Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 Desember 2014

Pelatihan Guru Akhir Tahun

Bukan karena saya sendiri tidak rela guru memiliki hari libur yang panjang, sehingga ketika usai penerimaan rapot akhir semester guru-guru harus masuk selama dua hari untuk pelaksanaan kegiatan pelatihan. Tetapai memang seperti itulah agenda yang kami buat di setiap akhir semester. Tujuannya hanya satu, semoga sepanjang liburan teman-teman guru tersebut terngiang akan cita-cita dan visinya untuk memasuki hari-hari yang jauh lebih baik di semester berikutnya. Itu saja.

Karena ketika teman-teman nanti berada di lokasi liburan, akan memunculkan ide-ide bagus bagi kelasnya pada saat ia mendatangi lokasi yang berbeda itu. Dan ini adalah pengalaman pribadi saya. Tidak memaksakan memang, tetapi justru memandu cara berpikir kita dengan lebih kreatif dan dinamis. Mengingat di lokasi liburan, apakah itu hanya berkunjung ke kampung halaman, bagi yang punya kampung halaman, akan selalu ada pemandangan yang dapat menjadi pemantik kreativitas di kelas kelak. Itu saja.

Dan berbeda dengan pelatihan-pelatihan sebelumnya yang kami lakukan di sekolah, pelatihan akhir semester lalu kami meminta guru-guru untuk memberikan masukan kepada kami tentang pelatihan apa yang mereka inginkan sebelum liburan. Maka disepakati dua pelatihan sebelum teman-teman itu benar-benar libur di tanggal 24 Desember hingga tangal 5 Januari 2015 tersebut. Yang berarti memiliki tidak kurang dari 6 (enam) hari kerja, atau 12 hari libur yang dapat mereka gunakan untuk berkumpul dengan keluarga tercintanya.

Dan alhamdulillah, dua pelatihan itu menjadikan teman-teman seperti 'terlahir kembali'. 

Pelatihan pertama tentang mengasah kepekaan hati bersama Pak Sigit Risat. Dan mengasah kepekaan hati menjadi benar-benar sebagai fokus sepanjang satu hari di hari pertama kami pelatihan. Bagaimana kami harus belajar melihat apa yang seharusnya dilihat dari sisi yang baik. Karena bagaimanapun you are what your think.

Hampir semua teman akhirnya harus terperangah akan apa yang telah berlalu dan yang sedang berjalan. Dan dari keterjagaan itulah Pak Sigit mengajak kami untuk move on. Berhijrah. Mulai dari perubahan paradigma, tekad, dan perubahan perilaku.

Dan pelatihan hari kedua lebih spesial lagi karena berbicara tentang bagaimana melihat masa depan kita melalui paradigma, tekad, dan perilaku masing-masing kita pada hari ini. Itulah kegiatan yang harus kami lalui sebelum kami benar-benar fokus dengan apa yang tidak menjadi rutinitas kerja. Alhamdulillah.

Jakarta, 29 Desember 2015.

26 Desember 2014

K-13 #15; Negara dengan 2 Model Kurikulum

Januari 2015, menjadi bersejarah (kembali) dalam kancah dunia pendidikan di negeri saya, Indonesia. Ini tidak lain karena implikasi dari pengumuman pemerintah yang disampaikan oleh Bapak Menteri Pendidikan Dasarnya, Pak Anies pada Jumat, 5 Desember 2014, berkenaan dengan keberlangsungan penggunaan Kurikulum 2013. Dan meski tidak hingar bingar, banyak teman-teman saya yang menyambut keputusan besar itu dengan antusias. Bahkan ada beberapa kreativitas dalam bentuk design batu nisan bagi Kurtilas lengkap dengan tanggal lahir dan matinya, yang kemudian up load berantai. 

Saya sendiri, sedih. Karena bukan belum siapnya K-13 itu dilaksanakan di tataran bawah, tetapi lebih dari adanya ketidaksinambungan logika berpikir dalam sebuah kebijakan negara yang bernama kurikulum 2013 itu. Karena pemerintahan sebelum dan yang baru ini bukankah yang berganti hanyalah Presiden dan Bapak Menterinya? Sedangkan untuk kepentingan bangsa maka mereka menanggalkan seluruh atribut primordialnya dengan keunggulan bangsa? Apakah itu ditetapkan untuk penggunaan suatu sistem atau penangalan atau pergantian sebuah sistem?

Dan atas nama cara berpikir semacam itulah, saya layak untuk bersedih. 


Kesedihan yang lain dari apa yang disampaikan secara lisan oleh Pak Menteri Anies di tivi saat itu adalah sebuah dalih bahwa, Indonesia pernah melakukan penggunaan 2 model kurikulum dalam satu kurun waktu. Pernyataan benar. Tetapi juga cetek berpikirnya.

Mengapa? Baiklah saya akan kemukakan sebuah pengalaman yang tidak mengenakkan dari anak saya yang duduk di bangku SMP, dan seluruh generasinya yang lulus sekolah di tahun 2007. Ini tidak lain karena anak saya bersekolah di sekolah yang menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi atau KBK sebagai bagian dari sekolah percontohan. Sedang kurikulum yang sedang berlaku kala itu adalah dokumen kurikulum 1999.

Implikasinya? Ternyata disaat Ujian Nasional, ada perbedaan kualitas soal, atau gradasi kesulitannya, antara sekolah percontohan dengan sekolah lain pada umumnya. Dan karena perbedaan gradasi kesulitannya itulah maka nilai rata-rata Ujian Nasional berbeda antara sekolah pengguna KBK dengan Non-KBK. Dengan perbedaan itu, maka berbeda pula kualitas angka 8 yang didapat oleh anak-anak berKBK dengan yang tidak. Repotnya nilai rata-rata anak-anak yang ber-KBK di bawah rata-rata nilai UN anak-anak non-KBK.

Aneh dan ajaibnya, pada tahun itu banyak anak-anak pintar dari sekolah ber-KBK yang harus kalah untuk dapat masuk ke jenjang SMA. Dan saya ingat ketika memberikan support kepada Bapak dan Ibu Kepala Sekolah untuk datang ke sebuah SMPN di bilangan Jakarta Selatan, yang menjadi induk bagi pelaksanaan UN tahun itu di Jakarta, guna meminta klarifikasi. Hasilnya? Tidak ada yang berani membuat keputusan pembelaan bagi anak-anak yang lulus di tahun 2007 oleh siapapun dari negeri yang bernama Indonesia.

Catatan ini bukan keluhan, sekedar pengingat bagi saya akan sebuah masa dan sebuah keputusan, dimana logika tidak digunakan secara holistik.

Jakarta, 26 Desember 2014.

19 Desember 2014

Terjerembab pada 'Tampilan Luar'

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari amanah yang saya harus pikul ini. Pelajaran hidup tentunya. Dan itu datang tidak saja dari buku-buku perpustakaan yang menarik untuk saya bawa pulang dan baca, tetapi juga datang dari semua teman yang berinteraksi dengan saya selama ini, dari peserta didik kami di sekolah, termasuk diantaranya dari orangtua siswanya. Semua menjadi bagian paling berharga dalam lembaran-lembaran pelajaran hidup itu.

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menuliskan satu cerita saja, yang saya dapat dari orangtua siswa. Tidak lain yang berkain dengan tampilan luar atau kalau tukang bajaj yang saya naiki ketika saya kembali dari Masjid Raya Pondok Indah di Jakarta Selatan seusai menghadiri pernikahan dari putri teman ketika di SPG menuju sekolah dimana saya harus mengemban amanah. Dimana kami terlibat percakapan dari sebab bajaj yang saya tumpangi jalannya diserobot oleh kendaraan roda empat yang tergolong mewah.

"Banyak orang bilang kalau bajaj yang merusak tatanan perilaku berlalu lintas yang benar, tapi Bapak melihat langsung kan? Betapa kendaraan di depan kita itu tadi menyerobot jalur kita ketika macet? Jadi sebenarnya sekarang ini semua kendaraan sama saja Pak. Yang mewah dan yang bajaj beda kesing saja." Begitu komentar tukang bajaj pada saat itu. Saya tidak mengatakan setuju atau tidak. Tepi dari fakta yang baru kami alami, saya hanya tersenyum. Tidak saja pada ulah mobil seharga 400-an juta yang menyodok jalur kami itu, tetapi juga karena kekaguman saya pada kecerdasan analisa dan pernyataan si tukang bajaj.

Lalu apa hubungannya antara kisah saya dengan tukang bajaj itu dengan apa yang menjadi catatan saya ini? Nah, dengan logika dan  pernyataan Pak Tukang Bajaj itulah saya mencoba merangkai logika tampilan luar itu dengan apa yang saya alami di sekolahan.

