Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 April 2014

UN 2014 #1; Hasil UN dengan Nyontek, tidak Membanggakan

Dalam pelaksanaan UN tingkat SMA dan sederajat pada tahun ini, teman saya yang adalah aktifitis di organisasi keguruan rajin meng-up load berita-berita berkenaan dengan UN SMA dan sederajat pada tahun yang berhasil dibocorkan. Dan salah satu dari apa yang di up load tersebut, adalah foto dari lembaran-lembaran kunci jawaban yang bocor dan berhasil di foto.

Mengapa bocor? Bagi saya sendiri, bocor hanya terjadi ketika memang ada motivasi ekonomi. Paling tidak pendapat  ini yang menjadi pendapat saya dengan mencermati terjadinya beberapa peristiwa dari bisik-bisik tentang UN yang bocor. 

Dan dengan motivasi ekonomi itu ga yang menjadikan para petualang itu sudah mampu mengirimkan, tidak tangung-tanggung, keduapuluh model soal UN yang ada di dalam ruangan sekaligus via SMS sekitar pukul 06.00! Ini adalah prestai luar biasa bagi sebuah kecepatan dan ketepatan. Sayangnya pada hal yang ilegal dan haram!

Tidak Membanggakan

Dan karena ingin mendapatkan sesuatu yang baik tetapi dengan mudah juga, maka anak-anak peserta UN, yang tentunya tanpa restu ortu, secara bergotong-royong, berpatungan, mengumpulkan sekian ratus ribu rupiah untuk mendapatkan kiriman SMS dari mata pelajaran UN yang akan diujikan pada hari tersebut.  Tapi sadarkah anak-anak muda itu bahwa hasil baik yang mereka dapatkan juga benar-benar tidak dapat menjadi hal yang membanggakannya?

Dan untuk hasil UN tinggi tetapi tidak membanggakannya itu, saya memiliki dua hal yang pernah saya alami, atau setidaknya yang pernah saya lihat dan dengar langsung. Pertama, tedapat seorang yang lulus dari jenjang pendidikan SMP, yang hasil UN untuk mata pelajaran Matematikanya mendapat nilai sempurna, 10! Tetapi apa alasannya ketika menginjakkan kaki di bangku pendidikan SMA, dia begitu ngotot untuk tidak masuk dalam program atau jurusan IPA? Bukankah hasil Matematikanya yang sempurna tersebut merupakan prasyarat baginya untuk secara mulus masuk ke juruan IPA? 

Dan kalau saja dia yang dengan nilai UN di Matematikanya sempurna ersebut menghindari masuk jurusan IPA ketika SMA, maka bagaimana jika mereka yang mendapatkan nilai di bawah itu? Dimanakah logika sehatnya? Dan jawaban secara gamblangnya, hanya Allah dan dia sendiri yang tahu persis apa yang menjadi tidak logisnya atas pemilihan jurusan di SMAnya. 

Kedua, Ketika ada seorang dari para penyontek kunci jawaban tersebut mendapatkan hasil UN yang tinggi, maka mau tidak mau ia akan menjadi siswa yang secara mendadak akan memperoleh ranking tinggi di sekolahnya. Malah kadang ada yang rankingnya melampai teman-temannya yang memang terkenal cerdas sejak semester I.

Dan bisakah kita membayangkan ketika acara perpisahan, kepala sekolah memanggil siswa-siswanya yang memiliki nilai UN tinggi itu ke panggung? Bagaimana jika ada si fulan yang pada semester I-V memiliki rata-rata nilai 7 atau 8, namun pada saat UN itu ternyata memperoleh nilai rata-rata 9,75?

Dari dua anekdot itu, cukuplah bagi kita, sebagai orang dewasa, bagaimana memberikan pengajaran kepada anak-anak kita untuk bisa merasa bangga atas prestasi yang mereka ukir sendiri secara jujur. 

Paling tidak itulh mengapa saya melihat betapa pentingnya bagi kita semua untuk melakukan yang jujur dan bukan hanya sekedar memperoleh hasil yang baik tetapi dengan jalan yang merusak tatanan kelogisan akal sehat. Semoga!

Jakarta, 30 April 2014.

Pelatihan Guru #6; Selalu ada yang Jualan

Mendapat undangan untuk hadir dan ikut serta dalam kegiatan pelatihan guru pada saat-saat ini, menjadi harus selektif bagi saya untuk memutuskan apakah saya harus ikut serta atau tidak. Pertama memang apa yang akan menjadi topik dan bahasan dalam kegiatan yang ditawarkan. Selain memang biaya diharus kami keluarkan, waktu, dan lokasi.

Namun jujur, ada satu hal yang menjadi pertimbangan bagi saya sekarang ini. Utamanya adalah berkenaan dengan siapa yang menjadi pelaksana serta yang menjadi narasumber dari kegiatan tersebut. Ini tidak lain karena saya tidak mau jika ketika menjadi peserta pelatihan yang bertujuan ingin meningkatkan kualifikasi diri dalam profesionalisme, berujung kepada penawaran terhadap barang atau jasa tertentu kepada kami. Meski itu adalah sarana yang akan menjadi bagian pendukung bagi kinerja pembelajaran di sekolah.

Jadi, sungguh saya harus mohon maaf jika tidak seluruh undangan atau penawaran yang kami terima begitu serta merta menjadi agenda bagi sekolah sebagai kegiatan peningkatan profesionalisme teman-teman guru. Kami di sekolah harus benar-benar agar kegiatan yang kami ikuti pada ujungnya memang bagi peningkatan kualifikasi kami. Dan bukan menjadi bagian dari sasaran tembak penjualan sebuah produk. Apapun produknya.

Seperti ketika kami mengikuti sebuah kegiatan yang mengusung tema pembelajaran berbasis IT. Bersemangat kami mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang ada. Tentunya yang disampaikan oleh seorang praktisi IT, dan juga olehsorang guru yang berbekal kompetensi  IT yang kuat. Namun pada akhir sesi kami diperkenalkan sebuah prduk dengan basis IT yang akan menjadi bagian dari peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah oleh guru-guru.

Repotnya, proposal yang disampaikan keada kami tidak berhenti sampai disitu, karena bagian penjualan terus menerus akan mengejar apa yang akan menjadi keputusan kami. Ini karena target mereka dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan guru tidak lain adalah jualan.

Setidaknya, itulah yang saya rasakan. Sebagai sekolah, banyak orang yang melihat kami seolah-olah sebuah pasar yang berkelimpahan harta!

Jakarta, 30 April 2014.

Pileg 2014 #11; Pelajaran dari Keberhasilan Caleg karena 'Beramal'

Hari-hari ini, untuk kepastian dari para calon legislatif di beberapa Provinsi, sudah benar-benar nyata terlihat. Ini karenaperhitungan telah berada pada tataran nasional di KPU pusat. Maka seperti dialog saya dan teman-teman, tentang berbagai hal dan kejadian yang telah berlalu berkenaan dengan para caleg. Baik para caleg yang berhasil masuk menjadi anggota dewan atau yang gagal. Pada dua pihak itu ada beberapa anekdot yang menjadi menarik perhatian kami sebagai rakyat. Terlebih dengan begitu terbukanya arus informasi. Maka berbagai kejadian atas implikasi keberhasilan dan kegagalan menjadi bagian dari berita di media.

"Tokoh itu memang jauh sebelumnya sudah benar-benar berada di masyarakat. Dia terlibat aktif membantu masyarakat yang ada di sekitarnya. Yang kebetulan memang menjadi dapilnya di DPRD. Maka ketika ia menjadi caleg, masyarakat sudah tidak asing lagi kepada dia." Begitu serang teman saya memberikan analisa dari hasil bincang-bincangnya dengan beberapa temannya di luar saya.

