Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 Maret 2009

Takut Dicontek

Nah ini penyakit yang sering nyerang bagi siapa saja, bisa juga sebuah sekolah, yang menganggap diri telah maju atau minimal lebih maju dari yang lain. Karena telah merasa memperoleh kemajuan tersebut, maka takut sekali kemajuan yang telah dipunyai dengan penuh pengorbanan dan investasi yang mungkin tidak terhitung sedikit, menjadikan dirinya takut disamai atau takut kemajuannya dicontek sekolah lain. Model sepertin memang tetap sah-sah saja. Apalagi sebagai sekolag atau lembaga swasta, yang segala daya dan upayanya akan memiliki akibat lurus bagi masa depannya.

Bagaimana cara menyimpannya?

Ada yang menyimpan rapat-rapat apa yang telah dimilikinya dan ditutup secermat mungkin dan mengontrol amat lekat arus data dan informasi yang dianggapnya sebagai 'pembeda' yang masuk dalam kategori kemajuan.Ada juga yang menyimpan kemajuan tersebut hanya pada satu orang. Sehingga tidak semua guru atau karyawan apalagi tamu serta pengunjung mampu dan diberikan akses. Pendek kata kemajuan yang telah diperoleh menjadi rahasia bagi sebuah keberhasilannya. Oleh karenanya kepada seluruh komunitas sekolah dimintanya untuk menyimpan apa yang menjadi resep keberhasilan sekolah tersebut.

Beberapa tahun yang telah lalu saya berkesempatan untuk memperdebatkan apakah para tamu kunjungan dari sekolah lain diijinkan mengambil foto, meminta dokumen dalam bentuk foto copy dan bentuk lainnya. Seusai perdebatan, kami memutuskan bahwa apapun yang diminta tamu yang mengunjungi sekolah kita akan kita berikan dalam batas kewajaran.

Mengapa? Karena yang mereka minta adalah sekedar dokumen. Yang dapat digandakan dan dibagikan kepada pihak lain sebagai hasil studi banding. Tetapi ruh dokumen dari dokumen tersebut tidak akan mungkin ditransfer dalam konstelasi yang berbeda. Karena untuk melakukan hal itu dibutuhkan 'cita rasa' yang sama.

Dan ruh itu ada dalam proses ketika dokumen tersebut diproduksi. Dan kualitas ruh tersebut hanya lahir dari orang-orang yang bekerja penuh dedikasi serta integritas.
Dengan argumentasi seperti ini, maka saya tidak pernah mempunyai rasa takut untuk dicontek.

Alasan pertama; karena saya sendiri (dan mungkin juga lembaga dimana saya bernaung) tidak memiliki sesuatu yang mungkin dapat dicontek.dAlasan kedua; contek dan foto copilah apa yang mungkin kami punya. Karena toh tahun atau mungkin juga bulan depan kami akan berkumpul kembali untuk merumuskan apa yang kami inginkan terjadi di tahun taubulan berikutnya.

Pulomas, 31 Maret 2009.

26 Maret 2009

Menjadi Tukang Ketik


Inilah pekerjaan yang saya lakukan dalam setiap perumusan program sekolah untuk masa tahun pelajaran berikutnya. Tapi tidak hanya saya sendiri yang menjadi tukang ketik tersebut. Mengingat ada beberapa bidang dalam program sekolah tersebut, maka konsekuensinya juga ada lebih dari satu tukang ketik.

Seperti dalam dua kali pelaksanaan 'workshop' guru di TUGASKU yang telah lalu. Dimana guru dalam setiap unitnya kita bagi menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok yang akan menyusun Standar Kompetensi Siswa dan kelompok yang akan menyusun Standar Kompetensi Guru. Dimana dalam setiap kelompok tersebut dibekali sumber yang berbeda. Untuk kelompok siswa dibekali SKL dan Standar Isi dari BNSP. Sedang kelompok Guru dibelkali Standar Kompetensi Guru dari Depdiknas. Sekaligus dengan sumber yang berbeda, serta tentunya, tukang ketik sebagai pendamping masing-masing kelompok yang berbeda pula.

Apa hasilnya? Dalam dua pertemuan terdahulu kita telah menghasilkan dua produk berharga hasil dari kompilasi pendapat para dewan guru yang terkumpul sebagai dokumentasi hasil workshop. Yaitu SKS dan SKG. Hasil ini kami kembangkan sebagai lanjutannya, yaitu KTSP dan Sistem Penilaian Kinerja atau SPK.

Dalam KTSP, selain SKS yang telah kita hasilkan, kita juga akan menjadikan dokumen KTSP sebelumnya dan silabus guru sebagai bahan revisi. Sedang SPK akan mengacu kepada SKG yang ada selain juga akan merevisi SPK sebelumnya. Dan dua hal ini berhasil kami lakukan dalam workshop guru pada Jumat, 27 Maret 2009.

Kami berharap semoga apa yang telah dihasilkan teman-teman dalam workshop tersebut dapat menjadi peta perjalanan kita dalam proses pertumbuhan. Dan saya sangat bahagia ketika berperan sebagai tukang ketik bagi teman-teman dalam usaha pendokumenasian mimpi teman-teman semua.

Cipete, 26-27 Maret 2009 (17.00).

19 Maret 2009

Persahabatan

Kami pernah selama tiga tahun penuh bersama sebagai sahabat ketika usia kami 16-18/19 tahun. Ketika kami berada di bangku sekolah menengah. Ada diantara kami yang sejak kelas 1 hingga kelas 3nya selalu bersama dalam satu kelas. Namun banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. hingga menginap bersama. Terutama saat kami menginjak di bangku kelas tiga. Dimana kami sama-sama mempersiapkan ujian. Terutama di rumah kawan kami yang hidup sendiri di Kalimiru karena orangtuanya berada di Lahat (?). 
 