Yaitu ketika saya disodori oleh bagian keuangan tentang daftar tagihan atas tunggakan uang sekolah. Data itu menakjubkan di hadapan saya. Terbayang nama-nama yang masuk daftar tersebut dengan tampilan sehari-hari mereka ketika datang ke sekolah dengan segala aktivitasnya. Saya yang melihat itu jadi malu. Sungguh!

Dalam sejarahnya, ada tidak kurang sekitar 20 orang yang nyaris masuk daftar tunggakan setidaknya tiga bulan uang sekolah. Dan saya cukup tercengang bahwa ada diantaranya mereka itu datang ke sekolah di pagi hari untuk mengantar putri atau putranya dengan menunggang kendaraan seharga nyaris 700 juta! Bahkan ada yang lebih. Dahsyat bukan?

Dan yang terakhir kali saya melihat daftar uang sekolah yang masih belum lunas hingga menjelang penerimaan rapot adalah beberapa waktu lalu menjelang keberangkatan tim dari siswa kami keluar negeri. Karena ternyata ada dua dari mereka yang memiliki tanggungan uang sekolah yang sejak bulan April 2014!

Kok tega ya? Ya itulah kenyataannya. 'penampilan luar' jauh lebih penting. 

Orang-orang model seperti ini menjadikan penampilan luar sebagai prioritas pertama. Karena penampilan luar itu langsung dapat dilihat oleh tetangga atau koleganya. Penampilan luar menjadi standarnya untuk dinilai sebagai 'orang berada' meski dalemanya ditambali dengan tagihan uang sekolah. Remeh temeh bukan? Dan ini menjadi pelajaran untuk saya. Sungguh!

Jakarta, 19 Desember 2015

18 Desember 2014

Pamer Kehangatan Relasi...

Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh para siswa, utamanya ketika siswa harus mengikuti kegiatan itu ke luar negeri seperti kegiatan home stay, Misi Budaya, atau ikut serta dalam sebuah turnamen internasional, maka kepada teman guru yang mendampingi akan memiliki tugas tambahan, yaitu sebagai admin untuk sebuah grup di media sosial. Tugasnya sebagai admin tidak lain adalah memberikan kabar reguler tentang kegiatan grup dari hari per hari. Memang tidak ada yang sulit jika seluruh informasi yang ada dimiliki oleh guru. Namun yang menjadi masalah adalah karena ternyata pekerjaan 'tambahan' itu relatif memakan waktu.

Dan saya, sebagai bagian yang menjadi tukang catat dan pendokumentasian seluruh kegiatan sekolah yang diujungnya saya harus membuatkan artikel serta laporan gambar untuk kebutuhan komunikasi di sekolah, tidak terkecuali menjadi anggota grup yang hanya pasif keanggotaannya. Dari sinilah saya memiliki  kesan mendalam tentang betapa para anggota keluarga di rumah begitu rindu ketika anak-anak mereka sedang dalam perjalanan ke luar negeri itu.

Mereka menuliskan nama-nama panggilan kesayangan terhadap anak-anak mereka di halaman grup kami. Mengungkapkan betapa kerinduannya terhadap anak-anaknya itu luar biasa setelah ditinggal. Dan selalu meminta up date kegatan apa saja yang sedang berlangsung. Dan teman saya yang menjadi admin grup, yang juga adalah pendamping bagi kpergian anak-anak itu, mengirimkan beberapa gambar kegiatan yang anak-anak lakukan secara reguler.

Dan ketika beberapa jam kemudian progres kegiatan belum dikirim, maka akan muncul kata-kata atau ungkapan yang bernada penasaran sampai dengan kekawatiran tentang apa yang sedang berlangsung. Sehingga saya menangkap kesan bahwa halaman grup sesungguhnya menjadi bagian dari pamer kehangatan hubungan para orangtua dengan buah hatinya. Dan ini sesuatu yang sah-sah saja.

Tetapi suasana menjadi jauh berbeda sekali ketika rombongan anak-anak itu baru saja mendarat di bandara tanah air. teman kami yang menjadi ketua rombongan menyampaikan berita bahwa mereka telah berada di terminal kedatangan dan sedang proses pengambilan bagasi. Namun di halaman grup berbegai ungkapan penyesalan karena tidak bisa menjemput sendiri anaknya karena ada kesibukan.

"Maaf ya Mbak *i** aku titip **m*. Aku nanti langsung ke rumah Mbak *i**. Masih ada sedikit kerjaan di kantor." Begitu tulis seorang dari anggota grup. Dan seketika itu juga saya merasa mual. 

Jakarta, 17-18 Desember 2014.

17 Desember 2014

K-13 #14; Kurikulum yang Merubah Guru (Terimakasih Pak Anies)

Jadi, berita terakhir dari Pak Menteri Anies adalah, bahwa Kurikulum 2013 tidak di stop total. Ini mungkin klarifikasi dan sekaligus penegasan, karena di luaran, di media facebook yang akunnya dimiliki oleh guru-guru menyampaikan sambutan positifnya terhadap keputusan Pak Menteri Anies yang tidak memberlakukan Kurikulum 2013. Dan selain di media sosial Facebook, teman saya juga menulis statusnya tentang 'kerja kerasnya' atas pembuatan rapot Kurtilas. 

Tampaknya, Kurtilas oleh beberapa guru dilihat sebagai pekerjaan yang amat berat. Maka ketika pengumuman dari Pak Menteri Anies, yang gosipnya adalah bagian dari penggagas atau penyumbang ide terhadap kurikulum ini, pada Jumat tanggal 5 Desember 2015 yang memberikan 3 (tiga) opsi terhadap perjalanan kurkulum baru tersebut, langsung menyambut gembira. Ada teman saya menulis di status BBnya; Terimakasih Pak Anies.

Merubah Guru

Empat belas tahun lalu, ketika saya ikut serta menjadi bagian di sebuah sekolah di Bintaro, Tangerang Selatan, berdiskusi tentang bagaimana strategi mengubah guru-guru. Ini karena kami menganut sekolah yang tidak seluruhnya sama dengan praktek pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah tetangga. Mengapa? Karena besaran uang sekolah kami berbeda jauh dengan sekolah teman-teman itu. Perbedaan ini pasti akan membuat ekspekstasi orangtua siswa kami berbeda dengan kebanyakan orangtua.

Dan karena itulah kami membuat strategi selain memberikan pelatihan dan coaching terhadap guru-guru dalam membuat dan menjalani strategi belajar, mereka juga belajar bagaimana menilai hasil belajar, sekaligus membuat laporannya.

Pada titik inilah kami saat itu menjadi sadar kalau sistem penilaian dan pelaporan adalah bagian paling penting dalam merubah guru. Lalu bagaimana langkah kami berikutnya? Langkah pertamanya adalah tidak ikut serta dalam ulangan umum bersama. Sebagaimana kita yang kami alami saat itu, beberapa dari kami bersatu dalam membuat ulangan unmum bersama, dengan soal yang sudah dicetak oleh 'panitia'. Ulangan umum bersama ada sisi bagusnya. Antara lain adalah menjadi benchmark bagi sekolah-sekolah yang menjadi peserta.

Namun, sisi jeleknya adalah bentuk soalnya yang mayoritas berisi soal ingatan. Bahkan ada beberapa soal yang menampilkan foto tokoh pahlawan dengan pertanyaan siapa nama pahlawan yang dimaksud?

Bagaimana langkah keduanya? Yaitu melakukan penilaian autentik. Ini kami jalani sebagaimana yang dibuat oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI waktu itu, yang meluncurkan KBK versi on line dan sekaligus PBK atau Penilaian Berrbesis Kelas. PBK ini adalah nama lain dari penilaian autentik sebagaimana yang dikehendaki oleh Kurikulum 2013. Dan yang terakhir dari usaha kami adalah membuat Rapot tambahan, yang memberikan gambaran tentang kompetensi yang telah siswa miliki, dalam bentuk deskripsi, yang kemudian kami sebut sebagai Rapot Deskripsi.

Dan sebagai dokumentasi tambahan terhadap Rapot Deskripsi kami itu adalah Portofolio yang dimiliki oleh setiap siswa. Yang memberikan gambaran kongkrit tentang apa yang sesungguhnya sedang anak-anak jalani di dalam kelas dalam proses pebelajarannya. 

Dengan melihat itu semua, saya berpendapat bahwa Kurikulum 2013, khususnya dalam hal penilaian dan pelaporan, telah benar-benar membangkitkan daya kerja guru. Telah memaksa guru untuk melakukan sebagaimana yang dikehendaki oleh dokumen kurikulum. Dan ini menjadi momok tersendiri bagi sebagian besar guru yang tidak siap dalam hal; mejalankan rencana belajarnya secara murni dan konsekuen, melakukan kegiatan belajar bagi para peserta didiknya sehingga  memungkinkannya untuk melakukan pengamatan atas kegiatan yang diberikan kepada siswanya, kompetensi menggunakan komputer, dan konsep mengajar adalah bekerja keras.