Analisa teman yang dia sampaikan kepada kami, termasuk di dalamnya saya, menjadi titik pusat dari perbincangan disela waktu kami memanfaatkan waktu istirahat dengan meminum secangkir kopi panas. Juga ada beberapa analisa dari teman yang lain tentang para caleg yang gagal atau juga yang berhasil dalam diskusi informal kami itu. Namun saya kurang dapat menyimaknya. Dan oleh karenanya, saya tidak menjadikannya sebagai ide yang menggelitik yang melahirkan catatan saya yang kesebelas dalam pemilu legislatif tahun ini.

Ini tidak lain karena ketika kami berada dalam sebuah ruangan dan aktu yang berbeda, yang tentunya juga dalam momen yang lain, saya menjadi terkesiap ketika seorang teman membacakan kalimat, yang menjadikan saya begitu terngiang atas kalimat teman tentang keberhasilan seorang calon legislatif seperti yang saya kutip diatas. Kalimat teman itu lebih kurang saya tulis adalah; bahwa amal yang tulus ikhlas kan menjadi sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Yang masing-masing tangkainya terdapat seratus biji.

Atas kalimat itulah saya mencoba membuat korelasi antara dua cerita atau pernyataan yang berbeda tersebut. Ini karena teman saya menyatakan bahwa keberhasilan seorang caleg yang dikenalnya itu antaralain karena rangkaian panjang sebelum pelaksanaan pileg. Sehingga nama si caleg tersebut menjadi membekas bagi para pemilih. 

Justru, atas keberhasilannya itulah saya berpikir bagaimana fatsun yang seharusnya menjadi panduan agar kegiatan baik itu menjadi sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan seterusnya? Inilah pelajaran berharga yang dapat saya petik dari keberhasilan seseorang. Alhamdulillah.

Jakarta, 30 April 2014.

28 April 2014

Guru Nasionalisme Kami Berpulang

Sebagaimana ditulis oleh halaman koran on line Republika pada hari ini, bahwa Idris Sardi, sang Maestro Biola kita telah berpulang. Beginilah paragraf pertama koran itu menyampaikan beritanya; REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Innalillahi wa'innailaihi raji'un. Sang maestro biola Idris Sardi (76 tahun) yang sempat kritis akibat komplikasi penyakit yang dideritanya telah berpulang ke rahmatullah. Idris Sardi wafat pada Senin 28 April 2014, pukul 07.28 WIB di Rumah Sakit Meilia, Cibubur, Depok, Jawa Barat (Jabar).

Berita ini tentu berita yang mengegetkan kami yang berada di sekolah. Ini karena pada saat memperingati hari Sumpah Pemuda pada tahun 2012 yang lalu, beliau hadir dan memainkan biolanya dengan sempurna di hadapan kami semua. Siswa kelas 5 dan kelas 6 SD, serta juga seluruh siswa SMP, guru-guru, beberapa orangtua siswa, pengurus Yayasan kami.

Pada saat itu, beliau berada di panggung dengan support yang luar biasa dari putrindanya, Ibu Santi Sardi. Juga ada dua tokoh yang kebetulan juga adalah orangtua siswa kami, Musikus Rap Iwa K, dan politikus DPR Bapak Dedi Gumelar. 

Berikut adalah bagaimana beliau tampil di panggung kami pada saat perayaan hari Sumpah Pemuda, sehingga tidak salah jika pada kala itu kami sedang belajar nasionalisme, belajar tentang betapa bangganya kami sebagai bagian dari Indonesia, dari permaianan biola beliau tentang Indonesia. Selamat tinggal Guru Nasionalisme kami. Semoga Allah melimpahkan RahmatNya untukmu di hari-harimu berikutnya. Amin. 
Sang Maestro didampingi oleh musikus rap, Iwa K.
Sang Maestro memainkan biolanya di hadapan kami. 
 Kami tertunduk karena kesyaduan dari alunan biola Sang Maestro

 

25 April 2014

Jangan Hanya Titip Doa!

Beberapa waktu lalu kita sempat terkena polusi pemikiran, yaitu ketika melalui sms ada seorang ustad yang sedang berada di kota suci dalam melaksanakan umroh, menawarkan jasanya untuk mendoakan kepada siapa saja yang bersedekah dalam kelipatan 100 ribu rupiah. Tidak lama sesudah tersiar kabar itu, maka beramai-ramai umat mengemukakan pendapatnya. Hingga akhirnya reda polusi itu dari udara kita.

Namun jauh sebelum itu, saya juga mendengar apa yang disampaikan oleh beberapa teman guru yang memiliki kebiasaan 'celamitan' , kepada siapa saja yang dianggapnya dikenalnya dengan baik. Apakah itu siswanya atau orangtua siswa. Dan kebiasaan seperti itu, sudah berkali-kali diingatkan namun tetap saja tidak menjadi perhatian penting baginya.

"Minggu depan Bapak berangkat ya. Enam hari Bapak tidak mengajar. Apakah ada yang mau titip do'a? Tolong sampaikan ke Ayah/Ibu. Tapi jangan hanya titip do'a saja ya?" Begitu lebih kurang kalimat teman saya yang memang sudah menjadi karakternya untuk tetap celamitan' . Kebiasaan yang mengakar walau itu tidak bermartabat.

Dan atas kebiasaannya itu, maka sebagian teman sejawatnya yang kurang menempatkan harga drinya pada posisi yang semestinya, sebagaimana ia menyandang profesinya. Ia, mesi dengan pengalaman mengajar, bertitel megister, atau mengikuti berbagai pelatihan motivasi dan cara berpikir maju, tetap saja tidak menjadikannya lebih berharga. Harga dirinya adalah celamitan'  itu.

Itulah yang ingin saya sampaikan di dalam catatan ini. Bahwa martabat dan harga seseorang itu berangkan dan berpondasi kepada seluruh aspek perilaku yang dipertunjukkan kepada kalayak sepanjang kehidupannya sehari-hari.

Mudah-mudahan ini menjadi butiran pembeajaran untuk saya. Setidaknya untuk tidak pernah mengeluhkan tentang kondisi diri kepada pihak yang memang bukan penyelesai masalah. Apa lagi harus meminta sumbangan. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 25 April 2014.

24 April 2014

Pilpres 2014 #2; "Saya Mundur Saja!"

Beberapa waktu lalu, begitu menyelesaikan tugas sebagai KPPS dalam Pileg 2014 yang berlangsung pada 9 April 2014, kami, saya dan ketua KPPS, terlibat perbincangan ringan.

"Jadi kita tidak bisa lagi pakai halaman rumah Pak Baik itu ya di 9 Juli nanti." begitu kata ketua KPPS kami. Pernyataan ini didasari dari tersiarnya berita bahwa rumah Pak Baik benar-benar telah laku dibeli orang. Bukan orang jauh memang yang membeli rumah dengan halaman yang hampir selalu menjadi lokasi TPS untuk sekitar 450 orang pemilih itu. Tetapi justru karena bukan orang jauh itulah maka semua kami mengetahui tabiat dari pemilik baru dari rumah dengan halamannya itu.

"Jangan membuat kesimpulan terlebih dulu Pak Haji. Bukankah kita belum pernah melakukan komunikasi dengan pemilik barunya? Saya punya keyakinan yang berbeda dengan Pak Haji. Jika kita berkomunikasi dengan baik, saya punya kesimpulan yangberbeda dengan Bapak. Bukankah kita akan meminjam halaman itu untuk kepentingan masyarakat? Jadi oleh karena itu, keyakinanan saya justru baik."

Begitulah penjelasan saya kepada ketua KPPS kami itu. Apa yang sya sampaikan itu sekedar sebagai penawar akan ketidakyakinan ketua kami itu. Karena ia membuat kesimpulan seperti itu berdasarkan kepada bagaimana perilaku pemilik baru dari halaman rumah itu selama ini sebagai tetangga kami bersama.

"Siapa tahu ya Pak. Saya masih punya keyakinan positif." lanjut saya lagi. Dan tampaknya pendapat saya itu sedikit memberikan rasa yang berbeda kepada suasana perbincangan  sore itu. Lalu kami beralih berdiskusi panjang lebar tentang topik-topik lain seputar apa yang terjadi di lingkungan kami. 

