Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 December 2015

Oleh-Oleh Tempe dari Pacitan

Ada yang unik buat saya sendiri. Yaitu membawa oleh-oleh tempe mentah alias tempe yang belum jadi ketika kembali ke Jakarta sepulangnya dari Pacitan. Unik, karena tempe yang menjadi oleh-oleh itu adalah tempe benguk yang akan sulit setengah mati di dapat keculai di kampung halaman di Jawa Tengah. Itupun saya daatkan dalam bentuk olahan sudah siap santap, yang oleh anak bungsu saya disebutnya sebagai tempe rasa opor.
Beginilah penampakan dari tempe benguk dalam kemasan daun pohon jati.

Saya dapatkan ketika berada di Goa Gong yang ada di daerah Donorejo, Pacitan. Banyak pedagang menjajakan tempe itu dalam bentuk gorengan. Dan selain yang telah masak, pedagang juga menawarkan tempe benguk dalam bungkusan daun jati yang masih mentah. Mentah dalam arti bahwa tempe itu masih untuk dalam bentuk kacang benguk dan belum tumbuh jamurnya.
Wujud tempenya. Dengan kacang yang relatif besar dibandingkan dengan tempe pada umumnya yang terbuat dari kacang kedelai. Tempe benguk pasti original lokal. Tidak ada bahan impor dalam pembuatannya.

"Tiga hari lagi siap masak Mas." Begitu penjelsan pedagangnya kepada saya. Da karena ingin sekali, jadilah tempe benguk mentah dalam bungkusan daun jati tersebut menjadi buah tangan saya ketika kembali ke Jakarta.
Digoreng sebagai salah satu bentuk masakannya.

Jakarta, 31 Desember 2015.

Pergi ke Pacitan

Mungkin inilah yang dinamakan keberuntungan. Tentunya keberuntungan bagi saya. Karena sudah beberapa tahun sebelum ini saya berminat sekali untuk menyusur ke arah timur ketika waktu itu sudah berada di Pantai Kukup, Wonosari, DI Jogjakarta. Namun waktu jugalah yang harus membuat saya segera kembali ke Jakarta. Maka niatan untuk menyusuri arah timur dari Kukup menuju ke wilayah Wonogiri dan Pacitan harus tertunda.
Pagi hari, setelah sarapan nasi urap, saya segera menuju ke pantai Telengria yang lokasinya dekat dengan penginapan. Tidak lupa membeli wader goreng kegemaran saya.

Dan ini merupakan keberuntungan bahwa kesempatan itu akhirnya datang juga. Selain juga saya menjadi lebih dulu mendatangi Pacitan dibanding tetangga saya yang ayah serta ibunya merupakan asli Pacitan. Setidaknya inilah yang menjadi catatan saya kali ini.
Salah satu aktivitas menarik di hamparan pantai Telengria.

"Saya ingin sekali Pak, jalan ke Pacitan via darat. Tapi terus terang tidak percaya diri dengan mengendari kendaraan sendiri." begitu kira-kira tetangga saya mengomentari cerita saya tentang perjalanan kekampung halaman ketika bertemu di halaman rumah.

"Istri saya kan asal Pacitan Pak. Beberapa waktu lalu orangtuanya pulang kampung bertemu sanak saudaranya di Pacitan. Jalannya bagus ya Pak Agus?" lanjutnya masih dengan ketidak yakinannya untuk melakukan perjalanan ke kampung asal sang istri. Saya sampaikan bahwa perjalanan yang saya lakukan santai saja. Karena saya memang orang yang gemar untuk merasakan dan menikmati setiap sisi jalan yang kami lalui. Dan persiapan untuk itu adalah waktu yang longgar dan sehat.

Hamparan batu-batu keren di Pantai Pidaan.
Kesempatan berawal dari undangan pengantinan dari teman. Dari sinilah niat untuk pergi ke Pacitan menjadi terlaksana. Mesti telah berjalan dengan terjebak macet dimana, setelah magrib dan mengandalkan perangkat Waze, saya menyusuri tanjakan Pathuk, pintu masuk kabupaten Gunung Kidul, hingga jalan tembus menuju Pringkuku.

Dan karena perjalan malam, maka pemandangan yang terlihat setelah keluar dari Wonosari dan masuk jalan tembus yang berkelok memberikan gambaran laksana masuk ke hutan belantara. Namun karena kondisi jalan yang relatif mulus, maka kepenatan menjadi tantangan yang lain untuk segera masuk ke penginapan.
Lanskap yang berbeda dari Pantai Pidaan.

Keindahan alam baru benar-benar kami nikmati ketika kembali ke Jakarta melalui jalur yang sama. Subhanallah. Luar biasa. Alam dan situasi masyarakat serta makanan, menjadikan motivasi tersendiri untuk kembali ke Pacitan suatu hari nanti.

Jakarta, 31 Desember 2015.

30 December 2015

Terjebak Kemacetan

Kamis, 24 Desember 2015 pukul 07.00, saya dan rombongan berada di wilayah Cipete, Jakarta Selatan. Ini adalah titik awal perjalanan menuju Pacitan Jawa Timur. Sejak satu hari sebelumnya, karena saya sendiri bepergian ke Bandung, maka kepadatan lalu lintas di sepanjang jalan TOL, dan juga jalan arteri yang dekat dengan pintu gerbang jalan TOL telah saya rasakan. Namun perjalanan pagi itu harus kami lakukan. Mengingat kecocokan jadwal teman-teman untuk sebuah perjalanan yang panjang, mengharuskan kami berkumpul dan berangkat pada waktu itu.
Salah satu kondisi rest area di jalur TOL Jakarta Cikampek. Penuh dan kotor sampah sisa bungkus makanan atau minuman.

Pada waktu bersamaan, laporan dari radio dan twitter menyampaikan bahwa kemacetan di jalan TOL Lingkar Luar yang menuju arah Cikampek dari Pondok Indah sudah sampai daerah Lebak Bulus. Demikian juga TOL dalam kota menuju Cawang telah antri padat nyaris tidak bergerak sudah sampai di Slipi.

Bagaimana selanjutnya? Atas arahan Waze, rombongan kami mengambil rute Cipete-Semanggi-Casablanka, terus lanjut hingga masuk Gerbang Pintu TOL Bekasi Barat. Pukul -8.00 rombongan masuk Bekasi Barat. Dari dari sinilah kami harus mengalami macet berat di banyak skali titik. Bahkan untuk ke toilet pun tidak mungkin. Dua rest area yang kami lewati menolak kehadiran kami. Dijaga dan ditutup dengan ketat.

Juga di Ketanggungan, Brebes pada saat kami telah memasuki hari Jumat, 25 Desember 2015 dini hari. Kemacetan masih membuat kami tabah dan bertahan. Demikian pula ketika kami memasuki Bumiayu. Baik lingkar luar ataupun jalan dalam kota telah macet. 

Kemacetan ini memberikan bekas kepada saya; 
1. Tidak mengandalkan aparat berkompeten ketika macet. Maka kuat dan tabahlah.
2. Nikmatilah jalan yang kita lalui. Jangan berpikir lurus-lurus untuk memilih rute.
3. Tidak berharap kecepatan transaksi di pintu TOL. 
4. Jangan keluar TOL di gerbang TOL paling akhir.
5. Ajarkan anak-anak kita tentang kepintaran memprediksi. Supaya pintar ketika jadi aparat.
6. Meningkatkan daya tahan tubuh.

Jakarta, 30 Desember 2015.

