yang memadai.

Jakarta, 6 Februari  2012.

01 Februari 2012

Pakaian Seragam VS Pakaian Bebas

Siang ini seusai melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, guru yang  menjadi imam dalah shalat memerikan pengumuman kepada siswa untuk  pakaian seragam yang harus dikenakan oleh siswa besok. Dimana kalau menurut perhitungan, maka urutan hari Kamis  besok siswa mengenakan pakaian coklat. Ini penting diumumkan sebelum hari berganti. Mengingat pada setiap Kamis, selain seragam coklat juga ada pakaian batik bebas. Alias Kamis tidak berseragam. Oleh karenanya pengumuman guru itu menjadi penting kedudukannya. Karena bisa dibayangkan jika esok hari ada sebagian siswa yang berseragam coklat ada pula yang mengenakan pakaian batik bebas. Selain akan menjadi belang-bontang jika keadaan itu terjadi, masalah juga  akan timbul manakala ada siswa 'perasa' yang mengenakan pakaian berbeda dengan teman-temannya kebanyakan. Ini menjadi semakin rumit bilamana terjadi 'pandangan' dari teman-temannya yang lain. Bully.

Dan untuk menghindari itu semua, maka tidak salah dengan apa yang disampaikan oleh guru seusai menjalankan shalat tersebut. Mengingat antara mengenakan pakaian seragam cokelat dengan pakaian batik bebas di sekolah kami, menjadi keputusan bersama kami. Dan ternyata siswa kami serta semua guru, senang jika pada suatu hari Kamis bertepatan dengan mengenakan pakaian batik bebas.

Di Indonesia Harus Seragam?

Dan berbicara tentang pakaian seragam ini, saya punya anekdot bagus dan memancing pikiran kita untuk mengasah otak. Mengapa? Karena, jika dianalisa, terdapat korelasi yang erat antara berpakaian seragam bagi pegawai, baik negeri atau swasta, dengan polarisasi dan kondisi sosial politik yang ada, di negeri kita ini. Setidaknya, kesadaran tentang hal itu muncul begitu kami, terutama saya dalam sebuah rapat guru, mendapat pertanyaan dari rekan kami yang juga guru; Memang tidak boleh ya, di Indonesia kalau tidak pakai pakaian seragam?
Pertanyaan teman itu muncul ketika dalam rapat kami harus menentukan warna dan potongan untuk pakaian seragam guru tahun pelajaran mendatang. Dan ketika diskusi itu tidak juga mudah untuk membuat keputusan, maka muncul pertanyaan itu. Kami, sekali lagi saya, terkejut juga dengan pertanyaan yang tidak terduga itu. Namun dalam benak saya, pertanyaan sederhana itu benar-benar menonjok kesadaran akan penghormatan terhadap heterogenitas kami. Saya sadar dan berguman dalam hati, iya-ya, mengapa harus berpakaian seragam? Kalau tidak ada pakaian seragam nanti banyak guru yang berpakaiannya tidak matching? Kalau tidak ada pakaian seragam, nanti tidak ada tunjangan pembelian pakaian seragam dari lembaga? Akhir kata, diskusi kami sudahi.

Dan itu pulalah yang terefleksi dari komentar siswa begitu guru memberitahukan bahwa Kamis besok siswa harus mengenakan pakaian seragam cokelat. Siswapun ternyata lebih senang dengan Kamis yang tidak berseragam cokelat. Tetapi Kamis yang berpakaian batik bebas...

Jakarta, 1 Februari 2012.