Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Januari 2012

Mendirikan Sekolah?

Saya bersyukur, bahwa ada teman yang menawari saya untuk membuat sekolah. Tentunya sekolah formal bukan kursus atau bimbingan belajar atau semacamnya. Namun untuk kesekian kalinya pula saya meberikan alasan bahwa saya belum siap menjalaninya. Ketidak siapan itu juga lahir kerena saya melihat teman-teman lain yang seain menjadi pendiri dari lembaga pendidikan formal tersebut juga adalah eksekutif di lembaganya masing-masing. Bagaimana teman saya bercerita tentang pengalamannya berada di lingkungan yang dia bangun bersama komunitasnya. Bukan keluhan apa yang mereka sampakan kepada saya, tetapi saya terlanjut melihatnya bahwa pengalamannya itu sungguh luar biasa bagi saya yang sejak awal hingga sekarang sebagai pengemban amanah atau pegawai di dunia pendidikan ini. Dan karena begitu luar biasanya, saya merasa tidak akan sanggup berada dalam posisi dimana mereka sekarang berada. Jadi meski itu kekurangan saya, tetapi saya bersyukur akan takaran saya. 

Pagi ini misalnya, tawaran itu datang lagi kepada saya. Saya akan diberikan hak pengelolaan sepenuhnya atas lembaga yang ditawarkan, dan sekaligus sharing kepemilikan. Sedang modal dari lokasi hingga fasilitasnya, teman saya itu menyanggupi untuk membangunkannya. Tetapi, tetap dengan rasionalitas yang saya miliki, saya menolaknya. Saya mengusulkan agar lokasi yang telah tersedia itu dibangun bangunan tempat tinggal untuk kemudian ditawarkan kepada yang ingin menempati. Apakah dijual atau mungkin disewa? 

Demikian pula dengan teman yang lain, yang hari ini berencana akan datang menemui saya, dikatakan bahwa ia akan membawa beberapa teman dari kepulauan yang ada di wilayah Sumatera, untuk melihat, berkunjung, dan berdiskusi tentang berbagai hal ihwal persekolahan. Teman saya ini mengajak temannya agar setelah mereka melihat tongkrongan sekolah-sekolah yang ada di Jakarta, Depok, Bogor, dan Tangerang, nantinya dapat menemukan kata sepakat tentang sekolah yang bagaimana yang akan mereka kembangkan. 

Pilihan Saya
Sebagai pekerja di dunia pendidikan sejak saya lulus dari sekolah guru, lalu apa sesungguhnya yang menjadi pilihan saya pada puncak karir saya? Apakah memiliki sekolah sendiri sebagaimana beberapa kawan saya lakukan itu menjadi opsesi saya? Tampaknya, dari pergulatan batin yang saya alami dengan kesadaran sepenuhnya, saya mengatakan dengan semangat yakin bahwa, memiliki lembaga pendidikan formal, bukan menjadi pilihan saya. Pilihan saya, meski tetap dalam ranah pendidikan, adalah mengembangkan semangat pembelajaran di unsur masyarakat. Dan tentang bagaimana bentuknya? Hingga sekarang belum dapat saya rumuskan dalam bentuk deskripsi. Terlalu banyak rasa-rasa mimpi saya itu hingga saya sulit membahasakannya. 

Yang pasti, apa yang menjadi mimpi saya itu adalah sebuah lembaga atau mungkin sekedar tempat untuk sebuah aktivitas belajar tetapi tidak dalam bentuk lembaga pendidikan formal. Tidak padat modal, tidak repot dengan segala hal yangberkenaan dengan administrasi dan iuran, meski nantinya tetap berkomitmen dalam menumbuhkambangkan potensi komunitas yang ada di dalamnya.

Mimpi saya ini lahir dari sebuah keinginan saya untuk tetap fokus pada mengerjakan segala sesuatu harus dengan prinsip keikhlasan. Oleh karenanya bila keberadaan saya dalam sebuah lembaga yang saya juga ada didalamnya dalam arti yang sesungguhnya atau tidak saja sekedar menjalankan amanah dari orang lain, saya menjadi ringkih dan mudah kehilangan pola kerja ikhlas. Dan untuk menghindarinya, sya memilih pilihan saya untuk tidak memiliki lembaga pendidikan formal.

Lagian, dari mana saya memiliki kompetensi kapital untuk merealisasi itu?

Jakarta, 31 Januari 2012.

29 Januari 2012

'Pintu' dan 'Jalan' Mana yang Anda Pilih?

Dalam beberapa hari ini saya memperoleh beberapa informasi yang dapat menjadi pengalaman, dan oleh karenanya sekaligus memperoleh pelajaran dari informasi itu tentunya, dan untuk itulah saya bermaksud untuk mengabadikannya dalam artikel ini. Sesungguhnya informasi tentang pengalaman itu juga pernah menjadi pengalaman langsung saya sendiri beberapa waktu lalu. Namun karena berbeda memilih jalan keluarnya, maka berbeda pula ruangan yang dimasukinya. untuk itulah baik saya memulai artikel saya ini dengan pertanyaan kepada semua Anda pembaca (ini pun kalau ada pembaca yang mampir dalam blog saya ini).

Mana 'Pintu' dan 'Jalan' yang Kita Pilih?

Jika ada pertanyaan dari seorang teman yang berbunyi: Apa yang akan Anda lakukan jika  Anda 'membenci' beberapa hal yang ada di lembaga dimana Anda menjadi bagian di dalamnya? Apa yang saya maksud dengan beberapa bagian itu? Dari pengalaman saya beberapa bagian yang pernah saya sendiri tidak sependapat antara lain adalah; cara atau strategi pengambilan keputusan? Ketidaksempurnaan sistem yang ada di lembaga di tempat kerja? Sistem kenaikan gaji? Pengangkatan pejabat yang dirasakan tidak adil? Lingkungan yang tidak menantang lagi untuk pertumbuhan kita? Lembaga yang sudah terasa sulit ikut bersaing dengan lembaga sejenis? Dan sekian puluh kekurangan lain lagi yang tidak mungkin saya catat disini. Namun setidaknya Anda telah memiliki gambaran akan ketidakpuasan yag saya maksudkan.

Lalu 'pintu' dan 'jalan' mana yang akan Anda pilih untuk menjadi jalan keluar dan sekaligus sebagai jawaban dari pertanyaan saya diatas?

Teman kantor lama saya, sebagai kisah pertama, dalam sebuah kesempatan pernah menyampaikan kepada saya bahwa dalam situasi seperti itu ia akan berdoa kepada Tuhan dan memohon kepada Nya untuk memilihkan pintu yang paling baik sebagai jalan keluar baginya. Sikap yang menjadi pilihannya itu terbukti manjur. Setidaknya itulah yang pernah dua kali ia lakukan. Ketika ketidakcocokan benar-benar memuncak, tuturnya, ia mengadukannya kepada Tuhan, dan jalan itu terbuka melalui temannya yang menghubunginya untuk memasukkan lamaran di sebuah tempat, kebetulan lembaga sekolah, hingga ia jalani tidak kurang 10 tahun lamanya ia menjadi bagian di lembaga itu.

Kisah teman saya yang lain, sebagai kisah kedua, menempuh jalan yang mirip-mirip. Ketidakcocokan yang dia rasakan di kantor,  ia rasakan sendiri sepanjang masih dirasakan kuat. Tidak kepada siapapun diceritakan meski kepada pasangan hidupnya. Ia buat catatan di buku agenda apa yang menjadi kegundahannya itu. Hingga pada suatu saat dimana ia sudah benar-benar tidak tertahankan lagi. Mungkin karena doa pasangan hidupnya juga hingga Allah SWT mengirimkan jalan keluar melalui teman lama. Dan setelah benar-benar pintu terbuka dan jalan keluar terlihat matap, ia menuliskan surat pengunduran diri.

Teman lama saya yang lain juga menempuh jalan yang mirip. Ini sebagai kisah ketiga, dimana ia terpaksa hunting koran akhir pekan yang banyak memuat lowongan kerja ketika situasi yang mirip seperti itu. Hingga pada akhirnya setelah semuanya jelas, ia mengajukan surat pengunduran diri.

Dan kembali kepada pertanyaan saya di atas: Apa yang akan Anda lakukan jika Anda 'membenci' beberapa hal yang ada di lembaga yang Anda menjadi bagian di dalamnya?,  saya yakin semua Anda memiliki jawaban sebagai jalan keluar yang akan menjadi pilihan terbaik Anda. Namun jangan pernah Anda meniru teman saya yang lain lagi, sebagai kisah keempat, dimana teman saya ini akan melakukan 'diskusi hitam'  kepada teman kerja sekantornya dengan topik kejelekan apa saja yang terjadi di kantornya. Dan ketika saya bertanya kepadanya mengapa tidak memilih jalan yang dilalui oleh tiga kisah teman saya diatas, dia justru mengelompokkan saya sebagai bagian dari lembaga dimana ia berada,  yang dinilainya tidak bersistem itu. Saya tentu diam saja. Saya hanya berpikir; Mengapa orang itu tetap berada dalam lembaga yang dianggapnya  telah 'menistakannya' bahkan betah hingga 20 tahun berada di dalamnya? Apakah 'diskusi hitam' menjadi 'pintu' dan 'jalan' yang menjadi pilihannya sebagai jalan keluar?

Dan dari kisah keempat itu saya juga kembali bertanya: Apa bahagianya hidup seperti itu? Dari sisi mana orang seperti itu bisa bertahan hidup sehat?

Jakarta, 29 Januari 2012.

26 Januari 2012

Siapa yang 'Sebel' sama Orangtua?

Judul ini adalah pertanyaan saya kepada siswa di kelas kemarin pagi. Pertanyaan ini lahir ketika saya ingat saat saya dipangil oleh guru BK anak beberapa tahun lalu. Dimana tarnyata saya baru tahu kalau anak saya, dalam beberapa halnya, tidak menyukai saya saat berdialog. Dan pemberitahuan itu langsung membuat saya mengubah strategi dialog saya dengan anak-anak saya baik saat resmi atau saat santai atau juga saat saya harus memberikan komentar terhadap sesuatu.

Saya juga kurang tahu mengapa tiba-tiba saja pertanyaan seperti itu keluar dari mulut saya. Sebuah pertanyaan yang tadinya nyaris tidak terpikirkan oleh saya. Kaena kala itu kami sedang mendiskusikan tentang kegiatan setelah pulang sekolah.

