Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Desember 2011

Catatan di Akhir Tahun 2011

Dalam penghujung tahun 2011 ini, saya mencoba untuk melihat ke belakang tentang apa yang telah menjadi sejarah perjalanan. Tentunya perjalanan saya pribadi yang mendapat amanah untuk mengelola sekolah dan membantu teman-teman untuk memberikan support terhadap pengelolaan lembaga pendidikan. Catatan ini saya maksudkan bukan sekedar untuk mengenang apa yang sudah terjadi dan berlalu, namun saya ingin dengan catatan ini, saya dapat melihat kembali nilai yang tertinggal dari jejak perjalanan itu di kemudian hari. Dan inilah yang saya maksud sebagai pengikat kebermaknaan perjalanan sejarah.

Mngingat perjalanan yang telah lalu tidak bermaksud untuk  mengikatkan diri pada bayang-bayang masa lalu. Namun justru sebaliknya. Dengan melihat sejarah sembari menengok ke belakang akan menjadi kekuatan bagi kita untuk dapat lebih optimal dalam mengarungi masa depan yang lebih baik.  Tentu dengan melihat nilai-nilai positif yang dapat diambil.

Nilai Tambah

Inilah yang kali pertama menjadi niat saya dalam mengemban amanah mengelola sekolah dari pemilik lembaga. Tentu bersama teman-teman yang menjadi komunitas, maka pengembangan secara terus menerus dalam kerangka menambah nilai tambah adalah visi perjalanan kami. Pengibaran bendera 'nilai tambah' ini untuk menghindarkan diri akan jebakan rutinitas. Karena bagi kami dan saya khususnya, ketika rutinitas telah mencengkeram perjalanan kita, maka seluruh perjalanan atau setidaknya sebagian besar darinya akan terkooptasi. Dan ini harus secara sadar dihindari.

Bagaimana melahirkan nilai tambah yang terus menerus kami nantikan itu? Tidak lain adalah dengan menyambung silaturahim dengan sesama teman atau juga sesama lembaga yang berkecimpung di area yang sama. Silaturahim dapat kami jalani melalui teknologi yang dapat kita gunakan sehari-hari seperti internet, atau juga kunjungan. 

Dengan tetap dan terus menyambung silaturahim, kita akan selalu terperanggah dengan apa yang telah dan sedang dilakukan teman seperjalanan kita. Dan peristiwa seperti ini sering sekali akan membuat kita terinspirasi untuk mencoba atau untuk napak tilas. Meski dengan terhuyung kala menapaki perjalanan teman itu, namun itulah proses pembelajaran yang harus ditempuh oleh siapa saja yang menginginkan penambahan nilai.

Tantangan 2012

Banyak hal yang menjadi tantangan dalam perjalanan saya. Namun dari sekian banyak tentangan yang berawal dari hambatan tersebut, secara esensi saya menemukan bahwa simpulnya berada di dalam diri saya sendiri. Hambatan dan tantangan itu memang ada yang dikontribusikan oleh pihak eksternal namun semuanya bermuara dari dalam diri sendiri.

Karena sesungguhnya ada beberapa rencana yang sudah saya tuangkan dalam tulisan, konseptual, yang apik bukan kepalang, namun pada saat operasionalisasi semua itu tumpul. Bahkan ada diantaranya yang mati sebelum tahap mencoba dimulai. Maka pada saat perenungan seperti sekarang ini saya melihat kerapuhan daya juang yang menjadi hambatannya. Oleh karena itu apakah jujur jika saya melempar itu semua kepada pihak lain? 

Dan saya terus berharap di tahun 2012, adalah tahun keberanian. Yaitu berani untuk mencoba setelah berani membuat konsep dalam bentuk tulisan. Dan sebelum menjadi berani mencoba, semoga saya lebih dahulu berani mengkomunikasikan kepada teman sekomponen. Karena dengan berani berkomunikasi, maka konsep telah menjadi sosialisasi, dan ketika konsep telah tersosialisasi maka itu berarti keberanian melangkah secara bersama dapat segera menjadi realita.

Maka dalam artikel ini, saya bermohon agar Tuhan selalu memberikan kepada saya dan teman-teman, kami, kekuatan, kemudahan dan keberkahan. Amin. Dan 2012, masa depan, adalah sebuah panorama cakrawala yang memberikan pilihan penglihatan dari Yang Maha Segala...

Jakarta, 30-31 Desember 2011  .

30 Desember 2011

Cara Pandang dan Kebersyukuran

Berkenaan dengan judul artikel di atas, saya memiliki dua  buah cerita yang merupakan laporan pandangan mata guru tentang bagaimana kebersyukuran terhadap apa yang selama ini didapat dalam ranah kehidupan masing-masing pelapornya. Hal ini penting saya sampaikan dalam blog ini mengingat inilah kisah orisinil teman-teman kita yang berprofesi sebagai guru. Yang tidak semuanya melihatnya sebagai pengembanan amanah keguruannya secara total dan paripurna, sehingga dengannya yang keluar adalah aura keikhlasan dan kepositifan. Namun sebaliknya, ada pula yang melihat bahwa ikhtiarnya dalam menunaikan tugas keguruannya sebatas untuk menghitung hasil kerja di amplop akhir bulannya. Dua cara pandang itulah yang saya maksudkan. Dan terlihat betapa pentingnya bagi kita untuk diambil pelajaran.

Cara Pandang Pertama

Pengalaman pertama adalah laporan pandangan mata, atau lebih tepatnya kalau kita sebut sebagai testimoni. Dikatakannya bahwa selama ini Ia nyaris tidak cukup mendapatkan apa yang seharusnya didapatnya. 

Apalagi bila apa yang telah didapatnya selama ini ada dua bagian penting. Yang pertama adalah gaji resmi dari  tempatnya bekerja. Sedangkan selain gaji tersebut, ia masih  mendapat penghasilan yang tidak dapat dikatakan kecil untuk ukuran dia.  Penghasilan tersebut memungkinkannya untuk tinggal di rumah sendiri, yang meski tidak luas, tetapi tidak juga kecil. Bahkan tempat tinggalnya itu masih berada di wilayah Jakarta,  meski berada di sebuah kelurahan yang berlokasi  di perbatasan dengan wilayah Jawa Barat, tetapi sekali lagi, semua itu telah menjadi miliknya sendiri. Tentunya dibayar tidak secara cash, atau cash keras. Namun dengan cara mencicil dan bertahap.

Jadi untuk mendapatkan tambahan penghasilan tersebut, selama ini Ia harus berupaya bekerja dengan lebih keras, dengan cara memberi pelajaran tambahan untuk para siswanya di rumah mereka masing-masing. Kegiatan ini dilakukan setiap hari mulai dari setelah jam pulang sekolah hingga hari menjelang malam. Kegiatan tambahan inilah yang membuatnya eksis.

Dan dihadapan teman dan kenalannya, Ia sering mengatakan bahwa apa yang didapatnya dari lembaga tempatnya bekerja tidaklah cukup layak untuk dapat memiliki rumah. Walau ia telah menjadi bagian dari lembaganya itu sudah lima belas tahun. Bahkan kadang keluar dari lisannya pendapat atau boleh jadi umpatan kalau  apa yang ia dapat bukan dari tempatnya bekerja. Karena gaji dimana ia bekerja masih belum mencukupi kehidupannya secara layak. 

Dalam hal ini, Ia tidak bisa atau belum mampu menyadari bahwa kalu pendapatan dari mengajar tambahan kepada siswanya itu karena ia adalah bagian dari lembaga dimana ia  berada  didalamnya selama ini sebagai guru.

