Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Maret 2016

Mudik 2016 #4; Bacem Kaki Kambing

Jogja selepas magrib pada Sabtu, 26 Maret 2016 lalu diguyur hujan. Tidak lebat tetapi mengharuskan saya untuk mengurungkan niat pergi ke Pasar Colombo di Jakal Km 7 dengan mengendarai sepeda motor. Saya dan anak sulung menunggu mantu di emperan penginapan yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan kos anak bungsu di dekap kampus UGM.  Kami sedang menimbang-nimbang untuk memilih moda transportasi apa guna menuju lokasi makan malam kami. Karena ini menjadi pengalaman pertama untuk kedua anak laki-laki saya. Sajian khas yang dikenalkan oleh kakak ipar saya yang dulu lama tinggal di Pasturan yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Pasar Colombo itu. Menu makan kami adalah bacem kepala kambing.
Yang belum pernah mencoba, saya merekomendasikan untuk membuktikannya.
Waktu semakin malam hingga azan Isyak berkumandang. Aplikasi taksi lokal sudah selesai daya download. Dan mencobanya untuk melakukan order. Namun karena kesulitas dengan sinyal hp, maka akhirnya saya meminta supaya anak mantu memarkirkan R2nya dan kami sepakat untuk berjalan menuju arah jalan Kaliurang guna mencegat taksi yang kebetulan lewat. 

Dan untuk beraga-jaga supaya kedatangan kami bertiga tidak sia-sia karena nanti kehabisan stok atau warung tutup, saya menghubungi via wa. Karena jawaban lama, maka saya juga menghubungi via telpon. Alhasil, wa belu juga terjawab dan telepon juga tidak mendapat jawaban yang sempurna. Akhirnya kami naik taksi dengan penuh doa semoga kedua anak saya itu datang dan mendapat pengalaman pertama yang  mengesankan.

"Pasar Colombo km 7 Mas." Kata saya yang duduk di bangku depan kepada supir taksi Mobilio. 

"Bukan Colombo Gejayan ya Mas. Colombo pasar di Jakal  km 7." Kata saya lebih lanjut untuk memberi ketegasan. Takut salah alamat dan membuang waktu. Mengingat libur akhir pekan ini ada 3 hari yang membuat banyak pendatang untuk berwisata sepanjang jalan di kota Jogjakarta.

"Tarif minimal 25 ribu ya Pak." Kata supir taksi. Maksudnya kalaupun pakai argo dan tarif di argo kurang dari 25 ribu, misalnya 12 ribu, maka saya, penumpang harus membayar 25 ribu. Sama artinya kalau saya mendonasikan 13 ribu kepada armada yang saya tumpangi. Entah uang kelebihan itu untuk didonasikan kepada supirnya atau kepada korporasinya. Ini memang usaha jasa pasti untung!

Alhamdulillah, sampai di rumah makan, sekitar pukul 20.00, yang posisinya berada persis di pojok pertigaan setelah masuk ke pasar dari Jakal, masih tersedia bacem kikil kaki kambing dan jeroan, sementara bacem kepala kambing sudah habis. Mau apa lagi? 

"Bagaimana pendapat kalian dengan makan bacem ini?"Tanya saya ketika kami selesai dan berjalan menuju Jakal. Saya ingin tahu apa pendapat anak-anak tentang jenis makanan yang kebetulan saya sukai itu.

"Enak dan Unik. Layak makan kepala kambingnya kalau ke Jogja lagi." Jawab anak saya. Saya ikut senang dengan jawaban itu. Artinya anak setuju dengan apa yang saya suka dan rekomendasikan. 

Jakarta, 29 Maret 2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #7; Disiplin

Dalam sekian program yang dicanangkan untuk bagian pengembangan guru dan SDM di lembaga pendidikan formal yang bernama sekolah, saya benar-benar terusik oleh seorang pembicara yang kami undang untuk memberikan pencerahan bagi perjalanan kami menuju transformasi. Terusik tidak saja karena di pembicara kebetulan selain adalah pakar manajemen perubahan juga adalah seorang orangtua siswa di sekolah kami sendiri. Tetapi oleh makna kalimat yang beliau sampaikan dalam presentasinya itu.

Walau saya sendiri belum mengkonfirmasi kepada teman yang lain yang ada dalam forum yang sama, apakah mereka juga menangkap sinyal yang disampaikan beliau? Mungkin ada juga selain saya yang menangkap sinyal ketidakpuasan atas fakta yang selama ini menjadi pengalaman anandanya di sekolah? Sehinga ketika beliau menyampaikan presentasi buat kami beliau, pasti tidak bermaksud menyinggung namun justru mengungkapkan kenyataan, atas kondisi yang seharusnya TIDAK terjadi. Pasti sebuah fakta yang seharusnya menjadi hal yang positif. Yaitu fakta  tentang disiplin guru dan SDM yang ada di lembaga dimana anandanya berada sehari-hari dengan menjadi siswa kami. Dimana agar disiplin justru menjadi titik awal untuk membuat program unggulan yang menarik siswa untuk giat dan tekun belajar di sekolah.

"Bapak dan Ibu sekalian, mungkin saatnya kita sekarang membuat analisa dan berfikir apa yang menjadi penyebab mengapa lembaga kita ini menjadi kekurangan jumlah siswa. Apakah mungkin karena program pembelajaran yang kita lakukan selama ini biasa-biasa saja seperti juga sekolah-sekolah yang dibiayai sepenuhnya oleh APBN dan APBD? Sehingga dengan demikian maka sekolah menjadi tidak memiliki daya pembeda dan daya saing? Atau jangan-jangan bukan program sekolah yang harus kita bangun menjadi program yang berdaya saing, tetapi justru disiplin kita? Disiplin kehadiran guru dan karyawan? disiplin guru hadir di dalam kelas dengan tepat waktu? Disiplin dalam menerapkan rencana atau program yang telah dikomunikasikan kepada para siswa dan orangtua siswa untuk menjadi kegiatan yang baik?" Demikian antara lain kalimat yang beliau sampaikan yang hingga sekarang esensi dari kalimat-kalimat beliau tetap hidup dan terngiang dalam benak saya. 

