Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kepada seluruh pembaca semua,
Terima kasih untuk membuka lembaran 'buku' saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Harapan saya, semoga kita selalu dimukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin YRA.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Ketika mereka bertiga kecil di tahun 1996/1997.

Krakal

Krakal
Wonosari, DIY.

Pantai Kukup

Pantai Kukup
Pantai Kukup di Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta. Juni 2011.

13 Maret 2012

Di Bakahueni Saya Belajar Bersyukur

Pernah, peristiwa ini terjadi di tahun 2002, untuk menyenangkan hati anak-anak di rumah, saya mengajak mereka menemukan pengalaman baru, berupa menyeberangi laut dengan naik kapal ferry Merak-Bakahueni-Merak. Dan perjalanang yang kemudian nantinya menjadi perjalanan mirip petualangan ini, memang tidak terencana dengan baik. Baik perencanaan waktu ataupun tujuannya. Hanya ketika kami mengobrol di malam sebelumnya, saya sampaikan usulan kepada mereka bagaimana kalau kita naik kapal ferry ke Sumatera? Semua angota kami sepakat untuk menyetujui rencana dadakan itu.

Perjalanan Kenangan Saya

Pengalaman bersama anak-anak itu adalah sebetulnya merupakan perjalanan kenangan saya dengan Bapak dan Mamak saya ketika saya masih di usia anak-anak saya itu. Dan pengalaman kenangan saya itu kadang sering menghiasi hidup anak-anak saya manakala saya bercerita kampung halaman saya yag ada di Sumatera. Anak-anak saya tertarik menyimak detil gambaran kampung saya itu. Juga termasuk perjalanan ketika saya dan Mbah mereka pulang kampung ke Jawa. Sebuah pengalaman yang memang menjadi ritual saya, Bapak, Mamak, yang berarti adalah mbah dari anak-anak saya, dan adik-adik kala saya masih usia belasan.

Hanya bedanya jika nanti mereka akan menempuh perjalanan Merak-Bakahueni-Merak, maka keika saya kecil rute perjalanannya adalah Panjang-Merak-Panjang sebelum kemudian Slengsem-Merak-Slengsem. Saya menginjakkan Bakahueni ketika di tahun 1985, pada masa saya berusia 20 tahun, saya menengok kampung halaman saya di Lampung itu sendirian. Sebuah perjalanan yang dimaksudkan sebagai silaturahim.

Merak-Bakahueni-Merak

Inilah rute yang saya sepakati dengan anak-anak. Dengan rute ini, maka tujuan utama kami adalah pengalaman naik kapal ferry titik. Tidak ada tujuan wisata misalnya pergi ke kampung halaman dimana saya waktu kecil. Itu semua karena pertimbangan waktu. Mengingat perjalanan kami itu adalah perjalanan di hari Minggu, yang berarti Seninnya kami harus kembali hidup normal mengingat itu bukan masa liburan sekolah.

Merak-Bakahueni kami kebagian parkir di atas deck. Ini adalah posisi yang paling enak. Kami dapat tetap berada di dalam kendaraan dengan hembusan angin yang tidak membuat kami kepanasan atau berdiri layaknya aktor yang ada di film Titanic. Bahkan sebelum kapal lepas jangkar di pelabuhan Merak, kami disuguhi atraksi anak-anak dengan mengambil koin uang yang dilempar ke laut oleh penumpang kapal. Juga atraksi yang menurut ukuran anak saya tergolong berani, yaitu keberanian anak-anak itu untuk naik ke deck kapal dan meloncat ke laut dengan meminta donasi yang lebih besar atas keberaniannya itu.

Rencana Berubah

Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang satu setengah jam di laut itu menjadi tidak terasa karena rasa senangnya anak-anak saya. Maka lebih kurang pukul sembilan pagi, kami sampai di Bakahueni. Dan ketika saya bermaksud akan keluar pelabuhan untuk kemudian masuk kembali ke pintu penyeberangan menuju Merak, anak laki saya mengsulkan agar ia diberikan kesempatan mandi di laut. Sebuah perubahan rencana yang saya sendiripun tidak memiliki keinginan untuk menolaknya. Maka perjalanan kami berlanjut ke Pasir Putih. Dan perubahan rencana itu yang pada akhirnya kami baru dapat kembali ke pelabuhan Bakahueni sekitar pukul 15.00, dengan antrian yang telah mengular hingga di jalan menuju pintu gerbang pembayanan masuk pelabuhan.

