Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

27 January 2013

Belajar dari Cerita Teman

Satu pekan lalu, saya kedatagan tamu sahabat lama yang sekarang  tinggal di kota Padang, Sumatera Barat. Sebuah kunjungan yang memungkinkan kita sema-sama berbagai pengalaman dan cerita. Saya mendengar begitu banyak hal positif yang telah didapat dan yang sedang diikhtiarkan oleh teman-teman karib saya itu, juga termasuk di dalamnya adalah bagaimana saya dapat memetik pelajaran tentang sebuah ketabahan dan keteguhan hati. Dan semoga, ini harapan saya, mereka juga dapat memetik apa yang saya sampaikan kepada mereka atas pertanyaan-pertanyaan yang dapat saya jawab. 

Dan larena mereka berada pada posisi yang berbeda dengan saya di Jakarta, maka sesungguhnya, sayalah yang paling mendapat pelajaran dari pertemuan yang lebih kurang tiga jam tersebut. Karena jika saya di Jakarta adalah fully pegawai, sedang teman-teman saya ini adalah, selain pegawai sebuah lembaga yang digagasnya dan yang didirikannya. Sehingga ada posisi yang mereka punyai dan tidak saya miliki. Yaitu kepemilikan terhadap lembaga yang menjadi amanahnya.

Namun, ketika kami  sedang berdiskusi dan berbagi cerita tentang pegawai yang berada dalam arahan dan bimbingannya, disitulah tampaknya harus berada dimana kedua teman saya ini harus berdiri.

Tentang Ucapan Guru

Hal paling menarik yang menjadi catatan saya sekarang dalam pertemuan itu adalah bagaimana rasa syukur para guru, yang menjadi sahabat perjuangan mereka di sekolah, ketika menerima gaji. Tentunya gaji sebagai seorang guru di sebuah lembaga pendidikan formal swasta. Apapun status para guru itu. Apakah mereka yang sudah tetap sebagai pegawai sekolah tersebut, atau mereka yang masih baru bergabung dengan sekolahnya. 

Disampaikan bahwa ada beberapa temannya yang berprofesi guru itu sering tidak mensyukuri nikmat. Darimana ketidak syukuranitu dapat dilihat? "Dari ucapannya." Kata teman saya itu. "Dari pilihan kata dan kalimat yang terlontar ketika beberapa teman guru itu harus berkomentar atas gaji yang diterimanya." Lanjut teman saya.

"Misalnya dalam kata atau kalimat seperti apa Pak?" Desak saya ingin penjelasan yang lebih nyata.

"Saya punya tiga kalimat yang hingga sekarang masih terngiang Pak Agus. Ucapan guru yang ketika mendapat kabar akan ada kenaikan atau penyesuaian gaji di akhir bulan ini."

"Yang pertama, ada guru yang langsung berkomentar: Kalau naik gajinya hanya 10 %, itu kan hanya cukup buat naik ojeg?"

"Yang kedua, ada guru yang berkata: Yah gaji kita naik, tapi harga-harga di luar kan sudah naik. Jadi ya kurang berarti lagi."

"Yang ketiga, gaji naik, tapi rumah belum kebeli juga." Demikian teman saya itu bercerita. Ada seperti ketidak bahagiaan pada raut mukanya. Dan itu tentu saya memakluminya.

"Apakah teman-teman itu tidak melihat kehidupan yang ada di sekelilingnya ya Pak Agus, kok mereka memilih kata-kata buruk seperti itu? Bukankah mereka semua adalah sarjana? Bukankah mereka itu memang memilih menjadi guru ketika kami pertama kali rekrut mereka? Apakah mereka itu tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka itu memiliki kinerja sebagai pendidik juga tidak maksimal karena masih ada saja masih ada komplain atas kinerja mereka di kelas?" Jelas teman saya itu bertubi-tubi. Saya mencoba menyerap seluruh apa yang diungkapkannya. Sekaligus atmosfer emosi yang terkandung di dalamnya.

Tentunya masih banyak hal dan cerita tentang kebersyukuran selama dalam dialog siang itu. Dan pertemuan itu, terus terang justru menguatkan saya sendiri terhadap apa yang saya jalani sebagai pekerja di lembaga yang sama, yaitu lapangan pendidikan.

Jakarta, 27 Januari 2013.

No comments: