Satu putra dan dua putriku ini sekarang sedang tumbuh menjadi remaja-dewasa. Yang pertama sedang belajar komputer di STMIK Jakarta (tengah). Yang kedua (kiri) sedang belajar Bahasa Jepang di UGM. Dan yang ketiga (kanan) sedang duduk di bangku kelas IX SMP Islam Al Ikhlas. Ya Allah bimbing kami menjadi manusia yang Engkau ridhoi. Amin.

Adab Berbisik:

Dari Ibnu Mas'ud RA. Rasulullah SAW bersabda: Apabila kalian bertiga jangan berbisik-bisik berdua saja tanpa yang seorang lagi, kecuali kalian berkumpul dengan orang banyak, karena perbuatan itu menyakitkan. HR Muttafaq 'Alaih. (Ibnu Hadjar As Qalani, Bulughul Maram, Hadis No 1383).







Tanah Subur, Tanah Keras, Tanah Tandus

Dari Musa Al Asy’ari RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku diutus oleh Allah Azza wa Jalla untuk menyampaikannya adalah seperti hujan yang turun ke bumi. (1). Ada tanah subur yang langsung menyerap air itu, lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang rimbun. (2) Ada tanah keras yang menahan air, sehingga dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia, dimana mereka dapat minum, menyiram tanaman, dan beternak dengan air tersebut. (3) Ada pula hujan yang jatuh di tanah tandus yang tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami dan mempelajari Allah Azza wa Jalla serta mengambil manfaat darinya melalui apa yang Allah utus kepadaku. Kemudian ia memahami dan mengajarkannya. Juga perumpamaan orang yang tidak berkeinginan untuk mempelajari agama Allah dan tidak menerima petunjuk-Nya yang aku diutus karenanya. (HR Muslim 7/63) - M Nashiruddin Al Albani. 2006. Ringkasan Sahih Muslim. Azzam: 246-247).

04 Februari 2010

Berhasil di Ujian Nasional, Siapa Takut?

Ada beberapa tanggapan terhadap apa yang ditulis oleh anak saya berkenaan dengan UN yang pernah dijalaninya pada tahun 2009 lalu. Dimana dalam tulisannya tersebut, anak saya bernada mempertanyakan kebermanfaatan UN dengan keberhasilan seseorang. Dia menilai bahwa jika ukurannya adalah mendapat pekerjaan, maka UN sepertinya belum memberikan jaminan. Kalau demikian mengapa siswa dikejar-kejar hanya untuk berhasil UN? Begitulah ringkasan yang dapat saya sampaikan disini.

Tentang Ujian Nasional, UN atau apapun namanya yang ada di Indonesia ini saya sendiri selalu menyuarakannya dalam bentuk tulisan. Yaitu:

1. Pak Mendiknas, Siapa yang Peduli Proses? KOMPAS, Senin, 17 Mei 2004
2. UAN dan Otonomi, Harian PELITA, Selasa, 23 November 2004.
3. UN, Belajar, dan Kualitas Pendidikan (Mendiknas Tak Perlu Baca Artikel Ini), KOMPAS, Senin, 7 Februari 2005
4. Ujian Nasional, Harian PELITA, Selasa, 8 Februari 2005.
5. Lulus Ujian Nasional, Harian PELITA, Selasa, 12 Juli 2005.
6. Peningkaan Mutu (Pendidikan) Berbasis UN, Harian PELITA, Selasa, 24 Januari 2006.
7. Harap Tenang, Ada Ujian. Harian PELITA, Selasa, 23 Mei 2006.
8. UN 2006 dan Implikasinya, Harian PELITA, Selasa, 4 Juli 2006.

Pada prinsipnya ada 4 (empat) hal pokok yang selalu saya sampaikan berkenaan dengan Ujian Nasional yang ada di Negara kita tercinta ini. Empat hal tersebut adalah sebagai berikut: Pertama; Bagi kita sebagai sekolah atau masyarakat yang ada di NKRI, maka ujian akhir (nasional) adalah penting. Dan ini menjadi kenyataan yang hidup di dalam masyarakat. Dengan apapun yang menjadi argumentasinya.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 75 tahun 2009 tentang UN SMP/Mts dan sederajat untuk tahun pelajaran 2009/2010, diuraikan dalam pasal 3 bahwa; Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: (a). Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; (b). seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (c). Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (d). Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Dua hal dari empat makna UN bagi siswa sebagaimana yang dimaksud dalam Permendiknas di atas adalah menjadi bagian dari syarat kelulusan dan sebagai syarat masuk ke jenjang SMP dan SMA.

Dengan itulah, maka UN adalah hal yang utama. Tapi saya ingin sekali mengajak kita semua untuk melihat dengan lebih holistik. Yaitu bahwa hasil UN bukan merupakan satu-satunya dari hasil pendidikan. Karena soal UN tidak mengujikan bagaimana siswa mandiri, percaya diri, berani, menghormati sesama, toleransi, atau karakter positif lainnya dalam bentuk operasional.

Dengan demikian maka, sekolah jangan terjebak dalam arus utama hanya mengejar sukses UN titik. Sekolah harus mengembangkan seluruh potensi siswa baik dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Kedua; Ketika UN dilaksanakan hanya menggunakan bentuk soal PG, dan dengan kualifikasi soal yang hanya mengujikan aspek mengingat, memahami, mengaplikasi serta sedikit aspek menganalisa dalam Taksonomi Bloom, maka itu masih masuk dalam kognitif dangkal. Kita tidak sedang menguji kemampuan siswa untuk memiliki kemampuan analisa, evaluasi dan mencipta sesuatu yang baru dari pembelajaran yang selama ini di dalam kelas mereka. Generasi model apa yang sesungguhnya kita harapkan jika siswa hanya dituntut untuk mengingat, memahami, dan mengaplikasi saja?

