Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 Oktober 2017

Tentang Rencana Budget

Bersyukur bahwa ketika diberikan amanah disuatu tempat di sebuah lembaga pendidikan yang bernama sekolah, saya sekaligus juga memperoleh pengetahuan tentang bagaimana tentang budget sebuah lembaga. Ini menjadi pengalaman berharga buat saya yang berangkat sebagai seorang guru, yang sejak awalnya tidak ada pengetahuan tentang bagaimana per-budget-an. Sebagai seorang guru, maka sejak awal pendidikan di lembaga pendidikan guru, kuliah di jurusan guru, hingga masuk di dalam sekolah, pengetahuan bagaimana membuat budget, menggunakan budget, hingga membuat laporan dari budget yang telah selesai digunakan, menjadi sesuatu yang gelap.

Bahkan yang lebih sederhana dari itu, tentang standar dari kuitansi pembelajaannya, sama sekali tidak ada pengetahuannya. Maka ketika mendapatkan kesempatan untuk duduk bersama dengan pihak sekolah yang bertanggungjawab tentang keuangan sekolah, benar-benar menjadi anugerah tersendiri buat saya. Seperti merasa salah masuk ruang kuliah. 

Sekarang, setelah beberapa tahun berada dalam ranah budget, sedikit memahami apa yang harus menjadi esensi dari budget itu sendiri dalam perannya di operasional sekolah atau lembaga pendidikan formal. Sebagaimana yang menjadi tanggung jawab saya sekarang ini.

Juga ketika berada di dalam lembaga pendidikan yang berbeda, saya menjadi lebih tahu lagi tentang bagaimana pengelolaan dan sudut pandang masing-masing tentang fakta dari budget lembaga. Itulah yang menjadi rasa syukur saya tentang apa yang selama ini saya alami.

Pengetahuan dan pemahaman tersebut, membawa saya kepada kesadaran akan pentingnya sebuah perencanaan yang detil hingga kepada tahapan operasionalnya, kepada pelaksanaan kegiatan yang benar-benar sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya, dan pembuatan laporan yang sahih.

Namun bagaimana pengetahuan, pemahaman dan kesadaran tersebut saya sampaikan dan alihkan kepada teman-teman saya yang sekarang mereka masih berusia muda dan pada posisi guru di lembaga yang diamanahkan kepada saya tersebut? Inilah yang menjadi proses berikutnya yang sedang berjalan di lingkungan terdekat saya.

Jakarta, 15 Oktober 2017.

05 Oktober 2017

Sadar Budget

Di sekolah swasta, pengetahuan akan budget sekolah, atau lebih jauh lagi sadar akan budget, kadang masih menjadi milik manajemen sekolah. Bagian manajemen sekolah yang terdiri dari Bapak dan Ibu Kepala Sekolah dan para pengelola Yayasan memiliki cara pandang tentang belanja berbasiskan budget yang telah disusun dan disepakati. Memang tidak semuanya, namun pada level itu, memiliki kesadaran dan aplikasi tentang penggunaan anggaran yang sesuai budget, bahkan lebih dari itu, prinsip efektif dan efisien menjadi keterampilan yang telah inheren dalam pelaksanaan tugasnya.

Sebagaimana yang telah saya catat pada beberapa lalu bahkan masih ada bagian manajemen yang selalu berpikir kepada ketersediaan anggara karena di awal tahun sebelumnya alokasinya telah disiapkan. Pemahaman akan adanya hal ini tidak menghiraukan kalau ada bagian lain dari operasional  lembaga lembaga yang akhirnya tidak memungkinkan untuk dilakukan penambahan anggaran karena anggaran telah diserap pada alokasi yang lain. Padahal jika pengertiannya akan efektif dan efisien, maka ia sesungguhnya masih dapat melakukan beberapa revisi di anggaran tahun berikutnya sehingga prinsip efektif dan efisien benar-benar mencapai sasarannya.

Pada tataran guru dan karyawan, kesadaran akan budget menjadi minim. Pengetahuan untuk memahami bagaimana sekolah atau lembaga mendapatkan pemasukan dan mengalokasikan anggaran yang ada pada setiap tahunnya adalah sesuatu yang tidak memiliki kausalitas dan seolah mengalir sebagaimana aliran sungai yang ada. Pendek kata, tidak ada gambaran yang memadai akan operasional sebuah lembaga dari sisi pemasukan dan belanja. Dan jika telah sampai pada titik ini, tidak salah bila akhirnya lahir pendapat atau bahkan pendapat yang begitu melenceng tentang anggaran lembaga.

Sebagaimana dengan apa yang saya alami beberapa tahun yang lalu akan usulan budget untuk kebutuhan akan kertas A 4 oleh seorang staf. Namun karena kurangnya informasi tentang bagaimana menganggarkan, maka ketika di rapat anggaran yang dimunculkan adalah banyaknya rim kertas yang diusulkan untuk didapatnya di tahun pelajaran depan.

"Benar Bapak akan membutuhkan kertas sepanjang tahun pelajaran depan 20 rim?" tanya saya kepada seorang bawahan.

"Benar Pak. Saya membutuhkan kertas sebanyak itu untuk keperluan administrasi yang saya butuhkan di tahun pelajaran depan." Jelasnya dengan penuh keyakinan. Lalu saya mengajaknya untuk melihat secara detil apa arti kertas 40 rim itu, dan kebutuhannya sebagai staf kurikulum di sekolah saya.

Bahwa 40 rim itu sama artinya dengan 40 kali 500 lembar, yang artinya 20.000 lembar kertas A4. Maka jika dalam satu tahun pelajaran ada 250 hari kerja/hari belajar, maka ia akan menggunakan kertas tersebut dalam satu harinya sebanyak 80 lembar. Apakah kertas sebanyak itu benar-benar yang menjadi kebutuhannya?

Alih-alih apa yang saya sampaikan itu dimengertinya, justru ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap saya berkenaan dengan anggaran sekolah. Yaitu pelit.

Jakarta, 5 Oktober 2017.