Namun untuk terus memelihara persahatan kami, selain ber sms atau email, kami menyempatkan diri untuk saling mengunjungi saat kami bisa pulang kampung. Dan Idul Fitri adalah waktu paling tepat bagi kami untuk menjalin silaturahim.
Foto ini diambil saat liburan Idul Fitri 2008 yang lalu. Kami sempatkan untuk berkumpul. meski dalam kondisi kelelahan. Dari kiri ke kanan: Sutomo, teman kami yang setia dengan tanah kelahirannya. Ia menjadi Guru dan bertugas dan tinggal di Cangkrep Kidol; Saya; Pujiono, sahabat kami yang merantau paling jauh. Ia sekarang di Bengkulu; Heri Pranoto, mengajar di Bayan dan sekaligus sebagai reporter media TV. Nah beliau adalah orang yang paling lelah malam itu. Mengingat saat lebaran adalah saat paling 'banyak berita'. Makanya kawan kami Pujiono yang bertugas menunggu dan membawa beliau sepulang dari 'lahan bertia' di Kebumen; dan yang paling kanan Suryono, mengajar dan tinggal di Bayan.

18 Maret 2009

Mengajar Kelas I SD

Inilah pengalaman yang sebelumnya tidak terbayangkan. Tidak terbayangkan karena saya sendiri adalah guru muda yang baru lulus dari Sekolah Pendidikan Guru pada Juni 1984 dan penawaran itu saya terima pada Juni 1986. Sehingga kalaupun saya diberikan kepercayaan mengajar dan menjadi guru kelas satu tentu itu diluar apa yang saya harapkan. Seperti sejak Desember 1985, ketika awal saya diterima menjadi bagian di sekolah yang menjadi universitas guru bagi saya secara aplikatif tersebut, untuk membantu dan mendampingi mengajar di kelas dua. Dan mendapat tugas di tingkat kelas ini maka saya merasa melakukan proses belajar dengan wajar.

Namun mulai Juli 1986 almarhum Bapak Setiono selaku Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Masjid Al Ikhlas dan Bapak M. Mudjib selaku kepala sekolah pada saat itu memberikan amanah agar saya mengajar dan menjadi guru kelas di kelas satu.

Apa yang menjadikan saya begitu berat untuk memegang amanah tersebut? Tidak lain karena mengajar di kelas satu adalah suatu yang menurut saya pribadi menjadi spesial. Mengingat usia saya yang masih muda sementara kelas awal di SD tersebut terdiri dari anak-anak yang butuh perhatian dan keahlian serta keterampilan yang jauh lebih baik. Sedang yang saya punya?

Ketika keberatan dan kondisi saya sampaikan kepada kepala sekolah, justru kepala sekolah memberikan dorongan dan meminta saya untuk mencoba. Kalau bukan Pak Agus, untuk saat ini, kita belum ada guru yang cocok untuk menjadi guru kelas satu. Demikian jelas kepala sekolah.

Meski semua doa telah saya panjatkan untuk kekuatan agar saya benar-benar mampu mengajar di kelas satu, tak pelak lagi tekanan berat tetap menjadi beban yang tidak mudah saya hilangkan. Hari-hari pada awal tahun pelajaran menjadi guru kelas satu merupakan masa yang menurut saya waktu berjalan begitu lambat..

Pagi hari begitu azan Subuh berkumandang rasa berat itu bergelayut di hati dan pikiran saya. Tak jarang saya berguman mengapa justru saat dari sore hingga pagi waktu berjalan begitu cepat? Dan tak jarang saya menitikkan air mata merasakan beratnya tekanan itu. Dan sepanjang perjalanan di bus kota dari Minangkabau di Manggarai hingga Cipete, tidak henti-hentinya saya memvisualisasikan pembelajaran yang akan saya lakukan di dalam kelas nanti.

Yaitu bagaimana dan apa yang saya harus lakukan saat sampai di sekolah dan memasuki ruang kelas, ketika bertemu siswa saya yang diantar oleh orangtuanya atau oleh susternya, apa yang akan saya lakukan saat jam pelajaran pertama berlangsung, bagaimana jika siswa saya masih ada yang belum berani ditinggal pergi oleh orangtuanya sehingga siswa tersebut harus ditunggui ayah atau ibunya dengan duduk disampingnya di dalam kelas, atau bagaimana saya harus bersikap jika ada beberapa orangtua siswa yang terutama ibu-ibu mendampingi putra atau outrinya dengan menonton di jendela sekolah yang pada masa itu tidak menggunakan AC, dan semua hal hingga siswa pulang dan kelas berakhir?

Dan tidak jarang ketika pikiran masih membebani saya untuk melangkah menju sekolah, jarak saya dengan kelas saya menjadi dekat sekali. Yang bararti saya harus siap lahir dan batin, yang berarti juga bahwa memvisualisasi tidak mungkin lagi saya lanjutkan.

Pada masa-masa ini, waktu berakhirnya kelas menjadi waktu atau masa yang benar-benar saya nikmati sebagai waktu bebas tiada beban sama sekali. Dan saya akan mengisinya dengan penuh gembira seperti saya bercengkerama dengan sesama teman. Tidak jarang pula saya sempatkan untuk berkunjung atau mampir ke tempat kontrakan teman sebelum saya berniat pulang ke Pasar Rumput.

Ya, seperti apa yang telah saya kemukakan sebelumnya, bahwa modal lagu dan bercerita, saya merasakan pertolongan yang luar biasa. Dengan bercerita, saya menyampaikan keinginan kepada siswa saya untuk dan harus seperti apa. Sedang dengan lagu, saya juga jadikan selingan dan pelajaran kebersamaan.