Cara Pandang Kedua

Adalah pengakuan atau testimoni oleh orang kedua yang juga ternyata adalah guru senior di lembaga dimana ia mengajar di tingkat SD. Yang melihat apa yang dia peroleh dengan cara pandang sangat berbeda. Saat bertemu dengan saya beberapa waktu lalu ia berkata: Saya bersyukur Pak dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepada kami sekeluarga. Perabot rumah ini banyak yang saya buat sendiri dari bahan kayu yang diizinkan sekolah untuk saya bawa pulang. Alhamdulillah semua dapat dimudahkan hingga menjadi seperti ini

Saya terperanggah dengan apa yang secara jujur disampaikannya. Tidak ada ketidakpuasan dengan apa yang dia terima dari lembaga dimana ia bekerja. Dia rupanya merasa nyaman dan cukup dengan apa yang ia terima di setiap akhir bulan. Padahal saya paham sebenar-benarnya bahwa, ia hidup di Jakarta dengan istri tinggal di rumah. Namun apa yang ia sampaikan itu, menggugah dan menginspirasi saya. Mengapa ia bisa mengatakan justru yang sebaliknya dengan apa yang dikatakan oleh teman yang pertama? 

Itulah dua cara pandang dan kesyukuran yang saling mengisi dalam kehidupan ini. Sebuah cermin bagi diri kita. Dan saya percaya bahwa dua cara pandang tersebut adalah cara pandang yang sah. Namun apabila saya diminta memilih, maka cara pandang kedua adalah pilihan yang akan saya ambil. Mengapa? Karena jika saya merasa tidak puas dengan apa yang diberikan lembaga dimana saya bekerja, maka mencari pekerjaan baru adalah pilihan berikutnya. Tentu jika kita mengukur jika diri kita masih dapat memilih untuk bekerja dimana dan dengan penghasilan berapa?

Pare, Kediri - Jakarta, 25-30 Desember 2011.

Refleksi Belajar Bahasa dari Pare

Adakah sesuatu yang bermanfaat dan positif yang saya dapatkan dari pengalaman belajar bahasa di Pare, Kediri? Tentunya selain untuk saya sendiri yang delapan tahun tidak lagi 'bergaul' akrab dengan bahasa itu? Menjawab dengan sangat tegas; Ada! Dan berikut inilah yang menjadi beberapa catatan saya, yang juga adalah refleksi saya sendiri dengan keikutsertaan saya mengikuti kegiatan dimaksud. Meski singkat, karena hanya 17 sesi kelas yang  saya ikuti selama empat hari tinggal di Pare.

Refleksi Itu
Pertama; Saya menyadari bahwa Pare, dimana lokasi banyak kursus itu berada, adalah tempat yang sudah menjelma sebagai lokasi yang  kondusif dan komprehensif dalam belajar bahasa Inggris?

Karena semua unsur lingkungan dalam belajar relatif terpenuhi. Unsur itu adalah; Motivasi diri dari para tamunya. Bahwa semua orang pergi ke Pare adalah dalam rangka belajar berbahasa. Situasi. Karena semua yang datang dalam kerangka belajar, maka otomatis membentuk lingkungan dan situasi belajar menjadi jauh lebih kondusif. Sumber belajar. Sumber belajar bahasa Inggris relatif tersedia melimpah. Ada guru, ada teman, ada tetangga, ada buku. Perlu saya berikan garis bawah berkenaan dengan sumber belajar ini jika memang sehari-hari kita hidup relatif tidak berdampingan dengan native yang berbahasa ibu Bahasa Inggris.

Kedua; Metode Belajar. Semua metode yang digunakan adalah metode yang membangkitkan motivasi dan membangkitkan keterampilan berbahasa secara aktif. Yaitu keterampilan berbicara dan berkomunikasi. Metode yang dipakai antara lain adalah; diskusi, presentasi, bermain peran, menyanyi, dan ceramah.

Ketiga; melihat itu, maka pertanyaan kita berikutnya adalah; Apakah metode tersebut cocok di terapkan di sekolah kita? Bagi saya, jawabannya adalah cocok-cocok saja. Hanya menurut saya, kita harus merefitalisasi dan optimalisasi sistem penilaian kita terhadap hasil belajar siswa. Karena jika hasil belajar yang diminta atau dituntut adalah keterampilan pasif dalam berbahasa, maka tes hasil belajar siswa adalah tes obyektif sebagaimana yang sekarang ini kita gunakan. Dengan demikian, maka model belajar di Pare tersebut kurang mendukung. Test yang harus kita gunakan dengan model belajar sebagaimana yag terjadi di Pare tersebut, harus berupa; presentasi, dramatisasi teks, menulis karangan, retelling (lisan/tulis). Meski objectif test sebagaimana selama ini kita gunakan tetap dapat dipakai.

Bagaimana?

Sekedar ide saja, mungkin boleh saya sampaikan disini. Bahwa untuk menuju ke arah seperti itu, maka beberapa hal berikut dapat kita lakukan. Pertama: Kemampuan berbahasa harus dipraktekkan. Oleh karena itu maka praktek berbahasa harus menjadi fokus kita berikutnya. Praktek berbahasa dapat dalam bentuk kelompok study atau hari berbahasa, sebagamana yang telah terjadi di beberapa tempat pendidikan atau sekolah. Selain tentunya adanya tutorial berbahasa dari nara sumber yang kompeten dalam berbahasa.

Kedua; Memberikan pengayaan kepada guru bahasa, baik Inggris atau Bahasa Indonesia, dengan metode belajar yang membuat siswa aktif. Seperti diskusi, bermain peran, retelling dalam bentuk lisan atau tulis dalam bentuk prakteknya. Namun tetap dengan manajemen kelas yang baik.

Ketiga; Secara reguler, enam bulanan barangkali, dengan menyesuaikan dana yang tersedia di sekolah masing-masing, kita harus melaksanakan program belajar semacam ini kepada guru-guru non Bahasa Inggris. Tentunya menggunakan skala prioritas. Misalnya dengan guru yang telah memiliki kosa kata yang cukup dan motivasi untuk mengembangkan diri dalam berbahasa Inggris.

Keempat; Kita juga harus memperhatikan kecakapan dan kompetensi berbahasnya untuk semua guru Bahasa Inggris. Baik kemampuan akademiknya dan juga kemampuan paedagoginya.

Kelima; Memberikan sumber belajar dalam bentuk buku. Harus ada tambahan buku-buku cerita berbahasa Inggris tersedia di sekolah-sekolah. Baik untuk guru dan siswa. Seperti cerita klasik berbahasa inggris. Dan yang lebih penting dari ketersediaan buku ini adalah, membangun semangat guru untuk mampu 'menikmati' buku-buku cerita tersebut sebelum memberikan inspirasi kepada para peserta didiknya di kelas. Allahua'lam bi shawab. Semoga bermanfaat. Amin.

Pare, Kediri-Jakarta, 28-30 Desember 2011.

Keberkahan Sebuah Kursus

Siapa yang tidak kenal dengan kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur, yang marak dengan pemberdayaan insaninya, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Inggris? Kalaupun tidak semua orang tahu, tetapi hampir sebagian yang tinggal di provinsi tersebut mengenalnya. Atau setidaknya apa yang saya lihat diujung Desember tahun 2011, sebuah desa yang ada di kecamatan tersebut telah menjadi sebuah lembaga besar yang mampu memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan keterampilan berbahasa kepada para tamu-tamunya yang rela menjadi pelajarnya. Sebuah desa yang pada waktu tertentu harus menampung belasan ribu tamu yang menjadi peserta didiknya, dalam waktu bersamaan. Utamanya pada saat liburan sekolah.

Desa yang telah menjadi penyedia seratus lebih lembaga kursus berbahasa Inggris. Yang juga menjadi wahana bagi para pendatangnya untuk menyebarkan riskynya dalam rangka pemenuhan akomodasi selama bermukim di lokasi tersebut. Sedikit ataupun banyak, mereka adalah penggerak ekonomi rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya, dalam realitas hidup yang senyata-nyatanya.

