Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

17 Maret 2017

Menikmati Sejuknya Pengalengan

Berawal dari beberapa kalinya saya meninggalkan keluarga untuk menemani siswa SMP yang sedang melakukan kegiatan belajar di masyarakat yang tinggal di Pengalengan, kemudian membawa oleh-oleh cerita kepada mereka, maka ketertarikan istri dan anak-anak bangkit. Terlebih ketika mantan kantor istri juga mengajak saya untuk ikut serta menemani kegiatan trip di lokasi yang sama, maka semakin menggebunya kami membuat rencana untuk membuktikan apa yang saya ceritakan.

Maka kami merancang untuk melakukan perjalanan ke tempat yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Bukan untuk berbelanja atau pergi ke mal, tetapi murni ingin menikmati udara sejuknya Pengalengan, yang saat itu bersuhu 16 derajat di ujung malam.

Kami meninggalkan Jakarta pada hari Jumat menjelang pagi. Seusai Shalat Subuh perjalanan kami mulai. Dan sekitar pukul 06.30, kami istirahat untuk sarapan pagi di pintu keluar Ciganea, Purwakarta. Lebih kurang satu setengah jam kami berada di rumah makan yang berada di lokasi sekitar gerbang tol tersebut, sebelum kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju penginapan yang berada tidak jauh dari pintu masuk Situ Cileuncak. 

Eksplorasi alam tidak dapat kami lakukan pada siang hingga malam pada hari itu. Ini karena kami begitu terlena dengan udara yang menggairahkan untuk berlama-lama di tempat tidur. Maka ketika perut mulai menagih untuk makan siang, sekitar pukul 14.00 kami menuju rumah makan yang berada tidak jauh dari perempatan Pengalengan, yang menjadi 'pusat kota'.



Perjalanan kami lanjutkan ke kampung Lebaksaat, Desa Triibaktimulya, yang berada lebih kurang 2 kilometer dari perempatan Pengalengan tersebut, untuk bertamu ke Pak Haji Nono. Beliau adalah orangtua yang baik yang saya kenal setelah peserta didik kami tinggal di kampung beliau pada awal November 2016 lalu.

Ada yang menarik untuk kedua anak saya di Lebaksaat, yaitu ketika berkunjung ke kandang sapi perah. Lokasi yang menjadi pengalaman pertama bagi mereka berdua. Terlebih setelah mendapatkan air susu sapi murni yang dapat mereka konsumsi.

Esok harinya, ketika matahari tepat mulai muncul, kami naik perahu untuk menjelajahi situ dan kebun sayur. Dan menjelang tengah hari kami puas berfoto di belantara teh di kebun teh Malabar, untuk kemudian berakhir dengan minum kopi di Kopi Luwak Malabar.

Dan yang paling enrik dari semua trip kami adalah, bersama si kecil generasi ketiga kami yang baru berusia 7 bulan. Alhamdulillah. Seperti yang terlihat dalam dokumentasi kami; https://youtu.be/lTkME1DgHfw

Jakarta, 17.03.17

"Boleh Minta Pak?"

"Boleh minta Pak?" Begitu pertanyaan seorang siswi saya yang masih duduk di kelas I SD, sembari mendendangkan syair lagu anak-anak dalam Bahasa Inggris dengan hafal dan pasih. Entah tidak tahu secara persis kunjungannya ke ruangan saya untuk yang keberapa kalinya, tetapi jelas bahwa anak tersebut tidak memiliki kendala sedikit pun ketika bercengkerama dengan Bapak atau Ibu gurunya. 

Dan kunjungannya kali itu ketika jam sekolah untuk kelasnya telah usai, yang berarti posisinya sedang menunggu jemputan kepulanganya. Karena waktu sebentar lagi akan masuk Shalat Jumat. Saya tidak langsung menjawab apa yang diinginkannya. Tetapi melihatnya dan mengucapkan terimakasih atas kunjungannya. Baru setelah itu saya mempersilahkan peserta didik saya itu mengambil  potongan buah yang tersedia di wadah piring yang ada di meja kerja saya. 