Namun tampaknya Bapak ketua KPPS kami itu tetap saja dihantui tentang lokasi halaman rumah yang sudah terjual dan berganti pemilik tersebut sebagai lokasi dari pendirian TPS di Pemilu. Ini seperti apa yang disampaikannya ketika kami bertemu kembali di depan warung yang menjadi 'pos' diskusi warga.

"Gua pusing nih Gus. Pokoknya, kalau nanti halaman rumah itu tidak bisa lagi kita gunakan, gua pilih mundung sebagai ketua KPPS."

Saya pun hanya diam dan tidak menanggapi apa yang disampaikannya. Walau sebelumnya kami telah berdiskusi untuk menggunakan jalan atau gang yang ada di wilayah kami. Namun sepertinya Pak ketua KPPS kami itu memilih untuk tetap menggunakan fasilitas milik warga yang selama ini memang membuat kami nyaman.

Saya, tidak menyinggung lagi apa yang menjadi pendapatnya itu higga kami berpisah dalam diskusi sore itu...

Jakarta, 24.04.2014

23 April 2014

Pilpres 2014 #1; Belajar Memilih Presiden

Sebagai bagian dari masyarakat kebanyakan, saya tentu akan menjadi bagian dari butiran angka pemilih saja pada agenda pemilihan presiden RI di tanggal 9 Juli 2014 nanti. Dan kalau ada embel-embel 'jabatan' yang saya sandang tidak lain selain menjadi anggota nomor 3 di KPPS yang kebetulan akan berlokasi di halaman rumah salah seorang dari warga yang ada di RT kami. Selebihnya tidak ada.

Namun dari posisi inilah saya dan anggota keluarga berdiskusi tentang nama-nama pelamar sebagai calon presiden. Seperti Pak Jokowi, Pak Ical, Pak Prabowo, Pak Wiranto, Pak Rhoma, atau mungkin ada yang lain yang belum saya sebut. Nama-nama itu yang memang sudah menjadi berita di koran atau surat kabar. Akan seperti apa nanti yang sesungguhnya menjadi calon presiden pada Pilpres tanggal 9 Juli nanti, masih belum pasti. 

Ini karena perhitungan suara Pileg yang telah berlangsung tanggal 9 April 2014 lalu masih dalam proses hingga hari ini. Dan para calon yang ada itu beberapa diantaranya telah getol berjuang bersama timnya untuk dapat benar-benar menjadi calon. Para calon itu sedang berjuang untuk mendapatkan boarding pass menjadi calon. Begitu kira-kira yang diberitakan di surat kabar.

Karena masih menjadi bursa calon, maka sebagai calon pemilih, saya memulai juga mengumpulkan ancang-ancang guna menemukan argumentasi bagi saya atau kami di keluarga untuk menjatuhkan pilihan. Dan inilah masa yang saya menganggapnya tidak remeh. Karena informasi yang ada di seputar para calon itu akan menjadi pertimbangan saya.

Sayangnya, hingga sekarang ini, saya dan mungin juga Anda, mendapatkan berita dari akses yang kita dapat dari media. Inilah yang membuat saya sendiri kurang valid untuk menjadi pijakan dalam menentukan pilihan.

Ini tidak lain karena saya meyakini bahwa apa yang tertulis di halaman berita bukanlah materi berita yang primer. Oleh karenanya, sulit menjatuhkan pilihan dari sebuah berita sekunder atau bahkan tersier untuk seorang yang akan menjadi imam saya sepanjang lima tahun ke depan.

Setidaknya, itulah pendapat saya...

Jakarta, 23 April 2014.

21 April 2014

Pileg 2014 #10; Rapopo

Ini catatan saya setalah Pemilu Legislatif pada hari ini masuk dalam tahap perhitungan suara untuk tingkat Kota Madya. Teruaterang, sebagai orang yang non partai, yang kalau dalam pemilihan umum hanya bertugas sebagai anggota dari KPPS di salah satu TPS yang masuk dalam daerah pemilihan DKI III, maka tugas saya berarkhir ketika perhitungan suara di TPS saya telah kami laporkan dan laporan tersebut diterima oleh petugas KPU tingkat Kelurahan kami. Maka untuk perhitungan tingkat selanjutnya, saya tidak pernah mengikuti dan mengetahuinya. 

Namun teman-teman yang sesama anggota KPPS yang kebetulan merangkap sebagai tim sukses tingkat kelurahan dari Caleg tertentu atau pertai tertentu, mereka tetap berada di kelurahan hingga perhitungan di kelurahan benar-benar tuntas, untuk selanjutnya hasil perhitungan tersebut di kirim ke jenjang kecamatan. "Lebih seru dan lebih menguras tenaga!" begitu komentar teman saya itu. Tidak ada cerita setelah itu selain kecewa karena calon yang dijagokannya hanya menempati uratan besar dari perolehan suaranya yang sedikit dibanding Caleg lainnya di partainya.

Namun pagi ini saya berkirim berita dengan teman saya yang lain lagi, yang ketika pertemuan silaturahim beberapa bulan lalu memajang fotonya sebagai Caleg dari salah satu partai. Dan seperti juga Caleg yang lain, dalam fotonya itu ia sedang bersalaman dengan Calon Presidennya! Salah satu foto yang ada dalam spanduknya itu, ia pasang di garasi rumahnya tempat kami semua berkumpul waktu itu. 

"Rapopolah. Buat pengalaman." Begitu komentarnya atas pertanyaan saya tentang bagaimana perolehan suaranya. Rapopo, atau tidak apa-apa atas hasil perjuangannya yang belum mampu membawanya untuk berebut kursi anggota dewan daerah DKI Jakarta tahun 2014-2019.

Komentar itu setelah dia sendiri mengikuti perjalanan perhitungan suara sejak di TPS hingga kecamatan. Dan dalam tahapan itu, ia masih mempunyai harapan baik akan hasil perhitungan suaranya. Namun ketika memasuki tingkat kota, ia menjadi tersadar bahwa jeruk makan jeruk. Sebuah istilah yang memang benar-benar ia alami.

"Itu suaraku murni. Pemilihku adalah pemilih hati nurani. Tidak ada serangaj fajar yang aku jalani. Tidak juga ada beli suara agar mereka memilih nomor atau gambarku. Murni. Dan itu ada 2000 suara. Tapi aku ada diururtan 4 di tingkat kota. Pengalaman untukku." Begitu penjelasannya kepada saya lewat pesan di media sosial.

Dan sebagai balasan atas penjelasannya, saya mengirim pesan balik; "Syukurlah kalau masih sadar untuk tidak melakukan pebelian suara pemilih."

Jakarta, 21 April 2014.

15 April 2014

Pelatihan Guru #5; Pelatihan yang 'Tak Penting'

Akhir pekan lalu, kami melaksanakan pelatihan yang providernya dari luar sekolah. Ini karena keterampilan yang akan dilatihkan kepada teman-teman guru di sekolah kami, berkenaan dengan keterampilan membuat program pembelajaran dengan media komputer. Jadilah kami ber 30 hadir di sekolah di akhir pekan yang lalu. 

Awalnya

Rencana kami untuk mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan program pengajaran dengan berbasis komputer tersebut, tidak ditanggapi dengan tanggapan yang seragam. Tetapi beragam sekali. 

Untuk saya sendiri, sebagai orang yang sudah merasa tua, yang berarti, khusus untuk saya sendiri, sedikit tertinggal oleh akselerasi perkembangan komunikasi komputer, merasa begitu pentingnya keikutsertaan saya. Selain juga untuk mengejar isu tentang perkembangan pembelajaran. khususnya perkembangan pembelajaran berbasis komputer. Maka dalam kegiatan itu, saya menjadi pendaftar yang pertama, sekaligus dengan harapan yang menggebu tentang apa yang akan saya dapat.