Bahkan bukan saja akomodasi yang perlu mereka penuhi, tetapi juga alat dan keperluan belajar, alat transportasi yang memudahkan para tamu tersebut saat melihat suasana desa dalam bentuk sepeda, termasuk juga adalah jajanan dan oleh-oleh atau cindera mata, serta makanan khas mereka pecel. Termasuk didalamnya adalah rumah-rumah khos yang layak disebut juga losmen.

Dan semua itu adalah sebuah bentuk nyata dari keberkahan. Bahwa yang menikmati keberadaan desa tersebut sebagai kampung Inggris adalah hampir semua orang yang menjadi penduduk yang ada di sekitar kecamatan Pare.

Keberkahan atas Keberadaannya

Saya perlu sampaikan disini bahwa kebersdaannya wilayah tersebut dengan sekian pendatangnya dengan tujuan untuk belajar, adalah sebuah bentuk perjuangan yang panjang. Perjuangan yang antara lain dialami oleh Pak Farid, salah satu dari pemilik kursus yang ada di desa Tulungrejo. Sebagai pendatang, yang semula adalah salah satu pengajar di tempat kursus tertua di daerah itu, yang kali pertama mendirikan lembaga kursus pada tahun 2000, mengalami berbagai bentuk hambatan sebelum akhirnya lembaganya mampu memberikan kontribusi ekonomi bagi penduduk di sekitarnya. Sebuah bentuk perjuangan degan hambatan yang tidak sedikit. Namun semua bentuk perjuangan itu, sekarang yang tampak hanyalah keberkahan bagi kampungnya dari cipratan rizky yang ditebarkan oleh para tamunya, yang tidak lain adalah pelajar-pelajar di lembaga kursusnya.

Dari kacamata saya yang menjadi salah satu dari tamunya, hanya berharap semoga orang-orang yang berada di luar dapat melihat realitas tersebut dengan kacamata yang utuh. Semoga.

Pare, Kediri-Jakarta, 28-30 Desember 2011.

Jajanan di Pare, Kediri

Selama empat hari saya mendapat kesempatan bersama teman-teman baik saya yang selalu bersemangat belajar, untuk tinggal di dusun Mulyoasri desa Tulungrejo, kecamatan Pare kabupaten Kediri, Jawa Timur, dalam rangka untuk  belajar. Sebuah tempat yang baru kali pertama saya jejaki, meski mendengarnya telah berulang kali. Itulah sebabnya sehingga saya benar-benar gembira dan bersemangat dalam menjalani perjalanan belajar, yang terlalu singkat untuk ukuran belajar bahasa tersebut.

Pada hari Minggu pagi saya bersama rombongan lengkap yang terdiri dari 15 orang telah berada di pelataran stasiun kereta api kota Kediri. Dengan tiga armada minibus, kami sampai di desa yang kami tuju. Tak banyak hal menarik untuk kali pertama saya menjejalkan kaki di desa itu. Selain banyaknya anak-anak untuk sebuah kampung. Dan anehnya, dari kaos yang dikenakan sebagai seragamnya, mereka datang dari luar kota yang jauh. Ada dari Ponorogo, kota yang dekat dari Kediri, tetapi ada juga dari Bogor, dari Kerawang, dan yang paling jauh dari Berau, Kalimantan. 
Namun semangat dan girah sebuah daerah itu benar-benar saya tangakap sejak adzan subuh berkumandang pada pukul 03.50! Musola tempat berkumpulnya anak-anak itu dan kami terasa terlalu sempit untuk dapat menampung. Apalagi ketika matahari pagi telah mulai memberikan nuansa terangnya ketika jam tangan masih menunjukkan pukul 04.15. Dan saya bersama teman telah berjalan lebih kurang 3 kilometer dari lokasi kami berada di musola tadi. Dari sepanjang perjalanan, kami telah menemukan beberapa warung yang telah buka di dini hari itu. Dan anehnya, hampir semua warung kaki lima itu menjajakan makanan kecil khas mereka, pecel.

Pecel

Inilah makanan khas yang kami santap di waktu pagi itu. Bagaimana rasanya? Saya sulit untuk dapat mendiskrepsikannya. Karena bagi saya, makanan hanya ada dua jenis citarasa. Yaitu makanan yang enak dan uenak. Itu saja. Namun saya pagi itu makan dua (2) pincuk pecel dengan nasi satu porsi. Plus minum wedang jahe yang terasa pedas hingga kerongkongan.

 Dan pada hari-hari berikutnya, saya mendapatkan kesan yang sangat kuat bahwa, pecel adalah jajanan yang paling favorit di daerah itu. Apakah pagi, siang hari, atau bahkan malam hari, jajanan yang bernama pecel ini selalu saja ada pembelinya.  
Apakah Pecel Saja?

Tampaknya tidak. Ada beberapa hal menarik yang dapat saya catat di sini. Misalnya tahu kuning, dan juga minuman kuno seperti temulawak dan  coffee beer, dan juga gethuk pisang seperti gambar berikut ini. 



Coffee Beer dari Ngoro, Jombang. Jangan kawatir akan mabuk setelah mengonsumsi minuman ini. Minuman ini mengingatkan saya dengan jenis minuman Sarsaparila, yang saya bisa dapatkan di tempat-tempat tertentu di Yogyakarta.






Juga dari Ngoro, Jombang. Minuman yang lagi-lagi mengingatkan saya kepada minuman khas Betawi, Bir Plethok.

Adalah gethuk pisang. Susunan paketnya unik. Juga rasa dari pisang yang telah menjadi gethuk ini.


Pare, Kediri-Jakarta,  28-30 Desember 2011

29 Desember 2011

Jadul Tapi Tetap Kompetitif

Bagaimanakah kita mempertahankan ke'jadul'an tetapi tetap eksis dalam arena kompetisi? Ini menjadi pemikiran saya ketika saya berkunjung untuk beberapa hari di Pare, Kediri, Jawa Timur, dan menemukan fenomena jadul plus kompetitif. Jadi dua hal yang terasa sulit menjadi sesuatu yang benar-benar hidup dalam kehidupan sekarang ini. Yaitu jadul tetapi kompetitif. Nah, dalam artikel singkat ini, saya ingin menyampaikan kepada kita semua. Setidaknya ini adalah realitas yang darinya, saya mendapatkan sesuatu yang dapat saya bagikan disini.

Tetap Jadul

Ketika kita melihat kertas yang saya tampilkan di bawah ini, segera kita tahu dan dapat menangkap protipe serta model jualan yang ditawarkan. Pasti kesan jadul dan apa adanya terlihat jelas. Ini adalah kertas yang saya dapatkan dari penjaga sebuah pabrik tahu kuning di kota Pare, Kediri. Saat saya datang untuk kedua kalinya, karena saat pertama kali saya datang, sekitar pukul 06.00, penjaga tersebut mengatakan kepada kami untuk datang nanti pukul 08.00. "Produksi kedua kami akan keluar nanti jam delapan". Katanya ketika tidak kami dapati lagi tahu kuning yang akan kami bei untuk kami pamerkan kepada teman-teman kami yang ada di Kampung Inggris, di desa Tulungrejo, Pare, Kediri.

Kami pantas memamerkan tahu kuning ini, karena selain semua teman kami hampir belum pernah merasakan keenakan dari tahu yang meski masih mentah, baru keluar dari pabrik, tapi sudah terasa gurih.

Dan karena penasaran tidak mendapatkan tahu yang kami inginkan pada kedatangan pertama kali itu, maka esok harinya kami datang lagi dengan maksud akan memesan untuk dibawa pulang. Kedatangan kami yang kedua sekitar pukul 13.00. Penjaga menuliskan pesanan saya di balik kertas yag tampak pada gambar itu. Tentu tetap dengan tulis tangan. Dan tampaknya tulisan tangan dari orang yang sama.

