Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

15 September 2018

Oleh-Oleh dari Kampung

Beberapa waktu lalu, ketika saya mudik ke kampung halaman, mendapatkan oleh-oleh dari teman satu paket lumayan besar dan banyak, berupa geblek. Geblek oleh-oleh ini masih berupa adonan yang telah berbentu lingkaran. Dengan demikian, nantinya jika kami ingin menyantapnya, maka kami tinggal memasaknya dengan cara menggoreng dengan menggunakan minyak yang lumayan banyak agar pada saat di goreng geblek tersebut tidak meledak-ledak.

Geblek makanan khas daerah kami yang berada di wilayah Kedu bagian selatan. Terbuat dari tepung tapioka atau tepung singkong. jika telah dimasak, makanan itu mirip dengan kerimpying. Bedanya, kalau kerimpying disajikan ketika digorengnya hingga matang dan kering. Sementara geblek digoreng matang tetapi asih relatif basah atau belum sampai kering.
Manikmati geblek oleh-oleh Purworejo.
Geblek yang menjadi oleh-oleh teman tersebut telah tersimpan di dalam kulkas rumah. Pernah dua kali saya menggorengnya di rumah untuk disantap pada sore hari sebagai teman menum teh sereh yang saya buat. Namun setelah itu saya lupa bahwa masih ada geblek di kulkas. Sampai suatu saat istri saya mengeluarkan semua geblek oleh-oleh tersebut dari kulkas dan meletakkannya di atas meja makan. Sehingga saya berpesan agar menyimpannya kembali untuk kemudian meminta agar bisa saya bawa ke sekolah guna dimasak dan dirasakan oleh teman-teman.

Benar saja, berbagai pernyataan dan rasa penasaran datang kepada saya melalui pesan wa, setelah saya mengirimkan gambar sedang makan geblek bersama teman di ruang masak sekolah dengan ditemani oleh dua siswa saya. Pertanyaan da rasa penasaran itu datang karena mereka rata-rata baru keli pertama makan makanan geblek yang saya bawa.

Jakarta, 15 September 2018

7 Penulis

Kamis, 13 September 2018, saya menerima dua eksemplar buku kumpulan cerita pendek, ynag terdiri 61 cerita pendek. Buku itu merupakan buku kumpulan cerita pendek yang ke-13 dan ke-14, yang diterbitklan oleh Penerbit Bestari. Cerita-cerita pendek tersebut merupakan karya dari anak-anak sekolah dasar di Jakarta, Tangerang, dan Depok, yang ikut serta dalam program menuisnya Kak Lala Elmira, One Day to Write. Dimana Kak Lala secara rutin memberikan bimbingan kepada anak-anak untuk menulis cerita. Dan dari sekian anak yang menjadi peserta menulisnya, 61 anak tersebut yang tulisannya masuk dalam dua buku yang ada di tangan saya.
Dan bersamaan dengan berlangsungnya IIBF, International Indonesia Book Fair, di Jakarta, pada 12-23 September 2018, maka Rabu, 12 September 2018, 7 (tujuh) siswa dari SD dimna saya berada, terpilih menjadi penulis berbakat dalam launching buku berjudul Dunia Senyum dan Serbuk Waktu yang diterbitkan oleh penerbit buku Bestari Jakarta.

Tujuh penulis dari peserta didik di sekolah dmna saya ada adalah; 
  1. Aisyah Nur Zahiyah, dengan cerita berjudul Aku Bisa Menari.
  2. Andi Alyssha Aurelia, dengan cerita berjudul Misteri Pintu ke-2000.
  3. Chaerannisa Syahira F, dengan cerita berjudul Antara Dia dan Aku.
  4. Dayanara Ardanari, dengan cerita berjudul Kuda Impian.
  5. Fadhila Zahra Laksanadewi, dengan cerita berjudul Dhildul: Si Ngak Bisa Diam.
  6. M Alif Fatif Ferdiansyah, dengan cerita berjudul Petualangan di Pulau Misterius.
  7. Nada Kirana Raseesha, dengan cerita berjudul Toko Buku Ajaib.

Atas prestasi menulisnya sehingga tulisannya berhasil dimuat dan terbit dalam buku Dunia Senyum dan Serbuk Waktu, kita sampaikan ucapan selamat kepada tujuh peserta didik tersebut. Dan ini menjadi buku ke-13 dan buku ke-14.
Jakarta, 15 September 2018.

14 September 2018

Membaca Sejarah

Sejak masa sekolah, saya sudah begitu menyenangi pelajaran sejarah yang diajarkan oleh guru sejarah kami yang bernama Pak Soekirno. Beliau yang juga adalah mantan sukarelawan angkatan Laut di masa kolonial, yag kemudian mengabdikan dirinya sebagai guru sekolah, menjadi begitu hidup ketika merangkai tanggal-tangga peristima di perang kemerdekaan. Dan mencongak, adalah bagian dari aktivitas yang beliau sampaikan kepada kami di sekolah. Dan saya bersyukur bahwa nilai mencongak saya selalu bagus hingga di ijazah. Alhamdulillah.