Menanam Cabe

Mungkin anak-anak sedang belajar tentang tumbuhan atau persemaian. Tetapi, saya menemukan pot-pot baru yang beraneka ragam, rupa, dan bentuk telah berisi tanah berjejer di halaman belakang sekolah kami. Benar saja, bahwa satu pekan kemuadian, dan pekan-pekan selanjutnya menjadi kegiatan rutin siswa bertandang ke halaman belakang sekolah. Baik bersama gurunya atau ketika satu atau tiga dari anak-anak itu datang ke sekolah di pagi hari.
Tanaman berbagai macam cabe yang disemai anak-anak di halaman belakang sekolah
Pada pekan-pekan berikutnya, terutama ketika tanaman itu telah mulai bertunas, tingkat kerajinan atau kunjungan anak-anak ke halaman belakang sekolah menjadi bertambah-tambah. Akibatnya, rumput yang menjadi perlintasan mereka semakin hari semakin habis karena tidak sempat tumbuh.

Dan setelah menjelang akhir semester, pot-pot yang berisi tumpukan tanaman cabe itu tetap saja tumbuh menumpuk dalam satu pot. Saya memberikan usul kepada gurunya untuk membuat atau memisahkan tunas-tunas itu dalam pot yang berbeda-beda. Tujuannya agar 'proyek' tanaman cabe itu benar-benar tuntas. Artinya tumbuh dari tunas hingga nantinya dapat berbuah.

Namun usulan itu tidak juga terlaksana. Mungkin karena batasan proyek menanamnya hingga sampai menyemai saja. Dan karena itulah maka saya pesan kepasa teman-teman pramubakti untuk mengumpulkan botol plastik dan gelas plastik besar yang mereka temui. Alhamdulillah meski tidak terlalu banyak, botol-botol itu dapat pula menjadi media saya untuk menanam cabe.
Cabe-cabe itu telah menunjukkan profil utuhnya. Harapan saya adalah mereka berbuah ketika anak-anak kembali ke sekolah setelah usai liburan mendatang. Semoga.

Motivasi saya melakukan itu adalah untuk memberikan bukti kepada masyarakat sekolah tentang ketuntasan belajar. Agar sebuah proyek dilakukan dari awal hingga benar-benar akhir. Karena itu adalah bentuk belajar yang memberikan bekas. Semoga.

Jakarta, 30 Desember 2015.

Pelajaran Menyontek

Sebelum semester ganjil ini berakhir, ada yang bercerita kepada saya berkenaan dengan ulah peserta didiknya yang memang dari sananya tidak dapat dipercaya punya niatan untuk melakukan perbuatan yang sangat tidak terhormat, yaitu mencontek. Dan karena kedapatan bahwasi peserta didik benar-benar melakukan hal itu, maka Pak Guru itu bercerita kepada saya betapa herannya mereka dengan berita yang mencengangkan terjadi pada peserta didik model begitu.

Karena sehari-hari anak itu benar-benar mandiri untuk semua hal di sekolah. Tidak akan pernah sedikitpun kepada teman atau guru meminta bantuan akan kekurangan keperluannya. Demikian pula ketika bermain bersama, maka tidak akan menjadi beban bagi yang lain. Juga berkenaan dengan tugas sekolah atau ulangan sehari-hari. Bahkan dia adalah anak satu-satunya di sekolah yang tahu kepanjangan dari AMS, sekolah di zaman Belanda setingkat SMA atau THS. Demikian dalam hal pelajaran yang lain. Pendek kata, sulit dipercaya jika di suatu hari anak itu menjadi berbeda hanya untuk urusan penguasaan materi pelajaran di sekolah pada saat ulangan.

Dengan contoh tersebut, maka saya bermaksud untuk menyampaikan bahwa anak kami itu berada di atas rata-rata kemampuan teman satu kelasnya. Dan itu dapat menjadi jaminan bahwa apa yang dikerjakannya disaat mengerjakan ulangan tidak akan menjadi persoalan serius.

Namun kenyataan harus kami alami ketika disuatu hari ada yang sangat berbeda dengan dirinya. Dan karena itulah saya menuliskan dalam catatan harian saya ini. Untuk mengingatkan kepada kita semua, saya dan Anda, khususnya sebagai orangtua dari anak-anak kita di rumah.

Ini ketika kami mendapat sang anak keluar kelas di waktu ujian akhir semester sedang berlangsung.Bahwa anak itu meminta izin untuk ke toilet. Dan guru pun menjadi beftanya ketika ia ke toilet dengan membawa serta tas sekolahnya. Selain juga karena waktu yang ia gunakan lebih panjang ketika orang lain pergi ke toilet.

"Apa yang sedang kamu lakukan di kamar mandi?" tanya guru yang menyusul anak itu ke toilet. Didapati bahwa anak itu sedang ada di koridor toilet dengan membuka buku pelajaran yang dibawanya dari rumah.

Pertanyaan guru itu benar-benar membangunkan anak polos itu dari konsentrasi dan keasyikannya membaca lembaran buku pelajaran yang sedang diujikan. Dan itu tentu melahirkan kekagetan yang luar biasa. 

"Mengapa harus kamu lakukan itu?" lanjut guru lagi yang membuat anak itu enar-benar mati kutu. Tidak bergerak apalagi berucap.

"Maaf Pak. Saya takut nilai saya jelek Pak. Maaf Pak. Ibu saya meminta supaya nilainya 9 Pak. Maafkan saya Pak. Jangan dihukum saya Pak." rengek anak itu dengan kepolosannya.

Guru, teman saya itu juga tidak mampu berkata apa-apa selain memberikan masukan dan nasehat, serta memintanya untuk segera kembali ke dalam kelas guna melanjutkan mengerjakan soal ulangan. Guru teman saya itu terpukul sedih!

Jakarta, 21-30 Desember 2015.

15 December 2015

Piknik Sekolah

Beberapa waktu lalu, tepatnya persis di akhir Nopember 2015, saya bersama semua teman lainnya yang berada di posisi manajemen, diberi anugerah untuk melakukan perjalanan wisata ke sebuah ibu kota negara tetangga. Nikmat luar biasa bagi saya. Karena bersamaan dengan momen tersebut, saya mendapat anugerah berupa memperpanjang masa berlakunya paspor saya yang sudah kedaluwarsa. Selain juga mendapat pengalaman baru pergi bersama teman-teman.

Namun bukan kepergiannya yang menjadi bahan catatan saya kali ini, tetapi bagaimana diantara kita, para anggota yang mendapat kesempatan untuk bertamasya itu. Ada beberapa hal yang unik yang saya dapatkan dari pengalaman menempuh perjalanan itu. Dan karena sayang untuk saya lupakan, maka saya mencobanya untuk membuat catatan dengan harapan agar menjadi bagian masa lalu yang tidak mudah untuk terlupakan.

Kepergian

Berawal ketika dalam persiapan kepergian kami. Dimana kami semua seperti sport jantung. Bukan karena kekurangan dana yang menjadi penyebabnya sehingga harus memutar otak dalam memilih penerbangan yang lebih miring harganya. Jujur ini bukan sombong. Tapi murni karena sedikit ada prosedur yang memang tidak seharusnya terjadi. Penyebabnya adalah karena destinasi awal tiba-tiba harus berubah hanya pada H-3 keberangkatan. Inilah yang menjadikan kami semua sport jantung.