Padahal harus kita sadari bersama bahwa cara kita mengevaluasi akan memandu siswa kita untuk bagaimana belajar. Dan cara evaluasi kita dengan model UN selama ini telah menyuburkan model belajar Bimbel (bimbingan belajar).

Ketiga; Komitmen kita untuk sukses UN hanya pada hasil akhirnya saja yang berupa nilai (baca:angka). Hanya pada hasilnya. Ini kultur pejabat kita. Baik yang memegang otoritas wilayah, dinas, pengawas sekolah hingga satuan pendidikan paling primer. Proses pencapaiannya? Nyaris dilupakan. Apa yang terjadi? Akibatnya, tidak ada kontrol pejabat terhadap proses belajar di kelas. Guru dan sekolah tidak ‘ditemani’ dalam melaksanakan strategi proses belajar di lapangan. Pengawas sekolah datang ke sekolah cukup sampai di ruang KS?

Akibat berikutnya? Keberhasilan UN digenjot justru selain diproses persiapannya juga di pelaksanaannya. Di sini kejujuran kadang menjadi sangat mahal. Akibat berikutnya lagi? Sistem kebut semalam! Padahal 6 bulan sebelum UN berangsung, pemerintah sudah mengeluarkan ada standar kelulusan, SKL.

Apa urgensinya SKL dengan UN? SKL adalah peta perjalanan untuk menempuh atau menuju UN yang berhasil. Karena dari SKL inilah kita dipandu untuk menguasai apa yang menjadi ekspektasi BSNP tentang kompetensi yang harus kita punya dan sekaligus kita bisa memprediksi dan tahu soal macam apa yang akan keluar di UN nantinya. Jadi? SKL bukanlah peta buta untuk keberhasilan siswa kita menempuh UN. (Berikut saya lampirkan lembar self assessment SKL SMP).

Keempat; Dengan model berpikir dan berperilaku: Yang penting hasil tanpa berkeringat dalam prosesnya sebagaimana uraian saya tersebut, kesimpulan saya tentang UN adalah; bahwa UN bentuk konkrit dari model atau prototipe dari budaya kerja kita. Yaitu budaya instan. Budaya pragmatisme! Budaya untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan ikhtiar yang secukupnya?

Untuk itulah saya ingin meneriakkan tekad saya bahwa: untuk melaksanakan dan berhasil di Ujian Nasional, siapa takut?

Jakarta, 4 Februari 2010.

24 Januari 2010

Guru Inspiratif, Catatan Saya tentang: UN, Catatan Anak SMA

Apa yang ditulis dalam catatan saya sebelumnya yang berjudul; UN, Catatan Anak SMA, adalah tulisan anak saya sendiri saat yang bersangkutan duduk di bangku kelas XII SMA, yang saya ambil dari blog saya dan juga blog anak saya. Ditulis olehnya pada akhir Maret 2009.

Apa yang dia tulis itu adalah kekecewaan dia atas ketidakbisaberlanjutnya kepesertaannya dalam kompetisi-uji untuk menjadi bagian dari pemain Persija Junior. Mengapa gagal? Karena dalam waktu 3 bulan, Januari hingga akhir Maret dia harus berada di lapangan untuk siap berlatih pada pukul 14.00 hampir setiap hari. Dan menginjak bulan kedua ia tidak lagi dapat hadir di lapangan untuk berlatih.

Karena untuk latihan ia harus meninggalkan kelas satu jam lebih awal. Tentu dengan menggunakan permohonan izin dari saya sebagai orangtuanya, baik secara lisan dan tulis dalam bentuk surat. Namun menginjak bulan kedua, penolakan guru dan lembaganya sudah tidak mungkin dia hindari. Kata: pilih main bola atau lulus ujian? Nyaris dikumandangkan oleh guru. Dan bagi saya, yang kebetulan juga guru, apa yang guru sampaikan adalah wajar. Tapi solusi tegas untuk memilih satu dari dua pilihan yang disampaikan tersebut adalah ungkapan tidak bijak.

Saya membayangkan kalau ini yang dihadapi oleh siswa saya di sekolah, maka saya akan meminta anak dan kedua orangtuanya bertemu dengan kami. Berdiskusi tentang solusi apa? Dan menemukan solusi yang berkait dengan masa depan anak, maka harus melibatkan anak yang bersangkutan sekaligus menyampaikan pandangan kita sebagai pendidik? Bukankah saat itu kalau anak gagal di UN masih ada paket C? Dan jikapun anak memilih untuk menjadi pemain bola tetapi masih juga mungkin untuk tetap bersekolah dan lulus UN? Bukankah jika anak dan orangtua ketika dalam diskusi tersebut, tetap memilih dua pilihan yang ada dan kemudian kita sebagai pihak sekolah khawatir anak tersebut akan gagal UN sehingga muka kita sebagai guru atau sekolah akan tercoreng maka kita bisa meminta anak dan orangtua membuat komitmen tertulis?

Ini adalah cara pandang saya. Saya akan memilih pilihan itu sebagai bagian dari mengukir sejarah positif pada masa depan anak atau siswa saya. Bukan sebaliknya.

Dan akhir cerita anak saya memilih untuk konsentrasi bersekolah. Lalu ia tumpahkan kesumpekan hatinya itu dalam bentuk artikel yang dibeberapa bagiannya diluar EYD.

Dari pengalaman seperti inilah saya mengajak semua teman pendidik untuk tidak memaksakan cara pandangnya kepada siswanya. Buatlah sejarah yang baik bagi masa depan mereka. Jadilah guru yang inspiratif bagi mereka!

Jakarta, 24 Januari 2010.