Sementara itu, sistem penilaian yang telah terlanjur dibuat oleh pemerintah, tampak sekali tidak dilakukan oleh praktisi kelas atau guru. Sehingga sistem yang ada kelihatan sekali kalau dibangun tidak dari konsep yang ada di lapangan.

Jakarta, 17 Desember 2014.

15 Desember 2014

K-13 #13; Perubahan Kurikulum dan ‘Wajah’ Kelas Kita

Penulis terhenyak akan kalimat dari teman yang disampaikan melalui pesan singkat beberapa waktu setelah Pak Menteri Anies menyampaikan pengumuman berkenaan dengan Kurikulum 2013 pada Jumat, 5 Desember 2014. Terhenyak, karena kalimat yang dia sampaikan adalah realitas yang terjadi di sebagian besar kelas-kelas di sekolah kita. Beginilah kalimat itu; “Menurut saya, apakah kurikulumnya KTSP atau K-13, kalau cara mengajarnya masih text book, tidak ada percobaan, selalu indoor, ya sama saja akhirnya.”

‘Wajah’ Kelas Kita

Apa yang disampaikan teman dalam pesan singkatnya tersebut berawal ketika ia bertanya kepada saya tentang pendapat saya atas apa yang disampaikan oleh Pak Menteri. Menurut saya, sebagaimana kalimat saya di pesan singkat, adalah bahwa KTSP dan K-13, dilihat dari cara pandangnya terhadap siswa adalah menjadikan siswa sebagai pusat belajar dan pembelajran di dalam kelas. Student focus on learning. Konsep ini memiliki konsekuensi bahwa dalam belajar, posisi guru adalah sebagai fasilitator. Guru bukan satu-satunya sumber belajar peserta didik.

Dengan melihat itu, maka dalam belajar posisi siswa atau peserta didik adalah pusat belajar, maka ketika guru mengembangkan kompetensi yang harus dituntaskan oleh peserta didiknya, yang didalam Kurikulum 2013 ada yang disebut sebagai Kompetensi Inti yang terdiri dari empat (4) Kompetensi, yaitu KI sikap spiritual, sikap social, pengetahuan, dan keterampilan, selain Kompetensi Dasar, harus melihat peserta didiknya sebagai pertimbangan yang utama dan pertama. Karena kepada merekalah rancangan pembelajaran akan disuguhkan.

Seperti bagaimana guru harus memulai hingga mengakhiri  aktivitas belajar di dalam kelas bersama peserta didiknya. Apa saja yang akan dilakukan oleh peserta didiknya sepanjang keberadaan guru di dalam kelas. Tentu guru tidak akan menjadikan peserta didiknya hanya terpaku dan duduk manis ketika dia berada di dalam kelas Karena hal ini bukan bentuk pengembangan kompetensi.

Juga sikap, perilaku dan hasil kerja apa yang ketika usai pembelajaran guru dapat melihat sejauh mana peserta didiknya melakukan dan menghayati kegiatan belajarnya. Termasuk juga mungkin adalah asesmen serta bagaimana bentuk pelaporannya.

Jika itu semua teraplikasi di dalam kelas-kelas kita selama ini sebagai akibat dari perubahan kurikulum yang oleh pemerintah canangkan, setidaknya ketika kurikulum tersebut berbasiskan kompetensi sebagaimana yang diwacanakan dengan KBK, diberlakukannya sebagai KTSP, dan yang baru saja diumumkan oleh Pak Menteri, yaitu Kurikulum 2013, maka paradigma belajar siswa kita di dalam kelas di sebagian besar sekolah di negeri ini, seharusnya sudah menganulir posisi guru yang menjadi pusat belajar. Namun inikah yang terjadi di ‘wajah’ kelas-kelas di sekolah kita?

Kenyataan inilah yang membuat penulis terhenyak atas kelimat pesan singkat teman atas apa yang dialami atau dilakukan oleh teman-teman seprofesinya. Tidak peduli apakah teman-teman tersebut telah bertahun-tahun sebagai guru yang tersertifikasi atau yang baru saja lulus PLPG. Bahwa perubahan kurikulum yang dilakukan selama ini belum seluruhnya memiliki dampak kepda pola interaksi guru dan peserta didiknya di dalam kelas.

Dan untuk menjadi catatan kita bersama, fakta ini seharusnya yang menjadi dasar paling masuk akal oleh Pak Menteri dalam membuat keputusan di Jumat tanggal 5 Desember 2014 lalu. Semoga.

Jakarta, 15 Desember 2014.

12 Desember 2014

K-13 #12; Perubahan Kurikulum = Perubahan Etos Kerja

Pada catatan saya sebelumnya, bahwa disinyalir perubahan kurikulum yang dilakukan oleh pemeintah, utamanya sejak era masa percobaan KBK menjadi Kurikulum 2006 atau yang ternama dengan istilah KTSP, dan kemudian Kurikulum 2013 atau K-13 atau Kurtilas, tidak berdampak kepada praktek operasional pembelajaran di dalam kelas, maka sesungguhnya yang ada dalam kebijakan kurikulum itu adalah perubahan dokumen. Karena praktek guru mengajar di banyak sekolah masih menjadikan buku paket sebagai satu-satunya sumber belajar dan guru sebagai pusat pembelajaran.

Meski berbagai upaya untuk memastikan bahwa guru tahu, paham dan seharusnya dapat mengaplikasikan konsep kurikulum baru dalam bentuk workshop, pelatihan, lokakarya, pendampingan, yang memakan banyak waktu, dana, dan tenaga. Tetapi pada pratek akhirnya pola interaksi guru-peserta didik kembali kepada pakem sebelumnya.

Dan realita tersebut, tidak salah jika saya mengatakan bahwa perubahan kurikulum selama ini baru berada atau baru sampai pada tataran paradigma. Bagaimana paradigma membuat rencana pembelajaran, bagaimana melaksanakan kegiatan belajar, bagaimana membuat evaluasi, bagaimana melakukan assessment, dan juga bagaimana melaporkan hasil belajar.

Namun ketika bagaimananya tersebut masih dalam bentuk konsep dan belum ada tuntutan yang nyata dari pengambil kebijakan, maka sesungguhnya perubahan kurikulum tersebut masih belum merubah kinerja atai etos kerja para teman-teman guru. Meski, sekali lagi, tidak semua guru mewakili apa yang saya sampaikan tersebut. Tetapi banyak dari teman-teman guru yang masih melakukan hal yang sama baik sebelum atau sesudah dokumen kurikulum tersebut berganti.

Maka ketika sistem pembelajaran dan peniaian serta pelaporan dari praktek K-13 sedang hangat menjadi perbincangan teman-teman guru, baik yang setuju sekali maupun yang tidak setuju sekali, diputuskan oleh Pak Menteri Anies, menjadi tampak jelas model guru yang bersangkutan. 

Dari fenomena itulah saya mencatat bahwa sesungguhnya K-13, diluar dari masalah teknis yang ada, kekurangan yang mungkin disandang, serta tentunya kelebihannya, kurikulum ini benar-benar memaksa guru untuk berubah. 

Dalam pembelajaran, misalnya, guru dipandu dengan model buku paket yang sudah menjadi rujukan teknis. Saya pikir akan mati lambat laun penerbit buku pelajaran yang sebelum ini benar-benar menguasai pasar buu anak-anak sekolah. 

Juga dalam mebuat laporan hasil  penilain yang berbasis komputer dan internet. Maka jika masih ada guru yang ada hambatan dalam melakukan kerja berbasis komputer dan internet, akan menjadi bagian dari kesulita dari keterlaksanaan Kurikulum 2013.

Dengan logika itulah saya berpendapat bahwa K-13 sesungguhnya akan mampu melakukan pola kerja guru. Dan ini harapan baru bagi saya, bahwa perubahan kurikulum akan menyeret pad perubahan pola kerja guru. Yang jika dilanjutkan akan menjadi peningkatan etos kerjanya.

Jakarta, 12.12.2014

11 Desember 2014

Kinerja #10; Kinerja tidak = Masa Kerja

Masih masalah yang ada diseputar penlaian kinerja. Beberpa waktu lalu saya mencoba membuatkan ilustrasi hasil akhir dari peniaian kinerja  dari beberapa guru dengan implikasi kenaikan gaji dalam prosentasi. Ilustrasi ini sengaja saya buat dalam beberapa tahun berjalan. Ini penting agar penjelasan saya kepada teman-teman guru akan kinerja pegawai dan implikasi kenaikan gajinya dipahami dalam bentuk aplikasi, yaitu langsung pada kenaikan gaji.

Penjelasan ini untuk mengakomodasi apa yang sebagian teman-teman sampaikan kepada saya bahwa mereka sulit mengartikan kinerja dengan besaran kenaikan gaji. Ini mereka sadari dengan langsung memberikan komparasi kepada masa kerja yang semakin tahun semakin lama. "Mengapa saya yang lebih lama bekerja di sekolah ini mendapatkan besaran kenaikan gaji yang lebih sedikit prosentasinya?" Demikian kata-kata yang disampaikan kepada saya.

