Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Agustus 2017

Saya Sudah Beli via On Line Pak

Hari ini, Kamis tangal 31 Agustus, saya mengkonfirmasi kembali kepada salah satu peserta didik saya tentang buku standar yang seharusnya menjadi kewajibannya untuk dibawa dan menjadi acuan membaca setiap pagi di hari Senin-Kamis seusai Shalat Dhuha. Konfirmasi itu dalam bentuk menagih kewajibannya yang sudah diingatkan sejak awal bulan Agustus yang lalu. etapi hingga hari ini, ketika kembali saya bertanya tentang buku yang seharusnya ada, kembali ia mengatakan kalau lupa untuk membawanya.

Beberapa waktu lalu, ketika awal-awal saya mengingatnya, ia mengatakan bahwa ia telah mengorder buku yang dimaksud via on line. Buku yang diorder itu adalah buku yang seharusnya ia bawa sebagai pengganti bukunya yang sekarang ia pakai. Bukunya yang sekarang tidak standar sehingga akan menjadi halangan dan penghambat kemajuannya.

Atas apa yang menjadi keterangannya itu, saya memahami dan mengikhlaskan kalau dia tidak sama sebagaimana teman-temannya yang lain. Namun karena waktu pesan dan belum ada kelengkapannya, maka saya kembali mengingatkannya. Jawabannya kala itu adalah belum datangnya paket buku yang telah dipesannya. Dijelaskan bahwa dari informasi yang didapatnya, paket baru akan sampai ke rumahnya pekan depan. Sebelum saya selesai mengajar dan meninggalkan kelasnya, saya wanti-wanti untuk tidak lupa membawa buku tersebut di hari Seninnya.

Namun ketika waktu berlalu dan melihatnya belum juga dengan kelengkapan yang seharusnya, saya kembali bertanya mengapa buku belum juga dibawa? Namun alih-alih membawa buku sebagaimana yang telah ia nyatakan lupa, karena pada hari ini ia ternyata benar-benar memang mengabaikan apa yang seharusnya menjadi perhatiannya.

"Maaf Pak, sebenarnya saya waktu itu bilang saja kalau saya sudah beli. Saya sampaikan demikian supaya Pak Agus tidak bertanya-tanya lagi." Jelasnya ketika saya terpaksa menyampaikan dugaan saya langsung kepadanya.

"Saya benar-benar akan membeli buku itu dan membawanya Selasa, 5 September Pak." Begitu janjinya kepada saya dengan saksi para temannya yang duduk tidak jauh darinya.

"Baik. Pak Agus akan mengingatnya dan bertanya kepadamu Selasa, 5 September 2017. Kemudian akan mengirim berita kepada orangtua jika pada hari itu janjinya tidak dipenuhi." Kata saya.

Jakarta, 31 Agustus 2017.

30 Agustus 2017

Bapak Suka Jalan-Jalan ya?

Di koridor lantai sekolah, disaat istirahat pagi sedang berlangsung, datang kepada saya seorang siswa kelas V SD yang usai dari kantin sekolah yang ada di lantai dua, bertemu dengan saya. Saya kebetulan memang sedang istirahat dan menemani siswa yang sedang berada di koridor tersebut. Saya berada di koridor itu bersama dengan seorang guru SMP yang kebetulan sedang menunaikan tugas piket.

"Bapak kok ada di sini? Bukannya tadi saya melihat Pak Agus berada di kantin sedang makan?" Begitu pertanyaan anak kelas V tersebut sembari mendekat ke kami yang sedang duduk di kursi putih panjang. Benar bahwa kami sebelumnya bertemu di kantin ketika saya harus sarapan dan si anak tersebut juga melakukan hal yang sama. Tetapi karena saya datang ke kantin lebih dulu, maka saya segera menuju ke lantai tiga karena bermaksud menemui seorang guru.

"Benar. Karena Pak Agus ingin berdiskusi dengan Pak Guru yang kebetulan mengajarnya di kelas yang ada di lantai tiga. Dan kamu, apakah telah selesai dengan kebutuhanmu di kantin?" Jawab saya yang tetap pada posisi duduk kami.