Ini menjadi sebuah kenyataan yang saya tidak akan sangka dan tanpa prediksi. Pukul 20.00, kami memang telah masuk di halaman parkir pelabuhan, tetapi tetap jauh dari bibir pantai dermaga kapal. Kondisi ini juga diperparah dengan tidak adanya mesin ATM sementara air minum tidak tersedia di dalam kendaraan. Juga indikator bensin yang mulai turun.

Rasa Syukur itu

Dalam kondisi yang sebenarnya sudah tidak kondusif itu, Allah mendatangi kami dengan penuh kecintaannya. Dan dari situ kami benar-benar mensyukuri nikamat yang telah kami rasakan. Kami belajar bagaimana untuk dapat mensyukuri apa yang ada seprti lagunya D'Masif itu.

Yang pertama adalah saya dan istri menghitung uang cash yang masih kami miliki. Ini penting sekali karena kami tidak menemukan mesin ATM satu pun di lokasi yang penting itu.Dengan diurani untuk membeli bensin secukupnya di Merak nanti plus membayar tol Merak-Jakarta, maka uang itulah yang kami belanjakan untuk membeli makanan sektar pukul 19.00. Posisi kami saat itu masih lebih kurang 25 deret kendaraan selepas dari pintu masuk/pembayaran pelabuhan.

Hingga akhirnya istri saya mendapatkan nasi dengan lauk telur dadar yang aromanya luar biasa nikmat. Ini karena nasi dan telur dadarnya itu fresh, baru saja matang dari tempat masakan. Ini mungkin usaha para pedagang yang kemudian membuat stok makanan baru melihat antrian kendaraan yang mengular di pelabuhan. Makanan itu sungguh menjadi kenikmatan kami semua di kendaraan. Alhamdulillah. 

Yang kedua, ketika barisan kendaraan kami berada pada posisi pang depan menuju dermaga. Saya tidak dapat mengsitung ada berapa lajur kendaraan yang berbaris menuju dermaga itu. Saya tidak tahu pasti. Yang jelas dari dua atau tiga akses halaman tunggu di pelabuhan yang luas itu, mungkin ada sekitar 30 lajur?

Dan peristiwa yang membuat kami semua bersyukur adalah panggilan agar kamilah yang harus maju dan masuk ke dalam lambung kapal untuk mengisi satu-satunya sisa tempat di kapal itu. Peristiwa ini, lebih kurang pukul 23.00, kami dengar langsung dari petugas pengatur yang berdiri di dekat kendaraan kami. Dengan HT di tanganya dia berkomunikasi dengan petugas yang ada d kapal.

  • Petugas di kapal: Masuk satu lagi mobil kecil, karena tempatnya sempit.
  • Petugas di dekat kami: Mobil apa kira-kira.
  • Petugas di kapal: Yang kecil. Kalau besar tidak muat.
  • Petugas di dekat kami:  Mobil Carry bagaimana?
  • Petugas di kapal: Ya benar. Muat. Masuk cepat. Jangan buang waktu.
  • Petugas di dekat kami mendekati posisi stir saya dan berkata: Bapak silakan masuk kapal!

Alhamdulillah, kami di dalam kendaraan bersyukur sekali dengan apa yang telah Allah limpahkan kepada kami sekeluarga tanpa melihat dari sisi ukuran manusia. Semoga keberkahan Allah selalu dilimpahkan pula kepada kami. Amin.

Jakarta, 05-13 Maret 2012.

10 Maret 2012

Shalat Jumat di Sekolah

Pelaksanaan shalat Jumat di sekolah bersama anak-anak, sering membuat kami, para guru, kewalahan dengan perilaku anak-anak yang sulit untuk dibuat tertib sebagaimana yang disyaratkan. Yaitu untuk tidak ada dialog sedikit pun. Ini saya sendiri alami sejak berada di sekolah yang berbasis Islam atau juga di sekolah non-denominasi atau sekolah umum dimaa terdapat lima agama resmi di Indonesia.

Bahkan saat saya di sekolah umum yang komunitas anak yang mengikuti shalat Jumat lebih kurang 35 persennya saja, ketenangan dalam shalat Jumat masih menjadi masalah. Dan ketika kami diskusikan, ada diantara teman yang membandingkan mengapa anak dapat benar-benar tertib saat pelaksanaan assembly di sekolah dari pada shalat Jumat? Dan dari fenomena itu maka lahirlah beberapa tesis yang akhirnya menjadi pilihan kita untuk dapat diterapkan dalam pelaksanaan shalat Jumat. Berhasilkah? Lumayan berhasil. Tetapi masih ada beberapa anak yang memang sulit untuk dapat mengikuti shalat Jumat dengan tanpa ada dialog dengan teman yang duduk disampingnya.
 