Sedang ada beberapa teman yang sudah terpilih sebagai bagian dari unit sekolah yang harus hadir dalam pelatihan tersebut, tidak semuanya menyambut kegiatan di akhir pekan tersebut dengan aura yang menggembirakan. Ada beberapa teman yang menanggapi kegiatan itu tidak sepenuh hati. Bahkan pada H-2, ada pada saya datang teman untuk meminta pengganti peserta. Ini karena peserta yang terlanjur ditunjuk di awal oleh kepala sekolah mengundurkan diri dengan argumen karena ada kegiatan keluarga.

Akhirnya

Siang hari pada pelaksanaan kegiatan tersebut, persisnya ketika kami tidak lagi mendengarkan presenasi yang diberikan oleh pelatihnya, tetapi ketika kami memulai membuka program aplikasi komputer dan mencobanya untuk membuat rancangan pembelajaran, harapan yang sebelumnya tidak utuh berbalik 180 derajat.

Wajah-wajah penuh minat mengganti wajah keterpaksaan. Teman-teman begitu antusis untuk terus menerus mencoba dan merumuskan apa yang menjadi tugas dalam pelatihan tersebut. Semua teman mengganti tag line pelatihan yang 'tidak penting' menjdi sesuatu yang penuh antusiasme.

Saya dan teman-teman perumus justru menjadi ditodong; "Ayo Pak, yang lain harus ikut pelatihan seperti kita. Kita buat lagi yang lebih lama dan lebih mendalam!"

Jakarta, 15.04.2014.

14 April 2014

Pileg 2014 #9; Maaf, Saya tidak Memilihmu!

Menginjak hari ke-5 setelah hari pencoblosan pada Rabu tanggal 9 April lalu, dan pada saat ketika saya menonton pilihan berita yang ditayangkan di layar tivi, saya harus mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan hati saya selama ini. Ini karena seperti gundukan ketidakpuasan pada diri saya terhadap beberapa caleg pada Pemilihan Legislatif dan DPD tahun 2014 ini. Pada khususnya seorang caleg yang benar-benar mengganggu mata hati saya.

Mungkin sekali di Indonesia hanya saya seorang yang memiliki pengalaman seperti ini. Semoga saja demikian saja adanya. Meski juga harus saya akui di beberapa orang yang kebetulan saya mengenalnya secara pribadi, memiliki jenjang anak tangga dalam perjuangannya. 

Dan kepada orang yang pertama saya ungkapkan tersebut, kata yang pas yang saya ungkapkan adalah; permohonan maaf bahwa saya tidak memilihmu! Bahkan dirimu menjadi topik diskusi yang hangat dalam keluarga saya. Meski ini bukan upaya untuk menggembosimu, tetapi saya ingin sekali menanamkan perilaku komitmen kepada anggota keluarga saya.

Perjuangan atau Pekerjaan?

Mungkin dua kata itu lebih kurang yang menjadi pilihan kata, yang mampu menggambarkan tentang sepak terjangmu sebagai anggota dewan. Ini tidak lain karena sejak dirimu merangkap sebagai pejuang di dewan dan sekaligus tetap melanjutkan perjuangan di area pembinaan aqidah dan moral. Dan sebagai anggota di dewan, tampaknya ini adalah periode yang kesekian kalinya.

Meski juga saya harus jujur mengatakan bahwa tidak pernah saya membaca sekalimat berita tentangmu ketika dirimu memperjuangkan sesuatu. Tidak pernah sekalipun. Mungkin selama di ruang rapat dirimu selalu sebuk menyebut asmaNya sehingga koran tidak tertarik mengutip namamu meski hanya sekali sepanjang 2 periode di dewan dan 1 periode di senat. Atau mungkin saya sendiri yang luput tentang berita atasmu?

Dan saya juga harus jujur katakan bahwa keberadaanmu sepanjang dan selama itu dalam melakukan perjuangan adalah sesuatu yang membanggakan kami. Tetapi mengapa saya menjadi tidak tertarik dengan semua sepak terjangmu? 

Ini karena dalam daftar senat untuk periode 2014-2019, terdapat namamu di daerah pemilihanku. Ini juga setelah untuk periode sebelumnya dirimu menjadi senat untuk wilayah pemilihan lain? Maka mohon maaf jika akhirnya saya menyimpulkan sebuah pilihan bahwa perkerjaanlah yang mungkin menarikmu untuk kembali sebagai orang pilihan di pemilu 2014 ini. Tetapi dengan jujur harus saya katakan bahwa pada pemilu kali ini saya tidak memilihmu!

Jakarta, 14.04.2014

10 April 2014

Pileg 2014 #8; Membuat Berita Acara

Salah satu kegiatan bagi para petugas KPPS di saat Pemilu apapun, termasuk Pemilu Legislatif dan DPD tahun 2014, adalah membuat berita acara. Berita acara tersebut merupakan kompilasi dari keseluruhan hasil pelaksanaan Pemilu.

Dalam rangka membuat berita acara dengan form yang sudah disediakan itu, buat saya pribadi, sudah merupakan pengalaman bertahun-tahun lalu, ketika saya menjadi pengawas Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional yang disingkat Ebtanas, yang sekarang berganti baju dengan nama Ujian Akhir Nasional. Dimana sebagai pengawas ruang Ebtanas, saya harus membuat laporan tertulis yang antara lain berisikan jumlah soal ujian yang kami terima dari dalam amplop, jumlah peserta yang mengikuti ujian, serta berbagai informasi yang terkait dengan pelaksanaan ujian saat itu.

Maka demikian juga dengan pelaksanaan Pemilu. Pada pembuatan laporan hasil Pileg tahun 2014 ini, informasi yang saya dapatkan dari petugas, bahwa kami diwajibkan untuk membuatnya dalam  jumlah 17 rangkap. Namun setelah mendengar dari beberapa informasi, termasuk dari KPU di kelurahan, hasil laporan hitungan yang harus dikumpulkan cukup 5 bundel atau 5 set saja. Plus untuk keperluan TPS dan para saksi. Dengan demikian, kita semua dapat melihat berada dimana posisi kepentingan dari pembuatan berita acara tersebut. 

Dan seperti juga pada pelaksanaan Pemilu sebelumnya, sejak TPS dibuka pukul 07.00, kami telah membuat serapi mungkin data-data yang pada akhirnya nanti menjadi isian di lembar berita acara. Tetapi entah bagaimana, beberapa data yang seharusnya kami telah buat rapi itu buyar begitu surat suara DPR RI kami buka bersama degan disaksikan oleh para saksi dan khalayak. Alhasil, ketidak telitian kami dalam menyimpan data jumlah pemilih di DPT sulit kami sinkronikan dengan datang pemilih, yang tidak memilih, yang memilih dengan benar, dan juga yang memilih tetapi masih harus dianulir.

Ketidak harmonisan dalam mencatat angka-angka tersebut berdam[ak pada durasi membuka kotak suara berikutnya. Maka katika kami menyelesaikan perhitungan suara pukul 20.00, proses berikut yang semestinya mulus menjadi banyak terhambat.

Bersyukur bahwa pada pukul 23.30, ketika kami bertemu dengan para petugas KPPS yang bertugas di yang ada TPS  lain, sedang mengantri untuk mengmulkan hasil tugas kami dalam Pilleg.

"Semua data yang Bapak hitung dalam laporan Pileg benar Pak. Selamat ya Pak!" Begitu kata Ketua KPU kelurahan tanpa memberikan masukan sedikit pu atas tugas kami.

"Selamat ya Pak!"

Kami, saya dan dua teman dari TPS yang sama, meninggalkan ruangan aula milik kelurahan yang menjadi kantor KPU tersebut, yang masih lumayan ramai oleh teman-teman dari KPPS TPS lain, yang masih terdapat kekeliruan atau kekuranglengkapan dari laporan mereka. Saya itu waktu sudah menunjukkan puluh 00.30. Yang berarti telah berganti hari!