Dimana saya pada hari sebelumnya kedatangan penjemput untuk menjemput salah satu dari mereka itu. Dan ketika ditemukan anak tersebut tidak ditemukan sama sekali. Beruntung bahwa beberapa temannya memberikan kasaksian bahwa anak yang akan dijemput itu telah meninggalkan sekolah beberapa menit lalu bersama tiga temannya untuk berkunjung ke salah satu rumah temannya. Repotnya, ketika dihubungi, HP ada nada sambung, tetapi tidak diangkat. Mka untuk itulah saya datang ke kelas esok harinya menjelaskan bagaimana orang lain yang berkepentingan dengan kita ketika kita tidak memberikan informasi sedikitpun sebelumnya.

Kembali kepada pertanyaan saya itu, ternyata dari dua puluh lima siswa saya di kelas tersebut, meski tidak seleuruhnya, ada beberapa yang mengangkat tanggannya dan mengaku 'sebel' dengan kedua atau salah satu orangtuanya di rumah.

Mengapa 'Sebel'?
  • Karena, jelas salah satu siswa saya, orangtua selalu mengontrol saya dengan menelpon terus menerus. Seolah saya anak yang ngak bisa dipercaya.
  • Karena, kata yang lain lagi, kalau orangtua saya sudah marah Pak, susah sekali selesainya. Saya jadi merasa kalau apapun yang saya lakukan menjadi salah semua.
  • Karena, lanjut yang lain lagi, saya tidak pernah benar dan tidak pernah berhasil Pak. Yang benar dan berhasil selalu kakak saya yang paling tua. Saya salah terus. Atau, kalau salah dan tidak benar pasti saya itu Pak.
  • Karena, yang lain lagi, orangtua saya tidak memberikan izin kepada saya untuk membawa kendaraan sendiri ke sekolah.
Pendek kata, saya menerima beberapa alasan yang dibuat oleh siswa,  dan dari kalimat dan bahasa yang digunakannya, saya mengambil kesimpulan bahwa tidak semua yang mereka sampaikan salah secara tata krama atau logika, tetapi tidak semuanya juga benar. Saya harus memilah dan memilih mana yang harus saya jadikan pernyataan kepada mereka sebelum saya meninggalkan kelas itu.

Dan dari pengalaman itu saya mengaca kepada anak-anak saya sendiri di rumah. Pernyataan anak-anak saya di kelas itu, sungguh telah memberikan pelajaran berharga bagi masa depan saya dalam melihat hubungan antara anak dengan orangtuanya. Terima kasih siswaku...

Jakarta, 25-26 Januari 2012.

Komitmen Bersama

Pagi hari ketika siswa kami berdatangan, saya bertemu dan sempat berdialog dengan salah satu dari mereka itu. Cuaca pagi ini tidak terlalu cerah. Bahkan awan yang bergelantungan sedikit meneteskan dalam rintik hujan. Siswa itu baru duduk di kelas delapan. Mengenakan pakaian batik bebas.
  • Sempat nonton sepak bola tadi pagi? Tanya saya kepada anak itu. Maklumlah kalau pagi hari tadi ada pertandingan leg kedua antara dua tim kuat di Spanyol, yaitu FCB dan RM. Saya berpikir bahwa hampir semua siswa saya tadi sebagian besarnya menyempatkan menonton big match itu sebelum berangkat ke sekolah. Tapi ternyata dugaan saya salah. Setidaknya untuk siswa saya itu.
  • Tidak sempat Pak. Semalam saya kecapaian, jadi pagi-pagi ngak sempat lagi nonton. Jawabnya. 
  • Kok ngak sempat? Ada pekerjaan rumah yang harus kamu selesaikan? Tanya saya lebih lanjut. Kembali saya berpikir bahwa untuk menyelesaikan tugas sekolah di malam sebelumnya hingga dia tidak punya waktu lagi untuk sekedar duduk di depan tv sebelum berangkat sekolah.
  • Saya mencuci mobil Pak. Jelasnya.
  • Wah ... Hebat. Mobil siapa yang kamu cuci? Kata saya sembari menatapnya penuh kagum.
  • Mobil ayah dan mobil Ibu saya Pak. Jawabnya lagi.
Dialog itu masih berlanjut beberapa saat kemudian. Antara lain saya ingin mengetahui bagaimana dia, yang anak metropolis,  yang pasti juga mempunya mbak atau mas di rumahnya, memiliki kemauan yang begitu mulia? Lalu dia sampaikan beberapa hal yang membuat saya lebih jatuh hati dan kagum. Tidak saja kagum kepada dia yang begitu baik dan ikut terlibat dalam kerumahtanggaan dalam bentuk membantu orangtuanya untuk membersihkan dan mencuci mobilnya, tetapi juga kagum bagaimana orangtuanya yang mampu membuat sang anak memiliki tanggung jawab besar itu.

Komitmen Bersama

Tampaknya, kegiatan yang dijalaninya ini, beru berjalan baru-baru ini saja. Dan kegiatan itu merupakan komitmen antara anak dan orangtua. Anak memiliki semangat untuk megenal lebih dekat seluk beluk dari mobil yang digunakan ayah ibunya ke kantor. Dia juga menjelaskan beberapa hal yang dilakukan dalam membersihkan kendaraan itu. Antara lain hanya mencuci bodi kendaraan saja. Sedang bagian bawah kendaraan hanya cukup dia semprotkan air kran. Demikian juga bagian dalam kendaraan hanya seperlunya.

Namun dari dialog tersebut, saya mengambil kesan sangat positif dari siswa tersebut terhadap tugas tambahan yang telah dilakoninya sejak Januari ini. Setidaknya, waktu yang ia pakai untuk melakukan kegiatan itu sebelumnya adalah waktu ia memegang game di komputer. Oleh karena itu, dia merasa memiliki kesempatan untuk lebih pintar tentang bagian-bagian dan sekaligus perawatan sebuah kendaraan.

Meski tidak saya tanyakan kepadanya, saya hampir yakin bahwa kegiatannya ini adalah bagian dari persiapannya untuk nantinya memiliki kendaraan sendiri ketika menginjakkan bangku kuliah. Dan jika waktu itu nanti terjadi, dia akan menjadi anak yang 'berbeda' dari anak lainnya dalam hal memegang kendaraan. Dan dalam sisi inilah saya cemburu akan keberhasilan orangtua dan sekaligus anak tersebut. Karena di rumah, saya memiliki anak seusia yang masih sulit untuk dapat membangkitkan jiwa merawat atas barang yang telah ada. Misalnya seperti kendaraan roda duanya...

Jakarta, 26 Januari 2012.

25 Januari 2012

Anak (Cerdas), Belajar dari Apa yang Diperbuat oleh Lingkungannya

Siang itu, saya bertemu dengan orangtua siswa di halaman sekolah ketika beliau menjemput putra semata wayangnya. Seperti biasa, satu hari dari lima hari kerja menjadi bagian saya untuk piket menemani siswa yang ada di halaman sekolah seusai jam sekolah dan sebelum mereka semua dijemput oleh penjemputnya masing-masing. Juga sesekali saya berada di halaman jika saya melihat di halaman perlu tambahan guru piket. Dan bertemu penjemput yag antara lain adalah ayah atau bunda ananda menjadi hal yag biasa kami lakoni.

Dan seperti juga para orangtua pada umumnya, maka pertemuan itu menjadi diskusi kami tentang anak. Diskusi dibuka oleh orangtua tersebut yang mengeluhkan tentang ketidakdisiplinnya ananda terhadap semua tugas yang ada. Juga malas-malasan. Termasuk juga malas membaca. Katanya. Saya bertanya mengapa malas membaca? Mungkinkah ia tidak merasakan nikmatnya membaca maka ia menjadi malas untuk membaca? Apakah Bapak atau Ibu mungkin pernah bercerita kepadanya tentang cerita yang Bapak atau Ibu baca dari buku untuk kemudian mengajaknya berdiskusi tentang isi buku tersebut? Belum Pak. Katanya. Pada titik ini saya menjadi maklum kalau ananda tidak suka membaca karena memang kurang ada contoh dan mungkin juga karena kurang diberikan motivasi. Dalam hati, saya akan menyampaikan ini Jumat pekan ini pada saat kegiatan professional development untuk guru selalu kami laksanakan. Tujuan saya tidak lain agar semua anak di sekolah menjadi termotivasi untuk suka membaca selain dari rumah juga adalah dari dorongan gurunya di sekolah.

Lalu diskusi kami perpindah pada topik lain.Yaitu tentang mengapa ananda hampir selalu tidak maksimal nilainya ketika ulangan di sekolah. 
  • Karena saya tahu Pak Agus, anak saya itu sesungguhnya pintar, tetapi dia malas sekali. Jelasnya.
  • Mengapa Pak? Sela saya.
  • Saya juga ngak tahu Pak. Jelasnya.
  • Apakah Bapak dan Ibu pernah diskusikan ini bersama-sama ananda? Mengapa dia malas melakukan usaha untuk memperoleh sesuatu yang maksimal? 
  • Saya kadang berbeda dengan istri Pak. Istri saya sering memberikan sesuatu dengan mudah. Saya sudah katakan bahwa sesuatu itu kita berikan sebagai hadiah nanti ketika ia menunjukkan sesuatu yang baik kepada kita. Tetapi barang-barang itu selalu ada. Lanjut Bapak itu memberikan penjelasanya.
Percakapan kami terpaksa harus berhenti. Dan untuk itu saya harus meminta maaf untuk tidak dapat melanjutkan percakapan dan diskusi yang sedang hangat tersebut. Bapak itu mengizinkan saya meninggalkannya. 

Itu karena kebetulan saya harus menemukan salah satu siswa kami yang ketika dijemput yang bersangkutan tidak ada ditempat. Namun alhamdulillah anak tersebut sedang berada di sebuah karpet yang ada di ruangan perpustakaan. Ia tengah asik membaca buka meski hanya ditemani oleh pustakawan.

Meski diskusi saya dengan orangtua tersebut harus saya akhiri, dalam pikiran saya sendiri diskusi terus berlanjut. Dan saya memiliki asumsi bahwa kalau seorang anak sudah dapat memiliki sesuatu atau sudah dapat mendapatkan sesuatu dengan mudah dan nyaris tanpa harus berusaha dengan sungguh-sungguh, maka untuk apa anak itu harus berkomitmen untuk mendapatkan sesuatu? Bukankan seorang anak akan me-reply apa yang sesungguhnya dilakukan oleh lingkungannya dan bukan apa yang dikatakan? Dan bukankah anak-anak semacam itulah sesungguhnya anak-anak yang cerdas? Anak-anak yang berpikirnya sudah pada tahapan analitis?