"Sudah Pak. Aku tadi hanya membeli jagung manis Pak. Nanti siang baru makan pas istirahat sebelum shalat." Begitu penjelasan anak tersebut. Ia kembali ke kelasnya tidak bersama teman-temannya. Ia hanya sendiri ketika berjumpa dengan saya.

"Bapak suka jalan-jalan ya." Katanya lagi. Pertanyaan yang membuat saya sendiri kurang merasa jelas arah yang dia ingin tahu tentang saya.

"Apa maksudnya jalan-jalan? Maksudnya jalan-jalan ke luar kota? Piknik?" Balas saya sedikit bingung dan menebak arah pertanyaan yang disampaikan.

"Ia jalan-jalan. Tadi saya kan dari kantin dan bertemu Pak Agus. Tetapi ketika saya akan kembali ke kelas saya bertemu lagi dengan Pak Agus di sini? Jadi Bapak suka jalan-jalan kan?" Jelas anak itu lebih detil. Saya menjadi faham apa yang dia maksudkan.

"Pantesan, saya sering lewat di depan ruang kerja Pak Agus dan jarang melihat Pak Agus ada di ruangan. Saya sering bertemu dengan Bapak justru di luar ruangan Bapak kerja?" Kata anak tersebut. Pertanyaannya, menyiratkan kepada saya bahwa peserta didik saya yang satu ini telah memberikan perhatian kepada saya. Setidaknya telah memberikan satu penilaian tentang saya. Terimakasih.

Jakarta, 30 Agustus 2017.

21 Agustus 2017

Bacalah Apa Dibalik Beritanya?

Berikut ini saya mencoba kompilasikan dua berita yang saling melengkapi buat saya sebagai pembacanya. Berita pertama adalah berita yang berisi pernyataan dari pejabat Bupati yang dimuat di surat kabar Republika Online pada Selasa, 15 Agustus 2017. 

Pada saya membaca berita ini di layar ponsel saya, yang terkumpul dalam judul-judul berita via Twitter yang saya ikuti, ada pernyataan yang membuat saya ingin tahu lebih lanjut. Berita ini berkenaan dengan pendapat akan peninggalan Belanda pada Indonesia yang hingga hari ini, setelah 72 tahun Indonesia merdeka, sebagian dari peninggalan tersebut masih dapat berfungsi.

Berita tersebut adalah; 

Tampaknya, pada surat kabar yang sama, yang terbit pada Jumat, 18 Agustus 2017, ada seorang pembaca yang menulis dengan fokus yang sama tetapi dengan sudut pandang berbeda. 

Seperti inilah berita tersebut;


Untuk menambah cakrawala pandangan kita tentang fokus yang menjadi perbincangan mereka, saya menyarankan agar dapat membuka link berita tersebut.

Jakarta, 21 Agustus 2017.

Ketahuan Juga...

"E.... Ketahuan juga." Begitu kalimat pertama yang saya dengar yang diucapkan oleh seorang peserta didik saya dalam posisi sedang menunduk dengan topi di kepalanya. Ia memang sedang bersembunyi di sebuah ruang yang ada diantara lemari yang berisi kertas-kertas dan mesin foto kopi. Anak tersebut memang bersembunyi di ruang foto kopi yang ada persis di bawah tangga lantai I sekolah kami.

Mengapa ia bersembunyi dan bagaimana saya menemukan keberadaannya?

Ia bersembunyi karena tidak ingin segera pulang, meski nenny telah menjemput dan menunggunya di hall sekolah. Maka untuk tujuan mencari anak tersebut, saya mencoba mengitari sekolah. Saya menuju tempat dimana biasanya anak laki-laki bermain futsal sebelum mereka pulang ke rumah.

Maka ketika saya menemukan dia berada bersama teman-temannya di plasa SD sedang bermain futsal, saya segera memanggilnya dan memberitahukan kalau jemputannya telah sampai di sekolah. Memintanya untuk segera menuju penjemputnya dan pulang. Benar. Permainan futsa langsung bubar begitu saya datang dan menyampaikan informasi tersebut. Anak tersebut terlihat lari masuk ke dalam koridor lantai I. Saya berprasangka baik, mengira ia lari untuk mengambil tas sekolahnya dan segera menuju hall dimana penjemputnya telah menunggu. Lalu saya kembali ke arah hall dan menunggu anak-anak yang masih belum dijemput.