Tahap pertama saat membelajarkan sebuah lagu adalah mengenalkan irama dan nada lagu tersebut tentunya dengan saya memberikan contoh secara berulang-ulang, sebelum siswa saya akan mengikuti saya bait demi bait dari lagu tersebut. Dan tahap akhirnya adalah kita menghafakan syairnya. Dan ketika syair telah dihafalkan oleh sebagian siswa, saya mengajak siswa untuk keluar kelas dan pindah ke aula masjid yang ada di dalam kompleks sekolah. Dan untuk mengurangi kejenuhan, saya akan membagi siswa dan siswi untuk menyanyikan bagian syair lagu secara bergantian dan seterusnya. Ini semua saya lakukan sebagai ikhtiar agar siswa tidak bosan karena dalam setiap tahap selalu ada yang berbeda sehingga mereka merasakan selalu ada tantangan.

Setelah bulan pertama terlewati, catur wulan pertama juga berhasil saya lalui, tantangan demi tantangan menjadi telah biasa bagi saya. Meski demikian diluar jam mengajar saya sempatkan untuk melihat kelas teman yang bisa menjadi inspirasi bagi saya dalam mengajar.

Itulah bagian hidup yang tidak akan mungkin saya sendiri lupakan. Bagian yang menjadi pondasi bagi kehidupan saya di hari berikutnya…

Slipi, 15 Maret 2009.

(Tulisan ini nyambung juga ke: Berawal dari Kelas,Undangan Reuni dan Ponten)

Polusi

Cerita ini berasal dari salah seorang dari calon orangtua murid yang berkeinginan mendaftarkan putrinya. Selama ini putrinya bersekolah di kelas tiga salah satu sekolah dasar swasta yang tergolong favorit di kawasan paling elit di bilangan Jakarta Selatan.

Katika saya tanya mengapa ibu memindahkan putrinya dari sekolah yang tergolong bagus? Ibu menceritakannya bahwa keputusan pindah sekolah bukan hanya menjadi keputusannya saja, tetapi juga menjaii keputusan anaknya sendiri. Mengapa putrinya juga turut andil dalam pengambilan keputusan pindah sekolah? Hal ini tidak lain karena menurut sang putri, ia tidak merasa nyaman lagi untuk pergi ke sekolah guna menuntut ilmu.

Ketidaknyamanan tersebut berawal dari jawaban sebuah soal yang diberikan putrinya dalam suatu tes atau yang mereka sering sebut ulangan harian. Jawaban putri salah menurut bu guru, padahal menurut sang putri, dan juga menurut dirinya serta akal sehat memang benar. Ulangan dalam topik polusi tersebut, guru menemukan jawaban putrinya, sampah untuk pertanyaan; Apakah penyebab polusi udara?

Menurut sang putri jawaban sampah untuk soal penyebab polusi adalah benar. Hal ini didasari kenyataan bahwa tumpukan sampah dipojok jalan dekat rumahnya sering menyebarkan bau tak sedap ketika ia melewatinya. Bau tak sedap tersebutlah yang dimaksud sebagai polusi udara.

Keesokan harinya Ibu tersebut mencoba memberanikan diri untuk mengkonfirmasikan jawaban yang disalahkan guru padahal menurut putrinya benar. Namun alangkah kecewanya sang ibu dengan jawaban guru. Jawaban putrinya salah. Karena ketika latihan, guru telah menjelaskan pada siswa bahwa penyebab polusi udara adalah debu. Jika jawabannya sampah, maka salah. Tidak sesuai dengan apa yang telah dilatihkan dalam latihan soal tempo hari. Luar biasa.

Jadi ibu positif memindahkan putrinya di sekolah ini? Ibu itupun mantap menjawabnya. Padahal ia itu tahu bahwa sekolah saya adalah bukan sekolah yang memiliki prestasi segudang sebagaimana yang dimiliki sekolah-sekolah lain seperti juara nilai ujian akhir sekolah/nasional. Di tingkat kebupaten sekalipun!

Renungan Kita

Sebagai orang yang berprofesi sebagai guru, kasus yang dialami oleh seorang siswa tersebut, sudah seharusnyalah menjadi pelajaran bagi kita untuk melihat apa yang telah kita lakukan di dalam kelas. Karena hanya dengan cara inilah kita akan menjadi baik hari demi hari. Pernahkah kita mengalami hal demikian?

Sesungguhnya semua jawaban siswa yang berasal dari proses berpikirnya adalah benar. Hal ini jika kita mau bersabar untuk mendengarkan alasan yang akan dia kemukakan. Artinya jika menemukan jawaban yang berbeda dengan apa yang telah kita ajarkan dan berbeda dari buku yang menjadi pegangan siswa, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tetapi cobalah mengajukan pertanyaan untuk menggali mengapa dia menjawabnya demikian. Dengan cara demikian maka si anak tetap merasa dihargai atas jawaban yang diberikan dan guru juga tidak salah dalam mengambil keputusan.

Jawaban yang guru sampaikan sebagaimana cerita di atas sesungguhnya telah membuat akan didiknya menjadi putus asa karena sama sekali tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana yang diharapkan. Bukankah sampah organik dalam jumlah tertentu yang membusuk memang membuat polusi udara?

Slipi, 7 September 2003

11 Maret 2009

Berawal Dari Kelas



Ketika membalik-balik album, harap maklum bahwa era 90-an, dimana saya mengajar di kelas satu SD di SD Islam Al Ikhlas Cipete kamera digital masih menjadi milik segelintir orang Indonesia, itupun kalau teknologi telah ada. Namun yang jelas, pada era tersebut dokumentasi gambar baru dalam bentuk foto cetak. Dan salah satunya adalah apa yang termuat dalam gambar saya ini bersama siswa saya. Mungkin itu sekita tahun 90-an.


