Satu putra dan dua putriku ini sekarang sedang tumbuh menjadi remaja-dewasa. Yang pertama sedang belajar komputer di STMIK Jakarta (tengah). Yang kedua (kiri) sedang belajar Bahasa Jepang di UGM. Dan yang ketiga (kanan) sedang duduk di bangku kelas IX SMP Islam Al Ikhlas. Ya Allah bimbing kami menjadi manusia yang Engkau ridhoi. Amien.

Sekolah Islam TUGASKU:

Sekolah Islam TUGASKU:
Kumpul bersama dengan seluruh teman di Sekolah Islam Tugasku dan Yayasan. Kamis, 20 Agustus 2009.

08 November 2009

Observasi Peran Serta

Sebagai guru baru di sebuah lembaga, di tahun 1996, meski sebelumnya telah mengajar sejak Oktober 1984, saya harus mengubah paradigma tentang mengajar yang telah saya miliki. Saya melihat ini sebagai tantangan sekaligus peluang.

Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa, melakukan sesuatu yang beda dari apa yang telah menjadi bagian hidup saya tentang membelajarkan siswa di kelas adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Misalnya, kebiasaan saya sebagai guru di lembaga sebelumnya yang telah menjadi rutinitas; membuat soal latihan atau soal ulangan harian, membuat foto kopinya, menjelaskan materi di depan kelas dengan meminta siswa membuka buku cetak yang menjadi rujukan sekolah, memberikan soal latihan tersebut untuk dikerjakan, memeriksa hasil kerja siswa, memberi ponten, dan seterusnya, hingga di akhir catur wulan menulis laporan hasil ulangan.

Perubahan dan pengembangan paradigma dan kebiasaan membelajarkan siswa di kelas yang saya alami tersebut tidak sampai membuat saya sakit hati dan akhirnya menyerah kalah. Karena sejak sejak awal saya memasuki gerbang sekolah yang yang baru tersebut sudah tertanam dalam sanubari saya untuk menjadi guru yang berbeda.

Dan oleh karenanya, saya mendapat ‘siraman rohani’ dalam hal pembelajaran itu antara lain melalui observasi kelas yang dilakukan oleh guru expart dan kepala sekolah. Selain juga dari diskusi dan share pengalaman dengan teman pararel saya.

Dalam observasi kelas, mereka secara bertubi-tubi masuk kelas sejak bulan ketiga saya mengajar. Dan bulan kedua mereka memberikan jadwal kepada saya dan menawarkan kepada saya kapan mereka boleh masuk di kelas. dan saya tentu memilihkan kapan jam pelajaran yang menurut saya enak.

Untuk bulan pertama, saya dibiarkan mengembangkan apa yang telah saya dapat dalam pembekalan sebelum sekolah dimulai. Pada satu bulan ini, setelah saya menjadi bagian sebagai guru kelas V, saya seperti tidak mendapat perhatian dari atasan saya langsung, yaitu kepala sekolah. Tetapi teman pararel dan patner saya mengingatkan agar saya selalu siap secara materi atau aktivitas yang menarik dari kacamata siswa sepanjang pembelajaran.

Bagaimana saya belajar menjadi guru profesional dalam kerangka observasi ini? Saya belajar dari masukan yang diberikan oleh atasan dan teman pararel saya setelah mereka ‘menemani’ saya di kelas. mereka akan mencari dan menemui saya di kala saya tidak sedang mengajar. Mereka banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengharuskan kami akhirnya berdiskusi.

Beberapa hal yang baik akan mereka kemukakan. Mereka juga bertanya: Darimana saya mendapatkan ide pembelajaran seperti itu? Dan yang kurangpun juga ia kemukakan dengan menyampaikan ide mereka: Mungkin kali lain akan lebih baik kalau Bapak menggunakan strategi ini atau strategi itu?

Pendek kata, observasi kelas yang pernah saya alami adalah observasi peran serta. Dimana observer tidak saja memberikan nilai pada saya tetapi juga cara pandang, pengetahuan, pemahaman dan kultur menjadi guru.

Bagaimana dengan Anda?

Jakarta, 8 November 2009.