Dan selain memesan untuk saya bawa pulang ke Jakarta, saya juga bermaksud untuk membeli barang sedikit. Sekali untuk diberikan kepada teman-teman yang masih sibuk belajar Bahasa  Inggris, guna mencicipi. Siapa tahu mereka nantinya tertarik dan kemudian meniru saya membeli tahu itu sebagai oleh-oleh ke Jakarta. Namun sekali lagi, tahu habis. " Di dua agen yang ada di Kediri juga sudah habis mas. Tadi kita sudah telepon. Nanti produksi berkutnya jam 14.00 jadi Mas". Jelas penjaga tersebut.

Kami akhirnya melanjutkan perjalanan dan membeli tahu kuning dengan merk yang berbeda di salah satu toko oleh-oleh, yang lokasinya lebih kurang 300 meter dari pabrik Tahu Kuning Kiet itu. Dengan tambahan cabe, tahu itu saya hidangkan kepada teman-teman. Benar saja, setelah mereka mencicipi, mereka terperanggah karena enaknya tahu itu. Mungkin kali pertama mereka semua menikmati tahu kuning seperti itu.

Beruntung, pada kedatangan saya yang kali ketiga, pada hari berikutnya sekitar pukul 15.00, tahu pesanan saya telah rapi dibungkus. Dan saya masih sempat membelikan 4 potong tahu untuk kemudian saya sajikan kepada teman. Mereka mengakui kalau tersebut jauh lebih enak dan gurih dari tahu kuning sebelumnya. Dan mereka beramai-ramai memutuskan untuk memesannya sebagai oleh-oleh.

Kompetitif

Disinilah yang menjadi titik perhatian saya. Mengapa tahu itu, meski kemasannya jauh dari sentuhan komputer dan bahkan sablon sekalipun, tetapi tetap dicari orang? Tidak bisa tidak, itu karena cita rasa dan kualitas yang tetap menjadi standarnya. Oleh karenanya meski merek dan segala rupa tetap dalam kemasan dan tongkrongan jadul, tetapi karena kualitasnya lebih baik dari kompetitor lainnya, maka meski tiga kali produksi dalam satu hari, tahu itu tetap ludes.

Kenyataan ini membelajarkan pada diri saya tentang bagaimana mengelola amanah yang diberikan oleh yayasan dalam mengelola lembaga pendidikan. Sebuah pelajaran yang menegaskan kembali bahwa, tugas selalu tidak pernah selesai. Karena mengejar kualitas berarti adalah pengembangan diri insani yang menjadi soko guru dalam sebuah organisasi yang bernama sekolah. Itulah pelajaran yang saya dapat dari tahu kuning di jalan Mastrip itu. Terima kasih.

Pare, Kediri-Jakarta, 28-30 Desember 2011.

24 Desember 2011

Konser Musik 2011

Untuk kali yang kesekian, dengan semangat yang selalu tidak mau kalah dengan seniornya, anak-anak OSIS SMP di mana saya berkiprah di lembaga pendidikan swasta, menyelenggarakan sebuah Konser Musik di halaman sekolah. Sebuah kegiatan yang sesungguhnya tidak murah dengan ikhtiar yang juga tidak mudah. Dulu para senior mereka telah berhasil mendatangkan bintang panggung di dunia musik antara lain adalah RAN, The Dance Company, Tompi, dan sekarang mereka menampilkan tiga penampil yaitu; Maliq and D'essentials, biduanita Raisa, dan Adera. Masih ada beberapa penampil tambahan dalam panggung yang didirikan di tengah lapangan serba guna kami itu. Mereka tentunya adalah para alumni, yang adalah juga para senior mereka sendiri. 

Bersama Raisa dn pejabat di sekolah saya. Dari kiri ke kanan; Ibu Anik, Ibu Sri, dan yang paling kanan adalah Ibu Nelly, ketua POMG SMP Islam Tugasku.


Bersama Adera, yang merupakan putra dari Ebiet GAD.

Jakarta, 24 Desember 2011.

20 Desember 2011

Apakah Membayar Uang Sekolah Menjadi Prioritas?

Sedikit konyol judul artikel saya ini. Apa menariknya pembayaran uang sekolah menjadi sebuah artikel? Apa pula prioritas yang dimaksudkan? Apakah tulisan ini nantinya tidak sekedar menjadi curahan hati? Atau mungkin saya memiliki maksud dan tujuan tersembunyi dari apa yang saya kemukakan ini? Semua bisa benar. Namun justru dengan tulisan ini saya ingin mengajak kita smua untuk melihat betapa dunia kita telah bergesar. Tentunya bergeser ke arah yang lebih sadar, lebih pintar, lebih dewasa, dan paling pas bergesar ke yang lebih baik. Amin.

Lebih Sadar

Minimal inilah yang saya paling rasakan dengan kelebihan tersebut. Bahwa masyarakat sekarang ini semakin sadar aka haknya terhadap kesempatan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah. Dan pemerintahpun dengan sekuat tenaga, saya yakin sekali bagaimana kuatnya usaha pemerintah itu, setidaknya bagaimana anggaran pendidikan yang memenuhi kuota 20 % dari angaran pemerintah setiap tahunnya, telah memberikan kebebasan biaya untuk siswa di pendidikan tingkat dasar. Dan bahkan di beberapa daerah, dengan kekuatan APBD dan kemauan politik penguasa daerahnya kebebasan biaya pendidikan tidak saja di tingkat pendidikan dasar, tetapi hingga pendidikan menengah. 

Kesadaran akan kesempatan pendidikan ini menggejala di kota-kota besar utamanya. Hingga melahirkan sikap kritis masyarakat untuk ikut mengawasi pembiayaan pendidikan yang terjadi di sekolah putra-putrinya. Kesadaran ini juga membuat masyarakat pengemban lembaga pendidikan atau juga penyelenggarakan lembaga pendidikan untuk benar-benar mahir dan transparan dalam mengelola dana masyarakat tersebut. 

Sekolah Swasta

Bagaimana dengan lembaga pendidikan swasta yang sumber pendanaan dari semua keberlangsungan lembaga tersebut kadang 100 persennya adalah dana dari masyarakat? Meski berbeda cara pandangnya, menurut saya, dalam tataran konseptualnya nyaris mirip. Perbedaan cara pandang misalnya adalah sumber dana. Sekolah negeri menggunakan sumber dana dari APBD dan APBN, dan sangat boleh jadi ada pula beberapa rupiahnya merupakan sumber dana dari masyarakat. Sedang pada sekolah swasta, nyaris 100 persen sumber dana dari masyarakat. Dan karenanya, maka dan yang keluar saat kali pertama sekolah itu berdiri, merupakan talangan dari owner sekolah bersangkutan. Atau, meski dana tersebut adalah dana dari pihak perbankan, maka selalu ada pribadi-pribadi yang menjadi penjamin bagi keberadaan dana tersebut. Juga pada pengelolaan hingga kepada pelaporannya.

Lalu apa kaitannya dengan membayar uang sekolah sebagai prioritas? Adakah kaitannya dengan apa yang telah saya kemukakan di atas?

Disinilah saya bermaksud mengaitkannya. Dimana kala kita bersekolah dahulu, tanpa melihat apakah sekolah negeri atau sekolah swasta, karena zaman saya dahulu sekolah di tahun 1980-an, lembaga penyelenggara sekolah tersebut sama-sama mengeluarkan biaya pendidikan.  Maka dengan demikian, terdapat kaitannya dengan zaman sekarang ini, jika putra-putri kita bersekolah di sekolah yang mengharuskan kita memberikan uang pembayaran sekolah. Dan disinilah saya ingin memperbandingkan cara pandang kita, atau setidaknya orangtua saya dengan sebagian masyarakat kita sekarang dalam melihat dana keluarga yang diperuntukkan sebagai pembayaran uang sekolah.