Dan atas apa yang menjadi masukan itu, kami bertemu untuk mendiskusikan apa yang menjadi langkah kita berikutnya. Maka kami menyepakati untuk membuat penilaian kinerja yang menitik beratkan kepada elemen disiplin. Disiplin kehadiran di sekolah. Disiplin kehadiran di lokasi mengajar dari jam pertama mengajar hingga jam terakhir. Disiplin administrasi sebagaimana yang dilakukan oleh guru-guru yang tersertifikasi ketika melakukan pemberkasan. Disiplin berkomunikasi baik dengan siswa, rekan kerja, dan juga orangtua peserta didik, secara lisan ataupun ketika menulis pesan melalui telepon pintarnya.

Lalu bagaimana dengan elemen lain yang selama ini telah menjadi bagian dari penilaian kinerja? Tetap kami masukkan dalam elemen penilaian, tetapi disiplin menjadi titik pusat dari kinerja kami di tahun ini. 

Lalu apa implikasi dari hasil kinerja yang di akhir tahun ini? Tidak lain adalah prosentasi kenaikan gaji. Dan ini menjadi pegangan kami sejak awal durasi penilaian kami jalani. Dan selain hasil kinerja yang merupakan hasil terakhir dalam penilaian kinerja, maka keseharian di sekolah, pada tingkat operasional, teman-teman di lapangan benar-benar akan melihat langsung di lokasi akan kesepakatan kami itu. 

Tujuannya hanya satu; bahwa disiplin kami, mudah-mudahan, menjadi titik awal bagi sekolah kami untuk meraih nilai daya saing yang tinggi yang ujungnya mendapat kepercayaan masyarakat kembali. Semoga. 

Jakarta, 29 Maret 2016.

28 Maret 2016

Transportasi On Line?

Malas sekali membicarakan transportasi on line yang belakangan ini, mungkin sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu, keberadaan dan 'keberhasilan' menguasai minat pengguna mereka, sedang menjadi masalah buat para transportasi konvensional. Walaupun saya sendiri menjadi bingung apakah yang dirugikan oleh keberadaan dan 'keberhasilan' transportasi berbasis aplikasi itu merugikan para supir transportasi resmi saja, atau juga sebenarnya karena korporasinya yang juga menanggung kemerosotan income.

Ini karena saya berangkat dari sisi pandang sebagai pengguna. Namun ketika hari Minggu lalu, tanggal 27 Maret 2016, secara kebetulan komik harian Kompas menurunkan cerita yang bertopik sama, transportasi on line. Maka untuk kenang-kenangan, saya  menyimpannya dalam catatan harian saya ini.


Saya tidak tahu apakah mereka janjian untuk membahas topik yang sama? Saya hanya menduga, ketiga komikus ini memang sedang dilanda galau yang sama. Terutama ketika ada demo menolak transportasi on line. Demo para supir yang sekarang tidak pernah di awe-awe penumpang di bawah terik matahari di pinggir jalan.



Jakarta, 28 Maret 2016.

Mudik 2016 #3; Honje = Kecombrang

"Jadi ibu memang sering ya masak pakai honje?" Tanya anak sulung kami ketika kami duduk di sebuah rumah makan di Jalan Mangkubumi, Jogjakarta pada akhir pekan lalu. Kami tidak memesan makanan. Hanya minuman dan dua jenis makanan kecil. Ini karena kebetulan juga kami harus menghabiskan waktu lebih kurang satu jam untuk pesanan kacamata si bungsu yang baru saja kami pesan di optik yang ada di pojokan jalan tersebut.

Dan kebetulan di tengah-tengah meja kami duduk, ada bunga warna merah sangat muda dengan tangkai yang lumayan besar diletakkan di dalam gelas dengan air. Karena cukup air, maka bunga itu tampak awet segar dan terlihat mekar teratur.


"Sering sekali. Terutama kalau Ibu sedang masak ikan sayur. Honje atau kecombrang itu sebagai pelengkap rasa." Jelas istri saya. Maklum, anak sekarang kurang tahu dan mengenal nama flora yang ada. Meski itu ada yang di dalam sayuran yang mereka nikmati.

"Kita foto di kursi ujung itu supaya icon Jogjakarta tampak sebagai latar foto kita." Kata anak saya sembari mengatur kursi yang ada di ujung teras rumah makan klasik dan homy tersebut. Benar saja, karena lokasi teras yang ada di pojok perempatan Tugu, maka foto-foto kami berlatar Tugu dari arah atas.

"Pak Satpam, apakah ini pohon honje yang kemudian menjadi nama restoran ini?" tanya seorang anak saya yang lain kepada Satpam yang sedang bertugas di pos. Satpam tersebut keluar pos dan berjalan mendekati dua pot yang ditumbuhi tanaman kecombrang alias honje tersebut.

"Betul mas. Hanya tanaman ini tidak berbunga. Ini karena media tanamannya hanya dalam pot. Sehingga kemungkinan pohon itu kurang nutrisi untuk berbunga." jelas Pak Satpam.

Jakarta, 28 Maret 2016.

Mudik 2016 #2; Keliling Naik Sepeda

"Mudik berikut kita musti keliling naik sepeda." Begitu kalimat yang disampaikan anak sulung saya ketika kami berhenti sejenak untuk mengambil nafas sekaligus melihat dan menyaksikan percakapan seorang  ibu yang memetik bunga turi dan seorang bapak yang memelihara dan menjual tanaman dalam polibek di sekitar Selokan Mataram, Jogja. Kami beristirahat setelah lebih kurang 5 kilometer berboncengan.

Dan ini menjadi pengalaman pertama kali untuk saya mengayuh sepeda setelah lebih kurag dua tahun mengistirahatkan sepeda di rumah hingga banya kempes kehabisan angin. Dan ketika mudik akhir pekan  tahun ini, Saya kembali memompa sepeda anak di bengkel dekat penginapan mereka, yang dia beri nama Gemmy, yang kebetulan sekali juga kekurangan angin. 

Saat itu kota Jogja lumayan panas di waktu seputar pukul 10.00. Maka istirahat di bawah pohon kersen dengan beberapa sangkar burung prenjak yang tergantung di dahannya menjadi pelepas keringat yang mengasyikkan. Sesekali dialog seorang bapak pejual tanaman tadi dengan seorang ibu pemetik bunga turi itu terus berlanjut.