Pertanyaan ini mengisyaratkan kepada saya akan pemahaman yang  masih harus saya berikan penjelasan. Penjelasan dasarnya adalah bahwa kenaikan gaji dalam bentuk prosentasi dari hasil penilaian kinerja tidak sama persis dengan masa kerja mereka. Tetapi tidak setiap level kinerja yang sama mendapatkan besaran prosesntasi yangsama.

Pernyataan terakhir  ini karena besaran prosentasi yang sama akan selalu membawa dampak kepada hasil perhitungan akhir bila dihitungnya dari besara gaji pokok teman-teman yang berbed. Dimana penerapan penilaian kinrja di sekolah kami baru mulai sejak tahun pelajaran 2003/2004. Oleh karena itu, besaran gaji yang ada akan heterogen. 

Maka bila seorang teman dengan kinerja yang luar biasa bagus memperoleh kenikan gaji pokok sebesar 21 % dari Rp 2,600,000, maka hal ini akan berbeda hasilnya jika besaran prosentasi tersebut dikalikan dengan angka kepala 3. Meski demikian, hasil rupiahnya akan tetap berjarak yang memiliki sisi berkeadilan. 

Jakarta, 10 Desember 2014.

K-13 #11; Perubahan Kurikulum = Perubahan Dokumen?

Assalamu'alaikum Wr Wb

Bapak dan Ibu sekalian.

Saya mau.menyampaikan 3 hal yang Pak Anies sampaikan berkenaan dwngan K-13. Bahwa sekolah percontohan yang wajib melaksanakan K-13.  Bahwa sekolah percontohan tersebut nantinya menjadi rujukan bagi pelaksanaan K-13. Sedang sekolah lain yang bukan sekolah percontohan kembali ke K-2006. Jadi K-13 tidak dihapus tetapi pelaksanaan secara nasional ditangguhkan di sekolah non percontohan. 

Pertanyaannya apa beda signifikan dari KTSP dgn K-13?   Dalam dokemen KTSP ada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Sedang K-13 Komperensi Inti (spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan), dan kompetensi dasar.

Konsep belajarnya? Sama. Yaitu siswa sebagai pusat belajar. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu. Konsep penilaiannya? Sama. Yaitu mengedepankan penilaian kinerja atau autentik selain objective test.

Dari konsep pembelajaran karakter, dalam K-2006 masih belum tergambar jelas. Ini berbeda dgn K-13 karena KI menjadi rujukan utama dalam pengembangan seluruh kompetensi dasar. Selain itu juga jelas mengembangkan lower order thinking di KI 3
dan higher order thinking di KI 4.

Tapi apa tantangan terbesar di sekolah-sekolah pada umumnya? Tidak lain adalah mengimplikasikan perubahan kurikulum sebagai dokumen ke dalam interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran.

Sehingga tidak hanya berhenti kepada form pembuatan rencana mengajar hingga format penialaian saja. Tetapi harus kepada perubahan pembelajarannya. Karena  esensinya kurikulum berubah bila dalam pembelajaran guru masih menjadikan buku paket sebagai sumber belajar, kegiatan belajar selalu in door, tidak ada eksplorasi dalam pengembangan kompetensi, dan soal obyektif menjadi satu-satunya alat ukur? Dengan ilustrasi tersebut sesungguhnya masalah paling besar dalam perubahan kurikulum adalah perubahan 'wajah' di kelas-kelas kita.

Bahwa selama ini terjadi perubahan kurikulum tetapi interaksi guru-siswa selalu konsisten dan belym beranjak kepada teacher center learning atau text book minded. Maka jika ini yang terjadi, sesungguhnya perumahan kurikulum yang telah lakukan barulah sampai kepada perubahan dokumen kurikulum.

Ini barangkali yg menjadi pertimbangan bagi Menteri Anies mengapa tdk semua sekolah harus menerpkan K-13 secara serempak.  Ada sekolah yg memahami konsep K-13 masih belum jelas. Ada yang sdh mulai paham konsep tetapi lemah dalam pelaksanaan. Oleh karenanya sekolah menilai dirinya sejauh mana pemahamannya terhadap K-13.
Dari sini maka akan ada sekolah yang langsung tancap gas. Ada yang belakangan.

Prinsip dasarnya, kembali kepada cara memandang unsur siswa/peserta didik sebagai fokus pengembangan dan pelaksanaan pembelajaran.

Itu adalah sekelumit pandangan saya terhadap pengumuman Pak Menteri pada Jumat,
5 Desember 2014.

Semoga menjadi bahan refleksi kita.

Mohon maaf. Terimakasih.

Wassalamu'alaikum Wr Wb.

Jakarta, 11 Desember 2014.

08 Desember 2014

Sertifikasi Guru #3; Level Kinerja = Guru Tersertifikasi?

Masih berkenaan dengan kinerja di sekolah saya, yang setelah berjalan beberapa tahun, beberapa teman mulai merasakan implikasinya. Ada dantaranya yang datang ke Kepala Sekolahnya dan mempertanyakan mengapa jarak besaran gajinya semakin tahun justru semakin sedikit dengan temannya yang masuk dan bergabung di sekolah belakangan? Sehingga dengan kanyataan tersebut buankah berarti tidak ada penghargaan untuk teman-teman yang lebih lama mengajar? Apa penghargaan untuk masa kerja?

Begitu antara lain suara yang kurang puas akan pelaksanaan dari sistem penilaian kinerja di sekolah. Dimana hasil kinerja seorang guru akan berakibat pada besaran prosentasi kenaikan gaji. Dengan logika seperti itu, maka sekolah menghargai seorang guru berbasis dari level kinerja yang didapatnya sepanjang satu tahun, atau sepanjang dua semester. 

Mengapa kurang puas meski teman-teman yang lebih lama bergabung itu adalah teman-teman yang telah tersertifikasi sebagai guru profesional? Seperti yang saya kemukakan di alinea pertama, karena dengan jarak besaran gajinya semakin tahun justru semakin sedikit dengan temannya yang masuk dan bergabung di sekolah belakangan. Dan ini berarti mereka tidak merasa di hargai meski telah bergabung dengan sekolah lebih lama.

Kenyataan itu dapat saya berikan penjelasan lebih kurangnya sebagai berikut. Bahwa dengan penilaian berbasis kinerja, maka kualitas mereka berdasarkan dengan indikator yang terdapat dalam kinerja yang berlaku. Hal ini yang membuat masa kerja tidak menjadi bagian dari item penilaian. Sehingga bila guru junior memperoleh jenjang kinerja yang selalu baik dalam kurun waktu penilaian 3 tahun secara berturut-turut sementara yang senior hanya mendapatkan level kinerja di bawahnya, maka implikasi dari hal ini adalah prosentase kenaikan gaji yang memungkinkan junior mempersempit atau bahkan mengejar gaji seniornya. Meski juga harus diakui bahwa sebagian besar guru yang senior itu telah tersertifikasi. 

Karena memang tidak ada korelasi antara guru yang tersertifikasi dengan guru berkinerja baik di sekolah. Memang guru sertifikasi lebih sibuk di beberapa waktu tertentu. Tetapi kesiukan mereka bukan kesibukan untuk mempersiapkan alat dan bahan kegiatan pembelajaran. Kesibukan mereka adalah kesibukan rutin dalam melengkapi pemberkasan bagi syarat keluarnya uang tunjangan sertifikasi guru.

Allahua'lam bi shawab...

Jakarta, 8 Desember 2014.

07 Desember 2014

Selamat Jalan Sahabat

Senin, 24 Nopember 2014 seusai waktu Isyak, 2 jam setelah saya sampai di rumah, dikagetnya dengan pesan BB dari teman kantor; atas kematian seorang teman. Namun untuk sebuah kepastian, saya kembali mengirim pertanyaan kepada teman lain. Dan kepastian itu justru datang dari salah seorang dari BOD kami melalui pesan WAnya.

Saya tertegun atas berita itu. Beberapa.hari sebelumnya, saat menjenguk di Rumah Sakit, sahabat yang baru saya kenal kurang dari 11 tahun itu, di pembaringan terapinya mengenggam tangan kanan saya dan berpesan agar saya menjaga kesehatan. Kondisinya kala itu ada pada tahap pemulihan setelah dua ring terpasang di pembuluh darahnya.

"Jaga kesehatan Pak. Jangan sampai mengalami apa yang saya rasakan sekarang. Berat Pak.kalau sudah seperti ini. Berat sekali." Katanya waktu itu.dengan penuh kesungguhan. Ia katakan semua kata-katanya dengan bahasa kami, Bahasa Jawa.

saya teringat akan kebaikan hatinya. Tepo selironya. Utamanya ketika permohonan yang kami ajukan kepada BOD harus melaluinya. Dan ketika kami buntu akan hal seperti itu, kepadanyalah saya berdiskusi dan mencari alternatif solusi.