Alhamdulillah bahwa akhirnya semua kelengkapan perjalanan kelar dalam tempo tersebut. Seperti ketika harus membutuhkan nomor paspor anggota perjalanan, karena paspor saya baru bisa diberikan kepada saya pada H-1 sebelum keberangkatan, maka hanya nomor paspornya saja yang bisa saya kirim.

Demikian pula ketika malam sebelum berangkat, pada saat packing. Saya bertanya kepada salah satu anggota wisata yang saya menganggapnya paling dekat. Dan ukuran dekatnya adalah ketika saya nyaman bicara blak-blakan dengan dia. Pertanyaan saya adalah apakah tamasya kita menggunakan gaya Sy**r**i  atau gaya back packer? Pertanyaan itu untuk memastika kalau saya di perjalanan tidak menjadi anggota rombongan wisata yang salah kostum.

Meski begitu, saya kaget juga ketika keberangkatan ternyata masih ada anggota yang justru mengenakan kostum perjalanan dengan gaya seleb. Alhasil, diantara kami, ia menjadi anggota yang paling beda. Paling aneh. Sesuatu yang saya sendiri mencoba dengan kuat untuk tidak berkeinginan menempati posisi seperti itu atau setidaknya saya  menghindarinya.

Kehilangan Jejak

Dan rupanya, kisah perjalanan tidak berhenti disitu. Ketika kami mengunjungi suatu tepat di lokasi wisata, harus kehilangan jejak dari anggota rombongan yang lainnya. Ini berawal ketika kami berada di lokasi wisata yang lumayan luas. Sebagai wisatawan, wajar bila kami masing-masing mengabadikan momen keberadaan kami. Yaitu dengan berfoto-foto.

Nah karena kami termasuk yang tidak terlalu narsis diantara anggota rombongan, maka kami tidak sabar untuk menjelajah tempat-tempat yang ada di obyek wisata itu, meninggalkan teman-teman lain yang sibuknya bukan main dalam mengambil foto. Bahkan ada teman dilokasi yang saya harus diambil fotonya dari sudut yang berbeda-beda dan dengan gaya yang lain pula. 

Akibatnya kami selesai lebih dulu dalam melakukan blusukan di lokasi itu. Dan itu berarti kami meninggalkan obyek wisata itu lebih cepat dibanding dengan anggota piknik yang lain. Repotnya, diantara kami tidak ada yang berani mangambil ekskusi untuk makan siang karena memang dana kami adalah dana pribadi yang terbatas...

Jakarta, 15.12.15.

14 December 2015

Nikmati Saja Komentar Komentator

Ya benar. Saya menikmati saja komentar komentator. Pengamat. Kritikus. Atas apa yang kami telah lakukan dalam tahap operasional di sekolah. Karena sesungguhnya para komentator, pengamat atau kritikus yang menyampaikan masukan buat saya adalah bagian dari sekolah yang saya berada di dalamnya juga. Maksudnya, mereka yang mengemukakan komentar itu adalah para sahabat dan karib sendiri, yang sebenarnya yang dibutuhkan dari dia adalah informasi ide, koordinasi dalam pelaksanaan, dan ekskusi. Jadi tidak lagi pada tataran komentar.

Tapi apa mau dikata? Bahwa komentar, kritik, dan pernyataan hasil pengamatannya telah terlontar dan tertera dalam area umum? Seperti pagi ini, ketika saya membuka chat dalam grup Whattaps? Maka seluruh anggota grup telah mengetahui apa yang menjadi gagasan teman saya itu. Dan itu tidak menjadi persoalan buat saya yang setelah membaca apa yang mereka tuliskan dan mencernanya menjadi bertambah tugas dan amanat yang harus saya lakukan. Tapi setidaknya saya manikmati saja apa yang menjadi perilaku para komentator itu.

Walau, sering sekali setelah itu saya memegang jidad, dan berguman; o... jadi selama ini saya sendirian ya yang harus mengerjakan semua operasional di sekolah? Okey, jawab batin saya. Saya tidak perdulikan lagi sikap apa yang harus saya ambil setelah ini. Apakah masih mau mendengar atau tidak tentang apa yang dikomentarinya?

Jadi semacam ketidakpuasan hati. Karena bukankah amanat itu harus menjadi bagian kita semua untuk mengerjakannya sepanjang memang kita berada dalam satu wadah atau lembaga yang bernama sekolah?

Aneh bukan? Tetapi karena hal ini berlangsung dan terjadi secara berturut-turut, maka saya dengan rendah hati juga harus mengatakan kepada batin saya agar itu semua menjadi hal yang harus dapat saya nikmati.

Dan karenanya, maka saya sendiri mulai menghitung agar setelah masa kontrak habis, segera setelah itu mencari lahan baru yang lebih kondusif bagi pengembangan diri ke masa yang akan datang, yang lebih baik lagi. Semoga.

Jakarta, 14 Desember 2015.

10 December 2015

Berjalanlah, Nanti Mereka Mengikuti

Pernahkah dalam sebuah lembaga Anda dan beberapa teman melakukan sebuah gerakan yang berbeda dengan pola sebelumnya? Jika gerakan atau kebiasaan yang berbeda itu saya namakan sebagai perubahan, maka pasti ada diantara teman-teman Anda yang melihatnya dengan sebelah mata? Melihat apa yang Anda sedang lakukan sebagai gerakan hangat-hangat tahi ayam atau perubahan sporadis semata? Dan mereka yang ada di seberang Anda itu pasti semangat mengajak teman yang lain untuk berada dalam barisannya? Tidak peduli bahwa gerakan perubahan yang sedang Anda usung sebenarnya adalah gerakan kesadaran. Kesadaran atas apa yang telah lembaga alami beberapa tahun belakangan ini. Yaitu kondisi bahwa sekolah Anda sedang secara bertahap mengalami penurunan jumlah siswanya? Padahal lembaga sekolah Anda adalah sekolah swasta?

Dan jika kondisi dan situasinya sama sebagaimana yang saya utarakan di atas, maka ada baiknya jika pengalaman teman saya ini menjadi bahan diskusi yang lumayan nendang. Ini karena teman saya merasakan ketidak nyamanan yang sungguh-gungguh ketika lembaga yang dipimpinnya sedang mengalami penurunan siswa tetapi kenyataan ini tidak dapat dilihat sebagai 'pesan bahaya' bagi sebagaian teman-teman gurunya. Dan tipikalnya adalah teman-teman guru yang memang telah memiliki jam terbang tinggi.

Mengajak dan Jalan Terus

Dua hal inilah yang dilakukan oleh teman saya yang inspiratif bagi saya ini. Ia melihat ada sebuah konsep yang dapat menjadi jawaban bagi sekolahnya, dan jawaban itu ia rumuskan bersama teman-teman yang 'tahu' bahwa kekurangan siswa adalah sinyal bahaya bagi keberlangsungan lembaganya. Dan dari rumusan itu, ia mengajak teman-temannya untuk melakukan dan merealisasikan konsep dalam kegiatan belajar sehari-hari dengan tidak peduli atas masukan dan dorongan negatif para teman yang berada di seberang.

Dan meski jalan terus dengan apa yang menjadi ajakannya, teman saya juga mengajak teman sejalannya untuk tetap tidak merespon negatif atas masukan dan motivasi negatif. Pelaksanaan konsep berubah mengajak dan jalan terus ini teman saya lakukan dengan penuh konsisten. Hingga di ujung semester ganjil tahun 2015/2016 ini, telah masuk di pekan ke-6.