Dan asumsi ini nyaris menjadi kesimpulan saya pribadi...

Jakarta, 25 Januari 2012.

24 Januari 2012

Jangan Merasa Berjasa

Bertemu teman lama, yaitu teman-teman yang pernah berkerja dalam satu lembaga bagi orang yang beberapa pindah kantor demi mengejar sesuatu yang berharga, menjadi momen yang membahagiakan tiada kira. Dan ini wajar dialami oleh siapa saja. Juga saya dan teman-teman. Dengan teman yang pernah terikat dalam sebuah ikatan pekerjaan di sebuah lembaga, saya bahkan sesekali merancang untuk saling membuat janji guna berjumpa. Tidak sekedar melepas kegelisahan di tempat kerja yang baru, tetapi juga bertukar strategi di lokasi bekerja yang baru. Dan dalam dua titik itulah kami berusaha untuk mempertemukan diri. Lebih-lebih jika kepenatan benar-benar telah memuncaki ubun-ubun, maka pertemuan akan membuat pikiran kami menjadi terang benderang.

Lalu apa yang membuat kami berpindah dari satu kantor ke kantor lainnya? Ata dari satu lembaga ke lembaga lainnya? Alasan klasiknya sih mengejar karier. Tapi buat saya pribadi, pindah tempat kerja lebih karena dorongan panggilan hari. Maksudnya, kadang menempati suatu posisi kerja dalam rentang waktu yang lama itu sedikit membuat saya gelisah. Atau lebih tepatnya membuat saya kurang merasa nyaman. Dan kadang-kadang dalam situasi yang demikian itu, Tuhan mengutus orang-irang baik untuk membawakan tawaran pekerjaan baru yang pada saat itu membuat mata dan pikiran terbelalak. Bukan karena kontrak yang disampaikannya, tapi justru pada visi dan misi yang harus dijalaninya. Dan itulah setidaknya pengalaman batin dan lahir yang saya alai sepanjang perjalanan pekerjaan saya sebagai pegawai swasta di dunia pendidikan.

Dan pengalaman seperti itu, atau mirip-mirip, dialami pula oleh teman-teman baik saya. Maka ketika kami berkumpul, maka perkumpulan persahatan itu benar-benar akan mampu memberikan aliran motivasi baru bagi kami masing-masing untuk kembali ke peta perjalanan yang masing-masing kami pegang. Salah satu peta pejalanan itu adalah apa yang dikemukakan oleh sahabat saya di sebuah pertemuan reuni. Dikatakannya bahwa; Agar kita semua sebagai pegawai di suatu lembaga, agar jangan pernah  merasa berjasa atas apa yang telah kita perbuat atau lakukan untuk lembaga tersebut. Meski dalam realitasnya itu memang kita yang mengerjakannya.
  • Mengapa?  Bukankah kita sering membuat sesuatu yang menjadilkan lembaga dimana kita berada menjadi semacam spesial? Kata saya protes.
  • Betul. Bukankah itu karena antara lain atas kontribusi kita? Sambung teman saya yang lain.
  • Mengapa sulit mengakui apa yang baik yang telah kami lakukan? Jelas teman saya yang lain lagi.
  • Karena apa yang telah kita lakukan dalam rangka mengemban amanah itu adalah bentuk kewajiban kita atas hak yang selalu dibayar tunai oleh lembaga yang memberikan amanah kepada kita? Jadi impas, samadengan korelasi matematikanya.  Jasa samadengan gaji? Betul? Jelas teman saya yang sok filosofis ini. Kami semua terdiam. Mencerna apa yang terdapat dalam benak kami masing-masing.
Saya ikut pula terdiam dan mencoba berpikir akan kebenaran ucapan teman saya. Jika demikian halnya, pastas sekali kalau ketika saya mengajukan pengunduran diri dari satu tempat kerja ke tampat kerja yang lain selalu diberikan ucapan terima kasih dari pemipin tertinggi di lembaga tersebut. Walau kadang saya memiliki harapan selain itu. 

Tetapi ada pula kawan yang melihat pernyataan teman itu sebagai provokasi atas apa yang dilakukannya selama ini. Sebagaimana telah ia kemukakan sebelumnya dalam bentuk gerutuan bahwa;  ia merasa tidak dihargai oleh lembaga tempatnya bekerja selama ini ketika ia mengajukan surat pengunduran diri untuk berkarier di lembaga yang berbeda. Allahua'lam bishawab.

Jakarta, 24 Januari 2012.

23 Januari 2012

Apa Untungnya vs Apa Ruginya?

Ketika kita berada di lapangan sekolah dan persis dibawah kaki kita terdapat seloform bekas bungkus makanan terkenal dari luar negeri, apa yang akan Anda lakukan? Ini pun saya coba persempit bahwa yang dimaksud dengan kita adalah saya dan Anda yang juga adalah komunitas sekolah tersebut. Tentu pilihannya hanya dua. Pilihan pertama adalah mengambilnya untuk kemudian membuangnya pada tempat yang semestinya. Pilihan kedua, akan membiarkannya. Memang ada pilihan berikutnya misalnya akan memanggil teman pramubakti yang bertanggungjawab atas kebersihan lingkungan sekolah. Namun saya bermaksud hanya memberikan dua pilihan saja yaitu terhadap nasib seloform bekas pembungkus makanan yang tergeletak di halaman sekolah, mengambilnya atau membiarkannya.

Ketika pilihannya adalah mengambilnya, pasti ada serangkaian argumentasi sehingga pilihan itu yang diambil. Bukankah sampah itu bukan sampah kita. Jadi apa untungnya kita melakukan kebaikan di tempat umum atas perbuatan tidak senonoh orang lain yang tidak bertanggungjawab? Apakah perbuatan itu nantinya, dari kacamata orang-orang tertentu,  tidak dianggap sebagai cara-cara untuk mendapatkan sesuatu? Sesuatu yang berkait dengan atasan, seperti menjilat? Bagaimana dengan pilihan yang kedua? Khusus pilihan kedua, tidak ada sesuatupun yang perlu kita diskusikan. Karena ketika kita telah memilih perilaku kedua, maka selesai sudah perkaranya. Tanpa perlu kita berdiskusi tentang apa argumentasinya.

Apa Untung vs Apa Rugi

Kadang, secara manusiawi kita berpikir tentang apa implikasi perbuatan bagi kita selanjutnya. Dan implikasi itu jika kita kalkulasi, maka muaranya kepada untung dan rugi. Oleh karena itu jika kita mengambil sikap terhadap sebuah keputusan, maka dibalik sikap yang kita ambil akan tergambar plus dan minusnya. Untung dan ruginya. Sama halnya dengan kasus atau cerita tentang seloform bungkus makanan yang ada di halaman sekolah di atas.Dan sepenuhnya saya sepakat dengan argumentasi tersebut di atas. Namun yang agak berbeda barangkali, bahwa bagaimanapun posisi dan kondisi kita, terutama jika masalah seloform atau kotoran lain tersebut masih berada dalam ruang lingkup kita, maka meski tetap berpikir tentang untungnya atau ruginya, namun seyogyanya pikiran positif yang dikedepankan.

Misalnya jika kita berprakarsa untuk mengambil sampah tersebut dan membuangnya ke tempat yang semestinya, dan ketika dalam pikiran kita tersirat argumen apa untungnya, maka baliklah model berpikir tersebut dengan apa ruginya jika saya harus membuang sampah orang lain?

Jikapun dalam benak kita terdalam masih protes; apa untungnya kita berprakarsa melakukan hal itu kalau toh orang lain tidak mengambil prakarsa apapun terhadap hal yang sama? Sekali lagi, saya mengajak kita semua untuk mengambil sikap berpikir; Apa ruginya kalau saya orang yang pertama memulai melakukan hal yang orang lain tidak lakukan?

Saya pastikan lingkungan kita akan menjadi baik bila prinsip berpikir apa ruginya kita berbuat baik atas perilaku orang yang tidak baik terhadap lingkungan. Apalagi jika salah satu kita itu adalah pengambil keputusan dan memungkinkan melakukan intervensi atas sebuah budaya di lingkungannya masing-masing. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 23 Januari 2012.

Apa Pekerjaan Saya?

Mungkin ada yang bertanya kepada saya tentang apa pekerjaan saya? Saya akan menganggapnya wajar. Itu karena pertanyaan tersebut disampaikan oleh orang yang tidak tahu atau orang yang belum mengenal saya secara baik. Namun jikalau pertanyaan itu disampaikan oleh teman-teman yang memang mengenal saya lama, maka pertanyaan itu tetap tidak saya anggap sebagai main-main. Karena sangat boleh jadi meski kita telah lama saling mengenal atau bahkan telah lama bergaul, namun pengetahuan mereka tentang saya, atau bisa jadi pengetahuan saya tentang dia, belum sepenuhnya erat. Sehingga masih ada celah ketidaktahuan yang barangkali atau yang bisa jadi perlu konfirmasi dalam bentuk keterangan lanjutan, misalnya pertanyaan seperti itu tadi.

Dulu?

Dan untuk membuat kejelasan atas pertanyaan itu, saya mencoba untuk sedikit memberikan gambaran tentang saya dan pekerjaan yang menjadi tanggungjawab saya. Dulu, lebih kurang delapan tahun lalu pada saat sebagai kepala sekolah, tugas yang menjadi kesepakatan antara saya dengan teman yang sama-sama sebagai kepala sekolah, tugas utama saya adalah berkomunikasi dengan pihak Depdikbud. Dan itu berlangsung lebih kurang selama dua tahun sepanjang perjalanan saya di posisi kepala sekolah tersebut. Namun dalam perkembangan selanjutnya, dimana terjadi pula perkembangan tuntutan Yayasan selaku pengelola sekolah dan pemberi amanah dengan saya sebagai pemegang amanah, kewajiban saya bertambah luas dan dalam. Misalnya saja saat terjadi sweeping imigran muslim di benua Australia ketika marak bom, dan di Jakarta diisukan akan terjadi hal yang sama bagi warga Australia, maka tambahan tugas saya adalah menghadapi para sweepers. Alhamdulillah, tugas ini hanya pada tataran skenario rencana dan tidak pernah terjadi. Atau misalnya juga saya harus berkomunikasi dengan seorang oknum perwakilan sebuah kelompok masyarakat tentang surat peryataan mereka yang bernada ancaman. Dan Alhamdulillah, pada tugas inipun saya tidak harus benar-benar berhadapan dengan situasi yang tidak terkendali. Semua berkahir dengan baik dan kebaikan.