Membayar Uang Sekolah Menjadi Prioritas?

Dalam kaca mata orangtua saya yang petani, yang hidup di salah satu desa di kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mengalokasikan pendapatannya untuk membayar uang sekolah anak-anaknya adalah  prioritas keluarga. Gambaran ini sangat dapat saya lihat dan alami pada waktu itu. Misalnya jika orangtua saya memperoleh rezki dari panen buah kelapa yang satu butirnya seharga Rp 50,00 pada waktu itu (ongkos naik angkutan umum saya Rp. 15,00 sekai jalan), maka bagian paling pertama yang mereka sisihkan dari penghasilannya itu adalah untuk kami, untuk membayar uang sekolah. Tentang beras, kami memilikinya tanpa harus membeli. Juga tentang sayur yag dimasak mamak untuk menemani nasi. 

Maka alokasi untuk membeli pakaian, sebagai pengganti pakaian seragam putih kami yang kadang telah dihingapi jamur keringat, tidak menjadi prioritas bulanan kami. Apa lagi untuk hal-hal yang berada diluar kebutuhan primer lainnya. Atau barangkali karena keadaan ekonomi yang mepet maka kemudian orangtua saya bersikap sedemikian rupa terhadap alokasi anggaran rumah tangganya? Allahua'lam.

Lalu bagaimana dengan sebagian masyarakat sekarang ini? Terutama sebagian kecil masyarakat di sekolah yang memiliki track record sebagai pembayar uang sekolah yang seret? Ya kadang memprihatinkan. Karena ada diantara mereka yang saya lihat dengan mata kepala  saya sendiri, menurunkan putra-putrinya di halaman sekolah dari kendaraan Alpardnya, tetapi ketika saya diminta untuk menandatangani surat konfirmasi tentang keterlambatan pembayaran  uang sekolah, maka saya menemukan salah satunya ada nama anak  tersebut? Mungkinkah harus terlambat membayar uang sekolah hingga berbulan-bulan sementara pergi pulang sekolah dengan kendaraan Alpard dan supir pribadi?

Atau kisah teman saya yang memergoki salah seorang yang juga terlambat membayar uang sekolah anaknya di tempat minum kopi mahal di sebuah mall yang ramai di samping jalan tol JORR di wilayah Cilandak? Atau kisah teman saya yang lain yang sama-sama antri untuk pemesanan safety box di sebuah bank swasta yang ternyata adalah yang anaknya masih belum memperoleh surat mengikuti ujian akhir semester di sekolahnya? Allahua'lam.  

Martabat dan Harga Diri

Namun dari sepenggal kisah ini, saya belajar bagaimana tetap meniru apa yang orangtua saya lakukan ketika mengalokasikan uang pendapatannya untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya tetap sebagai hal yang utama dan pertama. Sebagai sesuatu yang prioritas dilain kebutuhan keluarga atau pribadi yang lainnya. Karena saya berpendapat bahwa, hanya dengan cara-cara terhormat saja maka martabat dan harga diri kita di mata masyarakat dapat kita dapatkan. Semoga. Amin.

Jakarta, 20-21 Desember 2011.

17 Desember 2011

Mata Pelajaran Budi Pekerti

Ada satu hal yang mengusik saya pada awal pekan lalu berkenaan dengan budi pekerti. Yaitu sebuah gagasan 'melahirkan' budi pekerti sebagai mata pelajaran intrakurikuler. Pemikiran dan gagasan ini muncul dan lahir setelah bertubi-tubinya masukan dari berbagai pihak, khususnya yang belum memiliki anak usia SMP, bahwa perlu tambahan pelajaran sopan santun di siswa SMP. Dan masukan itu memunculkan gagasan akan dilahirkannya mata pelajaran budi pekerti. Tentu ini tidak berlaku di lembaga Anda. Karena ini khas masalah kami, yang menyelenggarakan pendidikan satu atap dari  jenjang pendidikan Kelompok Bermain (KB) hingga jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Dimana masalah yang selalu lahir adalah ketidakyakinanan akan keberlanjutan sistem pendidikan kami dari jenjang pendidikan terendah hingga jenjang pendidikan tertinggi dilembaga yang menjadi tanggung jawab kami. 

Banyak hal yang dapat saya kemukakan mengapa fenomena itu terjadi. Namun saya tidak ingin mengatakannya di sini dalam artikel ini. Karena terus terang, saya sangat tidak ingin mengatakan sesuatu yang pada ujungnya akan dianggap sebagai argumentasi pembelaan. Itulah maka saya hanya menyampaikan argumentasi dan asumsi dalam forum-forum stakeholder.

Namun satu hal yang perlu saya kemukakan disini bahwa, banyk masih yang melihat sesuatu dan kemudian memutuskan sesuatu  setelah memperoleh informasi saya satu atau mungkin juga dua sisi. Dan sisi-sisi tersebut telah diasumsikan sebagai apa yang sesungguhnya terjadi atau sebagai fakta yangsesungguhnya. Memang dari sisi yang telah dilihat tersebut merupakan kebanaran yang dapat membuat kesimpulannya benar. Tetapi tidak jarang sisi-sisi yang dilihat masih membutuhkan tambahan penglihatan dari sisi yang lain lagi. Nah kesabaran kita untuk benar-benar mengumpulkan informasi dan fakta dengan selengkap-lengkapnya inilah yang mungkin harus menjadi budaya kita sebelum kesimpulan kita bukukan. kesabaran untuk melihat seawas-awasnya tersebut sebagai modal dasar bagi kita dalam memperoleh hasil akhir sebuah kesimpulan yang holistik.

Mata Pelajaran

Dan dengan menduga akan lemahnya argumentasi akan adanya sikap tidak sopan yang dipertontonkan remaja tersebutlah, maka saya melihat kalau usulan dan gagasan untuk adanya mata pelajaran budi pekerti itu, saya sungguh tidak merasa yakin sebagai jalan keluarnya. Karena saya tidak melihat bahwa penyebab atau sumber ketidaksopanan remaja itu dari tiadanya pengetahuan mereka terhadap budi pekerti.  Karena saya kawatir sekali ketika budi perkerti telah menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri dengan seorang guru yang menjadi tenaga pengajarnya, maka ia hanya akan berkutat kepada sisi kognisi dengan tanpa akar yang membuat mata pelajaran itu sendiri kering bahkan gersang.

Itulah nasib beberapa mata pelajaran yang selama ini ada. Sebuah mata pelajaran yang pada akhirnya hanya berisi kompetensi dasar dengan berbasis hanya kepada kognitif siswa. Dan dalam kondisi demiian, dengan meminjam istilah dari Thomas Lickona, maka fungsi guru baru sampai kepada apa yang disebutnya sebagai ethical mentor. Sebagai pengajar. 

Dan budi perkerti sebagai mata pelajaran, yang kemudian menjebak guru hanya berhenti sampai dengan sebagai pengajar, maka kita terseret arus untuk menjadi lupa pada tugas mulia guru yang lainnya, yaitu guru sebagai care giver dan model. 

Untuk itulah, maka saya berharap sangat agar kita semua memberikan nyawa dan ruh kepada semua mata pelajaran yang ada di sekolah kita dengan budi perkerti. Dan ini justru, menurut saya, sebagai tantangan kita untuk bergerak menaiki tangga kemuliaan dimana selain sebagai ethical mentor, juga sebagai care giver, dan juga model. Inilah pendidik!

Jakarta, 17-19  Desember 2011.