"Jangan pernah berhenti Bu. Jalan terus dan tetap semangat. Lakukan dengan penuh motivasi apa yang telah Ibu serta teman-teman kecil Ibu yakini untuk perubahan sekolah Ibu. Dan saya yang berada di luar Ibu merasakan aroma sukses di masa mendatang. Yakin saya!" Begitu kalimat yang saya tulis ketika vedio pelaksanaan program dia dia kirim via wa kepada saya ketika program baru berjalan 2 pekan. 

Dan komentar saya ini bukan karena saya sedang menghibur teman yang pada posisi itu sedang galau dan tidak bersemangat penuh, tetapi memang itulah esensi perubahan. Saya mencium firasat keberhasilan itu dengan sangat yakin.

"Terimakasih banyak Pak semangat dan dorongan Bapak." Begitu balasan teman saya.

Mereka Mengikuti

Dan ketika program telah berjalan lebih kurang enam pekan, maka tampaklah indikator keberhasilannya itu. Misalnya; Para peserta didik sangat kondusif ketika program ini berjalan. Dan karena itu maka anak-anak jauh lebih siap menyelesaikan masalah pembelajaran akademik yang sedang mereka jalani. Ini tidak saja pada mereka yang sudah duduk di kelas akhir dan akan menghadapi ujian, tetapi juga mereka yang menghadapi ujian akhir semester.

Bagaimana dengan guru-guru yang di awal program akan dilaksanakan berada di seberang jalan? Mereka secara berangsur tidak lagi pernah mengeluarkan kata atau bahkan kalimat beraroma negatif dan pesimis. Nampaknya teman-teman itu sedang melihat akan buah dari apa yang di awal mereka dulu tentang. Dan kenyataan ini membuat mereka untuk bersikap moderat.

Dan sikapnya yang moderat ini, yang mereka tunjuk dan tampilkan dalam perilaku mengajar di kelas atau diskusi di ruang rapat guru, memberi sinyal bahwa mereka siap untuk menjadi bagian dalam barisan perubahan. Semoga.

Jakarta, 10 Desember 2015.

07 December 2015

Belajar Menginap #17; Enak di Sini

Hari terakhir dalam kegiatan menginap di desa Pulosari, Pengalengan tahun 2015 nyaris usai. Dan agenda kegiatan dalam hari penutup itu antara lain adalah melakukan kegiatan bersama dengan warga desa di halaman masjid kampung. Kegiatannya dalam bentuk bakti sosial. Dimana seluruh peserta menginap yang telah siap meninggalkan kampung Pulosari menuju kembali ke Jakarta, akan memberikan beberapa hal yang mereka siapkan kepada penduduk setempat.

Oleh karenanya, maka seluruh siswa dan para guru telah bersiap di halaman masjid. Bahkan tas-tas anak-anak telah masuk ke dalam bus yang terparkir di halaman-halaman rumah penduduk yang ada di sepanjang jalan kampung. Demikian pula perangkat desa dan para pejabat kampung di RW 1, serta seluruh warga yang menjadi orang tua asuh, sudah lengkap bersiap mlakukan kegiatan bersama. 

Namun dalam pemeriksaan anggota kelompok oleh Bapak dan Ibu Guru, masih terdapat satu keluarga orangtua asuh bersama dua anak asuhnya, yang belum berada di lokasi kegiatan. Untunglah bahwa liokasi dimana kegiatan yang akan dilaksanakan dengan lokasi rumah tinggal orangtua asuh tersebut tidak terlampau jauh. Maka untuk mencarinya tidak membutuhkan usaha yang terlalu sulit.

"Mengapa kalian tetap berada di kebun untuk melakukan pekerjaan? Bukankah kalian tahu kalau hari ini jadwal kegiatan kita di halaman masjid untuk kegiatan bakti sosial?" Demikian kata seorang guru yang kebetulan sebagai panitia kegiatan kepada anak yang tadi di cari-cari. Tentunya setelah anak tersebut ditunggu kedatangannya di lokasi kegiatan selama satu jam lebih. Dan sementara waktu menunggu itu, maka kegiatan terus dan tetap berlanjut.

"Ya pasti tahu Pak. Tadi orangtua asuhku juga mengingatkan agar hari ini tidak pergi ke kebun untuk bekerja." Jawab anak itu. 

"Terus, apa yang menjadi motivasi kalian tetap pergi ke kebun dan memaksa orangtua asuhmu menemani?" Desak guru dengan penuh penasaran. Karena dari sekian anak yang menjadi peserta menginap, hanya ada dua anak yang berpikirnya berbeda. Sementara anak yang lan telah siap menyambut kepulangan mereka ke Jakarta, justru masih ada dua anak yang tidak menghiraukan jadwal penutupan kegiatan? Mengherankan. 

Kedua anak yang ditanya itu diam saja. Mungkin mereka berdua sedang berpikir menyusun kalimat yang tepat untuk pertanyaan guru yang ada di depannya. Sementara teman-teman lainnya di halaman masjid terus sibuk melakukan kegiatan baksosnya.

"Saya hanya merasa betah tinggal di sini dengan kegaiatan di kebun bersama orangtua asuh kami Pak. Saya pikir saya akan tetap di sini. Saya merasa bosan sekali tinggal di Jakarta. Yang untuk saya kegiatannya selain ke mall hanya main game. Di sini? Saya selalu dapat membantu orangtua asuh bekerja di kebun." Jawaban anak itu membuat guru yang ada di depannya kehabisan kalimat untuk menimpalinya. Ia hanya terdiam sebelum akhirnya berkata singkat kepada kedua anak yang ada di depannya; "Ya sudah, sekarang kalian bergabung dengan kelompok kalian." Dan percakapan itu pun selesai.

Jakarta, 7 Desember 2015.

04 December 2015

Kinerja #12; Terlalu Percaya Diri ketika Menilai Diri Sendiri

Salah satu dari penilai dari penilaian kinerja di sekolah saya adalah teman-teman harus menilai diri mereka sendiri dengan form self Assessment yang kita berikan. Alhamdulillah bahwa tujuan untuk menilai diri sendiri ini sekaligus nantinya menjadi bahan diskusi bersama manajemen masing-masing. Supaya ada cara pandang yang sama berkenaan dengan parameter yang digunakan. Jangan sampai ketika yang menilai hanya atasannya, maka ada teman di bawah yang mencurigai akan kompetensi dan sikap akuntabilitas atasannya.

Dan ketika form self Assessment  kami gunakan, ada beberapa hal menatrik yang harus saya jadikan kenangan. Setidaknya agar di tahun berikutnya saya dapat menjadikan hal itu sebagai masukan bagi pengembangan alat pengukur kinerja teman-teman guru dan karyawan di sekolah, yang lebih baik dalam validitas dan reliabilitasnya alat ukurnya. Juga lebih dapat dan mudah dipahami bagi karyawan.

Hal yang ingin saya sampaikan disini berkenaan dengan self Assessment  itu adalah; berkenaan dengan salah satu teman yang mengisi self assessmentnya dengan selalu pada level sangat baik. Dan ketika hal itu saya tanyakan kepada yang bersangkutan, apakah ia benar-benar percaya diri untuk berada di level sangat baik dengan dukungan data dan fakta atau hanya sekedar mengisi? Tetapi sahabat saya itu benar-benar yakin bahwa level kinerjanya di tahun ini memang sangat baik. Lalu saya mencobanya untuk mengupas satu-satu dari indikator kinerjanya itu. Dan yang paling menjadi catatan saya disini adalah pada poin kedatangan atau kehadiran. 

