Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 February 2018

Berebut Koran Pagi

Seperti hari-hari sebelumnya di waktu sekolah, pagi ini bersamaan dengan waktu istirahat pertama sekolah, kami bertemu dengan siswa kami di Perpustakaan sekolah untuk bergantian membaca koran pagi. Bergantian karena kebetulan saya datang lebih kurang sepuluh menit terlebih dahulu. Oleh karenanya ketika dia datang, saya telah menyelesaikan membaca judul-judul berita yang tersaji pada hari itu. Siswa saya datang di pertengahan waktu istirahatnya. Ini karena ia datang seusai melakukan latihan sinkronisasi Ujian Nasional Berbasis Komputer, atau UNBK. 

"Apa berita besar hari ini Pak Agus?" Kata murid saya mendekati meja dimana koran baru saja saya lipat.

"Masih sama dengan hari kemarin. Tapi mungkin kami lebih tertarik dengan berita-berita yang ada di bagian dalam? Silahkan dinikmati ya." Kata saya sembari menggeser koran yang telah saya lipat mendekat ke meja bagian dimana dia duduk.

Saya dan dua teman yang berada di Perpustakaan selalu berkoordinasi untuk sesegera mungkin mengambil koran pagi yang oleh agen dikirim ke sekolah dengan meletakkannya di Pos Satpam sekolah, dan membawanya ke ruang baca di Perpustakaan. Ini kami lakukan untuk menghindari koran pagi tidak sampai ke lokasi membaca.

Dan ketika koran pagi terlambat sampai di ruang baca yang ada di Perpustakaan, maka kami mencarinya kalau tidak di meja guru piket SMP lantai dua, yang di ruang bersama dimana semua siswa SMP akan melakukan Dhuha terl;ebih dahulu. Dan kalau ini yang terjadi, maka koran telah terlebih dahulu diambil oleh ananda siswa saya tersebut...

Jakarta, 15 Februari 2018.

Ruangan Saya

Pada saat beberapa siswa datang secara bergilir ke ruangan saya untuk tujuan bertemu saya dan mewawancarai, saya menemukan berbagai aneka karakter anak. Ada beberapa diantaranya menggunakan bahasa yang lurus-lurus saja ketika memulai wawancara atau etika mengajukan pertanyaan- pertanyaan. Ada yang begitu lurus dan amat sangat santun dalam tutur katanya. Tertata begitu rapi kata dan klimat yang dikemukakannya seperti tulisan karangan yang enak dibaca. Ada pula yang begitu cair, santai, dan tetap fokus kepada apa yang harus didapatnya.

Pendek kata, peserta didik saya itu adalah generasi yang memiliki visi bagus dan berada di atas rata-rata kalau saya melihatnya dari tutur kata dan bahasa yang mereka gunakan. Saya memperoleh indikasi adanya pola berbicara dengan orang lain yang terlebih dahulu mereka pelajari. Semoga ini dapat menjadi bagian penting dalam menumbuhkan potensi mereka yang unggul dan baik sebagai investasi suksesnya di masa depan. Amin.

Dan beberapa diantara mereka yang tetap cair misalnya ketika ada diantara mereka yang mengemukakan tentang ruangan saya seperti apa. Ada yang berkomentar karena suhu ruangan-nya yang adem. Ada pula yang mengomentari layar cctv yang tetap menyala sepanjang wawancara berlangsung. Ada juga yang berkomentar tentang pulpen saya yang unik dan antik. Dan berbagai komentar lainnya.

"Saya baru kali ini dapat masuk ke ruangan Pak Agus. Beneran Pak. Padahal setiap hari saya liat ruangan Pak Agus." Komentar seorang siswa saya ketika wawancara telah selesai. Ia bersama temannya yang juga berkomentar sama; "Kalau saya ini pengalaman yang ke kali ke sini. Yang pertama dulu waktu saya masih di kelas satu. Saya mendapat pertolongan Pak Agus saat itu." Timpal temannya.

Saya apa yang mereka kemukakan, saya melihat keduanya sembari mengucap syukur di dalam batin saya. Bersyukur bahwa saya mendapat kesempatan yang begitu berharga dan menarik bagi pertumbuhan batin saya. Alhamdulillah.

Jakarta, 15 Februari 2018.

14 February 2018

Pinjam Pulpen Saya

Beberapa siswa saya, baik yang duduk di SD atau yang di SMP, yang kebetulan menyaksikan saya menggunakan pena saya ketika menulis, maka mereka akan berkomentar yang nadanya adalah keheranan.

"Ballpoint-nya aneh."
"Pulpen-nya lucu."
"Pulpen-nya seperti punya nenek saya Pak Agus."

Dan berbagai macam yang lain. Pendek kata, semua melihat apa yang saya gunakan untuk menulis sehari-hari itu adalah alat tulis aneh.

Bahkan ada di SMP, ketika saya sedang beraktivitas mengajar kelas pagi dengan lima siswa saya, ada seorang diantaranya yang meminjam pulpen saya itu untuk menulis namanya di buku barunya. Dan ketika saya berikan kepadanya ballpoint biru yang ada di tangan saya, dia menunjuk untuk menggunakan pulpen yang ada di kantong saya.

"Kamu nanti kesulitan menggunakan pulpen Pak Agus ini." Kata saya memberikan alasan mengapa bukan pulpen yang di kantong yang saya akan berikan pinjam kepadanya. Tetapi ballpoint yang memang ada di tangan saya.

"Tidak mungkin Pak Agus. Saya akan coba." Kata anak itu. Dan benar saja, ia harus menggerakkan beberapa kali ujung pulpen saya ke atas kertas di  halaman depan bukunya yang baru dengan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Maka teman-teman yang ada di sekitar kami tertawa.

Jakarta, 14 Februari 2018.