Lalu bagaimana pula dengan tugas formal saya sebagai kepala sekolah? Misalnya tugas yang berkenaan dengan administrasi sekolah, komunikasi dengan siswa dan orangtua? Semua juga dapat terkendali dengan lumayan baik. Setidaknya saya mendapat angka ponten paling buruk atau paling jelek dalam kinerja saya pada tataran CUKUP. Lumayan bukan?

Sekarang?

Lalu, bagaimana pula dengan pekerjaan sekarang ini? Hampir sama saja dengan yang dulu-dulu. Ada pekerjaan yang saya masukkan dalam kategori formal dan ada juga yang masuk dalam kategori nonformal. Tentang bagaimana pembagiannya sehingga pekerjaan itu masuk formal atau masuk nonformal. Saya sulit bisa menjelaskannya. Saya banyak rasa tetapi kurang bahasa untuk memberikan keterangannya.
Yang jelas, banyak teman yang kesulitan menemukan saya di ruang kerja saya.  Baik yang menghubungi saya via telepon kantor atau yang langsung datang. Walau kadang pencarian itu tidak ketemu hanya karena selisih waktu beberapa detik. Lalu kemana saya berada? Ya tetap di lingkungan sekolah. Tapi tidak tentu ada dimana. Karena suatu saat saya ada di ruang guru, ruang TU, perpustakaan atau bahkan ruang kelas. Dan itu artinya ada lebih dari lima puluh kemungkinan jika ini mengacu kepada banyaknya ruangan yang ada di sekolah kami.

Apa yang saya lakukan jika tidak sedang berada di depan komputer atau di dalam ruangan kerja saya? Kalau saya masuk ke dalam kelas, maka saya akan ikut terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung di dalamnya. Saya akan mengamati antusiasme anak murid dan guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Dan kadang membantu mereka jika di dalam kelas itu saya menemukan sesuatu yang tidak pada tempatnya terjadi.

Atau mungkin kegiatan lain, misalnya ikut menikmati hijaunya daun pisang yang sedang berbuah atau daun pohon mangga yang kami tanam di bagian belakang sekolah. Pendek kata kepada Anda yang bertanya tentang apa pekerjaan saya, maka jawaban yang paling pas adalah semua jenis kerja yang ada di lingkungan sekolah. Karena semua jenis pekerjaan itu, semua saya menikmatinya.

Lalu kalau ada yang bertanya lagi tentang apakah gaji saya cukup atau kurang dengan jenis pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya? Saya akan menyampaikan permohonan maaf. Karena ketika saya masuk kerja ke sebuah instansi, tidak pernah memberikan penawaran untuk diberikan gaji sekian. Tetapi saya sekedar menyepakati atas gaji yang diberikan pemilik lembaga kepada saya...

Jakarta, 23 Januari 2012.

Belajar tentang Empati pada Lingkungan?

Kemarin, anak saya secara tidak sadar sedang mengajarkan kepada saya untuk belajar empati. Timbang rasa. Kepada temannya yang pada bulan depan akan ada kegiatan di sekolahnya yang mengharuskan mereka semua terlibat, namun juga membutuhkan biaya. Dan karena itulah maka temannya harus tidak dapat ikut serta. Itu menjadi pilihannya karena sejak orangtuanya terserang penyakit yang menjadikannya tidak mampu bekerja, hingga tidak ada pilihan lainnya. Oleh karenanya ia mengingatkan saya untuk memberikan bantuan kepada temannya itu, dan juga temannya yang lain karena memang ada beberapa temannya yang bernasib sama, dengan memberikan donasi untuk kegiatan yang segera akan berlangsung di Februari nanti. Temannya itu, dan masih ada beberapa teman lainnya di kelas 11 SMAnya itu, harus belajar menjadi prihatin ditengah sebuah perjalanan menggapai masa depannya.

Berempati pada Lingkungan

Lalu apa sesungguhnya pelajaran yang saya dapat dari anak saya selain tentang empati  kepada sesama dalam bentuk  memberikan donasi? Menurut saya sendiri adalah cara pandang. Karena betapa benar-benar berlimpah celah bagi kita untuk terus mengasah rasa empati itu. Tidak karena hanya secara kebetulan anak-anak memberikan kesempatan seperti itu, tetapi juga berbagai wahana, yang berupa makhluk, yang bermakna juga selain manusia adalah juga semua hal selain Khalik, yang dapat kita jadikan sebagai lahan untuk mengasahnya. Dan salah satu hal itu adalah kebersihan kepada lingkungan. Sehingga, adakah dalam diri kita lahir sebuah tekad dan keberanian serta kamauan untuk menumbuhkan empati kepada lingkungan sekitar kita?

Sebagai contoh barangkali saya kemukakan disini tentang sebuah kegiatan penerimaan peserta didik baru di sebuah sekolah tingkat sekolah dasar. Dimana pada saat anandanya sedang masuk ruangan kelas untuk menjalani interviu, maka para orangtua duduk menunggu di ruang tunggu yang tersedia. Dan pada saat kegiatan itu berakhir, banyak tertinggal botol minum dan kardus makanan kecil yang sudah tidak ada lagi isinya. Alias sudah kosong. Alias sudah menjadi sampah. Dan tampak sekali bahwa itulah sikap kita terhadap sesuatu yang telah tidak kita butuhkan lagi. Kita tidak pedulikan atau bahkan tidak berempati lagi.

Dan mohon kita sekali lagi berpikir bahwa, kelakuan seperti itu dilakukan bukan oleh anak-anak sekolah yang diekspektasi untuk mampu dan mau menjaga kebersihan. Bahkan mereka didorong dengan dorngan serta motivasi bahwa kebersihan adalah merupakan bagian dari keimanan. Yang berarti jika kita berkontribusi dalam penjagaan leingkungan yang bersih maka bermakna bahwa ada keimanan menempel dalam diri kita? Itu adalah kelakuan para calon orangtua siswa. Yang berarti bahwa generasi merekalah yang seharusnya pertama kali mendapat dorongan bahwa kebersihan adalah merupakan bagian dari keimanan. Yang berarti juga bahwa yang mestinya menjadi siswa dengan ekspektasi penjagaan kebersihan lingkungan adalah generasi para calon orangtuanya dan bukan anandanya?

Kenyataan itu membuat saya pribadi melakukan koreksi ke dalam. Apakah masih ada unsur ketidakharmonisan antara angan-angan yang berujud ekpsektasi dalam pikiran saya terhadap anak-anak saya sendiri dengan polah tingkah saya. Maka hanya kepada Allah saja saya memohon ampunan atas ketidakan itu. Dan berharap kiranya Ia memberikan selalu kesadaran untuk terus berlaku baik, juga kesehatan, dan keberkahan hidup. Amin.

Jakarta, 22-23 Januari 2012.

22 Januari 2012

Untuk Apa ISO?

Saya, untuk kesekian kalinya mendapat pertanyaan yang sama, yang berkenaan dengan urgensi dari sertifikasi ISO 9001:2008 untuk sekolah, dari salah satu komponen stake holder. Bukan menjadikan saya kerepotan dengan pertanyaan tentang urgensi sertifikasi ISO itu yang menjadikan saya akhirnya menuliskan di sini, tetapi justru apa urgensinya pertanyaan itu di lontarkan berulang kali?

Saya menduga bahwa, pertanyaan  itu kembali terlontar dari jawaban saya karena; Pertama, sangat mungkin bahwa jaaban saya tidak benar-benar dapat menjelaskan urgensi yang dimaksudkan. Kedua, atau  mungkin jawaban saya tersebut, tidak mendapat perhatian yang sepenuh-penuhnya. Sehingga lontaran pertanyaan yang sama masih juga lahir. Dan untuk kedua kemungkinan tersebut di atas, saya memilihnya pada kemungkinan pertama. Karena saya menganggap bahwa kemungkinan pertama sebagai pilihan saya, itu berarti saya memiliki cara berpikir positif. Mengapa? Sebab pilihan dugaan pertama itu mempersalahkan diri saya, bahwa argumentasi saya sebagai jawaban atas urgensi dipilihnya ISO 9001:2008 bagi suatu sekolah tidak terlalu jelas dan konkrit. Melangit dan bukannya membumi. Jadi saya mesti membuat jawaban dari pertanyaan tersebut dengan bahasa dan pilihan kata yang operasional.Dan saya menghindari diri untuk memilih model jawaban atau dugaan yang kedua karena model jawaban kedua itu mempersalahkan orang lain.

Jadi mengapa suatu sekolah, terutama bagi sekolah yang mendapat SK dari Kemendikbud ditunjuk sebagai Rintisan Sekolah Bartaraf Internasional (RSBI) di Indonesia sekarang ini, bergiliran dan berkejaran untuk mendapatkan sertifikasi ISO? Karena, jawaban saya, dalam SK Kemdikbud itu disebutkan bahwa sertifikasi lembaga internasional yang antaralain ISO, sebagai prasyarat agar sekolah yang bersangkutan meningkat statusnya dari sebelumnya RSBI menjadi SBI, Sekolah Bersatandar Internasional.

Jadi untuk jawaban dari urgensi sertifikasi ISO bagi sekolah, dengan mangacu kepada peraturan yang ada, maka jawabannya adalah karena sebagai salah satu syarat bagi sekolah yang RSBI menjadi  SBI! Apakah itu saja maka sekolah mengamil sertifikasi ISO? Tentu tidak sedangkal itu. Tetapi sebagai argumentasi yang berdasarkan legal formal dalam bentuk peraturan pemerintah, maka pelaksanaan sertifikasi ISO bagi sekolah dengan status RSBI adalah mutlak. Juga syarat-syarat lainnya. Terutama kultur kerja.