Saya: Benar, bahwa Bapak yakin dalam semester ini tidak  datang terlambat ke kantor?
Saya: Apakah Bapak percaya diri dengan isian kinerja ini?
Dia : Iya yakinlah Pak. Percaya dirilah. Makanya saya isi dengan nilai maksimal.
Saya: Jam berapa ya Pak batas terlambat masuk jam kantor itu?
Dia : Ya seperti biasa Pak. Jam 07.30.
Saya: O... Jadi selama semester ini Bapak selalu datang sebelum pukul 07.30 ya.
Dia : Ya sekali dua kali saja lewat dari jam itu.
Saya: Hanya sekali atau dua kali saja Pak?
Dia: Ya sepertinya seperti itu Pak.

Diskusi saya tidak berhenti disitu. Karena saya segera mengeluarkan beberapa catatan berkenaan dengan yang bersangkutan. Dan salah satu yang saya punya adalah resume kehadiran seluruh pegawai. Dan alangkah kagetnya bahwa yang bersangkutan ternyata pernah terlambat masuk kantor sebanyak 9 hari kerja sepanjang bulan Juni-Nopember 2015!

Dan kalau dengan catatan terlambat sebegitu banyaknya, maka tidak ada kolom yang cukup untuk pegawai dengan jumlah keterlambatan yang ada. Maka saya katakan kepada teman tersebut bahwa nilainya untuk indikator jam kehadirannya ke kantor adalah nilai yang jauh dari apa yang dia buat di dalam form self Assessment .

Saya: Ini namanya Bapak terlalu percaya diri pada saat mengisi penilaian untuk diri sendiri. Dan ini menjadi tidak adil...

Jakarta, 4 Desember 2015.

01 December 2015

Kinerja #11; Keterlambatan

Untuk akhir tahun seperti sekarang ini, dimana telah masuk awal Desember, maka tugas yang harus saya selesaikan adalah membuat kompilasi kinerja dari seluruh bagian yang ada. Dan ini meski rutin kami lakukan makan bukan dokumentasi data yang perlu menjadi perhatian utama untuk masa kedepannya, tetapi adalah poin dari salah satu format kinerja yang kami buat, yaitu disiplin.

Dan disiplin sebagai salah satu indikator kinerja, bentuk yang paling sering menjadi perhatian kami adalah terlambat datang ke kantor atau pulang lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Dan bagi guru masalah yang lain adalah datang masuk kelas untuk mengajar. Tentunya selain bentuk disiplin lainnya sebagai pegawai.

Dalam sebuah lembaga, yang mengharuskan memiliki daya saing dari lembaga sejenis lainnya untuk modal eksis yang berkelanjutan, maka guru dan karyawan menjadi modal utama. Maka keberadaan teman-teman tepat waktu di lokasi tugasnya masing-masing guna melakukan kegiatan profesionalnya, menjadi perhatian utama.

Sebagaimana yang terjadi di belahan lokasi kerja lainnya, bahwa ketika anak-anak berada di dalam kelas tanpa ada guru yang seharusnya membelajarkan mereka, maka kondisi ini akan menjadi cerita buruk dimata anak-anak dan orangtuanya jika berlangsung secara berulang. Dam cerita buruk itu menjadi berita buruk pula dikemudian hari, terutama dimasa penerimaan siswa baru. Meski pada awal jam masuk sekolah semua guru dan karyawan telah tertib absensi.

Untuk itulah, maka saya dan teman-teman begitu mengkawatirkan tumbuhnya perilaku yang kurang baik, yang berkisar diseputar keterlambatan tersebut. Baik keterlambatan karena kemacetan lalu lintas, keterlambatan karena ban sepeda motor yang tiba-tiba bocor, dan lain-lain. Tentunya jika itu terjadi secara berulang. 

Itulah yang pada akhirnya ada masukan-masukan unik, seperti;
1. Untuk apa datang tepat waktu tetapi tidak produktif?
2. Untuk apa datang tidak terlambat kalau ternyata malas?
3. O... jadi hanya kedatangnya saja yang menjadi perhatian manajemen?

Pendek kata, bagi saya, jangan bicara produktif, kerja keras, pintar, atau profesional, kalau disiplin datang ke kantor saja masih terlambat. Karena bagi kedatangan adalah pintu gerbang bagi pegawai untuk pintar, disiplin, produktif, atau profesional. Semoga.

Jakarta, 1 Desember 2015.

30 November 2015

Belajar Tuntas

Beberapa waktu lalu saya diajak teman untuk melihat secara langsung cara dan model drilling materi pelajaran sebagai wahana dalam mencapai tujuan belajar tuntas. Dan dalam kesempatan itu pula saya menjadi teringat di dekade tahun 90an, disaat saya mengajar di kelas dua SD. Dimana salah satu sumber belajar dari mapel Matematika adalah buku yang menyuguhkan model mencapai belajar tuntas. Maka sekembali dari kunjungan tersebut, melalui jasa telepon seluler, saya kembali menemukan buku yang di awal karir saya sebagai guru tersebut.

Dan setelah semua melalui perenungan ulang, maka saya memutuskan untuk melakukan beberapa hal yang memang menjadi tujuan dari pembelajaran, serta meminimalisir beberapa hal agar pembelajaran tetap bertumpu  kepada proses. Lalu bagaimana pengertiannya?

Bahwa kita ketahui bersama, apa yang menjadi keinginan Kurikulum baru untuk menekankan kepada peserta didik memiliki semangat eksplorasi untuk sebuah pegetahuan yang ingin dimiliki. Dan ending dari pembelajaran di tahun terakhir anak-anak di jenjang SD, SMP, dan SMA, adalah ujian nasional dengan model tes pilihan ganda.

Dengan melihat kenyataan itu, langkah yang kami, saya dan teman-teman di sekolah, lakukan adalag dengan membelajarkan anak-anak di kelas awal dan menjelang akhir sebagaimana yang menjadi tuntutan Kurikulum, sementara untuk mempersiapkan anak-anak di tahun terakhir sebagai persiapan ujian adalah dengan kombinasi pengayaan.

Kami katakan sebagai kombinasi, karena dalam prosesnya anak-anak tidak selalu dihadapkan kepada latihan-latihan soal sebagaimana yang menjamur sebagai larangan usaha. Tetapi juga menembak kepada kompetensi dasar anak-anak dalam menguasai kemampuan dasar.

Itulah yang menjadi kombinasi kami di lapangan. Dan ketika anak-anak dipersiapkan kepada kemampuan dasarnya, maka itu menjadi modal mereka untuk percaya diri dalam menghadapi berbagai tingkat kesulitan soal yang muncul di latihan-latihan soal, termasuk di Ujian Nasional nanti. Semoga.

Jakarta, 30 Nopember 2015.

18 November 2015

Namnam dan Mundu

Sudah ada harapan bahwa tanaman Namnam dan Mundu yang saya dapatkan dari biji buah yang dibawa dari kampung sebagai buah tangan saudara ketika mudik Idul Fitri tahun 2015 ini mulai tumbuh. Dan meski tergolong lambat ia tumbuh, tetapi sangat saya harapkan. Mungkin karena ada di teras belakang rumah dengan terik matahari yang tidak begitu menyengat.