"Silahkan diambil." Kata saya kepada anak itu. Ynag terus menerus tiada henti mendendangkan syair lagu anak-anak dalam Bahasa Inggris. Sesekali ia juga menarik lembaran tisu disamping piring buah untuk mengelap jemarinya yag menjadi basah oleh potongan buah yang sedang dimakannya.

Jakarta, 17.03.2017

07 Maret 2017

Terkena Cacar

Di sekolah, ada beberapa penyakit yang ketika satu anak telah terjangkit, maka beberapa hari kemudian akan secara bergantian terjangkit penyakit yang sama. Tidak peduli musim apa. Dan itu berulang. Tidak mungkin bagi sekolah mampu mencegah beredarnya penyakit tersebut. Walau memang ada masa dimana tidak ada penyakit yang mudah menular beredar di sekolah. Tetapi sulit dalam kurun satu tahun pelajaran sekolah benar-benar kosong dari penyakit yang saya maksud.

Beberapa penyakit yang sering beredar di sekolah dan bahkan selalu bertambah penderitanya beberapa hari kemudian antara lain adalah penyakit seperti cacar air dan KTM, kuku tangan dan mulut. Setidaknya dua jenis penyakit ini yang berputar-putar bergantian meski, sekali lagi tidak selamanya, tetapi pada waktu tertentu saja.

Lalu apa yang menjadi konsen saya dalam membuat catatan disini? Tidak lain adalah penanganannya. Baik kepada siswa yang sedang menderita sakit, kepada teman yang sehat-sehat, dan juga kepada kebersihan kelas atau sekolahnya. Untuk ketiga hal tersebut, buat kami, penanganan kepada yang sakit, baik pada saat awal sakit, ketika sakit dan tidak masuk sekolah, atau juga pada saat menjelang sembuh atau baru saja sembuh, adalah hal yang lebih rumit. Meski tetap sederhana.

Rumitnya karena bentuk komunikasi yang dilakukan kami, melalui guru atau pihak UKS  yang berada di sisi sekolah dengan pihak orangtua siswa di sisi rumah. Meski tidak selalu rumit, namun beberapa kasus harus muncul. Bentuk komunikasi yang saya maksudkan adalah perbedaan pola penyebaran penyakitnya.

Ada yang berpendapat bahwa penyakit tersebut menular pada masa inkubasi. Yaitu masa dimana anak mulai terserang penyakit. Sementara ada pihak yang berpendapat bahwa penyebaran penyakit cacar air justru pada masa menjelang kesembuhan. Yaitu pada saat luka bekas cacar air belum mengering benar. 

Pada masa-masa seperti itulah yang membuat guru atau pihak UKS mendapat 'pelajaran' tambahan bila pihak rumah tidak menerima bila putra/putrinya harus kembali pulang setelah di antar ke sekolah. Hal ini karena pihak rumah atau orangtua kurang dapat menerima apa yang diputuskan sekolah. Sementara sekolah sesungguhnya berusaha untuk mengisolir penyakit agar tidak ada tambahan penderita di kelasnya.

Jadi?

Jakarta, 7 Maret 2017.

Kinerja #18; Kinerja dan Implikasi pada Esksitensi

Ketika penilaian kinerja bagi guru dan karyawan setiap tahun kami coba untuk menjadikan tolok ukur bagi kualitas kerja teman-teman secara adil, transparan, dan memang mengukur apa yang seharusnya diukur dalam sebuah kinerja, maka lahir pertanyaan berikutnya kepada kami, para kepala unit kerja di lembaga kami, yaitu; apakah implikasi dari kinerja guru dan karyawan yang bagus bagi keberlangsungan lembaga kami?

Pertanyaan ini lahir setelah beberapa saat yang lalu saya menerima pesan melalui telepon seluler dari teman, yang kebetulan juga adalah anggota dari Pembina di sebuah yayasan pendidikan yang, kebetulan juga, saya ikut terlibat di dalamnya. Pertanyaan yang sederhana tetapi membutuhkan refleksi untuk merumuskan jawabannya. Dan dari pesan singkat itu, saya mencoba melihat dan menengok kebelakang tentang apa saja parameter yang telah kemi miliki untuk menjaga agar teman-teman guru dan karyawan terus menerus terlibat aktif dalam menegakkan reputasi sekolah, baik di mata para peserta didiknya atau juga kepada para orangtua siswanya.