15 Desember 2011

Belajar 'Mundur' dari RD

Dalam sebuah catatan pojoknya, Kompas, 15 Desember 2011, dituliskan: Pelatih bola Rahmad Darmawan mundur karena merasa gagal. Contoh tuh, gagal bukannya malah bercokol dan mencalonkan diri!

Saat memegang komputer ini, saya berpikir dengan apa yang dikemukakan oleh catatan pojok tersebut. Sebuah pertanyaan lahir dalam pikiran saya. Benarkan hanya pemimpin bangsa yang harus belajar dari kasusnya RD? Bukankah kita semua harus belajar dari peristiwa langka ini? Bukankah kita semua adalah para pemimpin di lahannya masing-masing? Mungkin saya adalah pemimpin di sekolah saya. Anda mungkin menjadi pemimpin di kelas Anda sebagai guru kelas atau guru wali kelas. Mungkin juga Anda menjadi pemimpin di lahan yang lebih besar, misalnya sebagai kepala sekolah. Itu semua jika kita mengambil contoh di dunia atau di lembaga pendidikan. Tetapi pendeknya, kita semua adalah pemimpin dengan kapasitas yang berbeda-beda. Dan pendeknya, setiap pemimpin adalah pemegang amanah pengelolaan bagi tanggungjawabnya. Dan itu berarti pula bahwa semua hal ikhwal berkenaan dengan bagian yang dipimpinnya menjadi tanggungjawabnya sepenuhnya.

Mengundurkan Diri

Dalam sebuah rapat yayasan yag pernah saya ikuti, ada seorang pemimpin yang memberikan kalimat pembukaan sebelum rapat dimulai. Pemimpin yang kebetulan ustad ini mengatakan: Kita sebagai pemegang amanah di yayasan ini, adalah pemimpin bagi unit dan bagian kita masing-masing. Dan dengan kepemimpinan itu, ada sisi kekuasaan. Oleh karenanya, mari kita selalu introspeksi diri kita masing-masing. Jangan pernah ada keputusan yang kita ambil dari konsekuensi sebagai pemimpin yang berkuasa ini, yang membuat kita menjadi dzalim. Untuk itu, saya berpesan agar kita semua mengambil keputusan dari kaca mata yang holistik. Holistik bagi AD dan ART yang menjadi peta kita sebagai penguasa di yayasan ini. Juga holistik bagi kebermanfaatan bagi semua yang ada dalam wadah yayasan kita ini. 

Kalimat pembuka tersebut, mengingatkan kita semua untuk benar-benar bekerja sesuai dengan amanah yang telah ditentukan. Bagi saya pribadi, nasehat tersebut, dan juga apa yang ditulis oleh pojok Kompas tanggal 15 Desember 2011 tentang RD, menjadi bagian yang integral pada saat saya melihat 'kedalam'. Tentunya yang berkenaan dengan amanah yang saya pegang. Ini pulalah yang menggerakkan saya menuliskan refleksi ini, agar menjadi pertanda bagi perjalanan hidup saya, dan juga perjalanan karier saya di dunia pendidikan. Karena saya berkeyakinan bahwa, tidak ada seorangpun mendapatkan hasil yang sempurna dalam sebuah perjalanan kehidupan. Dan yang sempurna adalah proses dan usaha kita untuk meraih kesempurnaan itu. Dan kesempurnaan itu adalah khusnul khatimah. Itu yang menjadi keyakinan saya.

Lalu apa kaitan dengan dua hal tersebut di atas? Kaitan yang paling mendalam adalah, bahwa apa yang dilakukan oleh RD tersebut benar-benar menjadi pemicu saya untuk melihat jejak ikhtiar saya selama mengemban amanah keguaruan sya selama ini. Dan ini benar-benar memperlihatkan kepada saya pribadi untuk benar-benar berusaha lebih keras dalam menunaikan tugas itu. Meski saya tidak berani sama sekali untuk mengatakan bahwa apa yang saya lakukan dalam mengemban amanah itu positif sekali atau sekedar positf saja? Tetapi yang paling urgent dari semua itu adalah agar saya lebih mampu untuk mengatur langkah yang jauh lebih terukur menuju kebaikan.

Jika demikian adanya, adakah niatan buat saya untuk mengikuti jejak RD dengan mengundurkan diri? Untuk di lembaga yang terakhir diamanahkan kepada saya, ada. Niatan saya untuk mundur tersebut ada. Dan bahkan penah saya pernyatakan dan saya sampaikan secara tertulis.

Niatan dan langkah seperti itu bagi saya, yang bekerja sebagai pekerja swasta, selain berkenaan dengan hasil kerja yang telah saya lakukan, juga karena pemikiran bahwa lahan yang saya tunaikan sudah menjadi lahan yang tidak 'cukup lebar' lagi. Hal ini saya pernah jalani di tiga lembaga sebelumnya. Memadai dalam arti harga diri. Yaitu 'harga diri' dalam makna konotasi dan makna denotasi.

Dan sepanjang refleksi diri yang saya lakukan berkenaan dengan langkah mundur RD dan kalimat tausiah ustad dalam pembukaan rapat yayasan, maka masih banyak hal yang harus selalu saya lakukan. Karena ternyata meski lama durasi waktu yang saya jalani dalam menunaikan amanah sebagai pemimpin, pekerjaan untuk mencapai tujuan lembaga tidak akan pernah selesai dan habis. Dan itu membutuhkan saya sebagai jenderal lapangan dan tidak sekedar sebagai administrator di meja kerja saya.

Sebagai jenderal lapangan, saya adalah pemegang komando, pengatur strategi, penyemangat, dan tentunya sahabat bagi semua. Semoga kekuatan dan kemudahan serta keberkahan dalam langkah kami semua dalam memegang amanah. Amin.

Jakarta, 15 Desember 2011.

13 Desember 2011

Mengambil Pelajaran 'Hidup' dari Pensiunan

Jumat, 9 Desember 2011, saya harus mengantarkan obat kesembuhan untuk putri kami yang tinggal tidak jauh dari orangtua saya di Jawa Tengah. Dan untuk perjalanan yang memakan waktu tidak pendek itu, saya memilih menumpang bus malam langganan kami. Pukul 17.30 bus itu beranjak dari terminal bus di Jakarta Selatan menuju tujuan kami di Jawa Tengah.

Duduk di sebelah saya seorang Bapak yang saya taksir berusia lebih kurang 60 tahun. Masih tampak bugar dengan rambut yang belum keselurannya memutih. Kami memulai percakapan dengan saling memperkenalkan diri. Lalu percakapan mengalir ke keluarga kami masing-masing. Ia tampak sedikit kaget ketika tahu kalau saya telah memiliki dua anak yang sudah masuk ke bangku kuliah. Beliau berpikir kalau usia saya masih muda untuk memiliki anak paling kecil yang telah duduk di bangku SMA kelas dua.

Dikatakannya bahwa, dia pulang kampung untuk waktu yang relatif lama, yaitu satu setengah bulan. Waktu selama itu ia akan pergunakan untuk menyemai bibit pohon jati, yang menurut dia, adalah waktu yang tepat karena musim hujan telah tiba. Tentu menanam pohon di pekarangan tanah leluhurnya di Kabupaten Kolan Progo, Yogyakarta. Percakapan kami tentu melebar dan memanjang. Dan tentu pula dengan dominasi penuh dari Bapak pensiunan itu. Saya sekuat tenaga berusaha menjadi pendengar aktif dan setia. Termasuk juga kondisi ketiga anaknya, yang lulus dari FKUI dan menjadi PNS, juga adiknya yang lulus dari Farmasi di Universita yang sama dengan sang Kakak. Dan bontotnya yang termotivasi untuk menjadi pegawai di perusahaan minyak asing dengan bersekolah di Trisakti, Jakarta.