Dua tumbuhan yang menjadi hiasan hidup bagi kami, saya dan teman-teman, ketika bersama-sama tumbuh di kampung halaman. Pohon mundu itu menjadi bagian penting disaat malam pulang dari pertemuan bersama di ujung kampung. Karena hanya tetangga rumah teman saja di kampung kami yang memiliki pohon mundu dengan buahnya yang ditunggu hingga kekuning-kuningan.
Namnam

Juga memanjat pohon Namnam yang seperti kalah cepat dengan pertumbuhan kami sendiri. Pohon ini seperti tidak bertambah tinggi atau bertambah lebar. Selain hanya buahnya yang berasa asam itu silih berganti. 
Mundu

Dan sekarang, dari tunas itulah saya menanam harapan untuk generasi anak dan cucu meihat keunikan dan eksotisme pohon yang dulu ketika kecil menemani kami di kampung halaman. Semoga. 

Jakarta, 18.11.2015

13 November 2015

Belajar Menginap #16; Jagain Solat

Senin, 9 Nopember 2015, pukul 13.00, anak-anak sudah siap berada di Masjid untuk melaksanakan Solat Jamaah Qoshor. Hari itu menjadi hari pertama kegiatan menginap di rumah orangtua asuh yang berada di Kampung Dandang, Desa Pulosari, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sebuah wilayah yang bersuhu sangat sejuk dan cenderung dingin untuk kami semua yang sehari-hari hidup di Jakarta. Ditambah pada saat akan dilaksanakan upacara pembukaan kegiatan, langit amat gelap dan rintik hujan mulai mengguyur wilayah Pengalengan.

Dan pada saat barusan solat telah rapi, ada salah satu dari anak didik kami yang pamit akan ke belakang karena tidak kuat lagi menahan hajat.

"Pak tungguin saya dulu Pak. Jangan dimulai. Nanti saya tertinggal solat. Saya akan ke belakang dulu." Begitu seorang anak pamit kepada guru yang berdiri paling depan untuk memimpin solat.

"Tidak apa-apa. Silahkan ke belakang. Nanti kamu bisa ikuti kita semua. Lengkapi sdaja rakaat yang kamu tertinggal." Begitu Pak Guru menjawab izin dari siswanya. Artinya, Pak Guru akan segera memulai solat tanpa harus menunggu anak tersebut kembali dari kamar mandi. 

"Tidak bisa Pak. Karena Bapak akan Solat Qoshar. Saya nanti bisa tertinggal solatnya Pak. Bukan tertinggal rakaatnya." Anak tersebut tetap berdiri di tempat solatnya yang berasa persis dibelakang samping Pak Guru yang menjadi imam.

Benar saja, ketika anak itu berjalan keluar masjid menuju ruang bilas, Pak Guru segera Takbiratul ihram. Solat dimulai. Dan semua makmum mengikuti imam. Saya sendiri berada pada barisan paling belakang dan dekat dengan pintu utama masjid. Sampai dua rakaat solat Dzuhur selesai, siswa yang tadi pamit kebelakang telah kembali. Persis disamping saya ia bertanya tentang bagaimana harus mengejar dua rakaat Dzuhur yang tertinggal. Karena imam akan kembali ber-Takbiratul ihram.

"Kita selesaikan terlebih dahulu dua rakaat ini dan kemudian kembali sholat Dzuhur yang kamu tertinggal." Jelas saya.

"Tapi bagaimana dengan teman-teman yang lain. Mereka pasti akan mengganggu ketika saya solat sendiri?"

Saya tentu tidak bisa lagi menjawab apa yang menjadi pertanyaan siswa saya tersebut. Karena pada saat sama, saya telah menjadi makmumnya imam. Sampai dengan dua rakaat berikutnya selesai, saya benar-benar memenuhi janji untuk mengawasi siswa saya yang harus menambah dua rakaat setelah semua temannya selesai. Beberapa temannya yang duduk di baris depan mencoba untuk mengganggu. Tetapi seperti janji saya kepada siswa istimewa saya itu, saya menjadi penjaga solatnya yang tertinggal dari jamaah.

Jakarta, 13 Nopember 2015.

12 November 2015

Belajar Mengiap #15; Ikan Saya Mana?

Bermula ketika saya berada di teras rumah yang dijadikan sebagai base camp bagi guru laki-laki, saya memergoki anak-anak dengan bawaannya masing-masing, diantaranya satu bakul dengan nasi di dalamnya. Ini karena saya baru beberapa saat kembali dari sebuah rumah yang menjadi lokasi pengembangan jamur tiram. Dan kebetulan pula bahwa empat siswa kelas VII itu bekerja sebagai pegawai di pengembangan jamur tiram tersebut.

Pertemuan dengan anak-anak itu tidak lain dalam sebuah kegiatan Belajar Menginap tahun 2015 yang berlokasi di Kampung Dandang, Pulosari, Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa SMP,  dimana saya berada di dalamnya dan juga seluruh guru sebagai pendamping anak-anak, termasuk saya.  

Makan Siang

Karena pemandangan itu menarik perhatian saya, maka segera saya kembali mengenakan sandal dan berjalan di belakang anak-anak itu menuju rumah Pak Taufik yang menjadi lokasi pengembangan jamur tersebut. Sesampai di halaman rumah Pak Taufik, anak-anak segera menuju ruang tamu untuk makan bersama bekal yang disiapkan oleh orangtua asuh yang dibawanya. Saya tidak langsung menemani anak-anak makan tetapi masuk ke ruang belakang yang kebetulan sedang ada dua kegiatan.

Di ruang garasi, seorang pegawai sedang menjaga perapian agar selalu menyala. Perapian itu untuk memanaskan air yang ada dalam tungku yang uap dari tungkunya mereka salurkan untuk pengasapan media jamur yang tertata rapi dalam sebuah wadah disebelahnya. Sedang di rumah belakang, dua orang pekerja sedang memasukkan serbuk kayu yang menjadi bahan dasar media tumbuhnya jamur tiram ke dalam plastik.

Dan setelah puas bercengkerama dengan tiga orag tersebut, saya menemui empat anak didik saya yang sedang asik makan siang di ruang tamu. 

"Wah seru sekali kalian makannya. Kalian hebat ya. Makan bekal dari orangtua asuh dengan kidmat." Tegur saya kepada empat anak yang duduk di meja tamu mengitari nasi dan lauknya.

"Iya Pak. Ayo ikut makan Pak." Ajak seorang dari empat anak itu dengan santun. Kalimat indah yang terucap dari anak Jakarta. Pikir saya.

"Apa yang kalian makan?" Lanjut saya.
"Nasi, ikan, bergedel jagung, tempe goreng, dan sayur Pak." Jawab seorang anak yang menjadi ketua dalam kelompok itu. Dan satu persatu saya liat apa yang disebutnya. Bahwa tempe goreng yang dimaksud adalah tempe orek. Dan ikan yang dimaksud adalah ikan bandeng goreng.

"Ikan saya mana?" Tanya salah seorang dari mereka yang ketika mengambil lauk tidak kebagian ikan yag tadi disajikan di meja. Dan benar saja. Karena satu ekor ikan bandeng goreng yang tersaji sudah berad di piring dua anak. Seorang anak mendapat potongan bagian kepala sedang anak yang satunya mendapat bagian ekor.

"Iya. Aku juga belum dapat ikannya." Kata anak yang satu lagi. Saya diam saja menyaksikan pemandangan ini. Sambil senyum-senyum, saya melihat reaksi dua anak yang terlanjur membagi dua satu ekor ikan bandeng goreng itu. Dan masing-masing dari dua anak itu secara sadar membagi bagian ikannya kepada teman yang belum kebagian. Saya bahagia sekali melihat momen itu. Luar biasa menggembirakan.