Tetapi dari album foto inilah saya memiliki kenangan masa muda dulu, meski sekarang juga masih tetap muda, dimana siswa saya ngeriung di dekat meja gurunya. Waktu itu tentunya saya belum belajar banyak tentang bagaimana membelajarkan siswa dengan lebih dahsyat. Lihat saja bagaimana saya mendesain kelas saya. Semua masih tampak sederhana. Tetapi yakin bahwa ada diantara siswa saya itu, saat itu memiliki impian yang jauh dari sederhana apa yang terlihat dalam foto.

Saya masih teringat kali pertama mengajar di bulan pertama di kelas satu SD dimana saya harus membantu mengambilkan dan membukakan buku pelajaran siswa sebelum melakukan pembelajaranm, dari tas mereka masing-masing. Itu berarti, jika ada 40 siswa saya di dalam kelas, maka saya harus berkeliling menghampiri setiap mereka, membuka tas mereka, mengambilkan buku yang sesuai dengan pelajaran yang akan kita pelajari, membukakan pad halaman dimana siswa saya harus menulis. Beban? Itulah yang ajaib. Lelah sudah pasti. Namun semua tetap saya jalani hingga saya mendapat hitungan mengajar selama 8 tahun (dihitung mulai dari tahun pelajaran 1985/1986 hingga 1993/1994) hanya di kelas satu. Setiap akhir tahun pelajaran saya bermohon kpada kepala sekolah untuk mengajar di kela berikutnya atau kelas tiga. Kepala sekolah mengizinkan, namun masalahnya tidak ada atau belum ada yang berani atau mau mengajar di kelas satu. Sampai akhirnya saya benar-benar ngambek untuk naik kelas, hingga kepala sekolah tidak dapat menolak lagi.
Dua hal yang menjadi modal saya untuk mengajar di kelas satu. Ini sesuai dengan apa yang dipesankan oleh Bapak Guru saya ketika kami masih duduk di bangku Sekolah Pendidikan Guru di Purworejo. Yang pertama, kata guru saya, adalah menyanyi. Jadi kita harus menguasai minimal 10 lagu siswa. Dan tentunya lagu-lagu yang syairnya untuk anak dan positif bagi anak. Yang kedua adalah mendongeng atau bercerita. Nah, lanjut guru saya, bagaimana kalian bisa bercerita di depan siswa kalian jika kalian sendiri adalah para guru yang tidak suka membaca cerita?

10 Maret 2009

Efektifkah Sekolah Saya?

Jumat lalu, kami di sekolah seperti biasa berkumpul bersama, untuk bersama-sama membicangkan tentang perjalanan kita sebagai anggota atau komunitas sekolah yang sama-sama kita cintai. Ini kami lakukan setiap ba'da Jumat. Jika semua teman kompak maka jam tepatnya kita akan memulai acara pada pukul 13.30.

Sebagai acara rutin kita, yang kita sebut sebagai professional development bagi seluruh anggota pendidik di sekolah, maka agendanya adalah dialog sekitar bagaimana kita masing-masing dapat berkontribusi secara lebih maksimal dan tumbuh terus menerus. Selain itu ada juga kesempatan teman untuk menyampaikan presentasi atau memberikan suatu sebagai pembuka kita berdialog. Atau kadang juga kita meminta orang lain untuk memandu kita dalam berdiskusi. Dan kebetulan ba'da Jumat tanggal 6 Maret 2009 lalu kita bersama-sama membahas tentang diri kita sendiri berdasarkan cermin yang telah kita siapkan.

Ya, cermin itulah yang bernama Sekolah Efektif. Berupa rubrik kuesioner yang terdiri dari sembilan komponen. Yang setiap komponennya masing-masing memiliki indikator rubrik yang kita harus memilihnya atau menentukan pada posisi mana kita berada saat ini. Kita dalam kelompok akan berdiskusi dalam penentuan posisi yang kita pilih. Memang ada sedikit banyak yang harus kita pertahankan masing-masingnya dalam penentuan posisi yang telah berhasil kita raih.

Dan itulah kesempatan berharga yang dapat kami lakukan bersama. Apa yang dapat kita peroleh dari cermin itu? Saya pribadi melihatnya sebagai introspeksi. Dalam sebuah peristiwa yang bernama tumbuh, bercermin sama artinya dengan membuka kembali peta perjalanan kita ketika kita ada dipertengahan jalan.

Apa yang akhirnya kita lihat? Ada kekurangan yang harus menjadi perhatian kita bersama untuk kemudian kita analisa dimana perhatian itu harus kita tumpahkan. Ada kecukupan dimana kita juga masih harus memberikan pemikiran yang tidak kurang. Dan tentunya ada juga bagian atau komponen kita yang telah berkinerja baik, dimana kta juga harus melihatnya secara hati-hati agar supaya kita semua tetap menjadikannya sebagai bagian dari proses pembelajaran yang tiada ujung.

Ba'da Jumat lalu itu menjadi saksi bagi kami didalam melihat siapakah sebenarnya kami berdasarkan cermin sembilan sekolah efektif tersebut. Kami bangga tidak saja kepada hasil dari rubrik kuesioner yang telah kami rekap. Tetapi kami jauh lebih bangga pada proses yangkta alami ketika kami semua bersama-sama meghadapkan diri pada cermin yang ada...