Juga ketika dari permohonan yang kami ajukan dan telah mendapat tanda tangan persetujuan harus juga melalui pembanding. Dan ketika saya menyampaikan agar ketika pengajuan permohonan sekaligus disertakan pembanding, sahabat saya ini memesankan kepada saya untuk tetap menjalani apa yang diinginkan kolega. Karena jika BOD mengetahui akan hal itu, maka persoalan tidak lagi pada masalah permohonan dan pembanding. Nasehat dan pandangan itulah yang membuat saya belajar memahami atmosfer dan etos kerja yang tumbuh di lingkungan baru saat itu.

Dan sekarang, setelah berita itu dapat dipastikan kebenarannya, saya berencana untuk bertemu dengannya di tempat peristirahatan sebagaimana tata cara yang sahabat saya anut serta yakini, esok hari sebelum saya.sampai kantor.

"Selamat jalan Pak Agus. Bapak adalah sahabat saya yang sesungguhnya di tempat kerja ini." Kata saya menyampaikan selamat jalan di ruang dimana ia dibaringkan. 

Jakarta, 7 Desember 2014.

Kinerja #9; Menghargai Kinerja Baik Sekali

Di sekolah saya sebelumnya dalam penentuan kinerja guru dan karyawan, dimana waktu itu kami akan memanggil teman-teman guru untuk diajak diskusi hasil kinerjanya sepanjang tahun pelajaran pada sekitar bulan April atau Mei.  Ini karena sekolah menganut buku anggaran tahun pelajaran. Dan sebagai ending dari hasil.kinerja guru dan karyawan itu akan menjadi dasar bagi lembaga dalam penentuan presentasi kenaikan gajinya.

Sistem tersebut akan memungkinkan teman-teman yang berkinerja Baik Sekali akan mendapatkan hasil presentasi kenaikan gaji yang lebih baik dari yang berkinerja Baik atau Cukup. Dan bila prestasi berkinerja Baik Sekali tersebut dapat terus dipertahankan untuk tahun-tahun berikutnya, maka tidak menutup kemungkinan teman tersebut akan memiliki pendapatan atau gaji yang melampaui temannya yang berkinerja dibawahnya meski temannya itu lebih senior dari padanya. Prinsip inilah yang menjadi bagian penghargaan lembaga kepada mereka yang berkinerja Baik Sekali.

Dan model seperti itulah yang kami jadikan acuan dalam memberikan penghargaan kepada mereka yang berkomitmen dan bersungguh-sungguh menunaikan amanahnya sebagai pendidik atau pegawai di sekolah saya sekarang ini. Hanya bedanya, jika sekolah saya sebelumnya menganut  tahun pelajaran sebagai tahun anggaran, maka sekolah saya yang sekarang tahun anggarannya mengacu kepada tahun buku di perusahaan. Yaitu Januari-Desember.

Untuk itulah maka pada Desember ini menjadi bulan-bulan yang sibuk bagi saya dan juga teman-teman Kepala Sekolah untuk berkomunikasi dengan bawahannya. Dan tugas khusus buat saya adalah merancang sistem kenaikan gaji tersebut.

"Saya boleh melihat besaran gaji teman-teman di unit saya Pak Agus. Ini karena teman-teman yang lebih lama bergabung mempertanyakan gaji orang baru yang melampaui mereka?" Kata salah seorang Kepala Sekolah suatu siang. Dan atas pertanyaan tersebut saya perlihatkan apa yang sedang menjadi rumor di unit kerjanya.

Dan hasilnya? Teman-teman yang bergabung lebih lama itu, besaran gajinya masih berada di 5 teratas.dari gaji teman yang lain yang bergabung belakangan. Hanya memang harus dakui bahwa jika dalam lima tahun kedepan mereka tidak berkinerja Baik Sekali sementara teman yang lain berada selalu berkinerja Baik Sekali, maka implikasinya adalah besaran gaji yang akan relatif sama arau bisa jadi dilompati.

Ini adalah konsekuensi yang kami ambil ketika kenaikan gaji teman-teman berdasarkan kinerja.

Jakarta, 7 Desember 2014.

04 Desember 2014

Belajar Mengnap #10; Inspirasi untuk Desaku

Apa yang saya dan teman-teman alami dalam rangkaian kegiatan siswa yang bertema Belajar Menginap atau Live in atau home stay, di rumah-rumah penduduk desa, agar anak-anak dapat merasakan kehidupan desa secara alami, dengan tujuan agar mereka dapat mengambil pelajaran melalui perbedaan hingga nantinya mereka bisa mensyukuri apa yang sehari-harinya mereka alami bersama keluarganya, sedikit banyak memberikan inspirasi bagi saya pribadi untuk turut serta menjadikan desaku, kampung halaman saya, sebagai bagian dari desa yang memiliki kontribusi bagi sebuah persemaian karakter sederhana, sebagaimana kegiatan tersebut.

Walau kadang sebuah universitas di Yogyakarta tidak jarang menjadikan desaku sebagai bagian dari lokasi KKN mereka, tetapi keberadaan anak-anak usia belasan hidup dengan cara menceburkannya diluar kebiasaan mereka, adalah sesuatu yang jauh lebih dahsyat maknanya. Itulah salah satu yang embuat saya tertarik untuk ikut serta bersama tim advandce, demikian teman-teman di sekolah menyebutnya dari kelompok yang datang lebih awal satu hari dengan membawa serta seluruh perlengkapan menginap dari anak-anak yang akan datang esoknya.

Sebagai tim anvandce, maka salah satu tugas kami adalah menyusuri seluruh lokasi sebelum digunakan anak-anak esok harinya. Kegiatan kami ini untuk tujuan memastikan bahwa seluruh lokasi yang akan kami gunakan memenuhi syarat keamanan dan kenyamanan beraktivitas anak-anak. Termasuk untuk kegiatan jurit malam atau wide games.

Juga kegiatan yang maha penting bagi kesuksesan kegiatan ini, yaitu bertemu warga yang akan menjadi induk semang atau house family atau orangtua asuh bagi anak-anak kami. Pertemuan ini selain silaturahim adalah untuk mengkomuikasikan bagaimana adat dn biasa anak-anak kami yang tinggal bersama orangtua mereka di Jakarta. Komunikasi ini bertujuan agar tidak terjadi ketersinggungan jika anak-anak kami berlaku atau berucap kurang sopan. Juga membekali warga desa bagaimana harus menyampaikan banyak hal kepada anak-anak kami, diantaranya memberi nasehat.

Dan sekali lagi, atas pengalaman selama kegiatan itu, saya memperoleh bekal bagaimana mengajak saudara dan tetangga untuk turut serta dalam bersiap dan menyongsong jika suatu saat yang akan datang kami dapat berkontribusi untuk kegiatan semacam ini.

Tentunya kami akan mempersiapkan diri kepada seluruh warga untuk bersiap membuka pintu rumahnya sebagai bagian yang mungkin dapat menerima tamu kecil dari kota, sebagai wahana mengembangkan karakter bagus bagi masa depan anak-anak.

Tentu impian mulia. Dan saya terusik untuk memikirkan bagaimana dan darimana memulainya. Semoga!

Jakarta, 1-4 Desember 2014

01 Desember 2014

Belajar Menginap #9; Mau makan Pakai Apa?

Dari cerita anak-anak yang ikut serta dalam kegiatan menginap di rumah penduduk di RW 04, Desa Sidamukti, Kecamatan Pengalengan, Bandung, Jawa Barat, pada pertengahan Nopember 2014 lalu, saya mendapat kisah lain dari mereka tentang tawaran untuk makan dengan lauk apa. Inilah tawaran para induk semang atau host family yang sesungguhnya tidak kami harapkan. Karena program menginap ini dirancang agar supaya anak-anak akmi yang tinggal di kota dengan berbagai fasilitas hidup yang ada di rumahnya masing-masing, dapat merasakan secara sepenuhnya apa adat kebiasaan hingga makan.

Itu jugalah yang yang kami komunikasikan kepada para Bapak dan Ibu orangtua asuh atau host family pa pukul 10.00 di aula PAUD tanggal 18 Nopember 2014, persis tiga jam sebelum anak-anak tiba di lokasi kegiatan. Dimana kami wanti-wanti agar Bapak/Ibu yang menjadi orangtua  asuh itu benar-benar menjadikan kebiasaan mereka sebelum anak-anak bersamanya tetap dijalankan.

"Kami mohon agar kehidupan Bapak/Ibu tidak ada perubahan setibanya anak-anak kami berada di tengah-tengah keluarga Bapak/Ibu." Kata saya kepada mereka disaksikan oleh penggerak masyarakat, Pak Yanto yang juga adalah sekretaris RW dan Pak Haji Ai yang menjadi tokoh masyarakat setempat.