Jakarta, 10 April 2014.

Pileg 2014 #7; Menjadi Petugas KPPS

Pemilihan Umum untuk memilih anggota legeslatif dan DPD telah berlangsung Rabu, 9 April kemarin. Menjadi hari libur pada pemilihan umum itu. Tetapi sebagai anggota KPPS yang bertugas, hari libur itu menjadi hari berkumpul bersama masyarakat yang terdiri dari para tetangga di lokasi pemungutan suara, TPS. Artinya, liburan saat Pileg kemarin menjadi hari ajang silaturahim.

Bahkan hari silaturahim kemarin rata-rata dari kami yang menjadi anggota KPPS atau jga sebagai saksi di TPS, menjadi hari yang relatif panjang. Mengingat kami harus berada di TPS kami paling terlambat pada pukul 06.00. Dan baru berakhir rata-rata pada pukul 22.00 di malam harinya. Melelahkan? Meski iya, tetapi itulah realita dari sebuah proses pemilihan para anggota dewan yang terhormat dan para senator kita setiap lima tahunnya, teap menjadi sebuah ajang silaturahim sekaligus menunaukan tugas tanpa menjadikannya sebuah beban yang berat. Jadi sebuah resiko bagi kami yang menerima amanah sebagai bagian dari 'pesta' demokrasi di strata terbawah.

Maka ketika waktu Magrib tiba, kami masing-masing anggota kembali ke rumah untuk sekedar mencuci muka, berganti pakaian, dan menunaikan sembahyang, tetap saja tidak tertarik untuk menonton atraksi para komentator demokrasi yang disuguhkan oleh layar televisi. Bukan tidak kagum kepada siapa orangnya yang sedang menjadi nara sumber atau tentang topik yang menjadi bahan diskusinya, tetapi karena memang bukan waktunya bagi kami untuk memilih kegiatan itu. Kami harus segera kembali ke meja tugas kami di TPS.

Non Partisan?

Seperti juga dalam melaksanakan tugas Pemilu sebelumnya, kami sesama anggota KPPS bersepakat untuk benar-benar fokus kepada tugas kami sebagai anggota KPPS. Ini bertujuan agar tugas kami dapat kami selesaikan dengan baik, cermat, tuntas, dan efisien. Oleh karenanya kami meminta kepada petugas pendaftaran untuk benar-benar menghitung jumlah pemilih yang menggunakan suaranya. Ini agar saat kami membuat berita acara sebagai laporan hasil, menjadi tepat dan tidak membuang waktu.

Kami juga menyepakati agar setiap kami yang menjadi anggota KPPS tidak sibuk dengan kegiatan partai, yang menyebabkan banyaknya tamu, SMS, atau bentuk komunikasi lainnya yang menyita perhatiannya. Sehingga titik fokus terhadap tugasnya sebagai anggota KPPS menjadi terganggu.

Kami juga bersepakatan dengan seluruh saksi yang hadir untuk bersama-sama fokus pada saat perhitungan suara dan pencatatannya. Hal ini diperlukan agar selama perhitungan dan pencatatan hasil tidak ada yang berbeda data yang dimiliki. Alhamdulillah, dengan kesepatan itu, kegiatan di TPS menjadi lancar dan tidak ada halangan.

Politik Uang?

Mungkin karena keberadaan saya sendiri di masyarakat yang karena terkendala waktu, sehingga selalu saja terlambat dalam menerima  isu-isu hangat. Sebagaimana yang mereka diskusikan tentang pembagian amplop. Atau tentang 'bandar' massa yang sebelumnya menjadi pembicaraan publik  karena tayang di sebuah acara tv, yang ternyata, salah satunya, diperankan oleh tetangga kami. 

Juga kedatangan para Caleg ke rumah teman-teman tetangga kami yang  kebetulan sebagai 'bandar' tersebut. Dan tidak tanggung-tanggung teman kami ini memainkan peran. Karena ia bisa menjadi peran tidak saja pada satu partai. Apakah ini bagian dari politik uang?

Yang jelas, di TPS kami pada pelaksanaan Pileg tahun 2014, dimenangkan oleh partai yang selama ini jarang disebut sebagai partai 'besar'. Tapi seperti juga pada pelaksanaan Pemilu tahun-tahun sebelumnya, kami menyambutnya dengan normal-normal saja. Yang kami rasakan sebagai anggota KPPS adalah, bahwa pelaksanaan Pemilu kali ini sudah dapat berjalan lancar dan tanpa hambatan. Tidak ada satu blangko keberatan yang harus diisi oleh saksi dari partai politik sebagai tambahan laporan dari pelaksanaan Pemilu di TPS kami.

Dan itu, indikasi Pemilu di TPS kami berhasil (?).

Jakarta, 10 April 2014.

07 April 2014

Cerita Alumni tentang Wayang

Siang ini, sembari menunggu giliran jamaah di musholah, saya bersama dengan dua alumni SD yang sekarang duduk di bangku kelas VIII SMP, menjadi pendengar pasif dari salah satu alumni itu, yang terlbat diskusi tentang cerita wayang. Pertemuan dua sahabat yang merupakan alumni satu angkatan tersebut menjadi kesempatan yang sangat langka. Ini karena keduanya menempuh pendidikan di bangku sekolah yang berbeda. Meski keduanya berada di tingkat kelas yang sama.

"Saya janjian sama dia Pak. Karena dia katanya berminat untuk mengetahui tentang cerita wayang. Jadi kami ketemuan di sini." Jelas salah satu dari dua rakan tersebut. Yang memang sejak duduk di bangku SD telah begitu besar minatnya kepada dunia pewayangan. Dan salah satu buktinya adalah dengan seriusnya anak itu ikut serta belajar sebagai dalang. Oleh karenanya, tidak salah jika sahabatnya menjadikannya guru tentang pewayangan.

"Saya senang sekali Pak kalau ada siapa saja yang juga senang kepada wayang. Makanya saya bawakan dia buku komit wayang yang bercerita tentang  Ramayana dan Mahabarata." lanjutnya penuh semangat. Tentunya dengan logat yang di-Jawakan. Dimedokkan.

"Tepat sekali kalau kamu belajar wayang. Karena memang asal usul mu adalah dari Suruh, Jawa Tengah. Tentu akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orangtuamu, khususnya Ayah,  jika kamu belajar wayang." tambah saya kepada yang satunya sebagai penyemangat.

Dan setelah tanya jawab yang singkat ketika awal kami bertemu itu, maka percakapan menjadi bagian dari dalang cilik kami itu. Sesi pelajaran pertama tersebut harus kami akhiri ketika jamaah harus segera dimulai. Dan kami kembali lagi ketika jamaah telah selesai.

Dan komentar saya tentang dua alumni itu adalah kekaguman yang tulus. Kepada si dalang, saya benar-benar kagum atas ilmu pengetahuannya yang luar biasa mumtaz tentang kashanah dunia perwayangan. Kepada penguasaan seluruh tokoh dan kisah ceritanya. Luar biasa.

Dan kepada anak yang sedang berguru kepadanya, saya juga tak kurang akan kagumnya. Mengingat perubahan yang begitu besarnya terhadap minat dan perilakunya setelah mennggalkan kami selama dua tahun ini. 

Meski keduanya masih duduk di bangku kelas VIII, SMP, aura yang saya dapatkan selama mereka berdua asyik berdiskusi tentang wayang, saya mendapatkan kesan yang begitu positif bahwa keduanya adalah anak-anak yang memberikan harapan baru tentang masa depan yang baik. Semoga.

Jakarta, 07.04.2014.

Pileg 2014 #6; 'Membangun' TPS

Sebagai bagian dari KPPS, maka hari libur terakhir menjelang hari pemilihan Rabu, 9 April 2014, menjadi hari kami dan anggota KPPS laonnya berkumpul di salah satu halaman miik warga, yang mengikhlaskan untuk menjadi bagian dari kegiatan demokrasi. Kami berkumpul dalam rangka bergotongroyong 'membangun' TPS.