"Ini pohon cincau Bu. Monggo menawi ngersani. Saya jual. Pohon ini nanti sampai rumah ibu hanya perlu memindahkan ke tanah. Karena pohon ini sudah tumbuh bagus di dalam polibek. Ibu hanya perlu memberi air secukutnya sampai pohon ini benar-benar tumbuh. Selanjutnya daunnya tinggal dipetik untuk dibuat cincau." Kata Bapak itu kepada seorang ibu. Kami duduk di kanstein pinggir jalan yang menjadi pembatas tanggul selokan.

Dalam waktu istirahat itu juga saya manfaatkan dengan mengirim pesan kepada istri dan anak-anak tentang alamat lokasi kami janjian makan. Karena sejak kami berpisah di penginapan tadi, hanya arahnya saja yang saya tahu. Lokasi persisnya saya masih mengira-ira.

"Perempatan warung Soto ambil jalan arah yang ke kanan. Persis di perempatan stadion. Ikuti saja jalan itu nanti ketemu angkringannya." Begitu balasana pesan dari anak. Kami masih mendiskusikan dengan anak sulung rute yang akan kami ambil. Dari masukan Bapak Penjual tanaman, kami akhirnya menyusuri sepanjang jalan selokan tersebut hingga ketemu perempatan yang dimaksud.

Pengalaman naik sepeda dengan tujuan bukan untuk berolah raga tiba-tiba menjadi bagian dari aktivitas kegiatan mudik kami. Ini tidak lain karena moda transportasi kami ketika mudik ini adalah kendaraan umum. Sementara kami butuh bergerak. Maka sepeda menjadi pilihan untuk berkeliling di seputar Selokan Mataram...

Jakarta, 28 Maret 2016.

Mudik 2016 #1: 3 Kenangan Mudik di Musim Buah

Dalam kunjungan saya untuk menengok keluarga yang tinggal di Purworejo dan Jogjakarta kemarin, menjadi kenangan baik buat saya dan keluarga besar. Ini tidak lain karena mudik kemarin menjadi mudik dengan anggota keluarga saya yang lengkap tidak ada yang harus absen karena alasan tertentu. Itulah yang menjadi kenangan tersendiri. 

Pertama, bagaimana susahnya memilih waktu yang pas dengan harga tiket yang tersedia dan masih terjangkau. Ini mengingat akhir pekan kemarin adalah akhir pekan yang panjang dengan 3 hari merah. Dan meski satu bulan sebelumnya saya memesan tiketnya, tetapi tetap juga harus naik ekonomi dengan harga tiket yang paling mahal. Itu juga dengan keberangkatan yang mengharuskan saya mengambil cuti setengah hari.

Mengendarai kendaraan sendiri atau memilih armada bus malam dalam perjalanan yang hanya ada 3 hari 3 malam, pada saat ini sudah bukan menjadi pilihan yang cocok untuk segi waktu. Ini tidak lain karena kondisi jalanan pada saat libur akhir pekan yang sedikit panjang, yang dipenuhi kendaraan. Dan dengan kondisi yang tidak pasti seperti itu, maka memilih selain jalur kendaraan non rel, menjadi tidak pasti dan bisa jadi melelahkan.

Maka kereta api dan pesawat adalah pilihannya. Kereta api selalu terkendala dengan ketersediaan tiket dan jam serta waktu keberangkatannya. Sedang pesawat terkendala dengan harganya. Demikian juga dengan kepulangan kembali ke Jakarta. Menjadi persoalan yang sama dengan keberangkatan saya ke Jogjakarta.

Menyepakati memilih moda transportasi dalam kegiatan mudik akhir pekan dengan berbagai kondisi dan pertimbangan sebagaimana di atas, menjadi hal yang juga tidak kalah serunya. Meski keterlibatan dunia maya sangat memberikan kemudahan bagi kita untuk lebih cepat dan cepat dalam menentukan pilihan.

Kedua, menjadi pengalaman bagi saya dan anak sulung ketika kami 'terpaksa' harus dijemput oleh adek saya yang defabel, sehingga harus mengendarai R3 dengan jarak tempuh rumah-stasiun kereta dimana kami turun lebih kurang 25 kilometer.

Dan kami bersyukur bahwa kami sampai stasiun kereta sudah pukul 21.00. Sehingga persaingan sesama pengguna jalanan Nasional tidak begitu kami rasakan. Ini karena tidak lain dengan kendaraan R3, yaitu R2 yang dimodifikasi untuk kami bertiga, laju kendaraan harus benar-benar sabar dan santai. 

Dan kami tetap menikmati perjalanan yang relatif panjang tersebut. Terlebih dengan 'hidangan' buah durian yang berjejer di sepanjang jalan daerah Bayan dan Bagelen, yang diterangi oleh lampu listrik yang terang. 
Main di pantai di kala mudik, menjadi syarat sejak dia balita.

Ketiga, kami menengok kampung halaman, dan juga menjenguk keluarga dan anak-anak saya yang tinggal di Purworejo bertepatan dengan musim beberapa buah yang sedang masak-masaknya. Ini menjadi hiburan tersendiri buat saya dan si sulung. Dan selain durian, buah yang sedang masak adalah jeruk, kepel, dan duku. 

Hiburan karena setelah sekian puluh tahun anak saya mudik dengan 'hidangan' buah yang ada di pekarangan rumah tersebut, menjadi hiburan dan kenangan tersendiri. Sebuah pengalaman yang memang saya rencanakan agar anak-anak saya yang kelahiran Jakarta, tetap senang dan terkenang dengan kampung atau udik orangtuanya. Setidaknya dengan buah-buahan yang langsung dapat mereka petik dari pohon halaman depan rumah. Semoga.

Jakarta, 28 Maret 2016

22 Maret 2016

Sekolah Sehat dan Puntung Rokok

Beberapa waktu lalu, dalam grup sosial media, ada teman yang menulis pesan kepada kami semua atas temuan dari pihak Dinas Kesehatan Kota Madya, atas temuan di taman rumput yang ada di halaman sekolah beberapa puntung rokok. Temuan ini menjadi masalah bagi kami karena sekolah akan menjadi duta Kota dalam Lomba Sekolah Sehat untuk jenjang atau tingkat yang lebih tinggi lagi. Maka temuan untung rokok tersebut yang masih masuk dalam kawasan sekolah menjadi temuan yang kurang baik.