Tetapi dengan apa yang disampaikan anak-anak bahwa mereka mendapat tawaran untuk mekan nasi dengan lauk apa oleh orangtua asuhnya di lokasi Belajar Menginap, membuat saya dan teman-teman memperoleh feedback bahwa para orangtua asuh itu beberapa diantaranya terlalu memanjakan anak angkat mereka.

Dengan begitu, anak-anak masih mendapatkan kesempatan untuk kurang prihatin dalam menjalankan kegiatan sekolah yang bernama Belajar Menginap atau Live In ini. Dan juga, anak-anak menyadari sekali bahwa orangtua asuhnya ternyata memiliki rasa sayang untuk memanjakannya.

Jakarta 1 Desember 2014.

30 November 2014

Belajar Menginap #8; Sebuah Kenangan

Dua pekan usai kegiatan Belajar Menginap yang diantaranya kami menyebutnya denfan istilah Live In, ada beberapa cerita dan kisah yang tetap terjaga dalam ingatan. Itulah yang ingin saya sampaikan dalam catatan saya kali ini. Catatan tentang sebuah kenangan atas kegiatan siswa dalam mengalami hidup bersama warga desa Sedamukti, Pengalengan, Bandung, Jawa Barat, pertengahan Nopember 2014 lalu. 

Sekretaris RW 

Bahwa kami dipandu sepenuhnya oleh tokoh muda di desa itu yang kebetulan adalah sekretaris rukun warga di desa tersebut. Dan beliaulah yang menjadi  tumpuan kami dan warga, karena Pak RW di wilayah itu sedang tidak memungkinkan melaksanakan tugas karena penyakit yang sedang dideritanya.

Pak Yanto, begitulah kami memanggil tanpa pernah tahu siapa nama panjangnya. Dia adalah juga peraih Penyuluh PNPM Mandiri terbaik kedua di Provinsi Jawa Barat.  Dan atas seluruh panduannya itulah ke-142 siswa kami berada di rumah warga yang menjadi wilayahnya. Alhamdulillah bahwa seluruh kegiatan anak-anak berjalan lancar dan memberikan kesan yang positif.

Disamping Pak.Yanto, yang adalah sekretaris RW, adalah Pak Haji Ai, yang adalah tokoh bagi masyarakat yang ada di area RW 04 desa Sidamukti tersebut. Seorang Magister Manajemen yang menjadi perangkat di kantor Kecamatan Pengalengan. Seorang tokoh yang merelakan rumah tempat tinggalnya sebagai 'markas' kami para guru dalam berkoordinasi. Yang punya semangat memajukan masyarakat dan punya pemikiran untuk masa depan.

Warga yang Tulus

Apa yang menjadi ukuran sehingga kami menilai bahwa masyarakat yang telah menerima peserta didik kami untuk tinggal bersamanya itu tulus? Diantaranya adalah raut muka dan bahasa tubuh yang mensiratkan ketulusan tersebut. Ini kami alami pada saat pertemuan kami dengan masyarakat itu tiga jam sebelum anak-anak sampai di lokasi. Mereka menyampaikan pertanyaan; apakah yang harus mereka sampaikan jika peserta didik kami yang menginap di rumahnya belum menjalankan sholat?  

Juga ketika kegiatan berakhir dan anak-anak kami harus meninggalkan rumah-rumah mereka. Seluruh warga mengantar anak-anak kami hingga  ke lokasi parkir bus. Dan selain lambaian tangan perpisahan juga deraian air mata.

Dua hal itulah yang menjadikan kami menilai betapa tulusnya warga desa tersebut. Berbeda dengan kisah yang dialami teman ketika anak-anak didiknya melaksanakan program yang sama di sebuah wilayah, yang sebelum pelaksanaan program mensyaratkan 150 paket sembako.

Dan atas ketulusan itu jugalah kami sekali lagi ingin menyampaikan ucapan terimakasih.

Jakarta, 30 Nopember 2014.

Belajar Menginap #7; Belajar Berempati

Sebagaimana yang sudah saya sampaikan terdahulu, bahwa pelaksanaan kegiatan Belajar Menginap di rumah-rumah warga yang tinggal di Rw. 04 Desa Sidamukti, Kecamatan Pengalengan, Bandung, Jawa Barat, merupakan konversi dari kegiatan Camping Pramuka untuk tiga hari dua malam. Tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah mengembangkan budi pekerti peserta didik.

Salah satu dari budi pekerti yang kami harapkan dapat lahir dalam diri anak-anak antara lain adalah perilaku berempati. Hal ini karena anak-anak kami tempatkan tinggal di rumah-rumah penduduk dalam kelompok yang terdiri dari dua atau tiga anak. Dengan demikian anak sedikitnya akan merasakan sesuatu yang berbeda. Berbeda kondisi antara apa yang ada di rumahnya di Jakarta dengan rumah yang mereka tempati di Pengalengan.

Keberbedaan lokasi tempat tinggal tersebut, meski mereka hanya hidup bersama warga hanya dua malam, pasti membuat anak-anak harus menumbuhkan daya penyesuaian. Terutama dalam hal kondisi fasilitas mck yang membuatnya harus menyesuaikan.

"Apa yang membuatmu tidak betah di hari pertamamu berada di rumah orangtua asuhmu?" Tanya saya pada benerapa anak perempuan yang duduk di kelas tujuh.

"Alhamdulillah toilet dan kamar mandi orangtua asuh saya bagus dan bersih Pak."  Jawab seorang anak dengan sumringah. Ini karena ia tahu bahwa tidak semua temannya seberuntung dia. Tinggal bersama orangtua asuh yang punya cita rasa kebersihan dan kesehatan.

"Saya tidak pergi ke toilet Pak. Karena lantainya pecah-pecah. Belum pakai keramik. Warnanya abu-abu. Jadi saya nebeng ke rumah orangtua asuh teman lain." Jawab anak lain.

Masih ada beberapa  komentar atas pengalaman anak-anak itu yang tidak semua saya sampaikan disini. Dan saya pun sempatkan bertanya kepada anak-anak laki-laki.

"Hari pertama  saya tidak sanggup ke toilet yang lokasinya ada di luar rumah dan hanya menggunakan papan." Kata seorang anak yang duduk di bangku kelas delapan. "Memprihatinkan Pak kondisi rumah dan toilet orangtua asuh kami." Lanjutnya.

"Apa yang kalian lakukan atas apa yang kalian lihat dan alami? Apakah kalian belajar dengan hal-hal itu?" Tanya saya kepada mereka. Dan mereka menjawab beragam. Hampir semuanya mengemukakan hal positif atas kegiatan yang mereka ikuti. Tapi ada yang layak untuk saya sampaikan disini. Yang disampaikan oleh seorang anak yang duduk di bangku kelas sembilan; "Saya hanya menyisakan satu lembar uang dua puluh ribuan di dompet saya. Yang lain saya sampaikan kepada orangtua asuh saya."

Jakarta, 30 Nopember 2014.

29 November 2014

Mengobrol dengan Transmigran, Menemukan Makna Visioner

Siang itu, saya tergopoh-gopoh naik Damri menuju Bandara Soeta. Bagaimana tidak, saya adalah satu-satunya orang yang masih belum sampai Bandara siang menjelang sore itu. Sementara semua anggota rombongan sudah berada di ruang tunggu. Maka sembari memberikan laporan secara berkala kepada teman-teman tentang posisi saya, saya terus menerus tidak henti berharap lepas dari kemacetan jalan bebas hambatan.

"Posisi sekarang sudah sampai persimpangan tol Sedyatmo." Begitu pesan terakhir yang saya kirim. Karena benar, setelah lepas persimpangan itu jalanan begitu lancar. Saya menjadi lega. Karena ternyata pesawat harus delay satu setengah jam. Maka meski teman lebih dulu sampai ruang tunggu, saya masih memiliki waktu cukup panjang untuk menemani mereka. Termasuk berbincang dengan sepasang  suami istri asal Jambi yang ingin mengunjungi sanak familinya di Ngawi.

"Saya trans Mas. Tahun 1982 berangkat dari Ngawi ke Jambi untuk menggarap tanah dua hektar." Begitu si Bapak bercerita kepada saya. Sementara si istri yang duduk disampingnya menyimak pembicaraan kami. Kami di ruang tunggu yang sama karena pesawat kami sama-sama memundurkan jam terbangnya karena alasan teknis.

"Berapa lama Bapak dan Ibu prihatin di daerah trans itu,  hingga mendapatkan penghasilan yang mantap?" Tanya saya.

"Lima tahun kami luwih (lapar) Mas." Jawab sang istri. "Setiap pagi kami membawa alat tani dan periuk nasi dengan ikan asin. Nasi kami tanak, dan diatasnya kami masukkan sejenis kembang genjer serta ikan asin. Sore kami kembali. Rutin sepanjang lima tahun. Guna merawat pohon sawit yang kami tanam di dua hektar tanah pembagian." Lanjut si ibu.

