Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pembaca, terima kasih untuk membuka lembaran catatan perjalanan saya ini. Semoga Anda mendapatkan sesuatu yang positif darinya. Namun jikapun tidak, semoga Anda tidak merasa telah membuang waktu Anda dengan sia-sia. Semoga kita selalu dibukakan pintu kemudahan dan kekuatan dalam menunaikan tugas kita masing-masing. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

20 Oktober 2015

Tempe Opor

Ada istilah baru yang saya dapatkan dari anak bungsu saya yang selama ini tinggal di Jogjakarta. Istilah yang orisinil dari anak atas pengalaman yang dia dapat ketika kami makan jajanan pasar di saat saya mudik beberapa waktu lalu.

Seperti biasa, diantara saya ada di udik atau kampung halaman, ada beerapa waktu yang saya plot untuk 'menyusuri tempat-tempat penyejuk hati' yang lokasinya tidak jauh-jauh dari rumah tinggal orangtua saya. Dan untuk kali ini, lokasi yang saya susuri adalah pasar. Yang buka hanya dua hari sepanjang pekan, yaitu di hari pasarannya. Tidak ada hal khusus yang akan saya cari atau saya beli ketika sejak pukul 05.30 saya menuju pasar itu selain menyusuri lorong-lorong pasar yang dipenuhi para pedagang, yang dalam perkiraan saya,  bermodalkan tidak lebih dari 200 ribu rupiah.

Setelah lama saya duduk dan menikmati pemandangan pembuat alat pertanian dengan pompa udara kembar yang terus menerus ditekan secara bergantian, yang lokasinya juga selalu berada di pinggiran pasar, sembari sesekali mengajukan pertanyaan, saya bergerak menuju tukang penjual tempe benguk.

Berada di depan penjual tempe, saya ragu untuk membeli sebanyak berapa. Maka saya menunggu orang lain terlebih dulu mengulurkan uang saat membeli.

"Tigang ewuke mawon Mbok." kata pembeli (Tiga ribu rupiah saja Bu).  Saya berada persis disamping pembeli itu. Setelah tahu pasti bahwa dengan uang tiga ripu rupiah saja telah mendapatkan satu bungkus tempe benguk, maka saya menirukannya. 

"Kulo sami mbok." Kata saya kepada pedagang itu (Saya pesan sama Bu).

Lalu apa komentar anak saya ketika kami memakan jajanan itu sesampai di rumah? Awalnya saya ragu kalau anak dan istri saya mau mencoba tempe benguk yang saya beli. Mengapa? Karena saya membeli tempe benguk itu tidak untuk yang pertama kalinya. Pendek kata setiap mudik dan pergi ke pasar, tempe benguk adalah komuditas yang selalu saya beli. Dan mereka belum pernah sekali[un mencobanya. Karena tampangnya yang tidak menggugah selera mereka.

Tapi bersyukur hari itu. Mungkin mereka mengira kalau saya lupa bahwa mereka tidak pernah mau mencobanya ketika waktu lalu saya membelinya. Maka pada saat mereka terlihat antusias mencoba, saya girang di dalam hati. Maklum, saya lahir dan besar di kampung, sementara mereka lahir dan besar menjadi dewasa di Jakarta.

Dan apa komentar mereka dengan tempe benguk yang dicobanya? Ibunya mengatakan enak! Sedang bungsu saya mengatakan enak seperti opor. Opor tempe!

Saya hanya bersyukur bahwa makanan yang saya kangeni ternyata mendapat apresiasi positif...

Jakarta, 20 Oktober 2015.

Kepala Kambing Bacem

Seperti pada perjalanan saya sebelum-sebelumnya untuk melakukan pembuktian atas apa yang diceritakan kakak yang sejak kecil hingga mudanya tinggal di wilayah Pakem khususnya dan Sleman pada umumnya, tentang makanan yang harus saya coba. Dan pada kali ini pembuktiannya adala apa yang menjadi ceritanya tentang makanan langka yang berupa bacem kepala kambing. Saya tertarik untuk mencoba pertama kali adalah karena jenis dan nama makanannya.
Kartunama Pak H Sukirman.