Jelas bukan apa yang menjadi jawaban saya untuk sebuah pertanyaan tentang urgensi sertifikasi ISO di sekolah? Sangat jelas. Lalu kalau ada pertanyaan yang lain lagi, apa manfaat ISO untuk sebuah sekolah? Nah kalau ini pertanyaannya, maka jawabannya adalah asli logika saya sendiri. Karena dalam peraturan yang ada, hanya menyebutkan sebagai jaminan mutu bagi sebuah sekolah. Mungkin karena jaminan mutu itu, maka sekolah yang semula berstatus RSBI plus dengan persyaratan lainnya yang terpenuhi maka dari hasil akreditasi nantinya pemerintah dapat memutuskan menjadi status SBI. Tapi kata jaminan mutu, masih belum operasional bukan? Lalu apa operasionalnya? Sekali lagi, saya dengan logika yang ada akhirnya mejawab; bahwa dengan adanya sertifikasi di sebuah sekolah, maka parameter dari ISO itu akan menadi sebuah tuntutan. Dan tuntutan yang sudah dibuat oleh sekolah tersebut tentunya akan dilakukan ferivikasi oleh lembaga sertifikasi. Dan hasil ferivikasi tersebut nantinya pasti akan menentukan apakah lembaga sekolah dimaksud layak diberi sertifikat atau belum. Artinya lagi, ekspektasi yang ada dalam ISO harus benar-benar dijalani menjadi sebuah sistem kerja.

Apa implikasi berikutnya? Karena ekspektasi tersebut menjadi sebuah tuntutan yang harus diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari sebagai sistem kerja, maka itu akan menjadi kegiatan yang terus menerus dilakukan dalam bentuk continuous audit oleh badan sertifikasi.  Untuk itu maka sistem yang telah tersertifikasi tersebut tidak sertamerta berhenti dan lupa dijalani setelah sekolah tersebut tersertifikasi. Dan apa ujung dari itu? Jika komuitas berkomitmen untuk memegang teguh sertifikat ISOnya, maka dalam jangka waktu tertentu proses belajar itu akan menjadi kultur. Tentunya kultur yang baik. InsyaAllah.

Tapi sekali lagi, bahwa apa yang saya kemukakan ini sekedar rangkaian pikir terhadap apa yang sedikit saya ikuti. Mungkin ada lagi yang bertanya, mangapa untuk sebuah kualitas harus ISO? Nah, kali ini saya tidak bisa menjawab. Karena sebagaimana saya kemukakan di atas bahwa untuk sebuah sekolah dengan status RSBI, maka sertifikasi ISO menjadi syarat untuk kenaikan status menjadi SBI.  Jelas bukan?

Jakarta, Minggu, 22 Januari 2012.

21 Januari 2012

'Upacara' Ulang Tahun Siswa Saya

Siang itu, sekitar pukul 14.00, kebetulan hari Jumat, dimana semua pelajaran berakhir pada pukul 12.00, saya harus memberhentikan 'upacara' ulang tahun siswa kelas 9 di dekat pintu gerbang keluar sekolah, yang juga kebetulan ada di samping ruang administrasi sekolah. Itu saya lakukan manakala ada seorang siswi yang telah basah kuyup dengan rabut yang telah berubah menjadi putih oleh bubuk yang rupanya disiramkan oleh teman-temannya. STOP. Kata saya mengambil alih perhatian anak-anak itu. Semua terdiam dan beberapa diantaranya memprotes keputusan saya untuk memberhentikan 'upacara' ulang tahun yang mereka rasa belum juga selesai. Namun alhamdulillah, semua mematuhi perintah saya. Mereka berhenti 'mengerjai' temannya yang ulang tahun. Membersihkan bubuk putih yang tercecer di konblok parkiran dengan air yang telah mereka tampung di dalam ember.

Kepada yang ulang tahun, saya memintanya untuk pergi ke kamar mandi driver yang ada di belakang pendopo dengan di temani teman-teman perempuannya. Saya memanggil tiga siswa yang tadi terlibat dengan upacara itu. Kepadanya saya menjelaskan mengapa saya melarang kegiatan itu. 
  • Tidak pakai telur Pak. Jelas seorang dari tiga anak itu. 
  • Dan anak cewek sudah siapkan pakaian gantinya Pak. Jadi tujuan kami tidak mengerjai pak. Tapi membuat kenangan terakhir di kelas 9 ini. Jelas temannya yang lain lagi.
  • Baik. Terima kasih. Tetapi Pak Agus tetap tidak setuju. Karena kegiatan kalian masih dalam waktu sekolah. Meski memang kalian dalam posisi sudah pulang sekolah. Jelas saya.
Beberapa saat kemudian empat anak perempuan yang lain saya panggil dan saya minta penjelasannya.
  • Kami sungguh tidak bermaksud ngerjai dia Pak. Kami sebelumnya telah sepakat. Kata anak pertama.
  • Kami sudah siapkan handuk dan perlengkapan mandi lainnya, serta pakaian gantinya Pak. Kata anak kedua.
  • Pak saya ngak apa-apa kok Pak. Saya senang saja kok Pak. Kata anak yang ulang tahun. Saya tentu saja kaget dan sekaligus kagum dengan anak-anak murid saya itu. Mereka bersahabat dengan penuh ketulusan rupanya. 
  • Baik. Maafkan Pak Agus. Tapi lain kali jangan lakukan saat sekolah ramai oleh penjemput. Kata saya lagi. Sekarang kamu mandi di toilet Ibu Guru TK. Pinta saya kepada mereka.
  • Nggak Pak, saya mau mandi di rumah Mira saja. Bujuk anak yang menjadi target.
  • Tidak. Pak Agus tetap menginginkan kamu mandi yang bersih di sekolah dan berganti pakaian. Karena jika kamu harus naik kendaraan dalam kondisi basah kuyup, kasihan mobilnya. Kata saya agak memaksa.
Mereka semua akhirnya mengantarkan teman yang ulang tahun itu ke kamar mandi. Tentu setelah saya meminta ijin kepada guru TK untuk menggunakan toilet mereka.
Pengalaman itu membuat saya berpikir tentang proses belajar yang berangkai dengan peristiwa-peristiwa lain, pada tahun-tahun awal sekolah kami punya SMP. Termasuk peristiwa 'upacara' ulang tahun itu. Dimana kala itu ada budaya 'ngerjai' teman yang ulang tahun dengan memecahkan telur di rambut. Dari peristiwa itu, kami kumpulkan anak-anak untuk mendiskusikan kejadian itu, untuk kemudian dilarang. Alhamdulillah, bahwa anak-anak kami pada akhirnya mengetahu ekspektasi kami. Meski itu selalu dilakukan pada jam sesudah pulang sekolah dan sebelum mereka dijemput oleh penjemputnya.

Kadang peristiwa itu masih berulang. Ini terutama dilakukan oleh siswa-siswa yang berbeda generasinya. Mungkin setelah sekian tahun, kami lupa mengkomunikasikan budaya kami itu kepada siswa kami. Namun setiap ada peristiwa seperti itu, esok harinya kami sekali lagi menyampaikan mengapa kami tidak menyetujui budaya itu. Hingga peristiwa kemarin sore itu. Meski 'upacara' itu tetap saya STOP, dalam hati saya berpikir bahwa anak-anak itu, siswa-siswi saya itu, tetap memikirkan 'kesejahteraan' teman yang dikerjainya. Sekali lagi, Alhamdulillah.
Jakarta, 21 Januari 2012.

20 Januari 2012

Pak, Tadi Saya Mainnya Bagaimana?

Tampaknya, hampir semua siswa laki-laki di sekolah saya, menjadikan  futsal  sebagai permainan yang wajib mereka mainkan sepulang sekolah sebelum dijemput pulang ke rumah. Mereka akan memanfaatkan waktu dari pukul 14.00, saat jam pelajaran sekolah berakhir, hingga lebih kurang pukul 15.00 saat jemputan mereka memanggil mereka untuk masuk kendaraan. Dan dalam kurun waktu yang berdurasi lebih kurang 60 menit itu, lapangan serbaguna yang tersedia di sekolah kami,  akan benar-benar  menjadi ajang bermain futsal.

Saya dan beberapa guru yang kebagian piket menunggui mereka pada jam-jam itu, akan menemani mereka bermain. Dan hampir selalu ketika piket giliran saya, saya akan ikut berada di lapangan serbaguna itu sebagai wasitnya. Dan supaya semua tingkat kelas mendapat kesempatan utnuk bermain futsal di lapangan itu, saya membagi mereka menjadi tiga kali game. Yang setiap permainannya berdurasi 15 hingga 20 menit saja. Dan sebagai permulaan, saya akan mempertandingkan kelompok kelas tiga melawan kelas empat. Kemudian kelas lima melawan kelas enam. Dan sebagai penutup, biasanya pemenang game terakhir itu akan kita adu dengan kelas tujuh. 

Dan satu siswa dari sekian banyak siswa itu, sore ini datang kepada saya saat saya sedang menulis pekerjaan di ruang kerja. Anak itu masuk ruang saya yang pintunya memang saya buka.
  • Bapak belum pulang? Tegurnya kepada saya. Saya berhenti menulis dan menatap dia. Rambutnya sudah basah kuyup oleh keringat. Baju seragamnya sudah ditanggalkan dan entah diletakkan dimana. Yang ada, dia mengenakan kaos singlet yang sebelumnya menjadi kaos dalamnya. Celananya panjang putih.
  • Belum. Kamu sendiri belum pulang nak. Balas saya. Jam digital yang ada di layar tv yang menjadi monitor cctv di samping saya menujukkan pukul 16.02.
  • Bapak tadi lihat saya main ngak? Menurut Bapak saya sudah bagus belum menangkap bola saat menjadi kiper? Wah saya garus-garus kepala. Beruntungnya saya bergaul dengan anak itu tidak hanya sekali. Tetapi sering sekali. Oleh karenanya, saya relatif tahu skill bermain futsalnya. Terlebih, dia memiliki adik kandung yang menjadi bagian dari tim futsal sekolah kami meski baru duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Dan juga, sebelum kedatangan dia ke ruangan saya, saya sebelumnya berada di lapangan dan menyaksikan bagaimana anak-anak bermain futsal termasuk anak itu. Maka tanpa ragu saya memberikan opini kepadanya.
  • Alhamdulillah. Bagus. Kamu merasa berkembang dalam bermain futsal kan? Pak Agus melihat perkembangan itu banyak sekali.
  • Ia Pak. Saya sekarang rajin sama adik berlatih di klub di Kuningan. Jelasnya.
  • Syukurlah kalau begitu. Pak Agus ikut senang.
Percakapan saya yang singkat itu, sungguh memberikan pengalaman batin bagi saya yang tidak terperi. Itulah barangkali pengalaman yang tidak setiap orang mengalaminya. Saya tidak merasa terganggu dengan kunjungan tamu kacil saya itu di saat-saat saya bekerja. Karena saya merasa bahwa itulah tugas saya. Melayani...

