Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

27 Februari 2017

Kinerja #16; Beda Sudut Pandang

Sebagaimana yang telah saya sampaikan dalam artikel sebelumnya tentang beda ekspektasi antara penilai kinerja, yaitu manajemen sekolah, dan yang dinilai, yaitu guru dan karyawan yang ada di sekolah, maka juga akan saya sampaikan berkenaan dengan beda sudut pandang. Ini perlu saya sampaikan juga bahwa dengan fakta dan bukti-bukti yang ada, tetapi dari sudut pandang yang berbeda, maka konklusinya menjadi berbeda. Dan ini sesuatu yang sah-sah saja. Tidak ada yang harus diributkan.

Misalnya, dengan semua bukti dan fakta yang telah diunjuk kerjakan oleh seorang guru kepada asesornya di sebuah unit sekolah, dan terjadi persepsi yang berbeda terhasil 'hasil' dari sebuah skor atau nilai diantara dua belah pihak, maka ini menjadi sesuatu yang lumrah sepanjang memang penilai dan yang dinilai berpegang teguh kepada fakta dan realita yang ada. 

Mengapa? Seperti juga pada tataran anak-anak di dalam kelas, bahwa apa yang seorang anak lakukan dalam sebuah aktivitas kerja/belajar di dalam kelas menggunakan alat ukur individu anak tersebut. Tetapi manakala hasil kerja/belajar tersebut terkompilasi dengan hasil kerja/belajar semua anak di dalam kelas, maka guru akan melihat juga anak sebagai individu diantara individu siswa yang ada di dalam kelas tersebut.

Kenyataan ini yang menjadikan mengapa seolah-olah kepala sekolah atau menajemen sekolah sebagai orang yang menilai dinilai menyertakan subyektivitas terlalu dalam ketika memberikan penilaian kinerja kepada serang gurunya? Dan meski ada mediasi untuk menjembatani keberbedaan dengan pertemuan baik secara individu ataupun secara klasikal, tetap saja kenyataan 'rasa' berbeda itu nyata ada.

Jakarta, 27 Februari 2017.

21 Februari 2017

Pilkada 2017 #2; Pilkada Ulang

Ada pelajaran penting yang saya dapat ambil dari adanya 2 TPS, yang masing-masing di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, harus melakukan Pemilihan Kepada Daerah ulang, yang telah berlangsung pada Minggu, 19 Februari 2017 lalu. Paling tidak ini karena beberapa kali bersama teman-teman di lingkungan tempat tinggal diamanahi sebagai petugas KPPS. Sebagaimana berita yang dapat kita akses tentang kegiatan tersebut.
Berita yang dimuat di halaman web KPU Jakarta.

Hikmah yang saya dapatkan adalah berangkat dari alasan mengapa pemilu yang ada di kedua TPS tersebut harus diulang? Pelajaran ini ini setidaknya menjadi acuan saya jika di waktu yang akan datang harus menjadi bagian KPPU. Karena bagaimanapun, bertugas untuk sebuah amanah tetapi harus dilakukan perulangan dalam melaksanakan tugas yang sama, akan membawa rasa yang berbeda.

Untuk hal inilah maka ketika sebagai bagian dari KPPU, hal yang benar-benar harus adalah; memahami aturan main secara holistik untuk kemudian mencoba saling mengingatkan antar anggota KPPU ketika menjalankan tugasnya. Pijakannya hanya satu, yaitu aturan pemilihan. Dan ketika pijakan kuat, akan membuat kokoh bila terjadi hal yang tidak normal. Semoga.

Jakarta, 21.02.2017.

19 Februari 2017

Pilkada 2017 #1; Terimakasih Teman...

Beberapa bulan sebelum pelaksanaan Pilkada 2017, saya telah dihubungi oleh Pak RT yang sebelum-sebelumnya selalu sebagai partner dalam KPPS di wilayah tempat tinggal kami di bilangan Jakarta Barat. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengkonfirmasi kesediaan saya untuk terlibat kembali sebagai petugas KPPS. Namun sebagaimana yang pernah saya sampaikan seusai Pemilu sebelumnya, maka saya berkomitmen untuk mengundurkan diri dalam susunan petugas KPPS. Ini karena telah sekian lama dalam pelaksanaan pemungutuan suara sejak Reformasi 1998 saya tidak pernah absen menjadi petugas. Maka dengan alasan untuk berganti peran, saya meminta agar pelaksanaan Pilkada DKI 2017 digantikan posisinya oleh orang lain. Dan alhamdulillah hal itu dapat terlaksana. Dan juga bersyukur bahwa pelaksanaan Pilkada di TPS tercinta saya aman tenteram tidak ada yang harus ngotot untuk boleh memilih atau ngotot tidak boleh memilih. Nampaknya semua berlangsung lancar tiada kendala apapun.

