Sebagai guru baru di sebuah lembaga, di tahun 1996, meski sebelumnya telah mengajar sejak Oktober 1984, saya harus mengubah paradigma tentang mengajar yang telah saya miliki. Saya melihat ini sebagai tantangan sekaligus peluang.
Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa, melakukan sesuatu yang beda dari apa yang telah menjadi bagian hidup saya tentang membelajarkan siswa di kelas adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Misalnya, kebiasaan saya sebagai guru di lembaga sebelumnya yang telah menjadi rutinitas; membuat soal latihan atau soal ulangan harian, membuat foto kopinya, menjelaskan materi di depan kelas dengan meminta siswa membuka buku cetak yang menjadi rujukan sekolah, memberikan soal latihan tersebut untuk dikerjakan, memeriksa hasil kerja siswa, memberi ponten, dan seterusnya, hingga di akhir catur wulan menulis laporan hasil ulangan.
Perubahan dan pengembangan paradigma dan kebiasaan membelajarkan siswa di kelas yang saya alami tersebut tidak sampai membuat saya sakit hati dan akhirnya menyerah kalah. Karena sejak sejak awal saya memasuki gerbang sekolah yang yang baru tersebut sudah tertanam dalam sanubari saya untuk menjadi guru yang berbeda.
Dan oleh karenanya, saya mendapat ‘siraman rohani’ dalam hal pembelajaran itu antara lain melalui observasi kelas yang dilakukan oleh guru expart dan kepala sekolah. Selain juga dari diskusi dan share pengalaman dengan teman pararel saya.
Dalam observasi kelas, mereka secara bertubi-tubi masuk kelas sejak bulan ketiga saya mengajar. Dan bulan kedua mereka memberikan jadwal kepada saya dan menawarkan kepada saya kapan mereka boleh masuk di kelas. dan saya tentu memilihkan kapan jam pelajaran yang menurut saya enak.
Untuk bulan pertama, saya dibiarkan mengembangkan apa yang telah saya dapat dalam pembekalan sebelum sekolah dimulai. Pada satu bulan ini, setelah saya menjadi bagian sebagai guru kelas V, saya seperti tidak mendapat perhatian dari atasan saya langsung, yaitu kepala sekolah. Tetapi teman pararel dan patner saya mengingatkan agar saya selalu siap secara materi atau aktivitas yang menarik dari kacamata siswa sepanjang pembelajaran.
Bagaimana saya belajar menjadi guru profesional dalam kerangka observasi ini? Saya belajar dari masukan yang diberikan oleh atasan dan teman pararel saya setelah mereka ‘menemani’ saya di kelas. mereka akan mencari dan menemui saya di kala saya tidak sedang mengajar. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengharuskan kami akhirnya berdiskusi.
Beberapa hal yang baik akan mereka kemukakan. Mereka juga bertanya: Darimana saya mendapatkan ide pembelajaran seperti itu? Dan yang kurangpun juga ia kemukakan dengan menyampaikan ide mereka: Mungkin kali lain akan lebih baik kalau Bapak menggunakan strategi ini atau strategi itu?
Pendek kata, observasi kelas yang pernah saya alami adalah observasi peran serta. Dimana observer tidak saja memberikan nilai pada saya tetapi juga cara pandang, pengetahuan, pemahaman dan kultur menjadi guru.
Bagaimana dengan Anda?
Jakarta, 8 November 2009.