Pilihan kami kepada halaman milik warga untuk di'bangun' TPS tidak lain karena lokasi dan kepraktisan. Selain juga karena tidak adanya pilihan yang lebih baik di bandingkan dengan TPS yang ada di tetangga kami, yang menggunakan gedung milik publik.

Alasan pertama, karena di lokasi seitar daerah TPS kami memang tidak tersedia lahan yang mampu menampung lebih kurang 50 orang dalam waktu bersamaan  untuk kegiatan pemilihan. Ada memang halaman kantor, tetapi terlalu panas untuk pemilih jika itu yang kami gunakan. Karena lahan itu merupakan lahan parkir yang tanpa peneduh. Sedang sekolahan juga tidak terdapat di lahan sekitar TPS kami.

Alasan kedua, Kami tidak ingin mangganggu lalu lintas jalan yang memang sudah sempit di daerah kami. Jika kami hari okupasi jalan itu sebagai tempat pemungutan suara, maka pengguna akan merasa terganggu, dan kami pun menjadi kurang merasa bebas merdekan dan enak.

Alasan ketiga, dengan dan yang peruntukkannya untuk lokasi TPS, maka kami lebih memilih dana yang ada untuk membeli peneduh yang pada masa-masa pemilu yang akan datang peneduh yang kami adakan tersebut masih mampu digunakan. Selain juga sebagai biaya gotong royong berupa membeli teh manis atau kopi, air mineral, dan tape uli sebagai penganan kecil. 

Dengan kondisi seperti itulah, kami memilih akhir pekan kemarin sebagai hari berkumpul para anggota petugas TPS kami bergotongroyong membersihkan halaman milik warga yang kami pinjam dan 'membangun' TPS.

Tidak lupa kami juga menyiapkan segala rupa untuk kelancaran bagi pemungutan tidak kurang dari 550 suara yang terdapat dalam DPT di TPS kami. Dan meski kami menjadi bagian kecil dalam hajat demokrasi Indonesia, tapi kami merelakan diri untuk memberikan kontribusi tersebut secara tulus sebagaimana ketulusan tetangga kami yang meminjamkan halaman rumahnya sebagai pelaksanaan proses pemilihan para legeslator periode 2014-2019 tersebut.

Jakarta, 7 April 2014.

06 April 2014

Pileg 2014 #5; Saya Memilih

Kalau ada teman-teman ada yang  mengatakan bahwa betapa bingungnya menentukan pilihan ketika  berada di dalam TPS, maka tidak untuk saya. Dan kalau teman-teman pada pemilu legeslatif 2014 ini menyatakan begitu sebalnya dengan apa yang sudah dipertunjukkan oleh legeslatif 2009-2014 pilihannya, sehingga karenanya mulai  dengan ancang-ancang tidak datang ke TPS untuk memilih, ini juga berbeda dengan apa yang menjadi pendirian saya. Karena dengan berbagai pertimbangan dan melihat bagaimana tetangga serta saudara lainnya, maka saya menentukan untuk memilih. Benar, saya memilih!

Maka dalam catatan inilah saya akan menuliskan bagaimana begitu yakinnya saya menyatakan diri untuk datang ke TPS dan menentukan pilihan. Tentunya bukan pilihannya yang akan saya sampaikan disini, tetapi mengapa? Ini penting saya sampaikan meski saya hanyalah angka keika sampai di TPS.

Golongan Putih

Pernyataan di atas sekaligus sebagai pertanda bahwa saya tidak masuk dalam golongan pemilih yang tidak akan memilih. Golongan putih. Golongan yang begitu sebal, terutama oleh perilaku para politikus dan pengemban negara ini, setelah mereka memiliki kompetensi legeslasi. Karena golongan inilah yang sebenarnya menjadi pemenang di pemilihan kepala daerah beberapa waktu lalu di daerah kami. Rata-rata di TPS saya, terdapat tidak kurang dari 30 persen pemilih yang tidak datang ke TPS dari sekitar 450 pemilih yang tercantum sebagai DPT dalam dua kali putaran Pilkada. Mutlak bukan?

Tapi apakah saya harus menyampaikan kepada golongan putih itu sebagai warga yang tidak mempertanggungjawabkan kewajibannya sebagai pemilih? Tidak juga. Karena menjadi golongan putih itupun pasti dengan argumentasi yang beragam atau bahkan kompleks. 

Bagi mereka yang sengaja tidak  datang ke TPS, mungkin karena memang sedang merajuk, kesal karena selama ini yang ada didalam keinginan mereka tidak mampu dipenuhi secara normatif dalam realita. Jadi mereka sedang menghukum para legeslator pendahulu, yang pernah diamanahinya. Atau kalau tidak sedang menghukum mungkin juga karena faktor lain.

Karena memang ada beberapa orang yang tidak datang ke TPS bukan karena sengaja tidak datang, melainkan karena faktor insidental. Misalnya sakit, ada musibah dadakan, atau hal lain yang menyebabkan tidak adanya kesempatan baginya untuk hadir di TPS antara pukul 07.00-13.00.

Saya Memilih

Lalu mengapa saya memilih? Setidaknya inilah dasar argumentasi yang saya harus sampaikan disini. Ini tidak lain karena memilih menjadi kewajiban saya sebagai warga negara yang harus saya tunaikan. Mengingat di akherat nanti saya akan diminta pertanggungjawaban atas posisi saya itu. Maka ketika saya sudah menentukan pilihan, tunai sudah pertanggungjawaban saya di hadapanNya. Sementara orang yang saya pilih, akan memikul beban yang telah saya limpahkan kepadanya.

Dengan prinsip ini, saya tidak akan kecewa jika dikemudian hari orang yang saya pilih dan akhirnya benar-benar terpilih itu, setelah mengangkat janji dan sumpah untuk amanah, ternyata tergiur untuk melakukan hal yang diluar kewajiban dan tanggungjawabnya. Karena ia akan berdiri sendiri memegang pertanggungjawaban itu kepadaNya.

Selain itu, seorang teman menyampaikan pengalamannya tentang bagaimana di beberapa tempat ada orang-orang yang begitu bersemangatnya membantu saudaranya yang dalam kondisi apapun untuk datang memilih di TPS. Meski itu hanyalah 1 orang atau 1 suara. Lalu mengapa saya yang sehat tidak?

Atas 2 argumentasi itulah saya akan datang ke TPS pada Pileg 2014 ini!

Jakarta, 06.04.2014 (Hari pertama  tanpa kampanye/ hari tenang Pileg 2014).

04 April 2014

Pileg 2014 #4; Sadar pada Diri

Saat berkumpul di ujung jalan di kampung tempat tinggal saya dan bercengkerama ringan dengan teman-teman, meski tidak biasa kami lakukan, tetapi menarik juga untuk menjadi catatan saya disini. Ini karena bahan cengkeramaan kami adalah sesuatu yang benar-benar hangat. Bahkan tidak itu saja. Lokasi dimana kami sedang bercengkerama adalah tembok tinggi rumah tetangga yang menjadi batas pekarangan dia dengan jalanan sempit di kampung saya itu. Dan menjadi istimewa dengan keberadaan tembok itu. Karena dinding yang bercat putih itu serasa menjadi tempat yang nyaman untuk menempel segala hal yang berkenaan dengan gambar dan partai politik.

"Apakah menurut Bapak pantas kalau dia yang jadi?" tanya seorang temn kepada temannya yang sehari-hari berprofesi sebagai anggota Satpam di sebuah sekolah.

"Sama sekali tidak Pak. Bagaimana pantas. Dlihat dari kanan, kiri, depan, atau bahkan dari atas sekalipun tetap tidak layak. Justru kalau maksa juga, malah jadi bahan ketawaan." Jawabnya dengan penuh kesungguhan.