"Alhamdulillah semua berjalan lancar Gus." Begitu balasan wa teman saya yang di Pilkada kali ini menjadi Ketua KPPS di lingkungannya, yang kebetulan saya juga terdaftar sebagai pemilih dilokasi dimana ia bertugas. Saya tentunya ikut bahagia. Terutama setelah beredar kiriman video bagaimana petugas di TPS yang harus menangani hal-hal yang memang dalam pemilihan sebeumnya masalah tidak pernah timbul.

Meski demikian, saya sendiri juga merefleksi atas posisi sebagai petugas di TPS yang harus memenuhi kewajiban dari KPU, sebagai penyekenggara pemilihan umum, agar apa yang kami laksanakan dapat dipertanggungjawabkan. Terutama bagi petugas di posisi nomor 1, penerima pendaftaran, nomor 2, ketua KPPS, dan 3, yang berada di lokasi depan 'ruang' TPS. Dimana kami harus benar-benar menguasai aturan KPU yang berkenaan dengan syarat pemilih dan aturan pemilihan.

Dan atas pelaksanaan yang berjalan dengan aman dan lancar tanpa ada kekurangan yang teradi di TPS dimana saya menjadi salah satu pemilihnya, saya mengucapkan kepada sahabat saya itu. Terimakasih.

Jakarta, 19 Februari 2017.

03 Februari 2017

Boleh Lihat CCTVnya Pak?

Sore hari, menjelang pukul 16.00 datang tidak kurang 5 siswi kelas 7 SMP kami ke ruangan kantor saya. Mereka datang seperti terlihat kurang percaya diri akan dapat saya terima atau tidak. Oleh karena itu satu anak yang berada di depan dari rombongannya, mengetuk pintu ruangan, dan menyampaikan maksud kedatangannya kepada saya.

"Saya perlu tahu Pak, apakah tadi pagi saya benar membawa hp atau tidak. Karena saya sudah cek di mobil ternyata tidak saya temukan. Tapi saya yakin sekali ke sekolah bawa hp." Demikian kalimat yang dia sampaikan kepada saya setelah saya balik tanya untuk apa meminta busa melihat relaman CCTV di pagi hari.

Saya mencoba membukakan sauran CCTV yang dapat mereka buka dan lihat rekamananya sebagaimana yang anak-anak itu minta. Jujur, saat itu saua sedang mempersiapkan satu dokumen untuk kepentingan rapat dengan dua kepala sekolah menjelangan pukul 17.00. Tetapi kedatangan anak-anak itu, saya akhirnya mengalah. Dan setelah password CCTV saya buka, dan mencobakan kehadapan mereka, maka satu diantara anak-anak itu ingin mencoba untuk menggantikan posisi saya agar saya bisa kembali ke komputer meja saya dan mereka tetap dapat mengekplorasi apa yang dibutuhkannya.

Sesekali saya masih memberikan panduan tentang bagaimana menemukan jam tayang yang dibutuhkan, nomor kamera yang diinginkan, dan juga membolak balik hari dan tanggalnya. Tampak sekali kalau anak-anak itu cepat menyerap apa yang saya maksudkan. Dan mereka seperti terseterum semangat luar biasa untuk mencari tahu. Termasuk waktu rekam yang mereka inginkan sendiri.

Dan atas apa yang mereka lakukan itu, saya harus menyadari bahwa beberapa fungsi dari rekaman CCTV yang sebelumnya belum pernah saya sentuh, oleh tangan anak-anak itu 'diketemukannya' dengan kecepatan oenguasaan mengoperasikan yang mengagumkan.

Pengalaman beberapa waktu bersama mereka di ruangan saya yang juga menjadi sentral rekaman CCTV sekolah, membuat saya kagum dan sumringah bahwa anak-anak kita memang anak-anak yang luar biasa mengesankannya. Setidaknya ketika mereka membuka rekaman CCTV sekolah sebagaimana yang mereka inginkan!

Jakarta, 3 Februari 2017.