Jakarta, 20 Januari 2012.

Sosialisasi UN di Sekolah


Pagi itu, saya diminta oleh Ibu Kepala Sekolah untuk memberikan sedikit pebukaan atas kegiatan Sosialisasi kegiatan Ujian Nasional. Dalam sosialisasi itu antara lain pihak sekolah akan membahas tentang pelaksanaan dan tahapan dalam ujian akhir sekolah dan tentang kisi-kisi ujian nasional terbaru dari Kemendikbud, serta beberapa upaya sekolah daam mempersiapkan keberhasilan siswa dalam menghadapi ujian tersebut. Seperti biasanya dan seperti dimana saja, bahwa orangtua kelas akhir di sekolah tersebut hanya dihadiri oleh empat ayah dari sekitar 75 orangtua siswa.

Tentang tahapan dan pelaksanaan ujian nasional, tentang kisi-kisi, dan tentang strategi untuk mencapai keberhasilan beajar siswa,  kepala sekolah yang didampingi oleh guru yang menjadi penanggungjawab mata pelajaran menyampaikan sesuai dengan apa yang menjadi ketentuan pemerintah dalam hal ini Kemendikbud. 

Demikian juga apa yang saya sampaikan saat kegiatan itu selesai di buka oleh MC. Saya hanya menyampaikan sedikit tentang hal ihwal yang berkait dengan ujian nasional. Saya justru amat sangat tertarik untuk menyampakan hal-hal yang ada diluar lingkaran ujian nasional namun sangat menentukan keberhasilan dan keberkahan anak di masa mendatang.

Hanya Tiga Hal

Hanya tiga hal saja yang dapat saya sampaikan sebagai pembukaan dalam kegiatan tersebut. Tiga hal itu adalah tiga hal mendasar yang harus menjadi pondasi bagi keberhasilan dan keberkahan bagi ikhtiar kami di sekolah dan para orangtua siswa di rumah bagi pegembangan potensi ananda.

Pertama, saya menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para orangtua siswa tetap berkomitmen untuk menjadikan sekolah kami sebagai tempat bagi pengembangan kompetensi dan potensi anandanya masing-masing. Dan kamipun selalu memohon doa dari para orangtua yang ada agar amanah tersebut selalu dapat jaga dan kami emban dengan sebaik-baiknya. Dan kami pun akan menjadikan amanah tersebut sebagai motivasi bagi kami semua sebagai guru di sekolah, untuk terus menerus memohon kekuatan dan kemudahan kepada Illahi Rabbi agar langkah kami lurus sesuai dengan petunjukNya.

Kami berharap agar permohonan kami dan permohonan para orangtua siswa kami kepada Sang Khalik menyatu dan bersinergi sehingga menjadikan permohonan kami terkabul dan terialisasi. Amin.

Kedua, Saya menyampaikan bahwa era kita saat kita bersekolah dan menghadapi ujian akhir sekolah berbeda dengan pada saat dimana anak kita. Pada masa kita, ketika menghadapi ujian nasional, sulit untuk membayangkan soal yang akan keluar dalam ujian nanti. Olehkarena itulah, kita akan sebanyak mungkin belajar dan membaca dari beberapa buku. Maka, alangkah sedihnya kita mana kala ujian berlangsung, namun sedikit sekali materi yang sebelumnya kita pelajari keluar dalam soal ujian.

Sedang anak sekarang? Empat bulan sebelum ujian berlangsung, sekolah dan guru telah diberitahukan, bahkan juga kepadanya, tentang kisi-kisi ujian nasional. Yaitu batasan kompetensi yang sekaligus dapat tergambarkan materi pelajaran yang harus disiapkan untuk ujian nasional. Karena soal-soal ujian nasional hanya keluar dari atau bersumber dari kisi-kisi yang diberikannya itu.

Artinya, kita sebagai orangtua siswa, selama siswa sehat dan fokus,  tidak boleh terlalu kuatir  akan kegagalan bagi anak-anak kita. Karena dengan seperti itu maka sesungguhnya kisi-kisi dalam ujian nasional atau ujian akhir sekolah dapat benar-benar menjadi peta keberhasilan siswa.

Ketiga, saya berpesan sekali kepada para orangtua siswa untuk benar-benar mengawasi apa ketika ujian berlangsung, jangan ada  tangan-tangan jahat ikut, apalagi diikutkan, untuk memperoleh hasil ujian yang baik. Modusnya? Menerima SMS kunci jawaban hanya beberapa menit sebelum ujian dimulai. Meski hal itu diterima dalam bentuk gratisan. Apalagi jikalau harus mengeluarkan beberapa rupiah sebagai imbalannya. Untuk itulah maka saya mengajak seluruh orangtua yang hadir agar tidak terlalu menjadikan hasil ujian nasional sebagai satu-satunya hasil belajar.

Karena jika dalam memperoleh hasil akhir itu sudah ada keterlibatan atas unsur ketidakjujuran, maka itu akan dibawa ananda sepanjang dia akan menapaki kehidupan dimasa mendatang. Semoga. Amin.

Jakarta, 20 Januari 2012.

19 Januari 2012

Siswa Sebel dengan 'Ceramah'

Beberapa waktu lalu, ini juga menjadi kebiasaan saya untuk menyambut siswa datang di pagi hari. Sekaligus, nyambung dengan ikrar bersama sebelum seluruh siswa masuk kelas masing-masing. Ikrar ini dilaksanakan di ruang bersama yang kami miliki. Dan biasanya, sesudah janji dan doa selesai kita kumandangkan bersama, kami, kadang kepala sekolah, kadang guru, atau mungkin sesekali saya meminta giliran, menyampaikan pesan kepada siswa. Semua pesan kita  kita rangkai dan sampaikan dalam kerangka positif dan motivasi. Itulah kegiatan pagi hari siswa sebelum masuk kelas masing-masing yang lebih kurang memakan waktu dua puluh menit.

Mengapa Motivasi?


Mengapa kami menyampaikan selalu dalam kerangka positif dan motivatif? Tidak lain karena seluruh siswa kami adalah siswa yang berangkat dari keluarga yang memiliki potensi luar biasa hebat. Apalagi jika kehebatan itu kita perbandingkan dengan potensi yang generasi kami miliki pada saat dulu kami masih seusia mereka. Oleh karena itu, kami yakin sekali bahwa kalau ada keberhasilan yang tertunda dari siswa kita, itu tidak lain karena  tiadanya pandangan mereka ke depan atau visioner. Karenanya, sekali lagi, itu membutuhkan dorongan agar terjadi lejitan ke arah optimalisasi.

Potensi tersebut antaralain berupa penampilan pisik yang rata-rata mereka, kata saya suatu pagi di depan siswa-siswa,dalam ranah kuantitatif, maka mentok bawah nilainyanya 8. Juga potensi sumber dana. Dimana sebagian besar mereka dari keluarga agnia. Dengan demikian, maka minimal ada satu potensi lagi yang diperlukan mereka untuk terus dapat eksis dan optimal bagi masa depannya. Dan potensi itu bernama perilaku baik.Untuk itulah, kami di sekolah tidak akan menjadi bosan atau menjadi kelelahan untuk terus dan tetap mendampingi dan memotivasi siswa-siswa kami dalam perjalanannya menuju optimalisasi. Dan semoga kekuatan dan kemudahan selalu Allah curahkan dalam ikhtiar kami. Amin.

Sebel dengan 'Ceramah'?

Nah, siang hari saat saya harus pergi ke UKS untuk meminta obat tetes mata, saya bertemu dengan lima siswa yang kebetulan ada di dalamnya. Mereka berkunjung ke UKS untuk meminta obat gosok bagi seorang yang sakit perut. Dengan empat pengawal yang beralasan menemani.
  • Apa pendapat kamu kalau Pak Agus berbicara kepada kalian di saat ikrar? Tanya saya memulai percakapan. Tetapi harus dijawab dengan sejujurnya ya. Lanjut saya lagi.
  • Pak Agus, kata seorang memulai memberikan jawaban, ngak apa-apa Pak. Kadang apa yang Pak Agus sampaikan bermutu Pak. Bahasanya juga enak. Lanjutnya. Wah, saya nyaris gede rasa, nyaris angkuh mendapat pujian. Tapi tunggu, saya harus sabar untuk mengorek lebih dalam. 
  • Sebentar, sela saya berikutnya, kalian bicara dengan Pak Agus ini jujur atau untuk menghibur saja biar Pak Agus sumringah?
  • Tidak  Pak. 'ceramah' Pak Agus bahasanya selalu bikin semangat kok. Sambut yang lain.
  • Tapi kalau 'ceramah'nya kebanyakan jadi ngak bermutu. Kita sebel juga.
Begitu kata sebel itu muncul, percakapan itu harus berhenti karena saat itu saya harus menerima  telepon. Ada teman yang mencari saya untuk bertemu. Lalu kepada teman itu, saya sampaikan agar mulai esok hari ketika ikrar, tidak lagi memberikan semangat, maksud dan tujuannya, tetapi dikira 'ceramah' oleh siswa.  Mungkin karena kita terlalu bersemangat saat memotivasi tersebut sehingga lupa waktu. Sehingga semula untuk menyemangati ujungnya malah membuat bosan dan sebel.

Untuk itulah, kepada siswa dan muridku, terima kasih kejujuranmu...

Jakarta, 17-19 Januari 2012.

17 Januari 2012

Menangkap yang Ngumpet Waktu Shalat

Sebenarnya, ini bukan pengalaman kali pertama saya atau teman-teman di sekolah untuk menangkap basah siswa kami yang tidak ikut shalat berjamaah di mushola. Namun hari ini, masih terjadi lagi. Dimana saya tidak menemukan beberapa siswa di barisan shalat. Saya segera meminta kepada guru untuk 'melacak' keberadaan anak-anak kami itu. Dan ketika shalat jamaah berakhir, anak-anak itu diantar oleh guru kepada kami yang ada di mushola.