"Sawit itu baru memberikan harapan kepada kami setelah usianya lima tahun. Ia kami panen dua kali dalam satu bulan. Alhamdulillah Mas sampai sekarang sawit itu masih menghasilkan tandan-tandan hasil keringat kami dahulu."

"Apakah semua teman trans Bapak Ibu satu nasib dengan Bapak dan Ibu?" Tanya saya.

"Tidak Mas. Banyak juga diantara mereka yang tidak tahan di tahun pertama, kedua, ketiga, atau keempat. Tanah-tanah mereka yang akhirnya kami bayar." Kata si Bapak.

"Ada juga tetangga kami yang tetap bersama kami tetapi nasibnya belum berubah banyak." Lanjut si Bapak.

"Apa mereka tidak ikut menanam sawit seperti Bapak dan Ibu?" Tanya saya.

"Mereka menanam apa yang kami tanam. Tetapi tidak merawatnya." Lanjut si Bapak yang murah cerita itu.

"Mereka malas?" Desak saya tidak mengerti.

"Mereka pekerja keras. Tapi mereka bekerja untuk mendapatkan upah di ladang milik orang lain. Mereka selalu mendapat uang sebagai buruh tani di lima tahun pertama. Sementara kami tidak punya uang." Jelas Bapak dan Ibu itu.

Atas apa yang disampaikan itu, saya belajar bagaimana cara untuk mendapatkan penghasilan atau uang lebih berlipat. Si Bapak dan Ibu ini adalah profil tangguh yang punya visi masa depan. Sementara tetangganya yang menghendaki uang dengan memelihara ladang sawit orang demi upah, adalah sosok  yang hanya berpikir jangka pendek. Berpikir untuk hari ini.

Terimakasih...

Jakarta, 29 Nopember 2014.

Belajar Menginap #6; Belajar Bersyukur...

Alhamdulillah. Itulah ungkapan yang paling pas dari kami atas kesesuaian harapan kami terhadap ungkapan yang disampaikan anak-anak didik kami seusai pelaksanaan kegiatan menginap di rumah penduduk yang tinggal di Rw 04, desa Sidamukti, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada pertengahan bulan Nopember 2014 lalu. 

Sebagaimana pada awal pembuatan program hingga sosialisasi kepada perwakilan orangtua kelas dan orangtua siswa lainnya, serta juga kepada anak-anak, kami tidak henti-hentinya meyakinkan kepada semua tentang tujuan baik yang kami inginkan. Dan tampaknya, tidak semua orangtua melihat program kegiatan tersebut sepenuhnya baik. Ada diantara mereka yang mengkhawatirkan atas keamanan di lokasi kegiatan. Namun melalui pola komunikasi yang terus mengalir, serta bantuan pihak orangtua lain yang kebetulan anandanya pernah memiliki kegiatan serupa ketika duduk di bangku SMA, usaha sosialisasi kami sedikit memberikan titik terang.

Kondisi tersebut memungkinkan keterlaksanaan program yang kami rancang tersebut. Dan rasa syukur kami tidak akan mudah kami lupakan dalam ingatan atas keberhasilan kegiatan tersebut. Itulah yang membuat kami mantap atas apa yang kami visikan. 

Keberhasilan atas program Belajar Menginap tersebut dapat kami temukan pada setiap laporan yang dibuat siswa seusai mereka mwnjalankan kegiatan. Juga tampak sekali dengan ungkapan dan pendapat mereka ketika saya pribadi mencoba secara acak mewawancarai mereka.

"Alhamdulillah Pak. Saya punya nomor telepon orangtua asuh saya. Dengan itu saya dapat terus berkomunikasi meski saya sudah kembali hidup normal di Jakarta." Ungkap seorang siswa kelas delapan dengan penuh keyakinan.

"Saya mendampingi orangtua asuh sebagai pedagang es keliling. Dan hasil penjualan untuk satu hari diwaktu itu adalah enam ribu rupiah. Yang berarti es kami laku terjual 6 buah." Kata anak perempuan yang masih duduk di bangku kelas tujuh.

"Arti dari enam ribu rupiah adalah tidak lebih atau kurang dari sepertiga uang jajan saya setiap hari." Lanjut anak itu mencoba memberikan bandingan makna uang. Antara pendapatan orangtua asuhnya sebagai pedagang es keliling dengan uang jajannya setiap hari.

"Saya belajar bersyukur atas apa yang orangtua saya punya dan saya nikmati Pak." Kata seorang lainnya yang duduk di bangku kelas delapan.

Alhamdulillah. Itulah ungkapan paling pas atas apa yang dicapai oleh anak-anak dalam pelaksanaan pembelajaran di Pengalengan...

Jakarta, 29 Nopember 2014.

28 November 2014

Sertifikasi Guru #2; Guru dan Kelasnya

Hari itu ada dua pengawas sekolah hadir di sekolah saya sejak pagi sekali. Mereka hadir ke sekolah untuk bertemu dengan teman-teman kami yang telah tersertifikasi sebagai Guru Profesional. Biasanya, ini adalah bagian dari tahapan untuk pencairan dana tunjangan sertifikasi. Maka, tak ayal lagi bahwa semua teman yang hari ini akan bertemu pengawas, sudah hadir dan bersiap sedia dengan dokmentasi administrasi. Diantanaranya yang saya lihat sendiri adalah daftar nilai siswa. Juga ada beberapa dokumen lain, pastinya, yang tidak saya lihat langsung. 

"Jangan lupa stempelnya." Begitu salah seorang teman mengingatkan teman lain pada saat sedang menunggu giliran bertemu di ruang guru. Ada beberapa guru sertifikasi di ruangan itu sembari bersiap. 

Saya yang menjadi pengunjung di ruang tersebut menjadi mengetahui secara langsung kesibukan apa yang sedang berlangsung. Dan tanpa memiliki rasa apapun terhadap apa yang saya alami di pagi itu, saya mencoba membuat catatan apa yang saya saksikan di lapangan terhadap teman-teman guru.

Sebagaimana kegiatan di pagi hari di sekolah kami, maka ketika pukul 07.25, kehadiran anak-anak sekolah nyaris lengkap. Mereka ada di berbagai ruang di sekolah selain di kelasnya masing-masing, sembari menunggu waktu untuk kegiatan bersama di pagi hari tepat pukul 07.30. Dengan demikian, maka teman-teman yang menunggu giliran untuk bertatap muka dengan Pengawas Pendidikan tersebut tentu untuk sementara waktu tidak sedang berada di kelas bersama peserta didiknya masing-masing.

"Gurunya sedang sibuk bertemu Pengawas untuk sertifikasi. Jadi anaknya tidak akan ditemani selama kegiatan guru itu belum kelar." Begitu komentar seorang guru kepada saya ketika kami bertemu di koridor sekolah.

"Ini mungkin salah satu implikasi dari sertifikasi guru Pak. Bagaimana jika sekolah hanya memiliki guru sebanyak pararel yang ada plus guru olah raga dan guru agama, bagaimana guru dapat bertatap muka dengan pengawas sekaligus mengajar di kelas dan bertatap muka dengan peserta didiknya? Bagaimana juga ketika guru sertifikasi tersebut sedang mengumpulkan berkas hard copy di hari dan jam kerja?" Kata saya menimpali komentar singkat guru itu.

Kami sama-sama tidak mengiomentari lebih panjang lagi terhadap komentar kami masing-masing. Kami tentu maklum akan konsekuensi yang tidak diinginkan atas keberadaan guru sertifikasi di sekolahnya.

Jakarta, 28 Nopember 2014

Belajar Menginap #5; Saya sudah Betah Pak, Tapi Harus Pulang...

Itulah salah satu komentar yang saya dapatkan dari anak ketika mereka berada dalam kegiatan sekolah, yang disebut sebagai Live In. Kegiatan berlangsung pada 18-20 Nopember 2014 di sebuah lokasi di Kecamatan Pengalengan, Jawa Barat.

Kalimat tersebut dia sampaikan keada saya ketika kami bertemu di halaman sekolah setelah jam sekolah berakhir. Ketika dia sedang menunggu jemputan. Dan saya kebetulan sedang menjalankan tugas rutin, yaitu melaksanakan piket setelah jam sekolah.

"Pak, pada malam pertama kami menginap di rumah orangtua asuh kami di Pengalengan itu, saya benar-benar tersiksa. Saya harus menahan untuk tidak pergi ke kamar mandi untuk keperluan apapun. Ini karena kondisi kamar mandi yang membuat saya harus menahan keinganan saya tersebut." Demikian anak itu membuka percakapan dengan saya. Ada dua teman lain yang ikut serta daam diskusi kecil tersebut.