Namun tunggu punya tunggu, saya masih belum melihat anak itu menemui penjemput yang sejak sampai di sekolah berada di hall. Saya mencoba mengkonfirmasi keberadaan anandanya yang dijemput. Namun setelah pasti bahwa anak tersebut belum menemuinya, maka saya mencobanya untuk kembali ke arah anak-anak yang bermain futsal.

Benar. Anak itu benar bermain futsal lagi. Maka tiada negosiasi, saya meminta bola untuk diserahkan kepada saya dan permainan futsal segara selesai. Anak-anak saya minta semua berada di hall sekolah untuk bersiap dijemput.

Kembali, anak itu ternyata tidak juga muncul untuk menemui penjemputnya. Maka saya berinisiatif mencari keberadaannya. Tentunya sembari berkoordinasi dengan anggota Satpam yang lain melalui HT.

Langkah saya menuju uang foto kopi dengan maksud untuk menyimpan bola futsal agar bisa untuk bermain kembali besok siang. Namun ketika berada di ruangan itu, saya mendapati anak tersebut dalam posisi jongkok dan menunduk dengan bertopi. Posisinya kidmat tiada suara. Saya sempat kaget dengan 'penemuan' itu. Tapi saya mencoba untuk tidak membuatnya kaget selain hanya menyentuhkan bola ke topi yang dikenakannya.  Dan ketika ia mendongak serta melihat bahwa yang berdiri di belakanganya adalah saya, maka ia berkata; e... ketahuan juga!

Jakarta, 21 Agustus 2017. 

14 Agustus 2017

Saya Ingin Tahu Banyak tentang Pramuka Pak

"Saya ingin tahun banyak tentang Pramuka Pak. Karena tahun lalu saya aktif di Marching Band yang latihannya sering sekali bersamaan dengan latihan Pramuka. Maka tahun ini saya berhenti dari Marching Band supaya bisa latihan terus di kegiatan Pramuka." Demikian kata seorang siswi saya yang duduk di bangku kelas V SD. Bertemu saya beberapa waktu yang lalu ketika seluruh siswa peserta kegiatan Marching Band sedang sibuk latihan untuk menghadapi lomba yang akan berlangsung beberapa waktu yang akan datang. Dan ketika saya berpapasan di lorong sekolah dan dia tidak ikut serta dalam latihan Marching, saya bertanya kepada mengapa tidak ikut serta dalam latihan yang secara maraton dilakukan oleh semua peserta.

Maka jawaban itulah yang saya dapatkan dari anak tersebut. Padahal di tahun pelajaran yang lalu, dia termasuk bagian inti dari barung Pramuka yang ikut dalam kegiatan Perkemahan Rabu-Kamis di wilayah Puncak, Bogor.

"Bukankah kamu tahun lalu juga ikut dalam perkemahan di Puncak, Bogor? Bukankah kamu juga menjadi pengajar kepada anak-anak di SD yang dekat dengan lokasi perkemahan?" Tanya saya ingin memastikan bawa dia turut serta dalam kegiatan Perkemahan Rabu-Kamis? Karena seingat saya, yang ikut mendampingi anak-anak dalam kegiatan Perkemahan itu, melihat kalau anak tersebut menjadi bagian dari anak-anak yang mengajar di SD yang lokasinya dekat dengan kegiatan Perkemahan. 

"Iya Pak. Tapi saya merasa tahun ini ingin tahu banyak tentang Pramuka. Jadi saya tidak ikut kegiatan ekstra kurikuler yang latihannya berbarengan dengan latihan Pramuka."

Jujur, dalam hati saya kagum dengan cara pengambilan keputusan peserta didik saya tersebut. Betapa tidak, dalam usia mudanya, ia telah punya klausul pertimbangan bagi kegiatan yang semestinya dia akan ambil dalam tahun pelajaran yang ia jalani. Ia terlihat sebagai anak yang cerdas dan membanggakan.