Termasuk saat saya masuk kembali ke sekolah yang berafiliasi agama Islam sekarang ini.  Masih belum lahir budaya tertib dari anak-anak peserta didik kami yang terdiri dari  mereka yang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar hingga kelas sembilan SMP. Bahkan tidak saja anak-anak yang melakukan dialog yang tidak sepatutnya terjadi manakala khatib sedang menyampaikan khotbahnya, tetapi juga beberapa driver yang juga ikut melaksanakan shalat bersama kami, yang kalau ditilik dari usianya sudah benar-benar baligh, masih juga berdialog atau mengobrol.

Lalu, bagaimana usaha kami di sekolah untuk mengajak anak-nak tertib saat pelaksanaan shalat jumat berjamah di Sekolah? Ini barangkali sebuah gagasan yang memang akan menjadi kajian buat saya dan teman-teman di sekolah. Sebuah gagasan yang mudah-mudahan menjadi jalan keluar agar shalat Jumat di sekolah atau shalat-shalat lainnya menjadi lebih bermakna tidak saja untuk kami yang dewasa, tetapi juga anak-anak. Terutama ketika anak-anak itu nantinya telah beranjak dewasa.

Lima Jurus Tanpa Ngobrol
 
Pertama, keberadaan guru. Harus ada pembagian tugas agar selalu ada guru yang sudah berada di lokasi shalat sebelum kehadiran anak. Selain telah datang di lokasi sebelum anak datang, guru juga harus telah menyiapkan aktivitas bersama anak-anak sebelum waktu shalat dimulai. Kegiatan yang sering teman-teman saya pilih adalah bershalawat dan atau tadarus surat pendek Al Quran. 

Kendalanya untuk poin ini adalah masih juga terdapat guru yang tidak berada di tempatnya pada waktu yang telah ditetapkan. Akibatnya, jika yang pertama sampai atau datang di lokasi shalat anak, maka dapat diduga apa yang akan terjadi. Untuk itu, maka poin ini dibutuhkan komitmen yang utuh dari teman-teman saya di sekolah.

Kedua, mengajak anak melaksanakan shalat dengan terlebih dahulu diberikan pemahaman tentang shalat jumat. Ini agar anak paham apa esensi melaksanakan shalat, khususnya shalat Jumat. Supaya kalau ia atau mereka tertib melaksanakannya akan mendapat sesuatu yang lebih. Pemanahamn ini dimaksudnya akan menjadi akar atau motivasi mengapa anak-anak harus memenuhi syarat pelaksanaan shalat.

Ketiga, sepanjang pelaksanaan shalat, tidak ada guru yang tidak menyimak. Karena terlalu sering dalam sebuah pelaksanaan shalat Jumat, khususnya, yang ketika khatib menyampaikan khatbahnya, maka beberapa jamaah yang pulas dan tidak menyimak.

Kalau guru berada di tengah-tengah anak dalam shalat tersebut, dan kebetulan mereka terlelap dalam duduknya, maka sesungguhnya ada dan tiadanya tidak membawa relevansi kepada tertibnya pelaksanaan shalat Jumat.

Keempat, pengaturan shaf shalat anak-anak. Teman saya mengusulkan agar kakak-kakak yang telah diuduk di bangku SMP dapat kita minta tolong untuk duduk berpencar, da berada diantara adik-adik kelas yang duduk di bangku sekolah dasar. Karena jika anak-anak itu duduk berkelompk bersama-sama dalam satu shaf yang berdekatan, maka dipastikan mereka memiliki motivasi untuk berbicara satu dengan yang lainnya. Ada pula usul yang lain. Namun prinsip dari strategi ini adalah untuk membuat agar anak-anak itu tidak nyaman mengobrol dengan temannya.

Kelima, khotbah Jumat harus sesuai dengan tema yang anak-anak bisa menangkap atau malah yang anak-anak suka. Misalnya yang berkenaan dengan sejarah. Karena sering kasus yang ada adalah khatib membacakan khatbahnya yang didapat dari buku untuk tema shalat Jumat di masjid dengan jamaah yang seratus persennya jamaah dewasa. Konsekuensi dari poin ini adalah, agar guru membuat tim guna merancang khatbah yang disesuaikan dengan jamaah yang mengikutinya.

Itulah lima jurus saya sebagai usaha agar anak-anak pelaksanaan shalat Jumat berjamaah di sekolah selain berlangsung sesuai dengan kaidah yang benar, juga agar shalat tersebut memberi makna dalam proses perjalanan hidup anak-anak dan kita sebagai gurunya.

Stasiun Gambir, 10/03/2012:04.30.