Pulomas, 6 Maret 2009

05 Maret 2009

Pasar Murah



Kami, komunitas dari Sekolah Islam Tugasku bersaa OSIS SMP menyelenggarakan Pasar Murah di sekolah pada Sabtu, 21 Februari 2009. Menyenangkan sekali melihat antusiasme warga sekitar sekolah berbelanja sembako dan berbagai kebutuhan lain dengan harga yang sangat miring.

Karena miringnya harga, ada diantara pembeli yang mengkhawatirkan kualitas barang yang dijual. Seperti komentar Pak Ali, penjual rokok di dekat sekolah; Saya pikir mie instan kedaluwarsa. Kok harganya miring banget? Setelah saya cek tanggal kedaluwarsanya ternyata barang baru. Ya jadi saya minta teman untuk belanjain lagi...

Namun bagi kami sendiri ini adalah kegiatan yang malah menjadi wahana untuk saling mengakrabkan satu dan yang lainnya dari kami sesama komunitas TUGAKU. Kami kompak dalam melayani para pembeli yang tiada hentinya. Barang yang kami jual adalah barang sumbangan dari para orangtua siswa kami.

Bersama ini, kami mengucapkan terima kasih atas kontribusi, donasi dan dkungan dari semua pihak atas kegiatan amal itu.

03 Maret 2009

Model Belajar Nadia dan Diana

Sesungguhnya, apa yang dimaksud dengan BELAJAR? Berikut ini adalah anekdot-anekdot yang dirinya kita dapat memaknai apa yang dimaksud dengan Belajar itu. Anekdot pertama adalah saat orangtua meminta anaknya untuk belajar di meja belajar, padahal si anak sedang asyik membaca buku cerita fiksi (novel anak). Si anak dengan sopan menjawab seruan orangtuanya dengan kata: ngak ada pekerjaan rumah (pr) Bunda. Orangtua tetap meminta si anak untuk duduk di meja belajar dan berujar: Nadia, kan dapat mengulang pelajaran kemarin untuk persiapan hari besok. Siapa tahu besok ada ulangan mendadak?

Keesokan harinya di sekolah guru tidak memberikan ulangan atau pertanyaan atau meminta siswa untuk membuat laporan apapun. Nadia tentu kecewa karena pelajaran yang telah disiapkan semalam tidak diulas di sekolah. Guru di sekolah melanjutkan materi pelajaran berikutnya. Padahal semalam ia harus meninggalkan bacaan fiksi yang lagi seru-serunya. Kembali di rumah Nadia protes sama Bundanya. Ia ngambek dengan langsung membuka buku fiksinya yang ia telantarkan gara-gara kemarin diminta Bundanya untuk mengulang pelajaran agar siap kalau esok gurunya mengadakan ulangan mendadak.

Jadi apakah yang dimaksud dengan belajar bagi Nadia? Bagaimana pula arti belajar dalam anekdot yang berikut ini? Saat pelajaran Sains, Diana, salah satu dari siswa SD masuk dalam kelompok untuk menerima tugas dari gurunya. Diana dan kawan-kawannya dengan pengawasan guru men-sweeping binatang yang ada di dalam lingkaran, yang terbuat dari tali rafia. Nama-nama binatang itu harus dicatat. Di dalam kelas dengan dipandu Bu Guru, siswa mendiskusikan arti komunitas dan habitat.

Pekerjaan rumah yang diberikan guru berupa tugas agar setiap siswa mencatat binatang-binatang yang ada di halaman rumah masing-masing atau lokasi lain yang berdekatan dengan rumahnya. Catatan tersebut akhirnya didiskusikan bersama di kelas pada pekan berikutnya. Hasil diskusi tersebut dibuat dalam bentuk laporan narasi tentang habitat, lalu dipajang di dinding pajangan di sekolah.

Jika kita adalah Nadia atau Diana, pola belajar yang manakah yang menjadi pilihan kita masing-masing? Apakah pola Nadia atau pola belajar Diana? Pola belajar manakah yang benar-benar hidup di masyarakat kita?

Dalam setiap pertemuan dengan pihak orangtua, saya selalu mengkomunikasikan mengenai belajar, proses pembelajaran, dan hasil-hasil belajar. Termasuk juga keunikan yang dimiliki siswa. Di sekolah, beberapa program kita coba lakukan seperti pajangan kelas, pertunjukkan kelas secara reguler dan event spesial, kita laksanakan secara reguler. Semua orangtua setuju. Karena itu merupakan cara Belajar yang relatif memberdayakan siswa.
Tetapi nilai anak saya harus baik juga pak. Begitu komentar salah satu orangtua. OK, kata saya. Nilai (angka) rapot siswa juga baik. Dan pada saat Pekan Kebudayaan Internasional, dimana setiap kelas memilih satu negara untuk menjadi tema yang akan dieksplorasi selama satu pekan secara terus menerus, siswa dan seluruh komunitas sekolah menikmatinya. Kegiatan pembelajaran berupa menggambar peta, cerita tentang negara-raja-pemerintahan-penduduknya-pertaniannya. Mengeksplorasi pariwisatanya, makanan khas, budaya, menginterview nara sumber, membuat laporan dan juga membuat cindera mata. Di akhir pecan sebagai puncak dari tema, siswa mempertontonkan perayaan sonkran yang dirayakan raja bersama rakyatnya di hadapan komunitas sekolah. Sesudah itu siswa, dengan membawa pasportnya masing-masing, berkeliling ke ‘negara-negara tetangga’ untuk tour.

Ketika usai saya tanya pada komunitas sekolah tentang Pekan Budaya. Inilah Jawaban mereka: Siswa: senang pak, selama pekan budaya ngak ada pelajaran! Kita main terus. Guru: Wah pak, kalau pelajaran tidk ada target kurikulum dan tidak ada ulangannya, kita jadi bisa kreatif ya pak . Orangtua: anak saya tiba-tiba tidak susah bangun pagi, rupanya kalau tidak ada pelajaran mereka jadi senang ke sekolah.