Jakarta, 14 Agustus 2017 (Hari Pramuka)

11 Agustus 2017

Mudik 2017 #5; Sayang Gantengmu Mas

Pada sela-sela kegiatan reuni di Karangsari, Sapuran, Wonosobo, saat libur Idul Fitri 1438 H/2017 lalu, sekelompok dari kami ada yang terlibat cengkrama lumayan serius tentang hidup. Ini terjadi ketika kami sama-sama keluar dari Masjid dan duduk di sepanjang terasnya yang bersih setelah melaksanakan shalat. 

Saat itu kami telah usai dengan kegiatan reuninya. Maka masing-masing kelompok akan menemukan topik bahasan yang menurut mereka menjadi penting pada hari itu. Dan kami ada di situ untuk mendiskusikan masa lalu saat kami semua muda.

"Saya sebenarnya akan konfirmasi berkenaan dengan undangan pernikahan anandanya sohib di daerah Jenar, Purworejo beberapa waktu lalu. Pertama karena saya memang tidak sempat berkunjung ke Jenar untuk memenuhi undangan tersebut sehingga pertanyaan itu tidak mampu saya sampaikan langsung. Yang kedua karena saya juga pernah menerima undangan perkawinan ananda sohib yang sama tetapi lokasinya ada di wilayah Muara Gembrong, Bekasi, Jawa Barat?" Tanya saya kepada forum yang ada di teras itu. 

"Acara yang mana Mas Agus? o... Nikahan sohib yang asli Jenar itu?" Jawab salah satu teman baik saya yang sekarang selain sebagai pendidik di depan kelas juga adalah penutur cerita atau sebagai dalang di pertunjukkan wayang kulit.

Lalu dijelaskanlah duduk persoalan yang selama ini tidak seorangpun dari kami yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah kisah perjalanan hidup yang sungguh-sungguh saya pribadi baru mengetahuinya. sebuah kisah yang membuat saya mengagumi apa yang telah terjadi. Kagum akan kisahnya yang pemberani serta pengambil resiko. kisah yang saya pribadi tidak akan memiliki kuota nalar yang cukup untuk membayangkannya terjadi pada diri saya.

"Makanya, sayang gantengmu Mas Agus." kata teman saya yang menjadi pendidik sekaligus Pak Dalang di malam libur sekolah.

Atas apa yang disampaikannya itu, saya terdiam. Karena memang tidak merasa ganteng sebagaimana yang disampaikannya.

Jakarta, 11 Agustus 2017.

07 Agustus 2017

Bapak Kapan Bercerita?

Seusai saya melaksanakan shalat jamaah bersama kelas III SD yang kebetulan mereka baru pulang dari trip ke sebuah pabrik di lokasi yang tidak jauh dari sekolahan, datang dua anak perempuan dari kelas V ke ruangan saya dan kemudian bertanya; "Kapan Bapak akan cerita lagi Pak?"

Sebuah pertanyaan yang menyenangkan untuk saya. Bukan karena anak itu bertanya kepada saya untuk kemudian meminta saya kembali bercerita. Tetapi pertanyaan itu membuat saya menarik kesimpulan bahwa anak tersebut selama saya bercerita memperhatikan dan menaruh perhatian akan cerita yang saya sampaikan. 

Sebenarnya, pada hari Senin ini, sebelum pelaksanaan shalat jama'ah, saya sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi. Tetapi karena ada keperluan lain, maka niat itu belum terlaksana hingga sesi shalat jama'ah kelas IV-kelas VI lepas dari keikutsertaan saya.

Lalu apa sebenarnya yang saya ceritakan?

Sebagaimana telah saya kemukakan pada tulisan sebelumnya, bahwa sejak awal tahun pelajaran 2017/2018 ini, saya mencoba membacakan buku, jadi bukan bercerita sebagaimana yang anak-anak didik saya sampaikan tersebut, secara runut. bab per bab, bagian per bagian. Saya membaca buku langsung di hadapan anak-anak tersebut.

Oleh karenanya, selain bahan cerita yang diinginkan oleh anak-anak, juga buku yang menjadi rujukan saya selama saya membacakannya. Beberapa anak datang ke saya khusus untuk mengetahui buku apa. Karena mereka rupanya ingin juga membaca langsung buku yang saya sudah bacakan. Bahkan diantara anak-anak itu membaca buku yang rutin saya bacakan tersebut dalam kegiatan silent reading mereka di kelas.