Jakarta, 12 Nopember 2015

Belajar Menginap #14; Memelihara Sapi

Dalam kegiatan belajar menginap di rumah penduduk di hari kedua, yaitu hari pertama dalam siklus hidup di lokasi, yang pada tahun 2015 ini mengambil tempat di desa Pulosari, anak-anak telah berperan secara normal dengan mengikuti  hidup sebagaimana orangtua asuh mereka menjalani hidupnya. Dan dengan rasa ingin tahu banyak tentang bagaimana anak-anak didik kami menjalani hari pertamanya sebagai warga desa, maka sejak pagi hari saya telah berputar-putar mengitari empat RT yang menjadi penyebaran anak-anak didik kami tinggal.

Pertama keluar rumah, saya mengambil jalan setapak yang berada diantara kebun kopi dan sebuah rumah tidak berpenghuni. Sebagai pagar pekarangan, ditanami diantaranya rumput gajah yang baru saja dipangkas untuk pakan ternak. Saya ingin tahu saja akan berada dimana ujung dari jalan itu. Dan tidak lebih dari 70 meter, disebelah kanan jalan setapak itu, saya bertemu rumah dengan tanpa pagar selain pagar hidup. Pintu pagar tidak lebih dari 90 cm, terbuat dari anyaman bambu. disamping pagar terdapat tanaman jeruk gulung yang dengan berbuah. 

Saya mencoba permisi dan masuk ke pekarangan rumah sebelum akhirnya tiga siswa kelas VII memanggil saya. Di tangan salah satu siswa itu memegang gelas berisi susu yang tidak penuh tetapi juga tidak kosong.

"Pak Agus." panggil salah seorang dari tiga anak tersebut. Mereka keluar dari ruang dalam menuju ruang tamu yang mereka sulap menjadi tempat mereka, anak-anak itu tidur. 

"Apa yang sedang kalian lakukan pagi ini?" Tanya saya kepada ketiganya. Orangtua asuh dari ketiga anak itu adalah peternak sapi perah yang terdiri dari sepasang kakek dan nenek. Keluarga itu memelihara dua ekor sapi perah dan satu ekor anak sapi jantan yang tengah digemukkan. Tiga ekor sapi itu berada di bagian belakang rumah dengan pekarangan yang tidak lebih dari 200 meter persegi.

"Kami selesai mengantar hasil perahan susu sapi Pak di bawah." Jawab salah seorang dari ketiga anak itu. Bawah yang dimaksud mereka adalah lokasi truk pengepul susu yang lokasi parkirnya berada di bawah kampung Dandang di desa itu. Setiap pagi dan sore, truk itu akan mangkal disana menunggu warga desa anggota KPBS, nama koperasi para peternak, untuk mengumpulkan hasil perahan susu.

"Orangtua kami sedang mengasah sabit Pak. Sebentar lagi kami akan pergi ke ladang guna mencari rumput untuk ternak sapinya. Apakah Bapak ingin ikut?" Lanjut anak yang lain dan memberikan penjelasan.

"Terimakasih. Pak Agus akan mencoba jalan ini untuk bertemu teman kalian yang lain." Kata saya lalu pamit. Saya keluar pekarangan rumah itu melalui jalan yang berbeda. Jalan yang terlihat jarang dilalui.

Sembari keluar dari keluarga peternak 3 sapi tersebut, saya bersyukur bahwa ketiga anak didik saya yang berada di keluarga itu begitu menikmati perannya sebagai peternak sapi. 

Jakarta, 12 Nopember 2015.

Belajar Menginap #13; Lebih Bagus dari Harapan Saya

"Bagaimana kondisimu Nak? Apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya kami sebagai guru ketika bertemu dengan salah satu siswa yang kebetulan melintas di base camp guru laki-laki dalam sebuah kegiatan menginap di rumah penduduk yang berlokasi di sebuah RW di Desa Pulosari, Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Pertanyaan ini juga kami sampaikan ketika kami berjumpa degan anak-anak yang baru saja masuk dan bertemu di rumah orangtua asuhnya masing-masing. Dan pada saat pertanyaan kami itu kami sampaikan kepada anak, itu adalah jam 15.00. Yang berarti baru dua jam anak-anak tersebut masuk ke rumah orangtua asuhnya. Maka ketika mendengar jawaban seorang anak yang kami temui tersebut, itu menerbitkan rasa optimisme guru akan daya juang seorang siswanya.

Mengapa? Karena dalam kegiatan ini, kami telah bersiap untuk menghadap kegagapan anak-anak ketika harus tinggal di sebuah keluarga di sebuah desa yang pasti asing sekali untuk anak-anak yang sejak lahir hingga mereka duduk di bangku SMP kami untuk beberapa waktu. Bahkan, kelakar teman guru, anak-anak kami itu tidak mengenal apa itu gayung!
Dataran yang berada diketinggian lebih kurang 1.300 meter dpl, membuat air yang ada di dalam bak mandi warga begitu menakutkan untuk kulit kami ketika berniat ingin mandi. Hingga membuat sebagian kami memilih untuk tidak mandi!

"Alhamdulillah Pak. Saya bersyukur sekali. Bahwa kondisi rumah orangtua asuh saya jauh lebih baik dari bayangan saya sebelumnya. Saya merasa nyaman untuk semua halnya Pak." Jawabnya dengan mantap. Sebuah jawaban yang pasti juga menenteramkan kami sebagai gurunya.

Jawaban sederhana itu juga menerbitkan pelajaran untuk saya pribadi, yaitu bagaimana cara pandang seorang anak didik terhadap yang banyak ditakutkan rata-rata temannya di kegiatan semacam itu. Bagaimana ia begitu memiliki kerendahan hati untuk menetapkan ekspektasi kenyamanan untuk tinggal di sebuah rumah warga di sebuah desa yang jauh dari Jakarta. Belajar tentang ketahanan batin. Semoga. Amin.

Jakarta, 12 Nopember 2015.

Belajar Menginap #12; Nangis Guling-Guling

Hari pertama dalam kegiatan siswa, saya mendapat pengalaman unik secara langsung di lokasi kegiatan menginap siswa di Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ini ketika teman-teman guru melakukan evaluasi kepada seluruh siswa atas kegiatan yang baru dimulai pukul 13.00. Evaluasi dilakukan di Masjid RW O1, Desa Pulosari seusai waktu Isyak.

Guru memberi waktu kepada anak-anak untuk mengabarkan kepada orangtua masing-masing lebih kurang 10 menit setelah mereka mendapatkan selulernya masing-masing yang sebelumnya dikumpulkan di Guru Kelasnya. Kesempatan itu selain memberikan kabar juga untuk menghapus kangen orangtua dan anak. Tentu itu menjadi momen yang seru. Anak-anak dengan penuh antusias memberikan kabar dan menceritakan laporan pandangan matanya selama lebih kurang 7 jam di lokasi kegiatan.

Anak-anak juga bercerita tentang keluarga asuhnya di lokasi kegiatan juga termasuk kondisi keluarga, rumah dan tentunya ruang belakang yang sering menjadi keluhan terbesar dalam kegiatan semacam itu. Namun pada malam itu, saya tidak banyak melihat wajah-wajah kecewa dan muram kecuali pada salah satu anak. Rata-rata wajah yang terpancar ketika menyampaikan kabar via selulernya adalah wajah-wajah yang berhias senyum.