Pak Agus, saya sekarang sadar sebenar-benarnya betapa model pembelajaran seperti Pekan Budaya Internasional kemarin efektif buat anak saya. Mereka dalam satu pekan itu ternyata menyerap informasi tentang tempat wisata, nama raja, khas-khas yang ada, wilayah selatan yang Muslim dan utara yang Budha. Kenaikan kelas ini ia pingin sekali diajak mengunjungi pengembangan pertanian dan pemukiman Muslim di Thailand! Begitu komentar salah satu dari orangtua siswa terhadap hasil belajar yang diperoleh sang anak.

Tujuan Pendidikan Kita
Betulah panjang cerita tentang apa sesungguhnya yang mnjadi esensi dari kegiatan belajar yang hidup di masyarakat dan sekolah kita. Berikut ini adalah konsep pemerintah yang termuat dalam undang-undang No 20 Th 2003 tentang Sisdiknas berkenaan dengan tujuan pembelajaran. Dalam Bab II, Pasal 3: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sedang tentang Proses Pembelajaran, inilah panduan yang terdapat dalam Kurikulum 2004 atau KBK (maaf, kita hanya menguji-cobakan saja).
Siswa Ingat Kegiatan Belajar
10 % Baca
20 % Dengar
30 % Lihat
50 % Lihat dan dengar
70 % Laporkan
90 % Lakukan dan laporkan

Melihat itu, maka apakah yang harus kita lakukan dalam mencermati masalah belajar siswa kita? Pertama, ubahlah cara pandang kita mengenai belajar. Dalam kenyataan sekarang ini terdapat empat mitos dalam belajar. Empat mitos belajar itu mengatakan bahwa; sekolah adalah tempat terbaik untuk belajar; kecerdasan bersifat tetap; pengajaran menghasilkan pembelajaran; kita semua belajar dengan gaya yang sama. (Jeanette Vos,2000).

Kedua, jadikan kegiatan membaca sebagai keterampilan hidup menuju pembelajar sepanjang hayat. Menjadi tugas kita untuk menjadikan seluruh komunitas sekolah sebagai warga belajar yang suka baca. Sejak dini siswa dapat kita berdayakan tidak saja bisa membaca tetapi menjadi suka. Peringkat suka membaca itu sendiri memiliki makna baginya (konsep AMBAK/apa manfaat bagiku).

Ketiga, berdayakan cakrawala berpikir anak melalui mengambilan hikmah dari suatu peristiwa/kejadian. Dalam setiap akhir pelajaran, guru harus membuat konklusi bersama siswanya mengenai apa yang telah mereka capai. Juga apa implikasinya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Keempat, berdayakan kompetensi non-akademik. Hasil belajar tidak saja domain kognitif yang terukur secara akademis. Hasil belajar lebih luas dari itu. Hasil belajar akademis adalah salah satu dari hasil belajar. Dan bukan satu-satunya. Berdayakan semua komunitas sekolah mengenai konsep belajar seperti itu melalui berbagai cara dan secara reguler.

(Sumber: Agus Listiyono dalam Harian PELITA, 28 Maret 2006)

Tes Sumatif

Tes semester yang dilaksanakan pada akhir semester lebih dikenal dengan tes sumatif. Akhir Desember dan awal Januari lalu adalah saat dilaksanakannya tes sumatif diberbagai sekolah sebelum penerimaan rapor semester ganjil. Dan sekitar bulan Mei atau Juni untuk semester genap. Materi pelajaran yang menjadi bahan tes sumatif adalah materi pelajaran sepanjang semester tersebut. Setiap siswa dengan kapasitasnya masing-masing pasti telah menyiapkan diri dalam menghadapi tes tersebut.
Diantara mereka ada yang susah payah mengatur jadwal belajarnya karena mungkin harus membagi waktu antara belajar dengan menjaga adiknya atau melakukan perkerjaan lainnya untuk membantu orangtua. Sebagian yang lain bahkan ikut belajar kelompok bersama teman-temannya dengan memanggil guru sebagai pendamping belajar atau pergi ke bimbingan tes yang menjamur sebagai bisnis menjanjikan. Sebagian yang lain lagi belajar dengan guru kelas atau wali kelasnya dirumah yang sering kita kenal dengan istilah les privat.
Selama menjadi guru di sekolah, penulis banyak mendengar, menerima aduan baik dari siswa, orangtua dan bahkan juga guru tentang soal tes yang bocor. Mereka menceritakan suatu perbuatan yang menurut kasanah dan norma sosial adalah bentuk perbuatan yang tidak seharusnya terjadi. Kebocoran suatu soal tes bukanlah suatu yang terjadi karena ketidak sengajaan, tetapi lebih kepada bentuk penyelewengan intelektual dari para pembimbing belajar atau siapa saja yang memiliki akses terhadap soal tes yang ingin diwariskan kepada para generasi penerusnya. Bila kebocoran ini dilakukan oleh siapa saja yang berstatus pembimbing siswa dalam belajar, guru les misalnya, maka degradasi moral ini didasari oleh semangat mengumpulkan rezeki untuk sekedar menghidupi diri sendiri atau sanak keluarganya. Dan juga untuk mengangkat nilai agar seolah-olah siswa yang mendapatkan soal yang bocor tersebut pandai. Mengenaskan! Tetapi inilah sepenggal cerita dari keponakan penulis...