"Saya menangis Pak. Saya benar-benar ingin pulang ke Jakarta. Saya ingin sekali menelpon Ibu saya di Jakarta untuk menjemput saya. Saya benar-benar tidak kerasan." Lanjutnya dengan mimik yang sungguh-sungguh.

"Terus apa yang membuatmu bertahan sehingga tidak jadi menelpon Ibumu?" Tanya saya

"Pertama Pak, telpon kami semua dipegang oleh guru. Kedua, ada teman yang memberikan bantuan kepada saya ketika masa sulit itu saya alami."

"Bagaimana itu bisa terjadi?"

Demikianlah lebih kurang  percakapan kami siang itu. Dan dari percakapan itu, saya kembali mendapatkan feedback tambahan mengenai program kami tersebut dari salah seorang anak. Dia ceritakan bahwa ketika rasa ingin pulangnya itu memuncak, ada teman yang mengajaknya pergi ke rumah teman lain yang tinggal di orangtua asuh yang berbeda. Dimana orangtua asuh temannya itu memiliki rumah tinggal yang jauh lebih baik dari orangtu asuhnya.

Singkat cerita, ketika keinginannya untuk keperluan ke kamar mandi itu selesai, dan hari berganti, anak itu merasakan kehangatan penerimaan dari orangtua asuhnya. Yaitu sejak melaksanakan shalat subuh, sarapan, pergi ke ladang untuk bekerja dan seterusnya.

"Tapi saya harus pulang ketika saya merasa betah tinggal bersama orangtua asuh saya di Pengalengan itu Pak." Demikian kisah anak didik saya ketika ikut serta dalam kegiatan sekolah di Pengalengan.

Semoga saja itu kegiatan sekolah yang dapat ia petik hikmahnya, dan menjadi bagian dari pembelajaran moral. Semoga.

Jakarta, 28 Nopember 2014.

23 November 2014

Belajar Menginap #4; Feedback Orangtua

Berikut ini adalah apa yang saya dapat dari orangtua terhadap kegiatan siswa di Pengalengan. Berita ini tentu terlalu sayang kalau saya hapus dan buang begitu saja. Dan untuk kelestarian apa yang membahagiakan ini, maka saya ikat kenangan ini dalam catatan saya. 

Harapannya tidak lain adalah agar apa yang telah disampaikan itu menjadi pemicu positif bagi kami dimasa-masa depan.

Begini kira-kira apa yang saya sebut sebagai feedback tersebut;

  • Bu Guru, terima kasih telah bersama anak-anak kami selama 3 hari ini. Menjaga mereka dengan baik. Insya Allah akan banyak manfaatnya buat ananda kami. Sampaikan salam dan terima kasih kami buat guru-guru yang lain. Terimakasih banyak Bu untuk update berita dan ceritanya. Membuat kami tidak merasa khawatir.
  • Saya juga terimakasih banyak dengan program ini putri saya bisa lebih mandiri dan bisa punya empati dengan orang lain. Karena ananda orangnya agak cuek dengan lingkungan di sekitarnya.
  • Alhamdulillah, terima kasih banyak Bu Guru dan rekan guru lainnya atas bimbingan dan pembelajarannya. Insya Allah bermanfaat, amin.
  • Terima kasih Bu Guru dan seluruh Pembimbing yang telah dengan sabar dan penuh perhatian.
  • Terimakasih banyak Bu Guru. Tadi malam anak-anak tiba di Jakarta dengan selamat. Terimakasih ananda juga dalam keadaan baik dan sehat. Sepanjang jalan ananda bercerita panjang lebar tentang pengalamannya berada di disana. Tampak dia sangat terkesan dan sangat menyenangkan selama disana. Semoga program tersebut dapat diselenggarakan sekolah setiap tahun. Terimakasih juga untuk guru yang lain, juga sampaikan terimakasih untuk Kepala.Sekolah yang mendampingi.
  • Alhamdulillahirobbil'alamin semoga program live In pertama ini menjadi pembuka atas keberhasilan program-program selanjutnya. Amin. Terima kasih yang setinggi-tingginya.
Demikian apa yang saya dapatkan dari teman-teman guru yang dengan penuh komitmen menemani dan memberikan support kepada anak-anak selama kegiatan live in. 

Pantai Senggigi, Lombok, 23 Nopember 2014. 

22 November 2014

Belajar Menginap #3; Beragam Model Bekerja

Bahwa saya memang mendampingi seluruh kegiatan yang anak-anak jalani selama berada di Pengalengan untuk melaksanakan Live in disana. Karena saya hanya datang ke lokasi kegiatan justru sebelum anak-anak itu tiba di sana.  Saya datang dan menginap sebagai bagian dari tim awal yang datang satu hari sebelum anak-anak sampai. Saya berada bersama tujuh orang lain yang mempunyai tugas mempersiapkan kegiatan. Bertemu dengan perangkat desa, berdiskusi tentang program bersama mereka, mencoba trek untuk wide game, dan juga berkoordinasi dengan para house family.

Namun sekembalinya saya ke Jakarta, saya banyak mendapatkan kiriman berita dan gambar dari panitia tentang kegiatan anak-anak. Baik kegiatan sosial yang anak-anak lakukan di pagi hari seperti jalan-jalan di lingkungan kampung, kegiatan ketika anak sedang bekerja menanam tomat di ladang, bekerja membantu keluarga induk semang yang sedang mencangkul di ladang, atau juga menyiangi rumput di kebun.

Juga beberapa kabar dari panitia sebagai ilustrasi dari gambar-gambar yang dikirim kepada saya. Tentunya saya ikut berbahagia atas terselenggaranya kegiatan ini. Juga mengapresiasi atas usaha dan ikhtiar panitia dan guru-guru sehingga kegiatan ini berjalan. 

Bahkan saya pun mempunyai kesimpulan akan berbagai model anak-anak dalam  melakukan kerja bersama orangtua pengasuhnya. Itu kesimpulan saya ketika melihat gambar yang dikirim guru. Tampaknya apa yang saya simpulkan itu tidak meleset dari pengamatan guru-guru yang berada dan mendampingi anak-anak.

Seperti foto tiga siswa kita yang sedang membantu menanam tomat. Dengan mengenakan pakaian training  lengkap dengan jaket trainingnya berada di tengah ladang. Yang seorang tampak menunduk dan memasukkan benih tomat sedang dua anak lainnya terlihat berdiri mengamati dengan kedua tangan masuk ke saku jaketnya.

Ada juga seorang anak yang  sedang mencangkul lahan dengan penuh penghayatan. Betapa tidak,   dia mencangkul dengan melepas kaosnya dan bertelanjang dada. Sementara disampingnya terlihat seorang anak usia 3 tahun duduk mengamitinya.

Melihat itu semua, saya sungguh ijut berbahagia atas berlangsungnya kegiatan itu. Harapannya, kegiatan itu menjadi bekal untuk masa depan anak-anak itu. Amin.

Mataram, 22 Nopember 2014.

19 November 2014

Belajar Menginap #2; Bertemu Induk Semang

Sebelum anak-anak didik kami datang untuk melakukan apa yang mereka sebut sebagai kegiatan live in, saya menemani beerapa guru untuk datang ke lokasi lebih awal. Keperluan kami datang lebih awal adalah untuk mempersiapkan semua hal yang menyangkut kegiatan live in, yang saya senang menerjemahkannya sebagai kegiatan Belajar Menginap.
Sekedar gambaran situasi lokasi belajar menginap yang kami pilih.
Ini adalah kegiatan untuk kali pertama anak-anak kami belajar menginap. Karena untuk kegiatan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan yang kami lakukan adalah kegiatan Pramuka daam bentuk camping. Dan alhamdulillah, meski ini merupakan kegiatan kali pertama, namun hanya beberapa anak yang tidak ikut. Mayoritas anak bersemangat untuk merasakan hidup bersama warga desa di daerah pegunungan yang dingin, didekat kebun teh Malabar, di Pengalengan, Jawa Barat.

Maka ketika kami datang dan berjumpa dengan para tokoh desa, kami diajak berkeliling kampung untuk melihat semua rumah yang akan menjadi induk semang atau kalau dalam program home stay disebut sebagai host family bagi anak-anak didik kami. Juga ketika menjelang tengah malam, kami mencoba menyusuri rute jurit malam yang merupakan salah satu kegiatannya.
Suasana pertemuan dan dialog itu.
Juga bertemu dan berdialog dengan semua induk semang di sebuah aula gedung PAUD yang ada di desa itu siang hari sebelum anak-anak sampai ke lokasi. Sebagai guru, kami benar-benar menginginkan adanya implikasi pembelajaran budi pekerti kepada anak didik kami ketika mereka belajar hidup ala desa. Sebuah kehidupan yang pasti sangat berbeda ketika mereka tinggal di rumah besama orangtua, atau bahkan ketika mengikuti kegiatan home stay di luar negeri. Semoga.

Pengalengan-Jakarta, 19 Nopember 2014