Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

21 Juni 2017

Mudik 2017 #1; Ngak Betah di Kampung

Dalam pandangan saya, ngak betah berada di kampung ketika suami atau pasangan ketika menemani mudik, adalah sesuatu yang benar-benar salah. Meski harus diakui bahwa kehidupan di kampung memang berbeda total dari kota, dimana salah satu pasangan itu berasal sejak lahir hingga besar. Dan letak salahnya menjadi kompleks sehingga harus melahirkan stres.

Ini secara kebetulan saya mendapatkan cerita, atau lebih tepatnya curahan hati dari beberapa teman yang harus mengalaminya. Dan mereka bercerita pengalaman yang tidak enak dengan ringan karena itu sudah menjadi masa lalu mereka. Cerita sesaknya ketidaknyamanan di rumah dan kampung orang tanpa sedikitpun ada jeda. Karena berlalu tidak kurang dari satu hari.

"Saya sampai ngomong sama suami untuk pergi ke terminal atau stasiun, untuk balik ke Jakarta. Karena saya benar-benar tidak nyaman berada di rumah orang dengan situasi dan kondisi di rumah atau luar rumah yang benar-benar membuat saya sesak napas. Tapi suami hanya meminta saya untuk sabar dan mensyukuri bisa ikut pulang kampung kakak ipar." Kata teman saya yang memang dari lahir hingga dewasa belum pernah merasakan pulang kampung selain yang dia alami itu. Pulang kampung ke kampung kakak ipar.

"Saya sama sekali tidak menemukan apa yang pernah Pak Agus ceritakan tentang kampung halaman Bapak yang jaraknya tidak jauh dari kampung kakak ipar itu." Lanjutnya.

"Karena sejak sampai di kampung halaman hingga kembali ke Jakarta setelah 4 hari berada di kampung, hanya keluar rumah untuk berbelanja di kota satu kali. Saya benar-benar tidak ingin lagi." Terusnya lagi.

"Jangan lupa nanti makan gudeg di Wijilan atau bacem kepala kambing, atau tengkleng gajah, atau jeJamuran Kak di Jogja." Demikian kata saya kepada teman saya yang lain setelah mendengar bahwa mereka akan ke kampung halaman pada 'upacara' mudik tahun 2017 ini. Teman ini lahir dan besar juga di Jakarta. Dan kegiatan pulang kampung hanya dia dapatkan sejak mereka menikah.

"Tu Pak catat Pak tempat-tempat yang Mas Agus sebutin. Bapak jangan selalu bawa kami ke pemandian air terus. Bosan Pak." Kata sang istri mengingatkan suaminya. Rupanya apa yang dialami olehnya selalu berulang. Dan itu membuatnya tidak begitu antusias ketika musim mudik tiba. Kenyataan yang terbalik dengan apa yang dirasakan oleh sang suami, yang punya kampung halaman.

Lalu bagaimana dengan Anda atau mungkin pasangan Anda dengan musim mudik tahun ini?

Jakarta, 21 Juni 2017.

13 Juni 2017

'Filosof' dan 'Fisikawan'

Kemarin, saya di daulat teman-teman guru untuk bercerita sebelum sebuah kegiatan berlangsung. Dan tidak ada bingkai waktu yang ditentukan kepada saya. Tapi, tetap saja saya tahu diri dan sesegera mungkin menyelesaikan cerita saya. Bukankah saya bercerita hanya sebagai pengantar kegiatan dan bukan kegiatan intinya itu sendiri?

Yang menarik adalah bukan cerita saya itu, tetapi ketika saya mengakhiri cerita saya dan kembali ke ruangan kerja dengan membawa serta secarik kertas potongan dari berita koran harian, datang di belakang saya seorang anak laki-laki yang duduk di kelas IV.

"Apa kertas yang Bapak tadi baca? Kenapa Bapak tidak membacanya semuanya? Saya penasaran dengan cerita yang Bapak potong-potong. Boleh baca Pak?" Kata anak didik saya itu ketika kami sudah di dalam ruangan kerja saya. Pertanyaaannya penuh antusias. Seperti rasa dahaga yang sirna begitu tegukan air memenuhi tenggorakan. 

Dan serta merta saya berikan potongan artikel tersebut kepadanya. Dan disambutnya dengan penuh hangat.

"Silakan duduk. Baca dengan lantang agar Pak Agus dapat membantu memberikan penjelasan jika ada kata yang kamu pikir asing dan susah memberikan artinya." Kata saya kepada anak itu sembari mengulurkan tangan saya yang memegang artikel.

Benar saja, anak itu membacanya tidak terlalu mulus. Karena artikel tersebut terdapat beberapa kata dewasa yang sulit dipahaminya sebagai anak SD. 

"Filofof apa Pak Agus?"
"Fisikawan apa Pak?" Kata anak itu.

"Filosof itu orang yang selalu tidak pernah berhenti berpikir. Sedang Fisikawan adalah oprang yang pintar di bidang IPA."

Jakarta, 13 Juni 2017.