07 November 2009

Punya Handy Cam


Ini memang cerita konyol. Tapi justru dari cerita inilah saya memperoleh sesuatu kejutan yang, sepanjang karir saya sebagai guru atau orang yang bekerja di lembaga pendidikan, kejutan yang mengesankan. Cerita berawal dengan mimpi saya untuk memiliki alat perekan Handy Cam. Alat ini saya impikan karena dengan alat ini saya akan lebih memberikan gambaran visual kepada audiens tentang apa yang saya maksudkan ketika memberikan presentasi. Oleh karenanya, alat ini menjadi daftar kebutuhan yang harus saya punyai.

Seperti kebiasaan saya sebelumnya, saya orang yang tidak mudah menyembunyikan apa yang ada dalam benak saya. Alhasil, keinginan ini terungkap juga saat saya berbincang-bincang ringan dengan teman. Meski bukan dengan semua teman. Paling tidak, keinginan ini sudah tidak menjadi rahasia lagi dikalangan beberapa teman saya di kantor.

Dan sekitar Desember 2003, saat saya masih berada di jalur TOL JORR RS Fatmawati-RC Veteran yang masih sepenggal (keluar masih di RC Veteran dan kita akan masuk lagi jalur TOL BSD setelah Masjid Bintaro Sektor 3), telepon saya berdering. Seseorang di seberang, saya mengira posisi teman ini masih dalam mobil jemputan sekolah, mungkin berada di wilayah Pondok Jagung, Pondok Aren, Tangerang, menanyakan kepada saya: Apakah saya masih berminat untuk memiliki handy cam? Saya jawab masih. Maka diberikanlah spesifikasi alat impian tersebut beserta harga yang diinginkan.

Diceritakan bahwa handy cam tersebut dimiliki seorang pilot yang nyaris tak terpakai lagi. Namun kondisinya masih sangat bagus. Demikian teman saya mempromosikan. Dan karena ini penawaran langka, maka tanpa basa-basi saya langsung mengiyakan. Bahkan saya tanyakan kepada teman saya itu, kapan alat tersebut ada pada saya. Nanti saya hubungi lagi. Tapi Pak Agus mau tidak dengan harga satu juta rupiah?

Sekitar pukul 12.00, saat waktu makan, saya mengantar teman saya di kantor yang lain menuju ATM yang ada di Bundaran Golf Bintaro Sektor 7. Teman saya yang ini menawarkan pinjaman tanpa agunan dan tanpa bunga kepada saya sebagai pembayaran dari pembelian handy camp yang ditawarkan itu. Gembira hati saya. Cita-cita untuk merekam proses, sebentar lagi akan saya dapatkan. Pikir saya.

Sekitar pukul 14.00, teman saya yang lain, guru IT di sekolah kami, pemilik dari http://gurukreatif.wordpress.com/ bertanya kepada saya apakah handy cam-nya sudah didapat? Pertanyaan ini melahirkan sedikit ketidak senangan saya. Lho kok masalah handy camp menjadi bahan yang tidak rahasia lagi? Dari mana Pak Agus tahu saya beli handy cam?

Satu atau dua hari setelah peristiwa tersebut, dengan handy cam yang belum ada di tangan saya meski satu juta rupiah uang pinjaman telah saya sampaikan, tepatnya Jumat tanggal 19 Desember 2003 pukul 09.50 saya ada diantara komunitas sekolah kami dalam assembly. Ini adalah assembly paling terakhir saya sebagai salah satu bagian dari sekolah ini. Dan karenanya, saya diminta untuk berdiri di panggung sebagai perpisahan.

Sebelum Shalat jumat, teman sebelah ruangan saya, yang punya jabatan Junior Primary Principal, meminta saya untuk membuka bingkisan perpisahan disanksikan beberapa teman yang telah berkumpul diruang kantor kami. Mungkin ada sekitar 4 atau 5 orang.

Dan ketika bingkisan saya buka: Handy Cam! Tentu saya girang. Tapi saya masih berpikir beda, lho saya bakal punya dua handy cam? Buru-buru teman sebelah ruangan meminta saya membaca 'surat' yang ditempel di kardus handy cam impian itu (Lihat lampiran yang saya scan).

Terima kasih semua teman di SGJ hingga Desember 2003. Nama Anda terukir indah dalam perjalanan hidup saya. Perintiwa handy cam ini, merupakan drama rekayasa yang sangat dahsyat bagi saya. Terima kasih.

Jakarta, 7 November 2009.