Kepada para peserta didiknya, teman-teman terus menerus melakukan upaya dan ikhtiar bagi keberhasilan mereka dalam mengejar apa yang menjadi cita-citanya, dengan berbagai program tidak saja kepada ranah akademik yang memungkinkan anak-anak memperoleh prestasi yang baik dan juga mampu melanjutkan ke sekolah berikut yang menjadi impiannya, tetapi juga kepada ranah afektif dan psikomotorik.

Tetapi kenyataan dan fakta yang ada di lapangan tidak dapat dipungkiri, bahwa menjelang tahun pelajaran baru, beberapa unit sekolah selalu menunjukkan perkembangan yang kurang memberikan korelasi atas tingkat kinerja guru dan karyawan dengan keberadaan siswa baru. Inilah yang menjadi pemikiran hangat antara saya dan teman-teman di manajemen lembaga yang menjadi amanat untuk kami.

Walaupun kami juga telah mengalami bahwa beberapa sekolah juga mengalami apa yang sedang kami alami. Misalnya sekolah top yang 'harus' menelpon kembali para calon peserta didik yang telah ikut tes di sekolahnya dan ternyata tidak diterima; Apakah Bapak atau Ibu masih berminat untuk menyekolahkan putra/putranya di sekolah kami? Kalau masih kami masih memberikan peluang putra/putri Bapak/Ibu untuk bisa masuk, meski pada hasil tes yang lalu putra/putri Bapak/Ibu tidak kami terima?

Jakarta, 7 Maret 2017.

06 Maret 2017

Kinerja #17; Mempertajam atau Mempersulit?

Dalam catatan saya sebelumnya berkenaan dengan penilaian kinerja, saya sampaikan bahwa langkah berikutnya setelah menggunakan parameter yang relatif sama, maka saya meminta kepala unit kerja untuk mendiskusikan dan sekaligus membuat usulan bagi perbaikan dari parameter penilaian kinerja yang telah ada. Dan hasilnya adalah melakukan langkah penajaman pada indikator yang ada dalam parameter tersebut. Misalnya untuk indikator  kehadiran, bila pada sebelumnya rubrik yang ada untuk setiap skor dilihat blur dan kurang tajam, maka pada penilaian kinerja yang baru kami buat lebih mudah dan terhitung. Misalnya untuk skor sempurna bila seseorang sepanjang satu semester sama sekali tidak pernah datang terlambat.

Hal yang sama juga kami sampaikan beberapa penajaman pada indikator yang lainnya. Namun apa yang menjadi pemikiran positif dari sisi kami tersebut juga tidak semuanya dapat melihatnya dengan kaca mata yang sama. Terbukti, bahwa terdapat teman yang memberikan komentar atau lebih enaknya, masukan kepada kami, bahwa apa yang menjadi penajaman pada indikator penilaian kinerja juga berdampak kepada mempersulit.

Mempersulit?

Ya benar mempersulit seseorang untuk mendapatkan nilai dari penilaian kinerja yang lebih baik. Dan karena hasil kinerja dengan parameter penilaian kinerja yang telah ditajamkan, secara rata-rata menjadi menurun, maka rerata kenaikan gaji yang mereka dapatkan juga menurun dari dugaan perhitungan teman-teman.

Benarkah? Dari sisi saya sendiri, dapat saya sampaikan bahwa parameter penilaian kinerja yang lebih terukur maka memang akan memudahkan bagi kepala unit kerja untuk menentukan siapa memperoleh skor berapa untuk indikator apa. Dan ini menjadikan pekerjaan Kepala Unit kerja tinggal melihat data yang ada yang dia telah siapkan.

Dengan demikian maka dapat saya katakan bahwa parameter penilaian kinerja yang kami susun bertujuan untuk menilai apa yang akan kami nilai. Dan nampaknya tujuan itu telah tercapai.

Jakarta, 6 Maret 2017.