Beni adalah siswa sekolah menengah di sebuah sekolah di negeri tercinta ini. Ia belajar menyesuaikan dengan irama belajar teman-temannya. Sejak menginjak bulan kedua ketika sekolah berlangsung, ia bergabung bersama teman-temannya yang berjumlah lima orang untuk belajar kelompok dengan salah satu gurunya. Ketika awal dimulainya les, ibunya mencoba menghubungi Bapak Guru untuk menanyakan fee yang harus dianggarkan pada akhir bulan nanti. Disela-sela diskusi dan nasehat agar putranya belajar lebih giat karena Bundanya mengeluarkan ’dana ekstra’ diluar uang bulanan rutin lainnya, Beni menyahutnya dengan rileks. ”kadang Pak Guru menyebutkan agar kita mengingat soal ini, nanti keluar di ulangan.” jelas Beni. ”jadi begitu?” Ayahnya kaget.
Selain Beni, Dita keponakan penulis yang lain, adalah sosok siswa yang berbeda. Paling tidak kapasitas mengingatnya sedikit jauh lebih banyak dan baik dari Beni. Dita adalah perkeja keras. Saat belajar, hampir titik dan koma yang terdapat di buku pegangan mampu diingatnya. Maka saat bunyi bel pertanda habis waktu dan ia merasa belum berhasil menemukan jawaban dalam tes, ia begitu gusar. Namun betapa ia kaget ketika satu teman kelasnya yang tergolong ’papan bawah’ berkomentar dengan pasang tampang bangga, ” Yes! Semua soal yang dipelajari semalam keluar! Gampang! ” dan selidik punya selidik teman itu adalah salah satu murid les dari oknum gurunya...
Dua fragmen diatas adalah kejadian nyata. Dan dengan itu penulis tidak bermaksud untuk mendiskreditkan profesi guru yang kebetulan di sandang oleh pembimbing dari siswa diatas, yang penulis kutip secara penuh sebagaimana ilustrasi di atas. Namun dengan kejadian yang telah dipertunjukkan oleh oknum tersebut penulis yang juga guru mencoba untuk berkaca di depan cermin.
Pertama, kalau penulis adalah guru yang memberikan bimbingan kepada siswa, apapun bentuk bimbingannya –privat ataupun kelompok- dengan cara memberikan latihan soal yang persis akan keluar dalam tes, maka pertanyaannya adalah; apakah penulis sudah berlaku adil pada siswa yang bersangkutan dan juga pada siswa yang lain? Apakah dengan cara tersebut maka tes dapat dikatakan valid dan reliabel? Apakah itu bukan tindakan kriminal? Lalu apakah esensi dari belajar?
Kedua, jika memang fee yang menjadikan tujuan mungkin akan normal saja jikalau jalan yang ditempuh adalah jalan profesional. Namun apakah jalan yang dititi oleh dua fragmen diatas adalah jalan wajar menurut norma sosial, norma agama? Seberapa besarkah uang yang mampu penulis kumpulkan untuk memenuhi hidup dan seberapa besar harga diri dan martabat yang telah penulis korbankan? Dapatkah uang tersebut terkumpul dalam bentuk harta bermerek , seperti Mercy atau Volvo? Jika tidak, maka pertanyaan berikutnya adalah apakah jika kekayaanpun tak terkumpul, masihkah kita menggadaikan nama baik diri dengan memalsukan kata ’keberhasilan’?
Ketiga, bacalah luka yang dialami oleh Dita dan Beni dalam fragmen itu. Maukah kita merenungkannya akibat dari kedua anak tersebut karena ingatan tentang apa yang penulis lakukan? Ingatan yang mungkin akan menjadi abadi. Nama penulis diabadikan dalam sebuah kenangan yang paling pahit. Dan itulah kenangan yang akan membuat mereka mengingat sepanjang hidup tentang penulis? Nestapa...

Dengan mengambil tiga hikmah dari fragmen itu, penulis kembali mengetuk hati nurani kita kepada hakekat harkat dan martabat seseorang. Bahwa tidak dapat dipungkiri apa yang telah menjadi tekad pemerintah dalam menjadikan guru sebagai profesi adalah pintu gerbang bagi pengentasan martabat guru sebagai profesi. Namun demikian guru sebagai pribadi yang bermartabat dihadapan siswanya, hanya guru sendirilah yang wajib menjaganya.

(Sumber: Agus Listiyono dalam Harian PELITA, 11 Januari 2005)

Peta Purworejo

Pagi ini saya menerima kiriman pos dari teman saya yang sejak berteman di SPG Bruderan tetap tinggal di Grantung, Purworejo. Isinya tidak lain adalah peta kebupaten dimana saya remaja di Purworejo. Peta ini menjadi impian saya untuk memilikinya setelah akhir Desember 2008 lalu saya berkesempatan memberikan pelatihan di Sekolah Islam Terpadu Ulil Albab yang berlokasi di Andong, Kutoarjo, Purworejo. Dimana di sekolah ini saya melihat sebuah peta kabupaten Purworejo.

Maka sepulang dari Purworejo, saya mengirim sms kepada segenap teman yang berdomisili di Purworejo untuk mencarikan peta itu. Dan Alhamdulillah, teman saya yang di Grantung (Fotonya ada di bawah halaman ini), yang bernama Heri Pranoto, mengirimkan untuk saya. Wah Luar biasa senang sekali saya.

Mengapa begitu bahagianya saya mendapat peta itu? Tidak lain karena saya menyukai napak tilas ketika menelusuri kembali nama-nama tempat atau desa atau jalan atau lokasi dimana saat remaja dulu saya berkelana, termasuk menjadi pengamen untuk menambah uang transpor.

