Satu putra dan dua putriku ini sekarang sedang tumbuh menjadi remaja-dewasa. Yang pertama sedang belajar komputer di STMIK Jakarta (tengah). Yang kedua (kiri) sedang belajar Bahasa Jepang di UGM. Dan yang ketiga (kanan) sedang duduk di bangku kelas IX SMP Islam Al Ikhlas. Ya Allah bimbing kami menjadi manusia yang Engkau ridhoi. Amien.

Sekolah Islam TUGASKU:

Sekolah Islam TUGASKU:
Kumpul bersama dengan seluruh teman di Sekolah Islam Tugasku dan Yayasan. Kamis, 20 Agustus 2009.

25 November 2009

Kepala Sekolah yang Dicintai Para Gurunya


Beberapa tahun yang lalu, saya diminta untuk menemani barisan manajemen di sebuah sekolah swasta di Provinsi Serang saat melakukan diskusi panel dengan beberapa guru yang terpilih sebagai wakil diantara teman-temannya.

Kegiatan ini menjadi pilihan yang saya rekomendasikan kepada pemegang di sekolah tersebut untuk tujuan menemukan 'ruh' yang ada pada guru-gurunya. Ini penting, ketika sekolah tersebut bermaksud untuk melakukan sebuah pengembangan. Dan agar arah pengembangan tidak menjadi sesuatu yang kotraproduktif maka diperlukan informasi yang akurat tentang dan bagaimana guru yang ada.

Untuk itu maka kegiatan ini semacam self reflection sekaligus self assessment. Dan kerena keterbatasan waktu, maka tidak semua guru menjadi wakil dari semua guru yang ada. Tetapi guru yang menjadi koordinator kita sertakan ditambah dengan guru yang terpilih melalui metode arisan.

Ada 3 tahap pelaksanaan diskusi panel tersebut. Setiap tahap menyertakan 6 guru dengan 3 dari kami yang memakan waktu diskusi lebih kurang 2 hingga 3 jam. Suasana dibuat cair. Sebagai permulaan, saya menyampaikan beberapa hal yang menjadi aturan dalam diskusi panel tersebut. Antara lain seperti; Semua peserta jangan takut untuk menyampaikan sesuatu namun selalu dengan semangat solusi. Sebagai jaminan untuk tidak takut, saya pasang badan untuk menjadi advokat mereka jika dikemudian hari ada sesuatu yang tidak menyenangkan.; Semua harus memiliki semangat yang sama yaitu menjadi bagian dari sistem. Sehingga tidak dikehendaki pandangan dari komentator.

Peristiwa itu, benar-benar memberikan pelajaran berharga kepada saya. Baik saya sebagai pribadi ataupun saya sebagai teman diskusi atau juga saya sebagai bagian dari mereka. Banyak sekali informasi dan gagasan cerdas mereka sampaikan dengan bahasa yang santun. Banyak sekali masukan membangun yang menyentuh. Banyak juga cara pandang berbeda untuk sebuah fakta yang ada. Saya menikmati peristiwa itu.

Dan salah satu sudut pandang yang menjadikan semua itu indah adalah ketika seorang Ibu guru menceritakan pengalamannya kepada kami peserta diskusi.

Beginilah cerita itu: "Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari sekolah ini. Enam bulan pertama menjadi guru di sekolah ini saya lalui dengan baik. Hingga suatu sore saat seluruh siswa kembali ke rumah masing-masing. Saya sedang merapikan kelas dan kepala sekolah datang bertanya kepada saya:
Belum pulang Bu? Tegur kepala sekolah.
Sebentar lagi Bu.
Bagaimana kabar ibu setelah enam bulan menjadi guru di sini? Saya lihat display kelas Ibu bagus dan tertata baik. Adakah kesulitan atau hambatan yang bisa saya bantu?
Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu kepala sekolah itu. Saya hanya mengangguk pelan sembari senyum. Ada kata tidak yang lirih saya ucapkan. Sapaan Ibu kepala sekolah benar-benar telah menyentuh hati saya. Saya meneteskan air mata setelah sendiri di dalam kelas".

Begitulah sepenggal cerita yang juga membuat saya berpikir, bahwa sesungguhnya guru adalah juga siswa bagi kita yang kepala sekolah. Untuk itu maka, menjadilah kepala sekolah yang dicintai oleh para gurunya.

23 November 2009

Berjasa?


Pada waktu membicarakan pengembangan lembaga, kami dibenturkan pada kenyataan bahwa beberapa diantara kami yang berpotensi menjadi hambatan bagi pengembangan. Hambatan tersebut lahir atas kenyataan bahwa kurang dipenuhinya persyaratan standar minimal akademis. Dimana sesuai dengan Undang-Undang Guru dan Dosen, maka guru untuk tingkat pendidikan Pra Sekolah hingga Sekolah Menengah, harus strata 1 atau Sarjana.


Dan setiap langkah kami akan mulai dengan mendiskusikan alternatif serta solusi bagi pengembangan, fakta akademis yang ada diantara kami ini terus saja menghantui kami.


Beberapa teman sempat mengingatkan kami agar melihat bahwa orang-orang yang menjadi sasaran bidik kami itu adalah orang-orang yang memiliki jasa atas besarnya lembaga kami. Dimana mereka, ketika awal sekolah kami berdiri, direkrut dengan tidak perlu menjadi seorang sarjana.


Juga komentar dari mereka sendiri bahwa, mereka datang ke lembaga kami ketika lembaga ini halamannya masih belum sebaik dan serapi sebagaimana sekarang.


Esensi dari apa yang mereka sampaikan adalah, jangan mentang-mentang lembaga ini sudah besar sehingga melupakan jasa mereka. Sehingga manakala tuntutan akademis harus menjadi prasyarat bagi pengembangan sekolah, dan mereka menganggapnya hal ini justru sebagai hambatan karena ketidakmauan atau mungkin ketidaktahuan dan kesungkanan mereka untuk memulai malanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, maka kami membuat tuntutan yang diangapnya sebagai bentuk tidak menghargai jasa yang telah mereka kontribusikan.


Jasa?


Dan ketika kami bersama manajemen lain yang memegang amanah dari lembaga sedang sibuk untuk menemukan jalan bagaimana mengajak teman tersebut memenuhi syarat akademis dengan cara melanjutkan pendidikan, benak saya berbicara lain.


Bisakah berjasa jika dalam setiap bulannya lembaga telah membayar tunai ikhtiar dan kerja kita sesuai dengan apa yang telah disepakati bersama dalam bentuk kesepakatan kerja sebelumnya? Pikir saya. Bisakah saya mengatakan bahwa saya berjasa di lembaga saya ini jika lembaga telah tunai membayar saya sebagaimana yang tertuang dalam surat perjanjian kerja?


Saya tidak menemukan jawaban. Namun saya mencoba untuk berlogika bahwa, jika dalam saya bekerja saya juga menyertakan nilai transendental, maka saya tidak akan pernah satu kalipun mengatakan bahwa saya telah berjasa. Biarlah Allah yang menilai apakah saya berjasa atau tidak dikelak kemudian hari.


Karena dengan apa yang telah saya ikhtiarkan kepada lembaga dimana saya mengabdikan kompetensi saya, dan lembaga telah memberikan apa yang tertulis dalam kontrak kerja yang telah saya sepakati sebelum saya menunaikan perkerjaan yang menjadi tugas saya di lembaga ini, bukanlah ini berkorelasi sama dengan? Bukan lebih besar atau lebih kecil?


Allahu'alam bishawab.


Jakarta, 23 November 2009.