Dan ketika lanjut di sastra, membaca saya beralih ke cerita-cerita monumental Indonesia, yang meski berlatar cerita kehidupan, namun selalu tersirat atmosfir sejarah di benak saya. Paling tidak memberikan sejarah hidup para tokohnya. Karena para tkohnya memang menjalani kehidupannya bersama-sama masyarakat yang ada di sekitar mereka dengan berbagai permasalahan yang ada di masa mereka ada.

Salah satu ilustrasi yang terdapat dalam buku Atlas Budaya Islam karya Islam Raji' Al Faruqi dan istrinya. 

Dan menjelang usia bertambah, saya begitu terkesimanya dengan sejarah kehidupan yang berkaitan dengan agama. Dan dari lembaran sejarah yang berupa perca-perca karena ditulis dengan topik yang singkat, saya mencoba menulusurinya melalui kisah yag lebih detil. Maka beberapa buku satu tema menjadi bagian dari semangat saya untuk mengetahui sejarah secara lebih detil. 

Banyak hal yang saya temukan setelah saya bertemu dengan berbagai buku tersebut. Banyakhalnya justru hal-hal yang sebelumnya sumir dalam pengetahuan saya. Namun setelah membacanya, saya melihat betapa sejarah yang saya baca memberikan gambaran yang sempurna tentang perjuangan masa-masa awal agama saya.

Memang masih ada satu yang menjadi kepinginan saya untuk tahap selanjutnya selain saya membacakan kalimat-kalimat sejarah yang ada di buku saya kepada orang-orang disekitarnya, adalah membuat dokumentasi yang membantu orang auditori bisa terkesima dan tekun menyimak sejarah. Semoga.

Jakarta, 14 September 2018.

13 September 2018

Ke KL

Ketika ditanyakan kepada saya tentang nomor passport, maka segera saja saya mengirim fotonya kepada yang bertanya. Berharap diajak piknik, atau setidaknya menemani. Ini berlagsung sepekan sebelum semuanya akan dilaksanakan. Dan alhamdulillah, akhirnya memang jalan juga saya bersama teman-teman ngajar. Seperti halnya pada waktu-waktu ketika saya menjadi bagian dari rombongan, bahwa piknik ini hanya memakan waktutiga hari tig malam. Jadi kalaupun harus bertamasya, maka tidak semua lokasi kunjungan yang terhitung bagus dapat kami kunjungi. Demikian pula halnya dalam perjlnan kali itu.

Inilah lebih kurang perjalanan saya bersama teman di KL selama tiga hari tiga malam tersebut; 
Ini lokasi belanja ibu-ibu yang kata pengunjunga asal Indonesia harganya miring.

Ngukur jalan yang ada di Bukit Bintang Street selepas waktu Isya.

Berkunjung di Masjid Putra di Putrajaya.

Foto di parkiran Lapangan Merdeka.

Mejeng di pinggir Sungai Melaka sebelu nantinya naik perahu.

Mendapat tawaran bagus dari Jakarta untuk mampir di restoran di salah satu mall di KL.

Jakarta, 13 September 2018.

Bertemu (Lagi) Teman Sekolah

Saat mudik, menjadi momentum buat saya untuk bertemu dengan teman sekolah. Seperti juga pada mudik Idul Adha 1439 H yang lalu. Tepatnya pada Rabu, 22 Agustus 2018. Menjadi penting saya catat disini mengingat teman lama saya yang saya kunjungi adalah teman ketika saay sekolah berkontribusi banyak hal kepada saya. Baik berkain masalah bantuan pangan dan transportasi. Maka ketika dia, yang pada saat ini telah bertempat tinggal di provinsi yang ada di Sumatera, maka kunjungan dan pertemuan saya sebagai melepas kangen dan ucapan terimakasih. Inilah motivasi saya ketika bertemu dengan teman-teman sekolah saya di kota kampung halaman saya.
Heri, Eny, Niken, Tuti, Juwita, dan Tarno. Foto diambil pada Kamis, 23 Agustus 2018 dimana Ngadat, Suryono, Tomo, dan Puji telah pulang lebih awal.

Dan bertemu dengan teman sekolah di saat saya muda, menjadi penting buat saya. Meski dalam setiap pertemuan saya hampir-hampir hanya sebagai pendengar. Karena memang itu kapasitas saya ketika muda. Tidak memiliki cerita yang berlembar-lembar di masa itu. Sementara teman-teman akan saling saut dalam menyampaikan ceritanya di hadapan kami. Tentunya cerita di kala kami semua bersama muda dan bersekolah.

Jakarta, 13 September 2018.