Malas Shalat

  • Mengapa kamu tidak bersama-sama dengan teman lain untuk shalat? Tanya saya kepada mereka. Bukankah kalau kamu tidak shalat bersama teman, Bapak dan Ibu guru pasti akan mengetahuinya? lanjut saya.
  • Saya malas Pak. Sahut anak pertama. Anak yang paling diantara dua teman lainnya.
  • Saya ikutin dia Pak. Sahut yang satunya lagi sembari mengarahkan telunjuk tangannya ke arah teman yang menjawab pertama.
  • Saya solider saja. Sahut anak terakhir. 
Dari jawaban mereka, saya memaklumi bahwa melaksanakan shalat belum menjadi kewajiban bagi siswa saya itu. Ini juga diperkuat denga kenyataan bahwa diantara siswa-siswi saya di sekolah sesungguhnya masih ada beberapa diantaranya yang belum menjalankan shalat 5 waktu secara penuh da konsisten. Hal ini sebagaimana dialog saya dengan mereka:
  • Siapa yang hari ini shalat subuhnya pukul 5? Tanya saya suatu kali di kelas. Aneh, semua siswa tidak ada yang menjawab pertanyaaan yang saya ajukan. Juga tidak ada yang angkat tangan.
  • O, mungkin shalatnya pukul 04.30, saat begitu kumandang azan subuh selesai? Ulang saya. Mencoba untuk memberikan pilihan atas pernyataan waktu yang saya sampaikan. Namun juga tidak ada jawaban dari semua siswa.
  • Mengapa tidak ada jawaban? Jadi pukul berapa kalian melaksanakan shalat subuh? Desak saya kemudian.
  • Saya jam enam pagi Pak. Seorang siswa jujur memberikan jawabannya.
  • Kalau saya shalat hanya dzuhur di sekolah Pak. Jawab yang lain lagi.
Dari informasi yang saya dapatkan tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kemalasan sebagian kecil siswa saya untuk menjalankan shalat memang karena yang bersangkutan sungguh kurang memahami mengapa dan untuk apa shalat. Dan repotnya, meski mereka belum tahu, contoh pun sulit mereka dapatkan. Oleh karenanya, ketika kami menangkap ada siswa kami yang tidak ikut shalat berjamaah, kami akan mengajaknya berdiskusi mengapa mereka mesti tidak ikut shalat berjamaah. Mengapa mereka justru memilih untuk menghindari kewajiban tersebut dengan mengajak teman bersembunyi di lingkungan sekolah, yang pasti kami, para guru, akan menemukannya?

Lalu apa hasil dialog itu? Apa manfaat dialog yang saya lakukan tersebut? 

Hasil dan manfaat dari dialog itu adalah usaha dan ikhtiar kami sebagai guru untuk terus menerus melakukan penetrasi berpikir kepada siswa kami agar simpul ruwet dalam benak siswa kami menjadi terbuka. Kami mengajak mereka berpikir, merenung, dan bahkan menghitung mengapa shalat harus kita jalani sebagai Muslim. Ikhtiar dan usaha kami ini kami lakukan tidak lain agar siswa-siswa kami tersadar sehingga tidak merepotkan kami lagi dengan cara mengilang saat shalat jamah berlangsung.

Dan sebagai harapan, maka kami tidak akan menyudahi usaha kami untuk tetap mewaspadai siapa saja dari siswa kami yang tidak menjalankan shalat berjamah. Meski mereka masih saja kadang menghilang atau menghindar dari kewajiban shalat jamaah. Tidak akan pernah kami meresa bosan atau bahkan lelah untuk sebuah usaha seperti itu. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 17 Januari 2012.

16 Januari 2012

Memilih Sekolah untuk Ananda

Sehubungan dengan akan datangnya tahun pelajaran 2012/2013, meski sekarang ini masih bulan Januari, namun bagi sekolah swasta, maka kegiatan penerimaan peserta didik baru telah mulai dilakukan. Bahkan beberapa sekolah yang berada di Depok, Jawa Barat, pelaksanaan penerimaan peserta didik baru telah berlangsung sejak Nopember 2011 lalu.

Dan untuk memberikan bantuan kepada Bapak/Ibu calon orangtua siswa, maka ada baiknya jika dalam blog ini saya menuliskan tips untuk memilih sekolah bagi ananda. Karena memilih sekolah  tidak bisa tidak, menjadi prioritas bagi Bapak dan Ibu yang anandanya telah berada pada usia masuk sekolah atau berada di kelas akhir di jenjang pendidikan formal yang ada. Seperti di kelas TK B, SD kelas VI, dan SMP kelas IX.  Untuk keperluan itulah saya menuliskan dan  menyampaikan 4 tips  berkenaan dengan hal itu.
Tips Pertama, bahwa sekolah adalah jenjang pendidikan formal yang akan menjadi bagian hidup bagi ananda. Untuk itulah maka kepada ananda, kita  berikanlah kontribusi kepadanya untuk juga dapat memilih sekolahnya. Dengan cara kunjungilah sekolah-sekolah yang menjadi pilihan atau alternatif. Dan dalam kunjungan itu, cobalah untuk bertemu dengan salah satu staf atau menajemen sekolah yang ada, untuk sekedar berdiskusi atau bertukar pikiran. Selain bertemu dengan pihak yang berkepentingan yang ada di sekolah tersebut, mintalah ijin untuk dapat melihat-lihat kelas dan fasilitas sekolah yang ada. 

Kegiatan mengunjungi sekolah yang masuk dalam daftar alternatif pilihan itu akan menjadi bahan utama bagi Bapak/Ibu berdiskusi dengan ananda di rumah. Dialog dan diskusi ini akan sangat membantu bagi pengambilan keputusan yang paling baik.

Tips Kedua, Korelasi dengan hal pertama tersebut, yaitu mengunjungi sekolah, maka temukanlah sekolah yang cocok atau sesuai dengan kapasitas dan minat  yang ananda miliki. Hal ini penting agar potensi yang dimiliki ananda dapat terus ditumbuhkembangkan. Artinya ada sekolah yang sangat intens dengan pembelajaran akademik, ada pula sekolah yang memadukan engembangan akademik dan akademik, dan lain-lain. Harus dipahami bahwa ada beberapa anak yang sayngat kuat dalam akademik sehingga boleh jadi sekolah model pertama cocok buat anak seperti ini. Namun ada pula anak yang kemampuan akademiknya biasa-biasa saja sehingga mungkin ia lebih cocok dengan sekolah model kedua. Jadi mengenali minat dan kecenderungan ananda kita adalah modal penting berikut bagi pemilihan sekolahnya.  

Tips Ketiga, dengan melihat dua hal tersebut, maka memilih sekolah haruslah didasari hasil diskusi keluarga, termasuk di dalamnya ananda, karena  bersekolah akan dijalani dalam rentang waktu yang tidak dapat dikatakan pendek. Dalam banyak kasus, memilih sekolah masih didominasi oleh pilihan orangtua. Dan bisa jadi ini dilakukan karena kebetulan orang tua tersebut adalah alumni dari sekolah yang dipilihnya. Padahal dengan jarak waktu yang panjang, sangat mungkin perubahan telah terjadi di sekolah yang dipilihnya.

Tips Keempat, jangan pernah memilih sekolah karena  asumsi atau persepsi orang lain. Karena jika apa yang dipersepsikan tidak sama dengan apa yang kita persepsikan,  maka masalah tidak  hanya untuk kita sebagai orangtua, tetapi juga ananda yang akan menjalaninya.

Demikian kiat atau tips yang saya maksudkan dengan cara memilih sekolah untuk ananda. Dengan strategi seperti ini, kita berharap bersama agar anak kita benear-benar dapat menemukan jati diri dan dapat mengoptimalisasikan potensi yang ada dengan sebaik dan semaksimal mungkin. Semoga. Amin.

Jakarta, 16 Januari 2012.

15 Januari 2012

Komitmen Saya, adalah Mencari Uang!

Jumat malam lalu, tepatnya tanggal 13 Januari 2012, kami, sekelompok orang yang tergabung dalam ikatan bersama untuk memikul sebuah amanah di sebuah organisasi, mengadakan pertemuan. Pertemuan rutin dan reguler, yang agenda pembahansannya antara lain adalah komitmen menyeru kebaikan.  Dan ketika membahas agenda ini, kami, semua anggota rapat, hampir selalu menyepakati bahwa masalah dari semua sumber masalah atas kendornya seruan tersebut ada pada titik lemahnya komitmen untuk melakukan penyeruan. Dan ketika kami menemukan kelemahannya itu, maka kesimpulan berikutnya adalah karena komitmen untuk melakukan seruan tersebut hanya berangkat dari keinginan kepada mencari nafkah. Maka wajar jika komitmen yang menempel dalam diri tidak melekat sepanjang perjuangan mengemban amanah. Tidak menyatu. Atau mungkin dapat dikatakan komitmen itu menjadi tidak inheren. Alhasil, perjuangan yang dilakukan sepanjang pengembanan amanah hanya sekedarnya. Yaitu sekedar memenuhi standar kerja. Dan hasil yang selalu dilihat hanyalah rekening gaji pada setiap akhir bulan. Hanya itu.

Apa yang kami bahas waktu itu mungkin juga menjadi masalah besar bagi siapa saja yang tergabung dalam sebuah organisasi yang memiliki tujuan untuk memberikan pencerahan  hidup menuju kehidupan yang mulia dan bermartabat bagi siapa saja. Dan masalah itu justru lahir dari minimnya komitmen bagi sebagian komponennya. Dan minimnya komitmen itu dikarenakan para anggota komponen berada di dalam sebuah lembaga tidak lebih hanya untuk mencari sesuap nasi atau nafkah. 

Apakah itu berarti salah? Menurut saya tidak semuanya dapat dipersalahkan. Namun ketika sebuah ikhtiar yang dilakukan hanya untuk sebuah niatan mencari nafkah, maka Allah pasti memberinya. Karena nafkah hanyalah sebagain dari anugerah yang Allah akan berikan bagi siapa saja yang berikhtiar. 

Bagaimana jikalau sebuah ikhtiar mulia didasari oleh komitmen dan niatan untuk mencari keberkahan akherat? Maka, menurut pemahaman saya, Allah akan memberikan kemudahanNya bagi perjalanan ikhtiar kita guna menuju kepada keberkahanNya, sekaligus pemenuhan kepada nafkah yang kita butuhkan. Itulah keyakinan saya.