Setidaknya itulah yang menjadi rekomendasi dari para tamu pihak Kota ketika melakukan kunjungan untuk pengecekan kesiapan kami dalam ajang Lomba Sekolah Sehat tersebut. "Ini harus benar-benar tidak ada lagi ada di lingkungan sekolah ya Pak. Karena ini sudah melanggar Perda. Bahwa lingkungan sekolah adalah lingkungan yang harus steril dari rokok. Dan puntung rokok ini menjadi bukti bahwa lingkungan sekolah masih mentolerir ada yang merokok." Demikian yang disampaikan oleh Kapala Dinas Kesehatan Kota kepada kami. Saya sendiri ini menjadi hal yang mengagetkan. Karena memang itulah yang kami pasang di spanduk agar lingkungan sekolah benar-benar bebas dari rokok. Tetapi temuan itu membuktikan kepada kami semua bahwa bebas itu belum menjadi kenyataan. 

Pada tahap berikutnya, temuan dalam inspeksi tersebut dan ditulis sebagai laporan kemudian menjadi topik diskusi buat kami, para pengambil kebijakan di lembaga yang sedang bersiap sebagai Sekolah Sehat Provinsi, atau bahkan pada tingkat Nasional.

Lalu bagaimana akhirnya kami semua menyikapi atas saran dan masukan dari Ibu Kepala Dinas tersebut? Yaitu menyepakati agar sesama kami dan teman-teman yang ada di lapangan benar-benar menegakkan Perda tentang lingkungan sekolah yang bebas rokok dan juga ketentuan bahwa sekolah kita adalah sebagai kandidat juara Sekolah Sehat, maka tidak bisa tidak budaya tidak merokok di lingkungan sekolah harus benar-benar dipatuhi. Semoga.

Walau sejujurnya, dalam hati kecil saya memprotes atas kesepakatan dan komitmen itu. Karena bukan saja bebas rokok di lingkungan sekolah, tetapi justru pola hidup sehat yang menjadi tujuan akhir dari pencapaian sekolah sebagai kandidat sekolah sehat. Jadi bukan sekedar tidak merokok atau tidak membuang puntung rokok di lingkungan sekolah.

Jakarta, 22 Maret 2016.

Menjadi 'Orang Baru'

"Saya baru diangkat dan di tempatkan di sekolah ini Pak. Sebelumnya saya sebagai guru di daerah yang lumayan 'kota', yang siswanya ada sekitar 300an. Biasa Pak sebagai 'orang baru', maka saya seperti mendapat training. Mendapat amanah baru sebagai Kepala Sekolah setelah lulus tes, dan di tempatkan di sebuah SD yang siswanya tidak lebih dari 100 siswa." Komentar seorang Kepala Sekolah dimana saya dan teman-teman berkunjung ke lokasi dimana beliau bertugas untuk melakukan kegiatan berbagi dengan para peserta didiknya. Kedatangan saya dan teman-teman sesungguhnya untuk berkoordinasi tentang kegiatan kami di sekolah beliau. Tetapi entah dari mana tadi awalnya ceritanya, sehingga beliau kemudian mengungkapkan beberapa cerita seputar tugasnya sebagai Kepala Sekolah.

Usia beliau belum setengah abad. Dan sepanjang kami melakukan tukar pendapat di ruangan yang beliau sebut sebagai ruang guru dan ruang untuk menerima tamu, nampak beberapa ide yang relatif segar. Ini jika saya ingin memperbandingkan dengan beberapa Kepala Sekolah di Sekolah Pemerintah yang telah memiliki jam terbang lama. Dengan kondisi seperti itulah kami sebagai tamu merasa nyaman untuk berlama-lama berada di ruangannya. Tidak ada niatan dari kami untuk memutus komunikasi dan segera beranjak meninggalkan ruangan.

"Sebagai orang baru, saya banyak punya gagasan yang bermaksud untuk memajukan sekolah ini. Terlebih dengan keterbatasan yang ada di sekolah ini. Lokal hanya ada 8. 5 lokal untuk ruang kelas, dimana kelas dan kelas duanya bergantian mengunakan ruangan. 1 lokal untuk perpustakaan dengan koleksi buku yang masih sangat standar.  dan 1 lokal untuk ruang guru dan ruang Kepala Sekolah serta ruang tamu, dan 1 lokal dengan ukuran sepertiga ruangan kelas untuk ruang administrasi. Kami juga masih memiliki 3 guru, termasuk saya dalam status sebagai PNS sedang 4 lainnya dengan status honorer." Jelasnya. 

Saya dan teman-teman tetap berada di dalam ruangan itu dengan beberapa guru yang menemani serta menjadi saksi percakapan kami. Dengan penjelasan yang panjang lebar seperti itu, kami berada di pihak yang menunggu untuk diberi kesempatan menyampaikan apa yang memang beliau ingin ketahui dari keberadaan kami di situ.

"Pertama kali datang disini, saya sudah dihadapkan pada masalah rumah dinas yang ditempati oleh anak yatim dan piatu dari mantan Kepala Sekolah. Kami ingin sekali selesaikan masalahnya karena kebutuhan rumah bagi guru kami yang lokasi rumahnya jauh. Juga kami sudah tawarkan kepada yang bersangkutan untuk tetap tinggal di rumah dinas tersebut dan mau berperan sebagai penjaga sekolah. Tetapi yang pertama kali disampaikan ketika tawaran kami berikan adalah permintaan gaji." 

Saya dan teman-teman sempat juga tertegun dengan masalah yang satu ini. Menempati rumah dinas dengan tanpa memberikan kontribusi apapun? Tetapi sekali lagi, posisi kami adalah sebagai tamu. Maka kami hanya mendengar apa yang menjadi pemikiran ibu Kepala Sekolah tersebut.

"Alhamdulillah, sebagai orang baru, semua kondisi itu menjadi tantangan buat saya. Dan  di bulan Maret ini, dimana saya akan memasuki tahun kedua bertugas disini, saya mendapat banyak dukungan dari masyarakat sekitar sekolah setelah kami bertemu dengan semua unsur yang ada disini. Kami berharap supaya titik ini menjadikan masyarakat lebih percaya dengan sekolah ini. Mudah-mudahan dengan begitu, jumlah siswa sekolah kami dapat lebih meningkat. Doakan Pak." Kata Ibu Kepala Sekolah kepada kami.

Jakarta, 22 Maret 2016.