"Iya. Setuju sekali dengan pendapat itu. Tapi yang saya sungguh tidak mengerti adalah, tidak sadarnya dia kalau dirinya tidak pantas. Karena tidak mampu!" pendapat teman saya yang lain lagi. Jadilah kami berkumpul dengan bahan diskusi yang menarik. Sayang memang tidak ada kuli tinta yang menyaksikan keberadaan kami dengan aktivitasnya. Sehingga diskusi kami tanpa hasil selain katarsis.

Meski begitu, ada kalimat yang dapat saya ambil sebagai bagian dari pelajaran. Yaitu kalimat; tidak sadar bahwa saya tidak layak! Ini adalah kalimat ajaib. Inilah yang sering orang, termasuk saya sendiri tidak tahu. Bahwa kalau saya tidak layak untuk menjadi sesuatu, ternyata saya sendiri sesungguhnya tidak tahu, tidak paham, atau bahkan tidak menyadarinya!

Karena dari ketidaktahuan dan ketidaksadaran tersebutlah maka saya merasa percaya diri saja dengan ambisi yang saya pendam. Saya seolah-olah merasa mampu, layak, dn kapabel. Aneh.

Kalimat itu linier dengan pernyataan; tidak sadar kalau saya sebenarnya belum waktunya! Tidak sadar kalau saya sebenarnya belum diberikan kemampuan! Tidak sadar kalau sebenarnya saya bodoh! Dan seterusnya.

Anehnya itulah penmyakit yang banyak menghinggapi kita dan teman-teman kita di saat menjelang pemilu tahun 2014 ini. Tidak begitu sadar pada diri sendiri...

Jakarta, 04.04.2014

03 April 2014

Pileg 2014 #3; Mendapat 'Surat Pribadi'

Siang ini, salah seorang anggota security di kantor saya begitu sibuk memasukkan amplop surata yang terlihat sangat rapi. Di tangan kirinya masih menumpuk surat-surat yang harus ia masukkan ke dalam kotak surat milik para guru. Nah, pada saat itulah saya memergokinya, dan bahkan dengan suka rela memberikan bantuannya. 

Ini saya lakukan semata-mata untuk membantunya agar surat-surat yang ada di tangan kirinya segera habis masuk ke kotak surat sesuai dengan nama yag tertera di surat. Bukankah sayalah orag yang paling hafal dengan urutan nama-nama kotak surat tersebut. Karena sayalah yang sering mendistribusikan undangan-undangan atau memo untuk teman-teman guru. Maka tidak salah jika ketika saya mengulurkan bantuan maka segera selesailah pekerjaan itu.

Ternyata tidak. Ini karena ternyata banyak surat-surat yang kami terima tersebut ditujukan kepada teman kami yang telah lama mengajukan resign. Ada yang resign karena mendapat pekerjaan baru sebagai PNS. Ada juga yang harus mengikuti suaminya bekerja di luar kota. Bahkan nama teman-teman kami yang resign tersebut sudah terhitung lama. Juga banyak dari teman-teman kami yang bergabung bersama kami tahun 2009an tidak kebagian surat-surat cantik tersebut.

Yang menarik dari surat-surat tersebut adalah, si pengirimnya. Sepasang suami istri yang memang beberapa waktu lalu mengumumkan ingin jadi Presiden. Meski pemilihannya masih belum kami ketahui tanggalnya. Selain itu, menarik sekali bukan jika kami yang posisinya sebagai guru mendapat surat dari orang yang selama ini pasti tidak akan pernah ingin tahu siapa kami?

Benar saja. Bukankah surat ini telah menjadi bahan berita surat kabar beberapa waktu lalu?  Saya sadar karena saat ini adalah saat menjelang Pemilu...

Jakarta, 03.04.2014

Pileg 2014 #2; Doa Menjelang Pemilu

Ketika saya membaca apa yang disampaikan oleh kiai Gus Mus lewat twitter, saya kok merasa tersanjung. Bukankah saya ini apa yang oleh Gus Mus sebut sebagai rakyat? Apalagi di musim Pemilu tahun 2014 ini. Karena harus saya akui, sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih di Pemilu nanti, dengan posisi sebagai pemilih saja, bukan menjadi bagian dari kader atau bahkan tim think thank dari seorang tokoh dengan kaliber apapun, maka kehadiran saya nanti di TPS, adalah menggenapi butiran hitungan. Itulah yang saya sebut sebagai kontribusi saya sebagai pemilih dalam apa yang dikonstruksikan oleh negara sebagai demokrasi.

Karena memang itulah posisi yang pas untuk saya pada musim Pemilu seperti sekarang ini. Sebab, tidak ada tugas lain selain memenuhi undangan dari surat undangan  petugas TPS. Karena waktu dan tempat yang telah ditentukan di dalam surat itu ecara tegas meminta kedatangan saya sebagai pemilih.

Tentu ini tugas tidak berat untuk saya dan juga beberapa yang lainnya. Berbeda sekali dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman saya lain yang begitu sibuknya dalam pelaksanaan Pemiu ini. Itu karena ada predikat yang berbeda dengan saya.

Maka pas sekali ketika membaca doa dari yang disampaikan oleh Gus Mus.  Terima kasih Gus, atas rangkaian kata dari doamu yang kau sebar lewat sos med. Saya telah mengaminkan kalimat doa itu. Amin.

Jakarta, 03.04.2014.

Alumni; "Mohon Doa Restu Ya Pak."

Siang itu, kami kedatangan tamu sebanyak lima anak yang merupakan lulusan dari sekolah kami, yang sekarang sudah duduk di kelas IX  di sebuah lembaga pendidikan favorit di Jakarta. Senang sekali bertemu dengan anak-anak itu. Yang ketika lulus dari sekolah masih berusia dua belas tahun. Maka tidak bisa di duga lagi bgaimana mereka bertambah ganteng dan cakepnya. Tidak salah bila ketika kali pertama bertemu, kami harus melalui tebak wajah. 

Bersyukur bahwa babak tebak wajah itu tidak ada komentar dari kami yang terlontar membuat percakapan berikutnya tidak enak. Jadi semua melalui fase tebak wajah itu dengan sukses. Tidak ada diantara anak-anak itu yang merasa menjadi korban bully dari kami.

Ini penting saya sampaikan, karena kadang diluar kesengajaan, ada diantara kami yang tiba-tiba angling dengan perubahan wajah anak didiknya, dengan komentar yang keluar; "Sekarang kamu kok kurus?"

Memang tidak ad yang salah dari kalimat itu Namun bukankah itu maksudnya bisa berarti bahwa karena dulu dia gemuk maka komentar yang muncul adalah seperti itu? Dan bagi remaja, meski tidak semua, itu menjadi kalimat pembuka yang tidak enak. Menjadi gangguan ketika harus berlanjut percakapannya.

Bagaimana Sekolahmu?

Nah kalimat pertanyaan inilah yang saya sampaikan kepada mereka para alumni yang memang datang bertemu dan menemui kami, para gurunya dulu, untuk menyampaikan permohonan doa restu akan kesuksesannya dalam menjalankan Ujian Sekolah esok hari. "Mohon doa restu ya Pak." demikian kata mereka seragam. "Kami akan melaksanakan Ujian Sekolah besok. Doakan bisa mengerjakan soal dengan hasil yang baik ya Pak." 

Dengan pertanyaan yang saya sampaikan tersebut, maka keluarlah beberapa cerita menarik tentang kelakuan anak-anak itu bersama kegiatan di kelasnya saat belajar bersama guru. Juga tentang bagaimana dia bersama kegiatan sekolahnya yang lain. Tentang bagaimana saat awal masuk sekolah degan situasi yang sungguh berbeda saat di SD hingga sempat membuatnya kaget dan drop. 