Di Pekarangan Rumah

Dalam kegiatan mudik saya yang hanya empat hari tiga malam bersama bontot, selain bertemu teman-teman di kala muda, kegiatan saya lainnya adalah menyusuri setiap jengkal tanah pekarangan di sekitar rumah orangtua. Saya mencoba menemukan beberapa tanaman yang telah saya tanam pada mudik sebelumnya dan melihat perkembangannya. Ada dua pohon durian cabang tiga yang pada saat mudik sebelumnya telah berhasil tumbuh kala itu saya temukan telah kering, mati karena kekeringan tidak ada suplai air. Juga ada beberapa tanaman saya lainnya saya temukan tidak dalam kondisi yang tumbuh segar. Saya masih bersyukur bahwa dua pohon cengkih dan pohon gaharu yang masih tumbuh dengan tunas-tunas muda yang hijau muda mengkilat. Maka pada saat berada di kampung itulah saya menggelontorkan suplai air kepada tanaman-tanaman masa depan itu dan juga sekaligus membuat delapan lubang baru untuk menjadi lokasi penanaman kecombrang yang saya bawa serta dari Jakarta.

Sebagai gambaran saja, bahwa pekarangan rumah yang ada di kampung halaman saya tersedia pohon kelapa sebagai pohon utama. Ini karena ketika kami masih kecil dan membutuhkan biaya untuk bersekolah, maka pohon kepala itulah yang menjadi tulang punggung keberlangsungan keluarga kami.

Dan ketika waktu berjalan maju, maka diantara pohon-pohon kepala kami tanami berbagai tanaman keras jangka panjang seperti mahoni, jati, dan pastinya sengon. Tiga jenis pohon inilah yang menjadi tabungan jangka panjang keluarga kami ketika harus ada dana yang dikeluarkan.



Dan sekarang, tanaman-tanaman baru yang kami tanam selain tiga jenis pohon keras tersebut, adalah berbagai pohon buah. Dan ketika harga buah kelapa tidak lagi bisa menjadi tumpuan penda[patan karena harganya tidak lagi menarik, kelapa-kelapa kering yang tersisa dan ada di rumah mejadi tunas. Dan ini selalu saya tamui ketika saya sedang mudik. Jadilah kelapa tunas itu saya pecah untuk diambil kentosnya, dan buah kelapanya untuk kami jadikan minyak kelapa.

Jakarta, 13 September 2018.

12 September 2018

Mudik Idul Adha 1439H

Setelah saya mematikan bahwa anak bontot sepakat untuk mengabil cuti kerja diantara Idul Adha 1439 H yang jatuh pada hari Rabu, 22 Agustus 2018 dan week end, maka segera pula saya memesan tiket kereta api untuk pergi dan pulang ke kampung halaman, alias mudik. Ya kami hanya berdua ke kampung, mengingat di Jakarta sedang ada tamu istimewa kami yang selama ini mereka tinggal di perantauan. Maka keuarga kami terbagi dalam dua kelompok. Dan saya dengan bontot yang memiliki acara keluar kota tersebut.


Tampaknya memesan tiket perjalanan untuk waktu yang tidak lama sebelum keberangkatan membuat sediitnya pilihan. Pilihan untuk mendapat jadwal keberangkatan yang pas di hari kerja, dan juga kesempatan untuk mendapatkan harga tiket yang miring serta terjangkau. Dan dengan keterbatasan itulah akhirnya kami memilih kereta yang jadwal di stasiun kedatangannya kurang pas. Ini karena memang sulit meminta bantuan kepada adik yang ada di kampung halaman mengingat kami berdua dari Jakarta.

Hingga akhirnya teman yang menawarkan untuk menjemput di stasiun dan kemudian memberikan pinjam kendaraannya kepada saya hingga kegiatan di kampung halaman saya kelar. sebuah kemuliaan hati sahabat. Dan dengan kendaraan itulah kami melakukan mobilitas yang tinggi  selama emat hari tiga malam di kampung halaman. Terimakasih sahabatku.

Jakarta, 12 September 2018.

Lemari Mobil Mainan Abqari

Beberapa waktu lalu, saya telah membawa pulang ke rumah, lemari mainan Abqari, yang berupa mobil-mobilan dari berbagai ukuran, yang panjangnya tidak lebih dari 10 cm. Jadi mobil-mobilan yang mungkin setipe dengan modelnya.

Lemari ini saya pesan dari pegawai kantor yang tangannya kriting untuk megerjakan hal ihwal yang berkenaan dengan kayu dan kertas. Jadilah saya mencoba untuk memberikan spesifikasi 'lemari' pajangan. Dan itu dia imajinasikan dengan bentuk dan berbagai warna yang sebelumnya saya kurang begitu mengetahuinya sampai kemudian menjadi bentuknya.

Sedang mobil-mobilan yang sudah dimiliki Abqari semakin hari semakin bertambah. Ini karena keinginannya untuk memiliki mobil-mobilan yang dipanajng di warung tetangga begitu menggebu. Juga ada beberapa yang dibelikan oleh Pakde atau Budenya sebagai oleh-oleh kagetan.



Dan alhamdulillah lemari pajangan itu benar-benar telah digunakan untuk memajang dan memarkir mobil mainan Abqari.

Jakarta, 12 September 2018.