21 Maret 2016

Pohon Namnam di Lokasi Peraka

Bahagia dan gembira ketika bertemu pohon namnam yang sedang berbuah di lokasi kegiatan Perkemahan abu Kamis buat anak-anak didik kami di daerah Cibogo, Megamendung, pekan lalu. Bahagia dan gembira karena keberadaan pohon ini akan menjadi pemberitahuan kepada teman-teman kami yang datang ke lokasi perkemahan, terutama ketika akhir bulan ini akan ada teman Flora dan Fauna yang menjadi pusat eksplorasi di sekolah selama satu pekan. Juga karena satu dari sekian banyak teman yang hadir di lokasi perkemahan tersebut adalah penanggungjawab taman kami di sekolah. Yang berarti kepadanya saya dapat memberikan gambaran dan promosi berkenaan dengan pohon langka tersebut.

Pohon Namnam di samping halaman rumah, di lokasi kami melakukan kegiatan Pramuka.
Lebih bergembira lagi ketika saya sedang mengajak diskusi dengan seorang guru di bawah pohon namnam yang tampak kurang segara yang ditanam di pinggiran halaman, jatuh buah namnam yang kulit luarnya tampak menguning tipis. Maka pada saat itulah kami mencoba merasakan sensasi buah namnam tersebut. Termasuk diantaranya mengajak beberapa teman lain untuk ikut serta merasakan meski hanya satu buah yang terjatuh diantara kami. 
Buah-buah Namnam yang ada di batang pohonnya.

"Saya menjadi ingat ketika makan buah jambu klutuk yang belum latang benar, tetapi juga tidak keras. Jadi terasa renyah kita kita menggigit daging buahnya." Demikian komentar teman ketka mendeskripsikan seperti apa buah namnam itu.
Bentuk buah dengan lebih jelas. Eksotik.

"Kalau berkenaan dengan rasa, saya meresakan rasa asam jawa yang belum matang benar. Tetapi terbersit rasa sepet sedikit." Komentar teman yang lain. Dan dua teman yang berkomentar tentang bagaimana rasa buah namnam adalah mereka yang baru kali pertama merasakan buah unik itu.
Namnam dalam pot. Siap tanam di sekolah kami.

Pendek kata, saya mempromosikan buah namnam yang langka itu kepada semua teman yang berada di dekat saya berada saat itu. Khususnya kepada teman yang bertanggungjawab terhadap kebun dan tanaman yang ada di sekolah.

Jakarta, 21 Maret 2016.

14 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #6; Dalam Satu Gerbong

"Untuk sekarang ini, saya belum merekomendasikan ananda putra Ibu masuk ke SMP sini. Karena menurut saya masih banyak yang harus diperbaiki." Demikian kata dan sekaligus pendapat seorang guru ketika dimintai pendapat oleh seorang orangtua si peserta didik yang akan melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Ibu orangtua siswa itu meminta pendapat dari guru anandanya mengingat dialah yang lebih tahu tentang sekolahnya. Namun dengan mendengar apa yang disampaikan oleh guru yang bersangkutan itu, maka orangtua tersebut menjadi berpikir. 

Ibu itu kaget dengan rekomendasi yang dibuat guru anandanya. Mengapa pendapatnya justru seperti itu? Mengapa kalau Ibu guru tersebut melihat bahwa ada kekurangan yang dia lihat terhadap jenjang sekolah yang masih dalam lembaganya tidak dia sampaikan kepada atasanya atau kepada pihak yang berkepentingan untuk mendengar dan memperbaikinya? Mengapa pandangan seperti itu justru dia sampaikan dalam bentuk rekomendasi? Bukankah saya, batin si ibu orangtua siswa itu, hanya meminta pandangan tentang sekolah yang baik untuk anandanya?

Dalam Satu Gerbong

Laporan bahwa kenyataan masih belum sinerginya beberapa teman yang ada dalam satu lembaga itulah yang saya maksudkan sebagai tidak dalam satu gerbong. Ini kalau saya umpamakan bahwa lembaga adalah sebuah gerbong. Kalimat yang berupa rekomendasi guru yang ada dalam satu lembaga meski berbeda unit atau jenjang sekolah, adalah bentuk ketidak adanya sikap dan perilaku bahwa mereka berada dalam satu lembaga yang sama. Dan dalam sebuah organisasi atau lembaga, maka ini adalah titik yang harus menjadi perhatian yang sungguh-sungguh.

Terlebih lagi bila lembaga itu adalah lembaga swasta, yang semua sumber dana yang memungkinkan lembaga itu berjalan dengan baik dan lancar adalah dana yang berasal dari masyarakat yang memberinya kepercayaan kepada lembaga tersebut. 

Maka merasa, berpikir dan memahami, serta melakukan berada dalam satu gerbong untuk sebuah perilaku dalam sebuah lembaga tidak dapat dikatakan mudah atau gampang. Tetapi juga, harusnya, tidak pula dikatakan sebagai perbuatan yang tidak mungkin. Tetap dapat dilakukan dengan penuh tekad yang kuat, ketabahan, dan pastinya kesabaran. 

Kuat, tabah dan sabar ketika usaha yang kelihatannya sudah keren dan akan berbuah sukses tetapi dalam sebuah sketsa ternyata masih belum sampai pada tujuan yang diinginkan. Dan ketika situasi demikian yang kita temui itulah butuh kekuatan tekad untuk terus berjuang, perlu ketabahan untuk menerima kenyataan bahwa apa yang kemarin sudah kita ikhtiarkan ternyata masih belum mencapai sinergi yang diingini, dan pasti membutuhkan kesabaran untuk melihat kenyataan bahwa jalan yang kemarin sudah kita jalani membutuhkan jalan yang lain, jalan yang berbeda untuk sekali lagi atau sepuluh kali lagi memberikan ajakan untuk berada dalam satu gerbong.

Menentukan dan memilih jalan atau strategi pemberdayaan yang paling efektif tersebut harus menjadi pemikiran manajemen lembaga. Dan ini menjadi tantangan yang normal bagi sebuah lembaga yang terlanjur besar namun kurang kontrol. Semoga.

Jakarta, 14 Maret 2016.