Oleh karenanya, melalui tulisan ini, saya bermaksud menyampaikan rasa terima kasih yang tidak terhingga kepada saudara dan teman saya Heri Pranoto di Grantung, Purworejo. Semoga ini menjadi amal kebaikan baginya. Amien. Saya memiliki kenangan khusus kepada kawan saya ini. Yaitu ketika kami, saya dan dia, ditambah teman satu lagi yang bernama Wawan Saroyo, satu kamar tidur saat kami menjalani magang di sebuah sekolah dasar negeri di desa Gebang kecamatan Gebang. dan dalam pergaulan selama satu bulan tersebut, saya mendapatkan makna persahabatan hingga kini.

Heri Pranoto menjadi guru di sebuah SDN yang berada di kecamatan Bayan bersama mantan ketua OSIS SPG Bruderan tahun 1984 yang bernama Astuti. Selain profesinya itu, ia juga adalah koresponden Global tv untuk wilayah Kebumen. Sedang teman saya yang satu lagi, Wawan Saroyo, menjadi guru SD Pius di Wonosobo. Saya sendiri, memegang amanah sebagai wakil yayasan untuk mengelola Sekolah Islam TUGASKU di Pulomas, Jakarta Timur.

02 Maret 2009

Undangan Reuni

Pada sebuah akhir pakan, Sabtu tanggal 28 Februari 2009, saya menerima telepon dari seorang yang ketika saya jawab salamnya, ia bernama Callista. Ya saya mengenal sekali nama itu. Ia adalah siswi saya ketika masih duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar pada tahun 1987. Dan ia sendiri mengingat kelasnya, karena selain menyebutkan nama ia juga menambahkan: dulu di kelas I C waktu Bapak mengajar kami. Dan setelah 22 tahun berlalu, ia kini adalah seorang Dokter gigi yang buka praktek di daerah Puri Mutiara Cipete Jakarta Selatan.

Lalu apa kepentingannya menelepon saya setelah sekian puluh tahun berlalu? Kami mengundang Bapak untuk acara reuni pekan depan di Sekolah. Kita kangen untuk kumpul. Kami mengundang semua guru-guru kami yang dulu mengajar kami. Apakah Bapak bias datang? Katanya. Dan tanpa berpikir panjang lagi saya menjawab bisa. Kalau siswa saja kangen dengan para gurunya, mosok kami tidak kangen dengan siswanya?

Lalu apa yang terbayang dipikiran saya setelah undangan reuni dari siswa saya sekian puluh tahun lalu itu? Selain kerinduan untuk bercengkerama. Saya antusias sekali untuk melihat sebarapa sukses dan hebatnya para siswa ini. Bahkan, saya sendiri ingin sekali memohon maaf atas kelemahan, kekhilafan, kekurangan yang ada pada diri saya ketika dulu mengajari mereka. Itu harus saya sadari karena saat mengajar mereka usia saya masih muda, atau mungkin juga kendali amarah saya masih tipis ketika mendapat mereka tidak sesuai dengan apa yang menjadi ekspetasi saya. Ya, saya ingin diberikan waktu untuk bicara dihadapan mereka, sekaligus mengungkapkan permohonan maaf atas kekurangan yang telah mereka terima dari saya.

Namun apa yang nanti bakal terjadi? Apakah harapan saya untuk dapat berbicara kepada mereka semua terwujud atau akan seperti apa pertemuan itu nantinya? Saya masih belum tahu persis. Namun saya masih bertekad untuk menyampaikan kegembiraan atas undangan mereka dan yang paling penting lagi, mohon maaf. Semoga reuni nanti menjadi awal bagi kami merajut silaturahim dalam konstelasi yang berbeda.

Benar saja, saat pertemuan itupun tiba. Ahad, 8 Maret 2009 di SD Islam Al Ikhlas, Cipete III, Cilandak Jakarta Selatan. Saya datang tepat ketika acara rehat makan dan Shalat. Ya saya terlambat. Tapi saya sangat gembira. Saya memberikan salam kepada mereka dengan, tentunya, membaca nama mereka. Deikian jga dengan mereka. Waktu yang panjang telah merubah beberapa bagian dari diri kita.

Ini adalah reuni khusus buat mereka yang lulus dari SD Islam Al Ikhlas tahun 1993, Dan Callista adalah satu dari 80-an alumni yang datang. Luar biasa!

SPG 1984















Saya yakin diantara anda akan bingung untuk menemukan yang mana foto saya. Itulah waktu. 25 tahun cukup bagi waktu merubah sesuatu. Meski pelan tapi pasti. Dan itu terjadi tidak hanya pada saya. Tetapi juga pada teman saya yang pada Mei tahun 1984, setelah ujian sekolah berakhir, kita wisata bersama, mengambil gambar bersama, sebagaimana yang terlihat di atas.

Foto ini diambil ketika kami berada di depan air terjun Curukmuncar. yang berlokasi di desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, kabupaten Purworejo. Saat itu perjalanan kami tempuh dengan naik angkot dari Panthok, Purworejo menuju Somongari dengan melawati desa Cangkrep, desa Kemanukan dan sampailah Somongari.

Foto ini juga sebagai saksi kali terakhir kita bersama setelah 3 tahun menempuh pendidikan di Purworejo. Kami berpisah untuk merajut perjalanan berikut masing-masing dengan harapan masing-masing. Pertemuan berikut yang lebih kolosal terjadi di almamater kami di SPG di Purworejo saat reuni dan silaturahim pada Senin, 7 Oktober 2008. Bertepatan dengan saat libur Idul Fitri. Alhamdulillah, saya bersyukur bahwa semua teman yang dapat dan menyempatkan hadir dalam reuni itu memiliki semangat dan kerinduan yang sama.


Setidaknya kita dapat saling ber-sms atau berkirim email untuk sekedar bertanya berita atau berkirim dokumen yang berkenaan dengan profesi kita sebagai guru.