Jakarta, 7 Agustus 2017.

Ini Buku Saya Pak

Pagi-pagi berikutnya. Persis setengah tujuh. Siswa saya datang masuk ke ruangan kerja saya yang sedang membaca file kerja di layar komputer, dengan serta merta menyodorkan buku barunya setelah sebelumnya memberi salam kepada saya di depan pintu ruangan.

"Ini buku saya sudah datang Pak Agus. Alhamdulillah Pak saya semalam sudah mulai membaca apa yang Bapak bacakan untuk kami kemarin." Kata anak pintar yang kebetulan adalah peserta didik saya yang telah duduk di kelas lima sekolah dasar.

Salam anak itu telah menarik perhatian saya untuk fokus akan kedatangannya. Anak itu berdiri di samping meja kerja saya dengan di tangannya buku hard cover yang baru sampai di tangannya. Buku dengan sampul warna merah maron yang dominan tersebut memang jauh lebih bagus tampilannya dengan buku yang selama ini menjadi andalah saya untuk mengisi cerita di kelas sebelum jamaah shalat Dzuhur dimulai. Sementara buju milik saya, meski warna sampulnya sama betul dengan yang dimilikinya, tetapi terlihat masih kalah jauh dengan tampilan bukunya. Mungkin karena sampul buku saya yang soft cover.

"Bagaimana kamu membeli buku itu? Apakah kamu belinya di tko buku atau online?" Tanya saya. Mengingat pada pertemuan sebelumnya, ia bertanya tentang judul dan penerbit buku saya. Dengan pertanyaan itu ia bermaksud memiliki buku yang sama. Tetapi ketika saya mendapatkan buku itu juga via online, maka ia tidak mau tertinggal.

"Saya minta bantuan Mama untuk belikan di online shop. Dan siang kemarin buku ini baru saja datang Pak. Jadi saya baru saja memulai membacanya..."

Jakarta, 7 Agustus 2017.

03 Agustus 2017

Bapak Baca Buku Apa?

Mengisi waktu kosong di kelas atau menjelang Shalat berjamaah, atau juga ketika anak-anak telah usai tilawah bersama, dengan membaca cerita,  menjadi bagian dari kegiatan saya untuk mengenal peserta didik yang ada di level Taman Kanak-Kanak, SD atau SMP. Meski kegiatan ini bukan kegiatan saya harus, tetapi hampir selalu dua atau bahkan empat kali saya lakukan di setiap pekannya. Saya bersyukur, karena dengan demikian saya menjadi lebih mengenal anak-anak itu yang selalu berganti pada setiap tahunnya, dimana akan ada yang lulus dan akan ada yang menjadi siswa baru. 

Namun untuk lebih konsisten, saya menambah intensitas membaca cerita itu. Terutama di level SD dan SMP. Bahkan untuk dua pekan yang ada ini, hampir selalu saya membacakan buku sebelum Shalat berjamaah dimulai. Oleh karenanya anak-anak akan menagih untuk dibacakan buku begitu mereka bertemu saya di koridor Musholah.

"Bapak baca bukunya apa Pak?" Demikian seorang siswa saya yang duduk di kelas V SD seusai saya menyelesaikan bacaan cerita di depan. Pada saat itu saya membacakan buku Martin Lings tentang Muhammad pada bagian Menemukan Kembali Sesuatu yang Hilang.

"Ini buka yang Pak Agus bacakan tadi. Jadi sudah ada empat bagian ya yang telah Pak Agus bacakan dari buku ini." Kata saya memberikan penjelasan atas pertanyaan yang diajukan. Hari itu kemudian kami lanjutkan kegiatan sekolah yang lain. 

Hingga suatu pagi ia kembali datang di ruangan saya untuk memastikan buku yang saya baca di hadapan teman-temannya sebelum sholat berjamaah dimulai di Musholah. "Pak Agus, saya ingin tahu buku yang kemarin Pak Agus baca. Bukunya seperti apa ya Pak. Saya ingin cari di toko on line." Katanya ketika bertemu saya di hall sekolah di pagi hari masih dengan tas sekolahnya. Waktu itu masih pukul 06.45.

Jakarta, 3.08.2017