11 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #5; Seperti Perjalanan Pulang Kampung

Sebagai orang yang berasal dari kampung, dan sanak keluarga berada dan berdomisili di kampung, maka melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman adalah menjadi kegiatan tahunan. satu, dua, tiga, atau empat kali perjalanan itu saya lakukan. Baik dengan transformasi umum atau mengendarai sendiri. Dan ini menjadi masalah ketika saya harus pulang kampung mengajak istri dan anak-anak, yang mereka tidak begitu menarik melakukan perjalanan jauh dan lama menuju lokasi kampung halaman. Berbeda ketika perjalanan yang kami lakukan untuk menuju lokasi wisata.

Meski ini menjadi halangan ketika di awal-awal dahulu, namun hal itu menjadi tantangan tersendiri buat saya. Caranya? Saya memodifikasi bahwa kegiatan pulang kampung adalah juga kegiatan wisata. Dan karena kegiatan wisata, maka perjalanan yang kami rancang tidak serta-merta menuju ke kampung halaman. Tetapi melingkar-lingkar sesuai dengan lokasi wisata yang kami hampiri. Dengan cara ini, alhamdulillah istri dan anak menjadi antusias ketika perjalanan itu kami lakukan. Meski itu hanya perjalanan berdua, saya bersama istri dengan mengendari kendaraan sendiri.

Bagaimana konkritnya? Suatu kali saya ke kampung halaman dengan memulai perjalan dari Jakarta menuju Kuningan Jawa Barat dengan antusiasme 'menjajal' jalan TOL terpanjang. Dari Kuningan perjalanan berlanjut ke Pangandaran. Lusanya perjalanan berlanjut dari Pangandaran ke kampung halaman. Perjalanan panjang itu kami cicil melalui rute jalan yang selalu indah. Jalur Kuningan-Pangandaran adalah jalur yang mangsyikkan mata. Juga ketika dari Pangandaran-Wangon, saya memilih jalur 'pedalaman', yang juga menyejukkan hati. 

Demikian pula dengan lokasi rest area yang selalu ada yang baru dan menawarkan situasi serta makanan yang berbeda. Ini juga menjadi bahan menarik bagi kami untuk 'mengikat' rasa hingga melakukan perjalanan panjang dan jauh adalah sebuah tantangan yang selalu menarik.

Lalu, Hubungan Pulang Kampung dan Perubahan Guru?

Saya memaknainya seperti itu. Teman-teman yang ketika ada hal baru yang harus kami kenakan, juga hal lama yang harus kami tanggalkan, maka filosofi perjalanan ke kampung halaman adalah hal yang menjadi strategi buat saya untuk melakukannya. Tentunya dengan menerapkan pada ranah yang berbeda. 

Ketika sekali waktu saya membuat sebuah program yang lebih mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan siswa, maka untuk kali pertama teman-teman melakukan kegiatan sebagaimana yang kami siapkan bersama. Di beberapa teman yang menyukai tantangan, dan menginginkan percepatan adrenalinnya, maka format kegiatan yang saya buat secara generik akan dibawanya diskusi lanjutan bersama saya. Dan diskusi itu akhirnya membuahkan sebuah kegiatan baru yang lebih segar dan lebih sesuai dengan apa yang diinginkan dan taste teman-teman itu. 

Kegiatan 'baru' ini tentu menjadi bahan diskusi selanjutnya bagi teman kain yang telah melakukan kegiatan generik sebagaimana  yang telah saya susun. Dan ini menjadi benchmark bagi teman-teman yang lain untuk kemudian menjadi tantangan baru di tahun berikutnya. 

Maka tidak mengherankan ketika di tahun berikutnya teman-teman dalam pararel kelas akan membawa kegiatan baru, semangat baru, strategi baru,  dalam mencapai goal yang sama. Dan ketika kegiatan berakhir, dan anak-anak peserta didiknya begitu menikmati dan tertantang akan kegiatan yang telah guru rancang, maka inilah puncak kebahagiaan mereka yang tiada terkira.

Inilah yang saya maksudkan dengan perubahan dengan filosofi perjalanan pulang ke kampung halaman. Akhir dari kegiatan tersebut adalah kebahagiaan tiada terkira. Semoga. 

Jakarta, 11.03.2016.

Menemani 'Perubahan' Guru #3; Efektif dan Efisien

Suatu saat saya harus menyampaikan kepada para Kepala dan Wakil Kepala Sekolah, dan bahkan juga manajemen terkait yang ada di lembaga pendidikan dimana saya diberikan amanah untuk ada di dalamnya, tentang efisiensi. Ini saya lakukan tidak lain karena berkenaan dengan budget yang harus lembaga keluarkan atas kebijakan yang diambil oleh teman-teman tersebut. Dan ini saya sampaikan karena memang beberapa teman yang ada masih perlu dorongan untuk melakukan hal-hal di lapangan yang lebih hemat dan tepat guna. Maka untuk kepentingan itulah saya menyampaikan masukan kepada mereka.

Ini tidak lain karena dari mapping yang ada, yang dorongannya saya dapatkan dari pihak lain di dalam lembaga agar saya melakukan kajian atas data yang mereka sampaikan. Dan karena saya menjadi bagian dari mereka yang diberikan tugas sebagai bagian di pendidikan, maka data berkenaan guru, siswa, dan sarana prasarana pendidikan, menjadi jatah saya. Dan beberapa hal diantaranya adalah 'gemuk'nya guru dibanding dengan kelas dan siswa, serta penggunaan alat pendidikan yang kurang maksimal.

Maka itulah yang saya sampaikan kepada teman-teman agar segera mengambil langkah nyata untuk menjadikan operasional pendidikan yang berada di bawah kendalinya sebagai bagian yang harus menerapkan efisiensi serta memaksimalkan apa yang telah dimiliki sekolah sebagai bagian yang integral bagi peningkatan daya saing guru dalam interaksinya dengan siswa atau peserta didiknya.  

"Tugas guru mengajar Pak Agus, jadi mengapa mereka harus melakukan pengawasan siswa di luar jam mengajar?" Demikian antara lain komentar salah seorang dari teman-teman itu. Saya sesungguhnya kecewa sekali dengan kalimat yang terlanjur keluar itu. Dan lebih kecewa lagi karena kalimat itu disampaikan dan dalam forum oleh teman yang mendapat amanah sebagai bagian dari manajemen di sebuah sekolah swasta. 

Saya mencoba untuk mengendalikan diri dan bersabar dengan mengatur nafas. Mencoba menemukan dan menyusun kalimat yang bagus sehingga teman saya ini, serta teman yanglain menjadi lebih pintar dalam melihat fenomena yang saya sampaikan, tentunya dengan paradigma berfikirnya sekolah swasta di sebuah provinsi yang sekolah negerinya gratis. 