Dan pertemuan yang berkahir hingga pukul 23.00 tersebut, antara lain terdapat dialog seperti ini:
  • Loh, bukankah mereka adalah orang-orang yang memiliki kompetensi keilmuan sehingga kita rekrut sebagai bagian dari kita? Ungkap salah satu dari kami peserta rapat
  • Benar. Mereka adalah sekelompok orang yang memiliki kompetensi akademik. Namun dari pengalaman yang ada, mempetontonkan kepada kita bahwa ternyata kompetensi akademik itu baru merupakan standar dasar. Baru sebagai potensi. Ia harus dibarengi oleh keinginan yang tinggi untuk melakukan ajakan. Saya melibatkan diri dalam diskusi yang berkembang itu. 
  • Lalu apa langkah berikut yang mesti kita jalani untuk memberikan dorongan atau inspirasi bagi mereka semua? Ajak teman saya untuk kembali kepada topik rapat.
  • Kita undang penyeru yang bekerja secara total untuk menyeru. Dan bukan pencari nafkah titik. Usul yang lain. Dan tampaknya usulan itu menjadi kesepakatan kami. Yaitu menemukan penyeru yang benar-benar telah mengaplikasikan seluruh kompetensi yang dimilikinya dengan total untuk kepentingan seruannya. Seorang sosok yang perjuangannya tidak didasari oleh sebuah surat keputusan atau sebuah kompetensi akademik semata, tetapi atas dasar kepentingan akherat.
Itulah sekelumit laporan pandangan mata yang mungkin juga menjadi masalah bagi siapa saja yang bergerak di lahan sosial. Tentunya tanpa ingin sedikitpun menggurui, saya hanya memaparkan sebuah fragmen kehidupan. Allahu a'lam.
Jakarta, 14 Januari 2012.

14 Januari 2012

Bapak Orang Sederhana ya...

Saya mendapat predikat sebagai orang sederhana dari siswa saya yang kelas sembilan di suatu sore ketika kami berada di halaman sekolah setelah jam sekolah berakhir. Tepatnya pada saat saya menjadi wasit futsal untuk siswa kelas 5 melawan kelas 6. Sebagai gambaran, bahwa dengan kondisi lapangan sekolah yang kecil dan multi fungsi itulah, maka saya merelakan diri untuk menjadi wasit siswa-siswa saya agar semua kelas mendapat jatah menggunakan lapangan tersebut untuk bermain futsal, dan sekaligus agar bola yang ada di lapangan tetap satu. Karena jika bukan pertandingan yang kami arahkan, yang terjadi adalah monopoli siswa kelas besar terhadap penggunaan lapangan itu. Yang pada ujungnya, siswa kelas kecil akan mendatangi saya dan meminta mengusir kelas besar yang menurutnya tidak memberinya kesempatan bermain. Wal hasil, dengan saya menjadi wasit, maka setiap 20 menit, pertandingan akan berganti. Dan kelas kecil hingga kelas paling besar mendapat jatah waktu untuk menggunakan lapangan multi guna itu.

Bapak Orang Serderhana ya...

Diantara waktu saya sedang melihat jalannya permainan itulah, saya menerima telpon dari kantor. Seperti biasa, orang yang ada di dalam kantor pasti mencari-cari kebaradaan saya. Dan ketika tidak ditemukan di dalam ruangan, maka ditelponlah saya. Saya mengangkat telpon itu. Dan berkomentarlah siswa saya yang sedari tadi berdiri di sebelah saya di pinggir lapangan setelah saya selesai menjawab telpon..
  • Kok telpon Bapak masih yang itu. Kok belum ganti Pak. Ucapnya sembari memperhatikan saya memasukkan telpon seluler ke kantong celana saya.
  • Bener. Terima kasih ya kamu memperhatikan Bapak. Pak Agus orang yang tidak terpengaruh dengan tren. Termasuk tren telpon seluler. Jadi selama telpon Pak Agus masih bagus, mengapa harus berganti? Saya memberikan penjelasan. Bukan alasan. Karena saya merasa memang seperti itulah saya.
  • O... kalau begitu Bapak itu orang sederhana ya. Timpal siswa saya yang lain yang juga berada di pinggir lapangan bersama saya. 
  • Bener. Terima kasih. Pak Agus bangga menjadi orang sederhana. Sambut saya lagi.
  • Tapi telpon seluler Bapak itu kan sudah tiga (3) tahun Pak. Sahut siswa saya yang pertama tadi.
  • Bener. Jelas saya lagi. Kok kamu tahu saja kalau umur telpon seluler Bapak sudah tiga tahun.
  • Iyalah Pak. Kan model telpon Bapak ini keluar pertama pertengahan tahun 2010!
Nah, sepanjang perjalanan pulang sekolah, saya terngiang-ngiang akan kepekaan siswa saya terhadap apa yang saya punya. Bayangkan, siswa saya tahu persis kalau telpon yang saya pakai sudah berumur tiga tahun!

Saya bersyukur dan bahagia sekali terhadap percakapan itu. Percakapan yang benar-benar membuat kami sekeluarga di rumah saling berpandang tidak percaya manakala sesampai di rumah, saya mengemukakan cerita itu kepada anak dan kepada istri. Kami semua sama-sama tidak menduga bahwa ada siswa yang memiliki perhatian seperti itu. Dan itulah spirit yang saya dapat di hari itu. Sungguh membahagiakan.

Jakarta, 10-14 Januari 2012.

Ketika Anak Hendak Memilih Home Schooling

Memang, home schooling dewasa ini tidak saja menjadi isu yang ada di lingkungan orang dewasa, kalangan tertentu, atau juga para pelaku yang menanganinya. Bahkan anak saya yang di SMA pun, telah menjadikan home schooling sebagai salah satu alternatif manakala ia bosen untuk datang ke sekolah. Bosen, karena dari pengalamannya bersekolah yang jaraknya dari rumah tempat tinggal saya tidak seberapa itu, dia mengambil kesimpulan kalau sekolah yang dijalaninya rada menyia-nyiakan waktu. Ini asli pikiran dia yang sudah 16 tahun umurnya.

Tetapi untuk meluruskan dan sekaligus menjauhkan dari syak wa sangka, tulisan saya ini tidak bermaksud mengupas apa, bagaimana, dan mengapa home schooling. Melainkan hanya ingin membagi pengalaman berdialog dengan anak saya sendiri tentang home schooling. Sebuah niatan yang pernah ia kemukakan kepada saya beberapa waktu lalu. Niat yang ia lontarkan karena ia hampir-hampir tidak memiliki waktu lagi untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di daerah Ratu Plaza yang sangat ia nantikan. Dan tidak memiliki waktu itu dikarenakan begitu bertumpuknya segala macam tugas sekolah.

Dan saya sendiri tidak begitu paham mengapa ide dia untuk tidak melanjutkan sekolah dan memilih home schooling itu muncul. Mungkin ini salah satu keberhasilan dari arus informasi yang berkenaan dengan home schooling di mass media kita.

  • Mengapa ide seperti  itu menjadi pilihan kamu? Tanya saya suatu hari saat ia megemukakan keinginannya.
  • Karena saya merasa sia-sia melakukan semua hal ini? Katanya penuh tekanan emosi.
  • Mengapa sia-sia? Kejar saya agar dia mau memberikan argumentasi.
  • Karena, pekerjaan dan tugas-tugas yang diberikan adalah tugas untuk menyelesaikan soal ulangan atau soal latihan. Sementara gurunya sendiri belum pernah membahas materi tersebut ke kita. Jadi, bagaimana seperti itu? Jawabannya panjang dan lebar. Dan tentu tidak semua jawabannya dapat saya catat disini. Namun dari apa yang dia kemukakan dan juga beberapa hari serta kesempatan yang lain yang dia ungkapkan hal yang sama kepada saya, maka saya menyimpulkan ada kebosanan lahir dan batin pada anak saya saat menjalani sekolah.  
  • Saya paham dan mengatakan: Apakah home schooling akan menjadi solusi bagi apa yang kamu keluhkan? 
  • Iya, aku yakin akan jauh lebih berkembang jika waktuku ini aku gunakan untuk belajar yang lain. Dan tidak sekedar megerjakan soal-soal yang membosankan dan sekaligus tidak menantang semacam ini. 

Sekolah yang Membosankan

Apa yang anak saya sampaikan tentang keadaan bersekolah itu, menjadikan saya bercermin. Karena saya sendiri adalah guru yang mendapatkan tugas atau amanah tambahan mengelola sebuah lembaga pendidikan. Cermin yang menjadi masukan buat kami yang berkecimpung di sekolah untuk kemudian kami dapat mawas diri dang mengubah diri. Tentu untuk kepentingan harga diri dan martabat kami di hadapan anak bangsa, para generasi penerus bangsa, kepada anak-anak saya sendiri.

Sekolah menjadi tempat yang membosankan. Karena guru, tanpa disadarinya,  terserang penyakit malas yang akut. Karena begitu akutnya, maka pola kemalasannya sudah menjadi habit atau bahkan telah mengakar pada karakter diri.

Bagaimana mungkin guru meminta siswanya untuk belajar sesuatu yang baru tanpa memberi bekal apapun terhadap sesuatu yang harus dikerjakan oleh siswa itu? Dan perilaku atau klebiasaan lain, sebagaimana anak saya curhat, guru-gurunya masih sering datang ke kelas pada menit-menit terakhir dan sesampai di kelas hanya mampu memberikan instruksi kepada siswanya untuk membuka dan mengerjakan soal-soal latihan? Apakah guru semacam ini benar-benar menjalankan tugasnya? Apakah tugas-tugas yang diberikan kepada siswanya adalah tugas-tugas yang merangsang syaraf kepintaran serta kecerdasan siswanya yang pada ujungnya akan mampu melahirkan sikap rasa ingin tahunya semakin meningkat?

Saya hakul yakin bahwa, tidak semua guru seperti itu. Namun bagi kita yang juga guru, maka siswa adalah cermin kita. Dan karena ia cermin, maka sesungguhnya siapa saja yang hendak menjadi manusia bermartabat dan mulia, guru adalah profesi yang dapat menghantarkan kita menuju atau meraih posisi itu? Dan semoga saya, diberikan kesadaran selalu dari Allah, serta kekuatan untuk mencapai arah itu. Semoga. Amin.

Jakarta, 11-14 Januari 2012.