Karena, lumrahnya bagi saya, bacem itu adalah tahu atau tempe. Tetapi kepala kambing bacem? Ini menjadi daya tarik tersendiri buat saya. Dan atas nama penasaran itulah saya niatkan untuk mencobanya, jauh sebelum saya benar-benar berada di Yogyakarta. Dan kesempatan itu datang disaat saya pulang kampung guna bertemu anak-anak dan besan dipertengahan Oktober 2015.
Salah satu kliping liputan media yang menjadi hiasan dinding 

Hanya berbekal alamat 'dekat pasar Colombo' yang ada di sebelah kanan jalan arah Kaliurang dari Jogjakarta, saya mencoba untuk mengintip lokasi sembari mengemudi. Benar saja, petunjuk itu saya temukan ketika ada plang nama Apotek Colombo. Tetapi sore itu saya belum ingin mampir, karena tujuan yang akan saya datangi disore sebelum waktu Magrib tiba itu adalah wisata Kaliurang. Maka perjalanan saya lanjutkan hingga benar-benar sampai di Kaliurang untuk memesan Teh Poci dan Sate Kelinci. Baru setelah perjalanan menuju Selokan Mataram, dimana anak saya berada, saya mampir untuk memastikan keberadaan becem kepala kambing!
Peta lokasi yang mudah ditemukan
Apa kesan saya setelah memesan satu porsi bacem kepala kambing dan satu tongseng kaki kambing? Memuaskan! Sungguh sajian makanan yang unik dan cerdas. Mungkin tertarik untuk mencobanya?

Jakarta, 16-20 Oktober 2015.

09 Oktober 2015

Diminta 'Kembali'

"Kami perlu bertemu Bapak lagi untuk menuntaskan apa yang semester lalu telah kita buat bersama. Kalau melihat kalender, kira-kira kapan Bapak bisa menyisipkan satu pekan bersama kami?" Demikian permintaan seorang teman yang kebetulan adalah utusan keluarga dari pengurus Yayasan yang juga adalah pengelola sebuah lembaga pendidikan ternama di sebuah provinsi kita.

Saya jadi teringat apa yang telah kami lakukan bersama-sama di beberapa bulan sebelum ini di lembaga pendidikan tersebut. Dan saya bersyukur bahwa Tuhan memberikan bantuan luar biasa besar untuk saya bisa mengemban amanah yang sebelumnya belum pernah saya jalani. Mengapa? 

Karena ketika saya diminta untuk datang ke lembaga itu, diberikan cara dan strategi untuk memandu semua diskusi dan bekerja bersama mereka, teman-teman guru dan karyawan yang ada di lembaga yang tentunya masih asing bagi saya. Yaitu membagi teman-teman dalam kelompok kerja yang telah kami tentukan apa yang harus dihasilkan. Dan akhir dari kegiatan selama satu pekan itu adalah Buku Panduan untuk bekerja di sekolah tersebut. Di sana tentunya ada kalender pendidikan, pembagian tugas dan jobdesnya masing-masing, kegiatan sekolah dan deskripsinya, dan juga tentunya form penilaian kinerja serta gambaran serta panduan untuk menghitung implikasi dari hasil penilaian kinerja tersebut.

Tetapi dengan tawaran yang sekarang tiba-tiba datang lagi kepada saya, saya menjadi benar-benar ragu. Mengapa juga? Tidak lain karena adanya informasi kepada saya bahwa format yang telah kami kerjakan bersama pada semester sebelumnya belum menjadi pegangan bagi pengelola sekolah tersebut dengan argumen bahwa kesulitan dalam mengaplikasikannya.

"Apa yang harus saya siapkan dengan tawaran Bapak? Apakah masih benar-benar teman-teman di sana membutuhkan dengan apa yang akan saya sampaikan nanti Pak?  Apakah justru teman-teman di sekolah itu menjadi antiklimak dengan apa yang akan saya sampaikan? Karena mereka mengalami bahwa apa yang dihasilkan pada semester lalu belum terjadi di lapangan?" Kata saya. Dan ini jawaban yang mendasar dari lubuk hati saya.

Dan benar saja, pada akhirnya saya tidak menyanggupi tawaran teman yang pengurus Yayasan itu dengan atas nama ke efektifan dari kegiatan yang akan berlangsung jika saya juga yang harus hadir. Dan sisi ini menjadi sisi paling mengkawatirkan buat saya jika melihatnya dari sebuah transformasi sebuah lembaga pendidikan...

Jakarta, 9 Oktober 2015.