"Baik, kalau di kelas kita setiap pekannya terdapat 42 jam pelajaran atau tatap muka, maka untuk jenjang SMP dengan jumlah rombongan belajar 9 kelas, terdapat 378 jam pelajaran tatap muka. Aritinya, jika mengacu pada aturan sertifikasi tentang jumlah minimal jam tatap muka seorang guru, yaitu 24 jam pelajaran per pekan, maka untuk 9 kelas di SMP kita membutuhkan guru 15, 75 guru. Atau mungkin sekitar lebih kurangnya 18 guru. Atau maksimal mungkin sekitar 20 guru. Namun yang terjadi di SMP kita guru yang ada adalah 30. Ini artinya, masing-masing mereka, dalam rata-rata 13 jam pelajaran tatap muka per pekan. Artinya, kalau jujur, maka tidak akan ada guru di SMP kita yang dana tunjangan sertifikasinya keluar." demikian jawaban saya atas pernyataan teman manajemen. Semua menjadi diam. 

Dan atas diskusi kami pada hari itu, maka sekolah akan diminta untuk melakukan pembagian tugas yang lebih efisien. Juga berkenaan dengan proyektor dan alat peraga lainnya, dimana kami meminta sekali kepada teman-teman untuk menggunakannya semaksimal mungkin. 

Sekali lagi, tidak lain karena kami adalah lembaga pendidikan formal swasta, yang harus mempertahankan diri bagi kelangsungan operasional kami dengan usaha kami sendiri sebagai bagian utamanya. Semoga.

Jakarta, 11 Maret 2016.

10 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #4; Berharganya Sokongan Guru

Mengaktifkan kembali menyongsong dan menyambut kehadiran para peserta didik di halaman sekolah di pagi hari ketika anak-anak turun dari kendaraannya, adalah sebuah hal yang menjadi tantangan pertama bagi teman saya ketika mendapat amanah baru sebagai Kepala Sekolah. Ini karena komunitas sekolah telah lama tidak lagi memiliki kultur yang sebenarnya benar-benar ada dan tertulis di dalam program unggulan sekolah mereka, yang kemudian tidak lagi dijalankan, bahkan oleh Kepala dan Wakil Kepala Sekolahnya. 

Maka melakukan hal yang sebelumnya telah ada, juga bukan menjadi hal yang mudah dan remeh. Ini menjadi hal yang sedikit membutuhkan tekad baja dan strategi bagi menumbuhkan kultur bagus dan teladan di sekolah. Meski sekolah yang teman saya pimpin itu adalah juga sekolah swasta. Sebuah lembaga yang seharusnya mudah berubah karena memiliki kultur bersaing untuk mendapatkan siswa sebagai sumber 'kehidupannya'. Kenyataannya, sudah satu pekan teman saya berdiri di bawah gapura pintu gerbang sekolah yang dibangun para pendahulunya.

"Paling satu minggu Pak Kepsek baru bertahan dengan model barunya. Nanti lama-lama akan seperti kita. Jadi kita menunggu kapan beliau kapok." Komentar seorang guru yang seharusnya, dari ukuran umur dan masa kerjanya di lembaga itu layak menjadi teladan bagi guru lain untuk menjadi guru yang menjadi panutan unggul. Tapi dari komentarnya itu, seolah ia sedang 'mengajak' yang lain untuk tetap apatis dan sekaligus menghasut untuk satu barisan dengannya.

Dan ketika mendengar kalimat itu, serta beberapa kalimat lain yang senada yang disampaikan oleh teman yang lain, maka Kepsek teman saya itu menjadi 'terbakar' semangatnya. Dan semangat yang membara itu membangkitkan motivasi untuk tahan banting. Maka pada sore hari menjelang jam kepulangan, teman saya mengajak 3 Wakil Kepala Sekolah untuk bersamanya mulai besok pagi. Dan mulailah kegiatan itu bergulir dengan 'format' tim yang baru.

Apa dan bagaimana situasi berikut yang terjadi? Beberapa kalimat yang kurang sedap dan melemahkan atas perubahan masih tetap terdengar. Dan tentunya tetap dari guru yang sama. Tetapi teman saya sudah bertekad bulat untuk melakukan perubahan. Sekaligus menyusun data statistik berkenaan dengan penurunan jumlah siswa yang terus menerus di tahun belakangan ini. Dan data ini menjadi pemicu bagi teman saya untuk mengajak teman yang lain bergerak ke arah yang lebih menolong dan melayani siswa di sekolah dan juga di dalam kelas.

"Pak, saya ingin ikut serta menyambut siswa ya. Tapi karena belum ada jadwal, dan jga karena saya tidak enak dengan guru yang lain yang ada di ruang guru sebelum bel masuk berbunyi, sementara saya menyambut siswa di koridor lantai 2 ya Pak." Demikian kata seorang guru yang baru saja bertugas di sekolahnya itu tidak lebih dari emat tahun. Namun karena semangatnya itu, teman saya telah beberapa kali memberinya kesempatan untuk menjalankan tugas tambahan.

Dan tidak kepada guru itu saja sokongan datang. Beberapa guru yang lain diluar ruang rapat memberinya jadwal jam kosongnya untuk mendapat tugas tambahan dari teman saya yang Kepala Sekolah. "Saya sudah benar-benar ingin sekolah kita berubah Pak. Karena saya yakin bahwa kita adalah sekolah yang memiliki banyak potensi untuk mempu bersaing." Kata serang teman guru lain di kesempatan yang berbeda.

Jakarta, 10 Maret 2016.

07 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #2; Tabah dan Tetap Bervisi

"Apa yang menjadi pemikiran Bapak sekarang setelah hampir satu tahun berada pada posisi Kepala Sekolah?" Demikian pertanyaan saya kepada teman yang menginjak perjalanan memasuki semester kedua setelah beliau diangkat sebagai Kepala Sekolah yang baru. Meski harus diakui bahwa jabatannya itu sebenarnya merupakan peningkatan dari jabatan sebelumnya yang ia sandang, yaitu sebagai Wakil Kepala Sekolah. Pertanyaan saya ini memang tidak atau setidaknya belum pernah saya sampaikan ketika ia masih menginjak satu semester di jabatannya yang baru. Karena saya berpikir satu semester untuk seseorang yang menjabat di jabatan yang baru normalnya masih dalam situasi dan kondisi yang kondusif. Maka persoalan yang membutuhkan penanganan lebih dalam dan intern mulai menginjak pada awal semester kedua. Terutama masalah yang berkaitan dengan hubungan antara individu dengan dan antar anggota yang dipimpinnya.
Sebuah komunikasi WA kepada teman.