Tidak ketinggalan juga cerita tentang bagaimana Bapak atau Ibu guru dalam berinteraksi dengannya dan teman-temannya. Dengan 'penemuan' lucu anak-anak saat gurunya akan pamit ke 'bawah' karena ada 'keperluan' tetapi karena selulernya berbunyi dan si guru lupa kalau selulernya dalam kondisi loudspeaker, maka tedengar suara di seberang yang ternyata adalah tukang bakso yang memberikan kabar bahwa bakso pesanannya telah siap dihidangkan dan disantap. Dan tentunya tentang banyak hal.

Banyak hal yang pastinya bermanfaat untuk kami yang juga adalah guru. Maka cerita anak-anak alumni untuk tuuan meminta restu karena akan melaksanakan ujian sekolah tersebut, sungguh dapat kami jadikan cermin.

Jakarta, 3 April 2014

02 April 2014

Pileg 2014 #1; Menonton Para Caleg

Pada masa Pemilu Legislatif sekarang ini, mungkin pula sejak model Pemilu kita menjadi terbuka dengan jumlah Partai Politik yang lebih dari dua, maka banyak kesempatan dari masyarakat untuk menjadi bagian dalam Pemilu dengan masuk menjadi bursa calon legeslatif atau sering disikat sebagai Caleg. Termasuk tentunya pada Pemilu Legeslatif tahun 2014 ini.

Dimana di sepanjang jalan dimanapun yang kita lalui sekarang ini, sebelum masa tenang menuju hari H Pileg yang akan jatuh pada Rabu tanggal 9 April ini, penuh dengan berbagai model dan gaya, memancing kita untuk menjadi pemilihnya. Dan itu adalah usaha keras para Caleg untuk memperoleh kursi idamannya di lembaga Dewan. Apakah itu Kota, Daerah, atau Pusat.

Bisa dibayangkan berapa rupiah yang harus dikeluarkan seorang Caleg tingkat daerah tingkat II misalnya, harus membuat 1000 lembar spanduk pohon untuk setiap kecamatan, maka ia harus membuat dalam jumlah 3000 spanduk pohon. Dan bila satu spanduk plus ongkos pasangnya dihargai lima puluh ribu rupiah, maka biaya yang harus keluar dari Caleg tersebut untuk spanduk itu saja 15 juta rupiah. Belum biaya lain-lain yang pasti tidak akan selesai sebelum Pileg itu benar-benar dilaksanakan!

Demikian pula iklan yang dapat kita jumpai di halaman-halaman koran cetak atau on line. Semarak dalam menawarkan visi, misi, dan ajakan. Tidak ketinggalan juga di kaca belakang bus kota atau angkutan KWK atau mikrolet.

Jika mereka adalah sosok yang memang selama ini kita bersama kenal, baik yang memang sering bolak-balik ke Jalan Rasuna Said dan menjadi berita di layar TV, atau memang yang berprestasi tinggi, ikhtiar mereka untuk menjadi (kembali) adalah sesuatu yang kurang menarik hati saya dan layak untuk saya buatkan catatan refleksi. Tetapi justru kepada Caleg di tingkat daerah dengan sosok-sosok yang terus terang baru saya kenal,  maka refleksi saya inilah salah satu jendela katarsis saya pribadi.

Berhitung

Saya pastikan bahwa nilai pelajaran berhitung para caleg model yang terakhir itu, pasti tidak mengecewakan. Artinya lumayan. Bukankah dengan nilainya itu hingga mereka luus sekolah? Tapi bukankah juga nilai itu adalah nilai angka yang ada di rapot sekolahnya? Dan bukan nilai yag menempel di dalam kehidupannya sehari-harinya?

Maksudnya? Bayangkan saja, jika di suatu daerah pemilihan tingkat II, kursi DPRD II untuk 3 kecamatan hanya ada, katakanlah 10 kursi, dan itu diperebutkan oleh 10 partai misalnya lagi, dan masing-masing partai terdapat 9 caleg, maka bukankah aka terdapat 90 orang caleg untuk berebut 10 kursi?

Bukankah  hal yang mudah bagi kita bahwa dari sekian partai politik itu ada yang memang dikenal baik di lokasi pemilihan tersebut, dan ada juga yang memang kurang mendapat sambutan? Bagaimana jika ia adalah caleg no. 10 dari sebuah partai politik yang kurang dikenal oleh masyarakat? Berapa nilai kemungkinan yang didapatnya untuk menjadi satu dari 10?

Realitas itulah yang membuat saya benar-benar tidak habis untuk memikirkannya. Tapi, justru ke arah itulah saya berpikir, jika para pelakunya saja tidak ambil pusing untuk melakukan hitungan sebagaimana ilustrasi yang saya buat tersebut di atas, mengapa pula saya harus sibuk ikut serta dalam menebak-nebak seberap besar kesempatan mereka akan jadi? Inilah hasil tontonan saya menjelang hari tenang pada Pileg tanggal 9 April 2014 nanti...

Jakarta, 2.04.2014.

Berujung pada Uang

Ada istilah yang pas sekali dengan judul catatan saya ini. Itu saya dapat sudah jauh hari sebelumnya. Namun karena merasa tidak enak untuk saya tuliskan di sini, maka saya membuat judul sesuai dengan persepsi saya sendiri, berujung pada uang.

Siapa yang tidak butuh uang?

Tidak seorangpun. Saya yakin sekali itu. Karena semua transaksi dewasa ini sudah sulit menggunakan barang yang ada dengan barang juga. Pasti salah satu pihak menggantikan barang nyata tersebut dengan simbol yang seharga, yang memang dengan uang. Oleh karenanya, betapa penting apa yang saya sebut tadi, dalam menjadikannya sebagai alat pembayaran, yang bernama uang tersebut.

Tapi, akan menjadi tidak mulia pula jika seluruh aktifitas yang kita lakukan baik dalam hal kewajiban atau bahkan dorongan untuk sebuah amal, kita jadikan uang sebagai alat ukur satu-satunya. Ini karena begitu sempitnya makna dari nilai sebuah uang sebagai alat tukar. Lebih-lebih jika ikhtiar yang kita lakukan berada di dalam ranah keluarga.

Namun berbeda dengan pengalaman saya ini, karena begitu hebatnya orang yang ada di hadapan saya berbicara tentang berkah, maka  tidak ada salah sedikitpun jika saya menjadikannya sebagai teman diskusi yang baik. Termasuk juga ketika diskusi menyangkut kepada penawaran terhadap sesuatu yang akan dia sampaikan kapada saya.

"Kami menjamin bahwa, kualitas yang kami samaikan ini paling baik di kelasnya Pak."
"Kami bahkan menjadikan sekian dari pendapatan kami, kami salurkan untuk pemberdayaan dan peningkatan  guru dengan cara memberikannya seminar dan pelatihan. Juga pendampingan Pak."

"Saya percaya sekali Mas. Tapi mengapa tidak dilakukan penjualan dengan cara beli putus saja Mas? Dengan model pembelian yang mengharuskan kami meregestrasi setelah pemaikaian tiga tahun, bukankah itu menjadikan harga yang ditawarkan tersebut menjadi mahal atau tinggi?"

"Ini untuk jaminan kualitas Pak."

"Untuk kualitas  saya percaya. Tetapi mengapa tidak berpikir untuk menjadi konsumen? Bagaimana dengan barang-barang yang tersedia di media internet dengan harga yang benar-benar terjangkau?"
Pendek kata, itulah percakapan antara saya dan pengunjung saya tersebut tentang sebuah barang yang menjadi kebuthan dalam mengajar kami, yang kebetulan adalah barang yang mereka tawarkan. Namun sampai akhir, belum ada kata sepakat antara kami dengan pihak tersebut, sehingga barang yang ditawarkan berpindah tangan kepada kami.

Dalam hati, saya cukup bergumam bahwa, sebagai yang ada di sekolah, saya menjadi yakin benar bahwa, banyak yang datang kepada saya dengan berbagai hal yang menarik, manis, sopan, tetapi selalu saja berujung kepada uang...

Jakarta, 2.04.2014.