07 Oktober 2015

Tawaran 'Masa Depan'

"Waktunya sekarang Bapak untuk banyak terlibat dalam kegiatan kami. Dan keterlibatan itu semoga menjadi bagian dari Bapak untuk aksesbilitas di masa depan Bapak." Demikian petuah kepada saya untuk menjadi pembuka sebuah aktivitas di lembaga pendidikan swasta. 

"Mohon maaf Pak. Karena mungkin saya tidak dapat banyak memberikan kontribusi maksimal. Baik waktu dan pemikiran. Dan semua itu karena keterbatasan yang saya punyai." Jawab saya saat itu. Mengingat saya adalah karyawan full time di sebuah lembaga yang wajib untuk memenuhi ketentuan sebagai pegawai tetap. Selain itu saya juga kawatir bahwa sedikit sekali kapabilitas yang pasti dapat saya kontribusikan. Dan karena itu, saya mohon untuk tidak lagi menjadi bagian dari keterlibatan di masa berikutnya. 

"Sayang kalau Bapak harus berhenti sampai disini Pak. Kompetensi Bapak belum maksimal. Bukankah ini nantinya juga menjadi 'jalan' bagi Bapak untuk dapat berkiprah lebih lanjut?" Begitu nasehat terakhir yang saya dapatkan ketika saya benar-benar harus menyudahi keterlibatan saya.

Dan benar saja. Saya benar-benar menyudahi kegiatan 'tambahan' itu untuk kemudian berkhidmat kepada tugas pokok saya sebagai pegawai tetap yang memberikan imbalan penuh kepada saya sebagaimana kontrak yang saya dapatkan di awal saya berkarir.

"Bapak sebenarnya dapat menjadikan kiprah Bapak itu sebagai modal lebih dikenal masyarakat Indonesia, khususnya di dunia pendidikan di masa mendatang?" Demikian nasehat berikutnya yang saya dapatkan dari teman seperjuangan.

"Maaf, saya menghindari untuk terlalu banyak menyampaikan sesuatu kepada banyak orang. Saya takut akan kalimat saya. Takut tidak dapat memilih dan memilah kata dan kalimat mana yang memang testimonial atau sekedar slogan. Karena itu, saya fokus kepada tugas utama dan tugas sendiri. " Begitu tekad saya.

"Bapak merasa cukup seperti sekarang yang Bapak sudah berada?" Begitu kalimat terakhir yang saya dengar dari teman, yang kemudian memang benar-benar saya tinggalkan. Karena saya yakini benar bahwa dikenal bukan menjadi cita-cita dan impian saya.

Jakarta, 7 Oktober 2015.

Waktunya Ekspor

Banyak kritik dan pendapat serta dukungan, tentunya, tentang kondisi ekonomi Indonesia hari ini. Terus terang, saya yang berak di dunia praksis pendidikan tidak melihat pengaruh signifikan situasi dan kondisi tersebut. Karena masukan dan pengeluaran yang ada di budget sekolah selalu dalam rupiah. Tentu berbeda jika di sekolah pendapatannya dalam IDR tetapi pengeluaran sebagiannya dalam USD seperti sekolah-sekolah yang mempekerjakan tenaga pendidik ahli dari asing yang sebagiannya harus dalam USD. Pasti terasa.

Di sekolah swasta seperti dimana saya berada, paling mungkin adalah beberapa kasus yang terjadi di orangtua siswa yang tiba-tiba harus terdampak pada pekerjaannya sehingga berimpas kepada pembayaran uang sekolah. Namun itu pun hanya kasus yang tidak lebih dari 1 persen dari jumlah orangtua siswa yang ada. Alhasil, dampak itu masih tidak terasa.

Dan karena itu, akal saya justru ketonjok ketika ada lontaran pikiran dari pejabat yang berupa komentar untuk menanggapi kondisi mata uang rupiah terhadap dolar Amerika.

A : Nilai tukar USD semakin menguat hari ini terhadap mata uang kita. Tanggapan Bapak?
B : Ini sentimen sementara saja. Fundamental ekonomi kita kuat.
A : Apa langkah instansi Bapak atas situasi ini?
B : Saya kira ini saat yang tepat untuk kita melakukan kegiatan ekspor.

Otak saya langsung ketonjok;

1. Memang komuditas apa saja selama ini yang menjadi ekspor andalan kita?
2. Bukankah untuk makan tempe dan tahu saja kita masih menggunakan bahan baku impor? 
3. Mungkin ngak asap kebakaran lahan dan hutan kita jadi komuditas ekspor?

Jakarta, 7 Oktober 2015.