"So far masih under control Pak. api saya sudah mulai melihat interaksi antar ami di dalam terasa berbeda. Saya merasa ada yang menghalangi ketika saya memulai sebuah percakapan dengan teman-teman." Jawab teman saya terlihat datar. Seperti merasa ada tekanan yang ia usahakan agar tetap kalem. 

Seperti yang pernah saya sampaikan kepadanya suatu saat ketika jabatan itu belum ia terima. Bahwa untuk menjadi pemimpin idaman itu kita semua tahu dimana koordinat yang pas. Mengapa? Karena kita semua adalah bagian sistem yang memang berada di dalam lingkungan yang memiliki pemimpin. Dan dengan demikian, maka semua celoteh teman atau tetangga tentang pemimpin kita, kita merekamnya sebagai harapan tentang sosok pemimpin yang ideal. 

Juga kita sendiri ketika sebagai wakilnya beliau, maka sedikit banyak kita mendapat ilmu dari lingkungan kita tentang harapan-harapan yang bisa jadi itu menjadi harapan yang ideal bagi sosok seorang Kepala Sekolah. Untuk itu maka ketika jabatan itu menjadi amanah untuk kita, layak kalau saya waktu itu menyampaikan bahwa kita faham sosok pemimpin ideal yang memang diperlukan untuk organisasi yang sekarang menjadi amanah tersebut. Artinya, ketika teman saya itu telah disumpah untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di sekolahnya, maka semua yang menjadi konsep tersebut saatnya untuk direalisasikan di lapangan.

"Baiklah kalau begitu Pak. Selamat dan tetap sukses ya. Saya berharap sekali agar Bapak tetap tabah ketika menjalani situasi dan kondisi yang tidak kondusif. Dan juga harus tetap memiliki visi sebagai pemimpin di sebuah lembaga Pendidikan swasta yang harus kompetitif. Selamat." Demikian kata saya mengakiri percakapan kami.

Jakarta, 7 Maret 2016

02 Maret 2016

Menemani 'Perubahan' Guru #1

Dalam beberapa kesempatan ketika bertemu dan berdiskusi dengan teman sejawat, saya selalu mendapat cerita beban berat yang sedang teman-teman usung di masing-masing pundak lembaga yang sekarang sedang menjadi tanggung jawabnya. Memang beban itu tidak ringan, kebalikannya, berat. Dan karena beratnya, maka selalu saya bertanya kepada teman tersebut; "Adakah teman yang mendampingi Anda untuk seia sekata?"

Satu teman ada yang memang memulai perjuangannya bersamaan waktunya dengan teman. Ada yang dia terlebih dahulu yang berada dalam lembaga tersebut, ada juga temannya yang terlebih dahulu kemudian mengajaknya bergabung. Maka dalam tataran sosial yang masih berlaku di masyarakat umum, ada beberapa teman yang lebih senior atau ada juiga yang lebih junior. Tetapi pertanyaan saya di atas membantu teman saya untuk sedikit menyingkirkan realitas senior-junior, tetapi mencoba untuk memberikan analisa akan sebuah kenyataan yang dialaminya.

"Pada awalnya memang saya kesulitan menemukan  teman seirama dalam mengajak teman untuk melihat apa yang sedang terjadi di 'luar'. Karena banyak kendala. Ini tidak lain karena apa yang saya usahakan sebagai orang yang baru bergabung atas amanat yang diberikan kepada saya dari para pengelola di tataran yayasan dipandang sebagai bagian yang akan memberikan gangguan kepada kenyamanan teman-teman yang terlebih dulu sudah berada di lembaga tersebut. Untuk itu maka langkah yang paling awal yang saya lakukan adalah mengajak teman-teman tersebut untuk bisa melihat dengan kaca mata yang jernih apa dan bagaimana lembaga lain sedang berbuat. Lembaga lain itu saya perkenalkan sebagai wahana atau cermin buat kita semua." Begitu teman saya memulai kisahnya. Tentu ini sebuah hal yang tidak mudah ketika dahulu ia memulai berada di lembaga yang diamanatkan kepadanya.

Dan saya menjadi semakin salut akan apa yang telah dijalaninya sehingga ketika sepuluh tahun sesudahnya lembaga tersebut semakin mantap dalam menerapkan kultur atau budaya bersaingnya.

Dalam budaya yang telah dan selalu sedang ia jalani bersama 'segerombolan' teman-temannya di lembaganya itu adalah kepercayaan masyarakat akan lembaga pendidikan itu. Dan sekaligus, bahwa setiap program yang menjadi program tahunan sekolahnya, meski itu menjadi berulang, tetapi bersama teman-temannya selalu ada perluasan dan kedalaman yang selalu berbeda.

"Apa yang menginspirasi atau menyemangati Anda dan teman-teman di sekolah selalu membuat sesuatu yang berbeda dengan apa yang terjadi dan berlangsung di tahun-tahun sebelumnya?" Demikian pertanyaan saya kepadanya disuatu hari yang lalu. Tentu setelah apa yang ia keluhkan tanpa kawan 'seperjuangan' itu berlalu.

"Saya mengajak teman-teman untuk tidak puas atas apa yang kita lakukan tahun lalu. Saya mengajak mereka mencoba lagi sesuatu yang berbeda meski dengan nama yang tetap sama. Dan setelah itu kami lakukan, kami mendapatkan sensasi kebahagiaan yang tiada kira. Maka semangat itulah yang menjadi spririt kami ketika akan membuat rencana terhadap program tahun depan. Selalu ada energi untuk tidak mengulang kegiatan yang persis sama di tahun depan. Meski program kegiatannya tetap sama namanya." Demikian penjelasannya dengan penuh semangat. Saya memahami apa yang menjadi keterangannya itu. Itulah jalan 'perubahan' yang bagi saya sendiri juga membawa nikmat!

Jakarta, 24 Februari-2 Maret 2016.