Pendek kata, ada empat hal yang dapat pelajari pada sosok Bapak pensiunan sepanjang perjalanan kami dari Jakarta menuju Jawa Tengah itu. Empat hal itu tentu pelajaran hidup untuk saya yang masih menapaki perjalanan dengan ujung yang saya harapkan selalu penuh kebaikan dan keberkahan. Yaitu; 

Pertama, Motivasinya untuk pulang kampung setelah bebas tugas kantor, dengan menjadi petani. Kok sama dengan saya? Pikir saya. Oleh karenanya, saya menjadi semakin termotivasi untuk menjalani jejak yang sama. Tentu selain perlu komitmen untuk mengambil langkah mewujudkan mimpi tersebut, juga perlu kepemilikan  lahan. Untuk hal yang pertama, tampaknya saya sendiri telah membangunnya. Sedang yang kedua, saya berkeyakinan akan mendapatkannya. Setidaknya ini keyakinan saya yang berasal dari kisah beberapa kawan saya yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya ini. Atau keyakinan saya atas apa yang Rasulullah sampaikan yang kurang lebih bermakna: you are, what you think! 

Mengapa menjadi petani?  Karena, setidaknya menurut saya, inilah pekerjaan yang paling bersih dari segala intrik sosial yang buruk dan merusak. Tetapi petani yang mandiri. Petani yang memiliki minimal 35 pohon jati, atau pohon mahoni, atau pohon sengon. Petani yang tidak hanya memelihara ayam kampung dalam kandang, tetapi juga kambing minimal 7 ekor, juga sapi minimal 3 ekor. Petani yang pekarangan rumahnya dipenuhi tumbuhan buah yang terawat, serta pastinya berbagai tanaman pangan yang mampu menjadi stok karbohidrat!

Kedua, Mencintai orangtuanya yang hidup di desa. Bagaimana bentuknya? Bapak itu benar-benar menjadikan orangtuanya yang tetap tinggal di desa sebagai pundi-pundi pengorbanan. Waktu dan biaya dia curahkan untuk orangtuanya selain tentunya keluarga. Pulang kampung  baginya, adalah perjalanan rutin sebagaimana beberapa orang lain yang hidup di kota pergi ke sebuah tempat wisata. Pulang kampung baginya, tidak cukup hanya dilakukan saat menjelang Ramadhan dan saat Idul Fitri. Dan itu menjadi budaya keluarganya. Lelah? Itulah cinta. Harus dibayar berapapun harganya. Termasuk juga tahajutnya sepanjang hayat masih di kandung badan, tak lupa untuk memanjatkan doa kepada orangtuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya. Dahsyat bukan?

Ketiga, Tenteram menjadi pensiunan karena merasa tidak meninggalkan jejak kotor. Tidak seperti beberapa temannya yang harus dirawat karena strok atau bahkan telah meninggal dunia. Ia menganalisanya semua itu karena apa yang telah dilakukan di masa sebelumnya. Maka ketika saat menjabat dan menjadi pegawai, ia lurus-lurus saja dan tidak neko-neko, maka ketenteraman itulah buahnya. Tidak ada jejak kotor di seluruh berkas kerja sebelumnya.

Keempat, Mendidik anak dengan dialog dan contoh. Dialog yang mencedaskan antara dia dan seluruh anggota keluarganya, ia rasakan sebagai pintu gerbang sukses keluarganya. Dialog mencerdaskan adalah dialog yang mengeksplorasi argumentasi dengan penuh emosi kasih sayang keluarga. Dari sini pulalah para anak-anaknya membangun komitmen untuk masa depannya masing-masing. Komitman untuk sukses, bekerja keras, penuh motivasi, saling menghargai dan mencintai, dengan bersendikan kekuatan keluarga. Indah bukan?

Itulah empat hal yang saya temukan dari seorang Bapak yang telah pensiun, yang akan menanam pohon jati di kampungnya di Samigaluh, yang duduk di sebelah saya, di dalam bus malam Sumber Alam, yang bergerak dari Jakarta menuju Yogyakarta. Terima kasih Bapak.

Jakarta, 7-14 Desember 2011.

08 Desember 2011

SMS Penipu, Jangan Mudah Kaget!

Mendapat SMS dari penipu di nomor hand phone, tampaknya sudah bukan menjadi peristiwa aneh. Setidaknya ini yang saya alami berulang kali. Saya katakan tidak aneh, karena  kasus SMS penipu ini sudah menjadi kejadian umum yang menimpa hampir semua orang yang punya nomor telepon seluler. Jadi, lumrah bukan?

Misalnya saja SMS yang saya terima dari nomor yang tidak saya kenal berikut ini: nomonya adalah +6287808074962, dengan SMS seperti ini: Transfer ke Mandiri aja a/n Irwansyah no rek 1570003169472, klo sdh dtrf sms ke no ini ya!SMS ini telah saya hapus bersama SMS yang saya menganggapnya tidak penting.

Atau juga dengan kalimat yang berbeda Dan tentunya dari nomor yang lain pula. Meski saya sendiri tidak tahu persis apakah ini merupakan 'serangan' dari penipu yang sama. Karena memang dari nomor yang baru saya terima. Begini bahasa yang digunakan;
SELAMAT!!! anda
M'dptkan hadiah
Rp50jt dr KUKU
BIMA ENERG!
diundi tadi mlm
TVone pkl.23.30
U/info hubungi:
Ir.H.PURWANTO
085696087459
Pelaksana:
SIDOMUNCUL

SMS kedua saya iní saya terima pada hari Senin tanggal 21 Nopember 2011 pukul 05:52, dari nomor telepon +6282191532549. SMS tersebut diatas memang dengan susunan paragraf, kata dan kalimat yang persis sama sebagaimana dengan apa yang saya terima di hp saya.

Atau SMS yang saya terima pada Jumat, 11 Nopember 2011 pukul 01:48 dari nomor telpon +628981555281, dengan kalimat seperti ini;
Selamat,anda men_dptkan hadiah
TABUNGAN HAJI
Rp.100juta dari
HUT-INDOSAT
Diundi tdi mlm
Di SCTV
pkl 23:30 wib.
U/Info Hub:
085694666066
Ir.H.SOFIANZA

Atau rengekan minta kiriman pulsa seperti iní;
Ma,isi dl pulsa 20rb nmr
ini 085282424278.
SMS ini saya terima pada hari Rabu, 9 Nopember 2011, pukul 07:43, dari nomor telepon +628989438451..


Jangan Mudah Kaget

Dalam bahasa Jawa ada istilah untuk ini. Yaitu ojo kagetan. Jangan mudah kaget. Ini pelajaran yang merupakan kearifan daerah. Saya katakan demikian karena setidaknya inilah yang pernah saya dengar dari Bapak saya, sebagai nasehat. Maksudnya, bila kita menerima atau memperoleh informasi dari siapapun dan dari manapun tentang sesuatu hal, maka langkah pertama yang harus menjadi standar adalah agar kita tetap 'sadar'. Sadar akan lenyap dari karakter kita manakala kta langsung terkaget. Biasanya setelah kaget, akan ada perasaan terkesima. Nah, beberapa saat setelah terkesima inilah kita menjadi termakan. Oleh karenanya, hidup di zaman yang semakin semrawut seperti saat ini, ada baiknya petuah nenek moyang agar tidak mudah kaget dan terkesima benar-benar menjadi bagian dari hidup kita.

Dengan mengambil standar sikap tidak mudah kaget, tidak mudah percaya, dan tidak mudah terkesima, dapat menjadi tameng pada diri kita, dan sekaligus menjauhkan diri kita dan keluarga kita  kepada tipu daya para penipu yang berprinsip hidup anti keberkahan Ilahi. Semoga. Amin.