Pemandangan indah dengan suhu yang sangat sejuk. Malam hari dengan rata-rata suhu 17 derajat celcius.
Dengan dengan keadaan anak yang nangis berguling-guling di emperan masjid, guru menunggu hingga suasana sedikit reda. Karena anak tersebut masih memegang selulernya dan meminta orangtuanya yang di Jakarta segera datang ke lokasi kegiatan guna menjemputnya kembali pulang. "Aku tidak betah." begitu kira-kira kalimat yang keluar di telepon.

Dan ketika situasi lebih reda dan nyaman, Guru memanggil teman satu rumah di lokasi kegiatan, dan bertanya tentang kondisi rumah serta orangtua asuhnya. 

Guru : Bagaimana kondisi rumahmu disini? Apa pendapatmu?
Anak: Rumah kami lumayan baik Pak. Ubinnya sudah keramik seperti lantai masjid ini.
Guru : Orangtua asuh kalian?
Anak: Baik Pak. Mereka menyiapkan makan ketika kami datang tadi siang. Juga ketika kami
           sebelum datang di acara ini. Mereka meminta kami untuk makan dahulu.
Guru : Bagaimana dengan toiletnya?
Anak: Alhamdulilah ada Pak. Sudah ada kamar mandi di dalam rumah.

Anak yang sedang merajuk minta pulang itu, dibiarkannya mengatur irama emosi dengan mendengarkan ungkapan pendapat dan perasaan teman satu rumahnya. Meski tidak menyatakan sepatah katapun, guru menginginkan agar percapakannya itu direkam di benak anak yang merajuk tersebut.

Saya tentunya kagum dan gembira bahwa saya mendapat satu strategi dari teman guru dalam meredam gejolak perasaan dan emosi anak-anak dalam sebuah kegiatan yang menuntut anak-anak harus meninggalkan rumah dan bermalam. Tentu berat. Terimakasih.

Jakarta, 12 Nopember 2015.

11 November 2015

Belajar Menginap #11; Pulosari

Minggu, 8 Nopember 2015, saya berkesempatan untuk berkunjung dan bertemu dengan Bapak-Bapak yang tinggal di sebuah RW di desa Pulosari, Pengalengan, Kabupaten Bandung. Sebuah kesempatan yang menyenangkan dapat bertandang di lokasi yang akan menjadi tempat kegiatan anak-anak didik kami tinggal selama empat hari tiga malam. Dan pengalaman menyenangkan itu tentunya tidak segera akan hasa hapus dari ingatan. Ini karena lokasi ini adalah lokasi yang mengikat batin kami di sekolah dengan warga yang tinggal di sana. Juga lokasi indah dengan suhu rata-rata 19 derajat di awal Nopember, awal hujan turun sangat lebat di desa itu sehingga membuat kami mengenakan sweter seharian.

Setidaknya inilah kenangan itu;
Sebuah pamandangan dari samping rumah penduiduk di Pulosari, Pengalengan.
Kentang, menjadi menu andalan untuk kami yang pendatang. Direbus kemudian ditaburi daun seledri. Atau digoreng kemudian dihidangkan bersamaan dengan sambal dari warung. 
Sebuah kunjungan untuk kulonuwun kepada yang berwenang di Pulosari.

Jakarta, 11.11.2015

05 November 2015

Membujuk untuk Berani

"Saya menyarankan agar semua kita mau dan berani mencoba semua apa yang telah panitia siapkan untuk kita lakukan di lokasi outing ya." Begitulah kalimat yang saya pakai untuk mendorong semua teman menhalani program outing kami ke Pangandaran. Dimana memang itulah yang dihimbau oleh panitia kepada semua peserta. Karena semua program untuk kami telah menjadi hitungan panitia dengan pemandu yang ada baik di Green Canyon atau juga di Pasir Putih.

Yaitu kegiatan untuk berenang di ujung Green Canyon, yang tentunya dengan mengenakan pelampungnya masing-masing atau juga mengarungi Samudra Indonesia dengan perahu nelayan di Pantai Barat Pangandaran hingga ke Pasir Putih. Dan sebelum kami berangkat dari sekolah, banyak suara dari teman yang mengeluh takut untuk masuk ke dalam air dan berenang. Maka di hari menjelang keberangkatan kami, saya diminta memberikan motivasi kepada teman-teman.

"Saya tidak bisa berenang Pak" Begitu kata teman.

"Tidak perlu kepintaran berenang dengan pelampung yang sudah ada. Ikuti saja tali yang membentang dan telah disiapkan oleh pemandunya." Begitu saya memberikan kebesaran hati. Ini juga yang dilakukan oleh para pemandu yang memang ingin sekali kami semua menikmati dinginnya air di lokasi Green Canyon tersebut.

Dan alhamdulillah bahwa akhirnya semua dari kami nyebur ke dalam air. Berenang. Bahkan beberapa dari kami berani untuk naik ke air terjun dan kemudian melompat ke bawah. Memang bukan hal yang istimewa karena sebagian dari kami pernah melakukan itu ketika kami masih kecil dan tinggal di desa. 

Tetapi dalam kondisi sekarang dimana kami telah memasuki usia yang tida lagi muda? Maka belajar berani itulah yang menjadi hal baru yang kami ulangi untuk kami lakukan. Dan dalam kegiatan pergi bersama itu, menjadi wadah atau wahana bagi kami untuk bersama menikmati apa yang sebelumnya kami ragukan bahwa kami yakin mampu melakukannya. 

Jakarta, 25 Oktober-4 Nopember 2015.

Berprinsip

Prinsip yang dipegang teguh, akan membantu pembuatan keputusan dan pemecahan konflik walaupun konsekuensinya tetap ada dan harus ditanggung.” Begitulah yang ditulis oleh Eileen Rachman di Rubrik Kerier, Koran Kompas,  Sabtu, 17 Oktober 2015.

Kutipan itu mengingatkan saya pada dialog antara dua siswa ketika kami berada di kantin, disaat istirahat pagi. Kira-kira beginilah dialog;

A: Mengapa kamu membuat ‘karya’ itu disaat    kita sedang sibuk ulangan?
B: Tidak apa-apa. Aku tidak merasa terganggu dengan membuat itu disaat ulangan.

Begitulah kira-kit\ra penggalan dialog dua sahabat tadi. Saya tertegun dengan kalimat yang disampaikan A kepada B. Karena ingin tahu, maka saya bertanya kepada seorang Anak (A) tentang yang dia maksud dari kalimatnya tersebut.

Saya: Mengapa pertanyaannmu seperti itu?
Anak: Iya pak. Soalnya nanti dia kan tidak fokus. Karena sekarang sedang sibuk ulangan.
Saya: Kalau menurutmu harusnya bagaimana?
Anak: Kalau saya, karena sekarang ulangan jadi saya hanya bersiap untuk ulangan saja Pak.       Karena saya ingin nilai yang baik. Karena saya ingin masuk sekolah yang bagus. 
          Supaya saya bisa masuk di Kedokteran, seperti saudara saya Pak.

Saya tertegun lagi dengan apa yang dikemukakan. Diusianya yang masih duduk di kelas VI, ia sudah memiliki visi dan arah yang akan dituju. Mungkin itulah salah satu  indikator bahwa A adalah anak yang memiliki prinsip, menurut kutipan di awal tulisan ini.

Dari sini, saya belajar banyak dari mendengar dialog dua sahabat itu. Belajar bagaimana anak itu telah memiliki pendirian. Terbayang oleh saya bagaimana pola dialog siswa  itu dengan lingkungan sekitarnya. Bacaan yang sudah dia baca sehingga menjadikannya seperti itu. Terimakasih.


Jakarta, 4 Nopember 2015.