Jakarta, 8-13 Desember 2011

07 Desember 2011

Untuk Sukses Melakukan Perubahan, Selain Kesabaran, juga Penting untuk Memonitor

Dalam menempuh sebuah kesuksesan dalam melakukan sebuah perubahan, sistem, perbaikan program, atau sebuah budaya positif, diperlukan peran pemimpin dalam melakukan monitoring secara berkala dan terus menerus. Kegiatan memonitor sebuah perubahan yang sudah dicanangkan adalah hal yang sangat penting selain kesabaran. Memonitor lapangan, diperlukan untuk memastikan apakah kegiatan, program, atau budaya telah teraplikasi secara operasional atau belum. Juga untuk melihat kebutuhan yang masih diperlukan dalam memberikan dukungan ke arah pencapaian yang lebih optimal.

Memonitor lapangan merupakan bahasa lain dari pada kontrol dalam pola manajerial. Dalam pandangan saya, sisi monitoring merupakan kunci bagi suksesnya sebuah perubahan. Karena dalam aplikasi di lapangan, sering terjadi deviasi antara apa yang telah disosialisasikan dengan apa yang dilaksanakan. Deviasi ini boleh jadi terjadi karena terdapat perbedaan persepsi dan pemahaman antara manajer atau pemimpin sebuah lembaga dengan karyawannya atau antara kepala sekolah dengan gurunya tentang sesuatu yang akan menjadi fokus pencapaiannya. Perbedaan inilah yang biasanya juga dapat menjadi sumber konflik diantara dua belah fihak tersebut. Juga dapat menjadi simpul saling curiga dan saling tidak percaya.

Lahirnya rasa curiga satu dengan lainnya misalnya terjadi manakala pihak pimpinan menduga bahwa ketidak berjalannya perubahan yang telah dicanangkan karena pihak bawahan tidak mau berubah atau dugaan bahwa bawahannya adalah kelompok yang mapan dan sudah terlalu lama dalam posisi yang nyaman. Sehingga fokus perubahan yang dicanangkan pimpinan dapat diartikan sebagai penolakan.

Sementara di pihak bawahan, perubahan yang telah disepakati tersebut dapat pula diartikan sebagai penghalang bagi mereka untuk tetap bertahan pada posisi, atau status yang dimilikinya selama ini. Dan ini bisa menjadi bahan bakar bagi lahirnya sebuah kebersamaan destruktif.

Dengan melihat itu semua, maka monitoring adalah bagian paling vital bagi pemimpin untuk mengetahui bagaimana aplikasi perubahan berjalan di lapangan. Hal-hal yang dirasakan kurang pas dalam sebuah perubahan tersebut nantinya menjadi sumber informasi primer dan berharga bagi evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya. Dan dengan melihatkan atau mengikutsertakan seluruh komponen dalam melihat hasil monitoring dalam sebuah panel diskusi, akan membuat seluruh anggota tim tersebut untuk menumbuhkan rasa saling percaya. Dengan demikian maka keduabelah pihak secara alami akan mengikis habis rasa curiga yang merusak.

Namun jikalau monitoring dan evaluasi terus menerus dilakukan dengan tanpa lelah dan ternyata dalam sebuah perjalanan perubahan tersebut masih juga terdapat ketidakcocokan antara harapan yang telah dicanangkan dengan hasil yang dicapai, maka sudah sepantasnyalah seorang pemimpin, apakah itu kepala sekolah, harus memiliki samudera kesabaran.

Karena seperti juga guru yang mengajar di kelas dengan para peserta didiknya, maka guru-guru pun, atau karyawan pun, atau bahkan bawahan pun tidak semua memiliki potensi yang merata dan seragam. Diantara mereka tetap ada yang memiliki persepsi dan pengetahuan yang berbeda terhadap apa yang menjadi fokus bersamanya. Dan justru dengan perbedaan itulah saya melihatnya sebagai bagian yang paling membuat seorang pemimpin menjadi jauh lebih berharga di mata bawahan yang dipimpinnya. Semoga.

Jakarta, 7 Desember 2011.

06 Desember 2011

Kritisnya Berpikir Siswa


Sebagai ilustrasi, berikut adalah cerita siswa di sekolah dasar yang mempertanyakan keputusan pak guru yang telah menyalahkan jawaban soalnya. Siswa berpendapat bahwa jawaban di kertas ulangannya benar. Tetapi pak guru menyalahkannya.
  • Mengapa kamu tidak menjawab dengan jawaban menjenguk seperti jawaban teman-temanmu untuk soal pertanyaan Pak Guru?
  • Iya Pak. Saya juga tahu jawaban yang diinginkan Pak Guru. Tetapi jawaban saya berdoa kan juga benar Pak.
  • Mengapa kamu berpendapat jawabanmu benar? Kata pak guru.
  • Begini Pak, saudara saya waktu itu sakitnya sakit cacar. Jadi ayah dan ibuku
    melarang menjenguk takut nanti saya tertular penyakit cacarnya
    .
Pak Guru akhirnya menyadari bahwa jawaban berdoa untuk soal ulangan hariannya yang berbunyi: Apa yang kamu lakukan jika ada teman atau saudaramu sakit? Tentu setelah mendapat penjelasan lebih lanjut dari siswanya. Cerdas! Pikir pak guru sambil memberikan koreksi dan membenarkan jawaban soal siswanya di kertas ulangan itu.
Ilustrasi itu, diluar kualitas soal Pak Guru, memberikan gambaran kepada kita bahwa siswa berpikir dari tingkat yang paling dekat dengan dirinya. Meski saat latihan di buku cetak dijelaskan bahwa sikap baik jika ada teman atau saudara kita menderita sakit adalah menjenguk, tetapi karena ia memiliki pengalaman langsung terhadap penyakit cacar air yang pernah dialami oleh saudaranya, maka jawaban yang terpikir olehnya adalah berdoa dan bukan menjenguk.
Selain itu, siswa tersebut juga telah memiliki kompetensi mengingat, bahwa penyakit cacar adalah menular. Dan salah satu cara penularannya adalah melalui kontak langsung atau bertemu. Maka ketika tidak menjenguknya, itu adalah bagaian dari upaya untuk tidak tertular. Oleh karenanya siswa tersebut sesungguhnya menjawab soal latihan ulangan dalam aspek analisa. Artinya, setidaknya dari ilustrasi diatas, sejak usia dinipun siswa telah memungkinkan untuk berpikir pada tataran aspek menganalisa. Aspek berpikir tingkat tinggi dalam ranah Taksonomi Bloom.
Taksonomi Bloom terdiri tiga domain atau ranah: kognitif, afektif dan psiomotorik. Pada domain atau ranah kognitif terdapat enam aspek yaitu aspek ingatan, aspek pemahaman, aspek aplikasi, aspek sintesa, aspek analisa dan aspek evaluasi. Sedang dalam ranah afektif terdiri dari: receiving; responding; valuing; organising; characterising. Dan domain yang ketiga dari Talsonomi Bloom adalah psikomotorik.
Benjamin Bloom mengemukakannya taksonomi ini tahun 1950an. Dalam perjalanannya, ranah kognitif dalam taksonomi ini direvisi oleh Lorin Anderson tahun 1990. Secara singkat dapat kita jelaskan bahwa ranah kognitif Bloom-Anderson dibagi dalam enam aspek. Yaitu:

1. Remembering. Pengetahuan berdasar ingatan tentang fakta dan data;
2. Understanding. Memahami fakta dan data dalam bahasa sendiri;
3. Applying. Mengalikasikan pengetahuannya pada situasi yang berbeda;
4. Analyzing. Membuat analisa terhadap bagian/partikel, menemukan hubungan dan prinsip organisasinya dalam sebuah situasi;
5. Evaluating. Membuat penilaian, ferifikasi, dan rekmendasi berdasarkan kriteria yang ada;
6. Creating. Menciptakan sesuatu yang baru dari yang sudah ada.

Jakarta, 6 Desember 2011.